Kehormatan Seorang Legioner

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria Hal 114, Bab 17 “Jiwa-jiwa legioner yang sudah meninggal”

Kehormatan kita terletak pada tuntasnya menjalankan hidup sebagai seorang legioner. Untuk itu perlu dimengerti bahwa ber-legio bukanlah sekedar berkegiatan mengisi hidup, melainkan sebuah cara hidup.

Legio Maria sesungguhnya adalah wadah pendidikan, penyiapan, dan pembentukan bagi kita untuk dilayakkan menikmati kehidupan abadi kelak. Kadang kita tak mengerti mengapa Legio Maria penuh dengan hal-hal yang kurang mengenakkan. Hal serupa terjadi pada para murid Yesus (Mateus, Bartolomeus, dkk) pada awal mengikuti Yesus. Yesus mendidik, menyiapkan, dan membentuk mereka untuk kehidupan kekal. Kadang Yesus juga ‘tak mengenakkan’ bagi para murid. Pernah Yesus menghardik Petrus dengan kata-kata;”Enyahlah wahai kau iblis!”

Namun para murid itu kini menjadi orang-orang kudus, kita tak lagi menyebut mereka sebagai Mateus atau Petrus, tetapi Santo Mateus dan Santo Petrus, demikian pula dengan para kudus yang lain. Mereka menjadi santo sebagai buah nyata proses pembentukan yang dilakukan Yesus. Legio Maria pun mendidik kita seperti halnya Maria mendidik Yesus agar kita bertumbuh. Menghayati Legio Maria sekedar wadah ber-kegiatan yang penuh aturan adalah sikap keliru. Ber-legio harus menghasilkan pertumbuhan sehingga kita makin mirip Kristus dan layak menyatu dengan Kristus.

Oleh : RD Petrus Tunjung Kusuma

Asal usul Bulan Oktober ditetapkan sebagai Bulan Rosario

Penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario berkaitan dengan peristiwa pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen. Terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria.

Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto.

Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.

Sumber : katolisitas.org

http://www.katolisitas.org/faqs/mei-dan-oktober-sebagai-bulan-maria

Kunjungan ke Sekolah dan Pusat Rehabilitasi Anak Yayasan Bhakti Luhur

Kunjungan ini dilakukan oleh Presidium Regina Coelorum, Paroki Santo Thomas Rasul, Bojong Indah, Jakarta Barat (Komisium Maria Immaculate-Barat 2). Berawal dari cerita salah satu anggota mengenai kondisi sekolah dan anak-anak yang memiliki cacat ganda yaitu fisik dan mental, maka kami pun tergerak untuk datang berkunjung.Terletak di JL RE Martadinata 50B, Ciputat,Tangerang, sekolah yang juga memiliki Panti Asuhan ini cukup luas dan suasananya sangatlah asri.

Di lobi sekolah terpajang hasil mewarnai anak-anak akan Bunda Maria, Rosario, dan St Vincentius A Paulo serta prakarya mereka dalam memperingati Bulan Kitab Suci Nasional yang lalu dan juga jejeran piala atas hasil prestasi para murid. Terasa sekali bahwa mereka didik dengan baik secara spiritual maupun akademis.

Ketika tiba kami langsung menemui Sr Caecilia yang merupakan pimpinan di tempat ini. Kami dibagi berpasang-pasangan datang ke kelas-kelas dan mengikuti proses belajar di sana. Di kelas yang saya ikuti, ada 6 orang anak. 2 di antara mereka belajar mewarnai, ada yang membaca komik, dan ada yang menyusun peralatan sekolahnya. Mereka dibagi menurut hasil tes IQ dalam kelas tersebut ada 2 anak yang hanya mampu mengenal angka 1, namun gurunya bilang “Jika itu kemampuan mereka, ya sudah tidak perlu dipaksa”. Belajar menerima kekurangan orang lain dan tidak memaksakan kehendak kita, itulah pesan moral yang saya petik ketika mengikuti kelas ini.

Sesudah itu anak-anak dan kami yang berkunjung dikumpulkan di Aula, ternyata ada juga Umat Lingkungan Santa Katarina dari Paroki St Andreas yang datang berkunjung. Di Aula, anak-anak mempersembahkan lagu buat kami yang berkunjung. Di situ saya melihat bahwa Tuhan Maha Adil, anak-anak yang secara fisik dan mental memiliki keterbatasan, ada yang tdak bisa melihat namun bisa bermain keyboard dan drum dengan sangat baik serta ada juga yang bisa menyanyikan lagu Mandarin dengan lafal yang baik. Selain itu, mereka memiliki kemampuan lain yang luar biasa, yaitu kemampuan untuk bersyukur. Ketika ditanya, Siapa yang luar biasa baik?Mereka pun serempak menjawab: Tuhan Yesus!

Kami yang awalnya datang berkunjung dengan maksud menghibur mereka malah kami yang terhibur dan kami yang diteguhkan. Kami merasa sungguh bersyukur bisa diberi kesempatan berkunjung, bisa belajar dari mereka yang dengan segala keterbatasannya namun dapat merasakan berkat Tuhan yang begitu melimpah atas diri mereka. Semoga kami yang datang berkunjung tidak hanya berhenti sampai pada kunjungan ini namun juga bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk dapat membagikan kunjungan ini kepada yang lain sehingga semakin banyak orang yang datang berkunjung dan berbagi kasih dengan mereka.

Aku Percaya akan Kehidupan Kekal

gambar

Pengharapan Kristiani

Setelah kita membahas apa yang kita percayai, yaitu dari: Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus, Gereja, maka kini kita melihat artikel terakhir dari Syahadat, yaitu “Aku Percaya akan kehidupan kekal”. Kehidupan kekal ini adalah kehidupan yang seharusnya dengan dengan penuh pengharapan dinantikan oleh seluruh umat beriman, karena Kristus sendiri telah menjanjikannya sesuai dengan rencana karya keselamatan-Nya. Pengharapan Kristiani mengarahkan pandangan kita kepada perkara-perkara yang di atas (lih. Kol 3:1) yang kekal adanya.

1. Pengharapan akan janji Kristus

Allah menghendaki agar semua manusia memperoleh kehidupan yang kekal (1Tim 2:4), sehingga Ia sendiri mengutus Putera-Nya yang tunggal sehingga barang siapa percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan memperoleh kehidupan kekal (lih. Yoh 3:16). Demikian pula, Kristus menjanjikan kehidupan kekal bagi umat-Nya (lih. 1Yoh 2:25) dan menganugerahkan rahmat keselamatan ini dengan kedatangan-Nya ke dunia, kerelaan-Nya menderita dan wafat di kayu salib. Kristus berkata bahwa Ia sendiri akan mempersiapkan tempat bagi kita (lih. Yoh 14:2).

Janji ini tidak akan mungkin diperoleh oleh manusia dengan kekuatannya sendiri, namun manusia diberikan jalan untuk mencapainya. Keselamatan ini hanya mungkin dicapai karena Tuhan sendiri telah memberikan kasih karunia kepada umat-Nya (Ef 2:8), iman yang bekerja melalui kasih (lih. Gal 5:6), percaya dan dibaptis (lih. Mrk 16:16). Rahmat Allah ini mengalir kepada umat-Nya melalui sakramen-sakramen maupun dalam bentuk rahmat – baik rahmat pembantu maupun rahmat pengudusan dan juga karunia-karunia Roh Kudus.

Karena yang menghalangi manusia untuk mencapai kehidupan kekal adalah dosa – terutama dosa berat – maka sudah seharusnya Kristus juga memberikan jalan bagi umat manusia untuk memperoleh pengampunan dosa, sehingga manusia tidak kehilangan harapan untuk mencapai kehidupan kekal. Oleh karena itu, berdasarkan rahmat yang mengalir dari misteri Paskah dan kuasa yang diberikan kepada Gereja (lih. Yoh 20:21-23; Mat 16:16-19), maka umat Allah dapat memperoleh pengampunan dan Sorga kembali terbuka bagi umat Allah.

2. Pengharapan berdasarkan iman

Rasul Paulus menegaskan kepada kita bahwa kita harus berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, karena Kristus – yang adalah Allah – setia terhadap janji-Nya (lih. Ibr 10:23). Karena Allah sendiri menginginkan kebahagiaan kita, maka sudah selayaknya Ia menyediakan segala sesuatu untuk mencapainya. Dengan demikian, kalau kita bekerja sama dengan rahmat-Nya, kita akan memperoleh kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya. Santo Agustinus mengatakan, “Saya tidak pernah berharap untuk mendapatkan pengampunan atau Sorga ketika saya berfikir tentang dosa-dosa berat yang saya lakukan, namun saya menaruh pengharapan bahwa melalui jasa Kristus, saya memperoleh keselamatan dengan pertobatan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.”

3. Pengharapan menjadi nyata dengan melaksanakan kehendak Allah

Walaupun Tuhan menginginkan bahwa semua orang diselamatkan, namun kita tahu bahwa tidak semua orang diselamatkan (lih. Mat 7:21-23). Dalam perikop tentang penghakiman terakhir, Yesus mengatakan, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:46) Kesadaran bahwa di samping ada Sorga yang telah dijanjikan oleh Allah, terbentang juga satu kenyataan keberadaan neraka, maka sesungguhnya kita tidak boleh lalai untuk senantiasa melakukan perintah Allah untuk terus bertumbuh dalam kebajikan. St. Bernardus menuliskan “Pengharapan tanpa kebajikan adalah satu kepongahan.” (In Cantica, Serm. 80).

4. Pengharapan dan menghindari dosa

Rasul Paulus, yang sungguh luar biasa dalam karya pewartaan, mengingatkan kita semua agar kita mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (lih. Flp 2:12). Ini disebabkan karena walaupun Allah setia terhadap janji-Nya, namun kita sering tidak setia terhadap Allah dengan dosa-dosa yang kita lakukan. Itulah sebabnya, Gereja Katolik melalui Konsili Trente mengajarkan bahwa tidak ada seorangpun yang mempunyai kepastian yang sempurna bahwa dia akan termasuk dalam bilangan orang-orang yang terpilih atau bahwa dia akan bertekun terus dalam kebajikan sampai ia wafat (Konsili Trente, 6, Kan. 15,16). Rasul Paulus berkata, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1Kor 10:12). St. Yohanes Krisostomus menuliskan bahwa harapan dan ketakutan adalah teman; ketika mereka meraja, mahkota Sorga secara mudah akan didapatkan.

Dengan demikian, percaya akan belas kasih Allah dan takut akan keadilan Allah, sesungguhnya harus berjalan beriringan. Mengutamakan keadilan Allah sampai menimbulkan ketakutan namun lupa akan belas kasih Allah akan menimbulkan keputusasaan. Sebaliknya, hanya meyakini akan keselamatannya karena belas kasih Allah namun melupakan bahwa Allah yang sama juga dapat menghakimi kita, dapat membuat kita terlena sehingga membawa kita kepada penghukuman kekal.

5. Pengharapan diperlukan untuk keselamatan

Rasul Paulus mengajarkan bahwa kita diselamatkan dalam pengharapan (lih. Rm 8:24). Seseorang yang tidak mempunyai pengharapan akan berputus asa dan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan baik ataupun berusaha menghindari dosa. Tanpa pengharapan, maka seseorang dapat kehilangan semangat untuk berjuang. Oleh karena itu, dalam salah satu tulisannya, St. Agustinus mengajarkan bahwa kekudusan yang membawa kita pada keselamatan didirikan di atas iman, dibangun dalam pengharapan, dan diselesaikan dalam kasih. Setelah kita sampai ke Sorga, maka pengharapan tidak lagi diperlukan karena kita telah sampai pada tujuan.

6. Pengharapan kristiani adalah pemberian Allah yang mengalir dari rahmat pengudusan

Pengharapan Kristiani sebagai salah satu tiga kebajikan ilahi diberikan secara cuma-cuma kepada kita pada saat kita dibaptis, yang olehnya pada saat bersamaan kita juga menerima rahmat pengudusan. Semakin rahmat pengudusan meningkat maka pengharapan Kristiani juga akan meningkat, sehingga pengharapan untuk mencapai kehidupan kekal juga menjadi satu kerinduan.

Apakah Kehidupan kekal

Di dalam perikop tentang penghakiman terakhir, Yesus berkata, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:46) Dua kekekalan ini dihadapkan kepada manusia, yaitu siksaan/kematian kekal dan kehidupan kekal (bdk Ul 30:19). Bagi yang menerima kehidupan kekal, dia akan memperoleh kebahagiaan yang sempurna dan tanpa batas di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan yang menerima siksaan kekal akan menerima penderitaan abadi di neraka.

Kebahagiaan abadi di Sorga

Ketika umat Katolik menerima berkat perjalanan sebelum meninggal dunia, pastor akan mendoakan doa penyerahan jiwa sebagai berikut (dikutip dari KGK 1020):

“Bertolaklah dari dunia ini, hai saudara (saudari) dalam Kristus, atas nama Allah Bapa yang maha kuasa, yang menciptakan engkau; atas nama Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, yang menderita sengsara untuk engkau; atas nama Roh Kudus, yang dicurahkan atas dirimu; semoga pada hari ini engkau ditempatkan dalam ketenteraman dan memperoleh kediaman bersama Allah di dalam Sion yang suci, bersama Maria Perawan yang suci dan Bunda Allah, bersama santo Yosef dan bersama semua malaikat dan orang kudus Allah. … Kembalilah kepada Penciptamu, yang telah mencipta engkau dari debu tanah. Apabila engkau berpisah dari kehidupan ini, semoga Bunda Maria bersama semua malaikat dan orang kudus datang menyongsong engkau. … Engkau akan melihat Penebusmu dari muka ke muka…” (Doa penyerahan jiwa).

Dari doa ini, kita melihat bahwa bagi umat Kristen, kematian bukanlah merupakan satu akhir, namun menjadi satu awal untuk memulai hubungan yang lebih erat dengan Allah di dalam kehidupan kekal di Sorga. Bagaimanakah kehidupan kekal ini? St. Thomas Aquinas dalam bukunya – The Aquinas Catechism – menggambarkan kehidupan kekal ini sebagai berikut:

1. Kesempurnaan pandangan akan Allah. Persatuan dengan Allah adalah melihat Allah sebagaimana adanya Dia, melihat Allah muka dengan muka secara jelas dan bukan hanya merupakan gambaran yang samar-samar seperti dari dalam cermin (lih. 1Kor 13:12).

2. Kesempurnaan pengetahuan akan Allah. Kesempurnaan pengetahuan akan Allah memungkinkan manusia untuk dapat mengasihi Allah dengan lebih sempurna.

3. Kesempurnaan pujian kepada Allah. Melihat dan mengetahui Allah yang adalah baik, indah dan benar akan membawa kita untuk dapat memuji Allah dengan sesungguhnya. Dalam bukunya, City of God,  St. Agustinus menuliskan bahwa kita akan melihat, akan mengasihi dan akan memuji Allah.

4. Kesempurnaan penggenapan keinginan. Dalam kehidupan di dunia ini, tidak ada seseorangpun yang dapat menjadi pemenuhan keinginan kita, yang dapat membuat kita bahagia secara sempurna. Di dalam Sorga, Tuhan sendiri akan menjadi pemenuhan keinginan kita. St. Agustinus dalam bukunya, confession, menuliskan “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami tidak dapat beristirahat dengan tenang sampai beristirahat di dalam Engkau.”

5. Kesempurnaan keamanan. Di dalam dunia ini tidak ada kesempurnaan keamanan, karena seseorang yang mempunyai banyak hal dan mempunyai posisi tinggi, akan semakin merasa takut kehilangan apa yang telah dimiliki. Namun, di dalam Kerajaan Sorga tidak ada kesusahan, jerih payah, ataupun ketakutan.

6. Persahabatan dengan para kudus. Di dalam Sorga kita akan mendapatkan persahabatan dengan para kudus yang diwarnai dengan sukacita, karena setiap orang akan memiliki segala sesuatu yang baik bersama-sama. Mereka akan saling mengasihi seperti diri mereka sendiri dan bergembira terhadap kebaikan yang dipunyai oleh orang lain. Dengan demikian, kegembiraan dan kebahagiaan seseorang juga akan menjadi kebahagiaan dan kegembiraan yang lain.

Penderitaan abadi di neraka

Untuk menggambarkan kehidupan di Sorga, Rasul Paulus menuliskan, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor 2:9) Sebaliknya, neraka dapat digambarkan sebagai kebalikan dari semua kebahagiaan tersebut. St. Thomas Aquinas menggambarkannya sebagai berikut:

1. Keterpisahan abadi dengan Tuhan. Di dalam neraka maka para terhukum akan terpisah secara abadi dengan Tuhan maupun dengan segala sesuatu yang baik. Ini adalah penderitaan karena kehilangan (pain of loss / poena damni). Kehilangan ini melebihi penderitaan badani. Yesus menggambarkannya sebagai berikut: “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Mat 25:30) Kegelapan akan ada di dalam diri terhukum dan juga di luar mereka.

2. Penyesalan hati nurani. Di neraka mereka akan mempunyai penyesalan. Namun penyesalan ini tidaklah berguna, karena penyesalan mereka bukanlah karena membenci dosa, namun penyesalan karena mendapatkan hukuman kekal.

3. Intensitas siksaan inderawi. Kitab Mazmur menggambarkannya demikian, “Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka.” (Mzm 49:14) Di dalam neraka akan terjadi penderitaan badani (poena sensus), di mana mereka yang masuk di dalamnya mengalami kematian untuk selamanya.

4. Keputusasaan akan keselamatan. Karena tidak ada pengharapan apapun untuk keselamatan, maka hal ini akan semakin memperberat penderitaan mereka. Nabi Yesaya menuliskan, “Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup.” (Yes 66:24)

Berfokus pada kehidupan kekal mulai dari sekarang

Sesungguhnya kalau kita tahu bahwa Tuhan telah menyatakan kepada kita jalan kehidupan dan jalan kematian, maka sudah seharusnya kita memilih jalan kehidupan yang akan membawa kita kepada kehidupan kekal. Kehidupan kekal ini tidak bisa kita peroleh dengan kekuatan kita sendiri, namun merupakan pemberian Allah, yang harus kita tanggapi secara bebas oleh iman, dengan terus bekerjasama dengan rahmat-Nya, senantiasa berharap kepada janji-Nya, dan terus bertumbuh dalam kasih. Marilah, sekali lagi kita mengarahkan pandangan kita kepada tujuan akhir kita, yaitu kehidupan kekal. Kapan harus kita mulai? Sekarang juga!

Ekaristi: Bekal rohani untuk sampai ke Surga

[Hari Minggu Biasa ke XIX: 1Raj 19:4-8; Mzm 34:2-9; Ef 4:30-5:2; Yoh 6:41-51]

Hari Minggu ini kita mendengarkan kisah Nabi Elia yang melarikan diri ke padang gurun, untuk menviaticum-1-640x360ghindar dari kejaran para suruhan Ratu Izebel yang ingin membunuhnya. Dalam kelelahan dan keputusasaannya, Nabi Elia berseru kepada Tuhan, agar ia dibiarkan mati saja (lih. 1Raj 19:4). Namun Allah mengutus malaikat-Nya untuk memberi Elia makan dan minum, untuk melanjutkan perjalanannya. Dari makanan itu, Nabi Elia dapat bertahan dalam perjalanan empat puluh hari empat puluh malam sampai ke gunung Tuhan.

Suatu saat dalam hidup ini, kitapun  dapat mengalami pengalaman seperti yang dialami oleh Nabi Elia. Kita dapat merasa lelah—karena kesibukan rutin, permasalahan hidup atau karena kelemahan diri kita sendiri—yang mendorong kita menyerah. Namun Tuhan mengutus malaikat-Nya, yaitu Gereja, yang memberikan kita santapan rohani—yaitu Ekaristi—untuk membuat kita bertahan dan dapat melanjutkan perjalanan, sampai ke gunung Tuhan, yaitu Surga. Tak mengherankan, Gereja di abad-abad awal menyebut Ekaristi sebagai Viaticum, artinya: bekal bagi perjalanan jauh. Namun demikian, istilah Viaticum kini lebih dihubungkan sebagai bekal terakhir bagi seseorang di saat ajal, yaitu ketika hendak beralih dari hidup di dunia ini ke kehidupan selanjutnya. Maka bacaan hari ini juga mengingatkan kita pentingnya Ekaristi bagi kita, terutama di saat menjelang kematian. Saat itu kita sungguh membutuhkan kekuatan dari Tuhan sendiri, agar kita dapat mengalahkan godaan untuk menyerah dalam keadaan keputusasaan, seperti yang dialami oleh Nabi Elia. Di saat ajal itulah, kita akan menghadapi godaan terbesar, akankah kita tetap percaya kepada Kristus Juruselamat kita, sementara kita  mengalami puncak penderitaan ataupun rasa kesendirian yang tak terungkapkan. “Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal…. Akulah roti yang turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya…” (Yoh 6:47,51). Betapa ini adalah janji Tuhan yang layak kita pegang teguh sampai akhir! Jika kita percaya akan sabda Yesus ini, layaklah kita berusaha sedapat mungkin untuk mengusahakan penerimaan sakramen Ekaristi bagi mereka yang sedang dalam sakrat maut. Betapa luhurnya pengabdian seorang imam yang mau berkorban melakukan apa saja, untuk memberikan Komuni Viaticum ini kepada umat yang membutuh
kannya! Betapa sepantasnya kita bersyukur kepada Tuhan Yesus atas pemberian diri-Nya melalui Gereja-Nya, para imam-Nya, dan sakramen Ekaristi!

Namun Ekaristi bukan hanya Roti hidup yang layak diterima saat menjelang ajal. Tuhan Yesus menghendaki kita  menyambut Dia secara teratur dalam kehidupan kita: setiap Minggu, atau jika memungkinkan, setiap hari. Dengan demikian, kita dapat mengambil bagian di dalam hidup-Nya sendiri, agar kita dapat mengalahkan godaan dan dapat senantiasa hidup dalam rahmat Allah, seturut panggilan kita sebagai anak-anak-Nya.  “Melalui penerimaan Komuni setiap hari, kehidupan rohani menjadi lebih penuh dan jiwa diperkaya dengan kebajikan- kebajikan. Orang yang menerima Komuni menerima tanda yang pasti akan kehidupan kekal” (Paus Paulus VI, Eucharisticum Mysterium, 37). Tentu perkataan ini didasari oleh janji Kristus sendiri, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal…, [ia] akan hidup oleh Aku…, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:54,56,58). Sebab dengan mengambil bagian dalam Tubuh dan Darah Kristus, kita diubah oleh-Nya menjadi semakin menyerupai Dia yang kita sambut itu. Hal ini jelas kita lihat dalam kehidupan para orang kudus—yaitu para Santo-Santa—namun juga dalam kehidupan kita di masa ini, asalkan kita mau menyambut Kristus dengan sikap batin yang baik, sebagaimana yang dilakukan oleh para orang kudus itu.

Ketika Hosti diangkat oleh tangan imam, dan yang melalui perkataan Sabda Tuhan, telah diubah menjadi Tubuh Kristus Sang Roti hidup, mari kita memandang-Nya, sambil berkata, “Tuhan, aku mau menerima Engkau, sebagai Roti hidup yang turun dari surga… Biarlah ini menjadi santapan dan bekal bagiku untuk sampai kepada hidup yang kekal dalam kebahagiaan abadi bersama-Mu…” Dan saat Roti Hidup itu kita terima, biarlah kidung Anima Christi ini bergema di hati kita:

“Jiwa Kristus, kuduskanlah aku
Tubuh Kristus, selamatkanlah aku

Darah Kristus, sucikanlah aku
Air lambung Kr
istus, basuhlah aku
Sengsara Kristus, kuatkanlah aku
Yesus yang murah hati, luluskanlah doaku
Dalam luka-luka-Mu sembunyikanlah aku.
Jangan aku dipisahkan daripada-Mu, ya Tuhan.
Terhadap seteru yang curang, lindungilah aku.
Di waktu ajalku, terimalah aku.
Supaya bersama para kudus, aku memuji Engkau,
selamanya.”

Di Balik Peziarahan Maria yang Mengandung

Elegant smiling man standing in the street

Sebagai seorang Katolik, merenungkan sosok Bunda Maria rasanya tidak ada habisnya untuk menemukan kedalaman hidup dari sang Bunda. Namun, sekali lagi merenungkan saja tidaklah cukup, kalau teladan hidup Bunda Maria yang begitu mendalam belum “mendarat“ pada keseharian hidup kita. Momen perayaan Natal adalah kesempatan yang tepat bagi kita untuk bersukacita bersama seluruh umat kristiani, sekaligus menyelami peziarahan awal Bunda Maria sebagai ibunda dari bayi mungil Yesus. Di balik awal peziarahan itu, mari kita melihat satu per satu rangkaian peristiwa yang dihadapi Bunda Maria. Satu keutamaan Bunda Maria dalam peziarahan itu adalah intimitasnya bersama dengan Allah. Intimitasnya bersama dengan Allah terjaga manakala ia berada dalam posisi hidup yang sangat sulit, penuh kecemasan, dan misteri. Rangkaian peristiwa dari penginjil Lukas yang menimbulkan kecemasan bagi Maria bisa kita lihat sebagai berikut: MENGANDUNG TAPI BELUM BERSUAMI (bdk. Luk 1:30-35), MENDAFTARKAN DIRI SAAT MENGANDUNG (bdk. Luk 2:1-5), TIDAK ADA TEMPAT DI RUMAH PENGINAPAN (bdk. Luk 2:6-7). Setidaknya tiga peristiwa di atas, kalau kita kontemplasikan menggambarkan situasi batin Maria yang takut, cemas, bingung, dan mungkin hampir tidak tahu harus berbuat apa.

Awal perjalanan Bunda Maria mulai dari mengandung hingga menjelang kelahiran Putranya, Yesus, sekali lagi tidaklah mudah. Lantas, jalan yang ditempuh Maria selama hidupnya bertahun-tahun adalah tetap “tinggal“ dalam intimitas bersama misteri Putranya. Bahkan, nanti ketika mau dibunuh oleh Herodes, Yusuf melarikan Maria dan Yesus ke Mesir. (bdk. Mat 2:13-15). Inilah kisah hidup Maria yang sekaligus menjadi peziarahan imannya. Situasi yang penuh kecemasan untuk mengemban tugas yang berat dari Allah, ia hadapi justru bukan dengan lari dari kenyataan, melainkan tetap berpegang penuh pada kekuatan Allah yang pasti. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38) Kata-kata itu tidak hanya terucap sambil lalu ketika ia menerima kabar dari Malaikat Gabriel, malahan nyatanya sungguh ia hidupi.

Tidak hanya itu, kita pun meyakini bahwa pada diri Maria ada keutamaan paling kuat, yakni kerendahan hati. Kerendahan hati tentu tidak sama dengan hanya pasrah (yang tanpa berusaha atau berbuat apa-apa). Kerendahan hati nampak dari Bunda Maria dengan seolah ia menjadi seperti tanah subur yang berani “diinjak-injak“ oleh kenyataan. Tetapi karena tanah ini subur, tanah ini dapat memberikan kehidupan segar bagi siapa pun yang ia jumpai. “Model“ teladan Maria inilah yang oleh Paus Fransiskus dikatakan sebagai model evangelisasi Gereja. Manakala, kita memandang Maria, kita berani datang untuk percaya sekali lagi bahwa pada pribadi Maria telah terjadi perubahan dari kecemasan menuju cinta akan Allah (lih. Evangelii Gaudium no. 288) Kiranya perspektif-perspektif terhadap Maria inilah yang cocok untuk menggambarkan situasi batin kita yang cemas, panik, galau, ketika harus menutup tahun 2014 ini. Dan, tentu masih menjadi perjuangan bagi kita sebagai anak-anak Allah untuk sepenuh hati meletakkan masa depan, terlebih dalam menyongsong tahun 2015, bersama-sama dengan Allah pula. Seraya kita juga menyadari bahwa selama ini acapkali dalam situasi cemas dan serba tidak pasti, kita terlalu banyak menuntut dari pihak Allah. Semoga teladan iman Bunda Maria mampu menolong dan mendorong kita untuk mengatasi kecemasan yang masih merongrong di setiap relung-relung hati dan pikiran kita. AVE MARIA.

Oleh: Fr. Joseph Biondi Mattovano

Beriman Tidak Sama dengan Berdagang

IMG-20141121-WA0014Bacaan Rohani: Buku Pegangan hal 16 No. 5 “Harus Mencapai Garis Akhir” (2 Tim 4:7)

Suatu kali seorang pemuda di salah satu paroki bertemu dengan aku. Seperti biasanya kami memang banyak bercerita. Dia memang sudah sangat familiar untuk kegiatan acara OMK di paroki. Ternyata dia tidak hanya aktif di OMK dan misdinar, tapi ia juga aktif di di Legio Maria dan persekutuan doa. Suatu kali dia menghadapi masalah yang cukup berat, yakni ayah-ibunya selalu bertengkar. Ia selalu mengeluh kaarena ia merasa sudah berdoa-doa berkali-kali namun belum dikabulkan permohonannya. Doa novena ini, doa novena itu sudah berkali-kali dilakukannya, namun ternyata apa yang diharapkan belum juga terkabul. Kita mungkin sering mengalami hal yang serupa. Sudah berkali-kali kita berdoa novena, rosario, dan sebagainya tetapi mengapa belum terkabul juga? Sudah berusaha untuk matiraga, beramal, dan berderma sekian banyak tetapi tidak ada sesuatu yang pasti. Kita sering merasa kecewa dan putus asa, sampai-sampai tidak jarang kita mempertanyakan “Dimana Engkau Tuhan?”

Kita sering merasa bahwa segala yang kita berikan untuk Tuhan dan sesama kita melalui pelayanan, secara otomatis kita merasa mempunyai hak untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Sadar atau tidak sadar, prinsip hidup kita adalah “DO UT DES, aku memberi agar engkau memberi.” Tentu saja itu bukan doa, amal, apalagi beriman, tetepi itu adalah bisnis. Mari kita sebagai legioner menyadari bahwa jika kita berbuat baik untuk Tuhan dan sesama janganlah kita hitung berapa jumlahnya, karena Tuhan sesungguhnya telah memberi banyak kemurahan kepada kita yang tak terhitung lagi.

“Panggilan Legio merupakan suatu pelayanan yang tanpa batas atau tanpa pamrih. Pelayanan merupakan kebutuhan.”

PRINSIP HARUS DIUBAH MENJADI: Untuk Tuhan tidak perlu berhitung (waktu, amal, persembahan, pelayanan, dsb.)

Kesalahan yang sering kita buat setiap kali mendoakan arwah yang meninggal: “Semoga amal dan ibadahnya diterima oleh Allah yang Maha Kuasa.” Atau “Semoga Tuhan membalas segala kebaikan yang telah ia buat selama hidupnya di dunia.” Itu bukan doa yang kristiani. Lagi-lagi itu bukan doa, melainkan seperti berdagang. Seharusnya, “Semoga berkat kerahiman-Nya, Allah mempersatukan ia dalam kebahagiaan Kerajaan Surga.”AVE MARIA.

Oleh : Fr. Joseph Biondi Mattovano

Antara Doa dan Pelayanan

IMG-20141121-WA0019Oleh: Fr. Joseph Biondi Mattovano

Saudari-saudara yang terkasih, doa disamping menjadi sarana perjumpaan kita sebagai seorang beriman dengan Allah. Bagian dari doa sesungguhnya menggerakkan kita untuk turut ambil bagian dalam tugas pewartaan (evangelisasi) dan mencari kebaikan sesama. (Evangelii Gaudium-Suka Cita Injil art. 281) Inilah yang menjadi poin keutamaan relasi antara doa dan karya/pelayanan kita. Melalui karya pelayanan yang senantiasa kita bawa dalam doa, sesulit dan seberat apapun pengalaman itu membuat kita kerap bisa merasakan betapa Allah bersedia membentuk pribadi kita.

Dalam anjuran apostoliknya itu, Paus Fransiskus mengajak kita untuk belajar dari Santo Paulus yang berdoa sungguh dari hati. Maka, doa dari dalam HATI itu penting, bukan sekadar hafalan atau rumusan doa semata. “Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Memang sudah sepatutnyalah aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.” (Fil 1:4,7) Dalam situasi sulit (di penjara) sekalipun, seorang pewarta seperti Paulus tidak mengawali doanya dengan sebatas berkontemplasi (bertapa dan berdiam diri). Sebab, sejatinya doa juga selalu menyediakan “tempat” (ruang hati) kita bagi sesama. Seorang pewarta Injil yang hidup berimannya tumbuh dari doa, hatinya akan mampu semakin terluka, dan semakin menyadari siapa dirinya sesungguhnya dihadapan Allah dan sesama. Hatinya akan selalu mengarah kepada kebaikan dan berbagi kehidupan dengan sesama. (Evangelii Gaudium art. 281)

Saudari-saudara legioner yang terkasih, kesatuan antara doa dan karya pelayanan sebisa mungkin mari kita maknai seperti kedua kepak sayap burung yang dikepakkan ketika terbang. Seekor burung tidak mungkin bisa terbang hanya dengan satu sayap saja. Demikian pula dengan kita sebagai seorang beriman. Bagaimana mungkin seseorang bisa mempunyai relasi dengan Allah kalau ia tidak pernah berdoa? Tanpa relasi yang personal dan intim dengan Allah, alih-alih motivasi yang tulus dan murni hanya akan menjadi batu sandungan bagi pelayanan kita. Sekarang ini, keutamaan hidup beriman antara doa dan karya pelayanan sudah tidak hanya menjadi perhatian dari para kaum religius atau klerus (imam). Mari kita sama-sama patut bersyukur bahwa telah begitu banyak gerakan atau komunitas awam, salah satunya Legio Mariae yang mempunyai perhatian pada mereka yang kecil, lemah, putus asa, dan menderita, namun tidak melupakan semangat doa sebagai bagian dari spiritualitas pelayanan.

Melalui Evangelii Gaudium ini, akhirnya Paus Fransiskus mengajak seluruh umat beriman untuk masuk kedalam pemahaman dan kebenaran akan Allah, sehingga setiap dari kita mampu memandang segala sesuatu yang sedang terjadi atau yang akan kita alami dari ‘kaca mata’ Allah. Kini bukan saatnya lagi kita bisa merasa ‘damai’ karena dininabobokan dengan rasa aman dan nyaman dalam hidup kita sehari-hari. Kemampuan kita untuk memaknai hidup menjadi semakin nyata manakala kita sebagai seorang Kristiani berani bangkit dari keterpurukan dalam pelayanan kita, seperti penolakan, caci-maki, tidak diakui, dan merasa diri selalu terbatas. Maka, dalam menghayati tugas pewartaan Injil untuk melayani dan mendoakan semakin banyak orang, kita tidak boleh sekali-kali kehilangan kebahagiaan. Hilangnya kebahagiaan dalam doa dan karya pelayanan tentu bisa meruntuhkan kesaksian panggilan hidup kita sebagai seorang Kristiani. Selain Roh Kudus yang membakar dan menuntun semangat evangelisasi, kita yang lemah dan terbatas ini tetap butuh dievangelisasi oleh mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan menderita.

SEKIAN. BERKAH DALEM