Devosi Legio; Akar Kerasulan Legio

Alokusio Rapat Senatus
Minggu, 6 Agustus 2017

Dibawakan oleh Asisten Pemimpin Rohani Senatus, Sdr. Octavian Elang Diawan


Bacaan Rohani :

Buku Pegangan Bab 5 point 5 halaman 23

Devosi Legio; Akar Kerasulan Legio

Devosi Legio Maria adalah bakti khusus yang dilakukan oleh para legioner dan menjadi ciri khas Legio Maria. Devosi ini menjadi dasar kerasulan bagi para legioner.

Kerasulan adalah sebuah tindakan dan semangat sebagai orang-orang yang diutus. Legio Maria bukan hanya sebagai kelompok doa, namun adalah kelompok kerasulan awam yang diutus untuk berkarya.

Dalam merasul, devosi kepada Bunda Maria harus menjadi rohnya. Devosi kepada Bunda Maria berarti berbakti kepada Bunda Maria, yakni mengambil inspirasi bagaimana Maria hidup mencintai Yesus, melihat bagaimana Maria mencintai Yesus lalu menirunya dalam kehidupan kita, dan belajar dari Maria bagaimana mencintai Yesus. Seluruh kehidupan Maria diberikan kepada Yesus, maka sebagai anak-anak Maria kita harus menjadi anak-anak yang selalu mencintai Yesus.

Selain doa, rapat presidium dan karya, kita bisa mengungkapkan devosi kita dengan meditasi, yakni sebuah kerja batin untuk mengembangkan kualitas spiritual diri kita. Meditasi bisa dalam bentuk doa atau bukan doa dan dapat dilakukan di mana saja.

Meditasi terdiri dari Renungkan-Refleksi-Tindak Lanjuti. Renungkan bagaimana Maria mencintai Yesus, sejak menerima kabar dari malaikat, hingga menerima jenazah Yesus di kaki salib.
Refleksikan apakah aku sudah seperti atau mendekati sifat Maria?
Tindak Lanjuti dan simpulkan hasil renungan dan refleksi, lalu apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki dan membangun iman.

Maria Mediatrix ; Bunda Maria dalam Pandangan Bernardus Clairvaux

Oleh : Fr. Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI


Bernardus dari Clairvaux (1090-1153) adalah seorang anggota Ordo Cistercian yang aktif dalam politik Gereja dan urusan birokrasi kepausan. Dia memiliki peran penting dalam pengenalan devosi kepada Bunda Maria. Paham Mariologi Bernardus didasarkan pada devosi pribadinya terhadap Maria. Cintanya terhadap Maria tidak dapat dipisahkan dari hidupnya.

Maria Model Gereja dan Mediatrix

Bernardus memandang Maria sebagai seorang figur yang patut dihormati. Perhatian pokoknya dalam diri Maria ialah mengenai kualitas keperawanan dan ketaatannya yang penuh. Karakter-karakter seperti inilah yang membuat Maria dijadikan sebagai contoh atau model bagi Gereja (type of the Church). Dia sangat menganjurkan umat untuk meniru kerendahan hati Maria. Tentang hal ini, dia mengatakan, “Jikalau kalian tidak sanggup mengagumi keperawanan Maria, persembahkanlah dirimu untuk meneladan kerendahan hatinya, hal itu akan cukup bagimu”. Bagi Bernardus, orang awam tidak diharapkan untuk meniru persis perilaku Maria dalam hal inkarnasi. Namun, pada saat yang sama, dia juga terus menyerukan suatu keyakinan umum pada masa itu, yaitu gelar “tunas” untuk Maria, yang dinubuatkan oleh para nabi[1].

Maria, melalui kesederhanaannya mampu menjalankan kesalehan dan ketaatannya. Peristiwa Maria Menerima Kabar dari Malaikat merupakan peristiwa yang menunjukkan sikap keteladanan Maria sekaligus juga sebagai awal kehidupan Yesus. Kesediaan Maria (fiatnya) dalam peristiwa itu juga menunjukkan peran yang penting demi keselamatan Gereja di masa mendatang, yakni penghiburan bagi yang susah hati, penebusan bagi yang tertindas, pembebasan bagi tawanan, keselamatan bagi semua keturunan Adam. Hal ini juga menjunjukkan aspek genetrix dari hubungan Maria dengan Gereja (eklesiologi).

Contoh keteladanan yang ditunjukkan oleh Maria, yang umum dibahas pada abad pertengahan, yaitu kisah Maria berdiri di kaki salib.  Jika peristiwa Kabar Gembira menandakan permulaaan inkarnasi dan datangnya rahmat Allah di dunia, maka, peristiwa penyaliban menandai titik atau batas akhir. Secara khusus, abad pertengahan, melalui peritiwa ini menyebut Maria sebagai Ibu Berdukacita (Mater Dolorosa). Nubuat Simeon dalam Lukas 2:35, dipandang sebagai bagian dari tantangan perjalanan Maria. Bernardus menjelaskan, ketika Jesus ditikam dengan tombak oleh serdadu, bagian tubuh yang ditikam itu bukanlah hati Jesus, melainkan hati atau jiwa Maria. Hal ini menjadi lambang kemartiran spiritual bagi Maria sebagai bentuk penderitaannya di kayu salib. Yesus dan Maria sama-sama menderita dan mati dalam peristiwa salib.

Cara pandangan seperti ini dianggap penting karena ada dua ide atau peristiwa yang penting dihayati. Pertama, secara ragawi, terdapat kemiripan antara Yesus dan Maria. Kedua, alasan bahwa penderitaan adalah hal yang baik bagi jiwa dan pada akhirnya menghantar kedekatan individual menuju keselamatan. Maria turut menderita karena penderitaan Puteranya. Cintanya pada Sang Putera menunjukkan kesatuannya dengan Yesus dalam penderitaan. Peristiwa ini (dengan makna yang dalam) menunjukkan bahwa Maria sungguh-sungguh bunda Kristus dan Gereja.

Ketika Maria diserahkan kepada Yohanes, sebagai perwakilan Para Rasul, sebagai ibu-nya, Dia sedang memberikan Maria kepada kelompok orang-orang yang percaya (yang kemudian menjadi Gereja). Penderitaannya di kaki salib, yakni penderitaan seorang ibu yang kehilangan anaknya, menggambarkan Maria turut ambil bagian dalam peristiwa tersebut. Dalam hal ini, dengan meneladani tindakannya, Maria ’mengizinkan’ orang-orang Kristen menjadi lebih dekat dengan Kristus. Jika mereka sanggup merasakan penderitaan dan rasa empatinya, mereka juga bisa dekat dengan Kristus. Hal inilah yang menjadi ciri kemartiran spiritual yang dapat diperoleh oleh setiap orang Kristiani, sekalipun mereka tidak dapat menanggung penderitaan Kristus yang sesungguhnya. Maria dipandang sebagai teladan kesalehan bagi orang-orang Kristiani, terutama dalam mengalami penderitaan yang dilaluinya. Dengan meneladan Maria, orang Kristen mampu memperoleh kedekatan dengan Kristus dan dengan demikian mengalami kedekatan dalam keselamatannya. Penderitaan dipandang sebagai bagian yang bersifat produktif dalam perjalanan menuju Allah. Rasa sakit dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran jiwa. Tujuannya ialah untuk meneguhkan orang-orang Kristiani (Gereja) untuk bertindak seperti Maria.

Paham lain yang berkembang di abad Medieval sehubungan dengan devosi kepada Bunda Maria ialah gelarnya sebagai pengantara (mediatrix) antara Kristus dan Gereja. Istilah ini memiliki dua arti yang berbeda. Yang pertama mengacu pada peran yang dimilikinya dalam peristiwa Annunciation, yakni fiatnya. Melalui peristiwa inkarnasi, rencana keselamatan Allah terjadi melalui diri Yesus Kristus. Dengan menyebutnya sebagai sebagai tempat suci dan juga bait kehidupan dan penebusan semua manusia, Maria secara langsung terkait dengan sejarah keselamatan. Hal ini sesuai dengan model pengantara dari hubungan Maria dan Gereja. Pengertian kedua berasal dari paham mengenai peran Maria sebagai ibu yang berdukacita dan sebagai ibu yang sederhana, perawan, dan yang penuh kasih. Sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja-Nya, Maria bertindak sebagai pengantara demi kepentingan orang-orang Kristen di hadapan penghakiman Puteranya, Sang Penyelamat. Sebagai pengantara (mediatrix) Bunda maria terlibat dalam peristiwa keselamatan Gereja.

Dalam hal ini, Bernardus menggambarkan Gereja sebagai Bulan dan menempatkan Maria di atasnya, terpisah dari Gereja. Gereja memohon dengan perantaraannya, rahmat dari Puteranya, seolah-olah Gereja tidak dapat melakukannya tanpa pertolongan Maria. Hal ini bisa dipahami karena Maria telah lebih dahulu menerima rahmat Allah dan pada akhirnya turut bertindak dalam membangun Gereja. Gereja turut diselamatkan karena tindakan Maria. Tentang hal ini, dalam pengajarannya, Bernardus menyebutkan, “Dia adalah pengantara kita, yang melalui dirinya, kita memperoleh rahmat Allah dan melalui dirinya, kita menerima Yesus di rumah kita”. Baginya, Maria menyediakan rahmat Allah dan belas kasih Puteranya bagi Gereja.

Gambar-gambar religius (di abad medieval) yang umum digunakan untuk kegiatan-kegiatan devosi ialah pemahkotaan Maria di surga. Secara tradisional, hubungan antara Maria dan Gereja tampak dalam suatu keyakinan bahwa Maria menjadi perwakilan dari Gereja dalam gambar tersebut. Gambar Maria ini cocok dengan gelar mediatrix, yakni menempatkan Maria sebagai pengantara antara Kristus dan Gereja. Dia berada di samping Kristus. Cintalah yang membuat Maria menuntun, membimbing dan melindungi Gereja, menyatu dengan kemuliannya di surga. Cinta dan perlindungannya berasal kekuatan dan rahmat Allah. Melaluinya, kita telah menerima rahmat Allah dan juga mampu menyambut Tuhan Yesus di rumah kita.

Bernardus yakin bahwa selama Gereja melakukan tindakaan-tindakan seturut kehendak Allah dan tetap meneladan Maria sebagai pengantara, yang ditahtakan di surga dan dianugerahi  oleh rahmat Allah, mereka tidak akan dibiarkan menderita dan sendirian. Hal ini meningkatkan keyakinan Bernardus mengenai pandangannya mengenai Maria sebagai “Bintang Laut”, gambaran Maria sebagai pelindung bagi mereka yang tersesat di laut atau terancam badai laut. Hal ini menjadi kiasan akan Gereja yang sedang melalui masa-masa sulit.

[1]Nubuat tersebut terdapat dalam Kitab Yesaya yang mengatakan,  “sebuah tunas akan tumbuh dari tunggul Isai” (Yes. 11:1).


Fr Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI; lahir di Purbasaribu, 27 September 1989. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Oblat Maria Imakulata (OMI) Yogyakarta. Beliau adalah asisten pemimpin rohani Komisium Bintang Timur Bogor tahun 2014-2015.

Ibadat Sejati Kepada Maria dan Penghambaan

Alokusio oleh RP. Agustinus Maming, MSC pada Rapat Kuria Bejana Kerahiman – Tanjung Selor, 22 Juli 2017


Bacaan Rohani : Buku Rahasia Maria oleh St. Louis Marie Grignion de Montfort, halaman 20, 23 – 24.

I. Praktek yang Sempurna dari Ibadat Sejati

Hai orang pilihan, ibadat sejati itu adalah memberikan diri seutuhnya sebagai hamba kepada Maria dan melalui dia kepada Yesus. Lalu kamu melakukan segala-galanya dengan Maria, dalam Maria, oleh Maria, dan untuk Maria. Kata-kata ini saya jelaskan di bawah ini :

Kamu harus memiliki suatu hari tertentu. Pada hari itu kamu memberikan diri secara sukarela dan terdorong oleh cinta. Kamu membaktikan dan mempersembahkan segala-galanya tanpa kecuali tubuh dan jiwamu, seluruh hari kekayaan materialmu seperti rumah, keluarga dan pendapatan, demikian juga harta kekayaan spiritual, seperti jasa, rahmat, kebijaksanaan, dan silihan.

II. Penghambaan

Ibadat sejati ada dalam pembaktian diri kepada Maria sebagai hamba. Perlu diperhatikan bahwa ada tiga macam penghambaan :

  1. Penghambaan berdasarkan kodrat : menurut arti semua orang, yang baik dan yang jahat, adalah Hamba Allah.
  2. Penghambaan karena paksaan : setan-setan dan orang-orang terkutuk adalah hamba menurut arti ini.
  3. Penghambaan karena cinta dan pilihan bebas : dan karena cara inilah kita mesti membaktikan diri kepada Allah melalui Maria. Inilah cara yang paling sempurna yang dapat digunakan manusia sebagai makhluk untuk membaktikan diri kepada Sang Pencipta.

Baiklah kita perhatikan pula, bahwa terdapat perbedaan besar antara pelayan dan hamba. Seorang pelayan menuntut upah untuk pelayanannya, sedangkan seorang hamba sama sekali tidak. Seorang pelayan, jika ia mau, bebas meninggalkan majikannya, dan ia hanya bekerja untuk sementara saja. Sedangkan seorang hamba tidak dapat meninggalkannya begitu saja. Ia milik tuannya seumur hidup. Seorang pelayan tidak memberikan kewenangan atas hidup matinya, tetapi seorang hamba memberikan seluruh dirinya, sehingga tuannya dapat membunuhnya tanpa digugat oleh pengadilan.

Dengan mudah kita dapat mengerti, betapa penghambaan karena paksaan mengakibatkan ketergantungan yang paling ketat. Ketergantungan seperti ini sebenarnya hanya bisa terjadi dalam hubungan manusia dengan pencipta-Nya. Itulah sebabnya bentuk penghambaan ini tak terdapat di kalangan orang Kristen, tetapi di kalangan orang Turki dan kafir.

Berbahagialah, ya seribu kali berbahagialah orang Kristiani yang lapang hati, yang membaktikan diri kepada Yesus melalui Maria sebagai hamba karena cinta, setelah dalam pembaptisannya ia melepaskan diri dari penghambaan setan yang lalim.

 


RP. Agustinus Maming, MSC adalah Pemimpin Rohani presidium-presidium di Paroki Santo Eugenius de Mazenod, Tanjung Redeb, Kalimantan Timur,

 

Di Balik Peziarahan Maria yang Mengandung

Elegant smiling man standing in the street

Sebagai seorang Katolik, merenungkan sosok Bunda Maria rasanya tidak ada habisnya untuk menemukan kedalaman hidup dari sang Bunda. Namun, sekali lagi merenungkan saja tidaklah cukup, kalau teladan hidup Bunda Maria yang begitu mendalam belum “mendarat“ pada keseharian hidup kita. Momen perayaan Natal adalah kesempatan yang tepat bagi kita untuk bersukacita bersama seluruh umat kristiani, sekaligus menyelami peziarahan awal Bunda Maria sebagai ibunda dari bayi mungil Yesus. Di balik awal peziarahan itu, mari kita melihat satu per satu rangkaian peristiwa yang dihadapi Bunda Maria. Satu keutamaan Bunda Maria dalam peziarahan itu adalah intimitasnya bersama dengan Allah. Intimitasnya bersama dengan Allah terjaga manakala ia berada dalam posisi hidup yang sangat sulit, penuh kecemasan, dan misteri. Rangkaian peristiwa dari penginjil Lukas yang menimbulkan kecemasan bagi Maria bisa kita lihat sebagai berikut: MENGANDUNG TAPI BELUM BERSUAMI (bdk. Luk 1:30-35), MENDAFTARKAN DIRI SAAT MENGANDUNG (bdk. Luk 2:1-5), TIDAK ADA TEMPAT DI RUMAH PENGINAPAN (bdk. Luk 2:6-7). Setidaknya tiga peristiwa di atas, kalau kita kontemplasikan menggambarkan situasi batin Maria yang takut, cemas, bingung, dan mungkin hampir tidak tahu harus berbuat apa.

Awal perjalanan Bunda Maria mulai dari mengandung hingga menjelang kelahiran Putranya, Yesus, sekali lagi tidaklah mudah. Lantas, jalan yang ditempuh Maria selama hidupnya bertahun-tahun adalah tetap “tinggal“ dalam intimitas bersama misteri Putranya. Bahkan, nanti ketika mau dibunuh oleh Herodes, Yusuf melarikan Maria dan Yesus ke Mesir. (bdk. Mat 2:13-15). Inilah kisah hidup Maria yang sekaligus menjadi peziarahan imannya. Situasi yang penuh kecemasan untuk mengemban tugas yang berat dari Allah, ia hadapi justru bukan dengan lari dari kenyataan, melainkan tetap berpegang penuh pada kekuatan Allah yang pasti. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38) Kata-kata itu tidak hanya terucap sambil lalu ketika ia menerima kabar dari Malaikat Gabriel, malahan nyatanya sungguh ia hidupi.

Tidak hanya itu, kita pun meyakini bahwa pada diri Maria ada keutamaan paling kuat, yakni kerendahan hati. Kerendahan hati tentu tidak sama dengan hanya pasrah (yang tanpa berusaha atau berbuat apa-apa). Kerendahan hati nampak dari Bunda Maria dengan seolah ia menjadi seperti tanah subur yang berani “diinjak-injak“ oleh kenyataan. Tetapi karena tanah ini subur, tanah ini dapat memberikan kehidupan segar bagi siapa pun yang ia jumpai. “Model“ teladan Maria inilah yang oleh Paus Fransiskus dikatakan sebagai model evangelisasi Gereja. Manakala, kita memandang Maria, kita berani datang untuk percaya sekali lagi bahwa pada pribadi Maria telah terjadi perubahan dari kecemasan menuju cinta akan Allah (lih. Evangelii Gaudium no. 288) Kiranya perspektif-perspektif terhadap Maria inilah yang cocok untuk menggambarkan situasi batin kita yang cemas, panik, galau, ketika harus menutup tahun 2014 ini. Dan, tentu masih menjadi perjuangan bagi kita sebagai anak-anak Allah untuk sepenuh hati meletakkan masa depan, terlebih dalam menyongsong tahun 2015, bersama-sama dengan Allah pula. Seraya kita juga menyadari bahwa selama ini acapkali dalam situasi cemas dan serba tidak pasti, kita terlalu banyak menuntut dari pihak Allah. Semoga teladan iman Bunda Maria mampu menolong dan mendorong kita untuk mengatasi kecemasan yang masih merongrong di setiap relung-relung hati dan pikiran kita. AVE MARIA.

Oleh: Fr. Joseph Biondi Mattovano

Beriman Tidak Sama dengan Berdagang

IMG-20141121-WA0014Bacaan Rohani: Buku Pegangan hal 16 No. 5 “Harus Mencapai Garis Akhir” (2 Tim 4:7)

Suatu kali seorang pemuda di salah satu paroki bertemu dengan aku. Seperti biasanya kami memang banyak bercerita. Dia memang sudah sangat familiar untuk kegiatan acara OMK di paroki. Ternyata dia tidak hanya aktif di OMK dan misdinar, tapi ia juga aktif di di Legio Maria dan persekutuan doa. Suatu kali dia menghadapi masalah yang cukup berat, yakni ayah-ibunya selalu bertengkar. Ia selalu mengeluh kaarena ia merasa sudah berdoa-doa berkali-kali namun belum dikabulkan permohonannya. Doa novena ini, doa novena itu sudah berkali-kali dilakukannya, namun ternyata apa yang diharapkan belum juga terkabul. Kita mungkin sering mengalami hal yang serupa. Sudah berkali-kali kita berdoa novena, rosario, dan sebagainya tetapi mengapa belum terkabul juga? Sudah berusaha untuk matiraga, beramal, dan berderma sekian banyak tetapi tidak ada sesuatu yang pasti. Kita sering merasa kecewa dan putus asa, sampai-sampai tidak jarang kita mempertanyakan “Dimana Engkau Tuhan?”

Kita sering merasa bahwa segala yang kita berikan untuk Tuhan dan sesama kita melalui pelayanan, secara otomatis kita merasa mempunyai hak untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Sadar atau tidak sadar, prinsip hidup kita adalah “DO UT DES, aku memberi agar engkau memberi.” Tentu saja itu bukan doa, amal, apalagi beriman, tetepi itu adalah bisnis. Mari kita sebagai legioner menyadari bahwa jika kita berbuat baik untuk Tuhan dan sesama janganlah kita hitung berapa jumlahnya, karena Tuhan sesungguhnya telah memberi banyak kemurahan kepada kita yang tak terhitung lagi.

“Panggilan Legio merupakan suatu pelayanan yang tanpa batas atau tanpa pamrih. Pelayanan merupakan kebutuhan.”

PRINSIP HARUS DIUBAH MENJADI: Untuk Tuhan tidak perlu berhitung (waktu, amal, persembahan, pelayanan, dsb.)

Kesalahan yang sering kita buat setiap kali mendoakan arwah yang meninggal: “Semoga amal dan ibadahnya diterima oleh Allah yang Maha Kuasa.” Atau “Semoga Tuhan membalas segala kebaikan yang telah ia buat selama hidupnya di dunia.” Itu bukan doa yang kristiani. Lagi-lagi itu bukan doa, melainkan seperti berdagang. Seharusnya, “Semoga berkat kerahiman-Nya, Allah mempersatukan ia dalam kebahagiaan Kerajaan Surga.”AVE MARIA.

Oleh : Fr. Joseph Biondi Mattovano

Antara Doa dan Pelayanan

IMG-20141121-WA0019Oleh: Fr. Joseph Biondi Mattovano

Saudari-saudara yang terkasih, doa disamping menjadi sarana perjumpaan kita sebagai seorang beriman dengan Allah. Bagian dari doa sesungguhnya menggerakkan kita untuk turut ambil bagian dalam tugas pewartaan (evangelisasi) dan mencari kebaikan sesama. (Evangelii Gaudium-Suka Cita Injil art. 281) Inilah yang menjadi poin keutamaan relasi antara doa dan karya/pelayanan kita. Melalui karya pelayanan yang senantiasa kita bawa dalam doa, sesulit dan seberat apapun pengalaman itu membuat kita kerap bisa merasakan betapa Allah bersedia membentuk pribadi kita.

Dalam anjuran apostoliknya itu, Paus Fransiskus mengajak kita untuk belajar dari Santo Paulus yang berdoa sungguh dari hati. Maka, doa dari dalam HATI itu penting, bukan sekadar hafalan atau rumusan doa semata. “Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Memang sudah sepatutnyalah aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.” (Fil 1:4,7) Dalam situasi sulit (di penjara) sekalipun, seorang pewarta seperti Paulus tidak mengawali doanya dengan sebatas berkontemplasi (bertapa dan berdiam diri). Sebab, sejatinya doa juga selalu menyediakan “tempat” (ruang hati) kita bagi sesama. Seorang pewarta Injil yang hidup berimannya tumbuh dari doa, hatinya akan mampu semakin terluka, dan semakin menyadari siapa dirinya sesungguhnya dihadapan Allah dan sesama. Hatinya akan selalu mengarah kepada kebaikan dan berbagi kehidupan dengan sesama. (Evangelii Gaudium art. 281)

Saudari-saudara legioner yang terkasih, kesatuan antara doa dan karya pelayanan sebisa mungkin mari kita maknai seperti kedua kepak sayap burung yang dikepakkan ketika terbang. Seekor burung tidak mungkin bisa terbang hanya dengan satu sayap saja. Demikian pula dengan kita sebagai seorang beriman. Bagaimana mungkin seseorang bisa mempunyai relasi dengan Allah kalau ia tidak pernah berdoa? Tanpa relasi yang personal dan intim dengan Allah, alih-alih motivasi yang tulus dan murni hanya akan menjadi batu sandungan bagi pelayanan kita. Sekarang ini, keutamaan hidup beriman antara doa dan karya pelayanan sudah tidak hanya menjadi perhatian dari para kaum religius atau klerus (imam). Mari kita sama-sama patut bersyukur bahwa telah begitu banyak gerakan atau komunitas awam, salah satunya Legio Mariae yang mempunyai perhatian pada mereka yang kecil, lemah, putus asa, dan menderita, namun tidak melupakan semangat doa sebagai bagian dari spiritualitas pelayanan.

Melalui Evangelii Gaudium ini, akhirnya Paus Fransiskus mengajak seluruh umat beriman untuk masuk kedalam pemahaman dan kebenaran akan Allah, sehingga setiap dari kita mampu memandang segala sesuatu yang sedang terjadi atau yang akan kita alami dari ‘kaca mata’ Allah. Kini bukan saatnya lagi kita bisa merasa ‘damai’ karena dininabobokan dengan rasa aman dan nyaman dalam hidup kita sehari-hari. Kemampuan kita untuk memaknai hidup menjadi semakin nyata manakala kita sebagai seorang Kristiani berani bangkit dari keterpurukan dalam pelayanan kita, seperti penolakan, caci-maki, tidak diakui, dan merasa diri selalu terbatas. Maka, dalam menghayati tugas pewartaan Injil untuk melayani dan mendoakan semakin banyak orang, kita tidak boleh sekali-kali kehilangan kebahagiaan. Hilangnya kebahagiaan dalam doa dan karya pelayanan tentu bisa meruntuhkan kesaksian panggilan hidup kita sebagai seorang Kristiani. Selain Roh Kudus yang membakar dan menuntun semangat evangelisasi, kita yang lemah dan terbatas ini tetap butuh dievangelisasi oleh mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan menderita.

SEKIAN. BERKAH DALEM

Scroll Up