Kisah Inspiratif – Oma Gerda: 61 Tahun Setia Melangkah Bersama Legio Maria

Kunjungan saya kepada Oma Maria Martha Gerda Borggreve, yang akrab disapa Oma Gerda, kemarin sore meninggalkan kesan mendalam. Pada usia 78 tahun, Oma masih penuh semangat, hangat dalam menyambut tamu, dan aktif membantu Legio Maria sebagai Asisten Pemimpin Rohani (APR) di Kuria Mater Dei, Kelapa Gading.

Oma adalah anak pertama dari lima bersaudara, dengan ayah asli Belanda dan ibu Indonesia. Melihat wajahnya sekarang, saya membayangkan betapa cantiknya Oma ketika muda plus tubuhnya yang tinggi (karena ada bulenya), bisa jadi Oma spt fotomodel ketika masih muda. Kalau orang Surabaya bilang, “Cuantikkk ee poll!”
Tetapi sore itu, inner beautynya Oma jauh lebih cantik. *kecantikan hati Oma pun terasa melalui keramahan dan kerendahan hatinya.

Dengan gembira namun rendah hati, Oma menyambut saya sambil berkata, “Siapalah saya ini dikunjungi oleh Ketua Senatus.” Saya pun malu jadinya. Sambutan itu mengingatkan saya pada sukacita perjumpaan Maria dan Elisabet: sebuah kunjungan sederhana yang dipenuhi kehangatan dan kerendahan hati.

Perjalanan Oma bersama Legio Maria dimulai di Surabaya ketika usianya baru 17 tahun (lagi cakep-cakepnya). Kini, sekitar 61 tahun telah dilaluinya sebagai legioner. Oma juga pernah dipercaya menjadi perwira di Senatus Malang – sebagai sekretaris maka dia mengurus korespondensi dengan Medan, Yogya, Bandung, dll. Betapa panjang perjalanan kesetiaan itu, melewati berbagai tahap kehidupan, tanggung jawab keluarga, sukacita, dan dukacita.

Oma adalah istri prajurit dari Laksamana Pertama TNI (Purn.) Adi Mulyo. Menurut penuturannya, *keaktifan dalam Legio Maria sangat membantu dirinya menjalani kehidupan sebagai istri seorang prajurit dan komandan kapal perang. Ia turut mendampingi para istri prajurit yang menjadi anak buah suaminya. Pengalaman melayani sebagai legioner menjadi bekal untuk hadir, mendengarkan, dan menguatkan keluarga-keluarga prajurit tersebut.

Dalam kehidupan pribadinya, Oma pun harus berani dan mandiri. Dari empat kali melahirkan, hanya pada kelahiran anak pertama suaminya dapat mendampingi. Ketika melahirkan anak kedua hingga keempat, Oma menjalaninya tanpa kehadiran suami. Ada kalanya ia meminta bantuan saudara atau tetangga sesama istri prajurit untuk mengantarnya ke rumah sakit bersalin. Pasti Oma sangat disayang dengan semua tetangga-tetangganya – baik waktu penempatan di Surabaya, Makassar, Maluku dan Papua.

Mendengarkan cerita itu, saya membayangkan keberanian seorang ibu yang menghadapi saat-saat penting dalam hidupnya tanpa didampingi suami. Oma belajar mengambil keputusan, menerima bantuan orang-orang di sekitarnya, dan terus menjalani tanggung jawabnya bagi keluarga.

Namun, bagian yang paling menyentuh hati saya adalah ketika Oma bercerita tentang kehilangan anak ketiganya karena sakit. Anak yang dikenangnya sebagai anak yang paling ganteng itu meninggal pada usia 41 tahun.

Di tengah kehilangan sebesar itu, Oma mengatakan bahwa ia bersyukur karena telah diberi kesempatan merawat dan membesarkan anaknya selama 41 tahun.

Mendengar penuturan Oma, saya sungguh menahan tangis saya. Saya pun pernah kehilangan putri saya, Emma. Cerita Oma menyentuh duka yang juga saya bawa dalam hati. Saya tahu betapa berharganya setiap kenangan bersama anak yang kita kasihi.

Saya tersentuh oleh cara Oma mengenang putranya dengan penuh syukur, bukan dengan duka. Oma Gerda tetap melihat 41 tahun kebersamaan itu sebagai anugerah Tuhan. Sore itu, melalui cerita Oma, saya ikut dikuatkan untuk terus mensyukuri waktu yang pernah Tuhan berikan kepada saya bersama Emma.

Di situlah saya melihat keteguhan iman seorang ibu: membawa kerinduan dan dukanya kepada Tuhan, sambil tetap bersyukur atas kehidupan anak yang pernah dipercayakan kepadanya.

Bagi saya, Oma Gerda adalah seorang prajurit Maria yang berani, mandiri, dan teguh dalam iman. Pembentukan sebagai legioner menyertai kehidupannya sebagai istri, ibu, dan pendamping sesama. Hingga usia 78 tahun, Oma masih memberikan waktu, perhatian, dan tenaganya bagi Legio Maria.

Saya datang mengunjungi Oma dan namun saya pulang membawa penguatan iman dari kisah hidupnya.

Terima kasih, Oma Gerda, atas sambutan yang hangat dan kesaksian hidup yang begitu berharga. Semoga Tuhan senantiasa menganugerahkan kesehatan, penghiburan, dan sukacita kepada Oma. Semoga Bunda Maria terus menggandeng tangan Oma dalam setiap langkah kehidupan dan pelayanan.

peluk cium kami.

Kisah Inspiratif – Uci, Legioner Muda dari Penajam, Kalimantan Timur (Kuria Dahor)

Bertumbuh dalam Iman dan Prestasi

Dari Penajam, Kalimantan Timur, dekat kawasan Ibu Kota Nusantara, hadir sebuah kisah yang membanggakan dari seorang legioner junior. Namanya Lucy Filipini Saro, yang akrab disapa Uci. Di usianya yang baru 13 tahun, ia memperlihatkan bahwa belajar, mengembangkan bakat, dan melayani Tuhan dapat berjalan bersama.

Uci kini duduk di kelas VIII SMP ITCI PPU. Sejak kelas VI SD, ia telah bergabung dalam Legio Maria di Presidium Ratu Para Perawan, Paroki Santa Maria dari Fatima, Penajam, yang berada dalam naungan Kuria Dahor. Sejak usia muda, ia mulai mengenal kebersamaan dalam doa dan pelayanan sebagai anggota keluarga besar Legio Maria.

Ada banyak hal yang patut kita syukuri dari anak ini. Uci berhasil meraih juara pertama lomba membaca Kitab Suci tingkat paroki. Ia juga meraih juara pertama lomba desain logo ulang tahun paroki. Di sekolah, ia pun memperoleh peringkat pertama di kelasnya. Kemampuan membaca, kreativitas, dan ketekunannya belajar menjadi talenta yang dapat terus dikembangkan untuk kebaikan.

Yang juga menggembirakan, Uci mengambil bagian dalam pelayanan sebagai misdinar. Menurut penuturan ibunya, selama sehat dan tidak berhalangan, ia selalu berusaha hadir di gereja. Di tengah kegiatan sekolah dan berbagai kesibukan, ada tempat yang selalu ia berikan bagi Tuhan dan Gereja.

Bagi saya, kehidupan Uci menjadi kesaksian sederhana tentang iman yang bertumbuh melalui keseharian. Belajar dengan sungguh-sungguh merupakan cara mensyukuri kemampuan yang Tuhan berikan. Membacakan Kitab Suci menjadi kesempatan menyampaikan sabda-Nya kepada umat. Membuat desain untuk paroki pun menjadi cara mempersembahkan kreativitas bagi kehidupan Gereja.

Tentu, perjalanan Uci masih panjang. Ia masih membutuhkan pendampingan, dukungan, dan ruang untuk bertumbuh. Kisahnya mengingatkan kita, para legioner senior, untuk hadir mendampingi anggota junior: menyemangati mereka, mendengarkan kesulitan mereka, dan membantu mereka menemukan sukacita dalam doa serta pelayanan.

Di dekat Nusantara yang sedang dibangun, kita pun melihat harapan bagi masa depan Gereja dalam diri seorang anak seperti Uci. Semoga semakin banyak anak muda mendapat kesempatan mengembangkan bakat sekaligus bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan.

Teruslah bertumbuh, Uci. Selamat atas prestasi-prestasimu! Semoga engkau tetap rendah hati, tekun belajar, dan bersukacita dalam pelayanan. Kiranya Bunda Maria senantiasa membimbingmu semakin dekat kepada Yesus, sehingga setiap talenta yang engkau miliki menjadi berkat bagi sesama.

Senatus bangga denganmu Uci !

Kisah Inspiratif dari Oma Margaret

Dear Senatus,

Pagi ini saya mendapat kesempatan yang sangat berharga untuk bertemu Oma Margaret, legioner berusia 92 tahun dari Komisium Jakarta Utara. Oma Margaret bisa jadi Legioner tertua di Senatus kita, atau mungkin ada yang lebih tua?

Kami bertemu di Gua Maria Gereja Regina Caeli. Oma bercerita banyak tentang keluarga, pelayanan, dan pengalaman-pengalaman iman yang dialaminya, termasuk mujizat-mujizat yang terjadi berkali kali dalam hidupnya.

Oma lahir di jaman Jepang dan dia melihat keluarganya ditawan oleh tentara Jepang. Di awal-awal kehidupannya, Oma sudah menjadi Yatim Piatu. Tapi kebaikan Tuhan menyertainya, dia diijinkan bersekolah gratis di Sekolah Santa Maria Malang oleh para suster Belanda waktu itu.

Oma Margaret mulai menjadi legioner aktif sejak tinggal di Malang pada tahun 1960-an. Lebih dari setengah abad telah berlalu. Oma menikah, membesarkan anak-anak, lalu memiliki cucu dan cicit. Kini, sebagai anggota auxilier, Oma tetap setia mendukung Legio Maria melalui doa.

Kesetiaan Oma juga tampak dalam kebiasaannya mengikuti Misa setiap hari, menerima Tubuh Kristus, dan rajin beradorasi. Mendengarnya bercerita, saya merasa bahwa doa sungguh menjadi bagian dari hidup Oma, bukan sekadar kegiatan di sela waktu.

Di tengah cerita-cerita yang menyentuh, Oma juga membuat kami tertawa. Katanya, rambutnya dahulu sudah putih semua, tetapi sekarang hitam lagi – karena dicat! 😄 Oma juga dengan bangga bercanda bahwa dialah yang paling jago masak di antara para legioner PIK.

Saya pulang dengan hati yang bersukacita, terharu, semangat juga dan banyak mendapat pelajaran. Oma Margaret menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan dan Bunda Maria dapat terus bertumbuh dalam setiap tahap kehidupan. Cara melayani boleh berubah, tetapi hati yang setia tetap menyala spt Prajurit yang siap sedia bertempur.

Terima kasih, Oma Margaret, atas cerita, tawa, teladan, dan doa-doa Oma bagi kami. Di usia 92 tahun, Oma masih mengingatkan kami untuk terus setia.

Love you Oma Margaret. 🥰🥰

Bagaimana dengan kita?

Terimakasih Bapa Frank Duff, Tuhan Mempertemukan Puteriku dengan Bapa Fransiskus

Saat itu bulan Februari 2024. Ketika itu putri sulungku, yang berprofesi sebagai pramugari senior di maskapai penerbangan nasional Garuda, memohon doaku agar ia nantinya termasuk sebagai salah satu dari tim pramugari yang dipilih untuk melayani penerbangan Bapa Suci Paus Fransiskus saat kunjungan beliau ke Asia Oceania.

Bermacam perasaan memenuhi hatiku. Sebagai seorang ibu, tentu aku sangat berharap putriku lolos seleksi untuk tugas pelayanan mulia itu. Tetapi, semua masih berupa rencana. Kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus ke Jakarta yang direncanakan awal September 2024 memang sudah tertulis dalam agenda, tetapi belum menampakkan wujud nyata persiapan apa pun.

Namun, aku tahu bahwa aku harus bergerak sedini mungkin seiring bergulirnya waktu. Maka, sejak putriku mengutarakan harapan indah yang samar itu, aku segera meraih senjata doa. Aku teringat  Bapak Frank Duff, yang dari Surga abadi setia menjadi perantara doa-doa para legioner kepada Tuhan. Jadi, setiap hari setelah mendaraskan ujud-ujud doa Presidium kami, aku menambahkan doa sesuai impian putriku dan harapan kami melalui perantaraan Hamba Allah Frank Duff. Jika Tuhan berkenan, tentu Ia akan mengabulkan permohonanku dengan bantuan Bapak Frank Duff.

Tanpa terasa, sudah berbulan-bulan aku mendaraskan permohonan yang sama setiap hari, hingga sebuah kabar sangat menggembirakan datang tepat di hari ulang tahunku, yaitu tanggal 8 Agustus. Putriku dihubungi secara pribadi oleh atasannya.  Ternyata ia dipilih untuk bergabung dalam tim awak kabin melayani penerbangan Bapa Suci Paus Fransiskus dari Indonesia ke Papua Nugini!

Lalu, mulailah serangkaian persiapan berupa pengisian aneka formulir. Sayangnya kegiatan ini bersifat amat sangat rahasia sehingga tak boleh disebarluaskan karena menyangkut keamanan tokoh penting, bahkan di anggota keluarga inti pun tidak diijinkan untuk mengetahuinya. Hanya akulah satu-satunya sekaligus sebagai ibunya yang diijinkan untuk mengetahui. Meski sulit karena ada desakan hati luar biasa untuk berbagi, namun Tuhan memampukan aku mengunci rapat mulutku dari keinginanku memberitahu sanak saudara.

Singkat cerita, tibalah hari yang dinanti. Setelah selesai melakukan kunjungan apostoliknya pada tanggal 3 hingga 6 September 2024 di Jakarta. Bapa Suci Paus Fransiskus melanjutkan perjalanan ke Papua Nugini dengan memakai pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-7780. Putriku termasuk di antara 12 awak kabin (cabin crew) dan 4 awak pesawat (flight crew) yang dipilih untuk melayani Bapa Suci Paus Fransiskus selama penerbangan yang memakan waktu sekitar 6 jam tersebut.

Sungguh mengharukan, membanggakan, dan melegakan. Tuhan bermurah hati melimpahkan berkat-Nya kepada kami sekeluarga lewat terpilihnya putriku. Aku bersyukur atas berkat Tuhan ini dan berterima kasih kepada Bapak Frank Duff yang telah berkenan meneruskan permohonanku kepada Allah Bapa di Surga.

Sebagai Legioner, kita memiliki seorang pengantara yang dapat kita mohonkan pertolongannya untuk membawa permohonan -permohonan kita ke hadirat Allah Bapa.  Sejak Juni 1996 telah dimulai proses beatifikasi Bapak Frank Duff oleh Kardinal Desmond Connell, Uskup Agung Dublin. Setelah hampir tiga dasawarsa, semoga ada kemajuan dalam proses pengakuan kekudusan Bapak Frank Duff oleh Gereja.

Marilah kita setia mendoakan beliau.

Ave Maria,

Johana Maria Vianney Budi Suprihati

Perwira Presidium Maria Guadalupe – Komisium Jakarta Timur

Kabar Senatus Desember 2020

This image has an empty alt attribute; its file name is Untitled-design-edited-300x169.jpg

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)


Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


BANDUNG

Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Bandung. Rapat presidium/ dewan secara tatap muka belum dapat dilakukan. Pembentukan Kuria Pantura yang terdiri dari presidium-presidium di Paroki Cikampek, Karawang, Subang, dan Purwakarta masih dalam proses.


BALIKPAPAN

Kuria Bejana Kebaktian – Balikpapan. Terdapat satu presidium di daerah Bontang yang sudah vakum. Perwira kuria sedang berusaha untuk mengaktifkannya kembali. Selain itu, terdapat 2 presidium yang sudah diijinkan untuk mengadakan rapat presidium secara tatap muka.


TANJUNG SELOR

Kuria Bejana Kerahiman – Tanjung Selor. Presidium dan kuria tidak dapat melaksanakan rapat online karena keterbatasan media komunikasi sehingga legioner hanya berdoa Tessera bersama pada jam rapat kuria dan presidium. Pada 21/8, Kuria ini berhasil mengadakan misa ACIES yang dihadiri sekitar 60 orang legioner dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kabar Senatus November 2020

This image has an empty alt attribute; its file name is Untitled-design-edited-300x169.jpg

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)


Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


BALIKPAPAN

Kuria Benteng Perdamaian – Dahor. Presidium di stasi St. Mikael ITCI memulai rapat online perdana di kuria ini. Walaupun belum semua presidium dapat mengadakan rapat online, namun pada Oktober 2020, rapat kuria online juga sudah terlaksana. Telah terbentuk 2 presidium baru di stasi St. Mikael ITCI yang akan disahkan setelah situasi pandemi usai. Legioner tetap berkarya di gereja dan Posyandu dengan pembatasan.


JAKARTA

Kuria Mater Christi – Jakarta Pusat 1. Rapat dewan dan presidium secara online sudah berhasil dilaksanakan. Namun persentase kehadiran masih rendah. Legioner di dewan ini berhasil aktif dan menjalin hubungan baik dengan masyarakat, sehingga secara tidak langsung legioner menampilkan identitas seorang Katolik.

Kuria Ratu Para Kudus – Jakarta Selatan 1. Walapun tidak seluruh presidium telah mengadakan rapat online, namun dewan ini sudah melaksanakan rapat kuria secara online. Pada akhir bulan Oktober 2020, dewan ini mengadakan misa ACIES online yang dihadiri oleh ± 60 orang legioner. Proses pembentukan presidium baru di Paroki Blok Q berhenti selama masa pandemi.

Kabar Senatus Oktober 2020

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)

Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


Kuria Ratu Damai – Bandar Lampung.

Walaupun dalam masa pandemi, kuria ini tetap berupaya melakukan perluasan, yaitu dengan rutin memantau presidium-presidium yang baru berdiri melalui telepon untuk memastikan rapat mingguan tetap terlaksana. Selain itu, sebelum Senatus menggaungkan Laudato Si, dewan ini sudah aktif melakukan berbagai kegiatan Laudato Si dan menjadi motor penggerak di lingkungan. Legioner di dewan ini juga melakukan Gerakan 1000 masker dengan menjahit, mencuci, mengemas, dan membagi-bagikan masker. Seluruh bahan yang dibutuhkan untuk membuat masker disediakan oleh Keuskupan.


Kuria Cermin Kekudusan – Kampus.

Rapat dewan dan presidium secara online sudah berhasil dilaksanakan. Saat ini memang hanya terdapat 5 presidium yang tergabung di dalam kuria ini. Kuria ini juga sedang mengupayakan pemekaran presidium di Unika Atma Jaya, BSD. Selama masa pandemi, selain rapat dewan atau presidium online, dewan ini mengupayakan doa online bersama.

Kabar Senatus September 2020

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)


Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


JAKARTA

Kuria Mater Dei – Jakarta Utara 1: Rapat dewan online sudah berhasil dilakukan. Dewan ini aktif dalam Gerakan Layani Orang Tua (Gelora) di Paroki Kelapa Gading, bekerja sama dengan beberapa seksi dan kategorial lain.

Kuria Rosa Mystica – Jakarta Selatan 2: Rapat dewan dan online sudah berhasil dilaksanakan. Masih ada beberapa presidium yang tidak dapat rapat online karena anggota presidium yang sudah lansia. Selain itu, presidium seminari juga tidak dapat melakukan rapat rutin karena sebagian besar siswa seminari yang dipulangkan. Salah satu presidium di dewan kuria ini juga membuat masker kain dan membagi-bagikannya kepada warga lingkungan.

Kuria Tahta Kebijaksanaan – Jakarta Utara 3: Rapat dewan online sudah berhasil dilaksanakan. Terdapat kendala dalam rapat presidium junior, banyak orangtua yang keberatan anaknya mengikuti rapat legio virtual karena sekolah dan les juga virtual.


BOGOR

Komisium Bintang Timur – Bogor: Komisium ini telah melakukan sosialisasi Legio Maria di Paroki Kristus Raja Rangkasbitung pada Februari 2020, namun belum membuahkan hasil. Komisium ini sudah memulai kebiasaan merawat bumi dengan mengurangi pemakaian kertas, meminta legioner peduli sampah, dan pantang pantikfom. Selama masa pandemi, legioner mengunjungi umat gereja secara online, menyapa, dan bercakap-cakap.


KALIMANTAN

Komisium Santa Maria Perawan yang Setia – Pontianak: Komisium ini sudah dapat melaksanakan rapat legio tatap muka dengan protokol kesehatan. Selama masa pandemi, legioner di komisium ini melakukan aksi belarasa, bekerja sama dengan seksi dan kategorial lainnya.

Homili Misa Tahunan Senatus 2020 : Allah Turut Berkarya Bersama Kita

Oleh : Mgr. Paskalis Bruno, OFM


Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Dan kita semua diajak untuk mempersiapkan 100 tahun legio dengan kesatuan ini : bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Di tengah kehidupan kita, ada banyak orang yang berusaha mendatangkan kebaikan bagi sesama. Apakah kita para legioner tetap setia melakukan karya-karya yang mendatangkan kebaikan bagi sesama?

Kita tidak pernah berjuang sendirian karena Allah turut berkarya dalam perjuangan kita. Dan Bunda Maria menjadi model teladan hidup bagi kita karena Bunda Maria mengalami sendiri penyertaan Allah dalam hidupnya.

Setidaknya, ada tiga titik dalam hidup Bunda Maria di mana Allah menyertainya:

    1. Bunda Maria adalah orang istimewa yang dipercaya Allah dalam tugas penyelamatan. Maka legioner harus lah menjadi militan dalam imannya untuk melakukan kebaikan bagi sesama.
    2. Bunda Maria membesarkan Yesus dari Nazaret, dan Allah berkarya dalam membimbing Bunda Maria untuk membesarkan Yesus.
    3. Yesus sendiri dari salib mempercayakan murid-murid-Nya kepada Bunda Maria, dan dengan demikian Bunda Maria menjadi Bunda bagi kita semua.

Perayaan 99 tahun legio diharapkan dapat meneguhkan iman dalam memperkuat keyakinan kita, bahwa Allah hadir dalam karya penyelamatan yang mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Scroll Up