Maria Bunda Berhikmat : Teman Perjalanan Kita

Homili RP. Markus Yumartana, SJ pada misa bulanan Legio Maria Katedral Jakarta, 8 Maret 2019.


Legioner sebagai pencinta Bunda Maria pasti mencintai Yesus, karena Bunda Maria mengantar kita kepada Yesus. Bunda Maria, Bunda berhikmat, ia teman perjalanan hidup kita. Maria adalah yang paling setia mendampingi dalam setiap fase kehidupan Yesus sejak lahir sampai ke Golgota, hingga digambarkan Maria menggendong Putranya yang mati di salib. Inilah kesetiaan Maria dalam menyertai Putranya sampai tugasNya selesai. Dalam tradisi latihan rohani St. Ignatius, Maria adalah yang pertama mengalami penampakan Yesus yang bangkit. Maka dalam tradisi Spanyol yang dirayakan di Filipina ketika paskah, ada sebuah perayaan yang disebut sebagai Salubong* yang menggambarkan perjumpaan antara Maria dengan Yesus yang telah bangkit. (Salubong dalam Bahasa Tagalog berarti perjumpaan).

Maria dipanggil untuk menjadi bunda bagi Yesus, putraNya. Ibu yang baik pasti punya relasi batin dengan anaknya. Jika anaknya sakit, ibu yang baik juga akan merasa sakit. Maria memiliki kesetiaan sejak awal ia dipanggil menjadi Bunda Penebus. Sejak Yesus ada di rahim, Maria sudah seperasaan dengan Yesus. Kita sebagai anak-anak Tuhan; anak-anak Maria, juga disertai oleh Maria. Gereja sejak awal mula telah didampingi oleh Maria, seperti yang dikisahkan dalam kitab Kisah Para Rasul, dimana para rasul berdoa dan disana hadir Bunda Maria. Maria tidak digambarkan sebagai seorang yang banyak bicara namun ia hadir mendampingi. Itulah cara Maria menyertai kita, Gereja, ia tidak banyak bicara namun seperasaan dengan kita.

Maria melahirkan Yesus dalam situasi yang amat sederhana, di tengah kedinginan yang luar biasa. Maria tidak ingin Yesus ada dalam kedinginan maka Maria menemani Yesus. Ketika Yesus dipersembahkan di Bait Allah dan berjumpa dengan Hanna dan Simeon, sebetulnya Maria mempersembahkan juga hatinya. Kala Simeon menubuatkan bahwa hati Maria akan ditembus pedang, Maria sadar bahwa ketika ia mempersembahkan anaknya, Maria telah melepaskan anaknya bagi Tuhan. Mana ada seorang ibu yang mau melepaskan anaknya ketika anaknya masih kecil dan begitu dekat dengan dirinya. Coba bayangkanlah perasaan Maria ketika Yesus dipersembahkan.

Ketika Keluarga Kudus mengungsi ke Mesir, Maria bersama Yosef membawa Yesus untuk menyelamatkanNya dari ancaman Herodes.

Kejadian ini menggambarkan Maria yang seperasaan dengan Gereja dalam suka dan duka. Ketika Gereja mengalami penganiayaan dalam perang, doa rosario telah menyelamatkannya. Ketika Gereja dalam bahaya, Maria yang paling setia menjaga. Pengalaman iman dari berbagai macam penampakan Maria menunjukkan Maria yang tetap setia menemani suka duka Gereja hingga hari ini.

Ketika Yesus hilang di Yerusalem, Maria mencari Yesus sampai seharian. Ini tergambar dengan manis pada lagu Aina Maria dari Timor :

Aina Maria ain alekot
Aina Maria pah Timor e
Naleok ka naleok
Naleok ka naleok
Aina Maria hit ain alekot

Naleok ka naleok (Bahasa Dawan, Timor) memiliki makna yang begitu dalam : meskipun kamu adalah anak nakal, namun Maria tetap menjadi bunda yang baik. Meskipun anak-anaknya sering sesat dan jalan sendiri juga sering melupakan Tuhan, namun Maria akan tetap setia untuk kita. Gambaran kesetiaan Maria bisa kita refleksikan dalam kehidupan kita. Waktu kecil kita pasti pernah diceboki oleh ibu kita. Maria pun mau mengambil kotoran dari hidup kita. Senakal-nakalnya kita semua, Maria mau berkotor-kotor untuk membersihkan kita. Maria masih mau mencari jika kita lari dan kurang ajar.

Saya punya pengalaman dengan ibu saya ketika kecil dulu : saya pernah minta sesuatu namun tidak dikabulkan oleh orang tua, lalu saya berlari seharian dari pagi hingga sore memancing di sungai yang jauh dari rumah. Ketika sudah sore, saya kaget ketika menyadari ibu saya mencari dan memanggil-manggil nama saya dari kejauhan. Saya kaget dan tersentuh ternyata saya masih dicari dan dicintai oleh ibu saya.

Seorang ibu mau mencari karena mencintai anaknya. Jika ibu kita masing-masing mau membersihkan kotoran kita dan mau mencari kita ketika hilang, apalagi Bunda Maria. Bunda Maria adalah bunda yang penuh cinta, bunda yang penuh rahmat, bunda Yesus. Maria akan selalu mencari dan mendekati kita. Maria adalah teman perjalanan hidup kita. Maria sedemikian rupa mencintai Gereja dan Maria akan selalu lebih setia daripada kita sendiri. Oleh karena itu pada bagian akhir dokumen-dokumen Gereja selalu ada sebutan Maria. Kita sebagai legioner apakah sering menyebut Bunda Maria?

Maria disebut sebagai mempelai Roh Kudus, maka akan seperasaan dengan Gereja dan anak-anaknya. Seorang pengantin yang kehilangan mempelainya pasti akan merasa sedih. Inilah gambaran betapa Maria seperasaan dengan Yesus. Maria tak hanya sekadar Bunda bagi Yesus, tapi juga pendamping yang setia. Dalam jalan salib Yesus, ketika melihat Putranya memikul salib yang berat, Maria berhenti dan memandang Yesus. Ini menunjukkan Maria seperasaan dengan orang-orang yang memikul beban. Betapa bahagianya kita menjadi anak-anak Maria karena Maria mau seperasaan dengan setiap kita yang memikul beban. Tapi apakah kita sadar bahwa Maria ikut memikul beban dan persoalan-persoalan hidup kita?

Karena Maria seperasaan dengan Yesus yang meminggul salib, ia pun seperasaan dengan kita. Digambarkan dalam syair Stabat Mater Dolorosa** : jika kita merasa sakit, hati Maria pun ikut tertusuk; ketika kita menangis, Maria ikut menangis; kalau kita menumpahkan air mata, Maria ikut berair mata untuk kita. Stabat Mater menunjukkan Maria sebagai ibu yang berdiri seperasan dengan putranya yang berduka; ibu yang seperasaan dengan orang yang berbeban berat. Ketika Yesus dicemeti, dipukul, dan dipaku pada kayu salib, Maria ikut terluka. Tapi tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Maria. Maria seperasaan dengan kita tanpa kata namun ia hadir untuk kita. Maria ikut setia dalam perjalanan salib Yesus sedangkan murid yang lainnya lari bersembunyi. Hanya Yohanes yang dikatakan setia bersama Maria.

Di bawah salib Yesus mengatakan “Inilah anakmu” ketika Yohanes diserahkan kepada Maria. Lalu Yesus juga berkata, “Inilah ibumu” untuk menyerahkan Maria kepada Yohanes. Legioner bisa mengkontemplasikan hal ini dengan merenungkan kalimat “Inilah anakmu” untuk pribadi kita masing-masing. Yesus telah menyerahkan kita satu persatu pada perlindungan Bunda Maria. Maria pun diserahkan kepada kita untuk menjadi ibu kita. Siapa yang tidak merasa aman memiliki bunda seperti Maria? Ia jauh lebih setia daripada kita, ia adalah bunda yang memperhatikan kita.

Naleok ka naleok, Aina Maria hit ain alekot..

Meskipun kamu nakal, ibu Maria tetap baik padamu..

Kesetiaan Maria bagi kita juga sampai pada saat kita menghadapi ajal, inilah kebahagiaan kita sebagai putra-putra Maria. Maria setia bersama Yesus sampai kematianNya maka Maria akan setia pada anak-anaknya juga sampai akhir. Ini perlu terus-menerus kita kontemplasikan. Tidak ada alasan putus asa bagi kita untuk menyebut Maria dalam doa kita.

“Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati.”

Sebagai legioner, pencinta dan anak-anak Maria, kita perlu untuk terus-menerus mengeruk semangat Maria ini. Kita tak perlu putus asa. Legioner mungkin tidak kelihatan, karyanya tersembunyi, tak perlu banyak bicara, tapi karya-karya baiknya adalah buah anak-anak Maria. Jika kita mengandalkan iman ini dalam menghadapi macam-macam tantangan dan kelemahan, buah kebaikan itu pasti ada karena Maria yang menemani kita.

Mari kita serahkan seluruh pengalaman hidup kita, suka duka hidup kita dalam tangan Maria. Maria yang sudah menemani Yesus sampai di salib akan menemani kita juga sampai akhir. Amin.

* Salubong berasal dari Bahasa Tagalog yang berarti perjumpaan. Ini adalah salah satu bentuk tradisi devosi umat Katolik Filipina yang menggambarkan perjumpaan antara Yesus yang bangkit dengan ibunya. Pagi-pagi pada hari raya Paskah, umat beriman secara terpisah mengarak patung Yesus bangkit dan patung Maria mengelilingi kota. Patung Yesus yang telah bangkit diarak oleh para pria dalam suasana kegembiraan, sedangkan patung Bunda Maria mengenakan kerudung hitam diarak oleh para wanita dalam suasana duka cita. Kedua rombongan itu lalu bertemu di suatu titik, biasanya di depan gereja, dimana seorang gadis kecil berpakaian malaikat membuka kerudung hitam dari patung Maria.

**Stabat Mater Dolorosa adalah sebuah himne dari abad ke-13 yang menggambarkan duka cita Maria ketika mendampingi Yesus dalam perjalanan salib-Nya. Stabat Mater dolorosa berarti Bunda berduka cita yang sedang berdiri (iuxta crucem lacrimosa dum pendebat Filius : sambil menangis di sisi salib tempat Putranya bergantung). Lihat disini.


RP. Markus Yumartana, SJ adalah pemimpin rohani Legio Maria di Paroki Katedral Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *