Jejak Presidium Bunda Hati Kudus

​Oleh Sdr. Bartolomeus Helan


Legio Maria sudah tidak asing lagi di paroki St. Theresia Prapatan Balikpapan. Persekutuan orang-orang yang bersatu dengan Bunda Maria dalam doa dan pelayanan ini sudah berada di paroki ini sejak tahun 1958. Dalam catatan kronik paroki Klandasan (paroki St.Theresia Prapatan sekarang) terdapat satu Presidium Legio Maria dengan nama Presidium Bunda Pencinta Damai. Namun tidak ada data yang pasti, Legio Maria diperkenalkan oleh siapa dan berapa jumlah anggota waktu itu. Yang pasti presidium ini mengadakan rapat setiap hari Minggu pukul 16.00, serta terlibat aktif dan mengambil bagian dalam tugas pelayanan pastoral. 

Meskipun Presidium Bunda Pencinta Damai menjadi presidium pertama di paroki Prapatan dan juga se-Kalimantan Timur namun statusnya tidak terdaftar di Senatus Bejana Rohani Jakarta. Hal ini membuat Presidium ini hanya terkenang dalam ingatan anak cucu para pendiri yang telah berpulang ke rumah Bapa di Surga. 

Menilik lebih jauh dan “bukan” berdasarkan fakta sejarah, Presidium Bunda Pencinta Damai bertahan sampai sekitar tahun 1972.  Setelah itu Presidium ini dinyatakan “bubar” atau tidak aktif lagi karena sebagian anggotanya mutasi dan meninggal dunia serta sejak saat itu tidak ada lagi kelompok Legio Maria di paroki Prapatan.

Gereja Paroki St. Theresia Prapatan (foto diambil dari google maps)

Api Legio Maria Kembali Bernyala
Ibu Yenny Lesmana datang ke Balikpapan pada bulan Nopember tahun 1978. Beliau merasa kosong dan sepi karena paroki St. Theresia tidak memiliki kelompok doa Legio Maria. Beliau sudah terbiasa dan aktif di Legio Maria sejak tahun 1973 di Semarang sehingga kebiasaan inilah yang mendorongnya untuk menyalakan kembali api Legio Maria yang telah padam. Ia pun berinisiatif membentuk satu presidium Legio Maria di paroki ini. Pada tahun 1980 pastor A.M Sutrisnaatmoka, MSF (sekarang uskup Palangkaraya) bertugas di paroki Prapatan. Ibu Yenny bertemu dengan pastor Sutrisna dan berunding bersama sekaligus membuat rencana membentuk Legio Maria di paroki St. Theresia Prapatan Balikpapan. Pertemuan dan diskusi singkat ini membuahkan hasil positif.

Keluarga Ibu M. E. Jenny Lesmana

Pada tanggal 9 Mei 1981 jam 19.00 WITA bertempat di pastoran paroki St. Theresia Prapatan dibentuklah Presidium Bunda Pecinta Damai (BPD) sebagai presidium senior campuran yang pertama.  Rapat pertama terjadi pada tanggal 17 Mei 1981 jam 16.00. Susunan perwira pertama Presidium Bunda Pencinta Damai sebagai berikut: Pemimpin Rohani: Pastor A. Sutrisno Atmaka, MSF (Uskup Palangkaraya sekarang). Ketua: Saudari Yenny Lesmana. Wakil Ketua: Saudara Paulus Slamet Sabanto. Sekretaris: Saudara Sudarisman. Bendahara: Saudari Veronika Isri Isharjanti. Jumlah anggota pertama yang bergabung dalam presidium ini sekitar 10 orang.

Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF (foto dari katolikpedia.org)


Setelah rapat perdana ini, mulai dilaksanakan rapat-rapat legio secara rutin. Anggota Legio Maria juga terlibat aktif dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di paroki. Dari sini pula terbentuk kelompok Kitab Suci dengan nama kelompok Patrisi. Kelompok ini terbuka umum, kegiatannya diadakan setiap sekali dalam bulan dikoordinir oleh Legio Maria. Kegiatan inti yang dijalankan pada pertemaun Patrisi ini adalah membahas dan mendiskusikan Kitab Suci dan pengetahuan umum tentang Gereja Katolik. Di dalamnya juga dibicarakan karya pelayanan pastoral dan liturgi Gereja. Kelompok Legio Maria merupakan perpanjangan tangan dari pastor paroki. Setiap bulan Mei dan Oktober Legio selalu mengadakan  devosi Maria di gereja untuk umat paroki, biasanya dibuka dengan perarakan patung Bunda Maria dengan memakai tandu dari halaman gereja dan ditahtakan di dalam gereja selama sebulan, di mana setiap hari ada legioner yang memimpin atau membawakan doa rosario secara bergiliran.

Selain tugas pokok rapat dan keterlibatan dalam karya pastoral Gereja, tugas lain yang dijalankan adalah mengunjungi orang sakit di rumah sakit maupun di rumah, melayat dan menghibur warga yang mengalami kedukaan atau menderita, mengunjungi warga gereja yang bermasalah (yang jarang ke gereja) dan acara-acara berkala lain seperti sarasehan dan diskusi, membersihkan gereja, sakristi dan gua Maria. Para anggota presidium Bunda Pencinta Damai juga terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan atau kring masing-masing.

Spontanitas tapi bukan kebetulan

Anggota Presidium Bunda Pencinta Damai semakin hari semakin bertambah banyak. Anggota ini terdiri dari orang dewasa, remaja dan anak-anak. Seiring bertambahnya jumlah anggota dan perbedaan usia dalam Presidium ini maka diputuskan untuk membaginya menjadi dua presidium. Keputusan ini secara spontan dalam rapat Presidium tanpa rencana sebelumnya. Dalam rapat itu juga, semua spontan memberi nama pada Presidium baru yakni Presidium Bunda Hati Kudus. Soal pilihan nama ini tanpa refleksi mendalam. Apakah karena Hatinya sebagai seorang ibu setia mendampingi anak-anak yang datang kepadanya dan tidak pernah meninggalkan mereka di bawah kepak sayap kasihnya? Pertanyaan yang belum bisa terjawab sampai detik ini. Sr. Yohana, MASF dan bu Yenny Lesmana sebagai asisten pemimpin rohani waktu itu memberi kesaksian bahwa Presidium baru dengan nama Bunda Hati Kudus lahir secara spontan tetapi bukan sebuah kebetulan. Demikian juga dengan nama presidium ini. Hal ini pun diyakini sebagai anugerah Roh Kudus melalui doa Bunda Maria yang berkarya dalam diri semua anggota presidium Bunda Pencinta Damai untuk melebarkan sayap kerasulan melalui presidium yang baru.

Presidium Bunda Hati Kudus merupakan presidium junior campuran dengan anggota siswa-siswi SMA, SMP, SD dan kebanyakan dari mereka merangkap sebagai putra-putri Altar (misdinar). Ada satu anggota yang paling kecil berusia 4 tahun atas nama Angelina Novitri. Mereka dipisahkan dari kelompok seniornya dan menyandang status sebagai presidium Junior. Dapat pula dikatakan bahwa Presidium Bunda Hati Kudus adalah anak dari Presidium Bunda Pencinta Damai. Presidium ini dibentuk pada tanggal 9 Agustus 1992 dengan susunan perwira pertama; Ketua: Yosep Pio Erwin, Wakil Ketua: Yohanes Elvianus, Sekretaris: Ida Ayu Christiany, Bendahara: Yosep Pio Erwin, dengan pemimpin rohaninya pastor F.X. Huvang Hurang, MSF, serta asisten pemimpin rohaninya Sr. Yohana, MASF dan ibu Yenny Lesmana. Waktu rapat ditetapkan setiap hari Minggu pukul 09.30 bertempat di belakang pastoran. Presidium ini disahkan oleh Dewan Senatus pada pada tanggal 09 September 1992 karena pada tahun 1992 belum ada dewan Kuria di Balikpapan. Maka sebelum terbentuknya Kuria, kedua presidium ini (BPD dan BHK) mengadakan rapat sebulan sekali di rumah ibu Yenny Lesmana, Jl.Lombok No.21 Gunung Dubs.

Dalam catatan rapat maupun laporan tahunan, perwira-perwira awal berganti begitu cepat. Ada yang menjabat hanya dua tahun. Ada yang setahun lebih atau cuma setahun dan bahkan ada yang beberapa bulan saja. Hal ini dilatarbelakangi oleh urusan sekolah dan mutasi (pindah mengikuti orang tua). Namun pada kenyataannya, mereka begitu disipilin dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas, ‘membesarkan’ presidium baru ini dan selalu semangat dalam mengikuti rapat serta kegiatan-kegiatan kerasulan. Patut juga dicatat bahwa anggota Legio Maria junior ini menjadi anggota misdinar dan anggota Mudika paroki. Kenyataan menegaskan bahwa “Anggota Legio adalah Mudika dan Mudika belum tentu anggota Legio”. Maka dalam organisasi Mudika sebagian besar anggotanya merupakan anggota Legio Maria. Kebanyakan anggota yang ikut bergabung dengan Legio Maria karena diajak teman-teman. Awalnya cuma ikut-ikutan tepi lama kelamaan betah dan mulai aktif. Anggota BHK berkisar antara 30-50 orang. Tetapi yang hadir rapat minimal 20-an orang. Anak-anak sekolah ini merupakan cikal bakal penerus Legio Maria di paroki Prapatan. Adapu tantangan yang dihadapi adalah tidak adanya figure pemimpin yang handal karena tidak ada pengkaderan. Kelompok ini terus berjalan seiring dengan keterlibatan aktif para pendamping dan keluarga yang selalu mendukung dan memberi motivasi agar mereka terus semangat dalam setiap rapat maupun karya pelayanan.

Lebih jauh nilai yang tertanam dalam benak dan diri mereka adalah kebersamaan. Bukan saja soal mengikuti rapat presidium tetapi lebih dari itu ada tujuan lain yakni rekreasi atau bersenang-senang sebagaimana usianya anak-anak. Anggota BHK sangat kompak dan antusias untuk hadir rapat dan kemudian diajak jalan-jalan (wisata) ke km. 15 atau km 45 atau juga ke pantai. Memang dunia anak-anak : 40 % mengikuti rapat dan 60 % rekreasi. Dalam rapat minggu ini, ada rencana untuk minggu depan kemana. Anggota tambah semangat untuk hadir minggu depan karena setelah rapat akan jalan-jalan bersama. Satu kegembiraan yang menjadikan setiap anggota saling meningatkan dan saling meneguhkan. Akan tetapi seiring perjalanan waktu dan dibekali pemahaman dari para pemimpin dan asisten pemimpin rohani, pola ini perlahan-lahan berubah menjadi 80 % menghadiri rapat mingguan, menjalankan tugas-tugas legioner dan 20 % rekreasi. Juga satu pola yang berubah secara dratis ketika anggota Junior ini mulai melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan pola pikir yang lebih matang. Satu yang menarik bahwa tugas pencarian anggota baru menjadi tugas khusus (wajib) yakni satu orang wajib mencari dua calon anggota baru. Maka tidaklah mengherankan bahwa jumlah anggota BHK semakin hari semakin bertambah.  Di samping itu, satu faktor yang mendukung semangat dan keterlibatan para anggota baik waktu rapat maupun kegiatan pelayanan adalah kreatifitas para perwira dan pemimpin serta asisten pemimpin rohani. Karena ketika seorang perwira atau pemimpin dan asisten rohani ‘kurang’ memahami situasi dan keadaan para anggota, maka perlahan tapi pasti jumlah anggota setiap tahun semakin menurun. Bersyukurlah bahwa hal yang spontan ini tidak menjadikan presidium Junior pertama di Kalimantan Timur ini ‘bubar’ melainkan tetap bertahan sampai berubah status menjadi Presidium Senior.

Dari Junior ke Senior

Waktu terus berjalan. Tahun pun berganti pasti. Presidium Bunda Hati Kudus pun larut dalam perputaran waktu dan pergantian tahun. Para anggota yang nota bene usia sekolah perlahan ‘meninggalkan’ presidium ini satu per satu. Mereka pergi bukan karena tidak sanggup lagi mengemban tugas sebagai tentara Maria tapi semata-mata karena tuntutan pendidikan dan mutasi ke tempat tinggal yang baru. Begitu pun ketika mereka pulang dari perburuan cita-cita, mereka  kembali bergabung dengan Presidium ini. Sekitar tahun 1999, presidium Junior ini berubah status menjadi presidium Senior. Anggotanya pun rata-rata sudah memiliki pekerjaan yang tetap.

Presidium Bunda Hati Kudus tetap bertahan namun presidium induknya yakni Bunda Pencinta Damai tidak aktif lagi bahkan dinyatakan bubar sekitar tahun 2001. Namun perlu dicatat bahwa dari presidium induk (Bunda Pencinta Damai) ini, lahirlah presidium-presidum baru (selain BHK) di tiga paroki kota Balikpapan yakni presidium Anuntiata di paroki St. Theresia Prapatan (25 Maret 1994), presidium Ratu Rosari (14 Agustus 1994) di paroki St. Petrus-Paulus Dahor dan presidium Maria Protegente (07 September 2000) di paroki St. Klemens I Sepinggan. Demikian juga berdiri presidium-presidium lain di wilayah Keuskupan Agung Samarinda yang bernaung di bawah Kuria Bejana Kebaktian Balikpapan.

Presidium Bunda Hati Kudus menghadapi pasang surut dalam proses perkembangannya. Pasang surut ini terlihat dalam statistik keanggotaan dan kepengurusan. Jumlah anggota dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Boleh dikatakan anggota yang masuk berbanding terbalik dengan anggota yang keluar. Jumlah yang keluar lebih banyak sementara yang masuk menjadi anggota tidak bertahan lama. Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan adalah tuntutan pekerjaan, kesibukan rumah tangga dan mutasi ke luar paroki maupun daerah. Sementara dalam kepengurusan antara tahun 2007-2009 wakil ketua dan bendahara vakum. Saudari Rosa Kumarurung sebagai wakil ketua naik menjadi ketua merangkap bendahara. Anggota aktif 3 (tiga) orang yang masih terikat kehidupan membiara sebagai aspiran.

Pasukan Maria tidak mengenal kata ‘menyerah.’ Meskipun berbagai keterbatasan dialami dalam roda kehidupan presidium ini, selalu saja ada jalan untuk menjalankan misi perutusan mencari dan merekrut anggota baru. Tugas ini terbilang amat sulit. Setiap anggota aktif harus ‘berperang’ melawan gaya hidup dan mental instan orang-orang zaman ini. Jawaban yang selalu ditemukan dalam perjumpaan dan percakapan adalah ‘tidak ada waktu’ dan ‘sibuk.’ Seandainya ada kesempatan untuk berdebat argumentasi ini bisa dipatahkan. Satu hari terdiru darj 24 jam. Legio hanya butuh 1 jam 30 menit. Berarti masih ada sisa 22 jam 30 menit. Tapi itu sama sekali tidak membuat seseorang untuk mau bertahan selama satu setengah jam untuk berdoa dan mengikuti rapat. Namun anggota Legio Maria tidak pernah ‘memaksa’ seseorang untuk menjadi anggota Legio. Hanya senjata doa yang mampu mengalahkannya. Perlahan namun pasti presidium ini semakin berkembang dengan jumlah anggota aktif berkisar antara 10-15 orang di luar perwira. Itu berarti sejuta tantangan dan kesulitan apapun jika dihadapi dengan senjata doa akan menghasilkan banyak buah dan menjadikan karya Legio Maria berkat bagi semua orang yang dilayani.

Tugas Pelayanan Anggota BHK

Anggota Presidium Bunda Hati Kudus baik waktu masih Junior dan perlahan berubah menjadi Senior memiliki semangat dasar yang sama yakni doa dan pelayanan. Khusus anggota Junior waktu itu, tugas mereka adalah membersihkan gereja, mengunjungi teman yang sakit atau bermasalah, mempelajari buku pegangan, mengikuti kegiatan-kegiatan misdinar, belajar, membantu orang tua, membaca Kitab Suci, sekolah Minggu dan kegiatan di lingkungan masing-masing. Mereka juga diberi tugas kunjungan ke rumah sakit dan penjara tetapi tidak setiap minggu. Selain itu anggota yang menjadi misdinar tugas khususnya mengikuti kegiatan misdinar (latihan ataupun tugas misa). Tugas rutin setiap hari adalah menjadi misdinar dan petugas lektor pada misa harian. Perlu dicatat bahwa ketika mendapat tugas sebagai misdinar atau lektor anggota tersebut sudah berada di gereja satu atau dua jam sebelum misa dimulai. Itu berarti anak-anak ingin agar tugas yang dipercayakan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Satu hal pula yang dibiasakan dalam mempelajari buku pengangan adalah apa yang dibacakan dalam minggu itu kemudian disharingkan pada saat rapat berikutnya. Dengan demikian, hal yang kadang kurang dipahami dijelaskan kembali oleh pemimpin rohani atau asisten pemimpin rohani.

Dalam menjalankan tugas, berbagai kendala ditemukan entah itu secara pribadi maupun bersama. Kendala utama yang dihadapi adalah kemalasan, ketiduran, kelelahan atau les yang bersamaan dengan jam pelaksanaan tugas. Ketika tugas itu gagal dilaksanakan, anggota tersebut merasa sedih. Namun kalau mampu mengatasi kendala-kendala ini dan tugas itu berhasil maka ada kegembiraan dan sukacita. Sementara itu untuk laporan tahunan presidium langsung diserahkan ke Senatus dan tidak ada rapat Kuria karena antara tahun 1992-1994 belum ada dewan Kuria di Balikpapan. Maka pada tahun 1994 Saudara Erwin (BHK) dan Saudara Berni (BPD) menghadiri rapat Senatus Bejana Rohani di Jakarta.

Dalam koridor pelaksanaan tugas anggota Junior dan Senior sedikit berbeda. Beban tugas dan pelayanan pun tidak persis sama. Hal yang menarik yang pernah dilakukan dari anggota yang terdahulu sampai dengan saat ini adalah bakti sosial atau aksi sosial. Memang benar bahwa anggota Legio Maria tidak boleh memberikan apapun (uang maupun barang) kepada siapapun atau menerima apapun dari orang lain namun kegiatan ini sebagai bentuk solidaritas pada masa adven atau masa prapaskah. Perlu dicatat bahwa dalam kegiatan bakti sosial atau aksi sosial ini, anggota Legio tidak pernah mengumpulkan uang ataupun barang pribadi tetapi anggota Legio menggandeng orang-orang yang mampu untuk membantu mereka yang membutuhkannya dan juga bekerja sama dengan Seksi Sosial paroki. Barang-barang (berupa sembako) biasanya dikumpulkan oleh umat (warga paroki) lalu Legio Maria mengambil bagian dalam proses penyalurannnya. Jadi Legio Maria hanyalah perpanjangan tangan dari umat paroki untuk turun menjumpai kaum marginal tersebut. Maka anggota Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus pernah mengadakan aksi sosial saat kunjungan ke stasi Amburawang, aksi sosial ke anak-anak jalanan dan orang-orang pinggiran serta aksi sosial ke panti asuhan.

Dalam rapat Presidium, setiap anggota mendapat tugas pelayanan yang dilaksanakan sepanjang satu pekan dan kemudian pada rapat minggu berikutnya tugas-tugas itu dilaporkan. Tugas-tugas anggota berupa tugas rutin seperti; mendoakan dan mengunjungi orang sakit (di rumah maupun di rumah sakit), mengunjungi anggota auksilier, tugas di gereja (koor, tatib, rias altar, Rosario sebelum misa, kunjungan ke penjara, mengikuti kegiatan ACIES, pendalaman iman, pendalaman Kitab Suci dan rosario di Kring, mengikuti misa legio gabungan tiga paroki, mempelajari buku pegangan dan Kitab Suci, dan lain-lain.

Selain tugas rutin ada juga tugas insidentil berupa; menghadiri rapat dewan paroki, menjadi koordinator safari Rosario, ikut ambil bagian dalam kegiatan kategorial gerejani, bersama pastor atau suster mengantar komuni (untuk jompo dan orang sakit), kunjungan ke kaum marginal, kunjungan ke panti jompo, mengadakan seminar pada penutupan bulan Maria dan HUT Presidium dengan melibatkan semua umat paroki, dll.

Dalam menjalankan tugas-tugas ini masih ditemukan juga kesulitan atau kendala-kendala yang kadang membuat tugas itu gagal dilaksanakan. Adapun kesulitan yang selalu muncul adalah waktu kunjungan yang tidak cocok antara teman. Di samping itu ada urusan keluarga mendadak yang mengharuskan seseorang keluar kota. Perlahan namun pasti, setiap anggota Legioner berusaha untuk mengingatkan temannya dan membuat jadwal kunjungan yang sesuai sehingga tidak menggangu rutinitas masing-masing. Dalam kunjungan itu juga kadang ada penolakan dari orang atau keluarga yang mau dikunjungi. Namun anggota Legio tidak pernah putus asa, bahkan membawakan pengalaman ini dalam doa. Suatu yang menjadi sumber kegembiraan dan sukacita adalah bahwa anggota Legioner mampu menjalankan tugas pelayanan dengan setia. Meskipun ada banyak kesibukan namun masih mempunyai waktu dan kesempatan untuk melakukan kunjungan atau kegiatan aksi sosial, menjumpai orang-orang sakit dan menderita, orang-orang yang haus dan lapar akan sentuhan kasih, mereka yang lemah dan terabaikan, kaum kecil dan kelompok marginal serta mereka yang mengalami problem dalam hidup. Semuanya itu dibawa dalam doa-doa dan juga dalam karya pelayanan sebagaimana ‘seorang gembala’ ……………. (lihat buku pegangan).

Moment 25 tahun : Moment Syukur dan Kenangan

Presidium Bunda Hati Kudus pada tanggal 9 Agustus 2017 genap berusia 25 tahun. Sebuah usia yang tidak terbilang muda pada perputaran waktu zaman yang ditandai dengan pola hidup serba instan. Inilah peristiwa iman penuh nada syukur dan kenangan. Peristiwa bersejarah ini tentu menjadi kebanggaan bagi para anggota Legio Maria pada umumnya dan Presidium Bunda Hati Kudus pada khususnya di paroki Santa Theresia Prapatan Balikpapan. Meskipun kecil dalam segi jumlah namun kehadiran dan keberadaan para legioner ini dapat membantu karya pelayanan pastoral sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Moment 25 tahun ini merupakan kesempatan emas bagi para legioner dan simpatisan untuk mengungkapkan rasa syukur dengan berpegang teguh pada penyerahan diri yang utuh: “Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanmu.”

Moment penuh syukur ini juga bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas karya penyertaan dan rahmat Allah melalui Bunda Maria selama 25 tahun berkarya dan mengemban tugas pengudusan bagi anggota legio dan orang lain. Hal lain yang ingin dicapai adalah meningkatkan kualitas kerohanian para anggota legioner baik Legioner aktif maupun Auksilier (pendoa) dan membangkitkan semangat serta kesadaran baru akan arti dan peran legioner dalam karya pelayanan ke dalam maupun keluar yakni membantu karya Gereja (paroki) secara utuh dan nyata. Lebih jauh perayaan ini juga mau menumbuhkan kembali motivasi awal sebagai anggota legio dan belajar dari kerendahan hati Sang Ratu Bunda Maria untuk setia pada tugas dan tanggung jawab sebagai anggota legioner.

Kegiatan-kegiatan yang dijalankan untuk memaknai moment penuh syukur dan kenangan ini adalah:

  1. Retret Legio Maria di rumah-rumah Ret-Ret Putak-Samarinda pada tanggal 22-23 April 2017. Ret-ret ini didampingi oleh pastor Niko, OMI dengan tema “Kerendahan Hati Maria Menjiwai Semangat Doa dan Pelayanan Legioner.”
  2. Misa pembukaan Bulan Maria pada tanggal 30 April 2017 di gereja St. Theresia Prapatan Balikpapan. Misa didahului dengan perarakan patung Bunda Maria dari depan gereja dan ditahtahkan di panti imam. Di depan patung Bunda Maria ada 10 orang wakil umat yang mewakili 10 etnis atau suku yang ada di Balikpapan mendaraskan doa Salam Maria dengan bahasa daerahnya masing-masing.
  3. Seminar dan Talk Show tentang Bunda Maria pada tanggal 30 April-01 Mei 2017 di aula paroki St. Theresia Prapatan Balikpapan. Seminar ini membahas tentang 4 (empat) Dogma tentang Maria yakni: Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda, Dogma Maria Bunda Allah, Dogma Maria Diangkat ke Surga dan Dogma Maria Tetap Perawan. Nara sumbernya Sr. Maria Erna, PRR. Sementara dalam Talk Show selain keempat dogma ini, ditampilkan juga tentang Bunda Maria dari La Salette dengan nara sumber pastor Erdy E.V, MSF.
  4. Safari Rosario selama bulan Maria. Safari ini diadakan di 10 (sepuluh) lingkungan dalam paroki St. Theresia Prapatan mulai tanggal 02-30 Mei 2017. Dalam safari ini, pastor Andi, MSF, para suster MASF dan FSE menjadi pemimpin ibadah dan membawakan renungan seputar kehidupan iman Bunda Maria.
  5. Perayaan Ekaristi syukur pada hari Minggu, 13 Agustus 2017. Perayaan ini bertepatan dengan Hari Raya Maria Diangkat ke Surga yang dipimpin oleh Mgr. Yustinus Harjosusano, MSF Uskup Agung Keuskupan Samarinda. Sebelum perayaan puncak ini, diadakan novena mulai tanggal 03-11 Agustus 2017. Begitu juga kegiatan latihan koor yang melibatkan anggota Legio Maria tiga paroki di Balikpapan (Prapatan, Dahor dan Sepinggan) dan latihan tarian yang melibatkan anak-anak KOMKA yang nota bene anggota Legio Junior di paroki Prapatan.
  6. Menerbitkan buku kenangan 25 tahun Presidium Bunda Hati Kudus. Sebuah jejak sejarah yang perlu dimaknai untuk dikenang. Meskipun terbatas dalam ruang dan waktu namun panitia 25 tahun berusaha sejauh mampu untuk menyulam benang sejarah yang ‘tercecer’ menjadi sebuah sulaman utuh dalam bentuk buku kenangan.

 

Moment Syukur ini melibatkan semua umat paroki, Legio Maria (aktif maupun auksilier) di wilayah Kalimantan Timur dan anggota Legio Maria yang pernah menjadi pengurus maupun anggota di Presidium Bunda Hati Kudus. Sejuta harapanpun tersemat di tubuh Legioner ini agar semakin hari anggotanya semakin bertambah dan Presidium ini bisa berkembang terus tidak hanya berhenti pada moment syukur ini tetapi terus bergerak menjadi Tentara Maria yang siap sedia bertempur di medan kehidupan zaman ini. Bertekun dalam doa bukan tanpa rintangan. Hidup dalam persekutuan bukan perkara gampang. Setia dalam pelayanan bukan hal yang mudah. Namun melalui madah ini ‘Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanmu’ segalanya menjadi indah. Semakin dekat dan mencintai Bunda Maria berarti semakin dekat dengan Puteranya dan siap melayani dalam kegembiraan dan sukacita. Proficiat atas pencapaian usia yang ke 25 ini dan jayalah terus LEGIO MARIA. 

BUNDA HATI KUDUS, DOAKANLAH KAMI SELALU.


Disusun oleh Sdr. Bartolomeus Helan, kerua Presidium Bunda Hati Kudus dan juga Ketua Kuria Bejana Kebaktian Balikpapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *