Gerakan Transformasi Berlanjut, LDK Disambut

Oleh. Octavian Elang Diawan


Dari hari Jumat 26 Januari 2018 hingga Minggu 28 Januari 2016, di Wisma Samadi Kelender Jakarta, dilaksanakan Latihan Dasar Kepemimpinan bagi para legioner utusan berbagai dewan di lingkup Senatus Bejana Rohani.  Utusan seluruhnya berjumlah 64 orang. Mereka adalah para perwira dan anggota yang berasal dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Sumatera, dan Kalimantan. Di antara peserta hadir  Rama Yohanes Hadi Susilo dan Bruder Albertus Sigit Pramono MSF;  Masing-masing merupakan utusan Kuria  Banjarmasin dan Kuria Tanjungselor.

Kegiatan LDK meriah ini merupakan tindak lanjut gerakan transformasi Legio Maria Senatus Bejana Rohani yang di-promulgasikan di Kecamatan Talun Kenas, Medan pada tahun 2016. Gerakan transformasi ini sendiri merupakan upaya untuk menjawab tuntutan Gereja yang mengehendaki agar seluruh komponen Gereja lebih mengasah kepekaan gerejaninya (sensus ecclesieae) untuk turut serta secara total dalam sukacita dan penderitaan Gereja. Desakan ini telah lama  diserukan oleh pemimpin rohani saat itu yakni Rama Petrus Canisius Tunjung Kesuma. Tugas  beliau sebagai pemimpin rohani kini sudah digantikan oleh Rama Antonius Didit Soepartono.

Gerakan transformasi  ini menerapkan frame yang dinamakan K2O – sebagai singkatan dari Kekatolikan, Karakter Maria, dan Organisasi; karena di ketiga nilai inilah hendaknya kaki-kaki Legio Maria berpijak.

Pada faktanya, secara keorganisasian sungguh tidak mudah bagi presidium-presidium untuk mendapatkan anggota baru, mempertahankan keberadaan anggota yang ada, atau mendapatkan perwira-perwira baru yang tangguh dan visioner –  bahkan bisa datang berkumpul dalam rapat mingguan saja sudah merupakan anugerah. Memang harus diakui bahwa ada beberapa dewan yang pertumbuhan anggota legionya cukup pesat, misalnya di Kalimantan Tengah; namun secara umum dewan-dewan menghadapi kendala tersebut di atas. Atas dasar itulah maka Senatus berinisiatif menyelenggarakan LDK ini sebagai salah satu kristalisasi gerakan K2O tersebut pada ranah pengembangan organisasinya.

LDK yang diselenggarakan di Pusat Pastoral Wisma Samadi milik Keuskupan Agung Jakarta ini  dimaksudkan untuk menyentuh kesadaran karakter dasar kepemimpinan seorang prajurit, yakni: militansi,  kejujuran, kerja keras, dan kerelaan menghadapi hal-hal yang tak menyenangkan. Dengan mengembangkan nilai-nilai dasar ini diharapkan para paserta teranimasi dan termotivasi untuk kemudian menemukan strategi karya pengembangan organisasi secara kontekstual di masing-masing dewan di mana mereka berada.

Senatus  menghadirkan tim trainer dari PT. Roligio Jakarta  yang terdiri dari  tiga orang, yakni Bapak Ronald Tedjasasmita – sekaligus pemimpin tim training, Ibu Victoria Suvi, dan Bapak Joy Walla. Untuk diketahui bahwa Bapak Ronald merupakan mantan ketua Komisium Bandung dan Ibu Suvi juga seorang mantan legioner dari Bandung.  Sementara Bapak Joy adalah trainer pengembangan kepribadian  dari Surabaya.

Dari kiri ke kanan : Bpk. Joy Wala – Bpk. Ronadl Tedjasasmita – RD. Antonius Didit Soepartono – Ibu. Victoria Suvi

Para trainer menggunakan pendekatan pembinaan andragogi di mana para peserta langsung dibenamkan dalam situasi-situasi yang menuntut kedisiplinan, kepekaan, kejujuran, kerelaan, dsb. Pendekatan andragogi ini sempat mengguncang para peserta di awal pelatihan. Para peserta merasa tidak nyaman dengan gaya ‘bentak-bentak ala ditaktor’ yang ditampilkan oleh Bapak Ronald dan kawan-kawan. Bahkan secara diam-diam beberapa peserta merencanakan untuk mundur dan pulang ke daerah asal. Tetapi, memang demikianlah kelas andragogi yang cenderung menghindari bentuk seminar, diskusi, workshop, apalagi  atmosfer serba berupaya  ‘semanis mungkin untuk menyenangkan para tamu’.

Kendati pun terjadi ketidaknyamanan di hari pertama, namun keadaan ini berangsur-angsur berubah seiring berjalannya waktu. Emotional game yang dimainkan para trainer cukup berhasil membawa peserta yang semula ketakutan dalam badai ke dalam suasana landai tenang tenteram, serba menerima diri dan menerima orang lain (termasuk perilaku para trainernya yang semula disebutnya ‘kejam’).

Pada hari ketiga hadir pula  pembicara tamu dari kategorial Anthiokia-Roses,  Paroki Cengkareng dan Rama Markus Nur Widipranoto dari KKI-KWI. Kehadiran mereka turut melengkapi pelatihan ini melalui sharing bagaimana mengembangkan karya kerasulan dan memaknai kembali panggilan hidup misioner sebagai bagian utama kehidupan rohani pengikut Yesus Kristus.

Rama Antonius Didit Soepartono selaku pemimpin rohani Senatus Bejana Rohani menutup acara ini dengan misa perutusan.  Rama Didit – yang juga sebagai pastur mahasiswa KAJ – berpesan agar pelatihan ini sungguh mendorong para peserta untuk segera bergerak mengembangkan Legio Maria untuk kemuliaan Tuhan.

Duc In Altum, Mari bertolak ke tempat yang lebih dalam!

Foto-foto kegiatan LDK ini dapat diakses di laman LDK Senatus


Sdr. Octavian Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani – Indonesia Barat.

Pesan Gado- Gado Pada Penutupan Bulan Rosario

Refleksi Sdr. Junius Wijaya, OFS pada penutupan Bulan Rosario di Paroki Santo Petrus dan Paulus, Mangga Besar.


Penutupan Bulan Rosario 2017 di Paroki Mangga Besar digelar dengan tema yang berbeda dari acara-acara yang pernah diadakan sebelumnya. Kali ini para Legioner berinisiatif utk menggabungkan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) dan peringatan Sumpah Pemuda dalam acara penutupan Bulan Rosario. Alhasil diselenggarakanlah Prosesi Doa Rosario Merah Putih dengan berpusat pada teladan Keluarga Kudus Nazareth.

Tema Keluarga Kudus Nazareth pun terkait erat dengan penampakan Maria Fatima yang peringatan 100 tahunnya juga berpuncak pada bulan Oktober ini. Di mana dalam penampakannya yang terakhir kepada 3 anak gembala, Bunda Maria juga mengikutsertakan St. Yosef dan kanak-kanak Yesus yang turut memberkati dunia.

Tema keluarga juga sangat dekat dengan HPS. Diharapkan keluarga-keluarga Kristiani juga selalu menyediakan pangan sehat untuk anak-anak dan generasi muda. Oleh sebab itu dengan maksud ini, makan tandu patung Keluarga Kudus yang dibawa dalam prosesi juga dihiasi dengan aneka buah dan sayur mayur.

Akhirnya kesatuan dalam Keluarga Kudus Nazareth diharapkan juga menjadi inspirasi bagi kesatuan bangsa Indonesia, sebagaimana yang diikrarkan pada Sumpah Pemuda 89 tahun yang lalu. Untuk mengungkapkan tekad ini, maka umat mempersembahkan bunga mawar merah dan putih untuk ikut menghiasi tandu Keluarga Kudus Nazareth.

St. Teresa dari Kalkuta pernah berkata “Apa yang dapat Anda lakukan untuk mempromosikan perdamaian bagi  dunia? Pulanglah dan cintailah keluarga Anda.” Perdamaian selalu dimulai dari keluarga. Maka semoga keluarga-keluarga Kristiani meneladani Keluarga Kudus Nazareth dalam hal kesatian, kesetiaan, keharmonisan, dan saling peduli agar menjadi berkat bagi kesatuan dan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menuju kemakmuran dan kesejahteraan yang semakin merata.
Terpujilah Keluarga Kudus.. Yesus, Maria, Yosef.. sekarang dan selama-lamanya.


Sdr. Junius Wijaya, OFS adalah seorang anggota Ordo Fransiskan Sekular yang juga menjadi Asisten Pemimpin Rohani Presidium Pohon Suka Cita dan Presidium Maria Tak Bernoda, paroki Santo Petrus Paulus Mangga Besar.

Legio Maria Menguatkan Identitas Gereja Katolik

Sepenggal Catatan dari Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati Palangka Raya, 17 September 2017


Ave Maria, Proficiat dan Puji Tuhan! Atas penyertaan Bunda Maria dan restu dari Allah Roh Kudus, maka pada Minggu, 17 September 2017, telah terlaksana Rapat Perdana Dewan Komisium Ratu Segala Hati Keuskupan Palangka Raya. Momen ini adalah tonggak sejarah karena inilah rapat perdana setelah Dewan Kuria Ratu Segala Hati dinaikkan statusnya menjadi Dewan Komisium. Komisium ini mensupervisi Dewan Kuria Bunda Pemersatu- Sampit, calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito dan 13 Presidium tergabung.

Tiga orang perwakilan dari Senatus Bejana Rohani, yaitu Sdr. Petrus Suriutomo (koresponden Komisium Ratu Segala Hati), Sdri. Audrey Isabella (Wakil Ketua Senatus) dan Sdri. Laurensia Jeny T. Dewi (Ketua Senatus) berkesempatan hadir dalam rangkaian rapat perdana Komisium, 16-17 September 2017 di kota Palangka Raya.

Senatus Bejana Rohani sebelumnya telah mengesahkan peningkatan status Dewan Kuria Ratu Segala Hati menjadi Komisium pada Rapat Senatus ke 365 tahun ke-30, 10 September 2017 setelah mengadakan peninjauan selama  kurang lebih 2 hingga 3 tahun. Pengesahan ini telah mendapatkan ijin resmi dari Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF selaku Uskup Keuskupan Palangkaraya, serta dari Dewan Konsilium Morning Star, Dublin Irlandia.


Audiensi dengan Mgr. AM. Sutrisnaatmaka MSF – Uskup Keuskupan Palangkaraya

Dalam setiap kunjungan Legio Maria Senatus ke Palangka Raya, kami biasanya memberikan informasi jadwal kunjungan kami kepada Bapa Uskup beberapa hari sebelumnya dan kami selalu meminta waktu untuk sowan dengan beliau.  Luar biasanya adalah, selama beliau ada di rumah (keuskupan), beliau tak pernah menolak berjumpa dengan kami. Demikian pula pada 16 September lalu, di tengah suasana hujan, kami diterima dengan penuh kehangatan, keramahan dan canda.

Kami menyampaikan tujuan kehadiran kami dan beliau sangat mendukung dengan penuh sukacita karena telah diberikan kepercayaan lebih besar dengan keberadaan Dewan Komisium di Keuskupan Palangka Raya. Beliau sangat mensyukuri dan mengapresiasi kehadiran dan peranan Legio Maria dalam karya kerasulan di Palangka Raya, khususnya semangat siap sedia bertugas dan membantu pastor paroki setempat, misalnya dalam melayani memimpin ibadat di stasi-stasi jika Pastor tidak dapat hadir; memimpin ibadat Rosario, dan lain-lain. Selain itu Mgr. Sutrisnaatmaka dengan bangga mengatakan bahwa

Legio Maria, khususnya di keuskupan Palangka Raya, adalah penguat identitas Gereja Katolik.

Oleh karena itu, Legio Maria dirasa sangat penting untuk hadir dan berkembang di tengah-tengah umat.

Beliau berjanji untuk terus mendukung perkembangan Legio Maria dan terus mengingatkan kepada para pastor untuk ikut serta mempromosikan Legio Maria sehingga bisa tersebar di semua paroki di Keuskupan Palangka Raya dan menjadi sarana mewujudkan kemuliaan Allah di atas dunia.


Rekoleksi presidia tergabung di Komisium dan calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito

Setelah beraudiensi dengan Bapa Uskup, kami bertiga menuju ke Gereja Maria Diangkat ke Surga (Katedral) untuk mengikuti agenda berikutnya, yakni Rekoleksi dalam rangka HUT Legio Maria ke-96 yang dibawakan oleh Pastor Anton Rosari, SVD dengan mengangkat tema “Bersyukur dan melayani bersama Maria”.

Rekoleksi ini dihadiri oleh sekitar 100 legioner. Meskipun cuaca hujan, namun tak menyurutkan legioner untuk mengikuti rekoleksi, khususnya para legioner dari Barito dan sekitarnya, yang harus menempuh perjalanan 4-5 jam. Dari wilayah dalam kota Palangka Raya, terdapat sekitar 30 orang legioner muda yang hadir dan Pastor Anton pun tidak mengira banyak orang muda yang ikut Legio Maria.

Rekoleksi ini mengajak kita untuk melihat tiga fase perjalanan Legio Maria : Sejarah Legio Maria pada awal berdirinya di tahun 1921, Legio Maria masa kini, dan Menatap Masa Depan. Tuhan telah membimbing Legio Maria selama 96 tahun dan ini adalah suatu anugerah yang luar biasa. Bagaimana kita mampu melanjutkan karya ini di tengah berbagai macam tantangan? Salah satunya adalah dengan setia pada misi atau tujuan awal Legio Maria, yaitu untuk mewujudkan Kerajaan Allah, menguduskan diri dan pelayanan.

Akhirnya kita diajak menyadari bahwa Pelayanan itu adalah semata-mata Karya dan Pekerjaan Allah. Kita sebagai manusia sebetulnya tidak pantas, namun dibenarkan, dipanggil dan dipilih untuk melayani Gereja dan Umat-Nya.


 Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral

Minggu pagi kami awali dengan Perayaan Ekaristi di Katedral. Tanpa diduga, Perayaan Ekaristi itu bertepatan dengan Pelantikan Pengurus PDKK sehingga dirayakan secara Konselebrasi dengan Mgr. AM. Sutrisnaatmaka, MSF sebagai konselebran utama, dan didampingi oleh RD. Patrisius Alu Tampu, dan RP. Yohanes Doni SVD. Dalam Perayaan Ekaristi ini juga disampaikan intensi syukur atas HUT Legio Maria sedunia ke-96, juga 10 tahun kehadiran Legio Maria di Keuskupan Palangka Raya.

Legioner bersama Bapa Uskup

Dalam homilinya Mgr Sutrisna mensyukuri atas bertumbuhnya komunitas yang mewarnai Gereja Katolik dan beliau mengundang umat untuk ikut aktif dalam komunitas gereja.

Sebelum memberikan berkat penutup, lagi-lagi kami menerima shock therapy, karena Mgr. Sutrisna menyampaikan kepada seluruh umat bahwa ada kehadiran utusan Legio Maria Senatus Jakarta, lalu kemudian memperkenalkan kami di tengah-tengah umat yang hadir. Kami sungguh merasakan apresiasi dari Bapa Uskup untuk karya legioner di Kalimantan Tengah ini.

Dari kiri ke kanan : Sdr. Petrus (Koresponden) – Sdri. Jeny (Ketua Senatus) – Sdr. Wilhelmus (Ketua Komisium) – Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF – Sdri. Audrey (Wakil Ketua Senatus)


Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati

Akhirnya kami sampai pada kegiatan puncak yaitu Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati. Rapat dihadiri oleh Pemimpin Rohani Pastor Lucius Sari Uran, SVD, APR – Sr. Wilfrida KSSY, serta lima perwira komisium, yakni Sdr. Wilhemus Y. Ndoa (Ketua), Sdr. Aloysius Pati (Wakil Ketua), Sdri. C. Wiwik Handayani (Sekretaris 1), Sdri. Yohana Sarbini (Sekretaris 2), Sdri. Eligia Rahail (Bendahara 1), sedangkan Sdr. Aston Pakpahan (Bendahara 2) berhalangan hadir.

Perwira Komisium Ratu Segala Hati

Para Perwira Kuria Bunda Pemersatu – Sampit dan calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito juga hadir dalam Rapat Perdana ini.  Mereka menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam dari Sampit  dan sekitar 5-6 jam dari Barito ke Palangka Raya. Kami sungguh salut melihat semangat para legioner yang mau berjerih lelah dan bersemangat dalam mengikuti Rapat Komisium. Tercatat 13 presidium hadir dalam rapat perdana ini, dan total legioner yang hadir adalah sebanyak 80 orang.

Pada saat laporan dewan, kami membacakan SK Pengesahan Peningkatan Dewan Komisium, menyerahkan dokumen asli dan Vandel atas nama Komisium Ratu Segala Hati kepada Perwira Komisium.

Penyerahan Vandel dan Dokumen Pengesahan

Hal yang menarik dari komisium ini adalah semangat yang besar dan karya perluasan sangat luar biasa di hampir seluruh wilayah keuskupan. Di wilayah kerja Kuria Sampit, mereka sangat bersemangat merintis dan mengembangkan sekitar 13 presidium junior. Di wilayah kerja calon Kuria Barito, selain perluasan yang terus berjalan, mereka juga sedang berkonsolidasi untuk sungguh-sungguh siap disahkan menjadi Kuria.

Berpose bersama usai rapat komisium

Secara umum, rapat perdana komisium berjalan dengan lancar dan terstruktur dengan baik, semua agenda telah disusun rapi. Para legioner menjaga suasana rapat dengan sangat khidmat.

“Dalam kunjungan kali ini saya tidak bisa memberi apa-apa, namun saya terinspirasi dari kegigihan dan semangat para legioner dalam berkarya. Karya-karya kita memang sederhana namun ternyata berbuah banyak bagi umat yang kita layani. Semoga kita selalu bisa mensyukuri dan bangga akan panggilan kita sebagai legioner. Ave Maria !”(Sdri. Audrey)

Hanya ucapan syukur dan terima kasih sebesar-besarnya atas semua peran, doa dan karya dari Bapa Uskup Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF, Para Pastor, Suster, Frater, Bruder, para legioner, dan seluruh umat yang sungguh tak kenal lelah, setia, dan penuh iman dalam berkarya untuk memuliakan Allah lewat kerasulan Legio Maria.

Semoga penyertaan Bunda Maria dan berkat Tuhan memampukan kita untuk sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah dengan rendah hati, semangat dan penuh cinta dalam karya kita sebagai Legioner Maria. Ave Maria !


Laporan kunjungan ini disusun oleh Sdr. Petrus Suriutomo (koresponden Senatus Bejana Rohani untuk Komisium Ratu Segala Hati Palangka Raya), Sdri. Audrey Isabella (Wakil Ketua Senatus) dan Sdri. Laurensia Jeny T. Dewi (Ketua Senatus).

Kuria RPSI Goes To KaNaDa: “Hidup Tuk Jadi Berkat”

Oleh Febriani Aipon Gedo


“Hidup ini adalah kesempatan.

Hidup ini untuk melayani Tuhan.

Jangan sia siakan, apa yang Tuhan bri.

Hidup ini harus jadi berkat.
Reff :

Oh Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat.

Bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi.

Hidup ini sudah jadi berkat. “

Demikianlah lagu ciptaan Pdt. D. Surbakti yang dinyanyikan oleh Romo Andreas Yudhi Wiyadi O Carm, Pemimpin Rohani Kuria Ratu Para Saksi Iman (RPSI) – Tomang, dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi yang diadakan di Gua Maria Bukit Kanada (KAmpung NArimbang DAlam)  –Rangkasbitung,  Banten.

Perayaan Ekaristi ini adalah bagian dari rangkaian acara ziarah rekreasi yang diselenggarakan oleh Kuria Ratu Para Saksi Iman pada Sabtu, 23 September 2017, dan diikuti oleh 63 orang peserta (terdiri dari perwira, anggota aktif,auksilier dan simpatisan) dari dua paroki yang tergabung dalam Kuria RPSI, yakni Paroki Tomang dan Paroki Kedoya.

Peserta tiba pada pukul 09.00 WIB setelah menempuh tiga jam perjalanan dari Tomang. Setelah rehat dan berfoto bersama, acara dilanjutkan dengan prosesi jalan salib versi Bunda Maria. Peserta, yang dibagi menjadi dua kelompok dan mayoritas berusia lanjut, bersemangat sekali untuk mengikuti jalan salib.

Bersyukur pada hari tersebut tampaknya hanya rombongan kami yang memenuhi lokasi sehingga prosesi jalan salib dapat berjalan hikmat. Walaupun kadang medan yang dihadapi para lansia tampak menanjak atau curam menurun, sehingga membuat mereka agak tertatih dan naik turun memegang besi di tangga, namun mereka tetap semangat sampai akhir perhentian. Peluh dan lelah yang dirasakan, direfleksikan dengan kedukaan dan Iman Bunda Maria dalam mengikuti Jalan Salib PuteraNya. 

Usai Jalan Salib, acara dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi. Dalam homilinya, Romo terkesan dengan peserta yang saling tolong menolong selama prosesi Jalan Salib. Romo juga mengingatkan melalui lagu yang dinyanyikannya, bahwa hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini hanya sementara seperti halnya perhentian-perhentian kita di Jalan salib tadi. Mari kita melayani Tuhan selagi masih kuat. Andai pun kita sudah tidak berdaya, kita masih bisa memanjatkan doa-doa kita kepada Tuhan sebagai bentuk kerinduan pelayanan kita. 
Acara berikutnya adalah makan siang di halaman seberang Gua Maria. Menu lauk ayam goreng, ikan asin, tahu tempe, sambal, dan sayur asem dirasakan begitu nikmat karena kondisi perut sudah lapar, lelah, serta ditambah semilir angin di pendopo pinggir kolam. Setelah perut kenyang dan beristirahat sejenak, acara dilanjutkan dengan rapat kuria. 
Setelah menikmati snack sore berupa singkong goreng, peserta pun bersiap pulang dan akhirnya kembali ke Jakarta dengan selamat. 

Semoga kebersamaan ini dapat semakin menjalin keakraban serta semoga semangat pelayanan legioner semakin menjadi berkat seperti lagu yang Romo nyanyikan dalam homilinya. Amin.



Febriani Aipon Gedo adalah legioner dari Kuria Ratu Para Saksi Iman – Tomang, yang tergabung ke Komisium Maria Immaculata – Jakarta Barat 2

Bunda Pelindung Semua Suku : Laporan Pembukaan Bulan Rosario di Gereja St. Kristoforus Grogol

Oleh Petrus Kanisius Erwin Rinaldi


Dalam rangka merayakan Bulan Rosario di bulan Oktober 2017, Kuria Teladan Kaum Beriman Grogol didukung oleh komunitas Pro Diakon membuka Bulan Rosario tanggal 1 Oktober 2017 jam 18:30 dengan Perayaan Ekaristi Kudus dengan Perarakan Tandu Bunda Maria diiringi Doa Rosario Suci.

Hal yang menarik adalah Doa Rosario Suci didoakan dalam 5 bahasa, dimulai dengan Bahasa Toraja (Sulawesi Selatan), Bahasa Jawa, Bahasa Kei (Maluku), Bahasa Batak Toba (Sumatera Utara), dan Bahasa Manggarai (Flores). Sementara Tandu Bunda Maria dilakukan oleh para bapak-bapak dari ProDiakon dengan pakaian adat Minang, Betawi, Sunda, dan Papua. Sungguh Bhinneka banget, Sungguh Indonesia banget, dan Sungguh Pancasila banget.

Sungguh meriah dan sungguh kebhinnekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia terlihat nyata dalam doa Rosario Suci di gereja St. Kristoforus Grogol malam itu. Segenap umat juga terlihat sangat menikmati suasana malam bhinneka itu dengan juga berdoa sungguh-sungguh. 

Legioner dari Presidium Tabut Perjanjian merayakan Ekaristi dengan pakaian adat

Semoga dengan Doa Rosario 5 bahasa ini, semakin banyak umat yang menghargai perbedaan antar sesama anak bangsa. Semakin banyak orang menghargai perbedaan bahwa perbedaan itu adalah kekayaan dan identitas Bangsa Indonesia. Semakin banyak sesama anak bangsa yang yakin bahwa perbedaan akan membuat bangsa kita semakin kuat, bukan semakin lemah.

Salam Maria Bahasa Batak Toba
Salam Maria Bahasa Jawa

Semoga Rosario Suci 5 bahasa juga semakin menguatkan semangat Sumpah Pemuda kita bahwa kita adalah bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu, INDONESIA.

Salam Maria Bahasa Toraja
Salam Maria Bahasa Kei
Salam Maria Bahasa Manggarai

Kami 100% Katolik, 

100% Legioner, 

100% Indonesia !


Sdr. Petrus Kanisius Erwin Rinaldi adalah ketua Kuria Teladan Kaum Beriman, Grogol. Saat ini ia juga menjabat sebagai bendahara 2 Komisium Maria Immaculata Jakarta Barat 2 dan koresponden Senatus Bejana Rohani untuk Konsilium Morning Star.

“Jadilah Legioner yang Militan!” : Laporan Kunjungan Kuria Bejana Kerahiman ke Presidium-Presidium di Tanjung Redeb

Pada hari Jumat, 14 Agustus 2017, seluruh perwira Kuria Bejana Kerahiman – Keuskupan Tanjung Selor, didampingi oleh RD. Stephanus Sumardi (Pemimpin Rohani Kuria), dan Br . Albertus Sigit Pramana (Asisten Pemimpin Rohani Kuria) melakukan kunjungan untuk pertama kalinya ke presidium-presidium di Tanjung Redeb.

Kuria yang disahkan pada 6 November 2016 ini memiliki area tugas yang mencakup seluruh paroki di Keuskupan Tanjung Selor. Akan tetapi hingga saat ini baru tiga paroki yang sudah memiliki presidium, yakni Paroki Santo Eugenius de Mazenod Tanjung Redeb, Paroki Santa Maria Assumpta (Katedral) Tanjung Selor, dan Paroki Santa Maria Imakulata Tarakan. 

Kuria ini patut dibanggakan karena perkembangannya yang sangat pesat dan semangatnya yang selalu on fire. Di paroki Tanjung Redeb sendiri dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, telah terlahir lima presidium senior dan tiga presidium junior yang tersebar di pusat paroki dan stasi-stasi sekitarnya.

Kiri ke Kanan : RD Agustinus Maming, MSC-Sdr. Irwanus Kewa Tukan (wakil ketua)-Sdri. Katarina Lazar (bendahara)-Sdri. Marina (sekretaris 1 Senatus)-Sdr. Patrisius Patal Wutun (sekretaris)-Sdr. Bene Lazar (ketua)

Meskipun harus menempuh perjalanan yang jauh dan berkelok-kelok dari Tanjung Selor menuju Tanjung Redeb, bahkan hingga isi perut terkuras karena mabuk perjalanan, namun semangat para perwira Kuria tak padam. Semangat para tentara Maria di Tanjung Redeb pun tak kalah besarnya. Mereka menerjang teriknya siang dan dengan sabar menanti kehadiran para perwira Kuria di gedung serba guna paroki. Inilah semangat legioner yang rela berjerih lelah dan bekerja keras. Total sekitar delapan puluh legioner yang hadir dan mengikuti pertemuan gabungan presidium.

Dalam kesempatan yang istimewa ini hadir pula RP Yoseph, MSC (Pastor Kepala Paroki), RP Agustinus Maming (PR presidium-presidium se-Tanjung Redeb) serta anggota dewan paroki St. Eugenius de Mazenod.


Dalam sambutannya Pastor Yoseph berpesan kepada seluruh legioner agar menjadi “Legioner yang Militan”, yang selalu siap sedia membawa dan menularkan Kasih Kristus dimana saja berada.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sejarah Legio Maria oleh Sdr. Patris, struktur organisasi Legio Maria oleh Br. Sigit, dan ditutup oleh tanya jawab dan diskusi.

Presentasi Sejarah Legio Maria oleh Sdr. Patrisius Patal Wutun.

Tepat pada pukul 15.00 WITA pertemuan gabungan presidium se-Tanjung Redeb resmi dimulai. Dalam pertemuan ini dilakukan pengesahan atas seluruh presidium di Paroki St. Eugenius de Mazenod Tanjung Redeb, beserta para perwiranya. Pengesahan resmi bagi presidium dan perwira akan dilaksanakan pada rapat kuria hari Sabtu, 22 Juli 2017.


Pengesahan secara simbolik atas presidium se-Paroki St. Eugenius de Mazenod, beserta para perwiranya

Semoga momen kunjungan dan pengesahan secara simbolis ini semakin menambah semangat dan mempererat rasa persaudaraan para legioner di Kuria Bejana Kerahiman, khususnya di Tanjung Redeb. 

Proficiat!!

AVE MARIA.


Kontributor : Sdr. Patrisius Patal Wutun dan Br. Albertus Sigit Pramana, MSF.

Ayo Orang Tua Ikut Kursus Orangtua Katolik (KONTAK)

Di tengah kompleksitas dunia ini, maka komunikasi dan relasi antara orangtua dan anak sangat diperlukan. Untuk itu, Komisi Kerasulan Keluarga KAJ mengadakan Kursus Orangtua Katolik (KOntaK) untuk menjadikan Orangtua Katolik mampu menghasilkan buah-buah nyata melalui keterlibatan orangtua dalam membimbing anak-anaknya seturut iman Katolik yang benar.

KOntaK Pertama dimulai pada 13-14 Juni 2015 di Wisma Samadi Klender, dengan narasumber Romo Erwin Santoso MSF,  Ratih Ibrahim dan tim KomKK KAJ. Info: Bpk. Dikdik (Email: dikdikrafael@gmail.com – HP: 0811 960 158). (*)