Legio Maria Sebagai Awal Diri yang Baru

Halo teman-teman terkasih, nama saya Nelson Jordan siswa SMA St.Kristoforus 1 dan kini memasuki kelas 12. Semakin bertambah usia, semakin tinggi wawasan, semakin banyak pula tantangan dan tanggung jawab yang didapat. Pada kesempatan ini, saya akan membagikan kepada teman-teman beberapa pengalaman yang saya alami dan semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman sekalian. Secara khusus, pengalaman sebelum dan selama bergabung dalam Legio Maria Presidium Cermin Kesabaran (Junior).

Awalnya Saya yang Belum Kenal Legio

Saya baru pindah ke Jakarta ketika awal memasuki masa SMA dan saya memang sudah dididik secara Katolik sehingga saya juga memasuki sekolah Katolik. Saya memang Katolik, namun apakah itu hanya akan menjadi identitas di KTP? Atau hanya menjalankan rutinitas setiap Minggu ke Gereja sebagai suatu kewajiban? Tidak jauh berbeda dengan robot yang diprogram untuk bekerja tanpa tahu apa yang dikerjakannya.

Saya sebenarnya adalah pribadi yang tertutup. Akan tetapi, karena saya memerlukan warna dalam iman saya, maka saya pun mulai mencari kegiatan yang ada di Gereja dan dapat sesuai dengan diri saya. Memang tidak mudah, karena tidak semua pilihan dapat cocok dengan apa yang diinginkan.

Legio? Serius Lo Mau Ikut Gituan?

Saya mulai bertanya kepada teman dan kerabat saya dan akhirnya saya mendapat tawaran untuk bergabung dalam Legio Maria. Saya pun mempertimbangkan dan menanyakan pada teman-temanku pendapat mereka tentang Legio Maria. Beginilah komentar mereka:

Serius lu ikut Legio ? emang ga ada yg lain ?”                                        Bosen cuman doa doang di sono”                                                                     “Nggak asik ah Legio. Masak ikut gituan”                                                             Nggak akan bertahan lama lu ikut itu”                                                               “Legio Maria? Aaan tuh…Nggak pernah denger”

Demikian pendapat mereka tentang Legio Maria. Pendapat mereka mendorong saya untuk semakin tertarik bergabung Legio Maria dan saya pun memutuskan untuk bergabung.

Legio adalah Soal Berjuang Mengalahkan Diri Sendiri

Beberapa bulan mengikuti Legio Maria, saya menyadari bahwa bukan menyenangkan atau membosankannya yang menjadi inti dari bagian ini. Akan tetapi seberapa banyak kita menantang dan menang melawan diri sendiri. Contohnya saja untuk menjalankan misa kudus setiap hari Senin pukul 05.30, saya harus bangun jam 4.00. Mungkin kebanyakan dari kita akan berkata, “Aku akan bangun 5 menit lagi”  hingga malah akhirnya bablas kesiangan. Ditambah dengan usiaku yang belum 17 tahun sehingga belum diizinkan membawa motor ke sekolah dan berangkat menggunakan bus kopaja dan berjalan kaki saat langit masih gelap. Itulah tantangan. Namun ketika saya (dan kita) berhasil melewatinya, timbul rasa bangga atas kemenangan mengalahkan kelemahan diri.

Berjuang Demi Siapa?

Lewat Legio jugalah saya dapat lebih dapat melayani umat dan mengambil bagian dalam pelayanan Gereja. Mendoakan orang lain walaupun saya tidak kenal dengan mereka, menjadi bentuk apresiasi dan dukungan terhadap mereka. Mengunjungi orang lain, berkenalan dengan teman baru, itulah hal kecil yang dapat membuat orang lain senang. (Meskipun tidak semua tugas dapat saya jalankan hehehe :v)

Beberapa dari kita yang membaca ini mungkin terlintas pendapat seperti “hangat-hangat kotoran ayam”, karena suatu saat mungkin ada waktunya bosan, jenuh, ataupun malas, dan itu adalah hal yang wajar dan kita semua bisa alami. Namun itulah tantangan, dan apa kita dapat mengalahkan diri kita?

“Berjuang jangan hanya untuk diri sendiri, namun lawanlah diri sendiri untuk berjuang demi melayani Tuhan dan orang lain”

Sekian pengalaman yang dapat saya bagikan kepada teman-teman, terima kasih bagi kalian yang membaca. Damai Sejahtera bagi kita semua, Tuhan Yesus memberkati. ^_^

Merawat Legio Maria: Kembali ke Nazareth

Oleh Octavian Elang Diawan


Mencermati keadaan Legio Maria saat ini, saya mengajak pembaca untuk memfokuskan perhatian pada dua kerangka fundamental, yaitu:

  • Spiritualitas, mendalami spiritualitas memurnikan motivasi mengapa kita ber-Legio Maria
  • Keorganisasian, memahami bagaimana merawat Legio Maria sebagai organisasi

Spiritualitas:

Kita mengerti bahwa Bunda Maria adalah bunda kandung Yesus.  Sehingga Maria-lah yang paling memahami Yesus; Maria sangat mengerti kebiasaan Yesus sejak  bayi;  Maria yang paling memahami makanan kesukaan Yesus; Maria yang paling memahami sukacita dan dukacita Yesus; Maria juga yang paling memahami sifat keilahian Yesus. Sungguh, Maria-lah yang paling banyak mengerti dan mengalami bagaimana mencintai Yesus. Orang lain – termasuk keduabelas murid Yesus – tak pernah memiliki kedalaman pengalaman dan pemahaman tentang diri Yesus seperti yang dirasakan Maria.

Mengikuti Maria (melalui Legio Maria)  berarti kita belajar dari Maria bagaimana seharusnya mencintai Yesus. Akhir dari peziarahan rohani Maria adalah ketotalan dalam mencintai Yesus, sehingga akhir dari peziarahan rohani kita mustinya juga ketotalan dalam mencintai Yesus. Ukuran mutu kita sebagai Legioner ditentukan seberapa sungguh kita mencintai Yesus.  Oleh sebab itu, hidup ber-Legio Maria harus membuat legioner mampu mencintai Yesus lebih dahsyat daripada bila kita tak menjadi legioner.

Awal Mula Jatuh Cinta

Legioner harus senantiasa menyisihkan waktu berdiam dalam kesehariannya, lalu berusaha mengumpulkan dan merenungkan kembali – pengalaman2 dikasihi Allah. Seorang gadis yang merasakan banyak pengalaman selalu dilindungi dan diperhatikan secara istimewa  oleh seorang pria cenderung jatuh cinta pada pria tersebut, demikian pula  sebaliknya. Rasa dicintai menghasilkan reaksi cinta juga. Cinta menjadi sesuatu yang spontan alamiah – bukan merupakan tindakan logis yang serba direncanakan. Nah, legioner yang sanggup menemukan dan merenungkan pengalaman dilindungi dan diperhatikan secara istimewa  oleh Allah, akan menunjukkan rasa cinta juga kepada Allah. Cinta kepada Allah menjadi sesuatu yang spontan alamiah – bukan merupakan tindakan logis dan serba direncanakan.

Bagaimana Allah mengasihi manusia?

Cara utama dan terutama bagaimana  Allah mengasihi manusia adalah Ia memberi  kehidupan kekal (keselamatan jiwa). Ini adalah anugerah termahal dalam kehidupa sepanjang jaman – nilai anugerah ini jauh melebihi mujizat kesembuhan dari sakit, lunasnya hutang, naik kelas/promosi, anak-anak yang manis, bonus ziarah ke tanah suci atau berjumpa paus, dll.

Semua pengalaman manusia yang memurnikan hati  dan mengarahkannya pada keselamatan jiwa merupakan pengalaman dikasihi Allah. Mengumpulkan pengalaman dikasihi Allah akan membuat manusia kembali mengasihi Allah secara bebas dan sukacita; Dan Maria mengajarkan kita menemukan pengalaman itu. Maria menemukan diri dikasihi Allah…. yaitu  dengan dipilih Allah menjadi ibu Allah sendiri – Waouw, sebuah pengalaman dikasihi Allah yang to the max!  Mari temukan pengalaman dikasihi Allah.

Merawat Presidium

Ada  presidium-presidium baru bermunculan, namun banyak pula presidium yang letih lesu. Memang tidak mudah mendapatkan anggota baru, terutama pada dewan-dewan yang berada di kota besar. Pengalaman membuktikan bahwa kegiatan ‘promosi Legio Maria’ hampir tak pernah membuahkan hasil berarti. Promosi yang  banyak terjadi  lebih mirip trick bisnis yang dilakukan perusahaan, yakni: menyebar flyer, memasang banner, presentasi kegiatan dengan power point, membuat kegiatan gembira untuk umat umum – lalu berharap ada orang baru yang masuk presidium.

Tetapi ternyata tidak mudah mendapat anggota kan?

Mari kembali ke Semangat Dasar Presidium, yakni merujuk kehidupan Keluarga Kudus Nasareth.

Semangat dasar presidium adalah semangat keluarga kudus Nasareth yang terdiri dari Yesus, Maria, dan Yusup. Keluarga Nasareth dibangun dengan dasar kasih pada Allah yang dibuktikan dengan cara hidup Maria dan Yusup yang mengasihi Yesus dan sebaliknya. Ketiganya adalah three in one in, ada tiga orang yang membentuk  satu kesatuan kasih.

Presidium semestinya memiliki semangat serupa entah itu sebutannya three in one atau ten in one – sesuai jumlah anggota presidiumnya. Tetapi harus dipastikan bahwa berapapun jumlah anggota mereka harus ada dalam satu kesatuan (ONE). Bila sebuah presidium mampu menjadi komunitas kasih seperti Keluarga Kudus Nazaret maka keberlangsungan hidupnya jauh lebih bisa diharapkan. Kita tahu banyak keluarga Katulik yang berhasil bertahan hingga puluhan tahun walau mereka mengalami percobaan hujan badai. Itu terjadi karena adanya bangunan kuat di dalamnya, yakni kasih antar anggota keluarga itu.

Jadi yang harus dijual oleh presidium adalah kekuatan kasih antar anggota, yakni kekuatan kebersamaan, kekuatan saling pengertian dan saling mengembangkan. Keadaan ini akan membuat setiap anggota ‘krasan’  dan merasakan presidium seperti halnya  saudara-saudara yang sedang berkumpul di saat lebaran. Ia akan rindu bertemu kawan-kawannya. Hal serupa juga harus menjadi nilai pertama ketika menjual presidium ke orang non legioner. Kita akan kesulitan mengajak orang lain masuk presidium dengan iming-iming klasik seperti  ‘Di Legio imanmu bertumbuh,’ atau ‘Di Legio kau akan menjadi pribadi disiplin dan teratur’ atau “Di Legio pengenalanmu pada Maria akan meningkat’. Nilai-nilai ini secara normatif memang benar dan teramat baik, tapi tak cukup strategis untuk menarik orang apalagi bagi generasi milenial. Ini sama seperti saya  mengajak tetangga berlari pagi. Tetangga pada setuju 100% bahwa lari pagi itu menyehatkan, tapi orang-orang itu sejujurnya lebih suka bangun siang. Walhasil, saya lari pagi sendirian sampai hari ini.

Maka, marilah kita murnikan niat kita dalam ber-Legio sebagai ruang yang sangat baik untuk mencintai Yesus serta mau bertindak bijaksana untuk lebih mengahyati semangat kasih Keluarga Kudus Nazareth sebagai bangunan dasar dalam merawat presidium.


Sdr. Octavian Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani – Indonesia Bagian Barat sejak Juni 2016.

Legio Maria: Keluargaku, Sahabatku

Syalom! Nama saya Angelina Patricia, biasa dipanggil Angell. Saya berasal dari Jakarta. Pada kesempatan ini saya dan teman saya, Dea akan membagikan pengalaman berkesan kami di Legio Maria.

Berawal dari Ragu-Ragu dan Menolak

Saya masuk menjadi anggota Legio Maria sekitar 3 tahun lalu. Awalnya saya mengetahui Legio dari sebuah seminar mengenai Legio Maria yang ada di sekolah. Setelah seminar selesai, para pembicara membagikan brosur untuk para murid dan memberitahukan bahwa kami yang berminat dapat langsung mendaftarkan diri atau dapat menghubungi contact person pada brosur tersebut. Saat itu saya ingin sekali mendaftar, tetapi seketika saya menjadi ragu-ragu. Saya sudah kelas IX dan pekan-pekan saya penuh dengan ujian sekolah. Apalagi saya juga berasal dari paroki yang berbeda. Jadi, saya memutuskan untuk tidak mengikuti Legio Maria.

Ternyata Bunda Maria Memanggil Lewat Ajakan Adik Kelas

Ternyata, dua minggu kemudian, salah satu adik kelas mengajak saya untuk mengikuti Legio Maria. Saat itu saya bertanya kepadanya, apakah boleh saya mengikuti kegiatan gereja yang bukan berasal dari paroki sendiri? Dia pun menaikkan bahunya dan mengatakan bahwa dia tidak tahu apakah diperbolehkan atau tidak. Akan tetapi, dia terus mengajak saya untuk mengikuti Legio Maria dan akhirnya saya pun menerima ajakannya untuk mengikuti Legio Maria.

Awalnya Kukira Legio Membosankan dan Orangnya Sombong-Sombong…

Saat pertama kali mengikuti rapat Legio, saya mengira kegiatan yang dilakukan akan membosankan karena hanya sekedar berdoa, berdoa, dan berdoa. Aku juga menyangka orang-orangnya sombong-sombong. Wah, ternyata pemikiran saya salah.

Akhirnya Aku Betah di Legio: Asik, Banyak Kegiatan Seru dan Bermanfaat

Aku tidak menyangka kalua di Legio tidak hanya berdoa tetapi juga ada kegiatan-kegiatan lainnya, seperti kunjungan dan menjalankan tugas sebagai petugas di gereja. Selain itu orang-orangnya juga ramah dan asik sehingga suasana rapat Legio menjadi ramai dan seru. Sedikit demi sedikit saya mulai mengerti hal-hal mengenai Legio dan juga Bunda Maria. Saya sangat senang karena dapat mengetahui Legio dan dapat menjadi anggota Legio sampai sekarang ini.

(Angelina Patricia)

Ave Maria! Saya Dea Faustine dari Jakarta. Saya dan Lina ingin bercerita tentang pengalaman kami selama tergabung dalam Legio Maria. Bagi kami, Legio bukan hanya sekadar komunitas, namun keluarga, keluarga dekat. Oh ya, saya juga terbiasa menjadi adik bagi semua orang, karena sering dipanggil “De” sebagai nama panggilan hahaha.

Ingin Bergabung Tetapi Ada Saja Halangannya

Awal bergabung dengan Legio, karena ajakan seorang anggota Legio. Sebenarnya sudah lama De ingin bergabung dengan Legio, namun ada saja halangan. Hingga pada saat Bulan Maria, Paroki St. Kristoforus mengadakan ziarah ke 9 gua Maria. Di sana, De diajak untuk bergabung ke Legio. Dan terjadilah 1 tahun yang berkesan. De menemukan keluarga baru di sini.

Awalnya Canggung, Eh, Ternyata Nggak Ada Jarak Antar Kita di Legio…^^

Yah, pas pertama masuk masih agak canggung. Masih bingung mau ngapain dan nggak kenal siapapun hahaha. Akan tetapi semakin lama, rasanya semakin dekat sama setiap anggota presidium. Nggak ada istilahnya “batas” antara perwira ataupun anggota. Kami semua sama sebagai satu keluarga besar prajurit Maria.

Belajar Keanekaragaman Budaya dan Bersaudara sebagai Keluarga Legio

Banyak kegiatan yang membuat kami semakin akrab, salah satunya kunjungan ke museum. Terdengar seperti field trip sekolah sih, namun kunjungan ini ternyata membawa kami semakin dekat dengan keanekaragaman budaya Indonesia. Plusnya, kami juga menghabiskan waktu bersama yang membuat kami semakin akrab. Masih banyak lagi hal yang kami lakukan bersama, dan itu semakin merekatkan tali persaudaraan kami sebagai satu keluarga.

(Dea Faustine)

Persahabatan di Antara Kami

Well, about Lina dan Dea, kami bersahabat. Kami bertemu di Legio Maria Presidium Cermin Kesabaran. Awalnya, memang kami nggak saling kenal. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kami menjadi lebih akrab. Entah siapa dulu yang memulai obrolan, yang jelas sekarang kami sudah jauh lebih dekat satu sama lain. Rapat mingguan presidium membuat kami sering bertemu dan menjadi bersahabat bahkan bersaudara seperti sekarang. Persahabatan kami tercipta melalui Legio Maria.

Terima kasih Legio Maria! Yuk teman-teman, jangan ragu lagi bergabung bersama dengan kami. Dijamin asik dan seru!!!