7 OKTOBER, PERINGATAN SANTA PERAWAN MARIA, RATU ROSARIO

Dalam Gereja Katolik, bulan Oktober dikenal sebagai bulan Rosario. Biasanya selama bulan ini umat memperingatinya dengan Doa Rosario lebih rutin, baik secara pribadi maupun bersama kelompok atau kategorial. Doa Rosario merupakan doa devosi yang sederhana dengan manfaat yang besar, tapi tahukah teman-teman apa itu Rosario?

Rosario diartikan sebagai “Mahkota Mawar”. Dalam penampakan Bunda Maria kepada beberapa orang, Bunda Maria menyatakan bahwa setiap kali mereka mendaraskan satu Salam Maria, mereka memberikan satu kuntum mawar yang indah dan setiap mendaraskan Rosario secara lengkap mereka memberinya sebuah mahkota mawar.

Seperti bunga mawar yang merupakan ratu dari segala bunga demikian juga Rosario sebagai ratu dari segala devosi. Oleh karena itu Rosario merupakan devosi paling penting. Rosario dianggap sebagai doa yang sempurna karena didalamnya mengandung warta keselamatan yang mengagumkan.

Bersamaan dengan Bulan Rosario, umat Katolik di seluruh dunia juga memperingati Santa Perawan Maria Ratu Rosario.

Di setiap penampakan, Bunda Maria selalu berpesan untuk selalu mendoakan doa Rosario sebagai senjata ampuh untuk melawan kejahatan, dan sarana pembawa damai sejahtera.

Suatu hari Bunda Maria berpesan dalam penampakan kepada anakanak di Fatima, “berdoalah Rosario setiap hari…berdoa, berdoalah sesering mungkin dan persembahkanlah silih bagi para pendosa…akulah Ratu Rosario…pada akhirnya hatiku yang tak bernoda akan menang.”

Ratu Rosario adalah salah satu julukan Bunda Maria karena mukjizat yang terjadi pada tanggal 7 Oktober 1571, dimana terjadi suatu pertempuran armada laut yang dahsyat di Pantai Yunani, dan dikenal sebagai pertempuran Lepanto.

Kisah dari Bunda Maria sebagai Ratu Rosario ini menggambarkan kepada kita bagaimana dahsyatnya kekuatan dari doa Rosario dan bagaimana doa Rosario dapat memberikan mukjizat ketika kita mengimaninya dengan sungguh-sungguh. Legioner sebagai bala tentara Maria sudah seharusnya setia dalam mendaraskan doa Rosario terutama di bulan Rosario ini sebagai tantangan kesetiaan untuk kita dalam berdevosi kepada Bunda Maria sebagai seorang Legioner.

Kevin Fernando

8 September, Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Oleh : Anson Santoso


Bagi umat Katolik tentunya tidak asing lagi dengan tokoh Ibu kita Bunda Maria. Kita para legioner yang berdevosi kepada Bunda Maria, tentunya diharapkan lebih dekat dengan Ibu Tuhan kita Yesus Kristus, yakni Bunda Perawan Suci Maria. Begitu mendalam pemahaman tentang Bunda kita ini, di mana terdapat bagian teologi di ajaran Gereja kita yang disebut “Mariologi”, yang mempunyai beberapa institusi pendidikan dan penelitian di beberapa negara.

Bunda Maria dilahirkan dalam keluarga saleh oleh orang tuanya Santo Yoakim dan Santa Anna. Ia dididik dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya, baik secara teoritis (kitab-kitab Taurat Yahudi), maupun dalam perbuatan sehari-hari.

Saya teringat katekese tentang Bunda Maria yang disampaikan oleh Pastor Andre SDB, Pastor Paroki Danau Sunter. Beliau mengajukan pertanyaan, “Apakah kita bisa menjadi seperti Bunda Maria?”. Umat yang hadir membisu seribu bahasa ketika mendengar pertanyaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan. Muncul pertanyaan berikutnya, “Apakah kita layak menjadi seperti Bunda Maria yang teramat suci itu?”.

Mengagetkan karena jawabannya adalah kita bisa. Beliau memaparkan bahwa, “Kita bisa, asalkan iman kita benar-benar terdidik dengan sangat baik seperti Santo Yoakim dan Santa Anna mendidik Bunda Maria. Juga asalkan kita menolak segala –ya, segala- bentuk dosa dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak lupa kita pun harus mau melaksanakan kehendak-Nya saja”.

Bunda Maria yang acapkali menjadi perantara doa-doa kita kepada Tuhan melalui doa Novena Tiga Salam Maria, atau kita yang merasa dikuatkan melalui doa Rosario, mempunyai beberapa sejarah menarik. Misalnya, kemenangan pasukan Eropa/ Kristiani atas invasi pasukan Turki pada tahun 1571, atau kisah orang kudus Santo Dominic Savio yang menceritakan kepada gurunya -Santo Don Bosco- bahwa yang menolongnya pada saat ajalnya ialah Bunda Gereja kita.

Bunda Maria yang secara dogma Gereja berperan secara mediatrix (sebagai mediator antara Tuhan Yesus dan manusia) serta co-redemptrix (pendamping) dikenal sebagai Bunda para pendosa. Ada satu pengalaman unik saat saya menempuh pendidikan di Sanggau, Kalimantan Barat. Seringkali saya diminta untuk mengembalikan rantang makanan, yang perjalanannya harus melewati hutan pada saat malam hari. Di lokasi tujuan terdapat 2-3 anjing penjaga yang cukup galak. Setiap kali anjing itu berlari atau menggonggong ke arah saya, saya berdoa Salam Maria. Alhasil mereka langsung menjadi tenang, tidak lagi menggonggong, dan berbalik badan. Pengalaman ini mengingatkan saya pada sebuah lukisan Bunda Maria yang pernah saya lihat. Dalam lukisan yang berukuran besar itu, Bunda Maria dengan jubahnya melindungi orang-orang yang sedang dalam ketakutan. Manusia dari berbagai macam profesi dan kedudukan sosial di dunia berlindung dibalik jubah Bunda Maria.

Acapkali dengan perantaraan Bunda Maria, Tuhan mengabulkan doa-doa saya, khususnya di saat saya berdoa Novena Tiga Salam Maria. Begitu pula saat saya berdoa Rosario, Salam Maria, atau Catena Legionis, saya merasa hati menjadi tentram dan mampu menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, sudah sepatutnya saya dan kita semua bersyukur atas kelahiran Bunda Maria lebih dari 2000 tahun yang lalu. Kita mendapatkan Bunda Surgawi, yang mana olehnya, Tuhan kita Yesus Kristus mustahil menolak permohonan sang Bunda yang telah mengikuti kehendak Tuhan selama hidupnya di dunia ini.

Terima kasih, Bunda Maria. Selamat ulang tahun Bunda Surgawi, Bunda Tuhan kita Yesus Kristus dan Bunda kita semua.

sumber : katolisitas-indonesia.blogspot.com

Berpuasa Sebelum Menyambut Komuni

Referensi: indocell.net / yesaya


Pernah kah kamu mendengar aturan berpuasa sekurangnya satu jam sebelum menyambut Komuni Kudus? Tapi kan sekarang masih banyak yang misa online, tidak ada Komuni Kudus. Beberapa bulan terakhir, memang hampir seluruh gereja di dunia menutup pintunya karena mengikuti anjuran pemerintah setempat guna pembatasan sosial untuk mencegah merebaknya virus Covid-19. Namun kini, pintu itu mulai dibuka kembali secara perlahan. Misa sudah mulai dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Eits, tidak hanya protokol kesehatan saja yang harus diperhatikan, melainkan juga protokol dalam menyambut Komuni Kudus.

Kenapa sih harus berpuasa?

Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) no. 19, ada pernyataan yang tertulis jelas di sana. “Yang akan menerima Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata dan obat-obatan. Hal ini dikecualikan bagi lansia, orang sakit, dan yang merawatnya”. Menurut sejarah, sebenarnya peraturan ini merupakan refleksi dari tradisi kuno dalam gereja kita, yang bahkan berasal dari tradisi Yahudi.

St. Paulus mengingatkan kita, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (II Kor 4:10). Dan Paus Paulus VI dalam konstitusi apostoliknya Paenitemini (1966), mendorong umat beriman dengan mengatakan, “Mati raga bertujuan untuk ‘memerdekakan’ manusia, yang seringkali mendapati dirinya, karena kecenderungannya akan dosa, hampir terbelenggu oleh nafsu-nafsunya sendiri. Melalui ‘mati raga jasmani’ manusia memperoleh kembali kekuatannya dan luka-luka yang timbul akibat sifat dasar manusia karena kurangnya penguasaan diri disembuhkan oleh obat pantang yang bermanfaat”.

Paus Yohanes Paulus II dalam Dominicae Cenae (1980) menyesali timbulnya masalah karena sebagian orang tidak mempersiapkan diri secara pantas untuk menyambut Komuni Kudus, bahkan dalam keadaan dosa berat. Bapa Suci mengatakan, “Sesungguhnya, yang seringkali didapati ialah sangat kurangnya perasaan tidak layak diri sebagai akibat dari kurangnya hasrat hati, jika dapat dikatakan, kurangnya rasa ‘lapar’ dan ‘haus’ akan Ekaristi, yang juga merupakan tanda akan kurangnya kepekaan yang pantas terhadap sakramen
kasih yang luar biasa ini dan kurangnya pemahaman tentangnya”. Dan berpuasa sebelum menyambut Komuni Kudus membangkitkan rasa lapar dan haus jasmani akan Kristus, yang akan semakin membangkitkan rasa lapar dan haus rohani yang sepantasnya kita miliki, seperti yang tercatat dalam beberapa kisah di Alkitab.

Oleh sebab itu, berpuasa sebelum menyambut Ekaristi membantu kita dalam mempersiapkan diri menyambut Komuni Kudus secara keseluruhan – tubuh dan jiwa. Mati raga jasmani ini memperkuat fokus rohani kita kepada Kristus, sehingga kita dapat dengan rendah hati bersatu dengan Juruselamat Ilahi yang menawarkan Diri-Nya sendiri bagi kita.

(Gereja) Katolik Jaman NOW

 

Oleh Sdr. Octavian Elang Diawan


Jaman NOW, istilah yang menunjuk jaman sekarang, jaman ini. Jaman NOW adalah kelanjutan jaman dahulu, jaman NOW akan diikuti jaman yang akan datang.  Setiap jaman memiliki peradabannya sendiri-sendiri yang unik. Jaman NOW ditandai dengan keterbukaan informasi karena penemuan teknologi informasi yang dinamakan internet dan perangkat pendukungnya.

Gereja Katolik diibaratkan bahtera yang mengarungi jaman. Gereja berlabuh mulai dari pelabuhan surga  yakni hati Allah; Lalu berziarah di dunia daam rupa  kehadiran Yesus Kristus hingga wafat-Nya di kayu salib: Lalu peziarahan Gereja berlanjut melalui Santo Petrus dan penerusnya. Gereja berziarah dari jaman dulu, jaman NOW, lalu jaman yang akan datang hingga akhirnya kembali ke hati Allah sendiri dengan membawa jiwa-jiwa manusia yang  diselamatkan.

Gereja muncul dari hati Allah  yang terdalam – hati yang Maha Kasih, Maha Rahim, Maha Kuasa, Maha Kudus. Hati Allah tak pernah berubah walau  berziarah melalui jaman yang berubah-ubah. Tetapi Gereja harus menyesuaikan diri terhadap tantangan di setiap jaman (ecclesieae semper reformanda), sebagai bahtera Gereja bisa berjalan lurus, kadang berbelok kanan atau kiri, kadang bergerak cepat atau lambat, atau memutar haluan. Namun tugas Gereja tak pernah berubah, yakni mewartakan hati Allah kepada setiap manusia yang ditemui dan membawanya kembali pada Allah.

Gereja Katolik Jaman NOW

Jaman NOW adalah jaman terjadinya perubahan super cepat dari jaman sebelumnya. Arus informasi yang terbuka memutus sekat-sekat antar bangsa dan antar budaya. Orang Indonesia dengan mudah bisa berjodoh dengan orang Afrika hanya dengan berkenalan di depan laptop – sesuatu yang 20 tahun lalu sangat sulit terjadi. Kemajuan teknologi transportasi dan perbaikan ekonomi juga berpengaruh. Transportasi murah menyebabkan orang desa  mudah sekali ke Jakarta atau bahkan menyeberang ke Papua –  dan sebaliknya. Dunia makin melebur (nge-blend). Anak-anak jaman NOW yang masih SD sudah pandai berbahasa Inggris; Orang-orang Korea bahkan pandai berbahasa Jawa.

Di lain pihak kejahatan juga semakin canggih, termasuk terorisme. Panduan membuat bom bisa diperoleh dengan mudah di YouTube.  Masyarakat dunia mengalami perubahan perilaku. Mereka ini sangat menikmati teknologi yang dinamakan gawai, dan citarasa hubungan antar manusia pun turut berubah. Banyak orang tidak mengetahui bahwa gawai bertindak pesis seperti narkotika – menciptakan adiksi. Gawai menjadi sahabat akrab  baru yang menggantikan kakak, adik, atau orang tua.

Namu demikian jaman NOW juga ditandai dengan pertumbuhan umat kristiani di dunia. Afrika Utara, Korea, China, Indonesia, dan Timur Tengah adalah wilayah yang mengalami pertumbuhan umat kristiani cukup menakjubkan. Di Indonesia ada klaim bahwa setiap tahun terdapat 2 juta orang berpindah ke kekristenan. Di KAJ sendiri terdapat pertumbuhan umat sekitar 25 ribu dalam satu tahun terakhir. Sebuah dugaan menyebutkan bahwa ajaran ‘Kasihilah musuhmu’ menjadi salah satu  daya tarik orang menyerahkan diri pada Yesus.

Tantangan Gereja Jaman NOW

Gereja bersikap ketika masuk dalam peradaban jaman NOW ini.  Gereja tetap teguh memegang nilai, namun menyesuaikan diri terhadap dinamika kehidupan. Bapa Suci Fransiskus pun menyadari hal ini maka beliau  menampilkan diri sebagai pimpinan Gereja jaman NOW yang serba gaul, milenial, menerobos kebiasaan lama, tak suka dengan protokoler yang ketat, dan akrab tanpa sekat dengan setiap orang.  Walhasil beliau menjadi orang terkenal dalam waktu yang sangat singkat. Kepemimpinan beliau bukan mengikuti gaya kepemimpinan tradisional  yang menekankan kekuasaan, melainkan kepemimpinan yang mengubah orang (transformasi).

Indonesia di Jaman NOW

Indonesia  jaman NOW adalah Indonesia  yang makin ramai dengan 260 juta penduduknya,  terdiri dari 1.128 suku bangsa; mereka mendiami sebagain dari sebanyak 13.466 pulau yang kita miliki. Segala jenis orang bisa ditemukan di sini: orang kaya raya  mapun orang miskin, orang budiwan-budiwati tulus hati ahli surga maupun para begal uang rakyat yang rajin beribadah, orang  pedalaman yang hidup secara nomaden  yang belum bisa membaca a-be-ce-de-e maupun para profesor ahli nuklir.  Wilayah pulau yang bersih hijau  segar  atau wilayah  Kali Item berbau busuk menyebar kuman pun bisa ditemukan.  Itu semua adalah situasi  yang dihadapi  Gereja Indonesia di mana kita ada di dalamnya. Situasi yang memang harus dilalui oleh Gereja dalam peziarahannya mewartakan hati Allah yang mencinta. Dan kita pulalah yang menghadapinya sebagai bagian sentral Gereja.

Memeluk Anggota Keluarga

Namun, jaman NOW seperti gelas kaca yang sangat tipis. Bila kita lengah kita bisa tanpa sengaja menyenggol gelas ini dan jatuh lalu pecah tak berguna. Banyak keluarga Katolik sudah sedemikian hati-hati merawat keluarganya toh masih juga kebobolan. Ada beberapa pengguna narkotika yang saya kenal adalah anak-anak dari keluarga Katolik yang taat. Di jaman NOW sungguh diperlukan kehati-hatian ekstra untuk menjaga ‘gelas keluarga’ agar tetap aman di tempatnya. Mungkin saja kita tak menyenggolnya, namun bisa jadi tiba-tiba  ada kucing melompat  lalu  menyenggolnya dan gelas jatuh pecah berkeping-keping.  Setiap orang tua harus waspada terhadap kecenderungan ‘gawai’-isme dalam anggota keluarga. Kebersamaan dan komunikasi yang bermutu tak bisa diganti dengan gawai. Orang tua harus sering bertindak dan mengucakan kata  iman, pengharapan, dan kasih. Usahakan ketiga kata itu bukan termasuk kata asing. Biarkan kata itu secara halus mengendap dalam bawah sadar semua anggota keluarga. Biarkan ia menjadi benih dan akhirnya bertumbuh menjadi pohon keselamatan. Inilah cara memeluk anggota keluarga sehingga ikatan kasih dan kesetiaan tetap menyala. Mari mencercap inspirasi  keluarga kudus Nazareth yang melakukan hal-hal  itu dengan sangat indah.

Memeluk Tetangga

Jaman NOW membuka sekat-sekat kelompok. Interaksi antar budaya, antar ideologi, antar lapisan sosial terjadi tanpa bisa dibendung. Di Indonesia kebhinekaan adalah mutlak. Bahkan dua saudara kembar Ipin dan Upin pun tetap memiliki perbedaan yang khas.

Perbedaan menjadi cara Allah untuk menunjukkan kemuliaannya. Bila ada syair lagu berbunyi “Tuhan ditemukan dalam ketenangan,” maka dalam konteks kebhinekaan Indonesia kita bisa berkata “Tuhan ditemukan dalam perbedaan”. Maka mari kita menghargai perbedaan dan menjadikan hal ini sebagai kesempatan pengudusan diri. Mari temui tetangga-tetangga yang tak seiman dengan kita. Kita tunjukkan bahwa kita adalah pewarta hati Allah yang lemah lembut. Kita peluk mereka dalam semangat illahi, karena hati Allah adalah hati yang menyatukan, hati yang menghidupkan, dan hati yang menyembuhkan.

Selamat berlabuh di jaman NOW;

Mari mewartakan hati Allah di jaman NOW,

and do it NOW.


Sdr. Octavian Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani sejak Juli 2016.

Bagaimana Sikap Kita Terhadap Pengakuan Dosa ?

Oleh Ignas Permenas Gumansalangi.


Banyak pertanyaan yang membahas mengenai seberapa penting sakramen tobat bagi kita. Tidak jarang di era sekarang ini remaja bahkan orang dewasa mendapatkan pertanyaan yang menguji iman, seperti, “Toh manusia tidak luput dari dosa yang berarti dengan sakramen tobat tidak berarti menjamin manusia tidak akan terbebas sepenuhnya dari godaan dosa, yang pada akhirnya akan jatuh kembali dalam dosa itu sendiri bahkan tak jarang layaknya keledai yang sering kali jatuh dalam lubang yang sama.” Pertanyaan tersebut cukup menjamur dan menjadi alasan bagi sebagian orang beriman menunda dalam merespon pelayanan sakramen tobat dengan alasan diadakan rutin setiap tahun. Mirisnya, dalam kondisi yang sebaliknya, di tengah kehendak bebas manusia yang semakin menjerumuskan pemikiran bahwa jatuh dalam dosa adalah hal yang tidak terelakan, manusia seakan sangat mengandalkan pengakuan dosa “Yang penting masih akan ada pengakuan di gereja”.

Kehidupan yang semakin berkembang dengan banyaknya tuntutan dan kompleksnya keinginan manusia menjadikan sebagian besar orang akan lunak dengan kehendak bebas. Banyak hal yang menjauhkan orang dari Tuhan oleh karena keinginan duniawi. Manusia yang terus terjerat oleh sifat menunda-nunda semakin terbawa arus perkembangan global dan melupakan sumber dan asal manusia yang sesungguhnya.

Beragam cara pandang manusia dalam menanggapi dosa itu sendiri, tidak jarang rasionalisasi atas dosa sering terjadi dengan menganggap yang dilakukan adalah hal biasa dan dapat ditolerir. Lingkungan menjadi salah satu penyebab besarmya rasionalisasi yang dilakukan sebagai upaya menghilangkan perasaan bersalah.

Menurut Gereja Katolik, dosa sendiri dibagi menjadi dua kategori yakni dosa berat dan dosa ringan. Apapun kategori dosa tersebut tidaklah kurang dari perilaku yang menyakiti hati Allah, Efesus 4:31 “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.”

Di tengah tanda tanya dunia yang tidak ada batasnya, Gereja Katolik menawarkan sakramen yang mengantar manusia untuk kembali menemukan jalan dan berada pada keselamatan. Melalui doktrin tentang EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus) yang mana pengertiannya melalui Konsili Vatikan ke II diartikan sebagai “Keselamatan datang dari Kristus Melalui Gereja Katolik”, menjelaskan bahwa Gereja Katolik mengambil bagian dalam menuntun orang memperoleh keselamatan. Rumusan ini didasarkan pada Yohanes 14:6 (Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”). Kristus sebagai Kepala Gereja, Kristus tidak pernah terlepas dari Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya.

Setiap orang membutuhkan asupan gizi secara rutin dan teratur untuk menjaga kebugaran jasmaninya, begitu juga orang membutuhkan bimbingan rohani serta penitensi dalam sakramen tobat sebagai asupan rohani agar tetap menjaga kebutuhan rohaninya. Bukan hanya soal dosa apa yang telah diperbuat sehingga membutuhkan sakramen tobat, akan tetapi seberapa mampu kita dapat merendahkan hati bahwa kita manusia yang berdosa. Merendahkan hati membutuhkan penyadaran diri, dimana yang mana prosesnya melalui penelitian batin. Penelitian batin adalah sikap yang paling mendasar dan penting.

Dalam perjalanannya, sakramen tobat sering juga disebut dengan beberapa nama atau sebutan lain yang mana melalui istilah yang ada terkandung makna dari sakramen tobat itu sendiri. Beberapa sebutan atas sakramen tobat antara lain :

1. Sakramen Tobat

Penyebutan sakramen tobat didasarkan pada konsili vatikan ke II (lih. Sacrosanctum Concilium, No. 72; Lumen Gentium, No. 11). Dalam penyebutan sakramen tobat hal yang mau ditekankan ialah tobat dan orang beriman yang bertobat.

2. Sakramen Pengakuan Dosa

Dalam penyebutan sakramen pengakuan dosa hal yang mau ditunjukan adalah orang yang mau bertobat menyatakan sikap tobatnya kepada Allah. Dengan kejujuran serta kerendahan hati mau mengakukan dirinya sebagai orang yang berdosa dan membutuhkan kerahiman Allah.

3. Sakramen Pengampunan Dosa

Disebut sebagai sakramen pengampunan dosa karena dosa-dosa yang telah di akukan dengan penuh kejujuran dan kerendahan hati melalui absolusi imam secara sakramental telah diampuni oleh Allah sendiri.

4. Sakramen Pendamaian (rekonsiliasi)

Melalui pengampunan yang diterima oleh pentobat, Allah sendiri memperdamaikan pentobat dengan Diri-Nya dan Gereja. Berdasarkan Lumen Gentium, No. 11 “mereka yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan Allah adalah ungkapan cinta-Nya yang mendamaikan”. Sesuai dengan 2 Korintus 5:20 “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah”.

5. Sakramen Penyembuhan

Melalui sakramen tobat kita diberikan rahmat penyelamatan dan penyembuhan atas jiwa dan raga.

Gereja sebagai Tubuh Kristus memberikan kesempatan setiap orang untuk dapat bertobat melalui sakramen tobat yang merupakan sarana kehadiran Tuhan dalam diri kita yang mengembalikan kita ke jalan keselamatan. Dalam pengakuan dosa orang dapat mengalami dan merasakan buah-buah rohani seperti pendamaian dengan Allah karena relasi kasih dengan Allah, pendamaian dengan sesama, disembuhkan secara utuh dari luka batin, pembebasan dari siksa abadi, dan menagalami ketenangan hati nurani (kedamaian hati).

Memperbaiki relasi dengan Allah adalah kebutuhan bagi manusia. Penyadaran diri merupakan hal yang patut dilakukan dalam perjalanan kehidupan sehari-hari. Bagi umat katolik dalam menyambut, memperingati ataupun merayakan kesempatan-kesempatan tertentu melalui penyadaran kelemahan diri dengan penelitian batin merupakan hal yang patut untuk dipupuk. Masa prapaskah, ketika umat Katolik berada dalam masa penyangkalan diri, adalah kesempatan baik untuk meneliti batin dan memperbaiki diri. Dengan adanya sakramen tobat kesempatan ini menjadi lebih istimewa karena dalam usaha menyadari setiap kelemahan dan keberdosaan kita, Tuhan mau hadir dalam diri dan hati kita melalui sakramen tobat sendiri.

Bagaimana persiapan kita dalam menerima sakramen tobat sehingga dengan utuh kita dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita ?

Dalam melakukan pengakuan dosa hal yang paling pertama untuk diperhatikan adalah ketepatan waktu kehadiran di tempat pengakuan, hal ini akan sangat membantu kita untuk dapat memeriksa suara hati secara teratur dan menyeluruh sebelum masuk ke ruang pengakuan. Berbicara dengan artikulasi yang jelas, namun tidak berarti sampai mengeluarkan suara terlalu keras. Mengakui semua dosa yang pernah dilakukan secara tulus, kemudian mendengarkan nasehat maupun penitensi dari pastor/romo. Jangan meninggalkan ruang pengakuan dosa sebelum imam menyelesaikan absolusi. Kemudian kita laraskan doa tobat, dan setelah menerima rahmat pengampunan dalam sakramen pengakuan dosa, sedapat mungkin untuk segera memenuhi penitensi yang diberikan oleh imam di luar bilik pengakuan. Sangat dianjurkan bahwa setelahnya kita dapat mendoakan doa syukur atas pengampunan (PS. 27) dan Madah “Allah Tuhan Kami” (PS. 28)

referensi: Katolisitas.org, carmelia.net


Ignas Permenas Gumansalangi adalah legioner presidium Maria Mater Dei Binus, Kuria Cermin kekudusan – Kampus.

Proud to be a Catholic

Oleh Victoria Suvi Tendiana Lili


Kenapa aku memilih untuk menjadi Katolik?

Pertanyaan yang cukup sederhana namun sulit dijawab. Pertanyaan ini dilontarkan pada saat aku mengikuti persiapan Krisma.  Pada saat aku menjelaskan latar belakang mengapa aku memutuskan untuk dibaptis, ternyata aku tidak puas dengan jawaban itu. Aku merasa bahwa itu bukanlah alasan yang sebenarnya.

Pencarian jawaban yang sesungguhnya pun dimulai.

Aku tidak membandingkan dengan agama lain karena aku yakin bahwa setiap agama adalah baik adanya. Aku mulai mencari banyak informasi dan mempelajari segala hal yang berhubungan dengan Katolik. Ternyata ada banyak hal yang belum aku ketahui. Aku merasa begitu kecil di hadapan Allah. Aku merasa, sebagai orang Katolik aku wajib mengetahui banyak hal mendasar yang seyogyanya menjadi pondasi dalam hidup melayani sebagai seorang Katolik.

Ibarat sebuah keluarga besar, agama Katolik terdiri dari berbagai suku & ras, tua & muda, miskin & kaya, perempuan maupun laki-laki, pendosa & orang kudus.

‘ Our family made up of every race,youngs & olds, riches & poors, men & women, saints & sinner’

Katolik telah berkarya selama berabad- abad, selalu mengutamakan pelayanan, menyeimbangkan hubungan dengan Allah & sesama.

‘Been centuries around the globe, build hospitals for the sicks, orphanages, help the poors, largest charitable organization in the planet, relief n comfort who those in needs, educate most children all over the world, developed education system, developed scientific method  with evidences & proofs’

Katolik menghargai & menghormati hak asasi manusia, melindunginya dalam hukum gereja serta menjadikan Keluarga Kudus sebagai teladan dimana pernikahan hanya bisa dipisahkan oleh kematian.

‘Defense dignity of human life in marriage and family, pray for the soul & humanity’

Devosi terhadap Bunda Maria & Orang Kudus menjadi teladan dalam berkarya.

‘Cities & people named by saints, inspired us, navigated us to sacred path like before’

Katolik menjadikan Firman sebagai landasan dari segala tradisi, sikap & tingkah laku kita, seperti magnet membentuk kepribadian lebih dari 1 milyar penduduk dunia.

‘By Holy Spirit we pile the bible, transform by  sacred  sculpture and tradition for more than 2000 years, followed by over 1 billion people in the world’

Katolik memiliki sakramen sebagai kepenuhan iman Kristiani kita.

‘Sharing the sacraments of fullness for christian faith’

Katolik senantiasa menjadikan perayaan misa sebagai saluran berkat & ungkapan syukur kita.

‘Pray every hour and every day whenever we celebrate the mass’

Yesus sendiri yang membangun landasan bagi kita pada saat menunjuk Paus pertama kita.

‘Jesus lead the foundation for our faith when He sent Peter, the 1st pope, by said : “ You are the rock and upon this rock I will build my church” ’

Katolik memiliki kepemimpinan gembala yang tidak terputus selama lebih dari 2000 tahun lamanya, memimpin dengan kasih & kebenaran sejati di tengah-tengah berbagai kekacauan yang terjadi di dunia ini.

‘For 2000 years we have unbroken line of sheperds, guiding the catholic church with love & truth in confuse & hurting world, in the world of chaos n heart shaped in pain’

Iman Katolik memberikan ketenangan, kekuatan & rasa aman, karena Katolik adalah sebuah keluarga yang bersatu dalam Yesus Kristus sebagai Raja & Penyelamat kita, dimana kita tahu pasti bahwa Allah memiliki kasih yang tak berkesudahan bagi semua ciptaanNYA.

‘It’s comforting to know that as a family united in Jesus Christ our Lord and savior, Catholic faith is something that remain consistent, true & strong.

Ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak fakta yang menunjukan bahwa Katolik memiliki banyak peran dalam mengubah dunia menjadi lebih baik.

taken from faithandale.com

Apakah saya bangga menjadi orang Katolik?

Ya….tentu saja….semakin aku mencari, semakin aku bangga.

Bagaimana dengan anda ?

‘Catholic faith…. Eternal love that God has for all creation’

Sources : diambil dari berbagai sumber


Victoria Suvi Tendiana Lili adalah salah seorang trainer pada LDK Senatus Bejana Rohani 2018. Beliau adalah mantan legioner yang kini aktif sebagai pendidik dan praktisi pengembangan diri.

Kenakanlah Medali Wasiat Ini..

Bandung, 30 Oktober 2017


J.M.J.F.C.A

Kepada para Legioner terkasih,
pax eT bonum

Ketika Sang Putra tersalib,
dalam erangan kesakitan
karena siksa nan ngeri
Sang Bunda berdiri di sana.
Sanggupkah seorang ibu berdiri
di tengah derita, luka menganga, darah dan air mata anaknya?
Namun di sana Maria berdiri,
di bawah Salib Yesus, berdirilah Ibu Yesus.

Lihat Sang Bunda,
di bawah Salib Yesus,
Sang Bejana Rohani menampung semua rahmat
yang tertumpah dari Sang Sumber Segala Rahmat,
buah-buah dari Salib-Nya.

Lihat kini Sang Bunda
berdiri di hadapanmu, Ratu Surga dan dunia
dengan kedua tangan terbuka
mengajak anak-anaknya datang menghampiri
guna memberi berkat dan rahmat
dari harta Bejana Hatinya
untuk dilimpahkan bagimu
segala rahmat yang ada dan diperlukan
bahkan rahmat yang tak dapat kita bayangkan
serta rahmat yang tak pantas kita dapat
agar selalu semangat dan setia dalam karya
menyalakan api cinta yang redup
menerangi nyala iman yang pudar
meneguhkan dasar harapan yang runtuh
memanggilmu pada kekudusan
dan melaluimu
mengundang semua menjadi kudus.

Bila segala terasa berat,
lihatlah di sana ia berdiri
dengan segala rahmat terbaik yang ada di Surga dan bumi.

Medali ini bukanlah jimat untuk ditaruh di dompet
bukan pula barang kenangan untuk dipajang di lemari.
Medali yang sejati akan kita dapatkan setelah perjuangan hidup usai.
Kita kini boleh mencicipinya dahulu dengan medali kecil ini.
Kenakanlah dengan bangga di lehermu,
karena kita semua adalah pejuang Maria.
Apabila senantiasa setia
apa yang kini kita cicipi dengan sederhana
semoga diganjar kemurahan Hati Tuhan
dengan medali kemenangan jaya.

Saat hidup hampa dan berat,
larilah ke kaki altar bersama Sang Bunda,
genggam erat medali itu
segarkanlah diri seperti rusa kehausan yang minum dari sumber air.
Namun lebih penting,
di saat hidup terasa ringan dan menyenangkan,
jangan lupa senantiasa berdoa melalui perantaraannya,
karena tidak jarang, ada saja rahmat yang lupa kita minta.
Dan di atas segalanya,
cintailah Bundamu itu
bermurah hatilah padanya
sapalah ia terus menerus
dalam kerapuhan cinta sederhana seorang anak
melalui untaian mawar abadi
“Salam Ibu, halo mama, hai bunda…”
dengan Rosariomu itu.

Majulah Laskar Maria
teladanilah Bundamu
berjuang di bawah panjinya takkan sia-sia.
Medali ini adalah doa,
doa terus menerus,
dan janganlah jemu berseru:

“Oh Maria dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang berlindung padamu!”


Salam,

L. Benedictus Giuseppe-Maria

Berbuatlah Sesuatu Bagi Para Jiwa-Jiwa di Api Penyucian

Dalam Syahadat Para Rasul, kita selalu mengucapkan : “Aku percaya akan Persekutuan Para Kudus”. Istilah “Persekutuan Para Kudus” (Latin : Communio Sanctorum) dimasukkan pada abad ke-4 dalam rumusan syahadat, dan dapat juga dimaknai sebagai “partisipasi dan saling berbagi dalam hal-hal yang kudus : iman, Sakramen-Sakramen, karisma, dan anugerah spiritual yang lainnya”.

Gereja pada dasarnya adalah persekutuan rohani antara umat beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan menjadi sehati sejiwa. Maka istilah “persekutuan para kudus” menunjukkan Gereja dari segala zaman, dan bukan hanya suatu persekutuan yang bersifat lahiriah atau sosial saja.

Yang dimaksud sebagai Gereja adalah : kita yang masih berjuang di dunia ini; mereka yang tengah mengalami proses pemurnian di api pencucian dan membutuhkan doa-doa kita; dan mereka yang sudah masuk dalam Kemuliaan Allah yang mendoakan dan menjadi perantaraan kita. Semua ini membentuk satu keluarga di dalam Kristus untuk memuji dan memuliakan Allah. Pemahaman ini amatlah menggembirakan dan memberikan harapan bagi kita, karena persekutuan ini menunjukkan bahwa kita yang masih berjuang di dunia ini secara rohani tidak terpisah dengan orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia.

Mungkin selama ini kita menganggap maut sebagai suatu terror yang mengerikan. Kematian dipandang sebagai suatu akhir, suatu perpisahan yang abadi. Kematian menjad suatu batas yang tak bisa ditembus. Kematian adalah satu-satunya hal yang pasti dalam sebuah kehidupan, karena semua yang hidup pasti akan mati. Maut adalah kenyataan bahwa hidup kita terbatas dan fana, meskipun bukan tanpa makna. Dalam waktu hidup yang hanya sementara ini kita diberi kesempatan untuk membentuk sikap kita kepada Tuhan, membuktikan kepercayaan kita, meskipun kita tak melihat Tuhan. Maut membawa kita pada kesadaran kehidupan yang abadi dan bahwa kita selalu hidup di hadapan Tuhan. 

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa setelah kematian, jiwa kita yang tak dapat mati akan menghadapi pengadilan Allah, dan setiap orang akan menerima pembalasan sesuai dengan iman dan perbuatannya. Pembalasan ini bisa berarti masuk ke dalam kebahagiaan surga secara langsung atau seteah melalui proses pemurnian di api pencucian, atau masuk ke dalam kutukan kekal di neraka. Surga adalah keadaan bahagia yang tertinggi bagi mereka yang mati dalam keadaan rahmat Allah dan tidak memerlukan pemurnian lebih lanjut untuk berkumpul bersama dengan Yesus dan Maria, para malaikat, dan para orang kudus. Mereka akan melihat Allah “muka dengan muka” (1 Kor 13:12). Neraka adalah kutukan kekkal bagi mereka yang mati dalam keadaan dosa berat karena pilihan bebas mereka sendiri. Penderitaan terberat bagi mereka adalah keterpisahan kekal dari Allah, padahal Allah adalah sumber kehidupan dan  kebahagiaan yang merupakan tujuan dan kerinduan kita.

Sedangkan mereka yang mati dalam persahabatan dengan Allah namun belum disucikan sepenuhnya, masih memerlukan satu proses pemurnian untuk dapat masuk ke dalam kergembiraan surga. Gereja menamakan proses pemurnian itu sebagai purgatorium (api penyucian). Penderitaan yang dialami oleh jiwa-jiwa di api penyucian adalah perasaan kehilangan Tuhan dan sesal batin yang tak kunjung henti. Penderitaan ini bukanlah penderitaan fisik, namun jiwa merasakan kesakitan kesadaran karena tak bisa menggapai kebahagiaan surgawi akibat terkurung oleh nyala api, yang diistilahkan oleh Santo Alfonsus Ligouri sebagai “kesakitan karena ketidakmampuan melihat Allah” dan “kehampaan kerinduan atas surga”. 

 

Sebagai satu keluarga Gereja, mereka yang tengah mengalami kerinduan akan Allah di api penyucian itu sangat membutuhkan doa-doa dan pengorbanan kita yang masih berjuang di dunia ini. Para jiwa di api penyucian tak dapat menolong diri mereka sendiri karena waktu untuk memanfaatkan karunia Allah telah berakhir ketika mereka meninggal. Kita yang masih hiduplah yang masih mempunyai waktu untuk mendapatkan dan memanfaatkan karunia Allah. Lantas apa yang bisa kita lakukan bagi mereka? 

1. Mempersembahkan Misa 

Ini adalah cara yang paling ampuh untuk menolong jiwa-jiwa di api penyucian. Dalam misa kudus, Yesus sendiri yang mempersembahkan dan mengurbankan diri-Nya bagi kita. Manfaat misa kudus bagi mereka yang telah meninggal adalah sama besar bagi mereka yang sangat menghargai misa kudus selama hidup mereka.

Misa kudus sebagai kurban dipersembahkan bagi mereka yang hidup dan mati untuk pengampunan dosa semua orang dan untuk mendapatkan anugerah rohani dan jasmani dari Allah. Gereja di surga juga dipersatukan dengan persembahan Kristus ini.

2. Berdoa Rosario

Doa Rosario yang dipersembahkan bagi orang yang telah meninggal merupakan doa yang sangat berguna untuk mohon keringanan dan pembebasan penderitaan jiwa-jiwa di api penyucian. Melalui Rosario, banyak jiwa-jiwa dibebaskan dari api penyucian setiap tahunnya. Santo Alfonsus Ligouri mengatakan, “Berdoa Rosario adalah cara yang baik untuk menghibur jiwa-jiwa di api penyucian.”

Dalam penampakan Bunda Maria di Fatima pada 13 Juli 1917, Bunda Maria meminta agar kita berdoa Rosario supaya orang-orang terbebas dari api neraka. Untuk maksud tersebut, maka setelah selesai satu mendoakan satu peristiwa Rosario, ditambahkan doa singkat yang kita kenal sebagai Doa Fatima :

“Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka,dan hantarlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terutama mereka yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu.”

Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja datang ke api penyucian untuk membebaskan jiwa-jiwa, bahkan jiwa-jiwa tersebut memanggil Bunda Maria dengan sebutan Bunda Kerahiman. Bunda Maria sendiri pernah berpesan pada Beato Alain de la Roche, “Akulah Bunda dari jiwa-jiwa di api penyucian dan setiap doa yang ditujukan kepadaku akan meringankan penderitaan anak-anakku.”  

 

3. Berdoa Jalan Salib dan merenungkan sengsara Yesus

Doa ini mengajak kita untuk merenungkan sengsara Yesus Kristus, dan dengan merenungkannya kita diajak untuk sedikit demi sedikit membenci dosa dan menginginkan keselamatan bagi semua orang. Kecenderungan hati ini membaa penghiburan besar bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

4. Mendoakan doa-doa  gubahan para kudus untuk jiwa-jiwa di api penyucian, antara lain doa Santa Gertrudis, doa Santa Mathilda, doa Santa Brigita, doa Santa Bridget dari Swedia, dan banyak doa-doa lain yang bisa kita panjatkan bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Mereka yang di api penyucian sangat bergantung pada doa-doa kita, maka jika kita tidak berdoa bagi mereka, mereka sama sekai ditelantarkan.

Bunda Maria pada penampakan di Medjugorje pada 6 November 1986 menyampaikan pesan untuk berdoa setiap hari bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

5. Mempersembahkan segala penderitaan, penitensi, mati raga, pantang puasa, dan pengorbanan pribadi kita untuk menolong jiwa-jiwa yang malang di api penyucian. Penderitaan kita di dunia dapat membuat kita bertumbuh dalam kasih, maka jika kita menjalani segala penderitaan dan pengorbanan itu dengan sabar, rendah hati, dan dipersatukan dengan sengsara Yesus dengan menaruhnya ke dalam tangan Perawan yang Terberkati, maka semuanya itu akan memiliki kuasa untuk menolong banyak jiwa.

6. Rajin mengupayakan untuk memperoleh indulgensi, entah penuh ataupun sebagian bagi diri sendiri, maupun bagi orang-orang yang telah meninggal. Mengenai aturan mengenai indulgensi dapat dibaca disini

Doa-doa dan pengorbanan kita bagi jiwa-jiwa di api penyucian tidak akan sia-sia. Mereka yang terbebaskan dari api penyucian dan masuk ke dalam surga karena doa-doa kita pasti tidak akan melupakan kita. Mereka akan mendoakan mereka dalam perjuangan kita di dunia ini dan juga jika kita mengalami pemurnian di api penyucian nanti.  Inilah bentuk bukti cinta kasih yang satu dan sama dalam Gereja. Kasih yang tak berkesudahan inilah yang menjadi jembatan antara kita yang masih hidup di dunia ini dengan mereka yang telah meninggal. 

Referensi :

-. 2007. Rahasia Jiwa-Jiwa di Api Penyucian. Jakarta : Marian Centre Indonesia.

Djokopranoto, R. 2013. Misteri Api Penyucian. Jakarta : Penerbit OBOR.

Konferensi Waligereja Indonesia.2008. Iman Katolik (Buku Informasi dan Referensi). Jakarta : Penerbit OBOR dan Kanisius.

Susanto, Harry, SJ (Penterjemah). 2011. Kompendium Katekismus Gereja Katolik. Yogyakarta : Kanisius.


Disusun oleh Tim Website Senatus Bejana Rohani.

Kekuatan Rosario

“Rosario adalah senjata ampuh untuk mengusir setan-setan dan menjaga diri dari dosa … Jika Anda menginginkan kedamaian di dalam hati Anda, di rumah Anda, dan di negara Anda, berkumpullah setiap malam untuk mendoakan Rosario. Jangan sampai satu hari pun berlalu tanpa Anda mendoakannya, betapa pun Anda merasa terbeban dengan banyaknya persoalan dan kerja keras”

– Pope Pius XI

Kita hidup di zaman modern yang memilki begitu banyak tantangan dan krisis, termasuk juga krisis iman. Banyak keluarga Katolik pun mengalami keputusasaan dan kekhawatiran yang menggoyahkan iman. Akan tetapi, walaupun tantangan itu begitu kuat, kita diberikan senjata oleh Allah Bapa melalui peran Bunda Maria dalam doa Rosario Suci. Doa Rosario adalah “ringkasan Injil”, karena di dalamnya dirangkai dan direnungkan sejarah keselamatan yang dipaparkan dalam Injil.

Kekuatan doa Rosario sangat luar biasa. Banyak keajaiban yang tak terhitung jumlahnya, serta kemenangan iman yang telah diperoleh dan menjadi sumber rahmat bagi Gereja Katolik. Sangat sayang jika umat enggan mendoakannya karena doanya yang panjang, padahal rahmat sangat melimpah di balik doa yang memang memiliki unsur meditatif ini.

Sejarah diadakannya bulan Rosario di bulan Oktober berawal dari kemenangan militer yang didapat dalam pertempuran Lepanto saat itu, negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman, sehingga agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Paus Pius V memerintahkan umat Katolik untuk berdoa rosario untuk memohon dukungan doa Bunda Maria. Perintah ini dilakukan oleh Don Juan (John) dari Austria, komandan armada dan oleh umat Katolik di seluruh Eropa. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario tanpa henti dari subuh hingga petang di Basilik Santa Maria Maggiore. Walaupun tampak mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut.

Pertempuran Lepanto, 7 Oktober 1571

Doa Rosario sendiri terbentuk setahap semi setahap. Digunakannya ‘butir-butir’ sebagai alat bantu doa juga merupakan tradisi sejak jaman Gereja awal, atau bahkan sebelumnya. Pada abad pertengahan, butir-butir ini dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria di biara-biara. Tradisi mengatakan bahwa St. Dominic (1221) adalah santo yang menyebarkan doa rosario, seperti yang kita kenal sekarang. Ia berkhotbah tentang rosario ini pada pelayanannya di antara para Albigensian yang tidak mempercayai misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, tujuan utama pendarasan doa rosario adalah untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus.

Tak terhitung banyaknya penampakan Bunda Maria yang menyerukan keluarga-keluarga untuk berdoa Rosario sebagai senjata dalam mengalahkan si jahat, untuk kedamaian dunia, dan untuk berperang melawan kelemahan.  Kita harus berdoa dan berpuasa dengan iman yang hidup dan keyakinan yang kuat – dan tidak ada cara yang lebih baik untuk melakukan ini daripada dengan berdoa Rosario Kudus, mati raga, Ekaristi Suci, pengakuan dosa, dan membaca Kitab Suci (sumber: intisari perkataan Bunda Maria dalam penampakannya di Fatima).

Melalui doa Rosario, kita merenungkan seluruh peristiwa kehidupan Yesus Kristus bersama-sama dengan Allah Tritunggal Maha Kudus dan Bunda Maria serta para malaikat surgawi. Ada doa Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan sebagai doa minimal yang diucapkan dan menjadi mahkota mawar yang dipersembahkan bagi Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Rangkaian mawar yang terangkai setiap kali kita berdoa Rosario ini didapat dari vision Santo Dominikus.

Jadi, marilah kita belajar untuk berdoa Rosario bersama-sama maupun secara pribadi. Tidak ada kerugian apapun yang kita dapatkan untuk mendoakan Rosario, yang ada hanya rahmat dan pertolongan Tuhan dan Bunda Maria untuk iman dan hidup kita. Ave Maria.

(Cindy Permana; dari berbagai sumber)


Sesilia Cindy Permana adalah legioner dari Presidium Bunda Gereja, Kuria Teladan Kaum Beriman Grogol – Komisium Maria Immaculata Jakarta Barat II. Pernah menjabat sebagai Sekretaris 2 Senatus Bejana Rohani periode 2014-2015.

Kelahiran Bunda Maria, Awal Tersingkapnya Janji Keselamatan

Oleh RD Moses Watan Boro


Setiap tahun pada tanggal 8 September, Gereja Katolik Roma merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Seturut sejarah, mulanya pesta ini dirayakan di lingkungan Gereja Timur berdasarkan ilham dari tulisan-tulisan apokrif pada abad ke–6 dan pada akhir abad ke–7 pesta ini diterima dan dirayakan di dalam Gereja Barat Roma. Perayaan ini  mengungkapkan iman Gereja akan kehadiran Santa Perawan Maria dalam pentas karya keselamatan manusia oleh Allah. Pesta ini menjadi penting di dalam Gereja karena melalui kelahiran Bunda Maria-lah sejarah keselamatan itu dimulai. Dengan kelahirannya, Santa Perawan Maria mempersiapkan hadirnya Yesus, Sang Juru Selamat. Ia adalah tabut perjanjian baru yang dari padanyalah, Sang Juru Selamat dikandung, dilahirkan dan dibesarkan.

Kelahiran Santa Perawan Maria dalam sejarah keselamatan sesungguhnya telah diamanatkan oleh Allah sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Oleh sebab itu, ia juga sering disebut sebagai Hawa baru. Hawa yang lama membawa manusia jatuh ke dalam dosa tetapi Hawa yang baru membimbing manusia kepada keselamatan. Hadirnya Hawa baru ini telah diwartakan oleh para nabi dari zaman ke zaman dan dari masa ke masa. Inilah janji keselamatan yang dimaklumkan oleh Allah bagi manusia ciptaanNya.

Nabi Yesaya (Yes 7:10-25) dalam pemberitaan mengenai Imanuel, mengatakan kepada Raja Ahas, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Sebutan perempuan muda atau parthenos dialamatkan pada sosok yang hadir dalam diri Santa Perawan Maria. Dari rahimnyalah dikandung dan dilahirkan Immanuel sebagai Juruselamat. Dia berasal dari turunan Daud, sebab tampuk kekuasaan Israel tidak pernah berpindah dari keturunan Daud sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah sendiri (Bdk. 1 Raj. 2:4). Maka dari itu Santa Perawan Maria adalah sosok yang dipilih oleh Allah untuk memulai rencana besar-Nya dalam menyelamatkan manusia.

Kelahiran Santa Perawan Maria tidak dikisahkan dalam kitab-kitab suci. Di dalam teks aprokrif (Protoevangelium Yakobus) ditemukan bahwa, Santa Perawan Maria dilahirkan dari pasangan suami-istri Santo Yoakim dan Santa Anne. Dalam keluarga inilah, ia dididik dan dibesarkan sebagai orang yang beriman hingga tumbuh menjadi seorang wanita dewasa dan kemudian diambil oleh Yosef sebagai istrinya. Bersama dengan Santu Yosef, mereka membesarkan Tuhan Yesus dengan penuh cinta dan menjadikan keluarga mereka sebagai Keluarga Kudus Nazareth. Bahkan dengan iman yang teguh Bunda Maria menerima setiap peristiwa yang dialami oleh puteranya Yesus mulai dari penerimaan Kabar Gembira hingga pada peristiwa di puncak Kalvari ketika ia harus memangku tubuh puteranya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Kehadiran Santa Perawan Maria dalam proyek keselamatan Allah sesungguhnya telah direncanakan sejak awal mula oleh Allah, maka kelahirannya merupakan takdir dan rencana Allah sendiri. Ia adalah wanita pilihan Allah yang telah disucikan sejak awal ia dikandung, maka perkandungannya sendiri disebut sebagai Dikandung Tanpa Noda Dosa. Allah sungguh menyiapkan Santa Perawan Maria sebagai Bejana Rohani bagi diamnya PutraNya sendiri yakni Yesus Kristus.

Moment kelahiran Santa Perawan Maria yang diperingati oleh Gereja pada tanggal 8 September ini, mengajak segenap anggota Gereja untuk melihat kembali sejarah keselamatan manusia oleh Allah yang terlaksana berkat penyerahan diri yang total dari Bunda Maria. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka kutuk Allah bagi Hawa lama yang dibinasakan oleh dosa serta maut dan mendatangkan keselamatan melalui peristiwa keselamatan melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka harapan baru bagi manusia untuk mengalami kembali belas kasih Allah, sebab Immanuel yang dikandungnya mengungkapkan kehadiran Allah dalam hidup manusia. Bunda Maria adalah jawaban atas kerinduan umat manusia yang berlangsung dari abad ke abad untuk melihat karya keselamatan yang dikerjakan oleh Allah bagi manusia. Maka peristiwa kelahiran Santa Perawan Maria merupakan tabir baru yang menyingkapkan janji-janji Allah akan datangnya Sang Juruselamat. Di sini Gereja diajak untuk menghormati Santa Perawan Maria sebagai wanita pilihan Allah yang telah dipersiapkan sejak awal mula untuk mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Juruselamat umat manusia.


RD Moses Watan Boro adalah Pastor Keuskupan Larantuka yang kini tengah menempuh studi Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Beliau juga bertugas sebagai Pastor Mahasiswa di kampus tersebut dan membantu di Paroki Maria Bunda Karmel Meruya.