Pelayanan Palsu

Oleh Victoria Suvi Tendiana Lili


Banyak orang melakukan sesuatu tanpa dasar maupun tujuan yang jelas. Bahkan ada yang tidak memiliki tujuan sama sekali. Atau memiliki tujuan, tapi salah! Bagaimana kita bisa tahu kalau tujuan kita salah? Ketika kita bangga dengan apa yang kita lakukan tapi kita merasa bahwa semua itu karena kehebatan kita. Ohhhh….I’m so powerful !! I’m sooo smart !! Coba kalau tidak ada AKU, mana bisa sukses?? Pada saat kita merasa hebat, kita tidak akan mau belajar, kita akan sulit untuk menerima pendapat, kritik maupun masukan!! Di saat itulah kita akan menutup diri kita dari berbagai hal positif yang dapat membuat kita bertumbuh dan jadi lebih baik. Itulah yang saya alami selama menjadi laskar Kristus. Saya menjadi arogan! Saya menjadi bodoh! Saya menjadi sombong! Semua itu karena saya merasa saya tahu dan bisa melakukan segalanya!

Dulu saya berpikir, hobi saya dalam berorganisasi membuat saya menjadi pribadi yang baik, saya menjadi lebih cerdas daripada teman-teman lainnya, saya menjadi lebih populer karena mengenal dan dikenal banyak orang. Saya pikir ini adalah tujuan yang baik. Sampai pada suatu saat saya mengalami kelelahan mental dan fisik. Terutama mental! Pelayanan hanya sekedar menjalankan tugas, tanpa memiliki makna apapun bagi perkembangan pribadi saya. Hal-hal yang saya nikmati hanya yang bersifat kebahagiaan semu, seperti pujian dan ucapan terima kasih dari orang-orang yang saya bantu, sampai saya lupa, mengapa saya ada disini?? Untuk APA?? Untuk SIAPA??

Pengalaman bertugas pertama kali adalah yang paling berkesan bagi saya. Pada saat itu saya didampingi legioner senior untuk pergi mengunjungi tempat pemulung di belakang Jalan Sunda, Bandung. Pemulung yang kita kunjungi pada waktu itu berusia sekitar 55 thn, muslim dan berperan sebagai bandar sampah-sampah plastik di wilayah itu. Waktu hampir tiba di lokasi, tiba-tiba terciumlah bau tajam yang sangat menyengat. Saya rasanya ingin muntah. Bahkan bau itu masih tercium sewaktu saya mencoba menutup hidungku dengan tangan. Lalu saya bertanya pada senior saya dengan perasaan kesal karena berpikir kita kurang persiapan. Masa legioner senior yang sudah sangat berpengalaman tidak berpikir untuk membawa masker?? Aaahh…. ternyata Legio Maria itu bukan oranganisasi profesional yang keren seperti yang kubayangkan. Kekecewaan pun muncul.

Karena lokasi parkir motor tidak jauh dari bedeng tempat pemulung yang kita kunjungi, senior saya itu menjelaskan sekilas dengan berbisik bahwa kita harus menghormati perasaan orang-orang yang bekerja disitu dan dia memberitahu saya untuk bernafas melalui mulut. Alamaaaakk…. Pertimbangan macam apa pula ini?? Walaupun hati kecil saya membenarkan penjelasan singkat itu, tapi saya terlalu sombong untuk menerima bahwa itu adalah cara yang benar. Menurut saya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghormati orang lain.

Ilustrasi. (Foto diambil dari thepeninsulaqatar.com)

Setelah parkir kita lalu menyapa dan bersalaman dengan orang-orang yang sedang bekerja tanpa sarung tangan. Bayangkan!! Mereka yang bersalaman dengan saya saat itu sedang memilah sampah!  MEMILAH SAMPAH!! Reflek saya mencari keran ataupun sumber air untuk mencuci tangan! Dan kalian tahu apa yang saya lihat saat itu?? Saya melihat beberapa orang yang sedang mencuci gelas di sebuah ember kecil yang berisi air berwarna kekuning-kuningan. Saya tidak tahu dari mana mereka mendapatkan airnya itu!

Di tengah pikiran yang masih berkecamuk, senior saya menghampiri seseorang  lalu duduk di kursi kotor yang sudah rusak di depan sebuah bedeng. Karena pintu bedeng itu terbuka, saya dapat melihat  satu buah kasur kapuk yang sudah sangat tipis dan satu buah meja tua reyot yang kecil.  Salah satu dari kaki meja itu tampak miring dan tidak lurus seperti ketiga kaki lainnya. Lalu pemulung itu mengambil meja kecil itu untuk menaruh gelas air yang disuguhkan kepada kami. Hhmmm…. air apa itu ya kira-kira? Warnanya seperti teh, tapi sangat bening untuk ukuran air teh yang saya tahu. Apakah cukup aman untuk diminum?? Apakah mereka akan tersinggung kalau tidak saya minum?? Pada saat saya masih sibuk dengan berbagai pikiran yang ada di kepala saya, senior saya dengan santai berbincang-bincang sambil memperkenalkan saya sebagai anggota baru Legio kami. Tibalah saat dimana kami dipersilahkan untuk minum. Waduuh!! Apa yang harus saya perbuat?? Hal terbaik yang bisa saya lakukan saat itu hanya mengucapkan terima kasih.

Lalu seniorku bertanya : “Apakah ada yang bisa kami bantu, Pak?” Lalu saya memandangnya dengan bingung sambil berpikir, apa yang bisa saya lakukan di tempat ini?? Untuk bernafas melalui mulut saja sudah sangat sulit, apalagi melakukan itu sambil memilah sampah. Ya Tuhan….!! Lalu pemulung itu bilang, kebetulan hari itu ada beberapa pekerja yang masih berkeliling sehingga mereka perlu bantuan untuk memilah botol-botol dan gelas-gelas plastik yang akan ditimbang. Oh my God !! Apa saya tidak salah dengar?? Saya termenung sesaat, kemudian dengan sigap senior saya menarik tangan saya untuk mengikuti dia ke salah satu area dimana terlihat tumpukan sampah plastik yang cukup jauh posisinya dari tumpukan sampah organik lainnya. Pada saat itu saya sedikit merasa bersyukur karena area itu baunya tidak setajam di area parkir motor tadi. Ternyata disitu kami harus mengelompokkan botol bekas dengan tutupnya dan gelas plastik secara terpisah. Tentu saja kita harus melakukan itu tanpa sarung tangan. Ingin rasanya menghela nafas, tapi udara di sekitar tempat itu tidak akan memberikan kelegaan maupun meringankan beban yang saya rasakan saat itu. Perlahan-lahan saya mengikuti apa yang senior saya kerjakan. Akhirnya semua itu mampu menenangkan pikiran dan perasaan yang tidak karuan. Setelah kurang lebih 30 menit kami bekerja, tiba-tiba mulai turun hujan, lalu pemulung tadi memanggil kami untuk berteduh di bedeng tempat kami berbincang-bincang tadi dan mempersilahkan kami untuk minum. Karena lelah dan kehausan, akhirnya saya tidak memikirkan lagi apakah minuman tersebut cukup aman untuk diminum atau tidak. Ternyata betul, itu adalah teh manis dan rasanya tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya. Setelah hujan reda kami pun berpamitan. Pada waktu itu saya ragu apakah pilihan saya untuk menjadi legioner adalah pilihan yang tepat, ya? Apakah saya bisa menjalankan ini sebagai tugas rutin? Saya tidak merasa ada manfaat yang cukup berarti bagi mereka dengan kunjungan seperti itu. Kenapa kita tidak memberikan penyuluhan atau bimbingan agar mereka bisa lebih memperhatikan kebersihan dengan menggunakan sarung tangan, atau membuatkan saluran air bersih, menyumbang alat makan atau kasur atau meja dan kursi? Itulah beberapa pertanyaan yang saya ajukan pada senior saya pada saat melanjuntukan perjalanan menuju sebuah warung untuk makan siang. Disana kami makan sambil berbincang-bincang membahas kunjungan kami. Banyak pertanyaan yang saya ajukan, diantaranya: Apakah kunjungan seperti itu ada manfaatnya untuk mereka? Mengapa kita hanya berbincang-bincang serta membantu sekedarnya saja sehingga terasa seperti berbasa-basi? Apakah kita boleh membantu mereka  dalam hal lain supaya mereka bisa dapat hidup lebih layak? Dan seniorku menjelaskan dengan sabar dan jelas sampai saya benar-benar paham dan mengerti.

Senior saya itu lalu menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tersisihkan dan sering terlupakan, sering dihina dan dianggap kotor, padahal jasa mereka sebetulnya sangat besar. Coba bayangkan tanpa orang-orang seperti mereka, sampah-sampah akan berserakan dimana-mana, masuk ke got sampai akhirnya menyumbat, sungai-sungai akan peeenuuuuhhh dengan sampah, banjir dimana-mana. Memaaaang siiiihh….sudah ada dinas kebersihan dari pemerintah untuk mengumpulkan  sampah rumah tangga dan industri supaya kita tidak hidup di tengah tumpukan sampah. Tapi apa jadinya kalau tidak ada pemulung-pemulung itu? Dengan kebiasaan kita membuang sampah sembarangan, berpikir : “Aahh…hanya satu plastik saja koq yang dilempar ke sungai, aaahh… ini Cuma selembar tissue saja koq yang kubuang di pinggir jalan..” Lama kelamaan sampah yang mengalir ke laut menjadi semakin banyak dan menumpuk, global warming akan semakin parah dan semakin merusak. Senior saya menjelaskan bahwa dengan kehadiran kita, kita berharap mereka akan merasa lebih diterima di masyarakat. Mereka akan merasa terapresiasi, maka kita perlu menemui mereka dengan segala kerendahan hati, tanpa membahas masalah agama kecuali apabila mereka bertanya, menunjukan bahwa kita tidak berbeda dengan mereka. Bahwa kita itu SAMA. Sama-sama melayani tapi dengan bentuk yang berbeda. Bantuan yang kita berikan merupakan bentuk apresiasi terbesar terhadap apa yang mereka lakukan selama ini, jauuuuh melebihi kebutuhan materi yang sempat terlintas di pikiran saya tadi. Lalu senior saya juga bercerita bahwa pemulung yang berbincang-bincang dengan kita itu tadi adalah kepala/bandar sampah plastik yang cukup besar di Bandung. Dia memiliki lima orang anak yang semuanya bersekolah di perguruan tinggi negeri terkemuka yang tidak berhasil kami tembus. Pada saat itu dua di antaranya sudah lulus, dua orang masih kuliah dan yang bungsu baru saja diterima di ITB. Sya sangat terkejut. Dimana mereka tinggal? Karena saya tidak melihat ada bedeng lain disana. Ternyata keluarganya tinggal di sebuah rumah di komplek perumahan sederhana tapi sangat layak untuk dihuni. Melihat reaksi terkejut saya, senior saya bertanya, Apa yang membuat saya bisa menghargai seseorang? Apakah harta? Pendidikan? Penampilan? Sifat/karakter? Atau karya? Apa yang saya rasakan ketika harus menjadi bagian dari orang-orang seperti mereka? Apakah menurut saya ada gunanya melakukan pelayanan seperti ini? Apakah kesulitan dan tantangan akan membuatku mundur?  Pertanyaan yang sama saya ajukan pada anda!

Bagaimana anda melihat diri anda sendiri?

Pengalaman tugas lain yang sangat berharga dan menjadi konflik batin di dalam diri saya untuk beberapa lama adalah tugas kunjungan umat. Pada saat itu umat yang kita kunjungi adalah seorang nenek tua berumur sekitar 85 tahun yang tinggal di sebuah gubug di gang sempit dekat rel kereta api Jalan Merdeka, Bandung. Gubug seluas kurang lebih 3m x 4m tersebut sangat sederhana, terlihat kumuh tepatnya. Di dalamnya hanya ada satu ranjang reyot dengan kasur kapuk yang sudah sangat tua, satu lemari baju kecil dari kayu, satu meja kecil yang sudah usang, dan dua kursi reyot di sampingnya. Dapur dan kamar mandi terletak di luar pintu belakang, seperti beranda kecil. Disitu hanya ada satu kompor minyak dan satu baskom dekil untuk mencuci. Kamar mandinya pun tidak memiliki bak mandi, hanya ada sebuah ember tua untuk menampung air dari keran dengan gayung yang sudah pecah-pecah.

Saat pertama mengunjungi nenek tersebut, saya melihat beberapa helai baju dan kain yang berserakan di kasur. Saya menduga baju-baju itu berfungsi sebagai selimut pada saat nenek itu tidur, karena saya tidak melihat ada selimut disitu, hanya kain batik yang tipis dan sudah belel. Pada kunjungan umat yang pertama saat itu, saya didampingi oleh Ketua Presidium. Setelah dipersilahkan duduk, dia langsung berbincang-bincang dengan nenek itu. Ada nada keceriaan yang saya tangkap dalam suaranya pada waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan ketua presidium kami, lalu dengan muka yang berbinar-binar beliau menunjukan foto kedua orang anaknya pada saya sambil bercerita, bahwa kedua anak laki-lakinya sekarang sudah sukses, yang sulung adalah seorang pengacara dan yang bungsu adalah seorang dokter. Anak sulungnya tinggal di daerah elit di wilayah Bandung Selatan, cukup jauh dari rumah nenek itu sehingga dia jarang berkunjung, sedangkan yang bungsu tinggal di kawasan elit daerah Bandung Utara, cukup dekat, tapi karena kesibukannya sebagai seorang dokter dia juga jarang berkunjung. Beliau berkata bahwa kasih Tuhan sungguh luar biasa karena dia tidak pernah membayangkan bahwa anak-anaknya bisa jadi orang sukses setelah beliau menjadi single fighter sejak anak-anaknya masih kecil. Dia bilang, dulu dia sempat menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Suaminya dipanggil Tuhan pada saat beliau masih cukup muda, sehingga beliau harus membanting tulang mencari nafkah untuk membiayai dan menyekolahkan anak-anaknya. Berbagai jenis pekerjaan pun sudah dilakukan dan tidak sedikit beliau mengalami kegagalan dan kepahitan.

Ilustrasi.

Saya berpikir, kenapa cerita yang cukup umum terjadi ini pada saat itu sangat mengusik batin saya, sehingga membuat saya berkaca-kaca mendengarkan cerita itu? Padahal kisah seperti ini sudah cukup sering saya dengar karena merupakan cerita yang cukup umum, banyak orang yang mengalami hal serupa. Karena keseriusan saya menyimak cerita nenek tersebut, akhirnya saya merasa otak saya beku.  Saya tidak bisa memahami mengapa dia tetap bisa mengasihi dan membanggakan kedua anaknya yang menurut saya sangat kejam membiarkan nenek itu hidup sendiri? Mengapa di tengah penderitaan dan kesulitan hidupnya nenek ini sangat taat dan sangat rajin berdoa? Anda pasti bertanya-tanya, bagaimana saya bisa mengetahui hal ini? Saat itu saya melihat di atas meja kecil yang sudah tua itu ada sebuah salib, patung Bunda Maria dan lilin. Di lacinya terlihat sebuah Alkitab dan Madah Bakti serta rosario. Di bawah meja tersebut terlihat ada satu bantal tipis yang masih cukup bagus dan saya menduga itu adalah bantalan yang nenek itu gunakan untuk berlutut.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya dengan hati-hati… ”Nek…sepertinya Nenek sangat rajin berdoa, ya? Sampai menyediakan tempat khusus untuk berdoa. Apakah kaki Nenek tidak sakit kalau dibuat berlutut?” Beliau terkekeh-kekeh mendengarkan pertanyaan saya. Yaaah….mungkin itu pertanyaan konyol untuk sang nenek, pikir saya saat itu. “Cucuku….saya ini sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang menemani, anak-anak saya sibuk, mereka juga sudah berkeluarga, maka sudah seharusnya mereka lebih memperhatikan anak dan istrinya. Karena nenek sendiri, maka teman berbincang yang paling setia adalah Yesus. Oleh karena itu nenek selalu rajin berdoa, walaupun sudah tidak dapat pergi ke gereja lagi, tapi nenek sangat mengharapkan dan menantikan kedatangan pastor/frater/prodiakon yang dengan setia mengantarkan mengantarkan komuni setiap minggu.” Saat itu lidah saya mendadak kelu dan tidak bisa berkata-kata lagi. Untung saja penglihatan beliau sudah agak rabun sehingga tidak menyadari kalau saya sempat meneteskan air mata. Beliau juga mengatakan hanya bisa bersyukur dengan cara berdoa, karena tidak ada lagi yang dapat dia lakukan. Semasa mudanya, nenek itu cukup aktif mengikuti kegiatan di gereja, membantu merangkai bunga, menghias altar, mengikuti doa dan kegiatan lingkungan, tapi sekarang sudah tidak bisa kemana-mana lagi, karena untuk berjalan pun sudah sangat sulit. Kerinduannya untuk selalu mendoakan kedua anaknya dan cucu-cucunya yang sangat ia kasihi sangat besar. Mendengar apa yang beliau katakan, tiba-tiba saya merasa sesak nafas. Kenapa untuk figur seorang ibu yang penuh kasih ini anaknya tega menempatkannya di sebuah gubuk, sendirian pula….. Apakah mereka tidak mengkhawatirkan keadaan si nenek ini??

Karena sempat melihatku meneteskan air mata, lalu ketua Presidium kami berusaha mengalihkan pembicaraan dan bertanya, mengapa tangannya terluka dan diperban? Lalu beliau menjelaskan kalau beberapa hari yang lalu ketika sedang menggoreng tahu, tiba-tiba saja dia merasa pusing dan terjatuh sehingga tersiram minyak panas sedikit. Untungnya pada saat itu ada tetangganya yang biasa merawat dan menjaganya langsung mendatangi dan menolongnya, lalu nenek itu dibawa oleh tetangganya ke rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Untungnya nenek itu tidak menderita luka yang parah, hanya saja karena faktor umur, penyembuhannya menjadi agal lambat. Dari cerita tadi akhirnya saya tahu bahwa kedua anaknya apabila datang hanya memberikan uang untuk biaya hidup si nenek yang dititipkan ke tetangganya tadi untuk membantu menjaganya. Saya merasa sedih dan marah melihat keadaan seperti ini! Saya merasa kasihan tapi merasa tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu karena adanya aturan yang melarang kita sebagai Legioner memberikan bantuan dalam bentuk bantuan materi. Ingin rasanya memberontak, kenapa harus begitu? Kenapa tidak boleh? Padahl beberapa waktu sebelumnya kita berjualan baju bekas untuk mencari dana untuk kegiatan retret. Bukankah nenek itu lebih membutuhkan bantuan? Bukankah untuk retret kita bisa menarik biaya dari masing-masing anggota? Apa alasannya? Kenapa? Berbagai pertanyaan itu sangat mengganggu saya, hingga akhirnya setelah berpamitan, saya pun tidak dapat menahan diri untuk langsung bertanya dan meminta penjelasan pada Ketua Presidium kami karena tidak dapat menahan rasa penasaran. Ketua Presidium kami menjelaskan bahwa yang kita perlu jalankan adalah “Apostolic concern” menolong secara rohani, menguatkan dan mendoakan.

Saya belum benar-benar bisa memahami dan menerima penjelasannya itu. Lalu ketua presidium kami berkata, coba perhatikan dan simak baik-baik pada saat teman-teman kita bercerita dan memberikan laporan tugas dan kunjungan. Bagaimana kesan-kesan mereka dan bagaimana reaksi orang-orang yang kita kunjungi menerima kedatangan kita. Menolong dengan menguatkan secara rohani jauh lebih penting daripada memberikan bantuan materi. Benar apabila kita berpikir bantuan materi bisa menolong, tapi sampai kapan? Sebesar apa kita dapat memberikan bantuan bagi mereka? Apaling kita bukanlah yayasan yang memiliki pendonor tetap. Tetapi apabila kita memberi semangat, menguatkan, mendoakan, maka pertolongan kita akan berdampak sangat mendalam dan juga akan bertahan lama.

Lihatlah bagaimana reaksi orang-orang sakit yang kita kunjungi dan kita doakan!

Lihatlah perubahan raut muka si nenek ketika kita bisa menjadi teman bicara dan menjadi pendengar yang baik!

Lihatlah bagaimana bahagianya pemulung-pemulung yang kita datangi!

Lihatlah bagaimana anak-anak di panti asuhan atau orang-orang tua di panti jompo yang selalu menyambutmu dengan pelukan dan kehangatan!

Lihatlah betapa bahagianya mahasiswa-mahasiswa tuna netra di Wiyata Guna ketika mendengar suara kita, betapa semangatnya mereka menyelesaikan tugas kuliah dan skripsi dengan bantuan kita!

Dengan begitu, kehadiran kita menjadi terang dan garam, berarti kita sudah menjalankan apa yang Tuhan Firmankan. Allah pun tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah atau kesulitan, tapi Allah berjanji untuk selalu ada dan memberi kita kekuatan dalam menghadapi masalah. Jadi pada saat kita ingin membantu orang lain, ingin menjadi garam dan terang, maka kehadiran kita, karya-karya kita dengan kuasa Roh Kudus harus senantiasa menguatkan dan menyemangati mereka yang sedang susah dan menghadapi masalah, bukan menyelesaikan masalahnya. Kehadiran kita dimanapun HARUS selalu menjadi SALURAN BERKAT bagi orang-orang yang kita kunjungi.

Akhirnya sejak itu, saya bisa melihat dari kacamata yang berbeda setiap kali mendengarkan sharing pelaporan tugas dan bisa lebih memahami peran saya sebagai legioner di masayarakat. Setelah lebih memahami, saya jadi lebih bersemangat dalam berkarya dan bertugas juga semakin menyadari bahwa saya tidak akan mampu melakukan semua karya tanpa kuasa Roh Kudus yang menggerakkan saya. Dari apa yang selama ini saya lakukan, apakah saya sudah menyadari dengan sungguh, bahwa saya betul-betul sudah menjadi saluran berkat Allah bagi sesama dengan kuasa Roh Kudus?? Bukan karena kehebatan saya! Tapi karena Allah memilih saya untuk menjadi prajuritNYA! Dan saya bersedia! Apakah anda bersedia? Silahkan renungkan!!


Victoria Suvi Tendiana Lili adalah salah seorang trainer pada LDK Senatus Bejana Rohani 2018. Beliau pernah menjadi legioner di Bandung, dan kini aktif sebagai pendidik serta praktisi pengembangan diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *