FIGUR MARIA DALAM KITAB SUCI PERJANJIAN BARU

Tokoh utama dalam KSPB tentulah Yesus Kristus yang wafat dan bangkit. Dialah sang ‘Kabar Baik’ yang diwartakan oleh para pengarang Injil, juga terutama oleh Paulus dalam surat-suratnya. Posisi dan peranan Maria tidak langsung nampak secara jelas dalam tulisan-tulisan yang dipercaya lebih tua dibandingkan tulisan-tulisan PB lainnya, yakni surat-surat Paulus dan Injil menurut Markus.

Paulus hanya menyinggung sekali tentang seorang perempuan yang akan melahirkan Mesias, Anak Allah: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya (tòn huiòn autoȗ), yang lahir dari seorang perempuan (gynaikós) dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Harus diingat bahwa surat-surat Paulus lebih tua daripada tulisan injil yang ada. Dengan hanya menyebutkan ‘seorang wanita (=isteri)’ dan tidak menyebut nama ‘Maria’, agaknya Paulus memang tidak ingin berbicara secara khusus mengenai Maria, namun ingin menyatakan bahwa Anak Allah sungguh menjadi manusia, syukur karena peran seorang perempuan. Keberadaan seorang perempuan ini memungkinkan Allah yang Maha Kuasa menjadi sungguh-sungguh ‘manusia lemah’ seperti kita.

Selain Gal (ditulis sekitar tahun 50-60), tulisan awal PB yang juga menyinggung mengenai Maria adalah Injil menurut Markus: “Bukankah Ia [Yesus] ini tukang kayu, anak Maria (ho huiòs tēs Marías), saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon?” (Mrk 6:3). Dalam tulisan Markus (ditulis sekitar tahun 65-70) agaknya sudah ada penamaan yang lebih jelas terhadap ibu Yesus, yakni Maria. Di sini, nama Maria disinggung dalam konteks pewartaan dan pelayanan yang dilakukan Yesus.

Dalam tulisan-tulisan injil setelahnya (Mat dan Luk; ditulis sekitar tahun 80), peranan Maria dalam hidup dan karya Yesus di dunia menjadi semakin nampak: Maria melahirkan Yesus (Mat 1:18-25; Luk 2:1-7) dan Maria menjemput Yesus ketika pewartaan-Nya ditolak (Mat 12:46-50; Luk 8:19-21). Tulisan Lukas selanjutnya menunjukkan juga bagaimana Maria bersama para murid menantikan turunnya Roh Kudus (Kis 1:14). Injil Yohanes menempatkan peran Maria dalam terjadinya mukjizat pertama Yesus di pesta pernikahan di Kana (Yoh 2: 1-11). Selain itu, Yohanes memberikan kesaksian bahwa ibu Yesus hadir di bawah salib Yesus (Yoh 19:25) dan menyerahkan Maria kepada murid terkasihnya, sekaligus meminta Maria untuk menerima murid terkasih ini menjadi anaknya (bdk. Yoh 19:26-27).

Selain dalam tulisan-tulisan ini, kita kerap kali berpikir bahwa gambaran ‘wanita’ yang ada dalam kitab Wahyu adalah Maria. Para ahli sendiri tidak sampai pada kesepakatan mengenai hal ini, karena sangat dimungkinkan bahwa ‘wanita’ ini adalah gambaran untuk menunjukkan ‘Israel’ atau bahkan ‘Gereja’ sendiri.

Kesimpulan: Ada perkembangan kesadaran para penulis KSPB sendiri mengenai peranan Maria dalam hidup dan karya Yesus. Perkembangan ini agaknya tidak dapat dilepaskan juga dari perkembangan kristologi yang ada dalam KSPB sendiri (M. Schmaus). Pengarang KSPB agaknya memang ingin menunjukkan relasi yang tidak terpisah antara Maria dan Yesus, Puteranya yang terkasih.

Oleh : RD Riki Maulana Baruwarso

 

Tahun Kudus Kerahiman Allah-Momen Pengenangan Kasih Allah

Pembukaan ‘Porta Santa’ (Pintu Kudus) di Basilika St. Petrus pada 8 Desember 2015 oleh Paus Fransiskus telah mengawali Tahun Kudus Kerahiman Allah.Tahun Kudus kali ini mengangkat tema “Hendaklah kamu murah hati seperti Bapa” (Lk 6:36).

Merayakan Tahun Kudus sudah menjadi tradisi Gereja sejak tahun 1300 (Paus Bonifasius VIII). Pengenangan akan kasih Allah yang abadi kepada kita manusia dan ajakan untuk bertobat menjadi inti perayaan Tahun Kudus. Secara istimewa Tahun Kudus kali ini dilakukan tidak sesuai dengan kebiasaan 25 tahunan (seharusnya 2025). Maka, perayaan ini pun disebut Tahun Luar Biasa Kerahiman Allah (Extraordinary Jubilee of Mercy).

Paus Fransiskus merasa sangat tepat merayakan Tahun Kudus Kerahiman Allah pada saat ini. Gereja dan dunia perlu diingatkan kembali akan pentingnya ‘kasih (baca: kerahiman) dan pertobatan’. Menarik untuk disadari bahwa Tahun Kudus dibuka pada Hari Raya Bunda Maria dikandung tanpa Noda dan sekaligus peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II. Kedua momen ini dilandasi oleh semangat ‘kasih’. Dogma tentang Maria dikandung tanpa noda, yang lantas menjadi Hari Raya dalam Gereja, berbicara pertama-tama tentang kerahiman Allah kepada Maria. Allah mempersiapkan Maria untuk menjadi Bunda Yesus. Bahasa ‘kasih’ ini lantas diartikan oleh Konsili Vatikan II dengan ‘keterbukaan’ Gereja terhadap manusia, dunia dan persoalannya. Gereja ingin menunjukkan wajah pemberi harapan dan pengampunan, daripada wajah penghukum dan pengutuk. Di tengah situasi politik yang sangat panas pada pertengahan abad ke-20 (perang dingin antara Uni Soviet dan USA, pergolakan politik di negara-negara Arab), Konsili Vatikan II justru menawarkan kesegaran dan harapan.

Namun, dalam perjalanan waktu, sejarah sepertinya berulang. Tindak kekerasan dan sempitnya cara berpikir, yang disebabkan oleh karena kebekuan hati, kembali menguasai manusia. Cukup mengikuti berita mengenai situasi politik dan kemanusiaan di jazirah Arab, kekerasan yang terjadi di benua Eropa, dan juga mengenai ketegangan di antara negara-negara adi daya militer, kita akan menyadari bahwa manusia lupa akan ‘kasih dan pertobatan’.

Sayangnya, kita harus mengakui bahwa Gereja pun lupa. Semangat keterbukaan yang digulirkan oleh Konsili Vatikan II sepertinya harus terbentur kembali dengan dinding-dinding yang dingin. Apakah kita menyadari bahwa kita lebih senang berbicara tentang peraturan (boleh dan tidak boleh) daripada berbicara tentang pemahaman (mencari makna/maksud) ? Pembicaraan yang terlalu berpusat pada hukum/peraturan membuat wajah Gereja menjadi begitu dingin. Siap menghukum yang bersalah. Kita jangan meniadakan hukum/peraturan karena akan terjadi kekacauan, tetapi jangan sampai juga terlalu menekankan peraturan dan tidak membuka diri pada kemungkinan lain “di luar” peraturan (kebiasaan). Perlu diketahui bahwa sebelum pembukaan Tahun Kudus Kerahiman Allah, Paus sudah lebih dahulu mengundang para uskup sedunia untuk hadir dalam Sinode yang membahas tentang keluarga dan probematika aktualnya. Paus mengajak para uskup untuk membuka mata dan hati akan realitas ini. Paus Fransiskus mencoba mengingatkan kembali semangat yang telah berhembus dalam sejarah Gereja, yakni Kerahiman Allah.

Mungkin saja Tahun Kudus Kerahiman Allah tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan manusia dan dunia. Namun setidaknya kita perlu diingatkan kembali akan gambaran Allah yang adalah Kasih, sekaligus diingatkan akan tugas kita untuk mewartakan dan menunjukkan wajah Allah yang adalah Kasih. Tahun Kudus ini menjadi momen penuh rahmat untuk mengalami kerahiman Allah dalam pertobatan (=Sakramen Tobat), sekaligus menyatakannya dalam tindakan kita kepada sesama. Inilah makna pengenangan Kasih Allah dalam Tahun Kudus Kerahiman Allah.

Selama kurang lebih satu tahun ke depan (8 Desember 2015 s/d 20 November 2016) kita diajak untuk bergumul dalam pengalaman akan Kerahiman Allah. Selain mengajak umat untuk menerima secara teratur Sakramen Tobat, Paus Fransiskus mendorong dilakukannya ziarah ke tempat-tempat kudus. Paus menyadari bahwa tidak mudah menunjukkan kasih kepada orang-orang yang bersalah kepada kita. Ziarah adalah sebuah simbol perjalanan dan perjuangan manusia, jatuh-bangun, dalam mencintai Allah dengan mengasihi sesama.

Allah adalah Kasih. Menjadi anak-anak Allah dalam pembaptisan berarti menjadi anak-anak Kasih. Hanya dengan mengasihi, kita menegaskan identitas kita sebagai anak-anak Allah.

 

Oleh : RD Riki Maulana Baruwarso

 

 

Apa Makna Natal Bagimu?

Natal sebentar lagi akan tiba. Kita juga sudah akan memasuki Minggu Adven yang ketiga. Lalu, bagaimana dengan persiapan Natal kita kali ini ?

Biasanya Natal akan identik dengan libur panjang, pohon natal, kado, dan sinterklas. Kalau ke Mall atau pusat perbelanjaan, maka sudah ada Pohon Natal yang menjulang tinggi, ornamen yang cantik serta lagu-lagu natal yang menemani kita berbelanja. Menyenangkan sekali yah..

Namun, apakah sudah kita renungkan, apa makna natal yang sebenarnya?

Natal sebaiknya menjadi moment di mana kita selalu menghadirkan Yesus di mana pun kita berada yang artinya kita harus menghadirkan kasih, damai, dan pengampunan untuk sesama. Mengapa demikian?

Dalam Yohanes 3:16 yang isinya ” Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yesus adalah lambang kasih Allah yang begitu besar bagi manusia, maka dari itu hendaknya kita memaknai Yesus yang lahir dengan menjadikan kita pribadi-pribadi yang selalu menebarkan kasih bagi keluarga, teman-teman, komunitas ataupun lingkungan masyarakat.

Bagaimana dengan damai yang harus kita bagikan ? Di dalam Yesaya 9:6 tertulis demikian : “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat, Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesus adalah Sang Raja Damai sehingga mari kita menjadi pembawa damai ke manapun kita pergi dan kepada siapapun yang kita jumpai tanpa melihat agama, suku, dan rasnya.

Tahun Kerahiman Illahi yang sudah dibuka 8 Desember yang lalu dengan motonya “Merciful like the Father” hendaknya juga menjadi inspirasi pengamalan nyata bagi kita untuk belajar mengampuni sesama karena Allah telah lebih dahulu mengampuni kita, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”(Lukas 6:36)

Teman-teman, marilah kita memaknai natal ini tidak hanya dengan persiapan lahiriah namun juga dengan persiapan batin sehingga Perayaan Natal dapat memampukan kita menghadirkan Yesus yang lahir dalam hati kita sehingga kita dapat membagikan kasih, damai, dan pengampunan bagi sesama.

Tuhan memberkati, Bunda Maria mendoakan.

Surat Konsilium November 2015

Kepada: Sdr. Octavian

Sekretaris Senatus Jakarta Legio Maria

Dear Sdr. Octavian,

Salam dari Konsilium dan dari saya, kepada Ketua, Pemimpin Rohani dan seluruh perwira serta anggota Senatus Jakarta.

Saya mengucapkan terima kasih untuk salinan Notulensi Senatus sampai pada bulan Juli 2015 dan saya menunggu Notulensi selanjutnya. Terima kasih atas perhatiannya dalam menyelesaikan semua tugas dengan baik.

Pada pertemuan Konsilium di bulan Oktober, Romo Bede McGregor, Pendamping Rohani kami, memimpin ibadat. Dan di antara para Pastor yang hadir, hadir pula Pastor dari Mesir. Pada pertemuan ini juga hadir legioner dari Senatus Birmingham (Inggris), Lisbon (Portugal), dan 2 perwakilan dari Filipina.

Bacaan Rohani diambil dari Buku Pegangan Bab ke-7 tentang “Para Legioner dan Tritunggal Maha Kudus”. Dalam alukusionya, Bapa Bede mengutip kalimat “seperti halnya bernapas bagi tubuh manusia, demikianlah pentingnya doa Rosario bagi Legio Maria”. Pada Pentakosta, para rasul berdoa bersama dengan Bunda Maria yang merupakan “teladan dari penyerahan diri secara total”. Doa Rosario adalah Kristosentrik karena bersama Maria kita merenungkan Putranya yang Ilahi. Sementara, Roh Kudus merupakan jiwa bagi Legio Maria, yang memegang peran utama dalam evangelisasi (pewartaan injil). Kita harus mencoba dan mempromosikan doa Rosario mengingat bahwa ketika kita mendoakannya, Maria Ibunda Yesus juga turut berdoa bersama kita.

Selama bulan November, setiap presidium wajib melaksanakan Misa yang ditujukan bagi jiwa-jiwa para mendiang legioner di seluruh dunia.

Sr Janet Lowthe (yang juga seorang legioner) menjadi wakil dari Konsilium pada upacara di Ghana, Afrika Barat, yang merayakan 75 tahun Legio Maria di Negara tersebut. Beliau juga sekaligus mengikuti pertemuan dengan Hierarki yang terdiri dari para legioner pendahulu.

Ada saran bahwa kita harus mempromosikan budaya hidup “Memorare” doa kepada Maria, Bunda Allah.

Saya berharap perekrutan auksilier demikian juga anggota-anggota baru terus dilakukan. Doa dari para auksilier merupakan dukungan spiritual bagi para anggota aktif. Demikian pula kesatuan dengan para auksilier akan membantu menyemangati mereka.

Permintaan Konsilium untuk Data

Konsilium meminta agar dapat diberikan pernyataan yang menunjukkan kekuatan Senatus di teritori di mana ia bertanggung jawab, contohnya: jumlah Regia, Komisium, Kuria, serta Presidium.

Saya menunggu balasan anda segera.

Allah memberkati kita semua.

Catherine Donohoe

Koresponden Konsilium

 

 

 

Iman yang Tepat adalah Mencintai Kekatolikan Secara Tepat

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Hal 334 Bab 39 Point 33 ” Legioner harus berada di garis depan dalam medan pertempuran Gereja “

Kita para legioner berada dalam suasana sosial yang kompleks, termasuk keberadaan pengajaran kekristenan yang beragam.Akibatnya pemaknaan terhadap pribadi Yesus juga sangat beragam – dan banyak di antaranya yang tak sejalan dengan pengajaran iman Katolik. Kedangkalan pengertian terhadap iman Katolik akan membuat kita mudah diresapi dengan ajaran-ajaran ke-kristenan yang tidak benar.Menyikapi hal ini para legioner perlu mengembangkan sikap mau belajar segala hal tentang Kekatolikan secara lebih mendalam. Kemauan belajar dan menghayati iman Katolik  adalah bagian mendasar  pertempuran  legioner di barisan terdepan Gereja.

Gereja Katolik menerbitkan Katekismus sebagai salah satu sumber pengajaran resmi. Marilah kita menimba banyak hal benar daripadanya , sehingga kita juga  terhindar dari praktek-praktek yang salah (contoh: menganggap air suci atau rosario sebagai benda keramat, mengukur iman seseorang dari kemampuan supranaturalnya atau pengalaman  mujizat yang bombastis). Orang-orang suci bukanlah mereka yang melakukan hal-hal besar dan berbagai mukjizat namun mereka yang menghayati Iman Katoliknya secara benar dan tulus serta melakukan ajaran Kristus. Dalam memaknai  segala hal yang terjadi, Gereja juga mengajak kita bukan hanya menggunakan kedalaman hati dan rasa namun juga menggunakan  akal budi yang sehat.

Marilah kita mempelajari dan menghayati ajaran Gereja Katolik sebagai kebiasaan harian Legio Maria.

Oleh : RD Petrus Tunjung Kusuma

Surat Konsilium Desember 2015

Kepada Saudara Octavian,
Sekretaris Senatus Jakarta.

Yang Terkasih Saudara Octavian Elang,

Atas nama Konsilium dan pribadi, saya ingin menyampaikan salam hangat kepada Ketua, Pemimpin Rohani, dan semua perwira dan anggota dari Senatus Jakarta.

Pada Rapat Konsilium Nov 2015, banyak sekali hadirin yang hadir, termasuk seorang pastor dari Zambia, pastor dari Hong Kong dan juga 10 orang koresponden dari Madrid, Spanyol. Juga hadir seorang muda dari Belfast Irlandia yang sekarang adalah seminaris Dominikan. Semuanya disambut hangat oleh Saudari Sile Ni Chochlain, Ketua Konsilium yang membawakan bacaan rohani dari BukuPegangan Bab 17 – Jiwa-Jiwa Legioner yang Sudah Meninggal.

Baru-baruini, dua orang Legioner mewakili Konsilium telah melakukan kunjunganke Kolombia, Amerika Latin.Legio Maria dikenalkan di sana pada tahun 1947. Sekarang Bogota mempunyai 30,000 orang anggota aktif, dan sebuah presidium universitas di sana mempunyai 16 anggota aktif.

Alokusio diberikan oleh Romo Bede McGregor,mengingatkan kita bahwa kita semua satu sama lain dimiliki oleh Yesus Kristus. Kita adalah anggota komunitas Para Kudus, berarti kita terhubung dengan para orang kudus di Sorga dan Jiwa-Jiwa di Api Penyucian. Olehk arena itu, kita harus berdoa untuk mereka agar bebas dari segala penderitaan.Misa Khusus Arwah di bulan November dipersembahkan oleh setiap presidium untuksemua legioner yang sudah meninggal; berarti ada berjuta-juta legioner yang berdoa untuk kita. Dan kita berharap Bapak Frank Duff di sorga juga dapat menjadi perantara doa kita.
Legio Maria di Kenya, Africa merayakan ulang tahun ke-75.

Konferensi Orang Muda diadakan di Dublin selama lebih dari 2 hari di bulan September dihadiri banyak orang dan berjalan dengan lancar. Konferensi Peregrinatio Pro Christo diadakan padatanggal 7 November dihadiri oleh 240 orang. Banyak laporan menarik dari berbagai projek yang disampaikan.Misa kudus juga diadakan di malam harinya.

Sebuah ruangan di dalam gereja paroki di Phibsboro, Dublin baru-baru ini diberkati oleh Bapa Uskup Diarmuid Martin dan dipersembahkan untuk mengenang Bro Duff. Pada masa mudanya Bro Duff adalah anggota paroki ini.

Mendekati akhir tahun ini dan seraya menantikan Natal dan tahun baru, kita paralegioner sebaiknya merefleksikan Janji Legio yang telah kita buat pada akhir 3 bulan masa percobaan dan telah kita sampaikan kepada Allah Roh Kudus. Mari kita berharap agar kita semua selalu setia dalam menepati janji kita.

Saya akan senang untuk menerima sisa notulensi yang belum dikirim dan data statistic senatus yang telah saya minta pada surat terakhir konsilium saya

SemogaTuhan memberkati kitas semua
Catherine Donohoe
Koresponden Konsilium