Surat Konsilium 30 Juli 2017

​Legion of Mary 

30 July 2017. 

Yang Terkasih, Sister Ignatia, 

Atas nama Konsilium Legionis di Dublin dan juga atas nama saya pribadi, saya sampaikan salam kepada Pemimpin Rohani, Ketua, Semua perwira, dan semua anggota Dewan Senatus Jakarta. 

Sejumlah besar tamu hadir dalam Rapat Konsilium di bulan Juli, termasuk 4 pastor, satu diantaranya bahkan dari Uganda, seorang wanita dari Timur Tengah, dan seorang tamu dari Argentina dan 3 orang dari Inggris. Semua disambut hangat oleh Ketua Konsilium yang baru Saudari Mary Murphy (yang sebelumnya adalah Bendahara Konsilium) 

Saudari Sile Ni Chochlain yang sebelumnya telah melengkapi karyanya selama enam tahun sebagai Ketua Konsilium, terpilih sebagai Wakil Ketua Konsilium. Kita mensyukuri terpilihnya kedua perwira ini yang telah memberi pelayanan terbaik di waktu lalu dan sekarang mengambil peranan penting termasuk juga tanggung jawab yang berat untuk memimpin Konsilium. 

Pastor Bede McGregor, Pemimpin Rohani Konsilium, memberikan penghargaan yang tinggi untuk mereka berdua (Sister Mary dan Sister Sile) atas pengabdian mereka, juga kepada Saudari Aileen O Donoghue (mantan Wakil Ketua) atas pelayanan yang telah diberikan kepada Konsilium lebih dari lima puluh tahun dan juga kepada Saudari Alice Creaton yang terpilih sebagai Sekretaris II yang bertanggung jawab atas bacaan-bacaan atau surat menyurat. Juga kepada Saudari Annete Mulrooney yang telah menyelesaikan 6 tahun pelayanannya bersama Konsilium

Bacaan Rohani diambil dari bab 33.13 hal 224 – Kehidupan Iman para Legioner. Dalam Alokusionya, Pastor Bede menjelaskan bahwa tugas utama para legioner adalah untuk mendapatkan kekudusan, sehingga kita bisa menjadi Santo/Santa dan kemudian menolong orang lain untuk juga dapat menjadi Santo/Santa. Pastor Bede mengatakan Saudara Frank Duff pernah mengutip kata-kata dari Pastor Faber bahwa Satu Santo berharga sejuta orang Katolik yang biasa-biasa saja, dan Santa Teresa dari Avila mengatakan bahwa satu jiwa yang bukan Santo tetapi berusaha mencari kekudusan akan sangat lebih berharga sekali di hadapan Allah daripada ribuan orang yang hidup dalam keadaan biasa-biasa saja.

Pastor Bede mengatakan bahwa Allah telah menciptakan kita untuk menjadi Santo-Santa, Tuhan telah wafat untuk kita agar kita dapat menjadi Santo-Santa, Dia telah memberikan hadiah Roh Kudus yang menjadi alasan utama dari semua kekudusan, dan Allah Tritunggal telah juga diberikan kepada kita dalam Ekaristi dan dalam Sakramen-Sakramen yang lain. Kita telah diberikan kehendak bebas untuk memilih bekerja sama dengan rahmat Allah yang tiada taranya. 

Tugas Evangelisasi membutuhkan orang-orang Kristen yang berjuang untuk meraih kekudusan sebagai tujuan utama dalam hidup mereka. Kita dapat memohon kepada Santa Perawan Maria, Ibu Surgawi kita untuk menolong kita meraih kekudusan itu. 

Selama Bulan Agustus ini, kita akan memperingati beberapa pesta liturgi, antara lain: Tuhan Yesus Dimuliakan, Bunda Maria Diangkat ke Sorga dengan Mulia, Santa Perawan Maria Ratu, Wafatnya Yohanes Pembaptis, dll. 

Di Irlandia, peringatan 1 abad penampakan Bunda Maria Fatima kepada Lucy, Fransesco, dan Jacinta akan dikenang dengan pendarasan doa Rosario di beberapa tempat di Irlandia pada tanggal 13 setiap bulan dari Mei sampai Oktober – kecuali di bulan Agustus karena di bulan Agustus tersebut, ketiga anak ini ditahan dan diinterogasi pada tanggal 13 Agustus, sampai akhirnya Bunda menampakkan diri pada tanggal 19 Agustus kepada mereka bertiga. 

Ada banyak laporan-laporan menarik ke Konsilium. Misalnya: terbentuk 3 Regia baru di Kolombia (Amerika Latin), Doa untuk rakyat Venezuela agar mereka mendapatkan kedamaian karena banyak sekali anak muda mati karena kekacauan politik di Venezuela. Legioner di sana menyelenggarakan doa bersama pada tanggal 5 Juli yang lalu dan kemudian 10 presidium terbentuk baru-baru ini dan tumbuh secara aktif dengan banyak anggota auksilier yang ikut bergabung. 

Juga dilaporkan beberapa upaya tugas seperti Exploratio Dominicalis dan Pentatahan Hati Kudus Yesus dilakukan di beberapa negara Amerika Latin. 

Selandia Baru dan Australia juga memberikan laporan tugas yang menarik. 

Saya menutup surat ini dan mohon agar rahmat dan berkat Allah yang besar untuk kita semua. 

Catherine Donohoe 

Koresponden Konsilium

Maria Mediatrix ; Bunda Maria dalam Pandangan Bernardus Clairvaux

Oleh : Fr. Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI


Bernardus dari Clairvaux (1090-1153) adalah seorang anggota Ordo Cistercian yang aktif dalam politik Gereja dan urusan birokrasi kepausan. Dia memiliki peran penting dalam pengenalan devosi kepada Bunda Maria. Paham Mariologi Bernardus didasarkan pada devosi pribadinya terhadap Maria. Cintanya terhadap Maria tidak dapat dipisahkan dari hidupnya.

Maria Model Gereja dan Mediatrix

Bernardus memandang Maria sebagai seorang figur yang patut dihormati. Perhatian pokoknya dalam diri Maria ialah mengenai kualitas keperawanan dan ketaatannya yang penuh. Karakter-karakter seperti inilah yang membuat Maria dijadikan sebagai contoh atau model bagi Gereja (type of the Church). Dia sangat menganjurkan umat untuk meniru kerendahan hati Maria. Tentang hal ini, dia mengatakan, “Jikalau kalian tidak sanggup mengagumi keperawanan Maria, persembahkanlah dirimu untuk meneladan kerendahan hatinya, hal itu akan cukup bagimu”. Bagi Bernardus, orang awam tidak diharapkan untuk meniru persis perilaku Maria dalam hal inkarnasi. Namun, pada saat yang sama, dia juga terus menyerukan suatu keyakinan umum pada masa itu, yaitu gelar “tunas” untuk Maria, yang dinubuatkan oleh para nabi[1].

Maria, melalui kesederhanaannya mampu menjalankan kesalehan dan ketaatannya. Peristiwa Maria Menerima Kabar dari Malaikat merupakan peristiwa yang menunjukkan sikap keteladanan Maria sekaligus juga sebagai awal kehidupan Yesus. Kesediaan Maria (fiatnya) dalam peristiwa itu juga menunjukkan peran yang penting demi keselamatan Gereja di masa mendatang, yakni penghiburan bagi yang susah hati, penebusan bagi yang tertindas, pembebasan bagi tawanan, keselamatan bagi semua keturunan Adam. Hal ini juga menjunjukkan aspek genetrix dari hubungan Maria dengan Gereja (eklesiologi).

Contoh keteladanan yang ditunjukkan oleh Maria, yang umum dibahas pada abad pertengahan, yaitu kisah Maria berdiri di kaki salib.  Jika peristiwa Kabar Gembira menandakan permulaaan inkarnasi dan datangnya rahmat Allah di dunia, maka, peristiwa penyaliban menandai titik atau batas akhir. Secara khusus, abad pertengahan, melalui peritiwa ini menyebut Maria sebagai Ibu Berdukacita (Mater Dolorosa). Nubuat Simeon dalam Lukas 2:35, dipandang sebagai bagian dari tantangan perjalanan Maria. Bernardus menjelaskan, ketika Jesus ditikam dengan tombak oleh serdadu, bagian tubuh yang ditikam itu bukanlah hati Jesus, melainkan hati atau jiwa Maria. Hal ini menjadi lambang kemartiran spiritual bagi Maria sebagai bentuk penderitaannya di kayu salib. Yesus dan Maria sama-sama menderita dan mati dalam peristiwa salib.

Cara pandangan seperti ini dianggap penting karena ada dua ide atau peristiwa yang penting dihayati. Pertama, secara ragawi, terdapat kemiripan antara Yesus dan Maria. Kedua, alasan bahwa penderitaan adalah hal yang baik bagi jiwa dan pada akhirnya menghantar kedekatan individual menuju keselamatan. Maria turut menderita karena penderitaan Puteranya. Cintanya pada Sang Putera menunjukkan kesatuannya dengan Yesus dalam penderitaan. Peristiwa ini (dengan makna yang dalam) menunjukkan bahwa Maria sungguh-sungguh bunda Kristus dan Gereja.

Ketika Maria diserahkan kepada Yohanes, sebagai perwakilan Para Rasul, sebagai ibu-nya, Dia sedang memberikan Maria kepada kelompok orang-orang yang percaya (yang kemudian menjadi Gereja). Penderitaannya di kaki salib, yakni penderitaan seorang ibu yang kehilangan anaknya, menggambarkan Maria turut ambil bagian dalam peristiwa tersebut. Dalam hal ini, dengan meneladani tindakannya, Maria ’mengizinkan’ orang-orang Kristen menjadi lebih dekat dengan Kristus. Jika mereka sanggup merasakan penderitaan dan rasa empatinya, mereka juga bisa dekat dengan Kristus. Hal inilah yang menjadi ciri kemartiran spiritual yang dapat diperoleh oleh setiap orang Kristiani, sekalipun mereka tidak dapat menanggung penderitaan Kristus yang sesungguhnya. Maria dipandang sebagai teladan kesalehan bagi orang-orang Kristiani, terutama dalam mengalami penderitaan yang dilaluinya. Dengan meneladan Maria, orang Kristen mampu memperoleh kedekatan dengan Kristus dan dengan demikian mengalami kedekatan dalam keselamatannya. Penderitaan dipandang sebagai bagian yang bersifat produktif dalam perjalanan menuju Allah. Rasa sakit dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran jiwa. Tujuannya ialah untuk meneguhkan orang-orang Kristiani (Gereja) untuk bertindak seperti Maria.

Paham lain yang berkembang di abad Medieval sehubungan dengan devosi kepada Bunda Maria ialah gelarnya sebagai pengantara (mediatrix) antara Kristus dan Gereja. Istilah ini memiliki dua arti yang berbeda. Yang pertama mengacu pada peran yang dimilikinya dalam peristiwa Annunciation, yakni fiatnya. Melalui peristiwa inkarnasi, rencana keselamatan Allah terjadi melalui diri Yesus Kristus. Dengan menyebutnya sebagai sebagai tempat suci dan juga bait kehidupan dan penebusan semua manusia, Maria secara langsung terkait dengan sejarah keselamatan. Hal ini sesuai dengan model pengantara dari hubungan Maria dan Gereja. Pengertian kedua berasal dari paham mengenai peran Maria sebagai ibu yang berdukacita dan sebagai ibu yang sederhana, perawan, dan yang penuh kasih. Sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja-Nya, Maria bertindak sebagai pengantara demi kepentingan orang-orang Kristen di hadapan penghakiman Puteranya, Sang Penyelamat. Sebagai pengantara (mediatrix) Bunda maria terlibat dalam peristiwa keselamatan Gereja.

Dalam hal ini, Bernardus menggambarkan Gereja sebagai Bulan dan menempatkan Maria di atasnya, terpisah dari Gereja. Gereja memohon dengan perantaraannya, rahmat dari Puteranya, seolah-olah Gereja tidak dapat melakukannya tanpa pertolongan Maria. Hal ini bisa dipahami karena Maria telah lebih dahulu menerima rahmat Allah dan pada akhirnya turut bertindak dalam membangun Gereja. Gereja turut diselamatkan karena tindakan Maria. Tentang hal ini, dalam pengajarannya, Bernardus menyebutkan, “Dia adalah pengantara kita, yang melalui dirinya, kita memperoleh rahmat Allah dan melalui dirinya, kita menerima Yesus di rumah kita”. Baginya, Maria menyediakan rahmat Allah dan belas kasih Puteranya bagi Gereja.

Gambar-gambar religius (di abad medieval) yang umum digunakan untuk kegiatan-kegiatan devosi ialah pemahkotaan Maria di surga. Secara tradisional, hubungan antara Maria dan Gereja tampak dalam suatu keyakinan bahwa Maria menjadi perwakilan dari Gereja dalam gambar tersebut. Gambar Maria ini cocok dengan gelar mediatrix, yakni menempatkan Maria sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja. Dia berada di samping Kristus. Cintalah yang membuat Maria menuntun, membimbing dan melindungi Gereja, menyatu dengan kemuliannya di surga. Cinta dan perlindungannya berasal kekuatan dan rahmat Allah. Melaluinya, kita telah menerima rahmat Allah dan juga mampu menyambut Tuhan Yesus di rumah kita.

Bernardus yakin bahwa selama Gereja melakukan tindakaan-tindakan seturut kehendak Allah dan tetap meneladan Maria sebagai pengantara, yang ditahtakan di surga dan dianugerahi  oleh rahmat Allah, mereka tidak akan dibiarkan menderita dan sendirian. Hal ini meningkatkan keyakinan Bernardus mengenai pandangannya mengenai Maria sebagai “Bintang Laut”, gambaran Maria sebagai pelindung bagi mereka yang tersesat di laut atau terancam badai laut. Hal ini menjadi kiasan akan Gereja yang sedang melalui masa-masa sulit.

[1]Nubuat tersebut terdapat dalam Kitab Yesaya yang mengatakan,  “sebuah tunas akan tumbuh dari tunggul Isai” (Yes. 11:1).


Fr Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI; lahir di Purbasaribu, 27 September 1989. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Oblat Maria Imakulata (OMI) Yogyakarta. Beliau adalah asisten pemimpin rohani Komisium Bintang Timur Bogor tahun 2014-2015.

Ibadat Sejati Kepada Maria dan Penghambaan

Alokusio oleh RP. Agustinus Maming, MSC pada Rapat Kuria Bejana Kerahiman – Tanjung Selor, 22 Juli 2017


Bacaan Rohani : Buku Rahasia Maria oleh St. Louis Marie Grignion de Montfort, halaman 20, 23 – 24.

I. Praktek yang Sempurna dari Ibadat Sejati

Hai orang pilihan, ibadat sejati itu adalah memberikan diri seutuhnya sebagai hamba kepada Maria dan melalui dia kepada Yesus. Lalu kamu melakukan segala-galanya dengan Maria, dalam Maria, oleh Maria, dan untuk Maria. Kata-kata ini saya jelaskan di bawah ini :

Kamu harus memiliki suatu hari tertentu. Pada hari itu kamu memberikan diri secara sukarela dan terdorong oleh cinta. Kamu membaktikan dan mempersembahkan segala-galanya tanpa kecuali tubuh dan jiwamu, seluruh hari kekayaan materialmu seperti rumah, keluarga dan pendapatan, demikian juga harta kekayaan spiritual, seperti jasa, rahmat, kebijaksanaan, dan silihan.

II. Penghambaan

Ibadat sejati ada dalam pembaktian diri kepada Maria sebagai hamba. Perlu diperhatikan bahwa ada tiga macam penghambaan :

  1. Penghambaan berdasarkan kodrat : menurut arti semua orang, yang baik dan yang jahat, adalah Hamba Allah.
  2. Penghambaan karena paksaan : setan-setan dan orang-orang terkutuk adalah hamba menurut arti ini.
  3. Penghambaan karena cinta dan pilihan bebas : dan karena cara inilah kita mesti membaktikan diri kepada Allah melalui Maria. Inilah cara yang paling sempurna yang dapat digunakan manusia sebagai makhluk untuk membaktikan diri kepada Sang Pencipta.

Baiklah kita perhatikan pula, bahwa terdapat perbedaan besar antara pelayan dan hamba. Seorang pelayan menuntut upah untuk pelayanannya, sedangkan seorang hamba sama sekali tidak. Seorang pelayan, jika ia mau, bebas meninggalkan majikannya, dan ia hanya bekerja untuk sementara saja. Sedangkan seorang hamba tidak dapat meninggalkannya begitu saja. Ia milik tuannya seumur hidup. Seorang pelayan tidak memberikan kewenangan atas hidup matinya, tetapi seorang hamba memberikan seluruh dirinya, sehingga tuannya dapat membunuhnya tanpa digugat oleh pengadilan.

Dengan mudah kita dapat mengerti, betapa penghambaan karena paksaan mengakibatkan ketergantungan yang paling ketat. Ketergantungan seperti ini sebenarnya hanya bisa terjadi dalam hubungan manusia dengan pencipta-Nya. Itulah sebabnya bentuk penghambaan ini tak terdapat di kalangan orang Kristen, tetapi di kalangan orang Turki dan kafir.

Berbahagialah, ya seribu kali berbahagialah orang Kristiani yang lapang hati, yang membaktikan diri kepada Yesus melalui Maria sebagai hamba karena cinta, setelah dalam pembaptisannya ia melepaskan diri dari penghambaan setan yang lalim.

 


RP. Agustinus Maming, MSC adalah Pemimpin Rohani presidium-presidium di Paroki Santo Eugenius de Mazenod, Tanjung Redeb, Kalimantan Timur,

 

“Jadilah Legioner yang Militan!” : Laporan Kunjungan Kuria Bejana Kerahiman ke Presidium-Presidium di Tanjung Redeb

Pada hari Jumat, 14 Agustus 2017, seluruh perwira Kuria Bejana Kerahiman – Keuskupan Tanjung Selor, didampingi oleh RD. Stephanus Sumardi (Pemimpin Rohani Kuria), dan Br . Albertus Sigit Pramana (Asisten Pemimpin Rohani Kuria) melakukan kunjungan untuk pertama kalinya ke presidium-presidium di Tanjung Redeb.

Kuria yang disahkan pada 6 November 2016 ini memiliki area tugas yang mencakup seluruh paroki di Keuskupan Tanjung Selor. Akan tetapi hingga saat ini baru tiga paroki yang sudah memiliki presidium, yakni Paroki Santo Eugenius de Mazenod Tanjung Redeb, Paroki Santa Maria Assumpta (Katedral) Tanjung Selor, dan Paroki Santa Maria Imakulata Tarakan. 

Kuria ini patut dibanggakan karena perkembangannya yang sangat pesat dan semangatnya yang selalu on fire. Di paroki Tanjung Redeb sendiri dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, telah terlahir lima presidium senior dan tiga presidium junior yang tersebar di pusat paroki dan stasi-stasi sekitarnya.

Kiri ke Kanan : RD Agustinus Maming, MSC-Sdr. Irwanus Kewa Tukan (wakil ketua)-Sdri. Katarina Lazar (bendahara)-Sdri. Marina (sekretaris 1 Senatus)-Sdr. Patrisius Patal Wutun (sekretaris)-Sdr. Bene Lazar (ketua)

Meskipun harus menempuh perjalanan yang jauh dan berkelok-kelok dari Tanjung Selor menuju Tanjung Redeb, bahkan hingga isi perut terkuras karena mabuk perjalanan, namun semangat para perwira Kuria tak padam. Semangat para tentara Maria di Tanjung Redeb pun tak kalah besarnya. Mereka menerjang teriknya siang dan dengan sabar menanti kehadiran para perwira Kuria di gedung serba guna paroki. Inilah semangat legioner yang rela berjerih lelah dan bekerja keras. Total sekitar delapan puluh legioner yang hadir dan mengikuti pertemuan gabungan presidium.

Dalam kesempatan yang istimewa ini hadir pula RP Yoseph, MSC (Pastor Kepala Paroki), RP Agustinus Maming (PR presidium-presidium se-Tanjung Redeb) serta anggota dewan paroki St. Eugenius de Mazenod.


Dalam sambutannya Pastor Yoseph berpesan kepada seluruh legioner agar menjadi “Legioner yang Militan”, yang selalu siap sedia membawa dan menularkan Kasih Kristus dimana saja berada.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sejarah Legio Maria oleh Sdr. Patris, struktur organisasi Legio Maria oleh Br. Sigit, dan ditutup oleh tanya jawab dan diskusi.

Presentasi Sejarah Legio Maria oleh Sdr. Patrisius Patal Wutun.

Tepat pada pukul 15.00 WITA pertemuan gabungan presidium se-Tanjung Redeb resmi dimulai. Dalam pertemuan ini dilakukan pengesahan atas seluruh presidium di Paroki St. Eugenius de Mazenod Tanjung Redeb, beserta para perwiranya. Pengesahan resmi bagi presidium dan perwira akan dilaksanakan pada rapat kuria hari Sabtu, 22 Juli 2017.


Pengesahan secara simbolik atas presidium se-Paroki St. Eugenius de Mazenod, beserta para perwiranya

Semoga momen kunjungan dan pengesahan secara simbolis ini semakin menambah semangat dan mempererat rasa persaudaraan para legioner di Kuria Bejana Kerahiman, khususnya di Tanjung Redeb. 

Proficiat!!

AVE MARIA.


Kontributor : Sdr. Patrisius Patal Wutun dan Br. Albertus Sigit Pramana, MSF.

BBM : Butir-Butir Motivasi

Dibawakan oleh RP Hadrianus Tedjoworo, OSC pada acara planning day Kuria Bunda Penasehat yang Baik. 
Bandung, 15 Januari 2017

Evaluasi sering terlalu mencari kekurangan dan hal-hal yang negatif. Mungkin lebih baik mengambil inspirasi serta motivasi dari istilah apresiasi → menghargai usaha yang sudah dilakukan dan apa yang masih bisa dikembangkan dan sampai saat ini baru merupakan potensi. Potensi-potensi apa sajakah yang bisa makin mengembangkan Legio Maria?

Tidak seperti kelompok-kelompok kategorial gerejawi lainnya, Legio Maria tidak berorientasi pada kesuksesan, melainkan lebih pada ketulusan pelayanan dan kesetiaan dalam diri para anggotanya. Kelompok ini bertujuan pada kerasulan Gereja: mewartakan Kabar Baik kepada sesama (Buku Pegangan Bab 2). Diandaikan ada kerja sama dengan hierarki Gereja, sehingga legioner tidak semestinya bekerja sendiri, atau hanya mewakili kelompoknya sendiri. Semangat Maria yang menjadi teladan para legioner bisa menjadi inspirasi, yakni mengimani bahwa bagi Allah, segala sesuatu adalah mungkin (BP Bab 3). Itu berarti bahwa keberanian lebih daripada ‘kewajiban’ adalah penggerak kita untuk selalu maju dan mengembangkan kerasulan kita sebagai legioner.

Butir-butir motivasi:

  1. Bentuk-Bentuk Kerasulan: Legio Maria punya keuntungan, yakni bisa masuk ke mana saja, baik itu liturgi, bina iman anak, katekese, pendampingan, pertemuan lingkungan, pelayanan pastoral, dan lain-lain.

  1. Memperkenalkan Spiritualitas Maria: konsekuensi dari fleksibilitas kehadiran kita ialah: membawa pengaruh dari Spiritualitas Maria. Artinya, kita mesti menimba kembali inspirasi dari Kitab Suci dan devosi-devosi Maria, kemudian membawanya dalam keterlibatan di berbagai kelompok untuk menginspirasi bentuk-bentuk kerasulan mereka juga!

Maria punya kekuatan yang besar dalam dirinya, yakni kemampuan untuk mempengaruhi, bahkan juga mempengaruhi Yesus, Puteranya (Yoh. 2). Apabila devosi Maria kurang berkembang di suatu lingkungan, biasanya itu karena kehadiran para legioner tidak mendorong tindakan-tindakan pelayanan yang seharusnya sudah terjadi di wilayah itu (bdk. BP Bab 5 No. 6). Devosi bukan hanya tampak dari penampilan seorang legioner yang berdoa, tetapi lebih-lebih dari bagaimana ia mempengaruhi dengan spiritualitas Maria, kelompok atau tempat apapun yang didatanginya itu. Dalam bahasa pengajaran Kristus, kita diajak menjadi seperti ‘garam’ yang mengasinkan sekitarnya. Kalau kita sendiri tidak terkesan dengan semangat Maria, kita tidak akan mempengaruhi siapapun. Kita bisa mulai dengan membuat refleksi, apakah kehadiran kita sebagai legioner dikenali secara baik oleh kelompok-kelompok yang lain?

 

taken from www.legionofmarytidewater.com
  1. Sebagai seorang kristiani: ketika menjalankan tugas, legioner mestinya memakai semangat Maria yang merangkul kerasulan dan kehidupan kristianinya (BP Bab 6. No. 3). Maksudnya ialah, bahwa tugas-tugas dijalankan bukan hanya sebagai ‘legioner’, tetapi sebagai seorang kristiani, pengikut Kristus. Kita tidak perlu menjadi ‘eksklusif’ sebagai legioner. Bukankah setiap orang kristiani seharusnya memandang Maria sebagai model hidup kristiani?

Kadang-kadang kita perlu belajar dari keseharian para anggota auxilier yang pertama-tama menjalani kehidupan imannya sebagai pengikut Kristus. Cara hidup dan semangat hidup mereka yang bersahaja dapat menjadi cara kita melayani, yakni dengan tidak berusaha menonjolkan ‘hasil’ atau ‘jumlah statistik’, melainkan mengedepankan keteladanan. Apakah hidup sehari-hari kita bisa dicontoh oleh orang lain? Mungkin yang dikhawatirkan di masa kita ini ialah kalau terjadi pemisahan tindakan kita sebagai legioner dan sebagai orang Katolik. Oleh karenanya apa yang kita rencanakan sebagai legioner Maria di masa mendatang ini sebisa mungkin semakin melibatkan umat Katolik yang lain. Kerasulan kita perlu semakin inklusif.

  1. Daya tarik: kebanyakan presidia menghadapi masalah yang serupa, yakni kesulitan menambah jumlah keanggotaan. Apakah proses merekrut anggota baru sama saja dengan kelompok lain? Mungkin tidak. “Bahaya besar” yang disebutkan oleh Buku Pegangan (Bab 10 No. 3) ialah ketika kerasulan ini “tidak mempunyai daya pikat sehingga kaum awam tidak bereaksi terhadap tujuan luhur yang terkandung di dalamnya”. Daya tarik rohani tidak bisa diselesaikan hanya dengan membuat sebanyak mungkin program kerja.

Daya tarik rohani, seperti disinggung Kardinal Riberi, mungkin muncul karena (1) kualitas keanggotaan, dijaga oleh (2) doa dan pengorbanan diri yang berlimpah, dan (3) dalam kerja sama dengan hierarki. Para legioner bisa merenungkan: mengapa aktivitas di paroki seringkali lebih menarik daripada kegiatan-kegiatan yang ditawarkan oleh Legio Maria? Barangkali sebagian dari ke-3 hal di atas kurang kita tekankan dalam perencanaan kegiatan tahunan. Salah satu karakter kegiatan yang membuat orang tertarik untuk terlibat ialah: relevansi. Orang akan menoleh dan memperhatikan sesuatu kalau itu menyentuh kerinduan pribadinya. Kita bisa menduga bahwa di zaman ini orang merindukan suasana doa, misalnya, tapi kita masih harus menemukan problem-problem personal dan aktual untuk dibawa ke dalam doa itu. Oleh karenanya, penentuan tema kegiatan-kegiatan legioner menjadi sesuatu yang sangat penting untuk menyapa kerinduan terdalam banyak orang. Sebagai sebentuk evaluasi, kita bisa meneliti kembali tema-tema yang kita angkat untuk pertemuan Patrisi, apakah akan menarik banyak orang, ataukah hanya menarik bagi diri kita sendiri.

  1. Persaudaraan dan keakraban: kedua semangat ini tidak pernah gagal membesarkan kelompok kerasulan apapun dalam Gereja. Selama persaudaraan dijaga dan diperjuangkan, suatu kelompok akan terus hidup. Semangat ini dikisahkan dengan indah dalam Kis 2:46-47, yakni ketika para murid setelah kenaikan Yesus ke surga, bertekun dan sehati berkumpul dalam kegembiraan dan ketulusan hati. Lukas mencatat, “mereka disukai semua orang”! Itulah kesaksian yang paling kuat dari Gereja Perdana, dan seharusnya menjadi kesaksian para legioner.

Dalam semangat seruan dan surat apostolik Paus Fransiskus, para legioner mesti belajar hidup bersama dalam persaudaraan. Hidup bersama adalah sebentuk kesaksian yang sangat efektif kepada dunia. Orang akan segera melihat kalau kebersamaan kita, misalnya, adalah palsu. Kebersamaan ini diuji dalam menjalankan tugas, dalam berdoa/rapat, dalam merencanakan kegiatan, dan kehadiran di berbagai kelompok kerasulan lain. Salah satu tantangan yang sangat sulit terjadi dalam kenyataan ialah saling mendukung. Jauh lebih mudah “saling mengkritik”. Mestinya sikap saling mendukung dan melengkapi inilah penafsiran kita atas penekanan keakraban seperti yang disebut oleh BP Bab 39 No. 8). Keakraban itu bukanlah soal banyak tertawa dan bercanda, tetapi adalah perkara bekerja sama menemukan kehendak Tuhan. Kalau dalam persiapan kegiatan para legioner justru saling mengkritik, bagaimana itu akan menjadi kesaksian bagi orang lain? Setiap kali ada usulan dari seseorang, mari kita memberikan apapun sumbangan (pikiran dan tindakan) untuk melengkapi dan merealisasikannya. Dalam kenyataan, saling mendukung itu bukan hal yang mudah, karena kita sering lebih ingin tampil beda dan membuktikan kemampuan diri.


Pastor Hadrianus Tedjoworo, OSC adalah Pemimpin Rohani Kuria Bunda Penasehat Yang Baik – Bandung Barat 1, Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Keuskupan Bandung

Pengetahuan dan Kesadaran Tindakan

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 29 dan 31, Bab 6, Subbab 2: ‘Meniru kerendahan hati Maria adalah akar maupun instrumen kegiatan Legioner.”

Pengetahuan dan Kesadaran Tindakan

Tanggung jawab kesaksian Legio Maria terletak di atas pundak masing-masing pribadi legioner. Kita masing-masing dipanggil untuk bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup Legio Maria. Tanggungjawab ini harus diwujudnyatakan dalam tindakan yang bersungguh-sungguh sebagai buah dari pengetahuan. Pengetahuan yang tidak diikuti tindakan bukanlah sikap iman yang bermutu.

Dalam ‘tindakan’ ini juga terkandung nilai pengorbanan. Mengikuti retret, rekoleksi, pendalaman iman, mengerti arti sakramen-sakramen adalah hal baik, namun hal itu belumlah cukup bila tidak diikuti dengan tindakan-tindakan konkret sebagai kesaksian iman Katolik.

Pada peristiwa perkawinan di Kana, Bunda Maria tahu bahwa keluarga pengantin tiba-tiba mengalami kesulitan karena kehabisan persediaan anggur, namun Bunda Maria tidak diam, ia mengambil tindakan dengan berbicara kepada Yesus. Tindakan Bunda Maria ini membuahkan mukjizat pertama Yesus.

Santo Petrus juga merupakan teladan sebagai orang yang selalu bertindak. Ia tak hanya puas dengan tahu siapa Yesus yang menderita, wafat, dan bangkit kembali, namun ia bertindak dengan antusias mewartakan kabar keselamatan itu. Sikap penuh tindakannya membuat Ia dipercaya sebagai paus pertama – bahkan membawa kita juga mengenal Yesus sebagai juru selamat.

Ada kata bijak dari Mgr. Ignatius Suharyo: “Dunia bukanlah masalah; yang menjadi masalah adalah ketidaksadaran Anda”. Ketidaksadaran adalah sikap masa bodoh yang berbahaya.

Marilah kita sebagai duta Kerahiman Allah tidak hanya puas dengan tahu, namun juga mengembangkan kesadaran bertindak sungguh-sungguh untuk bersaksi atas iman keselamatan kita.

Oleh : Frater Robertus Guntur

Surat Konsilium April 2016

Kepada Saudara Octavian
Sekretaris Senatus Jakarta

Legio Maria, 23 Maret 2016

Yang terkasih Saudara Octavian,

Atas nama Konsilium Legionis, saya mengucapkan Selamat Sukacita Paskah kepada Ketua, Pemimpin Rohani, Para Perwira, dan seluruh anggota Senatus Jakarta. Saya berterimakasih atas ketaatan dan dedikasi untuk pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan para kudus-Nya melalui keanggotaan Legio Maria.

Masa Pra Paskah telah menjadi bagian dari persiapan Pekan Suci dan hari-hari yang istimewa di mana kita mengenang perjamuan terakhir dengan penetapan Ekaristi, dan penderitaan, kematian serta kebangkitan yang mulia dari Juru Selamat kita Yesus Kristus.

Selama masa Pra Paskah, Kuria saya, melakukan retret sehari. Ini adalah kesempatan untuk menerapkan saran dari Pemimpin Rohani, berdoa, berkontemplasi dalam renungan, pemeriksaan batin, Sakramen Rekonsiliasi diikuti dengan Misa dan Komuni Suci. Saya harap para Legioner di mana pun mereka berada melakukan retret sekali dalam setahun.

Dalam surat saya yang terakhir, saya menyampaikan tentang pentahtaan hati Yesus Yang Maha Kudus di rumah-rumah (lihat Buku Pegangan bab 37.3 dan bab 40.2). Itu sangat berguna dan menjadi berkat dan meningkatkan kerohanian untuk para orang dewasa dan anak-anaknya. Dan saya yakin ini harus dipromosikan (ini pernah dilakukan di rumahku di mana saya tumbuh dulu dan masih ada di rumahku sekarang).

Perwira yang telah selesai masa jabatannya selama 3 tahun haruslah dilangsungkan pemilihan segera. Para perwira presidium yang ditunjuk haruslah sesuai Buku Pegangan bab 14. Para perwira dewan haruslah ditunjuk dengan mengikuti pemilihan sesuai dengan Buku Pegangan bab 28.

Rencana Pembentukan Regia untuk Kalimantan. Mohon saya diberitahu perkembangannya.

Notulensi dan Statistik. Saya menantikan untuk menerima notulensi dari Senatus dan juga statistik yang telah saya minta pada surat saya yang terakhir.

Rapat Konsilium tanggal 20 Maret 2016. Ada beberapa laporan yang menarik. Doa-doa dipimpin oleh Romo Bede McGregor OP. Jumlah hadirin sangat banyak sekali, termasuk 14 legioner dari Jerman dan 2 legioner Afrika yang datang dari Antwerpen, Belgia di mana mereka akan mengunjungi Perancis, dan mereka menceritakan negara-negara Afrika dan menjadi koresponden untuk negara-negara itu atas nama Konsilium. Semuanya disambut hangat oleh Saudari Sile, Ketua Konsilium.

Saya menutup surat ini, semoga Anda semua diberkati oleh Allah Yang Maha Kuasa dengan berkat-Nya yang melimpah selama Pekan Suci dan Sukacita istimewa untuk Minggu Paskah seraya kita merayakan kebangkitan Tuhan Yesus.

Hari Minggu setelah Minggu Paskah adalah – seperti kita ketahui bersama – didedikasikan untuk Kerahiman Ilahi. Banyak orang berdoa novena Kerahiman Ilahi sejak Jumat Agung. Dunia kita yang penuh masalah ini membutuhkan Kerahiman Ilahi dan pertolongan-Nya setiap waktu.
`
Berkat Tuhan,
Catherine Donohoe

Surat Konsilium Februari 2016

Kepada Saudara Octavian
Sekretaris Senatus Jakarta

Legio Maria
Februari 2016

Yang terkasih Saudara Octavian,

Atas nama Konsilium saya sampaikan salam bagi Ketua, Pemimpin Rohani serta seluruh perwira dan anggota Senatus Jakarta. Terima kasih atas notulen yg disampaikan (sampai dengan Oktober 2015) dan saya akan sangat senang menerima notulen-notulen yg berikutnya.

Saya yakin dengan anggota yang setia dan tugas-tugas yg telah dilaksanakan akan menyenangkan hati Bunda Maria dan Allah Bapa. Kunjungan presidium adalah salah satu tugas kunjungan yang dilakukan pada notulen Oktober. Kunjungan presidium sangatlah penting dan harus dilakukan sedikitnya satu kali atau jika memungkinkan 2 kali setahun untuk memberikan semangat dan memastikan bahwa presidium sudah sesuai dengan sistem. Kunjungan dilakukan oleh 2 orang, perwakilan dari kuria – lihat Buku Pegangan bab 28 butir 11. (Semua perwira dewan tentunya cukup mengenal bab 28 – Pimpinan Legio dan butir 11 harus dibaca oleh pengunjung sebelum mengunjungi presidium.)

Tugas Legio meminta setiap anggota pelaksanaan suatu tugas aktif mingguan yang bernilai seperti yang disampaikan dalam buku pegangan, “semangat kerasulan awam yang paling baik dikembangkan dengan merasul” lihat bagian I bab 12, lalu Instruksi Yang Tetap bab 18 butir 7, bab 37 dan bab 39 butir 6. Kegagalan melakukannya akan mengakibatkan penurunan semangat dan kehilangan anggota. Sekarang kita berada dalam permulaan tahun yang baru, mungkin suatu permenungan yang khusus perlu diberikan pada bab-bab tersebut dan lihat bagaimana suatu perkembangan baik dapat terjadi sehubungan dengan tugas-tugas.

Mengenai Perkembangan Regia Kalimantan saya akan senang sekali jika dapat mengetahui perkembangan situasinya.

Saya menghadiri Rapat Konsilium pada Minggu 17 Januari 2016. Banyak yang hadir, termasuk Pastor John Peyton dari Birmingham, Englan; beliau mantan anggota legio. Ada juga para tamu dari Zimbabwe, Vietnam, Skotlandia dan beberapa propinsi di Irlandia. Semua tamu diterima dengan baik oleh Sdri Sile Ni Chochlain, Ketua Konsilium.
Seperti biasa, ada laporan menarik dari belahan dunia, misalnya, laporan dari dewan di Afrika yg melakukan 700.000 kontak dan (dari 700.000 orang tersebut), 8500 orang mulai mengikuti katekumen. Beberapa laporan menyebutkan soal pelaksanaan Projek Exploratio Dominicalis. Laporan dari El Salvador menyebutkan tentang pelaksanaan doa rosario di tempat umum dan kontak pada pekerja seks komersial. Pastor John Peytin menyarankan untuk melakukan sembah bakti pada Hati Yesus yang Maha Kudus dalam tiap-tiap keluarga. Dalam pengalamannya hal ini membuat pasangan-pasangan yg belum menikah (namun sudah tinggal serumah) mau untuk dinikahkan.

Propinsi di Irlandia mengunjungi 7 keluarga Protestan dan menerima seorang ibu masuk dalam Gereja Katolik. Beberapa dari laporan mereka sebagai berikut : melakukan persiapan anak-anak untuk menerima Komuni Pertama, membawa patung Bunda Maria ke sekolah dalam bulan Mei, peminjaman buku-buku Katolik dan buklet Legio di pasar-pasar – ini memberikan kesempatan untuk bertemu dan berbicara mengenai iman Katolik dan mencari anggota baru.

Peringatan 300 tahun St Louis Marie de Montfort akan dilaksanakan 28 April 2016.

Alokusio P. Bede tentang medali wasiat. Beliau mengingatkan kita untuk menyebarluaskannya dan mendoakan Doa Memorare kepada Bunda Allah dan Bunda umat manusia. Dia di surga dan setiap rahmat yang kita mohonkan dapat ia berikan kepada kita. Kematian Yesus di salib, penebusan kita adalah sumber segala rahmat.
Saya harap setiap anggota legio mengenakan medali wasiat yang telah diberkati Imam. Dua hati dalam medali menunjukkan cinta Allah dan Bunda Maria kepada kita. Kerahiman adalah nama lain dari Cinta dan tahun ini adalah Tahun Kerahiman Allah. Banyak mukjizat terjadi sehubungan dengan medali wasiat.

Proyek bagi orang Muda
Di Irlandia beberapa kegiatan dilakukan bagi orang muda:
1. Konferensi orang muda 1 hari di Athlone
2. Konferensi orang muda di Universitas Queen di Belfast
3. 3-4 hari pertemuan orang muda di Sligo

Audit
Diharapkan setiap dewan dan presidium melakukan audit tahunan dan melaporkannya pada dewan yg lebih tinggi.

Saya pernah meminta statistik data senatus, saya akan senang sekali menerimanya segera.

Saya ingin tahu apakah Anda menerima buletin Konsilium tiap bulannya? Saya juga akan senang menerima Buletin Senatus.

Demikian surat dari saya. Berkat dari Allah dan perlindungan dari Bunda Maria Ratu Surga dan Bumi bagi Anda semua.

Catherine Donohue
Koresponden Konsilium

Gereja memiliki dua bentuk ‘penyembahan pada Allah’

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 262, Subbab 6: ‘Bekerja bagi orang yang paling malang dan terlantar.”

Gereja memiliki dua bentuk ‘penyembahan pada Allah’

a. Liturgi Resmi Gereja Katolik
Liturgi resmi meliputi sakramen-sakramen. Liturgi resmi sifatnya baku dan tak bisa diubah. Nilai sakramen-sakramen sifatnya sangat mendasar dan tak tergantikan. Perumpamaan dalam hidup sehari-hari: Liturgi resmi adalah makanan wajib harian kita (makan pagi, makan siang, dan makan malam dengan bahan makanan pokok nasi, sayur, lauk pauk). Makanan wajib ini mutlak harus ada untuk menjamin kelangsungan hidup badan kita.

b. Devosi-devosi.
Dalam hidup sehari-hari devosi diumpamakan sebagai makanan tambahan (snack). Snack bukanlah makanan wajib. Snack boleh ada dan boleh tidak ada. Ketiadaan snack tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidup badan kita. Snack sifatnya memberi variasi cita rasa. Tidak pernah ada berita orang meninggal karena tidak makan snack, namun kematian karena kelaparan bisa terjadi bila seseorang tidak makan makanan baku (makan nasi dan kelengkapannya). Devosi-devosi memiliki peluang berkembangnya perasaan berlebihan (terhadap Bunda Maria).

Perasaan yang berlebihan mengandung bahaya karena perasaan bisa menipu. Dalam prakteknya orang-orang yang terseret dalam perasaan berlebihan akan menganggap hal-hal (yang nampaknya) mistik sebagai tanda keimanan. Orang-orang demikian senang sekali menyebarkan berita-berita penampakan (Maria) yang banyak beredar, atau kesaksian-kesaksian gaib/mimpi yang sulit dipertanggungjawabkan. Kita harus mengendalikan dorongan perasaan berlebihan dengan akal sehat.

Suatu kali Santo Filipus Neri mendapatkan penampakan Bunda Maria. Namun Filipus bukannya hanyut dalam kekaguman pesona penampakan itu. Filipus justru meludahi penampakan itu. Tiba-tiba saja panampakan itu mendadak berubah menjadi wajah aslinya – Si Iblis Jahat.

Devosi yang benar harus membawa kita pada mutu pelayanan yang bertumbuh, yakni pelayanan kepada mereka yang terpinggirkan. Tahun ini ditetapkan oleh Gereja sebagai tahun Kerahiman, Legio Maria sebagai pembawa wajah Gereja harus mampu menampilkan kerahiman Allah kepada setiap orang. Dalam menghadirkan kerahiman ini, kita harus melakukannya karena dorongan ilahi dalam hati, bukan karena ditugaskan oleh presidium. Tindakan karena sebatas ditugaskan adalah tindakan yang kering dan tidak membawa pada pengenalan pada Allah. Marilah berdevosi secara tepat dengan dasar iman Katolik yang tepat.

Oleh : RD Petrus Tunjung Kusuma

Gereja adalah persekutuan umat beriman

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 70, Subbab 6: ‘Buah-hasilnya adalah Idealisme dan Tindakan yang Penuh Semangat.”

Gereja adalah persekutuan umat beriman

Sebagai pesekutuan, maka gerak langkah setiap bagian dalam pesekutuan ini harus senada dengan gerak langkah Gereja. Apa yang menjadi sukacita dan penderitaan Gereja seyogyanya menjadi sukacita dan penderitaan kita semua – termasuk Legio Maria. Misalnya: Bila Gereja gigih memperjuangkan perhatian pada lingkungan hidup, maka hendaknya Legio Maria juga mengambil peran memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup. Den gan demikian Legio Maria harus mampu mengemban tugasnya sebagai pembawa ‘wajah Gereja’ .

Home vs House

Home adalah kata bahasa Inggris yang berarti rumah, dalam arti suasana kebersamaan, ikatan kasih,dan semangat saling mendukung. Home menunjukkan aspek-aspek kejiwaan dan kerohanian dari para penghuninya. Sedangkaun House adalah kata bahasa Inggris yang berarti rumah dalam arti ‘benda yang kelihatan dan sifatnya mati’. House merujuk pada tembok, atap, pintu, jendela, toilet, pagar, dan lain-lain. Legio Maria sebagai komunitas umat beriman selayaknya mampu menjadikan presidium/kuria/komisium/regia/senatus menjadi sebuah HOME alih-alih menjadi sebuah HOUSE. Dengan demikian Legio Maria menjadi rumah kita yang mampu memberikan kekuatan, ikatan kasih, dan daya dukung bagi kita dalam menghadapi kehidupan. Dari Legio kita menimba inspirasi hidup dan menjadikannya sumber pertumbuhan iman. Mengelola Legio Maria sebagai house tidak akan membuat para penghuni bertumbuh. Jadi mari kita upayakan agar Legio Maria adalah HOME bagi para anggotanya.

Oleh : Frater Robertus Guntur