Sikap Toleransi Menciptakan Harmoni

Oleh : RP. Alexander Palino, MSC (Vikaris Jenderal Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 16:1-8

Toleransi secara etimologis memang berasal dari kata “tolerare” yang berarti ‘menanggung’ atau ‘membiarkan’. Toleransi dapat mempunyai warna etis-sosial, religius, politis dan yuridis serta filosofis maupun teologis. Secara umum toleransi menunjuk pada sikap membiarkan perbedaan pendapat dan perbedaan melaksanakan pendapat untuk beberapa lapisan hidup dalam satu komunitas. Pada umumnya arah pemahaman toleransi mencakup pendirian mengenai membiarkan berlakunya keyakinan atau norma atau nilai sampai ke sistem nilai pada level religius, sosial, etika politis, filosofis, maupun tindakan-tindakan yang selaras dengan keyakinan tersebut di tengah mayoritas yang memiliki keyakinan lain dalam suatu masyarakat atau komunitas.

Ide dasarnya adalah bahwa tak ada manusia yang bisa memiliki kebenaran utuh maupun cara menemukan kebenaran secara sempurna. Sebab pencarian kebenaran diakui sebagai proses majemuk yang menyejarah, tidak sekali jadi. Selain itu toleransi diperlukan agar suara hati masing-masing orang dapat berfungsi secara wajar dan saling dihargai. Dalam masyarakat tertutup pun sesungguhnya toleransi diperlukan agar berlakunya norma umum (bukan keinginan seorang pemuka masyarakat) terjamin, seraya memungkinkan agar pendapat mayoritas berkembang demi keseimbangan masyarakat; di lain pihak diharapkan pula bahwa orang yang berbeda pendapat tidak ditindas dan didiskriminasikan.
Tiadanya toleransi menyebabkan ‘yang kuat’ menang habis-habisan, sementara yang kalah hancur tanpa bekas. Dengan cara itu masyarakat rugi, karena benih-benih pendapat yang baru tumbuh dan belum kuat dapat hancur sebelum memperoleh kesempatan untuk dilaksanakan dan diuji oleh praksis. Dalam masyarakat demokratis, toleransi mutlak diperlukan bagi perkembangan berpikir secara kreatif dan aktif serta justru untuk memperkembangkan segala potensi masyarakat.

Menciptakan kehidupan beragama yang baik bukanlah berdasarkan toleransi yang semu, yang mempunyai tendensi untuk mengatakan bahwa semua agama sama saja. Gereja Katolik tetap menghormati agama-agama yang lain, mengakui adanya unsur-unsur kebenaran di dalam agama-agama yang lain, namun tanpa perlu mengaburkan apa yang dipercayainya, yaitu sebagai Tubuh Mistik Kristus, di mana Kristus sendiri adalah Kepala-Nya. Oleh karena itu, Gereja Katolik tetap melakukan evangelisasi, baik dengan pengajaran maupun karya-karya kasih. Dengan kata lain, Gereja terus mewartakan Kristus dengan kata-kata dan juga dengan perbuatan kasih.

Konsili Vatikan II dalam Nostra Aetate mengatakan demikian :

“Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci di dalam agama-agama ini. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); Dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.”

Setelah membaca Injil Luk 16: 1-8, maka beranilah kita berkata bahwa adalah sesuatu yang tidak tahu diri kalau manusia tidak mau memberi toleransi kepada manusia lain; juga orang lain yang lebih kecil atau lebih lemah. Sebab Allah begitu rela berbesar hati terhadap manusia yang penuh kesalahan dan dosa. Dengan kata lain, manusia mau memberi toleransi kepada orang atau kelompok lain hanya masalah realisasi: bahwa manusia mengakui dirinya sudah diberi toleransi oleh Tuhan. Dengan latar belakang itu, toleransi bukanlah jasa manusia melainkan kewajiban manusia.

Dalam konteks itu dapatlah kita lebih memahami Konsili Vatikan II yang mendukung kebebasan beragama dan suara hati. Sebab “Dignitatis Humanae” menunjukkan kebesaran hati mentoleransi pendapat dan keyakinan lain bahwa tugas-tugas itu menyangkut serta mengikat suara hati, dan bahwa kebenaran itu sendiri, yang merasuki akal budi secara halus dan kuat. Adapun kebebasan beragama, yang termasuk hak manusia dalam menunaikan tugas berbakti kepada Allah, menyangkut kekebalan terhadap paksaan dalam masyarakat. Kebebasan itu sama sekali tidak mengurangi ajaran katolik tradisional tentang kewajiban moral manusia dan masyarakat terhadap agama yang benar dan satu-satunya Gereja Kristus. Selain itu dalam menguraikan kebebasan beragama Konsili suci bermaksud mengembangkan ajaran para paus akhir-akhir ini tentang hak-hak pribadi manusia yang tidak dapat di ganggu-gugat, pun juga tentang penataan aturan masyarakat.

Ajaran Sosial Gereja juga melarang kekerasan atas nama agama dengan menyatakan : Tindak kekerasan tidak pernah menjadi tanggapan yang benar. Dengan keyakinan akan imannya di dalam Kristus dan dengan kesadaran akan misinya, Gereja mewartakan :

“Bahwa tindak kekerasan adalah kejahatan, bahwa tindak kekerasan tidak dapat diterima sebagai suatu jalan keluar atas masalah, bahwa tindak kekerasan tidak layak bagi manusia. Tindak kekerasan adalah sebuah dusta, karena ia bertentangan dengan kebenaran iman kita, kebenaran tentang kemanusiaan kita. Tindak kekerasan justru merusakkan apa yang diklaim dibelanya: martabat, kehidupan, kebebasan manusia.”

Apa pun kenyataan yang ada, komunikasi perlu terus dijalin melalui berbagi forum komunikasi antar umat beragama. Bangsa Indonesia membutuhkan munculnya kepemimpinan yang baik, pemimpin yang memberikan teladan hidup dan sanggup mengayomi serta memberikan jalan keluar dari krisis yang dihadapi bangsa; pemimpin yang kuat yang dihormati dan disegani; pemimpin yang cerdas, jujur, amanah, dan dapat berkomunikasi dengan baik; pemimpin yang mampu mengatur dan mampu menyelesaikan berbagai konflik yang ada di tengah masyarakat; pemimpin yang mampu menjadi perekat antar komponen bangsa yang mungkin bertentangan satu dengan lainnya.

Jadi, kehidupan beragama yang baik, hanya dapat terlaksana jika terjadi suasana dan lingkungan yang memberikan kebebasan beragama dan setiap umat dapat melaksanakan agama masing-masing dengan bijaksana. Pada saat yang bersamaan, maka umat Katolik juga harus tetap berakar pada doktrin yang kuat, serta bijaksana dalam proses evangelisasi.

Evangelisasi yang paling efektif adalah dengan memberikan kesaksian akan Kristus dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dalam perjuangan untuk hidup kudus.

 

 

 

 

Keluarga Kudus Sebagai Teladan Dalam Menjalin Persahabatan

Oleh RP. Yanno Leyn, MSF (Pastor Paroki Santo Yosef Pekerja – Juata)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 2:41-52

Ada sebuah lirik lagu yang selalu saya ingat dan kenang, berjudul “Keluarga Cemara”, yang diangkat dari sinetron besutan Arswendo Atmowiloto dan Adi Kurdi. Begini penggalan liriknya,

Harta yang paling berharga adalah keluarga,

Istana yang paling indah adalah keluarga.

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.

Mutiara tiada tara adalah keluarga….

Lewat penggalan lagu ini kita bisa membaca salah satu pesan, bahwa keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah tempat kita saling berbagi rasa, saling memperhatikan, saling menyayangi, dan saling membantu satu dengan lainnya. Keluarga demikianlah yang sungguh memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kasih.

Suatu komunitas atau keluarga kristiani perlu dibangun atas dasar kasih. Tanpa kasih, keluarga yang utuh dan bersekutu tidak mungkin berdiri kokoh dalam mengarungi samudera arus zaman.

Bertolak dari spiritualitas Keluarga Kudus Nazaret, kita membangun persahabatan dengan yang lain. Dalam lingkup keluarga, Yusuf, Maria, dan Yesus mengalami dan merasakan kepenuhan akan kebutuhan jasmani maupun rohani yang sangat mendalam.

Berdasarkan pada latar belakang masing-masing, mereka diutus untuk bersatu membentuk sebuah keluarga baru yang di dalamnya saling memberi dan menerima, mendidik dan dididik. Mereka saling belajar satu sama lain baik dalam menyelesaikan berbagai macam masalah kehidupan maupun dalam meningkatkan perkembangan rohaninya. Walau mereka memiliki keterikatan batin yang kuat namun ketiganya tetaplah pribadi-pribadi yang tidak melebur dalam pribadi yang lainnya. Masing-masing tetap memiliki kekhasannya, pribadi yang mandiri dan utuh serta yang memiliki perannya masing-masing.

Keluarga Kudus Nazareth merupakan model keluarga yang ideal bagi hidup pribadi atau kelompok masyarakat dalam menjalin persahabatan. Mengapa menjadi model yang tepat dan yang diharapkan? Kisah Injil yang ditampilkan dalam teks Lukas memperlihatkan gambaran tersebut.

Relasi keluarga Kudus Nasaret ini sangat harmonis, Mereka hidup dalam ketaatan kepada Allah. Misalnya tiap-tiap tahun mereka pergi ke Bait Allah di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Kemudian ketika Yesus berusia dua belas tahun, mereka bertiga pergi bersama-sama ke Bait Allah. Kesetiaan Yusuf dan Maria sebagai orang tua tercermin juga ketika Yesus hilang dalam perjalanan pulang ke Nasaret setelah merayakan Paskah. Tiga hari penuh mereka mencari puteranya sampai menemukan kembali di kota suci tersebut. Ketika menemukanNya, mereka tidak mendakwa atau memarahi Yesus tetapi mencoba menerima dan merenungkannya di dalam hati walau tidak mengerti dengan alasan Yesus. Yesus hidup dalam asuhan orangtuaNya dan semakin dikasihi Allah dan manusia. (bdk. Luk. 2:42-51).

Atas dasar inilah hubungan cinta kasih timbal balik antara ayah, ibu, dan anak terjalin. Keluarga Kudus Nazareth saling hormat penuh cinta, bersatu dan berdoa bersama. Dalam keluarga Nazareth yang beriman itu, tampak gambaran manusia yang hidup dalam pelayanan, kerukunan dan kedamaian. Yesus, Maria, dan Yosef merupakan pribadi-pribadi yang sungguh murni dalam kesetiaan, iman, pengharapan, dan pelayanan. Mereka mampu menangkap dan menjawab panggilan Tuhan.

Bagaimana kita mengejawantahkan spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth dalam kehidupan zaman ini? Fokus Pastoral Keuskupan Tanjung Selor tahun ini mengambil tema, “Gereja yang Ramah, Menyapa dan Memasyarakat”. Sejalan dengan tema ini, Paus Fransikus dalam homili malam Paskah 2015 yang lalu menyerukan agar keluarga-keluarga Katolik berani meninggalkan zona nyamannya masing-masing dan melihat keadaan sekeliling, terutama memperhatikan dan menolong orang-orang yang membutuhkan.

Hubungan atau relasi kita dengan yang sesama kerap kali ditandai dengan kehadiran. Dalam kehadiran ini kita menciptakan komunikasi dan relasi persaudaraan. Sebuah relasi-komunikasi yang menjadikan kita bagian dari yang lain.

Sikap rendah hati penuh kasih hendaknya menjadi spiritualitas kita dalam menerima yang lain.

Maria Sebagai Model Hidup Bermasyarakat Dalam Menciptakan Perdamaian

Oleh : RP Andreas Rinanto Herdianto, MSF (Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 1. 39-45

Sejak manusia melakukan dosa untuk pertama kalinya, hubungan manusia dengan Allah menjadi tidak harmonis. Allah mengusir manusia dari Taman Eden dan memaksa manusia untuk bekerja dan berusaha memperjuangkan hidupnya (lih. Kej. 3). Allah yang merasa dirinya dilukai itu tak bisa mendekati manusia lagi karena hati manusia yang tertutup dan sebaliknya manusia, karena telah melukai Allah tak mampu untuk mendekati Allah kembali. Untuk waktu yang sangat lama itu hubungan manusia dengan Allah menjadi renggang, tidak harmonis bahkan terputus. Keterputusan hubungan manusia dengan Allah itu tentu membuat hati Allah menjadi gelisah dan takut kalau manusia semakin menjauh dari Allah bahkan sampai tidak lagi mengenali Allah yang sesungguhnya sangat mencintai Allah.

Karena Allah sangat mengasihi dan mencintai manusia, maka Allah terus menerus berusaha untuk mendekati manusia dan memulihkan hubungan relasiNya dengan manusia yang telah lama tidak harmonis (putus hubungan). Setelah banyak nabi-nabi dipakai untuk membangun kembali relasiNya dengan manusia supaya harmonis kembali, Allah pun memilih dan menetapkan Maria sebagai bagian dari rencana besarNya untuk menyelamatkan manusia (memulihkan kembali hubungan Allah dan manusia).

Maria sejak semula sudah ditetapkan dan dipilih Allah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk bisa memperdamaikan kembali hubungan manusia dengan Allah. Kesediaan Maria agar manusia itu kembali kepada Allah dimulai dengan sikapnya yang bersedia membuka diri untuk menjadi ibu bagi sang juru selamat. Berawal dari kerinduan Allah yang mau memperbaiki hubungan dengan manusia setelah lama terputus dan tertutup, Maria telah mewakili manusia yang menanggapi tawaran perdamaian dari Allah itu dengan kesediaannya bekerjasama kembali pada Allah.

Maria dalam melaksanakan tugasnya tidak hanya berhenti pada melahirkan bayi Yesus, membesarkan, dan menemani Puteranya sampai wafat di salib. Keinginan Maria untuk agar hubungan manusia dengan Allah terus menerus semakin baik dan terjalin harmonis diperlihatkan Maria dalam seluruh hidupnya sampai ia naik ke surga. Hal itu bisa ditemukan dari jejak-jejak penampakan Bunda Maria yang ketika menampakkan dirinya di beberapa tempat selalu membawa pesan pertobatan (perdamaian). Salah satunya adalah kisah penampakan bunda Maria kepada dha anak kecil Maximin Giroud dan Melani Calvat yang sedang menggembalakan domba-domba mereka di pegunungan La Salette (Perancis).

Dalam kisah penampakan itu, Maria mengajak seluruh manusia untuk tidak terus menerus melakukan perbuatan dosa. Semakin banyak manusia berbuat dosa maka semakin beratlah lengan Yesus di salib. Kegagalan panen kentang yang membusuk pada saat itu menjadi pertanda hidup manusia yang dipenuhi dosa dan jauh dari beriman kepada Allah. Karena seruan dan pesan pertobatannya itu, Maria La Salette disebut sebagai bunda Rekonsiliatrik (pertobatan). Sikap Maria sebagai bunda rekonsiliatrik yang selalu menghendaki manusia terus menerus bertobat, memperbaharui hidupnya dengan semakin sering membangun relasi dan komunikasi dengan Allah dalam doa, telah menjadikan Maria sebagai Bunda pembawa perdamaian.

Sampai saat ini Maria senantiasa menghendaki manusia untuk berdamai dengan Allah.

Gereja yang Bersahabat di Tengah Keanekaragaman Agama

Oleh RD. Kanisius Kopong Daten (Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Matius : 22 : 1-10

Amanat Konsili Vatikan II membawa pembaruan paham Gereja : dari paham institusi keselamatan kepada paham Gereja sebagai sakramen keselamatan. Paham ini mengamanatkan kepada kita bahwa letak keselamatan tidak lagi pada lembaga atau institusi Gereja, melainkan pada kesatuan umat manusia dengan Allah (Lumen Gentium/ LG 1). Untuk itu Gereja memiliki paham baru yakni sebagai Umat Allah. Maka Gereja sebagai umat Allah hadir di tengah dunia sebagai tanda sekaligus sarana yang mewujudkan kesatuan mesra manusia dengan Allah dan persatuan seluruh umat manusia dengan manusia (LG 9). Pesan ini menginspirasi seluruh gerak karya pastoral untuk menjalin relasi persaudaraan kristiani dengan sesama seiman dan terpanggil untuk membangun persaudaraan sejati dengan sesama yang bukan seiman agar terjalin relasi persahabatan.

Tahun 2018 ini Keuskupan Tanjung Selor secara istimewa memfokus gerak pastoralnya dan menjadikan tahun 2018 sebagai Tahun Persahabatan.

Membangun persahabatan dengan sesama di tengah keanekaragaman agama khususnya di bumi Indonesia saat ini merupakan hal yang penting dan urgen untuk dilaksanakan. Mengingat potensi keretakan hidup berbangsa menjadi ancaman besar dalam kehidupan bersama sebagai satu bangsa. Masih terasa adanya masalah-masalah seperti relasi yang buruk antar umat beragama, diskriminasi dan sasaran terorisme terhadap kelompok minoritas, klaim asli dan pendatang, pribumi dan non pribumi, rasa curiga terhadap kelompok lain, minimnya komunikasi antar umat beragama, agama disalahgunakan untuk kepentingan politik dan bisnis, dan penghayatan agama yang bersifat formalistis dan legalistis sehingga dalam hidup keseharian kurang dihayati sebagai nilai dan sikap hidup pribadi dan kelompok.

Hal ini merupakan tantangan terbesar utuk menjalin relasi persahabatan yang sejati ditengah keaneragaman agama. Namun dengan hati terbuka untuk berdialog dan kerelaan mau bekerjasama yang tulus, sebetulnya kita telah meneladani sikap dan perilaku Yesus Kristus sendiri. Ia mengundang dan memanggil semua orang pada perjamuanNya yang telah Ia sediakan. Ia ingin agar semua yang percaya kepada Allah BapaNya duduk makan bersama dengan penuh sukacita dan damai. Ia menyuruh hamba-hambaNya pergi ke persimpangan-persimpangan jalan, menjumpai semua orang yang sudah pasti memiliki latar belakang agama dan kepercayaan beraneka ragam, terlebih mereka yang masih bersikap acuh tak acuh, bahkan tertutup hati bagi Allah dan intoleran dengan sesama untuk datang duduk makan bersama dalam semangat persahabatan dan cinta.

Sikap dialog terbuka yang telah ditunjukkan Tuhan Yesus ini, menginspirasi karya pastoral dan perutusan semua umat Katolik Keuskupan Tanjung Selor untuk mau menghadirkan sikap hidup Gereja yang ramah, menyapa dan bersaudara. Inilah langkah kecil pastoral yang terfokus di tahun 2018 ini. Langkah ini mengarah ke penghujung tahun. Jika langkah pastoral ini haruslah dilaksanakan dengan kerendahan hati maka kitapun telah turut mengubah dunia di tahun persahabatan ini.

Kita kerap kali orang mengeluh dan beralasan bahwa waktu kita sedikit. Bahkan alasan tersebut dijadikan jurus ampuh untuk menolak suatu tawaran atau kesempatan. Dengan kesadaran akan waktu yang terbatas, semestinya seseorang akan berusaha memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Banyak orang sebagaimana dalam Injil tadi menolak tawaran Tuhan Yesus dengan mengajukkan berbagai bentuk alasan untuk manjauh dari undangan Tuhan untuk bersahabat dengan-Nya. Justru semakin menjauh dengan Tuhan dan mengajukan keberatan itu malah jatuh dalam dosa dan kejahatan dan menimbulkan murka Allah yang dahsyat.

Maka gunakanlah waktu yang terbatas ini untuk menjalin persahabatan dengan Tuhan dalam doa di masa Advent ini. Gunakanlah waktu yang terbatas untuk bersilaturahmi. Jumpai dan sapalah semua orang sebagai sahabat. Berilah waktumu untuk mendengarkan, untuk mengunjungi sesamamu, terlebih bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

Karena Saya, Anda, dan Kita adalah sahabat.