Kisah Dalam Kasih, Kasih Dalam Kisah

Kisah perjalanan hidup Fr. Yosep Pranadi, OSC.


Saudara/i yang terkasih, perkenalkan nama saya Yosep Pranadi. Kenapa Yosep? Bukan Yosef? Karena saya orang Sunda, jadi pakai saja ‘p’, bukan ‘f’. Saya adalah orang ‘USA’, Urang Sunda Aseli. Lahir di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Saya lahir sebagai anak pertama laki-laki dari tiga bersaudara. Hobby saya adalah; naik sepeda, jalan-jalan, denger musik, koor, membaca buku, utak-atik komputer, dan design. Sungguh menyenangkan jika ada waktu luang, bisa beraktivitas dan berekspresi untuk menghibur diri. Dari TK sampai SMP saya bersekolah di daerah kelahiran. Masa-masa itu saya gunakan untuk belajar, bermain di ladang, sungai dan sawah, ikut misdinar di Paroki, Legio Maria, kegiatan lingkungan, ziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat setiap malam minggu bersama teman-teman, dan kegiatan lainnya. Kalau ada waktu, saya ingin sekali mengenang masa-masa itu bersama teman-teman lama. Tapi sungguh sulit karena sudah merantau kemana-mana.

Sebelum lulus SMP, sebetulnya saya mengalami keraguan. Ada beberapa rencana yang saya pikirkan. Ada rencana masuk SMA Negeri atau masuk Sekolah Kejuruan Teknik Mesin/Komputer. Ibu sebetulnya sudah menitipkan saya pada kenalannya di sekolah kejuruan. Namun apa yang sudah direncanakan, ternyata tidak terlaksana. Apa yang direncanakan manusia, tidak selalu sejalan dengan rencana Tuhan. Dalam keraguan, pada suatu siang, setelah pulang sekolah saya mampir di Gereja. Ketika memasuki halaman Gereja entah kenapa saya membayangkan ‘Seminari’. Tiba-tiba saya tertarik masuk seminari, padahal pengetahuan saya akan seminari tidak ada sama sekali. Saya mengutarakan keinginan saya kepada ibu: “Mah, saya ingin masuk seminari!”. Bapak agak cemberut mendengar keinginan saya, karena saya anak pertama laki-laki satu-satunya di dalam keluarga pada waktu itu. “Memang kamu tahu apa itu seminari?” kata Ibu. “Saya tidak tahu”. Kami ngobrol satu sama lain. Akhirnya ibu berkata: “Ya sudah, jika itu keinginan kamu, ibu mengijinkan, yang penting kamu menjalani pilihanmu dengan bahagia. Jangan lupa berdoa. Berdoalah terus-menerus. Anggaplah doa itu nafas yang menghidupkan. Mohon kekuatan dari Tuhan, ibu hanya bisa mendoakan saja!”. Ibu mengijinkan, namun Bapak diam dan tidak banyak berkomentar. Berat bagi bapak untuk melepaskan saya pada waktu itu. Barangkali dia membayangkan dan mengharapkan saya untuk meneruskan keluarga, menikah, dan memiliki cucu. Tetapi rencana Tuhan sungguh berbeda. Tuhan menuntun saya memilih jalan yang tidak dipilih oleh kebanyakan orang. Jalan yang penuh tantangan dan perjuangan sekaligus penuh harapan.

Setelah lulus SMP, saya memutuskan untuk masuk Seminari Menengah Cadas Hikmat di Bandung. Inilah pengalaman pertama saya meninggalkan orangtua, dan tinggal di asrama seminari. Minggu-minggu pertama rasanya sungguh berat. Saya merasa tidak betah, pengen pulang, rindu rumah, rindu orangtua dan adik-adik. Tidur pun tidak enak rasanya. Nyuci baju sendiri, nyetrika sendiri, ke sekolah jalan kaki, setiap hari bangun pagi dan ikut misa pagi, ikut berbagai macam kegiatan baik di sekolah maupun di seminari, dll. Itulah pengalaman pertama yang membentuk pribadi saya menjadi orang yang mandiri, disiplin, bertanggung-jawab, dan tidak mudah menyerah. Lama-lama menjadi ‘habit’. Lama-lama saya bisa menyesuaikan diri dengan tempat baru, teman baru, sekolah baru, suasana baru, dan pola hidup seminari yang cukup ‘ketat’. Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan selama 3 tahun di Seminari Menengah.

Setelah 3 tahun menjalani masa pendidikan di SMA Santa Maria 1 dan Seminari Menengah Cadas Hikmat, saya memutuskan untuk masuk Biara Ordo Salib Suci (OSC). Usia yang sangat muda (18 tahun) ketika masuk Biara. Kadang-kadang ada perasaan minder, emosi yang tidak stabil, merasa kurang berpengalaman karena masih muda. Kadang-kadang ingin mencoba juga apa yang dirasakan oleh teman-teman di luar. Bagaimana rasanya hidup di luar. Setelah direnungkan, saya kira baik di luar atau pun di dalam Biara toh sama-sama berjuang untuk bertahan di dalam pilihannya masing-masing. Setiap pilihan memang selalu ada konsekuensi yang mesti dijalani. Apa yang sudah saya putuskan, mesti saya perjuangkan terus. Pendidikan awal di Ordo Salib Suci saya tempuh selama 2 tahun, yaitu masa Novisiat. Itulah masa-masa penggodokan awal.

Dua tahun kemudian, saya melamar kembali dan diterima untuk mengikrarkan kaul perdana di hadapan provinsial (pimpinan Ordo Provinsi Indonesia) pada 28 Agustus 2013. Setelah selesai menjalani masa Novisiat, saya melanjutkan pendidikan di Skolastikat (setara dengan Seminari Tinggi) hingga lulus filsafat. Setelah lulus studi filsafat, saya ditugaskan Provinsial untuk menjalani Tahun Orientasi Pastoral sebagai pendamping ret-ret di Pusat Spiritualitas Pratista, Cisarua-Cimahi, Bandung Barat selama satu tahun. Di Pratista saya ‘belajar’ mendampingi ret-ret untuk anak-anak SD, SMP, SMA, Universitas, dan umat kategorial. Sungguh menyenangkan mengenal dunia pastoral yang amat luas. Saya hadir untuk memberi kekuatan dan peneguhan kepada peserta ret-ret khususnya mereka yang menghadapi situasi sulit di dalam hidup mereka, entah relasi dengan teman, pasangan, atau relasi di dalam keluarga. Mendengar pengalaman mereka sungguh menyentuh. Saya merasa bukan orang yang sempurna, tetapi Tuhan menggunakan saya untuk memberikan semangat dan meneguhkan harapan mereka. Ternyata di tengah dunia yang penuh tantangan ini, Tuhan masih tetap berkarya.

Saat ini saya sedang melanjutkan masa formasi di Ordo Salib Suci sebagai mahasiswa semester 2 di pasca-sarjana Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Ini adalah tahun ke-7 bagi saya di Ordo Salib Suci. Suatu proses pendidikan calon religius yang perlu ditempuh dengan ketekunan dan kesabaran. Apabila kita melihat kehidupan orang-orang di luar biara yang mengalami jatuh bangun, suka duka, dan berbagai dinamika kehidupan. Sebetulnya di Biara juga orang-orang mengalaminya. Jadi, sama-sama punya tantangan dan sama-sama berjuang untuk bertahan. Ini adalah suatu perjalanan yang tidak pernah berakhir. Suatu proses menuju kesempurnaan.

Sekembalinya menyelesaikan masa orientasi pastoral di Rumah Ret-Ret, saya kembali melanjutkan studi S2. Biasanya para frater S2 diberi tugas mengajar agama di SMA Katolik. Tetapi, tidak pada saya. Melenceng dari dugaan, saya diberi tanggung jawab untuk menghidupkan kembali website Ordo Salib Suci yang sudah bertahun-tahun mati dan tidak diupdate. Tugas baru yang menantang. Saya mesti belajar keras memahami sistem dan management konten website. Awalnya saya merasa keberatan karena mengelola website sendirian. Saya mencoba mengubah template menjadi lebih menarik, mengisi konten menjadi lebih informatif serta inspiratif. Awalnya kebingungan juga. Saya banyak bertanya dan membaca berbagai sumber hingga akhirnya tumbuh perlahan-lahan. Ternyata usaha dan kerja keras di dalam proses perjalanannya membuahkan hasil. Tidak sia-sia banyak bertanya dan membaca. Saya menyadari bahwa jaman sekarang pertumbuhan pengguna internet dan website begitu pesat. Meskipun bukan profesional, saya mencoba mempelajarinya perlahan-lahan. Belajar sesuatu yang baru itu menarik, termasuk belajar jaringan dan website. Setidaknya para Biarawan dan Rohaniwan juga mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan dunia (tidak kolot-kolot amat). Dalam permenungan, saya sadar bahwa belajar itu tidak akan pernah selesai. Karena kita manusia yang tidak sempurna, oleh karenanya perlu belajar, belajar, dan belajar. Dunia selalu berubah-ubah, dan manusia perlu belajar untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan segala perubahan yang sedang dihadapi dan akan dihadapi nanti. Di mana bumi di pijak, di sanalah langit di junjung. Dimana kita berada kita mesti belajar dan menyesuaikan diri terus menerus.

Pengalaman bersama Legio Maria

Apabila ditanya; apakah pernah menjadi anggota Legio Maria? Tentu saja pernah. Saya ikut legio Maria sejak SD kelas 5 SD (2003) sampai kelas 3 SMP (2008). Waktu itu saya bergabung dengan Legio Maria Presidium Benteng Gading di Paroki Kristus Raja, Cigugur, Kuningan-Jawa Barat. Selama beberapa tahun saya ikut legio bersama teman teman di sekolah. Biasanya seminggu sekali kami berkumpul bersama teman-teman. Sebelum legio dimulai, kami bermain bola terlebih dahulu di halaman gedung pertemuan Gereja. Jika ada pastor lewat permainan bola dihentikan sementara (takut dimarahin). Pastor pergi, permainan dilanjutkan kembali. Sungguh menyenangkan bisa bermain bola bersama. Ketika katekis atau suster pendamping Legio datang, barulah kami berkumpul untuk mengadakan rapat Legio Maria (doa Rosario bersama, laporan tugas, pembagian tugas, doa tesera, dll.). Presidium kami didampingi oleh seorang katekis awam dan suster CB bergantian. Pernah sekali waktu saya dipercaya menjadi ketua legio oleh suster dan teman-teman. Saya senang diberi tanggung-jawab dan kepercayaan. Tahun 2008, suster pendamping kami, Sr. Lucina CB pindah tugas. Setelah kepergian suster, legio kami terpaksa mandiri. Karena tidak ada pendamping lama-lama anggota legio kami semakin berkurang. Jumlah yang hadir semakin lama semakin sedikit. Semakin menipisnya jumlah anggota, terpaksa kami membekukan sementara Legio Maria.

Legio Maria bagi saya adalah momen untuk berkumpul bersama teman-teman, berdoa bersama, belajar melayani dalam tugas-tugas keseharian, mengunjungi orang sakit, dll. Di situlah kami dilatih berdisiplin diri dalam hidup rohani maupun dalam hidup sehari-hari. Pada waktu itu Legio Maria tidak terpisahkan dari Putra Altar. Pada umumnya anggota Legio Maria sekaligus anggota Misdinar paroki yang seluruhnya adalah laki-laki. Biasanya pertemuan Legio berlangsung di sore hari di gedung pertemuan samping gereja. Setelah pertemuan selesai, bisanya kami renang bersama di kolam ikan Dewa. Renang gratis tanpa dipungut biaya bersama ikan-ikan dewa di dekat kompleks Gereja Paroki. Sungguh menyenangkan kala itu karena bisa berkumpul, bermain, berdoa dan saling mendukung satu-sama lain sebagai satu saudara. Itulah yang paling berkesan bagi saya.

Setelah lulus SMP, saya melanjutkan sekolah ke Seminari Menengah di Bandung. Lantas bertahun-tahun saya tidak ikut Legio Maria dalam suatu presidium secara resmi. Meskipun demikian, semangat Legio Maria tetap saya bawa di dalam hati. Semangat heroik, disiplin, persaudaraan, keramahan, perjuangan, keluwesan hati. Apabila ditanya apakah pernah menjadi pendamping Presidium, tentu saja belum pernah. Saya banyak ditugaskan dalam pastoral kategorial seperti ret-ret, mengajar, ibadat di stasi terpencil, website, dll. Akan berbeda cerita seandainya saya ditugaskan di Paroki. Ada kemungkinan mendampingi para Legioner. Mungin ini adalah jalan Tuhan yang mesti saya lalui. Tapi saya percaya setiap perjalanan sungguh dinamis, membawa saya pada kematangan dan kehidupan yang penuh makna.

Apabila mengamati situasi di lapangan, dari segi jumlah memang para legioner tidak begitu banyak. Jangan bersedih hati seandainya sedikit. Bersikaplah optimistis dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Sebetulnya ada hal yang unik yang dapat dipegang teguh oleh pasukan legioner . Ada semangat persaudaraan, sikap heroik, kunjungan orang sakit, ketekunan dalam doa, dan penghormatan kepada figur Maria. Sosok Maria dan keteladanan hidupnya adalah hal yang paling unik dari Legio Maria. Spirit Maria perlu menjadi kekuatan yang menggerakan para Legioner dari dalam hati hingga memancar dan berbuah dalam kehidupan para legioner. Maria adalah sosok yang paling dekat dengan Yesus. Dia adalah ibu Yesus sekaligus Ibu bagi umat manusia. Spiritualitas kasih seorang ibu menjadi sisi lain yang mesti dihayati oleh para legioner. Sosok ibu itu merawat, membesarkan, menjaga, memelihara, sabar menanggung segala sesuatu, tulus, memberi tanpa mengharapkan keuntungan, dan penuh kasih sayang. Inspirasi inilah yang dapat diteladani oleh para Legioner dimana pun dan kapan pun.

Bagi saya sendiri sosok Maria begitu menginspirasi. Sejak kecil saya sudah terbiasa devosi kepada sosok Maria melalui doa rosario, Legio Maria, dan ziarah. Tindakan devosional inilah yang menumbuhkan iman saya kepada Bunda Maria. Maria adalah orang yang dipilih Allah menjadi sarana keselamatan. Ia dikasihi Allah karena kesetiaan dan kemurnian hatinya. Ia adalah pelindung sekaligus penjaga umat beriman. Saya percaya bahwa doa melalui Bunda Maria sungguh luar biasa. Dia akan menolong dan melindungi kita dari segala bahaya. Tak henti-hentinya saya memohon perlindungan dan pertolongan Bunda Maria ketika sedang menghadapi kesulitan dan tantangan. Bagi para legioner dimanapun, percayalah dan teladanilah sosok Maria. Maria adalah inspirasi sentral bagi para legioner. Kehidupan dan keteladanan Maria ini mesti menjadi semangat yang menggerakan hati, budi, dan energi para legioner untuk senantiasa berbuat baik dan berbagi kepada banyak orang. Bunda Theresa pernah mengatakan

“Tuhan tidak memanggiku untuk mengejar kesuksesan di dalam hidup. Ia memanggilku untuk setia kepada-Nya!”.

Pesan untuk para legioner terkasih, setialah di dalam setiap pilihan hidup yang kalian pilih dan bertahalah terus sampai akhir. Percayalah, Tuhan melindungi orang-orang yang percaya kepada-Nya.

-Ego semper purificanda-

Salam dan Doa
Fr. Yosep Pranadi, OSC

Fr. Pranadi (kedua dari kiri) bersama para Frater Ordo Salib Suci

Catatan admin : Fr. Yosep Pranadi, OSC adalah administrator website www.osc.or.id yang banyak membantu dan menginspirasi website kita yang tercinta ini. Pada saat tulisan ini dimuat (23 April 2018) ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-25. Mari kita doakan bersama-sama. (^.^)

Rutinitas yang Membosankan

Oleh Victoria Suvi Tendiana Lili


Ujian terberat bagi saya selama menjadi legioner adalah kebosanan terhadap ritual rapat dan doa. Pada saat itu selain menjadi legioner, saya juga aktif mengikuti beberapa pelayanan lainnya seperti PD Kharismatik, Sel, Choice, Koor, pembina BIA dan BIR, Lektor, Pemazmur. Saya merasa kegiatan lain jaaauuhhh lebih menarik dan lebih asyik karena tidak banyak melakukan doa ataupun rutinitas seperti Legio Maria. Setelah beberapa lama saya merasa bosan karena tidak merasakan manfaat apa-apa dari ritual doa dan rapat. Saya pikir ini karena saya tidak memahami tujuan dan maksudnya, akhirnya rapat dan doa tidak lagi menjadi prioritas saya. Apabila ada alasan untuk terlambat rapat, saya senaaaaang skali. Lumayan lah….rosarionya tinggal separuh jalan. Pada saat itu saya berpikir yang penting pelayanannya dan tugasnya saya jalankan dengan baik. Apabila ada kegiatan atauu aktivitas lain yang lebih menarik maka saya bolos rapat dengan berbagai alasan. Bagi saya pribadi, alasan-alasan tersebut menjadi pembenaran untuk menghindari rapat dan doa yang menurut saya sangat membosankan.

Hal ini berlangsung cukup lama, sekitar dua hingga tiga bulan. Hingga suatu saat, pada saat rapat, Frater pembimbing rohani yang sekarang sudah menjadi Pastor, menceritakan kesaksiannya mengenai kuasa doa. Beliau sharing bagaimana beliau bergumul tentang suatu hal dan doa menjawab kebimbangannya. Bagaimana kejenuhan beliau atas rutinitas di biara dipulihkan melalui kuasa doa. Bagaimana beliau merasa semakin dekat dan semakin peka terhadap kehendak Allah. Intinya beliau menjelaskan bahwa doa rosario dan rutinitas lainnya adalah nyawa dari segala bentuk pelayanan. Apabila kita kehilangan nyawa maka segala jenis pelayanan apapun bentuknya menjadi sia-sia. Awalnya saya merasa cerita ini sangat klise, terlalu alkitabiah dan terlalu rohaniah sehingga saya berpikir, frater kurang realistis. Saya penasaran ingin mengetahui lebih detail lagi apa yang benar-benar frater rasakan sebagai manusia biasa, bukan sebagai calon imam. Maka selesai rapat saya menghampiri frater dan meminta waktu untuk berbincang-bincang secara pribadi dengan beliau yang ditanggapi dengan penuh sukacita. Reaksi frater ini membuat saya sedikit heran karena sepertinya sukacita yang frater tunjukkan seperti orang yang sedang menemukan barangnya yang hilang.

Hal pertama yang saya tanyakan adalah : “Frater, mengapa frater memilih topik ini untuk dibahas dalam rapat? Apakah ada alasan tertentu yang membuat frater memilih topik ini?” Kemudian Frater menjawab sambil tetap tersenyum : “Tadi pada saat doa pagi dan bermeditasi, saya mendoakan seluruh anggota Legio Maria bimbingan saya. Kemudian pada saat hening, saya merasa seperti ada yang mengingatkan bahwa ada Legioner yang perlu mendengar kesaksian saya mengenai kuasa doa. Dia sedang merasa jenuh, bosan dan tidak mengerti, belum dapat memahami apa manfaat dari doa dan rutinitas rapat Legio, sehingga menjadi semacam beban bagi Legioner itu.”

Saya terdiam untuk beberapa saat. Jawabannya sangat mengejutkan bagi saya yang saat itu sangat-sangaaaat jarang berdoa. Kemudian saya bercerita bahwa setiap kali berdoa rosario dan mendengarkan firman, saya merasa mengantuk, seperti waktu SD mendengarkan penjelasan guru di kelas. Walaupun tahu bahwa apa yang dijelaskan adalah hal yang baik dan benar juga wajib kita ketahui, tapi tetap saja semua itu terasa begituuuuu membosankan dan rasanya hanya buang-buang waktu saja. Kemudian frater bertanya, apakah pada saat kuliah saya masih merasakan apa yang saya rasakan pada waktu SD? Hhhmmm…..kemudian saya menjawab : “Kadang-kadang, sih, tapi sudah jarang karena mata kuliah di kampus menurut saya jauh lebih menarik daripada mata pelajaran waktu SD.”

Frater menjawab, pernahkah terpikir olehmu bahwa itu bukan karena mata kuliahnya lebih menarik daripada mata pelajaran di SD, tapi karena pola berpikirmu yang sudah jauh lebih dewasa dalam mengevaluasi materi pembelajaran? Demikian pula dalam hal iman…. Semakin kita dewasa dalam iman, maka semakin dalam pemikiran kita pada saat kita membaca firman ataupun berdoa, sehingga pada akhirnya kita akan bertumbuh dan semakin bijak dalam mengevaluasi Firman serta pentingnya berdoa. Kedua hal itulah yang dapat mendekatkan diri kita pada Allah, membuat kita semakin mengerti dan memahami apa sebenarnya yang jadi kehendak Bapa, bukan kehendak kita. Dengan itu juga kita dapat menyaring dan memilah, tidak memakai kehendak Allah sebagai alibi maupun pembenaran atas hal-hal yang salah dan menyesatkan. Berdoa dan mendengarkan Firman adalah makanan rohani yang paling mendasar.

Bagaimana kita dapat memiliki energi yang cukup untuk berkarya apabila kita jarang berdoa dan mendengarkan Firman? Bagaimana saya bisa membedakan kehendak saya sendiri dari kehendakNYA tanpa berbincang dan bertanya pada Allah? Bagaimana kita dapat memahami dan menyadari untuk apa kita ada disini, melakukan pelayanan? Saya pun langsung terdiam karena bagi saya kata-kata frater tadi sangat dalam dan mengena.

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi PR perenungan saya sampai saat ini.

Apakah saya sudah dewasa dalam iman?

Apakah saya sudah cukup dekat dengan Allah untuk memahami apa yang jadi kehendakNYA?

Apakah alasan dan tujuan pelayanan saya sudah benar? Bukan semata-mata karena keasyikan dan kepuasan saya saja? Seringkali saya menetapkan tujuan awal hanya untuk memuaskan diri sendiri. Saya mencuri kemuliaan Allah! Anda?

Menjadi anggota koor bisa dikatakan menjadi konsistensi pelayanan yang bisa saya berikan hingga saat ini. Selain karena memang suka bernyanyi, saya juga merasa memuji Tuhan dengan nyanyian merupakan wujud ucapan syukur yang paling pribadi yang dapat saya persembahkan demi kemuliaan Allah. Mulai dari koor Legio, koor Laudate, koor anak-anak, koor lingkungan dan koor wilayah, semuaaa saya ikuti. Beragam pengalaman berbeda juga sudah saya alami. Pada saat itu sebagai anggota koor Laudate yang sebagian besar anggotanya sangat konsisten dan berlatih secara profesional, sampai bisa ke Roma untuk mengikuti Choir Competition, saya mengalami jetlag dengan kondisi yang jaaauuuuuh berbeda di koor Legio Maria.

Pada saat itu Koor Legio meminta saya untuk membantu melatih dan menjadi dirijen mereka. Melatih Koor memiliki beban yang jauh berbeda dari hanya sekedar menjadi anggota. Apalagi anggota koor Legio pada saat itu sangat-sangat tidak konsisten dalam berlatih, sering tidak hadir pada saat latihan, mengeluh apabila harus latihan agak lama dan sibuk membicarakan hal-hal lain selama berlatih. Sedangkan apabila pada saat tampil jelek, maka saya merasa saya harus menanggung malu karena berdiri di depan sebagai dirijen dan dilihat oleh umat. Walaupun tugas itu saya terima dan saya mencoba menjalankannya dengan baik, tapi tetap saja saya banyak berkeluh kesah pada Wawan, sang ketua koor legio. Akhirnya saya menjalani semua itu dengan berat hati, karena merasa hanya saya dan ketua yang harus memikul beban dan tanggung jawab ini. Sementara hanya sedikit dari anggota Koor Legio yang sungguh-sungguh peduli dan sungguh-sungguh berlatih. Kebanyakan hanya menjalankan latihan sebagai sebuah rutinitas mengisi waktu dan menjalin relasi dengan teman-teman sesama Legioner.

Sekali waktu, selesai bertugas dalam misa, Pastor Paroki yang terkenal cukup ahli dalam bernyanyi dan mengaransement lagu, menghampiri tempat koor lalu berkata : “Terima kasih yaaa…..sudah lebih baik dari sebelumnya, latihan lagi supaya lebih baik lagi yaaa…. “ Kira-kira begitulah yang diucapkan Pastor Boogartz. Saat itu saya merasa itu bukanlah suatu pujian, tapi merupakan dorongan semangat untuk bisa lebih baik lagi. Tapi yang saya tangkap menjadi berbeda, merasa gagal, malu, sedih….saya merasa sudah berusaha sebaik mungkin tapi tetap saja hasilnya kurang memuaskan dan tidak sebaik yang saya harapkan. Saat itu saya sangat arogan dan menilai bahwa ini semua terjadi karena ketidakseriusan anggota-anggota dalam berlatih. Saya merasa kecewa dan putus asa….merasa apa yang sudah saya lakukan, waktu, tenaga,usaha….semuanya sia-sia! Rupanya perubahan mimik muka saya ditangkap dengan baik oleh Ketua. Pada saat yang lain sudah pulang, seperti biasa kita berdua bersama-sama membereskan partitur. Tiba-tiba Wawan menepuk bahu saya sambil berkata : “Semangat yaaa…. kita sudah lebih baik dari sebelumnya, pastor pun mengakui hal itu. Tidak ada yang sia-sia, OK?” Lalu saya bertanya, apa yang membuat dia selalu bersemangat untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan koor; selalu datang latihan walaupun tidak terlalu bisa bernyanyi, selalu menyemangati dan mengajak teman-teman sebanyak mungkin untuk bergabung, sementara anggota yang lain banyak yang tidak peduli, banyak juga yang tidak hadir saat tugas tanpa memberi kabar, sehingga tidak jarang kita bertugas hanya tiga suara, tanpa tenor, atau tanpa bass, atau tanpa alto. Saya merasa hanya berjuang berdua saja, tidak mendapat support dari anggota yang lain, sedih, capek,….

Foto diambil dari dailymightsoul.files.wordpress.com

Lalu Ketua Koor bilang begini : “Saya hanya merasa Gereja membutuhkan kita, sejelek apapun koor kita, jauh lebih baik daripada tidak ada koor yang mengisi di dalam misa. Semua yang kita lakukan bukan untuk mendapatkan penghargaan ataupun pujian, tapi kita bernyanyi untuk kemuliaan Allah, makanya saya selalu berusaha memberikan yang terbaik. Waktu yang saya sisihkan bukanlah waktu luang, tapi waktu yang diluangkan untuk Tuhan. Tenaga, pikiran yang diberikan juga bukanlah sisa dari kegiatan lain, tapi menjadi yang utama, supaya bisa memberikan yang terbaik menurut Allah, bukan menurut penilaian orang-orang. Jangan berharap orang lain menyemangati kita, tapi kita harus jadi penyemangat bagi orang lain. Always leading by doing….karena dalam prosesnya, saya yakin dengan itu akan semakin banyak teman-teman yang terpanggil untuk melayani dan berkarya di ladang Tuhan. Kalau kita tidak bisa membangkitkan jiwa melayani, setidaknya janganlah menjatuhkan semangat orang lain. Jugan pernah menuntut ataupun menunggu orang lain yang memulai, selalu mulailah dari diri kita sendiri.”

Kata-kata Ketua Koor Legio begitu mengena dan menohok saya pada saat itu hingga masih saya ingat sampai sekarang.

Apakah saya menjalankan rutinitas latihan hanya semata-mata sebagai rutinitas saja??

Lalu apa bedanya saya dengan anggota koor yang datang hanya untuk bersosialisasi dan mencari teman??

Pada saat saya merasa bosan….jenuh…dengan segala rutinitas latihan, apakah saya ingat tujuan awal saya mengikuti kegiatan ini??

Apakah rutinitas menjatuhkan atau justru menguatkan saya?? Apa yang saya cari ?? Apa yang anda cari??


Victoria Suvi Tendiana Lili adalah salah seorang trainer pada LDK Senatus Bejana Rohani 2018. Beliau pernah menjadi legioner di Bandung dan kini aktif sebagai pendidik dan praktisi pengembangan diri.

Pelayanan Palsu

Oleh Victoria Suvi Tendiana Lili


Banyak orang melakukan sesuatu tanpa dasar maupun tujuan yang jelas. Bahkan ada yang tidak memiliki tujuan sama sekali. Atau memiliki tujuan, tapi salah! Bagaimana kita bisa tahu kalau tujuan kita salah? Ketika kita bangga dengan apa yang kita lakukan tapi kita merasa bahwa semua itu karena kehebatan kita. Ohhhh….I’m so powerful !! I’m sooo smart !! Coba kalau tidak ada AKU, mana bisa sukses?? Pada saat kita merasa hebat, kita tidak akan mau belajar, kita akan sulit untuk menerima pendapat, kritik maupun masukan!! Di saat itulah kita akan menutup diri kita dari berbagai hal positif yang dapat membuat kita bertumbuh dan jadi lebih baik. Itulah yang saya alami selama menjadi laskar Kristus. Saya menjadi arogan! Saya menjadi bodoh! Saya menjadi sombong! Semua itu karena saya merasa saya tahu dan bisa melakukan segalanya!

Dulu saya berpikir, hobi saya dalam berorganisasi membuat saya menjadi pribadi yang baik, saya menjadi lebih cerdas daripada teman-teman lainnya, saya menjadi lebih populer karena mengenal dan dikenal banyak orang. Saya pikir ini adalah tujuan yang baik. Sampai pada suatu saat saya mengalami kelelahan mental dan fisik. Terutama mental! Pelayanan hanya sekedar menjalankan tugas, tanpa memiliki makna apapun bagi perkembangan pribadi saya. Hal-hal yang saya nikmati hanya yang bersifat kebahagiaan semu, seperti pujian dan ucapan terima kasih dari orang-orang yang saya bantu, sampai saya lupa, mengapa saya ada disini?? Untuk APA?? Untuk SIAPA??

Pengalaman bertugas pertama kali adalah yang paling berkesan bagi saya. Pada saat itu saya didampingi legioner senior untuk pergi mengunjungi tempat pemulung di belakang Jalan Sunda, Bandung. Pemulung yang kita kunjungi pada waktu itu berusia sekitar 55 thn, muslim dan berperan sebagai bandar sampah-sampah plastik di wilayah itu. Waktu hampir tiba di lokasi, tiba-tiba terciumlah bau tajam yang sangat menyengat. Saya rasanya ingin muntah. Bahkan bau itu masih tercium sewaktu saya mencoba menutup hidungku dengan tangan. Lalu saya bertanya pada senior saya dengan perasaan kesal karena berpikir kita kurang persiapan. Masa legioner senior yang sudah sangat berpengalaman tidak berpikir untuk membawa masker?? Aaahh…. ternyata Legio Maria itu bukan oranganisasi profesional yang keren seperti yang kubayangkan. Kekecewaan pun muncul.

Karena lokasi parkir motor tidak jauh dari bedeng tempat pemulung yang kita kunjungi, senior saya itu menjelaskan sekilas dengan berbisik bahwa kita harus menghormati perasaan orang-orang yang bekerja disitu dan dia memberitahu saya untuk bernafas melalui mulut. Alamaaaakk…. Pertimbangan macam apa pula ini?? Walaupun hati kecil saya membenarkan penjelasan singkat itu, tapi saya terlalu sombong untuk menerima bahwa itu adalah cara yang benar. Menurut saya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghormati orang lain.

Ilustrasi. (Foto diambil dari thepeninsulaqatar.com)

Setelah parkir kita lalu menyapa dan bersalaman dengan orang-orang yang sedang bekerja tanpa sarung tangan. Bayangkan!! Mereka yang bersalaman dengan saya saat itu sedang memilah sampah!  MEMILAH SAMPAH!! Reflek saya mencari keran ataupun sumber air untuk mencuci tangan! Dan kalian tahu apa yang saya lihat saat itu?? Saya melihat beberapa orang yang sedang mencuci gelas di sebuah ember kecil yang berisi air berwarna kekuning-kuningan. Saya tidak tahu dari mana mereka mendapatkan airnya itu!

Di tengah pikiran yang masih berkecamuk, senior saya menghampiri seseorang  lalu duduk di kursi kotor yang sudah rusak di depan sebuah bedeng. Karena pintu bedeng itu terbuka, saya dapat melihat  satu buah kasur kapuk yang sudah sangat tipis dan satu buah meja tua reyot yang kecil.  Salah satu dari kaki meja itu tampak miring dan tidak lurus seperti ketiga kaki lainnya. Lalu pemulung itu mengambil meja kecil itu untuk menaruh gelas air yang disuguhkan kepada kami. Hhmmm…. air apa itu ya kira-kira? Warnanya seperti teh, tapi sangat bening untuk ukuran air teh yang saya tahu. Apakah cukup aman untuk diminum?? Apakah mereka akan tersinggung kalau tidak saya minum?? Pada saat saya masih sibuk dengan berbagai pikiran yang ada di kepala saya, senior saya dengan santai berbincang-bincang sambil memperkenalkan saya sebagai anggota baru Legio kami. Tibalah saat dimana kami dipersilahkan untuk minum. Waduuh!! Apa yang harus saya perbuat?? Hal terbaik yang bisa saya lakukan saat itu hanya mengucapkan terima kasih.

Lalu seniorku bertanya : “Apakah ada yang bisa kami bantu, Pak?” Lalu saya memandangnya dengan bingung sambil berpikir, apa yang bisa saya lakukan di tempat ini?? Untuk bernafas melalui mulut saja sudah sangat sulit, apalagi melakukan itu sambil memilah sampah. Ya Tuhan….!! Lalu pemulung itu bilang, kebetulan hari itu ada beberapa pekerja yang masih berkeliling sehingga mereka perlu bantuan untuk memilah botol-botol dan gelas-gelas plastik yang akan ditimbang. Oh my God !! Apa saya tidak salah dengar?? Saya termenung sesaat, kemudian dengan sigap senior saya menarik tangan saya untuk mengikuti dia ke salah satu area dimana terlihat tumpukan sampah plastik yang cukup jauh posisinya dari tumpukan sampah organik lainnya. Pada saat itu saya sedikit merasa bersyukur karena area itu baunya tidak setajam di area parkir motor tadi. Ternyata disitu kami harus mengelompokkan botol bekas dengan tutupnya dan gelas plastik secara terpisah. Tentu saja kita harus melakukan itu tanpa sarung tangan. Ingin rasanya menghela nafas, tapi udara di sekitar tempat itu tidak akan memberikan kelegaan maupun meringankan beban yang saya rasakan saat itu. Perlahan-lahan saya mengikuti apa yang senior saya kerjakan. Akhirnya semua itu mampu menenangkan pikiran dan perasaan yang tidak karuan. Setelah kurang lebih 30 menit kami bekerja, tiba-tiba mulai turun hujan, lalu pemulung tadi memanggil kami untuk berteduh di bedeng tempat kami berbincang-bincang tadi dan mempersilahkan kami untuk minum. Karena lelah dan kehausan, akhirnya saya tidak memikirkan lagi apakah minuman tersebut cukup aman untuk diminum atau tidak. Ternyata betul, itu adalah teh manis dan rasanya tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya. Setelah hujan reda kami pun berpamitan. Pada waktu itu saya ragu apakah pilihan saya untuk menjadi legioner adalah pilihan yang tepat, ya? Apakah saya bisa menjalankan ini sebagai tugas rutin? Saya tidak merasa ada manfaat yang cukup berarti bagi mereka dengan kunjungan seperti itu. Kenapa kita tidak memberikan penyuluhan atau bimbingan agar mereka bisa lebih memperhatikan kebersihan dengan menggunakan sarung tangan, atau membuatkan saluran air bersih, menyumbang alat makan atau kasur atau meja dan kursi? Itulah beberapa pertanyaan yang saya ajukan pada senior saya pada saat melanjuntukan perjalanan menuju sebuah warung untuk makan siang. Disana kami makan sambil berbincang-bincang membahas kunjungan kami. Banyak pertanyaan yang saya ajukan, diantaranya: Apakah kunjungan seperti itu ada manfaatnya untuk mereka? Mengapa kita hanya berbincang-bincang serta membantu sekedarnya saja sehingga terasa seperti berbasa-basi? Apakah kita boleh membantu mereka  dalam hal lain supaya mereka bisa dapat hidup lebih layak? Dan seniorku menjelaskan dengan sabar dan jelas sampai saya benar-benar paham dan mengerti.

Senior saya itu lalu menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tersisihkan dan sering terlupakan, sering dihina dan dianggap kotor, padahal jasa mereka sebetulnya sangat besar. Coba bayangkan tanpa orang-orang seperti mereka, sampah-sampah akan berserakan dimana-mana, masuk ke got sampai akhirnya menyumbat, sungai-sungai akan peeenuuuuhhh dengan sampah, banjir dimana-mana. Memaaaang siiiihh….sudah ada dinas kebersihan dari pemerintah untuk mengumpulkan  sampah rumah tangga dan industri supaya kita tidak hidup di tengah tumpukan sampah. Tapi apa jadinya kalau tidak ada pemulung-pemulung itu? Dengan kebiasaan kita membuang sampah sembarangan, berpikir : “Aahh…hanya satu plastik saja koq yang dilempar ke sungai, aaahh… ini Cuma selembar tissue saja koq yang kubuang di pinggir jalan..” Lama kelamaan sampah yang mengalir ke laut menjadi semakin banyak dan menumpuk, global warming akan semakin parah dan semakin merusak. Senior saya menjelaskan bahwa dengan kehadiran kita, kita berharap mereka akan merasa lebih diterima di masyarakat. Mereka akan merasa terapresiasi, maka kita perlu menemui mereka dengan segala kerendahan hati, tanpa membahas masalah agama kecuali apabila mereka bertanya, menunjukan bahwa kita tidak berbeda dengan mereka. Bahwa kita itu SAMA. Sama-sama melayani tapi dengan bentuk yang berbeda. Bantuan yang kita berikan merupakan bentuk apresiasi terbesar terhadap apa yang mereka lakukan selama ini, jauuuuh melebihi kebutuhan materi yang sempat terlintas di pikiran saya tadi. Lalu senior saya juga bercerita bahwa pemulung yang berbincang-bincang dengan kita itu tadi adalah kepala/bandar sampah plastik yang cukup besar di Bandung. Dia memiliki lima orang anak yang semuanya bersekolah di perguruan tinggi negeri terkemuka yang tidak berhasil kami tembus. Pada saat itu dua di antaranya sudah lulus, dua orang masih kuliah dan yang bungsu baru saja diterima di ITB. Sya sangat terkejut. Dimana mereka tinggal? Karena saya tidak melihat ada bedeng lain disana. Ternyata keluarganya tinggal di sebuah rumah di komplek perumahan sederhana tapi sangat layak untuk dihuni. Melihat reaksi terkejut saya, senior saya bertanya, Apa yang membuat saya bisa menghargai seseorang? Apakah harta? Pendidikan? Penampilan? Sifat/karakter? Atau karya? Apa yang saya rasakan ketika harus menjadi bagian dari orang-orang seperti mereka? Apakah menurut saya ada gunanya melakukan pelayanan seperti ini? Apakah kesulitan dan tantangan akan membuatku mundur?  Pertanyaan yang sama saya ajukan pada anda!

Bagaimana anda melihat diri anda sendiri?

Pengalaman tugas lain yang sangat berharga dan menjadi konflik batin di dalam diri saya untuk beberapa lama adalah tugas kunjungan umat. Pada saat itu umat yang kita kunjungi adalah seorang nenek tua berumur sekitar 85 tahun yang tinggal di sebuah gubug di gang sempit dekat rel kereta api Jalan Merdeka, Bandung. Gubug seluas kurang lebih 3m x 4m tersebut sangat sederhana, terlihat kumuh tepatnya. Di dalamnya hanya ada satu ranjang reyot dengan kasur kapuk yang sudah sangat tua, satu lemari baju kecil dari kayu, satu meja kecil yang sudah usang, dan dua kursi reyot di sampingnya. Dapur dan kamar mandi terletak di luar pintu belakang, seperti beranda kecil. Disitu hanya ada satu kompor minyak dan satu baskom dekil untuk mencuci. Kamar mandinya pun tidak memiliki bak mandi, hanya ada sebuah ember tua untuk menampung air dari keran dengan gayung yang sudah pecah-pecah.

Saat pertama mengunjungi nenek tersebut, saya melihat beberapa helai baju dan kain yang berserakan di kasur. Saya menduga baju-baju itu berfungsi sebagai selimut pada saat nenek itu tidur, karena saya tidak melihat ada selimut disitu, hanya kain batik yang tipis dan sudah belel. Pada kunjungan umat yang pertama saat itu, saya didampingi oleh Ketua Presidium. Setelah dipersilahkan duduk, dia langsung berbincang-bincang dengan nenek itu. Ada nada keceriaan yang saya tangkap dalam suaranya pada waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan ketua presidium kami, lalu dengan muka yang berbinar-binar beliau menunjukan foto kedua orang anaknya pada saya sambil bercerita, bahwa kedua anak laki-lakinya sekarang sudah sukses, yang sulung adalah seorang pengacara dan yang bungsu adalah seorang dokter. Anak sulungnya tinggal di daerah elit di wilayah Bandung Selatan, cukup jauh dari rumah nenek itu sehingga dia jarang berkunjung, sedangkan yang bungsu tinggal di kawasan elit daerah Bandung Utara, cukup dekat, tapi karena kesibukannya sebagai seorang dokter dia juga jarang berkunjung. Beliau berkata bahwa kasih Tuhan sungguh luar biasa karena dia tidak pernah membayangkan bahwa anak-anaknya bisa jadi orang sukses setelah beliau menjadi single fighter sejak anak-anaknya masih kecil. Dia bilang, dulu dia sempat menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Suaminya dipanggil Tuhan pada saat beliau masih cukup muda, sehingga beliau harus membanting tulang mencari nafkah untuk membiayai dan menyekolahkan anak-anaknya. Berbagai jenis pekerjaan pun sudah dilakukan dan tidak sedikit beliau mengalami kegagalan dan kepahitan.

Ilustrasi.

Saya berpikir, kenapa cerita yang cukup umum terjadi ini pada saat itu sangat mengusik batin saya, sehingga membuat saya berkaca-kaca mendengarkan cerita itu? Padahal kisah seperti ini sudah cukup sering saya dengar karena merupakan cerita yang cukup umum, banyak orang yang mengalami hal serupa. Karena keseriusan saya menyimak cerita nenek tersebut, akhirnya saya merasa otak saya beku.  Saya tidak bisa memahami mengapa dia tetap bisa mengasihi dan membanggakan kedua anaknya yang menurut saya sangat kejam membiarkan nenek itu hidup sendiri? Mengapa di tengah penderitaan dan kesulitan hidupnya nenek ini sangat taat dan sangat rajin berdoa? Anda pasti bertanya-tanya, bagaimana saya bisa mengetahui hal ini? Saat itu saya melihat di atas meja kecil yang sudah tua itu ada sebuah salib, patung Bunda Maria dan lilin. Di lacinya terlihat sebuah Alkitab dan Madah Bakti serta rosario. Di bawah meja tersebut terlihat ada satu bantal tipis yang masih cukup bagus dan saya menduga itu adalah bantalan yang nenek itu gunakan untuk berlutut.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya dengan hati-hati… ”Nek…sepertinya Nenek sangat rajin berdoa, ya? Sampai menyediakan tempat khusus untuk berdoa. Apakah kaki Nenek tidak sakit kalau dibuat berlutut?” Beliau terkekeh-kekeh mendengarkan pertanyaan saya. Yaaah….mungkin itu pertanyaan konyol untuk sang nenek, pikir saya saat itu. “Cucuku….saya ini sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang menemani, anak-anak saya sibuk, mereka juga sudah berkeluarga, maka sudah seharusnya mereka lebih memperhatikan anak dan istrinya. Karena nenek sendiri, maka teman berbincang yang paling setia adalah Yesus. Oleh karena itu nenek selalu rajin berdoa, walaupun sudah tidak dapat pergi ke gereja lagi, tapi nenek sangat mengharapkan dan menantikan kedatangan pastor/frater/prodiakon yang dengan setia mengantarkan mengantarkan komuni setiap minggu.” Saat itu lidah saya mendadak kelu dan tidak bisa berkata-kata lagi. Untung saja penglihatan beliau sudah agak rabun sehingga tidak menyadari kalau saya sempat meneteskan air mata. Beliau juga mengatakan hanya bisa bersyukur dengan cara berdoa, karena tidak ada lagi yang dapat dia lakukan. Semasa mudanya, nenek itu cukup aktif mengikuti kegiatan di gereja, membantu merangkai bunga, menghias altar, mengikuti doa dan kegiatan lingkungan, tapi sekarang sudah tidak bisa kemana-mana lagi, karena untuk berjalan pun sudah sangat sulit. Kerinduannya untuk selalu mendoakan kedua anaknya dan cucu-cucunya yang sangat ia kasihi sangat besar. Mendengar apa yang beliau katakan, tiba-tiba saya merasa sesak nafas. Kenapa untuk figur seorang ibu yang penuh kasih ini anaknya tega menempatkannya di sebuah gubuk, sendirian pula….. Apakah mereka tidak mengkhawatirkan keadaan si nenek ini??

Karena sempat melihatku meneteskan air mata, lalu ketua Presidium kami berusaha mengalihkan pembicaraan dan bertanya, mengapa tangannya terluka dan diperban? Lalu beliau menjelaskan kalau beberapa hari yang lalu ketika sedang menggoreng tahu, tiba-tiba saja dia merasa pusing dan terjatuh sehingga tersiram minyak panas sedikit. Untungnya pada saat itu ada tetangganya yang biasa merawat dan menjaganya langsung mendatangi dan menolongnya, lalu nenek itu dibawa oleh tetangganya ke rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Untungnya nenek itu tidak menderita luka yang parah, hanya saja karena faktor umur, penyembuhannya menjadi agal lambat. Dari cerita tadi akhirnya saya tahu bahwa kedua anaknya apabila datang hanya memberikan uang untuk biaya hidup si nenek yang dititipkan ke tetangganya tadi untuk membantu menjaganya. Saya merasa sedih dan marah melihat keadaan seperti ini! Saya merasa kasihan tapi merasa tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu karena adanya aturan yang melarang kita sebagai Legioner memberikan bantuan dalam bentuk bantuan materi. Ingin rasanya memberontak, kenapa harus begitu? Kenapa tidak boleh? Padahl beberapa waktu sebelumnya kita berjualan baju bekas untuk mencari dana untuk kegiatan retret. Bukankah nenek itu lebih membutuhkan bantuan? Bukankah untuk retret kita bisa menarik biaya dari masing-masing anggota? Apa alasannya? Kenapa? Berbagai pertanyaan itu sangat mengganggu saya, hingga akhirnya setelah berpamitan, saya pun tidak dapat menahan diri untuk langsung bertanya dan meminta penjelasan pada Ketua Presidium kami karena tidak dapat menahan rasa penasaran. Ketua Presidium kami menjelaskan bahwa yang kita perlu jalankan adalah “Apostolic concern” menolong secara rohani, menguatkan dan mendoakan.

Saya belum benar-benar bisa memahami dan menerima penjelasannya itu. Lalu ketua presidium kami berkata, coba perhatikan dan simak baik-baik pada saat teman-teman kita bercerita dan memberikan laporan tugas dan kunjungan. Bagaimana kesan-kesan mereka dan bagaimana reaksi orang-orang yang kita kunjungi menerima kedatangan kita. Menolong dengan menguatkan secara rohani jauh lebih penting daripada memberikan bantuan materi. Benar apabila kita berpikir bantuan materi bisa menolong, tapi sampai kapan? Sebesar apa kita dapat memberikan bantuan bagi mereka? Apaling kita bukanlah yayasan yang memiliki pendonor tetap. Tetapi apabila kita memberi semangat, menguatkan, mendoakan, maka pertolongan kita akan berdampak sangat mendalam dan juga akan bertahan lama.

Lihatlah bagaimana reaksi orang-orang sakit yang kita kunjungi dan kita doakan!

Lihatlah perubahan raut muka si nenek ketika kita bisa menjadi teman bicara dan menjadi pendengar yang baik!

Lihatlah bagaimana bahagianya pemulung-pemulung yang kita datangi!

Lihatlah bagaimana anak-anak di panti asuhan atau orang-orang tua di panti jompo yang selalu menyambutmu dengan pelukan dan kehangatan!

Lihatlah betapa bahagianya mahasiswa-mahasiswa tuna netra di Wiyata Guna ketika mendengar suara kita, betapa semangatnya mereka menyelesaikan tugas kuliah dan skripsi dengan bantuan kita!

Dengan begitu, kehadiran kita menjadi terang dan garam, berarti kita sudah menjalankan apa yang Tuhan Firmankan. Allah pun tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah atau kesulitan, tapi Allah berjanji untuk selalu ada dan memberi kita kekuatan dalam menghadapi masalah. Jadi pada saat kita ingin membantu orang lain, ingin menjadi garam dan terang, maka kehadiran kita, karya-karya kita dengan kuasa Roh Kudus harus senantiasa menguatkan dan menyemangati mereka yang sedang susah dan menghadapi masalah, bukan menyelesaikan masalahnya. Kehadiran kita dimanapun HARUS selalu menjadi SALURAN BERKAT bagi orang-orang yang kita kunjungi.

Akhirnya sejak itu, saya bisa melihat dari kacamata yang berbeda setiap kali mendengarkan sharing pelaporan tugas dan bisa lebih memahami peran saya sebagai legioner di masayarakat. Setelah lebih memahami, saya jadi lebih bersemangat dalam berkarya dan bertugas juga semakin menyadari bahwa saya tidak akan mampu melakukan semua karya tanpa kuasa Roh Kudus yang menggerakkan saya. Dari apa yang selama ini saya lakukan, apakah saya sudah menyadari dengan sungguh, bahwa saya betul-betul sudah menjadi saluran berkat Allah bagi sesama dengan kuasa Roh Kudus?? Bukan karena kehebatan saya! Tapi karena Allah memilih saya untuk menjadi prajuritNYA! Dan saya bersedia! Apakah anda bersedia? Silahkan renungkan!!


Victoria Suvi Tendiana Lili adalah salah seorang trainer pada LDK Senatus Bejana Rohani 2018. Beliau pernah menjadi legioner di Bandung, dan kini aktif sebagai pendidik serta praktisi pengembangan diri.

Kesan Pesan LDK Senatus 2018 : Jantungku Masih Kuat

Oleh Roosita Taufik


Ketika mengetahui ada acara Latihan Kepemimpinan Dasar dari Senatus, saya jadi berniat untuk mengikutinya . Tapi ternyata jatah peserta Regia hanya dua orang meskipun area kerja Regia cukup luas dari Sumatera Utara hingga Sumatera Selatan. Sebagai Legioner yang tak mengenal putus asa, saya rela ditempatkan di waiting list… Eh tiba-tiba penutupan pendaftaran dipercepat, langsung saya bertanya pada Sdri. Maryana yang mengurusi pendaftaran,  bagaimana dengan status saya, apakah masih tetap di waiting list atau bagaimana … Eh ternyata tidak, saya sudah terdaftar sebagai peserta. Saya bahagia serasa seperti ketika terjadi peningkatan status dari anggota aktif percobaan menjadi resmi sebagai anggota aktif. Terima kasih untuk kesekian ribu kalinya kepada Bunda kita Maria.

Saya mulai mempersiapkan diri karena ada wanti -wanti trainernya tegas. Saya merasa bahwa mungkin ini training yg terakhir yg boleh saya ikuti.. Saya tidak boleh gagal … Saya sampai minta doa kepada para legioner untuk mama saya agar mama saya tidak sakit, karena kalau mama sakit, saya pasti tidak bisa ikut. Saya berterima kasih kepada seorang Legioner yang sampai rela mendoakan mama saya di misa pagi.

Perlu anda ketahui, orang yang turut mendoakan mama saya itu belum saya kenal dan akan saya kenal ketika di LDK nanti. Pendek cerita sampailah saya ke Samadi dengan kondisi yang mantap dan dijemput oleh Sdri.Yanti, Ketua Senatus sebelumnya.

Sudah banyak legioner yang hadir saya begitu senang bisa ketemu dengan teman seperjuangan dari Jambi dan Pangkal Pinang. Walau pada awalnya saya sedikit merasa aneh dengan lampiran deklarasi kesehatan, serta ada interview lagi oleh team Trainer sebelum mengikuti training ini. Tapi saya semakin yakin bahwa ini memang MANTAP trainingnya dan pasti lain dari yang lain .

Ada juga peserta dari Kalimantan membuat saya lebih yakin bahwa training ini benar-benar training mengingat seleksi yang begitu ketat dan semua yang adalah orang terpilih dan pemenang.
Saya satu kamar dengan seorang saudari dari Jakarta. Dia katakan tidak ada run down acara, dan saya bilang acara akan mulai pukul 16.00. Kami berdua lalu beristirahat… Eh ketika kami tersadar, ternyata misa hampir selesai. Untung masih mendapat berkat penutup dan training belum dimulai. Itulah akibat dari tidak memperhatikan.

Training pertama begitu gegap gempita dan kami mengumandangkan dengan lantang kalimat berikut :
“Sembilan orang buta, satu orang tuli, siapa pemimpinnya? saya pemimpinnya” Terus diulang sampai berkali kali.

Sempat ada dipikiran saya siapa ya rela mau jadi pemimpin hanya untuk sembilan orang buta dan satu tuli???
Orang buta tidak perlu dipimpin hanya perlu dituntun, jadi tidak perlu seorang pemimpin, dan hanya perlu seorang penuntun. Begitu juga dengan satu orang tuli. Tapi saya tidak protes karena katanya ini hanya permulaan. Saya tetap lanjut dan mulai berhati-hati takut tereliminasi dan lalu dipulangkan.

Ketika masuk ke ruang kelas kita semua mendapatkan sebuah tomat dan plastik untuk membungkus tomat. Piye toh ada training pake tomat?? Semua rada aneh ….. ditambah bendera warna warni ada hitam …merah …putih dan hijau … Saya pikir lambang para peserta dari berbagai daerah …. Dilanjutkan demgan susunan barisan dari umur termuda hingga yang tua disertai dengan penjumlahan usia di masing-masing batalyon …wouuw suasana jadi hiruk pikuk. Masing-masing peserta mulai menghitung dan menyelaraskan umur dari ke dua sisi kiri dan kanan … Saking sibuknya semua tidak memperhatikan tanda yg diberikan adalah bendera hitam dan semua harus diam … Ketika itu trainer Bapak Ronald sempat darting… meja di banting hingga terbalik … barulah semua diam tak berkutik… Saya sendiri terkejut namun jantung saya tidak copot. Saya senyum dalam hati, rupanya jantung saya masih kuat walau sudah tidak muda lagi . Terima kasih Tuhan dan Bunda Maria.

Dari cerita di atas, saya memaknai bahwa ikut training berarti kita belajar lagi … Semua jabatan dan embel-embel dilepas sehingga kita putih kembali seperti kertas baru yang ingat digurat dengan kesan dan pesan. Kalau kita simak dengan baik, banyak yg kita peroleh dari bentakan dan bantingan meja. Kita sadar bahwa kita lebih mengejar hasil yg tepat dari penjumlahan tapi kita telah menyepelekan tanda bendera hitam yang terpasang. Walaupum kecil tapi kita bisa melihatnya dan yang paling penting pesan dari warna bendera sudah diberitahu sebelumnya lain halnya jika sebelumnya fungsi bendera sudah dijelaskan dengan baik, sehingga bukan jebakan. JADI menurut saya yang salah adalah kita dan bukan Bapak Ronald. Kita mendengar tapi bukan mendengarkan dan kita melihat tapi tidak memperhatikan dengan benar.

Selama ini kita berdiri diatas kedisiplinan kita, bangga dengan tugas pelayanan kita, tapi saya yakin di balik semua itu kita banyak lalai dengan masalah masalah kecil, yang mana itu bisa berakibat fatal bagi presidium dan dewan yang kita pimpin. Maka marilah kita semua maju melangkah seiring sejalan, seperti lagu yg kita nyanyikan dengan gerak seirama tanpa menyepelekan hal kecil yang mana bisa membawa bencana.


Sdri. Roosita Taufik adalah Ketua Regia Ratu Para Syahid – Medan, periode 2016 – 2019, dan juga adalah peserta LDK Senatus Bejana Rohani 2018.

Sepenggal Kisah Saat LDK di Samadi

Oleh Lamria Hutabarat


Ini adalah LDK tingkat senatus pertama yang kami ikuti.  Jumat 26 Januari 2018 peserta berdatangan dari berbagai kota dan pulau menuju tempat pelatihan  yang ditentukan, yaitu di Wisma Samadi,  Kelender – Jakarta Timur. Wajah-wajah yang masih asing bertemu, tetapi kami langsung akrab satu sama lain karena kami disatukan oleh sebuah tujuan.

Pk.13.00  kami disambut oleh panitia. Kami juga menerima  satu buku notes  dan dua  pulpen.  Kegiatan LDK diawali dengan  acara wawancara face to face.  Saya sempat bertanya-tanya: “wah, ini mau rekrut tenaga kerja sukarelawan ato apa yah??” Pada akhir wawancara, seseorang berkepala plontos mirip biksu Budha  memberiku  selembar kertas  sambil tersenyum. Ia  berkata…”Tolong kertas ini dijaga, gak boleh kelipat, gak boleh kotor dan dibawa setiap saat!”

Setelah wawancara  tersebut, acara dilanjutkan dengan misa pembukaan yang dipimpin oleh Romo Antonius Didit – sebagai Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani. Lalu dilanjutkan dengan acara “pembantaian” – menurutku.  Si ‘biksu’ ternyata manager trainer kegiatan ini – yang  kami panggil  dengan nama  Magister Ronald. Magister Ronald menerangkan aturan kegiatan ini (aturannya sangat ketat;  Ikuti perintah).  Setelah itu ia bertanya berulang ulang siapa yang mau mengundurkan diri. Tak satupun yang mundur. Tiba- tiba beliau teriak melompat dan teriak ADA 10 ORANG, 9 BUTA 1 TULI SIAPA PEMIMPINNYA? AKU PEMIMPINNYA, AKU PEMIMPINNYA. (Sumpeh, aku sangat terkejut. Tuh orang suaranya menggelegar, gerakannya persis seperti orang ‘gila’). Kami disuruh memperagakan sama persis dengan apa yang dilakukannya. Awalnya masih banyak yang malu-malu tetapi dengan kejam sir Ronald membentak.  Mana Semangatmu?? Katanya Prajurit!!! Semua tak berdaya dan akhirnya terbawa suasana berteriak “ADA 10 ORANG 9 BUTA 1 TULI SIAPA PEMIMPINNYA? AKU PEMIMPINNYA AKU PEMIMPINNYA” Dalam hatiku berkata ‘Gile, nih orang lebih dari wong Batak…Suaranya kenceng Banget’. Seumur-umur aku teriak paling kencang  pada saat itu.  Hehhehe…

Jam 19.00  kegiatan dilanjutkan di kompleks sekolah SD Santa Maria de la Strada yang bersebelahan dengan Samadi. Semua peserta hening (soalnya benderanya hitam. Ada 4 jenis bendera : hitam berarti diam, merah berarti boleh bertanya dengan seizin magister, kuning/ krem bebas bicara, dan hijau boleh bicara tetapi terbatas dalam ruangan saja). Semua alat komunikasi disita. Saat itu dalam hatiku berkata, “Gila nih si Magister Biksu! Emang aku anak SMA. Aku aja gak sampe begituan sama murid-muridku. Tapi ape mau dikate aku ingat aku itu seorang prajurit. Aku harus  tunduk pada atasan. Hehehhehe…. Jadi  terpaksa deh hape dikumpul.  Ketiga magister yaitu magister Ronald, magister Suvi, dan Magister Joy seperti monster kelihatannya. Menakutkan!  Kami takut salah. Kami diberi sebuah tomat dalam kantong plastik. Tomat ini harus dijaga, dibawa kapan saja dan gak boleh kelihatan oleh magister. Di sekolah Strada kami menonton film tentang TENTARA ROMAWI. Film itu mengingatkan kembali bahwa kami  sebagai legioner adalah Prajurit Maria yang sangat dahsyat seperti tentara Romawi. Kami harus cakap, displin, punya strategi melawan musuh (dari luar dan dalam diri sendiri), tidak boleh loyo,  dan taat pada sistem serta atasan. Saat ini semangatku sebagai seorang prajurit Maria berkobar-kobar. Di akhir kegiatan Magister Ronald memberikan tugas yang menurutku ini adalah THE IMPOSSIBLE  ASSIGMENT.

Selesai kegiatan di sekolah Strada, jam  hampir menunjuk pk.  23.00. Kami ditugaskan menghafal puisi berjudul  “Aku adalah Prajurit Bala Tentara Allah”  yang panjangnya sampai satu lembar  kertas A4,  menonton film ROMERO dan meringkasnya, dan membuat sebuah tulisan tentang Legio Maria. Selesai Nonton Film ROMERO aja  lewat pk.00.00, trus masih lanjut meringkas ceritanya (kulihat jam sudah menunjukkan pukul 2.00 dini hari), lanjut terus membuat tulisan tentang Legio maria (jam sudah pk. 3.00 dini hari), lanjutkan lagi  menghafal  puisi “Aku adalah Bala Tentara Allah” (kali ini aku gak ingat sampe jam berapa, yang pasti ketika bangun aku lihat jam udah menunjuk pk.4.00 tepat). Ohhh noooooooooo…… aku belum hafal. Akhirnya aku diam merenung dan pasrah. Kucoba merefleksikan diri atas  semua kegiatan ini dengan apa yang telah selama ini kulakukan. Ya Tuhan, ternyata AKU BELUM MELAKUKAN APA-APA. Aku sering menyerah, aku sering mengeluh betapa sulitnya tugas menjadi legioner sama seperti diawal aku diberi tugas oleh Magister. Aku merasa tak sangggup. Mengapa aku tak menyadari bahwa aku pasti bisa karena ada Bunda yang menemani melaksanakan tugas berat sekalipun??? Aku bangkit berdiri. Tarik nafas dalam-dalam. Aku tak boleh kalah. Aku harus berjuang hingga garis akhir. Sukses tidaknya tugas yang kulakukan itu bukan yang terpenting bagiku. Aku sadar yang terpenting dan terutama AKU MASIH SEMANGAT  UNTUK MELAKSANAKANNYA. Aku membangunkan teman sekamarku yang bernama  mbak Nova, karena pk. 4.30 tepat kami harus berkumpul kembali mengikuti ibadah pagi.

Hari Sabtu,  selesai ibadah pagi, mandi dan  sarapan,  kami lalu kembali berkumpul di sekolah Strada. Kegiatan hari itu dibuka dengan refleksi  berjudul “Manusia dalam Cermin”. Nah, kegiatan selanjutnya menurutku adalah sebuah tantangan. Dengan bermodalkan pulpen yang diserahkan di awal registrasi, kami ditugaskan untuk pergi ‘mencari dan mendapatkan’ uang sepuluh ribu rupiah. Ada peserta yang pulpennya masih utuh sebanyak dua buah, ada yang tinggal satu saja (termasuk aku). Satu pulpenku hilang…hehhehe. Kelihatan kalau aku orangnya sepele atas hal kecil kali ya??? Wah, pelajaran berharga nih.

Kami ‘diusir’ keluar dengan bermodalkan pulpen dan KTP. Kegiatan ini mengajarkanku menjadi seorang prajurit yang KREATIF, CAKAP untuk menarik RASA PERCAYA  orang pada kita. Semua peserta pulang berhasil membawa uang sepuluh ribu. Hebat ya…. semua legioner bangga dan bahagia ditambah lagi ketiga magister sudah mulai tersenyum, tidak galak apalagi pake acara membentak. (Hmmm…mungkin dalam hati kami saat itu ‘senyumnya magister Ronald ternyata manis’ hehehheheh).  Setelah itu kegiatan dilanjutkan di ruang pertemuan di Wisma Samadi. Disini kami ada kegiatan ‘drama’ yaitu  bagaimana tanggapan  apabila seorang putri kita, ibu atau adik perempuan kita melakukan sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Apakah kita menghakiminya atau memberikan pengertian dan kasih? Kegiatan hari ini diakhiri dengan UJI HAFALAN puisi.  Apakah sudah hafal (Aku adalah Bala Tentara Allah). Kemudian  sebagai tugas akhir kami harus mencari tahu arah gerak pastoral di keuskupan masing masing serta membuat program Legio Maria yang mendukung arah gerak tersebut.

Jam  sudah menunjukkan pk. 22.00 lewat.  Dilema nih mau mencari info sama siapa? Secara ini kan dah malam. Tetapi trainer gak peduli, pokoknya besok pagi sudah harus ada. Aku menghubungi seorang sahabat untuk menanyakan arah gerak pastoral melaui WA dan dijawab pukul 23.59. (Ohhhh nooooo…..begadang lagi nih) akhirnya aku berusaha semampuku mengerjakan tugas yang diberikan.

Minggu pk. 4.30 kegiatan dimulai dengan ibadah pagi, seminar singkat tentang Karya Misioner Gereja “Menjadi Saksi Kristus” oleh Romo Markus Nur Widi, lalu seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan misa perutusan  oleh Romo Antonius  Didit pada pk. 12.00.

Banyak kenangan indah dan pelajaran berharga  di sini ini. Kami pulang dengan disegarkan kembali jiwa seorang Legioner.

AKU ADALAH PRAJURIT BALA TENTARA ALLAH.


Sdri. Lamria Hutabarat adalah peserta LDK Senatus Bejana Rohani 2018 dari Regia Ratu Para Syahid – Medan.

Kesan Pesan LDK Senatus 2018 : Akademi Pembentukan Prajurit Tentara Bala Tentara Allah – Angkatan 2018

Oleh. Maria Alacoque Martha Sulaiman


Awalnya saya mendaftar pelatihan ini karena kepo, mau tahu apa yang bakalan diajarin, apa yang bakalan dilatih oleh Senatus. Tapi setelah nyemplung di hari pertama, saya kaget dan berasa kesasar di Kamp Militer “9 orang buta; 1 orang tuli”; hormat bendera negara; nyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Gaya pelatihan yang beda dan baru bikin saya makin penasaran ada apa selanjutnya?

Jam mulai bergulir, hari makin malam tapi kog ya pelatihan belum kelar juga? Malah harus belajar menghitung? Energi mata mulai menyusut tapi otak ini terus merenungkan apa yang jadi “celotehan” para magister ternyata bukan sekedar omong kosong tapi fakta bahwa saya masih perlu belajar banyak.

Di dalam diri saya mulai muncul arena gulat antara rasa tidak suka ditegur vs. rasa gak mampu membantah. Belum juga gulat selesai, saya sdh “ditodong” dengan 10 commandments yang saya ga ngerti untuk apa dilakuin? Tomat; kertas puisi; simbol bendera; duduk tegak.

Malam terasa panjang, kantuk semakin menjangkit, fokus mulai sirna.. Kembali ke kamar, saya memilih tancap gas ke pulau kapuk dan istirahat. Tapi.. Belum lagi full charged, aktifitas selanjutnya sudah harus tayang….

#################

Matahari belum juga menampakkan muka, tapi saya sudah harus terbangun karena bunyi “tok tok tok” orang yg gedor pintu. Saya kaget dan reflek lompat dari kapuk, langsung beresin sandaran kepala (bantal); ngerapiin selubung anti dingin (selimut); sikat gigi dan ganti baju secepat saya bisa. Lalu lari masuk meringsek ke dalam Ruang Doa.

Raga dan jiwa yang kocar kacir segala arah “disuruh” diam dan tenang lagi. Saya pikir sudah bisa “relax”.. eeh ternyata kami diberi tahu oleh Magister kalo tagihan tanggung jawab bakalan jatuh tempo kurang dari 2jam.. alamak jang! Gak salah?! Capek tau! Protes saya dalam batin.

Pagi itu, perasaan sibuk jadi mandor, menggagahi pikiran saya. Bukan karena para magister ataupun prajurit seperjuangan. Tapi sejujurnya karena saya malu ga bisa ngelunasin tanggung jawab. Kebanyakan cari alasan, nunda-nunda, sampe ga peka dengan apa yang di sekeliling (pengumuman) bikin saya makin malu ada di akademi dan mau angkat kaki seribu, pulang ke rumah.

Untungnya dibuka periode ‘amnesty perasaan bersalah’. Pikiran saya mulai melek dan minta perasaan ngumpet dulu di pojokan. Malu tapi akhirnya saya sambangi Magister dan mengakui dengan lidah kaku kalo saya pailit! Ga sanggup bayar tagihan tanggung jawab secara penuh. Saya pikir bakalan digugat, diadili, dihukum massal. Ternyata, Magister cuma bilang, “Coba lebih baik lagi!”

Perasaan dan pikiran jadi campur aduk diojok-ojok kayak naik wahana roller coaster. Bukannya muntah, malahan bikin ‘instruksi tetap’ : saya mau lbih baik lagi; saya bisa lebih baik1!; saya harus lebih baik lagi!!

#################

Hari baru, jiwa baru, semangat baru, gak kerasa kalo saya sudah mesti direlokasi (a.k.a digusur) dari “ruang simulasi” ke dalam ruang nyata kehidupan. Padahal kan sudah mulai betah di akademi. Tapi apa daya, sayapun “balik kampung”.

Pas “bongkar muat”, eng ing eng, saya baru sadar ternyata saya disisipin banyak oleh-oleh:
~ Ketopong kejujuran (pikiran dan rasa adanya di otak/ kepala, harus jujur apa adanya)

~ Tombak keberanian (maju terus mengoyak ketakutan, keraguan, prasangka/asumsi dalam diri)

~ Perisai kerendahan hati.

~ Lencana Prajurit (saya mulai belajar menerima identitas prajurit; berani sukarela putuskan saya adalah seorang prajurit!).


Maria Alacoque Martha Sulaiman adalah Bendahara Kuria Bunda Pengharapan Suci, Jakarta Barat, dan juga tergabung sebagai panitia dan peserta LDK Senatus Bejana Rohani 2018.

Mensyukuri Berkat 2017 dan Melangkah dengan Iman 2018

Suasana Natal pasti masih terasa dalam keluarga, gereja atau tempat hiburan lain dan tak kalah meriah tentunya suasana pergantian tahun 2018. Kita juga mungkin sedang bersiap untuk menutup tahun 2017 dengan berlibur ke suatu tempat, barbeque-an, main kembang api, having fun atau apapun acara bersama keluarga dan sahabat yang dikasihi.

Saya ingin mengajak untuk meluangkan waktu untuk sejenak merefleksikan perjalanan hidup kita masing-masing khususnya di tahun 2017.  

Sudahkah kita hitung berapa banyak rejeki, karir, kelancaran study, dan banyak sukacita lain yang Tuhan berikan pada tahun ini ?  kita mudah mensyukuri semua kebaikan Tuhan yang nampak jelas kita alami. Tetapi… mungkin ada kejadian yang kita lihat sebagai keburukan, kegagalan, kekecewaan dan hal yang kurang baik di tahun ini, apakah Tuhan sedang lalai menjaga kita atau apa maksud Tuhan akan semua peristiwa itu?

Mengapa banyak bencana alam terjadi di dunia dan khususnya di negara kita; banjir, gunung meletus, kebakaran hutan atau kejadian alam lain yang menimbulkan korban jiwa atau harta benda ?

….. Tuhan mengingatkan pesanNya ketika menciptakan alam semesta yaitu agar manusia memelihara dan kembangkan alam semesta (bdk Kej 1 : 26) namun jangan – jangan tanpa sadar kita berkontribusi dalam kerusakan alam karena kita kurang ramah lingkungan, menggunakan plastik, sterofoam, tissue, pemakaian listrik berlebihan dll.  

Dengan bencana inipun, Tuhan mengetuk hati kita untuk semakin peka pada saudara kita tertimpa musibah tanpa peduli ras, suku dan agama untuk bersatu memberikan bantuan kemanusiaan dan doa.

Mengapa masih banyak ketidakadilan, korupsi, ketidakpedulian masyarakat dan rapuhnya kerukunan bangsa ?

…. Tuhan mengingatkan kita untuk menjadi pembawa damai, persatuan, sukacita bijaksana dalam tutur kata. Kita masing-masing bisa mulai dari sesuatu yang sederhana dengan senyum, kerjasama, berlaku adil mulai dari lingkup terkecil di sekitar rumah kita, keseharian pekerjaan kita dan masyarakat.  Kita bisa melakukan seperti dalam doa St Fransiskus Asisi “Jadikan aku pembawa damai”

Seberapa seringkah kupakai handphone dan aktif di media sosial (facebook, twitter, whatsapp dll) untuk mem-forward pesan beranting yang seringkali hoax atau mendeskriditkan orang / golongan tertentu?

….. Tuhan mengaruniakan akal budi / talenta kepada kita agar memakai kemampuan untuk dikembangkan dan bijaksana (bdk Mat 25:14-30), untuk menyebarkan virus cinta dan pengharapan bagi yang putus asa.  Cinta lewat kehadiran nyata seseorang di samping kita menjadi sesuatu yang tak tergantikan oleh gadget canggih sekalipun.

Mengapa ada orang yang sering menjengkelkanku, rekan kerja yang mempersulitku dalam pekerjaan, harus mengurus anggota keluarga yang sakit atau dalam jalan kesesatan, ikut berkomunitas tetapi begitu begitu saja dan membosankan?

Mengapa aku diberikan perutusan yang semakin besar sebagai seorang legioner, sebagai perwira presidium, perwira dewan dan tugas karya yang semakin sulit dan penuh tantangan?

….. Tuhan justru hadir lewat orang-orang dan situasi tersebut untuk menyatakan karya Nya lewat Roh Kudus yang berbuah dalam hidup kita, yang nampak ketika kita berusaha untuk semakin sabar, tetap setia, dan tetap sukacita (bdk Gal 5:22-23).  Saat ini pulalah, semangat Bunda Maria yang kita tiru : “Kata Maria “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1: 38).

Maria nekad menyatakan janjinya tanpa tahu persis kesulitan yang dia akan hadapi ketika menjadi ibu Tuhan, tetapi Maria melangkah dengan iman bahwa itulah rencana Tuhan dan pasti Dia akan menyertainya.  Kita diajak melangkah dengan kacamata iman seperti Maria !

Dalam situasi yang demikian, kita tetap yakin bahwa Tuhan tetap menyertai kita dengan cintaNya yang begitu besar, mari kita pun bersyukur dan mohon ampun jika kita pernah marah dan menyalahkan Tuhan atas semua peristiwa tersebut.

Setelah kita melihat nilai rapot dan menghitung berkat yang kita terima di tahun 2017, mari kita membuat resolusi untuk hari baru di tahun 2018.

Sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan anggota Gereja, apa yang akan aku lakukan untuk memelihara alam semesta dan bagaimana menggunakan kekayaan alam dengan bijaksana?  Bagaimana aku berperan untuk menjaga kesatuan bangsa Indonesia, menghidupi nilai-nilai Pancasila dan nilai luhur kemanusiaan ? Bagaimana aku mengembangkan talentaku agar berguna bagi orang lain dan menghadapi perkembangan teknologi ? Bagaimana aku berani menerima dan menjalankan perutusan dengan iman, sukacita dan penuh semangat ?

Legioner Maria yang terkasih, di akhir tulisan ini dan penghujung 2017, saya atas nama Perwira Senatus Bejana Rohani mengucapkan “Selamat Natal 2017 dan Tahun Baru 2018”, semoga damai, sukacita dan pengharapan baru bersama seluruh legioner.

Terimakasih atas semua doa dan perjuangan para legioner dan restu dari anggota keluarga di tahun 2017. Kehadiran anda tentu membawa warna yang indah bagi orang lain, bagi keluarga, Gereja dan bangsa kita.  

Selamat memasuki 2018, semakin dalam mengarungi bahtera kehidupan dengan penuh semangat, cinta, harapan dan iman yang teguh bersama Bunda Maria dalam pimpinan Allah yang Mahakasih.

“Ya Maria yang semula tak bercela, doakanlah kami yang berlindung kepadamu”

Salam dan doa dari Perwira Senatus Bejana Rohani,

Pemimpin Rohani : RD Antonius Didit S.

Asisten Pemimpin Rohani : Octavian Elang

Ketua : L. Jeny T. Dewi

Wakil ketua : Audrey Isabella

Sekretaris 1 : Ignatia Marina

Sekretaris 2 : Caroline Tjindrawati

Bendahara 1 : L. Hasannudin S.

Bendahara 2 : FX Prasetyoadi

Jejak Presidium Bunda Hati Kudus

​Oleh Sdr. Bartolomeus Helan


Legio Maria sudah tidak asing lagi di paroki St. Theresia Prapatan Balikpapan. Persekutuan orang-orang yang bersatu dengan Bunda Maria dalam doa dan pelayanan ini sudah berada di paroki ini sejak tahun 1958. Dalam catatan kronik paroki Klandasan (paroki St.Theresia Prapatan sekarang) terdapat satu Presidium Legio Maria dengan nama Presidium Bunda Pencinta Damai. Namun tidak ada data yang pasti, Legio Maria diperkenalkan oleh siapa dan berapa jumlah anggota waktu itu. Yang pasti presidium ini mengadakan rapat setiap hari Minggu pukul 16.00, serta terlibat aktif dan mengambil bagian dalam tugas pelayanan pastoral. 

Meskipun Presidium Bunda Pencinta Damai menjadi presidium pertama di paroki Prapatan dan juga se-Kalimantan Timur namun statusnya tidak terdaftar di Senatus Bejana Rohani Jakarta. Hal ini membuat Presidium ini hanya terkenang dalam ingatan anak cucu para pendiri yang telah berpulang ke rumah Bapa di Surga. 

Menilik lebih jauh dan “bukan” berdasarkan fakta sejarah, Presidium Bunda Pencinta Damai bertahan sampai sekitar tahun 1972.  Setelah itu Presidium ini dinyatakan “bubar” atau tidak aktif lagi karena sebagian anggotanya mutasi dan meninggal dunia serta sejak saat itu tidak ada lagi kelompok Legio Maria di paroki Prapatan.

Gereja Paroki St. Theresia Prapatan (foto diambil dari google maps)

Api Legio Maria Kembali Bernyala
Ibu Yenny Lesmana datang ke Balikpapan pada bulan Nopember tahun 1978. Beliau merasa kosong dan sepi karena paroki St. Theresia tidak memiliki kelompok doa Legio Maria. Beliau sudah terbiasa dan aktif di Legio Maria sejak tahun 1973 di Semarang sehingga kebiasaan inilah yang mendorongnya untuk menyalakan kembali api Legio Maria yang telah padam. Ia pun berinisiatif membentuk satu presidium Legio Maria di paroki ini. Pada tahun 1980 pastor A.M Sutrisnaatmoka, MSF (sekarang uskup Palangkaraya) bertugas di paroki Prapatan. Ibu Yenny bertemu dengan pastor Sutrisna dan berunding bersama sekaligus membuat rencana membentuk Legio Maria di paroki St. Theresia Prapatan Balikpapan. Pertemuan dan diskusi singkat ini membuahkan hasil positif.

Keluarga Ibu M. E. Jenny Lesmana

Pada tanggal 9 Mei 1981 jam 19.00 WITA bertempat di pastoran paroki St. Theresia Prapatan dibentuklah Presidium Bunda Pecinta Damai (BPD) sebagai presidium senior campuran yang pertama.  Rapat pertama terjadi pada tanggal 17 Mei 1981 jam 16.00. Susunan perwira pertama Presidium Bunda Pencinta Damai sebagai berikut: Pemimpin Rohani: Pastor A. Sutrisno Atmaka, MSF (Uskup Palangkaraya sekarang). Ketua: Saudari Yenny Lesmana. Wakil Ketua: Saudara Paulus Slamet Sabanto. Sekretaris: Saudara Sudarisman. Bendahara: Saudari Veronika Isri Isharjanti. Jumlah anggota pertama yang bergabung dalam presidium ini sekitar 10 orang.

Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF (foto dari katolikpedia.org)


Setelah rapat perdana ini, mulai dilaksanakan rapat-rapat legio secara rutin. Anggota Legio Maria juga terlibat aktif dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di paroki. Dari sini pula terbentuk kelompok Kitab Suci dengan nama kelompok Patrisi. Kelompok ini terbuka umum, kegiatannya diadakan setiap sekali dalam bulan dikoordinir oleh Legio Maria. Kegiatan inti yang dijalankan pada pertemaun Patrisi ini adalah membahas dan mendiskusikan Kitab Suci dan pengetahuan umum tentang Gereja Katolik. Di dalamnya juga dibicarakan karya pelayanan pastoral dan liturgi Gereja. Kelompok Legio Maria merupakan perpanjangan tangan dari pastor paroki. Setiap bulan Mei dan Oktober Legio selalu mengadakan  devosi Maria di gereja untuk umat paroki, biasanya dibuka dengan perarakan patung Bunda Maria dengan memakai tandu dari halaman gereja dan ditahtakan di dalam gereja selama sebulan, di mana setiap hari ada legioner yang memimpin atau membawakan doa rosario secara bergiliran.

Selain tugas pokok rapat dan keterlibatan dalam karya pastoral Gereja, tugas lain yang dijalankan adalah mengunjungi orang sakit di rumah sakit maupun di rumah, melayat dan menghibur warga yang mengalami kedukaan atau menderita, mengunjungi warga gereja yang bermasalah (yang jarang ke gereja) dan acara-acara berkala lain seperti sarasehan dan diskusi, membersihkan gereja, sakristi dan gua Maria. Para anggota presidium Bunda Pencinta Damai juga terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan atau kring masing-masing.

Spontanitas tapi bukan kebetulan

Anggota Presidium Bunda Pencinta Damai semakin hari semakin bertambah banyak. Anggota ini terdiri dari orang dewasa, remaja dan anak-anak. Seiring bertambahnya jumlah anggota dan perbedaan usia dalam Presidium ini maka diputuskan untuk membaginya menjadi dua presidium. Keputusan ini secara spontan dalam rapat Presidium tanpa rencana sebelumnya. Dalam rapat itu juga, semua spontan memberi nama pada Presidium baru yakni Presidium Bunda Hati Kudus. Soal pilihan nama ini tanpa refleksi mendalam. Apakah karena Hatinya sebagai seorang ibu setia mendampingi anak-anak yang datang kepadanya dan tidak pernah meninggalkan mereka di bawah kepak sayap kasihnya? Pertanyaan yang belum bisa terjawab sampai detik ini. Sr. Yohana, MASF dan bu Yenny Lesmana sebagai asisten pemimpin rohani waktu itu memberi kesaksian bahwa Presidium baru dengan nama Bunda Hati Kudus lahir secara spontan tetapi bukan sebuah kebetulan. Demikian juga dengan nama presidium ini. Hal ini pun diyakini sebagai anugerah Roh Kudus melalui doa Bunda Maria yang berkarya dalam diri semua anggota presidium Bunda Pencinta Damai untuk melebarkan sayap kerasulan melalui presidium yang baru.

Presidium Bunda Hati Kudus merupakan presidium junior campuran dengan anggota siswa-siswi SMA, SMP, SD dan kebanyakan dari mereka merangkap sebagai putra-putri Altar (misdinar). Ada satu anggota yang paling kecil berusia 4 tahun atas nama Angelina Novitri. Mereka dipisahkan dari kelompok seniornya dan menyandang status sebagai presidium Junior. Dapat pula dikatakan bahwa Presidium Bunda Hati Kudus adalah anak dari Presidium Bunda Pencinta Damai. Presidium ini dibentuk pada tanggal 9 Agustus 1992 dengan susunan perwira pertama; Ketua: Yosep Pio Erwin, Wakil Ketua: Yohanes Elvianus, Sekretaris: Ida Ayu Christiany, Bendahara: Yosep Pio Erwin, dengan pemimpin rohaninya pastor F.X. Huvang Hurang, MSF, serta asisten pemimpin rohaninya Sr. Yohana, MASF dan ibu Yenny Lesmana. Waktu rapat ditetapkan setiap hari Minggu pukul 09.30 bertempat di belakang pastoran. Presidium ini disahkan oleh Dewan Senatus pada pada tanggal 09 September 1992 karena pada tahun 1992 belum ada dewan Kuria di Balikpapan. Maka sebelum terbentuknya Kuria, kedua presidium ini (BPD dan BHK) mengadakan rapat sebulan sekali di rumah ibu Yenny Lesmana, Jl.Lombok No.21 Gunung Dubs.

Dalam catatan rapat maupun laporan tahunan, perwira-perwira awal berganti begitu cepat. Ada yang menjabat hanya dua tahun. Ada yang setahun lebih atau cuma setahun dan bahkan ada yang beberapa bulan saja. Hal ini dilatarbelakangi oleh urusan sekolah dan mutasi (pindah mengikuti orang tua). Namun pada kenyataannya, mereka begitu disipilin dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas, ‘membesarkan’ presidium baru ini dan selalu semangat dalam mengikuti rapat serta kegiatan-kegiatan kerasulan. Patut juga dicatat bahwa anggota Legio Maria junior ini menjadi anggota misdinar dan anggota Mudika paroki. Kenyataan menegaskan bahwa “Anggota Legio adalah Mudika dan Mudika belum tentu anggota Legio”. Maka dalam organisasi Mudika sebagian besar anggotanya merupakan anggota Legio Maria. Kebanyakan anggota yang ikut bergabung dengan Legio Maria karena diajak teman-teman. Awalnya cuma ikut-ikutan tepi lama kelamaan betah dan mulai aktif. Anggota BHK berkisar antara 30-50 orang. Tetapi yang hadir rapat minimal 20-an orang. Anak-anak sekolah ini merupakan cikal bakal penerus Legio Maria di paroki Prapatan. Adapu tantangan yang dihadapi adalah tidak adanya figure pemimpin yang handal karena tidak ada pengkaderan. Kelompok ini terus berjalan seiring dengan keterlibatan aktif para pendamping dan keluarga yang selalu mendukung dan memberi motivasi agar mereka terus semangat dalam setiap rapat maupun karya pelayanan.

Lebih jauh nilai yang tertanam dalam benak dan diri mereka adalah kebersamaan. Bukan saja soal mengikuti rapat presidium tetapi lebih dari itu ada tujuan lain yakni rekreasi atau bersenang-senang sebagaimana usianya anak-anak. Anggota BHK sangat kompak dan antusias untuk hadir rapat dan kemudian diajak jalan-jalan (wisata) ke km. 15 atau km 45 atau juga ke pantai. Memang dunia anak-anak : 40 % mengikuti rapat dan 60 % rekreasi. Dalam rapat minggu ini, ada rencana untuk minggu depan kemana. Anggota tambah semangat untuk hadir minggu depan karena setelah rapat akan jalan-jalan bersama. Satu kegembiraan yang menjadikan setiap anggota saling meningatkan dan saling meneguhkan. Akan tetapi seiring perjalanan waktu dan dibekali pemahaman dari para pemimpin dan asisten pemimpin rohani, pola ini perlahan-lahan berubah menjadi 80 % menghadiri rapat mingguan, menjalankan tugas-tugas legioner dan 20 % rekreasi. Juga satu pola yang berubah secara dratis ketika anggota Junior ini mulai melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan pola pikir yang lebih matang. Satu yang menarik bahwa tugas pencarian anggota baru menjadi tugas khusus (wajib) yakni satu orang wajib mencari dua calon anggota baru. Maka tidaklah mengherankan bahwa jumlah anggota BHK semakin hari semakin bertambah.  Di samping itu, satu faktor yang mendukung semangat dan keterlibatan para anggota baik waktu rapat maupun kegiatan pelayanan adalah kreatifitas para perwira dan pemimpin serta asisten pemimpin rohani. Karena ketika seorang perwira atau pemimpin dan asisten rohani ‘kurang’ memahami situasi dan keadaan para anggota, maka perlahan tapi pasti jumlah anggota setiap tahun semakin menurun. Bersyukurlah bahwa hal yang spontan ini tidak menjadikan presidium Junior pertama di Kalimantan Timur ini ‘bubar’ melainkan tetap bertahan sampai berubah status menjadi Presidium Senior.

Dari Junior ke Senior

Waktu terus berjalan. Tahun pun berganti pasti. Presidium Bunda Hati Kudus pun larut dalam perputaran waktu dan pergantian tahun. Para anggota yang nota bene usia sekolah perlahan ‘meninggalkan’ presidium ini satu per satu. Mereka pergi bukan karena tidak sanggup lagi mengemban tugas sebagai tentara Maria tapi semata-mata karena tuntutan pendidikan dan mutasi ke tempat tinggal yang baru. Begitu pun ketika mereka pulang dari perburuan cita-cita, mereka  kembali bergabung dengan Presidium ini. Sekitar tahun 1999, presidium Junior ini berubah status menjadi presidium Senior. Anggotanya pun rata-rata sudah memiliki pekerjaan yang tetap.

Presidium Bunda Hati Kudus tetap bertahan namun presidium induknya yakni Bunda Pencinta Damai tidak aktif lagi bahkan dinyatakan bubar sekitar tahun 2001. Namun perlu dicatat bahwa dari presidium induk (Bunda Pencinta Damai) ini, lahirlah presidium-presidum baru (selain BHK) di tiga paroki kota Balikpapan yakni presidium Anuntiata di paroki St. Theresia Prapatan (25 Maret 1994), presidium Ratu Rosari (14 Agustus 1994) di paroki St. Petrus-Paulus Dahor dan presidium Maria Protegente (07 September 2000) di paroki St. Klemens I Sepinggan. Demikian juga berdiri presidium-presidium lain di wilayah Keuskupan Agung Samarinda yang bernaung di bawah Kuria Bejana Kebaktian Balikpapan.

Presidium Bunda Hati Kudus menghadapi pasang surut dalam proses perkembangannya. Pasang surut ini terlihat dalam statistik keanggotaan dan kepengurusan. Jumlah anggota dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Boleh dikatakan anggota yang masuk berbanding terbalik dengan anggota yang keluar. Jumlah yang keluar lebih banyak sementara yang masuk menjadi anggota tidak bertahan lama. Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan adalah tuntutan pekerjaan, kesibukan rumah tangga dan mutasi ke luar paroki maupun daerah. Sementara dalam kepengurusan antara tahun 2007-2009 wakil ketua dan bendahara vakum. Saudari Rosa Kumarurung sebagai wakil ketua naik menjadi ketua merangkap bendahara. Anggota aktif 3 (tiga) orang yang masih terikat kehidupan membiara sebagai aspiran.

Pasukan Maria tidak mengenal kata ‘menyerah.’ Meskipun berbagai keterbatasan dialami dalam roda kehidupan presidium ini, selalu saja ada jalan untuk menjalankan misi perutusan mencari dan merekrut anggota baru. Tugas ini terbilang amat sulit. Setiap anggota aktif harus ‘berperang’ melawan gaya hidup dan mental instan orang-orang zaman ini. Jawaban yang selalu ditemukan dalam perjumpaan dan percakapan adalah ‘tidak ada waktu’ dan ‘sibuk.’ Seandainya ada kesempatan untuk berdebat argumentasi ini bisa dipatahkan. Satu hari terdiru darj 24 jam. Legio hanya butuh 1 jam 30 menit. Berarti masih ada sisa 22 jam 30 menit. Tapi itu sama sekali tidak membuat seseorang untuk mau bertahan selama satu setengah jam untuk berdoa dan mengikuti rapat. Namun anggota Legio Maria tidak pernah ‘memaksa’ seseorang untuk menjadi anggota Legio. Hanya senjata doa yang mampu mengalahkannya. Perlahan namun pasti presidium ini semakin berkembang dengan jumlah anggota aktif berkisar antara 10-15 orang di luar perwira. Itu berarti sejuta tantangan dan kesulitan apapun jika dihadapi dengan senjata doa akan menghasilkan banyak buah dan menjadikan karya Legio Maria berkat bagi semua orang yang dilayani.

Tugas Pelayanan Anggota BHK

Anggota Presidium Bunda Hati Kudus baik waktu masih Junior dan perlahan berubah menjadi Senior memiliki semangat dasar yang sama yakni doa dan pelayanan. Khusus anggota Junior waktu itu, tugas mereka adalah membersihkan gereja, mengunjungi teman yang sakit atau bermasalah, mempelajari buku pegangan, mengikuti kegiatan-kegiatan misdinar, belajar, membantu orang tua, membaca Kitab Suci, sekolah Minggu dan kegiatan di lingkungan masing-masing. Mereka juga diberi tugas kunjungan ke rumah sakit dan penjara tetapi tidak setiap minggu. Selain itu anggota yang menjadi misdinar tugas khususnya mengikuti kegiatan misdinar (latihan ataupun tugas misa). Tugas rutin setiap hari adalah menjadi misdinar dan petugas lektor pada misa harian. Perlu dicatat bahwa ketika mendapat tugas sebagai misdinar atau lektor anggota tersebut sudah berada di gereja satu atau dua jam sebelum misa dimulai. Itu berarti anak-anak ingin agar tugas yang dipercayakan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Satu hal pula yang dibiasakan dalam mempelajari buku pengangan adalah apa yang dibacakan dalam minggu itu kemudian disharingkan pada saat rapat berikutnya. Dengan demikian, hal yang kadang kurang dipahami dijelaskan kembali oleh pemimpin rohani atau asisten pemimpin rohani.

Dalam menjalankan tugas, berbagai kendala ditemukan entah itu secara pribadi maupun bersama. Kendala utama yang dihadapi adalah kemalasan, ketiduran, kelelahan atau les yang bersamaan dengan jam pelaksanaan tugas. Ketika tugas itu gagal dilaksanakan, anggota tersebut merasa sedih. Namun kalau mampu mengatasi kendala-kendala ini dan tugas itu berhasil maka ada kegembiraan dan sukacita. Sementara itu untuk laporan tahunan presidium langsung diserahkan ke Senatus dan tidak ada rapat Kuria karena antara tahun 1992-1994 belum ada dewan Kuria di Balikpapan. Maka pada tahun 1994 Saudara Erwin (BHK) dan Saudara Berni (BPD) menghadiri rapat Senatus Bejana Rohani di Jakarta.

Dalam koridor pelaksanaan tugas anggota Junior dan Senior sedikit berbeda. Beban tugas dan pelayanan pun tidak persis sama. Hal yang menarik yang pernah dilakukan dari anggota yang terdahulu sampai dengan saat ini adalah bakti sosial atau aksi sosial. Memang benar bahwa anggota Legio Maria tidak boleh memberikan apapun (uang maupun barang) kepada siapapun atau menerima apapun dari orang lain namun kegiatan ini sebagai bentuk solidaritas pada masa adven atau masa prapaskah. Perlu dicatat bahwa dalam kegiatan bakti sosial atau aksi sosial ini, anggota Legio tidak pernah mengumpulkan uang ataupun barang pribadi tetapi anggota Legio menggandeng orang-orang yang mampu untuk membantu mereka yang membutuhkannya dan juga bekerja sama dengan Seksi Sosial paroki. Barang-barang (berupa sembako) biasanya dikumpulkan oleh umat (warga paroki) lalu Legio Maria mengambil bagian dalam proses penyalurannnya. Jadi Legio Maria hanyalah perpanjangan tangan dari umat paroki untuk turun menjumpai kaum marginal tersebut. Maka anggota Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus pernah mengadakan aksi sosial saat kunjungan ke stasi Amburawang, aksi sosial ke anak-anak jalanan dan orang-orang pinggiran serta aksi sosial ke panti asuhan.

Dalam rapat Presidium, setiap anggota mendapat tugas pelayanan yang dilaksanakan sepanjang satu pekan dan kemudian pada rapat minggu berikutnya tugas-tugas itu dilaporkan. Tugas-tugas anggota berupa tugas rutin seperti; mendoakan dan mengunjungi orang sakit (di rumah maupun di rumah sakit), mengunjungi anggota auksilier, tugas di gereja (koor, tatib, rias altar, Rosario sebelum misa, kunjungan ke penjara, mengikuti kegiatan ACIES, pendalaman iman, pendalaman Kitab Suci dan rosario di Kring, mengikuti misa legio gabungan tiga paroki, mempelajari buku pegangan dan Kitab Suci, dan lain-lain.

Selain tugas rutin ada juga tugas insidentil berupa; menghadiri rapat dewan paroki, menjadi koordinator safari Rosario, ikut ambil bagian dalam kegiatan kategorial gerejani, bersama pastor atau suster mengantar komuni (untuk jompo dan orang sakit), kunjungan ke kaum marginal, kunjungan ke panti jompo, mengadakan seminar pada penutupan bulan Maria dan HUT Presidium dengan melibatkan semua umat paroki, dll.

Dalam menjalankan tugas-tugas ini masih ditemukan juga kesulitan atau kendala-kendala yang kadang membuat tugas itu gagal dilaksanakan. Adapun kesulitan yang selalu muncul adalah waktu kunjungan yang tidak cocok antara teman. Di samping itu ada urusan keluarga mendadak yang mengharuskan seseorang keluar kota. Perlahan namun pasti, setiap anggota Legioner berusaha untuk mengingatkan temannya dan membuat jadwal kunjungan yang sesuai sehingga tidak menggangu rutinitas masing-masing. Dalam kunjungan itu juga kadang ada penolakan dari orang atau keluarga yang mau dikunjungi. Namun anggota Legio tidak pernah putus asa, bahkan membawakan pengalaman ini dalam doa. Suatu yang menjadi sumber kegembiraan dan sukacita adalah bahwa anggota Legioner mampu menjalankan tugas pelayanan dengan setia. Meskipun ada banyak kesibukan namun masih mempunyai waktu dan kesempatan untuk melakukan kunjungan atau kegiatan aksi sosial, menjumpai orang-orang sakit dan menderita, orang-orang yang haus dan lapar akan sentuhan kasih, mereka yang lemah dan terabaikan, kaum kecil dan kelompok marginal serta mereka yang mengalami problem dalam hidup. Semuanya itu dibawa dalam doa-doa dan juga dalam karya pelayanan sebagaimana ‘seorang gembala’ ……………. (lihat buku pegangan).

Moment 25 tahun : Moment Syukur dan Kenangan

Presidium Bunda Hati Kudus pada tanggal 9 Agustus 2017 genap berusia 25 tahun. Sebuah usia yang tidak terbilang muda pada perputaran waktu zaman yang ditandai dengan pola hidup serba instan. Inilah peristiwa iman penuh nada syukur dan kenangan. Peristiwa bersejarah ini tentu menjadi kebanggaan bagi para anggota Legio Maria pada umumnya dan Presidium Bunda Hati Kudus pada khususnya di paroki Santa Theresia Prapatan Balikpapan. Meskipun kecil dalam segi jumlah namun kehadiran dan keberadaan para legioner ini dapat membantu karya pelayanan pastoral sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Moment 25 tahun ini merupakan kesempatan emas bagi para legioner dan simpatisan untuk mengungkapkan rasa syukur dengan berpegang teguh pada penyerahan diri yang utuh: “Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanmu.”

Moment penuh syukur ini juga bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas karya penyertaan dan rahmat Allah melalui Bunda Maria selama 25 tahun berkarya dan mengemban tugas pengudusan bagi anggota legio dan orang lain. Hal lain yang ingin dicapai adalah meningkatkan kualitas kerohanian para anggota legioner baik Legioner aktif maupun Auksilier (pendoa) dan membangkitkan semangat serta kesadaran baru akan arti dan peran legioner dalam karya pelayanan ke dalam maupun keluar yakni membantu karya Gereja (paroki) secara utuh dan nyata. Lebih jauh perayaan ini juga mau menumbuhkan kembali motivasi awal sebagai anggota legio dan belajar dari kerendahan hati Sang Ratu Bunda Maria untuk setia pada tugas dan tanggung jawab sebagai anggota legioner.

Kegiatan-kegiatan yang dijalankan untuk memaknai moment penuh syukur dan kenangan ini adalah:

  1. Retret Legio Maria di rumah-rumah Ret-Ret Putak-Samarinda pada tanggal 22-23 April 2017. Ret-ret ini didampingi oleh pastor Niko, OMI dengan tema “Kerendahan Hati Maria Menjiwai Semangat Doa dan Pelayanan Legioner.”
  2. Misa pembukaan Bulan Maria pada tanggal 30 April 2017 di gereja St. Theresia Prapatan Balikpapan. Misa didahului dengan perarakan patung Bunda Maria dari depan gereja dan ditahtahkan di panti imam. Di depan patung Bunda Maria ada 10 orang wakil umat yang mewakili 10 etnis atau suku yang ada di Balikpapan mendaraskan doa Salam Maria dengan bahasa daerahnya masing-masing.
  3. Seminar dan Talk Show tentang Bunda Maria pada tanggal 30 April-01 Mei 2017 di aula paroki St. Theresia Prapatan Balikpapan. Seminar ini membahas tentang 4 (empat) Dogma tentang Maria yakni: Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda, Dogma Maria Bunda Allah, Dogma Maria Diangkat ke Surga dan Dogma Maria Tetap Perawan. Nara sumbernya Sr. Maria Erna, PRR. Sementara dalam Talk Show selain keempat dogma ini, ditampilkan juga tentang Bunda Maria dari La Salette dengan nara sumber pastor Erdy E.V, MSF.
  4. Safari Rosario selama bulan Maria. Safari ini diadakan di 10 (sepuluh) lingkungan dalam paroki St. Theresia Prapatan mulai tanggal 02-30 Mei 2017. Dalam safari ini, pastor Andi, MSF, para suster MASF dan FSE menjadi pemimpin ibadah dan membawakan renungan seputar kehidupan iman Bunda Maria.
  5. Perayaan Ekaristi syukur pada hari Minggu, 13 Agustus 2017. Perayaan ini bertepatan dengan Hari Raya Maria Diangkat ke Surga yang dipimpin oleh Mgr. Yustinus Harjosusano, MSF Uskup Agung Keuskupan Samarinda. Sebelum perayaan puncak ini, diadakan novena mulai tanggal 03-11 Agustus 2017. Begitu juga kegiatan latihan koor yang melibatkan anggota Legio Maria tiga paroki di Balikpapan (Prapatan, Dahor dan Sepinggan) dan latihan tarian yang melibatkan anak-anak KOMKA yang nota bene anggota Legio Junior di paroki Prapatan.
  6. Menerbitkan buku kenangan 25 tahun Presidium Bunda Hati Kudus. Sebuah jejak sejarah yang perlu dimaknai untuk dikenang. Meskipun terbatas dalam ruang dan waktu namun panitia 25 tahun berusaha sejauh mampu untuk menyulam benang sejarah yang ‘tercecer’ menjadi sebuah sulaman utuh dalam bentuk buku kenangan.

 

Moment Syukur ini melibatkan semua umat paroki, Legio Maria (aktif maupun auksilier) di wilayah Kalimantan Timur dan anggota Legio Maria yang pernah menjadi pengurus maupun anggota di Presidium Bunda Hati Kudus. Sejuta harapanpun tersemat di tubuh Legioner ini agar semakin hari anggotanya semakin bertambah dan Presidium ini bisa berkembang terus tidak hanya berhenti pada moment syukur ini tetapi terus bergerak menjadi Tentara Maria yang siap sedia bertempur di medan kehidupan zaman ini. Bertekun dalam doa bukan tanpa rintangan. Hidup dalam persekutuan bukan perkara gampang. Setia dalam pelayanan bukan hal yang mudah. Namun melalui madah ini ‘Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanmu’ segalanya menjadi indah. Semakin dekat dan mencintai Bunda Maria berarti semakin dekat dengan Puteranya dan siap melayani dalam kegembiraan dan sukacita. Proficiat atas pencapaian usia yang ke 25 ini dan jayalah terus LEGIO MARIA. 

BUNDA HATI KUDUS, DOAKANLAH KAMI SELALU.


Disusun oleh Sdr. Bartolomeus Helan, kerua Presidium Bunda Hati Kudus dan juga Ketua Kuria Bejana Kebaktian Balikpapan.

Bangga Menjadi Legioner

Oleh Ibu M. E. Jenny Lesmana (Penyunting : Bartolomeus Helan)


“Keluarga kami adalah keluarga Legioner.”

Suami saya menjadi anggota Legio Maria waktu berada di Semarang. Saya sendiri menjadi anggota Legio Maria sejak di Semarang dan ketika berada di Balikpapan. Menariknya, di Balikpapan bukan cuma sebagai anggota tetapi ‘pendiri’ Legio Maria di paroki St. Theresia Prapatan yang kemudian berkembang sampai saat ini. Ketiga anak saya menjadi anggota Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus Prapatan Balikpapan. Anak sulung dan kedua juga pernah menjabat sebagai perwira presidium BHK. Sementara anak bungsu menjadi anggota termuda waktu itu. Mengenang ini saya menjadi bangga sebagai anggota Legio Maria. Bangga bukan karena kehebatan diri sendiri tetapi bangga karena bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan dan Bunda Maria untuk menjumpai orang-orang yang terlantar, masyarakat pinggiran, orang-orang yang terasingkan dan mereka yang kurang beruntung hidupnya. Maka menjadi anggota Legio Maria merupakan sebuah “keuntungan” bukan sebuah “kerugian” (rugi karena ada yang berpikir waktunya sia-sia hanya untuk rapat dan doa).

Keluarga Ibu M. E. Jenny Lesmana

Saya menjadi anggota Legio Maria ketika masih muda dan belum menikah. Pengalaman yang terindah adalah ketika berlutut di depan Bunda Maria dengan Rosario di tangan sambil mendaraskan peristiwa-peristiwa Rosario dan mendokan Catena. Satu rumusan doa yang luar biasa indah yang membuat saya semakin tertarik untuk lebih dekat dengan Bunda Maria. Sejak saat itu doa menjadi bagian dari hidup saya. Dalam situasi dan keadaan apapun saya tidak pernah lupa berdoa dan Rosario kecil menjadi teman setia saya ke mana pun saya melangkah. Doa adalah kekuatan hidup saya.

Ada sebuah pengalaman pribadi saya tentang kekuatan doa itu. Pada suatu hari saya dipanggil untuk hadir dalam wawancara penerimaan karyawan di perusahaan farmasi di Semarang. Orang yang hadir atau melamar pekerjaan jumlahnya 100 orang lebih. Padahal yang diperlukan hanya 2 orang.  Sebelum wawancara saya menyerahkan semuanya pada rencana Tuhan melalui doa kepada Bunda Maria. Pada saat wawancara saya bisa merasakan ketenangan, semua pertanyaan saya jawab dengan tepat dan tenang.  Dan karena doa dan pendampingan dari Bunda Maria, maka saya lulus waktu itu dengan mengalahkan banyak pelamar yang lain. Saya sangat beruntung memiliki seorang Ibu yakni Bunda Maria yang selalu menolong dan membantu saya.

Pengalaman yang sama juga dialami oleh anak-anak saya. Mereka adalah anggota Legio Maria sejak kecil. Sebagai anggota Legio mereka pun terbentuk untuk lebih percaya diri, disiplin dan menyerahkan cita dan masa depan mereka ke dalam penyelenggaraan Tuhan dan perlindungan Bunda Marai. Mereka tidak pernah takut menghadapi wawancara, baik waktu mau masuk ke sekolah SMA Van Lith  ataupun waktu mereka sedang wawancara penerimaan karyawan. Dan inilah hasil ‘pendidikan’ di Legio Maria, yg kadang baru dirasakan kemudian. Biasanya anggota yang tekun dan serius dalam keanggotaan sebuah Presidium Legio Maria, dia tidak akan pernah kesulitan di dalam pekerjaan maupun hubungan dengan masyarakat luas. Ya karena bunda Maria selalu akan mendampingi dan menyertai hidup dan karya para Legioner di mana pun berada.

Untuk membagi waktu sekali lagi semuanya tergantung dari pribadi masing-masing.  Waktu saya masih di Semarang dan belum menikah saya bisa menata waktu saya, terlibat aktif di Legio dan bekerja sebagai karyawati di apotik lalu pindah kerja ke perusahaan Farmasi (PBF). Dan itu tidak ada masalah. Sebab Legio hanya meminta setiap minggunya 1.30 jam untuk rapat mingguan dan tugas dalam 1 minggu minimal 2 jam. Jadi rasanya tidak akan memberatkan, apalagi waktu tugas bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing anggota. Setelah menikah saya pindah ke Balikpapan  saya menjadi ibu rumah tangga dengan anak-anak yang masih kecil-kecil, juga sebagai istri seorang staff di Pertamina, saya tetap terlibat aktif sebagai seorang Legioner, aktif dalam kelompok Dharma Wanita Pertamina, aktif di kelompok persatuan istri di bagian kantor suami. Selain itu saya juga aktif di paroki St. Theresia Prapatan,  aktif sebagai seksi liturgi bagian rumah tangga gereja, alias kerja di belakang altar. Begitupun dirumah saya juga masih ada usaha kecil-kecilan jualan konfeksi, karena sudah terbiasa bekerja maka tidak nyaman kalau hanya berrgantung dengan suami. Semuanya berjalan normal dan tidak ada kendala yang berarti. Hal ini hanya bisa terjadi dan berjalan baik apabila seseorang bisa mengatur waktu, sehingga urusan di rumah beres, anak-anak dan suami aman, dan masih bisa melayani orang lain, baik dalam masyarakat maupun di gereja dan Legio Maria.

Dan dari semua itu jangan pernah lupa bawa semuanya dalam DOA yang selalu akan menguatkan semua kehidupan kita. Doa tidak perlu harus berlama-lama tetapi yang terpenting berdoa dengan hati, sediakan waktu walau sedikit untuk berbicara atau curhat dengan Tuhan, bersyukur kepada Tuhan yang telah menghadiahkan kepada kita seorang Ibu yakni Bunda Maria, yang dari rahimya lahirlah Sang Juru Selamat dunia. Di samping itu contohlah semangat hidup dan kerendahan hati bunda Maria yang sederhana, mengalir saja, tanpa banyak berkeluh kesah dan menyimpan semuanya dalam hati,  dan setia kepada Tuhan dengan melakukan apapun yang Tuhan perintahkan dengan penuh percaya dan tanpa banyak bicara menjawab “Ya” atas panggilan Allah.

Bagi saya rasanya menjadi legioner lebih banyak sukanya, dan sedikit dukanya.  Menjadi legioner itu sukanya, merasa hidup ini lebih bermakna, lebih terarah dan berarti, karena hidup bisa lebih berguna bagi orang lain, bisa lebih dipakai Tuhan untuk melayani, dan masih banyak lagi sisi positif sebagai seorang Legioner. Dukanya hanya kalau tidak diterima dan dimengerti oleh orang yang ingin dikunjungi dan bantu. Di dalam Legio Maria seorang Legioner dipersiapkan benar-benar sebagai tentara Maria. Jadi segala pelayanan dan karya baik di dalam kehidupan Gereja maupun di dalam masyarakat atau pekerjaan profesi semuanya bisa lebih baik, lebih semangat untuk melayani dengan hati yang tulus, lebih bisa menghargai waktu dan orang lain yang mungkin berbeda pendapat, keyakinan atau tingkat sosial.  Sebab di dalam rapat Legio itulah pendidikan dasar sebagai seorang legioner ditekankan dan menjadi bagian dari perilaku hidup. Maka sangat disayangkan kalau ada anggota legio yang malas atau bosan untuk hadir dalam rapat mingguan Legio. Lebih dari itu tidak ada ruginya kita ikut aktif di Legio Maria, jangan pernah bosan dan jenuh. Itulah para anggota Legio Maria, aturlah waktu kalian, dengan kerja dan doa, serta teruslah menjadi anggota Legio Maria yang setia.

Akhirnya, saya mengucapkan Proficiat dan Selamat Ulang Tahun ke-25 Presidium Bunda Hati Kudus. Jadikanlah hati kita tempat penyalur kasih Allah untuk semua orang yang membutuhkannya. Tetaplah bangga menjadi Legioner di mana pun berada. AVE MARIA.

Catatan redaksi : Sharing ini dimuat dalam buku kenangan “Perayaan Syukur 25 tahun Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus Prapatan – Balikpapan”


Ibu M. E. Jenny Lesmana adalah inisiator pendiri Presidium Bunda Hati Kudus di Paroki St. Theresia, Prapatan Balikpapan. Beliau juga menjadi Asisten Pemimpin Rohani di presidium ini sejah tahun 1992 hingga 2001. Kini beliau berdomisili di Bandung.

 

Tidak Mendengarkan

Sharing dari Sdri. Rosita Taufik.


Pada suatu sore saya terbangun dari tidur dan betul-betul sangat terkejut ketika melihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 15.45 wib padahal sore itu saya harus memimpin rapat presidium pukul 16.00 WIB.

Saya terburu-buru mandi dan berpakaian, lalu pergi. Namun ketika saya sampai, rapat telah dimulai. Tanpa memperhatikan mereka sedang berdoa lalu saya sendiri mulai berdoa pembukaan dari lembaran doa Tessera, karena setiap legioner yang terlambat, wajib untuk mendoakan doa pembukaan terlebih dahulu.

Tetapi setelah saya selesai dengan doa pembukaan saya merasa bingung ketika saya mendengar mereka doa penutup. Saya melihat berganti-gantian ke jam tangan dan ke jam dinding yang ada di ruangan rapat presidium, apakah saya salah melihat jam? Seingat saya, saya hanya terlambat 20 menit dan tidak seharusnya saat itu sudah doa penutup.

Saya tertunduk lemas, perasaan saya begitu bingung, kesal, jengkel dan marah bercampur aduk. Saya pikir sejak kapan rapat boleh mereka buat demikian, sesuka hati tanpa alasan rapat langsung ditiadakan. Sedangkan saya sebagai ketua presidium tidak diberitahu dan diminta persetujuannya.

Saya melirik kepada semua yang hadir, rupanya wakil ketua pun terlambat, jadi yang memimpin rapat pada saat itu adalah Bendahari yang boleh dikatakan cukup senior jika di bandingkan dengan saya. Tetapi bagaimana hal ini bisa terjadi ????

Begitu mereka selesai doa penutup, langsung saya tegur dengan nada yang cukup kasar dan pedas, masak legioner yang telah senior tidak tahu peraturan rapat. Segala macam kemarahan lainnya keluar dari mulut saya tanpa sedikitpun saya mau mendengarkan keterangan dari mereka. Saya tetap bersikeras hati dengan prinsip saya, yaitu walau apapun yang terjadi rapat harus berjalan sebagaimana mestinya.

Setelah emosi saya agak reda, semua anggota duduk kembali dan mereka mengatakan bahwa mendadak ada permintaan dari anggota Santo Yosef agar legioner bersedia untuk doa bersama di Sunggal karena saat itu hanya 3 orang anggota St.Yosep yang hadir.

Kebetulan sekali sekretaris Presidium juga merupakan sekretaris di Himpunan Keluarga Santo Yoseph. Jadi teman-temen di presidium tanpa pikir panjang langsung meniadakan rapat Legio dan diganti dengan doa Tessera.

Setelah mendengar semuanya itu hati saya masih tetap mendongkol, saya merasa perlu ketegasan sebagai seorang ketua, saya masih tetap tidak mau mendengarkan alasan mereka. Harga diri saya terganggu dengan peristiwa ini .

Semua anggota menyabarkan saya dengan mengatakan : “Sudahlah” tapi saya tetap masih dalam keadaan emosi. Akhirnya saya baru sadar ketika saya diberitahu bahwa sekretaris tersebut telah menangis, dan ketika itu timbullah penyesalan pada diri saya .

Saya baru merasakan bahwa ia mempunyai maksud baik. Lalu saya menghampirinya untuk berkomunikasi. Begitu melihat wajah teman itu menangis yang selama ini adalah orang yg cukup periang, saya jadi ikut terharu. Baru saya sadari bahwa saya tidak mau tahu dan kurang mau mendengarkan alasan yang diberikan oleh teman-teman, padahal tujuan  dan maksud sebenarnya adalah baik.

Akhirnya kami berdua saling berangkulan dan menangis sambil meminta maaf. 

Saya sangat menyesalkan peristiwa ini. Inilah akibat tindakan saya yang tidak mau mendengarkan orang lain terutama salah satu pengurus yang selalu mendampingi saya.

Tugas berdoa untuk umat yang dipanggil oleh Bapa di surga juga merupakankan suatu kewajiban bagi seorang Legioner. Dan sebenarnya saya harus bersyukur dan berterima kasih bahwa dia tidak terlambat seperti saya dan wakil Ketua.

Walau peristiwa ini terjadi 1992 dan telah 25 tahun berlalu tapi masih tetap dalam kenangan saya. Saudari wakil ketua kini menetap di Jakarta dan saudari Bendahari yang lebih senior dari saya kini di Pekanbaru, sedangkan saudari sekretaris akan kembali dari Jakarta dalam waktu dekat ini.



Sdri.Rosita Taufik adalah Ketua Regia Ratu Para Syahid Medan periode Maret 2016 – Februari 2019.

Scroll Up