Bagaimana Sikap Kita Terhadap Pengakuan Dosa ?

Oleh Ignas Permenas Gumansalangi.


Banyak pertanyaan yang membahas mengenai seberapa penting sakramen tobat bagi kita. Tidak jarang di era sekarang ini remaja bahkan orang dewasa mendapatkan pertanyaan yang menguji iman, seperti, “Toh manusia tidak luput dari dosa yang berarti dengan sakramen tobat tidak berarti menjamin manusia tidak akan terbebas sepenuhnya dari godaan dosa, yang pada akhirnya akan jatuh kembali dalam dosa itu sendiri bahkan tak jarang layaknya keledai yang sering kali jatuh dalam lubang yang sama.” Pertanyaan tersebut cukup menjamur dan menjadi alasan bagi sebagian orang beriman menunda dalam merespon pelayanan sakramen tobat dengan alasan diadakan rutin setiap tahun. Mirisnya, dalam kondisi yang sebaliknya, di tengah kehendak bebas manusia yang semakin menjerumuskan pemikiran bahwa jatuh dalam dosa adalah hal yang tidak terelakan, manusia seakan sangat mengandalkan pengakuan dosa “Yang penting masih akan ada pengakuan di gereja”.

Kehidupan yang semakin berkembang dengan banyaknya tuntutan dan kompleksnya keinginan manusia menjadikan sebagian besar orang akan lunak dengan kehendak bebas. Banyak hal yang menjauhkan orang dari Tuhan oleh karena keinginan duniawi. Manusia yang terus terjerat oleh sifat menunda-nunda semakin terbawa arus perkembangan global dan melupakan sumber dan asal manusia yang sesungguhnya.

Beragam cara pandang manusia dalam menanggapi dosa itu sendiri, tidak jarang rasionalisasi atas dosa sering terjadi dengan menganggap yang dilakukan adalah hal biasa dan dapat ditolerir. Lingkungan menjadi salah satu penyebab besarmya rasionalisasi yang dilakukan sebagai upaya menghilangkan perasaan bersalah.

Menurut Gereja Katolik, dosa sendiri dibagi menjadi dua kategori yakni dosa berat dan dosa ringan. Apapun kategori dosa tersebut tidaklah kurang dari perilaku yang menyakiti hati Allah, Efesus 4:31 “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.”

Di tengah tanda tanya dunia yang tidak ada batasnya, Gereja Katolik menawarkan sakramen yang mengantar manusia untuk kembali menemukan jalan dan berada pada keselamatan. Melalui doktrin tentang EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus) yang mana pengertiannya melalui Konsili Vatikan ke II diartikan sebagai “Keselamatan datang dari Kristus Melalui Gereja Katolik”, menjelaskan bahwa Gereja Katolik mengambil bagian dalam menuntun orang memperoleh keselamatan. Rumusan ini didasarkan pada Yohanes 14:6 (Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”). Kristus sebagai Kepala Gereja, Kristus tidak pernah terlepas dari Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya.

Setiap orang membutuhkan asupan gizi secara rutin dan teratur untuk menjaga kebugaran jasmaninya, begitu juga orang membutuhkan bimbingan rohani serta penitensi dalam sakramen tobat sebagai asupan rohani agar tetap menjaga kebutuhan rohaninya. Bukan hanya soal dosa apa yang telah diperbuat sehingga membutuhkan sakramen tobat, akan tetapi seberapa mampu kita dapat merendahkan hati bahwa kita manusia yang berdosa. Merendahkan hati membutuhkan penyadaran diri, dimana yang mana prosesnya melalui penelitian batin. Penelitian batin adalah sikap yang paling mendasar dan penting.

Dalam perjalanannya, sakramen tobat sering juga disebut dengan beberapa nama atau sebutan lain yang mana melalui istilah yang ada terkandung makna dari sakramen tobat itu sendiri. Beberapa sebutan atas sakramen tobat antara lain :

1. Sakramen Tobat

Penyebutan sakramen tobat didasarkan pada konsili vatikan ke II (lih. Sacrosanctum Concilium, No. 72; Lumen Gentium, No. 11). Dalam penyebutan sakramen tobat hal yang mau ditekankan ialah tobat dan orang beriman yang bertobat.

2. Sakramen Pengakuan Dosa

Dalam penyebutan sakramen pengakuan dosa hal yang mau ditunjukan adalah orang yang mau bertobat menyatakan sikap tobatnya kepada Allah. Dengan kejujuran serta kerendahan hati mau mengakukan dirinya sebagai orang yang berdosa dan membutuhkan kerahiman Allah.

3. Sakramen Pengampunan Dosa

Disebut sebagai sakramen pengampunan dosa karena dosa-dosa yang telah di akukan dengan penuh kejujuran dan kerendahan hati melalui absolusi imam secara sakramental telah diampuni oleh Allah sendiri.

4. Sakramen Pendamaian (rekonsiliasi)

Melalui pengampunan yang diterima oleh pentobat, Allah sendiri memperdamaikan pentobat dengan Diri-Nya dan Gereja. Berdasarkan Lumen Gentium, No. 11 “mereka yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan Allah adalah ungkapan cinta-Nya yang mendamaikan”. Sesuai dengan 2 Korintus 5:20 “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah”.

5. Sakramen Penyembuhan

Melalui sakramen tobat kita diberikan rahmat penyelamatan dan penyembuhan atas jiwa dan raga.

Gereja sebagai Tubuh Kristus memberikan kesempatan setiap orang untuk dapat bertobat melalui sakramen tobat yang merupakan sarana kehadiran Tuhan dalam diri kita yang mengembalikan kita ke jalan keselamatan. Dalam pengakuan dosa orang dapat mengalami dan merasakan buah-buah rohani seperti pendamaian dengan Allah karena relasi kasih dengan Allah, pendamaian dengan sesama, disembuhkan secara utuh dari luka batin, pembebasan dari siksa abadi, dan menagalami ketenangan hati nurani (kedamaian hati).

Memperbaiki relasi dengan Allah adalah kebutuhan bagi manusia. Penyadaran diri merupakan hal yang patut dilakukan dalam perjalanan kehidupan sehari-hari. Bagi umat katolik dalam menyambut, memperingati ataupun merayakan kesempatan-kesempatan tertentu melalui penyadaran kelemahan diri dengan penelitian batin merupakan hal yang patut untuk dipupuk. Masa prapaskah, ketika umat Katolik berada dalam masa penyangkalan diri, adalah kesempatan baik untuk meneliti batin dan memperbaiki diri. Dengan adanya sakramen tobat kesempatan ini menjadi lebih istimewa karena dalam usaha menyadari setiap kelemahan dan keberdosaan kita, Tuhan mau hadir dalam diri dan hati kita melalui sakramen tobat sendiri.

Bagaimana persiapan kita dalam menerima sakramen tobat sehingga dengan utuh kita dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita ?

Dalam melakukan pengakuan dosa hal yang paling pertama untuk diperhatikan adalah ketepatan waktu kehadiran di tempat pengakuan, hal ini akan sangat membantu kita untuk dapat memeriksa suara hati secara teratur dan menyeluruh sebelum masuk ke ruang pengakuan. Berbicara dengan artikulasi yang jelas, namun tidak berarti sampai mengeluarkan suara terlalu keras. Mengakui semua dosa yang pernah dilakukan secara tulus, kemudian mendengarkan nasehat maupun penitensi dari pastor/romo. Jangan meninggalkan ruang pengakuan dosa sebelum imam menyelesaikan absolusi. Kemudian kita laraskan doa tobat, dan setelah menerima rahmat pengampunan dalam sakramen pengakuan dosa, sedapat mungkin untuk segera memenuhi penitensi yang diberikan oleh imam di luar bilik pengakuan. Sangat dianjurkan bahwa setelahnya kita dapat mendoakan doa syukur atas pengampunan (PS. 27) dan Madah “Allah Tuhan Kami” (PS. 28)

referensi: Katolisitas.org, carmelia.net


Ignas Permenas Gumansalangi adalah legioner presidium Maria Mater Dei Binus, Kuria Cermin kekudusan – Kampus.

Kenakanlah Medali Wasiat Ini..

Bandung, 30 Oktober 2017


J.M.J.F.C.A

Kepada para Legioner terkasih,
pax eT bonum

Ketika Sang Putra tersalib,
dalam erangan kesakitan
karena siksa nan ngeri
Sang Bunda berdiri di sana.
Sanggupkah seorang ibu berdiri
di tengah derita, luka menganga, darah dan air mata anaknya?
Namun di sana Maria berdiri,
di bawah Salib Yesus, berdirilah Ibu Yesus.

Lihat Sang Bunda,
di bawah Salib Yesus,
Sang Bejana Rohani menampung semua rahmat
yang tertumpah dari Sang Sumber Segala Rahmat,
buah-buah dari Salib-Nya.

Lihat kini Sang Bunda
berdiri di hadapanmu, Ratu Surga dan dunia
dengan kedua tangan terbuka
mengajak anak-anaknya datang menghampiri
guna memberi berkat dan rahmat
dari harta Bejana Hatinya
untuk dilimpahkan bagimu
segala rahmat yang ada dan diperlukan
bahkan rahmat yang tak dapat kita bayangkan
serta rahmat yang tak pantas kita dapat
agar selalu semangat dan setia dalam karya
menyalakan api cinta yang redup
menerangi nyala iman yang pudar
meneguhkan dasar harapan yang runtuh
memanggilmu pada kekudusan
dan melaluimu
mengundang semua menjadi kudus.

Bila segala terasa berat,
lihatlah di sana ia berdiri
dengan segala rahmat terbaik yang ada di Surga dan bumi.

Medali ini bukanlah jimat untuk ditaruh di dompet
bukan pula barang kenangan untuk dipajang di lemari.
Medali yang sejati akan kita dapatkan setelah perjuangan hidup usai.
Kita kini boleh mencicipinya dahulu dengan medali kecil ini.
Kenakanlah dengan bangga di lehermu,
karena kita semua adalah pejuang Maria.
Apabila senantiasa setia
apa yang kini kita cicipi dengan sederhana
semoga diganjar kemurahan Hati Tuhan
dengan medali kemenangan jaya.

Saat hidup hampa dan berat,
larilah ke kaki altar bersama Sang Bunda,
genggam erat medali itu
segarkanlah diri seperti rusa kehausan yang minum dari sumber air.
Namun lebih penting,
di saat hidup terasa ringan dan menyenangkan,
jangan lupa senantiasa berdoa melalui perantaraannya,
karena tidak jarang, ada saja rahmat yang lupa kita minta.
Dan di atas segalanya,
cintailah Bundamu itu
bermurah hatilah padanya
sapalah ia terus menerus
dalam kerapuhan cinta sederhana seorang anak
melalui untaian mawar abadi
“Salam Ibu, halo mama, hai bunda…”
dengan Rosariomu itu.

Majulah Laskar Maria
teladanilah Bundamu
berjuang di bawah panjinya takkan sia-sia.
Medali ini adalah doa,
doa terus menerus,
dan janganlah jemu berseru:

“Oh Maria dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang berlindung padamu!”


Salam,

L. Benedictus Giuseppe-Maria

Berbuatlah Sesuatu Bagi Para Jiwa-Jiwa di Api Penyucian

Dalam Syahadat Para Rasul, kita selalu mengucapkan : “Aku percaya akan Persekutuan Para Kudus”. Istilah “Persekutuan Para Kudus” (Latin : Communio Sanctorum) dimasukkan pada abad ke-4 dalam rumusan syahadat, dan dapat juga dimaknai sebagai “partisipasi dan saling berbagi dalam hal-hal yang kudus : iman, Sakramen-Sakramen, karisma, dan anugerah spiritual yang lainnya”.

Gereja pada dasarnya adalah persekutuan rohani antara umat beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan menjadi sehati sejiwa. Maka istilah “persekutuan para kudus” menunjukkan Gereja dari segala zaman, dan bukan hanya suatu persekutuan yang bersifat lahiriah atau sosial saja.

Yang dimaksud sebagai Gereja adalah : kita yang masih berjuang di dunia ini; mereka yang tengah mengalami proses pemurnian di api pencucian dan membutuhkan doa-doa kita; dan mereka yang sudah masuk dalam Kemuliaan Allah yang mendoakan dan menjadi perantaraan kita. Semua ini membentuk satu keluarga di dalam Kristus untuk memuji dan memuliakan Allah. Pemahaman ini amatlah menggembirakan dan memberikan harapan bagi kita, karena persekutuan ini menunjukkan bahwa kita yang masih berjuang di dunia ini secara rohani tidak terpisah dengan orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia.

Mungkin selama ini kita menganggap maut sebagai suatu terror yang mengerikan. Kematian dipandang sebagai suatu akhir, suatu perpisahan yang abadi. Kematian menjad suatu batas yang tak bisa ditembus. Kematian adalah satu-satunya hal yang pasti dalam sebuah kehidupan, karena semua yang hidup pasti akan mati. Maut adalah kenyataan bahwa hidup kita terbatas dan fana, meskipun bukan tanpa makna. Dalam waktu hidup yang hanya sementara ini kita diberi kesempatan untuk membentuk sikap kita kepada Tuhan, membuktikan kepercayaan kita, meskipun kita tak melihat Tuhan. Maut membawa kita pada kesadaran kehidupan yang abadi dan bahwa kita selalu hidup di hadapan Tuhan. 

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa setelah kematian, jiwa kita yang tak dapat mati akan menghadapi pengadilan Allah, dan setiap orang akan menerima pembalasan sesuai dengan iman dan perbuatannya. Pembalasan ini bisa berarti masuk ke dalam kebahagiaan surga secara langsung atau seteah melalui proses pemurnian di api pencucian, atau masuk ke dalam kutukan kekal di neraka. Surga adalah keadaan bahagia yang tertinggi bagi mereka yang mati dalam keadaan rahmat Allah dan tidak memerlukan pemurnian lebih lanjut untuk berkumpul bersama dengan Yesus dan Maria, para malaikat, dan para orang kudus. Mereka akan melihat Allah “muka dengan muka” (1 Kor 13:12). Neraka adalah kutukan kekkal bagi mereka yang mati dalam keadaan dosa berat karena pilihan bebas mereka sendiri. Penderitaan terberat bagi mereka adalah keterpisahan kekal dari Allah, padahal Allah adalah sumber kehidupan dan  kebahagiaan yang merupakan tujuan dan kerinduan kita.

Sedangkan mereka yang mati dalam persahabatan dengan Allah namun belum disucikan sepenuhnya, masih memerlukan satu proses pemurnian untuk dapat masuk ke dalam kergembiraan surga. Gereja menamakan proses pemurnian itu sebagai purgatorium (api penyucian). Penderitaan yang dialami oleh jiwa-jiwa di api penyucian adalah perasaan kehilangan Tuhan dan sesal batin yang tak kunjung henti. Penderitaan ini bukanlah penderitaan fisik, namun jiwa merasakan kesakitan kesadaran karena tak bisa menggapai kebahagiaan surgawi akibat terkurung oleh nyala api, yang diistilahkan oleh Santo Alfonsus Ligouri sebagai “kesakitan karena ketidakmampuan melihat Allah” dan “kehampaan kerinduan atas surga”. 

 

Sebagai satu keluarga Gereja, mereka yang tengah mengalami kerinduan akan Allah di api penyucian itu sangat membutuhkan doa-doa dan pengorbanan kita yang masih berjuang di dunia ini. Para jiwa di api penyucian tak dapat menolong diri mereka sendiri karena waktu untuk memanfaatkan karunia Allah telah berakhir ketika mereka meninggal. Kita yang masih hiduplah yang masih mempunyai waktu untuk mendapatkan dan memanfaatkan karunia Allah. Lantas apa yang bisa kita lakukan bagi mereka? 

1. Mempersembahkan Misa 

Ini adalah cara yang paling ampuh untuk menolong jiwa-jiwa di api penyucian. Dalam misa kudus, Yesus sendiri yang mempersembahkan dan mengurbankan diri-Nya bagi kita. Manfaat misa kudus bagi mereka yang telah meninggal adalah sama besar bagi mereka yang sangat menghargai misa kudus selama hidup mereka.

Misa kudus sebagai kurban dipersembahkan bagi mereka yang hidup dan mati untuk pengampunan dosa semua orang dan untuk mendapatkan anugerah rohani dan jasmani dari Allah. Gereja di surga juga dipersatukan dengan persembahan Kristus ini.

2. Berdoa Rosario

Doa Rosario yang dipersembahkan bagi orang yang telah meninggal merupakan doa yang sangat berguna untuk mohon keringanan dan pembebasan penderitaan jiwa-jiwa di api penyucian. Melalui Rosario, banyak jiwa-jiwa dibebaskan dari api penyucian setiap tahunnya. Santo Alfonsus Ligouri mengatakan, “Berdoa Rosario adalah cara yang baik untuk menghibur jiwa-jiwa di api penyucian.”

Dalam penampakan Bunda Maria di Fatima pada 13 Juli 1917, Bunda Maria meminta agar kita berdoa Rosario supaya orang-orang terbebas dari api neraka. Untuk maksud tersebut, maka setelah selesai satu mendoakan satu peristiwa Rosario, ditambahkan doa singkat yang kita kenal sebagai Doa Fatima :

“Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka,dan hantarlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terutama mereka yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu.”

Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja datang ke api penyucian untuk membebaskan jiwa-jiwa, bahkan jiwa-jiwa tersebut memanggil Bunda Maria dengan sebutan Bunda Kerahiman. Bunda Maria sendiri pernah berpesan pada Beato Alain de la Roche, “Akulah Bunda dari jiwa-jiwa di api penyucian dan setiap doa yang ditujukan kepadaku akan meringankan penderitaan anak-anakku.”  

 

3. Berdoa Jalan Salib dan merenungkan sengsara Yesus

Doa ini mengajak kita untuk merenungkan sengsara Yesus Kristus, dan dengan merenungkannya kita diajak untuk sedikit demi sedikit membenci dosa dan menginginkan keselamatan bagi semua orang. Kecenderungan hati ini membaa penghiburan besar bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

4. Mendoakan doa-doa  gubahan para kudus untuk jiwa-jiwa di api penyucian, antara lain doa Santa Gertrudis, doa Santa Mathilda, doa Santa Brigita, doa Santa Bridget dari Swedia, dan banyak doa-doa lain yang bisa kita panjatkan bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Mereka yang di api penyucian sangat bergantung pada doa-doa kita, maka jika kita tidak berdoa bagi mereka, mereka sama sekai ditelantarkan.

Bunda Maria pada penampakan di Medjugorje pada 6 November 1986 menyampaikan pesan untuk berdoa setiap hari bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

5. Mempersembahkan segala penderitaan, penitensi, mati raga, pantang puasa, dan pengorbanan pribadi kita untuk menolong jiwa-jiwa yang malang di api penyucian. Penderitaan kita di dunia dapat membuat kita bertumbuh dalam kasih, maka jika kita menjalani segala penderitaan dan pengorbanan itu dengan sabar, rendah hati, dan dipersatukan dengan sengsara Yesus dengan menaruhnya ke dalam tangan Perawan yang Terberkati, maka semuanya itu akan memiliki kuasa untuk menolong banyak jiwa.

6. Rajin mengupayakan untuk memperoleh indulgensi, entah penuh ataupun sebagian bagi diri sendiri, maupun bagi orang-orang yang telah meninggal. Mengenai aturan mengenai indulgensi dapat dibaca disini

Doa-doa dan pengorbanan kita bagi jiwa-jiwa di api penyucian tidak akan sia-sia. Mereka yang terbebaskan dari api penyucian dan masuk ke dalam surga karena doa-doa kita pasti tidak akan melupakan kita. Mereka akan mendoakan mereka dalam perjuangan kita di dunia ini dan juga jika kita mengalami pemurnian di api penyucian nanti.  Inilah bentuk bukti cinta kasih yang satu dan sama dalam Gereja. Kasih yang tak berkesudahan inilah yang menjadi jembatan antara kita yang masih hidup di dunia ini dengan mereka yang telah meninggal. 

Referensi :

-. 2007. Rahasia Jiwa-Jiwa di Api Penyucian. Jakarta : Marian Centre Indonesia.

Djokopranoto, R. 2013. Misteri Api Penyucian. Jakarta : Penerbit OBOR.

Konferensi Waligereja Indonesia.2008. Iman Katolik (Buku Informasi dan Referensi). Jakarta : Penerbit OBOR dan Kanisius.

Susanto, Harry, SJ (Penterjemah). 2011. Kompendium Katekismus Gereja Katolik. Yogyakarta : Kanisius.


Disusun oleh Tim Website Senatus Bejana Rohani.

Kekuatan Rosario

“Rosario adalah senjata ampuh untuk mengusir setan-setan dan menjaga diri dari dosa … Jika Anda menginginkan kedamaian di dalam hati Anda, di rumah Anda, dan di negara Anda, berkumpullah setiap malam untuk mendoakan Rosario. Jangan sampai satu hari pun berlalu tanpa Anda mendoakannya, betapa pun Anda merasa terbeban dengan banyaknya persoalan dan kerja keras”

– Pope Pius XI

Kita hidup di zaman modern yang memilki begitu banyak tantangan dan krisis, termasuk juga krisis iman. Banyak keluarga Katolik pun mengalami keputusasaan dan kekhawatiran yang menggoyahkan iman. Akan tetapi, walaupun tantangan itu begitu kuat, kita diberikan senjata oleh Allah Bapa melalui peran Bunda Maria dalam doa Rosario Suci. Doa Rosario adalah “ringkasan Injil”, karena di dalamnya dirangkai dan direnungkan sejarah keselamatan yang dipaparkan dalam Injil.

Kekuatan doa Rosario sangat luar biasa. Banyak keajaiban yang tak terhitung jumlahnya, serta kemenangan iman yang telah diperoleh dan menjadi sumber rahmat bagi Gereja Katolik. Sangat sayang jika umat enggan mendoakannya karena doanya yang panjang, padahal rahmat sangat melimpah di balik doa yang memang memiliki unsur meditatif ini.

Sejarah diadakannya bulan Rosario di bulan Oktober berawal dari kemenangan militer yang didapat dalam pertempuran Lepanto saat itu, negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman, sehingga agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Paus Pius V memerintahkan umat Katolik untuk berdoa rosario untuk memohon dukungan doa Bunda Maria. Perintah ini dilakukan oleh Don Juan (John) dari Austria, komandan armada dan oleh umat Katolik di seluruh Eropa. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario tanpa henti dari subuh hingga petang di Basilik Santa Maria Maggiore. Walaupun tampak mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut.

Pertempuran Lepanto, 7 Oktober 1571

Doa Rosario sendiri terbentuk setahap semi setahap. Digunakannya ‘butir-butir’ sebagai alat bantu doa juga merupakan tradisi sejak jaman Gereja awal, atau bahkan sebelumnya. Pada abad pertengahan, butir-butir ini dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria di biara-biara. Tradisi mengatakan bahwa St. Dominic (1221) adalah santo yang menyebarkan doa rosario, seperti yang kita kenal sekarang. Ia berkhotbah tentang rosario ini pada pelayanannya di antara para Albigensian yang tidak mempercayai misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, tujuan utama pendarasan doa rosario adalah untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus.

Tak terhitung banyaknya penampakan Bunda Maria yang menyerukan keluarga-keluarga untuk berdoa Rosario sebagai senjata dalam mengalahkan si jahat, untuk kedamaian dunia, dan untuk berperang melawan kelemahan.  Kita harus berdoa dan berpuasa dengan iman yang hidup dan keyakinan yang kuat – dan tidak ada cara yang lebih baik untuk melakukan ini daripada dengan berdoa Rosario Kudus, mati raga, Ekaristi Suci, pengakuan dosa, dan membaca Kitab Suci (sumber: intisari perkataan Bunda Maria dalam penampakannya di Fatima).

Melalui doa Rosario, kita merenungkan seluruh peristiwa kehidupan Yesus Kristus bersama-sama dengan Allah Tritunggal Maha Kudus dan Bunda Maria serta para malaikat surgawi. Ada doa Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan sebagai doa minimal yang diucapkan dan menjadi mahkota mawar yang dipersembahkan bagi Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Rangkaian mawar yang terangkai setiap kali kita berdoa Rosario ini didapat dari vision Santo Dominikus.

Jadi, marilah kita belajar untuk berdoa Rosario bersama-sama maupun secara pribadi. Tidak ada kerugian apapun yang kita dapatkan untuk mendoakan Rosario, yang ada hanya rahmat dan pertolongan Tuhan dan Bunda Maria untuk iman dan hidup kita. Ave Maria.

(Cindy Permana; dari berbagai sumber)


Sesilia Cindy Permana adalah legioner dari Presidium Bunda Gereja, Kuria Teladan Kaum Beriman Grogol – Komisium Maria Immaculata Jakarta Barat II. Pernah menjabat sebagai Sekretaris 2 Senatus Bejana Rohani periode 2014-2015.

Kelahiran Bunda Maria, Awal Tersingkapnya Janji Keselamatan

Oleh RD Moses Watan Boro


Setiap tahun pada tanggal 8 September, Gereja Katolik Roma merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Seturut sejarah, mulanya pesta ini dirayakan di lingkungan Gereja Timur berdasarkan ilham dari tulisan-tulisan apokrif pada abad ke–6 dan pada akhir abad ke–7 pesta ini diterima dan dirayakan di dalam Gereja Barat Roma. Perayaan ini  mengungkapkan iman Gereja akan kehadiran Santa Perawan Maria dalam pentas karya keselamatan manusia oleh Allah. Pesta ini menjadi penting di dalam Gereja karena melalui kelahiran Bunda Maria-lah sejarah keselamatan itu dimulai. Dengan kelahirannya, Santa Perawan Maria mempersiapkan hadirnya Yesus, Sang Juru Selamat. Ia adalah tabut perjanjian baru yang dari padanyalah, Sang Juru Selamat dikandung, dilahirkan dan dibesarkan.

Kelahiran Santa Perawan Maria dalam sejarah keselamatan sesungguhnya telah diamanatkan oleh Allah sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Oleh sebab itu, ia juga sering disebut sebagai Hawa baru. Hawa yang lama membawa manusia jatuh ke dalam dosa tetapi Hawa yang baru membimbing manusia kepada keselamatan. Hadirnya Hawa baru ini telah diwartakan oleh para nabi dari zaman ke zaman dan dari masa ke masa. Inilah janji keselamatan yang dimaklumkan oleh Allah bagi manusia ciptaanNya.

Nabi Yesaya (Yes 7:10-25) dalam pemberitaan mengenai Imanuel, mengatakan kepada Raja Ahas, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Sebutan perempuan muda atau parthenos dialamatkan pada sosok yang hadir dalam diri Santa Perawan Maria. Dari rahimnyalah dikandung dan dilahirkan Immanuel sebagai Juruselamat. Dia berasal dari turunan Daud, sebab tampuk kekuasaan Israel tidak pernah berpindah dari keturunan Daud sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah sendiri (Bdk. 1 Raj. 2:4). Maka dari itu Santa Perawan Maria adalah sosok yang dipilih oleh Allah untuk memulai rencana besar-Nya dalam menyelamatkan manusia.

Kelahiran Santa Perawan Maria tidak dikisahkan dalam kitab-kitab suci. Di dalam teks aprokrif (Protoevangelium Yakobus) ditemukan bahwa, Santa Perawan Maria dilahirkan dari pasangan suami-istri Santo Yoakim dan Santa Anne. Dalam keluarga inilah, ia dididik dan dibesarkan sebagai orang yang beriman hingga tumbuh menjadi seorang wanita dewasa dan kemudian diambil oleh Yosef sebagai istrinya. Bersama dengan Santu Yosef, mereka membesarkan Tuhan Yesus dengan penuh cinta dan menjadikan keluarga mereka sebagai Keluarga Kudus Nazareth. Bahkan dengan iman yang teguh Bunda Maria menerima setiap peristiwa yang dialami oleh puteranya Yesus mulai dari penerimaan Kabar Gembira hingga pada peristiwa di puncak Kalvari ketika ia harus memangku tubuh puteranya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Kehadiran Santa Perawan Maria dalam proyek keselamatan Allah sesungguhnya telah direncanakan sejak awal mula oleh Allah, maka kelahirannya merupakan takdir dan rencana Allah sendiri. Ia adalah wanita pilihan Allah yang telah disucikan sejak awal ia dikandung, maka perkandungannya sendiri disebut sebagai Dikandung Tanpa Noda Dosa. Allah sungguh menyiapkan Santa Perawan Maria sebagai Bejana Rohani bagi diamnya PutraNya sendiri yakni Yesus Kristus.

Moment kelahiran Santa Perawan Maria yang diperingati oleh Gereja pada tanggal 8 September ini, mengajak segenap anggota Gereja untuk melihat kembali sejarah keselamatan manusia oleh Allah yang terlaksana berkat penyerahan diri yang total dari Bunda Maria. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka kutuk Allah bagi Hawa lama yang dibinasakan oleh dosa serta maut dan mendatangkan keselamatan melalui peristiwa keselamatan melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka harapan baru bagi manusia untuk mengalami kembali belas kasih Allah, sebab Immanuel yang dikandungnya mengungkapkan kehadiran Allah dalam hidup manusia. Bunda Maria adalah jawaban atas kerinduan umat manusia yang berlangsung dari abad ke abad untuk melihat karya keselamatan yang dikerjakan oleh Allah bagi manusia. Maka peristiwa kelahiran Santa Perawan Maria merupakan tabir baru yang menyingkapkan janji-janji Allah akan datangnya Sang Juruselamat. Di sini Gereja diajak untuk menghormati Santa Perawan Maria sebagai wanita pilihan Allah yang telah dipersiapkan sejak awal mula untuk mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Juruselamat umat manusia.


RD Moses Watan Boro adalah Pastor Keuskupan Larantuka yang kini tengah menempuh studi Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Beliau juga bertugas sebagai Pastor Mahasiswa di kampus tersebut dan membantu di Paroki Maria Bunda Karmel Meruya.

Maria Mediatrix ; Bunda Maria dalam Pandangan Bernardus Clairvaux

Oleh : Fr. Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI


Bernardus dari Clairvaux (1090-1153) adalah seorang anggota Ordo Cistercian yang aktif dalam politik Gereja dan urusan birokrasi kepausan. Dia memiliki peran penting dalam pengenalan devosi kepada Bunda Maria. Paham Mariologi Bernardus didasarkan pada devosi pribadinya terhadap Maria. Cintanya terhadap Maria tidak dapat dipisahkan dari hidupnya.

Maria Model Gereja dan Mediatrix

Bernardus memandang Maria sebagai seorang figur yang patut dihormati. Perhatian pokoknya dalam diri Maria ialah mengenai kualitas keperawanan dan ketaatannya yang penuh. Karakter-karakter seperti inilah yang membuat Maria dijadikan sebagai contoh atau model bagi Gereja (type of the Church). Dia sangat menganjurkan umat untuk meniru kerendahan hati Maria. Tentang hal ini, dia mengatakan, “Jikalau kalian tidak sanggup mengagumi keperawanan Maria, persembahkanlah dirimu untuk meneladan kerendahan hatinya, hal itu akan cukup bagimu”. Bagi Bernardus, orang awam tidak diharapkan untuk meniru persis perilaku Maria dalam hal inkarnasi. Namun, pada saat yang sama, dia juga terus menyerukan suatu keyakinan umum pada masa itu, yaitu gelar “tunas” untuk Maria, yang dinubuatkan oleh para nabi[1].

Maria, melalui kesederhanaannya mampu menjalankan kesalehan dan ketaatannya. Peristiwa Maria Menerima Kabar dari Malaikat merupakan peristiwa yang menunjukkan sikap keteladanan Maria sekaligus juga sebagai awal kehidupan Yesus. Kesediaan Maria (fiatnya) dalam peristiwa itu juga menunjukkan peran yang penting demi keselamatan Gereja di masa mendatang, yakni penghiburan bagi yang susah hati, penebusan bagi yang tertindas, pembebasan bagi tawanan, keselamatan bagi semua keturunan Adam. Hal ini juga menjunjukkan aspek genetrix dari hubungan Maria dengan Gereja (eklesiologi).

Contoh keteladanan yang ditunjukkan oleh Maria, yang umum dibahas pada abad pertengahan, yaitu kisah Maria berdiri di kaki salib.  Jika peristiwa Kabar Gembira menandakan permulaaan inkarnasi dan datangnya rahmat Allah di dunia, maka, peristiwa penyaliban menandai titik atau batas akhir. Secara khusus, abad pertengahan, melalui peritiwa ini menyebut Maria sebagai Ibu Berdukacita (Mater Dolorosa). Nubuat Simeon dalam Lukas 2:35, dipandang sebagai bagian dari tantangan perjalanan Maria. Bernardus menjelaskan, ketika Jesus ditikam dengan tombak oleh serdadu, bagian tubuh yang ditikam itu bukanlah hati Jesus, melainkan hati atau jiwa Maria. Hal ini menjadi lambang kemartiran spiritual bagi Maria sebagai bentuk penderitaannya di kayu salib. Yesus dan Maria sama-sama menderita dan mati dalam peristiwa salib.

Cara pandangan seperti ini dianggap penting karena ada dua ide atau peristiwa yang penting dihayati. Pertama, secara ragawi, terdapat kemiripan antara Yesus dan Maria. Kedua, alasan bahwa penderitaan adalah hal yang baik bagi jiwa dan pada akhirnya menghantar kedekatan individual menuju keselamatan. Maria turut menderita karena penderitaan Puteranya. Cintanya pada Sang Putera menunjukkan kesatuannya dengan Yesus dalam penderitaan. Peristiwa ini (dengan makna yang dalam) menunjukkan bahwa Maria sungguh-sungguh bunda Kristus dan Gereja.

Ketika Maria diserahkan kepada Yohanes, sebagai perwakilan Para Rasul, sebagai ibu-nya, Dia sedang memberikan Maria kepada kelompok orang-orang yang percaya (yang kemudian menjadi Gereja). Penderitaannya di kaki salib, yakni penderitaan seorang ibu yang kehilangan anaknya, menggambarkan Maria turut ambil bagian dalam peristiwa tersebut. Dalam hal ini, dengan meneladani tindakannya, Maria ’mengizinkan’ orang-orang Kristen menjadi lebih dekat dengan Kristus. Jika mereka sanggup merasakan penderitaan dan rasa empatinya, mereka juga bisa dekat dengan Kristus. Hal inilah yang menjadi ciri kemartiran spiritual yang dapat diperoleh oleh setiap orang Kristiani, sekalipun mereka tidak dapat menanggung penderitaan Kristus yang sesungguhnya. Maria dipandang sebagai teladan kesalehan bagi orang-orang Kristiani, terutama dalam mengalami penderitaan yang dilaluinya. Dengan meneladan Maria, orang Kristen mampu memperoleh kedekatan dengan Kristus dan dengan demikian mengalami kedekatan dalam keselamatannya. Penderitaan dipandang sebagai bagian yang bersifat produktif dalam perjalanan menuju Allah. Rasa sakit dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran jiwa. Tujuannya ialah untuk meneguhkan orang-orang Kristiani (Gereja) untuk bertindak seperti Maria.

Paham lain yang berkembang di abad Medieval sehubungan dengan devosi kepada Bunda Maria ialah gelarnya sebagai pengantara (mediatrix) antara Kristus dan Gereja. Istilah ini memiliki dua arti yang berbeda. Yang pertama mengacu pada peran yang dimilikinya dalam peristiwa Annunciation, yakni fiatnya. Melalui peristiwa inkarnasi, rencana keselamatan Allah terjadi melalui diri Yesus Kristus. Dengan menyebutnya sebagai sebagai tempat suci dan juga bait kehidupan dan penebusan semua manusia, Maria secara langsung terkait dengan sejarah keselamatan. Hal ini sesuai dengan model pengantara dari hubungan Maria dan Gereja. Pengertian kedua berasal dari paham mengenai peran Maria sebagai ibu yang berdukacita dan sebagai ibu yang sederhana, perawan, dan yang penuh kasih. Sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja-Nya, Maria bertindak sebagai pengantara demi kepentingan orang-orang Kristen di hadapan penghakiman Puteranya, Sang Penyelamat. Sebagai pengantara (mediatrix) Bunda maria terlibat dalam peristiwa keselamatan Gereja.

Dalam hal ini, Bernardus menggambarkan Gereja sebagai Bulan dan menempatkan Maria di atasnya, terpisah dari Gereja. Gereja memohon dengan perantaraannya, rahmat dari Puteranya, seolah-olah Gereja tidak dapat melakukannya tanpa pertolongan Maria. Hal ini bisa dipahami karena Maria telah lebih dahulu menerima rahmat Allah dan pada akhirnya turut bertindak dalam membangun Gereja. Gereja turut diselamatkan karena tindakan Maria. Tentang hal ini, dalam pengajarannya, Bernardus menyebutkan, “Dia adalah pengantara kita, yang melalui dirinya, kita memperoleh rahmat Allah dan melalui dirinya, kita menerima Yesus di rumah kita”. Baginya, Maria menyediakan rahmat Allah dan belas kasih Puteranya bagi Gereja.

Gambar-gambar religius (di abad medieval) yang umum digunakan untuk kegiatan-kegiatan devosi ialah pemahkotaan Maria di surga. Secara tradisional, hubungan antara Maria dan Gereja tampak dalam suatu keyakinan bahwa Maria menjadi perwakilan dari Gereja dalam gambar tersebut. Gambar Maria ini cocok dengan gelar mediatrix, yakni menempatkan Maria sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja. Dia berada di samping Kristus. Cintalah yang membuat Maria menuntun, membimbing dan melindungi Gereja, menyatu dengan kemuliannya di surga. Cinta dan perlindungannya berasal kekuatan dan rahmat Allah. Melaluinya, kita telah menerima rahmat Allah dan juga mampu menyambut Tuhan Yesus di rumah kita.

Bernardus yakin bahwa selama Gereja melakukan tindakaan-tindakan seturut kehendak Allah dan tetap meneladan Maria sebagai pengantara, yang ditahtakan di surga dan dianugerahi  oleh rahmat Allah, mereka tidak akan dibiarkan menderita dan sendirian. Hal ini meningkatkan keyakinan Bernardus mengenai pandangannya mengenai Maria sebagai “Bintang Laut”, gambaran Maria sebagai pelindung bagi mereka yang tersesat di laut atau terancam badai laut. Hal ini menjadi kiasan akan Gereja yang sedang melalui masa-masa sulit.

[1]Nubuat tersebut terdapat dalam Kitab Yesaya yang mengatakan,  “sebuah tunas akan tumbuh dari tunggul Isai” (Yes. 11:1).


Fr Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI; lahir di Purbasaribu, 27 September 1989. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Oblat Maria Imakulata (OMI) Yogyakarta. Beliau adalah asisten pemimpin rohani Komisium Bintang Timur Bogor tahun 2014-2015.

FIGUR MARIA DALAM KITAB SUCI PERJANJIAN BARU

Tokoh utama dalam KSPB tentulah Yesus Kristus yang wafat dan bangkit. Dialah sang ‘Kabar Baik’ yang diwartakan oleh para pengarang Injil, juga terutama oleh Paulus dalam surat-suratnya. Posisi dan peranan Maria tidak langsung nampak secara jelas dalam tulisan-tulisan yang dipercaya lebih tua dibandingkan tulisan-tulisan PB lainnya, yakni surat-surat Paulus dan Injil menurut Markus.

Paulus hanya menyinggung sekali tentang seorang perempuan yang akan melahirkan Mesias, Anak Allah: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya (tòn huiòn autoȗ), yang lahir dari seorang perempuan (gynaikós) dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Harus diingat bahwa surat-surat Paulus lebih tua daripada tulisan injil yang ada. Dengan hanya menyebutkan ‘seorang wanita (=isteri)’ dan tidak menyebut nama ‘Maria’, agaknya Paulus memang tidak ingin berbicara secara khusus mengenai Maria, namun ingin menyatakan bahwa Anak Allah sungguh menjadi manusia, syukur karena peran seorang perempuan. Keberadaan seorang perempuan ini memungkinkan Allah yang Maha Kuasa menjadi sungguh-sungguh ‘manusia lemah’ seperti kita.

Selain Gal (ditulis sekitar tahun 50-60), tulisan awal PB yang juga menyinggung mengenai Maria adalah Injil menurut Markus: “Bukankah Ia [Yesus] ini tukang kayu, anak Maria (ho huiòs tēs Marías), saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon?” (Mrk 6:3). Dalam tulisan Markus (ditulis sekitar tahun 65-70) agaknya sudah ada penamaan yang lebih jelas terhadap ibu Yesus, yakni Maria. Di sini, nama Maria disinggung dalam konteks pewartaan dan pelayanan yang dilakukan Yesus.

Dalam tulisan-tulisan injil setelahnya (Mat dan Luk; ditulis sekitar tahun 80), peranan Maria dalam hidup dan karya Yesus di dunia menjadi semakin nampak: Maria melahirkan Yesus (Mat 1:18-25; Luk 2:1-7) dan Maria menjemput Yesus ketika pewartaan-Nya ditolak (Mat 12:46-50; Luk 8:19-21). Tulisan Lukas selanjutnya menunjukkan juga bagaimana Maria bersama para murid menantikan turunnya Roh Kudus (Kis 1:14). Injil Yohanes menempatkan peran Maria dalam terjadinya mukjizat pertama Yesus di pesta pernikahan di Kana (Yoh 2: 1-11). Selain itu, Yohanes memberikan kesaksian bahwa ibu Yesus hadir di bawah salib Yesus (Yoh 19:25) dan menyerahkan Maria kepada murid terkasihnya, sekaligus meminta Maria untuk menerima murid terkasih ini menjadi anaknya (bdk. Yoh 19:26-27).

Selain dalam tulisan-tulisan ini, kita kerap kali berpikir bahwa gambaran ‘wanita’ yang ada dalam kitab Wahyu adalah Maria. Para ahli sendiri tidak sampai pada kesepakatan mengenai hal ini, karena sangat dimungkinkan bahwa ‘wanita’ ini adalah gambaran untuk menunjukkan ‘Israel’ atau bahkan ‘Gereja’ sendiri.

Kesimpulan: Ada perkembangan kesadaran para penulis KSPB sendiri mengenai peranan Maria dalam hidup dan karya Yesus. Perkembangan ini agaknya tidak dapat dilepaskan juga dari perkembangan kristologi yang ada dalam KSPB sendiri (M. Schmaus). Pengarang KSPB agaknya memang ingin menunjukkan relasi yang tidak terpisah antara Maria dan Yesus, Puteranya yang terkasih.

Oleh : RD Riki Maulana Baruwarso

 

Tahun Kudus Kerahiman Allah-Momen Pengenangan Kasih Allah

Pembukaan ‘Porta Santa’ (Pintu Kudus) di Basilika St. Petrus pada 8 Desember 2015 oleh Paus Fransiskus telah mengawali Tahun Kudus Kerahiman Allah.Tahun Kudus kali ini mengangkat tema “Hendaklah kamu murah hati seperti Bapa” (Lk 6:36).

Merayakan Tahun Kudus sudah menjadi tradisi Gereja sejak tahun 1300 (Paus Bonifasius VIII). Pengenangan akan kasih Allah yang abadi kepada kita manusia dan ajakan untuk bertobat menjadi inti perayaan Tahun Kudus. Secara istimewa Tahun Kudus kali ini dilakukan tidak sesuai dengan kebiasaan 25 tahunan (seharusnya 2025). Maka, perayaan ini pun disebut Tahun Luar Biasa Kerahiman Allah (Extraordinary Jubilee of Mercy).

Paus Fransiskus merasa sangat tepat merayakan Tahun Kudus Kerahiman Allah pada saat ini. Gereja dan dunia perlu diingatkan kembali akan pentingnya ‘kasih (baca: kerahiman) dan pertobatan’. Menarik untuk disadari bahwa Tahun Kudus dibuka pada Hari Raya Bunda Maria dikandung tanpa Noda dan sekaligus peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II. Kedua momen ini dilandasi oleh semangat ‘kasih’. Dogma tentang Maria dikandung tanpa noda, yang lantas menjadi Hari Raya dalam Gereja, berbicara pertama-tama tentang kerahiman Allah kepada Maria. Allah mempersiapkan Maria untuk menjadi Bunda Yesus. Bahasa ‘kasih’ ini lantas diartikan oleh Konsili Vatikan II dengan ‘keterbukaan’ Gereja terhadap manusia, dunia dan persoalannya. Gereja ingin menunjukkan wajah pemberi harapan dan pengampunan, daripada wajah penghukum dan pengutuk. Di tengah situasi politik yang sangat panas pada pertengahan abad ke-20 (perang dingin antara Uni Soviet dan USA, pergolakan politik di negara-negara Arab), Konsili Vatikan II justru menawarkan kesegaran dan harapan.

Namun, dalam perjalanan waktu, sejarah sepertinya berulang. Tindak kekerasan dan sempitnya cara berpikir, yang disebabkan oleh karena kebekuan hati, kembali menguasai manusia. Cukup mengikuti berita mengenai situasi politik dan kemanusiaan di jazirah Arab, kekerasan yang terjadi di benua Eropa, dan juga mengenai ketegangan di antara negara-negara adi daya militer, kita akan menyadari bahwa manusia lupa akan ‘kasih dan pertobatan’.

Sayangnya, kita harus mengakui bahwa Gereja pun lupa. Semangat keterbukaan yang digulirkan oleh Konsili Vatikan II sepertinya harus terbentur kembali dengan dinding-dinding yang dingin. Apakah kita menyadari bahwa kita lebih senang berbicara tentang peraturan (boleh dan tidak boleh) daripada berbicara tentang pemahaman (mencari makna/maksud) ? Pembicaraan yang terlalu berpusat pada hukum/peraturan membuat wajah Gereja menjadi begitu dingin. Siap menghukum yang bersalah. Kita jangan meniadakan hukum/peraturan karena akan terjadi kekacauan, tetapi jangan sampai juga terlalu menekankan peraturan dan tidak membuka diri pada kemungkinan lain “di luar” peraturan (kebiasaan). Perlu diketahui bahwa sebelum pembukaan Tahun Kudus Kerahiman Allah, Paus sudah lebih dahulu mengundang para uskup sedunia untuk hadir dalam Sinode yang membahas tentang keluarga dan probematika aktualnya. Paus mengajak para uskup untuk membuka mata dan hati akan realitas ini. Paus Fransiskus mencoba mengingatkan kembali semangat yang telah berhembus dalam sejarah Gereja, yakni Kerahiman Allah.

Mungkin saja Tahun Kudus Kerahiman Allah tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan manusia dan dunia. Namun setidaknya kita perlu diingatkan kembali akan gambaran Allah yang adalah Kasih, sekaligus diingatkan akan tugas kita untuk mewartakan dan menunjukkan wajah Allah yang adalah Kasih. Tahun Kudus ini menjadi momen penuh rahmat untuk mengalami kerahiman Allah dalam pertobatan (=Sakramen Tobat), sekaligus menyatakannya dalam tindakan kita kepada sesama. Inilah makna pengenangan Kasih Allah dalam Tahun Kudus Kerahiman Allah.

Selama kurang lebih satu tahun ke depan (8 Desember 2015 s/d 20 November 2016) kita diajak untuk bergumul dalam pengalaman akan Kerahiman Allah. Selain mengajak umat untuk menerima secara teratur Sakramen Tobat, Paus Fransiskus mendorong dilakukannya ziarah ke tempat-tempat kudus. Paus menyadari bahwa tidak mudah menunjukkan kasih kepada orang-orang yang bersalah kepada kita. Ziarah adalah sebuah simbol perjalanan dan perjuangan manusia, jatuh-bangun, dalam mencintai Allah dengan mengasihi sesama.

Allah adalah Kasih. Menjadi anak-anak Allah dalam pembaptisan berarti menjadi anak-anak Kasih. Hanya dengan mengasihi, kita menegaskan identitas kita sebagai anak-anak Allah.

 

Oleh : RD Riki Maulana Baruwarso

 

 

Korona Adven / Lingkaran Adven

Lingkaran adven atau Korona Adven mempunyai empat lilin. Praktik membuat lingkaran adven ini berasal dari Jerman yang kemudian berkembang dan dilakukan di dalam gereja di banyak daerah. Berbagai makna kemudian dilekatkan pada simbol-simbol yang digunakan dalam lingkaran adven itu.

Empat lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Tiga lilin berwarna ungu, yang menyimbolkan pertobatan dan penantian. Sedangkan lilin minggu ketiga Adven berwarna merah muda, yang menyimbolkan sukacita. Minggu ketiga Adven yang disebut Minggu “Gaudete” atau Minggu “bersukacitalah”, mengajak umat untuk bersukacita karena kedatangan Sang Penyelamat semakin dekat.

Lilin dalam lingkaran adven ini dinyalakan mulai Minggu Adven pertama. Setiap minggu dinyalakan tambahan satu lilin, sehingga banyaknya lilin yang bernyala menjadi tanda progresif bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin mendekat. Hal ini mengingatkan kita untuk menyediakan palungan di dalam hati kita agar Kristus bisa dilahirkan kembali dalam diri kita. Maka, lingkaran adven menjadi bagian persiapan rohani menyambut kedatangan Sang Mesias.

Di beberapa daerah, ditambahkan lilin kelima berwarna putih yang lebih besar dan diletakkan di tengah lingkaran. Lilin putih ini melambangkan Kristus yang adalah “Terang yang telah datang ke dalam dunia” (Yoh 3:19-21). Lilin putih ini dinyalakan pada Misa malam Natal sebagai lambang bahwa masa penantian telah berakhir karena Juruselamat telah lahir.

Simbolisasi lainnya kiranya juga perlu dimengerti. Digunakan lingkaran dan bukan bentuk lain, karena lingkaran dimaknai sebagai simbol dari Allah yang abadi yang tidak mempunyai awal dan akhir. Lingkaran ini dibungkus dengan daun-daunan hijau (pakis, pinus, salam), karena hijau melambangkan hidup. Kristus adalah Sang Hidup itu sendiri. Dia telah wafat, tetapi hidup kembali dan tetap hidup.

Kedua, pada abad XVI, lingkaran adven juga dipasang dalam rumah-rumah keluarga Kristiani. Maknanya, alangkah baiknya jika setiap keluarga memasang lingkaran adven. Lingkaran ini bisa digantung atau diletakkan di atas meja. Biasanya diletakkan di tempat yang mudah dilihat oleh seluruh anggota keluarga. Lingkaran adven ikut menyemarakkan suasana dan membangkitkan semangat persiapan menyambut kelahiran Yesus dan kedatangan Kristus yang kedua pada akhir zaman.

Sumber :Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM
http://www.hidupkatolik.com/2013/03/04/lilin-adven

Asal usul Bulan Oktober ditetapkan sebagai Bulan Rosario

Penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario berkaitan dengan peristiwa pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen. Terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria.

Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto.

Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.

Sumber : katolisitas.org

http://www.katolisitas.org/faqs/mei-dan-oktober-sebagai-bulan-maria