Keluarga Kudus Sebagai Teladan Dalam Menjalin Persahabatan

Oleh RP. Yanno Leyn, MSF (Pastor Paroki Santo Yosef Pekerja – Juata)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 2:41-52

Ada sebuah lirik lagu yang selalu saya ingat dan kenang, berjudul “Keluarga Cemara”, yang diangkat dari sinetron besutan Arswendo Atmowiloto dan Adi Kurdi. Begini penggalan liriknya,

Harta yang paling berharga adalah keluarga,

Istana yang paling indah adalah keluarga.

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.

Mutiara tiada tara adalah keluarga….

Lewat penggalan lagu ini kita bisa membaca salah satu pesan, bahwa keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah tempat kita saling berbagi rasa, saling memperhatikan, saling menyayangi, dan saling membantu satu dengan lainnya. Keluarga demikianlah yang sungguh memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kasih.

Suatu komunitas atau keluarga kristiani perlu dibangun atas dasar kasih. Tanpa kasih, keluarga yang utuh dan bersekutu tidak mungkin berdiri kokoh dalam mengarungi samudera arus zaman.

Bertolak dari spiritualitas Keluarga Kudus Nazaret, kita membangun persahabatan dengan yang lain. Dalam lingkup keluarga, Yusuf, Maria, dan Yesus mengalami dan merasakan kepenuhan akan kebutuhan jasmani maupun rohani yang sangat mendalam.

Berdasarkan pada latar belakang masing-masing, mereka diutus untuk bersatu membentuk sebuah keluarga baru yang di dalamnya saling memberi dan menerima, mendidik dan dididik. Mereka saling belajar satu sama lain baik dalam menyelesaikan berbagai macam masalah kehidupan maupun dalam meningkatkan perkembangan rohaninya. Walau mereka memiliki keterikatan batin yang kuat namun ketiganya tetaplah pribadi-pribadi yang tidak melebur dalam pribadi yang lainnya. Masing-masing tetap memiliki kekhasannya, pribadi yang mandiri dan utuh serta yang memiliki perannya masing-masing.

Keluarga Kudus Nazareth merupakan model keluarga yang ideal bagi hidup pribadi atau kelompok masyarakat dalam menjalin persahabatan. Mengapa menjadi model yang tepat dan yang diharapkan? Kisah Injil yang ditampilkan dalam teks Lukas memperlihatkan gambaran tersebut.

Relasi keluarga Kudus Nasaret ini sangat harmonis, Mereka hidup dalam ketaatan kepada Allah. Misalnya tiap-tiap tahun mereka pergi ke Bait Allah di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Kemudian ketika Yesus berusia dua belas tahun, mereka bertiga pergi bersama-sama ke Bait Allah. Kesetiaan Yusuf dan Maria sebagai orang tua tercermin juga ketika Yesus hilang dalam perjalanan pulang ke Nasaret setelah merayakan Paskah. Tiga hari penuh mereka mencari puteranya sampai menemukan kembali di kota suci tersebut. Ketika menemukanNya, mereka tidak mendakwa atau memarahi Yesus tetapi mencoba menerima dan merenungkannya di dalam hati walau tidak mengerti dengan alasan Yesus. Yesus hidup dalam asuhan orangtuaNya dan semakin dikasihi Allah dan manusia. (bdk. Luk. 2:42-51).

Atas dasar inilah hubungan cinta kasih timbal balik antara ayah, ibu, dan anak terjalin. Keluarga Kudus Nazareth saling hormat penuh cinta, bersatu dan berdoa bersama. Dalam keluarga Nazareth yang beriman itu, tampak gambaran manusia yang hidup dalam pelayanan, kerukunan dan kedamaian. Yesus, Maria, dan Yosef merupakan pribadi-pribadi yang sungguh murni dalam kesetiaan, iman, pengharapan, dan pelayanan. Mereka mampu menangkap dan menjawab panggilan Tuhan.

Bagaimana kita mengejawantahkan spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth dalam kehidupan zaman ini? Fokus Pastoral Keuskupan Tanjung Selor tahun ini mengambil tema, “Gereja yang Ramah, Menyapa dan Memasyarakat”. Sejalan dengan tema ini, Paus Fransikus dalam homili malam Paskah 2015 yang lalu menyerukan agar keluarga-keluarga Katolik berani meninggalkan zona nyamannya masing-masing dan melihat keadaan sekeliling, terutama memperhatikan dan menolong orang-orang yang membutuhkan.

Hubungan atau relasi kita dengan yang sesama kerap kali ditandai dengan kehadiran. Dalam kehadiran ini kita menciptakan komunikasi dan relasi persaudaraan. Sebuah relasi-komunikasi yang menjadikan kita bagian dari yang lain.

Sikap rendah hati penuh kasih hendaknya menjadi spiritualitas kita dalam menerima yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *