Natal dalam Tradisi Katolik dan Hubungannya dengan Legio Maria

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Hal 303 “Tanpa Maria tidak ada ajaran Kristen yang sejati”

Natal adalah peristiwa pertemuan antara tawaran keselamatan Allah dan sikap manusia. Dalam peristiwa Natal ada sebagian manusia yang menerima tawaran keselamatan itu, yakni Bunda Maria, para majus, para gembala termasuk ternak-ternaknya. Di lain pihak ada pula Herodes yang menolak dengan terang-terangan tawaran ini.

Iman Katolik yang benar adalah kehendak untuk menerima tawaran keselamatan ini dan menghidupinya. Maria adalah orang yang pertama-tama menunjukkan iman ini dengan sangat sempurna. Ketika malaikat Gabriel memberitahukan akan kelahiran Yesus melalui dirinya, Maria tidak berpanjang-panjang dalam pertimbangan dan permenungan (red: galouw). Namun Maria justru bisa segera mengatakan “Ya” agar kehendak Allah itu terjadi melalui dirinya. Padahal waktu itu Maria tak mengerti apa-apa siapakah Yesus yang akan dia kandung, dan ia tak ambil pusing dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari sebagai konsekwensi mengandung tanpa menikah. Kehendak Allah adalah misteri baginya. Maria hanya tahu bahwa ia harus menerima kehendak Allah sebagai jawaban atas panggilan karya keselamatan Allah sendiri. Kita para Legioner diajak untuk meneladan Maria yang mau menanggapi panggilan karya keselamatan Allah ini – yakni kita harus mau menanggapi kehadiran Yesus secara penuh. Mencintai Iman Katolik adalah upaya nyata kita untuk menerima Yesus.

Oleh : RD Petrus Tunjung Kusuma

SURAT GEMBALA TAHUN SUCI LUAR BIASA KERAHIMAN ALLAH

(Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada Misa Sabtu/Minggu, 12/13 Desember 2015)

 “KERAHIMAN YANG MEMERDEKAKAN”

 

Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

Pada perayaan syukur dua tahun diangkat sebagai pimpinan tertinggi Gereja (13 Maret 2015), Paus Fransiskus mengumumkan tahun 2016 sebagai Tahun Suci (=Yubileum) Luar Biasa Kerahiman Allah. Tahun Suci ini dimulai pada tanggal 8 Desember 2015 (Pesta Maria dikandung tanpa noda dan peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II) dan akan berakhir pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, tanggal 20 November 2016. Pemakluman resmi dilakukan oleh Paus Fransiskus pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 11 April 2015, dengan mengeluarkan bulla yang berjudul “Misericordiae Vultus” (=Wajah Kerahiman).

Tahun Suci berasal dari tradisi Perjanjian Lama. Setiap lima puluh tahun, Tahun Suci dirayakan untuk mengembalikan keseimbangan hidup bersama sebagai Umat Allah. Pada tahun itu semua warga Umat Allah yang menjadi hamba harus dibebaskan, semua tanah yang dijual harus dikembalikan kepada pemiliknya, semua hutang dihapus. Gereja mengambil alih tradisi ini dan sejak tahun 1475, atas penetapan Paus Paulus II, merayakannya setiap 25 tahun. Tahun Suci Biasa terakhir kita rayakan pada tahun 2000, ketika umat manusia memasuki milenium yang ketiga. Selain Tahun Suci Biasa, Gereja juga merayakan Tahun Suci Luar Biasa. Tahun Suci Luar Biasa terakhir kita rayakan pada tahun 1983, untuk mengenangkan seribu sembilan ratus lima puluh tahun karya penebusan Kristus.

Saudari/saudara yang terkasih,

Pada tanggal 25 Desember 2005, Paus Benediktus XVI mengeluarkan ensiklik berjudul “Allah Adalah Kasih”. Salah satu tujuan penulisan ensiklik itu dinyatakan dalam bagian pengantar, yang antara lain mengatakan, “Dalam dunia, di mana nama Allah kadang-kadang dikaitkan dengan balas dendam atau bahkan kewajiban akan kebencian dan kekerasan, pesan ini (=Allah adalah Kasih) amat aktual dan mengena” (no. 1). Pertanyaannya, apa alasan yang mendorong Paus Fransiskus untuk memaklumkan tahun 2016 sebagai Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah? Jawaban atas pertanyaan ini rupanya harus dicari dalam bullapemakluman Tahun Suci Luar Biasa dan dalam tindakan-tindakan simbolik yang dilakukan oleh Paus Fransiskus seperti yang dapat kita saksikan dalam tayangan media massa dan media sosial akhir-akhir ini.

Dalam bulla pemakluman Tahun Suci Luar Biasa ini, Paus antara lain menyatakan, “Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan, yang beranggapan bahwa kebahagiaan bergantung pada uang dan bahwa, dibandingkan dengan uang, semua yang lain tidak ada nilai atau martabatnya.  … Kekerasan yang ditimpakan kepada orang lain demi menimbun kekayaan yang berlumuran darah tidak akan mampu membuat seorang pun berkuasa atau tidak mati” (MV no. 19.1). Paus juga menyinggung gejala korupsi dan menulis, “Luka-luka bernanah (akibat korupsi) ini merupakan dosa berat yang berteriak keras ke surga untuk mendapatkan pembalasan, karena luka itu merongrong dasar-dasar kehidupan pribadi dan masyarakat. Korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan dengan penuh harapan, karena kerakusannya yang lalim itu menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin. Korupsi adalah …. skandal publik yang berat” (MV no. 19.2).

Sejak awal pelayanannya sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik, Paus Fransiskus melakukan amat banyak tindakan simbolik. Salah satunya pada tanggal 8 Juli 2013, Paus mengadakan perjalanan pertama ke luar kota Roma. Yang ia tuju adalah Pulau Lampedusa di Italia Selatan. Ia pergi ke sana setelah mendengar banyak kaum imigran mati dalam usaha menyeberang laut dari pantai Afrika. Di tempat itu ia mengkritik “globalisasi sikap tidak peduli – yang disebabkan oleh budaya kenikmatan” dan menunjukkan keberpihakan kepada kaum imigran. Ia mempersembahkan misa dengan piala yang dibuat dari kayu yang diambil dari perahu rusak yang pernah membawa imigran dari Afrika menuju pulau itu. Banyak dari antara mereka yang naik perahu itu tidak pernah mencapai tujuan. Altar yang dipakai adalah kapal kecil yang sedikit dicat. Tempat upacara adalah lapangan yang menjadi tempat penampungan para pengungsi itu. Dia juga menaburkan bunga ke pantai untuk mengenang orang-orang yang mati di laut. Upacara ini disiarkan ke seluruh dunia dan diharapkan dapat “mengusik” suara hati sekian banyak pemirsa. Ketika ia mendengar bahwa ada satu pabrik di Bangladesh yang terbakar – pabrik baju yang dikirim dengan merek Eropa –  dialah yang pertama kali memperhatikannya, sambil mengkritik banyaknya perusahaan yang memperlakukan buruh sebagai “pekerja budak”.

Di tengah-tengah keadaan dunia yang seperti inilah, Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk memperdalam pemahaman dan keyakinan kita bahwa Allah adalah Maharahim, mengalaminya secara pribadi, menjalankan pertobatan dan mewujudkan pertobatan itu dalam kehidupan yang nyata.

Bulla pemakluman Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah berjudul “Wajah Kerahiman”. Kerahiman Allah dialami melalui tindakan-Nya yang nyata, sebagaimana diwartakan oleh Nabi Zefanya. Pertama, Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atas umat-Nya (3:15). Ia memerdekakan manusia dari belenggu dosa yang menyebabkan manusia tidak lagi mengenal dan mengakui Allah yang seharusnya meraja dalam hidup manusia. Manusia merdeka adalah dia yang menempatkan Allah di atas segala-galanya. Kedua, Ia hadir di tengah-tengah umat-Nya (3:17), kehadiran yang menyatakan belarasa dan kesetiakawanan-Nya. Kehadiran ini mampu memberi arti baru bagi hidup manusia, dan dengan demikian membuatnya menjadi manusia yang merdeka. Ketiga, Ia membarui umat dengan kasih-Nya (3:17). Kehadiran, kasih dan kerahiman-Nya mempunyai daya yang membarui kehidupan dan memerdekakan. Kerahiman Allah itu menjelma dan masuk ke dalam sejarah umat manusia, dalam diri Yesus Kristus. Dialah wajah sempurna kerahiman Allah.

Pengalaman akan kerahiman Allah ini dengan sendirinya akan mendorong pertobatan dan pembaharuan hidup. Inilah yang ditegaskan oleh Paus Fransiskus dengan mengatakan, “Semoga warta kerahiman menjangkau setiap orang, dan semoga tidak seorang pun acuh tak acuh terhadap panggilan untuk mengalami kerahiman-Nya. Dengan penuh harapan saya menyampaikan undangan untuk bertobat ini kepada orang-orang yang perilaku hidupnya menjauhkan mereka dari rahmat Allah” (MV no. 19).

Selanjutnya Paus Fransiskus menyebut pihak-pihak tertentu yang secara khusus diundang untuk menjalankan pertobatan, antara lain para pelaku dan organisasi-organisasi kriminal, para koruptor, orang-orang yang menjadikan uang sebagai berhala baru. Kita semua pun diajak untuk bertobat, memperbarui haluan hidup dan mewujudkannya dalam tindakan nyata. Seperti orang banyak di dalam kisah Injil, kita diajak untuk selalu berbagi kehidupan (Luk. 3:10-11); seperti para pemungut cukai kita diundang untuk mengembangkan sikap hidup yang tulus dan jujur dalam menjalankan tugas (ay 12-13); seperti para prajurit kita dituntut untuk tidak pernah menggunakan kekerasan dalam bentuk apapun demi tujuan apapun (ay 14). Apa pun yang baik dapat kita lakukan untuk mewartakan kerahiman Allah yang membaharui kehidupan. Itulah yang kiranya dimaksudkan oleh Rasul Paulus dengan mengatakan “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang” (Flp. 4:5).

Marilah kita sambut dengan penuh syukur dan kegembiraan Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah ini, dengan mengikuti anjuran Paus Fransiskus, menanggapi tawaran-tawaran yang disampaikan oleh Panitia Tahun Suci Kerahiman Allah Keuskupan Agung Jakarta, atau secara pribadi maupun bersama menemukan upaya-upaya kreatif yang lain. Semoga semua upaya kita membantu kita untuk semakin memahami dan mengalami kerahiman Allah yang membarui kehidupan. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.

 I. Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Sumber : www.kaj.or.id

FIGUR MARIA DALAM KITAB SUCI PERJANJIAN BARU

Tokoh utama dalam KSPB tentulah Yesus Kristus yang wafat dan bangkit. Dialah sang ‘Kabar Baik’ yang diwartakan oleh para pengarang Injil, juga terutama oleh Paulus dalam surat-suratnya. Posisi dan peranan Maria tidak langsung nampak secara jelas dalam tulisan-tulisan yang dipercaya lebih tua dibandingkan tulisan-tulisan PB lainnya, yakni surat-surat Paulus dan Injil menurut Markus.

Paulus hanya menyinggung sekali tentang seorang perempuan yang akan melahirkan Mesias, Anak Allah: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya (tòn huiòn autoȗ), yang lahir dari seorang perempuan (gynaikós) dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Harus diingat bahwa surat-surat Paulus lebih tua daripada tulisan injil yang ada. Dengan hanya menyebutkan ‘seorang wanita (=isteri)’ dan tidak menyebut nama ‘Maria’, agaknya Paulus memang tidak ingin berbicara secara khusus mengenai Maria, namun ingin menyatakan bahwa Anak Allah sungguh menjadi manusia, syukur karena peran seorang perempuan. Keberadaan seorang perempuan ini memungkinkan Allah yang Maha Kuasa menjadi sungguh-sungguh ‘manusia lemah’ seperti kita.

Selain Gal (ditulis sekitar tahun 50-60), tulisan awal PB yang juga menyinggung mengenai Maria adalah Injil menurut Markus: “Bukankah Ia [Yesus] ini tukang kayu, anak Maria (ho huiòs tēs Marías), saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon?” (Mrk 6:3). Dalam tulisan Markus (ditulis sekitar tahun 65-70) agaknya sudah ada penamaan yang lebih jelas terhadap ibu Yesus, yakni Maria. Di sini, nama Maria disinggung dalam konteks pewartaan dan pelayanan yang dilakukan Yesus.

Dalam tulisan-tulisan injil setelahnya (Mat dan Luk; ditulis sekitar tahun 80), peranan Maria dalam hidup dan karya Yesus di dunia menjadi semakin nampak: Maria melahirkan Yesus (Mat 1:18-25; Luk 2:1-7) dan Maria menjemput Yesus ketika pewartaan-Nya ditolak (Mat 12:46-50; Luk 8:19-21). Tulisan Lukas selanjutnya menunjukkan juga bagaimana Maria bersama para murid menantikan turunnya Roh Kudus (Kis 1:14). Injil Yohanes menempatkan peran Maria dalam terjadinya mukjizat pertama Yesus di pesta pernikahan di Kana (Yoh 2: 1-11). Selain itu, Yohanes memberikan kesaksian bahwa ibu Yesus hadir di bawah salib Yesus (Yoh 19:25) dan menyerahkan Maria kepada murid terkasihnya, sekaligus meminta Maria untuk menerima murid terkasih ini menjadi anaknya (bdk. Yoh 19:26-27).

Selain dalam tulisan-tulisan ini, kita kerap kali berpikir bahwa gambaran ‘wanita’ yang ada dalam kitab Wahyu adalah Maria. Para ahli sendiri tidak sampai pada kesepakatan mengenai hal ini, karena sangat dimungkinkan bahwa ‘wanita’ ini adalah gambaran untuk menunjukkan ‘Israel’ atau bahkan ‘Gereja’ sendiri.

Kesimpulan: Ada perkembangan kesadaran para penulis KSPB sendiri mengenai peranan Maria dalam hidup dan karya Yesus. Perkembangan ini agaknya tidak dapat dilepaskan juga dari perkembangan kristologi yang ada dalam KSPB sendiri (M. Schmaus). Pengarang KSPB agaknya memang ingin menunjukkan relasi yang tidak terpisah antara Maria dan Yesus, Puteranya yang terkasih.

Oleh : RD Riki Maulana Baruwarso

 

Tahun Kudus Kerahiman Allah-Momen Pengenangan Kasih Allah

Pembukaan ‘Porta Santa’ (Pintu Kudus) di Basilika St. Petrus pada 8 Desember 2015 oleh Paus Fransiskus telah mengawali Tahun Kudus Kerahiman Allah.Tahun Kudus kali ini mengangkat tema “Hendaklah kamu murah hati seperti Bapa” (Lk 6:36).

Merayakan Tahun Kudus sudah menjadi tradisi Gereja sejak tahun 1300 (Paus Bonifasius VIII). Pengenangan akan kasih Allah yang abadi kepada kita manusia dan ajakan untuk bertobat menjadi inti perayaan Tahun Kudus. Secara istimewa Tahun Kudus kali ini dilakukan tidak sesuai dengan kebiasaan 25 tahunan (seharusnya 2025). Maka, perayaan ini pun disebut Tahun Luar Biasa Kerahiman Allah (Extraordinary Jubilee of Mercy).

Paus Fransiskus merasa sangat tepat merayakan Tahun Kudus Kerahiman Allah pada saat ini. Gereja dan dunia perlu diingatkan kembali akan pentingnya ‘kasih (baca: kerahiman) dan pertobatan’. Menarik untuk disadari bahwa Tahun Kudus dibuka pada Hari Raya Bunda Maria dikandung tanpa Noda dan sekaligus peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II. Kedua momen ini dilandasi oleh semangat ‘kasih’. Dogma tentang Maria dikandung tanpa noda, yang lantas menjadi Hari Raya dalam Gereja, berbicara pertama-tama tentang kerahiman Allah kepada Maria. Allah mempersiapkan Maria untuk menjadi Bunda Yesus. Bahasa ‘kasih’ ini lantas diartikan oleh Konsili Vatikan II dengan ‘keterbukaan’ Gereja terhadap manusia, dunia dan persoalannya. Gereja ingin menunjukkan wajah pemberi harapan dan pengampunan, daripada wajah penghukum dan pengutuk. Di tengah situasi politik yang sangat panas pada pertengahan abad ke-20 (perang dingin antara Uni Soviet dan USA, pergolakan politik di negara-negara Arab), Konsili Vatikan II justru menawarkan kesegaran dan harapan.

Namun, dalam perjalanan waktu, sejarah sepertinya berulang. Tindak kekerasan dan sempitnya cara berpikir, yang disebabkan oleh karena kebekuan hati, kembali menguasai manusia. Cukup mengikuti berita mengenai situasi politik dan kemanusiaan di jazirah Arab, kekerasan yang terjadi di benua Eropa, dan juga mengenai ketegangan di antara negara-negara adi daya militer, kita akan menyadari bahwa manusia lupa akan ‘kasih dan pertobatan’.

Sayangnya, kita harus mengakui bahwa Gereja pun lupa. Semangat keterbukaan yang digulirkan oleh Konsili Vatikan II sepertinya harus terbentur kembali dengan dinding-dinding yang dingin. Apakah kita menyadari bahwa kita lebih senang berbicara tentang peraturan (boleh dan tidak boleh) daripada berbicara tentang pemahaman (mencari makna/maksud) ? Pembicaraan yang terlalu berpusat pada hukum/peraturan membuat wajah Gereja menjadi begitu dingin. Siap menghukum yang bersalah. Kita jangan meniadakan hukum/peraturan karena akan terjadi kekacauan, tetapi jangan sampai juga terlalu menekankan peraturan dan tidak membuka diri pada kemungkinan lain “di luar” peraturan (kebiasaan). Perlu diketahui bahwa sebelum pembukaan Tahun Kudus Kerahiman Allah, Paus sudah lebih dahulu mengundang para uskup sedunia untuk hadir dalam Sinode yang membahas tentang keluarga dan probematika aktualnya. Paus mengajak para uskup untuk membuka mata dan hati akan realitas ini. Paus Fransiskus mencoba mengingatkan kembali semangat yang telah berhembus dalam sejarah Gereja, yakni Kerahiman Allah.

Mungkin saja Tahun Kudus Kerahiman Allah tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan manusia dan dunia. Namun setidaknya kita perlu diingatkan kembali akan gambaran Allah yang adalah Kasih, sekaligus diingatkan akan tugas kita untuk mewartakan dan menunjukkan wajah Allah yang adalah Kasih. Tahun Kudus ini menjadi momen penuh rahmat untuk mengalami kerahiman Allah dalam pertobatan (=Sakramen Tobat), sekaligus menyatakannya dalam tindakan kita kepada sesama. Inilah makna pengenangan Kasih Allah dalam Tahun Kudus Kerahiman Allah.

Selama kurang lebih satu tahun ke depan (8 Desember 2015 s/d 20 November 2016) kita diajak untuk bergumul dalam pengalaman akan Kerahiman Allah. Selain mengajak umat untuk menerima secara teratur Sakramen Tobat, Paus Fransiskus mendorong dilakukannya ziarah ke tempat-tempat kudus. Paus menyadari bahwa tidak mudah menunjukkan kasih kepada orang-orang yang bersalah kepada kita. Ziarah adalah sebuah simbol perjalanan dan perjuangan manusia, jatuh-bangun, dalam mencintai Allah dengan mengasihi sesama.

Allah adalah Kasih. Menjadi anak-anak Allah dalam pembaptisan berarti menjadi anak-anak Kasih. Hanya dengan mengasihi, kita menegaskan identitas kita sebagai anak-anak Allah.

 

Oleh : RD Riki Maulana Baruwarso

 

 

Apa Makna Natal Bagimu?

Natal sebentar lagi akan tiba. Kita juga sudah akan memasuki Minggu Adven yang ketiga. Lalu, bagaimana dengan persiapan Natal kita kali ini ?

Biasanya Natal akan identik dengan libur panjang, pohon natal, kado, dan sinterklas. Kalau ke Mall atau pusat perbelanjaan, maka sudah ada Pohon Natal yang menjulang tinggi, ornamen yang cantik serta lagu-lagu natal yang menemani kita berbelanja. Menyenangkan sekali yah..

Namun, apakah sudah kita renungkan, apa makna natal yang sebenarnya?

Natal sebaiknya menjadi moment di mana kita selalu menghadirkan Yesus di mana pun kita berada yang artinya kita harus menghadirkan kasih, damai, dan pengampunan untuk sesama. Mengapa demikian?

Dalam Yohanes 3:16 yang isinya ” Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yesus adalah lambang kasih Allah yang begitu besar bagi manusia, maka dari itu hendaknya kita memaknai Yesus yang lahir dengan menjadikan kita pribadi-pribadi yang selalu menebarkan kasih bagi keluarga, teman-teman, komunitas ataupun lingkungan masyarakat.

Bagaimana dengan damai yang harus kita bagikan ? Di dalam Yesaya 9:6 tertulis demikian : “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat, Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesus adalah Sang Raja Damai sehingga mari kita menjadi pembawa damai ke manapun kita pergi dan kepada siapapun yang kita jumpai tanpa melihat agama, suku, dan rasnya.

Tahun Kerahiman Illahi yang sudah dibuka 8 Desember yang lalu dengan motonya “Merciful like the Father” hendaknya juga menjadi inspirasi pengamalan nyata bagi kita untuk belajar mengampuni sesama karena Allah telah lebih dahulu mengampuni kita, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”(Lukas 6:36)

Teman-teman, marilah kita memaknai natal ini tidak hanya dengan persiapan lahiriah namun juga dengan persiapan batin sehingga Perayaan Natal dapat memampukan kita menghadirkan Yesus yang lahir dalam hati kita sehingga kita dapat membagikan kasih, damai, dan pengampunan bagi sesama.

Tuhan memberkati, Bunda Maria mendoakan.

Yesaya 6 : 8

Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku : “Ini aku, utuslah aku !'”

Semoga kita bisa meneladani nabi Yesaya yang siap sedia diutus Tuhan dalam melayani sesama terutama sesama yang terlupakan dan terpinggirkan oleh masyarakat

Surat Konsilium November 2015

Kepada: Sdr. Octavian

Sekretaris Senatus Jakarta Legio Maria

Dear Sdr. Octavian,

Salam dari Konsilium dan dari saya, kepada Ketua, Pemimpin Rohani dan seluruh perwira serta anggota Senatus Jakarta.

Saya mengucapkan terima kasih untuk salinan Notulensi Senatus sampai pada bulan Juli 2015 dan saya menunggu Notulensi selanjutnya. Terima kasih atas perhatiannya dalam menyelesaikan semua tugas dengan baik.

Pada pertemuan Konsilium di bulan Oktober, Romo Bede McGregor, Pendamping Rohani kami, memimpin ibadat. Dan di antara para Pastor yang hadir, hadir pula Pastor dari Mesir. Pada pertemuan ini juga hadir legioner dari Senatus Birmingham (Inggris), Lisbon (Portugal), dan 2 perwakilan dari Filipina.

Bacaan Rohani diambil dari Buku Pegangan Bab ke-7 tentang “Para Legioner dan Tritunggal Maha Kudus”. Dalam alukusionya, Bapa Bede mengutip kalimat “seperti halnya bernapas bagi tubuh manusia, demikianlah pentingnya doa Rosario bagi Legio Maria”. Pada Pentakosta, para rasul berdoa bersama dengan Bunda Maria yang merupakan “teladan dari penyerahan diri secara total”. Doa Rosario adalah Kristosentrik karena bersama Maria kita merenungkan Putranya yang Ilahi. Sementara, Roh Kudus merupakan jiwa bagi Legio Maria, yang memegang peran utama dalam evangelisasi (pewartaan injil). Kita harus mencoba dan mempromosikan doa Rosario mengingat bahwa ketika kita mendoakannya, Maria Ibunda Yesus juga turut berdoa bersama kita.

Selama bulan November, setiap presidium wajib melaksanakan Misa yang ditujukan bagi jiwa-jiwa para mendiang legioner di seluruh dunia.

Sr Janet Lowthe (yang juga seorang legioner) menjadi wakil dari Konsilium pada upacara di Ghana, Afrika Barat, yang merayakan 75 tahun Legio Maria di Negara tersebut. Beliau juga sekaligus mengikuti pertemuan dengan Hierarki yang terdiri dari para legioner pendahulu.

Ada saran bahwa kita harus mempromosikan budaya hidup “Memorare” doa kepada Maria, Bunda Allah.

Saya berharap perekrutan auksilier demikian juga anggota-anggota baru terus dilakukan. Doa dari para auksilier merupakan dukungan spiritual bagi para anggota aktif. Demikian pula kesatuan dengan para auksilier akan membantu menyemangati mereka.

Permintaan Konsilium untuk Data

Konsilium meminta agar dapat diberikan pernyataan yang menunjukkan kekuatan Senatus di teritori di mana ia bertanggung jawab, contohnya: jumlah Regia, Komisium, Kuria, serta Presidium.

Saya menunggu balasan anda segera.

Allah memberkati kita semua.

Catherine Donohoe

Koresponden Konsilium

 

 

 

Iman yang Tepat adalah Mencintai Kekatolikan Secara Tepat

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Hal 334 Bab 39 Point 33 ” Legioner harus berada di garis depan dalam medan pertempuran Gereja “

Kita para legioner berada dalam suasana sosial yang kompleks, termasuk keberadaan pengajaran kekristenan yang beragam.Akibatnya pemaknaan terhadap pribadi Yesus juga sangat beragam – dan banyak di antaranya yang tak sejalan dengan pengajaran iman Katolik. Kedangkalan pengertian terhadap iman Katolik akan membuat kita mudah diresapi dengan ajaran-ajaran ke-kristenan yang tidak benar.Menyikapi hal ini para legioner perlu mengembangkan sikap mau belajar segala hal tentang Kekatolikan secara lebih mendalam. Kemauan belajar dan menghayati iman Katolik  adalah bagian mendasar  pertempuran  legioner di barisan terdepan Gereja.

Gereja Katolik menerbitkan Katekismus sebagai salah satu sumber pengajaran resmi. Marilah kita menimba banyak hal benar daripadanya , sehingga kita juga  terhindar dari praktek-praktek yang salah (contoh: menganggap air suci atau rosario sebagai benda keramat, mengukur iman seseorang dari kemampuan supranaturalnya atau pengalaman  mujizat yang bombastis). Orang-orang suci bukanlah mereka yang melakukan hal-hal besar dan berbagai mukjizat namun mereka yang menghayati Iman Katoliknya secara benar dan tulus serta melakukan ajaran Kristus. Dalam memaknai  segala hal yang terjadi, Gereja juga mengajak kita bukan hanya menggunakan kedalaman hati dan rasa namun juga menggunakan  akal budi yang sehat.

Marilah kita mempelajari dan menghayati ajaran Gereja Katolik sebagai kebiasaan harian Legio Maria.

Oleh : RD Petrus Tunjung Kusuma

Surat Konsilium Desember 2015

Kepada Saudara Octavian,
Sekretaris Senatus Jakarta.

Yang Terkasih Saudara Octavian Elang,

Atas nama Konsilium dan pribadi, saya ingin menyampaikan salam hangat kepada Ketua, Pemimpin Rohani, dan semua perwira dan anggota dari Senatus Jakarta.

Pada Rapat Konsilium Nov 2015, banyak sekali hadirin yang hadir, termasuk seorang pastor dari Zambia, pastor dari Hong Kong dan juga 10 orang koresponden dari Madrid, Spanyol. Juga hadir seorang muda dari Belfast Irlandia yang sekarang adalah seminaris Dominikan. Semuanya disambut hangat oleh Saudari Sile Ni Chochlain, Ketua Konsilium yang membawakan bacaan rohani dari BukuPegangan Bab 17 – Jiwa-Jiwa Legioner yang Sudah Meninggal.

Baru-baruini, dua orang Legioner mewakili Konsilium telah melakukan kunjunganke Kolombia, Amerika Latin.Legio Maria dikenalkan di sana pada tahun 1947. Sekarang Bogota mempunyai 30,000 orang anggota aktif, dan sebuah presidium universitas di sana mempunyai 16 anggota aktif.

Alokusio diberikan oleh Romo Bede McGregor,mengingatkan kita bahwa kita semua satu sama lain dimiliki oleh Yesus Kristus. Kita adalah anggota komunitas Para Kudus, berarti kita terhubung dengan para orang kudus di Sorga dan Jiwa-Jiwa di Api Penyucian. Olehk arena itu, kita harus berdoa untuk mereka agar bebas dari segala penderitaan.Misa Khusus Arwah di bulan November dipersembahkan oleh setiap presidium untuksemua legioner yang sudah meninggal; berarti ada berjuta-juta legioner yang berdoa untuk kita. Dan kita berharap Bapak Frank Duff di sorga juga dapat menjadi perantara doa kita.
Legio Maria di Kenya, Africa merayakan ulang tahun ke-75.

Konferensi Orang Muda diadakan di Dublin selama lebih dari 2 hari di bulan September dihadiri banyak orang dan berjalan dengan lancar. Konferensi Peregrinatio Pro Christo diadakan padatanggal 7 November dihadiri oleh 240 orang. Banyak laporan menarik dari berbagai projek yang disampaikan.Misa kudus juga diadakan di malam harinya.

Sebuah ruangan di dalam gereja paroki di Phibsboro, Dublin baru-baru ini diberkati oleh Bapa Uskup Diarmuid Martin dan dipersembahkan untuk mengenang Bro Duff. Pada masa mudanya Bro Duff adalah anggota paroki ini.

Mendekati akhir tahun ini dan seraya menantikan Natal dan tahun baru, kita paralegioner sebaiknya merefleksikan Janji Legio yang telah kita buat pada akhir 3 bulan masa percobaan dan telah kita sampaikan kepada Allah Roh Kudus. Mari kita berharap agar kita semua selalu setia dalam menepati janji kita.

Saya akan senang untuk menerima sisa notulensi yang belum dikirim dan data statistic senatus yang telah saya minta pada surat terakhir konsilium saya

SemogaTuhan memberkati kitas semua
Catherine Donohoe
Koresponden Konsilium

Korona Adven / Lingkaran Adven

Lingkaran adven atau Korona Adven mempunyai empat lilin. Praktik membuat lingkaran adven ini berasal dari Jerman yang kemudian berkembang dan dilakukan di dalam gereja di banyak daerah. Berbagai makna kemudian dilekatkan pada simbol-simbol yang digunakan dalam lingkaran adven itu.

Empat lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Tiga lilin berwarna ungu, yang menyimbolkan pertobatan dan penantian. Sedangkan lilin minggu ketiga Adven berwarna merah muda, yang menyimbolkan sukacita. Minggu ketiga Adven yang disebut Minggu “Gaudete” atau Minggu “bersukacitalah”, mengajak umat untuk bersukacita karena kedatangan Sang Penyelamat semakin dekat.

Lilin dalam lingkaran adven ini dinyalakan mulai Minggu Adven pertama. Setiap minggu dinyalakan tambahan satu lilin, sehingga banyaknya lilin yang bernyala menjadi tanda progresif bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin mendekat. Hal ini mengingatkan kita untuk menyediakan palungan di dalam hati kita agar Kristus bisa dilahirkan kembali dalam diri kita. Maka, lingkaran adven menjadi bagian persiapan rohani menyambut kedatangan Sang Mesias.

Di beberapa daerah, ditambahkan lilin kelima berwarna putih yang lebih besar dan diletakkan di tengah lingkaran. Lilin putih ini melambangkan Kristus yang adalah “Terang yang telah datang ke dalam dunia” (Yoh 3:19-21). Lilin putih ini dinyalakan pada Misa malam Natal sebagai lambang bahwa masa penantian telah berakhir karena Juruselamat telah lahir.

Simbolisasi lainnya kiranya juga perlu dimengerti. Digunakan lingkaran dan bukan bentuk lain, karena lingkaran dimaknai sebagai simbol dari Allah yang abadi yang tidak mempunyai awal dan akhir. Lingkaran ini dibungkus dengan daun-daunan hijau (pakis, pinus, salam), karena hijau melambangkan hidup. Kristus adalah Sang Hidup itu sendiri. Dia telah wafat, tetapi hidup kembali dan tetap hidup.

Kedua, pada abad XVI, lingkaran adven juga dipasang dalam rumah-rumah keluarga Kristiani. Maknanya, alangkah baiknya jika setiap keluarga memasang lingkaran adven. Lingkaran ini bisa digantung atau diletakkan di atas meja. Biasanya diletakkan di tempat yang mudah dilihat oleh seluruh anggota keluarga. Lingkaran adven ikut menyemarakkan suasana dan membangkitkan semangat persiapan menyambut kelahiran Yesus dan kedatangan Kristus yang kedua pada akhir zaman.

Sumber :Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM
http://www.hidupkatolik.com/2013/03/04/lilin-adven