Homili Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC pada Misa Tahunan Senatus 2017

Disampaikan pada Misa Tahunan Senatus dan Perayaan 50 tahun Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Keuskupan Bandung, 2 September 2017


Saat ini dunia kita penuh dengan semangat pamrih, apa-apa ada harganya dan selalu ada tuntutan timbal balik; “ada udang di balik batu”, atau legioner sering berkata “ada daging di balik nasi”. Semangat pamrih itu juga ternyata sudah  merasuki kehidupan keagamaan; dalam doa dan pelayanan. Seperti kata sebuah pepatah yang terenal “do ut des” : “memberi supaya mendapatkan”. Kita lalu sering mempertanyakan “Apa untungnya melakukan pelayanan ini?”, “Aapa manfaatnya menjadi legioner?”

Kita perlu mengingat kembali bahwa kelahiran Yesus terjadi karena ada orang-orang seperti Yusuf dan Maria yang tulus dan tanpa pamrih. Mereka menyadari kehidupan sebagai berkat dan rahmat yang ia peroleh dengan cuma-cuma, maka hidup mereka dipersembahkan kepada Allah dan sesama juga dengan cuma-cuma.

Memang saat ini sulit sekali mencari orang yang tulus. Bahkan kita cenderung memandang orang yang tulus sebagai orang yang “terlalu bodoh”. Ada sebuah kisah tentang seorang pengusaha yang ditipu oleh temannya hingga hartanya habis dan ia tak punya dana lagi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ia kemudian mencoba menjual tanahnya yang berada di Yogyakarta. Di stasiun, ia bertemu seorang bapak yang mengaku kecopetan dan tak punya uang lagi untuk membeli tiket kereta menuju Surabaya. Meskipun ragu dan khawatir ditipu, pengusaha itu akhirnya memberikan uang terakhirnya sebesar Rp. 200.000 yang awalnya hendak ia gunakan untuk membeli tiket kereta pulang dari Yogyakarta. Bapak yang kecopetan itu berjanji akan mengembalikan uang itu dengan cara transfer hingga ia memaksa meminta nomor rekening si pengusaha. Si pengusaha memberikan nomor rekeningnya, meskipun ia tak percaya uang itu akan dikembalikan. Dalam hatinya ia merasa bahwa ia telah ditipu oleh si bapak.

Di Yogyakarta, ia tak berhasil menjual tanahnya dan terpaksa meminjam uang dari saudaranya untuk membeli tiket pulang. Beberapa hari setelah pulang, ia ke ATM untuk mengambil sedikit uang. Namun betapa terkejut dirinya ketika ia mendapati saldo rekeningnya bertambah sebanyak Rp. 20.000.000.

Apa makna dari cerita ini? Apakah seorang yang tulus selalu berakhir tragis?  Orang yang tulus di hadapan Tuhan akan dibela oleh Tuhan. Mungkin ia dipermainkan, mungkin ia ditipu, tapi Tuhan pasti akan setia membelanya.

Ingatlah pepatah ini “Biarpun kurus yang penting tulus tak punya modus”.  Yusuf seorang yang tulus, yang menyadari hidupnya sebagai berkat dari Allah, maka ia menjalaninya tanpa keluhan, tanpa tuntutan, tanpa minta kompensasi, dan tanpa bertanya haknya. Hidupnya dipahami sebagai titipan dan hak Allah, maka  jika Allah menghendaki hidupnya harus dipersembahkan kepada Allah, maka ia akan mempersembahkannya.

Ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria telah mengandung, mungkin ia merasa jengkel, sakit hati, dan berpikir bahwa Maria telah menyeleweng. Ketika itu tak ada dalam sejarah bahwa ada seorang wanita mengandung dari Roh Kudus. Namun Yusuf terbuka pada rencana Ilahi. Ia lapang dada, pasrah, dan tulus, hingga ia tetap bisa tertidur nyenyak meskipun ia sedang penuh masalah, bahkan bisa bermimpi hingga malaikat bisa mendatanginya. Itulah sebabnya kini kita kenal patung “The Sleeping Joseph”.

Ia tidak menghendaki pembalasan. Ia berupaya mentaati kehendak Allah. Karena ketulusan serta kesetiaannya kepada Allah, Yusuf pantas dipasangkan; dan sepadan dengan Maria dalam kesucian untuk menjadi orang tua bagi Yesus. Orang yang tulus seperti Yusuf inilah yang layak menjadi legioner, yang menjadi partner Maria untuk melahirkan Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Ketulusan pula yang mengubah jalan hidup Maria ketika ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.”

Tulus seperti Yusuf dan penuh iman seperti Maria. Itulah legioner yang sejati. Legioner harus mau berkorban dan berlatih untuk menjadi kudus. Jangan hanya sekadar mau menjadi legioner sejati, tapi mari melatih diri sebagai partner Maria. Jadilah tulus seperti Yusuf dan rendah hati seperti Maria yang mau digerakkan oleh Roh Kudus untuk berjuang mencapai kesucian hidup. Orang yang tulus dan rendah hati memiliki komitmen kepda Allah dan Gereja, tidak diombang-ambing oleh perasaan. Apapun sikap orang kepadanya ia akan selalu tulus melayani sesama. Seperti keset yang bertuliskan “WELCOME”, seorang legioner sejati akan selalu berkata “WELCOME”atas apapun sikap orang kepadanya, meskipun ia harus diinjak-injak.

Marilah bersama Maria kita berkata, “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu. Tuhan selalu bersikap “WELCOME” kepada kita, maka marilah kita juga harus selalu bersikap “WELCOME” kepada sesama.


Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC adalah Uskup Keuskupan Bandung. Lahir di Bandung, 14 Februari 1968 dan ditahbiskan menjadi Uskup pada 25 Agustus 2014. Beliau pernah menjadi anggota Legio Maria di Paroki St. Odilia, Cicadas, Bandung.

Menjadi Laskar Maria Dalam Konteks Formasi Seminari Menengah

Sharing dari Fr. Thomas Waluyo, SSCC


Benih itu telah tumbuh

Legio Maria bukan bukanlah kelompak persekutuan doa yang baru bagi saya, karena sejak kecil saya sudah diperkenalkan oleh teman-teman sebaya saya. Namun karena waktu itu jumlah anggota cewek lebih banyak dari pada cowok, maka saya hanya mengikuti beberapa kali pertemuan saja, dan selebihnya, fokus saya adalah putra-putri altar karena setiap anak yang sudah menerima komuni pertama wajib menjadi putra dan putri altar. Akhirnya kelompok Legio Maria tidak pernah saya ikuti lagi, bahkan hingga saya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Akan tetapi, setidaknya nyala api Legio Maria sudah ada dalam diri saya; ketertarikan untuk mengenal Maria melalui Legio Maria sudah tumbuh dalam diri saya, dan ketertarikan inilah yang  kemudian mendorong saya untuk memasuki perjalanan spiritual bersama Bunda Maria melalui Legio Maria.

Usai menamatkan Sekolah Lanjutkan Tingkat Pertama di  Lampung, saya melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Disanalah nyala api Legio Maria berkobar lagi serta memperoleh tempat dan situasi yang mendukung. Saya pun tanpa ragu mengikuti kelompok Legio Maria Presidium Rumah Kencana. Sebenarnya agak kurang tepat jika kelompok kami dikatakan sebagai presidium Legio karena tidak ada rapat mingguan rutin dan kami hanya mendoakan doa Tessera saja. Saya beryukur pada kakak-kakak kelas karena telah memperbolehkan saya ambil bagian dalam kelompok ini hingga saya dapat menumbuhkan kecintaan kepada Maria dengan lebih sungguh dan khusuk melalui pertemuan setiap dua minggu sekali. Dan memang betul, kecintaan saya pada bunda Maria semakin dalam. Hal ini ditampakkan dalam kesetiaan saya untuk mengikuti setiap pertemuan dan juga dalam mendoakan doa Rosario serta Tessera setiap malam sebelum tidur.

Saya tidak hanya aktif dalam pertemuan dan doa saja, tetapi juga dalam pertemuan ACIES. Setidaknya sudah tiga kali saya mengikuti pertemuan ACIES dan kegiatan lain yang dijalankan di sana. Kegiatan-kegiatan itu sungguh membantu saya untuk mengenal secara dekat tentang wajah Legio Maria di Keuskupan Agung Palembang dan menggali pengalaman menjadi Laskar Maria dari teman-teman lainnya. Perjumpaan itu memberikan saya banyak pengalaman dari mereka yang sudah lama menjadi legioner, dan untuk itu saya merasa diteguhkan untuk melayani Bunda Maria melalui kelompok ini.

Tentu omong kosong jika tidak ada tantangan dalam mengikuti Bunda melalui kelompok Legio Maria. Keterbatasan waktu adalah tantangan terbesar saya dalam mengikuti pertemuan doa ini. Kadang waktu doa itu bertabrakan dengan kegiatan sekolah, terutama pada masa-masa ujian, dimana saya kadang tidak bisa mengikuti pertemuan tersebut. Bukan karena saya tidak mencintai, tetapi saya punya tanggung jawab untuk memenuhi standar seminari. Jika saya tidak berhasil mencapainya saya akan diberi surat peringatan, atau  bahkan jika terlalu parah saya akan diminta untuk tidak melanjutkan pendidikan saya di seminari. Menghadapai situasi ini, ketua kami pada waktu itu memutuskan untuk tidak mengadakan pertemuan pada saat musim ujian. Akan tetapi, doa dan kewajiban sebagai legioner tetap dijalankan secara pribadi. Dengan kebijakan tersebut, saya menjadi lebih tenang dalam menjalankan tugas Legio dan ujian saya.

Ketika saya masuk kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria (Sacrorum Cordium; SSCC), saya tidak lagi mengikuti kegiatan Legio, namun semangat dari Legio Maria tetap ada dan mewujud dalam tingkah laku serta doa saya. Saya tetap setia untuk mendoakan Tessera dan Rosario karena doa-doa tersebut telah menjadi bagian dari hidup saya, hingga ketika tidak didaraskan serasa ada yang kurang dalam hidup saya pada hari itu. Dalam suasana semacam inilah saya menghidupi semangat Legio Maria.

Semakin tumbuh besar dalam perjumpaan

Saya kemudian menempuh masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Sudah menjadi tradisi di seminari ini, salah satu dari frater TOP akan menjadi APR salah satu presidium Legio Maria, entah di seminari sendiri maupun  di Paroki Santa Perawan Maria Katedral. Saya diminta untuk menjadi APR untuk presidium seminari Stella Maris Bogor yang ketika itu jumlah anggotanya cukup banyak. Tanpa berpikir panjang saya bersedia untuk mendampingi mereka. Alasan saya sederhana saja,  karena menjadi anggota Legio Maria adalah cita-cita saya dan saya ingin terus melayani Bunda Maria melalui Legio Maria.

Sejak dipilih menjadi APR, saya berusaha untuk hadir dalam rapat presidium yang diadakan setiap hari Minggu malam. Sayang sekali, kadang tugas mendampingi Legio bertabrakan dengan tugas saya di gereja Katedral sehingga saya tidak bisa hadir atau hanya memperoleh bagian akhir dari doa saja. Bagi saya kehadiran itu penting sekali karena merupakan bentuk kecitaan dan perhatian pada Legio di seminari; dan bagi teman-teman di presidium seminari, mudah-mudahan kehadiranku yang terbatas menjadi tanda perhatian dan kesetiaan kepada mereka.

Jujur, menjadi APR bukanlah tugas yang mudah. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya akan Legio Maria. Di seminari menengah dan seminari tinggi saya tidak pernah mempelajari buku pegangan. Saya hanya belajar secara umum tentang spiritualitas Maria. Keterbatasan dalam pengalaman dan pengetahuan serta tuntutan telah mengarahkan saya untuk membaca buku pegangan. Sebenarnya tidak cukup hanya membaca saja melainkan juga harus bisa membahasakan dengan sederhana dan jelas kepada teman-teman legioner. Harapannya mereka dapat menangkap dan mampu menjalankannya dalam hidup keseharian mereka.

Menjadi APR Legio Maria bukan hanya soal kehadiran saja, tapi juga menjadi kakak sekaligus sahabat bagi mereka. Saya menjadi kakak, ketika saya yang lebih tua ini memberi mereka masukan bagaimana menjadi legioner yang sejati. Menjadi kakak juga berarti menjadi teladan bagi mereka. Kehidupan saya sebagai APR sekaligus sebagai formator bagi seminaris selalu menjadi sorotan. Ketika penampilan saya menunjukkan semangat Legio maka mereka akan meniru apa yang saya buat. Namun ketika tindakan saya mencerminkan yang sebaliknya maka saya akan menjadi batu sandungan bagi mereka. Maka saya dituntut untuk memberi teladan yang baik kepada mereka setiap saat.

Selain sebagai kakak yang menjadi pusat dan teladan mereka, saya juga belajar banyak nilai dari mereka semua. Salah satu nilai yang mereka berikan adalah nilai kesetiaan dan pengorbanan. Saya tahu betul hidup keseharian mereka sebagai seminaris karena saya mendampingi perjalanan hidup harian mereka yang padat dengan jadwal seminari mulai dari bangun pagi hingga malam hari; mulai dari hari Minggu hingga Minggu berikutnya. Ketika mereka memutuskan untuk bergabung dalam Legio Maria, mereka akan mengorbankan banyak hal. Lebih-lebih, mereka mengorbankan waktu dan kesenangan mereka. Seharusnya mereka bisa rekreasi dengan nonton TV atau belajar, namun mereka memilih untuk ikut rapat Legio. Juga ketika mereka mendapat giliran rosario berantai, mereka harus menyisihkan waktu khusus untuk berdoa. Pada hari Minggu, mereka harus mengorbankan waktu jalan-jalan mereka demi kegiatan Legio, meskipun memang tidak setiap Minggu.

Terhubung dalam doa

            Tugas untuk menyalakan api Legio Maria tidak berhenti pada saat saya menyelesaikan masa TOP saya di Seminari Stella Maris Bogor. Tugas ini tetap dan terus saya jalankan dalam masa studi lanjut saya di Yogyakarta. Tentu kini saya menjaga api Legio Maria dengan model dan cara yang berbeda. Saya tidak lagi mengikuti kegiatan rutin Legio namun saya tetap mendoakan Tessera setiap hari. Dengan cara semacam ini, saya tetap menyatu dalam doa dengan teman-teman yang menjadi legioner dan saya tetap menjadi bagian dari mereka semua.

Ave Maria.


Fr. Thomas Waluyo, SSCC adalah Asisten Pemimpin Rohani Seminari Stella Maris Keuskupan Bogor, periode 2015-2016. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Kongregasi Sacrorum Cordium (SSCC) Yogyakarta.

Devosi Legio; Akar Kerasulan Legio

Alokusio Rapat Senatus
Minggu, 6 Agustus 2017

Dibawakan oleh Asisten Pemimpin Rohani Senatus, Sdr. Octavian Elang Diawan


Bacaan Rohani :

Buku Pegangan Bab 5 point 5 halaman 23

Devosi Legio; Akar Kerasulan Legio

Devosi Legio Maria adalah bakti khusus yang dilakukan oleh para legioner dan menjadi ciri khas Legio Maria. Devosi ini menjadi dasar kerasulan bagi para legioner.

Kerasulan adalah sebuah tindakan dan semangat sebagai orang-orang yang diutus. Legio Maria bukan hanya sebagai kelompok doa, namun adalah kelompok kerasulan awam yang diutus untuk berkarya.

Dalam merasul, devosi kepada Bunda Maria harus menjadi rohnya. Devosi kepada Bunda Maria berarti berbakti kepada Bunda Maria, yakni mengambil inspirasi bagaimana Maria hidup mencintai Yesus, melihat bagaimana Maria mencintai Yesus lalu menirunya dalam kehidupan kita, dan belajar dari Maria bagaimana mencintai Yesus. Seluruh kehidupan Maria diberikan kepada Yesus, maka sebagai anak-anak Maria kita harus menjadi anak-anak yang selalu mencintai Yesus.

Selain doa, rapat presidium dan karya, kita bisa mengungkapkan devosi kita dengan meditasi, yakni sebuah kerja batin untuk mengembangkan kualitas spiritual diri kita. Meditasi bisa dalam bentuk doa atau bukan doa dan dapat dilakukan di mana saja.

Meditasi terdiri dari Renungkan-Refleksi-Tindak Lanjuti. Renungkan bagaimana Maria mencintai Yesus, sejak menerima kabar dari malaikat, hingga menerima jenazah Yesus di kaki salib.
Refleksikan apakah aku sudah seperti atau mendekati sifat Maria?
Tindak Lanjuti dan simpulkan hasil renungan dan refleksi, lalu apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki dan membangun iman.

Surat Konsilium 30 Juli 2017

​Legion of Mary 

30 July 2017. 

Yang Terkasih, Sister Ignatia, 

Atas nama Konsilium Legionis di Dublin dan juga atas nama saya pribadi, saya sampaikan salam kepada Pemimpin Rohani, Ketua, Semua perwira, dan semua anggota Dewan Senatus Jakarta. 

Sejumlah besar tamu hadir dalam Rapat Konsilium di bulan Juli, termasuk 4 pastor, satu diantaranya bahkan dari Uganda, seorang wanita dari Timur Tengah, dan seorang tamu dari Argentina dan 3 orang dari Inggris. Semua disambut hangat oleh Ketua Konsilium yang baru Saudari Mary Murphy (yang sebelumnya adalah Bendahara Konsilium) 

Saudari Sile Ni Chochlain yang sebelumnya telah melengkapi karyanya selama enam tahun sebagai Ketua Konsilium, terpilih sebagai Wakil Ketua Konsilium. Kita mensyukuri terpilihnya kedua perwira ini yang telah memberi pelayanan terbaik di waktu lalu dan sekarang mengambil peranan penting termasuk juga tanggung jawab yang berat untuk memimpin Konsilium. 

Pastor Bede McGregor, Pemimpin Rohani Konsilium, memberikan penghargaan yang tinggi untuk mereka berdua (Sister Mary dan Sister Sile) atas pengabdian mereka, juga kepada Saudari Aileen O Donoghue (mantan Wakil Ketua) atas pelayanan yang telah diberikan kepada Konsilium lebih dari lima puluh tahun dan juga kepada Saudari Alice Creaton yang terpilih sebagai Sekretaris II yang bertanggung jawab atas bacaan-bacaan atau surat menyurat. Juga kepada Saudari Annete Mulrooney yang telah menyelesaikan 6 tahun pelayanannya bersama Konsilium. 

Bacaan Rohani diambil dari bab 33.13 hal 224 – Kehidupan Iman para Legioner. Dalam Alokusionya, Pastor Bede menjelaskan bahwa tugas utama para legioner adalah untuk mendapatkan kekudusan, sehingga kita bisa menjadi Santo/Santa dan kemudian menolong orang lain untuk juga dapat menjadi Santo/Santa. Pastor Bede mengatakan Saudara Frank Duff pernah mengutip kata-kata dari Pastor Faber bahwa Satu Santo berharga sejuta orang Katolik yang biasa-biasa saja, dan Santa Teresa dari Avila mengatakan bahwa satu jiwa yang bukan Santo tetapi berusaha mencari kekudusan akan sangat lebih berharga sekali di hadapan Allah daripada ribuan orang yang hidup dalam keadaan biasa-biasa saja.

Pastor Bede mengatakan bahwa Allah telah menciptakan kita untuk menjadi Santo-Santa, Tuhan telah wafat untuk kita agar kita dapat menjadi Santo-Santa, Dia telah memberikan hadiah Roh Kudus yang menjadi alasan utama dari semua kekudusan, dan Allah Tritunggal telah juga diberikan kepada kita dalam Ekaristi dan dalam Sakramen-Sakramen yang lain. Kita telah diberikan kehendak bebas untuk memilih bekerja sama dengan rahmat Allah yang tiada taranya. 

Tugas Evangelisasi membutuhkan orang-orang Kristen yang berjuang untuk meraih kekudusan sebagai tujuan utama dalam hidup mereka. Kita dapat memohon kepada Santa Perawan Maria, Ibu Surgawi kita untuk menolong kita meraih kekudusan itu. 

Selama Bulan Agustus ini, kita akan memperingati beberapa pesta liturgi, antara lain: Tuhan Yesus Dimuliakan, Bunda Maria Diangkat ke Sorga dengan Mulia, Santa Perawan Maria Ratu, Wafatnya Yohanes Pembaptis, dll. 

Di Irlandia, peringatan 1 abad penampakan Bunda Maria Fatima kepada Lucy, Fransesco, dan Jacinta akan dikenang dengan pendarasan doa Rosario di beberapa tempat di Irlandia pada tanggal 13 setiap bulan dari Mei sampai Oktober – kecuali di bulan Agustus karena di bulan Agustus tersebut, ketiga anak ini ditahan dan diinterogasi pada tanggal 13 Agustus, sampai akhirnya Bunda menampakkan diri pada tanggal 19 Agustus kepada mereka bertiga. 

Ada banyak laporan-laporan menarik ke Konsilium. Misalnya: terbentuk 3 Regia baru di Kolombia (Amerika Latin), Doa untuk rakyat Venezuela agar mereka mendapatkan kedamaian karena banyak sekali anak muda mati karena kekacauan politik di Venezuela. Legioner di sana menyelenggarakan doa bersama pada tanggal 5 Juli yang lalu dan kemudian 10 presidium terbentuk baru-baru ini dan tumbuh secara aktif dengan banyak anggota auksilier yang ikut bergabung. 

Juga dilaporkan beberapa upaya tugas seperti Exploratio Dominicalis dan Pentatahan Hati Kudus Yesus dilakukan di beberapa negara Amerika Latin. 

Selandia Baru dan Australia juga memberikan laporan tugas yang menarik. 

Saya menutup surat ini dan mohon agar rahmat dan berkat Allah yang besar untuk kita semua. 

Catherine Donohoe 

Koresponden Konsilium

Maria Mediatrix ; Bunda Maria dalam Pandangan Bernardus Clairvaux

Oleh : Fr. Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI


Bernardus dari Clairvaux (1090-1153) adalah seorang anggota Ordo Cistercian yang aktif dalam politik Gereja dan urusan birokrasi kepausan. Dia memiliki peran penting dalam pengenalan devosi kepada Bunda Maria. Paham Mariologi Bernardus didasarkan pada devosi pribadinya terhadap Maria. Cintanya terhadap Maria tidak dapat dipisahkan dari hidupnya.

Maria Model Gereja dan Mediatrix

Bernardus memandang Maria sebagai seorang figur yang patut dihormati. Perhatian pokoknya dalam diri Maria ialah mengenai kualitas keperawanan dan ketaatannya yang penuh. Karakter-karakter seperti inilah yang membuat Maria dijadikan sebagai contoh atau model bagi Gereja (type of the Church). Dia sangat menganjurkan umat untuk meniru kerendahan hati Maria. Tentang hal ini, dia mengatakan, “Jikalau kalian tidak sanggup mengagumi keperawanan Maria, persembahkanlah dirimu untuk meneladan kerendahan hatinya, hal itu akan cukup bagimu”. Bagi Bernardus, orang awam tidak diharapkan untuk meniru persis perilaku Maria dalam hal inkarnasi. Namun, pada saat yang sama, dia juga terus menyerukan suatu keyakinan umum pada masa itu, yaitu gelar “tunas” untuk Maria, yang dinubuatkan oleh para nabi[1].

Maria, melalui kesederhanaannya mampu menjalankan kesalehan dan ketaatannya. Peristiwa Maria Menerima Kabar dari Malaikat merupakan peristiwa yang menunjukkan sikap keteladanan Maria sekaligus juga sebagai awal kehidupan Yesus. Kesediaan Maria (fiatnya) dalam peristiwa itu juga menunjukkan peran yang penting demi keselamatan Gereja di masa mendatang, yakni penghiburan bagi yang susah hati, penebusan bagi yang tertindas, pembebasan bagi tawanan, keselamatan bagi semua keturunan Adam. Hal ini juga menjunjukkan aspek genetrix dari hubungan Maria dengan Gereja (eklesiologi).

Contoh keteladanan yang ditunjukkan oleh Maria, yang umum dibahas pada abad pertengahan, yaitu kisah Maria berdiri di kaki salib.  Jika peristiwa Kabar Gembira menandakan permulaaan inkarnasi dan datangnya rahmat Allah di dunia, maka, peristiwa penyaliban menandai titik atau batas akhir. Secara khusus, abad pertengahan, melalui peritiwa ini menyebut Maria sebagai Ibu Berdukacita (Mater Dolorosa). Nubuat Simeon dalam Lukas 2:35, dipandang sebagai bagian dari tantangan perjalanan Maria. Bernardus menjelaskan, ketika Jesus ditikam dengan tombak oleh serdadu, bagian tubuh yang ditikam itu bukanlah hati Jesus, melainkan hati atau jiwa Maria. Hal ini menjadi lambang kemartiran spiritual bagi Maria sebagai bentuk penderitaannya di kayu salib. Yesus dan Maria sama-sama menderita dan mati dalam peristiwa salib.

Cara pandangan seperti ini dianggap penting karena ada dua ide atau peristiwa yang penting dihayati. Pertama, secara ragawi, terdapat kemiripan antara Yesus dan Maria. Kedua, alasan bahwa penderitaan adalah hal yang baik bagi jiwa dan pada akhirnya menghantar kedekatan individual menuju keselamatan. Maria turut menderita karena penderitaan Puteranya. Cintanya pada Sang Putera menunjukkan kesatuannya dengan Yesus dalam penderitaan. Peristiwa ini (dengan makna yang dalam) menunjukkan bahwa Maria sungguh-sungguh bunda Kristus dan Gereja.

Ketika Maria diserahkan kepada Yohanes, sebagai perwakilan Para Rasul, sebagai ibu-nya, Dia sedang memberikan Maria kepada kelompok orang-orang yang percaya (yang kemudian menjadi Gereja). Penderitaannya di kaki salib, yakni penderitaan seorang ibu yang kehilangan anaknya, menggambarkan Maria turut ambil bagian dalam peristiwa tersebut. Dalam hal ini, dengan meneladani tindakannya, Maria ’mengizinkan’ orang-orang Kristen menjadi lebih dekat dengan Kristus. Jika mereka sanggup merasakan penderitaan dan rasa empatinya, mereka juga bisa dekat dengan Kristus. Hal inilah yang menjadi ciri kemartiran spiritual yang dapat diperoleh oleh setiap orang Kristiani, sekalipun mereka tidak dapat menanggung penderitaan Kristus yang sesungguhnya. Maria dipandang sebagai teladan kesalehan bagi orang-orang Kristiani, terutama dalam mengalami penderitaan yang dilaluinya. Dengan meneladan Maria, orang Kristen mampu memperoleh kedekatan dengan Kristus dan dengan demikian mengalami kedekatan dalam keselamatannya. Penderitaan dipandang sebagai bagian yang bersifat produktif dalam perjalanan menuju Allah. Rasa sakit dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran jiwa. Tujuannya ialah untuk meneguhkan orang-orang Kristiani (Gereja) untuk bertindak seperti Maria.

Paham lain yang berkembang di abad Medieval sehubungan dengan devosi kepada Bunda Maria ialah gelarnya sebagai pengantara (mediatrix) antara Kristus dan Gereja. Istilah ini memiliki dua arti yang berbeda. Yang pertama mengacu pada peran yang dimilikinya dalam peristiwa Annunciation, yakni fiatnya. Melalui peristiwa inkarnasi, rencana keselamatan Allah terjadi melalui diri Yesus Kristus. Dengan menyebutnya sebagai sebagai tempat suci dan juga bait kehidupan dan penebusan semua manusia, Maria secara langsung terkait dengan sejarah keselamatan. Hal ini sesuai dengan model pengantara dari hubungan Maria dan Gereja. Pengertian kedua berasal dari paham mengenai peran Maria sebagai ibu yang berdukacita dan sebagai ibu yang sederhana, perawan, dan yang penuh kasih. Sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja-Nya, Maria bertindak sebagai pengantara demi kepentingan orang-orang Kristen di hadapan penghakiman Puteranya, Sang Penyelamat. Sebagai pengantara (mediatrix) Bunda maria terlibat dalam peristiwa keselamatan Gereja.

Dalam hal ini, Bernardus menggambarkan Gereja sebagai Bulan dan menempatkan Maria di atasnya, terpisah dari Gereja. Gereja memohon dengan perantaraannya, rahmat dari Puteranya, seolah-olah Gereja tidak dapat melakukannya tanpa pertolongan Maria. Hal ini bisa dipahami karena Maria telah lebih dahulu menerima rahmat Allah dan pada akhirnya turut bertindak dalam membangun Gereja. Gereja turut diselamatkan karena tindakan Maria. Tentang hal ini, dalam pengajarannya, Bernardus menyebutkan, “Dia adalah pengantara kita, yang melalui dirinya, kita memperoleh rahmat Allah dan melalui dirinya, kita menerima Yesus di rumah kita”. Baginya, Maria menyediakan rahmat Allah dan belas kasih Puteranya bagi Gereja.

Gambar-gambar religius (di abad medieval) yang umum digunakan untuk kegiatan-kegiatan devosi ialah pemahkotaan Maria di surga. Secara tradisional, hubungan antara Maria dan Gereja tampak dalam suatu keyakinan bahwa Maria menjadi perwakilan dari Gereja dalam gambar tersebut. Gambar Maria ini cocok dengan gelar mediatrix, yakni menempatkan Maria sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja. Dia berada di samping Kristus. Cintalah yang membuat Maria menuntun, membimbing dan melindungi Gereja, menyatu dengan kemuliannya di surga. Cinta dan perlindungannya berasal kekuatan dan rahmat Allah. Melaluinya, kita telah menerima rahmat Allah dan juga mampu menyambut Tuhan Yesus di rumah kita.

Bernardus yakin bahwa selama Gereja melakukan tindakaan-tindakan seturut kehendak Allah dan tetap meneladan Maria sebagai pengantara, yang ditahtakan di surga dan dianugerahi  oleh rahmat Allah, mereka tidak akan dibiarkan menderita dan sendirian. Hal ini meningkatkan keyakinan Bernardus mengenai pandangannya mengenai Maria sebagai “Bintang Laut”, gambaran Maria sebagai pelindung bagi mereka yang tersesat di laut atau terancam badai laut. Hal ini menjadi kiasan akan Gereja yang sedang melalui masa-masa sulit.

[1]Nubuat tersebut terdapat dalam Kitab Yesaya yang mengatakan,  “sebuah tunas akan tumbuh dari tunggul Isai” (Yes. 11:1).


Fr Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI; lahir di Purbasaribu, 27 September 1989. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Oblat Maria Imakulata (OMI) Yogyakarta. Beliau adalah asisten pemimpin rohani Komisium Bintang Timur Bogor tahun 2014-2015.

Ibadat Sejati Kepada Maria dan Penghambaan

Alokusio oleh RP. Agustinus Maming, MSC pada Rapat Kuria Bejana Kerahiman – Tanjung Selor, 22 Juli 2017


Bacaan Rohani : Buku Rahasia Maria oleh St. Louis Marie Grignion de Montfort, halaman 20, 23 – 24.

I. Praktek yang Sempurna dari Ibadat Sejati

Hai orang pilihan, ibadat sejati itu adalah memberikan diri seutuhnya sebagai hamba kepada Maria dan melalui dia kepada Yesus. Lalu kamu melakukan segala-galanya dengan Maria, dalam Maria, oleh Maria, dan untuk Maria. Kata-kata ini saya jelaskan di bawah ini :

Kamu harus memiliki suatu hari tertentu. Pada hari itu kamu memberikan diri secara sukarela dan terdorong oleh cinta. Kamu membaktikan dan mempersembahkan segala-galanya tanpa kecuali tubuh dan jiwamu, seluruh hari kekayaan materialmu seperti rumah, keluarga dan pendapatan, demikian juga harta kekayaan spiritual, seperti jasa, rahmat, kebijaksanaan, dan silihan.

II. Penghambaan

Ibadat sejati ada dalam pembaktian diri kepada Maria sebagai hamba. Perlu diperhatikan bahwa ada tiga macam penghambaan :

  1. Penghambaan berdasarkan kodrat : menurut arti semua orang, yang baik dan yang jahat, adalah Hamba Allah.
  2. Penghambaan karena paksaan : setan-setan dan orang-orang terkutuk adalah hamba menurut arti ini.
  3. Penghambaan karena cinta dan pilihan bebas : dan karena cara inilah kita mesti membaktikan diri kepada Allah melalui Maria. Inilah cara yang paling sempurna yang dapat digunakan manusia sebagai makhluk untuk membaktikan diri kepada Sang Pencipta.

Baiklah kita perhatikan pula, bahwa terdapat perbedaan besar antara pelayan dan hamba. Seorang pelayan menuntut upah untuk pelayanannya, sedangkan seorang hamba sama sekali tidak. Seorang pelayan, jika ia mau, bebas meninggalkan majikannya, dan ia hanya bekerja untuk sementara saja. Sedangkan seorang hamba tidak dapat meninggalkannya begitu saja. Ia milik tuannya seumur hidup. Seorang pelayan tidak memberikan kewenangan atas hidup matinya, tetapi seorang hamba memberikan seluruh dirinya, sehingga tuannya dapat membunuhnya tanpa digugat oleh pengadilan.

Dengan mudah kita dapat mengerti, betapa penghambaan karena paksaan mengakibatkan ketergantungan yang paling ketat. Ketergantungan seperti ini sebenarnya hanya bisa terjadi dalam hubungan manusia dengan pencipta-Nya. Itulah sebabnya bentuk penghambaan ini tak terdapat di kalangan orang Kristen, tetapi di kalangan orang Turki dan kafir.

Berbahagialah, ya seribu kali berbahagialah orang Kristiani yang lapang hati, yang membaktikan diri kepada Yesus melalui Maria sebagai hamba karena cinta, setelah dalam pembaptisannya ia melepaskan diri dari penghambaan setan yang lalim.

 


RP. Agustinus Maming, MSC adalah Pemimpin Rohani presidium-presidium di Paroki Santo Eugenius de Mazenod, Tanjung Redeb, Kalimantan Timur,

 

“Jadilah Legioner yang Militan!” : Laporan Kunjungan Kuria Bejana Kerahiman ke Presidium-Presidium di Tanjung Redeb

Pada hari Jumat, 14 Agustus 2017, seluruh perwira Kuria Bejana Kerahiman – Keuskupan Tanjung Selor, didampingi oleh RD. Stephanus Sumardi (Pemimpin Rohani Kuria), dan Br . Albertus Sigit Pramana (Asisten Pemimpin Rohani Kuria) melakukan kunjungan untuk pertama kalinya ke presidium-presidium di Tanjung Redeb.

Kuria yang disahkan pada 6 November 2016 ini memiliki area tugas yang mencakup seluruh paroki di Keuskupan Tanjung Selor. Akan tetapi hingga saat ini baru tiga paroki yang sudah memiliki presidium, yakni Paroki Santo Eugenius de Mazenod Tanjung Redeb, Paroki Santa Maria Assumpta (Katedral) Tanjung Selor, dan Paroki Santa Maria Imakulata Tarakan. 

Kuria ini patut dibanggakan karena perkembangannya yang sangat pesat dan semangatnya yang selalu on fire. Di paroki Tanjung Redeb sendiri dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, telah terlahir lima presidium senior dan tiga presidium junior yang tersebar di pusat paroki dan stasi-stasi sekitarnya.

Kiri ke Kanan : RD Agustinus Maming, MSC-Sdr. Irwanus Kewa Tukan (wakil ketua)-Sdri. Katarina Lazar (bendahara)-Sdri. Marina (sekretaris 1 Senatus)-Sdr. Patrisius Patal Wutun (sekretaris)-Sdr. Bene Lazar (ketua)

Meskipun harus menempuh perjalanan yang jauh dan berkelok-kelok dari Tanjung Selor menuju Tanjung Redeb, bahkan hingga isi perut terkuras karena mabuk perjalanan, namun semangat para perwira Kuria tak padam. Semangat para tentara Maria di Tanjung Redeb pun tak kalah besarnya. Mereka menerjang teriknya siang dan dengan sabar menanti kehadiran para perwira Kuria di gedung serba guna paroki. Inilah semangat legioner yang rela berjerih lelah dan bekerja keras. Total sekitar delapan puluh legioner yang hadir dan mengikuti pertemuan gabungan presidium.

Dalam kesempatan yang istimewa ini hadir pula RP Yoseph, MSC (Pastor Kepala Paroki), RP Agustinus Maming (PR presidium-presidium se-Tanjung Redeb) serta anggota dewan paroki St. Eugenius de Mazenod.


Dalam sambutannya Pastor Yoseph berpesan kepada seluruh legioner agar menjadi “Legioner yang Militan”, yang selalu siap sedia membawa dan menularkan Kasih Kristus dimana saja berada.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sejarah Legio Maria oleh Sdr. Patris, struktur organisasi Legio Maria oleh Br. Sigit, dan ditutup oleh tanya jawab dan diskusi.

Presentasi Sejarah Legio Maria oleh Sdr. Patrisius Patal Wutun.

Tepat pada pukul 15.00 WITA pertemuan gabungan presidium se-Tanjung Redeb resmi dimulai. Dalam pertemuan ini dilakukan pengesahan atas seluruh presidium di Paroki St. Eugenius de Mazenod Tanjung Redeb, beserta para perwiranya. Pengesahan resmi bagi presidium dan perwira akan dilaksanakan pada rapat kuria hari Sabtu, 22 Juli 2017.


Pengesahan secara simbolik atas presidium se-Paroki St. Eugenius de Mazenod, beserta para perwiranya

Semoga momen kunjungan dan pengesahan secara simbolis ini semakin menambah semangat dan mempererat rasa persaudaraan para legioner di Kuria Bejana Kerahiman, khususnya di Tanjung Redeb. 

Proficiat!!

AVE MARIA.


Kontributor : Sdr. Patrisius Patal Wutun dan Br. Albertus Sigit Pramana, MSF.

BBM : Butir-Butir Motivasi

Dibawakan oleh RP Hadrianus Tedjoworo, OSC pada acara planning day Kuria Bunda Penasehat yang Baik. 
Bandung, 15 Januari 2017

Evaluasi sering terlalu mencari kekurangan dan hal-hal yang negatif. Mungkin lebih baik mengambil inspirasi serta motivasi dari istilah apresiasi → menghargai usaha yang sudah dilakukan dan apa yang masih bisa dikembangkan dan sampai saat ini baru merupakan potensi. Potensi-potensi apa sajakah yang bisa makin mengembangkan Legio Maria?

Tidak seperti kelompok-kelompok kategorial gerejawi lainnya, Legio Maria tidak berorientasi pada kesuksesan, melainkan lebih pada ketulusan pelayanan dan kesetiaan dalam diri para anggotanya. Kelompok ini bertujuan pada kerasulan Gereja: mewartakan Kabar Baik kepada sesama (Buku Pegangan Bab 2). Diandaikan ada kerja sama dengan hierarki Gereja, sehingga legioner tidak semestinya bekerja sendiri, atau hanya mewakili kelompoknya sendiri. Semangat Maria yang menjadi teladan para legioner bisa menjadi inspirasi, yakni mengimani bahwa bagi Allah, segala sesuatu adalah mungkin (BP Bab 3). Itu berarti bahwa keberanian lebih daripada ‘kewajiban’ adalah penggerak kita untuk selalu maju dan mengembangkan kerasulan kita sebagai legioner.

Butir-butir motivasi:

  1. Bentuk-Bentuk Kerasulan: Legio Maria punya keuntungan, yakni bisa masuk ke mana saja, baik itu liturgi, bina iman anak, katekese, pendampingan, pertemuan lingkungan, pelayanan pastoral, dan lain-lain.

  1. Memperkenalkan Spiritualitas Maria: konsekuensi dari fleksibilitas kehadiran kita ialah: membawa pengaruh dari Spiritualitas Maria. Artinya, kita mesti menimba kembali inspirasi dari Kitab Suci dan devosi-devosi Maria, kemudian membawanya dalam keterlibatan di berbagai kelompok untuk menginspirasi bentuk-bentuk kerasulan mereka juga!

Maria punya kekuatan yang besar dalam dirinya, yakni kemampuan untuk mempengaruhi, bahkan juga mempengaruhi Yesus, Puteranya (Yoh. 2). Apabila devosi Maria kurang berkembang di suatu lingkungan, biasanya itu karena kehadiran para legioner tidak mendorong tindakan-tindakan pelayanan yang seharusnya sudah terjadi di wilayah itu (bdk. BP Bab 5 No. 6). Devosi bukan hanya tampak dari penampilan seorang legioner yang berdoa, tetapi lebih-lebih dari bagaimana ia mempengaruhi dengan spiritualitas Maria, kelompok atau tempat apapun yang didatanginya itu. Dalam bahasa pengajaran Kristus, kita diajak menjadi seperti ‘garam’ yang mengasinkan sekitarnya. Kalau kita sendiri tidak terkesan dengan semangat Maria, kita tidak akan mempengaruhi siapapun. Kita bisa mulai dengan membuat refleksi, apakah kehadiran kita sebagai legioner dikenali secara baik oleh kelompok-kelompok yang lain?

 

taken from www.legionofmarytidewater.com
  1. Sebagai seorang kristiani: ketika menjalankan tugas, legioner mestinya memakai semangat Maria yang merangkul kerasulan dan kehidupan kristianinya (BP Bab 6. No. 3). Maksudnya ialah, bahwa tugas-tugas dijalankan bukan hanya sebagai ‘legioner’, tetapi sebagai seorang kristiani, pengikut Kristus. Kita tidak perlu menjadi ‘eksklusif’ sebagai legioner. Bukankah setiap orang kristiani seharusnya memandang Maria sebagai model hidup kristiani?

Kadang-kadang kita perlu belajar dari keseharian para anggota auxilier yang pertama-tama menjalani kehidupan imannya sebagai pengikut Kristus. Cara hidup dan semangat hidup mereka yang bersahaja dapat menjadi cara kita melayani, yakni dengan tidak berusaha menonjolkan ‘hasil’ atau ‘jumlah statistik’, melainkan mengedepankan keteladanan. Apakah hidup sehari-hari kita bisa dicontoh oleh orang lain? Mungkin yang dikhawatirkan di masa kita ini ialah kalau terjadi pemisahan tindakan kita sebagai legioner dan sebagai orang Katolik. Oleh karenanya apa yang kita rencanakan sebagai legioner Maria di masa mendatang ini sebisa mungkin semakin melibatkan umat Katolik yang lain. Kerasulan kita perlu semakin inklusif.

  1. Daya tarik: kebanyakan presidia menghadapi masalah yang serupa, yakni kesulitan menambah jumlah keanggotaan. Apakah proses merekrut anggota baru sama saja dengan kelompok lain? Mungkin tidak. “Bahaya besar” yang disebutkan oleh Buku Pegangan (Bab 10 No. 3) ialah ketika kerasulan ini “tidak mempunyai daya pikat sehingga kaum awam tidak bereaksi terhadap tujuan luhur yang terkandung di dalamnya”. Daya tarik rohani tidak bisa diselesaikan hanya dengan membuat sebanyak mungkin program kerja.

Daya tarik rohani, seperti disinggung Kardinal Riberi, mungkin muncul karena (1) kualitas keanggotaan, dijaga oleh (2) doa dan pengorbanan diri yang berlimpah, dan (3) dalam kerja sama dengan hierarki. Para legioner bisa merenungkan: mengapa aktivitas di paroki seringkali lebih menarik daripada kegiatan-kegiatan yang ditawarkan oleh Legio Maria? Barangkali sebagian dari ke-3 hal di atas kurang kita tekankan dalam perencanaan kegiatan tahunan. Salah satu karakter kegiatan yang membuat orang tertarik untuk terlibat ialah: relevansi. Orang akan menoleh dan memperhatikan sesuatu kalau itu menyentuh kerinduan pribadinya. Kita bisa menduga bahwa di zaman ini orang merindukan suasana doa, misalnya, tapi kita masih harus menemukan problem-problem personal dan aktual untuk dibawa ke dalam doa itu. Oleh karenanya, penentuan tema kegiatan-kegiatan legioner menjadi sesuatu yang sangat penting untuk menyapa kerinduan terdalam banyak orang. Sebagai sebentuk evaluasi, kita bisa meneliti kembali tema-tema yang kita angkat untuk pertemuan Patrisi, apakah akan menarik banyak orang, ataukah hanya menarik bagi diri kita sendiri.

  1. Persaudaraan dan keakraban: kedua semangat ini tidak pernah gagal membesarkan kelompok kerasulan apapun dalam Gereja. Selama persaudaraan dijaga dan diperjuangkan, suatu kelompok akan terus hidup. Semangat ini dikisahkan dengan indah dalam Kis 2:46-47, yakni ketika para murid setelah kenaikan Yesus ke surga, bertekun dan sehati berkumpul dalam kegembiraan dan ketulusan hati. Lukas mencatat, “mereka disukai semua orang”! Itulah kesaksian yang paling kuat dari Gereja Perdana, dan seharusnya menjadi kesaksian para legioner.

Dalam semangat seruan dan surat apostolik Paus Fransiskus, para legioner mesti belajar hidup bersama dalam persaudaraan. Hidup bersama adalah sebentuk kesaksian yang sangat efektif kepada dunia. Orang akan segera melihat kalau kebersamaan kita, misalnya, adalah palsu. Kebersamaan ini diuji dalam menjalankan tugas, dalam berdoa/rapat, dalam merencanakan kegiatan, dan kehadiran di berbagai kelompok kerasulan lain. Salah satu tantangan yang sangat sulit terjadi dalam kenyataan ialah saling mendukung. Jauh lebih mudah “saling mengkritik”. Mestinya sikap saling mendukung dan melengkapi inilah penafsiran kita atas penekanan keakraban seperti yang disebut oleh BP Bab 39 No. 8). Keakraban itu bukanlah soal banyak tertawa dan bercanda, tetapi adalah perkara bekerja sama menemukan kehendak Tuhan. Kalau dalam persiapan kegiatan para legioner justru saling mengkritik, bagaimana itu akan menjadi kesaksian bagi orang lain? Setiap kali ada usulan dari seseorang, mari kita memberikan apapun sumbangan (pikiran dan tindakan) untuk melengkapi dan merealisasikannya. Dalam kenyataan, saling mendukung itu bukan hal yang mudah, karena kita sering lebih ingin tampil beda dan membuktikan kemampuan diri.


Pastor Hadrianus Tedjoworo, OSC adalah Pemimpin Rohani Kuria Bunda Penasehat Yang Baik – Bandung Barat 1, Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Keuskupan Bandung

Pengetahuan dan Kesadaran Tindakan

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 29 dan 31, Bab 6, Subbab 2: ‘Meniru kerendahan hati Maria adalah akar maupun instrumen kegiatan Legioner.”

Pengetahuan dan Kesadaran Tindakan

Tanggung jawab kesaksian Legio Maria terletak di atas pundak masing-masing pribadi legioner. Kita masing-masing dipanggil untuk bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup Legio Maria. Tanggungjawab ini harus diwujudnyatakan dalam tindakan yang bersungguh-sungguh sebagai buah dari pengetahuan. Pengetahuan yang tidak diikuti tindakan bukanlah sikap iman yang bermutu.

Dalam ‘tindakan’ ini juga terkandung nilai pengorbanan. Mengikuti retret, rekoleksi, pendalaman iman, mengerti arti sakramen-sakramen adalah hal baik, namun hal itu belumlah cukup bila tidak diikuti dengan tindakan-tindakan konkret sebagai kesaksian iman Katolik.

Pada peristiwa perkawinan di Kana, Bunda Maria tahu bahwa keluarga pengantin tiba-tiba mengalami kesulitan karena kehabisan persediaan anggur, namun Bunda Maria tidak diam, ia mengambil tindakan dengan berbicara kepada Yesus. Tindakan Bunda Maria ini membuahkan mukjizat pertama Yesus.

Santo Petrus juga merupakan teladan sebagai orang yang selalu bertindak. Ia tak hanya puas dengan tahu siapa Yesus yang menderita, wafat, dan bangkit kembali, namun ia bertindak dengan antusias mewartakan kabar keselamatan itu. Sikap penuh tindakannya membuat Ia dipercaya sebagai paus pertama – bahkan membawa kita juga mengenal Yesus sebagai juru selamat.

Ada kata bijak dari Mgr. Ignatius Suharyo: “Dunia bukanlah masalah; yang menjadi masalah adalah ketidaksadaran Anda”. Ketidaksadaran adalah sikap masa bodoh yang berbahaya.

Marilah kita sebagai duta Kerahiman Allah tidak hanya puas dengan tahu, namun juga mengembangkan kesadaran bertindak sungguh-sungguh untuk bersaksi atas iman keselamatan kita.

Oleh : Frater Robertus Guntur

Surat Konsilium April 2016

Kepada Saudara Octavian
Sekretaris Senatus Jakarta

Legio Maria, 23 Maret 2016

Yang terkasih Saudara Octavian,

Atas nama Konsilium Legionis, saya mengucapkan Selamat Sukacita Paskah kepada Ketua, Pemimpin Rohani, Para Perwira, dan seluruh anggota Senatus Jakarta. Saya berterimakasih atas ketaatan dan dedikasi untuk pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan para kudus-Nya melalui keanggotaan Legio Maria.

Masa Pra Paskah telah menjadi bagian dari persiapan Pekan Suci dan hari-hari yang istimewa di mana kita mengenang perjamuan terakhir dengan penetapan Ekaristi, dan penderitaan, kematian serta kebangkitan yang mulia dari Juru Selamat kita Yesus Kristus.

Selama masa Pra Paskah, Kuria saya, melakukan retret sehari. Ini adalah kesempatan untuk menerapkan saran dari Pemimpin Rohani, berdoa, berkontemplasi dalam renungan, pemeriksaan batin, Sakramen Rekonsiliasi diikuti dengan Misa dan Komuni Suci. Saya harap para Legioner di mana pun mereka berada melakukan retret sekali dalam setahun.

Dalam surat saya yang terakhir, saya menyampaikan tentang pentahtaan hati Yesus Yang Maha Kudus di rumah-rumah (lihat Buku Pegangan bab 37.3 dan bab 40.2). Itu sangat berguna dan menjadi berkat dan meningkatkan kerohanian untuk para orang dewasa dan anak-anaknya. Dan saya yakin ini harus dipromosikan (ini pernah dilakukan di rumahku di mana saya tumbuh dulu dan masih ada di rumahku sekarang).

Perwira yang telah selesai masa jabatannya selama 3 tahun haruslah dilangsungkan pemilihan segera. Para perwira presidium yang ditunjuk haruslah sesuai Buku Pegangan bab 14. Para perwira dewan haruslah ditunjuk dengan mengikuti pemilihan sesuai dengan Buku Pegangan bab 28.

Rencana Pembentukan Regia untuk Kalimantan. Mohon saya diberitahu perkembangannya.

Notulensi dan Statistik. Saya menantikan untuk menerima notulensi dari Senatus dan juga statistik yang telah saya minta pada surat saya yang terakhir.

Rapat Konsilium tanggal 20 Maret 2016. Ada beberapa laporan yang menarik. Doa-doa dipimpin oleh Romo Bede McGregor OP. Jumlah hadirin sangat banyak sekali, termasuk 14 legioner dari Jerman dan 2 legioner Afrika yang datang dari Antwerpen, Belgia di mana mereka akan mengunjungi Perancis, dan mereka menceritakan negara-negara Afrika dan menjadi koresponden untuk negara-negara itu atas nama Konsilium. Semuanya disambut hangat oleh Saudari Sile, Ketua Konsilium.

Saya menutup surat ini, semoga Anda semua diberkati oleh Allah Yang Maha Kuasa dengan berkat-Nya yang melimpah selama Pekan Suci dan Sukacita istimewa untuk Minggu Paskah seraya kita merayakan kebangkitan Tuhan Yesus.

Hari Minggu setelah Minggu Paskah adalah – seperti kita ketahui bersama – didedikasikan untuk Kerahiman Ilahi. Banyak orang berdoa novena Kerahiman Ilahi sejak Jumat Agung. Dunia kita yang penuh masalah ini membutuhkan Kerahiman Ilahi dan pertolongan-Nya setiap waktu.
`
Berkat Tuhan,
Catherine Donohoe

Scroll Up