Kisah Inspiratif – Oma Gerda: 61 Tahun Setia Melangkah Bersama Legio Maria

Kunjungan saya kepada Oma Maria Martha Gerda Borggreve, yang akrab disapa Oma Gerda, kemarin sore meninggalkan kesan mendalam. Pada usia 78 tahun, Oma masih penuh semangat, hangat dalam menyambut tamu, dan aktif membantu Legio Maria sebagai Asisten Pemimpin Rohani (APR) di Kuria Mater Dei, Kelapa Gading.

Oma adalah anak pertama dari lima bersaudara, dengan ayah asli Belanda dan ibu Indonesia. Melihat wajahnya sekarang, saya membayangkan betapa cantiknya Oma ketika muda plus tubuhnya yang tinggi (karena ada bulenya), bisa jadi Oma spt fotomodel ketika masih muda. Kalau orang Surabaya bilang, “Cuantikkk ee poll!”
Tetapi sore itu, inner beautynya Oma jauh lebih cantik. *kecantikan hati Oma pun terasa melalui keramahan dan kerendahan hatinya.

Dengan gembira namun rendah hati, Oma menyambut saya sambil berkata, “Siapalah saya ini dikunjungi oleh Ketua Senatus.” Saya pun malu jadinya. Sambutan itu mengingatkan saya pada sukacita perjumpaan Maria dan Elisabet: sebuah kunjungan sederhana yang dipenuhi kehangatan dan kerendahan hati.

Perjalanan Oma bersama Legio Maria dimulai di Surabaya ketika usianya baru 17 tahun (lagi cakep-cakepnya). Kini, sekitar 61 tahun telah dilaluinya sebagai legioner. Oma juga pernah dipercaya menjadi perwira di Senatus Malang – sebagai sekretaris maka dia mengurus korespondensi dengan Medan, Yogya, Bandung, dll. Betapa panjang perjalanan kesetiaan itu, melewati berbagai tahap kehidupan, tanggung jawab keluarga, sukacita, dan dukacita.

Oma adalah istri prajurit dari Laksamana Pertama TNI (Purn.) Adi Mulyo. Menurut penuturannya, *keaktifan dalam Legio Maria sangat membantu dirinya menjalani kehidupan sebagai istri seorang prajurit dan komandan kapal perang. Ia turut mendampingi para istri prajurit yang menjadi anak buah suaminya. Pengalaman melayani sebagai legioner menjadi bekal untuk hadir, mendengarkan, dan menguatkan keluarga-keluarga prajurit tersebut.

Dalam kehidupan pribadinya, Oma pun harus berani dan mandiri. Dari empat kali melahirkan, hanya pada kelahiran anak pertama suaminya dapat mendampingi. Ketika melahirkan anak kedua hingga keempat, Oma menjalaninya tanpa kehadiran suami. Ada kalanya ia meminta bantuan saudara atau tetangga sesama istri prajurit untuk mengantarnya ke rumah sakit bersalin. Pasti Oma sangat disayang dengan semua tetangga-tetangganya – baik waktu penempatan di Surabaya, Makassar, Maluku dan Papua.

Mendengarkan cerita itu, saya membayangkan keberanian seorang ibu yang menghadapi saat-saat penting dalam hidupnya tanpa didampingi suami. Oma belajar mengambil keputusan, menerima bantuan orang-orang di sekitarnya, dan terus menjalani tanggung jawabnya bagi keluarga.

Namun, bagian yang paling menyentuh hati saya adalah ketika Oma bercerita tentang kehilangan anak ketiganya karena sakit. Anak yang dikenangnya sebagai anak yang paling ganteng itu meninggal pada usia 41 tahun.

Di tengah kehilangan sebesar itu, Oma mengatakan bahwa ia bersyukur karena telah diberi kesempatan merawat dan membesarkan anaknya selama 41 tahun.

Mendengar penuturan Oma, saya sungguh menahan tangis saya. Saya pun pernah kehilangan putri saya, Emma. Cerita Oma menyentuh duka yang juga saya bawa dalam hati. Saya tahu betapa berharganya setiap kenangan bersama anak yang kita kasihi.

Saya tersentuh oleh cara Oma mengenang putranya dengan penuh syukur, bukan dengan duka. Oma Gerda tetap melihat 41 tahun kebersamaan itu sebagai anugerah Tuhan. Sore itu, melalui cerita Oma, saya ikut dikuatkan untuk terus mensyukuri waktu yang pernah Tuhan berikan kepada saya bersama Emma.

Di situlah saya melihat keteguhan iman seorang ibu: membawa kerinduan dan dukanya kepada Tuhan, sambil tetap bersyukur atas kehidupan anak yang pernah dipercayakan kepadanya.

Bagi saya, Oma Gerda adalah seorang prajurit Maria yang berani, mandiri, dan teguh dalam iman. Pembentukan sebagai legioner menyertai kehidupannya sebagai istri, ibu, dan pendamping sesama. Hingga usia 78 tahun, Oma masih memberikan waktu, perhatian, dan tenaganya bagi Legio Maria.

Saya datang mengunjungi Oma dan namun saya pulang membawa penguatan iman dari kisah hidupnya.

Terima kasih, Oma Gerda, atas sambutan yang hangat dan kesaksian hidup yang begitu berharga. Semoga Tuhan senantiasa menganugerahkan kesehatan, penghiburan, dan sukacita kepada Oma. Semoga Bunda Maria terus menggandeng tangan Oma dalam setiap langkah kehidupan dan pelayanan.

peluk cium kami.

Kisah Inspiratif – Uci, Legioner Muda dari Penajam, Kalimantan Timur (Kuria Dahor)

Bertumbuh dalam Iman dan Prestasi

Dari Penajam, Kalimantan Timur, dekat kawasan Ibu Kota Nusantara, hadir sebuah kisah yang membanggakan dari seorang legioner junior. Namanya Lucy Filipini Saro, yang akrab disapa Uci. Di usianya yang baru 13 tahun, ia memperlihatkan bahwa belajar, mengembangkan bakat, dan melayani Tuhan dapat berjalan bersama.

Uci kini duduk di kelas VIII SMP ITCI PPU. Sejak kelas VI SD, ia telah bergabung dalam Legio Maria di Presidium Ratu Para Perawan, Paroki Santa Maria dari Fatima, Penajam, yang berada dalam naungan Kuria Dahor. Sejak usia muda, ia mulai mengenal kebersamaan dalam doa dan pelayanan sebagai anggota keluarga besar Legio Maria.

Ada banyak hal yang patut kita syukuri dari anak ini. Uci berhasil meraih juara pertama lomba membaca Kitab Suci tingkat paroki. Ia juga meraih juara pertama lomba desain logo ulang tahun paroki. Di sekolah, ia pun memperoleh peringkat pertama di kelasnya. Kemampuan membaca, kreativitas, dan ketekunannya belajar menjadi talenta yang dapat terus dikembangkan untuk kebaikan.

Yang juga menggembirakan, Uci mengambil bagian dalam pelayanan sebagai misdinar. Menurut penuturan ibunya, selama sehat dan tidak berhalangan, ia selalu berusaha hadir di gereja. Di tengah kegiatan sekolah dan berbagai kesibukan, ada tempat yang selalu ia berikan bagi Tuhan dan Gereja.

Bagi saya, kehidupan Uci menjadi kesaksian sederhana tentang iman yang bertumbuh melalui keseharian. Belajar dengan sungguh-sungguh merupakan cara mensyukuri kemampuan yang Tuhan berikan. Membacakan Kitab Suci menjadi kesempatan menyampaikan sabda-Nya kepada umat. Membuat desain untuk paroki pun menjadi cara mempersembahkan kreativitas bagi kehidupan Gereja.

Tentu, perjalanan Uci masih panjang. Ia masih membutuhkan pendampingan, dukungan, dan ruang untuk bertumbuh. Kisahnya mengingatkan kita, para legioner senior, untuk hadir mendampingi anggota junior: menyemangati mereka, mendengarkan kesulitan mereka, dan membantu mereka menemukan sukacita dalam doa serta pelayanan.

Di dekat Nusantara yang sedang dibangun, kita pun melihat harapan bagi masa depan Gereja dalam diri seorang anak seperti Uci. Semoga semakin banyak anak muda mendapat kesempatan mengembangkan bakat sekaligus bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan.

Teruslah bertumbuh, Uci. Selamat atas prestasi-prestasimu! Semoga engkau tetap rendah hati, tekun belajar, dan bersukacita dalam pelayanan. Kiranya Bunda Maria senantiasa membimbingmu semakin dekat kepada Yesus, sehingga setiap talenta yang engkau miliki menjadi berkat bagi sesama.

Senatus bangga denganmu Uci !

Kisah Inspiratif dari Oma Margaret

Dear Senatus,

Pagi ini saya mendapat kesempatan yang sangat berharga untuk bertemu Oma Margaret, legioner berusia 92 tahun dari Komisium Jakarta Utara. Oma Margaret bisa jadi Legioner tertua di Senatus kita, atau mungkin ada yang lebih tua?

Kami bertemu di Gua Maria Gereja Regina Caeli. Oma bercerita banyak tentang keluarga, pelayanan, dan pengalaman-pengalaman iman yang dialaminya, termasuk mujizat-mujizat yang terjadi berkali kali dalam hidupnya.

Oma lahir di jaman Jepang dan dia melihat keluarganya ditawan oleh tentara Jepang. Di awal-awal kehidupannya, Oma sudah menjadi Yatim Piatu. Tapi kebaikan Tuhan menyertainya, dia diijinkan bersekolah gratis di Sekolah Santa Maria Malang oleh para suster Belanda waktu itu.

Oma Margaret mulai menjadi legioner aktif sejak tinggal di Malang pada tahun 1960-an. Lebih dari setengah abad telah berlalu. Oma menikah, membesarkan anak-anak, lalu memiliki cucu dan cicit. Kini, sebagai anggota auxilier, Oma tetap setia mendukung Legio Maria melalui doa.

Kesetiaan Oma juga tampak dalam kebiasaannya mengikuti Misa setiap hari, menerima Tubuh Kristus, dan rajin beradorasi. Mendengarnya bercerita, saya merasa bahwa doa sungguh menjadi bagian dari hidup Oma, bukan sekadar kegiatan di sela waktu.

Di tengah cerita-cerita yang menyentuh, Oma juga membuat kami tertawa. Katanya, rambutnya dahulu sudah putih semua, tetapi sekarang hitam lagi – karena dicat! 😄 Oma juga dengan bangga bercanda bahwa dialah yang paling jago masak di antara para legioner PIK.

Saya pulang dengan hati yang bersukacita, terharu, semangat juga dan banyak mendapat pelajaran. Oma Margaret menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan dan Bunda Maria dapat terus bertumbuh dalam setiap tahap kehidupan. Cara melayani boleh berubah, tetapi hati yang setia tetap menyala spt Prajurit yang siap sedia bertempur.

Terima kasih, Oma Margaret, atas cerita, tawa, teladan, dan doa-doa Oma bagi kami. Di usia 92 tahun, Oma masih mengingatkan kami untuk terus setia.

Love you Oma Margaret. 🥰🥰

Bagaimana dengan kita?

100 Tahun Legio Maria : Jejak Langkah Legio Maria Senatus Bejana Rohani, Indonesia Bagian Barat

Dalam tulisan sebelumnya, kita telah membaca sejarah, inspirasi dan tujuan didirikan Legio Maria sejak 7 September 1921 di Dublin, Irlandia, tempat awal terbentuknya Legio Maria di dunia. Pendiri Legio Maria, Frank Duff tak pernah berpikir bahwa pertemuan awal ini akan meluas ke seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Bagaimana perjalanan sejarah Legio Maria di Indonesia, khususnya di Senatus Bejana Rohani, yang meliputi wilayah Indonesia Bagian Barat? Jujur, kami belum dapat menuliskan jejak langkah secara lengkap karena keterbatasan sumber informasi. Akan tetapi kami berusaha merangkum beberapa hal penting dari catatan dan narasumber yang ada. Jika dari pembaca mempunyai info tambahan kiranya berkenan menyampaikan pada Perwira Senatus Bejana Rohani.


AWAL TERBENTUKNYA DEWAN SENATUS BEJANA ROHANI, JAKARTA

Legio Maria di Jakarta muncul pertama kali pada tahun 1972, didirikan oleh Pastor Vincenzo Salis SX di Gereja St. Maria de Fatima, Paroki Toasebio, Jakarta Barat. Presidium pertama tersebut memakai nama Paroki yaitu Presidium Maria de Fatima. Saat itu tergabung di Kuria Bogor.

Tahun 1977, Jose Tugelida, seorang envoy dari Filipina datang ke Jakarta dan melihat ladang subur yang memungkinkan perkembangan Legio Maria. Terbukti bahwa selama 1978-1979, Legio Maria tumbuh di Jakarta seperti cendawan tumbuh di musim hujan. Dari 19 presidium yang tersebar di paroki Toasebio, Kemakmuran, Pluit, Mangga Besar, Matraman, Tanah Tinggi, dan Kramat, meningkat jumlahnya menjadi 33 presidium yang semuanya bergabung kepada Dewan Kuria Bogor.

Melihat jumlah presidium yang telah cukup banyak, Sdr. Jose mengusulkan dibentuk sebuah dewan kuria di Jakarta. Prakasa ini disambut dengan baik oleh Bapa Uskup Agung Jakarta, saat itu adalah Mgr. Leo Sukoto dan juga Kuria Bogor yang saat itu mensupervisi presidium-presidium Jakarta. Akhirnya dewan kuria yang telah disiapkan dengan baik itu diresmikan oleh Dewan Komisium Bandung pada tanggal 18 Februari 1979 dengan nama Bejana Rohani – Jakarta.

Istimewa sekali dalam rapat perdana KURIA BEJANA ROHANI, karena selain dihadiri oleh utusan dari Senatus Malang, Komisium Bandung, Kuria Bogor, juga dihadiri oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Sukoto, serta Jose Tugelida selaku envoy dan utusan resmi dari Dewan Konsilium Dublin.

Peranan utama Legio Maria adalah membantu Gereja secara nyata. Umat Katolik di KAJ saat itu sekitar 133.000 orang yang tersebar dalam 34 paroki, dan memerlukan partisipasi dari legioner untuk menjadi garam bagi Gereja.

Mgr. Leo Sukoto, Uskup Agung Jakarta – 1979

Karena pertumbuhan demikian pesat dalam kota Jakarta, dan untuk meningkatkan efisiensi pengawasan dan perluasan, maka atas persetujuan Mgr. Leo dibentuklah 2 kuria baru dalam kota Jakarta pada 19 Oktober 1980. Dengan demikian terdapat 3 dewan kuria, yaitu Kuria Bejana Rohani, Kuria Tahta Kebijaksanaan dan Kuria Ratu Para Rasul dengan total jumlah presidium di Jakarta sebanyak 31 presidium senior dan 14 presidium junior.

Dalam kurun 3 tahun , Legio Maria di Jakarta telah tumbuh menjadi 56 presidium yang tersebar di 18 dari 35 paroki yang ada saat itu. Dengan restu dari pimpinan Gereja dan pimpinan Legio Maria, pada 10 Juli 1983 Senatus Malang meningkatkan status Kuria menjadi KOMISIUM BEJANA ROHANI untuk mensupervisi dewan dan presidium di daerah Jakarta.

Keterampilan legioner dalam bertugas sungguh-sungguh diperhatikan dengan tidak melupakan kehidupan rohaninya. Diharapkan Legio Maria membantu di lingkunganlingkungan paroki dan menjadi penghubung antar umat lingkungan sehingga Legio Maria khususnya di KAJ dapat menjadi perpanjangan tangan Gereja.
Homili Mgr. Leo, 17 September 1983

Berkat karya Roh Kudus melalui penyertaan Bunda Maria, rupanya semangat umat Katolik semakin membara untuk menggabungkan diri menjadi bala tentara Maria dalam karya Kerasulan Legio Maria. Hal ini ditanggapi secara serius oleh Pimpinan Legio mulai dari Konsilium Dublin dan Senatus Malang, serta Pimpinan Gereja, sehingga setelah melalui proses penelitian yang cukup panjang, akhirnya Minggu, 29 Maret 1987 status Komisium Bejana Rohani ditingkatkan menjadi SENATUS BEJANA ROHANI dan berpusat di Jakarta.

Sumber : dok. pribadi
Surat pengesahan dari Dublin – | Sumber : dok. pribadi

Rapat perdana sebagai dewan senatus dilaksanakan di aula gereja Keluarga Kudus, Rawamangun. Saat itu Senatus Bejana Rohani terdiri dari 2 komisium, 11 kuria, 18 presidium senior dan 8 presidium junior, dengan wilayah meliputi seluruh Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan dan Jakarta. Wilayah tersebut terdiri dari Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Medan dan keuskupan-keuskupan lainnya : Bandung, Sibolga, Padang, Palembang, Tanjung Karang, Pangkal Pinang, Pontianak dan Bogor. Tentu saja keputusan dari Dewan Konsilium Dublin ini juga disetujui oleh Uskup wilayah tersebut dan Senatus Malang.

Dengan ditingkatkannya menjadi dewan senatus, yang merupakan senatus ke-2 di Indonesia, tentulah sebuah kebanggaan dan juga tanggung jawab besar untuk mengupayakan agar karya kerasulan Legio Maria menjadi bagian dari Gereja Indonesia dan dapat menjadi perpanjangan tangan Gereja untuk mewujudkan Kemuliaan Allah di dunia.

PERKEMBANGAN SENATUS BEJANA ROHANI DI ABAD KE-20

Dalam perjalanan Legio Maria di wilayah karya Senatus Bejana Rohani yaitu Indonesia bagian Barat, Senatus selalu mengupayakan agar selaras dengan perkembangan Gereja setempat baik itu arah dasar, semangat dan juga wilayah karya.

Salah satu upaya yang dilakukan pada tahun 2011-2012 adalah Senatus mencoba merapikan wilayah karya dewan legio (kuria dan komisium) agar selaras dengan wilayah karya keuskupan setempat. Tujuannya agar legio berkarya sesuai dengan bimbingan, fokus, dan kebutuhan Gereja setempat (Keuskupan/ Dekenat/ Paroki/ Stasi). Hal ini dimulai dari Keuskupan Agung Jakarta, dengan merapikan pengelompokan dewan kuria dan komisium sesuai dengan Dekenat. Walau cukup banyak hambatan dalam proses ini karena beberapa dewan/ presidium sudah saling terikat dan harus dipisahkan sesuai dengan dekenatnya, akan tetapi berkat ketaatan dan kerendahan hati legioner, serta didukung oleh para Pemimpin Rohani, akhirnya hal ini terlaksana dengan baik hingga saat ini.

Perluasan legio terus berjalan, walau harus diakui bahwa di wilayah Jakarta dan Jawa Barat pertumbuhan secara kuantitas tidak sebesar dan seagresif di tahun 90-an, akan tetapi Senatus juga harus memastikan kualitas/ semangat kerasulan legio ini terjaga dengan baik. Oleh karena itu dibutuhkan pendampingan yang efektif dari semua tingkatan mulai dari presidium hingga senatus.

Di pertengahan tahun 2011, Senatus mensupervisi 16 dewan dalam kota Jakarta, 9 dewan luar kota dan 6 presidium tergabung langsung, dengan total 16.000-an legioner. Untuk mengefektifkan supervisi maka pada tahun 2011- 2014, Senatus meningkatkan 4 dewan kuria menjadi komisium di wilayah Keuskupan Agung Jakarta, yaitu Komisium Maria Asumpta – Tangerang (September 2011), Komisium Our Lady of the Holy Family – Jakarta Timur (Januari 2012), Komisium Maria Pengantara Segala Rahmat – Bekasi (Januari 2013) dan Komisium Ratu Para Rasul – Jakarta Barat 1 (Oktober 2014).

Perkembangan Senatus Bejana Rohani di abad ke-20-an ini tidak berhenti di seputar Jakarta, Jawa Barat dan Sumatra, tetapi juga berkembang pesat di wilayah Kalimatan. Nantikan kisah perjuangan perluasan Legio Maria di wilayah Borneo ini di edisi mendatang.

Bersambung…

Catatan : Tingkatan kelompok Legio Maria dimulai dari terkecil yaitu presidium, kuria, komisium, regia, senatus dan konsilium.

100 Tahun Legio Maria : Sejarah dan Inspirasi Awal

Di awal tahun 1900an ketika Dublin, Irlandia merupakan satu wilayah di Eropa yang mengalami keterpurukan kondisi perekonomian karena banyak pengangguran dan kemiskinan, Serikat Santo Vincentius (SSV), menjadi sebuah organisasi/ kelompok tumbuh hadir untuk membantu pemenuhan kebutuhan jasmani.

Seorang awam, Frank Duff (24 tahun), didasari oleh keprihatinan pada sesama yang menderita dan semangat misioner yang bergelora dalam hatinya, serta keinginannya yang sederhana untuk dapat melakukan sesuatu yang berguna, untuk berjumpa dengan Kristus sendiri dalam diri sesama yang menderita, maka pada 1913 Frank Duff mendaftarkan diri menjadi anggota kelompok SSV.

Duff, sebagai seorang anggota SSV, tentulah ia memiliki devosi yang mesra kepada Maria, dalam perjalanannya Duff juga membaca dan terinspirasi dari buku “Bakti Sejati kepada Maria”, karangan St Louis Marie de Montfort. SSV terus bertumbuh dan mekar, Frank Duff menjadi ketua dan berpusat di Myra House, Dublin. Dalam setiap pertemuan bulanan selalu mengagendakan diskusi dari buku Bakti Sejati. Dalam sebuah pertemuan, anggota menceritakan kunjungan menarik saat ke rumah sakit di Dublin.

Berawal dari kunjungan tersebut, Frank Duff dan bersama beberapa orang merasakan perlunya lanjutan untuk membahas hal tersebut dan disepakati pertemuan pada 7 September 1921, yang menjadi tonggak sejarah lahirnya Legio Maria.

7 September 1921 jam 20:00 Lahirnya Legio Maria

Frank Duff, Pastor Michael Toher dan 13 orang wanita yang mayoritas gadis muda berkumpul. Tak seorang pun yang sadar bahwa hari yang mereka tentukan adalah malam menjelang Pesta Kelahiran Bunda Maria, 8 September. Frank Duff sangat terpesona dengan penataan ruang pertemuan, di atas meja ada patung Bunda Maria Tak bernoda dengan bunga dan lilin di sekitarnya, hal ini sama persis dengan penataan altar pertemuan legio saat ini (tentu saja belum ada Veksilum).

Diyakini bahwa Bunda Maria sendirilah yang hadir mendahului mereka untuk menyambut mereka yang mendaftarkan diri untuk melayani dia.

Mereka bukan saja datang untuk membentuk sebuah perkumpulan (organisasi) melainkan untuk menyediakan diri bagi suatu tugas pelayanan, untuk mencintai dan melayani seseorang. Patung itu mengingatkan mereka bahwa Maria selalu hadir di tengah mereka. Pada awalnya, perkumpulan itu dinamakan Perserikatan Maria Berbelaskasih dan kemudian menjadi LEGIO MARIAE.

Anggotanya berusaha melaksanakan dalam hidupnya seperti ajaran “Bakti Sejati kepada Bunda Maria” menurut St. Montfort yang menekankan pada pelayanan praktis, yaitu melayani Bunda Maria, bukan hanya dalam perkataan melainkan juga dalam perbuatan.

Mereka akan melayani dia dengan melayani Puteranya Yesus Kristus yang hadir dalam setiap manusia yang mereka jumpai; melayani Kristus yang menderita dalam diri para pasien di rumah sakit, menghibur Yesus yang kesepian dalam diri orang yang hidup sendirian, bertemu dengan kanak-kanak Yesus dalam diri anak-anak yang mereka jumpai, mencari Kristus yang tersalib dalam diri setiap pendosa.

Dengan memandang patung Maria di atas altar legio, mereka selalu diingatkan bahwa Bunda Kristus sendirilah yang mengutus mereka untuk suatu tugas isitimewa. Mereka selalu bergantung kepadanya dan berjuang untuk menjalani hidup yang suci dalam persatuan dengan dia. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa panggilan mereka adalah: “Melayani Bunda Maria, demi kemuliaan Allah”. Inilah inspirasi awal yang terus kita hidupi dalam perjalanan pelayanan Legio Maria.

Perluasan Legio Maria
Dalam perkembangannya, Legio Maria mulai tersebar di beberapa belahan dunia, 1929 di Skontlandia, Inggris, India, Amerika, Australia, Selandia Baru, Afrika dan Amerika Latin, China, lalu kemudian di negaranegara Eropa daratan. Legio Maria masuk Indonesia pada 1951 melalui Medan, oleh seorang envoy bernama Miss Theresia Shu (Legioner di Universitas Hongkong), lalu menyebar ke Padang, Pekanbaru, Sidikalang, Tanjung Karang dan Pangkal Pinang. Legio juga menyebar ke Pulau Kalimantan yakni Pontianak, Singkawang, Sambas dan terus ke arah timur, Pulau Flores Nusa Tenggara Timur yakni Maumere.

Pada tahun 1952, Pater Paul Janssen CM, yang baru kembali dari Filipina, tempat Legio Maria berkembang dengan pesat, mendirikan presidium pertama di Kediri, Jawa Timur, lalu meluas ke Surabaya, Malang, Blitar dan Madiun pada tahun 1953. Dengan perkembangannya, mulai dibentuklah dewan legio yaitu Kuria Malang pada 1954.

Di Jawa Barat, Legio Maria mulai masuk pada tahun 1956 menyebar dari Cirebon, Yogyakarta pada tahun 1969 dan meluas ke Semarang dan Surakarta. Sedangkan di Jakarta, mulai dengan presidium sekitar tahun 1977-1978 dan tersebar luas di Indonesia.

Saat ini Legio Maria di Indonesia telah berkembang di 33 provinsi, 35 Keuskupan, dengan jumlah legioner sebanyak 66.000 orang di dalam naungan tiga Dewan Senatus di Indonesia, yaitu Senatus Bunda Maria Karmel, Malang (5 Juli 1964), Senatus Bejana Rohani, Jakarta (29 Maret 1987) dan Senatus Maria Diangkat ke Surga, Kupang (8 September 2019). Bersambung….

Scroll Up