Perkembangan Legio Maria di Togo, Afrika

Sumber :Buletin Konsilium Edisi Mei 2020 / legionofmary.ie


Senatus Lome di negara Togo, Afrika mengabarkan bahwa Legio Maria di sana sangat berkembang dan berbuah.

“Legio Maria berkarya dengan kunjungan ke rumah umat, rumah sakit, penjara, melakukan Katekese, kontak dengan orang-orang di jalan/ kampus/ toko buku. Semua tugas ini membuahkan banyak pertobatan, ada umat yang bersedia kembali ke dalam persekutuan Gereja, bahkan tidak sedikit bersedia menerima Sakramen Baptis.

Selain itu, kami juga mengadakan Kongres, Exploratio Dominicalis, dan beberapa pertemuan Patrisian juga. Satu Kuria junior kami mengadakan kuis Buku Pegangan dengan hadiah-hadiah bagi mereka yang paling berpengetahuan.

Beberapa Presidium baru juga dibentuk dan Komisium Adidogome membentuk satu Kuria baru. Di Keuskupan Kpalime, terdapat satu presidium yang dibentuk di penjara. Kini presidium di penjara ini sedang dalam proses membentuk satu kuria baru. Regia Kara yang baru membentuk satu kuria baru di bulan Desember tahun lalu, kini sedang membentuk tiga Kuria baru lagi”, ungkap Senatus Lome.

Jiwa-jiwa Legioner yang Sudah Meninggal

Buku Pegangan Bab 17 halaman 114
Alokusio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke-396-D/Tahun ke-33


Ajaran yang mendasari pemuliaan jiwa-jiwa yang sudah meninggal adalah pemahaman terhadap Gereja yang merupakan Persekutuan Orang Kudus. Hal ini tertuang dalam doa Aku Percaya “…… Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan para Kudus, dst… Amin.”

Gereja sebagai Persekutuan Orang Kudus dapat dilihat dalam 3 unsur yaitu :

      • Gereja Berziarah, yakni komunitas umat beriman yang hidup di dunia seperti kita semua saat ini.
      • Gereja Mulia, yakni komunitas jiwa-jiwa mulia di surga bersama Allah Bapa, dan
      • Gereja Pemurnian, yakni kelompok jiwa-jiwa yang masih ada di dalam api penyucian.

Jadi sebagai Gereja, kita yang masih ada di dunia ini terhubung dengan mereka yang ada di Surga maupun di dalam api penyucian. jemaat yang membentuk Gereja Semesta yang adikodrati. Rasul Paulus menegaskan secara luar biasa dalam suratnya kepada umat di Roma “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39).

Kasih Allah dalam Kristus Yesus-lah yang menyatukan kita yang masih di dunia dengan mereka yang sudah wafat. Atas kesadaran inilah, kita para Legioner dipanggil untuk tetap menjaga hubungan kasih dengan mereka yang sudah meninggal dengan cara mengirimkan kado-kado kasih berupa doa. Kado-kado ini akan sangat berguna, terlebih bagi para anggota Gereja yang Dimurnikan, yakni mereka yang masih ada dalam api penyucian.

Api penyucian adalah suasana pembersihan spiritual bagi jiwa-jiwa yang masih perlu pemurnian sebelum menjadi anggota Gereja Mulia di surga. Doa-doa kita di dunia akan sangat membantu jiwa-jiwa tersebut dalam upaya pembersihan spiritualnya.

Legio Maria sebagai komunitas yang selalu berdoa tentu akan menyambut baik kesempatan berdoa bagi jiwa-jiwa dalam Gereja Pemurnian. Doa-doa kita menunjukkan kita menghidupi semangat bahwa kita terhubung satu sama lain sebagai jemaat Gereja Semesta yang adikodrati. Tentu kelak bila kita harus melewati fase Gereja Pemurnian, kita juga akan membutuhkan kado-kado kasih dari para legioner yang masih ada di dunia dengan doa-doa serupa dari mereka.

Memandikan dan Merias Jenazah ala Legioner Dahor

Awalnya legioner memandikan dan merias jenazah untuk membantu seorang ibu yang meninggal, di mana anaknya tidak tahu cara mengurus jenazah dan merasa takut memegang jenazah ibunya. Setelah itu berita ini tersebar dan apabila ada yang meninggal, umat/ masyarakat menyerahkan jenazah kepada legioner. Kami menghubungi Ibu Caroline sabagai narasumber. Beliau adalah wakil ketua presidium sekaligus ketua Kuria Benteng Perdamaian Dahor.

Kegiatan memandikan dan merias jenazah ini merupakan kegiatan lintas presidium dalam satu paroki. Beberapa anggota dari tiga presidium yang berbeda bersedia bertugas memandikan dan merias jenazah, meskipun sudah malam hari. Kegiatan ini dilakukan oleh Ibu Caroline dan legioner lainnya apabila pihak rumah sakit tidak dapat melakukannya. Legioner memandikan jenazah tersebut di rumah keluarga jenazah atau di rumah sakit. Meskipun demikian, tidak semua anggota presidium bersedia melakukan tugas Martiria ini.

Jika ditanya, “Kok mau Bu?”, legioner menjawab dengan cepat “Namanya juga pelayanan, sudah seharusnya”. Mereka juga tidak menerima uang dari kegiatan ini, karena bagi mereka ini merupakan pelayanan dan menjadi tugas legio, maka sudah semestinya tidak menerima bayaran.

Legioner juga mendoakan jenazah saat memandikan dan merias jenazah tersebut. Doa-doa apa saja yang didaraskan? Mendaraskan doa Salam Maria dan Bapa Kami di dalam hati, atau juga diucapkan. Apakah pernah mengalami kejadian mistis saat melakukan tugas tersebut? Ibu Caroline menjawab; “Ada. Misalnya saat memandikan jenazah yang matanya belum tertutup, bahkan setelah memandikan pun ada”. Namun kejadian-kejadian mistis itu bersifat positif, tidak mengganggu kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan Ibu Caroline merasa diberi kemudahan dalam aktivitasnya sehari-hari, juga mendapat perasaan lebih nyaman dalam batinnya.

Puji Tuhan sampai saat ini mereka tidak menemukan kendala apapun. Untungnya selama ini tidak ada jenazah yang merupakan korban Covid, karena menurut prosedur, jenazah Covid harus ditangani langsung oleh pihak rumah sakit.