Kisah Dalam Kasih, Kasih Dalam Kisah

Kisah perjalanan hidup Fr. Yosep Pranadi, OSC.


Saudara/i yang terkasih, perkenalkan nama saya Yosep Pranadi. Kenapa Yosep? Bukan Yosef? Karena saya orang Sunda, jadi pakai saja ‘p’, bukan ‘f’. Saya adalah orang ‘USA’, Urang Sunda Aseli. Lahir di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Saya lahir sebagai anak pertama laki-laki dari tiga bersaudara. Hobby saya adalah; naik sepeda, jalan-jalan, denger musik, koor, membaca buku, utak-atik komputer, dan design. Sungguh menyenangkan jika ada waktu luang, bisa beraktivitas dan berekspresi untuk menghibur diri. Dari TK sampai SMP saya bersekolah di daerah kelahiran. Masa-masa itu saya gunakan untuk belajar, bermain di ladang, sungai dan sawah, ikut misdinar di Paroki, Legio Maria, kegiatan lingkungan, ziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat setiap malam minggu bersama teman-teman, dan kegiatan lainnya. Kalau ada waktu, saya ingin sekali mengenang masa-masa itu bersama teman-teman lama. Tapi sungguh sulit karena sudah merantau kemana-mana.

Sebelum lulus SMP, sebetulnya saya mengalami keraguan. Ada beberapa rencana yang saya pikirkan. Ada rencana masuk SMA Negeri atau masuk Sekolah Kejuruan Teknik Mesin/Komputer. Ibu sebetulnya sudah menitipkan saya pada kenalannya di sekolah kejuruan. Namun apa yang sudah direncanakan, ternyata tidak terlaksana. Apa yang direncanakan manusia, tidak selalu sejalan dengan rencana Tuhan. Dalam keraguan, pada suatu siang, setelah pulang sekolah saya mampir di Gereja. Ketika memasuki halaman Gereja entah kenapa saya membayangkan ‘Seminari’. Tiba-tiba saya tertarik masuk seminari, padahal pengetahuan saya akan seminari tidak ada sama sekali. Saya mengutarakan keinginan saya kepada ibu: “Mah, saya ingin masuk seminari!”. Bapak agak cemberut mendengar keinginan saya, karena saya anak pertama laki-laki satu-satunya di dalam keluarga pada waktu itu. “Memang kamu tahu apa itu seminari?” kata Ibu. “Saya tidak tahu”. Kami ngobrol satu sama lain. Akhirnya ibu berkata: “Ya sudah, jika itu keinginan kamu, ibu mengijinkan, yang penting kamu menjalani pilihanmu dengan bahagia. Jangan lupa berdoa. Berdoalah terus-menerus. Anggaplah doa itu nafas yang menghidupkan. Mohon kekuatan dari Tuhan, ibu hanya bisa mendoakan saja!”. Ibu mengijinkan, namun Bapak diam dan tidak banyak berkomentar. Berat bagi bapak untuk melepaskan saya pada waktu itu. Barangkali dia membayangkan dan mengharapkan saya untuk meneruskan keluarga, menikah, dan memiliki cucu. Tetapi rencana Tuhan sungguh berbeda. Tuhan menuntun saya memilih jalan yang tidak dipilih oleh kebanyakan orang. Jalan yang penuh tantangan dan perjuangan sekaligus penuh harapan.

Setelah lulus SMP, saya memutuskan untuk masuk Seminari Menengah Cadas Hikmat di Bandung. Inilah pengalaman pertama saya meninggalkan orangtua, dan tinggal di asrama seminari. Minggu-minggu pertama rasanya sungguh berat. Saya merasa tidak betah, pengen pulang, rindu rumah, rindu orangtua dan adik-adik. Tidur pun tidak enak rasanya. Nyuci baju sendiri, nyetrika sendiri, ke sekolah jalan kaki, setiap hari bangun pagi dan ikut misa pagi, ikut berbagai macam kegiatan baik di sekolah maupun di seminari, dll. Itulah pengalaman pertama yang membentuk pribadi saya menjadi orang yang mandiri, disiplin, bertanggung-jawab, dan tidak mudah menyerah. Lama-lama menjadi ‘habit’. Lama-lama saya bisa menyesuaikan diri dengan tempat baru, teman baru, sekolah baru, suasana baru, dan pola hidup seminari yang cukup ‘ketat’. Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan selama 3 tahun di Seminari Menengah.

Setelah 3 tahun menjalani masa pendidikan di SMA Santa Maria 1 dan Seminari Menengah Cadas Hikmat, saya memutuskan untuk masuk Biara Ordo Salib Suci (OSC). Usia yang sangat muda (18 tahun) ketika masuk Biara. Kadang-kadang ada perasaan minder, emosi yang tidak stabil, merasa kurang berpengalaman karena masih muda. Kadang-kadang ingin mencoba juga apa yang dirasakan oleh teman-teman di luar. Bagaimana rasanya hidup di luar. Setelah direnungkan, saya kira baik di luar atau pun di dalam Biara toh sama-sama berjuang untuk bertahan di dalam pilihannya masing-masing. Setiap pilihan memang selalu ada konsekuensi yang mesti dijalani. Apa yang sudah saya putuskan, mesti saya perjuangkan terus. Pendidikan awal di Ordo Salib Suci saya tempuh selama 2 tahun, yaitu masa Novisiat. Itulah masa-masa penggodokan awal.

Dua tahun kemudian, saya melamar kembali dan diterima untuk mengikrarkan kaul perdana di hadapan provinsial (pimpinan Ordo Provinsi Indonesia) pada 28 Agustus 2013. Setelah selesai menjalani masa Novisiat, saya melanjutkan pendidikan di Skolastikat (setara dengan Seminari Tinggi) hingga lulus filsafat. Setelah lulus studi filsafat, saya ditugaskan Provinsial untuk menjalani Tahun Orientasi Pastoral sebagai pendamping ret-ret di Pusat Spiritualitas Pratista, Cisarua-Cimahi, Bandung Barat selama satu tahun. Di Pratista saya ‘belajar’ mendampingi ret-ret untuk anak-anak SD, SMP, SMA, Universitas, dan umat kategorial. Sungguh menyenangkan mengenal dunia pastoral yang amat luas. Saya hadir untuk memberi kekuatan dan peneguhan kepada peserta ret-ret khususnya mereka yang menghadapi situasi sulit di dalam hidup mereka, entah relasi dengan teman, pasangan, atau relasi di dalam keluarga. Mendengar pengalaman mereka sungguh menyentuh. Saya merasa bukan orang yang sempurna, tetapi Tuhan menggunakan saya untuk memberikan semangat dan meneguhkan harapan mereka. Ternyata di tengah dunia yang penuh tantangan ini, Tuhan masih tetap berkarya.

Saat ini saya sedang melanjutkan masa formasi di Ordo Salib Suci sebagai mahasiswa semester 2 di pasca-sarjana Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Ini adalah tahun ke-7 bagi saya di Ordo Salib Suci. Suatu proses pendidikan calon religius yang perlu ditempuh dengan ketekunan dan kesabaran. Apabila kita melihat kehidupan orang-orang di luar biara yang mengalami jatuh bangun, suka duka, dan berbagai dinamika kehidupan. Sebetulnya di Biara juga orang-orang mengalaminya. Jadi, sama-sama punya tantangan dan sama-sama berjuang untuk bertahan. Ini adalah suatu perjalanan yang tidak pernah berakhir. Suatu proses menuju kesempurnaan.

Sekembalinya menyelesaikan masa orientasi pastoral di Rumah Ret-Ret, saya kembali melanjutkan studi S2. Biasanya para frater S2 diberi tugas mengajar agama di SMA Katolik. Tetapi, tidak pada saya. Melenceng dari dugaan, saya diberi tanggung jawab untuk menghidupkan kembali website Ordo Salib Suci yang sudah bertahun-tahun mati dan tidak diupdate. Tugas baru yang menantang. Saya mesti belajar keras memahami sistem dan management konten website. Awalnya saya merasa keberatan karena mengelola website sendirian. Saya mencoba mengubah template menjadi lebih menarik, mengisi konten menjadi lebih informatif serta inspiratif. Awalnya kebingungan juga. Saya banyak bertanya dan membaca berbagai sumber hingga akhirnya tumbuh perlahan-lahan. Ternyata usaha dan kerja keras di dalam proses perjalanannya membuahkan hasil. Tidak sia-sia banyak bertanya dan membaca. Saya menyadari bahwa jaman sekarang pertumbuhan pengguna internet dan website begitu pesat. Meskipun bukan profesional, saya mencoba mempelajarinya perlahan-lahan. Belajar sesuatu yang baru itu menarik, termasuk belajar jaringan dan website. Setidaknya para Biarawan dan Rohaniwan juga mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan dunia (tidak kolot-kolot amat). Dalam permenungan, saya sadar bahwa belajar itu tidak akan pernah selesai. Karena kita manusia yang tidak sempurna, oleh karenanya perlu belajar, belajar, dan belajar. Dunia selalu berubah-ubah, dan manusia perlu belajar untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan segala perubahan yang sedang dihadapi dan akan dihadapi nanti. Di mana bumi di pijak, di sanalah langit di junjung. Dimana kita berada kita mesti belajar dan menyesuaikan diri terus menerus.

Pengalaman bersama Legio Maria

Apabila ditanya; apakah pernah menjadi anggota Legio Maria? Tentu saja pernah. Saya ikut legio Maria sejak SD kelas 5 SD (2003) sampai kelas 3 SMP (2008). Waktu itu saya bergabung dengan Legio Maria Presidium Benteng Gading di Paroki Kristus Raja, Cigugur, Kuningan-Jawa Barat. Selama beberapa tahun saya ikut legio bersama teman teman di sekolah. Biasanya seminggu sekali kami berkumpul bersama teman-teman. Sebelum legio dimulai, kami bermain bola terlebih dahulu di halaman gedung pertemuan Gereja. Jika ada pastor lewat permainan bola dihentikan sementara (takut dimarahin). Pastor pergi, permainan dilanjutkan kembali. Sungguh menyenangkan bisa bermain bola bersama. Ketika katekis atau suster pendamping Legio datang, barulah kami berkumpul untuk mengadakan rapat Legio Maria (doa Rosario bersama, laporan tugas, pembagian tugas, doa tesera, dll.). Presidium kami didampingi oleh seorang katekis awam dan suster CB bergantian. Pernah sekali waktu saya dipercaya menjadi ketua legio oleh suster dan teman-teman. Saya senang diberi tanggung-jawab dan kepercayaan. Tahun 2008, suster pendamping kami, Sr. Lucina CB pindah tugas. Setelah kepergian suster, legio kami terpaksa mandiri. Karena tidak ada pendamping lama-lama anggota legio kami semakin berkurang. Jumlah yang hadir semakin lama semakin sedikit. Semakin menipisnya jumlah anggota, terpaksa kami membekukan sementara Legio Maria.

Legio Maria bagi saya adalah momen untuk berkumpul bersama teman-teman, berdoa bersama, belajar melayani dalam tugas-tugas keseharian, mengunjungi orang sakit, dll. Di situlah kami dilatih berdisiplin diri dalam hidup rohani maupun dalam hidup sehari-hari. Pada waktu itu Legio Maria tidak terpisahkan dari Putra Altar. Pada umumnya anggota Legio Maria sekaligus anggota Misdinar paroki yang seluruhnya adalah laki-laki. Biasanya pertemuan Legio berlangsung di sore hari di gedung pertemuan samping gereja. Setelah pertemuan selesai, bisanya kami renang bersama di kolam ikan Dewa. Renang gratis tanpa dipungut biaya bersama ikan-ikan dewa di dekat kompleks Gereja Paroki. Sungguh menyenangkan kala itu karena bisa berkumpul, bermain, berdoa dan saling mendukung satu-sama lain sebagai satu saudara. Itulah yang paling berkesan bagi saya.

Setelah lulus SMP, saya melanjutkan sekolah ke Seminari Menengah di Bandung. Lantas bertahun-tahun saya tidak ikut Legio Maria dalam suatu presidium secara resmi. Meskipun demikian, semangat Legio Maria tetap saya bawa di dalam hati. Semangat heroik, disiplin, persaudaraan, keramahan, perjuangan, keluwesan hati. Apabila ditanya apakah pernah menjadi pendamping Presidium, tentu saja belum pernah. Saya banyak ditugaskan dalam pastoral kategorial seperti ret-ret, mengajar, ibadat di stasi terpencil, website, dll. Akan berbeda cerita seandainya saya ditugaskan di Paroki. Ada kemungkinan mendampingi para Legioner. Mungin ini adalah jalan Tuhan yang mesti saya lalui. Tapi saya percaya setiap perjalanan sungguh dinamis, membawa saya pada kematangan dan kehidupan yang penuh makna.

Apabila mengamati situasi di lapangan, dari segi jumlah memang para legioner tidak begitu banyak. Jangan bersedih hati seandainya sedikit. Bersikaplah optimistis dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Sebetulnya ada hal yang unik yang dapat dipegang teguh oleh pasukan legioner . Ada semangat persaudaraan, sikap heroik, kunjungan orang sakit, ketekunan dalam doa, dan penghormatan kepada figur Maria. Sosok Maria dan keteladanan hidupnya adalah hal yang paling unik dari Legio Maria. Spirit Maria perlu menjadi kekuatan yang menggerakan para Legioner dari dalam hati hingga memancar dan berbuah dalam kehidupan para legioner. Maria adalah sosok yang paling dekat dengan Yesus. Dia adalah ibu Yesus sekaligus Ibu bagi umat manusia. Spiritualitas kasih seorang ibu menjadi sisi lain yang mesti dihayati oleh para legioner. Sosok ibu itu merawat, membesarkan, menjaga, memelihara, sabar menanggung segala sesuatu, tulus, memberi tanpa mengharapkan keuntungan, dan penuh kasih sayang. Inspirasi inilah yang dapat diteladani oleh para Legioner dimana pun dan kapan pun.

Bagi saya sendiri sosok Maria begitu menginspirasi. Sejak kecil saya sudah terbiasa devosi kepada sosok Maria melalui doa rosario, Legio Maria, dan ziarah. Tindakan devosional inilah yang menumbuhkan iman saya kepada Bunda Maria. Maria adalah orang yang dipilih Allah menjadi sarana keselamatan. Ia dikasihi Allah karena kesetiaan dan kemurnian hatinya. Ia adalah pelindung sekaligus penjaga umat beriman. Saya percaya bahwa doa melalui Bunda Maria sungguh luar biasa. Dia akan menolong dan melindungi kita dari segala bahaya. Tak henti-hentinya saya memohon perlindungan dan pertolongan Bunda Maria ketika sedang menghadapi kesulitan dan tantangan. Bagi para legioner dimanapun, percayalah dan teladanilah sosok Maria. Maria adalah inspirasi sentral bagi para legioner. Kehidupan dan keteladanan Maria ini mesti menjadi semangat yang menggerakan hati, budi, dan energi para legioner untuk senantiasa berbuat baik dan berbagi kepada banyak orang. Bunda Theresa pernah mengatakan

“Tuhan tidak memanggiku untuk mengejar kesuksesan di dalam hidup. Ia memanggilku untuk setia kepada-Nya!”.

Pesan untuk para legioner terkasih, setialah di dalam setiap pilihan hidup yang kalian pilih dan bertahalah terus sampai akhir. Percayalah, Tuhan melindungi orang-orang yang percaya kepada-Nya.

-Ego semper purificanda-

Salam dan Doa
Fr. Yosep Pranadi, OSC

Fr. Pranadi (kedua dari kiri) bersama para Frater Ordo Salib Suci

Catatan admin : Fr. Yosep Pranadi, OSC adalah administrator website www.osc.or.id yang banyak membantu dan menginspirasi website kita yang tercinta ini. Pada saat tulisan ini dimuat (23 April 2018) ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-25. Mari kita doakan bersama-sama. (^.^)