Berpuasa Sebelum Menyambut Komuni

Referensi: indocell.net / yesaya


Pernah kah kamu mendengar aturan berpuasa sekurangnya satu jam sebelum menyambut Komuni Kudus? Tapi kan sekarang masih banyak yang misa online, tidak ada Komuni Kudus. Beberapa bulan terakhir, memang hampir seluruh gereja di dunia menutup pintunya karena mengikuti anjuran pemerintah setempat guna pembatasan sosial untuk mencegah merebaknya virus Covid-19. Namun kini, pintu itu mulai dibuka kembali secara perlahan. Misa sudah mulai dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Eits, tidak hanya protokol kesehatan saja yang harus diperhatikan, melainkan juga protokol dalam menyambut Komuni Kudus.

Kenapa sih harus berpuasa?

Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) no. 19, ada pernyataan yang tertulis jelas di sana. “Yang akan menerima Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata dan obat-obatan. Hal ini dikecualikan bagi lansia, orang sakit, dan yang merawatnya”. Menurut sejarah, sebenarnya peraturan ini merupakan refleksi dari tradisi kuno dalam gereja kita, yang bahkan berasal dari tradisi Yahudi.

St. Paulus mengingatkan kita, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (II Kor 4:10). Dan Paus Paulus VI dalam konstitusi apostoliknya Paenitemini (1966), mendorong umat beriman dengan mengatakan, “Mati raga bertujuan untuk ‘memerdekakan’ manusia, yang seringkali mendapati dirinya, karena kecenderungannya akan dosa, hampir terbelenggu oleh nafsu-nafsunya sendiri. Melalui ‘mati raga jasmani’ manusia memperoleh kembali kekuatannya dan luka-luka yang timbul akibat sifat dasar manusia karena kurangnya penguasaan diri disembuhkan oleh obat pantang yang bermanfaat”.

Paus Yohanes Paulus II dalam Dominicae Cenae (1980) menyesali timbulnya masalah karena sebagian orang tidak mempersiapkan diri secara pantas untuk menyambut Komuni Kudus, bahkan dalam keadaan dosa berat. Bapa Suci mengatakan, “Sesungguhnya, yang seringkali didapati ialah sangat kurangnya perasaan tidak layak diri sebagai akibat dari kurangnya hasrat hati, jika dapat dikatakan, kurangnya rasa ‘lapar’ dan ‘haus’ akan Ekaristi, yang juga merupakan tanda akan kurangnya kepekaan yang pantas terhadap sakramen
kasih yang luar biasa ini dan kurangnya pemahaman tentangnya”. Dan berpuasa sebelum menyambut Komuni Kudus membangkitkan rasa lapar dan haus jasmani akan Kristus, yang akan semakin membangkitkan rasa lapar dan haus rohani yang sepantasnya kita miliki, seperti yang tercatat dalam beberapa kisah di Alkitab.

Oleh sebab itu, berpuasa sebelum menyambut Ekaristi membantu kita dalam mempersiapkan diri menyambut Komuni Kudus secara keseluruhan – tubuh dan jiwa. Mati raga jasmani ini memperkuat fokus rohani kita kepada Kristus, sehingga kita dapat dengan rendah hati bersatu dengan Juruselamat Ilahi yang menawarkan Diri-Nya sendiri bagi kita.

(Gereja) Katolik Jaman NOW

 

Oleh Sdr. Octavian Elang Diawan


Jaman NOW, istilah yang menunjuk jaman sekarang, jaman ini. Jaman NOW adalah kelanjutan jaman dahulu, jaman NOW akan diikuti jaman yang akan datang.  Setiap jaman memiliki peradabannya sendiri-sendiri yang unik. Jaman NOW ditandai dengan keterbukaan informasi karena penemuan teknologi informasi yang dinamakan internet dan perangkat pendukungnya.

Gereja Katolik diibaratkan bahtera yang mengarungi jaman. Gereja berlabuh mulai dari pelabuhan surga  yakni hati Allah; Lalu berziarah di dunia daam rupa  kehadiran Yesus Kristus hingga wafat-Nya di kayu salib: Lalu peziarahan Gereja berlanjut melalui Santo Petrus dan penerusnya. Gereja berziarah dari jaman dulu, jaman NOW, lalu jaman yang akan datang hingga akhirnya kembali ke hati Allah sendiri dengan membawa jiwa-jiwa manusia yang  diselamatkan.

Gereja muncul dari hati Allah  yang terdalam – hati yang Maha Kasih, Maha Rahim, Maha Kuasa, Maha Kudus. Hati Allah tak pernah berubah walau  berziarah melalui jaman yang berubah-ubah. Tetapi Gereja harus menyesuaikan diri terhadap tantangan di setiap jaman (ecclesieae semper reformanda), sebagai bahtera Gereja bisa berjalan lurus, kadang berbelok kanan atau kiri, kadang bergerak cepat atau lambat, atau memutar haluan. Namun tugas Gereja tak pernah berubah, yakni mewartakan hati Allah kepada setiap manusia yang ditemui dan membawanya kembali pada Allah.

Gereja Katolik Jaman NOW

Jaman NOW adalah jaman terjadinya perubahan super cepat dari jaman sebelumnya. Arus informasi yang terbuka memutus sekat-sekat antar bangsa dan antar budaya. Orang Indonesia dengan mudah bisa berjodoh dengan orang Afrika hanya dengan berkenalan di depan laptop – sesuatu yang 20 tahun lalu sangat sulit terjadi. Kemajuan teknologi transportasi dan perbaikan ekonomi juga berpengaruh. Transportasi murah menyebabkan orang desa  mudah sekali ke Jakarta atau bahkan menyeberang ke Papua –  dan sebaliknya. Dunia makin melebur (nge-blend). Anak-anak jaman NOW yang masih SD sudah pandai berbahasa Inggris; Orang-orang Korea bahkan pandai berbahasa Jawa.

Di lain pihak kejahatan juga semakin canggih, termasuk terorisme. Panduan membuat bom bisa diperoleh dengan mudah di YouTube.  Masyarakat dunia mengalami perubahan perilaku. Mereka ini sangat menikmati teknologi yang dinamakan gawai, dan citarasa hubungan antar manusia pun turut berubah. Banyak orang tidak mengetahui bahwa gawai bertindak pesis seperti narkotika – menciptakan adiksi. Gawai menjadi sahabat akrab  baru yang menggantikan kakak, adik, atau orang tua.

Namu demikian jaman NOW juga ditandai dengan pertumbuhan umat kristiani di dunia. Afrika Utara, Korea, China, Indonesia, dan Timur Tengah adalah wilayah yang mengalami pertumbuhan umat kristiani cukup menakjubkan. Di Indonesia ada klaim bahwa setiap tahun terdapat 2 juta orang berpindah ke kekristenan. Di KAJ sendiri terdapat pertumbuhan umat sekitar 25 ribu dalam satu tahun terakhir. Sebuah dugaan menyebutkan bahwa ajaran ‘Kasihilah musuhmu’ menjadi salah satu  daya tarik orang menyerahkan diri pada Yesus.

Tantangan Gereja Jaman NOW

Gereja bersikap ketika masuk dalam peradaban jaman NOW ini.  Gereja tetap teguh memegang nilai, namun menyesuaikan diri terhadap dinamika kehidupan. Bapa Suci Fransiskus pun menyadari hal ini maka beliau  menampilkan diri sebagai pimpinan Gereja jaman NOW yang serba gaul, milenial, menerobos kebiasaan lama, tak suka dengan protokoler yang ketat, dan akrab tanpa sekat dengan setiap orang.  Walhasil beliau menjadi orang terkenal dalam waktu yang sangat singkat. Kepemimpinan beliau bukan mengikuti gaya kepemimpinan tradisional  yang menekankan kekuasaan, melainkan kepemimpinan yang mengubah orang (transformasi).

Indonesia di Jaman NOW

Indonesia  jaman NOW adalah Indonesia  yang makin ramai dengan 260 juta penduduknya,  terdiri dari 1.128 suku bangsa; mereka mendiami sebagain dari sebanyak 13.466 pulau yang kita miliki. Segala jenis orang bisa ditemukan di sini: orang kaya raya  mapun orang miskin, orang budiwan-budiwati tulus hati ahli surga maupun para begal uang rakyat yang rajin beribadah, orang  pedalaman yang hidup secara nomaden  yang belum bisa membaca a-be-ce-de-e maupun para profesor ahli nuklir.  Wilayah pulau yang bersih hijau  segar  atau wilayah  Kali Item berbau busuk menyebar kuman pun bisa ditemukan.  Itu semua adalah situasi  yang dihadapi  Gereja Indonesia di mana kita ada di dalamnya. Situasi yang memang harus dilalui oleh Gereja dalam peziarahannya mewartakan hati Allah yang mencinta. Dan kita pulalah yang menghadapinya sebagai bagian sentral Gereja.

Memeluk Anggota Keluarga

Namun, jaman NOW seperti gelas kaca yang sangat tipis. Bila kita lengah kita bisa tanpa sengaja menyenggol gelas ini dan jatuh lalu pecah tak berguna. Banyak keluarga Katolik sudah sedemikian hati-hati merawat keluarganya toh masih juga kebobolan. Ada beberapa pengguna narkotika yang saya kenal adalah anak-anak dari keluarga Katolik yang taat. Di jaman NOW sungguh diperlukan kehati-hatian ekstra untuk menjaga ‘gelas keluarga’ agar tetap aman di tempatnya. Mungkin saja kita tak menyenggolnya, namun bisa jadi tiba-tiba  ada kucing melompat  lalu  menyenggolnya dan gelas jatuh pecah berkeping-keping.  Setiap orang tua harus waspada terhadap kecenderungan ‘gawai’-isme dalam anggota keluarga. Kebersamaan dan komunikasi yang bermutu tak bisa diganti dengan gawai. Orang tua harus sering bertindak dan mengucakan kata  iman, pengharapan, dan kasih. Usahakan ketiga kata itu bukan termasuk kata asing. Biarkan kata itu secara halus mengendap dalam bawah sadar semua anggota keluarga. Biarkan ia menjadi benih dan akhirnya bertumbuh menjadi pohon keselamatan. Inilah cara memeluk anggota keluarga sehingga ikatan kasih dan kesetiaan tetap menyala. Mari mencercap inspirasi  keluarga kudus Nazareth yang melakukan hal-hal  itu dengan sangat indah.

Memeluk Tetangga

Jaman NOW membuka sekat-sekat kelompok. Interaksi antar budaya, antar ideologi, antar lapisan sosial terjadi tanpa bisa dibendung. Di Indonesia kebhinekaan adalah mutlak. Bahkan dua saudara kembar Ipin dan Upin pun tetap memiliki perbedaan yang khas.

Perbedaan menjadi cara Allah untuk menunjukkan kemuliaannya. Bila ada syair lagu berbunyi “Tuhan ditemukan dalam ketenangan,” maka dalam konteks kebhinekaan Indonesia kita bisa berkata “Tuhan ditemukan dalam perbedaan”. Maka mari kita menghargai perbedaan dan menjadikan hal ini sebagai kesempatan pengudusan diri. Mari temui tetangga-tetangga yang tak seiman dengan kita. Kita tunjukkan bahwa kita adalah pewarta hati Allah yang lemah lembut. Kita peluk mereka dalam semangat illahi, karena hati Allah adalah hati yang menyatukan, hati yang menghidupkan, dan hati yang menyembuhkan.

Selamat berlabuh di jaman NOW;

Mari mewartakan hati Allah di jaman NOW,

and do it NOW.


Sdr. Octavian Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani sejak Juli 2016.

Bagaimana Sikap Kita Terhadap Pengakuan Dosa ?

Oleh Ignas Permenas Gumansalangi.


Banyak pertanyaan yang membahas mengenai seberapa penting sakramen tobat bagi kita. Tidak jarang di era sekarang ini remaja bahkan orang dewasa mendapatkan pertanyaan yang menguji iman, seperti, “Toh manusia tidak luput dari dosa yang berarti dengan sakramen tobat tidak berarti menjamin manusia tidak akan terbebas sepenuhnya dari godaan dosa, yang pada akhirnya akan jatuh kembali dalam dosa itu sendiri bahkan tak jarang layaknya keledai yang sering kali jatuh dalam lubang yang sama.” Pertanyaan tersebut cukup menjamur dan menjadi alasan bagi sebagian orang beriman menunda dalam merespon pelayanan sakramen tobat dengan alasan diadakan rutin setiap tahun. Mirisnya, dalam kondisi yang sebaliknya, di tengah kehendak bebas manusia yang semakin menjerumuskan pemikiran bahwa jatuh dalam dosa adalah hal yang tidak terelakan, manusia seakan sangat mengandalkan pengakuan dosa “Yang penting masih akan ada pengakuan di gereja”.

Kehidupan yang semakin berkembang dengan banyaknya tuntutan dan kompleksnya keinginan manusia menjadikan sebagian besar orang akan lunak dengan kehendak bebas. Banyak hal yang menjauhkan orang dari Tuhan oleh karena keinginan duniawi. Manusia yang terus terjerat oleh sifat menunda-nunda semakin terbawa arus perkembangan global dan melupakan sumber dan asal manusia yang sesungguhnya.

Beragam cara pandang manusia dalam menanggapi dosa itu sendiri, tidak jarang rasionalisasi atas dosa sering terjadi dengan menganggap yang dilakukan adalah hal biasa dan dapat ditolerir. Lingkungan menjadi salah satu penyebab besarmya rasionalisasi yang dilakukan sebagai upaya menghilangkan perasaan bersalah.

Menurut Gereja Katolik, dosa sendiri dibagi menjadi dua kategori yakni dosa berat dan dosa ringan. Apapun kategori dosa tersebut tidaklah kurang dari perilaku yang menyakiti hati Allah, Efesus 4:31 “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.”

Di tengah tanda tanya dunia yang tidak ada batasnya, Gereja Katolik menawarkan sakramen yang mengantar manusia untuk kembali menemukan jalan dan berada pada keselamatan. Melalui doktrin tentang EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus) yang mana pengertiannya melalui Konsili Vatikan ke II diartikan sebagai “Keselamatan datang dari Kristus Melalui Gereja Katolik”, menjelaskan bahwa Gereja Katolik mengambil bagian dalam menuntun orang memperoleh keselamatan. Rumusan ini didasarkan pada Yohanes 14:6 (Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”). Kristus sebagai Kepala Gereja, Kristus tidak pernah terlepas dari Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya.

Setiap orang membutuhkan asupan gizi secara rutin dan teratur untuk menjaga kebugaran jasmaninya, begitu juga orang membutuhkan bimbingan rohani serta penitensi dalam sakramen tobat sebagai asupan rohani agar tetap menjaga kebutuhan rohaninya. Bukan hanya soal dosa apa yang telah diperbuat sehingga membutuhkan sakramen tobat, akan tetapi seberapa mampu kita dapat merendahkan hati bahwa kita manusia yang berdosa. Merendahkan hati membutuhkan penyadaran diri, dimana yang mana prosesnya melalui penelitian batin. Penelitian batin adalah sikap yang paling mendasar dan penting.

Dalam perjalanannya, sakramen tobat sering juga disebut dengan beberapa nama atau sebutan lain yang mana melalui istilah yang ada terkandung makna dari sakramen tobat itu sendiri. Beberapa sebutan atas sakramen tobat antara lain :

1. Sakramen Tobat

Penyebutan sakramen tobat didasarkan pada konsili vatikan ke II (lih. Sacrosanctum Concilium, No. 72; Lumen Gentium, No. 11). Dalam penyebutan sakramen tobat hal yang mau ditekankan ialah tobat dan orang beriman yang bertobat.

2. Sakramen Pengakuan Dosa

Dalam penyebutan sakramen pengakuan dosa hal yang mau ditunjukan adalah orang yang mau bertobat menyatakan sikap tobatnya kepada Allah. Dengan kejujuran serta kerendahan hati mau mengakukan dirinya sebagai orang yang berdosa dan membutuhkan kerahiman Allah.

3. Sakramen Pengampunan Dosa

Disebut sebagai sakramen pengampunan dosa karena dosa-dosa yang telah di akukan dengan penuh kejujuran dan kerendahan hati melalui absolusi imam secara sakramental telah diampuni oleh Allah sendiri.

4. Sakramen Pendamaian (rekonsiliasi)

Melalui pengampunan yang diterima oleh pentobat, Allah sendiri memperdamaikan pentobat dengan Diri-Nya dan Gereja. Berdasarkan Lumen Gentium, No. 11 “mereka yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan Allah adalah ungkapan cinta-Nya yang mendamaikan”. Sesuai dengan 2 Korintus 5:20 “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah”.

5. Sakramen Penyembuhan

Melalui sakramen tobat kita diberikan rahmat penyelamatan dan penyembuhan atas jiwa dan raga.

Gereja sebagai Tubuh Kristus memberikan kesempatan setiap orang untuk dapat bertobat melalui sakramen tobat yang merupakan sarana kehadiran Tuhan dalam diri kita yang mengembalikan kita ke jalan keselamatan. Dalam pengakuan dosa orang dapat mengalami dan merasakan buah-buah rohani seperti pendamaian dengan Allah karena relasi kasih dengan Allah, pendamaian dengan sesama, disembuhkan secara utuh dari luka batin, pembebasan dari siksa abadi, dan menagalami ketenangan hati nurani (kedamaian hati).

Memperbaiki relasi dengan Allah adalah kebutuhan bagi manusia. Penyadaran diri merupakan hal yang patut dilakukan dalam perjalanan kehidupan sehari-hari. Bagi umat katolik dalam menyambut, memperingati ataupun merayakan kesempatan-kesempatan tertentu melalui penyadaran kelemahan diri dengan penelitian batin merupakan hal yang patut untuk dipupuk. Masa prapaskah, ketika umat Katolik berada dalam masa penyangkalan diri, adalah kesempatan baik untuk meneliti batin dan memperbaiki diri. Dengan adanya sakramen tobat kesempatan ini menjadi lebih istimewa karena dalam usaha menyadari setiap kelemahan dan keberdosaan kita, Tuhan mau hadir dalam diri dan hati kita melalui sakramen tobat sendiri.

Bagaimana persiapan kita dalam menerima sakramen tobat sehingga dengan utuh kita dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita ?

Dalam melakukan pengakuan dosa hal yang paling pertama untuk diperhatikan adalah ketepatan waktu kehadiran di tempat pengakuan, hal ini akan sangat membantu kita untuk dapat memeriksa suara hati secara teratur dan menyeluruh sebelum masuk ke ruang pengakuan. Berbicara dengan artikulasi yang jelas, namun tidak berarti sampai mengeluarkan suara terlalu keras. Mengakui semua dosa yang pernah dilakukan secara tulus, kemudian mendengarkan nasehat maupun penitensi dari pastor/romo. Jangan meninggalkan ruang pengakuan dosa sebelum imam menyelesaikan absolusi. Kemudian kita laraskan doa tobat, dan setelah menerima rahmat pengampunan dalam sakramen pengakuan dosa, sedapat mungkin untuk segera memenuhi penitensi yang diberikan oleh imam di luar bilik pengakuan. Sangat dianjurkan bahwa setelahnya kita dapat mendoakan doa syukur atas pengampunan (PS. 27) dan Madah “Allah Tuhan Kami” (PS. 28)

referensi: Katolisitas.org, carmelia.net


Ignas Permenas Gumansalangi adalah legioner presidium Maria Mater Dei Binus, Kuria Cermin kekudusan – Kampus.

Proud to be a Catholic

Oleh Victoria Suvi Tendiana Lili


Kenapa aku memilih untuk menjadi Katolik?

Pertanyaan yang cukup sederhana namun sulit dijawab. Pertanyaan ini dilontarkan pada saat aku mengikuti persiapan Krisma.  Pada saat aku menjelaskan latar belakang mengapa aku memutuskan untuk dibaptis, ternyata aku tidak puas dengan jawaban itu. Aku merasa bahwa itu bukanlah alasan yang sebenarnya.

Pencarian jawaban yang sesungguhnya pun dimulai.

Aku tidak membandingkan dengan agama lain karena aku yakin bahwa setiap agama adalah baik adanya. Aku mulai mencari banyak informasi dan mempelajari segala hal yang berhubungan dengan Katolik. Ternyata ada banyak hal yang belum aku ketahui. Aku merasa begitu kecil di hadapan Allah. Aku merasa, sebagai orang Katolik aku wajib mengetahui banyak hal mendasar yang seyogyanya menjadi pondasi dalam hidup melayani sebagai seorang Katolik.

Ibarat sebuah keluarga besar, agama Katolik terdiri dari berbagai suku & ras, tua & muda, miskin & kaya, perempuan maupun laki-laki, pendosa & orang kudus.

‘ Our family made up of every race,youngs & olds, riches & poors, men & women, saints & sinner’

Katolik telah berkarya selama berabad- abad, selalu mengutamakan pelayanan, menyeimbangkan hubungan dengan Allah & sesama.

‘Been centuries around the globe, build hospitals for the sicks, orphanages, help the poors, largest charitable organization in the planet, relief n comfort who those in needs, educate most children all over the world, developed education system, developed scientific method  with evidences & proofs’

Katolik menghargai & menghormati hak asasi manusia, melindunginya dalam hukum gereja serta menjadikan Keluarga Kudus sebagai teladan dimana pernikahan hanya bisa dipisahkan oleh kematian.

‘Defense dignity of human life in marriage and family, pray for the soul & humanity’

Devosi terhadap Bunda Maria & Orang Kudus menjadi teladan dalam berkarya.

‘Cities & people named by saints, inspired us, navigated us to sacred path like before’

Katolik menjadikan Firman sebagai landasan dari segala tradisi, sikap & tingkah laku kita, seperti magnet membentuk kepribadian lebih dari 1 milyar penduduk dunia.

‘By Holy Spirit we pile the bible, transform by  sacred  sculpture and tradition for more than 2000 years, followed by over 1 billion people in the world’

Katolik memiliki sakramen sebagai kepenuhan iman Kristiani kita.

‘Sharing the sacraments of fullness for christian faith’

Katolik senantiasa menjadikan perayaan misa sebagai saluran berkat & ungkapan syukur kita.

‘Pray every hour and every day whenever we celebrate the mass’

Yesus sendiri yang membangun landasan bagi kita pada saat menunjuk Paus pertama kita.

‘Jesus lead the foundation for our faith when He sent Peter, the 1st pope, by said : “ You are the rock and upon this rock I will build my church” ’

Katolik memiliki kepemimpinan gembala yang tidak terputus selama lebih dari 2000 tahun lamanya, memimpin dengan kasih & kebenaran sejati di tengah-tengah berbagai kekacauan yang terjadi di dunia ini.

‘For 2000 years we have unbroken line of sheperds, guiding the catholic church with love & truth in confuse & hurting world, in the world of chaos n heart shaped in pain’

Iman Katolik memberikan ketenangan, kekuatan & rasa aman, karena Katolik adalah sebuah keluarga yang bersatu dalam Yesus Kristus sebagai Raja & Penyelamat kita, dimana kita tahu pasti bahwa Allah memiliki kasih yang tak berkesudahan bagi semua ciptaanNYA.

‘It’s comforting to know that as a family united in Jesus Christ our Lord and savior, Catholic faith is something that remain consistent, true & strong.

Ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak fakta yang menunjukan bahwa Katolik memiliki banyak peran dalam mengubah dunia menjadi lebih baik.

taken from faithandale.com

Apakah saya bangga menjadi orang Katolik?

Ya….tentu saja….semakin aku mencari, semakin aku bangga.

Bagaimana dengan anda ?

‘Catholic faith…. Eternal love that God has for all creation’

Sources : diambil dari berbagai sumber


Victoria Suvi Tendiana Lili adalah salah seorang trainer pada LDK Senatus Bejana Rohani 2018. Beliau adalah mantan legioner yang kini aktif sebagai pendidik dan praktisi pengembangan diri.

Kenakanlah Medali Wasiat Ini..

Bandung, 30 Oktober 2017


J.M.J.F.C.A

Kepada para Legioner terkasih,
pax eT bonum

Ketika Sang Putra tersalib,
dalam erangan kesakitan
karena siksa nan ngeri
Sang Bunda berdiri di sana.
Sanggupkah seorang ibu berdiri
di tengah derita, luka menganga, darah dan air mata anaknya?
Namun di sana Maria berdiri,
di bawah Salib Yesus, berdirilah Ibu Yesus.

Lihat Sang Bunda,
di bawah Salib Yesus,
Sang Bejana Rohani menampung semua rahmat
yang tertumpah dari Sang Sumber Segala Rahmat,
buah-buah dari Salib-Nya.

Lihat kini Sang Bunda
berdiri di hadapanmu, Ratu Surga dan dunia
dengan kedua tangan terbuka
mengajak anak-anaknya datang menghampiri
guna memberi berkat dan rahmat
dari harta Bejana Hatinya
untuk dilimpahkan bagimu
segala rahmat yang ada dan diperlukan
bahkan rahmat yang tak dapat kita bayangkan
serta rahmat yang tak pantas kita dapat
agar selalu semangat dan setia dalam karya
menyalakan api cinta yang redup
menerangi nyala iman yang pudar
meneguhkan dasar harapan yang runtuh
memanggilmu pada kekudusan
dan melaluimu
mengundang semua menjadi kudus.

Bila segala terasa berat,
lihatlah di sana ia berdiri
dengan segala rahmat terbaik yang ada di Surga dan bumi.

Medali ini bukanlah jimat untuk ditaruh di dompet
bukan pula barang kenangan untuk dipajang di lemari.
Medali yang sejati akan kita dapatkan setelah perjuangan hidup usai.
Kita kini boleh mencicipinya dahulu dengan medali kecil ini.
Kenakanlah dengan bangga di lehermu,
karena kita semua adalah pejuang Maria.
Apabila senantiasa setia
apa yang kini kita cicipi dengan sederhana
semoga diganjar kemurahan Hati Tuhan
dengan medali kemenangan jaya.

Saat hidup hampa dan berat,
larilah ke kaki altar bersama Sang Bunda,
genggam erat medali itu
segarkanlah diri seperti rusa kehausan yang minum dari sumber air.
Namun lebih penting,
di saat hidup terasa ringan dan menyenangkan,
jangan lupa senantiasa berdoa melalui perantaraannya,
karena tidak jarang, ada saja rahmat yang lupa kita minta.
Dan di atas segalanya,
cintailah Bundamu itu
bermurah hatilah padanya
sapalah ia terus menerus
dalam kerapuhan cinta sederhana seorang anak
melalui untaian mawar abadi
“Salam Ibu, halo mama, hai bunda…”
dengan Rosariomu itu.

Majulah Laskar Maria
teladanilah Bundamu
berjuang di bawah panjinya takkan sia-sia.
Medali ini adalah doa,
doa terus menerus,
dan janganlah jemu berseru:

“Oh Maria dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang berlindung padamu!”


Salam,

L. Benedictus Giuseppe-Maria

Berbuatlah Sesuatu Bagi Para Jiwa-Jiwa di Api Penyucian

Dalam Syahadat Para Rasul, kita selalu mengucapkan : “Aku percaya akan Persekutuan Para Kudus”. Istilah “Persekutuan Para Kudus” (Latin : Communio Sanctorum) dimasukkan pada abad ke-4 dalam rumusan syahadat, dan dapat juga dimaknai sebagai “partisipasi dan saling berbagi dalam hal-hal yang kudus : iman, Sakramen-Sakramen, karisma, dan anugerah spiritual yang lainnya”.

Gereja pada dasarnya adalah persekutuan rohani antara umat beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan menjadi sehati sejiwa. Maka istilah “persekutuan para kudus” menunjukkan Gereja dari segala zaman, dan bukan hanya suatu persekutuan yang bersifat lahiriah atau sosial saja.

Yang dimaksud sebagai Gereja adalah : kita yang masih berjuang di dunia ini; mereka yang tengah mengalami proses pemurnian di api pencucian dan membutuhkan doa-doa kita; dan mereka yang sudah masuk dalam Kemuliaan Allah yang mendoakan dan menjadi perantaraan kita. Semua ini membentuk satu keluarga di dalam Kristus untuk memuji dan memuliakan Allah. Pemahaman ini amatlah menggembirakan dan memberikan harapan bagi kita, karena persekutuan ini menunjukkan bahwa kita yang masih berjuang di dunia ini secara rohani tidak terpisah dengan orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia.

Mungkin selama ini kita menganggap maut sebagai suatu terror yang mengerikan. Kematian dipandang sebagai suatu akhir, suatu perpisahan yang abadi. Kematian menjad suatu batas yang tak bisa ditembus. Kematian adalah satu-satunya hal yang pasti dalam sebuah kehidupan, karena semua yang hidup pasti akan mati. Maut adalah kenyataan bahwa hidup kita terbatas dan fana, meskipun bukan tanpa makna. Dalam waktu hidup yang hanya sementara ini kita diberi kesempatan untuk membentuk sikap kita kepada Tuhan, membuktikan kepercayaan kita, meskipun kita tak melihat Tuhan. Maut membawa kita pada kesadaran kehidupan yang abadi dan bahwa kita selalu hidup di hadapan Tuhan. 

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa setelah kematian, jiwa kita yang tak dapat mati akan menghadapi pengadilan Allah, dan setiap orang akan menerima pembalasan sesuai dengan iman dan perbuatannya. Pembalasan ini bisa berarti masuk ke dalam kebahagiaan surga secara langsung atau seteah melalui proses pemurnian di api pencucian, atau masuk ke dalam kutukan kekal di neraka. Surga adalah keadaan bahagia yang tertinggi bagi mereka yang mati dalam keadaan rahmat Allah dan tidak memerlukan pemurnian lebih lanjut untuk berkumpul bersama dengan Yesus dan Maria, para malaikat, dan para orang kudus. Mereka akan melihat Allah “muka dengan muka” (1 Kor 13:12). Neraka adalah kutukan kekkal bagi mereka yang mati dalam keadaan dosa berat karena pilihan bebas mereka sendiri. Penderitaan terberat bagi mereka adalah keterpisahan kekal dari Allah, padahal Allah adalah sumber kehidupan dan  kebahagiaan yang merupakan tujuan dan kerinduan kita.

Sedangkan mereka yang mati dalam persahabatan dengan Allah namun belum disucikan sepenuhnya, masih memerlukan satu proses pemurnian untuk dapat masuk ke dalam kergembiraan surga. Gereja menamakan proses pemurnian itu sebagai purgatorium (api penyucian). Penderitaan yang dialami oleh jiwa-jiwa di api penyucian adalah perasaan kehilangan Tuhan dan sesal batin yang tak kunjung henti. Penderitaan ini bukanlah penderitaan fisik, namun jiwa merasakan kesakitan kesadaran karena tak bisa menggapai kebahagiaan surgawi akibat terkurung oleh nyala api, yang diistilahkan oleh Santo Alfonsus Ligouri sebagai “kesakitan karena ketidakmampuan melihat Allah” dan “kehampaan kerinduan atas surga”. 

 

Sebagai satu keluarga Gereja, mereka yang tengah mengalami kerinduan akan Allah di api penyucian itu sangat membutuhkan doa-doa dan pengorbanan kita yang masih berjuang di dunia ini. Para jiwa di api penyucian tak dapat menolong diri mereka sendiri karena waktu untuk memanfaatkan karunia Allah telah berakhir ketika mereka meninggal. Kita yang masih hiduplah yang masih mempunyai waktu untuk mendapatkan dan memanfaatkan karunia Allah. Lantas apa yang bisa kita lakukan bagi mereka? 

1. Mempersembahkan Misa 

Ini adalah cara yang paling ampuh untuk menolong jiwa-jiwa di api penyucian. Dalam misa kudus, Yesus sendiri yang mempersembahkan dan mengurbankan diri-Nya bagi kita. Manfaat misa kudus bagi mereka yang telah meninggal adalah sama besar bagi mereka yang sangat menghargai misa kudus selama hidup mereka.

Misa kudus sebagai kurban dipersembahkan bagi mereka yang hidup dan mati untuk pengampunan dosa semua orang dan untuk mendapatkan anugerah rohani dan jasmani dari Allah. Gereja di surga juga dipersatukan dengan persembahan Kristus ini.

2. Berdoa Rosario

Doa Rosario yang dipersembahkan bagi orang yang telah meninggal merupakan doa yang sangat berguna untuk mohon keringanan dan pembebasan penderitaan jiwa-jiwa di api penyucian. Melalui Rosario, banyak jiwa-jiwa dibebaskan dari api penyucian setiap tahunnya. Santo Alfonsus Ligouri mengatakan, “Berdoa Rosario adalah cara yang baik untuk menghibur jiwa-jiwa di api penyucian.”

Dalam penampakan Bunda Maria di Fatima pada 13 Juli 1917, Bunda Maria meminta agar kita berdoa Rosario supaya orang-orang terbebas dari api neraka. Untuk maksud tersebut, maka setelah selesai satu mendoakan satu peristiwa Rosario, ditambahkan doa singkat yang kita kenal sebagai Doa Fatima :

“Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka,dan hantarlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terutama mereka yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu.”

Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja datang ke api penyucian untuk membebaskan jiwa-jiwa, bahkan jiwa-jiwa tersebut memanggil Bunda Maria dengan sebutan Bunda Kerahiman. Bunda Maria sendiri pernah berpesan pada Beato Alain de la Roche, “Akulah Bunda dari jiwa-jiwa di api penyucian dan setiap doa yang ditujukan kepadaku akan meringankan penderitaan anak-anakku.”  

 

3. Berdoa Jalan Salib dan merenungkan sengsara Yesus

Doa ini mengajak kita untuk merenungkan sengsara Yesus Kristus, dan dengan merenungkannya kita diajak untuk sedikit demi sedikit membenci dosa dan menginginkan keselamatan bagi semua orang. Kecenderungan hati ini membaa penghiburan besar bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

4. Mendoakan doa-doa  gubahan para kudus untuk jiwa-jiwa di api penyucian, antara lain doa Santa Gertrudis, doa Santa Mathilda, doa Santa Brigita, doa Santa Bridget dari Swedia, dan banyak doa-doa lain yang bisa kita panjatkan bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Mereka yang di api penyucian sangat bergantung pada doa-doa kita, maka jika kita tidak berdoa bagi mereka, mereka sama sekai ditelantarkan.

Bunda Maria pada penampakan di Medjugorje pada 6 November 1986 menyampaikan pesan untuk berdoa setiap hari bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

5. Mempersembahkan segala penderitaan, penitensi, mati raga, pantang puasa, dan pengorbanan pribadi kita untuk menolong jiwa-jiwa yang malang di api penyucian. Penderitaan kita di dunia dapat membuat kita bertumbuh dalam kasih, maka jika kita menjalani segala penderitaan dan pengorbanan itu dengan sabar, rendah hati, dan dipersatukan dengan sengsara Yesus dengan menaruhnya ke dalam tangan Perawan yang Terberkati, maka semuanya itu akan memiliki kuasa untuk menolong banyak jiwa.

6. Rajin mengupayakan untuk memperoleh indulgensi, entah penuh ataupun sebagian bagi diri sendiri, maupun bagi orang-orang yang telah meninggal. Mengenai aturan mengenai indulgensi dapat dibaca disini

Doa-doa dan pengorbanan kita bagi jiwa-jiwa di api penyucian tidak akan sia-sia. Mereka yang terbebaskan dari api penyucian dan masuk ke dalam surga karena doa-doa kita pasti tidak akan melupakan kita. Mereka akan mendoakan mereka dalam perjuangan kita di dunia ini dan juga jika kita mengalami pemurnian di api penyucian nanti.  Inilah bentuk bukti cinta kasih yang satu dan sama dalam Gereja. Kasih yang tak berkesudahan inilah yang menjadi jembatan antara kita yang masih hidup di dunia ini dengan mereka yang telah meninggal. 

Referensi :

-. 2007. Rahasia Jiwa-Jiwa di Api Penyucian. Jakarta : Marian Centre Indonesia.

Djokopranoto, R. 2013. Misteri Api Penyucian. Jakarta : Penerbit OBOR.

Konferensi Waligereja Indonesia.2008. Iman Katolik (Buku Informasi dan Referensi). Jakarta : Penerbit OBOR dan Kanisius.

Susanto, Harry, SJ (Penterjemah). 2011. Kompendium Katekismus Gereja Katolik. Yogyakarta : Kanisius.


Disusun oleh Tim Website Senatus Bejana Rohani.

Kekuatan Rosario

“Rosario adalah senjata ampuh untuk mengusir setan-setan dan menjaga diri dari dosa … Jika Anda menginginkan kedamaian di dalam hati Anda, di rumah Anda, dan di negara Anda, berkumpullah setiap malam untuk mendoakan Rosario. Jangan sampai satu hari pun berlalu tanpa Anda mendoakannya, betapa pun Anda merasa terbeban dengan banyaknya persoalan dan kerja keras”

– Pope Pius XI

Kita hidup di zaman modern yang memilki begitu banyak tantangan dan krisis, termasuk juga krisis iman. Banyak keluarga Katolik pun mengalami keputusasaan dan kekhawatiran yang menggoyahkan iman. Akan tetapi, walaupun tantangan itu begitu kuat, kita diberikan senjata oleh Allah Bapa melalui peran Bunda Maria dalam doa Rosario Suci. Doa Rosario adalah “ringkasan Injil”, karena di dalamnya dirangkai dan direnungkan sejarah keselamatan yang dipaparkan dalam Injil.

Kekuatan doa Rosario sangat luar biasa. Banyak keajaiban yang tak terhitung jumlahnya, serta kemenangan iman yang telah diperoleh dan menjadi sumber rahmat bagi Gereja Katolik. Sangat sayang jika umat enggan mendoakannya karena doanya yang panjang, padahal rahmat sangat melimpah di balik doa yang memang memiliki unsur meditatif ini.

Sejarah diadakannya bulan Rosario di bulan Oktober berawal dari kemenangan militer yang didapat dalam pertempuran Lepanto saat itu, negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman, sehingga agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Paus Pius V memerintahkan umat Katolik untuk berdoa rosario untuk memohon dukungan doa Bunda Maria. Perintah ini dilakukan oleh Don Juan (John) dari Austria, komandan armada dan oleh umat Katolik di seluruh Eropa. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario tanpa henti dari subuh hingga petang di Basilik Santa Maria Maggiore. Walaupun tampak mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut.

Pertempuran Lepanto, 7 Oktober 1571

Doa Rosario sendiri terbentuk setahap semi setahap. Digunakannya ‘butir-butir’ sebagai alat bantu doa juga merupakan tradisi sejak jaman Gereja awal, atau bahkan sebelumnya. Pada abad pertengahan, butir-butir ini dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria di biara-biara. Tradisi mengatakan bahwa St. Dominic (1221) adalah santo yang menyebarkan doa rosario, seperti yang kita kenal sekarang. Ia berkhotbah tentang rosario ini pada pelayanannya di antara para Albigensian yang tidak mempercayai misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, tujuan utama pendarasan doa rosario adalah untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus.

Tak terhitung banyaknya penampakan Bunda Maria yang menyerukan keluarga-keluarga untuk berdoa Rosario sebagai senjata dalam mengalahkan si jahat, untuk kedamaian dunia, dan untuk berperang melawan kelemahan.  Kita harus berdoa dan berpuasa dengan iman yang hidup dan keyakinan yang kuat – dan tidak ada cara yang lebih baik untuk melakukan ini daripada dengan berdoa Rosario Kudus, mati raga, Ekaristi Suci, pengakuan dosa, dan membaca Kitab Suci (sumber: intisari perkataan Bunda Maria dalam penampakannya di Fatima).

Melalui doa Rosario, kita merenungkan seluruh peristiwa kehidupan Yesus Kristus bersama-sama dengan Allah Tritunggal Maha Kudus dan Bunda Maria serta para malaikat surgawi. Ada doa Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan sebagai doa minimal yang diucapkan dan menjadi mahkota mawar yang dipersembahkan bagi Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Rangkaian mawar yang terangkai setiap kali kita berdoa Rosario ini didapat dari vision Santo Dominikus.

Jadi, marilah kita belajar untuk berdoa Rosario bersama-sama maupun secara pribadi. Tidak ada kerugian apapun yang kita dapatkan untuk mendoakan Rosario, yang ada hanya rahmat dan pertolongan Tuhan dan Bunda Maria untuk iman dan hidup kita. Ave Maria.

(Cindy Permana; dari berbagai sumber)


Sesilia Cindy Permana adalah legioner dari Presidium Bunda Gereja, Kuria Teladan Kaum Beriman Grogol – Komisium Maria Immaculata Jakarta Barat II. Pernah menjabat sebagai Sekretaris 2 Senatus Bejana Rohani periode 2014-2015.

Kelahiran Bunda Maria, Awal Tersingkapnya Janji Keselamatan

Oleh RD Moses Watan Boro


Setiap tahun pada tanggal 8 September, Gereja Katolik Roma merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Seturut sejarah, mulanya pesta ini dirayakan di lingkungan Gereja Timur berdasarkan ilham dari tulisan-tulisan apokrif pada abad ke–6 dan pada akhir abad ke–7 pesta ini diterima dan dirayakan di dalam Gereja Barat Roma. Perayaan ini  mengungkapkan iman Gereja akan kehadiran Santa Perawan Maria dalam pentas karya keselamatan manusia oleh Allah. Pesta ini menjadi penting di dalam Gereja karena melalui kelahiran Bunda Maria-lah sejarah keselamatan itu dimulai. Dengan kelahirannya, Santa Perawan Maria mempersiapkan hadirnya Yesus, Sang Juru Selamat. Ia adalah tabut perjanjian baru yang dari padanyalah, Sang Juru Selamat dikandung, dilahirkan dan dibesarkan.

Kelahiran Santa Perawan Maria dalam sejarah keselamatan sesungguhnya telah diamanatkan oleh Allah sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Oleh sebab itu, ia juga sering disebut sebagai Hawa baru. Hawa yang lama membawa manusia jatuh ke dalam dosa tetapi Hawa yang baru membimbing manusia kepada keselamatan. Hadirnya Hawa baru ini telah diwartakan oleh para nabi dari zaman ke zaman dan dari masa ke masa. Inilah janji keselamatan yang dimaklumkan oleh Allah bagi manusia ciptaanNya.

Nabi Yesaya (Yes 7:10-25) dalam pemberitaan mengenai Imanuel, mengatakan kepada Raja Ahas, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Sebutan perempuan muda atau parthenos dialamatkan pada sosok yang hadir dalam diri Santa Perawan Maria. Dari rahimnyalah dikandung dan dilahirkan Immanuel sebagai Juruselamat. Dia berasal dari turunan Daud, sebab tampuk kekuasaan Israel tidak pernah berpindah dari keturunan Daud sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah sendiri (Bdk. 1 Raj. 2:4). Maka dari itu Santa Perawan Maria adalah sosok yang dipilih oleh Allah untuk memulai rencana besar-Nya dalam menyelamatkan manusia.

Kelahiran Santa Perawan Maria tidak dikisahkan dalam kitab-kitab suci. Di dalam teks aprokrif (Protoevangelium Yakobus) ditemukan bahwa, Santa Perawan Maria dilahirkan dari pasangan suami-istri Santo Yoakim dan Santa Anne. Dalam keluarga inilah, ia dididik dan dibesarkan sebagai orang yang beriman hingga tumbuh menjadi seorang wanita dewasa dan kemudian diambil oleh Yosef sebagai istrinya. Bersama dengan Santu Yosef, mereka membesarkan Tuhan Yesus dengan penuh cinta dan menjadikan keluarga mereka sebagai Keluarga Kudus Nazareth. Bahkan dengan iman yang teguh Bunda Maria menerima setiap peristiwa yang dialami oleh puteranya Yesus mulai dari penerimaan Kabar Gembira hingga pada peristiwa di puncak Kalvari ketika ia harus memangku tubuh puteranya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Kehadiran Santa Perawan Maria dalam proyek keselamatan Allah sesungguhnya telah direncanakan sejak awal mula oleh Allah, maka kelahirannya merupakan takdir dan rencana Allah sendiri. Ia adalah wanita pilihan Allah yang telah disucikan sejak awal ia dikandung, maka perkandungannya sendiri disebut sebagai Dikandung Tanpa Noda Dosa. Allah sungguh menyiapkan Santa Perawan Maria sebagai Bejana Rohani bagi diamnya PutraNya sendiri yakni Yesus Kristus.

Moment kelahiran Santa Perawan Maria yang diperingati oleh Gereja pada tanggal 8 September ini, mengajak segenap anggota Gereja untuk melihat kembali sejarah keselamatan manusia oleh Allah yang terlaksana berkat penyerahan diri yang total dari Bunda Maria. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka kutuk Allah bagi Hawa lama yang dibinasakan oleh dosa serta maut dan mendatangkan keselamatan melalui peristiwa keselamatan melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka harapan baru bagi manusia untuk mengalami kembali belas kasih Allah, sebab Immanuel yang dikandungnya mengungkapkan kehadiran Allah dalam hidup manusia. Bunda Maria adalah jawaban atas kerinduan umat manusia yang berlangsung dari abad ke abad untuk melihat karya keselamatan yang dikerjakan oleh Allah bagi manusia. Maka peristiwa kelahiran Santa Perawan Maria merupakan tabir baru yang menyingkapkan janji-janji Allah akan datangnya Sang Juruselamat. Di sini Gereja diajak untuk menghormati Santa Perawan Maria sebagai wanita pilihan Allah yang telah dipersiapkan sejak awal mula untuk mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Juruselamat umat manusia.


RD Moses Watan Boro adalah Pastor Keuskupan Larantuka yang kini tengah menempuh studi Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Beliau juga bertugas sebagai Pastor Mahasiswa di kampus tersebut dan membantu di Paroki Maria Bunda Karmel Meruya.

Maria Mediatrix ; Bunda Maria dalam Pandangan Bernardus Clairvaux

Oleh : Fr. Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI


Bernardus dari Clairvaux (1090-1153) adalah seorang anggota Ordo Cistercian yang aktif dalam politik Gereja dan urusan birokrasi kepausan. Dia memiliki peran penting dalam pengenalan devosi kepada Bunda Maria. Paham Mariologi Bernardus didasarkan pada devosi pribadinya terhadap Maria. Cintanya terhadap Maria tidak dapat dipisahkan dari hidupnya.

Maria Model Gereja dan Mediatrix

Bernardus memandang Maria sebagai seorang figur yang patut dihormati. Perhatian pokoknya dalam diri Maria ialah mengenai kualitas keperawanan dan ketaatannya yang penuh. Karakter-karakter seperti inilah yang membuat Maria dijadikan sebagai contoh atau model bagi Gereja (type of the Church). Dia sangat menganjurkan umat untuk meniru kerendahan hati Maria. Tentang hal ini, dia mengatakan, “Jikalau kalian tidak sanggup mengagumi keperawanan Maria, persembahkanlah dirimu untuk meneladan kerendahan hatinya, hal itu akan cukup bagimu”. Bagi Bernardus, orang awam tidak diharapkan untuk meniru persis perilaku Maria dalam hal inkarnasi. Namun, pada saat yang sama, dia juga terus menyerukan suatu keyakinan umum pada masa itu, yaitu gelar “tunas” untuk Maria, yang dinubuatkan oleh para nabi[1].

Maria, melalui kesederhanaannya mampu menjalankan kesalehan dan ketaatannya. Peristiwa Maria Menerima Kabar dari Malaikat merupakan peristiwa yang menunjukkan sikap keteladanan Maria sekaligus juga sebagai awal kehidupan Yesus. Kesediaan Maria (fiatnya) dalam peristiwa itu juga menunjukkan peran yang penting demi keselamatan Gereja di masa mendatang, yakni penghiburan bagi yang susah hati, penebusan bagi yang tertindas, pembebasan bagi tawanan, keselamatan bagi semua keturunan Adam. Hal ini juga menjunjukkan aspek genetrix dari hubungan Maria dengan Gereja (eklesiologi).

Contoh keteladanan yang ditunjukkan oleh Maria, yang umum dibahas pada abad pertengahan, yaitu kisah Maria berdiri di kaki salib.  Jika peristiwa Kabar Gembira menandakan permulaaan inkarnasi dan datangnya rahmat Allah di dunia, maka, peristiwa penyaliban menandai titik atau batas akhir. Secara khusus, abad pertengahan, melalui peritiwa ini menyebut Maria sebagai Ibu Berdukacita (Mater Dolorosa). Nubuat Simeon dalam Lukas 2:35, dipandang sebagai bagian dari tantangan perjalanan Maria. Bernardus menjelaskan, ketika Jesus ditikam dengan tombak oleh serdadu, bagian tubuh yang ditikam itu bukanlah hati Jesus, melainkan hati atau jiwa Maria. Hal ini menjadi lambang kemartiran spiritual bagi Maria sebagai bentuk penderitaannya di kayu salib. Yesus dan Maria sama-sama menderita dan mati dalam peristiwa salib.

Cara pandangan seperti ini dianggap penting karena ada dua ide atau peristiwa yang penting dihayati. Pertama, secara ragawi, terdapat kemiripan antara Yesus dan Maria. Kedua, alasan bahwa penderitaan adalah hal yang baik bagi jiwa dan pada akhirnya menghantar kedekatan individual menuju keselamatan. Maria turut menderita karena penderitaan Puteranya. Cintanya pada Sang Putera menunjukkan kesatuannya dengan Yesus dalam penderitaan. Peristiwa ini (dengan makna yang dalam) menunjukkan bahwa Maria sungguh-sungguh bunda Kristus dan Gereja.

Ketika Maria diserahkan kepada Yohanes, sebagai perwakilan Para Rasul, sebagai ibu-nya, Dia sedang memberikan Maria kepada kelompok orang-orang yang percaya (yang kemudian menjadi Gereja). Penderitaannya di kaki salib, yakni penderitaan seorang ibu yang kehilangan anaknya, menggambarkan Maria turut ambil bagian dalam peristiwa tersebut. Dalam hal ini, dengan meneladani tindakannya, Maria ’mengizinkan’ orang-orang Kristen menjadi lebih dekat dengan Kristus. Jika mereka sanggup merasakan penderitaan dan rasa empatinya, mereka juga bisa dekat dengan Kristus. Hal inilah yang menjadi ciri kemartiran spiritual yang dapat diperoleh oleh setiap orang Kristiani, sekalipun mereka tidak dapat menanggung penderitaan Kristus yang sesungguhnya. Maria dipandang sebagai teladan kesalehan bagi orang-orang Kristiani, terutama dalam mengalami penderitaan yang dilaluinya. Dengan meneladan Maria, orang Kristen mampu memperoleh kedekatan dengan Kristus dan dengan demikian mengalami kedekatan dalam keselamatannya. Penderitaan dipandang sebagai bagian yang bersifat produktif dalam perjalanan menuju Allah. Rasa sakit dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran jiwa. Tujuannya ialah untuk meneguhkan orang-orang Kristiani (Gereja) untuk bertindak seperti Maria.

Paham lain yang berkembang di abad Medieval sehubungan dengan devosi kepada Bunda Maria ialah gelarnya sebagai pengantara (mediatrix) antara Kristus dan Gereja. Istilah ini memiliki dua arti yang berbeda. Yang pertama mengacu pada peran yang dimilikinya dalam peristiwa Annunciation, yakni fiatnya. Melalui peristiwa inkarnasi, rencana keselamatan Allah terjadi melalui diri Yesus Kristus. Dengan menyebutnya sebagai sebagai tempat suci dan juga bait kehidupan dan penebusan semua manusia, Maria secara langsung terkait dengan sejarah keselamatan. Hal ini sesuai dengan model pengantara dari hubungan Maria dan Gereja. Pengertian kedua berasal dari paham mengenai peran Maria sebagai ibu yang berdukacita dan sebagai ibu yang sederhana, perawan, dan yang penuh kasih. Sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja-Nya, Maria bertindak sebagai pengantara demi kepentingan orang-orang Kristen di hadapan penghakiman Puteranya, Sang Penyelamat. Sebagai pengantara (mediatrix) Bunda maria terlibat dalam peristiwa keselamatan Gereja.

Dalam hal ini, Bernardus menggambarkan Gereja sebagai Bulan dan menempatkan Maria di atasnya, terpisah dari Gereja. Gereja memohon dengan perantaraannya, rahmat dari Puteranya, seolah-olah Gereja tidak dapat melakukannya tanpa pertolongan Maria. Hal ini bisa dipahami karena Maria telah lebih dahulu menerima rahmat Allah dan pada akhirnya turut bertindak dalam membangun Gereja. Gereja turut diselamatkan karena tindakan Maria. Tentang hal ini, dalam pengajarannya, Bernardus menyebutkan, “Dia adalah pengantara kita, yang melalui dirinya, kita memperoleh rahmat Allah dan melalui dirinya, kita menerima Yesus di rumah kita”. Baginya, Maria menyediakan rahmat Allah dan belas kasih Puteranya bagi Gereja.

Gambar-gambar religius (di abad medieval) yang umum digunakan untuk kegiatan-kegiatan devosi ialah pemahkotaan Maria di surga. Secara tradisional, hubungan antara Maria dan Gereja tampak dalam suatu keyakinan bahwa Maria menjadi perwakilan dari Gereja dalam gambar tersebut. Gambar Maria ini cocok dengan gelar mediatrix, yakni menempatkan Maria sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja. Dia berada di samping Kristus. Cintalah yang membuat Maria menuntun, membimbing dan melindungi Gereja, menyatu dengan kemuliannya di surga. Cinta dan perlindungannya berasal kekuatan dan rahmat Allah. Melaluinya, kita telah menerima rahmat Allah dan juga mampu menyambut Tuhan Yesus di rumah kita.

Bernardus yakin bahwa selama Gereja melakukan tindakaan-tindakan seturut kehendak Allah dan tetap meneladan Maria sebagai pengantara, yang ditahtakan di surga dan dianugerahi  oleh rahmat Allah, mereka tidak akan dibiarkan menderita dan sendirian. Hal ini meningkatkan keyakinan Bernardus mengenai pandangannya mengenai Maria sebagai “Bintang Laut”, gambaran Maria sebagai pelindung bagi mereka yang tersesat di laut atau terancam badai laut. Hal ini menjadi kiasan akan Gereja yang sedang melalui masa-masa sulit.

[1]Nubuat tersebut terdapat dalam Kitab Yesaya yang mengatakan,  “sebuah tunas akan tumbuh dari tunggul Isai” (Yes. 11:1).


Fr Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI; lahir di Purbasaribu, 27 September 1989. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Oblat Maria Imakulata (OMI) Yogyakarta. Beliau adalah asisten pemimpin rohani Komisium Bintang Timur Bogor tahun 2014-2015.

Seks & Orang Muda Katolik : Yuk Diskusi!

SEKS & ORANG MUDA KATOLIK: YUK DISKUSI!

Bicara soal seks bukanlah hal yang tabu lagi. Bukan karena ikut arus dalam dunia modern melainkan agar orang muda sadar, paham, dan mampu memilih dengan tepat. Berikut sebuah cuplikan pengalaman nyata. Apakah semudah itu hanya mengatakan ini benar dan itu salah?

***

  1. Sore itu, saya menerima sebuah pesan singkat dari seorang teman. “La, aku mau tanya. Aku punya adik sepupu… Itu merasa tidak pede gara-gara diejek belum sex. Anak tunggal. Ngomonginnya gimana ya? Tapi jangan ngomongin rohani-rohani ya, dia belum kenal Yesus…

Mari kita merefleksikan sejenak. Apa jawaban kita?

Apa opini kita tentang seks? Dari mana kita tahu tentang seks dan seputarnya? Apakah hal tersebut masih tabu dibicarakan dengan orang tua dan pembimbing kita di komunitas? J

Di satu sisi, sebagai kontras mari kita merefleksikan sebuah kisah lain yang mungkin sebagian besar dari kita sudah pernah membacanya.

  1. Bacaan dari Injil Yohanes 8:1-11.

“…tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

 

Tentu kita memiliki macam-macam perasaan, pikiran, dan reaksi terhadap bacaan Injil di atas. Banyak tokoh di sana. Ada (1) ORANG-ORANG Farisi dan (2) AHLI-AHLI Taurat, ada (3) Tuhan Yesus, ada (4) rakyat, dan ada (5) perempuan yang kedapatan berzinah. Pernahkah kita juga mendengar respon-respon seperti ini dan sejenisnya dalam kaitannya dengan nasihat terhadap orang muda dan seks?

 

  1. “Itu kan tidak baik (dosa). Kalau anak Tuhan tidak boleh berbuat begitu” atau “Nanti siapa yang mau bertanggung jawab?” atau “Ah, itu urusan mereka.”

 

Ada 1001 reaksi. Mulai dari nasihat bijak, gosip, cuek, sampai teguran keras dan tudingan. Lalu, apa yang dapat kita lakukan?

 

Dalam sebuah buku kecil, Spiritual Works of Mercy (Grogan, 2015, p.30) memberikan sebuah nasihat tentang teguran dalam kaca mata iman Katolik, “First of all with a motive of love; and secondly, with an acute awareness of our own sinfulness, which includes gratitude to the Lord for rescuing us and restoring us to Himself out of sheer mercy. And thirdly, praying first for the gift of counsel for ourselves!” Secara bebas, dapat diterjemahkan bahwa untuk membimbing seseorang, pertama-tama adalah dengan motivasi cinta kasih. Kedua, dengan kesadaran akan dosa kita sendiri, termasuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita dan memulihkan kita karena rahmat-Nya. Ketiga, terlebih dahulu berdoa untuk karunia Roh Nasihat untuk diri kita sendiri!” Tentu, itu semua berbeda dengan pandangan menghakimi atau sebaliknya apatis.

 

Dalam kisah nyata di atas, ada tips 3P untuk menjadi seorang sahabat dalam konteks pertobatan, yaitu:

  • Pray (doa)
  • Patience (kesabaran)
  • Persistence (kegigihan)

Contoh santa yang setia melakukan ini adalah Santa Monika yang berpuluh tahun mendoakan anak dan suaminya yang terjerumus dalam dosa berat. Akhirnya, anaknya menjadi seorang santo (Santo Agustinus) dan suaminya pun demikian (Santo Patrisius).

 

Jika demikian, bagaimana kita dapat berdiskusi mengenai seks dalam kehidupan orang muda? Berbicara mengenai seks dan seks bebas adalah dua hal yang berbeda. Seks adalah indah, mulia, dan suci. Bagaimana dengan seks bebas?

 

Pertama, pertanyaan yang fundamental. Apa yang dicari seseorang dari seks bebas? Kesenangan? Kepuasan? Jati diri? Kemerdekaan dan kebebasan?

Jika ya, kita dapat berfleksi mengenai hal yang terjadi dalam perjalanan hidup kita. Apa pengalaman kita tentang mengasihi dan dikasihi?

 

Kedua, seks bebas akan berakhir pada kehampaan. Jika kemerdekaan adalah hal yang dicari, maka dalam satu, dua, tiga atau beberapa kali hubungan mungkin ya. Selanjutnya, apa yang didapat?

 

Ketiga, tekanan dari lingkungan. Pada akhirnya, mengapa seseorang bergaul dengan lingkungannya? Mungkin karena di tempat lain, ia tidak diterima. Ia merasa ‘berbeda’ dan bahkan dianggap ‘salah, buruk, dan berdosa’. Jika kita merenungkan sikap Yesus, terhadap perempuan yang kedapatan berzinah, apakah Yesus menceramahi perempuan itu setelah “semuanya pergi”? Yesus tidak mengungkit-ungkit masa lalunya, Yesus tidak menasihati panjang lebar, Yesus tidak menuding. Yesus menegurnya dengan lembut. Yesus mengasihinya.

 

Keempat, hati nurani. Seseorang dapat merasakan bahwa ia dikasihi. Dalam lubuk hatinya, biasanya sebagian besar orang sudah mengetahui hal baik dan buruk. Apa yang mereka butuhkan? Lagi-lagi, cinta kasih dan kelembutan. Kelembutan DAN kerendahan hati. Itulah kekuatan kasih seorang ibu. Mengapa Bunda Maria begitu dicintai? Apakah kita bisa memancarkan hal itu?

***

Jadi, apakah hubungannya semua diskusi di atas dengan seks dan orang muda Katolik? Kesimpulannya singkat. Seks adalah indah dan suci. Orang muda Katolik melihat seks bukan hanya soal benar dan salah. Akan tetapi, tentang kebahagiaan dan tujuan hidup. Seks bebas tidak berujung. Justru, dengan saya berani memilih, saya bebas. Bebas mengikuti kebahagiaan sejati yang memang berhak saya dapatkan. Bebas menjadi seseorang yang berhak memiliki masa depan yang indah. Dalam kaca mata iman, saya memilih untuk mengikuti kebahagiaan dari Kristus. Mari kita saling mengasihi dan menguatkan dalam Kristus. Ave Maria. (MSCP).

 

DAFTAR PUSTAKA

Grogan, P. (2015) Spiritual Works of Mercy. Aberdeen: Catholic Truth Society Publishers