Ketika Sang Putra tersalib,
dalam erangan kesakitan
karena siksa nan ngeri
Sang Bunda berdiri di sana.
Sanggupkah seorang ibu berdiri
di tengah derita, luka menganga, darah dan air mata anaknya?
Namun di sana Maria berdiri,
di bawah Salib Yesus, berdirilah Ibu Yesus.
Lihat Sang Bunda,
di bawah Salib Yesus,
Sang Bejana Rohani menampung semua rahmat
yang tertumpah dari Sang Sumber Segala Rahmat,
buah-buah dari Salib-Nya.
Lihat kini Sang Bunda
berdiri di hadapanmu, Ratu Surga dan dunia
dengan kedua tangan terbuka
mengajak anak-anaknya datang menghampiri
guna memberi berkat dan rahmat
dari harta Bejana Hatinya
untuk dilimpahkan bagimu
segala rahmat yang ada dan diperlukan
bahkan rahmat yang tak dapat kita bayangkan
serta rahmat yang tak pantas kita dapat
agar selalu semangat dan setia dalam karya
menyalakan api cinta yang redup
menerangi nyala iman yang pudar
meneguhkan dasar harapan yang runtuh
memanggilmu pada kekudusan
dan melaluimu
mengundang semua menjadi kudus.
Bila segala terasa berat,
lihatlah di sana ia berdiri
dengan segala rahmat terbaik yang ada di Surga dan bumi.
Medali ini bukanlah jimat untuk ditaruh di dompet
bukan pula barang kenangan untuk dipajang di lemari.
Medali yang sejati akan kita dapatkan setelah perjuangan hidup usai.
Kita kini boleh mencicipinya dahulu dengan medali kecil ini.
Kenakanlah dengan bangga di lehermu,
karena kita semua adalah pejuang Maria.
Apabila senantiasa setia
apa yang kini kita cicipi dengan sederhana
semoga diganjar kemurahan Hati Tuhan
dengan medali kemenangan jaya.
Saat hidup hampa dan berat,
larilah ke kaki altar bersama Sang Bunda,
genggam erat medali itu
segarkanlah diri seperti rusa kehausan yang minum dari sumber air.
Namun lebih penting,
di saat hidup terasa ringan dan menyenangkan,
jangan lupa senantiasa berdoa melalui perantaraannya,
karena tidak jarang, ada saja rahmat yang lupa kita minta.
Dan di atas segalanya,
cintailah Bundamu itu
bermurah hatilah padanya
sapalah ia terus menerus
dalam kerapuhan cinta sederhana seorang anak
melalui untaian mawar abadi
“Salam Ibu, halo mama, hai bunda…”
dengan Rosariomu itu.
Majulah Laskar Maria
teladanilah Bundamu
berjuang di bawah panjinya takkan sia-sia.
Medali ini adalah doa,
doa terus menerus,
dan janganlah jemu berseru:
“Oh Maria dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang berlindung padamu!”
Oleh Ibu M. E. Jenny Lesmana (Penyunting : Bartolomeus Helan)
“Keluarga kami adalah keluarga Legioner.”
Suami saya menjadi anggota Legio Maria waktu berada di Semarang. Saya sendiri menjadi anggota Legio Maria sejak di Semarang dan ketika berada di Balikpapan. Menariknya, di Balikpapan bukan cuma sebagai anggota tetapi ‘pendiri’ Legio Maria di paroki St. Theresia Prapatan yang kemudian berkembang sampai saat ini. Ketiga anak saya menjadi anggota Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus Prapatan Balikpapan. Anak sulung dan kedua juga pernah menjabat sebagai perwira presidium BHK. Sementara anak bungsu menjadi anggota termuda waktu itu. Mengenang ini saya menjadi bangga sebagai anggota Legio Maria. Bangga bukan karena kehebatan diri sendiri tetapi bangga karena bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan dan Bunda Maria untuk menjumpai orang-orang yang terlantar, masyarakat pinggiran, orang-orang yang terasingkan dan mereka yang kurang beruntung hidupnya. Maka menjadi anggota Legio Maria merupakan sebuah “keuntungan” bukan sebuah “kerugian” (rugi karena ada yang berpikir waktunya sia-sia hanya untuk rapat dan doa).
Keluarga Ibu M. E. Jenny Lesmana
Saya menjadi anggota Legio Maria ketika masih muda dan belum menikah. Pengalaman yang terindah adalah ketika berlutut di depan Bunda Maria dengan Rosario di tangan sambil mendaraskan peristiwa-peristiwa Rosario dan mendokan Catena. Satu rumusan doa yang luar biasa indah yang membuat saya semakin tertarik untuk lebih dekat dengan Bunda Maria. Sejak saat itu doa menjadi bagian dari hidup saya. Dalam situasi dan keadaan apapun saya tidak pernah lupa berdoa dan Rosario kecil menjadi teman setia saya ke mana pun saya melangkah. Doa adalah kekuatan hidup saya.
Ada sebuah pengalaman pribadi saya tentang kekuatan doa itu. Pada suatu hari saya dipanggil untuk hadir dalam wawancara penerimaan karyawan di perusahaan farmasi di Semarang. Orang yang hadir atau melamar pekerjaan jumlahnya 100 orang lebih. Padahal yang diperlukan hanya 2 orang. Sebelum wawancara saya menyerahkan semuanya pada rencana Tuhan melalui doa kepada Bunda Maria. Pada saat wawancara saya bisa merasakan ketenangan, semua pertanyaan saya jawab dengan tepat dan tenang. Dan karena doa dan pendampingan dari Bunda Maria, maka saya lulus waktu itu dengan mengalahkan banyak pelamar yang lain. Saya sangat beruntung memiliki seorang Ibu yakni Bunda Maria yang selalu menolong dan membantu saya.
Pengalaman yang sama juga dialami oleh anak-anak saya. Mereka adalah anggota Legio Maria sejak kecil. Sebagai anggota Legio mereka pun terbentuk untuk lebih percaya diri, disiplin dan menyerahkan cita dan masa depan mereka ke dalam penyelenggaraan Tuhan dan perlindungan Bunda Marai. Mereka tidak pernah takut menghadapi wawancara, baik waktu mau masuk ke sekolah SMA Van Lith ataupun waktu mereka sedang wawancara penerimaan karyawan. Dan inilah hasil ‘pendidikan’ di Legio Maria, yg kadang baru dirasakan kemudian. Biasanya anggota yang tekun dan serius dalam keanggotaan sebuah Presidium Legio Maria, dia tidak akan pernah kesulitan di dalam pekerjaan maupun hubungan dengan masyarakat luas. Ya karena bunda Maria selalu akan mendampingi dan menyertai hidup dan karya para Legioner di mana pun berada.
Untuk membagi waktu sekali lagi semuanya tergantung dari pribadi masing-masing. Waktu saya masih di Semarang dan belum menikah saya bisa menata waktu saya, terlibat aktif di Legio dan bekerja sebagai karyawati di apotik lalu pindah kerja ke perusahaan Farmasi (PBF). Dan itu tidak ada masalah. Sebab Legio hanya meminta setiap minggunya 1.30 jam untuk rapat mingguan dan tugas dalam 1 minggu minimal 2 jam. Jadi rasanya tidak akan memberatkan, apalagi waktu tugas bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing anggota. Setelah menikah saya pindah ke Balikpapan saya menjadi ibu rumah tangga dengan anak-anak yang masih kecil-kecil, juga sebagai istri seorang staff di Pertamina, saya tetap terlibat aktif sebagai seorang Legioner, aktif dalam kelompok Dharma Wanita Pertamina, aktif di kelompok persatuan istri di bagian kantor suami. Selain itu saya juga aktif di paroki St. Theresia Prapatan, aktif sebagai seksi liturgi bagian rumah tangga gereja, alias kerja di belakang altar. Begitupun dirumah saya juga masih ada usaha kecil-kecilan jualan konfeksi, karena sudah terbiasa bekerja maka tidak nyaman kalau hanya berrgantung dengan suami. Semuanya berjalan normal dan tidak ada kendala yang berarti. Hal ini hanya bisa terjadi dan berjalan baik apabila seseorang bisa mengatur waktu, sehingga urusan di rumah beres, anak-anak dan suami aman, dan masih bisa melayani orang lain, baik dalam masyarakat maupun di gereja dan Legio Maria.
Dan dari semua itu jangan pernah lupa bawa semuanya dalam DOA yang selalu akan menguatkan semua kehidupan kita. Doa tidak perlu harus berlama-lama tetapi yang terpenting berdoa dengan hati, sediakan waktu walau sedikit untuk berbicara atau curhat dengan Tuhan, bersyukur kepada Tuhan yang telah menghadiahkan kepada kita seorang Ibu yakni Bunda Maria, yang dari rahimya lahirlah Sang Juru Selamat dunia. Di samping itu contohlah semangat hidup dan kerendahan hati bunda Maria yang sederhana, mengalir saja, tanpa banyak berkeluh kesah dan menyimpan semuanya dalam hati, dan setia kepada Tuhan dengan melakukan apapun yang Tuhan perintahkan dengan penuh percaya dan tanpa banyak bicara menjawab “Ya” atas panggilan Allah.
Bagi saya rasanya menjadi legioner lebih banyak sukanya, dan sedikit dukanya. Menjadi legioner itu sukanya, merasa hidup ini lebih bermakna, lebih terarah dan berarti, karena hidup bisa lebih berguna bagi orang lain, bisa lebih dipakai Tuhan untuk melayani, dan masih banyak lagi sisi positif sebagai seorang Legioner. Dukanya hanya kalau tidak diterima dan dimengerti oleh orang yang ingin dikunjungi dan bantu. Di dalam Legio Maria seorang Legioner dipersiapkan benar-benar sebagai tentara Maria. Jadi segala pelayanan dan karya baik di dalam kehidupan Gereja maupun di dalam masyarakat atau pekerjaan profesi semuanya bisa lebih baik, lebih semangat untuk melayani dengan hati yang tulus, lebih bisa menghargai waktu dan orang lain yang mungkin berbeda pendapat, keyakinan atau tingkat sosial. Sebab di dalam rapat Legio itulah pendidikan dasar sebagai seorang legioner ditekankan dan menjadi bagian dari perilaku hidup. Maka sangat disayangkan kalau ada anggota legio yang malas atau bosan untuk hadir dalam rapat mingguan Legio. Lebih dari itu tidak ada ruginya kita ikut aktif di Legio Maria, jangan pernah bosan dan jenuh. Itulah para anggota Legio Maria, aturlah waktu kalian, dengan kerja dan doa, serta teruslah menjadi anggota Legio Maria yang setia.
Akhirnya, saya mengucapkan Proficiat dan Selamat Ulang Tahun ke-25 Presidium Bunda Hati Kudus. Jadikanlah hati kita tempat penyalur kasih Allah untuk semua orang yang membutuhkannya. Tetaplah bangga menjadi Legioner di mana pun berada. AVE MARIA.
Catatan redaksi : Sharing ini dimuat dalam buku kenangan “Perayaan Syukur 25 tahun Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus Prapatan – Balikpapan”
Ibu M. E. Jenny Lesmana adalah inisiator pendiri Presidium Bunda Hati Kudus di Paroki St. Theresia, Prapatan Balikpapan. Beliau juga menjadi Asisten Pemimpin Rohani di presidium ini sejah tahun 1992 hingga 2001. Kini beliau berdomisili di Bandung.
Sepenggal Catatan dari Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati Palangka Raya, 17 September 2017
Ave Maria, Proficiat dan Puji Tuhan! Atas penyertaan Bunda Maria dan restu dari Allah Roh Kudus, maka pada Minggu, 17 September 2017, telah terlaksana Rapat Perdana Dewan Komisium Ratu Segala Hati Keuskupan Palangka Raya. Momen ini adalah tonggak sejarah karena inilah rapat perdana setelah Dewan Kuria Ratu Segala Hati dinaikkan statusnya menjadi Dewan Komisium. Komisium ini mensupervisi Dewan Kuria Bunda Pemersatu- Sampit, calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito dan 13 Presidium tergabung.
Tiga orang perwakilan dari Senatus Bejana Rohani, yaitu Sdr. Petrus Suriutomo (koresponden Komisium Ratu Segala Hati), Sdri. Audrey Isabella (Wakil Ketua Senatus) dan Sdri. Laurensia Jeny T. Dewi (Ketua Senatus) berkesempatan hadir dalam rangkaian rapat perdana Komisium, 16-17 September 2017 di kota Palangka Raya.
Senatus Bejana Rohani sebelumnya telah mengesahkan peningkatan status Dewan Kuria Ratu Segala Hati menjadi Komisium pada Rapat Senatus ke 365 tahun ke-30, 10 September 2017 setelah mengadakan peninjauan selama kurang lebih 2 hingga 3 tahun. Pengesahan ini telah mendapatkan ijin resmi dari Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF selaku Uskup Keuskupan Palangkaraya, serta dari Dewan Konsilium Morning Star, Dublin Irlandia.
Audiensi dengan Mgr. AM. Sutrisnaatmaka MSF – Uskup Keuskupan Palangkaraya
Dalam setiap kunjungan Legio Maria Senatus ke Palangka Raya, kami biasanya memberikan informasi jadwal kunjungan kami kepada Bapa Uskup beberapa hari sebelumnya dan kami selalu meminta waktu untuk sowan dengan beliau. Luar biasanya adalah, selama beliau ada di rumah (keuskupan), beliau tak pernah menolak berjumpa dengan kami. Demikian pula pada 16 September lalu, di tengah suasana hujan, kami diterima dengan penuh kehangatan, keramahan dan canda.
Kami menyampaikan tujuan kehadiran kami dan beliau sangat mendukung dengan penuh sukacita karena telah diberikan kepercayaan lebih besar dengan keberadaan Dewan Komisium di Keuskupan Palangka Raya. Beliau sangat mensyukuri dan mengapresiasi kehadiran dan peranan Legio Maria dalam karya kerasulan di Palangka Raya, khususnya semangat siap sedia bertugas dan membantu pastor paroki setempat, misalnya dalam melayani memimpin ibadat di stasi-stasi jika Pastor tidak dapat hadir; memimpin ibadat Rosario, dan lain-lain. Selain itu Mgr. Sutrisnaatmaka dengan bangga mengatakan bahwa
“Legio Maria, khususnya di keuskupan Palangka Raya, adalah penguat identitas Gereja Katolik.”
Oleh karena itu, Legio Maria dirasa sangat penting untuk hadir dan berkembang di tengah-tengah umat.
Beliau berjanji untuk terus mendukung perkembangan Legio Maria dan terus mengingatkan kepada para pastor untuk ikut serta mempromosikan Legio Maria sehingga bisa tersebar di semua paroki di Keuskupan Palangka Raya dan menjadi sarana mewujudkan kemuliaan Allah di atas dunia.
Rekoleksi presidia tergabung di Komisium dan calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito
Setelah beraudiensi dengan Bapa Uskup, kami bertiga menuju ke Gereja Maria Diangkat ke Surga (Katedral) untuk mengikuti agenda berikutnya, yakni Rekoleksi dalam rangka HUT Legio Maria ke-96 yang dibawakan oleh Pastor Anton Rosari, SVD dengan mengangkat tema “Bersyukur dan melayani bersama Maria”.
Rekoleksi ini dihadiri oleh sekitar 100 legioner. Meskipun cuaca hujan, namun tak menyurutkan legioner untuk mengikuti rekoleksi, khususnya para legioner dari Barito dan sekitarnya, yang harus menempuh perjalanan 4-5 jam. Dari wilayah dalam kota Palangka Raya, terdapat sekitar 30 orang legioner muda yang hadir dan Pastor Anton pun tidak mengira banyak orang muda yang ikut Legio Maria.
Rekoleksi ini mengajak kita untuk melihat tiga fase perjalanan Legio Maria : Sejarah Legio Maria pada awal berdirinya di tahun 1921, Legio Maria masa kini, dan Menatap Masa Depan. Tuhan telah membimbing Legio Maria selama 96 tahun dan ini adalah suatu anugerah yang luar biasa. Bagaimana kita mampu melanjutkan karya ini di tengah berbagai macam tantangan? Salah satunya adalah dengan setia pada misi atau tujuan awal Legio Maria, yaitu untuk mewujudkan Kerajaan Allah, menguduskan diri dan pelayanan.
Akhirnya kita diajak menyadari bahwa Pelayanan itu adalah semata-mata Karya dan Pekerjaan Allah. Kita sebagai manusia sebetulnya tidak pantas, namun dibenarkan, dipanggil dan dipilih untuk melayani Gereja dan Umat-Nya.
Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral
Minggu pagi kami awali dengan Perayaan Ekaristi di Katedral. Tanpa diduga, Perayaan Ekaristi itu bertepatan dengan Pelantikan Pengurus PDKK sehingga dirayakan secara Konselebrasi dengan Mgr. AM. Sutrisnaatmaka, MSF sebagai konselebran utama, dan didampingi oleh RD. Patrisius Alu Tampu, dan RP. Yohanes Doni SVD. Dalam Perayaan Ekaristi ini juga disampaikan intensi syukur atas HUT Legio Maria sedunia ke-96, juga 10 tahun kehadiran Legio Maria di Keuskupan Palangka Raya.
Legioner bersama Bapa Uskup
Dalam homilinya Mgr Sutrisna mensyukuri atas bertumbuhnya komunitas yang mewarnai Gereja Katolik dan beliau mengundang umat untuk ikut aktif dalam komunitas gereja.
Sebelum memberikan berkat penutup, lagi-lagi kami menerima shock therapy, karena Mgr. Sutrisna menyampaikan kepada seluruh umat bahwa ada kehadiran utusan Legio Maria Senatus Jakarta, lalu kemudian memperkenalkan kami di tengah-tengah umat yang hadir. Kami sungguh merasakan apresiasi dari Bapa Uskup untuk karya legioner di Kalimantan Tengah ini.
Dari kiri ke kanan : Sdr. Petrus (Koresponden) – Sdri. Jeny (Ketua Senatus) – Sdr. Wilhelmus (Ketua Komisium) – Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF – Sdri. Audrey (Wakil Ketua Senatus)
Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati
Akhirnya kami sampai pada kegiatan puncak yaitu Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati. Rapat dihadiri oleh Pemimpin Rohani Pastor Lucius Sari Uran, SVD, APR – Sr. Wilfrida KSSY, serta lima perwira komisium, yakni Sdr. Wilhemus Y. Ndoa (Ketua), Sdr. Aloysius Pati (Wakil Ketua), Sdri. C. Wiwik Handayani (Sekretaris 1), Sdri. Yohana Sarbini (Sekretaris 2), Sdri. Eligia Rahail (Bendahara 1), sedangkan Sdr. Aston Pakpahan (Bendahara 2) berhalangan hadir.
Perwira Komisium Ratu Segala Hati
Para Perwira Kuria Bunda Pemersatu – Sampit dan calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito juga hadir dalam Rapat Perdana ini. Mereka menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam dari Sampit dan sekitar 5-6 jam dari Barito ke Palangka Raya. Kami sungguh salut melihat semangat para legioner yang mau berjerih lelah dan bersemangat dalam mengikuti Rapat Komisium. Tercatat 13 presidium hadir dalam rapat perdana ini, dan total legioner yang hadir adalah sebanyak 80 orang.
Pada saat laporan dewan, kami membacakan SK Pengesahan Peningkatan Dewan Komisium, menyerahkan dokumen asli dan Vandel atas nama Komisium Ratu Segala Hati kepada Perwira Komisium.
Penyerahan Vandel dan Dokumen Pengesahan
Hal yang menarik dari komisium ini adalah semangat yang besar dan karya perluasan sangat luar biasa di hampir seluruh wilayah keuskupan. Di wilayah kerja Kuria Sampit, mereka sangat bersemangat merintis dan mengembangkan sekitar 13 presidium junior. Di wilayah kerja calon Kuria Barito, selain perluasan yang terus berjalan, mereka juga sedang berkonsolidasi untuk sungguh-sungguh siap disahkan menjadi Kuria.
Berpose bersama usai rapat komisium
Secara umum, rapat perdana komisium berjalan dengan lancar dan terstruktur dengan baik, semua agenda telah disusun rapi. Para legioner menjaga suasana rapat dengan sangat khidmat.
“Dalam kunjungan kali ini saya tidak bisa memberi apa-apa, namun saya terinspirasi dari kegigihan dan semangat para legioner dalam berkarya. Karya-karya kita memang sederhana namun ternyata berbuah banyak bagi umat yang kita layani. Semoga kita selalu bisa mensyukuri dan bangga akan panggilan kita sebagai legioner. Ave Maria !”(Sdri. Audrey)
Hanya ucapan syukur dan terima kasih sebesar-besarnya atas semua peran, doa dan karya dari Bapa Uskup Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF, Para Pastor, Suster, Frater, Bruder, para legioner, dan seluruh umat yang sungguh tak kenal lelah, setia, dan penuh iman dalam berkarya untuk memuliakan Allah lewat kerasulan Legio Maria.
Semoga penyertaan Bunda Maria dan berkat Tuhan memampukan kita untuk sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah dengan rendah hati, semangat dan penuh cinta dalam karya kita sebagai Legioner Maria. Ave Maria !
Laporan kunjungan ini disusun oleh Sdr. Petrus Suriutomo (koresponden Senatus Bejana Rohani untuk Komisium Ratu Segala Hati Palangka Raya), Sdri. Audrey Isabella (Wakil Ketua Senatus) dan Sdri. Laurensia Jeny T. Dewi (Ketua Senatus).
Saya merasa harus menulis ini, hanya untuk bisa berbagi kebahagiaan karena diliputi rasa jatuh cinta yang luar biasa. Selain itu cerita adalah ungkapan syukur dan terima kasih saya atas kebaikan Tuhan lewat mereka yang hadir dalam hidup saya dan keluarga. Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi saya dan keluarga dalam merawat papi yang terkena stroke ke-3 pada April 2016 yang lalu.
Bpk. Yohanes Phoa Wie Keng, papi Audrey
Pagi hari di pertengahan bulan April 2016 itu, sulit rasanya melupakan suara kepanikan mami yang melihat papi jatuh tak berdaya di kamar mandi. Ia tidak bisa berdiri, bicara ataupun menggerakan anggota tubuhnya. Sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit terdekat papi sudah mendengkur, entah sudah berapa banyak doa Bapa Kami dan Salam Maria yang saya daraskan. Begitu tiba di rumah sakit, Papi langsung ditangani di UGD dan kami diberi tahu bahwa papi sudah gagal nafas. Saya, mami, kakak, kakak ipar dan adik saya hanya bisa mengelilinginya berdoa dan memohon belas kasihan Tuhan. Kami memohon agar papi bisa diberi kesempatan untuk bertahan hidup dan apapun kondisinya, kami akan terima. Lalu Tuhan dengan begitu baiknya, papi dinyatakan koma. Ya, saya nyatakan Dia begitu baik karena jika koma, tandanya papi masih diberi kesempatan untuk hidup meski kecil.
Lalu papi pun dimasukkan ke ICU. Saat itu sudah banyak teman, saudara dan tetangga yang datang karena mendengar tentang kabar papi. Kami keluarga dipanggil dan diberi tahu oleh dokter tentang kondisi papi bahwa ia stroke karena penyumbatan pembuluh darah di otak dan areanya sangat luas, yaitu 2/3 otak kirinya tersumbat. Kondisi ini bisa menyebabkan ia lumpuh dan sangat sulit untuk kembali ke kondisi normal, bahkan bisa berujung pada kematian. Sedih tak terbendung, hancur rasanya hati mendengar keterangan dokter.
Sore itu saya ikut Perayaan Ekaristi di Gereja, saya teringat Mazmur antar Bacaannya adalah “Tuhanlah Gembalaku, Tak’kan kekurangan Aku”. Sambil memandangi Salib, air mata terus jatuh membasahi pipi dan dalam hati bertanya : “Tuhan kok tega?” Papi padahal sedang aktif-aktifnya melayani (entah ikut KEP, Bina Lanjut KEP, PDKK, dan KMS), tiap bulan entah sendiri atau bersama rombongan pergi berziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat, Kuningan dan sepuluh hari sebelumnya menyatakan diri bersedia menjadi Auxilier (anggota pasif dalam Legio Mariae yang mendoakan Tesera dan Rosario setiap hari). Pikiran dan perasaan saya diliputi kekecewaan, kemarahan dan kebingungan kepada Tuhan. Saya tenggelam pada “Kalkulasi Pelayanan” yang sudah kami berikan untuk Tuhan dan Gereja. Hati saya mendua pada Perayaan Ekaristi saat itu, tidak sepenuhnya mensyukuri Perayaan Cinta Yesus yang memberikan diri sehabis-habisNya untuk Umat-Nya.
Malam itu kami semua tidur seadanya di Ruang Tunggu ICU. Saya tetap berdoa Tesera, Rosario, dan Koronka untuk papi, namun masih bercampur dengan perasaan kecewa dan kebingungan akan kondisi yang papi alami. Pokoknya Tuhan tega! Itu yang saya pikirkan.
Hari demi hari kami lalui di Ruang Tunggu ICU, begitu banyak teman, saudara, kenalan , dan bahkan yang kami tidak kenal sekali pun datang untuk mengunjungi papi ataupun memperhatikan keadaan kami. Bahkan di satu pagi ada tetangga yang datang untuk membawakan kami sarapan. Dia bilang “di luar hujan, nanti kalian repot cari makan, jadi saya datang membawakan kalian sarapan.” Tersentuh hati saya, kok mau pagi-pagi datang untuk membawakan kami sarapan?” Belum lagi ada teman yang mengantarkan makan siang untuk kami dan malamnya kami menerima makanan dari orang-orang yang datang menjenguk. Setiap harinya, kami tidak pernah berhenti kedatangan teman, saudara, tetangga yang menjenguk, memperhatikan, dan mendoakan. Makanan yang kami terima berlimpah sehingga bisa kami bagikan dengan keluarga yang juga menunggu di ruang tunggu ICU. Belum lagi ada teman2 yang dengan inisiatifnya menggalang dana guna membantu meringankan biaya pengobatan. Speechless saya jadinya. Dia ternyata betul-betul Immanuel, hadir dalam keadaan suka dan duka hidup saya melalui malaikat-malaikat tak bersayap yang Ia kirim.
Ketika saya berdoa pada suatu malam, saya teringat kembali bahwa satu minggu sebelum papi terkena stroke, tiba-tiba saya mendoakan ini dalam doa harian saya “Saya ingin mempersembahkan apa yang saya alami dengan Kurban Yesus sendiri di Kayu Salib”. Pada saat saya mendoakan hal itu, saya juga tidak tahu kenapa saya sampai bisa mengucapkan hal itu. Namun akhirnya saya sadar, Tuhan sedang mempersiapkan batin saya menghadapi hal ini. Seketika itu juga saya merasa luar biasa malu pada Tuhan. Ternyata saya masih menganggap relasi saya dengan Tuhan itu hubungan yang transaksional, atau do ut des. Hubungan timbal balik dan hubungan untung rugi. Saya berpikir bahwa Tuhan harus selalu memberikan saya yang baik-baik karena saya sudah begini dan begitu. Saya tidak bisa menahan air mata saya karena rasa malu sekaligus haru karena Tuhan memulihkan dan menyadarkan saya. Bukankah sebelumnya saya sendiri yang berdoa untuk mempersembahkan semua kepada Dia yang sudah memberi diri sehabis-habisnya di Kayu Salib karena Cinta-Nya kepada kita?
Pada hari yang ke-7, papi mulai sadar dan betul kata dokter, papi memang tidak bisa bicara, tidak bisa menggerakan bagian tubuh kanannya dan terkena Apasia Global (kehilangan kemampuan total untuk berbicara, menulis ataupun membaca). Sedih melihatnya namun bersyukur bahwa Papi boleh bertahan. Selama kurang lebih 46 hari di RS akhirnya awal Juni 2016 papi kembali ke rumah dan kami menggunakan jasa perawat selama kurang lebih 3 bulan untuk membantu merawat papi. Saat itu papi masih menggunakan selang oksigen, sonde (selang makan), dan kateter. Adik papi juga turut membantu merawat papi selama beberapa bulan.
Setelah tidak lagi menggunakan jasa perawat dan adik papi, maka kamilah yang merawat papi sepenuhnya. Sebelum dan sesudah pulang kerja, kami bertiga (saya, kakak dan adik) mengurus papi dan mami yang merawat papi ketika kami di kantor. Kami pun mulai membatasi kegiatan dan aktivitas di luar rumah karena papi tidak boleh ditinggal sendirian, dia harus ditemani oleh minimal satu orang karena secara fisik, papi tergantung sepenuhnya akan bantuan orang lain. Di situ saya merasakan bahwa hubungan kekeluargaan semakin erat. Kami saling meneguhkan satu sama lain dalam menghadapi kondisi yang tidak mudah ini.
Secara manusiawi, kadang saya merasa lelah karena harus bangun lebih pagi untuk mennganti pampers ataupun mengukur suhu dan tekanan darah papi, dan setelah pulang kantor masih harus menyuapi papi makan, memberikan obat, dan mengganti pampers. Namun saya diteguhkan dengan Injil Matius 25:40, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Ya, di situ saya belajar melihat Yesus dalam diri sesama terutama mereka yang lemah dan tak berdaya. Tuhan begitu baik hati-Nya mengizinkan kami merawat Dia sendiri dalam diri papi. Sehingga selelah apapun saya, saya selalu rindu untuk segera pulang ke rumah bertemu papi dan mengurusnya.
Perkembangan papi pun semakin baik. Dia mulai lepas dari selang oksigen, sonde dan kateter. Dia sudah bisa sedikit-sedikit mengkonsumsi roti, biskuit, es krim, dan belajar memakai topi, mengalungkan Rosario, melipat selimut, dan mengerti perintah untuk menggerakan kaki atau tangan kirinya. Sungguh bersyukur karena kami tidak menyangka bahwa akan ada perkembangan seperti ini. Walalu papi tidak bisa bicara, tapi dia berusaha untuk terus menggumam. Mungkin dia berusaha sedemikian rupa untuk bicara. Namun apa daya, dia tidak bisa.
Selasa, 28 Maret 2017. Saat itu saya sedang mengikuti Misa Acies (Misa Pembaharuan Janji Legioner kepada Bunda Maria yang bunyi janjinya adalah “Aku adalah milikmu ya Ratu dan Bundaku dan segala milikku adalah kepunyaanmu”). Begitu selesai Misa, saya ditelpon oleh mami dan bilang bahwa papi kejang-kejang dan dilarikan ke rumah sakit. Aduh, ada apa lagi ini Tuhan? Saya langsung bergegas pulang dan dalam perjalanan ke rumah sakit ada teman yang mengirimkan pesan whatsapp kepada saya, begini bunyinya “Percayalah, HatiNya sungguh amat baik.” Kata-kata itu sungguh menguatkan karena saya hampir tergoda untuk protes lagi sama Tuhan seperti tahun lalu. Misa Acies pun meneguhkan saya bahwa apapun yang saya alami, Bunda Maria selalu setia mendampingi seperti Bunda yang mendampingi Yesus di jalan salibNya. Papipun masuk ICU lagi dan tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Kali ini saya lebih tenang dan mempercayakan papi sepenuhnya pada Kerahiman dan Belas Kasihan Tuhan serta penyertaan Bunda Maria.
Seperti tahun lalu, ada begitu banyak yang memperhatikan dan mendoakan papi. Tuhan sungguh Immanuel. Selama kurang lebih 10 hari di RS, papi boleh pulang. Namun, kondisi papi agak menurun, ia semakin sulit menerima perintah, ia tidak tahu bagaimana cara mengalungkan Rosario dan ia juga bingung caranya memakai topi. Kecewa meliputi perasaan saya. Tapi bukankah semua yang terjadi adalah seturut kehendak-Nya? Saya memutuskan untuk mensyukuri bahwa papi setidaknya masih bisa bertahan hidup.
Maka kami mulai lagi dari awal, dengan mengajarkan cara memakai topi, mengalungkan Rosario, memegang sendok (semua dengan tangan kirinya) dan mengangkat kaki kirinya. Kami bersemangat dan optimis menjalani hal itu karena terkadang papi suka hadir dalam mimpi kami. Dalam mimpi, saya melihat dia sedang berusaha untuk menggerakkan kedua tangannya atau berusaha untuk berjalan. Dalam mimpi juga, papi “curhat” kepada adik saya dan bilang, “Aduh padahal papi kan udah lumayan yah sekarang susah lagi deh.” Bahagia campur sedih mendengarnya. Bahagia karena papi menunjukkan bahwa ia juga masih berusaha untuk sembuh, namun sedih karena papi sadar akan kondisinya. Meskipun dalam keadaan sakit, papi tetap menginspirasi kami untuk berjuang mengusahakan yang terbaik dan membungkus usaha kami dengan doa yang tak pernah putus dipanjatkan.
Terhitung mulai Mei 2017 sampai dengan sekarang, papi juga menerima Komuni Kudus melalui ibadat untuk orang sakit setiap hari karena kebetulan mami adalah prodiakon yang baru saja dilantik tahun 2016. Sungguh rahmat yang luar biasa bahwa papi bisa menerima Tubuh Kristus setiap hari. Ini semua hanya karena kebaikan dan kerahimanNya. Kami percaya bahwa Yesus sendirilah yang menjadi kekuatan, penghiburan, semangat, dan suka cita bagi papi.
Sampai sekarang, papi memang belum bisa bicara, berdiri ataupun berjalan namun proses yang kami lalui dalam merawat papi itulah yang justru yang membuat kami semakin mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi melalui perkembangan diri papi. Kegiatan pribadi kami pun terbatas karena harus menjaga papi di rumah tapi di situ saya belajar bahwa keluarga adalah Gereja terkecil yang kita miliki dan yang harus kita layani. Memang ini adalah salib yang harus kami pikul dan kami memikulnya tidak sendirian melainkan bersama Dia yang memberi kekuatan.
Kita punya Allah yang besar dan Dia hidup. Dia mencintai saya dengan caraNya yang ajaib. Dia membentuk saya melalui pengalaman yang tidak mudah untuk dilalui namun cintaNya selalu menyertai. Selamanya, saya akan mensyukuri hal ini. Keadaan yang papi alami adalah rejeki dan berkat dari Tuhan untuk papi sebagai individu dan kami sebagai keluarga. Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang begitu setia hadir dalam apapun kondisi pergumulan hidup saya dan keluarga. Di saat saya begitu dengan egoisnya “hitung-hitungan” sama Tuhan, Dia malah mengutus orang-orang untuk memperhatikan dan mendukung kami melalui salah satu hal tersulit dalam perjalanan hidup kami. Di saat saya kecewa dan marah padaNya, Dia malah mengutus teman-teman yang begitu setia mengunjungi dan mendoakan.
Dalam kesempatan ini ijinkanlah saya mengucapkan Terima kasih yang luar biasa untuk teman-teman di Legio Mariae, OMK, Misdinar, Lektor, ASAK, KMS, KEP, PDKK, Kerahiman Ilahi, Misdinar, Prodiakon dan Para Imam yang menjadi saksi pergumulan hidup kami. You know who you are. Terima kasih karena telah menjadi malaikat-malaikatNya yang tak bersayap. Tahukah kalian bahwa papi dan kami bisa bertahan karena dukungan, bantuan dan perhatian dari kalian semua ?
Untuk keluarga saya, terima kasih kepada mami saya yang menginspirasi bahwa Cinta Sejati itu masih ada. Dia memegang teguh janji perkawinan yang mau setia dalam untung dan malang, sehat ataupun sakit. Mami begitu setia dan penuh suka cita merawat suaminya. Ke manapun dia pergi, dia akan selalu memikirkan apakah papi sudah makan atau belum? Sudah minum juice? Apakah makanan dan sayur buat papi sudah siap? Hatinya selalu ada di rumah bersama suaminya meski fisiknya tidak ada di rumah. Untuk kakak saya, terima kasih karena telah menjadi kakak sulung yang rela berkorban untuk cuti ataupun pulang lebih cepat untuk mengantar papi ke dokter. Di tengah kesibukannya di kantor dan mengurus rumah tangganya sendiri, dia selalu menyempatkan diri datang ke rumah untuk membantu mengurus papi. Terima kasih pula kepada kakak ipar saya yang mau mengurus papi seperti mengurus ayahnya sendiri. Dan juga untuk adik saya, dia menginspirasi saya untuk merawat papi dengan kesabaran dan kelembutan. Dia bilang bahwa kita harus menempatkan diri di posisi papi sehingga kita bisa merawat papi dengan penuh kasih.
Audrey dan keluarga
Sebetulnya, satu hari sebelum papi stroke yang ke-3, ketika kami sedang ngopi, saya menyampaikan bahwa ada seorang teman yang bertanya, apa yang papi peroleh dengan berziarah dan jalan salib di Gua Maria Sawer Rahmat, Kuningan setiap bulan padahal kondisi fisiknya (terutama kaki kirinya) yang lemah dan tidak begitu baik karena stroke ke-2 sebelumnya. Lalu begini jawab papi, “Papi gak dapet apa-apa dengan pergi ziarah setiap bulan. Masa mau hitung-hitungan sama Tuhan? Kan Tuhan udah kasih semuanya buat kita. Walaupun papi susah jalannya tapi papi mau ziarah dan jalan salib karena papi mau ikut jalan salibNya Yesus. “
Saya tidak tahu kapan atau apakah papi bisa bicara seperti dulu lagi atau tidak. Tapi, yang pasti saya akan selalu mengingat kata-katanya yang meneguhkan untuk mau setia ikut jalan salibNya Yesus dalam kondisi apapun. Tuhan membuat saya jatuh cinta padaNya semakin dalam. Saya tak paham rancangan karyaNya untuk kami, namun saya percaya Hati-Nya sungguh amat baik.
Audrey Isabella adalah legioner di Presidium Regina Coelorum, Paroki Santo Thomas Rasul – Bojong Indah, yang tergabung dalam Kuria Maria Bunda Kaum Beriman , Komisium Maria Immaculata – Jakarta Barat 2. Saat ini menjabat sebagai wakil ketua Senatus Bejana Rohani, periode Juni 2017 – Mei 2020.
Dibawakan oleh RD. Antonius Didit Soepartono (Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani)
Bacaan Rohani : Buku Pegangan Bab 5 point 7 halaman 25 tentang “Membawa Maria Kepada Dunia“.
Alokusio :
Devosi kepada Maria membuahkan mukjijat-mukjizat.
Yang terpenting devosi ini membawa Maria kepada dunia, Apa artinya? Kita harus mencintai Maria sepenuh hati dan melibatkan semua orang dalam cinta pada Maria.
Legio Maria sebagai organisasi yg didasarkan atas kepercayaan tanpa batas pada Maria seperti
anak kecil pada ibunya.
Legio Maria tidak merasa sombong meskipun memiliki banyak talenta dan kemampuan untuk
pelayanan kita.
Tugas abadi Legio adalah menghancurkan kepala ular, termasuk iblis yang menguasai hidup kita.
Atas nama Konsilium, saya sampaikan salam hangat untuk Pemimpin Rohani, Ketua, Semua Perwira Senatus dan semua anggota Dewan Senatus.
Pada Rapat Konsilium bulan September, banyak sekali hadirin yang hadir termasuk Romo Bede McGregor OP, Pemimpin Rohani Konsilium, 3 orang Pastor dari Zambia, 43 orang Legioner dari Korea Selatan, 6 orang dari Mumbai, India, dan kemudian bersama berkunjung ke Knock Shrine.
Bacaan Rohani diambil dari Buku Pegangan bab 16 – Keanggotaan Tambahan ; poin n (hal 111) dari sub bagian berjudul “Pandangan Umum dalam Kaitannya dengan Kedua Tingkatan Keanggotaan Auksilier” (hal 107) ; bagian ini berhubungan dengan “Devosi Sejati kepada Perawan yang Terberkati” untuk para auksilier.
Untuk memperingati Ulang Tahun Legio Maria ke-96, Misa Konselebrasi dan Jam Suci dengan Doa untuk Sakramen Yang Terberkati diadakan di Gereja St. Nicholas di Myra. Jam Suci dibawakan oleh Frater Vito yang sedang menyiapkan tahbisan imamnya. Sesudah itu, ada hidangan ringan teh untuk ramah tamah.
Pada Konferensi Orang Muda Katolik baru-baru ini di Irlandia, partisipan yang hadir 270 orang (kelompok umur 18-40 tahun) – baik juga.
Seperti biasa, ada banyak laporan-laporan menarik dari berbagai belahan dunia. Laporan dari India mengindikasikan bahwa jumlah rata-rata anggota dalam presidium adalah 16 orang dan banyak tugas legio baik yang telah dikerjakan – seperti sejumlah kasus bunuh diri yang berhasil dicegah, kunjungan ke penjara-penjara dan panti-panti asuhan, doa Rosario juga dipromosikan dan banyak presidium-presidium yunior.
Saya dengan senang hati telah menerima laporan terjemahan Notulensi Senatus di bulan Juli dan Agustus 2017 dari Saudara Erwin. Saya yakin legioner yang setia menghadiri rapat presidium dan melaksanakan tugas legio yang diberikan kepada mereka pada saat rapat legio akan diberikan rahmat dan berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya mengerti bahwa kunjugan ke presidium dan dewan-dewan tetap dijalankan. Ini adalah tugas penting karena berarti kita dapat mendeteksi berbagai kesalahan yang memerlukan koreksi. Setiap kesalahan yang serius harus dilaporkan kepada perwira Senatus. Adalah hal yang penting bahwa semua perwira presidium dan kuria membaca dan mempelajari buku pegangan Legio – semua bagiannya – sehingga mempunyai pengetahuan yang baik mengenai sistem Legio dan dapat menghindari kesalahan.
Sekali lagi, Saya berterima kasih kepada semua perwira Senatus dan seluruh anggota untuk kesetiaan dan dedikasi mereka. Semoga berkat dan rahmat Allah beserta kita semua.
“Rosario adalah senjata ampuh untuk mengusir setan-setan dan menjaga diri dari dosa … Jika Anda menginginkan kedamaian di dalam hati Anda, di rumah Anda, dan di negara Anda, berkumpullah setiap malam untuk mendoakan Rosario. Jangan sampai satu hari pun berlalu tanpa Anda mendoakannya, betapa pun Anda merasa terbeban dengan banyaknya persoalan dan kerja keras”
– Pope Pius XI
Kita hidup di zaman modern yang memilki begitu banyak tantangan dan krisis, termasuk juga krisis iman. Banyak keluarga Katolik pun mengalami keputusasaan dan kekhawatiran yang menggoyahkan iman. Akan tetapi, walaupun tantangan itu begitu kuat, kita diberikan senjata oleh Allah Bapa melalui peran Bunda Maria dalam doa Rosario Suci. Doa Rosario adalah “ringkasan Injil”, karena di dalamnya dirangkai dan direnungkan sejarah keselamatan yang dipaparkan dalam Injil.
Kekuatan doa Rosario sangat luar biasa. Banyak keajaiban yang tak terhitung jumlahnya, serta kemenangan iman yang telah diperoleh dan menjadi sumber rahmat bagi Gereja Katolik. Sangat sayang jika umat enggan mendoakannya karena doanya yang panjang, padahal rahmat sangat melimpah di balik doa yang memang memiliki unsur meditatif ini.
Sejarah diadakannya bulan Rosario di bulan Oktober berawal dari kemenangan militer yang didapat dalam pertempuran Lepanto saat itu, negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman, sehingga agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Paus Pius V memerintahkan umat Katolik untuk berdoa rosario untuk memohon dukungan doa Bunda Maria. Perintah ini dilakukan oleh Don Juan (John) dari Austria, komandan armada dan oleh umat Katolik di seluruh Eropa. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario tanpa henti dari subuh hingga petang di Basilik Santa Maria Maggiore. Walaupun tampak mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut.
Pertempuran Lepanto, 7 Oktober 1571
Doa Rosario sendiri terbentuk setahap semi setahap. Digunakannya ‘butir-butir’ sebagai alat bantu doa juga merupakan tradisi sejak jaman Gereja awal, atau bahkan sebelumnya. Pada abad pertengahan, butir-butir ini dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria di biara-biara. Tradisi mengatakan bahwa St. Dominic (1221) adalah santo yang menyebarkan doa rosario, seperti yang kita kenal sekarang. Ia berkhotbah tentang rosario ini pada pelayanannya di antara para Albigensian yang tidak mempercayai misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, tujuan utama pendarasan doa rosario adalah untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus.
Tak terhitung banyaknya penampakan Bunda Maria yang menyerukan keluarga-keluarga untuk berdoa Rosario sebagai senjata dalam mengalahkan si jahat, untuk kedamaian dunia, dan untuk berperang melawan kelemahan. Kita harus berdoa dan berpuasa dengan iman yang hidup dan keyakinan yang kuat – dan tidak ada cara yang lebih baik untuk melakukan ini daripada dengan berdoa Rosario Kudus, mati raga, Ekaristi Suci, pengakuan dosa, dan membaca Kitab Suci (sumber: intisari perkataan Bunda Maria dalam penampakannya di Fatima).
Melalui doa Rosario, kita merenungkan seluruh peristiwa kehidupan Yesus Kristus bersama-sama dengan Allah Tritunggal Maha Kudus dan Bunda Maria serta para malaikat surgawi. Ada doa Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan sebagai doa minimal yang diucapkan dan menjadi mahkota mawar yang dipersembahkan bagi Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Rangkaian mawar yang terangkai setiap kali kita berdoa Rosario ini didapat dari vision Santo Dominikus.
Jadi, marilah kita belajar untuk berdoa Rosario bersama-sama maupun secara pribadi. Tidak ada kerugian apapun yang kita dapatkan untuk mendoakan Rosario, yang ada hanya rahmat dan pertolongan Tuhan dan Bunda Maria untuk iman dan hidup kita. Ave Maria.
(Cindy Permana; dari berbagai sumber)
Sesilia Cindy Permana adalah legioner dari Presidium Bunda Gereja, Kuria Teladan Kaum Beriman Grogol – Komisium Maria Immaculata Jakarta Barat II. Pernah menjabat sebagai Sekretaris 2 Senatus Bejana Rohani periode 2014-2015.
Setiap tahun pada tanggal 8 September, Gereja Katolik Roma merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Seturut sejarah, mulanya pesta ini dirayakan di lingkungan Gereja Timur berdasarkan ilham dari tulisan-tulisan apokrif pada abad ke–6 dan pada akhir abad ke–7 pesta ini diterima dan dirayakan di dalam Gereja Barat Roma. Perayaan ini mengungkapkan iman Gereja akan kehadiran Santa Perawan Maria dalam pentas karya keselamatan manusia oleh Allah. Pesta ini menjadi penting di dalam Gereja karena melalui kelahiran Bunda Maria-lah sejarah keselamatan itu dimulai. Dengan kelahirannya, Santa Perawan Maria mempersiapkan hadirnya Yesus, Sang Juru Selamat. Ia adalah tabut perjanjian baru yang dari padanyalah, Sang Juru Selamat dikandung, dilahirkan dan dibesarkan.
Kelahiran Santa Perawan Maria dalam sejarah keselamatan sesungguhnya telah diamanatkan oleh Allah sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Oleh sebab itu, ia juga sering disebut sebagai Hawa baru. Hawa yang lama membawa manusia jatuh ke dalam dosa tetapi Hawa yang baru membimbing manusia kepada keselamatan. Hadirnya Hawa baru ini telah diwartakan oleh para nabi dari zaman ke zaman dan dari masa ke masa. Inilah janji keselamatan yang dimaklumkan oleh Allah bagi manusia ciptaanNya.
Nabi Yesaya (Yes 7:10-25) dalam pemberitaan mengenai Imanuel, mengatakan kepada Raja Ahas, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Sebutan perempuan muda atau parthenos dialamatkan pada sosok yang hadir dalam diri Santa Perawan Maria. Dari rahimnyalah dikandung dan dilahirkan Immanuel sebagai Juruselamat. Dia berasal dari turunan Daud, sebab tampuk kekuasaan Israel tidak pernah berpindah dari keturunan Daud sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah sendiri (Bdk. 1 Raj. 2:4). Maka dari itu Santa Perawan Maria adalah sosok yang dipilih oleh Allah untuk memulai rencana besar-Nya dalam menyelamatkan manusia.
Kelahiran Santa Perawan Maria tidak dikisahkan dalam kitab-kitab suci. Di dalam teks aprokrif (Protoevangelium Yakobus) ditemukan bahwa, Santa Perawan Maria dilahirkan dari pasangan suami-istri Santo Yoakim dan Santa Anne. Dalam keluarga inilah, ia dididik dan dibesarkan sebagai orang yang beriman hingga tumbuh menjadi seorang wanita dewasa dan kemudian diambil oleh Yosef sebagai istrinya. Bersama dengan Santu Yosef, mereka membesarkan Tuhan Yesus dengan penuh cinta dan menjadikan keluarga mereka sebagai Keluarga Kudus Nazareth. Bahkan dengan iman yang teguh Bunda Maria menerima setiap peristiwa yang dialami oleh puteranya Yesus mulai dari penerimaan Kabar Gembira hingga pada peristiwa di puncak Kalvari ketika ia harus memangku tubuh puteranya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Kehadiran Santa Perawan Maria dalam proyek keselamatan Allah sesungguhnya telah direncanakan sejak awal mula oleh Allah, maka kelahirannya merupakan takdir dan rencana Allah sendiri. Ia adalah wanita pilihan Allah yang telah disucikan sejak awal ia dikandung, maka perkandungannya sendiri disebut sebagai Dikandung Tanpa Noda Dosa. Allah sungguh menyiapkan Santa Perawan Maria sebagai Bejana Rohani bagi diamnya PutraNya sendiri yakni Yesus Kristus.
Moment kelahiran Santa Perawan Maria yang diperingati oleh Gereja pada tanggal 8 September ini, mengajak segenap anggota Gereja untuk melihat kembali sejarah keselamatan manusia oleh Allah yang terlaksana berkat penyerahan diri yang total dari Bunda Maria. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka kutuk Allah bagi Hawa lama yang dibinasakan oleh dosa serta maut dan mendatangkan keselamatan melalui peristiwa keselamatan melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka harapan baru bagi manusia untuk mengalami kembali belas kasih Allah, sebab Immanuel yang dikandungnya mengungkapkan kehadiran Allah dalam hidup manusia. Bunda Maria adalah jawaban atas kerinduan umat manusia yang berlangsung dari abad ke abad untuk melihat karya keselamatan yang dikerjakan oleh Allah bagi manusia. Maka peristiwa kelahiran Santa Perawan Maria merupakan tabir baru yang menyingkapkan janji-janji Allah akan datangnya Sang Juruselamat. Di sini Gereja diajak untuk menghormati Santa Perawan Maria sebagai wanita pilihan Allah yang telah dipersiapkan sejak awal mula untuk mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Juruselamat umat manusia.
RD Moses Watan Boro adalah Pastor Keuskupan Larantuka yang kini tengah menempuh studi Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Beliau juga bertugas sebagai Pastor Mahasiswa di kampus tersebut dan membantu di Paroki Maria Bunda Karmel Meruya.
Disampaikan pada Misa Tahunan Senatus dan Perayaan 50 tahun Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Keuskupan Bandung, 2 September 2017
Saat ini dunia kita penuh dengan semangat pamrih, apa-apa ada harganya dan selalu ada tuntutan timbal balik; “ada udang di balik batu”, atau legioner sering berkata “ada daging di balik nasi”. Semangat pamrih itu juga ternyata sudah merasuki kehidupan keagamaan; dalam doa dan pelayanan. Seperti kata sebuah pepatah yang terenal “do ut des” : “memberi supaya mendapatkan”. Kita lalu sering mempertanyakan “Apa untungnya melakukan pelayanan ini?”, “Aapa manfaatnya menjadi legioner?”
Kita perlu mengingat kembali bahwa kelahiran Yesus terjadi karena ada orang-orang seperti Yusuf dan Maria yang tulus dan tanpa pamrih. Mereka menyadari kehidupan sebagai berkat dan rahmat yang ia peroleh dengan cuma-cuma, maka hidup mereka dipersembahkan kepada Allah dan sesama juga dengan cuma-cuma.
Memang saat ini sulit sekali mencari orang yang tulus. Bahkan kita cenderung memandang orang yang tulus sebagai orang yang “terlalu bodoh”. Ada sebuah kisah tentang seorang pengusaha yang ditipu oleh temannya hingga hartanya habis dan ia tak punya dana lagi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ia kemudian mencoba menjual tanahnya yang berada di Yogyakarta. Di stasiun, ia bertemu seorang bapak yang mengaku kecopetan dan tak punya uang lagi untuk membeli tiket kereta menuju Surabaya. Meskipun ragu dan khawatir ditipu, pengusaha itu akhirnya memberikan uang terakhirnya sebesar Rp. 200.000 yang awalnya hendak ia gunakan untuk membeli tiket kereta pulang dari Yogyakarta. Bapak yang kecopetan itu berjanji akan mengembalikan uang itu dengan cara transfer hingga ia memaksa meminta nomor rekening si pengusaha. Si pengusaha memberikan nomor rekeningnya, meskipun ia tak percaya uang itu akan dikembalikan. Dalam hatinya ia merasa bahwa ia telah ditipu oleh si bapak.
Di Yogyakarta, ia tak berhasil menjual tanahnya dan terpaksa meminjam uang dari saudaranya untuk membeli tiket pulang. Beberapa hari setelah pulang, ia ke ATM untuk mengambil sedikit uang. Namun betapa terkejut dirinya ketika ia mendapati saldo rekeningnya bertambah sebanyak Rp. 20.000.000.
Apa makna dari cerita ini? Apakah seorang yang tulus selalu berakhir tragis? Orang yang tulus di hadapan Tuhan akan dibela oleh Tuhan. Mungkin ia dipermainkan, mungkin ia ditipu, tapi Tuhan pasti akan setia membelanya.
Ingatlah pepatah ini “Biarpun kurus yang penting tulus tak punya modus”. Yusuf seorang yang tulus, yang menyadari hidupnya sebagai berkat dari Allah, maka ia menjalaninya tanpa keluhan, tanpa tuntutan, tanpa minta kompensasi, dan tanpa bertanya haknya. Hidupnya dipahami sebagai titipan dan hak Allah, maka jika Allah menghendaki hidupnya harus dipersembahkan kepada Allah, maka ia akan mempersembahkannya.
Ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria telah mengandung, mungkin ia merasa jengkel, sakit hati, dan berpikir bahwa Maria telah menyeleweng. Ketika itu tak ada dalam sejarah bahwa ada seorang wanita mengandung dari Roh Kudus. Namun Yusuf terbuka pada rencana Ilahi. Ia lapang dada, pasrah, dan tulus, hingga ia tetap bisa tertidur nyenyak meskipun ia sedang penuh masalah, bahkan bisa bermimpi hingga malaikat bisa mendatanginya. Itulah sebabnya kini kita kenal patung “The Sleeping Joseph”.
Ia tidak menghendaki pembalasan. Ia berupaya mentaati kehendak Allah. Karena ketulusan serta kesetiaannya kepada Allah, Yusuf pantas dipasangkan; dan sepadan dengan Maria dalam kesucian untuk menjadi orang tua bagi Yesus. Orang yang tulus seperti Yusuf inilah yang layak menjadi legioner, yang menjadi partner Maria untuk melahirkan Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Ketulusan pula yang mengubah jalan hidup Maria ketika ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.”
Tulus seperti Yusuf dan penuh iman seperti Maria. Itulah legioner yang sejati. Legioner harus mau berkorban dan berlatih untuk menjadi kudus. Jangan hanya sekadar mau menjadi legioner sejati, tapi mari melatih diri sebagai partner Maria. Jadilah tulus seperti Yusuf dan rendah hati seperti Maria yang mau digerakkan oleh Roh Kudus untuk berjuang mencapai kesucian hidup. Orang yang tulus dan rendah hati memiliki komitmen kepda Allah dan Gereja, tidak diombang-ambing oleh perasaan. Apapun sikap orang kepadanya ia akan selalu tulus melayani sesama. Seperti keset yang bertuliskan “WELCOME”, seorang legioner sejati akan selalu berkata “WELCOME”atas apapun sikap orang kepadanya, meskipun ia harus diinjak-injak.
Marilah bersama Maria kita berkata, “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu. Tuhan selalu bersikap “WELCOME” kepada kita, maka marilah kita juga harus selalu bersikap “WELCOME” kepada sesama.
Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC adalah Uskup Keuskupan Bandung. Lahir di Bandung, 14 Februari 1968 dan ditahbiskan menjadi Uskup pada 25 Agustus 2014. Beliau pernah menjadi anggota Legio Maria di Paroki St. Odilia, Cicadas, Bandung.
Legio Maria bukan bukanlah kelompak persekutuan doa yang baru bagi saya, karena sejak kecil saya sudah diperkenalkan oleh teman-teman sebaya saya. Namun karena waktu itu jumlah anggota cewek lebih banyak dari pada cowok, maka saya hanya mengikuti beberapa kali pertemuan saja, dan selebihnya, fokus saya adalah putra-putri altar karena setiap anak yang sudah menerima komuni pertama wajib menjadi putra dan putri altar. Akhirnya kelompok Legio Maria tidak pernah saya ikuti lagi, bahkan hingga saya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Akan tetapi, setidaknya nyala api Legio Maria sudah ada dalam diri saya; ketertarikan untuk mengenal Maria melalui Legio Maria sudah tumbuh dalam diri saya, dan ketertarikan inilah yang kemudian mendorong saya untuk memasuki perjalanan spiritual bersama Bunda Maria melalui Legio Maria.
Usai menamatkan Sekolah Lanjutkan Tingkat Pertama di Lampung, saya melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Disanalah nyala api Legio Maria berkobar lagi serta memperoleh tempat dan situasi yang mendukung. Saya pun tanpa ragu mengikuti kelompok Legio Maria Presidium Rumah Kencana. Sebenarnya agak kurang tepat jika kelompok kami dikatakan sebagai presidium Legio karena tidak ada rapat mingguan rutin dan kami hanya mendoakan doa Tessera saja. Saya beryukur pada kakak-kakak kelas karena telah memperbolehkan saya ambil bagian dalam kelompok ini hingga saya dapat menumbuhkan kecintaan kepada Maria dengan lebih sungguh dan khusuk melalui pertemuan setiap dua minggu sekali. Dan memang betul, kecintaan saya pada bunda Maria semakin dalam. Hal ini ditampakkan dalam kesetiaan saya untuk mengikuti setiap pertemuan dan juga dalam mendoakan doa Rosario serta Tessera setiap malam sebelum tidur.
Saya tidak hanya aktif dalam pertemuan dan doa saja, tetapi juga dalam pertemuan ACIES. Setidaknya sudah tiga kali saya mengikuti pertemuan ACIES dan kegiatan lain yang dijalankan di sana. Kegiatan-kegiatan itu sungguh membantu saya untuk mengenal secara dekat tentang wajah Legio Maria di Keuskupan Agung Palembang dan menggali pengalaman menjadi Laskar Maria dari teman-teman lainnya. Perjumpaan itu memberikan saya banyak pengalaman dari mereka yang sudah lama menjadi legioner, dan untuk itu saya merasa diteguhkan untuk melayani Bunda Maria melalui kelompok ini.
Tentu omong kosong jika tidak ada tantangan dalam mengikuti Bunda melalui kelompok Legio Maria. Keterbatasan waktu adalah tantangan terbesar saya dalam mengikuti pertemuan doa ini. Kadang waktu doa itu bertabrakan dengan kegiatan sekolah, terutama pada masa-masa ujian, dimana saya kadang tidak bisa mengikuti pertemuan tersebut. Bukan karena saya tidak mencintai, tetapi saya punya tanggung jawab untuk memenuhi standar seminari. Jika saya tidak berhasil mencapainya saya akan diberi surat peringatan, atau bahkan jika terlalu parah saya akan diminta untuk tidak melanjutkan pendidikan saya di seminari. Menghadapai situasi ini, ketua kami pada waktu itu memutuskan untuk tidak mengadakan pertemuan pada saat musim ujian. Akan tetapi, doa dan kewajiban sebagai legioner tetap dijalankan secara pribadi. Dengan kebijakan tersebut, saya menjadi lebih tenang dalam menjalankan tugas Legio dan ujian saya.
Ketika saya masuk kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria (Sacrorum Cordium; SSCC), saya tidak lagi mengikuti kegiatan Legio, namun semangat dari Legio Maria tetap ada dan mewujud dalam tingkah laku serta doa saya. Saya tetap setia untuk mendoakan Tessera dan Rosario karena doa-doa tersebut telah menjadi bagian dari hidup saya, hingga ketika tidak didaraskan serasa ada yang kurang dalam hidup saya pada hari itu. Dalam suasana semacam inilah saya menghidupi semangat Legio Maria.
Semakin tumbuh besar dalam perjumpaan
Saya kemudian menempuh masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Sudah menjadi tradisi di seminari ini, salah satu dari frater TOP akan menjadi APR salah satu presidium Legio Maria, entah di seminari sendiri maupun di Paroki Santa Perawan Maria Katedral. Saya diminta untuk menjadi APR untuk presidium seminari Stella Maris Bogor yang ketika itu jumlah anggotanya cukup banyak. Tanpa berpikir panjang saya bersedia untuk mendampingi mereka. Alasan saya sederhana saja, karena menjadi anggota Legio Maria adalah cita-cita saya dan saya ingin terus melayani Bunda Maria melalui Legio Maria.
Sejak dipilih menjadi APR, saya berusaha untuk hadir dalam rapat presidium yang diadakan setiap hari Minggu malam. Sayang sekali, kadang tugas mendampingi Legio bertabrakan dengan tugas saya di gereja Katedral sehingga saya tidak bisa hadir atau hanya memperoleh bagian akhir dari doa saja. Bagi saya kehadiran itu penting sekali karena merupakan bentuk kecitaan dan perhatian pada Legio di seminari; dan bagi teman-teman di presidium seminari, mudah-mudahan kehadiranku yang terbatas menjadi tanda perhatian dan kesetiaan kepada mereka.
Jujur, menjadi APR bukanlah tugas yang mudah. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya akan Legio Maria. Di seminari menengah dan seminari tinggi saya tidak pernah mempelajari buku pegangan. Saya hanya belajar secara umum tentang spiritualitas Maria. Keterbatasan dalam pengalaman dan pengetahuan serta tuntutan telah mengarahkan saya untuk membaca buku pegangan. Sebenarnya tidak cukup hanya membaca saja melainkan juga harus bisa membahasakan dengan sederhana dan jelas kepada teman-teman legioner. Harapannya mereka dapat menangkap dan mampu menjalankannya dalam hidup keseharian mereka.
Menjadi APR Legio Maria bukan hanya soal kehadiran saja, tapi juga menjadi kakak sekaligus sahabat bagi mereka. Saya menjadi kakak, ketika saya yang lebih tua ini memberi mereka masukan bagaimana menjadi legioner yang sejati. Menjadi kakak juga berarti menjadi teladan bagi mereka. Kehidupan saya sebagai APR sekaligus sebagai formator bagi seminaris selalu menjadi sorotan. Ketika penampilan saya menunjukkan semangat Legio maka mereka akan meniru apa yang saya buat. Namun ketika tindakan saya mencerminkan yang sebaliknya maka saya akan menjadi batu sandungan bagi mereka. Maka saya dituntut untuk memberi teladan yang baik kepada mereka setiap saat.
Selain sebagai kakak yang menjadi pusat dan teladan mereka, saya juga belajar banyak nilai dari mereka semua. Salah satu nilai yang mereka berikan adalah nilai kesetiaan dan pengorbanan. Saya tahu betul hidup keseharian mereka sebagai seminaris karena saya mendampingi perjalanan hidup harian mereka yang padat dengan jadwal seminari mulai dari bangun pagi hingga malam hari; mulai dari hari Minggu hingga Minggu berikutnya. Ketika mereka memutuskan untuk bergabung dalam Legio Maria, mereka akan mengorbankan banyak hal. Lebih-lebih, mereka mengorbankan waktu dan kesenangan mereka. Seharusnya mereka bisa rekreasi dengan nonton TV atau belajar, namun mereka memilih untuk ikut rapat Legio. Juga ketika mereka mendapat giliran rosario berantai, mereka harus menyisihkan waktu khusus untuk berdoa. Pada hari Minggu, mereka harus mengorbankan waktu jalan-jalan mereka demi kegiatan Legio, meskipun memang tidak setiap Minggu.
Terhubung dalam doa
Tugas untuk menyalakan api Legio Maria tidak berhenti pada saat saya menyelesaikan masa TOP saya di Seminari Stella Maris Bogor. Tugas ini tetap dan terus saya jalankan dalam masa studi lanjut saya di Yogyakarta. Tentu kini saya menjaga api Legio Maria dengan model dan cara yang berbeda. Saya tidak lagi mengikuti kegiatan rutin Legio namun saya tetap mendoakan Tessera setiap hari. Dengan cara semacam ini, saya tetap menyatu dalam doa dengan teman-teman yang menjadi legioner dan saya tetap menjadi bagian dari mereka semua.
Ave Maria.
Fr. Thomas Waluyo, SSCC adalah Asisten Pemimpin Rohani Seminari Stella Maris Keuskupan Bogor, periode 2015-2016. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Kongregasi Sacrorum Cordium (SSCC) Yogyakarta.