Kenakanlah Medali Wasiat Ini..

Bandung, 30 Oktober 2017


J.M.J.F.C.A

Kepada para Legioner terkasih,
pax eT bonum

Ketika Sang Putra tersalib,
dalam erangan kesakitan
karena siksa nan ngeri
Sang Bunda berdiri di sana.
Sanggupkah seorang ibu berdiri
di tengah derita, luka menganga, darah dan air mata anaknya?
Namun di sana Maria berdiri,
di bawah Salib Yesus, berdirilah Ibu Yesus.

Lihat Sang Bunda,
di bawah Salib Yesus,
Sang Bejana Rohani menampung semua rahmat
yang tertumpah dari Sang Sumber Segala Rahmat,
buah-buah dari Salib-Nya.

Lihat kini Sang Bunda
berdiri di hadapanmu, Ratu Surga dan dunia
dengan kedua tangan terbuka
mengajak anak-anaknya datang menghampiri
guna memberi berkat dan rahmat
dari harta Bejana Hatinya
untuk dilimpahkan bagimu
segala rahmat yang ada dan diperlukan
bahkan rahmat yang tak dapat kita bayangkan
serta rahmat yang tak pantas kita dapat
agar selalu semangat dan setia dalam karya
menyalakan api cinta yang redup
menerangi nyala iman yang pudar
meneguhkan dasar harapan yang runtuh
memanggilmu pada kekudusan
dan melaluimu
mengundang semua menjadi kudus.

Bila segala terasa berat,
lihatlah di sana ia berdiri
dengan segala rahmat terbaik yang ada di Surga dan bumi.

Medali ini bukanlah jimat untuk ditaruh di dompet
bukan pula barang kenangan untuk dipajang di lemari.
Medali yang sejati akan kita dapatkan setelah perjuangan hidup usai.
Kita kini boleh mencicipinya dahulu dengan medali kecil ini.
Kenakanlah dengan bangga di lehermu,
karena kita semua adalah pejuang Maria.
Apabila senantiasa setia
apa yang kini kita cicipi dengan sederhana
semoga diganjar kemurahan Hati Tuhan
dengan medali kemenangan jaya.

Saat hidup hampa dan berat,
larilah ke kaki altar bersama Sang Bunda,
genggam erat medali itu
segarkanlah diri seperti rusa kehausan yang minum dari sumber air.
Namun lebih penting,
di saat hidup terasa ringan dan menyenangkan,
jangan lupa senantiasa berdoa melalui perantaraannya,
karena tidak jarang, ada saja rahmat yang lupa kita minta.
Dan di atas segalanya,
cintailah Bundamu itu
bermurah hatilah padanya
sapalah ia terus menerus
dalam kerapuhan cinta sederhana seorang anak
melalui untaian mawar abadi
“Salam Ibu, halo mama, hai bunda…”
dengan Rosariomu itu.

Majulah Laskar Maria
teladanilah Bundamu
berjuang di bawah panjinya takkan sia-sia.
Medali ini adalah doa,
doa terus menerus,
dan janganlah jemu berseru:

“Oh Maria dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang berlindung padamu!”


Salam,

L. Benedictus Giuseppe-Maria

Jejak Presidium Bunda Hati Kudus

​Oleh Sdr. Bartolomeus Helan


Legio Maria sudah tidak asing lagi di paroki St. Theresia Prapatan Balikpapan. Persekutuan orang-orang yang bersatu dengan Bunda Maria dalam doa dan pelayanan ini sudah berada di paroki ini sejak tahun 1958. Dalam catatan kronik paroki Klandasan (paroki St.Theresia Prapatan sekarang) terdapat satu Presidium Legio Maria dengan nama Presidium Bunda Pencinta Damai. Namun tidak ada data yang pasti, Legio Maria diperkenalkan oleh siapa dan berapa jumlah anggota waktu itu. Yang pasti presidium ini mengadakan rapat setiap hari Minggu pukul 16.00, serta terlibat aktif dan mengambil bagian dalam tugas pelayanan pastoral. 

Meskipun Presidium Bunda Pencinta Damai menjadi presidium pertama di paroki Prapatan dan juga se-Kalimantan Timur namun statusnya tidak terdaftar di Senatus Bejana Rohani Jakarta. Hal ini membuat Presidium ini hanya terkenang dalam ingatan anak cucu para pendiri yang telah berpulang ke rumah Bapa di Surga. 

Menilik lebih jauh dan “bukan” berdasarkan fakta sejarah, Presidium Bunda Pencinta Damai bertahan sampai sekitar tahun 1972.  Setelah itu Presidium ini dinyatakan “bubar” atau tidak aktif lagi karena sebagian anggotanya mutasi dan meninggal dunia serta sejak saat itu tidak ada lagi kelompok Legio Maria di paroki Prapatan.

Gereja Paroki St. Theresia Prapatan (foto diambil dari google maps)

Api Legio Maria Kembali Bernyala
Ibu Yenny Lesmana datang ke Balikpapan pada bulan Nopember tahun 1978. Beliau merasa kosong dan sepi karena paroki St. Theresia tidak memiliki kelompok doa Legio Maria. Beliau sudah terbiasa dan aktif di Legio Maria sejak tahun 1973 di Semarang sehingga kebiasaan inilah yang mendorongnya untuk menyalakan kembali api Legio Maria yang telah padam. Ia pun berinisiatif membentuk satu presidium Legio Maria di paroki ini. Pada tahun 1980 pastor A.M Sutrisnaatmoka, MSF (sekarang uskup Palangkaraya) bertugas di paroki Prapatan. Ibu Yenny bertemu dengan pastor Sutrisna dan berunding bersama sekaligus membuat rencana membentuk Legio Maria di paroki St. Theresia Prapatan Balikpapan. Pertemuan dan diskusi singkat ini membuahkan hasil positif.

Keluarga Ibu M. E. Jenny Lesmana

Pada tanggal 9 Mei 1981 jam 19.00 WITA bertempat di pastoran paroki St. Theresia Prapatan dibentuklah Presidium Bunda Pecinta Damai (BPD) sebagai presidium senior campuran yang pertama.  Rapat pertama terjadi pada tanggal 17 Mei 1981 jam 16.00. Susunan perwira pertama Presidium Bunda Pencinta Damai sebagai berikut: Pemimpin Rohani: Pastor A. Sutrisno Atmaka, MSF (Uskup Palangkaraya sekarang). Ketua: Saudari Yenny Lesmana. Wakil Ketua: Saudara Paulus Slamet Sabanto. Sekretaris: Saudara Sudarisman. Bendahara: Saudari Veronika Isri Isharjanti. Jumlah anggota pertama yang bergabung dalam presidium ini sekitar 10 orang.

Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF (foto dari katolikpedia.org)


Setelah rapat perdana ini, mulai dilaksanakan rapat-rapat legio secara rutin. Anggota Legio Maria juga terlibat aktif dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di paroki. Dari sini pula terbentuk kelompok Kitab Suci dengan nama kelompok Patrisi. Kelompok ini terbuka umum, kegiatannya diadakan setiap sekali dalam bulan dikoordinir oleh Legio Maria. Kegiatan inti yang dijalankan pada pertemaun Patrisi ini adalah membahas dan mendiskusikan Kitab Suci dan pengetahuan umum tentang Gereja Katolik. Di dalamnya juga dibicarakan karya pelayanan pastoral dan liturgi Gereja. Kelompok Legio Maria merupakan perpanjangan tangan dari pastor paroki. Setiap bulan Mei dan Oktober Legio selalu mengadakan  devosi Maria di gereja untuk umat paroki, biasanya dibuka dengan perarakan patung Bunda Maria dengan memakai tandu dari halaman gereja dan ditahtakan di dalam gereja selama sebulan, di mana setiap hari ada legioner yang memimpin atau membawakan doa rosario secara bergiliran.

Selain tugas pokok rapat dan keterlibatan dalam karya pastoral Gereja, tugas lain yang dijalankan adalah mengunjungi orang sakit di rumah sakit maupun di rumah, melayat dan menghibur warga yang mengalami kedukaan atau menderita, mengunjungi warga gereja yang bermasalah (yang jarang ke gereja) dan acara-acara berkala lain seperti sarasehan dan diskusi, membersihkan gereja, sakristi dan gua Maria. Para anggota presidium Bunda Pencinta Damai juga terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan atau kring masing-masing.

Spontanitas tapi bukan kebetulan

Anggota Presidium Bunda Pencinta Damai semakin hari semakin bertambah banyak. Anggota ini terdiri dari orang dewasa, remaja dan anak-anak. Seiring bertambahnya jumlah anggota dan perbedaan usia dalam Presidium ini maka diputuskan untuk membaginya menjadi dua presidium. Keputusan ini secara spontan dalam rapat Presidium tanpa rencana sebelumnya. Dalam rapat itu juga, semua spontan memberi nama pada Presidium baru yakni Presidium Bunda Hati Kudus. Soal pilihan nama ini tanpa refleksi mendalam. Apakah karena Hatinya sebagai seorang ibu setia mendampingi anak-anak yang datang kepadanya dan tidak pernah meninggalkan mereka di bawah kepak sayap kasihnya? Pertanyaan yang belum bisa terjawab sampai detik ini. Sr. Yohana, MASF dan bu Yenny Lesmana sebagai asisten pemimpin rohani waktu itu memberi kesaksian bahwa Presidium baru dengan nama Bunda Hati Kudus lahir secara spontan tetapi bukan sebuah kebetulan. Demikian juga dengan nama presidium ini. Hal ini pun diyakini sebagai anugerah Roh Kudus melalui doa Bunda Maria yang berkarya dalam diri semua anggota presidium Bunda Pencinta Damai untuk melebarkan sayap kerasulan melalui presidium yang baru.

Presidium Bunda Hati Kudus merupakan presidium junior campuran dengan anggota siswa-siswi SMA, SMP, SD dan kebanyakan dari mereka merangkap sebagai putra-putri Altar (misdinar). Ada satu anggota yang paling kecil berusia 4 tahun atas nama Angelina Novitri. Mereka dipisahkan dari kelompok seniornya dan menyandang status sebagai presidium Junior. Dapat pula dikatakan bahwa Presidium Bunda Hati Kudus adalah anak dari Presidium Bunda Pencinta Damai. Presidium ini dibentuk pada tanggal 9 Agustus 1992 dengan susunan perwira pertama; Ketua: Yosep Pio Erwin, Wakil Ketua: Yohanes Elvianus, Sekretaris: Ida Ayu Christiany, Bendahara: Yosep Pio Erwin, dengan pemimpin rohaninya pastor F.X. Huvang Hurang, MSF, serta asisten pemimpin rohaninya Sr. Yohana, MASF dan ibu Yenny Lesmana. Waktu rapat ditetapkan setiap hari Minggu pukul 09.30 bertempat di belakang pastoran. Presidium ini disahkan oleh Dewan Senatus pada pada tanggal 09 September 1992 karena pada tahun 1992 belum ada dewan Kuria di Balikpapan. Maka sebelum terbentuknya Kuria, kedua presidium ini (BPD dan BHK) mengadakan rapat sebulan sekali di rumah ibu Yenny Lesmana, Jl.Lombok No.21 Gunung Dubs.

Dalam catatan rapat maupun laporan tahunan, perwira-perwira awal berganti begitu cepat. Ada yang menjabat hanya dua tahun. Ada yang setahun lebih atau cuma setahun dan bahkan ada yang beberapa bulan saja. Hal ini dilatarbelakangi oleh urusan sekolah dan mutasi (pindah mengikuti orang tua). Namun pada kenyataannya, mereka begitu disipilin dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas, ‘membesarkan’ presidium baru ini dan selalu semangat dalam mengikuti rapat serta kegiatan-kegiatan kerasulan. Patut juga dicatat bahwa anggota Legio Maria junior ini menjadi anggota misdinar dan anggota Mudika paroki. Kenyataan menegaskan bahwa “Anggota Legio adalah Mudika dan Mudika belum tentu anggota Legio”. Maka dalam organisasi Mudika sebagian besar anggotanya merupakan anggota Legio Maria. Kebanyakan anggota yang ikut bergabung dengan Legio Maria karena diajak teman-teman. Awalnya cuma ikut-ikutan tepi lama kelamaan betah dan mulai aktif. Anggota BHK berkisar antara 30-50 orang. Tetapi yang hadir rapat minimal 20-an orang. Anak-anak sekolah ini merupakan cikal bakal penerus Legio Maria di paroki Prapatan. Adapu tantangan yang dihadapi adalah tidak adanya figure pemimpin yang handal karena tidak ada pengkaderan. Kelompok ini terus berjalan seiring dengan keterlibatan aktif para pendamping dan keluarga yang selalu mendukung dan memberi motivasi agar mereka terus semangat dalam setiap rapat maupun karya pelayanan.

Lebih jauh nilai yang tertanam dalam benak dan diri mereka adalah kebersamaan. Bukan saja soal mengikuti rapat presidium tetapi lebih dari itu ada tujuan lain yakni rekreasi atau bersenang-senang sebagaimana usianya anak-anak. Anggota BHK sangat kompak dan antusias untuk hadir rapat dan kemudian diajak jalan-jalan (wisata) ke km. 15 atau km 45 atau juga ke pantai. Memang dunia anak-anak : 40 % mengikuti rapat dan 60 % rekreasi. Dalam rapat minggu ini, ada rencana untuk minggu depan kemana. Anggota tambah semangat untuk hadir minggu depan karena setelah rapat akan jalan-jalan bersama. Satu kegembiraan yang menjadikan setiap anggota saling meningatkan dan saling meneguhkan. Akan tetapi seiring perjalanan waktu dan dibekali pemahaman dari para pemimpin dan asisten pemimpin rohani, pola ini perlahan-lahan berubah menjadi 80 % menghadiri rapat mingguan, menjalankan tugas-tugas legioner dan 20 % rekreasi. Juga satu pola yang berubah secara dratis ketika anggota Junior ini mulai melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan pola pikir yang lebih matang. Satu yang menarik bahwa tugas pencarian anggota baru menjadi tugas khusus (wajib) yakni satu orang wajib mencari dua calon anggota baru. Maka tidaklah mengherankan bahwa jumlah anggota BHK semakin hari semakin bertambah.  Di samping itu, satu faktor yang mendukung semangat dan keterlibatan para anggota baik waktu rapat maupun kegiatan pelayanan adalah kreatifitas para perwira dan pemimpin serta asisten pemimpin rohani. Karena ketika seorang perwira atau pemimpin dan asisten rohani ‘kurang’ memahami situasi dan keadaan para anggota, maka perlahan tapi pasti jumlah anggota setiap tahun semakin menurun. Bersyukurlah bahwa hal yang spontan ini tidak menjadikan presidium Junior pertama di Kalimantan Timur ini ‘bubar’ melainkan tetap bertahan sampai berubah status menjadi Presidium Senior.

Dari Junior ke Senior

Waktu terus berjalan. Tahun pun berganti pasti. Presidium Bunda Hati Kudus pun larut dalam perputaran waktu dan pergantian tahun. Para anggota yang nota bene usia sekolah perlahan ‘meninggalkan’ presidium ini satu per satu. Mereka pergi bukan karena tidak sanggup lagi mengemban tugas sebagai tentara Maria tapi semata-mata karena tuntutan pendidikan dan mutasi ke tempat tinggal yang baru. Begitu pun ketika mereka pulang dari perburuan cita-cita, mereka  kembali bergabung dengan Presidium ini. Sekitar tahun 1999, presidium Junior ini berubah status menjadi presidium Senior. Anggotanya pun rata-rata sudah memiliki pekerjaan yang tetap.

Presidium Bunda Hati Kudus tetap bertahan namun presidium induknya yakni Bunda Pencinta Damai tidak aktif lagi bahkan dinyatakan bubar sekitar tahun 2001. Namun perlu dicatat bahwa dari presidium induk (Bunda Pencinta Damai) ini, lahirlah presidium-presidum baru (selain BHK) di tiga paroki kota Balikpapan yakni presidium Anuntiata di paroki St. Theresia Prapatan (25 Maret 1994), presidium Ratu Rosari (14 Agustus 1994) di paroki St. Petrus-Paulus Dahor dan presidium Maria Protegente (07 September 2000) di paroki St. Klemens I Sepinggan. Demikian juga berdiri presidium-presidium lain di wilayah Keuskupan Agung Samarinda yang bernaung di bawah Kuria Bejana Kebaktian Balikpapan.

Presidium Bunda Hati Kudus menghadapi pasang surut dalam proses perkembangannya. Pasang surut ini terlihat dalam statistik keanggotaan dan kepengurusan. Jumlah anggota dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Boleh dikatakan anggota yang masuk berbanding terbalik dengan anggota yang keluar. Jumlah yang keluar lebih banyak sementara yang masuk menjadi anggota tidak bertahan lama. Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan adalah tuntutan pekerjaan, kesibukan rumah tangga dan mutasi ke luar paroki maupun daerah. Sementara dalam kepengurusan antara tahun 2007-2009 wakil ketua dan bendahara vakum. Saudari Rosa Kumarurung sebagai wakil ketua naik menjadi ketua merangkap bendahara. Anggota aktif 3 (tiga) orang yang masih terikat kehidupan membiara sebagai aspiran.

Pasukan Maria tidak mengenal kata ‘menyerah.’ Meskipun berbagai keterbatasan dialami dalam roda kehidupan presidium ini, selalu saja ada jalan untuk menjalankan misi perutusan mencari dan merekrut anggota baru. Tugas ini terbilang amat sulit. Setiap anggota aktif harus ‘berperang’ melawan gaya hidup dan mental instan orang-orang zaman ini. Jawaban yang selalu ditemukan dalam perjumpaan dan percakapan adalah ‘tidak ada waktu’ dan ‘sibuk.’ Seandainya ada kesempatan untuk berdebat argumentasi ini bisa dipatahkan. Satu hari terdiru darj 24 jam. Legio hanya butuh 1 jam 30 menit. Berarti masih ada sisa 22 jam 30 menit. Tapi itu sama sekali tidak membuat seseorang untuk mau bertahan selama satu setengah jam untuk berdoa dan mengikuti rapat. Namun anggota Legio Maria tidak pernah ‘memaksa’ seseorang untuk menjadi anggota Legio. Hanya senjata doa yang mampu mengalahkannya. Perlahan namun pasti presidium ini semakin berkembang dengan jumlah anggota aktif berkisar antara 10-15 orang di luar perwira. Itu berarti sejuta tantangan dan kesulitan apapun jika dihadapi dengan senjata doa akan menghasilkan banyak buah dan menjadikan karya Legio Maria berkat bagi semua orang yang dilayani.

Tugas Pelayanan Anggota BHK

Anggota Presidium Bunda Hati Kudus baik waktu masih Junior dan perlahan berubah menjadi Senior memiliki semangat dasar yang sama yakni doa dan pelayanan. Khusus anggota Junior waktu itu, tugas mereka adalah membersihkan gereja, mengunjungi teman yang sakit atau bermasalah, mempelajari buku pegangan, mengikuti kegiatan-kegiatan misdinar, belajar, membantu orang tua, membaca Kitab Suci, sekolah Minggu dan kegiatan di lingkungan masing-masing. Mereka juga diberi tugas kunjungan ke rumah sakit dan penjara tetapi tidak setiap minggu. Selain itu anggota yang menjadi misdinar tugas khususnya mengikuti kegiatan misdinar (latihan ataupun tugas misa). Tugas rutin setiap hari adalah menjadi misdinar dan petugas lektor pada misa harian. Perlu dicatat bahwa ketika mendapat tugas sebagai misdinar atau lektor anggota tersebut sudah berada di gereja satu atau dua jam sebelum misa dimulai. Itu berarti anak-anak ingin agar tugas yang dipercayakan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Satu hal pula yang dibiasakan dalam mempelajari buku pengangan adalah apa yang dibacakan dalam minggu itu kemudian disharingkan pada saat rapat berikutnya. Dengan demikian, hal yang kadang kurang dipahami dijelaskan kembali oleh pemimpin rohani atau asisten pemimpin rohani.

Dalam menjalankan tugas, berbagai kendala ditemukan entah itu secara pribadi maupun bersama. Kendala utama yang dihadapi adalah kemalasan, ketiduran, kelelahan atau les yang bersamaan dengan jam pelaksanaan tugas. Ketika tugas itu gagal dilaksanakan, anggota tersebut merasa sedih. Namun kalau mampu mengatasi kendala-kendala ini dan tugas itu berhasil maka ada kegembiraan dan sukacita. Sementara itu untuk laporan tahunan presidium langsung diserahkan ke Senatus dan tidak ada rapat Kuria karena antara tahun 1992-1994 belum ada dewan Kuria di Balikpapan. Maka pada tahun 1994 Saudara Erwin (BHK) dan Saudara Berni (BPD) menghadiri rapat Senatus Bejana Rohani di Jakarta.

Dalam koridor pelaksanaan tugas anggota Junior dan Senior sedikit berbeda. Beban tugas dan pelayanan pun tidak persis sama. Hal yang menarik yang pernah dilakukan dari anggota yang terdahulu sampai dengan saat ini adalah bakti sosial atau aksi sosial. Memang benar bahwa anggota Legio Maria tidak boleh memberikan apapun (uang maupun barang) kepada siapapun atau menerima apapun dari orang lain namun kegiatan ini sebagai bentuk solidaritas pada masa adven atau masa prapaskah. Perlu dicatat bahwa dalam kegiatan bakti sosial atau aksi sosial ini, anggota Legio tidak pernah mengumpulkan uang ataupun barang pribadi tetapi anggota Legio menggandeng orang-orang yang mampu untuk membantu mereka yang membutuhkannya dan juga bekerja sama dengan Seksi Sosial paroki. Barang-barang (berupa sembako) biasanya dikumpulkan oleh umat (warga paroki) lalu Legio Maria mengambil bagian dalam proses penyalurannnya. Jadi Legio Maria hanyalah perpanjangan tangan dari umat paroki untuk turun menjumpai kaum marginal tersebut. Maka anggota Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus pernah mengadakan aksi sosial saat kunjungan ke stasi Amburawang, aksi sosial ke anak-anak jalanan dan orang-orang pinggiran serta aksi sosial ke panti asuhan.

Dalam rapat Presidium, setiap anggota mendapat tugas pelayanan yang dilaksanakan sepanjang satu pekan dan kemudian pada rapat minggu berikutnya tugas-tugas itu dilaporkan. Tugas-tugas anggota berupa tugas rutin seperti; mendoakan dan mengunjungi orang sakit (di rumah maupun di rumah sakit), mengunjungi anggota auksilier, tugas di gereja (koor, tatib, rias altar, Rosario sebelum misa, kunjungan ke penjara, mengikuti kegiatan ACIES, pendalaman iman, pendalaman Kitab Suci dan rosario di Kring, mengikuti misa legio gabungan tiga paroki, mempelajari buku pegangan dan Kitab Suci, dan lain-lain.

Selain tugas rutin ada juga tugas insidentil berupa; menghadiri rapat dewan paroki, menjadi koordinator safari Rosario, ikut ambil bagian dalam kegiatan kategorial gerejani, bersama pastor atau suster mengantar komuni (untuk jompo dan orang sakit), kunjungan ke kaum marginal, kunjungan ke panti jompo, mengadakan seminar pada penutupan bulan Maria dan HUT Presidium dengan melibatkan semua umat paroki, dll.

Dalam menjalankan tugas-tugas ini masih ditemukan juga kesulitan atau kendala-kendala yang kadang membuat tugas itu gagal dilaksanakan. Adapun kesulitan yang selalu muncul adalah waktu kunjungan yang tidak cocok antara teman. Di samping itu ada urusan keluarga mendadak yang mengharuskan seseorang keluar kota. Perlahan namun pasti, setiap anggota Legioner berusaha untuk mengingatkan temannya dan membuat jadwal kunjungan yang sesuai sehingga tidak menggangu rutinitas masing-masing. Dalam kunjungan itu juga kadang ada penolakan dari orang atau keluarga yang mau dikunjungi. Namun anggota Legio tidak pernah putus asa, bahkan membawakan pengalaman ini dalam doa. Suatu yang menjadi sumber kegembiraan dan sukacita adalah bahwa anggota Legioner mampu menjalankan tugas pelayanan dengan setia. Meskipun ada banyak kesibukan namun masih mempunyai waktu dan kesempatan untuk melakukan kunjungan atau kegiatan aksi sosial, menjumpai orang-orang sakit dan menderita, orang-orang yang haus dan lapar akan sentuhan kasih, mereka yang lemah dan terabaikan, kaum kecil dan kelompok marginal serta mereka yang mengalami problem dalam hidup. Semuanya itu dibawa dalam doa-doa dan juga dalam karya pelayanan sebagaimana ‘seorang gembala’ ……………. (lihat buku pegangan).

Moment 25 tahun : Moment Syukur dan Kenangan

Presidium Bunda Hati Kudus pada tanggal 9 Agustus 2017 genap berusia 25 tahun. Sebuah usia yang tidak terbilang muda pada perputaran waktu zaman yang ditandai dengan pola hidup serba instan. Inilah peristiwa iman penuh nada syukur dan kenangan. Peristiwa bersejarah ini tentu menjadi kebanggaan bagi para anggota Legio Maria pada umumnya dan Presidium Bunda Hati Kudus pada khususnya di paroki Santa Theresia Prapatan Balikpapan. Meskipun kecil dalam segi jumlah namun kehadiran dan keberadaan para legioner ini dapat membantu karya pelayanan pastoral sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Moment 25 tahun ini merupakan kesempatan emas bagi para legioner dan simpatisan untuk mengungkapkan rasa syukur dengan berpegang teguh pada penyerahan diri yang utuh: “Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanmu.”

Moment penuh syukur ini juga bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas karya penyertaan dan rahmat Allah melalui Bunda Maria selama 25 tahun berkarya dan mengemban tugas pengudusan bagi anggota legio dan orang lain. Hal lain yang ingin dicapai adalah meningkatkan kualitas kerohanian para anggota legioner baik Legioner aktif maupun Auksilier (pendoa) dan membangkitkan semangat serta kesadaran baru akan arti dan peran legioner dalam karya pelayanan ke dalam maupun keluar yakni membantu karya Gereja (paroki) secara utuh dan nyata. Lebih jauh perayaan ini juga mau menumbuhkan kembali motivasi awal sebagai anggota legio dan belajar dari kerendahan hati Sang Ratu Bunda Maria untuk setia pada tugas dan tanggung jawab sebagai anggota legioner.

Kegiatan-kegiatan yang dijalankan untuk memaknai moment penuh syukur dan kenangan ini adalah:

  1. Retret Legio Maria di rumah-rumah Ret-Ret Putak-Samarinda pada tanggal 22-23 April 2017. Ret-ret ini didampingi oleh pastor Niko, OMI dengan tema “Kerendahan Hati Maria Menjiwai Semangat Doa dan Pelayanan Legioner.”
  2. Misa pembukaan Bulan Maria pada tanggal 30 April 2017 di gereja St. Theresia Prapatan Balikpapan. Misa didahului dengan perarakan patung Bunda Maria dari depan gereja dan ditahtahkan di panti imam. Di depan patung Bunda Maria ada 10 orang wakil umat yang mewakili 10 etnis atau suku yang ada di Balikpapan mendaraskan doa Salam Maria dengan bahasa daerahnya masing-masing.
  3. Seminar dan Talk Show tentang Bunda Maria pada tanggal 30 April-01 Mei 2017 di aula paroki St. Theresia Prapatan Balikpapan. Seminar ini membahas tentang 4 (empat) Dogma tentang Maria yakni: Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda, Dogma Maria Bunda Allah, Dogma Maria Diangkat ke Surga dan Dogma Maria Tetap Perawan. Nara sumbernya Sr. Maria Erna, PRR. Sementara dalam Talk Show selain keempat dogma ini, ditampilkan juga tentang Bunda Maria dari La Salette dengan nara sumber pastor Erdy E.V, MSF.
  4. Safari Rosario selama bulan Maria. Safari ini diadakan di 10 (sepuluh) lingkungan dalam paroki St. Theresia Prapatan mulai tanggal 02-30 Mei 2017. Dalam safari ini, pastor Andi, MSF, para suster MASF dan FSE menjadi pemimpin ibadah dan membawakan renungan seputar kehidupan iman Bunda Maria.
  5. Perayaan Ekaristi syukur pada hari Minggu, 13 Agustus 2017. Perayaan ini bertepatan dengan Hari Raya Maria Diangkat ke Surga yang dipimpin oleh Mgr. Yustinus Harjosusano, MSF Uskup Agung Keuskupan Samarinda. Sebelum perayaan puncak ini, diadakan novena mulai tanggal 03-11 Agustus 2017. Begitu juga kegiatan latihan koor yang melibatkan anggota Legio Maria tiga paroki di Balikpapan (Prapatan, Dahor dan Sepinggan) dan latihan tarian yang melibatkan anak-anak KOMKA yang nota bene anggota Legio Junior di paroki Prapatan.
  6. Menerbitkan buku kenangan 25 tahun Presidium Bunda Hati Kudus. Sebuah jejak sejarah yang perlu dimaknai untuk dikenang. Meskipun terbatas dalam ruang dan waktu namun panitia 25 tahun berusaha sejauh mampu untuk menyulam benang sejarah yang ‘tercecer’ menjadi sebuah sulaman utuh dalam bentuk buku kenangan.

 

Moment Syukur ini melibatkan semua umat paroki, Legio Maria (aktif maupun auksilier) di wilayah Kalimantan Timur dan anggota Legio Maria yang pernah menjadi pengurus maupun anggota di Presidium Bunda Hati Kudus. Sejuta harapanpun tersemat di tubuh Legioner ini agar semakin hari anggotanya semakin bertambah dan Presidium ini bisa berkembang terus tidak hanya berhenti pada moment syukur ini tetapi terus bergerak menjadi Tentara Maria yang siap sedia bertempur di medan kehidupan zaman ini. Bertekun dalam doa bukan tanpa rintangan. Hidup dalam persekutuan bukan perkara gampang. Setia dalam pelayanan bukan hal yang mudah. Namun melalui madah ini ‘Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanmu’ segalanya menjadi indah. Semakin dekat dan mencintai Bunda Maria berarti semakin dekat dengan Puteranya dan siap melayani dalam kegembiraan dan sukacita. Proficiat atas pencapaian usia yang ke 25 ini dan jayalah terus LEGIO MARIA. 

BUNDA HATI KUDUS, DOAKANLAH KAMI SELALU.


Disusun oleh Sdr. Bartolomeus Helan, kerua Presidium Bunda Hati Kudus dan juga Ketua Kuria Bejana Kebaktian Balikpapan.

Bangga Menjadi Legioner

Oleh Ibu M. E. Jenny Lesmana (Penyunting : Bartolomeus Helan)


“Keluarga kami adalah keluarga Legioner.”

Suami saya menjadi anggota Legio Maria waktu berada di Semarang. Saya sendiri menjadi anggota Legio Maria sejak di Semarang dan ketika berada di Balikpapan. Menariknya, di Balikpapan bukan cuma sebagai anggota tetapi ‘pendiri’ Legio Maria di paroki St. Theresia Prapatan yang kemudian berkembang sampai saat ini. Ketiga anak saya menjadi anggota Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus Prapatan Balikpapan. Anak sulung dan kedua juga pernah menjabat sebagai perwira presidium BHK. Sementara anak bungsu menjadi anggota termuda waktu itu. Mengenang ini saya menjadi bangga sebagai anggota Legio Maria. Bangga bukan karena kehebatan diri sendiri tetapi bangga karena bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan dan Bunda Maria untuk menjumpai orang-orang yang terlantar, masyarakat pinggiran, orang-orang yang terasingkan dan mereka yang kurang beruntung hidupnya. Maka menjadi anggota Legio Maria merupakan sebuah “keuntungan” bukan sebuah “kerugian” (rugi karena ada yang berpikir waktunya sia-sia hanya untuk rapat dan doa).

Keluarga Ibu M. E. Jenny Lesmana

Saya menjadi anggota Legio Maria ketika masih muda dan belum menikah. Pengalaman yang terindah adalah ketika berlutut di depan Bunda Maria dengan Rosario di tangan sambil mendaraskan peristiwa-peristiwa Rosario dan mendokan Catena. Satu rumusan doa yang luar biasa indah yang membuat saya semakin tertarik untuk lebih dekat dengan Bunda Maria. Sejak saat itu doa menjadi bagian dari hidup saya. Dalam situasi dan keadaan apapun saya tidak pernah lupa berdoa dan Rosario kecil menjadi teman setia saya ke mana pun saya melangkah. Doa adalah kekuatan hidup saya.

Ada sebuah pengalaman pribadi saya tentang kekuatan doa itu. Pada suatu hari saya dipanggil untuk hadir dalam wawancara penerimaan karyawan di perusahaan farmasi di Semarang. Orang yang hadir atau melamar pekerjaan jumlahnya 100 orang lebih. Padahal yang diperlukan hanya 2 orang.  Sebelum wawancara saya menyerahkan semuanya pada rencana Tuhan melalui doa kepada Bunda Maria. Pada saat wawancara saya bisa merasakan ketenangan, semua pertanyaan saya jawab dengan tepat dan tenang.  Dan karena doa dan pendampingan dari Bunda Maria, maka saya lulus waktu itu dengan mengalahkan banyak pelamar yang lain. Saya sangat beruntung memiliki seorang Ibu yakni Bunda Maria yang selalu menolong dan membantu saya.

Pengalaman yang sama juga dialami oleh anak-anak saya. Mereka adalah anggota Legio Maria sejak kecil. Sebagai anggota Legio mereka pun terbentuk untuk lebih percaya diri, disiplin dan menyerahkan cita dan masa depan mereka ke dalam penyelenggaraan Tuhan dan perlindungan Bunda Marai. Mereka tidak pernah takut menghadapi wawancara, baik waktu mau masuk ke sekolah SMA Van Lith  ataupun waktu mereka sedang wawancara penerimaan karyawan. Dan inilah hasil ‘pendidikan’ di Legio Maria, yg kadang baru dirasakan kemudian. Biasanya anggota yang tekun dan serius dalam keanggotaan sebuah Presidium Legio Maria, dia tidak akan pernah kesulitan di dalam pekerjaan maupun hubungan dengan masyarakat luas. Ya karena bunda Maria selalu akan mendampingi dan menyertai hidup dan karya para Legioner di mana pun berada.

Untuk membagi waktu sekali lagi semuanya tergantung dari pribadi masing-masing.  Waktu saya masih di Semarang dan belum menikah saya bisa menata waktu saya, terlibat aktif di Legio dan bekerja sebagai karyawati di apotik lalu pindah kerja ke perusahaan Farmasi (PBF). Dan itu tidak ada masalah. Sebab Legio hanya meminta setiap minggunya 1.30 jam untuk rapat mingguan dan tugas dalam 1 minggu minimal 2 jam. Jadi rasanya tidak akan memberatkan, apalagi waktu tugas bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing anggota. Setelah menikah saya pindah ke Balikpapan  saya menjadi ibu rumah tangga dengan anak-anak yang masih kecil-kecil, juga sebagai istri seorang staff di Pertamina, saya tetap terlibat aktif sebagai seorang Legioner, aktif dalam kelompok Dharma Wanita Pertamina, aktif di kelompok persatuan istri di bagian kantor suami. Selain itu saya juga aktif di paroki St. Theresia Prapatan,  aktif sebagai seksi liturgi bagian rumah tangga gereja, alias kerja di belakang altar. Begitupun dirumah saya juga masih ada usaha kecil-kecilan jualan konfeksi, karena sudah terbiasa bekerja maka tidak nyaman kalau hanya berrgantung dengan suami. Semuanya berjalan normal dan tidak ada kendala yang berarti. Hal ini hanya bisa terjadi dan berjalan baik apabila seseorang bisa mengatur waktu, sehingga urusan di rumah beres, anak-anak dan suami aman, dan masih bisa melayani orang lain, baik dalam masyarakat maupun di gereja dan Legio Maria.

Dan dari semua itu jangan pernah lupa bawa semuanya dalam DOA yang selalu akan menguatkan semua kehidupan kita. Doa tidak perlu harus berlama-lama tetapi yang terpenting berdoa dengan hati, sediakan waktu walau sedikit untuk berbicara atau curhat dengan Tuhan, bersyukur kepada Tuhan yang telah menghadiahkan kepada kita seorang Ibu yakni Bunda Maria, yang dari rahimya lahirlah Sang Juru Selamat dunia. Di samping itu contohlah semangat hidup dan kerendahan hati bunda Maria yang sederhana, mengalir saja, tanpa banyak berkeluh kesah dan menyimpan semuanya dalam hati,  dan setia kepada Tuhan dengan melakukan apapun yang Tuhan perintahkan dengan penuh percaya dan tanpa banyak bicara menjawab “Ya” atas panggilan Allah.

Bagi saya rasanya menjadi legioner lebih banyak sukanya, dan sedikit dukanya.  Menjadi legioner itu sukanya, merasa hidup ini lebih bermakna, lebih terarah dan berarti, karena hidup bisa lebih berguna bagi orang lain, bisa lebih dipakai Tuhan untuk melayani, dan masih banyak lagi sisi positif sebagai seorang Legioner. Dukanya hanya kalau tidak diterima dan dimengerti oleh orang yang ingin dikunjungi dan bantu. Di dalam Legio Maria seorang Legioner dipersiapkan benar-benar sebagai tentara Maria. Jadi segala pelayanan dan karya baik di dalam kehidupan Gereja maupun di dalam masyarakat atau pekerjaan profesi semuanya bisa lebih baik, lebih semangat untuk melayani dengan hati yang tulus, lebih bisa menghargai waktu dan orang lain yang mungkin berbeda pendapat, keyakinan atau tingkat sosial.  Sebab di dalam rapat Legio itulah pendidikan dasar sebagai seorang legioner ditekankan dan menjadi bagian dari perilaku hidup. Maka sangat disayangkan kalau ada anggota legio yang malas atau bosan untuk hadir dalam rapat mingguan Legio. Lebih dari itu tidak ada ruginya kita ikut aktif di Legio Maria, jangan pernah bosan dan jenuh. Itulah para anggota Legio Maria, aturlah waktu kalian, dengan kerja dan doa, serta teruslah menjadi anggota Legio Maria yang setia.

Akhirnya, saya mengucapkan Proficiat dan Selamat Ulang Tahun ke-25 Presidium Bunda Hati Kudus. Jadikanlah hati kita tempat penyalur kasih Allah untuk semua orang yang membutuhkannya. Tetaplah bangga menjadi Legioner di mana pun berada. AVE MARIA.

Catatan redaksi : Sharing ini dimuat dalam buku kenangan “Perayaan Syukur 25 tahun Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus Prapatan – Balikpapan”


Ibu M. E. Jenny Lesmana adalah inisiator pendiri Presidium Bunda Hati Kudus di Paroki St. Theresia, Prapatan Balikpapan. Beliau juga menjadi Asisten Pemimpin Rohani di presidium ini sejah tahun 1992 hingga 2001. Kini beliau berdomisili di Bandung.

 

Alokusio Rapat Senatus 5 November 2017

Oleh RD Antonius Didit Soepartono (Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani)


Bacaan Rohani : Buku Pegangan Bab 6 point 1 halaman 26, paragraf 1~4 : Tugas Para Legioner Terhadap Maria.

Alokusio :

Tugas pertama para Legio terhadap Maria adalah menghormati dan menjunjung tinggi Maria.

Bagaimanakah caranya?

a. Melakukan meditasi dan mempraktekkan dengan penuh semangat.
b. Membawa Maria ke dunia maka dalam hati seorang legioner harus ada Maria.
c. Menjadi pemimpin yg inspiratif dan jiwa bagi anggota2nya.
d. Ikatan pemimpin dan anggota bukan hanya ikatan emotional atau mekanis, Tetapi ikatan jiwa yang sempurna, seperti Ibu dengan bayinya.
e. Tanpa Maria kita tidak dapat melaksanakan karya Tuhan.

Alokusio : Jiwa-Jiwa Legioner yang Sudah Meninggal

Oleh : Sdr. Junius Wijaya, OFS


Bacaan Rohani : Buku Pegangan Bab XVII
Tentang : Jiwa-Jiwa Legioner yang Sudah Meninggal
Halaman : 114 – 115

Menyongsong bulan November yang secara tradisional dikenal sebagai Bulan Arwah, kita diajak untuk kembali merenungkan Hukum Kasih yang utama dan terutama yang disampaikan oleh Yesus yang menjadi pegangan kita.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  (Mat 22 : 37 – 39)

Mengapa kita merenungkan kembali perintah Kasih ini ketika kita akan memasuki bulan Arwah?

Dari Perintah Kasih bagian yang pertama, kita memahami bahwa manusia memiliki JIWA untuk mengasihi Allah. Lalu Kemanakah jiwa ini setelah kematian? Seturut ajaran Gereja kita mengetahui, Jiwa yang jauh dari Allah karena dosa akan menuju api penyucian setelah kematian. Berkat Kerahiman Allah, di sana jiwa dimurnikan dalam kerinduannya untuk bersatu dengan Sang Sumber Cinta.

Dari Perintah Kasih bagian yang kedua, kita diajak untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Secara khusus umat beriman diajak selama bulan November untuk mengasihi sesamanya yang sudah meninggal dunia, yang jiwa mereka kini berada di api penyucian. Bagaimana caranya menunjukan kasih kepada mereka seperti mengasihi diri kita sendiri?

Coba bayangkan bila kita yang berada di sana, tentu kita sangat mengharapkan Ekaristi, doa, dan kurban dari keluarga dan sahabat kita di dunia.


Hal yang sama mari kita lakukan untuk mereka!
Bersyukurlah, sebenarnya seorang Legioner sudah melakukan hal itu setiap Rapat dan Tessera. Bukankah demikian?

Namun di bulan November ini, mari kita lebih bergiat untuk menyatakan kasih kita kepada jiwa-jiwa yang menderita di api penyucian, khususnya para anggota Legio kita. Kita persembahkan segala usaha kita, kekayaan doa, dan korban kita untuk jiwa-jiwa itu kedalam tangan Maria, Ratu dari Api Penyucian. Karena Bunda Maria menjanjikan kepada kita sebagai imbalan dari persembahan ini, agar jiwa-jiwa yang kita kasihi akan mendapatkan keringanan yang lebih banyak daripada jika kita mempersembahkannya langsung kepada mereka. 

AVE MARIA.


Sdr. Junius Wijaya, OFS adalah seorang anggota Ordo Fransiskan Sekular, dan juga menjadi Asisten Pemimpin Rohani Presidium Pohon Suka Cita dan Presidium Maria Tak Bernoda, Paroki St. Petrus dan Paulus Mangga Besar.

Berbuatlah Sesuatu Bagi Para Jiwa-Jiwa di Api Penyucian

Dalam Syahadat Para Rasul, kita selalu mengucapkan : “Aku percaya akan Persekutuan Para Kudus”. Istilah “Persekutuan Para Kudus” (Latin : Communio Sanctorum) dimasukkan pada abad ke-4 dalam rumusan syahadat, dan dapat juga dimaknai sebagai “partisipasi dan saling berbagi dalam hal-hal yang kudus : iman, Sakramen-Sakramen, karisma, dan anugerah spiritual yang lainnya”.

Gereja pada dasarnya adalah persekutuan rohani antara umat beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan menjadi sehati sejiwa. Maka istilah “persekutuan para kudus” menunjukkan Gereja dari segala zaman, dan bukan hanya suatu persekutuan yang bersifat lahiriah atau sosial saja.

Yang dimaksud sebagai Gereja adalah : kita yang masih berjuang di dunia ini; mereka yang tengah mengalami proses pemurnian di api pencucian dan membutuhkan doa-doa kita; dan mereka yang sudah masuk dalam Kemuliaan Allah yang mendoakan dan menjadi perantaraan kita. Semua ini membentuk satu keluarga di dalam Kristus untuk memuji dan memuliakan Allah. Pemahaman ini amatlah menggembirakan dan memberikan harapan bagi kita, karena persekutuan ini menunjukkan bahwa kita yang masih berjuang di dunia ini secara rohani tidak terpisah dengan orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia.

Mungkin selama ini kita menganggap maut sebagai suatu terror yang mengerikan. Kematian dipandang sebagai suatu akhir, suatu perpisahan yang abadi. Kematian menjad suatu batas yang tak bisa ditembus. Kematian adalah satu-satunya hal yang pasti dalam sebuah kehidupan, karena semua yang hidup pasti akan mati. Maut adalah kenyataan bahwa hidup kita terbatas dan fana, meskipun bukan tanpa makna. Dalam waktu hidup yang hanya sementara ini kita diberi kesempatan untuk membentuk sikap kita kepada Tuhan, membuktikan kepercayaan kita, meskipun kita tak melihat Tuhan. Maut membawa kita pada kesadaran kehidupan yang abadi dan bahwa kita selalu hidup di hadapan Tuhan. 

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa setelah kematian, jiwa kita yang tak dapat mati akan menghadapi pengadilan Allah, dan setiap orang akan menerima pembalasan sesuai dengan iman dan perbuatannya. Pembalasan ini bisa berarti masuk ke dalam kebahagiaan surga secara langsung atau seteah melalui proses pemurnian di api pencucian, atau masuk ke dalam kutukan kekal di neraka. Surga adalah keadaan bahagia yang tertinggi bagi mereka yang mati dalam keadaan rahmat Allah dan tidak memerlukan pemurnian lebih lanjut untuk berkumpul bersama dengan Yesus dan Maria, para malaikat, dan para orang kudus. Mereka akan melihat Allah “muka dengan muka” (1 Kor 13:12). Neraka adalah kutukan kekkal bagi mereka yang mati dalam keadaan dosa berat karena pilihan bebas mereka sendiri. Penderitaan terberat bagi mereka adalah keterpisahan kekal dari Allah, padahal Allah adalah sumber kehidupan dan  kebahagiaan yang merupakan tujuan dan kerinduan kita.

Sedangkan mereka yang mati dalam persahabatan dengan Allah namun belum disucikan sepenuhnya, masih memerlukan satu proses pemurnian untuk dapat masuk ke dalam kergembiraan surga. Gereja menamakan proses pemurnian itu sebagai purgatorium (api penyucian). Penderitaan yang dialami oleh jiwa-jiwa di api penyucian adalah perasaan kehilangan Tuhan dan sesal batin yang tak kunjung henti. Penderitaan ini bukanlah penderitaan fisik, namun jiwa merasakan kesakitan kesadaran karena tak bisa menggapai kebahagiaan surgawi akibat terkurung oleh nyala api, yang diistilahkan oleh Santo Alfonsus Ligouri sebagai “kesakitan karena ketidakmampuan melihat Allah” dan “kehampaan kerinduan atas surga”. 

 

Sebagai satu keluarga Gereja, mereka yang tengah mengalami kerinduan akan Allah di api penyucian itu sangat membutuhkan doa-doa dan pengorbanan kita yang masih berjuang di dunia ini. Para jiwa di api penyucian tak dapat menolong diri mereka sendiri karena waktu untuk memanfaatkan karunia Allah telah berakhir ketika mereka meninggal. Kita yang masih hiduplah yang masih mempunyai waktu untuk mendapatkan dan memanfaatkan karunia Allah. Lantas apa yang bisa kita lakukan bagi mereka? 

1. Mempersembahkan Misa 

Ini adalah cara yang paling ampuh untuk menolong jiwa-jiwa di api penyucian. Dalam misa kudus, Yesus sendiri yang mempersembahkan dan mengurbankan diri-Nya bagi kita. Manfaat misa kudus bagi mereka yang telah meninggal adalah sama besar bagi mereka yang sangat menghargai misa kudus selama hidup mereka.

Misa kudus sebagai kurban dipersembahkan bagi mereka yang hidup dan mati untuk pengampunan dosa semua orang dan untuk mendapatkan anugerah rohani dan jasmani dari Allah. Gereja di surga juga dipersatukan dengan persembahan Kristus ini.

2. Berdoa Rosario

Doa Rosario yang dipersembahkan bagi orang yang telah meninggal merupakan doa yang sangat berguna untuk mohon keringanan dan pembebasan penderitaan jiwa-jiwa di api penyucian. Melalui Rosario, banyak jiwa-jiwa dibebaskan dari api penyucian setiap tahunnya. Santo Alfonsus Ligouri mengatakan, “Berdoa Rosario adalah cara yang baik untuk menghibur jiwa-jiwa di api penyucian.”

Dalam penampakan Bunda Maria di Fatima pada 13 Juli 1917, Bunda Maria meminta agar kita berdoa Rosario supaya orang-orang terbebas dari api neraka. Untuk maksud tersebut, maka setelah selesai satu mendoakan satu peristiwa Rosario, ditambahkan doa singkat yang kita kenal sebagai Doa Fatima :

“Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka,dan hantarlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terutama mereka yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu.”

Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja datang ke api penyucian untuk membebaskan jiwa-jiwa, bahkan jiwa-jiwa tersebut memanggil Bunda Maria dengan sebutan Bunda Kerahiman. Bunda Maria sendiri pernah berpesan pada Beato Alain de la Roche, “Akulah Bunda dari jiwa-jiwa di api penyucian dan setiap doa yang ditujukan kepadaku akan meringankan penderitaan anak-anakku.”  

 

3. Berdoa Jalan Salib dan merenungkan sengsara Yesus

Doa ini mengajak kita untuk merenungkan sengsara Yesus Kristus, dan dengan merenungkannya kita diajak untuk sedikit demi sedikit membenci dosa dan menginginkan keselamatan bagi semua orang. Kecenderungan hati ini membaa penghiburan besar bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

4. Mendoakan doa-doa  gubahan para kudus untuk jiwa-jiwa di api penyucian, antara lain doa Santa Gertrudis, doa Santa Mathilda, doa Santa Brigita, doa Santa Bridget dari Swedia, dan banyak doa-doa lain yang bisa kita panjatkan bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Mereka yang di api penyucian sangat bergantung pada doa-doa kita, maka jika kita tidak berdoa bagi mereka, mereka sama sekai ditelantarkan.

Bunda Maria pada penampakan di Medjugorje pada 6 November 1986 menyampaikan pesan untuk berdoa setiap hari bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

5. Mempersembahkan segala penderitaan, penitensi, mati raga, pantang puasa, dan pengorbanan pribadi kita untuk menolong jiwa-jiwa yang malang di api penyucian. Penderitaan kita di dunia dapat membuat kita bertumbuh dalam kasih, maka jika kita menjalani segala penderitaan dan pengorbanan itu dengan sabar, rendah hati, dan dipersatukan dengan sengsara Yesus dengan menaruhnya ke dalam tangan Perawan yang Terberkati, maka semuanya itu akan memiliki kuasa untuk menolong banyak jiwa.

6. Rajin mengupayakan untuk memperoleh indulgensi, entah penuh ataupun sebagian bagi diri sendiri, maupun bagi orang-orang yang telah meninggal. Mengenai aturan mengenai indulgensi dapat dibaca disini

Doa-doa dan pengorbanan kita bagi jiwa-jiwa di api penyucian tidak akan sia-sia. Mereka yang terbebaskan dari api penyucian dan masuk ke dalam surga karena doa-doa kita pasti tidak akan melupakan kita. Mereka akan mendoakan mereka dalam perjuangan kita di dunia ini dan juga jika kita mengalami pemurnian di api penyucian nanti.  Inilah bentuk bukti cinta kasih yang satu dan sama dalam Gereja. Kasih yang tak berkesudahan inilah yang menjadi jembatan antara kita yang masih hidup di dunia ini dengan mereka yang telah meninggal. 

Referensi :

-. 2007. Rahasia Jiwa-Jiwa di Api Penyucian. Jakarta : Marian Centre Indonesia.

Djokopranoto, R. 2013. Misteri Api Penyucian. Jakarta : Penerbit OBOR.

Konferensi Waligereja Indonesia.2008. Iman Katolik (Buku Informasi dan Referensi). Jakarta : Penerbit OBOR dan Kanisius.

Susanto, Harry, SJ (Penterjemah). 2011. Kompendium Katekismus Gereja Katolik. Yogyakarta : Kanisius.


Disusun oleh Tim Website Senatus Bejana Rohani.

Pesan Gado- Gado Pada Penutupan Bulan Rosario

Refleksi Sdr. Junius Wijaya, OFS pada penutupan Bulan Rosario di Paroki Santo Petrus dan Paulus, Mangga Besar.


Penutupan Bulan Rosario 2017 di Paroki Mangga Besar digelar dengan tema yang berbeda dari acara-acara yang pernah diadakan sebelumnya. Kali ini para Legioner berinisiatif utk menggabungkan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) dan peringatan Sumpah Pemuda dalam acara penutupan Bulan Rosario. Alhasil diselenggarakanlah Prosesi Doa Rosario Merah Putih dengan berpusat pada teladan Keluarga Kudus Nazareth.

Tema Keluarga Kudus Nazareth pun terkait erat dengan penampakan Maria Fatima yang peringatan 100 tahunnya juga berpuncak pada bulan Oktober ini. Di mana dalam penampakannya yang terakhir kepada 3 anak gembala, Bunda Maria juga mengikutsertakan St. Yosef dan kanak-kanak Yesus yang turut memberkati dunia.

Tema keluarga juga sangat dekat dengan HPS. Diharapkan keluarga-keluarga Kristiani juga selalu menyediakan pangan sehat untuk anak-anak dan generasi muda. Oleh sebab itu dengan maksud ini, makan tandu patung Keluarga Kudus yang dibawa dalam prosesi juga dihiasi dengan aneka buah dan sayur mayur.

Akhirnya kesatuan dalam Keluarga Kudus Nazareth diharapkan juga menjadi inspirasi bagi kesatuan bangsa Indonesia, sebagaimana yang diikrarkan pada Sumpah Pemuda 89 tahun yang lalu. Untuk mengungkapkan tekad ini, maka umat mempersembahkan bunga mawar merah dan putih untuk ikut menghiasi tandu Keluarga Kudus Nazareth.

St. Teresa dari Kalkuta pernah berkata “Apa yang dapat Anda lakukan untuk mempromosikan perdamaian bagi  dunia? Pulanglah dan cintailah keluarga Anda.” Perdamaian selalu dimulai dari keluarga. Maka semoga keluarga-keluarga Kristiani meneladani Keluarga Kudus Nazareth dalam hal kesatian, kesetiaan, keharmonisan, dan saling peduli agar menjadi berkat bagi kesatuan dan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menuju kemakmuran dan kesejahteraan yang semakin merata.
Terpujilah Keluarga Kudus.. Yesus, Maria, Yosef.. sekarang dan selama-lamanya.


Sdr. Junius Wijaya, OFS adalah seorang anggota Ordo Fransiskan Sekular yang juga menjadi Asisten Pemimpin Rohani Presidium Pohon Suka Cita dan Presidium Maria Tak Bernoda, paroki Santo Petrus Paulus Mangga Besar.