Tidak Mendengarkan

Sharing dari Sdri. Rosita Taufik.


Pada suatu sore saya terbangun dari tidur dan betul-betul sangat terkejut ketika melihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 15.45 wib padahal sore itu saya harus memimpin rapat presidium pukul 16.00 WIB.

Saya terburu-buru mandi dan berpakaian, lalu pergi. Namun ketika saya sampai, rapat telah dimulai. Tanpa memperhatikan mereka sedang berdoa lalu saya sendiri mulai berdoa pembukaan dari lembaran doa Tessera, karena setiap legioner yang terlambat, wajib untuk mendoakan doa pembukaan terlebih dahulu.

Tetapi setelah saya selesai dengan doa pembukaan saya merasa bingung ketika saya mendengar mereka doa penutup. Saya melihat berganti-gantian ke jam tangan dan ke jam dinding yang ada di ruangan rapat presidium, apakah saya salah melihat jam? Seingat saya, saya hanya terlambat 20 menit dan tidak seharusnya saat itu sudah doa penutup.

Saya tertunduk lemas, perasaan saya begitu bingung, kesal, jengkel dan marah bercampur aduk. Saya pikir sejak kapan rapat boleh mereka buat demikian, sesuka hati tanpa alasan rapat langsung ditiadakan. Sedangkan saya sebagai ketua presidium tidak diberitahu dan diminta persetujuannya.

Saya melirik kepada semua yang hadir, rupanya wakil ketua pun terlambat, jadi yang memimpin rapat pada saat itu adalah Bendahari yang boleh dikatakan cukup senior jika di bandingkan dengan saya. Tetapi bagaimana hal ini bisa terjadi ????

Begitu mereka selesai doa penutup, langsung saya tegur dengan nada yang cukup kasar dan pedas, masak legioner yang telah senior tidak tahu peraturan rapat. Segala macam kemarahan lainnya keluar dari mulut saya tanpa sedikitpun saya mau mendengarkan keterangan dari mereka. Saya tetap bersikeras hati dengan prinsip saya, yaitu walau apapun yang terjadi rapat harus berjalan sebagaimana mestinya.

Setelah emosi saya agak reda, semua anggota duduk kembali dan mereka mengatakan bahwa mendadak ada permintaan dari anggota Santo Yosef agar legioner bersedia untuk doa bersama di Sunggal karena saat itu hanya 3 orang anggota St.Yosep yang hadir.

Kebetulan sekali sekretaris Presidium juga merupakan sekretaris di Himpunan Keluarga Santo Yoseph. Jadi teman-temen di presidium tanpa pikir panjang langsung meniadakan rapat Legio dan diganti dengan doa Tessera.

Setelah mendengar semuanya itu hati saya masih tetap mendongkol, saya merasa perlu ketegasan sebagai seorang ketua, saya masih tetap tidak mau mendengarkan alasan mereka. Harga diri saya terganggu dengan peristiwa ini .

Semua anggota menyabarkan saya dengan mengatakan : “Sudahlah” tapi saya tetap masih dalam keadaan emosi. Akhirnya saya baru sadar ketika saya diberitahu bahwa sekretaris tersebut telah menangis, dan ketika itu timbullah penyesalan pada diri saya .

Saya baru merasakan bahwa ia mempunyai maksud baik. Lalu saya menghampirinya untuk berkomunikasi. Begitu melihat wajah teman itu menangis yang selama ini adalah orang yg cukup periang, saya jadi ikut terharu. Baru saya sadari bahwa saya tidak mau tahu dan kurang mau mendengarkan alasan yang diberikan oleh teman-teman, padahal tujuan  dan maksud sebenarnya adalah baik.

Akhirnya kami berdua saling berangkulan dan menangis sambil meminta maaf. 

Saya sangat menyesalkan peristiwa ini. Inilah akibat tindakan saya yang tidak mau mendengarkan orang lain terutama salah satu pengurus yang selalu mendampingi saya.

Tugas berdoa untuk umat yang dipanggil oleh Bapa di surga juga merupakankan suatu kewajiban bagi seorang Legioner. Dan sebenarnya saya harus bersyukur dan berterima kasih bahwa dia tidak terlambat seperti saya dan wakil Ketua.

Walau peristiwa ini terjadi 1992 dan telah 25 tahun berlalu tapi masih tetap dalam kenangan saya. Saudari wakil ketua kini menetap di Jakarta dan saudari Bendahari yang lebih senior dari saya kini di Pekanbaru, sedangkan saudari sekretaris akan kembali dari Jakarta dalam waktu dekat ini.



Sdri.Rosita Taufik adalah Ketua Regia Ratu Para Syahid Medan periode Maret 2016 – Februari 2019.

Joaquina Lucas, Envoy Muda Legio

Joaquina Lucas bergabung dengan Legio Maria pada tahun 1940. Dia adalah salah satu pendiri presidium yang didirikan di Hospicio de San Jose – Manila. Tempat ini adalah sebuah panti asuhan, rumah sakit, sekaligus panti jompo, yang dijalankan oleh para Suster Charitas. Presidium yang didirikan pada 21 Juli 1940 ini merupakan presidium pertama di Manila, sekaligus menjadi tonggak sejarah kelahiran Legio Maria di Filipina.

Pemimpin Rohani  mereka adalah Pastor Manuel Gracia, CM, dan semua anggota pertamanya adalah mahasiswa, salah satunya adalah teman Joaquina sendiri yang kemudian menjadi sesama envoy (utusan), Pacita Santos. Selama pendudukan Jepang antara tahun 1942 hingga 1945, Legio Maria tumbuh dan berkembang. Pada akhir perang ada 12 kuria di wilayah Manila.

Pada tahun 1946, Joaquina ditunjuk sebagai envoy pertama Legio Maria ke Amerika Latin. Ia memulai pekerjaannya di Meksiko dan kemudian ke Amerika Selatan. Dengan kefasihannya dalam bahasa Inggris dan Spanyol, pada tahun 1950 ia tiba di Argentina, dan selama enam tahun berikutnya ia bekerja di Cile, Argentina, Peru, Kolombia dan Brazil, di mana ia kemudian dapat menguasai bahasa Portugis dengan lancar.

Pada tahun 1953 ketika Saudara Grace dan Alfie Lambe tiba di Amerika Selatan sebagai envoy, mereka bertemu Joacquina di bandara Bogota, Kolombia. Selama beberapa bulan Joacquina bertindak sebagai penerjemah bagi mereka dan membantu mereka menyempurnakan bahasa Spanyol mereka sampai masing-masing sebelum mulai bekerja di wilayahnya.

Para Envoy Amerika Selatan

Ketika ia menyelesaikan periode penugasannya di Amerika Selatan, Joaquina datang ke Dublin dan setelah beberapa bulan di Markas Legio ia diangkat sebagai envoy ke Portugal. Dia menyelesaikan tugasnya di Portugal pada tahun 1958 dan kembali ke rumah.

Pada tahun 1963 ia kembali diangkat sebagai envoy, kali ini bagi Jepang, Indonesia dan Korea di mana ia menetap hingga tahun 1965. Ia adalah salah satu envoy terlama Konsilium dalam menyebarkan Legio Maria.

Di Indonesia, Joaquina Lucas merintis presidium pertama di kota Bogor paad 2 Februari 1963 bersama Saudara Aloysius Martondang dan Pater Peperzaak, OFM. Ia juga hadir meresmikan Senatus Sinar Bunda Karmel Malang pada 5 Juli 1964.

Sejak ia kembali pulang ke Manila dia telah mengambil bagian aktif dalam Legio, terutama terlibat dalam banyak kegiatan Senatus.

Joacquina meninggal mendadak pada pesta Bunda Maria dari Medali Wasiat tahun 1988. Ketika ia tengah berjalan kaki untuk menghadiri rapat Legio, ia menjadi korban tabrak lari dan meninggal tak lama kemudian di rumah sakit

Tidak diragukan lagi, Bunda Maria akan memberi sambutan yang besar untuk envoynya yang mahir dan gigih ini.


Sumber :

Tulisan John Murray pada Maria Legionis, Juni 1989

The Historical Significance of The Legion of Mary in South America (1950-1984)

www.legionofmaryd7.com

 

Legio Maria Menguatkan Identitas Gereja Katolik

Sepenggal Catatan dari Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati Palangka Raya, 17 September 2017


Ave Maria, Proficiat dan Puji Tuhan! Atas penyertaan Bunda Maria dan restu dari Allah Roh Kudus, maka pada Minggu, 17 September 2017, telah terlaksana Rapat Perdana Dewan Komisium Ratu Segala Hati Keuskupan Palangka Raya. Momen ini adalah tonggak sejarah karena inilah rapat perdana setelah Dewan Kuria Ratu Segala Hati dinaikkan statusnya menjadi Dewan Komisium. Komisium ini mensupervisi Dewan Kuria Bunda Pemersatu- Sampit, calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito dan 13 Presidium tergabung.

Tiga orang perwakilan dari Senatus Bejana Rohani, yaitu Sdr. Petrus Suriutomo (koresponden Komisium Ratu Segala Hati), Sdri. Audrey Isabella (Wakil Ketua Senatus) dan Sdri. Laurensia Jeny T. Dewi (Ketua Senatus) berkesempatan hadir dalam rangkaian rapat perdana Komisium, 16-17 September 2017 di kota Palangka Raya.

Senatus Bejana Rohani sebelumnya telah mengesahkan peningkatan status Dewan Kuria Ratu Segala Hati menjadi Komisium pada Rapat Senatus ke 365 tahun ke-30, 10 September 2017 setelah mengadakan peninjauan selama  kurang lebih 2 hingga 3 tahun. Pengesahan ini telah mendapatkan ijin resmi dari Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF selaku Uskup Keuskupan Palangkaraya, serta dari Dewan Konsilium Morning Star, Dublin Irlandia.


Audiensi dengan Mgr. AM. Sutrisnaatmaka MSF – Uskup Keuskupan Palangkaraya

Dalam setiap kunjungan Legio Maria Senatus ke Palangka Raya, kami biasanya memberikan informasi jadwal kunjungan kami kepada Bapa Uskup beberapa hari sebelumnya dan kami selalu meminta waktu untuk sowan dengan beliau.  Luar biasanya adalah, selama beliau ada di rumah (keuskupan), beliau tak pernah menolak berjumpa dengan kami. Demikian pula pada 16 September lalu, di tengah suasana hujan, kami diterima dengan penuh kehangatan, keramahan dan canda.

Kami menyampaikan tujuan kehadiran kami dan beliau sangat mendukung dengan penuh sukacita karena telah diberikan kepercayaan lebih besar dengan keberadaan Dewan Komisium di Keuskupan Palangka Raya. Beliau sangat mensyukuri dan mengapresiasi kehadiran dan peranan Legio Maria dalam karya kerasulan di Palangka Raya, khususnya semangat siap sedia bertugas dan membantu pastor paroki setempat, misalnya dalam melayani memimpin ibadat di stasi-stasi jika Pastor tidak dapat hadir; memimpin ibadat Rosario, dan lain-lain. Selain itu Mgr. Sutrisnaatmaka dengan bangga mengatakan bahwa

Legio Maria, khususnya di keuskupan Palangka Raya, adalah penguat identitas Gereja Katolik.

Oleh karena itu, Legio Maria dirasa sangat penting untuk hadir dan berkembang di tengah-tengah umat.

Beliau berjanji untuk terus mendukung perkembangan Legio Maria dan terus mengingatkan kepada para pastor untuk ikut serta mempromosikan Legio Maria sehingga bisa tersebar di semua paroki di Keuskupan Palangka Raya dan menjadi sarana mewujudkan kemuliaan Allah di atas dunia.


Rekoleksi presidia tergabung di Komisium dan calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito

Setelah beraudiensi dengan Bapa Uskup, kami bertiga menuju ke Gereja Maria Diangkat ke Surga (Katedral) untuk mengikuti agenda berikutnya, yakni Rekoleksi dalam rangka HUT Legio Maria ke-96 yang dibawakan oleh Pastor Anton Rosari, SVD dengan mengangkat tema “Bersyukur dan melayani bersama Maria”.

Rekoleksi ini dihadiri oleh sekitar 100 legioner. Meskipun cuaca hujan, namun tak menyurutkan legioner untuk mengikuti rekoleksi, khususnya para legioner dari Barito dan sekitarnya, yang harus menempuh perjalanan 4-5 jam. Dari wilayah dalam kota Palangka Raya, terdapat sekitar 30 orang legioner muda yang hadir dan Pastor Anton pun tidak mengira banyak orang muda yang ikut Legio Maria.

Rekoleksi ini mengajak kita untuk melihat tiga fase perjalanan Legio Maria : Sejarah Legio Maria pada awal berdirinya di tahun 1921, Legio Maria masa kini, dan Menatap Masa Depan. Tuhan telah membimbing Legio Maria selama 96 tahun dan ini adalah suatu anugerah yang luar biasa. Bagaimana kita mampu melanjutkan karya ini di tengah berbagai macam tantangan? Salah satunya adalah dengan setia pada misi atau tujuan awal Legio Maria, yaitu untuk mewujudkan Kerajaan Allah, menguduskan diri dan pelayanan.

Akhirnya kita diajak menyadari bahwa Pelayanan itu adalah semata-mata Karya dan Pekerjaan Allah. Kita sebagai manusia sebetulnya tidak pantas, namun dibenarkan, dipanggil dan dipilih untuk melayani Gereja dan Umat-Nya.


 Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral

Minggu pagi kami awali dengan Perayaan Ekaristi di Katedral. Tanpa diduga, Perayaan Ekaristi itu bertepatan dengan Pelantikan Pengurus PDKK sehingga dirayakan secara Konselebrasi dengan Mgr. AM. Sutrisnaatmaka, MSF sebagai konselebran utama, dan didampingi oleh RD. Patrisius Alu Tampu, dan RP. Yohanes Doni SVD. Dalam Perayaan Ekaristi ini juga disampaikan intensi syukur atas HUT Legio Maria sedunia ke-96, juga 10 tahun kehadiran Legio Maria di Keuskupan Palangka Raya.

Legioner bersama Bapa Uskup

Dalam homilinya Mgr Sutrisna mensyukuri atas bertumbuhnya komunitas yang mewarnai Gereja Katolik dan beliau mengundang umat untuk ikut aktif dalam komunitas gereja.

Sebelum memberikan berkat penutup, lagi-lagi kami menerima shock therapy, karena Mgr. Sutrisna menyampaikan kepada seluruh umat bahwa ada kehadiran utusan Legio Maria Senatus Jakarta, lalu kemudian memperkenalkan kami di tengah-tengah umat yang hadir. Kami sungguh merasakan apresiasi dari Bapa Uskup untuk karya legioner di Kalimantan Tengah ini.

Dari kiri ke kanan : Sdr. Petrus (Koresponden) – Sdri. Jeny (Ketua Senatus) – Sdr. Wilhelmus (Ketua Komisium) – Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF – Sdri. Audrey (Wakil Ketua Senatus)

Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati

Akhirnya kami sampai pada kegiatan puncak yaitu Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati. Rapat dihadiri oleh Pemimpin Rohani Pastor Lucius Sari Uran, SVD, APR – Sr. Wilfrida KSSY, serta lima perwira komisium, yakni Sdr. Wilhemus Y. Ndoa (Ketua), Sdr. Aloysius Pati (Wakil Ketua), Sdri. C. Wiwik Handayani (Sekretaris 1), Sdri. Yohana Sarbini (Sekretaris 2), Sdri. Eligia Rahail (Bendahara 1), sedangkan Sdr. Aston Pakpahan (Bendahara 2) berhalangan hadir.

Perwira Komisium Ratu Segala Hati

Para Perwira Kuria Bunda Pemersatu – Sampit dan calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito juga hadir dalam Rapat Perdana ini.  Mereka menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam dari Sampit  dan sekitar 5-6 jam dari Barito ke Palangka Raya. Kami sungguh salut melihat semangat para legioner yang mau berjerih lelah dan bersemangat dalam mengikuti Rapat Komisium. Tercatat 13 presidium hadir dalam rapat perdana ini, dan total legioner yang hadir adalah sebanyak 80 orang.

Pada saat laporan dewan, kami membacakan SK Pengesahan Peningkatan Dewan Komisium, menyerahkan dokumen asli dan Vandel atas nama Komisium Ratu Segala Hati kepada Perwira Komisium.

Penyerahan Vandel dan Dokumen Pengesahan

Hal yang menarik dari komisium ini adalah semangat yang besar dan karya perluasan sangat luar biasa di hampir seluruh wilayah keuskupan. Di wilayah kerja Kuria Sampit, mereka sangat bersemangat merintis dan mengembangkan sekitar 13 presidium junior. Di wilayah kerja calon Kuria Barito, selain perluasan yang terus berjalan, mereka juga sedang berkonsolidasi untuk sungguh-sungguh siap disahkan menjadi Kuria.

Berpose bersama usai rapat komisium

Secara umum, rapat perdana komisium berjalan dengan lancar dan terstruktur dengan baik, semua agenda telah disusun rapi. Para legioner menjaga suasana rapat dengan sangat khidmat.

“Dalam kunjungan kali ini saya tidak bisa memberi apa-apa, namun saya terinspirasi dari kegigihan dan semangat para legioner dalam berkarya. Karya-karya kita memang sederhana namun ternyata berbuah banyak bagi umat yang kita layani. Semoga kita selalu bisa mensyukuri dan bangga akan panggilan kita sebagai legioner. Ave Maria !”(Sdri. Audrey)

Hanya ucapan syukur dan terima kasih sebesar-besarnya atas semua peran, doa dan karya dari Bapa Uskup Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF, Para Pastor, Suster, Frater, Bruder, para legioner, dan seluruh umat yang sungguh tak kenal lelah, setia, dan penuh iman dalam berkarya untuk memuliakan Allah lewat kerasulan Legio Maria.

Semoga penyertaan Bunda Maria dan berkat Tuhan memampukan kita untuk sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah dengan rendah hati, semangat dan penuh cinta dalam karya kita sebagai Legioner Maria. Ave Maria !


Laporan kunjungan ini disusun oleh Sdr. Petrus Suriutomo (koresponden Senatus Bejana Rohani untuk Komisium Ratu Segala Hati Palangka Raya), Sdri. Audrey Isabella (Wakil Ketua Senatus) dan Sdri. Laurensia Jeny T. Dewi (Ketua Senatus).

Semakin Jatuh Cinta Pada Tuhan

Oleh Sdri. Audrey Isabella


Saya merasa harus menulis ini, hanya untuk bisa berbagi kebahagiaan karena diliputi rasa jatuh cinta yang luar biasa. Selain itu cerita adalah ungkapan syukur dan terima kasih saya atas kebaikan Tuhan lewat mereka yang hadir dalam hidup saya dan keluarga. Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi saya dan keluarga dalam merawat papi yang terkena stroke ke-3 pada April 2016 yang lalu.

Bpk. Yohanes Phoa Wie Keng, papi Audrey

Pagi hari di pertengahan bulan April 2016 itu, sulit rasanya melupakan suara kepanikan mami yang melihat papi jatuh tak berdaya di kamar mandi. Ia tidak bisa berdiri, bicara ataupun menggerakan anggota tubuhnya. Sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit terdekat papi sudah mendengkur, entah sudah berapa banyak doa Bapa Kami dan Salam Maria yang saya daraskan. Begitu tiba di rumah sakit, Papi langsung ditangani di UGD dan kami diberi tahu bahwa papi sudah gagal nafas. Saya, mami, kakak, kakak ipar dan adik saya hanya bisa mengelilinginya berdoa dan memohon belas kasihan Tuhan. Kami memohon agar papi bisa diberi kesempatan untuk bertahan hidup dan apapun kondisinya, kami akan terima. Lalu Tuhan dengan begitu baiknya, papi dinyatakan koma. Ya, saya nyatakan Dia begitu baik karena jika koma, tandanya papi masih diberi kesempatan untuk hidup meski kecil.

Lalu papi pun dimasukkan ke ICU. Saat itu sudah banyak teman, saudara dan tetangga yang datang karena mendengar tentang kabar papi. Kami keluarga dipanggil dan diberi tahu oleh dokter tentang kondisi papi bahwa ia stroke karena penyumbatan pembuluh darah di otak dan areanya sangat luas, yaitu 2/3 otak kirinya tersumbat. Kondisi ini bisa menyebabkan ia lumpuh dan sangat sulit untuk kembali ke kondisi normal, bahkan bisa berujung pada kematian. Sedih tak terbendung, hancur rasanya hati mendengar keterangan dokter.

Sore itu saya ikut Perayaan Ekaristi di Gereja, saya teringat Mazmur antar Bacaannya adalah “Tuhanlah Gembalaku, Tak’kan kekurangan Aku”. Sambil memandangi Salib, air mata terus jatuh membasahi pipi dan dalam hati bertanya :  “Tuhan kok tega?” Papi padahal sedang aktif-aktifnya melayani (entah ikut KEP, Bina Lanjut KEP, PDKK, dan KMS),  tiap bulan entah sendiri atau bersama rombongan pergi berziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat, Kuningan dan sepuluh hari sebelumnya menyatakan diri bersedia menjadi Auxilier (anggota pasif dalam Legio Mariae yang mendoakan Tesera dan Rosario setiap hari). Pikiran dan perasaan saya diliputi kekecewaan, kemarahan dan kebingungan kepada Tuhan. Saya tenggelam pada “Kalkulasi Pelayanan”  yang sudah kami berikan untuk Tuhan dan Gereja.  Hati saya mendua pada Perayaan Ekaristi saat itu, tidak sepenuhnya mensyukuri Perayaan Cinta Yesus yang memberikan diri sehabis-habisNya untuk Umat-Nya.

Malam itu kami semua tidur seadanya di Ruang Tunggu ICU. Saya tetap berdoa Tesera, Rosario, dan Koronka untuk papi, namun masih bercampur dengan perasaan kecewa dan kebingungan akan kondisi yang papi alami. Pokoknya Tuhan tega! Itu yang saya pikirkan.

Hari demi hari kami lalui di Ruang Tunggu ICU, begitu banyak teman, saudara, kenalan , dan bahkan yang kami tidak kenal sekali pun datang untuk mengunjungi papi ataupun memperhatikan keadaan kami. Bahkan di satu pagi ada tetangga yang datang untuk membawakan kami sarapan. Dia bilang “di luar hujan, nanti kalian repot cari makan, jadi saya datang membawakan kalian sarapan.” Tersentuh hati saya, kok mau pagi-pagi datang untuk membawakan  kami sarapan?” Belum lagi ada teman yang mengantarkan makan siang untuk kami dan malamnya kami menerima makanan dari orang-orang yang datang menjenguk. Setiap harinya, kami tidak pernah berhenti kedatangan teman, saudara, tetangga yang menjenguk, memperhatikan, dan mendoakan. Makanan yang kami terima berlimpah sehingga bisa kami bagikan dengan keluarga yang juga menunggu di ruang tunggu ICU. Belum lagi ada teman2 yang dengan inisiatifnya menggalang dana guna membantu meringankan biaya pengobatan.  Speechless saya jadinya. Dia ternyata betul-betul Immanuel, hadir dalam keadaan suka dan duka hidup saya melalui malaikat-malaikat tak bersayap yang Ia kirim.

Ketika saya berdoa pada suatu malam, saya teringat kembali bahwa satu minggu sebelum papi terkena stroke, tiba-tiba saya mendoakan ini dalam doa harian saya “Saya ingin mempersembahkan apa yang saya alami dengan Kurban Yesus sendiri di Kayu Salib”. Pada saat saya mendoakan hal itu, saya juga tidak tahu kenapa saya sampai bisa mengucapkan hal itu. Namun akhirnya saya sadar, Tuhan sedang mempersiapkan batin saya menghadapi hal ini. Seketika itu juga saya merasa luar biasa malu pada Tuhan. Ternyata saya masih menganggap relasi saya dengan Tuhan itu hubungan yang transaksional, atau do ut des. Hubungan timbal balik dan hubungan untung rugi. Saya berpikir bahwa Tuhan harus selalu memberikan saya yang baik-baik karena saya sudah begini dan begitu. Saya tidak bisa menahan air mata saya karena rasa malu sekaligus haru karena Tuhan memulihkan dan menyadarkan saya. Bukankah sebelumnya saya sendiri yang berdoa untuk mempersembahkan semua kepada Dia yang sudah memberi diri sehabis-habisnya di Kayu Salib karena Cinta-Nya kepada kita?

Pada hari yang ke-7, papi mulai sadar dan betul kata dokter, papi memang tidak bisa bicara, tidak bisa menggerakan bagian tubuh kanannya dan terkena Apasia Global (kehilangan kemampuan total untuk berbicara, menulis ataupun membaca). Sedih melihatnya namun bersyukur bahwa Papi boleh bertahan. Selama kurang lebih 46 hari di RS akhirnya awal Juni 2016 papi kembali ke rumah dan kami menggunakan jasa perawat selama kurang lebih 3 bulan  untuk membantu merawat papi. Saat itu papi masih menggunakan selang oksigen, sonde (selang makan), dan kateter. Adik papi juga turut membantu merawat papi selama beberapa bulan.

Setelah tidak lagi menggunakan jasa perawat dan adik papi, maka kamilah yang merawat papi sepenuhnya. Sebelum dan sesudah pulang kerja, kami bertiga (saya, kakak dan adik) mengurus papi dan mami yang merawat papi ketika kami di kantor. Kami pun mulai membatasi kegiatan dan aktivitas di luar rumah karena papi tidak boleh ditinggal sendirian, dia harus ditemani oleh minimal satu orang karena secara fisik, papi tergantung sepenuhnya akan bantuan orang lain. Di situ saya merasakan bahwa hubungan kekeluargaan semakin erat. Kami saling meneguhkan satu sama lain dalam menghadapi kondisi yang tidak mudah ini.

Secara manusiawi, kadang saya merasa lelah karena harus bangun lebih pagi untuk mennganti pampers ataupun mengukur suhu dan tekanan darah papi, dan setelah pulang kantor masih harus menyuapi papi makan, memberikan obat, dan mengganti pampers. Namun saya diteguhkan dengan Injil Matius 25:40, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Ya, di situ saya belajar melihat Yesus dalam diri sesama terutama mereka yang lemah dan tak berdaya.  Tuhan begitu baik hati-Nya mengizinkan kami merawat Dia sendiri dalam diri papi. Sehingga selelah apapun saya, saya selalu rindu untuk segera pulang ke rumah bertemu papi dan mengurusnya.

Perkembangan papi pun semakin baik. Dia mulai lepas dari selang oksigen, sonde dan kateter. Dia sudah bisa sedikit-sedikit mengkonsumsi roti, biskuit, es krim, dan belajar memakai topi, mengalungkan Rosario, melipat selimut, dan mengerti perintah untuk menggerakan kaki atau tangan kirinya. Sungguh bersyukur karena kami tidak menyangka bahwa akan ada perkembangan seperti ini. Walalu papi tidak bisa bicara, tapi dia berusaha untuk terus menggumam. Mungkin dia berusaha sedemikian rupa untuk bicara. Namun apa daya, dia tidak bisa.

Selasa, 28 Maret 2017. Saat itu saya sedang mengikuti Misa Acies (Misa Pembaharuan Janji Legioner kepada Bunda Maria yang bunyi janjinya adalah  “Aku adalah milikmu ya Ratu dan Bundaku dan segala milikku adalah kepunyaanmu”).  Begitu selesai Misa, saya ditelpon oleh mami dan bilang bahwa papi kejang-kejang dan dilarikan ke rumah sakit. Aduh, ada apa lagi ini Tuhan? Saya langsung bergegas pulang dan dalam perjalanan ke rumah sakit ada teman yang mengirimkan pesan whatsapp kepada saya, begini bunyinya “Percayalah, HatiNya sungguh amat baik.” Kata-kata itu sungguh menguatkan karena saya hampir tergoda untuk protes lagi sama Tuhan seperti tahun lalu. Misa Acies pun meneguhkan saya bahwa apapun yang saya alami, Bunda Maria selalu setia mendampingi seperti Bunda yang mendampingi Yesus di jalan salibNya. Papipun masuk ICU lagi dan tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Kali ini saya lebih tenang dan mempercayakan papi sepenuhnya pada Kerahiman dan Belas Kasihan Tuhan serta penyertaan Bunda Maria.

Seperti tahun lalu, ada begitu banyak yang memperhatikan dan mendoakan papi. Tuhan sungguh Immanuel. Selama kurang lebih 10 hari di RS, papi boleh pulang.  Namun, kondisi papi agak menurun, ia semakin sulit menerima perintah, ia tidak tahu bagaimana cara mengalungkan Rosario dan ia juga bingung caranya memakai topi. Kecewa meliputi perasaan saya. Tapi bukankah semua yang terjadi adalah seturut kehendak-Nya? Saya memutuskan untuk mensyukuri bahwa papi setidaknya masih bisa bertahan hidup.

Maka kami mulai lagi dari awal, dengan mengajarkan cara memakai topi, mengalungkan Rosario, memegang sendok (semua dengan tangan kirinya) dan mengangkat kaki kirinya. Kami bersemangat dan optimis menjalani hal itu karena terkadang papi suka hadir dalam mimpi kami. Dalam mimpi, saya melihat dia sedang berusaha untuk menggerakkan kedua tangannya atau berusaha untuk berjalan. Dalam mimpi juga, papi “curhat” kepada adik saya dan bilang, “Aduh padahal papi kan udah lumayan yah sekarang susah lagi deh.” Bahagia campur sedih mendengarnya. Bahagia karena papi menunjukkan bahwa ia juga masih berusaha untuk sembuh, namun sedih karena papi sadar akan kondisinya. Meskipun dalam keadaan sakit, papi tetap menginspirasi kami untuk berjuang mengusahakan yang terbaik dan membungkus usaha kami dengan doa yang tak pernah putus dipanjatkan.

Terhitung mulai Mei 2017 sampai dengan sekarang, papi juga menerima Komuni Kudus melalui ibadat untuk orang sakit setiap hari karena kebetulan mami adalah prodiakon yang baru saja dilantik tahun 2016. Sungguh rahmat yang luar biasa bahwa papi bisa menerima Tubuh Kristus setiap hari. Ini semua hanya karena kebaikan dan kerahimanNya. Kami percaya bahwa Yesus sendirilah yang menjadi kekuatan, penghiburan, semangat, dan suka cita bagi papi.

Sampai sekarang, papi memang belum bisa bicara, berdiri ataupun berjalan namun proses yang kami lalui dalam merawat papi itulah yang justru yang membuat kami semakin mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi melalui perkembangan diri papi. Kegiatan pribadi kami pun terbatas karena harus menjaga papi di rumah tapi di situ saya belajar bahwa keluarga adalah Gereja terkecil yang kita miliki dan yang harus kita layani. Memang ini adalah salib yang harus kami pikul dan kami memikulnya tidak sendirian melainkan bersama Dia yang memberi kekuatan.

Kita punya Allah yang besar dan Dia hidup. Dia mencintai saya dengan caraNya yang ajaib. Dia membentuk saya melalui pengalaman yang tidak mudah untuk dilalui namun cintaNya selalu menyertai. Selamanya, saya akan mensyukuri hal ini. Keadaan yang papi alami adalah rejeki dan berkat dari Tuhan untuk papi sebagai individu dan kami sebagai keluarga. Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang begitu setia hadir dalam apapun kondisi pergumulan hidup saya dan keluarga. Di saat saya begitu dengan egoisnya “hitung-hitungan” sama Tuhan, Dia malah mengutus orang-orang untuk memperhatikan dan mendukung kami melalui salah satu hal tersulit dalam perjalanan hidup kami.  Di saat saya kecewa dan marah padaNya,  Dia malah mengutus teman-teman yang begitu setia mengunjungi dan mendoakan.

Dalam kesempatan ini ijinkanlah saya mengucapkan Terima kasih yang luar biasa untuk teman-teman di Legio Mariae, OMK, Misdinar, Lektor, ASAK, KMS, KEP, PDKK, Kerahiman Ilahi, Misdinar, Prodiakon dan Para Imam yang menjadi saksi pergumulan hidup kami. You know who you are. Terima kasih karena telah menjadi malaikat-malaikatNya yang tak bersayap. Tahukah kalian bahwa papi dan kami bisa bertahan karena dukungan, bantuan dan perhatian dari kalian semua ?

Untuk keluarga saya, terima kasih kepada mami saya yang menginspirasi bahwa Cinta Sejati itu masih ada. Dia memegang teguh janji perkawinan yang mau setia dalam untung dan malang, sehat ataupun sakit. Mami begitu setia dan penuh suka cita merawat suaminya. Ke manapun dia pergi, dia akan selalu memikirkan apakah papi sudah makan atau belum? Sudah minum juice? Apakah makanan dan sayur buat papi sudah siap? Hatinya selalu ada di rumah bersama suaminya meski fisiknya tidak ada di rumah. Untuk kakak saya, terima kasih karena telah menjadi kakak sulung yang rela berkorban untuk cuti ataupun pulang lebih cepat untuk mengantar papi ke dokter. Di tengah kesibukannya di kantor dan mengurus rumah tangganya sendiri, dia selalu menyempatkan diri datang ke rumah untuk membantu mengurus papi. Terima kasih pula kepada kakak ipar saya yang mau mengurus papi seperti mengurus ayahnya sendiri. Dan juga untuk adik saya, dia menginspirasi saya untuk merawat papi dengan kesabaran dan kelembutan. Dia bilang bahwa kita harus menempatkan diri di posisi papi sehingga kita bisa merawat papi dengan penuh kasih.

Audrey dan keluarga

Sebetulnya, satu hari sebelum papi stroke yang ke-3, ketika kami sedang ngopi, saya menyampaikan bahwa ada seorang teman yang bertanya, apa yang papi peroleh dengan berziarah dan jalan salib di Gua Maria Sawer Rahmat, Kuningan setiap bulan padahal kondisi fisiknya (terutama kaki kirinya) yang lemah dan tidak begitu baik karena stroke ke-2 sebelumnya. Lalu begini jawab papi, “Papi gak dapet apa-apa dengan pergi ziarah setiap bulan. Masa mau hitung-hitungan sama Tuhan? Kan Tuhan udah kasih semuanya buat kita. Walaupun papi susah jalannya tapi papi mau ziarah dan jalan salib karena papi mau ikut jalan salibNya Yesus. “

Saya tidak tahu kapan atau apakah papi bisa bicara seperti dulu lagi atau tidak. Tapi, yang pasti saya akan selalu mengingat kata-katanya yang meneguhkan untuk mau setia ikut jalan salibNya Yesus dalam kondisi apapun. Tuhan membuat saya jatuh cinta padaNya semakin dalam. Saya tak paham rancangan karyaNya untuk kami, namun saya percaya Hati-Nya sungguh amat baik.


Audrey Isabella adalah legioner di Presidium Regina Coelorum, Paroki Santo Thomas Rasul – Bojong Indah, yang tergabung dalam Kuria Maria Bunda Kaum Beriman , Komisium Maria Immaculata – Jakarta Barat 2. Saat ini menjabat sebagai wakil ketua Senatus Bejana Rohani, periode Juni 2017 – Mei 2020.

Kuria RPSI Goes To KaNaDa: “Hidup Tuk Jadi Berkat”

Oleh Febriani Aipon Gedo


“Hidup ini adalah kesempatan.

Hidup ini untuk melayani Tuhan.

Jangan sia siakan, apa yang Tuhan bri.

Hidup ini harus jadi berkat.
Reff :

Oh Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat.

Bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi.

Hidup ini sudah jadi berkat. “

Demikianlah lagu ciptaan Pdt. D. Surbakti yang dinyanyikan oleh Romo Andreas Yudhi Wiyadi O Carm, Pemimpin Rohani Kuria Ratu Para Saksi Iman (RPSI) – Tomang, dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi yang diadakan di Gua Maria Bukit Kanada (KAmpung NArimbang DAlam)  –Rangkasbitung,  Banten.

Perayaan Ekaristi ini adalah bagian dari rangkaian acara ziarah rekreasi yang diselenggarakan oleh Kuria Ratu Para Saksi Iman pada Sabtu, 23 September 2017, dan diikuti oleh 63 orang peserta (terdiri dari perwira, anggota aktif,auksilier dan simpatisan) dari dua paroki yang tergabung dalam Kuria RPSI, yakni Paroki Tomang dan Paroki Kedoya.

Peserta tiba pada pukul 09.00 WIB setelah menempuh tiga jam perjalanan dari Tomang. Setelah rehat dan berfoto bersama, acara dilanjutkan dengan prosesi jalan salib versi Bunda Maria. Peserta, yang dibagi menjadi dua kelompok dan mayoritas berusia lanjut, bersemangat sekali untuk mengikuti jalan salib.

Bersyukur pada hari tersebut tampaknya hanya rombongan kami yang memenuhi lokasi sehingga prosesi jalan salib dapat berjalan hikmat. Walaupun kadang medan yang dihadapi para lansia tampak menanjak atau curam menurun, sehingga membuat mereka agak tertatih dan naik turun memegang besi di tangga, namun mereka tetap semangat sampai akhir perhentian. Peluh dan lelah yang dirasakan, direfleksikan dengan kedukaan dan Iman Bunda Maria dalam mengikuti Jalan Salib PuteraNya. 

Usai Jalan Salib, acara dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi. Dalam homilinya, Romo terkesan dengan peserta yang saling tolong menolong selama prosesi Jalan Salib. Romo juga mengingatkan melalui lagu yang dinyanyikannya, bahwa hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini hanya sementara seperti halnya perhentian-perhentian kita di Jalan salib tadi. Mari kita melayani Tuhan selagi masih kuat. Andai pun kita sudah tidak berdaya, kita masih bisa memanjatkan doa-doa kita kepada Tuhan sebagai bentuk kerinduan pelayanan kita. 
Acara berikutnya adalah makan siang di halaman seberang Gua Maria. Menu lauk ayam goreng, ikan asin, tahu tempe, sambal, dan sayur asem dirasakan begitu nikmat karena kondisi perut sudah lapar, lelah, serta ditambah semilir angin di pendopo pinggir kolam. Setelah perut kenyang dan beristirahat sejenak, acara dilanjutkan dengan rapat kuria. 
Setelah menikmati snack sore berupa singkong goreng, peserta pun bersiap pulang dan akhirnya kembali ke Jakarta dengan selamat. 

Semoga kebersamaan ini dapat semakin menjalin keakraban serta semoga semangat pelayanan legioner semakin menjadi berkat seperti lagu yang Romo nyanyikan dalam homilinya. Amin.



Febriani Aipon Gedo adalah legioner dari Kuria Ratu Para Saksi Iman – Tomang, yang tergabung ke Komisium Maria Immaculata – Jakarta Barat 2

Bunda Pelindung Semua Suku : Laporan Pembukaan Bulan Rosario di Gereja St. Kristoforus Grogol

Oleh Petrus Kanisius Erwin Rinaldi


Dalam rangka merayakan Bulan Rosario di bulan Oktober 2017, Kuria Teladan Kaum Beriman Grogol didukung oleh komunitas Pro Diakon membuka Bulan Rosario tanggal 1 Oktober 2017 jam 18:30 dengan Perayaan Ekaristi Kudus dengan Perarakan Tandu Bunda Maria diiringi Doa Rosario Suci.

Hal yang menarik adalah Doa Rosario Suci didoakan dalam 5 bahasa, dimulai dengan Bahasa Toraja (Sulawesi Selatan), Bahasa Jawa, Bahasa Kei (Maluku), Bahasa Batak Toba (Sumatera Utara), dan Bahasa Manggarai (Flores). Sementara Tandu Bunda Maria dilakukan oleh para bapak-bapak dari ProDiakon dengan pakaian adat Minang, Betawi, Sunda, dan Papua. Sungguh Bhinneka banget, Sungguh Indonesia banget, dan Sungguh Pancasila banget.

Sungguh meriah dan sungguh kebhinnekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia terlihat nyata dalam doa Rosario Suci di gereja St. Kristoforus Grogol malam itu. Segenap umat juga terlihat sangat menikmati suasana malam bhinneka itu dengan juga berdoa sungguh-sungguh. 

Legioner dari Presidium Tabut Perjanjian merayakan Ekaristi dengan pakaian adat

Semoga dengan Doa Rosario 5 bahasa ini, semakin banyak umat yang menghargai perbedaan antar sesama anak bangsa. Semakin banyak orang menghargai perbedaan bahwa perbedaan itu adalah kekayaan dan identitas Bangsa Indonesia. Semakin banyak sesama anak bangsa yang yakin bahwa perbedaan akan membuat bangsa kita semakin kuat, bukan semakin lemah.

Salam Maria Bahasa Batak Toba
Salam Maria Bahasa Jawa

Semoga Rosario Suci 5 bahasa juga semakin menguatkan semangat Sumpah Pemuda kita bahwa kita adalah bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu, INDONESIA.

Salam Maria Bahasa Toraja
Salam Maria Bahasa Kei
Salam Maria Bahasa Manggarai

Kami 100% Katolik, 

100% Legioner, 

100% Indonesia !


Sdr. Petrus Kanisius Erwin Rinaldi adalah ketua Kuria Teladan Kaum Beriman, Grogol. Saat ini ia juga menjabat sebagai bendahara 2 Komisium Maria Immaculata Jakarta Barat 2 dan koresponden Senatus Bejana Rohani untuk Konsilium Morning Star.

Alokusio Rapat Senatus 1 Oktober 2017

Dibawakan oleh RD. Antonius Didit Soepartono (Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani)


Bacaan Rohani : Buku Pegangan Bab 5 point 7 halaman 25 tentang “Membawa Maria Kepada Dunia“.

Alokusio :

  • Devosi kepada Maria membuahkan mukjijat-mukjizat.
  • Yang terpenting devosi ini membawa Maria kepada dunia, Apa artinya? Kita harus mencintai Maria sepenuh hati dan melibatkan semua orang dalam cinta pada Maria.
  • Legio Maria sebagai organisasi yg didasarkan atas kepercayaan tanpa batas pada Maria seperti
    anak kecil pada ibunya.
  • Legio Maria tidak merasa sombong meskipun memiliki banyak talenta dan kemampuan untuk
    pelayanan kita.
  • Tugas abadi Legio adalah menghancurkan kepala ular, termasuk iblis yang menguasai hidup kita.

Surat Konsilium September 2017

Atas nama Konsilium, saya sampaikan salam hangat untuk Pemimpin Rohani, Ketua, Semua Perwira Senatus dan semua anggota Dewan Senatus.

Pada Rapat Konsilium bulan September, banyak sekali hadirin yang hadir termasuk Romo Bede McGregor OP, Pemimpin Rohani Konsilium, 3 orang Pastor dari Zambia, 43 orang Legioner dari Korea Selatan, 6 orang dari Mumbai, India, dan kemudian bersama berkunjung ke Knock Shrine.

Bacaan Rohani diambil dari Buku Pegangan bab 16 – Keanggotaan Tambahan ; poin n (hal 111) dari sub bagian berjudul “Pandangan Umum dalam Kaitannya dengan Kedua Tingkatan Keanggotaan Auksilier” (hal 107) ; bagian ini berhubungan dengan “Devosi Sejati kepada Perawan yang Terberkati” untuk para auksilier.

Untuk memperingati Ulang Tahun Legio Maria ke-96, Misa Konselebrasi dan Jam Suci dengan Doa untuk Sakramen Yang Terberkati diadakan di Gereja St. Nicholas di Myra. Jam Suci dibawakan oleh Frater Vito yang sedang menyiapkan tahbisan imamnya. Sesudah itu, ada hidangan ringan teh untuk ramah tamah.

Pada Konferensi Orang Muda Katolik baru-baru ini di Irlandia, partisipan yang hadir 270 orang (kelompok umur 18-40 tahun) – baik juga.

Seperti biasa, ada banyak laporan-laporan menarik dari berbagai belahan dunia. Laporan dari India mengindikasikan bahwa jumlah rata-rata anggota dalam presidium adalah 16 orang dan banyak tugas  legio baik yang telah dikerjakan – seperti sejumlah kasus bunuh diri yang berhasil dicegah, kunjungan ke penjara-penjara dan panti-panti asuhan, doa Rosario juga dipromosikan dan banyak presidium-presidium yunior.

Saya dengan senang hati telah menerima laporan terjemahan Notulensi Senatus di bulan Juli dan Agustus 2017 dari Saudara Erwin. Saya yakin legioner yang setia menghadiri rapat presidium dan melaksanakan tugas legio yang diberikan kepada mereka pada saat rapat legio akan diberikan rahmat dan berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya mengerti bahwa kunjugan ke presidium dan dewan-dewan tetap dijalankan. Ini adalah tugas penting karena berarti kita dapat mendeteksi berbagai kesalahan yang memerlukan koreksi.  Setiap kesalahan yang serius harus dilaporkan kepada perwira Senatus. Adalah hal yang penting bahwa semua perwira presidium dan kuria membaca dan mempelajari buku pegangan Legio – semua bagiannya – sehingga mempunyai pengetahuan yang baik mengenai sistem Legio dan dapat menghindari kesalahan.

Sekali lagi, Saya berterima kasih kepada semua perwira Senatus dan seluruh anggota untuk kesetiaan dan dedikasi mereka. Semoga berkat dan rahmat Allah beserta kita semua.

-Catherine Donohoe (Concilium correspondent)