Kesetiaan Legioner

Buku Pegangan Bab 29 halaman 188
Alukosio oleh PR RD Antonius Didit Soepartono – Rapat Senatus ke 396-I/ Tahun ke-33


Tujuan organisasi adalah untuk mempersatukan banyak orang. Demikian pula Legio Maria, apabila memiliki semakin banyak anggota, maka tujuan ini akan semakin tercapai. Seluruh anggota akan dipersatukan dalam doa, karya, dan pelayanan bersama. Oleh karena itu, legioner seharusnya tidak memisahkan diri dan melakukan sesuatu berdasarkan kemauan sendiri.

Dasar persatuan adalah ‘kesetiaan’; kesetiaan anggota kepada presidium, kesetiaan presidium kepada kuria, dan seterusnya. Namun kesetiaan itu tidak hanya dilakukan oleh bagian yang paling rendah kepada bagian yang lebih tinggi, melainkan juga sebaliknya. Oleh karena itu, masing–masing dewan wajib memonitor dewan/ presidium di bawahnya. Selain itu, kesetiaan juga berarti setia kepada pimpinan gereja, bukan hanya kepada Pemimpin Rohani saja tetapi juga kepada Pastor Paroki setempat. Kesetiaan sejati yang sungguh dijiwai akan menghindari sikap menang sendiri/ egois. Legioner yang setia akan menunjukkan sikap Bunda Maria yang ia teladani, Bunda Maria yang taat kepada Tuhan dan firman Allah.

Buah kesetiaan adalah ‘ketaatan’ dan bukti ketaatan adalah kesiap-sediaan untuk melaksanakan tugas pelayanan dengan menerima keadaan dan keputusan yang sekalipun tidak menyenangkan dengan hati gembira. Legioner yang baik harus siap diutus ke mana pun tanpa pilih-pilih. Seorang perwira harus menjadi pemimpin yang memberikan contoh yang baik, bukan menjadi pimpinan yang hanya mau melihat hasil baik saja.

Legio Maria adalah pasukan -angkatan bersenjata- Perawan Yang Amat Rendah Hati. Bukan harus perang dengan senjata, namun di jaman sekarang ini kita diajak untuk menyangkal diri dari kedagingan kita. Walaupun dengan banyak keterbatasan kita, mari tetap mengupayakan memberikan yang terbaik dalam karya kita.

Pesan bagi semua legioner agar tidak bertindak, berkata, dan berpikir yang menimbulkan perpecahan atau pun menyebarkan isu yang tidak jelas. Bagi para perwira juga hendaknya tidak melalaikan kewajiban untuk hadir rapat dan memelihara anggotanya masing-masing. Perwira tidak hanya menjalankan tugasnya saja namun juga harus mempersiapkan regenerasi. Ingatlah kesetiaan dan ketaatan Bunda Maria yang merupakan teladan kita.

Dasar persatuan adalah ‘kesetiaan’. Buah kesetiaan adalah ‘ketaatan’. Bukti ketaatan adalah kesediaan untuk menerima keadaan dan keputusan yang tidak menyenangkan – harus menerima segalanya dengan hati gembira.

Membawa Damai

Matius 5 : 1 – 12
Alukosio oleh PR RD Antonius Didit Soepartono – Rapat Senatus ke 396-H/ Tahun ke -33


Bacaan rohani mengenai Sabda Bahagia merupakan pelajaran cinta tertulis yang mudah disampaikan atau dibaca namun sulit untuk dilaksanakan. Satu dari sepuluh ungkapan sabda bahagia tersebut adalah “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anakanak Allah”. Membawa damai merupakan salah satu tugas kita bersama. Lalu apa yang dapat legioner lakukan untuk membawa damai terutama selama masa pandemi ini?

Yang pertama, pada 1 November, Gereja Katolik memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus. Mari kita meneladani kesetiaan para Santo – Santa pelindung.

Lalu yang kedua, kita menjalin hubungan baik dengan masyarakat, apalagi saat ini sering sekali timbul konflik yang menggunakan agama dan ras sebagai tameng.

Berikutnya, seluruh perwira Legio Maria mulai dari Senatus hingga Presidium diharapkan dapat semakin kreatif untuk memperkenalkan Legio Maria kepada kaum muda maupun para lansia. Kondisi pandemi saat ini memaksa kita untuk lebih banyak beraktivitas secara online. Dengan demikian, yang jauh bisa menjadi dekat. Teknologi ini jika dimanfaatkan dengan baik, maka dapat memperkaya kuantitas dan kualitas Legio Maria.

Dengan kemajuan teknologi dan kegiatan online ini, perwira harus mengupayakan seluruh informasi dapat tersampaikan secara lengkap dan jelas kepada seluruh legioner, serta seharusnya kehadiran legioner dapat meningkat.

Kemudian, sebagai legioner kita harus tetap mengupayakan kehadiran rapat dengan sungguh-sungguh walaupun hanya online dan berdoa dengan tekun.

Serta kita bisa merencanakan habitus dan kegiatan positif untuk menyambut usia ke 100 tahun Legio Maria pada September 2021. Memang tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan selama masa pandemi ini. Namun apabila kita fokus dan sungguh-sungguh pada beberapa hal saja, maka hasilnya akan luar biasa.

Yang terpenting adalah kita mau dengan sepenuh hati mencintai dan melihat apa yang Tuhan kehendaki selama masa pandemi dan di tengah keterbatasan ini.

Mari budayakan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjaga kesehatan, dan segala hal yang dapat kita lakukan untuk berjuang di tengah situasi pandemi ini. Mari menjadikan hal-hal ini sebagai gaya hidup, sehingga bukan hanya menjaga diri sendiri tetapi juga menjaga orang lain di sekitar kita. Tuhan memberkati. Ave Maria.

Doa Rosario

Buku Pegangan Bab 18 halaman 118
Alukosio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke-396-G/Tahun ke-33


Kita bersama memasuki bulan Oktober yang ditetapkan oleh Gereja sebagai bulan Rosario (bukan bulan Maria lho yah). Gereja menyadari betul bahwa Rosario memiliki peran istimewa dalam kehidupan iman Gereja.

Doa Rosario sudah dikenal di kalangan ordo Dominikan sejak abad XIII, tetapi baru memasyarakat setelah kemenangan tentara Kristen atas pasukan Turki di Lepanto. Pertempuran Lepanto adalah pertempuran laut yang terjadi pada tanggal 7 Oktober 1571 di Teluk Lepanto. Tentara Kekaisaran Ottoman berperang melawan tentara koalisi Kristen, yang disebut Liga Santa. Pertempuran itu melibatkan 6 kapal perang milik tentara Kristen melawan 208 kapal Ottoman. Selain itu, masing-masing pihak menurunkan sekitar 100.000 orang untuk berperang. Kekalahan tentara Turki merupakan pukulan yang telak dengan penenggelaman dan penahanan 205 kapal mereka, 30.000 korban jiwa, dan 8.000 tahanan perang.

Armada Kekaisaran Ottoman pada mulanya nampak tak terkalahkan. Namun kemenangan tentara Kristen yang dipimpin oleh Kekaisaran Spanyol, atas armada Turki di Teluk Lepanto memicu euforia di Roma. Di Roma Paus Pius V sibuk melakukan suatu hal yang tidak pernah akan dapat dilupakan dalam sejarah kekristenan.

Pertempuran berlangsung pada hari Minggu pertama bulan Oktober tahun itu dan kemenangan yang diraih diyakini sebagai akibat pertolongan “Rosario Santa Perawan Maria”. Sejak saat itu, doa Rosario menjadi populer di kalangan umat.

Pertempuran Lepanto

Menurut berbagai laporan, selama pertempuran berlangsung, di Roma Paus Pius V menunggu hasil perang sambil berdoa Rosario. Di tengah doa, beliau keluar dari kapel dan mengumumkan kepada semua umat beriman yang hadir, bahwa dalam sebuah penampakan beliau melihat Allah memberikan kemenangan kepada tentara Kristen dengan perantaraan doa Santa Perawan Maria. Demikianlah, setiap tanggal 7 Oktober Gereja Katolik merayakan peringatan wajib Rosario Santa Perawan Maria.

Rosario (dari bahasa Latin rosarium “mawar”) adalah doa tradisional Katolik yang merenungkan dua puluh “peristiwa” dalam kehidupan Yesus Kristus dan Bunda Maria. Doa ini mulai diperkenalkan sekitar tahun 800-an, untuk menggantikan doa Mazmur bagi umat yang buta huruf. Pada akhir abad pertengahan doa ini mulai ditinggalkan umat, sampai Beato Alano de la Roca menghidupkannya kembali di Köln (Jerman) pada abad ke-15.

SIKAP BATIN DALAM DOA ROSARIO

Yang pertama, pusat doa Rosario adalah Tuhan Yesus Kristus, karena Rosario adalah saripati peristiwa Injil. Maka baik kiranya kita bisa berdoa Rosario untuk semua peristiwa, artinya janganlah kita mengidolakan sebuah peristiwa tertentu dan terpaku pada satu peristiwa itu saja setiap kali berdoa Rosario.

Yang kedua, dalam melaksanakan Doa Rosario hendaklah batin kita benar-benar terisi oleh tenaga kekaguman akan kasih Allah melalui pengurbanaan Kristus, terisi dengan luapan rasa syukur kepada Allah atas pemeliharan jiwa dan badan kita, terisi dengan semangat untuk memperbaiki kualitas hidup rohani kita, serta terisi dengan pernyataan ungkapan-ungkapan iman yang meneguhkan dan menunjukkan ketergantungan kita pada Allah.

Seperti halnya Doa Rosario diyakini telah membawa laskar Kristen memenangkan pertempuran dahsyat di Lepanto, maka doa Rosario yang sama kiranya akan memampukan kita memenangkan peperangan dahsyat masa kini, di mana Gereja sedang berperang melawan arus sekularisme, hedonisme, materialisme, dan lain-lain. Tuhan memberkati. Ave Maria.

Waktu yang Tepat

Buku Pegangan Bab 18 halaman 117
Alukosio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke-396-F/Tahun ke-33


Penggunaan waktu yang tepat dan intensif cenderung menghasilkan pencapaian yang besar. Istilah kerennya adalah ‘terfokus’. Fokus memungkinkan sinar matahari yang terkumpul melalui suryakanta memiliki kemampuan membakar. Fokus juga membuat seorang pelajar bisa mencapai prestasi tinggi di sekolahnya. Selain itu, tahukah Anda mengapa ada doa Novena 9 selama hari berturut-turut? Novena ini adalah sarana agar tenaga spiritual kita terfokus, sehingga Tuhan lebih mungkin untuk menjawab doa kita. Fokus membuat tugas-tugas yang dikerjakan menjadi efektif dan menyenangkan.

Para legioner terkasih, bacaan rohani hari ini terkait dengan ‘waktu yang tepat’ dalam menyelenggarakan rapat presidium. Waktu yang tepat berarti rapat dilaksanakan pada jam yang pasti, dimulai dan diakhiri pada jam yang tepat, dan waktu ini seyogyanya tidak penah berubah. Demikian pula dengan hari kapan rapat dilaksanakan. Penghargaan terhadap rapat presidium menuntut kita berfokus dalam waktu yang telah ditetapkan dan disediakan. Peraturan buku pegangan tentang waktu yang ketat bukan dimaksudkan sekedar untuk menampilkan kesan disiplin ala tentara Romawi saja, melainkan bagaimana kita berusaha memfokuskan hati dan pikiran kita pada jalannya rapat. Dengan demikian rapat presidium akan menjadi rapat yang berkualitas, baik efektif secara adminsitrasi, harmoni secara interaksi sosial antar anggotanya, berkembang dari sisi mutu kepribadian, dan berkembang secara spiritual. Rapat presidium adalah perjumpaan para legioner dengan Maria. Tentu akan menjadi duka cita Maria bila perjumpaan para legioner dengan Ibunya yang suci dilaksanakan tidak dengan semangat fokus atau ala kadarnya.

Jadwal rapat yang tidak teratur dan sesuka hati ibarat sebuah suryakanta yang selalu bergerak kesana kemari. Sekalipun suryakanta yang terus bergerak itu diekspos ke cahaya matahari di siang yang terik, toh tindakan ini tak akan mampu mengumpulkan tenaga matahari sampai memiliki daya bakar yang tinggi. Rapat presidium yang sering berubah waktunya tentu juga tak akan memberikan daya bakar/ pertumbuhan tenaga spiritual pada para anggotanya, sebab hal ini mencerminkan bahwa para legioner ini lebih tertarik dengan urusan lainnya.

Jadi hendaklah para legioner senantiasa berusaha menghormati keluhuran rapat presidium dengan menentukan jadwal yang tegas, jelas, dan masuk akal berdasarkan situasi dan kondisi, kemudian barulah para legioner menyesuaikan jadwal tugas-tugas kehidupan yang lain.

Rasul Paulus menuliskan pesan indah kepada jemaat di Kolose: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 2: 23). Rasul Paulus menasehati agar kita melakukan yang terbaik terhadap SEGALA TUGAS KITA – apapun itu, terlebih lagi bila tugas itu adalah duduk bersama berbincang dalam kasih dari hati ke hati kepada Maria – Ibu Sang Juru Selamat. Jadi, marilah kita hormati rapat presidium dengan cinta yang berkobar kepada Maria. Waktu yang tepat menjadi bagian pokok dari upaya ini. Tuhan memberkati. Ave Maria.

Setiap Rapat Presidium Diatur Menurut Tata Letak yang Seragam

Buku Pegangan halaman 116 Bab 18 poin 1.
Alukosio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke – 396 – E / Tahun ke – 33
.


Estetika Rohani dalam Rapat Presidium

Gereja Katolik memiliki khasanah estetika rohani yang sangat tinggi. Hal ini juga diikuti oleh Legio Maria. Dalam rapat presidium, kita menghadirkan sebuah altar rapat yang dibuat sedemikian rupa sehingga keindahan rohani dapat dihadirkan.

Altar rapat Legio Maria pada hakikatnya bukanlah sekedar hiasan belaka, melainkan sebuah sarana fisik yang berfungsi untuk menghadirkan Maria secara batin dalam rapat itu. Benda-benda yang ditaruh di meja altar seluruhnya mengandung simbolisasi semangat rohani berdevosi yang sangat dalam. Oleh karena itu penting sekali setiap legioner memahami makna altar rapat ini dan mengungkapkannya melalui tindak tanduk yang terpuji selama mengikuti rapat.

Di tengah meja diletakkan patung Ibu Maria. Patung itu tetaplah sekedar benda mati plastik atau tembikar yang bisa kita beli di toko. Namun kita harus mampu melihat sampai jauh, yaitu sampai pada kesadaran bahwa patung Ibu Maria yang diletakkan di tengah meja hendak mengajak para peserta rapat untuk menyadari kehadiran rohani Ibu Maria.

Dengan demikian rapat presidium bukan saja sekedar perjumpaan sosial antar teman anggota legio, melainkan perjumpaan rohani antar teman anggota legio dengan Ibu Maria sendiri. Setiap orang yang berhasil memahami makna ini akan mengagungkan rapat. Rapat menjadi sebuah doa yang tak tergantikan karena sifat keindahannya yang adikodrati. Perhatian anggota sepenuhnya akan tertuju pada Ibu Maria yang memimpin rapat, bukan sebatas Mister X atau Ms Y sebagai sang ketua presidium.

Rapat adalah Bagian Pembentukan Karakter Legioner

Kesungguhan mengikuti jalannya rapat juga akan terbangun. Kita melaporkan tugas dengan penuh semangat dan suara jelas. Secara alamiah kita juga akan merasa ‘malu’ bila tidak melaksanakan tugas dengan baik. Tetapi hal ini dilakukan karena penghormatan dan tanggung jawab kita pada Ibu Maria yang hadir, bukan karena sekedar instruksi dogmatis.

Pada akhirnya, kesadaran atas kehadiran Ibu Maria juga akan membantu kita untuk membentuk presidium sebagai komunitas. Sebuah komunitas adalah sebuah kebersamaan yang saling mendukung dan saling meneguhkan, untuk bersama-sama menuju Hati Yesus yang Maha Kudus. Kita bersama-sama membentuk presidium dan menjadikannya keluarga kecil dengan inspirasi keluarga kudus Nazaret masa kini.

Jadi marilah kita sungguh-sungguh menghormati dan menghayati kekayaan estetika rohani Legio Maria ini. Mari kita laksanakan rapat dengan menyiapkan patung Ibu yang baik, kita siapkan vas dengan bunga yang baik, kita siapkan taplak paling bersih, kita siapkan pula vexilum yang pantas. Meja altar bukanlah hiasan rapat semata, melainkan sebuah cara agung dan sakral untuk meningkatkan mutu karakter rohani kita sebagai anak-anak Maria.

Jiwa-jiwa Legioner yang Sudah Meninggal

Buku Pegangan Bab 17 halaman 114
Alokusio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke-396-D/Tahun ke-33


Ajaran yang mendasari pemuliaan jiwa-jiwa yang sudah meninggal adalah pemahaman terhadap Gereja yang merupakan Persekutuan Orang Kudus. Hal ini tertuang dalam doa Aku Percaya “…… Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan para Kudus, dst… Amin.”

Gereja sebagai Persekutuan Orang Kudus dapat dilihat dalam 3 unsur yaitu :

      • Gereja Berziarah, yakni komunitas umat beriman yang hidup di dunia seperti kita semua saat ini.
      • Gereja Mulia, yakni komunitas jiwa-jiwa mulia di surga bersama Allah Bapa, dan
      • Gereja Pemurnian, yakni kelompok jiwa-jiwa yang masih ada di dalam api penyucian.

Jadi sebagai Gereja, kita yang masih ada di dunia ini terhubung dengan mereka yang ada di Surga maupun di dalam api penyucian. jemaat yang membentuk Gereja Semesta yang adikodrati. Rasul Paulus menegaskan secara luar biasa dalam suratnya kepada umat di Roma “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39).

Kasih Allah dalam Kristus Yesus-lah yang menyatukan kita yang masih di dunia dengan mereka yang sudah wafat. Atas kesadaran inilah, kita para Legioner dipanggil untuk tetap menjaga hubungan kasih dengan mereka yang sudah meninggal dengan cara mengirimkan kado-kado kasih berupa doa. Kado-kado ini akan sangat berguna, terlebih bagi para anggota Gereja yang Dimurnikan, yakni mereka yang masih ada dalam api penyucian.

Api penyucian adalah suasana pembersihan spiritual bagi jiwa-jiwa yang masih perlu pemurnian sebelum menjadi anggota Gereja Mulia di surga. Doa-doa kita di dunia akan sangat membantu jiwa-jiwa tersebut dalam upaya pembersihan spiritualnya.

Legio Maria sebagai komunitas yang selalu berdoa tentu akan menyambut baik kesempatan berdoa bagi jiwa-jiwa dalam Gereja Pemurnian. Doa-doa kita menunjukkan kita menghidupi semangat bahwa kita terhubung satu sama lain sebagai jemaat Gereja Semesta yang adikodrati. Tentu kelak bila kita harus melewati fase Gereja Pemurnian, kita juga akan membutuhkan kado-kado kasih dari para legioner yang masih ada di dunia dengan doa-doa serupa dari mereka.

Menjadi Anak-Anak Maria

 

by : RP Markus Yumartana SJ.
Pemimpin Rohani Presidium-Presidium
di Katedral Jakarta


Seperti Maria yang tulus memberi persembahan diri,
begitulah semestinya menjadi anak-anak Maria yang sejati.

Seperti Maria yang taat sepenuh hati,
begitulah semestinya sikap hidup anak-anak Maria kini.

Seperti Maria yang memberikan rahimnya bagi Kristus, menyatukan hati dengan hati ilahi,
begitu jugalah semestinya anak-anak Maria yang terus menyambut Kristus dalam Ekaristi setiap hari.

Seperti Maria memiliki kelembutan yang manis untuk menabur persaudaraan sejati,
begitulah semestinya anak-anak Maria hidup dan hadir memberi citarasa kasih yang merajut hati, bukan malah membawa keretakan relasi insani.

Seperti Maria memiliki kerendahan hati yang selalu membawa sakit dan luka di hati sebagai persembahan diri,
begitulah semestinya anak-anak Maria rela menanggung kelemahan sesama dengan pengampunan setiap hari.

Seperti Maria memiliki kesabaran menanggung luka dan derita Putera-Nya,
demikian pula anak-anak Maria siap di garda depan bersama Gereja-Nya yang berjuang demi kerukunan dan perdamaian di tengah perpecahan dunia.

Seperti Maria yang memiliki keberanian iman di tengah ketidakpastian masa depan,
begitulah semestinya anak-anak Maria berani setia mengandalkan iman dalam doa-doanya bagi kebaikan sesama.

Sebab, Maria telah mengandalkan cinta Tuhan di atas segala-galanya,
maka anak-anak Maria pun semestinya tak jemu mengandalkan cinta Tuhan di atas kepentingan dirinya.

Maria Bunda Berhikmat : Teman Perjalanan Kita

Homili RP. Markus Yumartana, SJ pada misa bulanan Legio Maria Katedral Jakarta, 8 Maret 2019.


Legioner sebagai pencinta Bunda Maria pasti mencintai Yesus, karena Bunda Maria mengantar kita kepada Yesus. Bunda Maria, Bunda berhikmat, ia teman perjalanan hidup kita. Maria adalah yang paling setia mendampingi dalam setiap fase kehidupan Yesus sejak lahir sampai ke Golgota, hingga digambarkan Maria menggendong Putranya yang mati di salib. Inilah kesetiaan Maria dalam menyertai Putranya sampai tugasNya selesai. Dalam tradisi latihan rohani St. Ignatius, Maria adalah yang pertama mengalami penampakan Yesus yang bangkit. Maka dalam tradisi Spanyol yang dirayakan di Filipina ketika paskah, ada sebuah perayaan yang disebut sebagai Salubong* yang menggambarkan perjumpaan antara Maria dengan Yesus yang telah bangkit. (Salubong dalam Bahasa Tagalog berarti perjumpaan).

Maria dipanggil untuk menjadi bunda bagi Yesus, putraNya. Ibu yang baik pasti punya relasi batin dengan anaknya. Jika anaknya sakit, ibu yang baik juga akan merasa sakit. Maria memiliki kesetiaan sejak awal ia dipanggil menjadi Bunda Penebus. Sejak Yesus ada di rahim, Maria sudah seperasaan dengan Yesus. Kita sebagai anak-anak Tuhan; anak-anak Maria, juga disertai oleh Maria. Gereja sejak awal mula telah didampingi oleh Maria, seperti yang dikisahkan dalam kitab Kisah Para Rasul, dimana para rasul berdoa dan disana hadir Bunda Maria. Maria tidak digambarkan sebagai seorang yang banyak bicara namun ia hadir mendampingi. Itulah cara Maria menyertai kita, Gereja, ia tidak banyak bicara namun seperasaan dengan kita.

Maria melahirkan Yesus dalam situasi yang amat sederhana, di tengah kedinginan yang luar biasa. Maria tidak ingin Yesus ada dalam kedinginan maka Maria menemani Yesus. Ketika Yesus dipersembahkan di Bait Allah dan berjumpa dengan Hanna dan Simeon, sebetulnya Maria mempersembahkan juga hatinya. Kala Simeon menubuatkan bahwa hati Maria akan ditembus pedang, Maria sadar bahwa ketika ia mempersembahkan anaknya, Maria telah melepaskan anaknya bagi Tuhan. Mana ada seorang ibu yang mau melepaskan anaknya ketika anaknya masih kecil dan begitu dekat dengan dirinya. Coba bayangkanlah perasaan Maria ketika Yesus dipersembahkan.

Ketika Keluarga Kudus mengungsi ke Mesir, Maria bersama Yosef membawa Yesus untuk menyelamatkanNya dari ancaman Herodes.

Kejadian ini menggambarkan Maria yang seperasaan dengan Gereja dalam suka dan duka. Ketika Gereja mengalami penganiayaan dalam perang, doa rosario telah menyelamatkannya. Ketika Gereja dalam bahaya, Maria yang paling setia menjaga. Pengalaman iman dari berbagai macam penampakan Maria menunjukkan Maria yang tetap setia menemani suka duka Gereja hingga hari ini.

Ketika Yesus hilang di Yerusalem, Maria mencari Yesus sampai seharian. Ini tergambar dengan manis pada lagu Aina Maria dari Timor :

Aina Maria ain alekot
Aina Maria pah Timor e
Naleok ka naleok
Naleok ka naleok
Aina Maria hit ain alekot

Naleok ka naleok (Bahasa Dawan, Timor) memiliki makna yang begitu dalam : meskipun kamu adalah anak nakal, namun Maria tetap menjadi bunda yang baik. Meskipun anak-anaknya sering sesat dan jalan sendiri juga sering melupakan Tuhan, namun Maria akan tetap setia untuk kita. Gambaran kesetiaan Maria bisa kita refleksikan dalam kehidupan kita. Waktu kecil kita pasti pernah diceboki oleh ibu kita. Maria pun mau mengambil kotoran dari hidup kita. Senakal-nakalnya kita semua, Maria mau berkotor-kotor untuk membersihkan kita. Maria masih mau mencari jika kita lari dan kurang ajar.

Saya punya pengalaman dengan ibu saya ketika kecil dulu : saya pernah minta sesuatu namun tidak dikabulkan oleh orang tua, lalu saya berlari seharian dari pagi hingga sore memancing di sungai yang jauh dari rumah. Ketika sudah sore, saya kaget ketika menyadari ibu saya mencari dan memanggil-manggil nama saya dari kejauhan. Saya kaget dan tersentuh ternyata saya masih dicari dan dicintai oleh ibu saya.

Seorang ibu mau mencari karena mencintai anaknya. Jika ibu kita masing-masing mau membersihkan kotoran kita dan mau mencari kita ketika hilang, apalagi Bunda Maria. Bunda Maria adalah bunda yang penuh cinta, bunda yang penuh rahmat, bunda Yesus. Maria akan selalu mencari dan mendekati kita. Maria adalah teman perjalanan hidup kita. Maria sedemikian rupa mencintai Gereja dan Maria akan selalu lebih setia daripada kita sendiri. Oleh karena itu pada bagian akhir dokumen-dokumen Gereja selalu ada sebutan Maria. Kita sebagai legioner apakah sering menyebut Bunda Maria?

Maria disebut sebagai mempelai Roh Kudus, maka akan seperasaan dengan Gereja dan anak-anaknya. Seorang pengantin yang kehilangan mempelainya pasti akan merasa sedih. Inilah gambaran betapa Maria seperasaan dengan Yesus. Maria tak hanya sekadar Bunda bagi Yesus, tapi juga pendamping yang setia. Dalam jalan salib Yesus, ketika melihat Putranya memikul salib yang berat, Maria berhenti dan memandang Yesus. Ini menunjukkan Maria seperasaan dengan orang-orang yang memikul beban. Betapa bahagianya kita menjadi anak-anak Maria karena Maria mau seperasaan dengan setiap kita yang memikul beban. Tapi apakah kita sadar bahwa Maria ikut memikul beban dan persoalan-persoalan hidup kita?

Karena Maria seperasaan dengan Yesus yang meminggul salib, ia pun seperasaan dengan kita. Digambarkan dalam syair Stabat Mater Dolorosa** : jika kita merasa sakit, hati Maria pun ikut tertusuk; ketika kita menangis, Maria ikut menangis; kalau kita menumpahkan air mata, Maria ikut berair mata untuk kita. Stabat Mater menunjukkan Maria sebagai ibu yang berdiri seperasan dengan putranya yang berduka; ibu yang seperasaan dengan orang yang berbeban berat. Ketika Yesus dicemeti, dipukul, dan dipaku pada kayu salib, Maria ikut terluka. Tapi tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Maria. Maria seperasaan dengan kita tanpa kata namun ia hadir untuk kita. Maria ikut setia dalam perjalanan salib Yesus sedangkan murid yang lainnya lari bersembunyi. Hanya Yohanes yang dikatakan setia bersama Maria.

Di bawah salib Yesus mengatakan “Inilah anakmu” ketika Yohanes diserahkan kepada Maria. Lalu Yesus juga berkata, “Inilah ibumu” untuk menyerahkan Maria kepada Yohanes. Legioner bisa mengkontemplasikan hal ini dengan merenungkan kalimat “Inilah anakmu” untuk pribadi kita masing-masing. Yesus telah menyerahkan kita satu persatu pada perlindungan Bunda Maria. Maria pun diserahkan kepada kita untuk menjadi ibu kita. Siapa yang tidak merasa aman memiliki bunda seperti Maria? Ia jauh lebih setia daripada kita, ia adalah bunda yang memperhatikan kita.

Naleok ka naleok, Aina Maria hit ain alekot..

Meskipun kamu nakal, ibu Maria tetap baik padamu..

Kesetiaan Maria bagi kita juga sampai pada saat kita menghadapi ajal, inilah kebahagiaan kita sebagai putra-putra Maria. Maria setia bersama Yesus sampai kematianNya maka Maria akan setia pada anak-anaknya juga sampai akhir. Ini perlu terus-menerus kita kontemplasikan. Tidak ada alasan putus asa bagi kita untuk menyebut Maria dalam doa kita.

“Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati.”

Sebagai legioner, pencinta dan anak-anak Maria, kita perlu untuk terus-menerus mengeruk semangat Maria ini. Kita tak perlu putus asa. Legioner mungkin tidak kelihatan, karyanya tersembunyi, tak perlu banyak bicara, tapi karya-karya baiknya adalah buah anak-anak Maria. Jika kita mengandalkan iman ini dalam menghadapi macam-macam tantangan dan kelemahan, buah kebaikan itu pasti ada karena Maria yang menemani kita.

Mari kita serahkan seluruh pengalaman hidup kita, suka duka hidup kita dalam tangan Maria. Maria yang sudah menemani Yesus sampai di salib akan menemani kita juga sampai akhir. Amin.

* Salubong berasal dari Bahasa Tagalog yang berarti perjumpaan. Ini adalah salah satu bentuk tradisi devosi umat Katolik Filipina yang menggambarkan perjumpaan antara Yesus yang bangkit dengan ibunya. Pagi-pagi pada hari raya Paskah, umat beriman secara terpisah mengarak patung Yesus bangkit dan patung Maria mengelilingi kota. Patung Yesus yang telah bangkit diarak oleh para pria dalam suasana kegembiraan, sedangkan patung Bunda Maria mengenakan kerudung hitam diarak oleh para wanita dalam suasana duka cita. Kedua rombongan itu lalu bertemu di suatu titik, biasanya di depan gereja, dimana seorang gadis kecil berpakaian malaikat membuka kerudung hitam dari patung Maria.

**Stabat Mater Dolorosa adalah sebuah himne dari abad ke-13 yang menggambarkan duka cita Maria ketika mendampingi Yesus dalam perjalanan salib-Nya. Stabat Mater dolorosa berarti Bunda berduka cita yang sedang berdiri (iuxta crucem lacrimosa dum pendebat Filius : sambil menangis di sisi salib tempat Putranya bergantung). Lihat disini.


RP. Markus Yumartana, SJ adalah pemimpin rohani Legio Maria di Paroki Katedral Jakarta.

Sikap Toleransi Menciptakan Harmoni

Oleh : RP. Alexander Palino, MSC (Vikaris Jenderal Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 16:1-8

Toleransi secara etimologis memang berasal dari kata “tolerare” yang berarti ‘menanggung’ atau ‘membiarkan’. Toleransi dapat mempunyai warna etis-sosial, religius, politis dan yuridis serta filosofis maupun teologis. Secara umum toleransi menunjuk pada sikap membiarkan perbedaan pendapat dan perbedaan melaksanakan pendapat untuk beberapa lapisan hidup dalam satu komunitas. Pada umumnya arah pemahaman toleransi mencakup pendirian mengenai membiarkan berlakunya keyakinan atau norma atau nilai sampai ke sistem nilai pada level religius, sosial, etika politis, filosofis, maupun tindakan-tindakan yang selaras dengan keyakinan tersebut di tengah mayoritas yang memiliki keyakinan lain dalam suatu masyarakat atau komunitas.

Ide dasarnya adalah bahwa tak ada manusia yang bisa memiliki kebenaran utuh maupun cara menemukan kebenaran secara sempurna. Sebab pencarian kebenaran diakui sebagai proses majemuk yang menyejarah, tidak sekali jadi. Selain itu toleransi diperlukan agar suara hati masing-masing orang dapat berfungsi secara wajar dan saling dihargai. Dalam masyarakat tertutup pun sesungguhnya toleransi diperlukan agar berlakunya norma umum (bukan keinginan seorang pemuka masyarakat) terjamin, seraya memungkinkan agar pendapat mayoritas berkembang demi keseimbangan masyarakat; di lain pihak diharapkan pula bahwa orang yang berbeda pendapat tidak ditindas dan didiskriminasikan.
Tiadanya toleransi menyebabkan ‘yang kuat’ menang habis-habisan, sementara yang kalah hancur tanpa bekas. Dengan cara itu masyarakat rugi, karena benih-benih pendapat yang baru tumbuh dan belum kuat dapat hancur sebelum memperoleh kesempatan untuk dilaksanakan dan diuji oleh praksis. Dalam masyarakat demokratis, toleransi mutlak diperlukan bagi perkembangan berpikir secara kreatif dan aktif serta justru untuk memperkembangkan segala potensi masyarakat.

Menciptakan kehidupan beragama yang baik bukanlah berdasarkan toleransi yang semu, yang mempunyai tendensi untuk mengatakan bahwa semua agama sama saja. Gereja Katolik tetap menghormati agama-agama yang lain, mengakui adanya unsur-unsur kebenaran di dalam agama-agama yang lain, namun tanpa perlu mengaburkan apa yang dipercayainya, yaitu sebagai Tubuh Mistik Kristus, di mana Kristus sendiri adalah Kepala-Nya. Oleh karena itu, Gereja Katolik tetap melakukan evangelisasi, baik dengan pengajaran maupun karya-karya kasih. Dengan kata lain, Gereja terus mewartakan Kristus dengan kata-kata dan juga dengan perbuatan kasih.

Konsili Vatikan II dalam Nostra Aetate mengatakan demikian :

“Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci di dalam agama-agama ini. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); Dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.”

Setelah membaca Injil Luk 16: 1-8, maka beranilah kita berkata bahwa adalah sesuatu yang tidak tahu diri kalau manusia tidak mau memberi toleransi kepada manusia lain; juga orang lain yang lebih kecil atau lebih lemah. Sebab Allah begitu rela berbesar hati terhadap manusia yang penuh kesalahan dan dosa. Dengan kata lain, manusia mau memberi toleransi kepada orang atau kelompok lain hanya masalah realisasi: bahwa manusia mengakui dirinya sudah diberi toleransi oleh Tuhan. Dengan latar belakang itu, toleransi bukanlah jasa manusia melainkan kewajiban manusia.

Dalam konteks itu dapatlah kita lebih memahami Konsili Vatikan II yang mendukung kebebasan beragama dan suara hati. Sebab “Dignitatis Humanae” menunjukkan kebesaran hati mentoleransi pendapat dan keyakinan lain bahwa tugas-tugas itu menyangkut serta mengikat suara hati, dan bahwa kebenaran itu sendiri, yang merasuki akal budi secara halus dan kuat. Adapun kebebasan beragama, yang termasuk hak manusia dalam menunaikan tugas berbakti kepada Allah, menyangkut kekebalan terhadap paksaan dalam masyarakat. Kebebasan itu sama sekali tidak mengurangi ajaran katolik tradisional tentang kewajiban moral manusia dan masyarakat terhadap agama yang benar dan satu-satunya Gereja Kristus. Selain itu dalam menguraikan kebebasan beragama Konsili suci bermaksud mengembangkan ajaran para paus akhir-akhir ini tentang hak-hak pribadi manusia yang tidak dapat di ganggu-gugat, pun juga tentang penataan aturan masyarakat.

Ajaran Sosial Gereja juga melarang kekerasan atas nama agama dengan menyatakan : Tindak kekerasan tidak pernah menjadi tanggapan yang benar. Dengan keyakinan akan imannya di dalam Kristus dan dengan kesadaran akan misinya, Gereja mewartakan :

“Bahwa tindak kekerasan adalah kejahatan, bahwa tindak kekerasan tidak dapat diterima sebagai suatu jalan keluar atas masalah, bahwa tindak kekerasan tidak layak bagi manusia. Tindak kekerasan adalah sebuah dusta, karena ia bertentangan dengan kebenaran iman kita, kebenaran tentang kemanusiaan kita. Tindak kekerasan justru merusakkan apa yang diklaim dibelanya: martabat, kehidupan, kebebasan manusia.”

Apa pun kenyataan yang ada, komunikasi perlu terus dijalin melalui berbagi forum komunikasi antar umat beragama. Bangsa Indonesia membutuhkan munculnya kepemimpinan yang baik, pemimpin yang memberikan teladan hidup dan sanggup mengayomi serta memberikan jalan keluar dari krisis yang dihadapi bangsa; pemimpin yang kuat yang dihormati dan disegani; pemimpin yang cerdas, jujur, amanah, dan dapat berkomunikasi dengan baik; pemimpin yang mampu mengatur dan mampu menyelesaikan berbagai konflik yang ada di tengah masyarakat; pemimpin yang mampu menjadi perekat antar komponen bangsa yang mungkin bertentangan satu dengan lainnya.

Jadi, kehidupan beragama yang baik, hanya dapat terlaksana jika terjadi suasana dan lingkungan yang memberikan kebebasan beragama dan setiap umat dapat melaksanakan agama masing-masing dengan bijaksana. Pada saat yang bersamaan, maka umat Katolik juga harus tetap berakar pada doktrin yang kuat, serta bijaksana dalam proses evangelisasi.

Evangelisasi yang paling efektif adalah dengan memberikan kesaksian akan Kristus dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dalam perjuangan untuk hidup kudus.

 

 

 

 

Keluarga Kudus Sebagai Teladan Dalam Menjalin Persahabatan

Oleh RP. Yanno Leyn, MSF (Pastor Paroki Santo Yosef Pekerja – Juata)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 2:41-52

Ada sebuah lirik lagu yang selalu saya ingat dan kenang, berjudul “Keluarga Cemara”, yang diangkat dari sinetron besutan Arswendo Atmowiloto dan Adi Kurdi. Begini penggalan liriknya,

Harta yang paling berharga adalah keluarga,

Istana yang paling indah adalah keluarga.

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.

Mutiara tiada tara adalah keluarga….

Lewat penggalan lagu ini kita bisa membaca salah satu pesan, bahwa keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah tempat kita saling berbagi rasa, saling memperhatikan, saling menyayangi, dan saling membantu satu dengan lainnya. Keluarga demikianlah yang sungguh memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kasih.

Suatu komunitas atau keluarga kristiani perlu dibangun atas dasar kasih. Tanpa kasih, keluarga yang utuh dan bersekutu tidak mungkin berdiri kokoh dalam mengarungi samudera arus zaman.

Bertolak dari spiritualitas Keluarga Kudus Nazaret, kita membangun persahabatan dengan yang lain. Dalam lingkup keluarga, Yusuf, Maria, dan Yesus mengalami dan merasakan kepenuhan akan kebutuhan jasmani maupun rohani yang sangat mendalam.

Berdasarkan pada latar belakang masing-masing, mereka diutus untuk bersatu membentuk sebuah keluarga baru yang di dalamnya saling memberi dan menerima, mendidik dan dididik. Mereka saling belajar satu sama lain baik dalam menyelesaikan berbagai macam masalah kehidupan maupun dalam meningkatkan perkembangan rohaninya. Walau mereka memiliki keterikatan batin yang kuat namun ketiganya tetaplah pribadi-pribadi yang tidak melebur dalam pribadi yang lainnya. Masing-masing tetap memiliki kekhasannya, pribadi yang mandiri dan utuh serta yang memiliki perannya masing-masing.

Keluarga Kudus Nazareth merupakan model keluarga yang ideal bagi hidup pribadi atau kelompok masyarakat dalam menjalin persahabatan. Mengapa menjadi model yang tepat dan yang diharapkan? Kisah Injil yang ditampilkan dalam teks Lukas memperlihatkan gambaran tersebut.

Relasi keluarga Kudus Nasaret ini sangat harmonis, Mereka hidup dalam ketaatan kepada Allah. Misalnya tiap-tiap tahun mereka pergi ke Bait Allah di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Kemudian ketika Yesus berusia dua belas tahun, mereka bertiga pergi bersama-sama ke Bait Allah. Kesetiaan Yusuf dan Maria sebagai orang tua tercermin juga ketika Yesus hilang dalam perjalanan pulang ke Nasaret setelah merayakan Paskah. Tiga hari penuh mereka mencari puteranya sampai menemukan kembali di kota suci tersebut. Ketika menemukanNya, mereka tidak mendakwa atau memarahi Yesus tetapi mencoba menerima dan merenungkannya di dalam hati walau tidak mengerti dengan alasan Yesus. Yesus hidup dalam asuhan orangtuaNya dan semakin dikasihi Allah dan manusia. (bdk. Luk. 2:42-51).

Atas dasar inilah hubungan cinta kasih timbal balik antara ayah, ibu, dan anak terjalin. Keluarga Kudus Nazareth saling hormat penuh cinta, bersatu dan berdoa bersama. Dalam keluarga Nazareth yang beriman itu, tampak gambaran manusia yang hidup dalam pelayanan, kerukunan dan kedamaian. Yesus, Maria, dan Yosef merupakan pribadi-pribadi yang sungguh murni dalam kesetiaan, iman, pengharapan, dan pelayanan. Mereka mampu menangkap dan menjawab panggilan Tuhan.

Bagaimana kita mengejawantahkan spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth dalam kehidupan zaman ini? Fokus Pastoral Keuskupan Tanjung Selor tahun ini mengambil tema, “Gereja yang Ramah, Menyapa dan Memasyarakat”. Sejalan dengan tema ini, Paus Fransikus dalam homili malam Paskah 2015 yang lalu menyerukan agar keluarga-keluarga Katolik berani meninggalkan zona nyamannya masing-masing dan melihat keadaan sekeliling, terutama memperhatikan dan menolong orang-orang yang membutuhkan.

Hubungan atau relasi kita dengan yang sesama kerap kali ditandai dengan kehadiran. Dalam kehadiran ini kita menciptakan komunikasi dan relasi persaudaraan. Sebuah relasi-komunikasi yang menjadikan kita bagian dari yang lain.

Sikap rendah hati penuh kasih hendaknya menjadi spiritualitas kita dalam menerima yang lain.