Kisah Inspiratif – Oma Gerda: 61 Tahun Setia Melangkah Bersama Legio Maria

Kunjungan saya kepada Oma Maria Martha Gerda Borggreve, yang akrab disapa Oma Gerda, kemarin sore meninggalkan kesan mendalam. Pada usia 78 tahun, Oma masih penuh semangat, hangat dalam menyambut tamu, dan aktif membantu Legio Maria sebagai Asisten Pemimpin Rohani (APR) di Kuria Mater Dei, Kelapa Gading.

Oma adalah anak pertama dari lima bersaudara, dengan ayah asli Belanda dan ibu Indonesia. Melihat wajahnya sekarang, saya membayangkan betapa cantiknya Oma ketika muda plus tubuhnya yang tinggi (karena ada bulenya), bisa jadi Oma spt fotomodel ketika masih muda. Kalau orang Surabaya bilang, “Cuantikkk ee poll!”
Tetapi sore itu, inner beautynya Oma jauh lebih cantik. *kecantikan hati Oma pun terasa melalui keramahan dan kerendahan hatinya.

Dengan gembira namun rendah hati, Oma menyambut saya sambil berkata, “Siapalah saya ini dikunjungi oleh Ketua Senatus.” Saya pun malu jadinya. Sambutan itu mengingatkan saya pada sukacita perjumpaan Maria dan Elisabet: sebuah kunjungan sederhana yang dipenuhi kehangatan dan kerendahan hati.

Perjalanan Oma bersama Legio Maria dimulai di Surabaya ketika usianya baru 17 tahun (lagi cakep-cakepnya). Kini, sekitar 61 tahun telah dilaluinya sebagai legioner. Oma juga pernah dipercaya menjadi perwira di Senatus Malang – sebagai sekretaris maka dia mengurus korespondensi dengan Medan, Yogya, Bandung, dll. Betapa panjang perjalanan kesetiaan itu, melewati berbagai tahap kehidupan, tanggung jawab keluarga, sukacita, dan dukacita.

Oma adalah istri prajurit dari Laksamana Pertama TNI (Purn.) Adi Mulyo. Menurut penuturannya, *keaktifan dalam Legio Maria sangat membantu dirinya menjalani kehidupan sebagai istri seorang prajurit dan komandan kapal perang. Ia turut mendampingi para istri prajurit yang menjadi anak buah suaminya. Pengalaman melayani sebagai legioner menjadi bekal untuk hadir, mendengarkan, dan menguatkan keluarga-keluarga prajurit tersebut.

Dalam kehidupan pribadinya, Oma pun harus berani dan mandiri. Dari empat kali melahirkan, hanya pada kelahiran anak pertama suaminya dapat mendampingi. Ketika melahirkan anak kedua hingga keempat, Oma menjalaninya tanpa kehadiran suami. Ada kalanya ia meminta bantuan saudara atau tetangga sesama istri prajurit untuk mengantarnya ke rumah sakit bersalin. Pasti Oma sangat disayang dengan semua tetangga-tetangganya – baik waktu penempatan di Surabaya, Makassar, Maluku dan Papua.

Mendengarkan cerita itu, saya membayangkan keberanian seorang ibu yang menghadapi saat-saat penting dalam hidupnya tanpa didampingi suami. Oma belajar mengambil keputusan, menerima bantuan orang-orang di sekitarnya, dan terus menjalani tanggung jawabnya bagi keluarga.

Namun, bagian yang paling menyentuh hati saya adalah ketika Oma bercerita tentang kehilangan anak ketiganya karena sakit. Anak yang dikenangnya sebagai anak yang paling ganteng itu meninggal pada usia 41 tahun.

Di tengah kehilangan sebesar itu, Oma mengatakan bahwa ia bersyukur karena telah diberi kesempatan merawat dan membesarkan anaknya selama 41 tahun.

Mendengar penuturan Oma, saya sungguh menahan tangis saya. Saya pun pernah kehilangan putri saya, Emma. Cerita Oma menyentuh duka yang juga saya bawa dalam hati. Saya tahu betapa berharganya setiap kenangan bersama anak yang kita kasihi.

Saya tersentuh oleh cara Oma mengenang putranya dengan penuh syukur, bukan dengan duka. Oma Gerda tetap melihat 41 tahun kebersamaan itu sebagai anugerah Tuhan. Sore itu, melalui cerita Oma, saya ikut dikuatkan untuk terus mensyukuri waktu yang pernah Tuhan berikan kepada saya bersama Emma.

Di situlah saya melihat keteguhan iman seorang ibu: membawa kerinduan dan dukanya kepada Tuhan, sambil tetap bersyukur atas kehidupan anak yang pernah dipercayakan kepadanya.

Bagi saya, Oma Gerda adalah seorang prajurit Maria yang berani, mandiri, dan teguh dalam iman. Pembentukan sebagai legioner menyertai kehidupannya sebagai istri, ibu, dan pendamping sesama. Hingga usia 78 tahun, Oma masih memberikan waktu, perhatian, dan tenaganya bagi Legio Maria.

Saya datang mengunjungi Oma dan namun saya pulang membawa penguatan iman dari kisah hidupnya.

Terima kasih, Oma Gerda, atas sambutan yang hangat dan kesaksian hidup yang begitu berharga. Semoga Tuhan senantiasa menganugerahkan kesehatan, penghiburan, dan sukacita kepada Oma. Semoga Bunda Maria terus menggandeng tangan Oma dalam setiap langkah kehidupan dan pelayanan.

peluk cium kami.

Kisah Inspiratif – Uci, Legioner Muda dari Penajam, Kalimantan Timur (Kuria Dahor)

Bertumbuh dalam Iman dan Prestasi

Dari Penajam, Kalimantan Timur, dekat kawasan Ibu Kota Nusantara, hadir sebuah kisah yang membanggakan dari seorang legioner junior. Namanya Lucy Filipini Saro, yang akrab disapa Uci. Di usianya yang baru 13 tahun, ia memperlihatkan bahwa belajar, mengembangkan bakat, dan melayani Tuhan dapat berjalan bersama.

Uci kini duduk di kelas VIII SMP ITCI PPU. Sejak kelas VI SD, ia telah bergabung dalam Legio Maria di Presidium Ratu Para Perawan, Paroki Santa Maria dari Fatima, Penajam, yang berada dalam naungan Kuria Dahor. Sejak usia muda, ia mulai mengenal kebersamaan dalam doa dan pelayanan sebagai anggota keluarga besar Legio Maria.

Ada banyak hal yang patut kita syukuri dari anak ini. Uci berhasil meraih juara pertama lomba membaca Kitab Suci tingkat paroki. Ia juga meraih juara pertama lomba desain logo ulang tahun paroki. Di sekolah, ia pun memperoleh peringkat pertama di kelasnya. Kemampuan membaca, kreativitas, dan ketekunannya belajar menjadi talenta yang dapat terus dikembangkan untuk kebaikan.

Yang juga menggembirakan, Uci mengambil bagian dalam pelayanan sebagai misdinar. Menurut penuturan ibunya, selama sehat dan tidak berhalangan, ia selalu berusaha hadir di gereja. Di tengah kegiatan sekolah dan berbagai kesibukan, ada tempat yang selalu ia berikan bagi Tuhan dan Gereja.

Bagi saya, kehidupan Uci menjadi kesaksian sederhana tentang iman yang bertumbuh melalui keseharian. Belajar dengan sungguh-sungguh merupakan cara mensyukuri kemampuan yang Tuhan berikan. Membacakan Kitab Suci menjadi kesempatan menyampaikan sabda-Nya kepada umat. Membuat desain untuk paroki pun menjadi cara mempersembahkan kreativitas bagi kehidupan Gereja.

Tentu, perjalanan Uci masih panjang. Ia masih membutuhkan pendampingan, dukungan, dan ruang untuk bertumbuh. Kisahnya mengingatkan kita, para legioner senior, untuk hadir mendampingi anggota junior: menyemangati mereka, mendengarkan kesulitan mereka, dan membantu mereka menemukan sukacita dalam doa serta pelayanan.

Di dekat Nusantara yang sedang dibangun, kita pun melihat harapan bagi masa depan Gereja dalam diri seorang anak seperti Uci. Semoga semakin banyak anak muda mendapat kesempatan mengembangkan bakat sekaligus bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan.

Teruslah bertumbuh, Uci. Selamat atas prestasi-prestasimu! Semoga engkau tetap rendah hati, tekun belajar, dan bersukacita dalam pelayanan. Kiranya Bunda Maria senantiasa membimbingmu semakin dekat kepada Yesus, sehingga setiap talenta yang engkau miliki menjadi berkat bagi sesama.

Senatus bangga denganmu Uci !

Kisah Inspiratif dari Oma Margaret

Dear Senatus,

Pagi ini saya mendapat kesempatan yang sangat berharga untuk bertemu Oma Margaret, legioner berusia 92 tahun dari Komisium Jakarta Utara. Oma Margaret bisa jadi Legioner tertua di Senatus kita, atau mungkin ada yang lebih tua?

Kami bertemu di Gua Maria Gereja Regina Caeli. Oma bercerita banyak tentang keluarga, pelayanan, dan pengalaman-pengalaman iman yang dialaminya, termasuk mujizat-mujizat yang terjadi berkali kali dalam hidupnya.

Oma lahir di jaman Jepang dan dia melihat keluarganya ditawan oleh tentara Jepang. Di awal-awal kehidupannya, Oma sudah menjadi Yatim Piatu. Tapi kebaikan Tuhan menyertainya, dia diijinkan bersekolah gratis di Sekolah Santa Maria Malang oleh para suster Belanda waktu itu.

Oma Margaret mulai menjadi legioner aktif sejak tinggal di Malang pada tahun 1960-an. Lebih dari setengah abad telah berlalu. Oma menikah, membesarkan anak-anak, lalu memiliki cucu dan cicit. Kini, sebagai anggota auxilier, Oma tetap setia mendukung Legio Maria melalui doa.

Kesetiaan Oma juga tampak dalam kebiasaannya mengikuti Misa setiap hari, menerima Tubuh Kristus, dan rajin beradorasi. Mendengarnya bercerita, saya merasa bahwa doa sungguh menjadi bagian dari hidup Oma, bukan sekadar kegiatan di sela waktu.

Di tengah cerita-cerita yang menyentuh, Oma juga membuat kami tertawa. Katanya, rambutnya dahulu sudah putih semua, tetapi sekarang hitam lagi – karena dicat! 😄 Oma juga dengan bangga bercanda bahwa dialah yang paling jago masak di antara para legioner PIK.

Saya pulang dengan hati yang bersukacita, terharu, semangat juga dan banyak mendapat pelajaran. Oma Margaret menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan dan Bunda Maria dapat terus bertumbuh dalam setiap tahap kehidupan. Cara melayani boleh berubah, tetapi hati yang setia tetap menyala spt Prajurit yang siap sedia bertempur.

Terima kasih, Oma Margaret, atas cerita, tawa, teladan, dan doa-doa Oma bagi kami. Di usia 92 tahun, Oma masih mengingatkan kami untuk terus setia.

Love you Oma Margaret. 🥰🥰

Bagaimana dengan kita?

Terimakasih Bapa Frank Duff, Tuhan Mempertemukan Puteriku dengan Bapa Fransiskus

Saat itu bulan Februari 2024. Ketika itu putri sulungku, yang berprofesi sebagai pramugari senior di maskapai penerbangan nasional Garuda, memohon doaku agar ia nantinya termasuk sebagai salah satu dari tim pramugari yang dipilih untuk melayani penerbangan Bapa Suci Paus Fransiskus saat kunjungan beliau ke Asia Oceania.

Bermacam perasaan memenuhi hatiku. Sebagai seorang ibu, tentu aku sangat berharap putriku lolos seleksi untuk tugas pelayanan mulia itu. Tetapi, semua masih berupa rencana. Kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus ke Jakarta yang direncanakan awal September 2024 memang sudah tertulis dalam agenda, tetapi belum menampakkan wujud nyata persiapan apa pun.

Namun, aku tahu bahwa aku harus bergerak sedini mungkin seiring bergulirnya waktu. Maka, sejak putriku mengutarakan harapan indah yang samar itu, aku segera meraih senjata doa. Aku teringat  Bapak Frank Duff, yang dari Surga abadi setia menjadi perantara doa-doa para legioner kepada Tuhan. Jadi, setiap hari setelah mendaraskan ujud-ujud doa Presidium kami, aku menambahkan doa sesuai impian putriku dan harapan kami melalui perantaraan Hamba Allah Frank Duff. Jika Tuhan berkenan, tentu Ia akan mengabulkan permohonanku dengan bantuan Bapak Frank Duff.

Tanpa terasa, sudah berbulan-bulan aku mendaraskan permohonan yang sama setiap hari, hingga sebuah kabar sangat menggembirakan datang tepat di hari ulang tahunku, yaitu tanggal 8 Agustus. Putriku dihubungi secara pribadi oleh atasannya.  Ternyata ia dipilih untuk bergabung dalam tim awak kabin melayani penerbangan Bapa Suci Paus Fransiskus dari Indonesia ke Papua Nugini!

Lalu, mulailah serangkaian persiapan berupa pengisian aneka formulir. Sayangnya kegiatan ini bersifat amat sangat rahasia sehingga tak boleh disebarluaskan karena menyangkut keamanan tokoh penting, bahkan di anggota keluarga inti pun tidak diijinkan untuk mengetahuinya. Hanya akulah satu-satunya sekaligus sebagai ibunya yang diijinkan untuk mengetahui. Meski sulit karena ada desakan hati luar biasa untuk berbagi, namun Tuhan memampukan aku mengunci rapat mulutku dari keinginanku memberitahu sanak saudara.

Singkat cerita, tibalah hari yang dinanti. Setelah selesai melakukan kunjungan apostoliknya pada tanggal 3 hingga 6 September 2024 di Jakarta. Bapa Suci Paus Fransiskus melanjutkan perjalanan ke Papua Nugini dengan memakai pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-7780. Putriku termasuk di antara 12 awak kabin (cabin crew) dan 4 awak pesawat (flight crew) yang dipilih untuk melayani Bapa Suci Paus Fransiskus selama penerbangan yang memakan waktu sekitar 6 jam tersebut.

Sungguh mengharukan, membanggakan, dan melegakan. Tuhan bermurah hati melimpahkan berkat-Nya kepada kami sekeluarga lewat terpilihnya putriku. Aku bersyukur atas berkat Tuhan ini dan berterima kasih kepada Bapak Frank Duff yang telah berkenan meneruskan permohonanku kepada Allah Bapa di Surga.

Sebagai Legioner, kita memiliki seorang pengantara yang dapat kita mohonkan pertolongannya untuk membawa permohonan -permohonan kita ke hadirat Allah Bapa.  Sejak Juni 1996 telah dimulai proses beatifikasi Bapak Frank Duff oleh Kardinal Desmond Connell, Uskup Agung Dublin. Setelah hampir tiga dasawarsa, semoga ada kemajuan dalam proses pengakuan kekudusan Bapak Frank Duff oleh Gereja.

Marilah kita setia mendoakan beliau.

Ave Maria,

Johana Maria Vianney Budi Suprihati

Perwira Presidium Maria Guadalupe – Komisium Jakarta Timur

Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, 8 Desember

Dari Berbagai Sumber

Suatu hari, di suatu desa terpencil, ada seseorang (sebut saja Sukri) yang menemukan kloset duduk yang dibuang. Ia tidak pernah melihat benda itu seumur hidupnya, sehingga tidak tahu kalau itu adalah kloset (jamban). Dia bahkan mengagumi benda itu, karena dipikirnya ‘antik’. Sukri lalu membawa pulang kloset itu ke rumah dan dibersihkannya sampai kinclong. Kebetulan esok harinya Sukri berulang tahun dan dia berencana akan mengundang teman-teman satu kampungnya. Dia berpikir, alangkah uniknya jika nasi tumpeng ulang tahunnya diletakkan di dalam ‘benda’ itu (yaitu kloset).

Nah, noda dosa itu jauh lebih buruk daripada kloset, dan kemuliaan Yesus jauh mengatasi dan tidak dapat dibandingkan dengan nasi tumpeng. Nasi tumpeng tak pernah klop diletakkan di dalam kloset. Dan tentu, Yesus yang Maha Kudus, tak mungkin dapat dikandung oleh rahim seseorang yang tercemar dosa. Maka oleh kuasaNya, Allah menguduskan rahim itu, membuat Bunda Maria terbebas dari noda dosa.

Maria Dikandung Tanpa Noda adalah suatu dogma Gereja Katolik Roma kita, dimana Bunda Tuhan terbebas dari setiap noda dosa asal. Maka dari itu Bunda Maria telah terbebas dari segala dosa sejak awal hidupnya. Hal ini untuk mempersiapkan dirinya menjadi Ibu Tuhan. Kelahiran Bunda Maria memang berlangsung normal seperti manusia pada umumnya melalui kedua orang tuanya, Santa Anna dan Santo Yoakim. Namun yang membedakan adalah kemurniannya dari segala dosa yang sejak dari pembuahan.

Pada tahun 1708 Paus Klemens XI menetapkan hari raya dikandungnya Maria tanpa noda untuk seluruh Gereja Katolik.

Pada tanggal 8 Desember 1854 Paus Pius IX mengumumkan dalam Bulla Ineffabilis Deus dogma Maria Dikandung Tanpa Noda. Sebuah kelanjutan dari dogma ini menyatakan bahwa perbedaan Bunda Maria dibandingkan dengan semua manusia biasa adalah bahwa pada akhir hidupnya, Bunda Maria tidak lagi memerlukan pemurnian di api penyucian, karena pemurnian Bunda Maria sudah terjadi pada masa di kandungan ibunya melalui pembebasannya dari dosa asal dan bahwa Bunda Maria selama hidupnya tidak pernah melakukan dosa. Hal ini dinyatakan dalam dogma Maria Diangkat ke Surga, pada tahun 1950 oleh Paus Pius XII.

Di Gereja kita, dogma Maria Dikandung Tanpa Noda ini diperkuat oleh penampakan Bunda Maria di Lourdes pada tahun 1858, di mana Bunda Maria kepada Santa Bernadette Soubirous beberapa kali menampakkan dirinya dalam wujud seorang wanita yang berpakaian putih. Ia memperkenalkan dirinya kepada Santa Bernadette sebagai seorang yang dikandung tanpa noda dosa.

Dogma ini juga memiliki dasar dari Kitab Suci yang belum dijelaskan dalam artikel ini.

Ditulis oleh Anson Santoso, diedit oleh Gabriella Ideline

2 November, Peringatan Arwah Orang Beriman

Dari berbagai sumber

Kemarin, kita memuliakan semua Orang Kudus dan berdoa memohon agar kita pun kelak bisa berbahagia bersama mereka di dalam Surga sambil memandang wajah Allah, Bapa kita.

Hari ini tepat tanggal 2 November kita mengenang saudara-saudara kita yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian. Bahkan seluruh bulan November ini kita khususkan untuk berdoa memohon kerahiman Allah atas mereka.

Apa sih Api Penyucian itu?

Menurut Katekismus Gereja Katolik, Api Penyucian adalah “suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian”.

Kenapa kita mengenang arwah orang– orang yang sudah meninggal?

Bagi umat Kristiani, saat kematian sesungguhnya merupakan peristiwa puncak kehidupan. Ada kebangkitan sesudah kematian. Hidup kita tidak lenyap, melainkan hanya diubah. Kita percaya bahwa sesudah pengembaraan di dunia ini selesai, kediaman abadi di surga sudah tersedia bagi kita. Kematian merupakan saat kita mempercayakan diri secara total kepada Kristus yang merupakan pokok pengharapan kita karena Dia akan mengantar kita pulang ke rumah Bapa.

Apa tujuan kita mengenang para arwah?

Atas dasar iman itu, maka kita memohon agar saudara-saudara yang telah meninggal dunia disucikan dari segala dosanya, dibebaskan dari segala hambatan dan noda, boleh menikmati kebahagiaan kekal bersama Allah Bapa, serta boleh bersamasama para kudus di surga memandang wajah Allah yang dirindukan.

Hari kenangan dan peringatan arwah ini pun sekaligus memberi penghiburan rohani bagi kita, yaitu bahwa kelak kita pun akan meninggal dunia dan berjumpa kembali dengan saudara-saudara yang telah mendahului kita. Lalu bersama Maria akan memuji dan memuliakan Allah dalam persekutuan semua orang kudus. Hidup atau mati, kita tetap milik Kristus.

Kenapa arwah orang beriman diperingati pada bulan November? Lalu kenapa dipilih tanggal 2 November?

Umat Kristiani telah berdoa bagi para saudara/ saudari mereka yang telah wafat sejak masa awal agama Kristen. Liturgi-liturgi awal dan teks tulisan di katakomba membuktikan adanya doa-doa bagi mereka yang telah meninggal dunia, meskipun ajaran detail dan teologi yang menjelaskan praktek ini baru dikeluarkan kemudian oleh Gereja di abad berikutnya. Mendoakan jiwa orang- orang yang sudah meninggal telah tercatat dalam 2 Makabe 12 : 41- 42. Di dalam kitab Perjanjian Baru tercatat bahwa St. Paulus berdoa bagi kawannya Onesiforus (lih. 2 Tim 1 : 18) yang telah meninggal dunia.

Hal ini menunjukkan bahwa jemaat Kristen perdana percaya bahwa doa- doa mereka dapat memberikan efek positif kepada jiwajiwa yang telah wafat tersebut. Kitab Perjanjian Baru secara implisit mengajarkan adanya masa pemurnian yang dialami umat beriman setelah kematian.

Secara tidak langsung Yesus mengajarkan bahwa ada dosa-dosa yang dapat diampuni setelah kehidupan di dunia ini, (lih. Mat 12 : 32) dan ini mengisyaratkan adanya tempat/ keadaan yang bukan surga karena di Surga tidak ada dosa; dan bukan pula neraka karena di neraka sudah tidak ada lagi pengampunan dosa. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita diselamatkan, “tetapi seolah melalui api” (1 Kor 3 : 15).

Pada abad awal, nama- nama jemaat yang wafat dituliskan di atas plakat. Di abad ke-6, komunitas Benediktin memperingati jiwajiwa mereka yang meninggal pada hari perayaan Pentakosta. Pada tahun 998, perayaan hari arwah menjadi peringatan universal di bawah pengaruh rahib Odilo dari Cluny. Ia menetapkan perayaan tahunan di rumah- rumah ordo Benediktin pada tanggal 2 November, yang kemudian menyebar. Sekarang Gereja Katolik merayakan Peringatan Arwah Orang Beriman pada tanggal 2 November, seperti juga gereja Anglikan dan sebagian gereja Lutheran.

Dari keterangan tersebut, tidak disebutkan mengapa dipilih bulan November dan bukan bulan- bulan yang lain. Namun jika kita melihat kalender liturgi Gereja, maka kita mengetahui bahwa bulan November merupakan akhir tahun liturgi, sebelum Gereja memasuki tahun liturgi yang baru pada masa Adven (sebelum merayakan Natal/ kelahiran Kristus).

Maka sebelum mempersiapkan kedatangan Kristus, kita diajak untuk merenungkan terlebih dahulu akan kehidupan sementara di dunia dan tentang akhir hidup kita kelak, agar pada akhirnya kita dapat bergabung dalam bilangan para kudus di Surga. Kita juga diajak untuk merenungkan makna kematian dengan mendoakan para saudara-saudari kita yang telah mendahului kita.

Tyas Apriyanto

1 November, Hari Raya Semua Orang Kudus

Sumber : www.katolisitas.org , www.imankatolik.or.id

Setiap tanggal 1 November, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Perayaan ini bertujuan untuk menghormati segenap anggota Gereja, yang oleh jemaat– jemaat perdana disebut dengan istilah “Persekutuan Para Kudus” yang berarti persekutuan semua orang yang telah mempercayakan dirinya kepada Yesus Kristus dan disucikan oleh Darah Anak Domba Allah. Secara khusus, kita juga memperingati sekumpulan besar orang yang berdiri di hadapan takhta Allah karena mereka telah memelihara imannya dengan baik sampai akhir hidupnya di dunia ini, sehingga memperoleh ganjaran besar di Surga, termasuk di antaranya adalah mereka yang telah dikanonisasikan atau diakui oleh Gereja sebagai Santo/ Santa, martir, dan orang kudus lainnya yang tidak/ belum dikenal.

Gereja Katolik mulai menghormati para Santo/ Santa dan martir sejak abad kedua melalui bukti catatan kemartiran St. Polycarpus di abad kedua yang berisikan seperti berikut : “Para Prajurit lalu,…. menempatkan jenazahnya [Polycarpus] di tengah api.

Selanjutnya, kami mengambil tulang-tulangnya, yang lebih berharga daripada permata yang paling indah dan lebih murni dari emas, dan menyimpannya di dalam tempat yang layak, sehingga setelah dikumpulkan, jika ada kesempatan, dengan suka cita dan kegembiraan, Tuhan akan memberikan kesempatan kepada kita untuk merayakan hari peringatan kemartirannya, baik untuk mengenang mereka yang telah menyelesaikan tugas mereka, maupun untuk pelatihan dan persiapan bagi mereka yang mengikuti jejak mereka.” (St. Polycarpus, Ch. XVIII, The body of Polycarp is burned, 156 AD).

Melalui peringatan Hari Raya Orang Kudus, kita diajak untuk mengenang serta meneladani cara hidup para kudus yang berbahagia di surga, mereka dengan setia mengorbankan hidupnya untuk beriman secara utuh kepada Kristus. Para kudus yang berbahagia di surga itu bersama Santa Perawan Maria mendoakan kita agar tekun dalam perjuangan. Mengenang para orang kudus dapat kita mulai dengan langkah sederhana yaitu mengenali dan menghidupi kisah hidup dari Santo/ Santa pelindung kita. Mari kita tetap setia dan beriman di dalam Kristus.

Kevin Fernando

7 Oktober, Peringatan Santa Perawan Maria, Ratu Rosario

Dalam Gereja Katolik, bulan Oktober dikenal sebagai bulan Rosario. Biasanya selama bulan ini umat memperingatinya dengan Doa Rosario lebih rutin, baik secara pribadi maupun bersama kelompok atau kategorial. Doa Rosario merupakan doa devosi yang sederhana dengan manfaat yang besar, tapi tahukah teman-teman apa itu Rosario?

Rosario diartikan sebagai “Mahkota Mawar”. Dalam penampakan Bunda Maria kepada beberapa orang, Bunda Maria menyatakan bahwa setiap kali mereka mendaraskan satu Salam Maria, mereka memberikan satu kuntum mawar yang indah dan setiap mendaraskan Rosario secara lengkap mereka memberinya sebuah mahkota mawar.

Seperti bunga mawar yang merupakan ratu dari segala bunga demikian juga Rosario sebagai ratu dari segala devosi. Oleh karena itu Rosario merupakan devosi paling penting. Rosario dianggap sebagai doa yang sempurna karena didalamnya mengandung warta keselamatan yang mengagumkan.

Bersamaan dengan Bulan Rosario, umat Katolik di seluruh dunia juga memperingati Santa Perawan Maria Ratu Rosario.

Di setiap penampakan, Bunda Maria selalu berpesan untuk selalu mendoakan doa Rosario sebagai senjata ampuh untuk melawan kejahatan, dan sarana pembawa damai sejahtera.

Suatu hari Bunda Maria berpesan dalam penampakan kepada anakanak di Fatima, “berdoalah Rosario setiap hari…berdoa, berdoalah sesering mungkin dan persembahkanlah silih bagi para pendosa…akulah Ratu Rosario…pada akhirnya hatiku yang tak bernoda akan menang.”

Ratu Rosario adalah salah satu julukan Bunda Maria karena mukjizat yang terjadi pada tanggal 7 Oktober 1571, dimana terjadi suatu pertempuran armada laut yang dahsyat di Pantai Yunani, dan dikenal sebagai pertempuran Lepanto.

Kisah dari Bunda Maria sebagai Ratu Rosario ini menggambarkan kepada kita bagaimana dahsyatnya kekuatan dari doa Rosario dan bagaimana doa Rosario dapat memberikan mukjizat ketika kita mengimaninya dengan sungguh-sungguh. Legioner sebagai bala tentara Maria sudah seharusnya setia dalam mendaraskan doa Rosario terutama di bulan Rosario ini sebagai tantangan kesetiaan untuk kita dalam berdevosi kepada Bunda Maria sebagai seorang Legioner.

Kevin Fernando

8 September, Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Oleh : Anson Santoso


Bagi umat Katolik tentunya tidak asing lagi dengan tokoh Ibu kita Bunda Maria. Kita para legioner yang berdevosi kepada Bunda Maria, tentunya diharapkan lebih dekat dengan Ibu Tuhan kita Yesus Kristus, yakni Bunda Perawan Suci Maria. Begitu mendalam pemahaman tentang Bunda kita ini, di mana terdapat bagian teologi di ajaran Gereja kita yang disebut “Mariologi”, yang mempunyai beberapa institusi pendidikan dan penelitian di beberapa negara.

Bunda Maria dilahirkan dalam keluarga saleh oleh orang tuanya Santo Yoakim dan Santa Anna. Ia dididik dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya, baik secara teoritis (kitab-kitab Taurat Yahudi), maupun dalam perbuatan sehari-hari.

Saya teringat katekese tentang Bunda Maria yang disampaikan oleh Pastor Andre SDB, Pastor Paroki Danau Sunter. Beliau mengajukan pertanyaan, “Apakah kita bisa menjadi seperti Bunda Maria?”. Umat yang hadir membisu seribu bahasa ketika mendengar pertanyaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan. Muncul pertanyaan berikutnya, “Apakah kita layak menjadi seperti Bunda Maria yang teramat suci itu?”.

Mengagetkan karena jawabannya adalah kita bisa. Beliau memaparkan bahwa, “Kita bisa, asalkan iman kita benar-benar terdidik dengan sangat baik seperti Santo Yoakim dan Santa Anna mendidik Bunda Maria. Juga asalkan kita menolak segala –ya, segala- bentuk dosa dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak lupa kita pun harus mau melaksanakan kehendak-Nya saja”.

Bunda Maria yang acapkali menjadi perantara doa-doa kita kepada Tuhan melalui doa Novena Tiga Salam Maria, atau kita yang merasa dikuatkan melalui doa Rosario, mempunyai beberapa sejarah menarik. Misalnya, kemenangan pasukan Eropa/ Kristiani atas invasi pasukan Turki pada tahun 1571, atau kisah orang kudus Santo Dominic Savio yang menceritakan kepada gurunya -Santo Don Bosco- bahwa yang menolongnya pada saat ajalnya ialah Bunda Gereja kita.

Bunda Maria yang secara dogma Gereja berperan secara mediatrix (sebagai mediator antara Tuhan Yesus dan manusia) serta co-redemptrix (pendamping) dikenal sebagai Bunda para pendosa. Ada satu pengalaman unik saat saya menempuh pendidikan di Sanggau, Kalimantan Barat. Seringkali saya diminta untuk mengembalikan rantang makanan, yang perjalanannya harus melewati hutan pada saat malam hari. Di lokasi tujuan terdapat 2-3 anjing penjaga yang cukup galak. Setiap kali anjing itu berlari atau menggonggong ke arah saya, saya berdoa Salam Maria. Alhasil mereka langsung menjadi tenang, tidak lagi menggonggong, dan berbalik badan. Pengalaman ini mengingatkan saya pada sebuah lukisan Bunda Maria yang pernah saya lihat. Dalam lukisan yang berukuran besar itu, Bunda Maria dengan jubahnya melindungi orang-orang yang sedang dalam ketakutan. Manusia dari berbagai macam profesi dan kedudukan sosial di dunia berlindung dibalik jubah Bunda Maria.

Acapkali dengan perantaraan Bunda Maria, Tuhan mengabulkan doa-doa saya, khususnya di saat saya berdoa Novena Tiga Salam Maria. Begitu pula saat saya berdoa Rosario, Salam Maria, atau Catena Legionis, saya merasa hati menjadi tentram dan mampu menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, sudah sepatutnya saya dan kita semua bersyukur atas kelahiran Bunda Maria lebih dari 2000 tahun yang lalu. Kita mendapatkan Bunda Surgawi, yang mana olehnya, Tuhan kita Yesus Kristus mustahil menolak permohonan sang Bunda yang telah mengikuti kehendak Tuhan selama hidupnya di dunia ini.

Terima kasih, Bunda Maria. Selamat ulang tahun Bunda Surgawi, Bunda Tuhan kita Yesus Kristus dan Bunda kita semua.

sumber : katolisitas-indonesia.blogspot.com
Scroll Up