Tahun Kudus Kerahiman Allah-Momen Pengenangan Kasih Allah

Pembukaan ‘Porta Santa’ (Pintu Kudus) di Basilika St. Petrus pada 8 Desember 2015 oleh Paus Fransiskus telah mengawali Tahun Kudus Kerahiman Allah.Tahun Kudus kali ini mengangkat tema “Hendaklah kamu murah hati seperti Bapa” (Lk 6:36).

Merayakan Tahun Kudus sudah menjadi tradisi Gereja sejak tahun 1300 (Paus Bonifasius VIII). Pengenangan akan kasih Allah yang abadi kepada kita manusia dan ajakan untuk bertobat menjadi inti perayaan Tahun Kudus. Secara istimewa Tahun Kudus kali ini dilakukan tidak sesuai dengan kebiasaan 25 tahunan (seharusnya 2025). Maka, perayaan ini pun disebut Tahun Luar Biasa Kerahiman Allah (Extraordinary Jubilee of Mercy).

Paus Fransiskus merasa sangat tepat merayakan Tahun Kudus Kerahiman Allah pada saat ini. Gereja dan dunia perlu diingatkan kembali akan pentingnya ‘kasih (baca: kerahiman) dan pertobatan’. Menarik untuk disadari bahwa Tahun Kudus dibuka pada Hari Raya Bunda Maria dikandung tanpa Noda dan sekaligus peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II. Kedua momen ini dilandasi oleh semangat ‘kasih’. Dogma tentang Maria dikandung tanpa noda, yang lantas menjadi Hari Raya dalam Gereja, berbicara pertama-tama tentang kerahiman Allah kepada Maria. Allah mempersiapkan Maria untuk menjadi Bunda Yesus. Bahasa ‘kasih’ ini lantas diartikan oleh Konsili Vatikan II dengan ‘keterbukaan’ Gereja terhadap manusia, dunia dan persoalannya. Gereja ingin menunjukkan wajah pemberi harapan dan pengampunan, daripada wajah penghukum dan pengutuk. Di tengah situasi politik yang sangat panas pada pertengahan abad ke-20 (perang dingin antara Uni Soviet dan USA, pergolakan politik di negara-negara Arab), Konsili Vatikan II justru menawarkan kesegaran dan harapan.

Namun, dalam perjalanan waktu, sejarah sepertinya berulang. Tindak kekerasan dan sempitnya cara berpikir, yang disebabkan oleh karena kebekuan hati, kembali menguasai manusia. Cukup mengikuti berita mengenai situasi politik dan kemanusiaan di jazirah Arab, kekerasan yang terjadi di benua Eropa, dan juga mengenai ketegangan di antara negara-negara adi daya militer, kita akan menyadari bahwa manusia lupa akan ‘kasih dan pertobatan’.

Sayangnya, kita harus mengakui bahwa Gereja pun lupa. Semangat keterbukaan yang digulirkan oleh Konsili Vatikan II sepertinya harus terbentur kembali dengan dinding-dinding yang dingin. Apakah kita menyadari bahwa kita lebih senang berbicara tentang peraturan (boleh dan tidak boleh) daripada berbicara tentang pemahaman (mencari makna/maksud) ? Pembicaraan yang terlalu berpusat pada hukum/peraturan membuat wajah Gereja menjadi begitu dingin. Siap menghukum yang bersalah. Kita jangan meniadakan hukum/peraturan karena akan terjadi kekacauan, tetapi jangan sampai juga terlalu menekankan peraturan dan tidak membuka diri pada kemungkinan lain “di luar” peraturan (kebiasaan). Perlu diketahui bahwa sebelum pembukaan Tahun Kudus Kerahiman Allah, Paus sudah lebih dahulu mengundang para uskup sedunia untuk hadir dalam Sinode yang membahas tentang keluarga dan probematika aktualnya. Paus mengajak para uskup untuk membuka mata dan hati akan realitas ini. Paus Fransiskus mencoba mengingatkan kembali semangat yang telah berhembus dalam sejarah Gereja, yakni Kerahiman Allah.

Mungkin saja Tahun Kudus Kerahiman Allah tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan manusia dan dunia. Namun setidaknya kita perlu diingatkan kembali akan gambaran Allah yang adalah Kasih, sekaligus diingatkan akan tugas kita untuk mewartakan dan menunjukkan wajah Allah yang adalah Kasih. Tahun Kudus ini menjadi momen penuh rahmat untuk mengalami kerahiman Allah dalam pertobatan (=Sakramen Tobat), sekaligus menyatakannya dalam tindakan kita kepada sesama. Inilah makna pengenangan Kasih Allah dalam Tahun Kudus Kerahiman Allah.

Selama kurang lebih satu tahun ke depan (8 Desember 2015 s/d 20 November 2016) kita diajak untuk bergumul dalam pengalaman akan Kerahiman Allah. Selain mengajak umat untuk menerima secara teratur Sakramen Tobat, Paus Fransiskus mendorong dilakukannya ziarah ke tempat-tempat kudus. Paus menyadari bahwa tidak mudah menunjukkan kasih kepada orang-orang yang bersalah kepada kita. Ziarah adalah sebuah simbol perjalanan dan perjuangan manusia, jatuh-bangun, dalam mencintai Allah dengan mengasihi sesama.

Allah adalah Kasih. Menjadi anak-anak Allah dalam pembaptisan berarti menjadi anak-anak Kasih. Hanya dengan mengasihi, kita menegaskan identitas kita sebagai anak-anak Allah.

 

Oleh : RD Riki Maulana Baruwarso

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *