Pengetahuan dan Kesadaran Tindakan

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 29 dan 31, Bab 6, Subbab 2: ‘Meniru kerendahan hati Maria adalah akar maupun instrumen kegiatan Legioner.”

Pengetahuan dan Kesadaran Tindakan

Tanggung jawab kesaksian Legio Maria terletak di atas pundak masing-masing pribadi legioner. Kita masing-masing dipanggil untuk bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup Legio Maria. Tanggungjawab ini harus diwujudnyatakan dalam tindakan yang bersungguh-sungguh sebagai buah dari pengetahuan. Pengetahuan yang tidak diikuti tindakan bukanlah sikap iman yang bermutu.

Dalam ‘tindakan’ ini juga terkandung nilai pengorbanan. Mengikuti retret, rekoleksi, pendalaman iman, mengerti arti sakramen-sakramen adalah hal baik, namun hal itu belumlah cukup bila tidak diikuti dengan tindakan-tindakan konkret sebagai kesaksian iman Katolik.

Pada peristiwa perkawinan di Kana, Bunda Maria tahu bahwa keluarga pengantin tiba-tiba mengalami kesulitan karena kehabisan persediaan anggur, namun Bunda Maria tidak diam, ia mengambil tindakan dengan berbicara kepada Yesus. Tindakan Bunda Maria ini membuahkan mukjizat pertama Yesus.

Santo Petrus juga merupakan teladan sebagai orang yang selalu bertindak. Ia tak hanya puas dengan tahu siapa Yesus yang menderita, wafat, dan bangkit kembali, namun ia bertindak dengan antusias mewartakan kabar keselamatan itu. Sikap penuh tindakannya membuat Ia dipercaya sebagai paus pertama – bahkan membawa kita juga mengenal Yesus sebagai juru selamat.

Ada kata bijak dari Mgr. Ignatius Suharyo: “Dunia bukanlah masalah; yang menjadi masalah adalah ketidaksadaran Anda”. Ketidaksadaran adalah sikap masa bodoh yang berbahaya.

Marilah kita sebagai duta Kerahiman Allah tidak hanya puas dengan tahu, namun juga mengembangkan kesadaran bertindak sungguh-sungguh untuk bersaksi atas iman keselamatan kita.

Oleh : Frater Robertus Guntur

Surat Konsilium April 2016

Kepada Saudara Octavian
Sekretaris Senatus Jakarta

Legio Maria, 23 Maret 2016

Yang terkasih Saudara Octavian,

Atas nama Konsilium Legionis, saya mengucapkan Selamat Sukacita Paskah kepada Ketua, Pemimpin Rohani, Para Perwira, dan seluruh anggota Senatus Jakarta. Saya berterimakasih atas ketaatan dan dedikasi untuk pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan para kudus-Nya melalui keanggotaan Legio Maria.

Masa Pra Paskah telah menjadi bagian dari persiapan Pekan Suci dan hari-hari yang istimewa di mana kita mengenang perjamuan terakhir dengan penetapan Ekaristi, dan penderitaan, kematian serta kebangkitan yang mulia dari Juru Selamat kita Yesus Kristus.

Selama masa Pra Paskah, Kuria saya, melakukan retret sehari. Ini adalah kesempatan untuk menerapkan saran dari Pemimpin Rohani, berdoa, berkontemplasi dalam renungan, pemeriksaan batin, Sakramen Rekonsiliasi diikuti dengan Misa dan Komuni Suci. Saya harap para Legioner di mana pun mereka berada melakukan retret sekali dalam setahun.

Dalam surat saya yang terakhir, saya menyampaikan tentang pentahtaan hati Yesus Yang Maha Kudus di rumah-rumah (lihat Buku Pegangan bab 37.3 dan bab 40.2). Itu sangat berguna dan menjadi berkat dan meningkatkan kerohanian untuk para orang dewasa dan anak-anaknya. Dan saya yakin ini harus dipromosikan (ini pernah dilakukan di rumahku di mana saya tumbuh dulu dan masih ada di rumahku sekarang).

Perwira yang telah selesai masa jabatannya selama 3 tahun haruslah dilangsungkan pemilihan segera. Para perwira presidium yang ditunjuk haruslah sesuai Buku Pegangan bab 14. Para perwira dewan haruslah ditunjuk dengan mengikuti pemilihan sesuai dengan Buku Pegangan bab 28.

Rencana Pembentukan Regia untuk Kalimantan. Mohon saya diberitahu perkembangannya.

Notulensi dan Statistik. Saya menantikan untuk menerima notulensi dari Senatus dan juga statistik yang telah saya minta pada surat saya yang terakhir.

Rapat Konsilium tanggal 20 Maret 2016. Ada beberapa laporan yang menarik. Doa-doa dipimpin oleh Romo Bede McGregor OP. Jumlah hadirin sangat banyak sekali, termasuk 14 legioner dari Jerman dan 2 legioner Afrika yang datang dari Antwerpen, Belgia di mana mereka akan mengunjungi Perancis, dan mereka menceritakan negara-negara Afrika dan menjadi koresponden untuk negara-negara itu atas nama Konsilium. Semuanya disambut hangat oleh Saudari Sile, Ketua Konsilium.

Saya menutup surat ini, semoga Anda semua diberkati oleh Allah Yang Maha Kuasa dengan berkat-Nya yang melimpah selama Pekan Suci dan Sukacita istimewa untuk Minggu Paskah seraya kita merayakan kebangkitan Tuhan Yesus.

Hari Minggu setelah Minggu Paskah adalah – seperti kita ketahui bersama – didedikasikan untuk Kerahiman Ilahi. Banyak orang berdoa novena Kerahiman Ilahi sejak Jumat Agung. Dunia kita yang penuh masalah ini membutuhkan Kerahiman Ilahi dan pertolongan-Nya setiap waktu.
`
Berkat Tuhan,
Catherine Donohoe

Surat Konsilium Februari 2016

Kepada Saudara Octavian
Sekretaris Senatus Jakarta

Legio Maria
Februari 2016

Yang terkasih Saudara Octavian,

Atas nama Konsilium saya sampaikan salam bagi Ketua, Pemimpin Rohani serta seluruh perwira dan anggota Senatus Jakarta. Terima kasih atas notulen yg disampaikan (sampai dengan Oktober 2015) dan saya akan sangat senang menerima notulen-notulen yg berikutnya.

Saya yakin dengan anggota yang setia dan tugas-tugas yg telah dilaksanakan akan menyenangkan hati Bunda Maria dan Allah Bapa. Kunjungan presidium adalah salah satu tugas kunjungan yang dilakukan pada notulen Oktober. Kunjungan presidium sangatlah penting dan harus dilakukan sedikitnya satu kali atau jika memungkinkan 2 kali setahun untuk memberikan semangat dan memastikan bahwa presidium sudah sesuai dengan sistem. Kunjungan dilakukan oleh 2 orang, perwakilan dari kuria – lihat Buku Pegangan bab 28 butir 11. (Semua perwira dewan tentunya cukup mengenal bab 28 – Pimpinan Legio dan butir 11 harus dibaca oleh pengunjung sebelum mengunjungi presidium.)

Tugas Legio meminta setiap anggota pelaksanaan suatu tugas aktif mingguan yang bernilai seperti yang disampaikan dalam buku pegangan, “semangat kerasulan awam yang paling baik dikembangkan dengan merasul” lihat bagian I bab 12, lalu Instruksi Yang Tetap bab 18 butir 7, bab 37 dan bab 39 butir 6. Kegagalan melakukannya akan mengakibatkan penurunan semangat dan kehilangan anggota. Sekarang kita berada dalam permulaan tahun yang baru, mungkin suatu permenungan yang khusus perlu diberikan pada bab-bab tersebut dan lihat bagaimana suatu perkembangan baik dapat terjadi sehubungan dengan tugas-tugas.

Mengenai Perkembangan Regia Kalimantan saya akan senang sekali jika dapat mengetahui perkembangan situasinya.

Saya menghadiri Rapat Konsilium pada Minggu 17 Januari 2016. Banyak yang hadir, termasuk Pastor John Peyton dari Birmingham, Englan; beliau mantan anggota legio. Ada juga para tamu dari Zimbabwe, Vietnam, Skotlandia dan beberapa propinsi di Irlandia. Semua tamu diterima dengan baik oleh Sdri Sile Ni Chochlain, Ketua Konsilium.
Seperti biasa, ada laporan menarik dari belahan dunia, misalnya, laporan dari dewan di Afrika yg melakukan 700.000 kontak dan (dari 700.000 orang tersebut), 8500 orang mulai mengikuti katekumen. Beberapa laporan menyebutkan soal pelaksanaan Projek Exploratio Dominicalis. Laporan dari El Salvador menyebutkan tentang pelaksanaan doa rosario di tempat umum dan kontak pada pekerja seks komersial. Pastor John Peytin menyarankan untuk melakukan sembah bakti pada Hati Yesus yang Maha Kudus dalam tiap-tiap keluarga. Dalam pengalamannya hal ini membuat pasangan-pasangan yg belum menikah (namun sudah tinggal serumah) mau untuk dinikahkan.

Propinsi di Irlandia mengunjungi 7 keluarga Protestan dan menerima seorang ibu masuk dalam Gereja Katolik. Beberapa dari laporan mereka sebagai berikut : melakukan persiapan anak-anak untuk menerima Komuni Pertama, membawa patung Bunda Maria ke sekolah dalam bulan Mei, peminjaman buku-buku Katolik dan buklet Legio di pasar-pasar – ini memberikan kesempatan untuk bertemu dan berbicara mengenai iman Katolik dan mencari anggota baru.

Peringatan 300 tahun St Louis Marie de Montfort akan dilaksanakan 28 April 2016.

Alokusio P. Bede tentang medali wasiat. Beliau mengingatkan kita untuk menyebarluaskannya dan mendoakan Doa Memorare kepada Bunda Allah dan Bunda umat manusia. Dia di surga dan setiap rahmat yang kita mohonkan dapat ia berikan kepada kita. Kematian Yesus di salib, penebusan kita adalah sumber segala rahmat.
Saya harap setiap anggota legio mengenakan medali wasiat yang telah diberkati Imam. Dua hati dalam medali menunjukkan cinta Allah dan Bunda Maria kepada kita. Kerahiman adalah nama lain dari Cinta dan tahun ini adalah Tahun Kerahiman Allah. Banyak mukjizat terjadi sehubungan dengan medali wasiat.

Proyek bagi orang Muda
Di Irlandia beberapa kegiatan dilakukan bagi orang muda:
1. Konferensi orang muda 1 hari di Athlone
2. Konferensi orang muda di Universitas Queen di Belfast
3. 3-4 hari pertemuan orang muda di Sligo

Audit
Diharapkan setiap dewan dan presidium melakukan audit tahunan dan melaporkannya pada dewan yg lebih tinggi.

Saya pernah meminta statistik data senatus, saya akan senang sekali menerimanya segera.

Saya ingin tahu apakah Anda menerima buletin Konsilium tiap bulannya? Saya juga akan senang menerima Buletin Senatus.

Demikian surat dari saya. Berkat dari Allah dan perlindungan dari Bunda Maria Ratu Surga dan Bumi bagi Anda semua.

Catherine Donohue
Koresponden Konsilium

Gereja memiliki dua bentuk ‘penyembahan pada Allah’

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 262, Subbab 6: ‘Bekerja bagi orang yang paling malang dan terlantar.”

Gereja memiliki dua bentuk ‘penyembahan pada Allah’

a. Liturgi Resmi Gereja Katolik
Liturgi resmi meliputi sakramen-sakramen. Liturgi resmi sifatnya baku dan tak bisa diubah. Nilai sakramen-sakramen sifatnya sangat mendasar dan tak tergantikan. Perumpamaan dalam hidup sehari-hari: Liturgi resmi adalah makanan wajib harian kita (makan pagi, makan siang, dan makan malam dengan bahan makanan pokok nasi, sayur, lauk pauk). Makanan wajib ini mutlak harus ada untuk menjamin kelangsungan hidup badan kita.

b. Devosi-devosi.
Dalam hidup sehari-hari devosi diumpamakan sebagai makanan tambahan (snack). Snack bukanlah makanan wajib. Snack boleh ada dan boleh tidak ada. Ketiadaan snack tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidup badan kita. Snack sifatnya memberi variasi cita rasa. Tidak pernah ada berita orang meninggal karena tidak makan snack, namun kematian karena kelaparan bisa terjadi bila seseorang tidak makan makanan baku (makan nasi dan kelengkapannya). Devosi-devosi memiliki peluang berkembangnya perasaan berlebihan (terhadap Bunda Maria).

Perasaan yang berlebihan mengandung bahaya karena perasaan bisa menipu. Dalam prakteknya orang-orang yang terseret dalam perasaan berlebihan akan menganggap hal-hal (yang nampaknya) mistik sebagai tanda keimanan. Orang-orang demikian senang sekali menyebarkan berita-berita penampakan (Maria) yang banyak beredar, atau kesaksian-kesaksian gaib/mimpi yang sulit dipertanggungjawabkan. Kita harus mengendalikan dorongan perasaan berlebihan dengan akal sehat.

Suatu kali Santo Filipus Neri mendapatkan penampakan Bunda Maria. Namun Filipus bukannya hanyut dalam kekaguman pesona penampakan itu. Filipus justru meludahi penampakan itu. Tiba-tiba saja panampakan itu mendadak berubah menjadi wajah aslinya – Si Iblis Jahat.

Devosi yang benar harus membawa kita pada mutu pelayanan yang bertumbuh, yakni pelayanan kepada mereka yang terpinggirkan. Tahun ini ditetapkan oleh Gereja sebagai tahun Kerahiman, Legio Maria sebagai pembawa wajah Gereja harus mampu menampilkan kerahiman Allah kepada setiap orang. Dalam menghadirkan kerahiman ini, kita harus melakukannya karena dorongan ilahi dalam hati, bukan karena ditugaskan oleh presidium. Tindakan karena sebatas ditugaskan adalah tindakan yang kering dan tidak membawa pada pengenalan pada Allah. Marilah berdevosi secara tepat dengan dasar iman Katolik yang tepat.

Oleh : RD Petrus Tunjung Kusuma

Gereja adalah persekutuan umat beriman

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 70, Subbab 6: ‘Buah-hasilnya adalah Idealisme dan Tindakan yang Penuh Semangat.”

Gereja adalah persekutuan umat beriman

Sebagai pesekutuan, maka gerak langkah setiap bagian dalam pesekutuan ini harus senada dengan gerak langkah Gereja. Apa yang menjadi sukacita dan penderitaan Gereja seyogyanya menjadi sukacita dan penderitaan kita semua – termasuk Legio Maria. Misalnya: Bila Gereja gigih memperjuangkan perhatian pada lingkungan hidup, maka hendaknya Legio Maria juga mengambil peran memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup. Den gan demikian Legio Maria harus mampu mengemban tugasnya sebagai pembawa ‘wajah Gereja’ .

Home vs House

Home adalah kata bahasa Inggris yang berarti rumah, dalam arti suasana kebersamaan, ikatan kasih,dan semangat saling mendukung. Home menunjukkan aspek-aspek kejiwaan dan kerohanian dari para penghuninya. Sedangkaun House adalah kata bahasa Inggris yang berarti rumah dalam arti ‘benda yang kelihatan dan sifatnya mati’. House merujuk pada tembok, atap, pintu, jendela, toilet, pagar, dan lain-lain. Legio Maria sebagai komunitas umat beriman selayaknya mampu menjadikan presidium/kuria/komisium/regia/senatus menjadi sebuah HOME alih-alih menjadi sebuah HOUSE. Dengan demikian Legio Maria menjadi rumah kita yang mampu memberikan kekuatan, ikatan kasih, dan daya dukung bagi kita dalam menghadapi kehidupan. Dari Legio kita menimba inspirasi hidup dan menjadikannya sumber pertumbuhan iman. Mengelola Legio Maria sebagai house tidak akan membuat para penghuni bertumbuh. Jadi mari kita upayakan agar Legio Maria adalah HOME bagi para anggotanya.

Oleh : Frater Robertus Guntur

Seks & Orang Muda Katolik : Yuk Diskusi!

SEKS & ORANG MUDA KATOLIK: YUK DISKUSI!

Bicara soal seks bukanlah hal yang tabu lagi. Bukan karena ikut arus dalam dunia modern melainkan agar orang muda sadar, paham, dan mampu memilih dengan tepat. Berikut sebuah cuplikan pengalaman nyata. Apakah semudah itu hanya mengatakan ini benar dan itu salah?

***

  1. Sore itu, saya menerima sebuah pesan singkat dari seorang teman. “La, aku mau tanya. Aku punya adik sepupu… Itu merasa tidak pede gara-gara diejek belum sex. Anak tunggal. Ngomonginnya gimana ya? Tapi jangan ngomongin rohani-rohani ya, dia belum kenal Yesus…

Mari kita merefleksikan sejenak. Apa jawaban kita?

Apa opini kita tentang seks? Dari mana kita tahu tentang seks dan seputarnya? Apakah hal tersebut masih tabu dibicarakan dengan orang tua dan pembimbing kita di komunitas? J

Di satu sisi, sebagai kontras mari kita merefleksikan sebuah kisah lain yang mungkin sebagian besar dari kita sudah pernah membacanya.

  1. Bacaan dari Injil Yohanes 8:1-11.

“…tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

 

Tentu kita memiliki macam-macam perasaan, pikiran, dan reaksi terhadap bacaan Injil di atas. Banyak tokoh di sana. Ada (1) ORANG-ORANG Farisi dan (2) AHLI-AHLI Taurat, ada (3) Tuhan Yesus, ada (4) rakyat, dan ada (5) perempuan yang kedapatan berzinah. Pernahkah kita juga mendengar respon-respon seperti ini dan sejenisnya dalam kaitannya dengan nasihat terhadap orang muda dan seks?

 

  1. “Itu kan tidak baik (dosa). Kalau anak Tuhan tidak boleh berbuat begitu” atau “Nanti siapa yang mau bertanggung jawab?” atau “Ah, itu urusan mereka.”

 

Ada 1001 reaksi. Mulai dari nasihat bijak, gosip, cuek, sampai teguran keras dan tudingan. Lalu, apa yang dapat kita lakukan?

 

Dalam sebuah buku kecil, Spiritual Works of Mercy (Grogan, 2015, p.30) memberikan sebuah nasihat tentang teguran dalam kaca mata iman Katolik, “First of all with a motive of love; and secondly, with an acute awareness of our own sinfulness, which includes gratitude to the Lord for rescuing us and restoring us to Himself out of sheer mercy. And thirdly, praying first for the gift of counsel for ourselves!” Secara bebas, dapat diterjemahkan bahwa untuk membimbing seseorang, pertama-tama adalah dengan motivasi cinta kasih. Kedua, dengan kesadaran akan dosa kita sendiri, termasuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita dan memulihkan kita karena rahmat-Nya. Ketiga, terlebih dahulu berdoa untuk karunia Roh Nasihat untuk diri kita sendiri!” Tentu, itu semua berbeda dengan pandangan menghakimi atau sebaliknya apatis.

 

Dalam kisah nyata di atas, ada tips 3P untuk menjadi seorang sahabat dalam konteks pertobatan, yaitu:

  • Pray (doa)
  • Patience (kesabaran)
  • Persistence (kegigihan)

Contoh santa yang setia melakukan ini adalah Santa Monika yang berpuluh tahun mendoakan anak dan suaminya yang terjerumus dalam dosa berat. Akhirnya, anaknya menjadi seorang santo (Santo Agustinus) dan suaminya pun demikian (Santo Patrisius).

 

Jika demikian, bagaimana kita dapat berdiskusi mengenai seks dalam kehidupan orang muda? Berbicara mengenai seks dan seks bebas adalah dua hal yang berbeda. Seks adalah indah, mulia, dan suci. Bagaimana dengan seks bebas?

 

Pertama, pertanyaan yang fundamental. Apa yang dicari seseorang dari seks bebas? Kesenangan? Kepuasan? Jati diri? Kemerdekaan dan kebebasan?

Jika ya, kita dapat berfleksi mengenai hal yang terjadi dalam perjalanan hidup kita. Apa pengalaman kita tentang mengasihi dan dikasihi?

 

Kedua, seks bebas akan berakhir pada kehampaan. Jika kemerdekaan adalah hal yang dicari, maka dalam satu, dua, tiga atau beberapa kali hubungan mungkin ya. Selanjutnya, apa yang didapat?

 

Ketiga, tekanan dari lingkungan. Pada akhirnya, mengapa seseorang bergaul dengan lingkungannya? Mungkin karena di tempat lain, ia tidak diterima. Ia merasa ‘berbeda’ dan bahkan dianggap ‘salah, buruk, dan berdosa’. Jika kita merenungkan sikap Yesus, terhadap perempuan yang kedapatan berzinah, apakah Yesus menceramahi perempuan itu setelah “semuanya pergi”? Yesus tidak mengungkit-ungkit masa lalunya, Yesus tidak menasihati panjang lebar, Yesus tidak menuding. Yesus menegurnya dengan lembut. Yesus mengasihinya.

 

Keempat, hati nurani. Seseorang dapat merasakan bahwa ia dikasihi. Dalam lubuk hatinya, biasanya sebagian besar orang sudah mengetahui hal baik dan buruk. Apa yang mereka butuhkan? Lagi-lagi, cinta kasih dan kelembutan. Kelembutan DAN kerendahan hati. Itulah kekuatan kasih seorang ibu. Mengapa Bunda Maria begitu dicintai? Apakah kita bisa memancarkan hal itu?

***

Jadi, apakah hubungannya semua diskusi di atas dengan seks dan orang muda Katolik? Kesimpulannya singkat. Seks adalah indah dan suci. Orang muda Katolik melihat seks bukan hanya soal benar dan salah. Akan tetapi, tentang kebahagiaan dan tujuan hidup. Seks bebas tidak berujung. Justru, dengan saya berani memilih, saya bebas. Bebas mengikuti kebahagiaan sejati yang memang berhak saya dapatkan. Bebas menjadi seseorang yang berhak memiliki masa depan yang indah. Dalam kaca mata iman, saya memilih untuk mengikuti kebahagiaan dari Kristus. Mari kita saling mengasihi dan menguatkan dalam Kristus. Ave Maria. (MSCP).

 

DAFTAR PUSTAKA

Grogan, P. (2015) Spiritual Works of Mercy. Aberdeen: Catholic Truth Society Publishers