Korona Adven / Lingkaran Adven

Lingkaran adven atau Korona Adven mempunyai empat lilin. Praktik membuat lingkaran adven ini berasal dari Jerman yang kemudian berkembang dan dilakukan di dalam gereja di banyak daerah. Berbagai makna kemudian dilekatkan pada simbol-simbol yang digunakan dalam lingkaran adven itu.

Empat lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Tiga lilin berwarna ungu, yang menyimbolkan pertobatan dan penantian. Sedangkan lilin minggu ketiga Adven berwarna merah muda, yang menyimbolkan sukacita. Minggu ketiga Adven yang disebut Minggu “Gaudete” atau Minggu “bersukacitalah”, mengajak umat untuk bersukacita karena kedatangan Sang Penyelamat semakin dekat.

Lilin dalam lingkaran adven ini dinyalakan mulai Minggu Adven pertama. Setiap minggu dinyalakan tambahan satu lilin, sehingga banyaknya lilin yang bernyala menjadi tanda progresif bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin mendekat. Hal ini mengingatkan kita untuk menyediakan palungan di dalam hati kita agar Kristus bisa dilahirkan kembali dalam diri kita. Maka, lingkaran adven menjadi bagian persiapan rohani menyambut kedatangan Sang Mesias.

Di beberapa daerah, ditambahkan lilin kelima berwarna putih yang lebih besar dan diletakkan di tengah lingkaran. Lilin putih ini melambangkan Kristus yang adalah “Terang yang telah datang ke dalam dunia” (Yoh 3:19-21). Lilin putih ini dinyalakan pada Misa malam Natal sebagai lambang bahwa masa penantian telah berakhir karena Juruselamat telah lahir.

Simbolisasi lainnya kiranya juga perlu dimengerti. Digunakan lingkaran dan bukan bentuk lain, karena lingkaran dimaknai sebagai simbol dari Allah yang abadi yang tidak mempunyai awal dan akhir. Lingkaran ini dibungkus dengan daun-daunan hijau (pakis, pinus, salam), karena hijau melambangkan hidup. Kristus adalah Sang Hidup itu sendiri. Dia telah wafat, tetapi hidup kembali dan tetap hidup.

Kedua, pada abad XVI, lingkaran adven juga dipasang dalam rumah-rumah keluarga Kristiani. Maknanya, alangkah baiknya jika setiap keluarga memasang lingkaran adven. Lingkaran ini bisa digantung atau diletakkan di atas meja. Biasanya diletakkan di tempat yang mudah dilihat oleh seluruh anggota keluarga. Lingkaran adven ikut menyemarakkan suasana dan membangkitkan semangat persiapan menyambut kelahiran Yesus dan kedatangan Kristus yang kedua pada akhir zaman.

Sumber :Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM
http://www.hidupkatolik.com/2013/03/04/lilin-adven

Surat Konsilium September 2015

Yth. Sdr Octavian Elang Diawan
Sekretaris Senatus Jakarta,
September 2015

Saudara Octavian yang terkasih,

Atas Nama Konsilium Legionis Dublin dan atas nama saya pribadi, saya mengirim salam hangat dan doa kepada Ketua Senatus dan Pemimpin Rohani, Romo Petrus Tunjung Kesuma, semua perwira dan anggota Senatus. Saya berterimakasih untuk Notulensi di bulan Feb, Mar, dan April 2015 yang telah saya terima dan saya menantikan notulen senates yang berikutnya.

Kehadiran perwira di bulan April sangat baik. Notulensi juga mengabarkan mengenai berbagaimacam tugas menarik yang telah dilaksanakan. Saya sangat senang membaca berita katekese di Jakarta dimana telah membuat beberapa orang bertobat dalam sakramen pengakuan dosa. Juga mengenai usaha-usaha Regia Medan untuk mempromosikan evangelisasi.

Usaha Senatus juga patut dihargai dalam memastikan kunjungan ke dewan-dewan dan presidium-presidium dapat terlaksana untuk menghidupkan kembali presidium-presidium yang tidak aktif lagi.

Saya menantikan laporan tentang Temu Kaum Muda (untukumur 17-35 tahun) yang akandilaksanakan tanggal 16-18 Oktober nanti.

Terimakasih untuk Saudari Audrey Isabella yang telah terpilih sebagai sekretaris 2 untuk menerima tanggungjawab mulia ini. Mohon agar dikirimkan nama lengkapnya untuk pengesahan pemilihannya.

Saya juga akan senang untuk mendengar kelanjutan dari Website Senatus Jakarta.

Padarapat Konsilium Legionis yang barusaja dilaksanakan tgl 20 September lalu, ada sejumlah pastor dan juga tamu-tamu dari negara lain. Sdr dan Sdri McGauran telah memberikan laporan atas kunjungan merekake Manila, Filipina dalam perayaan ulang tahun Legio ke 75 di sana.

Romo Bede dalam alokusionya mengatakan bahwa merekruit orang lain menjadi anggota legio adalah sebagian dari tugas setiap legioner, dimana itu akan menjadi sumber rahmat bagi kita semua. Dan karena kita saling mengasihi dan peduli terhadap sesama kita, maka kita harus mencoba dan menolong mereka untuk mendapatkan rahmat yang besar ini juga.

Pada Minggu lalu, kami melaksanakan Ziarah nasional tahunan legiomaria ke tempat suci di Knock. Ini adalah suatu kegiatan yang sangat baik dan dihadiri oleh sangat banyak orang termasuk Uskup Tuam dan Dubes Vatican dan banyak pula pastor yang hadir.

Saya akan senang jika dapat diupdate beberapa hal berikut ini:
1. Apakah proses pendirian Regia di Kalimantan telah berjalan?
2. Di mana posisi penterjemahan buku pegangan untuk saat ini dan buklet Some handbook Reflections?
Saya juga mengharapkan dapat menerima notulensi rapat setelah April 2015.

Sampai jumpa dan saya berharap semuanya mendapatkan rahmat dan berkat surgawi.

Catherine Donohoe
Koresponden Konsilium

 

Surat Konsilium Oktober 2015

Kepada: Sdr. Octavian
Sekretaris,
Senatus Jakarta Legio Maria

Dear Sdr. Octavian,

Salam dari Konsilium dan dari saya, kepada Ketua, Pemimpin Rohani dan seluruh perwira serta anggota Senatus Jakarta.

Saya mengucapkan terima kasih untuk salinan Notulensi Senatus sampai pada bulan Juli 2015 dan saya menunggu Notulensi selanjutnya. Terima kasih atas perhatiannya dalam menyelesaikan semua tugas dengan baik.

Pada pertemuan Konsilium di bulan Oktober, Romo Bede McGregor, Pendamping Rohani kami, memimpin ibadat. Dan di antara para Pastor yang hadir, hadir pula Pastor dari Mesir. Pada pertemuan ini juga hadir legioner dari Senatus Birmingham (Inggris), Lisbon (Portugal), dan 2 perwakilan dari Filipina.

Bacaan Rohani diambil dari Buku Pegangan Bab ke-7 tentang “Para Legioner dan Tritunggal Maha Kudus”. Dalam alukusionya, Bapa Bede mengutip kalimat “seperti halnya bernapas bagi tubuh manusia, demikianlah pentingnya doa Rosario bagi Legio Maria”. Pada Pentakosta, para rasul berdoa bersama dengan Bunda Maria yang merupakan “teladan dari penyerahan diri secara total”. Doa Rosario adalah Kristosentrik karena bersama Maria kita merenungkan Putranya yang Ilahi. Sementara, Roh Kudus merupakan jiwa bagi Legio Maria, yang memegang peran utama dalam evangelisasi (pewartaan injil). Kita harus mencoba dan mempromosikan doa Rosario mengingat bahwa ketika kita mendoakannya, Maria Ibunda Yesus juga turut berdoa bersama kita.

Selama bulan November, setiap presidium wajib melaksanakan Misa yang ditujukan bagi jiwa-jiwa para mendiang legioner di seluruh dunia.

Sr Janet Lowthe (yang juga seorang legioner) menjadi wakil dari Konsilium pada upacara di Ghana, Afrika Barat, yang merayakan 75 tahun Legio Maria di Negara tersebut. Beliau juga sekaligus mengikuti pertemuan dengan Hierarki yang terdiri dari para legioner pendahulu.

Ada saran bahwa kita harus mempromosikan budaya hidup “Memorare” doa kepada Maria, Bunda Allah.

Saya berharap perekrutan auksilier demikian juga anggota-anggota baru terus dilakukan. Doa dari para auksilier merupakan dukungan spiritual bagi para anggota aktif. Demikian pula kesatuan dengan para auksilier akan membantu menyemangati mereka.

Permintaan Konsilium untuk Data
Konsilium meminta agar dapat diberikan pernyataan yang menunjukkan kekuatan Senatus di teritori di mana ia bertanggung jawab, contohnya: jumlah Regia, Komisium, Kuria, serta Presidium.

Saya menunggu balasan anda segera.
Allah memberkati kita semua.

-Catherine Donohoe
( Concilium correspondent )