Tim Kerja Senatus – Jangan Takut Untuk Bekerja

Bagi kebanyakan orang, tengah hari pas akhir minggu adalah saatnya rebahan di kasur tercinta sambil main hape. Tapi tidak demikian bagi 24 legioner yang diundang untuk menghadiri rapat karya tim kerja senatus di Rumah Doa Guadalupe – Duren Sawit, Jakarta Timur. Sabtu (15/2) siang, satu per satu dari mereka yang mewakili beberapa dewan baik tergabung secara langsung maupun tidak langsung mulai hadir untuk memenuhi panggilan khusus dari dewan senatus Bejana Rohani – Jakarta. Misi mereka hanya satu, membahas tiga bidang penting yang mencakup seluruh Indonesia Barat sebagai wilayah kerja dewan senatus Jakarta.

“Kami nggak bisa kerja sendiri. Delapan orang perwira senatus ngurusin 18 ribu legioner itu jelas nggak mungkin. Sementara sasaran kita bersama adalah bagaimana menjadi legioner yang bertumbuh, berbuah, dan berdaya pikat. Kami butuh bantuan teman-teman semua,” papar Elang Diawan selaku asisten pembimbing rohani (APR) dewan senatus Jakarta. Tiga bidang yang dirasa penting saat ini adalah bidang tata kelola, bidang pengembangan, dan bidang komunikasi. Tentu saja, masing-masing peserta diberi kebebasan untuk memilih bidang yang sesuai dengan kapasitasnya. Bidang Pengembangan dititik beratkan untuk memajukan kualitas Legioner,  bidang Tata Kelola bekerja untuk pengaturan organisasi dan bidang Komunikasi mengurus sarana-sarana komunikasi serta penyampaian informasi sampai ke seluruh Legioner di Senatus Bejana Rohani.

Dengan diberikannya surat keputusan pengangkatan dengan masa tugas 3 tahun oleh dewan senatus Bejana Rohani pada hari Minggu (1/3), maka pekerjaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Meskipun demikian para Tim Kerja Senatus yang disingkat menjadi TKS ini tidak menggantikan pekerjaan para perwira Senatus. Sepertinya sebuah quotes dari ibu Susi Pujiastuti dirasa pas untuk moment ini, “Jangan takut untuk bekerja. Jangan bekerja kalau takut”. Mari berjuang bersama untuk menjadi legioner yang bertumbuh, berbuah, dan berdaya pikat.

Gereja yang Bersahabat di Tengah Keanekaragaman Agama

Oleh RD. Kanisius Kopong Daten (Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Matius : 22 : 1-10

Amanat Konsili Vatikan II membawa pembaruan paham Gereja : dari paham institusi keselamatan kepada paham Gereja sebagai sakramen keselamatan. Paham ini mengamanatkan kepada kita bahwa letak keselamatan tidak lagi pada lembaga atau institusi Gereja, melainkan pada kesatuan umat manusia dengan Allah (Lumen Gentium/ LG 1). Untuk itu Gereja memiliki paham baru yakni sebagai Umat Allah. Maka Gereja sebagai umat Allah hadir di tengah dunia sebagai tanda sekaligus sarana yang mewujudkan kesatuan mesra manusia dengan Allah dan persatuan seluruh umat manusia dengan manusia (LG 9). Pesan ini menginspirasi seluruh gerak karya pastoral untuk menjalin relasi persaudaraan kristiani dengan sesama seiman dan terpanggil untuk membangun persaudaraan sejati dengan sesama yang bukan seiman agar terjalin relasi persahabatan.

Tahun 2018 ini Keuskupan Tanjung Selor secara istimewa memfokus gerak pastoralnya dan menjadikan tahun 2018 sebagai Tahun Persahabatan.

Membangun persahabatan dengan sesama di tengah keanekaragaman agama khususnya di bumi Indonesia saat ini merupakan hal yang penting dan urgen untuk dilaksanakan. Mengingat potensi keretakan hidup berbangsa menjadi ancaman besar dalam kehidupan bersama sebagai satu bangsa. Masih terasa adanya masalah-masalah seperti relasi yang buruk antar umat beragama, diskriminasi dan sasaran terorisme terhadap kelompok minoritas, klaim asli dan pendatang, pribumi dan non pribumi, rasa curiga terhadap kelompok lain, minimnya komunikasi antar umat beragama, agama disalahgunakan untuk kepentingan politik dan bisnis, dan penghayatan agama yang bersifat formalistis dan legalistis sehingga dalam hidup keseharian kurang dihayati sebagai nilai dan sikap hidup pribadi dan kelompok.

Hal ini merupakan tantangan terbesar utuk menjalin relasi persahabatan yang sejati ditengah keaneragaman agama. Namun dengan hati terbuka untuk berdialog dan kerelaan mau bekerjasama yang tulus, sebetulnya kita telah meneladani sikap dan perilaku Yesus Kristus sendiri. Ia mengundang dan memanggil semua orang pada perjamuanNya yang telah Ia sediakan. Ia ingin agar semua yang percaya kepada Allah BapaNya duduk makan bersama dengan penuh sukacita dan damai. Ia menyuruh hamba-hambaNya pergi ke persimpangan-persimpangan jalan, menjumpai semua orang yang sudah pasti memiliki latar belakang agama dan kepercayaan beraneka ragam, terlebih mereka yang masih bersikap acuh tak acuh, bahkan tertutup hati bagi Allah dan intoleran dengan sesama untuk datang duduk makan bersama dalam semangat persahabatan dan cinta.

Sikap dialog terbuka yang telah ditunjukkan Tuhan Yesus ini, menginspirasi karya pastoral dan perutusan semua umat Katolik Keuskupan Tanjung Selor untuk mau menghadirkan sikap hidup Gereja yang ramah, menyapa dan bersaudara. Inilah langkah kecil pastoral yang terfokus di tahun 2018 ini. Langkah ini mengarah ke penghujung tahun. Jika langkah pastoral ini haruslah dilaksanakan dengan kerendahan hati maka kitapun telah turut mengubah dunia di tahun persahabatan ini.

Kita kerap kali orang mengeluh dan beralasan bahwa waktu kita sedikit. Bahkan alasan tersebut dijadikan jurus ampuh untuk menolak suatu tawaran atau kesempatan. Dengan kesadaran akan waktu yang terbatas, semestinya seseorang akan berusaha memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Banyak orang sebagaimana dalam Injil tadi menolak tawaran Tuhan Yesus dengan mengajukkan berbagai bentuk alasan untuk manjauh dari undangan Tuhan untuk bersahabat dengan-Nya. Justru semakin menjauh dengan Tuhan dan mengajukan keberatan itu malah jatuh dalam dosa dan kejahatan dan menimbulkan murka Allah yang dahsyat.

Maka gunakanlah waktu yang terbatas ini untuk menjalin persahabatan dengan Tuhan dalam doa di masa Advent ini. Gunakanlah waktu yang terbatas untuk bersilaturahmi. Jumpai dan sapalah semua orang sebagai sahabat. Berilah waktumu untuk mendengarkan, untuk mengunjungi sesamamu, terlebih bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

Karena Saya, Anda, dan Kita adalah sahabat.

Tanyakan pada Ahlinya (Maria – Ibu Guruku)

Oleh Octavian Elang Diawan


Berkenalan dengan Ibu Guru Kita

Ibu guru kita bernama Maria. Orang mengenalnya sebagai  wanita ndeso dari Nazareth yang sederhana. Usianya pun masih belasan tahun di akhir masa akhil balik. Ia tidak mengajar pelajaran bahasa, atau matematika, atau akuntansi. Namun ia mengajar pelajaran yang sangat luhur. Ilmunya tak bisa dinilai dengan emas segunung. Ibu guru kita ini mengajarkan seluruh ilmu kehidupan – baik kehidupan dunia maupun setelahnya.Ilmu ini sesungguhnya  sangat berat, tetapi oleh Ibu Maria lalu disajikan dengan sangat sederhana, begitu sederhana sehingga anak-anak atau simbok-simbok dusun pun bisa menerapkan ilmu ini untuk kesejahteraan hidupnya. Ilmu ini adalah tentang mencintai Allah. Siapa yag bisa mencintai Allah, maka Allah akan mencintainya juga – dan kepada mereka yang dicintai Allah disipakan kehidupan akhir jaman nan mulia.

Mengapa Maria pandai dalam mencintai Allah?

Maria sangat paham bagaimana mencintai Allah, karena Maria membiarkan dirinya dipakai oleh Allah sendiri sebagai jalan penjelmaan-Nya sebagai manusia. Oleh sebab  itu Maria paham sekali siapa Allah – yang kemudian melalui rahimnya  menjelma sebagai manusia bernama Yesus.  Maria lalu menjadi ibu kadung Yesus. Sebagai ibu, ia secara intuitif sangat menyayangi anak. Mana ada sih ibu yang tak mencintai anaknya sendiri? He-eh.. Tangisan malam sang bayi  pasti membuat Maria terbangun dan meloncat mengambil susu menenangkan Yesus. Ketika Yesus hilang saat pisowanan di Bait Allah, Maria otomatis kebingungan lalu lari kesana kemari mencarinya ke pelosok kota hingga ke desanya. Demikian pula ketika Yesus sudah dewasa dan harus menerima hukuman kisas, Maria mengikuti jalan salib-Nya (via dolorosa).  Walau dengan menahan rasa ngeri yang maha dahsayat, Maria teguh kukuh tak mau meninggalkan Anak itu hingga maut mengambil-Nya di tiang penyaliban keji. Itulah mengapa kita percaya bahwa Maria sangat mengerti cara mencintai Yesus, sebab ia melakukannya setiap hari selama 33 tahun  dengan cara yang  sempurna.

Mengapa Maria Mengerti Ke-Illahian Yesus?

Maria tahu betul bahwa Yesus bukanlah manusia biasa seperti teman sepantarannya waktu itu, sebutlah: Alex, Boby, Agus, Stefany,  Jakawi, Prabawa, dan lain-lain. Nama-nama lain itu sungguh manusia biasa 100% – seperti saya dan Anda. Maria sungguhmemahami bahwa Yesus 100% adalah Allah sendiri yang berbeda dengan teman sepantaran tersebut. Jadi wajar saja kalau  Maria bisa dengan PD meminta para pelayan katering agar menurut apa yang dikatakan Yesus waktu peristiwa pesta kawin  kehabisan anggur di Kana. Maria tahu bahwa Yesus adalah Allah sang pembuat mujizat.

Demikian juga pasti Maria tak heran-heran amat atas kabar terbukanya makam Yesus pada hari ketiga setelah penyaliban-Nya di Kalvari. Maria di hatinya pasti mengerti dengan sukacita bahwa Yesus yang dikasihinya bangkit dari alam maut. Sebab, putranya  adalah Allah yang mengalahkan kematian. Mungkin ia hanya senyum-senyum saja mendengar hoax sana-sini yang mengatakan bahwa jenasah Yesus  telah dicuri orang.  Jadi sebuah kesimpulan tentang Maria adalah:

Maria benarbenar paham siapakah Yesus ini

Tanyakan pada ahlinya

‘Tanyakan pada ahlinya,’ demikian bunyi sebuah  kalimat nasihat bijak. Selama ini saya selalu minta tolong pada kawan bernama Andres bila  menghadapi kendala berkaitan dengan komputer, ya karena Andres ini adalah  teknisi komputer yang berpengalaman.

Ungkapan ‘tanyakan pada ahlinya’  ini rupanya juga  berlaku  dalam kehidupan spiritual.  Jadi tanyakan saja pada ahlinya bila kita sugguh ingin mengenal Yesus Sang Juru Selamat. Dan si ahli itu tak lain tak bukan adalah Maria – Ibu Yesus. Si ahli ini juga begitu rendah hati sehingga bersedia menjadi guru umat manusia agar  sebanyak mungkin manusia bisa mengenal Yesus. Maka layak dan bijaksana kalau umat Katolik sepanjang jaman mau berguru pada sang ahli ini.

Tanyakan pada Maria bagaimana mengatasi masalah kehidupan pribadi Anda.

Tanyakan pada Maria bagaimana memperoleh pengampunan Allah.

Tanyakan pada Maria bagaimana memperoleh ketenangan jiwa.

Tanyakan pada Maria bagaimana  mengelola  kehidupan yang bermakna.

Tanyakan pada Maria bagaiana menghadirkan ketentraman dalam keluarga seperti keluarganya di Nazareth itu.

Tanyakan pada Maria bagaimana mengembangkan pengharapan kehidupan kekal.

Tanyakan….

Ya, tanyakan saja….!!

Maria adalah ahlinya dalam hal itu semuanya, Maria sekaligus juga guru kita di mana kita bisa belajar. Bahkan kita diijinkan belajar secara gratis…. agar kita bisa mengenal Yesus secara mantap.

Tanyakan saja pada Maria

Ayukk…


Octavian Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani.

Kisah Dalam Kasih, Kasih Dalam Kisah

Kisah perjalanan hidup Fr. Yosep Pranadi, OSC.


Saudara/i yang terkasih, perkenalkan nama saya Yosep Pranadi. Kenapa Yosep? Bukan Yosef? Karena saya orang Sunda, jadi pakai saja ‘p’, bukan ‘f’. Saya adalah orang ‘USA’, Urang Sunda Aseli. Lahir di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Saya lahir sebagai anak pertama laki-laki dari tiga bersaudara. Hobby saya adalah; naik sepeda, jalan-jalan, denger musik, koor, membaca buku, utak-atik komputer, dan design. Sungguh menyenangkan jika ada waktu luang, bisa beraktivitas dan berekspresi untuk menghibur diri. Dari TK sampai SMP saya bersekolah di daerah kelahiran. Masa-masa itu saya gunakan untuk belajar, bermain di ladang, sungai dan sawah, ikut misdinar di Paroki, Legio Maria, kegiatan lingkungan, ziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat setiap malam minggu bersama teman-teman, dan kegiatan lainnya. Kalau ada waktu, saya ingin sekali mengenang masa-masa itu bersama teman-teman lama. Tapi sungguh sulit karena sudah merantau kemana-mana.

Sebelum lulus SMP, sebetulnya saya mengalami keraguan. Ada beberapa rencana yang saya pikirkan. Ada rencana masuk SMA Negeri atau masuk Sekolah Kejuruan Teknik Mesin/Komputer. Ibu sebetulnya sudah menitipkan saya pada kenalannya di sekolah kejuruan. Namun apa yang sudah direncanakan, ternyata tidak terlaksana. Apa yang direncanakan manusia, tidak selalu sejalan dengan rencana Tuhan. Dalam keraguan, pada suatu siang, setelah pulang sekolah saya mampir di Gereja. Ketika memasuki halaman Gereja entah kenapa saya membayangkan ‘Seminari’. Tiba-tiba saya tertarik masuk seminari, padahal pengetahuan saya akan seminari tidak ada sama sekali. Saya mengutarakan keinginan saya kepada ibu: “Mah, saya ingin masuk seminari!”. Bapak agak cemberut mendengar keinginan saya, karena saya anak pertama laki-laki satu-satunya di dalam keluarga pada waktu itu. “Memang kamu tahu apa itu seminari?” kata Ibu. “Saya tidak tahu”. Kami ngobrol satu sama lain. Akhirnya ibu berkata: “Ya sudah, jika itu keinginan kamu, ibu mengijinkan, yang penting kamu menjalani pilihanmu dengan bahagia. Jangan lupa berdoa. Berdoalah terus-menerus. Anggaplah doa itu nafas yang menghidupkan. Mohon kekuatan dari Tuhan, ibu hanya bisa mendoakan saja!”. Ibu mengijinkan, namun Bapak diam dan tidak banyak berkomentar. Berat bagi bapak untuk melepaskan saya pada waktu itu. Barangkali dia membayangkan dan mengharapkan saya untuk meneruskan keluarga, menikah, dan memiliki cucu. Tetapi rencana Tuhan sungguh berbeda. Tuhan menuntun saya memilih jalan yang tidak dipilih oleh kebanyakan orang. Jalan yang penuh tantangan dan perjuangan sekaligus penuh harapan.

Setelah lulus SMP, saya memutuskan untuk masuk Seminari Menengah Cadas Hikmat di Bandung. Inilah pengalaman pertama saya meninggalkan orangtua, dan tinggal di asrama seminari. Minggu-minggu pertama rasanya sungguh berat. Saya merasa tidak betah, pengen pulang, rindu rumah, rindu orangtua dan adik-adik. Tidur pun tidak enak rasanya. Nyuci baju sendiri, nyetrika sendiri, ke sekolah jalan kaki, setiap hari bangun pagi dan ikut misa pagi, ikut berbagai macam kegiatan baik di sekolah maupun di seminari, dll. Itulah pengalaman pertama yang membentuk pribadi saya menjadi orang yang mandiri, disiplin, bertanggung-jawab, dan tidak mudah menyerah. Lama-lama menjadi ‘habit’. Lama-lama saya bisa menyesuaikan diri dengan tempat baru, teman baru, sekolah baru, suasana baru, dan pola hidup seminari yang cukup ‘ketat’. Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan selama 3 tahun di Seminari Menengah.

Setelah 3 tahun menjalani masa pendidikan di SMA Santa Maria 1 dan Seminari Menengah Cadas Hikmat, saya memutuskan untuk masuk Biara Ordo Salib Suci (OSC). Usia yang sangat muda (18 tahun) ketika masuk Biara. Kadang-kadang ada perasaan minder, emosi yang tidak stabil, merasa kurang berpengalaman karena masih muda. Kadang-kadang ingin mencoba juga apa yang dirasakan oleh teman-teman di luar. Bagaimana rasanya hidup di luar. Setelah direnungkan, saya kira baik di luar atau pun di dalam Biara toh sama-sama berjuang untuk bertahan di dalam pilihannya masing-masing. Setiap pilihan memang selalu ada konsekuensi yang mesti dijalani. Apa yang sudah saya putuskan, mesti saya perjuangkan terus. Pendidikan awal di Ordo Salib Suci saya tempuh selama 2 tahun, yaitu masa Novisiat. Itulah masa-masa penggodokan awal.

Dua tahun kemudian, saya melamar kembali dan diterima untuk mengikrarkan kaul perdana di hadapan provinsial (pimpinan Ordo Provinsi Indonesia) pada 28 Agustus 2013. Setelah selesai menjalani masa Novisiat, saya melanjutkan pendidikan di Skolastikat (setara dengan Seminari Tinggi) hingga lulus filsafat. Setelah lulus studi filsafat, saya ditugaskan Provinsial untuk menjalani Tahun Orientasi Pastoral sebagai pendamping ret-ret di Pusat Spiritualitas Pratista, Cisarua-Cimahi, Bandung Barat selama satu tahun. Di Pratista saya ‘belajar’ mendampingi ret-ret untuk anak-anak SD, SMP, SMA, Universitas, dan umat kategorial. Sungguh menyenangkan mengenal dunia pastoral yang amat luas. Saya hadir untuk memberi kekuatan dan peneguhan kepada peserta ret-ret khususnya mereka yang menghadapi situasi sulit di dalam hidup mereka, entah relasi dengan teman, pasangan, atau relasi di dalam keluarga. Mendengar pengalaman mereka sungguh menyentuh. Saya merasa bukan orang yang sempurna, tetapi Tuhan menggunakan saya untuk memberikan semangat dan meneguhkan harapan mereka. Ternyata di tengah dunia yang penuh tantangan ini, Tuhan masih tetap berkarya.

Saat ini saya sedang melanjutkan masa formasi di Ordo Salib Suci sebagai mahasiswa semester 2 di pasca-sarjana Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Ini adalah tahun ke-7 bagi saya di Ordo Salib Suci. Suatu proses pendidikan calon religius yang perlu ditempuh dengan ketekunan dan kesabaran. Apabila kita melihat kehidupan orang-orang di luar biara yang mengalami jatuh bangun, suka duka, dan berbagai dinamika kehidupan. Sebetulnya di Biara juga orang-orang mengalaminya. Jadi, sama-sama punya tantangan dan sama-sama berjuang untuk bertahan. Ini adalah suatu perjalanan yang tidak pernah berakhir. Suatu proses menuju kesempurnaan.

Sekembalinya menyelesaikan masa orientasi pastoral di Rumah Ret-Ret, saya kembali melanjutkan studi S2. Biasanya para frater S2 diberi tugas mengajar agama di SMA Katolik. Tetapi, tidak pada saya. Melenceng dari dugaan, saya diberi tanggung jawab untuk menghidupkan kembali website Ordo Salib Suci yang sudah bertahun-tahun mati dan tidak diupdate. Tugas baru yang menantang. Saya mesti belajar keras memahami sistem dan management konten website. Awalnya saya merasa keberatan karena mengelola website sendirian. Saya mencoba mengubah template menjadi lebih menarik, mengisi konten menjadi lebih informatif serta inspiratif. Awalnya kebingungan juga. Saya banyak bertanya dan membaca berbagai sumber hingga akhirnya tumbuh perlahan-lahan. Ternyata usaha dan kerja keras di dalam proses perjalanannya membuahkan hasil. Tidak sia-sia banyak bertanya dan membaca. Saya menyadari bahwa jaman sekarang pertumbuhan pengguna internet dan website begitu pesat. Meskipun bukan profesional, saya mencoba mempelajarinya perlahan-lahan. Belajar sesuatu yang baru itu menarik, termasuk belajar jaringan dan website. Setidaknya para Biarawan dan Rohaniwan juga mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan dunia (tidak kolot-kolot amat). Dalam permenungan, saya sadar bahwa belajar itu tidak akan pernah selesai. Karena kita manusia yang tidak sempurna, oleh karenanya perlu belajar, belajar, dan belajar. Dunia selalu berubah-ubah, dan manusia perlu belajar untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan segala perubahan yang sedang dihadapi dan akan dihadapi nanti. Di mana bumi di pijak, di sanalah langit di junjung. Dimana kita berada kita mesti belajar dan menyesuaikan diri terus menerus.

Pengalaman bersama Legio Maria

Apabila ditanya; apakah pernah menjadi anggota Legio Maria? Tentu saja pernah. Saya ikut legio Maria sejak SD kelas 5 SD (2003) sampai kelas 3 SMP (2008). Waktu itu saya bergabung dengan Legio Maria Presidium Benteng Gading di Paroki Kristus Raja, Cigugur, Kuningan-Jawa Barat. Selama beberapa tahun saya ikut legio bersama teman teman di sekolah. Biasanya seminggu sekali kami berkumpul bersama teman-teman. Sebelum legio dimulai, kami bermain bola terlebih dahulu di halaman gedung pertemuan Gereja. Jika ada pastor lewat permainan bola dihentikan sementara (takut dimarahin). Pastor pergi, permainan dilanjutkan kembali. Sungguh menyenangkan bisa bermain bola bersama. Ketika katekis atau suster pendamping Legio datang, barulah kami berkumpul untuk mengadakan rapat Legio Maria (doa Rosario bersama, laporan tugas, pembagian tugas, doa tesera, dll.). Presidium kami didampingi oleh seorang katekis awam dan suster CB bergantian. Pernah sekali waktu saya dipercaya menjadi ketua legio oleh suster dan teman-teman. Saya senang diberi tanggung-jawab dan kepercayaan. Tahun 2008, suster pendamping kami, Sr. Lucina CB pindah tugas. Setelah kepergian suster, legio kami terpaksa mandiri. Karena tidak ada pendamping lama-lama anggota legio kami semakin berkurang. Jumlah yang hadir semakin lama semakin sedikit. Semakin menipisnya jumlah anggota, terpaksa kami membekukan sementara Legio Maria.

Legio Maria bagi saya adalah momen untuk berkumpul bersama teman-teman, berdoa bersama, belajar melayani dalam tugas-tugas keseharian, mengunjungi orang sakit, dll. Di situlah kami dilatih berdisiplin diri dalam hidup rohani maupun dalam hidup sehari-hari. Pada waktu itu Legio Maria tidak terpisahkan dari Putra Altar. Pada umumnya anggota Legio Maria sekaligus anggota Misdinar paroki yang seluruhnya adalah laki-laki. Biasanya pertemuan Legio berlangsung di sore hari di gedung pertemuan samping gereja. Setelah pertemuan selesai, bisanya kami renang bersama di kolam ikan Dewa. Renang gratis tanpa dipungut biaya bersama ikan-ikan dewa di dekat kompleks Gereja Paroki. Sungguh menyenangkan kala itu karena bisa berkumpul, bermain, berdoa dan saling mendukung satu-sama lain sebagai satu saudara. Itulah yang paling berkesan bagi saya.

Setelah lulus SMP, saya melanjutkan sekolah ke Seminari Menengah di Bandung. Lantas bertahun-tahun saya tidak ikut Legio Maria dalam suatu presidium secara resmi. Meskipun demikian, semangat Legio Maria tetap saya bawa di dalam hati. Semangat heroik, disiplin, persaudaraan, keramahan, perjuangan, keluwesan hati. Apabila ditanya apakah pernah menjadi pendamping Presidium, tentu saja belum pernah. Saya banyak ditugaskan dalam pastoral kategorial seperti ret-ret, mengajar, ibadat di stasi terpencil, website, dll. Akan berbeda cerita seandainya saya ditugaskan di Paroki. Ada kemungkinan mendampingi para Legioner. Mungin ini adalah jalan Tuhan yang mesti saya lalui. Tapi saya percaya setiap perjalanan sungguh dinamis, membawa saya pada kematangan dan kehidupan yang penuh makna.

Apabila mengamati situasi di lapangan, dari segi jumlah memang para legioner tidak begitu banyak. Jangan bersedih hati seandainya sedikit. Bersikaplah optimistis dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Sebetulnya ada hal yang unik yang dapat dipegang teguh oleh pasukan legioner . Ada semangat persaudaraan, sikap heroik, kunjungan orang sakit, ketekunan dalam doa, dan penghormatan kepada figur Maria. Sosok Maria dan keteladanan hidupnya adalah hal yang paling unik dari Legio Maria. Spirit Maria perlu menjadi kekuatan yang menggerakan para Legioner dari dalam hati hingga memancar dan berbuah dalam kehidupan para legioner. Maria adalah sosok yang paling dekat dengan Yesus. Dia adalah ibu Yesus sekaligus Ibu bagi umat manusia. Spiritualitas kasih seorang ibu menjadi sisi lain yang mesti dihayati oleh para legioner. Sosok ibu itu merawat, membesarkan, menjaga, memelihara, sabar menanggung segala sesuatu, tulus, memberi tanpa mengharapkan keuntungan, dan penuh kasih sayang. Inspirasi inilah yang dapat diteladani oleh para Legioner dimana pun dan kapan pun.

Bagi saya sendiri sosok Maria begitu menginspirasi. Sejak kecil saya sudah terbiasa devosi kepada sosok Maria melalui doa rosario, Legio Maria, dan ziarah. Tindakan devosional inilah yang menumbuhkan iman saya kepada Bunda Maria. Maria adalah orang yang dipilih Allah menjadi sarana keselamatan. Ia dikasihi Allah karena kesetiaan dan kemurnian hatinya. Ia adalah pelindung sekaligus penjaga umat beriman. Saya percaya bahwa doa melalui Bunda Maria sungguh luar biasa. Dia akan menolong dan melindungi kita dari segala bahaya. Tak henti-hentinya saya memohon perlindungan dan pertolongan Bunda Maria ketika sedang menghadapi kesulitan dan tantangan. Bagi para legioner dimanapun, percayalah dan teladanilah sosok Maria. Maria adalah inspirasi sentral bagi para legioner. Kehidupan dan keteladanan Maria ini mesti menjadi semangat yang menggerakan hati, budi, dan energi para legioner untuk senantiasa berbuat baik dan berbagi kepada banyak orang. Bunda Theresa pernah mengatakan

“Tuhan tidak memanggiku untuk mengejar kesuksesan di dalam hidup. Ia memanggilku untuk setia kepada-Nya!”.

Pesan untuk para legioner terkasih, setialah di dalam setiap pilihan hidup yang kalian pilih dan bertahalah terus sampai akhir. Percayalah, Tuhan melindungi orang-orang yang percaya kepada-Nya.

-Ego semper purificanda-

Salam dan Doa
Fr. Yosep Pranadi, OSC

Fr. Pranadi (kedua dari kiri) bersama para Frater Ordo Salib Suci


Catatan admin : Fr. Yosep Pranadi, OSC adalah administrator website www.osc.or.id yang banyak membantu dan menginspirasi website kita yang tercinta ini. Pada saat tulisan ini dimuat (23 April 2018) ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-25. Mari kita doakan bersama-sama. (^.^)

Legio Maria Menguatkan Identitas Gereja Katolik

Sepenggal Catatan dari Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati Palangka Raya, 17 September 2017


Ave Maria, Proficiat dan Puji Tuhan! Atas penyertaan Bunda Maria dan restu dari Allah Roh Kudus, maka pada Minggu, 17 September 2017, telah terlaksana Rapat Perdana Dewan Komisium Ratu Segala Hati Keuskupan Palangka Raya. Momen ini adalah tonggak sejarah karena inilah rapat perdana setelah Dewan Kuria Ratu Segala Hati dinaikkan statusnya menjadi Dewan Komisium. Komisium ini mensupervisi Dewan Kuria Bunda Pemersatu- Sampit, calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito dan 13 Presidium tergabung.

Tiga orang perwakilan dari Senatus Bejana Rohani, yaitu Sdr. Petrus Suriutomo (koresponden Komisium Ratu Segala Hati), Sdri. Audrey Isabella (Wakil Ketua Senatus) dan Sdri. Laurensia Jeny T. Dewi (Ketua Senatus) berkesempatan hadir dalam rangkaian rapat perdana Komisium, 16-17 September 2017 di kota Palangka Raya.

Senatus Bejana Rohani sebelumnya telah mengesahkan peningkatan status Dewan Kuria Ratu Segala Hati menjadi Komisium pada Rapat Senatus ke 365 tahun ke-30, 10 September 2017 setelah mengadakan peninjauan selama  kurang lebih 2 hingga 3 tahun. Pengesahan ini telah mendapatkan ijin resmi dari Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF selaku Uskup Keuskupan Palangkaraya, serta dari Dewan Konsilium Morning Star, Dublin Irlandia.


Audiensi dengan Mgr. AM. Sutrisnaatmaka MSF – Uskup Keuskupan Palangkaraya

Dalam setiap kunjungan Legio Maria Senatus ke Palangka Raya, kami biasanya memberikan informasi jadwal kunjungan kami kepada Bapa Uskup beberapa hari sebelumnya dan kami selalu meminta waktu untuk sowan dengan beliau.  Luar biasanya adalah, selama beliau ada di rumah (keuskupan), beliau tak pernah menolak berjumpa dengan kami. Demikian pula pada 16 September lalu, di tengah suasana hujan, kami diterima dengan penuh kehangatan, keramahan dan canda.

Kami menyampaikan tujuan kehadiran kami dan beliau sangat mendukung dengan penuh sukacita karena telah diberikan kepercayaan lebih besar dengan keberadaan Dewan Komisium di Keuskupan Palangka Raya. Beliau sangat mensyukuri dan mengapresiasi kehadiran dan peranan Legio Maria dalam karya kerasulan di Palangka Raya, khususnya semangat siap sedia bertugas dan membantu pastor paroki setempat, misalnya dalam melayani memimpin ibadat di stasi-stasi jika Pastor tidak dapat hadir; memimpin ibadat Rosario, dan lain-lain. Selain itu Mgr. Sutrisnaatmaka dengan bangga mengatakan bahwa

Legio Maria, khususnya di keuskupan Palangka Raya, adalah penguat identitas Gereja Katolik.

Oleh karena itu, Legio Maria dirasa sangat penting untuk hadir dan berkembang di tengah-tengah umat.

Beliau berjanji untuk terus mendukung perkembangan Legio Maria dan terus mengingatkan kepada para pastor untuk ikut serta mempromosikan Legio Maria sehingga bisa tersebar di semua paroki di Keuskupan Palangka Raya dan menjadi sarana mewujudkan kemuliaan Allah di atas dunia.


Rekoleksi presidia tergabung di Komisium dan calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito

Setelah beraudiensi dengan Bapa Uskup, kami bertiga menuju ke Gereja Maria Diangkat ke Surga (Katedral) untuk mengikuti agenda berikutnya, yakni Rekoleksi dalam rangka HUT Legio Maria ke-96 yang dibawakan oleh Pastor Anton Rosari, SVD dengan mengangkat tema “Bersyukur dan melayani bersama Maria”.

Rekoleksi ini dihadiri oleh sekitar 100 legioner. Meskipun cuaca hujan, namun tak menyurutkan legioner untuk mengikuti rekoleksi, khususnya para legioner dari Barito dan sekitarnya, yang harus menempuh perjalanan 4-5 jam. Dari wilayah dalam kota Palangka Raya, terdapat sekitar 30 orang legioner muda yang hadir dan Pastor Anton pun tidak mengira banyak orang muda yang ikut Legio Maria.

Rekoleksi ini mengajak kita untuk melihat tiga fase perjalanan Legio Maria : Sejarah Legio Maria pada awal berdirinya di tahun 1921, Legio Maria masa kini, dan Menatap Masa Depan. Tuhan telah membimbing Legio Maria selama 96 tahun dan ini adalah suatu anugerah yang luar biasa. Bagaimana kita mampu melanjutkan karya ini di tengah berbagai macam tantangan? Salah satunya adalah dengan setia pada misi atau tujuan awal Legio Maria, yaitu untuk mewujudkan Kerajaan Allah, menguduskan diri dan pelayanan.

Akhirnya kita diajak menyadari bahwa Pelayanan itu adalah semata-mata Karya dan Pekerjaan Allah. Kita sebagai manusia sebetulnya tidak pantas, namun dibenarkan, dipanggil dan dipilih untuk melayani Gereja dan Umat-Nya.


 Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral

Minggu pagi kami awali dengan Perayaan Ekaristi di Katedral. Tanpa diduga, Perayaan Ekaristi itu bertepatan dengan Pelantikan Pengurus PDKK sehingga dirayakan secara Konselebrasi dengan Mgr. AM. Sutrisnaatmaka, MSF sebagai konselebran utama, dan didampingi oleh RD. Patrisius Alu Tampu, dan RP. Yohanes Doni SVD. Dalam Perayaan Ekaristi ini juga disampaikan intensi syukur atas HUT Legio Maria sedunia ke-96, juga 10 tahun kehadiran Legio Maria di Keuskupan Palangka Raya.

Legioner bersama Bapa Uskup

Dalam homilinya Mgr Sutrisna mensyukuri atas bertumbuhnya komunitas yang mewarnai Gereja Katolik dan beliau mengundang umat untuk ikut aktif dalam komunitas gereja.

Sebelum memberikan berkat penutup, lagi-lagi kami menerima shock therapy, karena Mgr. Sutrisna menyampaikan kepada seluruh umat bahwa ada kehadiran utusan Legio Maria Senatus Jakarta, lalu kemudian memperkenalkan kami di tengah-tengah umat yang hadir. Kami sungguh merasakan apresiasi dari Bapa Uskup untuk karya legioner di Kalimantan Tengah ini.

Dari kiri ke kanan : Sdr. Petrus (Koresponden) – Sdri. Jeny (Ketua Senatus) – Sdr. Wilhelmus (Ketua Komisium) – Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF – Sdri. Audrey (Wakil Ketua Senatus)


Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati

Akhirnya kami sampai pada kegiatan puncak yaitu Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati. Rapat dihadiri oleh Pemimpin Rohani Pastor Lucius Sari Uran, SVD, APR – Sr. Wilfrida KSSY, serta lima perwira komisium, yakni Sdr. Wilhemus Y. Ndoa (Ketua), Sdr. Aloysius Pati (Wakil Ketua), Sdri. C. Wiwik Handayani (Sekretaris 1), Sdri. Yohana Sarbini (Sekretaris 2), Sdri. Eligia Rahail (Bendahara 1), sedangkan Sdr. Aston Pakpahan (Bendahara 2) berhalangan hadir.

Perwira Komisium Ratu Segala Hati

Para Perwira Kuria Bunda Pemersatu – Sampit dan calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito juga hadir dalam Rapat Perdana ini.  Mereka menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam dari Sampit  dan sekitar 5-6 jam dari Barito ke Palangka Raya. Kami sungguh salut melihat semangat para legioner yang mau berjerih lelah dan bersemangat dalam mengikuti Rapat Komisium. Tercatat 13 presidium hadir dalam rapat perdana ini, dan total legioner yang hadir adalah sebanyak 80 orang.

Pada saat laporan dewan, kami membacakan SK Pengesahan Peningkatan Dewan Komisium, menyerahkan dokumen asli dan Vandel atas nama Komisium Ratu Segala Hati kepada Perwira Komisium.

Penyerahan Vandel dan Dokumen Pengesahan

Hal yang menarik dari komisium ini adalah semangat yang besar dan karya perluasan sangat luar biasa di hampir seluruh wilayah keuskupan. Di wilayah kerja Kuria Sampit, mereka sangat bersemangat merintis dan mengembangkan sekitar 13 presidium junior. Di wilayah kerja calon Kuria Barito, selain perluasan yang terus berjalan, mereka juga sedang berkonsolidasi untuk sungguh-sungguh siap disahkan menjadi Kuria.

Berpose bersama usai rapat komisium

Secara umum, rapat perdana komisium berjalan dengan lancar dan terstruktur dengan baik, semua agenda telah disusun rapi. Para legioner menjaga suasana rapat dengan sangat khidmat.

“Dalam kunjungan kali ini saya tidak bisa memberi apa-apa, namun saya terinspirasi dari kegigihan dan semangat para legioner dalam berkarya. Karya-karya kita memang sederhana namun ternyata berbuah banyak bagi umat yang kita layani. Semoga kita selalu bisa mensyukuri dan bangga akan panggilan kita sebagai legioner. Ave Maria !”(Sdri. Audrey)

Hanya ucapan syukur dan terima kasih sebesar-besarnya atas semua peran, doa dan karya dari Bapa Uskup Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF, Para Pastor, Suster, Frater, Bruder, para legioner, dan seluruh umat yang sungguh tak kenal lelah, setia, dan penuh iman dalam berkarya untuk memuliakan Allah lewat kerasulan Legio Maria.

Semoga penyertaan Bunda Maria dan berkat Tuhan memampukan kita untuk sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah dengan rendah hati, semangat dan penuh cinta dalam karya kita sebagai Legioner Maria. Ave Maria !


Laporan kunjungan ini disusun oleh Sdr. Petrus Suriutomo (koresponden Senatus Bejana Rohani untuk Komisium Ratu Segala Hati Palangka Raya), Sdri. Audrey Isabella (Wakil Ketua Senatus) dan Sdri. Laurensia Jeny T. Dewi (Ketua Senatus).

Semakin Jatuh Cinta Pada Tuhan

Oleh Sdri. Audrey Isabella


Saya merasa harus menulis ini, hanya untuk bisa berbagi kebahagiaan karena diliputi rasa jatuh cinta yang luar biasa. Selain itu cerita adalah ungkapan syukur dan terima kasih saya atas kebaikan Tuhan lewat mereka yang hadir dalam hidup saya dan keluarga. Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi saya dan keluarga dalam merawat papi yang terkena stroke ke-3 pada April 2016 yang lalu.

Bpk. Yohanes Phoa Wie Keng, papi Audrey

Pagi hari di pertengahan bulan April 2016 itu, sulit rasanya melupakan suara kepanikan mami yang melihat papi jatuh tak berdaya di kamar mandi. Ia tidak bisa berdiri, bicara ataupun menggerakan anggota tubuhnya. Sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit terdekat papi sudah mendengkur, entah sudah berapa banyak doa Bapa Kami dan Salam Maria yang saya daraskan. Begitu tiba di rumah sakit, Papi langsung ditangani di UGD dan kami diberi tahu bahwa papi sudah gagal nafas. Saya, mami, kakak, kakak ipar dan adik saya hanya bisa mengelilinginya berdoa dan memohon belas kasihan Tuhan. Kami memohon agar papi bisa diberi kesempatan untuk bertahan hidup dan apapun kondisinya, kami akan terima. Lalu Tuhan dengan begitu baiknya, papi dinyatakan koma. Ya, saya nyatakan Dia begitu baik karena jika koma, tandanya papi masih diberi kesempatan untuk hidup meski kecil.

Lalu papi pun dimasukkan ke ICU. Saat itu sudah banyak teman, saudara dan tetangga yang datang karena mendengar tentang kabar papi. Kami keluarga dipanggil dan diberi tahu oleh dokter tentang kondisi papi bahwa ia stroke karena penyumbatan pembuluh darah di otak dan areanya sangat luas, yaitu 2/3 otak kirinya tersumbat. Kondisi ini bisa menyebabkan ia lumpuh dan sangat sulit untuk kembali ke kondisi normal, bahkan bisa berujung pada kematian. Sedih tak terbendung, hancur rasanya hati mendengar keterangan dokter.

Sore itu saya ikut Perayaan Ekaristi di Gereja, saya teringat Mazmur antar Bacaannya adalah “Tuhanlah Gembalaku, Tak’kan kekurangan Aku”. Sambil memandangi Salib, air mata terus jatuh membasahi pipi dan dalam hati bertanya :  “Tuhan kok tega?” Papi padahal sedang aktif-aktifnya melayani (entah ikut KEP, Bina Lanjut KEP, PDKK, dan KMS),  tiap bulan entah sendiri atau bersama rombongan pergi berziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat, Kuningan dan sepuluh hari sebelumnya menyatakan diri bersedia menjadi Auxilier (anggota pasif dalam Legio Mariae yang mendoakan Tesera dan Rosario setiap hari). Pikiran dan perasaan saya diliputi kekecewaan, kemarahan dan kebingungan kepada Tuhan. Saya tenggelam pada “Kalkulasi Pelayanan”  yang sudah kami berikan untuk Tuhan dan Gereja.  Hati saya mendua pada Perayaan Ekaristi saat itu, tidak sepenuhnya mensyukuri Perayaan Cinta Yesus yang memberikan diri sehabis-habisNya untuk Umat-Nya.

Malam itu kami semua tidur seadanya di Ruang Tunggu ICU. Saya tetap berdoa Tesera, Rosario, dan Koronka untuk papi, namun masih bercampur dengan perasaan kecewa dan kebingungan akan kondisi yang papi alami. Pokoknya Tuhan tega! Itu yang saya pikirkan.

Hari demi hari kami lalui di Ruang Tunggu ICU, begitu banyak teman, saudara, kenalan , dan bahkan yang kami tidak kenal sekali pun datang untuk mengunjungi papi ataupun memperhatikan keadaan kami. Bahkan di satu pagi ada tetangga yang datang untuk membawakan kami sarapan. Dia bilang “di luar hujan, nanti kalian repot cari makan, jadi saya datang membawakan kalian sarapan.” Tersentuh hati saya, kok mau pagi-pagi datang untuk membawakan  kami sarapan?” Belum lagi ada teman yang mengantarkan makan siang untuk kami dan malamnya kami menerima makanan dari orang-orang yang datang menjenguk. Setiap harinya, kami tidak pernah berhenti kedatangan teman, saudara, tetangga yang menjenguk, memperhatikan, dan mendoakan. Makanan yang kami terima berlimpah sehingga bisa kami bagikan dengan keluarga yang juga menunggu di ruang tunggu ICU. Belum lagi ada teman2 yang dengan inisiatifnya menggalang dana guna membantu meringankan biaya pengobatan.  Speechless saya jadinya. Dia ternyata betul-betul Immanuel, hadir dalam keadaan suka dan duka hidup saya melalui malaikat-malaikat tak bersayap yang Ia kirim.

Ketika saya berdoa pada suatu malam, saya teringat kembali bahwa satu minggu sebelum papi terkena stroke, tiba-tiba saya mendoakan ini dalam doa harian saya “Saya ingin mempersembahkan apa yang saya alami dengan Kurban Yesus sendiri di Kayu Salib”. Pada saat saya mendoakan hal itu, saya juga tidak tahu kenapa saya sampai bisa mengucapkan hal itu. Namun akhirnya saya sadar, Tuhan sedang mempersiapkan batin saya menghadapi hal ini. Seketika itu juga saya merasa luar biasa malu pada Tuhan. Ternyata saya masih menganggap relasi saya dengan Tuhan itu hubungan yang transaksional, atau do ut des. Hubungan timbal balik dan hubungan untung rugi. Saya berpikir bahwa Tuhan harus selalu memberikan saya yang baik-baik karena saya sudah begini dan begitu. Saya tidak bisa menahan air mata saya karena rasa malu sekaligus haru karena Tuhan memulihkan dan menyadarkan saya. Bukankah sebelumnya saya sendiri yang berdoa untuk mempersembahkan semua kepada Dia yang sudah memberi diri sehabis-habisnya di Kayu Salib karena Cinta-Nya kepada kita?

Pada hari yang ke-7, papi mulai sadar dan betul kata dokter, papi memang tidak bisa bicara, tidak bisa menggerakan bagian tubuh kanannya dan terkena Apasia Global (kehilangan kemampuan total untuk berbicara, menulis ataupun membaca). Sedih melihatnya namun bersyukur bahwa Papi boleh bertahan. Selama kurang lebih 46 hari di RS akhirnya awal Juni 2016 papi kembali ke rumah dan kami menggunakan jasa perawat selama kurang lebih 3 bulan  untuk membantu merawat papi. Saat itu papi masih menggunakan selang oksigen, sonde (selang makan), dan kateter. Adik papi juga turut membantu merawat papi selama beberapa bulan.

Setelah tidak lagi menggunakan jasa perawat dan adik papi, maka kamilah yang merawat papi sepenuhnya. Sebelum dan sesudah pulang kerja, kami bertiga (saya, kakak dan adik) mengurus papi dan mami yang merawat papi ketika kami di kantor. Kami pun mulai membatasi kegiatan dan aktivitas di luar rumah karena papi tidak boleh ditinggal sendirian, dia harus ditemani oleh minimal satu orang karena secara fisik, papi tergantung sepenuhnya akan bantuan orang lain. Di situ saya merasakan bahwa hubungan kekeluargaan semakin erat. Kami saling meneguhkan satu sama lain dalam menghadapi kondisi yang tidak mudah ini.

Secara manusiawi, kadang saya merasa lelah karena harus bangun lebih pagi untuk mennganti pampers ataupun mengukur suhu dan tekanan darah papi, dan setelah pulang kantor masih harus menyuapi papi makan, memberikan obat, dan mengganti pampers. Namun saya diteguhkan dengan Injil Matius 25:40, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Ya, di situ saya belajar melihat Yesus dalam diri sesama terutama mereka yang lemah dan tak berdaya.  Tuhan begitu baik hati-Nya mengizinkan kami merawat Dia sendiri dalam diri papi. Sehingga selelah apapun saya, saya selalu rindu untuk segera pulang ke rumah bertemu papi dan mengurusnya.

Perkembangan papi pun semakin baik. Dia mulai lepas dari selang oksigen, sonde dan kateter. Dia sudah bisa sedikit-sedikit mengkonsumsi roti, biskuit, es krim, dan belajar memakai topi, mengalungkan Rosario, melipat selimut, dan mengerti perintah untuk menggerakan kaki atau tangan kirinya. Sungguh bersyukur karena kami tidak menyangka bahwa akan ada perkembangan seperti ini. Walalu papi tidak bisa bicara, tapi dia berusaha untuk terus menggumam. Mungkin dia berusaha sedemikian rupa untuk bicara. Namun apa daya, dia tidak bisa.

Selasa, 28 Maret 2017. Saat itu saya sedang mengikuti Misa Acies (Misa Pembaharuan Janji Legioner kepada Bunda Maria yang bunyi janjinya adalah  “Aku adalah milikmu ya Ratu dan Bundaku dan segala milikku adalah kepunyaanmu”).  Begitu selesai Misa, saya ditelpon oleh mami dan bilang bahwa papi kejang-kejang dan dilarikan ke rumah sakit. Aduh, ada apa lagi ini Tuhan? Saya langsung bergegas pulang dan dalam perjalanan ke rumah sakit ada teman yang mengirimkan pesan whatsapp kepada saya, begini bunyinya “Percayalah, HatiNya sungguh amat baik.” Kata-kata itu sungguh menguatkan karena saya hampir tergoda untuk protes lagi sama Tuhan seperti tahun lalu. Misa Acies pun meneguhkan saya bahwa apapun yang saya alami, Bunda Maria selalu setia mendampingi seperti Bunda yang mendampingi Yesus di jalan salibNya. Papipun masuk ICU lagi dan tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Kali ini saya lebih tenang dan mempercayakan papi sepenuhnya pada Kerahiman dan Belas Kasihan Tuhan serta penyertaan Bunda Maria.

Seperti tahun lalu, ada begitu banyak yang memperhatikan dan mendoakan papi. Tuhan sungguh Immanuel. Selama kurang lebih 10 hari di RS, papi boleh pulang.  Namun, kondisi papi agak menurun, ia semakin sulit menerima perintah, ia tidak tahu bagaimana cara mengalungkan Rosario dan ia juga bingung caranya memakai topi. Kecewa meliputi perasaan saya. Tapi bukankah semua yang terjadi adalah seturut kehendak-Nya? Saya memutuskan untuk mensyukuri bahwa papi setidaknya masih bisa bertahan hidup.

Maka kami mulai lagi dari awal, dengan mengajarkan cara memakai topi, mengalungkan Rosario, memegang sendok (semua dengan tangan kirinya) dan mengangkat kaki kirinya. Kami bersemangat dan optimis menjalani hal itu karena terkadang papi suka hadir dalam mimpi kami. Dalam mimpi, saya melihat dia sedang berusaha untuk menggerakkan kedua tangannya atau berusaha untuk berjalan. Dalam mimpi juga, papi “curhat” kepada adik saya dan bilang, “Aduh padahal papi kan udah lumayan yah sekarang susah lagi deh.” Bahagia campur sedih mendengarnya. Bahagia karena papi menunjukkan bahwa ia juga masih berusaha untuk sembuh, namun sedih karena papi sadar akan kondisinya. Meskipun dalam keadaan sakit, papi tetap menginspirasi kami untuk berjuang mengusahakan yang terbaik dan membungkus usaha kami dengan doa yang tak pernah putus dipanjatkan.

Terhitung mulai Mei 2017 sampai dengan sekarang, papi juga menerima Komuni Kudus melalui ibadat untuk orang sakit setiap hari karena kebetulan mami adalah prodiakon yang baru saja dilantik tahun 2016. Sungguh rahmat yang luar biasa bahwa papi bisa menerima Tubuh Kristus setiap hari. Ini semua hanya karena kebaikan dan kerahimanNya. Kami percaya bahwa Yesus sendirilah yang menjadi kekuatan, penghiburan, semangat, dan suka cita bagi papi.

Sampai sekarang, papi memang belum bisa bicara, berdiri ataupun berjalan namun proses yang kami lalui dalam merawat papi itulah yang justru yang membuat kami semakin mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi melalui perkembangan diri papi. Kegiatan pribadi kami pun terbatas karena harus menjaga papi di rumah tapi di situ saya belajar bahwa keluarga adalah Gereja terkecil yang kita miliki dan yang harus kita layani. Memang ini adalah salib yang harus kami pikul dan kami memikulnya tidak sendirian melainkan bersama Dia yang memberi kekuatan.

Kita punya Allah yang besar dan Dia hidup. Dia mencintai saya dengan caraNya yang ajaib. Dia membentuk saya melalui pengalaman yang tidak mudah untuk dilalui namun cintaNya selalu menyertai. Selamanya, saya akan mensyukuri hal ini. Keadaan yang papi alami adalah rejeki dan berkat dari Tuhan untuk papi sebagai individu dan kami sebagai keluarga. Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang begitu setia hadir dalam apapun kondisi pergumulan hidup saya dan keluarga. Di saat saya begitu dengan egoisnya “hitung-hitungan” sama Tuhan, Dia malah mengutus orang-orang untuk memperhatikan dan mendukung kami melalui salah satu hal tersulit dalam perjalanan hidup kami.  Di saat saya kecewa dan marah padaNya,  Dia malah mengutus teman-teman yang begitu setia mengunjungi dan mendoakan.

Dalam kesempatan ini ijinkanlah saya mengucapkan Terima kasih yang luar biasa untuk teman-teman di Legio Mariae, OMK, Misdinar, Lektor, ASAK, KMS, KEP, PDKK, Kerahiman Ilahi, Misdinar, Prodiakon dan Para Imam yang menjadi saksi pergumulan hidup kami. You know who you are. Terima kasih karena telah menjadi malaikat-malaikatNya yang tak bersayap. Tahukah kalian bahwa papi dan kami bisa bertahan karena dukungan, bantuan dan perhatian dari kalian semua ?

Untuk keluarga saya, terima kasih kepada mami saya yang menginspirasi bahwa Cinta Sejati itu masih ada. Dia memegang teguh janji perkawinan yang mau setia dalam untung dan malang, sehat ataupun sakit. Mami begitu setia dan penuh suka cita merawat suaminya. Ke manapun dia pergi, dia akan selalu memikirkan apakah papi sudah makan atau belum? Sudah minum juice? Apakah makanan dan sayur buat papi sudah siap? Hatinya selalu ada di rumah bersama suaminya meski fisiknya tidak ada di rumah. Untuk kakak saya, terima kasih karena telah menjadi kakak sulung yang rela berkorban untuk cuti ataupun pulang lebih cepat untuk mengantar papi ke dokter. Di tengah kesibukannya di kantor dan mengurus rumah tangganya sendiri, dia selalu menyempatkan diri datang ke rumah untuk membantu mengurus papi. Terima kasih pula kepada kakak ipar saya yang mau mengurus papi seperti mengurus ayahnya sendiri. Dan juga untuk adik saya, dia menginspirasi saya untuk merawat papi dengan kesabaran dan kelembutan. Dia bilang bahwa kita harus menempatkan diri di posisi papi sehingga kita bisa merawat papi dengan penuh kasih.

Audrey dan keluarga

Sebetulnya, satu hari sebelum papi stroke yang ke-3, ketika kami sedang ngopi, saya menyampaikan bahwa ada seorang teman yang bertanya, apa yang papi peroleh dengan berziarah dan jalan salib di Gua Maria Sawer Rahmat, Kuningan setiap bulan padahal kondisi fisiknya (terutama kaki kirinya) yang lemah dan tidak begitu baik karena stroke ke-2 sebelumnya. Lalu begini jawab papi, “Papi gak dapet apa-apa dengan pergi ziarah setiap bulan. Masa mau hitung-hitungan sama Tuhan? Kan Tuhan udah kasih semuanya buat kita. Walaupun papi susah jalannya tapi papi mau ziarah dan jalan salib karena papi mau ikut jalan salibNya Yesus. “

Saya tidak tahu kapan atau apakah papi bisa bicara seperti dulu lagi atau tidak. Tapi, yang pasti saya akan selalu mengingat kata-katanya yang meneguhkan untuk mau setia ikut jalan salibNya Yesus dalam kondisi apapun. Tuhan membuat saya jatuh cinta padaNya semakin dalam. Saya tak paham rancangan karyaNya untuk kami, namun saya percaya Hati-Nya sungguh amat baik.


Audrey Isabella adalah legioner di Presidium Regina Coelorum, Paroki Santo Thomas Rasul – Bojong Indah, yang tergabung dalam Kuria Maria Bunda Kaum Beriman , Komisium Maria Immaculata – Jakarta Barat 2. Saat ini menjabat sebagai wakil ketua Senatus Bejana Rohani, periode Juni 2017 – Mei 2020.

Seks & Orang Muda Katolik : Yuk Diskusi!

SEKS & ORANG MUDA KATOLIK: YUK DISKUSI!

Bicara soal seks bukanlah hal yang tabu lagi. Bukan karena ikut arus dalam dunia modern melainkan agar orang muda sadar, paham, dan mampu memilih dengan tepat. Berikut sebuah cuplikan pengalaman nyata. Apakah semudah itu hanya mengatakan ini benar dan itu salah?

***

  1. Sore itu, saya menerima sebuah pesan singkat dari seorang teman. “La, aku mau tanya. Aku punya adik sepupu… Itu merasa tidak pede gara-gara diejek belum sex. Anak tunggal. Ngomonginnya gimana ya? Tapi jangan ngomongin rohani-rohani ya, dia belum kenal Yesus…

Mari kita merefleksikan sejenak. Apa jawaban kita?

Apa opini kita tentang seks? Dari mana kita tahu tentang seks dan seputarnya? Apakah hal tersebut masih tabu dibicarakan dengan orang tua dan pembimbing kita di komunitas? J

Di satu sisi, sebagai kontras mari kita merefleksikan sebuah kisah lain yang mungkin sebagian besar dari kita sudah pernah membacanya.

  1. Bacaan dari Injil Yohanes 8:1-11.

“…tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

 

Tentu kita memiliki macam-macam perasaan, pikiran, dan reaksi terhadap bacaan Injil di atas. Banyak tokoh di sana. Ada (1) ORANG-ORANG Farisi dan (2) AHLI-AHLI Taurat, ada (3) Tuhan Yesus, ada (4) rakyat, dan ada (5) perempuan yang kedapatan berzinah. Pernahkah kita juga mendengar respon-respon seperti ini dan sejenisnya dalam kaitannya dengan nasihat terhadap orang muda dan seks?

 

  1. “Itu kan tidak baik (dosa). Kalau anak Tuhan tidak boleh berbuat begitu” atau “Nanti siapa yang mau bertanggung jawab?” atau “Ah, itu urusan mereka.”

 

Ada 1001 reaksi. Mulai dari nasihat bijak, gosip, cuek, sampai teguran keras dan tudingan. Lalu, apa yang dapat kita lakukan?

 

Dalam sebuah buku kecil, Spiritual Works of Mercy (Grogan, 2015, p.30) memberikan sebuah nasihat tentang teguran dalam kaca mata iman Katolik, “First of all with a motive of love; and secondly, with an acute awareness of our own sinfulness, which includes gratitude to the Lord for rescuing us and restoring us to Himself out of sheer mercy. And thirdly, praying first for the gift of counsel for ourselves!” Secara bebas, dapat diterjemahkan bahwa untuk membimbing seseorang, pertama-tama adalah dengan motivasi cinta kasih. Kedua, dengan kesadaran akan dosa kita sendiri, termasuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita dan memulihkan kita karena rahmat-Nya. Ketiga, terlebih dahulu berdoa untuk karunia Roh Nasihat untuk diri kita sendiri!” Tentu, itu semua berbeda dengan pandangan menghakimi atau sebaliknya apatis.

 

Dalam kisah nyata di atas, ada tips 3P untuk menjadi seorang sahabat dalam konteks pertobatan, yaitu:

  • Pray (doa)
  • Patience (kesabaran)
  • Persistence (kegigihan)

Contoh santa yang setia melakukan ini adalah Santa Monika yang berpuluh tahun mendoakan anak dan suaminya yang terjerumus dalam dosa berat. Akhirnya, anaknya menjadi seorang santo (Santo Agustinus) dan suaminya pun demikian (Santo Patrisius).

 

Jika demikian, bagaimana kita dapat berdiskusi mengenai seks dalam kehidupan orang muda? Berbicara mengenai seks dan seks bebas adalah dua hal yang berbeda. Seks adalah indah, mulia, dan suci. Bagaimana dengan seks bebas?

 

Pertama, pertanyaan yang fundamental. Apa yang dicari seseorang dari seks bebas? Kesenangan? Kepuasan? Jati diri? Kemerdekaan dan kebebasan?

Jika ya, kita dapat berfleksi mengenai hal yang terjadi dalam perjalanan hidup kita. Apa pengalaman kita tentang mengasihi dan dikasihi?

 

Kedua, seks bebas akan berakhir pada kehampaan. Jika kemerdekaan adalah hal yang dicari, maka dalam satu, dua, tiga atau beberapa kali hubungan mungkin ya. Selanjutnya, apa yang didapat?

 

Ketiga, tekanan dari lingkungan. Pada akhirnya, mengapa seseorang bergaul dengan lingkungannya? Mungkin karena di tempat lain, ia tidak diterima. Ia merasa ‘berbeda’ dan bahkan dianggap ‘salah, buruk, dan berdosa’. Jika kita merenungkan sikap Yesus, terhadap perempuan yang kedapatan berzinah, apakah Yesus menceramahi perempuan itu setelah “semuanya pergi”? Yesus tidak mengungkit-ungkit masa lalunya, Yesus tidak menasihati panjang lebar, Yesus tidak menuding. Yesus menegurnya dengan lembut. Yesus mengasihinya.

 

Keempat, hati nurani. Seseorang dapat merasakan bahwa ia dikasihi. Dalam lubuk hatinya, biasanya sebagian besar orang sudah mengetahui hal baik dan buruk. Apa yang mereka butuhkan? Lagi-lagi, cinta kasih dan kelembutan. Kelembutan DAN kerendahan hati. Itulah kekuatan kasih seorang ibu. Mengapa Bunda Maria begitu dicintai? Apakah kita bisa memancarkan hal itu?

***

Jadi, apakah hubungannya semua diskusi di atas dengan seks dan orang muda Katolik? Kesimpulannya singkat. Seks adalah indah dan suci. Orang muda Katolik melihat seks bukan hanya soal benar dan salah. Akan tetapi, tentang kebahagiaan dan tujuan hidup. Seks bebas tidak berujung. Justru, dengan saya berani memilih, saya bebas. Bebas mengikuti kebahagiaan sejati yang memang berhak saya dapatkan. Bebas menjadi seseorang yang berhak memiliki masa depan yang indah. Dalam kaca mata iman, saya memilih untuk mengikuti kebahagiaan dari Kristus. Mari kita saling mengasihi dan menguatkan dalam Kristus. Ave Maria. (MSCP).

 

DAFTAR PUSTAKA

Grogan, P. (2015) Spiritual Works of Mercy. Aberdeen: Catholic Truth Society Publishers

Confidence (Percaya Diri) – Article Web

“Aduh, aku nggak pede nih,” Ani, sebut saja demikian, mengeluarkan isi hatinya kepada Asri, teman dekatnya. “Kenapa Ani? Kamu itu kan baik dan ramah.  Kenapa nggak pede?” demikian percakapan itu berlanjut.

Terasa akrab di telinga kita?

Apakah kita pernah mengalami hal itu?

Ternyata, kita tidak sendirian. Menurut Thantaway dalam Hariyanto (2010), “Percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, karena itu sering menutup diri”. Singkatnya, seseorang yang percaya diri memiliki keyakinan untuk melakukan suatu tindakan. Sebaliknya, seseorang yang kurang percaya diri cenderung menutup diri terhadap hal-hal baru.

Apakah orang yang percaya diri berarti lebih baik dan orang yang kurang percaya diri berarti buruk? Belum tentu. Mengapa? Mari kita merefleksikannya dari para santo santa, sehubungan dengan iman kita.

Mari kita bercermin dari para santo santa. Salah satunya adalah Santo Paulus. Apakah Santo Paulus selalu percaya diri? Apakah ia pernah juga merasa minder atau rendah diri (ini berbeda dengan rendah hati loh)? Ya, kedua dinamika itu ada dalam diri Santo Paulus.

Santo Paulus pernah mengatakan, “Karena aku adalah yang terakhir dari para rasul dan tidak cukup tepat dipanggil rasul karena aku pernah menganiaya Gereja Allah” (1 Kor 15,9). Rasanya jika kita bayangkan saat Santo Paulus mengatakan hal tersebut, ada rasa galau dalam dirinya. Ia merasa tidak cukup tepat dipanggil rasul karena pernah menganiaya murid-murid Kristus. Bahkan Kristus sendiri dalam perjalanan Saulus (saat itu namanya masih disebut Saulus) berkata, “Saulus, Saulus, mengapa kamu menganiaya Aku”. Tentunya, kita bisa memahami perasaan dan pergumulan Santo Paulus.

Kita pun mungkin pernah mengalami perasaan seperti itu. Perasaan tidak layak atas diri kita, mungkin atas apa yang terjadi di masa lalu. Hal itu wajar. Bahkan, Santo Paulus pun pernah mengalami hal itu. Santo Petrus pun pernah menyangkal Yesus. Sederhananya, para orang kudus pun pernah mengalami rasa tidak percaya diri. Jadi, bagi kita yang pernah mengalami hal itu, kita tidak sendirian.

Akan tetapi, apa yang membedakan mereka? Mengapa mereka akhirnya diakui Gereja sebagai santo dan santa, para orang kudus? Bukan karena tidak pernah ada kesalahan setitik pun dalam kehidupan mereka. Faktanya, hanya Bunda Maria satu-satunya manusia yang dikandung tanpa dosa asal. Yesus Kristus juga sebagai Allah seutuhnya dan manusia seutuhnya, tanpa dosa. Jadi, kita tidak sendirian. Hal itu normal.

Perbedaannya adalah apa yang menjadi dasar dari kepercayaan diri mereka. Jawabannya pasti: Yesus Kristus. Menyadari kelemahan adalah baik tetapi berlarut dalam keputusasaan dan keyakinan bahwa kita tidak mampu adalah hal lain. Apalagi, si jahat, bapa dari segala kepalsuan dan kebohongan, menyerang iman kita dengan menggunakan kelemahan kita. Iblis mengetahui titik lemah kita, termasuk rasa kurang percaya diri kita, atau rasa percaya diri yang berlebih, dan dengan licik dapat menggunakan itu untuk membuat kita terjatuh. Entah dalam kesombongan atau dengan membuat kita rendah diri (minder) dan akhirnya stagnan, tidak maju karena tidak berani membuka hati terhadap rencana Tuhan yang tidak terduga. Si jahat menginginkan kesedihan berlarut dan kemunduran tetapi Tuhan menginginkan kebahagiaan sejati dan pertumbuhan.

Percaya diri adalah dinamika dalam hidup. Tidak ada manusia sempurna yang sepanjang hidupnya selalu berada dalam kondisi percaya diri. Pengalaman santo-santa pun demikian. Demikian sebaliknya, saat kita dalam kondisi tidak percaya diri, hal itu hanyalah keadaan sementara JIKA kita mau mengubahnya. Sulit? Ya. Jika mengandalkan kemampuan diri sendiri. Mudah? Tidak. Akan tetapi, mungkin dengan mengubah pola pikir kita dan mengandalkan Tuhan, semuanya mungkin.

Sebagai orang beriman, saat kita TERLALU percaya diri atau malah TIDAK percaya diri dan merasa kita lemah, kita bisa selalu berulang kali mengingat bahkan mungkin menulis besar-besar dan menempelnya di dinding kamar kita pesan Yesus Kristus dalam INJIL dan nasihat para santo santa. Beberapa di antaranya:

Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Lukas 12:6-7)

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda tetapi jadilah teladan bagi orang-orang percaya…” (I Timotius 4: 12)

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Mazmur 8:3-5)

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing” (Roma 12:3)

Santo Yohanes dari Salib mengatakan, “Segala sesuatu yang ada padamu berasal dari Tuhan, sehingga engkau tidak perlu menjadi sombong karenanya, dan tidak perlu juga kehilangan percaya diri.” Kata-kata ini dapat menjadi rangkuman dari permenungan kita tentang percaya diri.

Jadi, tetap semangat dan bergembira dalam TUhan Yesus Kristus. Jangan lupa untuk tetap selalu meminta pertolongan pada Bunda Maria, ibu kita tercinta, yang pastinya memahami perasaan dan kondisi kita anak-anaknya. Salam suka cita dan damai dalam Yesus Kristus untuk kita semua. (MSCP)
DAFTAR PUSTAKA

Haryanto (2010) Pengertian Kepercayaan Diri, June 25. Available at: http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepercayaan-diri/ (Accessed: 08 March 2016)

TEMU KAUM MUDA LEGIO MARIA 2016

Pada tanggal 08 – 10 Januari 2016 dilaksanakan Temu Kaum Muda Leadership Training. Acara training dilaksankan di Santa Monica Resort Cikretek Sukabumi – Jawa Barat. Acara ini merupakan bentuk tanggungjawab Legio Maria untuk mempersiapkan kader-kader pemimpin Gereja dan masyarakat masa depan. Jumlah peserta (dalam konteks hadir dan turut sebagai trainee) semua berjumlah 83 orang.
Sebagian besar anggota panitia yang terdiri dari legioner muda – terutama dari Kuria Cermin Kekudusan, Kampus KAJ – juga diperlakukan sebagai peserta (trainee) di mana mereka bukan hanya menjadi penyelenggara namun juga turut terlibat aktif dalam pembelajaran kecakapan kepemimpinan ini.

Namun demikian dari Sumatera tak mengirimkan peserta sama sekali; Sedangkan dari Kalimantan hanya mengirimkan 3 peserta, yakni dari Kuria Bunda Pemersatu – Sampit. Kendala utama keadaan ini adalah karena waktu kegiatan yang bersamaan dengan mulainya pelajaran sekolah/kuliah. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera legioner juga masih berjuang dengan sisa-sisa bencana asap kebakaran hutan. Hal ini menjadi alasan mengapa target mencapai 100 orang tidak terpenuhi.

Dinamika Training

Tujuan khusus training ini adalah memberikan kesadaran panggilan kepemimpinan Katolik pada peserta, sekaligus menunjukkan kekuatan karakter kepemimpinan para peserta secara individu. Untuk mencapai tujuan ini maka training menggunakan metoda asessment dan observasi perilaku secara mendetail kepada peserta. Observasi dan asessment dilakukan selama tiga hari training dan dikerjakan setiap saat secara intensif.
Sifat kegiatan ini adalah: dinamis, aktif, kompetitif, reflektif, dan rekreatif. Kegiatan dirancang secara indoor dan outdoor, serta mencakup pengembangan kognisi, afeksi, dan psikomotor.

Materi Konsep:

Materi konsep mencakup panggilan kepemimpinan dan karakteristik DISC pribadi peserta. Pada tahap ini peserta dibuka kesadarannya tentang panggilan kepemimpinan Katolik dan kekuatan karakter kepemimpinan dirinya. Peserta dilatih oleh tim dari Senatus Bejana Rohani dan trainer/ psikolog profesional (Ms. Roosdiana, MPHed, Dr. Octavian Elang MSi).

 Games dan Outbound

Games dan outbound bukanlah sekedar sebuah acara bersenang-senang, namun dimaksudkan sebagai media untuk melihat perilaku individu peserta ketika bekerja dalam kelompok. Perilaku yang diamati ini meliputi: semangat rela berkorban, kegigihan berusaha, kreatifitas, dan kecakapan komunikasi. Perilaku diamati secara cermat oleh tim khusus yang sudah dilatih sebelumnya. Hasil pengamatan kemudian dituangkan dalam bentuk skor dalam lembar tertulis yang sifatnya rahasia.

 Refleksi dan Pembatinan Pribadi

Refleksi dan pembatinan nilai-nilai kepemimpinan dilakukan sebagai bagian dari liturgi doa malam kreatif yang dinamakan pesta cahaya. Refleksi dan pembatinan ini merupakan wadah bagi peserta untuk membatinkan nilai-nilai kepemimpinan yang dipelajari dari dinamika sepanjang hari itu. Refleksi dan pembatinan dituntun dengan mengambil model kepemimpinan Yesus Kristus (teologi salib) yang memimpin umat manusia menuju Allah Bapa melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Refleksi dan pembatinan ini menggunakan media Rosario Kepemimpinan (peristiwa sedih) dimana di setiap awal perpuluhan peserta diajak merenungkan bagaimana Yesus Kristus menunjukkan tindakan karakter kepemimpinan kerendahan hati dan semangat berjerih lelah – bekerja berat. Visualisasi melalui video inspiratif juga digunakan untuk membantu proses pembatinan ini.

 Hasil Observasi dan Assessment

Hasil observasi dan assessment kepada para peserta selama 3 hari dinamika menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:

  • Secara umum peserta belum menunjukkan kualitas kepemimpinan yang menonjol (76%)
  • Beberapa peserta berperilaku sangat ambisius dan terlalu percaya diri (5%)
  • Beberapa peserta berperilaku rendah diri (10%)
  • Beberapa peserta menunjukkan potensi karakteristik kepemimpinan yang baik (9%)

 Kepada peserta dengan karakteristik kepemimpinan terbaik (diberikan gelar King and Queen) diberikan sertifikat dari Senatus Bejana Rohani dan hadiah hiburan.

Apa Kata Mereka:

Berikut ini komentar beberapa orang peserta dan pengamat yang disampaikan secara spontan, mereka mewakili dewan masing-masing:

  • Kuria Bunda Pemersatu – Sampit: “Acaranya mengasyikkan, walau saya kedinginan.”
  • Komisium Maria Assumpta – Tangerang: “Menyenangkan, memberikan pencerahan, kami jadi tahu kekuatan kepemimpinan dalam diri kami.”
  • Kuria Cermin Kekudusan – Kampus KAJ: “Acaranya seru. Kapan ada lagi??”
  • Komisium Ratu Para Rasul – Jakarta: “Game-game sangat mendidik, saya akan copy paste di tempat saya. Boleh kan??”
  • Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Bandung: “Tidak sangka acaranya akan seindah ini.Kami sangat menyukainya. Panitia sangat mantap!”
  • Komisium Bintang Timur – Bogor: “Oke banget! Materi semua sangat bermanfaat!”
  • Komisium Our Lady of The Holy Family – Jakarta: “Educated! Kami jadi tahu siapa diri kami!”
  • Komisium Maria Imaculatta Jakarta: “Sangat mengena! Top markotop!”
  • Bapak Yustinus Ruslim (Ketua Kuria Bunda Pemersatu, pengamat kegiatan): “Acara kalian sangat menyenangkan. Buat juga acara serupa bagi yang dewasa!”

6602_1697029067178020_2641927269988047558_n 1535039_1697032240511036_9109760822214381793_n 11226552_1696827183864875_3485737470314814698_n 12507526_1697042573843336_1768240162043452537_n 12509021_1697022867178640_795743629444926802_n 12510246_1697031597177767_846780631333350212_n IMG_20160109_091100

Misa Syukur Hut ke-37 Komisium Santa Maria Perawan Yang Setia Pontianak

Misa Syukur Komisium Santa Maria Perawan Yang Setia, Pontianak

Tahun ini, tepatnya tgl 19 Januari, Komisium Santa Maria Perawan Yang Setia Pontianak genap berusia 37 tahun, peringatannya kita adakan pada tanggal 24 Januari 2016 di biara Kapusin Saint Lorenzo, jl Budi Utomo Pontianak bersama Pastor APR Komisium, Pastor Yoseph Adji, para Frater Kapusin beserta Legioner se-Komisium Pontianak.

Misa dipimpin oleh Pastor Adji pada pk 10.30 Wib dan berlangsung dengan khusuk dan khidmat. Dalam khotbahnya Pastor Adji menekankan tentang pentingnya para Legioner membaca Firman Tuhan setiap hari, merenungkan dan menjadikan Sabda Tuhan sebagai pegangan hidupnya. Firman yg dibaca tersebut harus diresapi, dan mendarah daging dan di praktek kan dalam kehidupan para Legioner terutama dalam hal kasih. Pelayanan para Legioner harus mencerminkan kasih Tuhan itu sendiri, terutama kepada mereka yang membutuhkan yaitu mereka yang sakit, yang jompo dan tidak berdaya serta yang terpenjara.

Setelah misa selesai dilanjutkan dengan acara tiup lilin kue ulang tahun bersama dan keakraban makan siang bersama.

Dalam acara tersebut dikenalkan juga ketua Komisium yang baru Sdr. Simon Petrus Deni sebagai pengganti Ketua Komisium yang lama, Sdr. Ignatius Gunawan karena pindah tugas ke semarang. Atas nama seluruh perwira, koresponden dan para Legioner kami ucapkan profisiat dan selamat bertugas. Semoga ke depannya Komisium Pontianak lebih maju dalam program-program kerja.

IMG-20160129-WA0013 IMG-20160129-WA0012 IMG-20160129-WA0011 IMG-20160129-WA0010 IMG-20160129-WA0009