Kabar Senatus Agustus 2020

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)


Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


JAKARTA

Komisium Our Lady Of The Holy Family – Jakarta Timur: Terdiri dari 2 Kuria, 10 presidium senior, dan 2 presidium junior. Dalam laporan semesternya, komisium ini melaporkan bahwa selama tahun 2020, terdapat penambahan 6 anggota aktif dan 34 auksilier. Sebuah presidium junior bernama Presidium Bintang Kejora di paroki Cililitan telah disahkan. Selain itu, di paroki Bidaracina juga telah terlaksana rapat percobaan presidium junior.
Tugas inspiratif yang di-sharing-kan oleh komisium ini dalam laporan semester adalah kunjungan mereka ke museum benda-benda Alkitab Yerushalayim.

Kuria Ratu Para Kudus – Jakarta Selatan 1: Terdiri dari 7 presidium di Paroki Cilandak dan 4 presidium di Paroki Blok B. Dalam laporan semesternya, kuria ini sudah mulai melakukan rapat kuria online via aplikasi Zoom sejak Juni 2020. Sebelum pandemi Covid-19, sudah terdapat beberapa umat di Paroki Blok Q yang berkumpul dan berdoa Tessera bersama. Namun proses pembentukan presidium ini terpaksa terhenti karena kondisi pandemi. Mohon doa dan bantuan saudara/i mendukung pembentukan presidium di Blok Q ini.


MEDAN

Regia Ratu Para Syahid – Medan: Terdiri dari 3 komisium, 5 kuria, dan 12 presidium yang tersebar di seluruh provinsi di pulau Sumatera, kecuali provinsi Lampung. Misa mingguan sudah dapat dilaksanakan di beberapa daerah dan legioner membantu pastor paroki dalam pelaksanaan misa dengan pembatasan tersebut. Selama masa pandemi Covid 19 ini, rapat regia sudah diadakan secara online namun tingkat kehadiran menurun dan banyak laporan dewan/presidium yang ditunda. Selain itu, masih terdapat dewan komisium/kuria yang tidak mengadakan rapat karena kurang memahami teknologi, kondisi geografis tidak memadai yang menyebabkan sinyal untuk internet kurang bagus, dan adanya prinsip bahwa rapat tidak sempurna jika tidak dilakukan secara tatap muka.

SAMBER : Sampah Menjadi Berkat

Wujud Nyata Peran Legio Maria dalam Tindakan Kepedulian Lingkungan Hidup (Laudato Si)


Sumber berita : Jeny T. Dewi (koordinator SAMBER,
gereja St. Petrus & Paulus, Mangga Besar, Jakarta)


Sampah menjadi masalah sangat serius baik sosial maupun ekonomi di Indonesia. Produksi sampah di Jakarta 7.800 ton lebih per hari yang bermuara di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi (sumber : Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Sept 2019). Dengan jumlah itu, diprediksi TPST Bantar Gebang akan berhenti beroperasi pada tahun 2021 karena kelebihan kapasitas.

Hal ini bukan hanya menjadi masalah pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh rakyat Indoensia termasuk umat Katolik. Pada tahun 2016, Keuskupan Agung Jakarta mencanangkan Gerakan Silih Ekologis (Sileko) sebagai bentuk kepedulian pada lingkungan hidup, diwujudkan dalam bentuk gerakan menanam pohon, memilah dan mengolah sampah, gerakan Pantikfoam (pantang plastik dan styrofoam). Tahun 2020, KAJ menetapkan Tahun Keadilan Sosial dan salah satu penanda gerakan Tahun Keadilan Sosial adalah KAJ mengajak paroki / sekolah Katolik / komunitas untuk merumuskan bersama persoalan sampah dan dijadikan gerakan bersama.

Apa peran nyata kita sebagai umat Katolik khususnya Legio Maria ?
Berawal dari inspirasi pastor paroki Mangga Besar, Rm. Agustinus Purwantoro SJ (dikenal Romo Ipong SJ), dalam sebuah kesempatan melihat pengelolaan sampah anorganik dalam bentuk bank sampah di Paroki Keluarga Kudus, Rawamangun, Jakarta, sekitar pertengahan tahun 2019. Lalu Romo menyampaikan inspirasi ini pada beberapa legioner, dan harapannya ada komunitas yang mampu mewujudkan kegiatan bank sampah ini di Paroki Mangga Besar.

Didasari bahwa peran Legio Maria menjadi tangan kanan Pastor Paroki dan siap melaksanakan tugas sulit, maka setelah berdiskusi dengan perwira Kuria Bunda Pengharapan Suci, di mana presidium Mangga Besar ini tergabung, maka Legio Maria menyatakan kesanggupan untuk merintis dan mengkoordinir kegiatan bank sampah di paroki.

Kesanggupan menuntut konsekuensi besar yang tak pernah terpikir sebelumnya. Perlu persiapan matang, mulai studi banding ke paroki lain, bahkan harus melibatkan pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Suku Dinas Lingkungan Hidup untuk proses perijinan dan pelaksanaan. Sulit, namun dipermudah karena dibantu oleh pihak yang sudah berpengalaman, khususnya pemerintah Indonesia saat ini juga mendorong masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Pada prinsipnya, bank sampah ini perlu partisipasi dan kerjasama umat, serta membawa keuntungan untuk umat. Secara sederhana tahapannya sebagai berikut :

      • Pilah sampah organik (basah) dan anorganik (kering), hal ini dilakukan di rumah/ sekolah
      • Pengumpulan sampah dikoordinasi oleh lingkungan atau seksi masing-masing
      • Penimbangan sampah dilakukan di paroki
      • Menyalurkan hasil finansial dari penjualan sampah kepada lingkungan dan kategorial di paroki

Walau diiming-imingi keuntungan finansial, ternyata kata “sampah” bukan sesuatu yang menarik bagi banyak umat. Habitus memilah sampah rumah tangga belum menjadi habitus umum dari kita. Hal ini terbukti dari sosialisasi perdana kegiatan bank sampah di paroki yang kurang direspon dengan baik oleh umat, tetapi semangat Legio Maria adalah teguh dan pantang menyerah. Legioner melanjutkan sosialisasi lebih gencar hingga beberapa kali sosialisasi baik di paroki dan lingkungan.

Pelaksanaan Kegiatan Bank Sampah
Kegiatan bank sampah ini, kami beri nama SAMBER (Sampah Menjadi Berkat). Pastor paroki memberikan target agar kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan dalam rangkaian HUT ke-80 tahun Paroki St. Petrus & Paulus yang jatuh pada Januari 2020. Kegiatan perdana SAMBER pada Minggu (22/02/2020) (berdekatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari).

Awalnya Romo dan kami cukup ragu dan pesimis; Apakah ada umat yang setor sampah? Jangan-jangan truk sampah yang disediakan Pemprov hanya terisi 10% dari kapasitas, dan sebagainya.

Puji Tuhan, ternyata cukup banyak partisipasi umat dan menyetorkan sampah anorganik lewat pengurus lingkungan/ kategorial dan dibawa ke paroki. Terkumpul sampah anorganik sebanyak satu truk, 1,73 ton sampah, atau keuntungan finansial sebesar Rp 2.830.000,00. Dana tersebut dikembalikan kepada lingkungan/ kategorial sesuai jumlah sampah yang disetor dan dapat dipakai untuk kegiatan lingkungan (ziarah, solidaritas umat dan lainnya).

Kegiatan ini rencananya dilaksanakan dua kali setiap bulan, antusiasme umat semakin besar. Akan tetapi karena pandemi Covid-19, kegiatan bank sampah ini terhenti sementara. Namun kami yakin dan terus mendorong habitus pilah sampah dari lingkup keluarga sudah mulai terwujud. Sementara sampah anorganik belum dapat dibawa ke paroki, tetapi umat dapat memberikan kepada pemulung dan menjadi bentuk belarasa.

Semangat dan inspirasi bagi legioner
Jangan takut dan bersukacitalah ketika Legio Maria dikenal sebagai “Legio Maria kok jadi tukang sampah?”. Justru di sinilah Legio Maria berperan aktif mewujudkan kepedulian pada lingkungan hidup seperti seruan Paus Fransiskus dalam ensiklik “Laudato Si” dan Bapa Uskup KAJ – Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, yang mengatakan “Saatnya adil pada lingkungan, mengubah cara berpikir orang soal sampah, yakni sampah bukan untuk dibuang. BUATLAH SAMPAH MENJADI BERKAH.”

*Jika membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi narasumber di jeny.triratna@gmail.com

Tim Kerja Senatus – Jangan Takut Untuk Bekerja

Bagi kebanyakan orang, tengah hari pas akhir minggu adalah saatnya rebahan di kasur tercinta sambil main hape. Tapi tidak demikian bagi 24 legioner yang diundang untuk menghadiri rapat karya tim kerja senatus di Rumah Doa Guadalupe – Duren Sawit, Jakarta Timur. Sabtu (15/2) siang, satu per satu dari mereka yang mewakili beberapa dewan baik tergabung secara langsung maupun tidak langsung mulai hadir untuk memenuhi panggilan khusus dari dewan senatus Bejana Rohani – Jakarta. Misi mereka hanya satu, membahas tiga bidang penting yang mencakup seluruh Indonesia Barat sebagai wilayah kerja dewan senatus Jakarta.

“Kami nggak bisa kerja sendiri. Delapan orang perwira senatus ngurusin 18 ribu legioner itu jelas nggak mungkin. Sementara sasaran kita bersama adalah bagaimana menjadi legioner yang bertumbuh, berbuah, dan berdaya pikat. Kami butuh bantuan teman-teman semua,” papar Elang Diawan selaku asisten pembimbing rohani (APR) dewan senatus Jakarta. Tiga bidang yang dirasa penting saat ini adalah bidang tata kelola, bidang pengembangan, dan bidang komunikasi. Tentu saja, masing-masing peserta diberi kebebasan untuk memilih bidang yang sesuai dengan kapasitasnya. Bidang Pengembangan dititik beratkan untuk memajukan kualitas Legioner,  bidang Tata Kelola bekerja untuk pengaturan organisasi dan bidang Komunikasi mengurus sarana-sarana komunikasi serta penyampaian informasi sampai ke seluruh Legioner di Senatus Bejana Rohani.

Tim Kerja Senatus 2020-2023

Dengan diberikannya surat keputusan pengangkatan dengan masa tugas 3 tahun oleh dewan senatus Bejana Rohani pada hari Minggu (1/3), maka pekerjaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Meskipun demikian para Tim Kerja Senatus yang disingkat menjadi TKS ini tidak menggantikan pekerjaan para perwira Senatus. Sepertinya sebuah quotes dari ibu Susi Pujiastuti dirasa pas untuk moment ini, “Jangan takut untuk bekerja. Jangan bekerja kalau takut”. Mari berjuang bersama untuk menjadi legioner yang bertumbuh, berbuah, dan berdaya pikat.

Kesan Pesan LDK Senatus 2018 : Jantungku Masih Kuat

Oleh Roosita Taufik


Ketika mengetahui ada acara Latihan Kepemimpinan Dasar dari Senatus, saya jadi berniat untuk mengikutinya . Tapi ternyata jatah peserta Regia hanya dua orang meskipun area kerja Regia cukup luas dari Sumatera Utara hingga Sumatera Selatan. Sebagai Legioner yang tak mengenal putus asa, saya rela ditempatkan di waiting list… Eh tiba-tiba penutupan pendaftaran dipercepat, langsung saya bertanya pada Sdri. Maryana yang mengurusi pendaftaran,  bagaimana dengan status saya, apakah masih tetap di waiting list atau bagaimana … Eh ternyata tidak, saya sudah terdaftar sebagai peserta. Saya bahagia serasa seperti ketika terjadi peningkatan status dari anggota aktif percobaan menjadi resmi sebagai anggota aktif. Terima kasih untuk kesekian ribu kalinya kepada Bunda kita Maria.

Saya mulai mempersiapkan diri karena ada wanti -wanti trainernya tegas. Saya merasa bahwa mungkin ini training yg terakhir yg boleh saya ikuti.. Saya tidak boleh gagal … Saya sampai minta doa kepada para legioner untuk mama saya agar mama saya tidak sakit, karena kalau mama sakit, saya pasti tidak bisa ikut. Saya berterima kasih kepada seorang Legioner yang sampai rela mendoakan mama saya di misa pagi.

Perlu anda ketahui, orang yang turut mendoakan mama saya itu belum saya kenal dan akan saya kenal ketika di LDK nanti. Pendek cerita sampailah saya ke Samadi dengan kondisi yang mantap dan dijemput oleh Sdri.Yanti, Ketua Senatus sebelumnya.

Sudah banyak legioner yang hadir saya begitu senang bisa ketemu dengan teman seperjuangan dari Jambi dan Pangkal Pinang. Walau pada awalnya saya sedikit merasa aneh dengan lampiran deklarasi kesehatan, serta ada interview lagi oleh team Trainer sebelum mengikuti training ini. Tapi saya semakin yakin bahwa ini memang MANTAP trainingnya dan pasti lain dari yang lain .

Ada juga peserta dari Kalimantan membuat saya lebih yakin bahwa training ini benar-benar training mengingat seleksi yang begitu ketat dan semua yang adalah orang terpilih dan pemenang.
Saya satu kamar dengan seorang saudari dari Jakarta. Dia katakan tidak ada run down acara, dan saya bilang acara akan mulai pukul 16.00. Kami berdua lalu beristirahat… Eh ketika kami tersadar, ternyata misa hampir selesai. Untung masih mendapat berkat penutup dan training belum dimulai. Itulah akibat dari tidak memperhatikan.

Training pertama begitu gegap gempita dan kami mengumandangkan dengan lantang kalimat berikut :
“Sembilan orang buta, satu orang tuli, siapa pemimpinnya? saya pemimpinnya” Terus diulang sampai berkali kali.

Sempat ada dipikiran saya siapa ya rela mau jadi pemimpin hanya untuk sembilan orang buta dan satu tuli???
Orang buta tidak perlu dipimpin hanya perlu dituntun, jadi tidak perlu seorang pemimpin, dan hanya perlu seorang penuntun. Begitu juga dengan satu orang tuli. Tapi saya tidak protes karena katanya ini hanya permulaan. Saya tetap lanjut dan mulai berhati-hati takut tereliminasi dan lalu dipulangkan.

Ketika masuk ke ruang kelas kita semua mendapatkan sebuah tomat dan plastik untuk membungkus tomat. Piye toh ada training pake tomat?? Semua rada aneh ….. ditambah bendera warna warni ada hitam …merah …putih dan hijau … Saya pikir lambang para peserta dari berbagai daerah …. Dilanjutkan demgan susunan barisan dari umur termuda hingga yang tua disertai dengan penjumlahan usia di masing-masing batalyon …wouuw suasana jadi hiruk pikuk. Masing-masing peserta mulai menghitung dan menyelaraskan umur dari ke dua sisi kiri dan kanan … Saking sibuknya semua tidak memperhatikan tanda yg diberikan adalah bendera hitam dan semua harus diam … Ketika itu trainer Bapak Ronald sempat darting… meja di banting hingga terbalik … barulah semua diam tak berkutik… Saya sendiri terkejut namun jantung saya tidak copot. Saya senyum dalam hati, rupanya jantung saya masih kuat walau sudah tidak muda lagi . Terima kasih Tuhan dan Bunda Maria.

Dari cerita di atas, saya memaknai bahwa ikut training berarti kita belajar lagi … Semua jabatan dan embel-embel dilepas sehingga kita putih kembali seperti kertas baru yang ingat digurat dengan kesan dan pesan. Kalau kita simak dengan baik, banyak yg kita peroleh dari bentakan dan bantingan meja. Kita sadar bahwa kita lebih mengejar hasil yg tepat dari penjumlahan tapi kita telah menyepelekan tanda bendera hitam yang terpasang. Walaupum kecil tapi kita bisa melihatnya dan yang paling penting pesan dari warna bendera sudah diberitahu sebelumnya lain halnya jika sebelumnya fungsi bendera sudah dijelaskan dengan baik, sehingga bukan jebakan. JADI menurut saya yang salah adalah kita dan bukan Bapak Ronald. Kita mendengar tapi bukan mendengarkan dan kita melihat tapi tidak memperhatikan dengan benar.

Selama ini kita berdiri diatas kedisiplinan kita, bangga dengan tugas pelayanan kita, tapi saya yakin di balik semua itu kita banyak lalai dengan masalah masalah kecil, yang mana itu bisa berakibat fatal bagi presidium dan dewan yang kita pimpin. Maka marilah kita semua maju melangkah seiring sejalan, seperti lagu yg kita nyanyikan dengan gerak seirama tanpa menyepelekan hal kecil yang mana bisa membawa bencana.


Sdri. Roosita Taufik adalah Ketua Regia Ratu Para Syahid – Medan, periode 2016 – 2019, dan juga adalah peserta LDK Senatus Bejana Rohani 2018.

Sepenggal Kisah Saat LDK di Samadi

Oleh Lamria Hutabarat


Ini adalah LDK tingkat senatus pertama yang kami ikuti.  Jumat 26 Januari 2018 peserta berdatangan dari berbagai kota dan pulau menuju tempat pelatihan  yang ditentukan, yaitu di Wisma Samadi,  Kelender – Jakarta Timur. Wajah-wajah yang masih asing bertemu, tetapi kami langsung akrab satu sama lain karena kami disatukan oleh sebuah tujuan.

Pk.13.00  kami disambut oleh panitia. Kami juga menerima  satu buku notes  dan dua  pulpen.  Kegiatan LDK diawali dengan  acara wawancara face to face.  Saya sempat bertanya-tanya: “wah, ini mau rekrut tenaga kerja sukarelawan ato apa yah??” Pada akhir wawancara, seseorang berkepala plontos mirip biksu Budha  memberiku  selembar kertas  sambil tersenyum. Ia  berkata…”Tolong kertas ini dijaga, gak boleh kelipat, gak boleh kotor dan dibawa setiap saat!”

Setelah wawancara  tersebut, acara dilanjutkan dengan misa pembukaan yang dipimpin oleh Romo Antonius Didit – sebagai Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani. Lalu dilanjutkan dengan acara “pembantaian” – menurutku.  Si ‘biksu’ ternyata manager trainer kegiatan ini – yang  kami panggil  dengan nama  Magister Ronald. Magister Ronald menerangkan aturan kegiatan ini (aturannya sangat ketat;  Ikuti perintah).  Setelah itu ia bertanya berulang ulang siapa yang mau mengundurkan diri. Tak satupun yang mundur. Tiba- tiba beliau teriak melompat dan teriak ADA 10 ORANG, 9 BUTA 1 TULI SIAPA PEMIMPINNYA? AKU PEMIMPINNYA, AKU PEMIMPINNYA. (Sumpeh, aku sangat terkejut. Tuh orang suaranya menggelegar, gerakannya persis seperti orang ‘gila’). Kami disuruh memperagakan sama persis dengan apa yang dilakukannya. Awalnya masih banyak yang malu-malu tetapi dengan kejam sir Ronald membentak.  Mana Semangatmu?? Katanya Prajurit!!! Semua tak berdaya dan akhirnya terbawa suasana berteriak “ADA 10 ORANG 9 BUTA 1 TULI SIAPA PEMIMPINNYA? AKU PEMIMPINNYA AKU PEMIMPINNYA” Dalam hatiku berkata ‘Gile, nih orang lebih dari wong Batak…Suaranya kenceng Banget’. Seumur-umur aku teriak paling kencang  pada saat itu.  Hehhehe…

Jam 19.00  kegiatan dilanjutkan di kompleks sekolah SD Santa Maria de la Strada yang bersebelahan dengan Samadi. Semua peserta hening (soalnya benderanya hitam. Ada 4 jenis bendera : hitam berarti diam, merah berarti boleh bertanya dengan seizin magister, kuning/ krem bebas bicara, dan hijau boleh bicara tetapi terbatas dalam ruangan saja). Semua alat komunikasi disita. Saat itu dalam hatiku berkata, “Gila nih si Magister Biksu! Emang aku anak SMA. Aku aja gak sampe begituan sama murid-muridku. Tapi ape mau dikate aku ingat aku itu seorang prajurit. Aku harus  tunduk pada atasan. Hehehhehe…. Jadi  terpaksa deh hape dikumpul.  Ketiga magister yaitu magister Ronald, magister Suvi, dan Magister Joy seperti monster kelihatannya. Menakutkan!  Kami takut salah. Kami diberi sebuah tomat dalam kantong plastik. Tomat ini harus dijaga, dibawa kapan saja dan gak boleh kelihatan oleh magister. Di sekolah Strada kami menonton film tentang TENTARA ROMAWI. Film itu mengingatkan kembali bahwa kami  sebagai legioner adalah Prajurit Maria yang sangat dahsyat seperti tentara Romawi. Kami harus cakap, displin, punya strategi melawan musuh (dari luar dan dalam diri sendiri), tidak boleh loyo,  dan taat pada sistem serta atasan. Saat ini semangatku sebagai seorang prajurit Maria berkobar-kobar. Di akhir kegiatan Magister Ronald memberikan tugas yang menurutku ini adalah THE IMPOSSIBLE  ASSIGMENT.

Selesai kegiatan di sekolah Strada, jam  hampir menunjuk pk.  23.00. Kami ditugaskan menghafal puisi berjudul  “Aku adalah Prajurit Bala Tentara Allah”  yang panjangnya sampai satu lembar  kertas A4,  menonton film ROMERO dan meringkasnya, dan membuat sebuah tulisan tentang Legio Maria. Selesai Nonton Film ROMERO aja  lewat pk.00.00, trus masih lanjut meringkas ceritanya (kulihat jam sudah menunjukkan pukul 2.00 dini hari), lanjut terus membuat tulisan tentang Legio maria (jam sudah pk. 3.00 dini hari), lanjutkan lagi  menghafal  puisi “Aku adalah Bala Tentara Allah” (kali ini aku gak ingat sampe jam berapa, yang pasti ketika bangun aku lihat jam udah menunjuk pk.4.00 tepat). Ohhh noooooooooo…… aku belum hafal. Akhirnya aku diam merenung dan pasrah. Kucoba merefleksikan diri atas  semua kegiatan ini dengan apa yang telah selama ini kulakukan. Ya Tuhan, ternyata AKU BELUM MELAKUKAN APA-APA. Aku sering menyerah, aku sering mengeluh betapa sulitnya tugas menjadi legioner sama seperti diawal aku diberi tugas oleh Magister. Aku merasa tak sangggup. Mengapa aku tak menyadari bahwa aku pasti bisa karena ada Bunda yang menemani melaksanakan tugas berat sekalipun??? Aku bangkit berdiri. Tarik nafas dalam-dalam. Aku tak boleh kalah. Aku harus berjuang hingga garis akhir. Sukses tidaknya tugas yang kulakukan itu bukan yang terpenting bagiku. Aku sadar yang terpenting dan terutama AKU MASIH SEMANGAT  UNTUK MELAKSANAKANNYA. Aku membangunkan teman sekamarku yang bernama  mbak Nova, karena pk. 4.30 tepat kami harus berkumpul kembali mengikuti ibadah pagi.

Hari Sabtu,  selesai ibadah pagi, mandi dan  sarapan,  kami lalu kembali berkumpul di sekolah Strada. Kegiatan hari itu dibuka dengan refleksi  berjudul “Manusia dalam Cermin”. Nah, kegiatan selanjutnya menurutku adalah sebuah tantangan. Dengan bermodalkan pulpen yang diserahkan di awal registrasi, kami ditugaskan untuk pergi ‘mencari dan mendapatkan’ uang sepuluh ribu rupiah. Ada peserta yang pulpennya masih utuh sebanyak dua buah, ada yang tinggal satu saja (termasuk aku). Satu pulpenku hilang…hehhehe. Kelihatan kalau aku orangnya sepele atas hal kecil kali ya??? Wah, pelajaran berharga nih.

Kami ‘diusir’ keluar dengan bermodalkan pulpen dan KTP. Kegiatan ini mengajarkanku menjadi seorang prajurit yang KREATIF, CAKAP untuk menarik RASA PERCAYA  orang pada kita. Semua peserta pulang berhasil membawa uang sepuluh ribu. Hebat ya…. semua legioner bangga dan bahagia ditambah lagi ketiga magister sudah mulai tersenyum, tidak galak apalagi pake acara membentak. (Hmmm…mungkin dalam hati kami saat itu ‘senyumnya magister Ronald ternyata manis’ hehehheheh).  Setelah itu kegiatan dilanjutkan di ruang pertemuan di Wisma Samadi. Disini kami ada kegiatan ‘drama’ yaitu  bagaimana tanggapan  apabila seorang putri kita, ibu atau adik perempuan kita melakukan sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Apakah kita menghakiminya atau memberikan pengertian dan kasih? Kegiatan hari ini diakhiri dengan UJI HAFALAN puisi.  Apakah sudah hafal (Aku adalah Bala Tentara Allah). Kemudian  sebagai tugas akhir kami harus mencari tahu arah gerak pastoral di keuskupan masing masing serta membuat program Legio Maria yang mendukung arah gerak tersebut.

Jam  sudah menunjukkan pk. 22.00 lewat.  Dilema nih mau mencari info sama siapa? Secara ini kan dah malam. Tetapi trainer gak peduli, pokoknya besok pagi sudah harus ada. Aku menghubungi seorang sahabat untuk menanyakan arah gerak pastoral melaui WA dan dijawab pukul 23.59. (Ohhhh nooooo…..begadang lagi nih) akhirnya aku berusaha semampuku mengerjakan tugas yang diberikan.

Minggu pk. 4.30 kegiatan dimulai dengan ibadah pagi, seminar singkat tentang Karya Misioner Gereja “Menjadi Saksi Kristus” oleh Romo Markus Nur Widi, lalu seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan misa perutusan  oleh Romo Antonius  Didit pada pk. 12.00.

Banyak kenangan indah dan pelajaran berharga  di sini ini. Kami pulang dengan disegarkan kembali jiwa seorang Legioner.

AKU ADALAH PRAJURIT BALA TENTARA ALLAH.


Sdri. Lamria Hutabarat adalah peserta LDK Senatus Bejana Rohani 2018 dari Regia Ratu Para Syahid – Medan.

Kesan Pesan LDK Senatus 2018 : Akademi Pembentukan Prajurit Tentara Bala Tentara Allah – Angkatan 2018

Oleh. Maria Alacoque Martha Sulaiman


Awalnya saya mendaftar pelatihan ini karena kepo, mau tahu apa yang bakalan diajarin, apa yang bakalan dilatih oleh Senatus. Tapi setelah nyemplung di hari pertama, saya kaget dan berasa kesasar di Kamp Militer “9 orang buta; 1 orang tuli”; hormat bendera negara; nyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Gaya pelatihan yang beda dan baru bikin saya makin penasaran ada apa selanjutnya?

Jam mulai bergulir, hari makin malam tapi kog ya pelatihan belum kelar juga? Malah harus belajar menghitung? Energi mata mulai menyusut tapi otak ini terus merenungkan apa yang jadi “celotehan” para magister ternyata bukan sekedar omong kosong tapi fakta bahwa saya masih perlu belajar banyak.

Di dalam diri saya mulai muncul arena gulat antara rasa tidak suka ditegur vs. rasa gak mampu membantah. Belum juga gulat selesai, saya sdh “ditodong” dengan 10 commandments yang saya ga ngerti untuk apa dilakuin? Tomat; kertas puisi; simbol bendera; duduk tegak.

Malam terasa panjang, kantuk semakin menjangkit, fokus mulai sirna.. Kembali ke kamar, saya memilih tancap gas ke pulau kapuk dan istirahat. Tapi.. Belum lagi full charged, aktifitas selanjutnya sudah harus tayang….

#################

Matahari belum juga menampakkan muka, tapi saya sudah harus terbangun karena bunyi “tok tok tok” orang yg gedor pintu. Saya kaget dan reflek lompat dari kapuk, langsung beresin sandaran kepala (bantal); ngerapiin selubung anti dingin (selimut); sikat gigi dan ganti baju secepat saya bisa. Lalu lari masuk meringsek ke dalam Ruang Doa.

Raga dan jiwa yang kocar kacir segala arah “disuruh” diam dan tenang lagi. Saya pikir sudah bisa “relax”.. eeh ternyata kami diberi tahu oleh Magister kalo tagihan tanggung jawab bakalan jatuh tempo kurang dari 2jam.. alamak jang! Gak salah?! Capek tau! Protes saya dalam batin.

Pagi itu, perasaan sibuk jadi mandor, menggagahi pikiran saya. Bukan karena para magister ataupun prajurit seperjuangan. Tapi sejujurnya karena saya malu ga bisa ngelunasin tanggung jawab. Kebanyakan cari alasan, nunda-nunda, sampe ga peka dengan apa yang di sekeliling (pengumuman) bikin saya makin malu ada di akademi dan mau angkat kaki seribu, pulang ke rumah.

Untungnya dibuka periode ‘amnesty perasaan bersalah’. Pikiran saya mulai melek dan minta perasaan ngumpet dulu di pojokan. Malu tapi akhirnya saya sambangi Magister dan mengakui dengan lidah kaku kalo saya pailit! Ga sanggup bayar tagihan tanggung jawab secara penuh. Saya pikir bakalan digugat, diadili, dihukum massal. Ternyata, Magister cuma bilang, “Coba lebih baik lagi!”

Perasaan dan pikiran jadi campur aduk diojok-ojok kayak naik wahana roller coaster. Bukannya muntah, malahan bikin ‘instruksi tetap’ : saya mau lbih baik lagi; saya bisa lebih baik1!; saya harus lebih baik lagi!!

#################

Hari baru, jiwa baru, semangat baru, gak kerasa kalo saya sudah mesti direlokasi (a.k.a digusur) dari “ruang simulasi” ke dalam ruang nyata kehidupan. Padahal kan sudah mulai betah di akademi. Tapi apa daya, sayapun “balik kampung”.

Pas “bongkar muat”, eng ing eng, saya baru sadar ternyata saya disisipin banyak oleh-oleh:
~ Ketopong kejujuran (pikiran dan rasa adanya di otak/ kepala, harus jujur apa adanya)

~ Tombak keberanian (maju terus mengoyak ketakutan, keraguan, prasangka/asumsi dalam diri)

~ Perisai kerendahan hati.

~ Lencana Prajurit (saya mulai belajar menerima identitas prajurit; berani sukarela putuskan saya adalah seorang prajurit!).


Maria Alacoque Martha Sulaiman adalah Bendahara Kuria Bunda Pengharapan Suci, Jakarta Barat, dan juga tergabung sebagai panitia dan peserta LDK Senatus Bejana Rohani 2018.

TEMU KAUM MUDA LEGIO MARIA 2016

Pada tanggal 08 – 10 Januari 2016 dilaksanakan Temu Kaum Muda Leadership Training. Acara training dilaksankan di Santa Monica Resort Cikretek Sukabumi – Jawa Barat. Acara ini merupakan bentuk tanggungjawab Legio Maria untuk mempersiapkan kader-kader pemimpin Gereja dan masyarakat masa depan. Jumlah peserta (dalam konteks hadir dan turut sebagai trainee) semua berjumlah 83 orang.
Sebagian besar anggota panitia yang terdiri dari legioner muda – terutama dari Kuria Cermin Kekudusan, Kampus KAJ – juga diperlakukan sebagai peserta (trainee) di mana mereka bukan hanya menjadi penyelenggara namun juga turut terlibat aktif dalam pembelajaran kecakapan kepemimpinan ini.

Namun demikian dari Sumatera tak mengirimkan peserta sama sekali; Sedangkan dari Kalimantan hanya mengirimkan 3 peserta, yakni dari Kuria Bunda Pemersatu – Sampit. Kendala utama keadaan ini adalah karena waktu kegiatan yang bersamaan dengan mulainya pelajaran sekolah/kuliah. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera legioner juga masih berjuang dengan sisa-sisa bencana asap kebakaran hutan. Hal ini menjadi alasan mengapa target mencapai 100 orang tidak terpenuhi.

Dinamika Training

Tujuan khusus training ini adalah memberikan kesadaran panggilan kepemimpinan Katolik pada peserta, sekaligus menunjukkan kekuatan karakter kepemimpinan para peserta secara individu. Untuk mencapai tujuan ini maka training menggunakan metoda asessment dan observasi perilaku secara mendetail kepada peserta. Observasi dan asessment dilakukan selama tiga hari training dan dikerjakan setiap saat secara intensif.
Sifat kegiatan ini adalah: dinamis, aktif, kompetitif, reflektif, dan rekreatif. Kegiatan dirancang secara indoor dan outdoor, serta mencakup pengembangan kognisi, afeksi, dan psikomotor.

Materi Konsep:

Materi konsep mencakup panggilan kepemimpinan dan karakteristik DISC pribadi peserta. Pada tahap ini peserta dibuka kesadarannya tentang panggilan kepemimpinan Katolik dan kekuatan karakter kepemimpinan dirinya. Peserta dilatih oleh tim dari Senatus Bejana Rohani dan trainer/ psikolog profesional (Ms. Roosdiana, MPHed, Dr. Octavian Elang MSi).

 Games dan Outbound

Games dan outbound bukanlah sekedar sebuah acara bersenang-senang, namun dimaksudkan sebagai media untuk melihat perilaku individu peserta ketika bekerja dalam kelompok. Perilaku yang diamati ini meliputi: semangat rela berkorban, kegigihan berusaha, kreatifitas, dan kecakapan komunikasi. Perilaku diamati secara cermat oleh tim khusus yang sudah dilatih sebelumnya. Hasil pengamatan kemudian dituangkan dalam bentuk skor dalam lembar tertulis yang sifatnya rahasia.

 Refleksi dan Pembatinan Pribadi

Refleksi dan pembatinan nilai-nilai kepemimpinan dilakukan sebagai bagian dari liturgi doa malam kreatif yang dinamakan pesta cahaya. Refleksi dan pembatinan ini merupakan wadah bagi peserta untuk membatinkan nilai-nilai kepemimpinan yang dipelajari dari dinamika sepanjang hari itu. Refleksi dan pembatinan dituntun dengan mengambil model kepemimpinan Yesus Kristus (teologi salib) yang memimpin umat manusia menuju Allah Bapa melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Refleksi dan pembatinan ini menggunakan media Rosario Kepemimpinan (peristiwa sedih) dimana di setiap awal perpuluhan peserta diajak merenungkan bagaimana Yesus Kristus menunjukkan tindakan karakter kepemimpinan kerendahan hati dan semangat berjerih lelah – bekerja berat. Visualisasi melalui video inspiratif juga digunakan untuk membantu proses pembatinan ini.

 Hasil Observasi dan Assessment

Hasil observasi dan assessment kepada para peserta selama 3 hari dinamika menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:

  • Secara umum peserta belum menunjukkan kualitas kepemimpinan yang menonjol (76%)
  • Beberapa peserta berperilaku sangat ambisius dan terlalu percaya diri (5%)
  • Beberapa peserta berperilaku rendah diri (10%)
  • Beberapa peserta menunjukkan potensi karakteristik kepemimpinan yang baik (9%)

 Kepada peserta dengan karakteristik kepemimpinan terbaik (diberikan gelar King and Queen) diberikan sertifikat dari Senatus Bejana Rohani dan hadiah hiburan.

Apa Kata Mereka:

Berikut ini komentar beberapa orang peserta dan pengamat yang disampaikan secara spontan, mereka mewakili dewan masing-masing:

  • Kuria Bunda Pemersatu – Sampit: “Acaranya mengasyikkan, walau saya kedinginan.”
  • Komisium Maria Assumpta – Tangerang: “Menyenangkan, memberikan pencerahan, kami jadi tahu kekuatan kepemimpinan dalam diri kami.”
  • Kuria Cermin Kekudusan – Kampus KAJ: “Acaranya seru. Kapan ada lagi??”
  • Komisium Ratu Para Rasul – Jakarta: “Game-game sangat mendidik, saya akan copy paste di tempat saya. Boleh kan??”
  • Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Bandung: “Tidak sangka acaranya akan seindah ini.Kami sangat menyukainya. Panitia sangat mantap!”
  • Komisium Bintang Timur – Bogor: “Oke banget! Materi semua sangat bermanfaat!”
  • Komisium Our Lady of The Holy Family – Jakarta: “Educated! Kami jadi tahu siapa diri kami!”
  • Komisium Maria Imaculatta Jakarta: “Sangat mengena! Top markotop!”
  • Bapak Yustinus Ruslim (Ketua Kuria Bunda Pemersatu, pengamat kegiatan): “Acara kalian sangat menyenangkan. Buat juga acara serupa bagi yang dewasa!”

6602_1697029067178020_2641927269988047558_n 1535039_1697032240511036_9109760822214381793_n 11226552_1696827183864875_3485737470314814698_n 12507526_1697042573843336_1768240162043452537_n 12509021_1697022867178640_795743629444926802_n 12510246_1697031597177767_846780631333350212_n IMG_20160109_091100