Pengetahuan dan Kesadaran Tindakan

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 29 dan 31, Bab 6, Subbab 2: ‘Meniru kerendahan hati Maria adalah akar maupun instrumen kegiatan Legioner.”

Pengetahuan dan Kesadaran Tindakan

Tanggung jawab kesaksian Legio Maria terletak di atas pundak masing-masing pribadi legioner. Kita masing-masing dipanggil untuk bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup Legio Maria. Tanggungjawab ini harus diwujudnyatakan dalam tindakan yang bersungguh-sungguh sebagai buah dari pengetahuan. Pengetahuan yang tidak diikuti tindakan bukanlah sikap iman yang bermutu.

Dalam ‘tindakan’ ini juga terkandung nilai pengorbanan. Mengikuti retret, rekoleksi, pendalaman iman, mengerti arti sakramen-sakramen adalah hal baik, namun hal itu belumlah cukup bila tidak diikuti dengan tindakan-tindakan konkret sebagai kesaksian iman Katolik.

Pada peristiwa perkawinan di Kana, Bunda Maria tahu bahwa keluarga pengantin tiba-tiba mengalami kesulitan karena kehabisan persediaan anggur, namun Bunda Maria tidak diam, ia mengambil tindakan dengan berbicara kepada Yesus. Tindakan Bunda Maria ini membuahkan mukjizat pertama Yesus.

Santo Petrus juga merupakan teladan sebagai orang yang selalu bertindak. Ia tak hanya puas dengan tahu siapa Yesus yang menderita, wafat, dan bangkit kembali, namun ia bertindak dengan antusias mewartakan kabar keselamatan itu. Sikap penuh tindakannya membuat Ia dipercaya sebagai paus pertama – bahkan membawa kita juga mengenal Yesus sebagai juru selamat.

Ada kata bijak dari Mgr. Ignatius Suharyo: “Dunia bukanlah masalah; yang menjadi masalah adalah ketidaksadaran Anda”. Ketidaksadaran adalah sikap masa bodoh yang berbahaya.

Marilah kita sebagai duta Kerahiman Allah tidak hanya puas dengan tahu, namun juga mengembangkan kesadaran bertindak sungguh-sungguh untuk bersaksi atas iman keselamatan kita.

Oleh : Frater Robertus Guntur

Surat Konsilium April 2016

Kepada Saudara Octavian
Sekretaris Senatus Jakarta

Legio Maria, 23 Maret 2016

Yang terkasih Saudara Octavian,

Atas nama Konsilium Legionis, saya mengucapkan Selamat Sukacita Paskah kepada Ketua, Pemimpin Rohani, Para Perwira, dan seluruh anggota Senatus Jakarta. Saya berterimakasih atas ketaatan dan dedikasi untuk pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan para kudus-Nya melalui keanggotaan Legio Maria.

Masa Pra Paskah telah menjadi bagian dari persiapan Pekan Suci dan hari-hari yang istimewa di mana kita mengenang perjamuan terakhir dengan penetapan Ekaristi, dan penderitaan, kematian serta kebangkitan yang mulia dari Juru Selamat kita Yesus Kristus.

Selama masa Pra Paskah, Kuria saya, melakukan retret sehari. Ini adalah kesempatan untuk menerapkan saran dari Pemimpin Rohani, berdoa, berkontemplasi dalam renungan, pemeriksaan batin, Sakramen Rekonsiliasi diikuti dengan Misa dan Komuni Suci. Saya harap para Legioner di mana pun mereka berada melakukan retret sekali dalam setahun.

Dalam surat saya yang terakhir, saya menyampaikan tentang pentahtaan hati Yesus Yang Maha Kudus di rumah-rumah (lihat Buku Pegangan bab 37.3 dan bab 40.2). Itu sangat berguna dan menjadi berkat dan meningkatkan kerohanian untuk para orang dewasa dan anak-anaknya. Dan saya yakin ini harus dipromosikan (ini pernah dilakukan di rumahku di mana saya tumbuh dulu dan masih ada di rumahku sekarang).

Perwira yang telah selesai masa jabatannya selama 3 tahun haruslah dilangsungkan pemilihan segera. Para perwira presidium yang ditunjuk haruslah sesuai Buku Pegangan bab 14. Para perwira dewan haruslah ditunjuk dengan mengikuti pemilihan sesuai dengan Buku Pegangan bab 28.

Rencana Pembentukan Regia untuk Kalimantan. Mohon saya diberitahu perkembangannya.

Notulensi dan Statistik. Saya menantikan untuk menerima notulensi dari Senatus dan juga statistik yang telah saya minta pada surat saya yang terakhir.

Rapat Konsilium tanggal 20 Maret 2016. Ada beberapa laporan yang menarik. Doa-doa dipimpin oleh Romo Bede McGregor OP. Jumlah hadirin sangat banyak sekali, termasuk 14 legioner dari Jerman dan 2 legioner Afrika yang datang dari Antwerpen, Belgia di mana mereka akan mengunjungi Perancis, dan mereka menceritakan negara-negara Afrika dan menjadi koresponden untuk negara-negara itu atas nama Konsilium. Semuanya disambut hangat oleh Saudari Sile, Ketua Konsilium.

Saya menutup surat ini, semoga Anda semua diberkati oleh Allah Yang Maha Kuasa dengan berkat-Nya yang melimpah selama Pekan Suci dan Sukacita istimewa untuk Minggu Paskah seraya kita merayakan kebangkitan Tuhan Yesus.

Hari Minggu setelah Minggu Paskah adalah – seperti kita ketahui bersama – didedikasikan untuk Kerahiman Ilahi. Banyak orang berdoa novena Kerahiman Ilahi sejak Jumat Agung. Dunia kita yang penuh masalah ini membutuhkan Kerahiman Ilahi dan pertolongan-Nya setiap waktu.
`
Berkat Tuhan,
Catherine Donohoe

Surat Konsilium Februari 2016

Kepada Saudara Octavian
Sekretaris Senatus Jakarta

Legio Maria
Februari 2016

Yang terkasih Saudara Octavian,

Atas nama Konsilium saya sampaikan salam bagi Ketua, Pemimpin Rohani serta seluruh perwira dan anggota Senatus Jakarta. Terima kasih atas notulen yg disampaikan (sampai dengan Oktober 2015) dan saya akan sangat senang menerima notulen-notulen yg berikutnya.

Saya yakin dengan anggota yang setia dan tugas-tugas yg telah dilaksanakan akan menyenangkan hati Bunda Maria dan Allah Bapa. Kunjungan presidium adalah salah satu tugas kunjungan yang dilakukan pada notulen Oktober. Kunjungan presidium sangatlah penting dan harus dilakukan sedikitnya satu kali atau jika memungkinkan 2 kali setahun untuk memberikan semangat dan memastikan bahwa presidium sudah sesuai dengan sistem. Kunjungan dilakukan oleh 2 orang, perwakilan dari kuria – lihat Buku Pegangan bab 28 butir 11. (Semua perwira dewan tentunya cukup mengenal bab 28 – Pimpinan Legio dan butir 11 harus dibaca oleh pengunjung sebelum mengunjungi presidium.)

Tugas Legio meminta setiap anggota pelaksanaan suatu tugas aktif mingguan yang bernilai seperti yang disampaikan dalam buku pegangan, “semangat kerasulan awam yang paling baik dikembangkan dengan merasul” lihat bagian I bab 12, lalu Instruksi Yang Tetap bab 18 butir 7, bab 37 dan bab 39 butir 6. Kegagalan melakukannya akan mengakibatkan penurunan semangat dan kehilangan anggota. Sekarang kita berada dalam permulaan tahun yang baru, mungkin suatu permenungan yang khusus perlu diberikan pada bab-bab tersebut dan lihat bagaimana suatu perkembangan baik dapat terjadi sehubungan dengan tugas-tugas.

Mengenai Perkembangan Regia Kalimantan saya akan senang sekali jika dapat mengetahui perkembangan situasinya.

Saya menghadiri Rapat Konsilium pada Minggu 17 Januari 2016. Banyak yang hadir, termasuk Pastor John Peyton dari Birmingham, Englan; beliau mantan anggota legio. Ada juga para tamu dari Zimbabwe, Vietnam, Skotlandia dan beberapa propinsi di Irlandia. Semua tamu diterima dengan baik oleh Sdri Sile Ni Chochlain, Ketua Konsilium.
Seperti biasa, ada laporan menarik dari belahan dunia, misalnya, laporan dari dewan di Afrika yg melakukan 700.000 kontak dan (dari 700.000 orang tersebut), 8500 orang mulai mengikuti katekumen. Beberapa laporan menyebutkan soal pelaksanaan Projek Exploratio Dominicalis. Laporan dari El Salvador menyebutkan tentang pelaksanaan doa rosario di tempat umum dan kontak pada pekerja seks komersial. Pastor John Peytin menyarankan untuk melakukan sembah bakti pada Hati Yesus yang Maha Kudus dalam tiap-tiap keluarga. Dalam pengalamannya hal ini membuat pasangan-pasangan yg belum menikah (namun sudah tinggal serumah) mau untuk dinikahkan.

Propinsi di Irlandia mengunjungi 7 keluarga Protestan dan menerima seorang ibu masuk dalam Gereja Katolik. Beberapa dari laporan mereka sebagai berikut : melakukan persiapan anak-anak untuk menerima Komuni Pertama, membawa patung Bunda Maria ke sekolah dalam bulan Mei, peminjaman buku-buku Katolik dan buklet Legio di pasar-pasar – ini memberikan kesempatan untuk bertemu dan berbicara mengenai iman Katolik dan mencari anggota baru.

Peringatan 300 tahun St Louis Marie de Montfort akan dilaksanakan 28 April 2016.

Alokusio P. Bede tentang medali wasiat. Beliau mengingatkan kita untuk menyebarluaskannya dan mendoakan Doa Memorare kepada Bunda Allah dan Bunda umat manusia. Dia di surga dan setiap rahmat yang kita mohonkan dapat ia berikan kepada kita. Kematian Yesus di salib, penebusan kita adalah sumber segala rahmat.
Saya harap setiap anggota legio mengenakan medali wasiat yang telah diberkati Imam. Dua hati dalam medali menunjukkan cinta Allah dan Bunda Maria kepada kita. Kerahiman adalah nama lain dari Cinta dan tahun ini adalah Tahun Kerahiman Allah. Banyak mukjizat terjadi sehubungan dengan medali wasiat.

Proyek bagi orang Muda
Di Irlandia beberapa kegiatan dilakukan bagi orang muda:
1. Konferensi orang muda 1 hari di Athlone
2. Konferensi orang muda di Universitas Queen di Belfast
3. 3-4 hari pertemuan orang muda di Sligo

Audit
Diharapkan setiap dewan dan presidium melakukan audit tahunan dan melaporkannya pada dewan yg lebih tinggi.

Saya pernah meminta statistik data senatus, saya akan senang sekali menerimanya segera.

Saya ingin tahu apakah Anda menerima buletin Konsilium tiap bulannya? Saya juga akan senang menerima Buletin Senatus.

Demikian surat dari saya. Berkat dari Allah dan perlindungan dari Bunda Maria Ratu Surga dan Bumi bagi Anda semua.

Catherine Donohue
Koresponden Konsilium

Gereja memiliki dua bentuk ‘penyembahan pada Allah’

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 262, Subbab 6: ‘Bekerja bagi orang yang paling malang dan terlantar.”

Gereja memiliki dua bentuk ‘penyembahan pada Allah’

a. Liturgi Resmi Gereja Katolik
Liturgi resmi meliputi sakramen-sakramen. Liturgi resmi sifatnya baku dan tak bisa diubah. Nilai sakramen-sakramen sifatnya sangat mendasar dan tak tergantikan. Perumpamaan dalam hidup sehari-hari: Liturgi resmi adalah makanan wajib harian kita (makan pagi, makan siang, dan makan malam dengan bahan makanan pokok nasi, sayur, lauk pauk). Makanan wajib ini mutlak harus ada untuk menjamin kelangsungan hidup badan kita.

b. Devosi-devosi.
Dalam hidup sehari-hari devosi diumpamakan sebagai makanan tambahan (snack). Snack bukanlah makanan wajib. Snack boleh ada dan boleh tidak ada. Ketiadaan snack tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidup badan kita. Snack sifatnya memberi variasi cita rasa. Tidak pernah ada berita orang meninggal karena tidak makan snack, namun kematian karena kelaparan bisa terjadi bila seseorang tidak makan makanan baku (makan nasi dan kelengkapannya). Devosi-devosi memiliki peluang berkembangnya perasaan berlebihan (terhadap Bunda Maria).

Perasaan yang berlebihan mengandung bahaya karena perasaan bisa menipu. Dalam prakteknya orang-orang yang terseret dalam perasaan berlebihan akan menganggap hal-hal (yang nampaknya) mistik sebagai tanda keimanan. Orang-orang demikian senang sekali menyebarkan berita-berita penampakan (Maria) yang banyak beredar, atau kesaksian-kesaksian gaib/mimpi yang sulit dipertanggungjawabkan. Kita harus mengendalikan dorongan perasaan berlebihan dengan akal sehat.

Suatu kali Santo Filipus Neri mendapatkan penampakan Bunda Maria. Namun Filipus bukannya hanyut dalam kekaguman pesona penampakan itu. Filipus justru meludahi penampakan itu. Tiba-tiba saja panampakan itu mendadak berubah menjadi wajah aslinya – Si Iblis Jahat.

Devosi yang benar harus membawa kita pada mutu pelayanan yang bertumbuh, yakni pelayanan kepada mereka yang terpinggirkan. Tahun ini ditetapkan oleh Gereja sebagai tahun Kerahiman, Legio Maria sebagai pembawa wajah Gereja harus mampu menampilkan kerahiman Allah kepada setiap orang. Dalam menghadirkan kerahiman ini, kita harus melakukannya karena dorongan ilahi dalam hati, bukan karena ditugaskan oleh presidium. Tindakan karena sebatas ditugaskan adalah tindakan yang kering dan tidak membawa pada pengenalan pada Allah. Marilah berdevosi secara tepat dengan dasar iman Katolik yang tepat.

Oleh : RD Petrus Tunjung Kusuma

Gereja adalah persekutuan umat beriman

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 70, Subbab 6: ‘Buah-hasilnya adalah Idealisme dan Tindakan yang Penuh Semangat.”

Gereja adalah persekutuan umat beriman

Sebagai pesekutuan, maka gerak langkah setiap bagian dalam pesekutuan ini harus senada dengan gerak langkah Gereja. Apa yang menjadi sukacita dan penderitaan Gereja seyogyanya menjadi sukacita dan penderitaan kita semua – termasuk Legio Maria. Misalnya: Bila Gereja gigih memperjuangkan perhatian pada lingkungan hidup, maka hendaknya Legio Maria juga mengambil peran memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup. Den gan demikian Legio Maria harus mampu mengemban tugasnya sebagai pembawa ‘wajah Gereja’ .

Home vs House

Home adalah kata bahasa Inggris yang berarti rumah, dalam arti suasana kebersamaan, ikatan kasih,dan semangat saling mendukung. Home menunjukkan aspek-aspek kejiwaan dan kerohanian dari para penghuninya. Sedangkaun House adalah kata bahasa Inggris yang berarti rumah dalam arti ‘benda yang kelihatan dan sifatnya mati’. House merujuk pada tembok, atap, pintu, jendela, toilet, pagar, dan lain-lain. Legio Maria sebagai komunitas umat beriman selayaknya mampu menjadikan presidium/kuria/komisium/regia/senatus menjadi sebuah HOME alih-alih menjadi sebuah HOUSE. Dengan demikian Legio Maria menjadi rumah kita yang mampu memberikan kekuatan, ikatan kasih, dan daya dukung bagi kita dalam menghadapi kehidupan. Dari Legio kita menimba inspirasi hidup dan menjadikannya sumber pertumbuhan iman. Mengelola Legio Maria sebagai house tidak akan membuat para penghuni bertumbuh. Jadi mari kita upayakan agar Legio Maria adalah HOME bagi para anggotanya.

Oleh : Frater Robertus Guntur

Seks & Orang Muda Katolik : Yuk Diskusi!

SEKS & ORANG MUDA KATOLIK: YUK DISKUSI!

Bicara soal seks bukanlah hal yang tabu lagi. Bukan karena ikut arus dalam dunia modern melainkan agar orang muda sadar, paham, dan mampu memilih dengan tepat. Berikut sebuah cuplikan pengalaman nyata. Apakah semudah itu hanya mengatakan ini benar dan itu salah?

***

  1. Sore itu, saya menerima sebuah pesan singkat dari seorang teman. “La, aku mau tanya. Aku punya adik sepupu… Itu merasa tidak pede gara-gara diejek belum sex. Anak tunggal. Ngomonginnya gimana ya? Tapi jangan ngomongin rohani-rohani ya, dia belum kenal Yesus…

Mari kita merefleksikan sejenak. Apa jawaban kita?

Apa opini kita tentang seks? Dari mana kita tahu tentang seks dan seputarnya? Apakah hal tersebut masih tabu dibicarakan dengan orang tua dan pembimbing kita di komunitas? J

Di satu sisi, sebagai kontras mari kita merefleksikan sebuah kisah lain yang mungkin sebagian besar dari kita sudah pernah membacanya.

  1. Bacaan dari Injil Yohanes 8:1-11.

“…tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

 

Tentu kita memiliki macam-macam perasaan, pikiran, dan reaksi terhadap bacaan Injil di atas. Banyak tokoh di sana. Ada (1) ORANG-ORANG Farisi dan (2) AHLI-AHLI Taurat, ada (3) Tuhan Yesus, ada (4) rakyat, dan ada (5) perempuan yang kedapatan berzinah. Pernahkah kita juga mendengar respon-respon seperti ini dan sejenisnya dalam kaitannya dengan nasihat terhadap orang muda dan seks?

 

  1. “Itu kan tidak baik (dosa). Kalau anak Tuhan tidak boleh berbuat begitu” atau “Nanti siapa yang mau bertanggung jawab?” atau “Ah, itu urusan mereka.”

 

Ada 1001 reaksi. Mulai dari nasihat bijak, gosip, cuek, sampai teguran keras dan tudingan. Lalu, apa yang dapat kita lakukan?

 

Dalam sebuah buku kecil, Spiritual Works of Mercy (Grogan, 2015, p.30) memberikan sebuah nasihat tentang teguran dalam kaca mata iman Katolik, “First of all with a motive of love; and secondly, with an acute awareness of our own sinfulness, which includes gratitude to the Lord for rescuing us and restoring us to Himself out of sheer mercy. And thirdly, praying first for the gift of counsel for ourselves!” Secara bebas, dapat diterjemahkan bahwa untuk membimbing seseorang, pertama-tama adalah dengan motivasi cinta kasih. Kedua, dengan kesadaran akan dosa kita sendiri, termasuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita dan memulihkan kita karena rahmat-Nya. Ketiga, terlebih dahulu berdoa untuk karunia Roh Nasihat untuk diri kita sendiri!” Tentu, itu semua berbeda dengan pandangan menghakimi atau sebaliknya apatis.

 

Dalam kisah nyata di atas, ada tips 3P untuk menjadi seorang sahabat dalam konteks pertobatan, yaitu:

  • Pray (doa)
  • Patience (kesabaran)
  • Persistence (kegigihan)

Contoh santa yang setia melakukan ini adalah Santa Monika yang berpuluh tahun mendoakan anak dan suaminya yang terjerumus dalam dosa berat. Akhirnya, anaknya menjadi seorang santo (Santo Agustinus) dan suaminya pun demikian (Santo Patrisius).

 

Jika demikian, bagaimana kita dapat berdiskusi mengenai seks dalam kehidupan orang muda? Berbicara mengenai seks dan seks bebas adalah dua hal yang berbeda. Seks adalah indah, mulia, dan suci. Bagaimana dengan seks bebas?

 

Pertama, pertanyaan yang fundamental. Apa yang dicari seseorang dari seks bebas? Kesenangan? Kepuasan? Jati diri? Kemerdekaan dan kebebasan?

Jika ya, kita dapat berfleksi mengenai hal yang terjadi dalam perjalanan hidup kita. Apa pengalaman kita tentang mengasihi dan dikasihi?

 

Kedua, seks bebas akan berakhir pada kehampaan. Jika kemerdekaan adalah hal yang dicari, maka dalam satu, dua, tiga atau beberapa kali hubungan mungkin ya. Selanjutnya, apa yang didapat?

 

Ketiga, tekanan dari lingkungan. Pada akhirnya, mengapa seseorang bergaul dengan lingkungannya? Mungkin karena di tempat lain, ia tidak diterima. Ia merasa ‘berbeda’ dan bahkan dianggap ‘salah, buruk, dan berdosa’. Jika kita merenungkan sikap Yesus, terhadap perempuan yang kedapatan berzinah, apakah Yesus menceramahi perempuan itu setelah “semuanya pergi”? Yesus tidak mengungkit-ungkit masa lalunya, Yesus tidak menasihati panjang lebar, Yesus tidak menuding. Yesus menegurnya dengan lembut. Yesus mengasihinya.

 

Keempat, hati nurani. Seseorang dapat merasakan bahwa ia dikasihi. Dalam lubuk hatinya, biasanya sebagian besar orang sudah mengetahui hal baik dan buruk. Apa yang mereka butuhkan? Lagi-lagi, cinta kasih dan kelembutan. Kelembutan DAN kerendahan hati. Itulah kekuatan kasih seorang ibu. Mengapa Bunda Maria begitu dicintai? Apakah kita bisa memancarkan hal itu?

***

Jadi, apakah hubungannya semua diskusi di atas dengan seks dan orang muda Katolik? Kesimpulannya singkat. Seks adalah indah dan suci. Orang muda Katolik melihat seks bukan hanya soal benar dan salah. Akan tetapi, tentang kebahagiaan dan tujuan hidup. Seks bebas tidak berujung. Justru, dengan saya berani memilih, saya bebas. Bebas mengikuti kebahagiaan sejati yang memang berhak saya dapatkan. Bebas menjadi seseorang yang berhak memiliki masa depan yang indah. Dalam kaca mata iman, saya memilih untuk mengikuti kebahagiaan dari Kristus. Mari kita saling mengasihi dan menguatkan dalam Kristus. Ave Maria. (MSCP).

 

DAFTAR PUSTAKA

Grogan, P. (2015) Spiritual Works of Mercy. Aberdeen: Catholic Truth Society Publishers

Confidence (Percaya Diri) – Article Web

“Aduh, aku nggak pede nih,” Ani, sebut saja demikian, mengeluarkan isi hatinya kepada Asri, teman dekatnya. “Kenapa Ani? Kamu itu kan baik dan ramah.  Kenapa nggak pede?” demikian percakapan itu berlanjut.

Terasa akrab di telinga kita?

Apakah kita pernah mengalami hal itu?

Ternyata, kita tidak sendirian. Menurut Thantaway dalam Hariyanto (2010), “Percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, karena itu sering menutup diri”. Singkatnya, seseorang yang percaya diri memiliki keyakinan untuk melakukan suatu tindakan. Sebaliknya, seseorang yang kurang percaya diri cenderung menutup diri terhadap hal-hal baru.

Apakah orang yang percaya diri berarti lebih baik dan orang yang kurang percaya diri berarti buruk? Belum tentu. Mengapa? Mari kita merefleksikannya dari para santo santa, sehubungan dengan iman kita.

Mari kita bercermin dari para santo santa. Salah satunya adalah Santo Paulus. Apakah Santo Paulus selalu percaya diri? Apakah ia pernah juga merasa minder atau rendah diri (ini berbeda dengan rendah hati loh)? Ya, kedua dinamika itu ada dalam diri Santo Paulus.

Santo Paulus pernah mengatakan, “Karena aku adalah yang terakhir dari para rasul dan tidak cukup tepat dipanggil rasul karena aku pernah menganiaya Gereja Allah” (1 Kor 15,9). Rasanya jika kita bayangkan saat Santo Paulus mengatakan hal tersebut, ada rasa galau dalam dirinya. Ia merasa tidak cukup tepat dipanggil rasul karena pernah menganiaya murid-murid Kristus. Bahkan Kristus sendiri dalam perjalanan Saulus (saat itu namanya masih disebut Saulus) berkata, “Saulus, Saulus, mengapa kamu menganiaya Aku”. Tentunya, kita bisa memahami perasaan dan pergumulan Santo Paulus.

Kita pun mungkin pernah mengalami perasaan seperti itu. Perasaan tidak layak atas diri kita, mungkin atas apa yang terjadi di masa lalu. Hal itu wajar. Bahkan, Santo Paulus pun pernah mengalami hal itu. Santo Petrus pun pernah menyangkal Yesus. Sederhananya, para orang kudus pun pernah mengalami rasa tidak percaya diri. Jadi, bagi kita yang pernah mengalami hal itu, kita tidak sendirian.

Akan tetapi, apa yang membedakan mereka? Mengapa mereka akhirnya diakui Gereja sebagai santo dan santa, para orang kudus? Bukan karena tidak pernah ada kesalahan setitik pun dalam kehidupan mereka. Faktanya, hanya Bunda Maria satu-satunya manusia yang dikandung tanpa dosa asal. Yesus Kristus juga sebagai Allah seutuhnya dan manusia seutuhnya, tanpa dosa. Jadi, kita tidak sendirian. Hal itu normal.

Perbedaannya adalah apa yang menjadi dasar dari kepercayaan diri mereka. Jawabannya pasti: Yesus Kristus. Menyadari kelemahan adalah baik tetapi berlarut dalam keputusasaan dan keyakinan bahwa kita tidak mampu adalah hal lain. Apalagi, si jahat, bapa dari segala kepalsuan dan kebohongan, menyerang iman kita dengan menggunakan kelemahan kita. Iblis mengetahui titik lemah kita, termasuk rasa kurang percaya diri kita, atau rasa percaya diri yang berlebih, dan dengan licik dapat menggunakan itu untuk membuat kita terjatuh. Entah dalam kesombongan atau dengan membuat kita rendah diri (minder) dan akhirnya stagnan, tidak maju karena tidak berani membuka hati terhadap rencana Tuhan yang tidak terduga. Si jahat menginginkan kesedihan berlarut dan kemunduran tetapi Tuhan menginginkan kebahagiaan sejati dan pertumbuhan.

Percaya diri adalah dinamika dalam hidup. Tidak ada manusia sempurna yang sepanjang hidupnya selalu berada dalam kondisi percaya diri. Pengalaman santo-santa pun demikian. Demikian sebaliknya, saat kita dalam kondisi tidak percaya diri, hal itu hanyalah keadaan sementara JIKA kita mau mengubahnya. Sulit? Ya. Jika mengandalkan kemampuan diri sendiri. Mudah? Tidak. Akan tetapi, mungkin dengan mengubah pola pikir kita dan mengandalkan Tuhan, semuanya mungkin.

Sebagai orang beriman, saat kita TERLALU percaya diri atau malah TIDAK percaya diri dan merasa kita lemah, kita bisa selalu berulang kali mengingat bahkan mungkin menulis besar-besar dan menempelnya di dinding kamar kita pesan Yesus Kristus dalam INJIL dan nasihat para santo santa. Beberapa di antaranya:

Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Lukas 12:6-7)

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda tetapi jadilah teladan bagi orang-orang percaya…” (I Timotius 4: 12)

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Mazmur 8:3-5)

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing” (Roma 12:3)

Santo Yohanes dari Salib mengatakan, “Segala sesuatu yang ada padamu berasal dari Tuhan, sehingga engkau tidak perlu menjadi sombong karenanya, dan tidak perlu juga kehilangan percaya diri.” Kata-kata ini dapat menjadi rangkuman dari permenungan kita tentang percaya diri.

Jadi, tetap semangat dan bergembira dalam TUhan Yesus Kristus. Jangan lupa untuk tetap selalu meminta pertolongan pada Bunda Maria, ibu kita tercinta, yang pastinya memahami perasaan dan kondisi kita anak-anaknya. Salam suka cita dan damai dalam Yesus Kristus untuk kita semua. (MSCP)
DAFTAR PUSTAKA

Haryanto (2010) Pengertian Kepercayaan Diri, June 25. Available at: http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepercayaan-diri/ (Accessed: 08 March 2016)

TEMU KAUM MUDA LEGIO MARIA 2016

Pada tanggal 08 – 10 Januari 2016 dilaksanakan Temu Kaum Muda Leadership Training. Acara training dilaksankan di Santa Monica Resort Cikretek Sukabumi – Jawa Barat. Acara ini merupakan bentuk tanggungjawab Legio Maria untuk mempersiapkan kader-kader pemimpin Gereja dan masyarakat masa depan. Jumlah peserta (dalam konteks hadir dan turut sebagai trainee) semua berjumlah 83 orang.
Sebagian besar anggota panitia yang terdiri dari legioner muda – terutama dari Kuria Cermin Kekudusan, Kampus KAJ – juga diperlakukan sebagai peserta (trainee) di mana mereka bukan hanya menjadi penyelenggara namun juga turut terlibat aktif dalam pembelajaran kecakapan kepemimpinan ini.

Namun demikian dari Sumatera tak mengirimkan peserta sama sekali; Sedangkan dari Kalimantan hanya mengirimkan 3 peserta, yakni dari Kuria Bunda Pemersatu – Sampit. Kendala utama keadaan ini adalah karena waktu kegiatan yang bersamaan dengan mulainya pelajaran sekolah/kuliah. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera legioner juga masih berjuang dengan sisa-sisa bencana asap kebakaran hutan. Hal ini menjadi alasan mengapa target mencapai 100 orang tidak terpenuhi.

Dinamika Training

Tujuan khusus training ini adalah memberikan kesadaran panggilan kepemimpinan Katolik pada peserta, sekaligus menunjukkan kekuatan karakter kepemimpinan para peserta secara individu. Untuk mencapai tujuan ini maka training menggunakan metoda asessment dan observasi perilaku secara mendetail kepada peserta. Observasi dan asessment dilakukan selama tiga hari training dan dikerjakan setiap saat secara intensif.
Sifat kegiatan ini adalah: dinamis, aktif, kompetitif, reflektif, dan rekreatif. Kegiatan dirancang secara indoor dan outdoor, serta mencakup pengembangan kognisi, afeksi, dan psikomotor.

Materi Konsep:

Materi konsep mencakup panggilan kepemimpinan dan karakteristik DISC pribadi peserta. Pada tahap ini peserta dibuka kesadarannya tentang panggilan kepemimpinan Katolik dan kekuatan karakter kepemimpinan dirinya. Peserta dilatih oleh tim dari Senatus Bejana Rohani dan trainer/ psikolog profesional (Ms. Roosdiana, MPHed, Dr. Octavian Elang MSi).

 Games dan Outbound

Games dan outbound bukanlah sekedar sebuah acara bersenang-senang, namun dimaksudkan sebagai media untuk melihat perilaku individu peserta ketika bekerja dalam kelompok. Perilaku yang diamati ini meliputi: semangat rela berkorban, kegigihan berusaha, kreatifitas, dan kecakapan komunikasi. Perilaku diamati secara cermat oleh tim khusus yang sudah dilatih sebelumnya. Hasil pengamatan kemudian dituangkan dalam bentuk skor dalam lembar tertulis yang sifatnya rahasia.

 Refleksi dan Pembatinan Pribadi

Refleksi dan pembatinan nilai-nilai kepemimpinan dilakukan sebagai bagian dari liturgi doa malam kreatif yang dinamakan pesta cahaya. Refleksi dan pembatinan ini merupakan wadah bagi peserta untuk membatinkan nilai-nilai kepemimpinan yang dipelajari dari dinamika sepanjang hari itu. Refleksi dan pembatinan dituntun dengan mengambil model kepemimpinan Yesus Kristus (teologi salib) yang memimpin umat manusia menuju Allah Bapa melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Refleksi dan pembatinan ini menggunakan media Rosario Kepemimpinan (peristiwa sedih) dimana di setiap awal perpuluhan peserta diajak merenungkan bagaimana Yesus Kristus menunjukkan tindakan karakter kepemimpinan kerendahan hati dan semangat berjerih lelah – bekerja berat. Visualisasi melalui video inspiratif juga digunakan untuk membantu proses pembatinan ini.

 Hasil Observasi dan Assessment

Hasil observasi dan assessment kepada para peserta selama 3 hari dinamika menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:

  • Secara umum peserta belum menunjukkan kualitas kepemimpinan yang menonjol (76%)
  • Beberapa peserta berperilaku sangat ambisius dan terlalu percaya diri (5%)
  • Beberapa peserta berperilaku rendah diri (10%)
  • Beberapa peserta menunjukkan potensi karakteristik kepemimpinan yang baik (9%)

 Kepada peserta dengan karakteristik kepemimpinan terbaik (diberikan gelar King and Queen) diberikan sertifikat dari Senatus Bejana Rohani dan hadiah hiburan.

Apa Kata Mereka:

Berikut ini komentar beberapa orang peserta dan pengamat yang disampaikan secara spontan, mereka mewakili dewan masing-masing:

  • Kuria Bunda Pemersatu – Sampit: “Acaranya mengasyikkan, walau saya kedinginan.”
  • Komisium Maria Assumpta – Tangerang: “Menyenangkan, memberikan pencerahan, kami jadi tahu kekuatan kepemimpinan dalam diri kami.”
  • Kuria Cermin Kekudusan – Kampus KAJ: “Acaranya seru. Kapan ada lagi??”
  • Komisium Ratu Para Rasul – Jakarta: “Game-game sangat mendidik, saya akan copy paste di tempat saya. Boleh kan??”
  • Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Bandung: “Tidak sangka acaranya akan seindah ini.Kami sangat menyukainya. Panitia sangat mantap!”
  • Komisium Bintang Timur – Bogor: “Oke banget! Materi semua sangat bermanfaat!”
  • Komisium Our Lady of The Holy Family – Jakarta: “Educated! Kami jadi tahu siapa diri kami!”
  • Komisium Maria Imaculatta Jakarta: “Sangat mengena! Top markotop!”
  • Bapak Yustinus Ruslim (Ketua Kuria Bunda Pemersatu, pengamat kegiatan): “Acara kalian sangat menyenangkan. Buat juga acara serupa bagi yang dewasa!”

6602_1697029067178020_2641927269988047558_n 1535039_1697032240511036_9109760822214381793_n 11226552_1696827183864875_3485737470314814698_n 12507526_1697042573843336_1768240162043452537_n 12509021_1697022867178640_795743629444926802_n 12510246_1697031597177767_846780631333350212_n IMG_20160109_091100

Misa Syukur Hut ke-37 Komisium Santa Maria Perawan Yang Setia Pontianak

Misa Syukur Komisium Santa Maria Perawan Yang Setia, Pontianak

Tahun ini, tepatnya tgl 19 Januari, Komisium Santa Maria Perawan Yang Setia Pontianak genap berusia 37 tahun, peringatannya kita adakan pada tanggal 24 Januari 2016 di biara Kapusin Saint Lorenzo, jl Budi Utomo Pontianak bersama Pastor APR Komisium, Pastor Yoseph Adji, para Frater Kapusin beserta Legioner se-Komisium Pontianak.

Misa dipimpin oleh Pastor Adji pada pk 10.30 Wib dan berlangsung dengan khusuk dan khidmat. Dalam khotbahnya Pastor Adji menekankan tentang pentingnya para Legioner membaca Firman Tuhan setiap hari, merenungkan dan menjadikan Sabda Tuhan sebagai pegangan hidupnya. Firman yg dibaca tersebut harus diresapi, dan mendarah daging dan di praktek kan dalam kehidupan para Legioner terutama dalam hal kasih. Pelayanan para Legioner harus mencerminkan kasih Tuhan itu sendiri, terutama kepada mereka yang membutuhkan yaitu mereka yang sakit, yang jompo dan tidak berdaya serta yang terpenjara.

Setelah misa selesai dilanjutkan dengan acara tiup lilin kue ulang tahun bersama dan keakraban makan siang bersama.

Dalam acara tersebut dikenalkan juga ketua Komisium yang baru Sdr. Simon Petrus Deni sebagai pengganti Ketua Komisium yang lama, Sdr. Ignatius Gunawan karena pindah tugas ke semarang. Atas nama seluruh perwira, koresponden dan para Legioner kami ucapkan profisiat dan selamat bertugas. Semoga ke depannya Komisium Pontianak lebih maju dalam program-program kerja.

IMG-20160129-WA0013 IMG-20160129-WA0012 IMG-20160129-WA0011 IMG-20160129-WA0010 IMG-20160129-WA0009

Reuni Tahunan Komisium Santa Maria Perawan Yang Setia Pontianak, 28-29 November 2015

Awan tebal masih menyelimuti kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, ketika pesawat kami mendarat di Bandara Internasional Supadio. Namun suasana mendung itu tak mengurangi keceriaan kami ketika berjumpa dengan Sdr. Gunawan (Ketua Komisium Pontianak) dan Sdr. Rudy yang menjemput kami di luar area kedatangan. Kami juga berjumpa dengan Sdri. Dahlia, seorang legioner dari Sintang yang “terpaksa” menunggu kami di bandara selama sekitar 2 jam karena terbatasnya tim penjemput.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari bandara, akhirnya kami tiba di susteran KFS, lokasi pelaksanaan Reuni Tahunan Komisium Pontianak 2015. Disana kami berjumpa dan berbagi cerita dengan para legioner dari Sintang dan Nanga Pinoh yang menempuh sekian jam perjalanan dari daerah mereka dan tiba di Pontianak sejak matahari belum muncul di ufuk timur. Tak ada ekspresi lelah di wajah mereka, yang ada hanya semangat dan sapaan hangat menyambut kami yang baru saja datang.

Sebelum rangkaian acara dimulai, kami menyempatkan diri untuk berkunjung ke Suster Johanna, SFIC di kawasan Merdeka Barat. Suster Johanna adalah mantan Asisten Pemimpin Rohani Komisium Pontianak. Stroke yang menyerangnya sekitar empat tahun lalu memaksanya untuk hidup dalam keterbatasan. Ia sempat sulit berbicara meski kini bicaranya sudah lancar. Ia pun sulit untuk berjalan dan harus menggunakan kursi roda. Ia tak bisa menggunakan anggota gerak bagian kanan, namun ia belajar untuk bisa menulis dengan tangan kiri. Ia tak bisa membaca dalam waktu lama, karena matanya akan berair dan terasa lelah. Namun dalam segala keterbatasannya itu, ia masih bisa mengingat nama-nama para legioner dan momen-momen yang pernah ia lalui bersama mereka. Bahkan pada tahun 2013 Suster Johanna mengirimkan sebuah surat kepada Redaksi Majalah Bejana, yang saat itu dikelola oleh Komisium Bogor. Ia mengungkapkan apresiasi dan rasa rindunya terhadap tulisan dan kabar Legio Maria. Pada Natal 2014, ia mengirimkan kartu natal buatan tangannya sendiri.

Saat kami kembali ke susteran KFS, suasana sudah ramai karena para legioner sudah mulai berdatangan. Tepat pukul 17.00 rangkaian acara reuni tahunan 2015 resmi dibuka oleh Sdr. Ignatius Gunawan, diawali dengan doa Tessera yang dibawakan oleh Sdri. Sondang (mantan koresponden Komisium Pontianak di Senatus Jakarta) dan Sdri. Marina (koresponden Komisium Pontianak di Senatus Jakarta sekarang). Acara kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dari masing-masing presidium. Ketika itu ada beberapa presidium dari Medang, Sarangan, dan Sebandut yang belum hadir karena terkena macet akibat adanya perbaikan jalan. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam 3 jam, kini terpaksa ditempuh selama 7 jam. Hebatnya, mereka menggunakan mobil bak terbuka milik Yanmas (Pelayanan Masyarakat). Mereka akhirnya baru tiba setelah rangkaian acara hari pertama selesai.

Ternyata perjuangan para legioner sungguh amat luar biasa! Mereka yang dari Ketapang harus menempuh perjalanan sekitar 20 jam menggunakan sepeda motor. Para legioner dari Serawai menempuh perjalanan lewat sungai dan darat selama sekitar 15 jam. Tak ketinggalan mereka yang dari Sanggau, Sekadau, Pusat Damai, Sintang, dan Sambas. Para legioner dari dalam kota pun kebanyakan masih harus bekerja hingga pukul 15.00, dan sepulang kerja mereka harus bergegas ke lokasi acara. Tercatat sebanyak 230 legioner hadir dalam reuni ini, sedikit menurun dari jumlah peserta tahun 2014 sebanyak 270 orang. Hal ini karena hari Senin setelah reuni adalah hari pertama pekan ujian akhir sekolah. Para legioner yang sebagian besar berprofesi sebagai guru (khususnya di daerah) sedang sibuk mempersiapkan UAS sehingga tidak bisa hadir ke Pontianak, disamping waktu perjalanan yang amat panjang membuat mereka mungkin tak bisa kembali tepat waktu untuk menjalankan tugas mereka di sekolah. Selain itu, banyak legioner daerah yang tak bisa hadir dalam reuni ini karena mahalnya biaya transportasi. Bayangkan saja, biaya transportasi dari daerah Serawai ke Pontianak lebih mahal daripada biaya penerbangan PP Jakarta-Pontianak.

Seusai makan malam, kami mengikuti sesi pertama mengenai Semangat Maria yang dibawakan oleh Pastor Petrus Rostandy, OFM Cap. Pastor Petrus mengajak kita untuk selalu bersemangat dan setia, karena kita adalah barisan tentara Maria. Kita berbeda dengan kelompok-kelompok lain karena kita mengikuti semangat Bunda Maria. Maria dipilih menjadi Bunda Penebus meskipun ia tidak terkenal, tidak punya kedudukan, dan tidak punya harta kekayaan.

Dalam Buku Pegangan bab 3, kita dapat melihat apa saja yang menjadi semangat Bunda Maria, antara lain kerendahan hati, ketaatan, dan imannya. Ketaatan Maria tampak ketika ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Ini juga harus diucapkan oleh setiap legioner. Apapun tugas yang diberikan pada saya, meskipun sulit dan tidak enak, tetap akan saya laksanakan. Sepanjang hidupnya, iman Maria selalu diuji dalam berbagai kejadian sulit dan menyedihkan yang dihadapinya, namun Bunda Maria menyimpan semua itu dalam hatinya meskipun banyak hal yang ia tidak mengerti. Maria adalah teladan untuk bertahan dalam pergumulan iman meskipun menderita. Maka jika kita menghadapi tantangan dan kesulitan, ingatlah Bunda Maria yang mengikuti seluruh perjalanan salib Yesus.

Bunda Maria adalah teladan dalam pengantara, seperti yang kita lihat dalam peristiwa Perkawinan di Kana. Maria hadir sebagai Ibu yang memperhatikan kekurangan, membantu, dan menyampaikannya kepada Yesus. Mujizat yang pertama terjadi karena perantaraan Maria, dan melalui Maria pula, Allah sampai kepada manusia. Itulah sebabnya mengapa kita berdoa melalui perantaraan Maria. Pada akhir sesi ini, Pastor Petrus mengajak kita semua untuk berdoa rosario setiap hari, dan persembahkan satu peristiwa untuk para imam. Promosikan doa rosario kepada setiap umat!

Pastor Petrus juga berpesan agar kita sebagai legioner senantiasa mendoakan semua orang, baik orang Katolik maupun non Katolik, terutama bagi mereka yang miskin. Jangan lupa pula, sebelum mendoakan orang lain, kitapun harus bertekun dalam doa pribadi kita. Selain itu, seorang legioner juga hendaknya menghadiri misa harian agar dengan menyambut sakramen ekaristi kita mendapatkan sumber kehidupan rohani.

Kami lalu menikmati acara hiburan yang dibawakan oleh beberapa presidium, ada yang berjoget, berdansa, main drama, dan melantunkan lagu-lagu pujian. Rangkaian acara hari pertama ditutup dengan ibadat malam yang dibawakan oleh presidium Maria Bunda Pemersatu Sekadau.

Hari kedua diawali dengan Ibadat pagi yang dibawakan oleh Sdri. Rufina dari Begori dan doa rosario yang dipimpin oleh Sdri. Sondang membuka rangkaian acara hari kedua, disusul dengan sesi kedua mengenai “Mengapa Aku Harus Melayani” yang dibawakan oleh Pastor Damianus Juin, CP.

Maria adalah teladan dalam pelayanan, maka kita sebagai legioner harus seperti Bunda Maria dalam melayani dengan sabar, rendah hati, dan tidak banyak omong. Sebagai legioner kita harus lebih beriman, lebih berupaya untuk menjadi contoh dan teladan. Berdoalah 24 jam dalam sehari karena hidup orang beriman ditandai dengan berdoa! Bagaimana mungkin berdoa 24 jam dalam sehari sedangkan kita punya pekerjaan dan aktifitas? Doa adalah ungkapan iman, dimana kita berbicara dengan Tuhan. Bicara tidak harus dengan mulut, tapi juga dengan hati dan pikiran, dimana saja dan kapan saja. Doa adalah mengarahkan hati dan pikiran kita kepada Tuhan. Dalam doa kita memuji Tuhan, bersyukur, dan juga memohon, jadi doa tidak semata-mata hanya untuk memohon saja. Jika kita melihat kekurangan dalam diri sesama, doakanlah dan jangan dibicarakan. Jika kita hendak marah, berdoalah, maka kadar marah kita akan berkurang. Semakin lama kita akan terbiasa mengisi hari kita dengan doa.

Mengapa kita harus melayani? Karena Tuhan Yesus sendiri datang ke dunia bukan untuk dilayani, namun untuk melayani. Pada masa itu, Orang Yunani dan Romawi memiliki konsep bahwa pelayan adalah orang yang tidak berarti dan tidak berharga. Yesus mendobrak pandangan itu dan seluruh hidupnya diisi dengan melayani Allah dan sesama.

Ketika kita melayani, kita harus memiliki hal-hal berikut : Prinsip bahwa yang kita layani adalah Tuhan Yesus sendiri, hidup mesra dengan Yesus dengan cara sering berkomunikasi dalam doa, rendah hati seperti Yesus dan Maria, hubungan yang akrab dengan Kristus dalam iman, harapan, dan kasih, tanpa pamrih dan tak minta pujian, serta pelayanan kita harus bertujuan untuk mendekatkan orang dengan Tuhan dalam persekutuan dengan Gereja.

Sebagai penutup sesi ini, kami mendengarkan kesaksian dari Sdri. Fabiana dari Presidium Ratu Pencinta Damai Nanga Pinoh, mengenai kehidupannya sebagai satu-satunya umat Katolik di Nanga Kebebo, bagaimana ia mempertahankan imannya dan mampu menjelaskan tentang iman Katolik kepada tetangga-tetangganya yang mayoritas muslim.

Seusai sesi kedua, kami mengikuti perayaan Ekaristi Adven pertama yang dipimpin oleh Pastor Pius Berces, CP (sekretaris Keuskupan Agung Pontianak), Pastor Lukas Dirman, SMM (Pemimpin Rohani Pres. Maria Ratu Para Rasul, Sintang), dan Pastor Adi Wiratma (Paroki Santa Maria Tanpa Noda, Sintang). Dalam homilinya Pastor Pius mengatakan bahwa Legio Maria adalah salah satu lembaga yang “serius” dalam Gereja, karena Legio memiliki buku pegangan juga tugas dan tanggung jawab yang jelas. Para legioner adalah martir putih yang memberikan kesaksian iman melalui tugas-tugas mereka. Tidak mudah menjadi legioner, kita sendiri kadang terpaksa dalam menjalankan tugas sebagai legioner hingga tak ada kegembiraan yang dapat kita tunjukkan pada orang lain. Inilah salah satu alasan mengapa jumlah anggota Legio sulit untuk bertambah.

Sesi ketiga diisi oleh Pastor Joanes Yandhi Buntoro, CDD dengan tema Kesetiaan Maria. Pastor Yandhi menceritakan kisah hidup Maria yang selama ini tak pernah kami ketahui. Bunda Maria sejak kecil tak ingin menikah dan ingin mempersembahkan hidupnya hanya untuk Allah. Allah telah mempersiapkan Maria untuk mengandung Sang Kudus dengan menjadikannya terlahir tanpa dosa asal. Di dalam jiwa Maria, rahmat Allah begitu penuh hingga meluap dan tak ada ruang lain dalam jiwanya untuk berbuat dosa. Maria menganggap dirinya berbahagia karena mampu melaksanakan seluruh rencana Tuhan. Dalam berbagai perisitiwa hidupnya yang penuh kesulitan dan dukacita, Maria tidak berontak. Ia tetap taat pada Tuhan. Maria adalah makhluk Tuhan yang paling setia, bahkan hingga Yesus telah bangkit, ia tetap tinggal bersama para rasul dan berdoa.

Pastor Yandhi kemudian mengajak kami untuk menyanyikan sebuah lagu gubahannya :

Maria,

Banyak orang tak mengertimu

Bahkan mereka menghujatmu

O sungguh terlalu.

 

O Maria,

Kalau saja kau tak di surga

Apalagi kami yang hina

Pintupun tak ada

 

Sadarilah kini

Sbab dunia tak kan abadi

 

Selamat bahagia Bunda Tuhanku

Smoga kau doakan aku slalu

Ketaatanmu membawa keselamatan bagi dunia

Berbahagialah orang percaya

Menuruti teladan Maria

Sebab tersedialah tempat

Bagi mreka di dalam surga.

 

Lagu itu dinyanyikan sesuai dengan nada lagu Sephia karya Sheila on 7 yang pernah menjadi hits beberapa tahun yang lalu. Kami yang sudah agak mengantuk dan lapar jadi bersemangat lagi setelah menyanyikan lagu itu.

Akhirnya reuni tahunan ditutup dengan sesi evaluasi. Dewan Kuria Maria Bunda Segala Bangsa Serawai dan Kuria Bunda Rahmat Ilahi Keuskupan Sanggau menyampaikan laporan singkat dewan mereka selama satu tahun ini, diikuti beberapa pertanyaan dari para peserta mengenai pencarian dana dan hal-hal terkait sistem Legio. Pada akhir sesi, Sdr. Gunawan menyampaikan rencana program kerja Komisium Pontianak tahun 2016, antara lain HUT Komisium, Acies di Singkawang, Serawai, Sanggau, Nanga Pinoh dan Sintang, serta di Pontianak. Komisium juga merencanakan kunjungan ke presidium-presidium di Singkawang dan presidium yang vakum di Pakumbang. Pada bulan September akan diadakan perayaan HUT Legio Maria sedunia dan lokakarya buku pegangan. Reuni tahunan 2016 akan diadakan di Bodok, Pusat Damai. Semoga seluruh program kerja tahun 2016 dapat berjalan dengan lancar. Sdr. Ignatius Gunawan juga mohon pamit kepada para legioner karena akan berpindah tugas ke Semarang mulai tanggal 15 Desember 2015. Oleh karena itu pada rapat komisium bulan Desember akan diadakan pemilihan ketua komisium yang baru. Terima kasih banyak atas kesetiaan dan pengabdian Sdr. Gunawan sebagai legioner dan perwira Komisium Santa Maria Perawan yang Setia Pontianak. Semoga sukses melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang baru.

Kami selaku koresponden untuk Komisium Santa Maria Perawan yang Setia Pontianak mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk dewan senatus, komisium, kuria, presidium, dan pribadi-pribadi (dari wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi) yang telah bermurah hati mengumpulkan dan menyumbangkan rosario, buku pegangan, Tessera, Alkitab dan buku-buku rohani. Selama empat minggu telah terkumpul 1473 pcs rosario, 50 exemplar buku pegangan, 200 lembar Tessera sedang, 480 exemplar buku Tessera kecil, 6 exemplar Alkitab, dan begitu banyak buku-buku rohani. Kami sampaikan sumbangan itu kepada presidium di Begori (Serawai) bagi anak-anak di asrama yang baru saja dibuka, junior kuria Keuskupan Sanggau, umat di pedalaman Ketapang, umat di Putussibau, bakal presidium di Katedral dan Paroki Belimbing Sintang. Sisanya kami serahkan kepada Komisium Pontianak untuk membantu presidium yang perlu disubsidi dan umat yang membutuhkan.

Acara reuni tahunan ini membuat kami semakin bangga dan menyegarkan semangat kami sebagai tentara Maria. Kami juga berkenalan dengan sahabat-sahabat baru yang telah menyambut dan menerima kami dengan hangat bahkan begitu peduli dengan kami. Kisah-kisah mereka mengingatkan dan menegur kami dengan halus. Selama ini kami sering malas-malasan untuk melaksanakan tugas, padahal kami tinggal di kota dengan berbagai fasilitas yang baik dan mendukung. Sementara mereka di daerah begitu penuh semangat meskipun tinggal dalam kondisi yang sulit dan sangat terbatas. Mereka tidak mengeluh meskipun harus menyeberangi sungai, melalui jalan yang rusak penuh lumpur, bahkan menempuh perjalanan yang lama dan melelahkan untuk tetap setia melaksanakan karya sebagai tentara Maria. Proficiat, para legioner Komisium Pontianak. Sampai jumpa lagi pada acara lainnya. AVE MARIA.

Penulis : Ignatia Marina Sudiarta, koresponden Komisium Pontianak

Sdri. Sondang dan Sdri. Marina kunjungan ke Suster Johanna, SFIC
Sdri. Sondang dan Sdri. Marina kunjungan ke Suster Johanna, SFIC
Legioner seminari menengah St. Paulus Nyarumkop
Legioner seminari menengah St. Paulus Nyarumkop
narsis sejenak bersama Pastor Adi Wiratma (paling kanan)
narsis sejenak bersama Pastor Adi Wiratma (paling kanan)
legioner Presidium Ratu Pencinta Damai, Nanga Pinoh
legioner Presidium Ratu Pencinta Damai, Nanga Pinoh
Sesi 1 : Semangat Maria oleh Pastor Petrus Rostandy, OFM Cap
Sesi 1 : Semangat Maria oleh Pastor Petrus Rostandy, OFM Cap
Persembahan pujian dari legioner Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop
Persembahan pujian dari legioner Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop
Pastor Lukas Dirman, SMM menerima kenang-kenangan buku dr Pastor Petrus Rostandy, OFM. Cap
Pastor Lukas Dirman, SMM menerima kenang-kenangan buku dr Pastor Petrus Rostandy, OFM. Cap
Drama dari legioner Pres. Bintang Timur Rasau Jaya
Drama dari legioner Pres. Bintang Timur Rasau Jaya
legioner Pres. Maria Bunda Pemersatu, Selalong-Sekadau
legioner Pres. Maria Bunda Pemersatu, Selalong-Sekadau
Sesi II : Mengapa aku harus melayani? oleh Pastor Damianus Juin, CP
Sesi II : Mengapa aku harus melayani? oleh Pastor Damianus Juin, CP
Perayaan Ekaristi oleh Pastor Pius Berces, Pastor Adi Wiratma, dan Pastor Lukas Dirman
Perayaan Ekaristi oleh Pastor Pius Berces, Pastor Adi Wiratma, dan Pastor Lukas Dirman
Marina dan Ibu Yuliana dari Sintang
Marina dan Ibu Yuliana dari Sintang
IMG_20151129_100522
Sdri Sondang dan Bu Yuliana dari Sintang
Berfoto usai Sesi III bersama Pastor Yandhi, CDD
Berfoto usai Sesi III bersama Pastor Yandhi, CDD