Kekuatan Rosario

“Rosario adalah senjata ampuh untuk mengusir setan-setan dan menjaga diri dari dosa … Jika Anda menginginkan kedamaian di dalam hati Anda, di rumah Anda, dan di negara Anda, berkumpullah setiap malam untuk mendoakan Rosario. Jangan sampai satu hari pun berlalu tanpa Anda mendoakannya, betapa pun Anda merasa terbeban dengan banyaknya persoalan dan kerja keras”

– Pope Pius XI

Kita hidup di zaman modern yang memilki begitu banyak tantangan dan krisis, termasuk juga krisis iman. Banyak keluarga Katolik pun mengalami keputusasaan dan kekhawatiran yang menggoyahkan iman. Akan tetapi, walaupun tantangan itu begitu kuat, kita diberikan senjata oleh Allah Bapa melalui peran Bunda Maria dalam doa Rosario Suci. Doa Rosario adalah “ringkasan Injil”, karena di dalamnya dirangkai dan direnungkan sejarah keselamatan yang dipaparkan dalam Injil.

Kekuatan doa Rosario sangat luar biasa. Banyak keajaiban yang tak terhitung jumlahnya, serta kemenangan iman yang telah diperoleh dan menjadi sumber rahmat bagi Gereja Katolik. Sangat sayang jika umat enggan mendoakannya karena doanya yang panjang, padahal rahmat sangat melimpah di balik doa yang memang memiliki unsur meditatif ini.

Sejarah diadakannya bulan Rosario di bulan Oktober berawal dari kemenangan militer yang didapat dalam pertempuran Lepanto saat itu, negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman, sehingga agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Paus Pius V memerintahkan umat Katolik untuk berdoa rosario untuk memohon dukungan doa Bunda Maria. Perintah ini dilakukan oleh Don Juan (John) dari Austria, komandan armada dan oleh umat Katolik di seluruh Eropa. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario tanpa henti dari subuh hingga petang di Basilik Santa Maria Maggiore. Walaupun tampak mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut.

Pertempuran Lepanto, 7 Oktober 1571

Doa Rosario sendiri terbentuk setahap semi setahap. Digunakannya ‘butir-butir’ sebagai alat bantu doa juga merupakan tradisi sejak jaman Gereja awal, atau bahkan sebelumnya. Pada abad pertengahan, butir-butir ini dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria di biara-biara. Tradisi mengatakan bahwa St. Dominic (1221) adalah santo yang menyebarkan doa rosario, seperti yang kita kenal sekarang. Ia berkhotbah tentang rosario ini pada pelayanannya di antara para Albigensian yang tidak mempercayai misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, tujuan utama pendarasan doa rosario adalah untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus.

Tak terhitung banyaknya penampakan Bunda Maria yang menyerukan keluarga-keluarga untuk berdoa Rosario sebagai senjata dalam mengalahkan si jahat, untuk kedamaian dunia, dan untuk berperang melawan kelemahan.  Kita harus berdoa dan berpuasa dengan iman yang hidup dan keyakinan yang kuat – dan tidak ada cara yang lebih baik untuk melakukan ini daripada dengan berdoa Rosario Kudus, mati raga, Ekaristi Suci, pengakuan dosa, dan membaca Kitab Suci (sumber: intisari perkataan Bunda Maria dalam penampakannya di Fatima).

Melalui doa Rosario, kita merenungkan seluruh peristiwa kehidupan Yesus Kristus bersama-sama dengan Allah Tritunggal Maha Kudus dan Bunda Maria serta para malaikat surgawi. Ada doa Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan sebagai doa minimal yang diucapkan dan menjadi mahkota mawar yang dipersembahkan bagi Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Rangkaian mawar yang terangkai setiap kali kita berdoa Rosario ini didapat dari vision Santo Dominikus.

Jadi, marilah kita belajar untuk berdoa Rosario bersama-sama maupun secara pribadi. Tidak ada kerugian apapun yang kita dapatkan untuk mendoakan Rosario, yang ada hanya rahmat dan pertolongan Tuhan dan Bunda Maria untuk iman dan hidup kita. Ave Maria.

(Cindy Permana; dari berbagai sumber)


Sesilia Cindy Permana adalah legioner dari Presidium Bunda Gereja, Kuria Teladan Kaum Beriman Grogol – Komisium Maria Immaculata Jakarta Barat II. Pernah menjabat sebagai Sekretaris 2 Senatus Bejana Rohani periode 2014-2015.

Surat Konsilium 31 Agustus 2017

31 Agustus 2017

Kepada Ytk: 

Saudari Ignatia Marina Sudiarta, 

Sekretaris Senatus Jakarta 

Yang Terkasih Saudari Marina, 

Sekali lagi, atas nama Konsilium Legionis, saya sampaikan salam hangat kepada Pemimpin Rohani, Ketua, para perwira dan semua anggota Dewan Senatus Jakarta. 

Terima Kasih banyak kepada Saudari Jenny Triratna yang telah memberikan informasi kepada saya baru-baru ini mengenai proposal pendirian Komisium di Palangkaraya, Kalimantan dan mengenai pendirian Kuria di Barito. Saya harap sukses dan berkat menyertai dewan-dewan baru di Kalimantan ini. 

Pada rapat Konsilium yang diadakan tanggal 20 Agustus 2017 kemarin, banyak sekali hadirin yang hadir, termasuk 7 pastor, 2 orang pengunjung dari Kuala Lumpur – Malaysia, 3 orang dari USA, 1 orang dari Austria, dan juga masing-masing satu orang dari Liverpool dan Manchester. Semuanya disambut hangat oleh Saudari Mary Murphy, Ketua Konsilium. 

Bacaan Rohani masih merupakan sambungan dari Buku Pegangan bab 33 point 13 mengenai “Kehidupan Iman Para Legioner”. Dalam alokusionya, Romo Bede McGregor berbicara mengenai tema “Kehidupan Iman” dan bagaimana Legioner seharusnya tumbuh dalam kekudusan dengan Doa (hal 225), Pengingkaran Diri (hal 226), dan Sakramen (hal 227). Setiap dari kita dipanggil untuk menjadi orang kudus, dan setiap individu legioner harus mencoba dan melakukannya menjadi orang kudus – menjadi Santo/Santa. Sesungguhnya, pada bab 33 ini (Tugas-Tugas Pokok Para Legioner – total 14 poin, hal 210-231), semua legioner harus membacanya dan membacanya lagi berulang-ulang. 

Kami sangat senang sekali mendengar bahwa 15 pastor yang ditahbiskan menjadi imam baru-baru ini, 5 diantaranya diinspirasi oleh Legio Maria. 

Seperti biasa, banyak laporan menarik dari berbagai belahan dunia, dan secara khusus laporan dari Amerika Serikat dan Kanada dapat dikatakan luar biasa. 

Di sini, di Irlandia, kami akan kembali mengadakan Konferensi Orang Muda Tahunan. Setiap Dewan Kuria diminta untuk mengirim paling sedikit 2 anak muda (dalam kelompok umur 18-40 tahun) dan jika Kuria mampu, maka mereka harus membiayai 2 orang ini. 

Pada tanggal 8 September, kita merayakan ulang tahun Bunda Maria. Dan pada tanggal 22 September, kami akan mempunyai perayaan Malam Kebudayaan di kota Dublin di mana rumah-rumah Legio akan dibuka untuk kunjungan umum.

Pada hari Minggu, 24 September, kami akan kembali mengadakan ziarah tahunan ke Knock Shrine, ini seperti biasa akan menjadi perayaan tahunan penting. 

Knock Shrine adalah tempat ziarah penting di Irlandia. Di mana, Bunda Maria, Santo Yusuf, Santo Yohanes Penginjil, dan Anak Domba (Yesus) menampakkan diri di Knock pada tahun 1879.




Saya menantikan untuk menerima Notulensi Saudara bulan Juli dan Agustus. 

Saya menutup surat ini dan memohon rahmat Allah untuk kita semua. 

Catherine Donohoe – Koresponden Konsilium

Kelahiran Bunda Maria, Awal Tersingkapnya Janji Keselamatan

Oleh RD Moses Watan Boro


Setiap tahun pada tanggal 8 September, Gereja Katolik Roma merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Seturut sejarah, mulanya pesta ini dirayakan di lingkungan Gereja Timur berdasarkan ilham dari tulisan-tulisan apokrif pada abad ke–6 dan pada akhir abad ke–7 pesta ini diterima dan dirayakan di dalam Gereja Barat Roma. Perayaan ini  mengungkapkan iman Gereja akan kehadiran Santa Perawan Maria dalam pentas karya keselamatan manusia oleh Allah. Pesta ini menjadi penting di dalam Gereja karena melalui kelahiran Bunda Maria-lah sejarah keselamatan itu dimulai. Dengan kelahirannya, Santa Perawan Maria mempersiapkan hadirnya Yesus, Sang Juru Selamat. Ia adalah tabut perjanjian baru yang dari padanyalah, Sang Juru Selamat dikandung, dilahirkan dan dibesarkan.

Kelahiran Santa Perawan Maria dalam sejarah keselamatan sesungguhnya telah diamanatkan oleh Allah sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Oleh sebab itu, ia juga sering disebut sebagai Hawa baru. Hawa yang lama membawa manusia jatuh ke dalam dosa tetapi Hawa yang baru membimbing manusia kepada keselamatan. Hadirnya Hawa baru ini telah diwartakan oleh para nabi dari zaman ke zaman dan dari masa ke masa. Inilah janji keselamatan yang dimaklumkan oleh Allah bagi manusia ciptaanNya.

Nabi Yesaya (Yes 7:10-25) dalam pemberitaan mengenai Imanuel, mengatakan kepada Raja Ahas, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Sebutan perempuan muda atau parthenos dialamatkan pada sosok yang hadir dalam diri Santa Perawan Maria. Dari rahimnyalah dikandung dan dilahirkan Immanuel sebagai Juruselamat. Dia berasal dari turunan Daud, sebab tampuk kekuasaan Israel tidak pernah berpindah dari keturunan Daud sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah sendiri (Bdk. 1 Raj. 2:4). Maka dari itu Santa Perawan Maria adalah sosok yang dipilih oleh Allah untuk memulai rencana besar-Nya dalam menyelamatkan manusia.

Kelahiran Santa Perawan Maria tidak dikisahkan dalam kitab-kitab suci. Di dalam teks aprokrif (Protoevangelium Yakobus) ditemukan bahwa, Santa Perawan Maria dilahirkan dari pasangan suami-istri Santo Yoakim dan Santa Anne. Dalam keluarga inilah, ia dididik dan dibesarkan sebagai orang yang beriman hingga tumbuh menjadi seorang wanita dewasa dan kemudian diambil oleh Yosef sebagai istrinya. Bersama dengan Santu Yosef, mereka membesarkan Tuhan Yesus dengan penuh cinta dan menjadikan keluarga mereka sebagai Keluarga Kudus Nazareth. Bahkan dengan iman yang teguh Bunda Maria menerima setiap peristiwa yang dialami oleh puteranya Yesus mulai dari penerimaan Kabar Gembira hingga pada peristiwa di puncak Kalvari ketika ia harus memangku tubuh puteranya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Kehadiran Santa Perawan Maria dalam proyek keselamatan Allah sesungguhnya telah direncanakan sejak awal mula oleh Allah, maka kelahirannya merupakan takdir dan rencana Allah sendiri. Ia adalah wanita pilihan Allah yang telah disucikan sejak awal ia dikandung, maka perkandungannya sendiri disebut sebagai Dikandung Tanpa Noda Dosa. Allah sungguh menyiapkan Santa Perawan Maria sebagai Bejana Rohani bagi diamnya PutraNya sendiri yakni Yesus Kristus.

Moment kelahiran Santa Perawan Maria yang diperingati oleh Gereja pada tanggal 8 September ini, mengajak segenap anggota Gereja untuk melihat kembali sejarah keselamatan manusia oleh Allah yang terlaksana berkat penyerahan diri yang total dari Bunda Maria. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka kutuk Allah bagi Hawa lama yang dibinasakan oleh dosa serta maut dan mendatangkan keselamatan melalui peristiwa keselamatan melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka harapan baru bagi manusia untuk mengalami kembali belas kasih Allah, sebab Immanuel yang dikandungnya mengungkapkan kehadiran Allah dalam hidup manusia. Bunda Maria adalah jawaban atas kerinduan umat manusia yang berlangsung dari abad ke abad untuk melihat karya keselamatan yang dikerjakan oleh Allah bagi manusia. Maka peristiwa kelahiran Santa Perawan Maria merupakan tabir baru yang menyingkapkan janji-janji Allah akan datangnya Sang Juruselamat. Di sini Gereja diajak untuk menghormati Santa Perawan Maria sebagai wanita pilihan Allah yang telah dipersiapkan sejak awal mula untuk mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Juruselamat umat manusia.


RD Moses Watan Boro adalah Pastor Keuskupan Larantuka yang kini tengah menempuh studi Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Beliau juga bertugas sebagai Pastor Mahasiswa di kampus tersebut dan membantu di Paroki Maria Bunda Karmel Meruya.

Homili Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC pada Misa Tahunan Senatus 2017

Disampaikan pada Misa Tahunan Senatus dan Perayaan 50 tahun Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Keuskupan Bandung, 2 September 2017


Saat ini dunia kita penuh dengan semangat pamrih, apa-apa ada harganya dan selalu ada tuntutan timbal balik; “ada udang di balik batu”, atau legioner sering berkata “ada daging di balik nasi”. Semangat pamrih itu juga ternyata sudah  merasuki kehidupan keagamaan; dalam doa dan pelayanan. Seperti kata sebuah pepatah yang terenal “do ut des” : “memberi supaya mendapatkan”. Kita lalu sering mempertanyakan “Apa untungnya melakukan pelayanan ini?”, “Aapa manfaatnya menjadi legioner?”

Kita perlu mengingat kembali bahwa kelahiran Yesus terjadi karena ada orang-orang seperti Yusuf dan Maria yang tulus dan tanpa pamrih. Mereka menyadari kehidupan sebagai berkat dan rahmat yang ia peroleh dengan cuma-cuma, maka hidup mereka dipersembahkan kepada Allah dan sesama juga dengan cuma-cuma.

Memang saat ini sulit sekali mencari orang yang tulus. Bahkan kita cenderung memandang orang yang tulus sebagai orang yang “terlalu bodoh”. Ada sebuah kisah tentang seorang pengusaha yang ditipu oleh temannya hingga hartanya habis dan ia tak punya dana lagi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ia kemudian mencoba menjual tanahnya yang berada di Yogyakarta. Di stasiun, ia bertemu seorang bapak yang mengaku kecopetan dan tak punya uang lagi untuk membeli tiket kereta menuju Surabaya. Meskipun ragu dan khawatir ditipu, pengusaha itu akhirnya memberikan uang terakhirnya sebesar Rp. 200.000 yang awalnya hendak ia gunakan untuk membeli tiket kereta pulang dari Yogyakarta. Bapak yang kecopetan itu berjanji akan mengembalikan uang itu dengan cara transfer hingga ia memaksa meminta nomor rekening si pengusaha. Si pengusaha memberikan nomor rekeningnya, meskipun ia tak percaya uang itu akan dikembalikan. Dalam hatinya ia merasa bahwa ia telah ditipu oleh si bapak.

Di Yogyakarta, ia tak berhasil menjual tanahnya dan terpaksa meminjam uang dari saudaranya untuk membeli tiket pulang. Beberapa hari setelah pulang, ia ke ATM untuk mengambil sedikit uang. Namun betapa terkejut dirinya ketika ia mendapati saldo rekeningnya bertambah sebanyak Rp. 20.000.000.

Apa makna dari cerita ini? Apakah seorang yang tulus selalu berakhir tragis?  Orang yang tulus di hadapan Tuhan akan dibela oleh Tuhan. Mungkin ia dipermainkan, mungkin ia ditipu, tapi Tuhan pasti akan setia membelanya.

Ingatlah pepatah ini “Biarpun kurus yang penting tulus tak punya modus”.  Yusuf seorang yang tulus, yang menyadari hidupnya sebagai berkat dari Allah, maka ia menjalaninya tanpa keluhan, tanpa tuntutan, tanpa minta kompensasi, dan tanpa bertanya haknya. Hidupnya dipahami sebagai titipan dan hak Allah, maka  jika Allah menghendaki hidupnya harus dipersembahkan kepada Allah, maka ia akan mempersembahkannya.

Ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria telah mengandung, mungkin ia merasa jengkel, sakit hati, dan berpikir bahwa Maria telah menyeleweng. Ketika itu tak ada dalam sejarah bahwa ada seorang wanita mengandung dari Roh Kudus. Namun Yusuf terbuka pada rencana Ilahi. Ia lapang dada, pasrah, dan tulus, hingga ia tetap bisa tertidur nyenyak meskipun ia sedang penuh masalah, bahkan bisa bermimpi hingga malaikat bisa mendatanginya. Itulah sebabnya kini kita kenal patung “The Sleeping Joseph”.

Ia tidak menghendaki pembalasan. Ia berupaya mentaati kehendak Allah. Karena ketulusan serta kesetiaannya kepada Allah, Yusuf pantas dipasangkan; dan sepadan dengan Maria dalam kesucian untuk menjadi orang tua bagi Yesus. Orang yang tulus seperti Yusuf inilah yang layak menjadi legioner, yang menjadi partner Maria untuk melahirkan Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Ketulusan pula yang mengubah jalan hidup Maria ketika ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.”

Tulus seperti Yusuf dan penuh iman seperti Maria. Itulah legioner yang sejati. Legioner harus mau berkorban dan berlatih untuk menjadi kudus. Jangan hanya sekadar mau menjadi legioner sejati, tapi mari melatih diri sebagai partner Maria. Jadilah tulus seperti Yusuf dan rendah hati seperti Maria yang mau digerakkan oleh Roh Kudus untuk berjuang mencapai kesucian hidup. Orang yang tulus dan rendah hati memiliki komitmen kepda Allah dan Gereja, tidak diombang-ambing oleh perasaan. Apapun sikap orang kepadanya ia akan selalu tulus melayani sesama. Seperti keset yang bertuliskan “WELCOME”, seorang legioner sejati akan selalu berkata “WELCOME”atas apapun sikap orang kepadanya, meskipun ia harus diinjak-injak.

Marilah bersama Maria kita berkata, “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu. Tuhan selalu bersikap “WELCOME” kepada kita, maka marilah kita juga harus selalu bersikap “WELCOME” kepada sesama.


Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC adalah Uskup Keuskupan Bandung. Lahir di Bandung, 14 Februari 1968 dan ditahbiskan menjadi Uskup pada 25 Agustus 2014. Beliau pernah menjadi anggota Legio Maria di Paroki St. Odilia, Cicadas, Bandung.