Maria Sebagai Model Hidup Bermasyarakat Dalam Menciptakan Perdamaian

Oleh : RP Andreas Rinanto Herdianto, MSF (Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 1. 39-45

Sejak manusia melakukan dosa untuk pertama kalinya, hubungan manusia dengan Allah menjadi tidak harmonis. Allah mengusir manusia dari Taman Eden dan memaksa manusia untuk bekerja dan berusaha memperjuangkan hidupnya (lih. Kej. 3). Allah yang merasa dirinya dilukai itu tak bisa mendekati manusia lagi karena hati manusia yang tertutup dan sebaliknya manusia, karena telah melukai Allah tak mampu untuk mendekati Allah kembali. Untuk waktu yang sangat lama itu hubungan manusia dengan Allah menjadi renggang, tidak harmonis bahkan terputus. Keterputusan hubungan manusia dengan Allah itu tentu membuat hati Allah menjadi gelisah dan takut kalau manusia semakin menjauh dari Allah bahkan sampai tidak lagi mengenali Allah yang sesungguhnya sangat mencintai Allah.

Karena Allah sangat mengasihi dan mencintai manusia, maka Allah terus menerus berusaha untuk mendekati manusia dan memulihkan hubungan relasiNya dengan manusia yang telah lama tidak harmonis (putus hubungan). Setelah banyak nabi-nabi dipakai untuk membangun kembali relasiNya dengan manusia supaya harmonis kembali, Allah pun memilih dan menetapkan Maria sebagai bagian dari rencana besarNya untuk menyelamatkan manusia (memulihkan kembali hubungan Allah dan manusia).

Maria sejak semula sudah ditetapkan dan dipilih Allah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk bisa memperdamaikan kembali hubungan manusia dengan Allah. Kesediaan Maria agar manusia itu kembali kepada Allah dimulai dengan sikapnya yang bersedia membuka diri untuk menjadi ibu bagi sang juru selamat. Berawal dari kerinduan Allah yang mau memperbaiki hubungan dengan manusia setelah lama terputus dan tertutup, Maria telah mewakili manusia yang menanggapi tawaran perdamaian dari Allah itu dengan kesediaannya bekerjasama kembali pada Allah.

Maria dalam melaksanakan tugasnya tidak hanya berhenti pada melahirkan bayi Yesus, membesarkan, dan menemani Puteranya sampai wafat di salib. Keinginan Maria untuk agar hubungan manusia dengan Allah terus menerus semakin baik dan terjalin harmonis diperlihatkan Maria dalam seluruh hidupnya sampai ia naik ke surga. Hal itu bisa ditemukan dari jejak-jejak penampakan Bunda Maria yang ketika menampakkan dirinya di beberapa tempat selalu membawa pesan pertobatan (perdamaian). Salah satunya adalah kisah penampakan bunda Maria kepada dha anak kecil Maximin Giroud dan Melani Calvat yang sedang menggembalakan domba-domba mereka di pegunungan La Salette (Perancis).

Dalam kisah penampakan itu, Maria mengajak seluruh manusia untuk tidak terus menerus melakukan perbuatan dosa. Semakin banyak manusia berbuat dosa maka semakin beratlah lengan Yesus di salib. Kegagalan panen kentang yang membusuk pada saat itu menjadi pertanda hidup manusia yang dipenuhi dosa dan jauh dari beriman kepada Allah. Karena seruan dan pesan pertobatannya itu, Maria La Salette disebut sebagai bunda Rekonsiliatrik (pertobatan). Sikap Maria sebagai bunda rekonsiliatrik yang selalu menghendaki manusia terus menerus bertobat, memperbaharui hidupnya dengan semakin sering membangun relasi dan komunikasi dengan Allah dalam doa, telah menjadikan Maria sebagai Bunda pembawa perdamaian.

Sampai saat ini Maria senantiasa menghendaki manusia untuk berdamai dengan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *