Menjadi Laskar Maria Dalam Konteks Formasi Seminari Menengah

Sharing dari Fr. Thomas Waluyo, SSCC


Benih itu telah tumbuh

Legio Maria bukan bukanlah kelompak persekutuan doa yang baru bagi saya, karena sejak kecil saya sudah diperkenalkan oleh teman-teman sebaya saya. Namun karena waktu itu jumlah anggota cewek lebih banyak dari pada cowok, maka saya hanya mengikuti beberapa kali pertemuan saja, dan selebihnya, fokus saya adalah putra-putri altar karena setiap anak yang sudah menerima komuni pertama wajib menjadi putra dan putri altar. Akhirnya kelompok Legio Maria tidak pernah saya ikuti lagi, bahkan hingga saya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Akan tetapi, setidaknya nyala api Legio Maria sudah ada dalam diri saya; ketertarikan untuk mengenal Maria melalui Legio Maria sudah tumbuh dalam diri saya, dan ketertarikan inilah yang  kemudian mendorong saya untuk memasuki perjalanan spiritual bersama Bunda Maria melalui Legio Maria.

Usai menamatkan Sekolah Lanjutkan Tingkat Pertama di  Lampung, saya melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Disanalah nyala api Legio Maria berkobar lagi serta memperoleh tempat dan situasi yang mendukung. Saya pun tanpa ragu mengikuti kelompok Legio Maria Presidium Rumah Kencana. Sebenarnya agak kurang tepat jika kelompok kami dikatakan sebagai presidium Legio karena tidak ada rapat mingguan rutin dan kami hanya mendoakan doa Tessera saja. Saya beryukur pada kakak-kakak kelas karena telah memperbolehkan saya ambil bagian dalam kelompok ini hingga saya dapat menumbuhkan kecintaan kepada Maria dengan lebih sungguh dan khusuk melalui pertemuan setiap dua minggu sekali. Dan memang betul, kecintaan saya pada bunda Maria semakin dalam. Hal ini ditampakkan dalam kesetiaan saya untuk mengikuti setiap pertemuan dan juga dalam mendoakan doa Rosario serta Tessera setiap malam sebelum tidur.

Saya tidak hanya aktif dalam pertemuan dan doa saja, tetapi juga dalam pertemuan ACIES. Setidaknya sudah tiga kali saya mengikuti pertemuan ACIES dan kegiatan lain yang dijalankan di sana. Kegiatan-kegiatan itu sungguh membantu saya untuk mengenal secara dekat tentang wajah Legio Maria di Keuskupan Agung Palembang dan menggali pengalaman menjadi Laskar Maria dari teman-teman lainnya. Perjumpaan itu memberikan saya banyak pengalaman dari mereka yang sudah lama menjadi legioner, dan untuk itu saya merasa diteguhkan untuk melayani Bunda Maria melalui kelompok ini.

Tentu omong kosong jika tidak ada tantangan dalam mengikuti Bunda melalui kelompok Legio Maria. Keterbatasan waktu adalah tantangan terbesar saya dalam mengikuti pertemuan doa ini. Kadang waktu doa itu bertabrakan dengan kegiatan sekolah, terutama pada masa-masa ujian, dimana saya kadang tidak bisa mengikuti pertemuan tersebut. Bukan karena saya tidak mencintai, tetapi saya punya tanggung jawab untuk memenuhi standar seminari. Jika saya tidak berhasil mencapainya saya akan diberi surat peringatan, atau  bahkan jika terlalu parah saya akan diminta untuk tidak melanjutkan pendidikan saya di seminari. Menghadapai situasi ini, ketua kami pada waktu itu memutuskan untuk tidak mengadakan pertemuan pada saat musim ujian. Akan tetapi, doa dan kewajiban sebagai legioner tetap dijalankan secara pribadi. Dengan kebijakan tersebut, saya menjadi lebih tenang dalam menjalankan tugas Legio dan ujian saya.

Ketika saya masuk kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria (Sacrorum Cordium; SSCC), saya tidak lagi mengikuti kegiatan Legio, namun semangat dari Legio Maria tetap ada dan mewujud dalam tingkah laku serta doa saya. Saya tetap setia untuk mendoakan Tessera dan Rosario karena doa-doa tersebut telah menjadi bagian dari hidup saya, hingga ketika tidak didaraskan serasa ada yang kurang dalam hidup saya pada hari itu. Dalam suasana semacam inilah saya menghidupi semangat Legio Maria.

Semakin tumbuh besar dalam perjumpaan

Saya kemudian menempuh masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Sudah menjadi tradisi di seminari ini, salah satu dari frater TOP akan menjadi APR salah satu presidium Legio Maria, entah di seminari sendiri maupun  di Paroki Santa Perawan Maria Katedral. Saya diminta untuk menjadi APR untuk presidium seminari Stella Maris Bogor yang ketika itu jumlah anggotanya cukup banyak. Tanpa berpikir panjang saya bersedia untuk mendampingi mereka. Alasan saya sederhana saja,  karena menjadi anggota Legio Maria adalah cita-cita saya dan saya ingin terus melayani Bunda Maria melalui Legio Maria.

Sejak dipilih menjadi APR, saya berusaha untuk hadir dalam rapat presidium yang diadakan setiap hari Minggu malam. Sayang sekali, kadang tugas mendampingi Legio bertabrakan dengan tugas saya di gereja Katedral sehingga saya tidak bisa hadir atau hanya memperoleh bagian akhir dari doa saja. Bagi saya kehadiran itu penting sekali karena merupakan bentuk kecitaan dan perhatian pada Legio di seminari; dan bagi teman-teman di presidium seminari, mudah-mudahan kehadiranku yang terbatas menjadi tanda perhatian dan kesetiaan kepada mereka.

Jujur, menjadi APR bukanlah tugas yang mudah. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya akan Legio Maria. Di seminari menengah dan seminari tinggi saya tidak pernah mempelajari buku pegangan. Saya hanya belajar secara umum tentang spiritualitas Maria. Keterbatasan dalam pengalaman dan pengetahuan serta tuntutan telah mengarahkan saya untuk membaca buku pegangan. Sebenarnya tidak cukup hanya membaca saja melainkan juga harus bisa membahasakan dengan sederhana dan jelas kepada teman-teman legioner. Harapannya mereka dapat menangkap dan mampu menjalankannya dalam hidup keseharian mereka.

Menjadi APR Legio Maria bukan hanya soal kehadiran saja, tapi juga menjadi kakak sekaligus sahabat bagi mereka. Saya menjadi kakak, ketika saya yang lebih tua ini memberi mereka masukan bagaimana menjadi legioner yang sejati. Menjadi kakak juga berarti menjadi teladan bagi mereka. Kehidupan saya sebagai APR sekaligus sebagai formator bagi seminaris selalu menjadi sorotan. Ketika penampilan saya menunjukkan semangat Legio maka mereka akan meniru apa yang saya buat. Namun ketika tindakan saya mencerminkan yang sebaliknya maka saya akan menjadi batu sandungan bagi mereka. Maka saya dituntut untuk memberi teladan yang baik kepada mereka setiap saat.

Selain sebagai kakak yang menjadi pusat dan teladan mereka, saya juga belajar banyak nilai dari mereka semua. Salah satu nilai yang mereka berikan adalah nilai kesetiaan dan pengorbanan. Saya tahu betul hidup keseharian mereka sebagai seminaris karena saya mendampingi perjalanan hidup harian mereka yang padat dengan jadwal seminari mulai dari bangun pagi hingga malam hari; mulai dari hari Minggu hingga Minggu berikutnya. Ketika mereka memutuskan untuk bergabung dalam Legio Maria, mereka akan mengorbankan banyak hal. Lebih-lebih, mereka mengorbankan waktu dan kesenangan mereka. Seharusnya mereka bisa rekreasi dengan nonton TV atau belajar, namun mereka memilih untuk ikut rapat Legio. Juga ketika mereka mendapat giliran rosario berantai, mereka harus menyisihkan waktu khusus untuk berdoa. Pada hari Minggu, mereka harus mengorbankan waktu jalan-jalan mereka demi kegiatan Legio, meskipun memang tidak setiap Minggu.

Terhubung dalam doa

            Tugas untuk menyalakan api Legio Maria tidak berhenti pada saat saya menyelesaikan masa TOP saya di Seminari Stella Maris Bogor. Tugas ini tetap dan terus saya jalankan dalam masa studi lanjut saya di Yogyakarta. Tentu kini saya menjaga api Legio Maria dengan model dan cara yang berbeda. Saya tidak lagi mengikuti kegiatan rutin Legio namun saya tetap mendoakan Tessera setiap hari. Dengan cara semacam ini, saya tetap menyatu dalam doa dengan teman-teman yang menjadi legioner dan saya tetap menjadi bagian dari mereka semua.

Ave Maria.


Fr. Thomas Waluyo, SSCC adalah Asisten Pemimpin Rohani Seminari Stella Maris Keuskupan Bogor, periode 2015-2016. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Kongregasi Sacrorum Cordium (SSCC) Yogyakarta.

Devosi Legio; Akar Kerasulan Legio

Alokusio Rapat Senatus
Minggu, 6 Agustus 2017

Dibawakan oleh Asisten Pemimpin Rohani Senatus, Sdr. Octavian Elang Diawan


Bacaan Rohani :

Buku Pegangan Bab 5 point 5 halaman 23

Devosi Legio; Akar Kerasulan Legio

Devosi Legio Maria adalah bakti khusus yang dilakukan oleh para legioner dan menjadi ciri khas Legio Maria. Devosi ini menjadi dasar kerasulan bagi para legioner.

Kerasulan adalah sebuah tindakan dan semangat sebagai orang-orang yang diutus. Legio Maria bukan hanya sebagai kelompok doa, namun adalah kelompok kerasulan awam yang diutus untuk berkarya.

Dalam merasul, devosi kepada Bunda Maria harus menjadi rohnya. Devosi kepada Bunda Maria berarti berbakti kepada Bunda Maria, yakni mengambil inspirasi bagaimana Maria hidup mencintai Yesus, melihat bagaimana Maria mencintai Yesus lalu menirunya dalam kehidupan kita, dan belajar dari Maria bagaimana mencintai Yesus. Seluruh kehidupan Maria diberikan kepada Yesus, maka sebagai anak-anak Maria kita harus menjadi anak-anak yang selalu mencintai Yesus.

Selain doa, rapat presidium dan karya, kita bisa mengungkapkan devosi kita dengan meditasi, yakni sebuah kerja batin untuk mengembangkan kualitas spiritual diri kita. Meditasi bisa dalam bentuk doa atau bukan doa dan dapat dilakukan di mana saja.

Meditasi terdiri dari Renungkan-Refleksi-Tindak Lanjuti. Renungkan bagaimana Maria mencintai Yesus, sejak menerima kabar dari malaikat, hingga menerima jenazah Yesus di kaki salib.
Refleksikan apakah aku sudah seperti atau mendekati sifat Maria?
Tindak Lanjuti dan simpulkan hasil renungan dan refleksi, lalu apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki dan membangun iman.

Surat Konsilium 30 Juli 2017

​Legion of Mary 

30 July 2017. 

Yang Terkasih, Sister Ignatia, 

Atas nama Konsilium Legionis di Dublin dan juga atas nama saya pribadi, saya sampaikan salam kepada Pemimpin Rohani, Ketua, Semua perwira, dan semua anggota Dewan Senatus Jakarta. 

Sejumlah besar tamu hadir dalam Rapat Konsilium di bulan Juli, termasuk 4 pastor, satu diantaranya bahkan dari Uganda, seorang wanita dari Timur Tengah, dan seorang tamu dari Argentina dan 3 orang dari Inggris. Semua disambut hangat oleh Ketua Konsilium yang baru Saudari Mary Murphy (yang sebelumnya adalah Bendahara Konsilium) 

Saudari Sile Ni Chochlain yang sebelumnya telah melengkapi karyanya selama enam tahun sebagai Ketua Konsilium, terpilih sebagai Wakil Ketua Konsilium. Kita mensyukuri terpilihnya kedua perwira ini yang telah memberi pelayanan terbaik di waktu lalu dan sekarang mengambil peranan penting termasuk juga tanggung jawab yang berat untuk memimpin Konsilium. 

Pastor Bede McGregor, Pemimpin Rohani Konsilium, memberikan penghargaan yang tinggi untuk mereka berdua (Sister Mary dan Sister Sile) atas pengabdian mereka, juga kepada Saudari Aileen O Donoghue (mantan Wakil Ketua) atas pelayanan yang telah diberikan kepada Konsilium lebih dari lima puluh tahun dan juga kepada Saudari Alice Creaton yang terpilih sebagai Sekretaris II yang bertanggung jawab atas bacaan-bacaan atau surat menyurat. Juga kepada Saudari Annete Mulrooney yang telah menyelesaikan 6 tahun pelayanannya bersama Konsilium

Bacaan Rohani diambil dari bab 33.13 hal 224 – Kehidupan Iman para Legioner. Dalam Alokusionya, Pastor Bede menjelaskan bahwa tugas utama para legioner adalah untuk mendapatkan kekudusan, sehingga kita bisa menjadi Santo/Santa dan kemudian menolong orang lain untuk juga dapat menjadi Santo/Santa. Pastor Bede mengatakan Saudara Frank Duff pernah mengutip kata-kata dari Pastor Faber bahwa Satu Santo berharga sejuta orang Katolik yang biasa-biasa saja, dan Santa Teresa dari Avila mengatakan bahwa satu jiwa yang bukan Santo tetapi berusaha mencari kekudusan akan sangat lebih berharga sekali di hadapan Allah daripada ribuan orang yang hidup dalam keadaan biasa-biasa saja.

Pastor Bede mengatakan bahwa Allah telah menciptakan kita untuk menjadi Santo-Santa, Tuhan telah wafat untuk kita agar kita dapat menjadi Santo-Santa, Dia telah memberikan hadiah Roh Kudus yang menjadi alasan utama dari semua kekudusan, dan Allah Tritunggal telah juga diberikan kepada kita dalam Ekaristi dan dalam Sakramen-Sakramen yang lain. Kita telah diberikan kehendak bebas untuk memilih bekerja sama dengan rahmat Allah yang tiada taranya. 

Tugas Evangelisasi membutuhkan orang-orang Kristen yang berjuang untuk meraih kekudusan sebagai tujuan utama dalam hidup mereka. Kita dapat memohon kepada Santa Perawan Maria, Ibu Surgawi kita untuk menolong kita meraih kekudusan itu. 

Selama Bulan Agustus ini, kita akan memperingati beberapa pesta liturgi, antara lain: Tuhan Yesus Dimuliakan, Bunda Maria Diangkat ke Sorga dengan Mulia, Santa Perawan Maria Ratu, Wafatnya Yohanes Pembaptis, dll. 

Di Irlandia, peringatan 1 abad penampakan Bunda Maria Fatima kepada Lucy, Fransesco, dan Jacinta akan dikenang dengan pendarasan doa Rosario di beberapa tempat di Irlandia pada tanggal 13 setiap bulan dari Mei sampai Oktober – kecuali di bulan Agustus karena di bulan Agustus tersebut, ketiga anak ini ditahan dan diinterogasi pada tanggal 13 Agustus, sampai akhirnya Bunda menampakkan diri pada tanggal 19 Agustus kepada mereka bertiga. 

Ada banyak laporan-laporan menarik ke Konsilium. Misalnya: terbentuk 3 Regia baru di Kolombia (Amerika Latin), Doa untuk rakyat Venezuela agar mereka mendapatkan kedamaian karena banyak sekali anak muda mati karena kekacauan politik di Venezuela. Legioner di sana menyelenggarakan doa bersama pada tanggal 5 Juli yang lalu dan kemudian 10 presidium terbentuk baru-baru ini dan tumbuh secara aktif dengan banyak anggota auksilier yang ikut bergabung. 

Juga dilaporkan beberapa upaya tugas seperti Exploratio Dominicalis dan Pentatahan Hati Kudus Yesus dilakukan di beberapa negara Amerika Latin. 

Selandia Baru dan Australia juga memberikan laporan tugas yang menarik. 

Saya menutup surat ini dan mohon agar rahmat dan berkat Allah yang besar untuk kita semua. 

Catherine Donohoe 

Koresponden Konsilium

Maria Mediatrix ; Bunda Maria dalam Pandangan Bernardus Clairvaux

Oleh : Fr. Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI


Bernardus dari Clairvaux (1090-1153) adalah seorang anggota Ordo Cistercian yang aktif dalam politik Gereja dan urusan birokrasi kepausan. Dia memiliki peran penting dalam pengenalan devosi kepada Bunda Maria. Paham Mariologi Bernardus didasarkan pada devosi pribadinya terhadap Maria. Cintanya terhadap Maria tidak dapat dipisahkan dari hidupnya.

Maria Model Gereja dan Mediatrix

Bernardus memandang Maria sebagai seorang figur yang patut dihormati. Perhatian pokoknya dalam diri Maria ialah mengenai kualitas keperawanan dan ketaatannya yang penuh. Karakter-karakter seperti inilah yang membuat Maria dijadikan sebagai contoh atau model bagi Gereja (type of the Church). Dia sangat menganjurkan umat untuk meniru kerendahan hati Maria. Tentang hal ini, dia mengatakan, “Jikalau kalian tidak sanggup mengagumi keperawanan Maria, persembahkanlah dirimu untuk meneladan kerendahan hatinya, hal itu akan cukup bagimu”. Bagi Bernardus, orang awam tidak diharapkan untuk meniru persis perilaku Maria dalam hal inkarnasi. Namun, pada saat yang sama, dia juga terus menyerukan suatu keyakinan umum pada masa itu, yaitu gelar “tunas” untuk Maria, yang dinubuatkan oleh para nabi[1].

Maria, melalui kesederhanaannya mampu menjalankan kesalehan dan ketaatannya. Peristiwa Maria Menerima Kabar dari Malaikat merupakan peristiwa yang menunjukkan sikap keteladanan Maria sekaligus juga sebagai awal kehidupan Yesus. Kesediaan Maria (fiatnya) dalam peristiwa itu juga menunjukkan peran yang penting demi keselamatan Gereja di masa mendatang, yakni penghiburan bagi yang susah hati, penebusan bagi yang tertindas, pembebasan bagi tawanan, keselamatan bagi semua keturunan Adam. Hal ini juga menjunjukkan aspek genetrix dari hubungan Maria dengan Gereja (eklesiologi).

Contoh keteladanan yang ditunjukkan oleh Maria, yang umum dibahas pada abad pertengahan, yaitu kisah Maria berdiri di kaki salib.  Jika peristiwa Kabar Gembira menandakan permulaaan inkarnasi dan datangnya rahmat Allah di dunia, maka, peristiwa penyaliban menandai titik atau batas akhir. Secara khusus, abad pertengahan, melalui peritiwa ini menyebut Maria sebagai Ibu Berdukacita (Mater Dolorosa). Nubuat Simeon dalam Lukas 2:35, dipandang sebagai bagian dari tantangan perjalanan Maria. Bernardus menjelaskan, ketika Jesus ditikam dengan tombak oleh serdadu, bagian tubuh yang ditikam itu bukanlah hati Jesus, melainkan hati atau jiwa Maria. Hal ini menjadi lambang kemartiran spiritual bagi Maria sebagai bentuk penderitaannya di kayu salib. Yesus dan Maria sama-sama menderita dan mati dalam peristiwa salib.

Cara pandangan seperti ini dianggap penting karena ada dua ide atau peristiwa yang penting dihayati. Pertama, secara ragawi, terdapat kemiripan antara Yesus dan Maria. Kedua, alasan bahwa penderitaan adalah hal yang baik bagi jiwa dan pada akhirnya menghantar kedekatan individual menuju keselamatan. Maria turut menderita karena penderitaan Puteranya. Cintanya pada Sang Putera menunjukkan kesatuannya dengan Yesus dalam penderitaan. Peristiwa ini (dengan makna yang dalam) menunjukkan bahwa Maria sungguh-sungguh bunda Kristus dan Gereja.

Ketika Maria diserahkan kepada Yohanes, sebagai perwakilan Para Rasul, sebagai ibu-nya, Dia sedang memberikan Maria kepada kelompok orang-orang yang percaya (yang kemudian menjadi Gereja). Penderitaannya di kaki salib, yakni penderitaan seorang ibu yang kehilangan anaknya, menggambarkan Maria turut ambil bagian dalam peristiwa tersebut. Dalam hal ini, dengan meneladani tindakannya, Maria ’mengizinkan’ orang-orang Kristen menjadi lebih dekat dengan Kristus. Jika mereka sanggup merasakan penderitaan dan rasa empatinya, mereka juga bisa dekat dengan Kristus. Hal inilah yang menjadi ciri kemartiran spiritual yang dapat diperoleh oleh setiap orang Kristiani, sekalipun mereka tidak dapat menanggung penderitaan Kristus yang sesungguhnya. Maria dipandang sebagai teladan kesalehan bagi orang-orang Kristiani, terutama dalam mengalami penderitaan yang dilaluinya. Dengan meneladan Maria, orang Kristen mampu memperoleh kedekatan dengan Kristus dan dengan demikian mengalami kedekatan dalam keselamatannya. Penderitaan dipandang sebagai bagian yang bersifat produktif dalam perjalanan menuju Allah. Rasa sakit dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran jiwa. Tujuannya ialah untuk meneguhkan orang-orang Kristiani (Gereja) untuk bertindak seperti Maria.

Paham lain yang berkembang di abad Medieval sehubungan dengan devosi kepada Bunda Maria ialah gelarnya sebagai pengantara (mediatrix) antara Kristus dan Gereja. Istilah ini memiliki dua arti yang berbeda. Yang pertama mengacu pada peran yang dimilikinya dalam peristiwa Annunciation, yakni fiatnya. Melalui peristiwa inkarnasi, rencana keselamatan Allah terjadi melalui diri Yesus Kristus. Dengan menyebutnya sebagai sebagai tempat suci dan juga bait kehidupan dan penebusan semua manusia, Maria secara langsung terkait dengan sejarah keselamatan. Hal ini sesuai dengan model pengantara dari hubungan Maria dan Gereja. Pengertian kedua berasal dari paham mengenai peran Maria sebagai ibu yang berdukacita dan sebagai ibu yang sederhana, perawan, dan yang penuh kasih. Sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja-Nya, Maria bertindak sebagai pengantara demi kepentingan orang-orang Kristen di hadapan penghakiman Puteranya, Sang Penyelamat. Sebagai pengantara (mediatrix) Bunda maria terlibat dalam peristiwa keselamatan Gereja.

Dalam hal ini, Bernardus menggambarkan Gereja sebagai Bulan dan menempatkan Maria di atasnya, terpisah dari Gereja. Gereja memohon dengan perantaraannya, rahmat dari Puteranya, seolah-olah Gereja tidak dapat melakukannya tanpa pertolongan Maria. Hal ini bisa dipahami karena Maria telah lebih dahulu menerima rahmat Allah dan pada akhirnya turut bertindak dalam membangun Gereja. Gereja turut diselamatkan karena tindakan Maria. Tentang hal ini, dalam pengajarannya, Bernardus menyebutkan, “Dia adalah pengantara kita, yang melalui dirinya, kita memperoleh rahmat Allah dan melalui dirinya, kita menerima Yesus di rumah kita”. Baginya, Maria menyediakan rahmat Allah dan belas kasih Puteranya bagi Gereja.

Gambar-gambar religius (di abad medieval) yang umum digunakan untuk kegiatan-kegiatan devosi ialah pemahkotaan Maria di surga. Secara tradisional, hubungan antara Maria dan Gereja tampak dalam suatu keyakinan bahwa Maria menjadi perwakilan dari Gereja dalam gambar tersebut. Gambar Maria ini cocok dengan gelar mediatrix, yakni menempatkan Maria sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja. Dia berada di samping Kristus. Cintalah yang membuat Maria menuntun, membimbing dan melindungi Gereja, menyatu dengan kemuliannya di surga. Cinta dan perlindungannya berasal kekuatan dan rahmat Allah. Melaluinya, kita telah menerima rahmat Allah dan juga mampu menyambut Tuhan Yesus di rumah kita.

Bernardus yakin bahwa selama Gereja melakukan tindakaan-tindakan seturut kehendak Allah dan tetap meneladan Maria sebagai pengantara, yang ditahtakan di surga dan dianugerahi  oleh rahmat Allah, mereka tidak akan dibiarkan menderita dan sendirian. Hal ini meningkatkan keyakinan Bernardus mengenai pandangannya mengenai Maria sebagai “Bintang Laut”, gambaran Maria sebagai pelindung bagi mereka yang tersesat di laut atau terancam badai laut. Hal ini menjadi kiasan akan Gereja yang sedang melalui masa-masa sulit.

[1]Nubuat tersebut terdapat dalam Kitab Yesaya yang mengatakan,  “sebuah tunas akan tumbuh dari tunggul Isai” (Yes. 11:1).


Fr Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI; lahir di Purbasaribu, 27 September 1989. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Oblat Maria Imakulata (OMI) Yogyakarta. Beliau adalah asisten pemimpin rohani Komisium Bintang Timur Bogor tahun 2014-2015.