MASKER UNTUK KAU DAN AKU

Sumber berita : Dewan Kuria Ratu Damai, Lampung

“Sudah melakukan apa saja selama pandemi ini?” — Mungkin kebanyakan orang akan menjawab bahwa mereka telah menemukan hobi baru untuk mengatasi rasa bosan selama di rumah saja, atau mungkin sedang meningkatkan kemampuannya, atau malah menjadi lebih dekat dengan keluarga. Yang pada intinya, kebanyakan dari mereka akan menjawab kalau mereka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk diri sendiri dan keluarga. Namun apa yang dilakukan oleh sekelompok orang ini berbeda dengan kebanyakan dari mereka tadi. Sekelompok orang ini berinisiatif untuk bergerak di bidang sosial dengan cara membagikan lebih dari 1000 masker untuk masyarakat di Lampung sejak bulan Maret lalu.

Orang-orang dari Paroki di bawah Keuskupan Tanjung Karang, bekerjasama dengan kelompok Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) dan devosan koronka untuk pembuatan lebih dari 1000 masker kain untuk masyarakat di Lampung. Tentu saja semua legioner di paroki-paroki tersebut juga aktif berkontribusi bukan hanya dengan doa tetapi dengan langkah nyata, yaitu terdapat 19 presidium dari tujuh paroki dengan jumlah total legioner ada 340 orang.

Bahan-bahan untuk membuat masker sudah disediakan oleh Komisi Keadilan Perdamaian (KKP) dan Pastoran Migran Perantau (PMP) Keuskupan Tanjung Karang. Bahan-bahan ini dibagikan ke beberapa paroki untuk dijahit. Masker kain ini dibuat secara khusus oleh para ibu-ibu yang memiliki pengalaman dalam menjahit dan dilakukan secara sukarela. Legioner membantu menjahit, mencuci, dan mengemas, sehingga ketika dibagikan masker sudah siap untuk digunakan. Selain masker, mereka juga berinisiatif untuk memberikan makanan siap santap untuk berbuka puasa di bulan Mei-Juni, serta ada tambahan dari hasil panen sayur dan tanaman herbal yang bisa digunakan untuk menjaga kondisi tubuh dalam situasi pandemi.

Proses pembuatan masker kain ini membutuhkan waktu kurang dari satu bulan. Setelah selesai dijahit, ketua lingkungan bersama dewan paroki yang bertugas untuk membagikan masker-masker ini ke umat Katolik maupun non-Katolik.

Masker dipilih menjadi hal utama untuk dibagikan kepada masyarakat di Lampung karena sekarang sedang pandemi dan banyak orang yang justru tidak
menggunakan masker. Alasan utama tidak menggunakan masker karena harga masker yang terbilang mahal dan kebanyakan orang memilih menggunakan uangnya untuk membeli barang pokok saja. Melihat kebutuhan ini, para legioner dan umat paroki yang lain tergerak hatinya untuk melakukan gerakan tersebut.

Winona Maria

KABAR SENATUS OKTOBER 2020

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)

Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.

Kuria Ratu Damai – Bandar Lampung.

Walaupun dalam masa pandemi, kuria ini tetap berupaya melakukan perluasan, yaitu dengan rutin memantau presidium-presidium yang baru berdiri melalui telepon untuk memastikan rapat mingguan tetap terlaksana. Selain itu, sebelum Senatus menggaungkan Laudato Si, dewan ini sudah aktif melakukan berbagai kegiatan Laudato Si dan menjadi motor penggerak di lingkungan. Legioner di dewan ini juga melakukan Gerakan 1000 masker dengan menjahit, mencuci, mengemas, dan membagi-bagikan masker. Seluruh bahan yang dibutuhkan untuk membuat masker disediakan oleh Keuskupan.

Kuria Cermin Kekudusan – Kampus.

Rapat dewan dan presidium secara online sudah berhasil dilaksanakan. Saat ini memang hanya terdapat 5 presidium yang tergabung di dalam kuria ini. Kuria ini juga sedang mengupayakan pemekaran presidium di Unika Atma Jaya, BSD. Selama masa pandemi, selain rapat dewan atau presidium online, dewan ini mengupayakan doa online bersama.

CARLO ACUTIS, BEATO MILENIAL

MEREKA AKAN MENGANTRI UNTUK MENONTON KONSER, TAPI TIDAK MAU BERDIRI SESAAT SAJA DI DEPAN TABERNAKEL.

10 Oktober 2020 yang lalu, dunia para kudus digemparkan oleh seorang pemuda ganteng yang milenial banget. Yep, Carlo Acutis dibeatifikasi pada tanggal itu. Kita semua tahu bahwa Carlo membangun sebuah website yang berisikan katalog mukjizat Ekaristi. Tapi yang mungkin kita belom tahu adalah Carlo itu sama seperti pemuda biasa lainnya, dengan kecintaan luar biasa terhadap Ekaristi dan Rosario. Nih, simak yah…

Kabarnya, serial anime favorit Carlo adalah Pokemon.

Carlo bekerja sebagai seorang relawan di sebuah dapur untuk memasak sup bagi orang miskin.

Carlo adalah seorang pencinta satwa. Ia memiliki kucing dan anjing sebagai teman bulunya.

Carlo sama seperti pemuda lainnya, yang suka dengan komputer, buku, video game, bola, mobil, dan seorang gadis.

Berdoa Rosario menjadi saat kencan yang paling romantis bagi Carlo, dan karenanya Carlo tidak pernah melewatkan janjinya untuk berdoa Rosario setiap hari.

Carlo menempatkan Ekaristi sebagai hal yang utama dalam hidupnya, hingga mencari paroki terdekat dan menemukan jadwal misa menjadi prioritasnya saat dirinya sedang pergi berlibur bersama keluarganya.

JANGAN TAKUT MENJADI KUDUS
– Gaudete et Exsultate –
Paus Fransiskus, 2018

Aduh, Deg-degan…

Sis, jawab sis,” chat Erwin Rinaldi secara personal. “Duh, pelindungnya gereja Katedral Jakarta tuh Santa Perawan Maria diangkat ke Surga bukan yah? Jawab Santa Perawan Maria aja, deh. Nggak yakin nih,” batin salah seorang peserta. Dan sekian menit kemudian, Erwin jerit-jerit di chat, “Siiisss, kurang lengkap, sis. Maknanya beda,”. Ah… baiklah, terpaksa gugur dibabak ketiga ini.

Kamis (20/8) siang itu, Komisium Maria Immaculata – Dekenat Jakarta Barat II sedang mengadakan kuis Legio Maria berkaitan dengan buku pegangan, kewarganegaraan, dan iman Katolik secara umum. Niat utamanya adalah untuk semakin mengenal Legio Maria, iman Katolik, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tapi karena ada wabah virus covid19 yang membuat kita semua mengalami masa sulit dari berbagai sisi, niatnya jadi ditambah untuk menjaga semangat kebersamaan dalam sukacita.

Nah, kuis ini dilakukan secara online melalui salah satu aplikasi chat yang pasti dikuasai oleh berbagai usia : whatsapp. Sebanyak 66 orang hadir sebagai peserta, termasuk peserta undangan dari Lampung dan bahkan Pontianak. Secara keseluruhan, kuis ini dibagi menjadi empat babak. Babak pertama dan kedua adalah 10 soal pilihan ganda, dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Babak ketiga adalah tebak gambar, dengan maksimal waktu yang dimiliki peserta sekitar 25 detik untuk mengetik jawaban. Sementara babak finalnya merupakan video call secara terpisah dengan enam finalis yang berhasil bertahan. “Deg-degan gue jawabnya. Saking nervous-nya, gue cuma bisa ketawa doank. Hahaha,” cerita Meliana Lie, salah satu finalis, seusai menyelesaikan sesi video call-nya bersama dewan juri. Gitu-gitu dia berhasil menjadi juara tiga, loh

Saat ditanya mengenai persiapannya, Enny Lestari selaku salah satu panitia pembuat soal mengatakan bahwa hal yang paling membuat khawatir adalah apakah akan ada peserta atau tidak. Bukan karena ini diadakan secara online yang butuh kuota internet dan sinyal bagus, tapi karena biasanya orang suka males ikut kuis. Takut kalah dan dipermalukan.

Padahal ini hanya permainan, yang tujuannya adalah untuk bersenang-senang namun berfaedah. Nggak percaya? Nih, cek tautan berikut di browser masing-masing yah : https://youtu.be/LamuotDq_TI.

Eiya, ada bocoran dari panitia rangkaian kegiatan 100 tahun Legio Maria. Tanggal 18 Oktober 2020 nanti, rencananya akan ada kuis Legio Maria online lagi loh, dengan peserta antar senatus. Dan di Indonesia, kita punya tiga dewan senatus. Begh… ke bayang nggak sih serunya kayak gimana nanti? Ikut gih, siapa tahu hadiahnya jalan-jalan ke Dublin, ye kan.

Tetap Berbela Rasa Selama Masa Pandemi

KOTA BARU, BANJARMASIN. Di masa pandemi, Paroki Keluarga Kudus – Kota Baru memberikan bantuan berupa 250 paket sembako kepada warga prasejahtera dan korban PHK (Katolik dan non Katolik) yang tinggal di sekitar gereja. Legioner pun berpartisipasi membantu proses distribusi paket ini.

Selama proses distribusi tersebut, legioner menyadari bahwa paket tidak disertai dengan sayur-sayuran. Padahal di masa pandemi ini, warga bukan hanya sekedar membutuhkan makan kenyang dengan beras dan indomie, namun justru membutuhkan makanan sehat.

Menyadari kondisi itu, legioner pun berinisiatif menambahkan sayur-sayuran dalam paket yang dibagikan tersebut. Dengan bermodalkan dana pribadi ditambah sumbangan dari umat lainnya, legioner dapat menyediakan 150 paket sayur (kangkung, cabai, tomat, daun singkong, dll). Dan Paroki bersedia menambahkan kekurangan 100 paket. Yang unik adalah sayur ini berasal dari kebun sayur milik legioner yang berprofesi sebagai petani.

Legioner juga membantu membuatkan kupon berisi jam pengambilan untuk dibagikan kepada keluarga prasejahtera yang sudah terdaftar, sehingga tidak menimbulkan kerumunan orang.

JAKARTA SELATAN 2. Sebuah presidium yang tergabung dalam Kuria Rosa Mystica berinisiatif membuat masker kain dan membagikannya kepada warga yang membutuhkan, termasuk supir angkot dan ojeg. Kegiatan berbagi ini disambut baik oleh warga lingkungan sekitar, sehingga pembuatan masker kain terus berlanjut untuk dibagi-bagikan.

TANGERANG. Legioner di Komisium Maria Assumpta, Tangerang bekerja sama dengan sie HAAK Paroki melakukan penyempotan disinfektan di perumahan warga dan membagikan sembako. Selain itu, legioner juga membantu membagikan masker dan APD yang berasal dari donator ke Puskesmas.

8 September, Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Oleh : Anson Santoso


Bagi umat Katolik tentunya tidak asing lagi dengan tokoh Ibu kita Bunda Maria. Kita para legioner yang berdevosi kepada Bunda Maria, tentunya diharapkan lebih dekat dengan Ibu Tuhan kita Yesus Kristus, yakni Bunda Perawan Suci Maria. Begitu mendalam pemahaman tentang Bunda kita ini, di mana terdapat bagian teologi di ajaran Gereja kita yang disebut “Mariologi”, yang mempunyai beberapa institusi pendidikan dan penelitian di beberapa negara.

Bunda Maria dilahirkan dalam keluarga saleh oleh orang tuanya Santo Yoakim dan Santa Anna. Ia dididik dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya, baik secara teoritis (kitab-kitab Taurat Yahudi), maupun dalam perbuatan sehari-hari.

Saya teringat katekese tentang Bunda Maria yang disampaikan oleh Pastor Andre SDB, Pastor Paroki Danau Sunter. Beliau mengajukan pertanyaan, “Apakah kita bisa menjadi seperti Bunda Maria?”. Umat yang hadir membisu seribu bahasa ketika mendengar pertanyaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan. Muncul pertanyaan berikutnya, “Apakah kita layak menjadi seperti Bunda Maria yang teramat suci itu?”.

Mengagetkan karena jawabannya adalah kita bisa. Beliau memaparkan bahwa, “Kita bisa, asalkan iman kita benar-benar terdidik dengan sangat baik seperti Santo Yoakim dan Santa Anna mendidik Bunda Maria. Juga asalkan kita menolak segala –ya, segala- bentuk dosa dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak lupa kita pun harus mau melaksanakan kehendak-Nya saja”.

Bunda Maria yang acapkali menjadi perantara doa-doa kita kepada Tuhan melalui doa Novena Tiga Salam Maria, atau kita yang merasa dikuatkan melalui doa Rosario, mempunyai beberapa sejarah menarik. Misalnya, kemenangan pasukan Eropa/ Kristiani atas invasi pasukan Turki pada tahun 1571, atau kisah orang kudus Santo Dominic Savio yang menceritakan kepada gurunya -Santo Don Bosco- bahwa yang menolongnya pada saat ajalnya ialah Bunda Gereja kita.

Bunda Maria yang secara dogma Gereja berperan secara mediatrix (sebagai mediator antara Tuhan Yesus dan manusia) serta co-redemptrix (pendamping) dikenal sebagai Bunda para pendosa. Ada satu pengalaman unik saat saya menempuh pendidikan di Sanggau, Kalimantan Barat. Seringkali saya diminta untuk mengembalikan rantang makanan, yang perjalanannya harus melewati hutan pada saat malam hari. Di lokasi tujuan terdapat 2-3 anjing penjaga yang cukup galak. Setiap kali anjing itu berlari atau menggonggong ke arah saya, saya berdoa Salam Maria. Alhasil mereka langsung menjadi tenang, tidak lagi menggonggong, dan berbalik badan. Pengalaman ini mengingatkan saya pada sebuah lukisan Bunda Maria yang pernah saya lihat. Dalam lukisan yang berukuran besar itu, Bunda Maria dengan jubahnya melindungi orang-orang yang sedang dalam ketakutan. Manusia dari berbagai macam profesi dan kedudukan sosial di dunia berlindung dibalik jubah Bunda Maria.

Acapkali dengan perantaraan Bunda Maria, Tuhan mengabulkan doa-doa saya, khususnya di saat saya berdoa Novena Tiga Salam Maria. Begitu pula saat saya berdoa Rosario, Salam Maria, atau Catena Legionis, saya merasa hati menjadi tentram dan mampu menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, sudah sepatutnya saya dan kita semua bersyukur atas kelahiran Bunda Maria lebih dari 2000 tahun yang lalu. Kita mendapatkan Bunda Surgawi, yang mana olehnya, Tuhan kita Yesus Kristus mustahil menolak permohonan sang Bunda yang telah mengikuti kehendak Tuhan selama hidupnya di dunia ini.

Terima kasih, Bunda Maria. Selamat ulang tahun Bunda Surgawi, Bunda Tuhan kita Yesus Kristus dan Bunda kita semua.

sumber : katolisitas-indonesia.blogspot.com

Ada Presidium Khusus Tuli, nggak?

Sumber berita: Daisy Haryanto


Pernah kah Anda mendengar istilah “BIsIndo”? BIsIndo adalah bahasa isyarat Indonesia, yang belakangan ini menjadi booming kembali dalam penyampaian informasi seputar covid19. Dan ternyata, gereja Katolik juga mulai mempelajarinya, loh.

Francis Daisy Haryanto, seorang legioner dari paroki Cilandak, adalah salah satu peserta kelas BIsIndo sejak November 2019 lalu. Daisy menuturkan bahwa BIsIndo itu terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas umum dan kelas liturgi. Kelas umum ini cabangnya sudah ada di mana-mana. Tapi untuk kelas liturgi, setahu Daisy baru ada dua. Salah satunya di gereja Katedral Jakarta. Peminatnya lumayan ramai, sekitar 40 orang, sehingga harus dibagi dalam dua kelompok. “Tapi yang gugur juga banyak,” sahut Daisy sambil menyematkan emotikon sedih dalam chatnya. Selain karena kesibukan masing-masing, gugurnya peserta juga disebabkan karena materi yang semakin sulit. Dalam kelas lanjutan, peserta diwajibkan untuk mampu menerjemahkan homili pastor ke bahasa isyarat saat itu juga, tanpa bocoran catatan dari pastor yang bertugas.

Berawal dari ngobrol santai dengan seorang pengajar kelas liturgi mengenai keseruan bahasa isyarat, akhirnya Daisy menghadirkan diri secara rutin dalam setiap pertemuan yang ada. Dari sini lah, perlahan Daisy mulai mengerti bagaimana kesulitan komunikasi yang dialami oleh ‘teman tuli’, sebutan resmi bagi mereka yang tidak bisa mendengar. Salah satunya adalah tidak bisa disambi. “Selama ini kita kadang bicara sambil melakukan hal lain, seperti pegang hape atau ngapain. Tapi sama mereka, itu nggak bisa kita lakukan. Kita harus saling memandang karena mereka membaca ekspresi wajah kita,” jelasnya. Dari cerita yang Daisy tangkap, teman tuli lebih suka menggunakan BIsIndo dibandingkan SIBI. SIBI juga merupakan bahasa isyarat, namun bagi teman tuli terasa kurang ekspresif dan lebih datar.

Eh, mau nanya dong. Legio ada presidium khusus teman tuli nggak ya?” sebuah pertanyaan spontan, namun mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan untuk ke depannya. Bagaimana pun juga, teman tuli juga membutuhkan bantuan dalam pertumbuhan dan perkembangan iman mereka, seperti teman dengar pada umumnya. Maka tidak lah berlebihan jika hal ini menjadi kewajiban kita bersama untuk dapat menjembatani mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Sejak Ikut Legio Maria…

Sumber berita: Gabriella Lintang


Namanya Gabriella Lintang Rimananda, ia biasa dipanggil Lintang. Dia seorang siswi kelas XI dan tentunya juga seorang legioner. Aktif di Legio Maria sudah ia lakukan sejak tahun 2016 lho, tepatnya saat ia masih kelas VII. “Awalnya aku diajakin teman aja, niatnya mau menambah pengalaman dan relasi”, ungkap Lintang menjelaskan bagaimana awalnya ia mengikuti Legio Maria.

Ternyata setelah menjadi legioner, Lintang didorong untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia diajarkan komitmen melalui hadir rapat mingguan dan berdoa Catena setiap hari, tanggung jawab untuk sedapat mungkin menjalankan tugas, berbicara di depan teman-teman melalui laporan tugas atau tugas kunjungan, berdoa rosario, baca Kitab Suci, berlatih merefleksikan diri saat menyampaikan kesan tugas, dan sebagainya. Yang tidak kalah penting, ia juga bertemu teman-teman yang positif, yang saling mendukung dan memotivasi satu sama lain.

“Dulunya aku pemalas, mudah marah, sering nyontek. Sejak ikut Legio Maria, aku jadi lebih sabar, mau berusaha, lebih rajin, gak nyontek lagi, gak asal bertindak. Tiap kali mau nakal, seperti ada yang ingatin untuk tidak demikian, lalu teringat sifat dan sikap Bunda Maria.”

Lintang juga berbagi beberapa pengalaman pribadinya yang membuat dia merasa semakin dekat dengan Tuhan dan Bunda Maria. Siang itu pada tahun 2017, sepulang sekolah ia akan mampir ke sebuah toko yang lokasinya berada di seberang jalan. Karena sudah siang, lelah dan lapar, ia menyeberang begitu saja tanpa melihat kiri kanan. Saat itu sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sedang melaju. Namun tiba-tiba ia merasa ‘seseorang’ menariknya mundur dan ia terhindar dari kecelakaan. Saat itu, ia menyadari tidak ada seorang pun berada di belakangnya. Jantung yang berdetak cepat membuat Lintang terdiam sejenak dan terlintas begitu saja wajah Bunda Maria di batinnya. “Terima kasih Tuhan atas penyertaan-Mu melalui Bunda Maria”, ucapnya dalam hati.

Selain kisah itu, ada juga kisah lain. Lintang yang saat itu duduk di kelas X dan sedang masa ujian, ketiduran dan belum belajar. Tiba-tiba ia bangun dari tidurnya dan merasa seperti ‘seseorang’ baru saja membangunkan dan mengingatkannya untuk belajar agar ujian besok dapat diselesaikan dengan baik. Saat ia duduk dan membuka tempat alat tulisnya, ia melihat ada sebuah rosario di dalamnya. Saat itu lagi-lagi wajah Bunda Maria muncul dalam batinnya.

Masih banyak sekali pengalaman atas penyertaan Tuhan dan Bunda Maria yang dialami, yang jika ingin diceritakan tentu tidak akan ada habisnya karena kasih-Nya pun tidak pernah berkesudahan. Singkat cerita, semakin dekat dengan Tuhan, akan membantu kita semakin menyadari penyertaan-Nya.

In Memoriam (23 Okt 2006 – 19 Juni 2014) Emmaku, Legionerku, Tugas Legioku

“Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yoh 9:3)

Telah lima tahun berlalu Emma meninggalkan kami sekeluarga dan meninggalkan keluarga besar Legio Maria. Hidup bersama Emma adalah hidup dengan pengudusan diri terus menerus, kesabaran, kerja keras, berjeri lelah, dan doa yang tak putus-putus adalah tugas pengudusan Legio Maria untuk kami sekeluarga dan Emma bagiku adalah seorang Legioner sejati.

Tujuh tahun (23 Oktober 2006 – 19 Juni 2014), kami diijinkan Allah untuk hidup bersama Emma, penderita Cerebral Palsy (kelumpuhan otak). Jika kami menengok ke belakang dan merenungi sejenak, ternyata kami tidak mengubah Emma, dia tetap tidak bisa berjalan, tidak bisa tegak, tidak bisa berbicara dengan baik. Tetapi dia yang mengubah orang tuanya jauh lebih baik. Emma menguduskan keluarganya, Emma menyucikan keluarganya dengan berbagai misteri kejadiannya yang ajaib.

Emma adalah orang yang sangat menghargai sentuhan kasih. Jadilah ia sangat mengenal mamanya dan selalu merasa aman dalam perlindungan mamanya.

Seorang pribadi yang cacat mungkin adalah seorang pribadi yang bukan siapa-siapa, mereka tidak punya suara untuk berterima kasih kepada orang yang melayani mereka, mereka tidak punya harapan. Pribadi yang cacat sering kali diperlakukan sebagai bukan siapa-siapa.

Apakah cacat merupakan hukuman dari Allah karena dosa yang tersembunyi? Pikiran semacam itu hanya mungkin timbul kalau kita berpikir bahwa Allah itu seperti kita: Anda menyakiti saya, saya akan membalas menyakiti anda. Mata ganti mata, gigi ganti gigi.

Kita sering mengira bahwa kalau orang berhasil, kaya, mempunyai pekerjaan yang baik, dan keluarga yang baik, itu semua adalah tanda bahwa mereka diberkati Tuhan. Sementara itu kegagalan, relasi yang retak, dan kesehatan yang buruk adalah sesuatu yang salah dan jelek dalam hidup mereka.

Apakah pandangan Yesus seperti itu? Tentu bukan. Itulah sebabnya Ia menjawab pertanyaan para murid yang bertanya “Siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya sehingga ia dilahirkan buta?” Yesus menjawab “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yoh 9:3).

Peranan Legio

Orang-orang cacat adalah seperti orang-orang lain. Setiap pribadi adalah istimewa dan penting. Apapun budaya dan agamanya, entah sehat entah cacat, Setiap pribadi diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Kita masing-masing dilahirkan agar karya-karya Allah dapat disempurnakan dalam diri kita.

Emma mendapatkan hadiah ulang tahun ke-7 tgl 23 Oktober 2013 yang sangat special, berupa Komuni Pertama langsung dari Bapa Uskup Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo.

Orang-orang cacat memang mempunyai banyak sekali kelemahan, kalau hanya dikaitkan dengan kemampuan akan pengetahuan dan kekuasaan.

Namun dalam kaitan dengan hati dan hal-hal yang berhubungan dengan kasih, banyak yang mempunyai hal yang baik. Mereka membutuhkan bantuan dan mendambakan kehadiran serta persahabatan. Dengan cara yang penuh misteri, mereka tampaknya terbuka terhadap Allah Sang Kasih.

Mengenai diri saya sendiri, saya harus mengatakan bahwa ketika Emma hadir dalam keluarga kami, saya berpikir bahwa saya harus melakukan segala kebaikan untuk memperbaiki tubuh dan otaknya yang tidak sempurna itu. Saya harus melakukan kebaikan untuk Emma.

Saya tidak berpikir sama sekali bagaimana Emma akan berbuat baik bagi saya dan kami sekeluarga yang kuat dan sehat. Adalah hal biasa jika kita mengatakan bahwa kita harus berbuat baik kepada orang-orang yang kurang beruntung seperti Emma. Tetapi sekarang saya mengatakan bahwa Emma yang kurang beruntung ini telah berbuat baik bagi kami yang beruntung, yang kuat, dan sehat ini. Emma yang sedang kita sembuhkan ternyata sebenarnya sedang balik berbuat baik secara tersembunyi untuk menyembuhkan kita, walau terkadang kita tidak menyadarinya. Dia sedang menguduskan diri kita. Dia ternyata juga Legioner!

Legio Maria dengan segala doa dan devosi terhadap Bunda Kristus, juga membawa kami untuk berpikir lebih jauh tentang misteri penyelenggaran ilahi. Legio Maria berperan dalam mendorong kita untuk mencintai dan menghidupkan hal yang paling berharga dalam diri kita: berbela rasa.

Legio Maria Keluargaku yang Kedua

Ada kalanya dalam segala kesulitan hidup, kita menjadi lemah dan terkadang kita merasa ditinggalkan seorang diri. Di saat-saat seperti itulah, Komunitas Legio Maria sangat berperan dalam menjaga kekuatan prajurit-prajuritnya supaya menang dari segala godaan jahat dan mencapai tujuan legio, yaitu: menguduskan anggotanya.

Sungguh Legio Maria adalah keluarga kami yang kedua. Keluarga Emma yang paling setia, yang mendoakan Emma sedari dia mempunyai masalah otak di dalam rahim ibunya, disarankan untuk aborsi, dalam sakit-sakitnya, dalam kejang-kejangnya, dan sampai napas terakhirnya, Emma selalu dalam perlindungan Bunga-Bunga Rohani dari Bunda Kristus.

Sentuhan Kasih

“Yesus meludah ke tanah dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya kepada orang buta tadi dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam” (Yoh 9: 6).

 Yesus adalah pribadi yang sangat berbela rasa. Ia menyembuhkan orang itu tidak hanya dengan kata-kata tetapi menyentuhnya juga. Suara dan Sentuhan sangat penting bagi anak berkebutuhan khusus seperti Emma. Sentuhan adalah indera yang terpenting dalam kelima indera kita.

Sentuhan adalah ungkapan kasih, karena sentuhan mengandaikan kehadiran, kedekatan, dan kelembutan. Kelembutan adalah lawan dari kekerasan,

Untuk hidup dan berkembang menjadi utuh, seorang bayi membutuhkan kelembutan. Seorang yang sakit membutuhkan kelembutan agar ia bisa percaya. Kelembutan tidak pernah menyakiti atau menghancurkan orang yang lemah, namun menyatakan kepada mereka nilai dan keindahan mereka.

Sentuhan menghadirkan ungakapan kasih, bahwa kita dekat dan kita lembut

Kelembutan mecakup sikap hormat. Kami pun harus menyentuh Emma dengan kasih dan hormat yang dalam.

Jika dalam tugas-tugas Legio, kita bertemu anak-anak yang berkebutuhan khusus (buta, tuli, lumpuh) senyumlah dan sentulah mereka, pegang tangan dan ciumlah mereka. Mereka akan merasakan kasih dari Allah melalui kita.

Karena dengan sentuhan kasih dan dengan kata-kata lembut, anak-anak yang berkebutuhan khusus senang bahwa mereka disayang dan dicintai. Bahwa mereka benar-benar bermartabat sebagai Anak Allah karena mereka dilahirkan segambar dengan Allah. Melihat Emma lebih dalam akan membuat kita melihat Kristus sendiri di hadapan kita.

Sentuhan Kasih juga diberikan para Panglima Legio Maria, Kardinal Romo Julius dan Almarhun Mgr. Pujosumarto dalam kunjungan mereka ke rumah Emma

Sentuhan kasih terakhir dari Bapa Uskup setelah misa arwah. Mgr. Suharyo sangat menyayangi Emma dan selalu hadir dalam suka dan duka Emma.

Dalam kunjungan ke rumah Emma, tanggal 12 November 2012, Romo Kardinal Julius Darmaatmaja mengatakan  “Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain daripada kemuliaan tubuh duniawi” (1 Kor 15:40). Tubuh duniawi Emma mungkin banyak kelemaban dan tidak sempurna, tetapi Tubuh sorgawinya lebih suci dan sempurna daripada kita karena Emma sungguh jujur dan berserah dalam hidupnya.

Ternyata Emma juga terus bekerja memuliakan Tuhan dengan membantu orang tuanya sebagai anggota Legio Maria di paroki Kristoforus. Tujuan Legio Maria adalah menguduskan anggota dan sesama dengan memakai Bunda Maria sebagai teladan hidup sehari-hari.

Setiap hari Emma mengajar kasih, memberi pengertian tentang hidup, mengajar bagaimana berdoa, mengajar apa itu berbela rasa, dan mengajar bagaimana hidup taat dan berserah diri sepenuhnya kepada Bapa, sama seperti Bunda Maria. Emma sungguh menguduskan dan menyembuhkan kami. Emma juga ternyata melakukan tugas legionya.

Dia menjadi contoh prajurit maria kecil yang sejati dan jujur, yang berserah dan tidak pernah takut menghadapi berbagai kesulitan dan masalah hidup. Emma ternyata menjadi tugas legioku setiap hari dan Emma adalah Prajurit Mariaku.

Emmaku, Putriku, Hiduplah selalu dalam damai di rumah Tuhan, berlarilah kencang di sana, bermainlah bersama Para Kudus di Sorga. Dan peluk erat Bunda Maria di sana.


Ecce Mater Tua

Jakarta, Hari PW Santa Perawan Maria Bunda Gereja, 10 Juni 2019,

Petrus Kanisius Erwin Rinaldi

 

 

Legio Maria Sebagai Awal Diri yang Baru

Halo teman-teman terkasih, nama saya Nelson Jordan siswa SMA St.Kristoforus 1 dan kini memasuki kelas 12. Semakin bertambah usia, semakin tinggi wawasan, semakin banyak pula tantangan dan tanggung jawab yang didapat. Pada kesempatan ini, saya akan membagikan kepada teman-teman beberapa pengalaman yang saya alami dan semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman sekalian. Secara khusus, pengalaman sebelum dan selama bergabung dalam Legio Maria Presidium Cermin Kesabaran (Junior).

Awalnya Saya yang Belum Kenal Legio

Saya baru pindah ke Jakarta ketika awal memasuki masa SMA dan saya memang sudah dididik secara Katolik sehingga saya juga memasuki sekolah Katolik. Saya memang Katolik, namun apakah itu hanya akan menjadi identitas di KTP? Atau hanya menjalankan rutinitas setiap Minggu ke Gereja sebagai suatu kewajiban? Tidak jauh berbeda dengan robot yang diprogram untuk bekerja tanpa tahu apa yang dikerjakannya.

Saya sebenarnya adalah pribadi yang tertutup. Akan tetapi, karena saya memerlukan warna dalam iman saya, maka saya pun mulai mencari kegiatan yang ada di Gereja dan dapat sesuai dengan diri saya. Memang tidak mudah, karena tidak semua pilihan dapat cocok dengan apa yang diinginkan.

Legio? Serius Lo Mau Ikut Gituan?

Saya mulai bertanya kepada teman dan kerabat saya dan akhirnya saya mendapat tawaran untuk bergabung dalam Legio Maria. Saya pun mempertimbangkan dan menanyakan pada teman-temanku pendapat mereka tentang Legio Maria. Beginilah komentar mereka:

Serius lu ikut Legio ? emang ga ada yg lain ?”                                        Bosen cuman doa doang di sono”                                                                     “Nggak asik ah Legio. Masak ikut gituan”                                                             Nggak akan bertahan lama lu ikut itu”                                                               “Legio Maria? Aaan tuh…Nggak pernah denger”

Demikian pendapat mereka tentang Legio Maria. Pendapat mereka mendorong saya untuk semakin tertarik bergabung Legio Maria dan saya pun memutuskan untuk bergabung.

Legio adalah Soal Berjuang Mengalahkan Diri Sendiri

Beberapa bulan mengikuti Legio Maria, saya menyadari bahwa bukan menyenangkan atau membosankannya yang menjadi inti dari bagian ini. Akan tetapi seberapa banyak kita menantang dan menang melawan diri sendiri. Contohnya saja untuk menjalankan misa kudus setiap hari Senin pukul 05.30, saya harus bangun jam 4.00. Mungkin kebanyakan dari kita akan berkata, “Aku akan bangun 5 menit lagi”  hingga malah akhirnya bablas kesiangan. Ditambah dengan usiaku yang belum 17 tahun sehingga belum diizinkan membawa motor ke sekolah dan berangkat menggunakan bus kopaja dan berjalan kaki saat langit masih gelap. Itulah tantangan. Namun ketika saya (dan kita) berhasil melewatinya, timbul rasa bangga atas kemenangan mengalahkan kelemahan diri.

Berjuang Demi Siapa?

Lewat Legio jugalah saya dapat lebih dapat melayani umat dan mengambil bagian dalam pelayanan Gereja. Mendoakan orang lain walaupun saya tidak kenal dengan mereka, menjadi bentuk apresiasi dan dukungan terhadap mereka. Mengunjungi orang lain, berkenalan dengan teman baru, itulah hal kecil yang dapat membuat orang lain senang. (Meskipun tidak semua tugas dapat saya jalankan hehehe :v)

Beberapa dari kita yang membaca ini mungkin terlintas pendapat seperti “hangat-hangat kotoran ayam”, karena suatu saat mungkin ada waktunya bosan, jenuh, ataupun malas, dan itu adalah hal yang wajar dan kita semua bisa alami. Namun itulah tantangan, dan apa kita dapat mengalahkan diri kita?

“Berjuang jangan hanya untuk diri sendiri, namun lawanlah diri sendiri untuk berjuang demi melayani Tuhan dan orang lain”

Sekian pengalaman yang dapat saya bagikan kepada teman-teman, terima kasih bagi kalian yang membaca. Damai Sejahtera bagi kita semua, Tuhan Yesus memberkati. ^_^