“SAMBER” (Sampah Menjadi Berkat) : Wujud nyata peran Legio Maria dalam tindakan kepedulian lingkungan hidup (Laudato Si)

S u m b e r b e r i t a : J e n y T . D e w i ( k o o r d i n a t o r S A M B E R ,
P a r o k i S t . P e t r u s & P a u l u s , M a n g g a B e s a r , J a k a r t a )

Sampah menjadi masalah sangat serius baik sosial maupun ekonomi di Indonesia. Produksi sampah di Jakarta 7.800 ton lebih per hari yang bermuara di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi (sumber : Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Sept 2019). Dengan jumlah itu, diprediksi TPST Bantar Gebang akan berhenti beroperasi pada tahun 2021 karena kelebihan kapasitas.

Hal ini bukan hanya menjadi masalah pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh rakyat Indoensia termasuk umat Katolik. Pada tahun 2016, Keuskupan Agung Jakarta mencanangkan Gerakan Silih Ekologis (Sileko) sebagai bentuk kepedulian pada lingkungan hidup, diwujudkan dalam bentuk gerakan menanam pohon, memilah dan mengolah sampah, gerakan Pantikfoam (pantang plastik dan styrofoam). Tahun 2020, KAJ menetapkan Tahun Keadilan Sosial dan salah satu penanda gerakan Tahun Keadilan Sosial adalah KAJ mengajak paroki / sekolah Katolik / komunitas untuk merumuskan bersama persoalan sampah dan dijadikan gerakan bersama.

Apa peran nyata kita sebagai umat Katolik khususnya Legio Maria ?
Berawal dari inspirasi pastor paroki Mangga Besar, Rm. Agustinus Purwantoro SJ (dikenal Romo Ipong SJ), dalam sebuah kesempatan melihat pengelolaan sampah anorganik dalam bentuk bank sampah di Paroki Keluarga Kudus, Rawamangun, Jakarta, sekitar pertengahan tahun 2019. Lalu Romo menyampaikan inspirasi ini pada beberapa legioner, dan harapannya ada komunitas yang mampu mewujudkan kegiatan bank sampah ini di Paroki Mangga Besar.

Didasari bahwa peran Legio Maria menjadi tangan kanan Pastor Paroki dan siap melaksanakan tugas sulit, maka setelah berdiskusi dengan perwira Kuria Bunda Pengharapan Suci, di mana presidium Mangga Besar ini tergabung, maka Legio Maria menyatakan kesanggupan untuk merintis dan mengkoordinir kegiatan bank sampah di paroki.

Kesanggupan menuntut konsekuensi besar yang tak pernah terpikir sebelumnya. Perlu persiapan matang, mulai studi banding ke paroki lain, bahkan harus melibatkan pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya
Suku Dinas Lingkungan Hidup untuk proses perijinan dan pelaksanaan. Sulit, namun dipermudah karena dibantu oleh pihak yang sudah berpengalaman, khususnya pemerintah Indonesia saat ini juga mendorong masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Pada prinsipnya, bank sampah ini perlu partisipasi dan kerjasama umat, serta membawa keuntungan untuk umat. Secara sederhana tahapannya sebagai berikut :

  • Pilah sampah organik (basah) dan anorganik (kering), hal ini dilakukan di rumah / sekolah
  • Pengumpulan sampah dikoordinasi oleh lingkungan atau seksi masing-masing
  • Penimbangan sampah dilakukan di paroki
  • Menyalurkan hasil finansial dari penjualan sampah kepada lingkungan dan kategorial di paroki

Walau diiming-imingi keuntungan finansial, ternyata kata “sampah” bukan sesuatu yang menarik bagi banyak umat. Habitus memilah sampah rumah tangga belum menjadi habitus umum dari kita. Hal ini terbukti dari sosialisasi perdana kegiatan bank sampah di paroki yang kurang direspon dengan baik oleh umat, tetapi semangat Legio Maria adalah teguh dan pantang menyerah. Legioner melanjutkan sosialisasi lebih gencar hingga beberapa kali sosialisasi baik di paroki dan lingkungan.

Pelaksanaan Kegiatan Bank Sampah
Kegiatan bank sampah ini, kami beri nama SAMBER (Sampah Menjadi Berkat). Pastor paroki memberikan target agar kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan dalam rangkaian HUT ke-80 tahun Paroki St. Petrus & Paulus yang jatuh pada Januari 2020. Kegiatan perdana SAMBER pada Minggu (22/02/2020) (berdekatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari).

Awalnya Romo dan kami cukup ragu dan pesimis; Apakah ada umat yang setor sampah? Jangan-jangan truk sampah yang disediakan Pemprov hanya terisi 10% dari kapasitas, dan sebagainya.

Puji Tuhan, ternyata cukup banyak partisipasi umat dan menyetorkan sampah anorganik lewat pengurus lingkungan/ kategorial dan dibawa ke paroki. Terkumpul sampah anorganik sebanyak satu truk, 1,73 ton sampah, atau keuntungan finansial sebesar Rp 2.830.000,00. Dana tersebut dikembalikan kepada lingkungan/ kategorial sesuai jumlah sampah yang disetor dan dapat dipakai untuk kegiatan lingkungan (ziarah, solidaritas umat dan lainnya).

Kegiatan ini rencananya dilaksanakan dua kali setiap bulan, antusiasme umat semakin besar. Akan tetapi karena pandemi Covid-19, kegiatan bank sampah ini terhenti sementara. Namun kami yakin dan terus mendorong habitus pilah sampah dari lingkup keluarga sudah mulai terwujud. Sementara sampah anorganik belum dapat dibawa ke paroki, tetapi umat dapat memberikan kepada pemulung dan menjadi bentuk belarasa.

Semangat dan inspirasi bagi legioner
Jangan takut dan bersukacitalah ketika Legio Maria dikenal sebagai “Legio Maria kok jadi tukang sampah?”. Justru di sinilah Legio Maria berperan aktif mewujudkan kepedulian pada lingkungan hidup seperti seruan Paus Fransiskus dalam ensiklik “Laudato Si” dan Bapa Uskup KAJ – Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, yang mengatakan “Saatnya adil pada lingkungan, mengubah cara berpikir orang soal sampah, yakni sampah bukan untuk dibuang. BUATLAH SAMPAH MENJADI BERKAH.”

*Jika membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi narasumber di jeny.triratna@gmail.com

Perkembangan Legio Maria di Togo, Afrika

Sumber :Buletin Konsilium Edisi Mei 2020 / legionofmary.ie

Senatus Lome di negara Togo, Afrika mengabarkan bahwa Legio Maria di sana sangat berkembang dan berbuah.

“Legio Maria berkarya dengan kunjungan ke rumah umat, rumah sakit, penjara, melakukan Katekese, kontak dengan orang-orang di jalan/ kampus/toko buku. Semua tugas ini membuahkan banyak pertobatan, ada umat yang bersedia kembali ke dalam persekutuan Gereja, bahkan tidak sedikit bersedia menerima Sakramen Baptis.

Selain itu, kami juga mengadakan Kongres, Exploratio Dominicalis, dan beberapa pertemuan Patrisian juga. Satu Kuria junior kami mengadakan kuis Buku Pegangan dengan hadiah-hadiah bagi mereka yang paling berpengetahuan.

Beberapa Presidium baru juga dibentuk dan Komisium Adidogome membentuk satu Kuria baru. Di Keuskupan Kpalime, terdapat satu presidium yang dibentuk di penjara. Kini presidium di penjara ini sedang dalam proses membentuk satu kuria baru. Regia Kara yang baru membentuk satu kuria baru di bulan Desember tahun lalu, kini sedang membentuk tiga Kuria baru lagi”, ungkap Senatus Lome.

Jiwa-jiwa Legioner yang Sudah Meninggal

Buku Pegangan Bab 17 halaman 114
Alokusio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke-396-D/Tahun ke-33

Ajaran yang mendasari pemuliaan jiwa-jiwa yang sudah meninggal adalah pemahaman terhadap Gereja yang merupakan Persekutuan Orang Kudus. Hal ini tertuang dalam doa Aku Percaya “…… Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan para Kudus, dst… Amin.”

Gereja sebagai Persekutuan Orang Kudus dapat dilihat dalam 3 unsur yaitu :

  • Gereja Berziarah, yakni komunitas umat beriman yang hidup di dunia seperti kita semua saat ini.
  • Gereja Mulia, yakni komunitas jiwa-jiwa mulia di surga bersama Allah Bapa, dan
  • Gereja Pemurnian, yakni kelompok jiwa-jiwa yang masih ada di dalam api penyucian.

Jadi sebagai Gereja, kita yang masih ada di dunia ini terhubung dengan mereka yang ada di Surga maupun di dalam api penyucian. jemaat yang membentuk Gereja Semesta yang adikodrati. Rasul Paulus menegaskan secara luar biasa dalam suratnya kepada umat di Roma “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39).

Kasih Allah dalam Kristus Yesus-lah yang menyatukan kita yang masih di dunia dengan mereka yang sudah wafat. Atas kesadaran inilah, kita para Legioner dipanggil untuk tetap menjaga hubungan kasih dengan mereka yang sudah meninggal dengan cara mengirimkan kado-kado kasih berupa doa. Kado-kado ini akan sangat berguna, terlebih bagi para anggota Gereja yang Dimurnikan, yakni mereka yang masih ada dalam api penyucian.

Api penyucian adalah suasana pembersihan spiritual bagi jiwa-jiwa yang masih perlu pemurnian sebelum menjadi anggota Gereja Mulia di surga. Doa-doa kita di dunia akan sangat membantu jiwa-jiwa tersebut dalam upaya pembersihan spiritualnya.

Legio Maria sebagai komunitas yang selalu berdoa tentu akan menyambut baik kesempatan berdoa bagi jiwa-jiwa dalam Gereja Pemurnian. Doa-doa kita menunjukkan kita menghidupi semangat bahwa kita terhubung satu sama lain sebagai jemaat Gereja Semesta yang adikodrati. Tentu kelak bila kita harus melewati fase Gereja Pemurnian, kita juga akan membutuhkan kado-kado kasih dari para legioner yang masih ada di dunia dengan doa-doa serupa dari mereka.

Memandikan & Merias Jenazah ala Legioner Dahor

Awalnya legioner memandikan dan merias jenazah untuk membantu seorang ibu yang meninggal, di mana anaknya tidak tahu cara mengurus jenazah dan merasa takut memegang jenazah ibunya. Setelah itu berita ini tersebar dan apabila ada yang meninggal, umat/ masyarakat menyerahkan jenazah kepada legioner. Kami menghubungi Ibu Caroline sabagai narasumber. Beliau adalah wakil ketu presidium sekaligus ketua Kuria Benteng Perdamaian Dahor.

Kegiatan memandikan dan merias jenazah ini merupakan kegiatan lintas presidium dalam satu paroki. Beberapa anggota dari tiga presidium yang berbeda bersedia bertugas memandikan dan merias jenazah, meskipun sudah malam hari. Kegiatan ini dilakukan oleh Ibu Caroline dan legioner lainnya apabila pihak rumah sakit tidak dapat melakukannya. Legioner memandikan jenazah tersebut di rumah keluarga jenazah atau di rumah sakit. Meskipun demikian, tidak semua anggota presidium bersedia melakukan tugas Martiria ini.

Jika ditanya, “Kok mau Bu?”, legioner menjawab dengan cepat “Namanya juga pelayanan, sudah seharusnya”. Mereka juga tidak menerima uang dari kegiatan ini, karena bagi mereka ini merupakan pelayanan dan menjadi tugas legio, maka sudah semestinya tidak menerima bayaran.

Legioner juga mendoakan jenazah saat memandikan dan merias jenazah tersebut. Doa-doa apa saja yang didaraskan? Mendaraskan doa Salam Maria dan Bapa Kami di dalam hati, atau juga diucapkan. Apakah pernah mengalami kejadian mistis saat melakukan tugas tersebut? Ibu Caroline menjawab; “Ada. Misalnya saat memandikan jenazah yang matanya belum tertutup, bahkan setelah memandikan pun ada”. Namun kejadian-kejadian mistis itu bersifat positif, tidak mengganggu kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan Ibu Caroline merasa diberi kemudahan dalam aktivitasnya sehari-hari, juga mendapat perasaan lebih nyaman dalam batinnya.

Puji Tuhan sampai saat ini mereka tidak menemukan kendala apapun. Untungnya selama ini tidak ada jenazah yang merupakan korban Covid, karena menurut prosedur, jenazah Covid harus ditangani langsung oleh pihak rumah sakit.

Tim Kerja Senatus – Jangan Takut Untuk Bekerja

Bagi kebanyakan orang, tengah hari pas akhir minggu adalah saatnya rebahan di kasur tercinta sambil main hape. Tapi tidak demikian bagi 24 legioner yang diundang untuk menghadiri rapat karya tim kerja senatus di Rumah Doa Guadalupe – Duren Sawit, Jakarta Timur. Sabtu (15/2) siang, satu per satu dari mereka yang mewakili beberapa dewan baik tergabung secara langsung maupun tidak langsung mulai hadir untuk memenuhi panggilan khusus dari dewan senatus Bejana Rohani – Jakarta. Misi mereka hanya satu, membahas tiga bidang penting yang mencakup seluruh Indonesia Barat sebagai wilayah kerja dewan senatus Jakarta.

“Kami nggak bisa kerja sendiri. Delapan orang perwira senatus ngurusin 18 ribu legioner itu jelas nggak mungkin. Sementara sasaran kita bersama adalah bagaimana menjadi legioner yang bertumbuh, berbuah, dan berdaya pikat. Kami butuh bantuan teman-teman semua,” papar Elang Diawan selaku asisten pembimbing rohani (APR) dewan senatus Jakarta. Tiga bidang yang dirasa penting saat ini adalah bidang tata kelola, bidang pengembangan, dan bidang komunikasi. Tentu saja, masing-masing peserta diberi kebebasan untuk memilih bidang yang sesuai dengan kapasitasnya. Bidang Pengembangan dititik beratkan untuk memajukan kualitas Legioner,  bidang Tata Kelola bekerja untuk pengaturan organisasi dan bidang Komunikasi mengurus sarana-sarana komunikasi serta penyampaian informasi sampai ke seluruh Legioner di Senatus Bejana Rohani.

Dengan diberikannya surat keputusan pengangkatan dengan masa tugas 3 tahun oleh dewan senatus Bejana Rohani pada hari Minggu (1/3), maka pekerjaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Meskipun demikian para Tim Kerja Senatus yang disingkat menjadi TKS ini tidak menggantikan pekerjaan para perwira Senatus. Sepertinya sebuah quotes dari ibu Susi Pujiastuti dirasa pas untuk moment ini, “Jangan takut untuk bekerja. Jangan bekerja kalau takut”. Mari berjuang bersama untuk menjadi legioner yang bertumbuh, berbuah, dan berdaya pikat.

Menjadi Anak-Anak Maria

 

by : RP Markus Yumartana SJ.
Pemimpin Rohani Presidium-Presidium
di Katedral Jakarta


Seperti Maria yang tulus memberi persembahan diri,
begitulah semestinya menjadi anak-anak Maria yang sejati.

Seperti Maria yang taat sepenuh hati,
begitulah semestinya sikap hidup anak-anak Maria kini.

Seperti Maria yang memberikan rahimnya bagi Kristus, menyatukan hati dengan hati ilahi,
begitu jugalah semestinya anak-anak Maria yang terus menyambut Kristus dalam Ekaristi setiap hari.

Seperti Maria memiliki kelembutan yang manis untuk menabur persaudaraan sejati,
begitulah semestinya anak-anak Maria hidup dan hadir memberi citarasa kasih yang merajut hati, bukan malah membawa keretakan relasi insani.

Seperti Maria memiliki kerendahan hati yang selalu membawa sakit dan luka di hati sebagai persembahan diri,
begitulah semestinya anak-anak Maria rela menanggung kelemahan sesama dengan pengampunan setiap hari.

Seperti Maria memiliki kesabaran menanggung luka dan derita Putera-Nya,
demikian pula anak-anak Maria siap di garda depan bersama Gereja-Nya yang berjuang demi kerukunan dan perdamaian di tengah perpecahan dunia.

Seperti Maria yang memiliki keberanian iman di tengah ketidakpastian masa depan,
begitulah semestinya anak-anak Maria berani setia mengandalkan iman dalam doa-doanya bagi kebaikan sesama.

Sebab, Maria telah mengandalkan cinta Tuhan di atas segala-galanya,
maka anak-anak Maria pun semestinya tak jemu mengandalkan cinta Tuhan di atas kepentingan dirinya.

In Memoriam (23 Okt 2006 – 19 Juni 2014) Emmaku, Legionerku, Tugas Legioku

“Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yoh 9:3)

Telah lima tahun berlalu Emma meninggalkan kami sekeluarga dan meninggalkan keluarga besar Legio Maria. Hidup bersama Emma adalah hidup dengan pengudusan diri terus menerus, kesabaran, kerja keras, berjeri lelah, dan doa yang tak putus-putus adalah tugas pengudusan Legio Maria untuk kami sekeluarga dan Emma bagiku adalah seorang Legioner sejati.

Tujuh tahun (23 Oktober 2006 – 19 Juni 2014), kami diijinkan Allah untuk hidup bersama Emma, penderita Cerebral Palsy (kelumpuhan otak). Jika kami menengok ke belakang dan merenungi sejenak, ternyata kami tidak mengubah Emma, dia tetap tidak bisa berjalan, tidak bisa tegak, tidak bisa berbicara dengan baik. Tetapi dia yang mengubah orang tuanya jauh lebih baik. Emma menguduskan keluarganya, Emma menyucikan keluarganya dengan berbagai misteri kejadiannya yang ajaib.

Emma adalah orang yang sangat menghargai sentuhan kasih. Jadilah ia sangat mengenal mamanya dan selalu merasa aman dalam perlindungan mamanya.

Seorang pribadi yang cacat mungkin adalah seorang pribadi yang bukan siapa-siapa, mereka tidak punya suara untuk berterima kasih kepada orang yang melayani mereka, mereka tidak punya harapan. Pribadi yang cacat sering kali diperlakukan sebagai bukan siapa-siapa.

Apakah cacat merupakan hukuman dari Allah karena dosa yang tersembunyi? Pikiran semacam itu hanya mungkin timbul kalau kita berpikir bahwa Allah itu seperti kita: Anda menyakiti saya, saya akan membalas menyakiti anda. Mata ganti mata, gigi ganti gigi.

Kita sering mengira bahwa kalau orang berhasil, kaya, mempunyai pekerjaan yang baik, dan keluarga yang baik, itu semua adalah tanda bahwa mereka diberkati Tuhan. Sementara itu kegagalan, relasi yang retak, dan kesehatan yang buruk adalah sesuatu yang salah dan jelek dalam hidup mereka.

Apakah pandangan Yesus seperti itu? Tentu bukan. Itulah sebabnya Ia menjawab pertanyaan para murid yang bertanya “Siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya sehingga ia dilahirkan buta?” Yesus menjawab “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yoh 9:3).

Peranan Legio

Orang-orang cacat adalah seperti orang-orang lain. Setiap pribadi adalah istimewa dan penting. Apapun budaya dan agamanya, entah sehat entah cacat, Setiap pribadi diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Kita masing-masing dilahirkan agar karya-karya Allah dapat disempurnakan dalam diri kita.

Emma mendapatkan hadiah ulang tahun ke-7 tgl 23 Oktober 2013 yang sangat special, berupa Komuni Pertama langsung dari Bapa Uskup Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo.

Orang-orang cacat memang mempunyai banyak sekali kelemahan, kalau hanya dikaitkan dengan kemampuan akan pengetahuan dan kekuasaan.

Namun dalam kaitan dengan hati dan hal-hal yang berhubungan dengan kasih, banyak yang mempunyai hal yang baik. Mereka membutuhkan bantuan dan mendambakan kehadiran serta persahabatan. Dengan cara yang penuh misteri, mereka tampaknya terbuka terhadap Allah Sang Kasih.

Mengenai diri saya sendiri, saya harus mengatakan bahwa ketika Emma hadir dalam keluarga kami, saya berpikir bahwa saya harus melakukan segala kebaikan untuk memperbaiki tubuh dan otaknya yang tidak sempurna itu. Saya harus melakukan kebaikan untuk Emma.

Saya tidak berpikir sama sekali bagaimana Emma akan berbuat baik bagi saya dan kami sekeluarga yang kuat dan sehat. Adalah hal biasa jika kita mengatakan bahwa kita harus berbuat baik kepada orang-orang yang kurang beruntung seperti Emma. Tetapi sekarang saya mengatakan bahwa Emma yang kurang beruntung ini telah berbuat baik bagi kami yang beruntung, yang kuat, dan sehat ini. Emma yang sedang kita sembuhkan ternyata sebenarnya sedang balik berbuat baik secara tersembunyi untuk menyembuhkan kita, walau terkadang kita tidak menyadarinya. Dia sedang menguduskan diri kita. Dia ternyata juga Legioner!

Legio Maria dengan segala doa dan devosi terhadap Bunda Kristus, juga membawa kami untuk berpikir lebih jauh tentang misteri penyelenggaran ilahi. Legio Maria berperan dalam mendorong kita untuk mencintai dan menghidupkan hal yang paling berharga dalam diri kita: berbela rasa.

Legio Maria Keluargaku yang Kedua

Ada kalanya dalam segala kesulitan hidup, kita menjadi lemah dan terkadang kita merasa ditinggalkan seorang diri. Di saat-saat seperti itulah, Komunitas Legio Maria sangat berperan dalam menjaga kekuatan prajurit-prajuritnya supaya menang dari segala godaan jahat dan mencapai tujuan legio, yaitu: menguduskan anggotanya.

Sungguh Legio Maria adalah keluarga kami yang kedua. Keluarga Emma yang paling setia, yang mendoakan Emma sedari dia mempunyai masalah otak di dalam rahim ibunya, disarankan untuk aborsi, dalam sakit-sakitnya, dalam kejang-kejangnya, dan sampai napas terakhirnya, Emma selalu dalam perlindungan Bunga-Bunga Rohani dari Bunda Kristus.

Sentuhan Kasih

“Yesus meludah ke tanah dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya kepada orang buta tadi dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam” (Yoh 9: 6).

 Yesus adalah pribadi yang sangat berbela rasa. Ia menyembuhkan orang itu tidak hanya dengan kata-kata tetapi menyentuhnya juga. Suara dan Sentuhan sangat penting bagi anak berkebutuhan khusus seperti Emma. Sentuhan adalah indera yang terpenting dalam kelima indera kita.

Sentuhan adalah ungkapan kasih, karena sentuhan mengandaikan kehadiran, kedekatan, dan kelembutan. Kelembutan adalah lawan dari kekerasan,

Untuk hidup dan berkembang menjadi utuh, seorang bayi membutuhkan kelembutan. Seorang yang sakit membutuhkan kelembutan agar ia bisa percaya. Kelembutan tidak pernah menyakiti atau menghancurkan orang yang lemah, namun menyatakan kepada mereka nilai dan keindahan mereka.

Sentuhan menghadirkan ungakapan kasih, bahwa kita dekat dan kita lembut

Kelembutan mecakup sikap hormat. Kami pun harus menyentuh Emma dengan kasih dan hormat yang dalam.

Jika dalam tugas-tugas Legio, kita bertemu anak-anak yang berkebutuhan khusus (buta, tuli, lumpuh) senyumlah dan sentulah mereka, pegang tangan dan ciumlah mereka. Mereka akan merasakan kasih dari Allah melalui kita.

Karena dengan sentuhan kasih dan dengan kata-kata lembut, anak-anak yang berkebutuhan khusus senang bahwa mereka disayang dan dicintai. Bahwa mereka benar-benar bermartabat sebagai Anak Allah karena mereka dilahirkan segambar dengan Allah. Melihat Emma lebih dalam akan membuat kita melihat Kristus sendiri di hadapan kita.

Sentuhan Kasih juga diberikan para Panglima Legio Maria, Kardinal Romo Julius dan Almarhun Mgr. Pujosumarto dalam kunjungan mereka ke rumah Emma

Sentuhan kasih terakhir dari Bapa Uskup setelah misa arwah. Mgr. Suharyo sangat menyayangi Emma dan selalu hadir dalam suka dan duka Emma.

Dalam kunjungan ke rumah Emma, tanggal 12 November 2012, Romo Kardinal Julius Darmaatmaja mengatakan  “Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain daripada kemuliaan tubuh duniawi” (1 Kor 15:40). Tubuh duniawi Emma mungkin banyak kelemaban dan tidak sempurna, tetapi Tubuh sorgawinya lebih suci dan sempurna daripada kita karena Emma sungguh jujur dan berserah dalam hidupnya.

Ternyata Emma juga terus bekerja memuliakan Tuhan dengan membantu orang tuanya sebagai anggota Legio Maria di paroki Kristoforus. Tujuan Legio Maria adalah menguduskan anggota dan sesama dengan memakai Bunda Maria sebagai teladan hidup sehari-hari.

Setiap hari Emma mengajar kasih, memberi pengertian tentang hidup, mengajar bagaimana berdoa, mengajar apa itu berbela rasa, dan mengajar bagaimana hidup taat dan berserah diri sepenuhnya kepada Bapa, sama seperti Bunda Maria. Emma sungguh menguduskan dan menyembuhkan kami. Emma juga ternyata melakukan tugas legionya.

Dia menjadi contoh prajurit maria kecil yang sejati dan jujur, yang berserah dan tidak pernah takut menghadapi berbagai kesulitan dan masalah hidup. Emma ternyata menjadi tugas legioku setiap hari dan Emma adalah Prajurit Mariaku.

Emmaku, Putriku, Hiduplah selalu dalam damai di rumah Tuhan, berlarilah kencang di sana, bermainlah bersama Para Kudus di Sorga. Dan peluk erat Bunda Maria di sana.


Ecce Mater Tua

Jakarta, Hari PW Santa Perawan Maria Bunda Gereja, 10 Juni 2019,

Petrus Kanisius Erwin Rinaldi

 

 

Maria Bunda Berhikmat : Teman Perjalanan Kita

Homili RP. Markus Yumartana, SJ pada misa bulanan Legio Maria Katedral Jakarta, 8 Maret 2019.


Legioner sebagai pencinta Bunda Maria pasti mencintai Yesus, karena Bunda Maria mengantar kita kepada Yesus. Bunda Maria, Bunda berhikmat, ia teman perjalanan hidup kita. Maria adalah yang paling setia mendampingi dalam setiap fase kehidupan Yesus sejak lahir sampai ke Golgota, hingga digambarkan Maria menggendong Putranya yang mati di salib. Inilah kesetiaan Maria dalam menyertai Putranya sampai tugasNya selesai. Dalam tradisi latihan rohani St. Ignatius, Maria adalah yang pertama mengalami penampakan Yesus yang bangkit. Maka dalam tradisi Spanyol yang dirayakan di Filipina ketika paskah, ada sebuah perayaan yang disebut sebagai Salubong* yang menggambarkan perjumpaan antara Maria dengan Yesus yang telah bangkit. (Salubong dalam Bahasa Tagalog berarti perjumpaan).

Maria dipanggil untuk menjadi bunda bagi Yesus, putraNya. Ibu yang baik pasti punya relasi batin dengan anaknya. Jika anaknya sakit, ibu yang baik juga akan merasa sakit. Maria memiliki kesetiaan sejak awal ia dipanggil menjadi Bunda Penebus. Sejak Yesus ada di rahim, Maria sudah seperasaan dengan Yesus. Kita sebagai anak-anak Tuhan; anak-anak Maria, juga disertai oleh Maria. Gereja sejak awal mula telah didampingi oleh Maria, seperti yang dikisahkan dalam kitab Kisah Para Rasul, dimana para rasul berdoa dan disana hadir Bunda Maria. Maria tidak digambarkan sebagai seorang yang banyak bicara namun ia hadir mendampingi. Itulah cara Maria menyertai kita, Gereja, ia tidak banyak bicara namun seperasaan dengan kita.

Maria melahirkan Yesus dalam situasi yang amat sederhana, di tengah kedinginan yang luar biasa. Maria tidak ingin Yesus ada dalam kedinginan maka Maria menemani Yesus. Ketika Yesus dipersembahkan di Bait Allah dan berjumpa dengan Hanna dan Simeon, sebetulnya Maria mempersembahkan juga hatinya. Kala Simeon menubuatkan bahwa hati Maria akan ditembus pedang, Maria sadar bahwa ketika ia mempersembahkan anaknya, Maria telah melepaskan anaknya bagi Tuhan. Mana ada seorang ibu yang mau melepaskan anaknya ketika anaknya masih kecil dan begitu dekat dengan dirinya. Coba bayangkanlah perasaan Maria ketika Yesus dipersembahkan.

Ketika Keluarga Kudus mengungsi ke Mesir, Maria bersama Yosef membawa Yesus untuk menyelamatkanNya dari ancaman Herodes.

Kejadian ini menggambarkan Maria yang seperasaan dengan Gereja dalam suka dan duka. Ketika Gereja mengalami penganiayaan dalam perang, doa rosario telah menyelamatkannya. Ketika Gereja dalam bahaya, Maria yang paling setia menjaga. Pengalaman iman dari berbagai macam penampakan Maria menunjukkan Maria yang tetap setia menemani suka duka Gereja hingga hari ini.

Ketika Yesus hilang di Yerusalem, Maria mencari Yesus sampai seharian. Ini tergambar dengan manis pada lagu Aina Maria dari Timor :

Aina Maria ain alekot
Aina Maria pah Timor e
Naleok ka naleok
Naleok ka naleok
Aina Maria hit ain alekot

Naleok ka naleok (Bahasa Dawan, Timor) memiliki makna yang begitu dalam : meskipun kamu adalah anak nakal, namun Maria tetap menjadi bunda yang baik. Meskipun anak-anaknya sering sesat dan jalan sendiri juga sering melupakan Tuhan, namun Maria akan tetap setia untuk kita. Gambaran kesetiaan Maria bisa kita refleksikan dalam kehidupan kita. Waktu kecil kita pasti pernah diceboki oleh ibu kita. Maria pun mau mengambil kotoran dari hidup kita. Senakal-nakalnya kita semua, Maria mau berkotor-kotor untuk membersihkan kita. Maria masih mau mencari jika kita lari dan kurang ajar.

Saya punya pengalaman dengan ibu saya ketika kecil dulu : saya pernah minta sesuatu namun tidak dikabulkan oleh orang tua, lalu saya berlari seharian dari pagi hingga sore memancing di sungai yang jauh dari rumah. Ketika sudah sore, saya kaget ketika menyadari ibu saya mencari dan memanggil-manggil nama saya dari kejauhan. Saya kaget dan tersentuh ternyata saya masih dicari dan dicintai oleh ibu saya.

Seorang ibu mau mencari karena mencintai anaknya. Jika ibu kita masing-masing mau membersihkan kotoran kita dan mau mencari kita ketika hilang, apalagi Bunda Maria. Bunda Maria adalah bunda yang penuh cinta, bunda yang penuh rahmat, bunda Yesus. Maria akan selalu mencari dan mendekati kita. Maria adalah teman perjalanan hidup kita. Maria sedemikian rupa mencintai Gereja dan Maria akan selalu lebih setia daripada kita sendiri. Oleh karena itu pada bagian akhir dokumen-dokumen Gereja selalu ada sebutan Maria. Kita sebagai legioner apakah sering menyebut Bunda Maria?

Maria disebut sebagai mempelai Roh Kudus, maka akan seperasaan dengan Gereja dan anak-anaknya. Seorang pengantin yang kehilangan mempelainya pasti akan merasa sedih. Inilah gambaran betapa Maria seperasaan dengan Yesus. Maria tak hanya sekadar Bunda bagi Yesus, tapi juga pendamping yang setia. Dalam jalan salib Yesus, ketika melihat Putranya memikul salib yang berat, Maria berhenti dan memandang Yesus. Ini menunjukkan Maria seperasaan dengan orang-orang yang memikul beban. Betapa bahagianya kita menjadi anak-anak Maria karena Maria mau seperasaan dengan setiap kita yang memikul beban. Tapi apakah kita sadar bahwa Maria ikut memikul beban dan persoalan-persoalan hidup kita?

Karena Maria seperasaan dengan Yesus yang meminggul salib, ia pun seperasaan dengan kita. Digambarkan dalam syair Stabat Mater Dolorosa** : jika kita merasa sakit, hati Maria pun ikut tertusuk; ketika kita menangis, Maria ikut menangis; kalau kita menumpahkan air mata, Maria ikut berair mata untuk kita. Stabat Mater menunjukkan Maria sebagai ibu yang berdiri seperasan dengan putranya yang berduka; ibu yang seperasaan dengan orang yang berbeban berat. Ketika Yesus dicemeti, dipukul, dan dipaku pada kayu salib, Maria ikut terluka. Tapi tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Maria. Maria seperasaan dengan kita tanpa kata namun ia hadir untuk kita. Maria ikut setia dalam perjalanan salib Yesus sedangkan murid yang lainnya lari bersembunyi. Hanya Yohanes yang dikatakan setia bersama Maria.

Di bawah salib Yesus mengatakan “Inilah anakmu” ketika Yohanes diserahkan kepada Maria. Lalu Yesus juga berkata, “Inilah ibumu” untuk menyerahkan Maria kepada Yohanes. Legioner bisa mengkontemplasikan hal ini dengan merenungkan kalimat “Inilah anakmu” untuk pribadi kita masing-masing. Yesus telah menyerahkan kita satu persatu pada perlindungan Bunda Maria. Maria pun diserahkan kepada kita untuk menjadi ibu kita. Siapa yang tidak merasa aman memiliki bunda seperti Maria? Ia jauh lebih setia daripada kita, ia adalah bunda yang memperhatikan kita.

Naleok ka naleok, Aina Maria hit ain alekot..

Meskipun kamu nakal, ibu Maria tetap baik padamu..

Kesetiaan Maria bagi kita juga sampai pada saat kita menghadapi ajal, inilah kebahagiaan kita sebagai putra-putra Maria. Maria setia bersama Yesus sampai kematianNya maka Maria akan setia pada anak-anaknya juga sampai akhir. Ini perlu terus-menerus kita kontemplasikan. Tidak ada alasan putus asa bagi kita untuk menyebut Maria dalam doa kita.

“Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati.”

Sebagai legioner, pencinta dan anak-anak Maria, kita perlu untuk terus-menerus mengeruk semangat Maria ini. Kita tak perlu putus asa. Legioner mungkin tidak kelihatan, karyanya tersembunyi, tak perlu banyak bicara, tapi karya-karya baiknya adalah buah anak-anak Maria. Jika kita mengandalkan iman ini dalam menghadapi macam-macam tantangan dan kelemahan, buah kebaikan itu pasti ada karena Maria yang menemani kita.

Mari kita serahkan seluruh pengalaman hidup kita, suka duka hidup kita dalam tangan Maria. Maria yang sudah menemani Yesus sampai di salib akan menemani kita juga sampai akhir. Amin.

* Salubong berasal dari Bahasa Tagalog yang berarti perjumpaan. Ini adalah salah satu bentuk tradisi devosi umat Katolik Filipina yang menggambarkan perjumpaan antara Yesus yang bangkit dengan ibunya. Pagi-pagi pada hari raya Paskah, umat beriman secara terpisah mengarak patung Yesus bangkit dan patung Maria mengelilingi kota. Patung Yesus yang telah bangkit diarak oleh para pria dalam suasana kegembiraan, sedangkan patung Bunda Maria mengenakan kerudung hitam diarak oleh para wanita dalam suasana duka cita. Kedua rombongan itu lalu bertemu di suatu titik, biasanya di depan gereja, dimana seorang gadis kecil berpakaian malaikat membuka kerudung hitam dari patung Maria.

**Stabat Mater Dolorosa adalah sebuah himne dari abad ke-13 yang menggambarkan duka cita Maria ketika mendampingi Yesus dalam perjalanan salib-Nya. Stabat Mater dolorosa berarti Bunda berduka cita yang sedang berdiri (iuxta crucem lacrimosa dum pendebat Filius : sambil menangis di sisi salib tempat Putranya bergantung). Lihat disini.


RP. Markus Yumartana, SJ adalah pemimpin rohani Legio Maria di Paroki Katedral Jakarta.

Sikap Toleransi Menciptakan Harmoni

Oleh : RP. Alexander Palino, MSC (Vikaris Jenderal Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 16:1-8

Toleransi secara etimologis memang berasal dari kata “tolerare” yang berarti ‘menanggung’ atau ‘membiarkan’. Toleransi dapat mempunyai warna etis-sosial, religius, politis dan yuridis serta filosofis maupun teologis. Secara umum toleransi menunjuk pada sikap membiarkan perbedaan pendapat dan perbedaan melaksanakan pendapat untuk beberapa lapisan hidup dalam satu komunitas. Pada umumnya arah pemahaman toleransi mencakup pendirian mengenai membiarkan berlakunya keyakinan atau norma atau nilai sampai ke sistem nilai pada level religius, sosial, etika politis, filosofis, maupun tindakan-tindakan yang selaras dengan keyakinan tersebut di tengah mayoritas yang memiliki keyakinan lain dalam suatu masyarakat atau komunitas.

Ide dasarnya adalah bahwa tak ada manusia yang bisa memiliki kebenaran utuh maupun cara menemukan kebenaran secara sempurna. Sebab pencarian kebenaran diakui sebagai proses majemuk yang menyejarah, tidak sekali jadi. Selain itu toleransi diperlukan agar suara hati masing-masing orang dapat berfungsi secara wajar dan saling dihargai. Dalam masyarakat tertutup pun sesungguhnya toleransi diperlukan agar berlakunya norma umum (bukan keinginan seorang pemuka masyarakat) terjamin, seraya memungkinkan agar pendapat mayoritas berkembang demi keseimbangan masyarakat; di lain pihak diharapkan pula bahwa orang yang berbeda pendapat tidak ditindas dan didiskriminasikan.
Tiadanya toleransi menyebabkan ‘yang kuat’ menang habis-habisan, sementara yang kalah hancur tanpa bekas. Dengan cara itu masyarakat rugi, karena benih-benih pendapat yang baru tumbuh dan belum kuat dapat hancur sebelum memperoleh kesempatan untuk dilaksanakan dan diuji oleh praksis. Dalam masyarakat demokratis, toleransi mutlak diperlukan bagi perkembangan berpikir secara kreatif dan aktif serta justru untuk memperkembangkan segala potensi masyarakat.

Menciptakan kehidupan beragama yang baik bukanlah berdasarkan toleransi yang semu, yang mempunyai tendensi untuk mengatakan bahwa semua agama sama saja. Gereja Katolik tetap menghormati agama-agama yang lain, mengakui adanya unsur-unsur kebenaran di dalam agama-agama yang lain, namun tanpa perlu mengaburkan apa yang dipercayainya, yaitu sebagai Tubuh Mistik Kristus, di mana Kristus sendiri adalah Kepala-Nya. Oleh karena itu, Gereja Katolik tetap melakukan evangelisasi, baik dengan pengajaran maupun karya-karya kasih. Dengan kata lain, Gereja terus mewartakan Kristus dengan kata-kata dan juga dengan perbuatan kasih.

Konsili Vatikan II dalam Nostra Aetate mengatakan demikian :

“Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci di dalam agama-agama ini. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); Dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.”

Setelah membaca Injil Luk 16: 1-8, maka beranilah kita berkata bahwa adalah sesuatu yang tidak tahu diri kalau manusia tidak mau memberi toleransi kepada manusia lain; juga orang lain yang lebih kecil atau lebih lemah. Sebab Allah begitu rela berbesar hati terhadap manusia yang penuh kesalahan dan dosa. Dengan kata lain, manusia mau memberi toleransi kepada orang atau kelompok lain hanya masalah realisasi: bahwa manusia mengakui dirinya sudah diberi toleransi oleh Tuhan. Dengan latar belakang itu, toleransi bukanlah jasa manusia melainkan kewajiban manusia.

Dalam konteks itu dapatlah kita lebih memahami Konsili Vatikan II yang mendukung kebebasan beragama dan suara hati. Sebab “Dignitatis Humanae” menunjukkan kebesaran hati mentoleransi pendapat dan keyakinan lain bahwa tugas-tugas itu menyangkut serta mengikat suara hati, dan bahwa kebenaran itu sendiri, yang merasuki akal budi secara halus dan kuat. Adapun kebebasan beragama, yang termasuk hak manusia dalam menunaikan tugas berbakti kepada Allah, menyangkut kekebalan terhadap paksaan dalam masyarakat. Kebebasan itu sama sekali tidak mengurangi ajaran katolik tradisional tentang kewajiban moral manusia dan masyarakat terhadap agama yang benar dan satu-satunya Gereja Kristus. Selain itu dalam menguraikan kebebasan beragama Konsili suci bermaksud mengembangkan ajaran para paus akhir-akhir ini tentang hak-hak pribadi manusia yang tidak dapat di ganggu-gugat, pun juga tentang penataan aturan masyarakat.

Ajaran Sosial Gereja juga melarang kekerasan atas nama agama dengan menyatakan : Tindak kekerasan tidak pernah menjadi tanggapan yang benar. Dengan keyakinan akan imannya di dalam Kristus dan dengan kesadaran akan misinya, Gereja mewartakan :

“Bahwa tindak kekerasan adalah kejahatan, bahwa tindak kekerasan tidak dapat diterima sebagai suatu jalan keluar atas masalah, bahwa tindak kekerasan tidak layak bagi manusia. Tindak kekerasan adalah sebuah dusta, karena ia bertentangan dengan kebenaran iman kita, kebenaran tentang kemanusiaan kita. Tindak kekerasan justru merusakkan apa yang diklaim dibelanya: martabat, kehidupan, kebebasan manusia.”

Apa pun kenyataan yang ada, komunikasi perlu terus dijalin melalui berbagi forum komunikasi antar umat beragama. Bangsa Indonesia membutuhkan munculnya kepemimpinan yang baik, pemimpin yang memberikan teladan hidup dan sanggup mengayomi serta memberikan jalan keluar dari krisis yang dihadapi bangsa; pemimpin yang kuat yang dihormati dan disegani; pemimpin yang cerdas, jujur, amanah, dan dapat berkomunikasi dengan baik; pemimpin yang mampu mengatur dan mampu menyelesaikan berbagai konflik yang ada di tengah masyarakat; pemimpin yang mampu menjadi perekat antar komponen bangsa yang mungkin bertentangan satu dengan lainnya.

Jadi, kehidupan beragama yang baik, hanya dapat terlaksana jika terjadi suasana dan lingkungan yang memberikan kebebasan beragama dan setiap umat dapat melaksanakan agama masing-masing dengan bijaksana. Pada saat yang bersamaan, maka umat Katolik juga harus tetap berakar pada doktrin yang kuat, serta bijaksana dalam proses evangelisasi.

Evangelisasi yang paling efektif adalah dengan memberikan kesaksian akan Kristus dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dalam perjuangan untuk hidup kudus.

 

 

 

 

Keluarga Kudus Sebagai Teladan Dalam Menjalin Persahabatan

Oleh RP. Yanno Leyn, MSF (Pastor Paroki Santo Yosef Pekerja – Juata)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 2:41-52

Ada sebuah lirik lagu yang selalu saya ingat dan kenang, berjudul “Keluarga Cemara”, yang diangkat dari sinetron besutan Arswendo Atmowiloto dan Adi Kurdi. Begini penggalan liriknya,

Harta yang paling berharga adalah keluarga,

Istana yang paling indah adalah keluarga.

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.

Mutiara tiada tara adalah keluarga….

Lewat penggalan lagu ini kita bisa membaca salah satu pesan, bahwa keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah tempat kita saling berbagi rasa, saling memperhatikan, saling menyayangi, dan saling membantu satu dengan lainnya. Keluarga demikianlah yang sungguh memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kasih.

Suatu komunitas atau keluarga kristiani perlu dibangun atas dasar kasih. Tanpa kasih, keluarga yang utuh dan bersekutu tidak mungkin berdiri kokoh dalam mengarungi samudera arus zaman.

Bertolak dari spiritualitas Keluarga Kudus Nazaret, kita membangun persahabatan dengan yang lain. Dalam lingkup keluarga, Yusuf, Maria, dan Yesus mengalami dan merasakan kepenuhan akan kebutuhan jasmani maupun rohani yang sangat mendalam.

Berdasarkan pada latar belakang masing-masing, mereka diutus untuk bersatu membentuk sebuah keluarga baru yang di dalamnya saling memberi dan menerima, mendidik dan dididik. Mereka saling belajar satu sama lain baik dalam menyelesaikan berbagai macam masalah kehidupan maupun dalam meningkatkan perkembangan rohaninya. Walau mereka memiliki keterikatan batin yang kuat namun ketiganya tetaplah pribadi-pribadi yang tidak melebur dalam pribadi yang lainnya. Masing-masing tetap memiliki kekhasannya, pribadi yang mandiri dan utuh serta yang memiliki perannya masing-masing.

Keluarga Kudus Nazareth merupakan model keluarga yang ideal bagi hidup pribadi atau kelompok masyarakat dalam menjalin persahabatan. Mengapa menjadi model yang tepat dan yang diharapkan? Kisah Injil yang ditampilkan dalam teks Lukas memperlihatkan gambaran tersebut.

Relasi keluarga Kudus Nasaret ini sangat harmonis, Mereka hidup dalam ketaatan kepada Allah. Misalnya tiap-tiap tahun mereka pergi ke Bait Allah di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Kemudian ketika Yesus berusia dua belas tahun, mereka bertiga pergi bersama-sama ke Bait Allah. Kesetiaan Yusuf dan Maria sebagai orang tua tercermin juga ketika Yesus hilang dalam perjalanan pulang ke Nasaret setelah merayakan Paskah. Tiga hari penuh mereka mencari puteranya sampai menemukan kembali di kota suci tersebut. Ketika menemukanNya, mereka tidak mendakwa atau memarahi Yesus tetapi mencoba menerima dan merenungkannya di dalam hati walau tidak mengerti dengan alasan Yesus. Yesus hidup dalam asuhan orangtuaNya dan semakin dikasihi Allah dan manusia. (bdk. Luk. 2:42-51).

Atas dasar inilah hubungan cinta kasih timbal balik antara ayah, ibu, dan anak terjalin. Keluarga Kudus Nazareth saling hormat penuh cinta, bersatu dan berdoa bersama. Dalam keluarga Nazareth yang beriman itu, tampak gambaran manusia yang hidup dalam pelayanan, kerukunan dan kedamaian. Yesus, Maria, dan Yosef merupakan pribadi-pribadi yang sungguh murni dalam kesetiaan, iman, pengharapan, dan pelayanan. Mereka mampu menangkap dan menjawab panggilan Tuhan.

Bagaimana kita mengejawantahkan spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth dalam kehidupan zaman ini? Fokus Pastoral Keuskupan Tanjung Selor tahun ini mengambil tema, “Gereja yang Ramah, Menyapa dan Memasyarakat”. Sejalan dengan tema ini, Paus Fransikus dalam homili malam Paskah 2015 yang lalu menyerukan agar keluarga-keluarga Katolik berani meninggalkan zona nyamannya masing-masing dan melihat keadaan sekeliling, terutama memperhatikan dan menolong orang-orang yang membutuhkan.

Hubungan atau relasi kita dengan yang sesama kerap kali ditandai dengan kehadiran. Dalam kehadiran ini kita menciptakan komunikasi dan relasi persaudaraan. Sebuah relasi-komunikasi yang menjadikan kita bagian dari yang lain.

Sikap rendah hati penuh kasih hendaknya menjadi spiritualitas kita dalam menerima yang lain.