Persekutuan Para Kudus

Sumber berita : panitia 100 tahun Legio Maria

Dalam rangka menyambut 100 tahun Legio Maria, Dewan Senatus Bejana Rohani dan panitia telah mempersiapkan acara Talkshow online sebagai salah satu rangkaian acara. Pada 21 November 2020, talkshow #3 telah berhasil dilaksanakan oleh Komisium Ratu Para Rasul – Jakarta Barat 1 dengan ditonton oleh ± 230 orang. Tema “Persekutuan Para Kudus” diangkat sesuai dengan liturgi Gereja Katolik yang memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus pada tanggal 1 November.

Talkshow dipandu oleh moderator, Sdri. Masro Intan Sinaga – legioner Presidium Cermin Kekudusan di Paroki Bunda Hati Kudus, Kemakmuran – Jakarta Barat. Dengan satu orang pembicara imam dan dua orang pembicara awam berikut ini.

  1. Pastor Agustinus Handoko HS, MSC– Ketua Tim Pembangunan Propinsialat MSC.
  2. Sdr. Fransiskus Junius Wijaya, OFS – APR Presidium Maria Tak Bernoda dan Presidium Pohon Sukacita di Paroki Santo Petrus dan Paulus, Mangga Besar – Jakarta Barat.
  3. Sdri. Lucia Wenehen – legioner Presidium Bunda Para Kudus di Paroki Kristus Salvator, Slipi – Jakarta Barat.

Bagi kebanyakan orang, persekutuan para kudus adalah para santo santa atau para biarawan – biarawati. Padahal persekutuan para kudus itu sebenarnya merupakan perkumpulan ‘kita’ semua yang sudah dibaptis menjadi anggota tubuh mistik Kristus dan percaya pada Yesus Kristus sebagai juru selamat.

Yesus Kristus merupakan kepala dari persekutuan ini. ‘Kita’ dalam konteks ini didefinisikan dalam tiga status berikut:

  1. Kita semua yang masih berjuang dan hidup di dunia.
  2. Mereka yang telah meninggal dan masih dalam proses pemurnian di api penyucian.
  3. Mereka yang sudah berbahagia di surga.

Walaupun kita yang masih berjuang di dunia ini sudah termasuk dalam persekutuan para kudus, bukan berarti kita dapat hidup dengan tidak baik. Kita tetap harus menjaga kekudusan itu dengan tetap berusaha agar hidup kita dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Yesus Kristus adalah kudus, Dia merupakan Injil yang Hidup atau kabar sukacita. Manusia dicipatakan menurut gambaran Allah, maka manusia dapat menjadi kudus apabila mampu menampakkan wajah Allah dalam setiap peran kehidupan di mana pun kita berada, baik dalam peran sebagai anak, orangtua, istri, suami, legioner, dsb. Jadi apapun peran atau profesi kita, kita sejak awal memang diajak untuk menjadi kudus. Menjadi kudus harus direalisasikan dalam hubungan yang harmonis dengan Allah dan juga dengan sesama.

Di tengah kehidupan saat ini, memang tidak mudah untuk menjadi kudus, namun itu bukan hal yang tidak mungkin. Mengusahakan kekudusan dapat dimulai dengan hal – hal sederhana dengan cinta yang besar dan tulus. Sebagai manusia biasa, apabila kita terjatuh maka coba selalu bangkit lagi untuk menjadi pribadi yang lebih baik/ kudus. Perjuangan ini tentunya dapat diperkuat dengan mengikuti komunitas di Gereja, salah satunya dengan bergabung dalam Legio Maria. Komunitas yang baik untuk kita adalah komunitas yang dapat membantu kita semakin bertumbuh dalam iman.

Selain itu, di masa kemajuan teknologi saat ini, salah satu jalan kekudusan adalah dengan bijaksana menggunakan internet. Kita dapat meneladani Beato Acutis yang memanfaatkan internet untuk menyebarkan kekudusan dengan membuat sebuah website mujizat Ekaristi dan ada banyak orang yang bertobat setelah membaca website ini. Atau dengan membuat status/ caption di media sosial yang isinya memberikan semangat/ajakan untuk melakukan hal positif.

Dalam talkshow ini, pembicara juga membahas mengenai: Mengapa umat Katolik menghormati Santo Santa atau memohon perantaraan doa dari mereka? Karya kekudusan apa yang dapat dilakukan oleh legioner selama masa pandemi ini? Mengapa umat Katolik mendoakan mereka yang berada di api penyucian? Bagaimana menyikapi umat agama lain yang ajarannya berbeda dengan Gereja Katolik dalam hal para kudus?

Selain itu, seperti hal nya dalam talkshow sebelumnya, talkshow ini juga disertai dengan live chat yang menerima berbagai pertanyaan dari para legioner. Beberapa pertanyaan yang diajukan sebagai berikut: Mengapa jiwa-jiwa di api penyucian tidak bisa menolong diri mereka sendiri dan mereka butuh didoakan? Pada kehidupan manusia zaman dulu saat belum mengenal agama, apakah mereka menjadi bagian dalam persekutuan para kudus? Bisakah kita langsung menjadi para kudus yang berbahagia di surga tanpa melalui api penyucian?

Hmm…banyak pertanyaannya menarik bukan? So, kalau kamu ingin tahu semua jawaban pertanyaan di atas, jangan lupa nonton talkshow #3 di channel Youtube Senatus Bejana Rohani yaaahh… See you on talkshow #4 tanggal 19 Desember 2020 !

Berita Konsilium Oktober 2020

Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan kehidupan manusia. Namun demikian, Legio Maria di mana pun berada, tetap berusaha untuk merasul. Berikut ini beberapa cerita dari para legioner di negara maju dan berkembang. Sumber : https://www.legionofmary.ie/


INDONESIA
Senatus Jakarta: Senatus telah mengusahakan keaktifan dan kehadiran para legioner secara online. Tercatat 100 orang menghadiri seminar online tentang “Laudato Si: Apa yang dapat dilakukan Legio Maria?” Misa Tahunan Senatus Jakarta juga disiarkan langsung pada 5 September dengan dihadiri oleh 500 orang pada awalnya dan kemudian dilihat oleh 2.000 orang.

Senatus Malang: Senatus telah kembali rapat tatap muka pada bulan Agustus 2020 tetapi beberapa presidium belum mulai rapat. Laporan yang diberikan menunjukkan adanya Kerasulan Legioner untuk para orang sakit. Patrisian dan rapat presidium untuk para auksilier juga diadakan. Presidium junior juga berhasil didirikan di sekolah.

Senatus Kupang: Dua anggota komisium dari Pulau Sumba Barat menghadiri rapat senatus di bulan Juli 2020 dan menyampaikan laporan dewan mereka.


SINGAPORE
Wakil Ketua Senatus yang baru telah terpilih dan aktivitas Legio Maria telah terdampak serius karena pandemi ini.


HONGKONG
Rapat Komisium terakhir dilaksanakan pada bulan Januari 2020. Para legioner telah bekerja sebagai penerima tamu dan dan pemeriksa suhu tubuh di gereja-gereja.


TAIWAN
Koresponden konsilium menerima surat dari legioner yang ditunjuk oleh Senatus Taiwan bahwa beberapa presidium masih melakukan rapat tetapi tidak dapat melakukan karya kerasulan selama pandemi ini.


KOREA
Senatus Seoul: Rapat senatus berhasil diadakan di bulan Mei, Juni dan Juli, tetapi rapat pada bulan Agustus dibatalkan, dan situasi di Korea saat ini sedang tidak pasti. Dewan Legio Maria dan presidium-presidium di bawahnya mengikuti jalan yang sama. Surat dari Ketua Senatus ke Konsilium pada bulan Juli memberikan banyak penjelasan. Kehadiran dewan-dewan di semua tingkatan terbatas hanya oleh Ketua saja. Rapat mingguan diadakan dengan menggunakan platform media sosial. Beberapa laporan tahunan termasuk dengan notulensinya menunjukkan bahwa pekerjaan kerasulan yang baik telah dilakukan. Kontak orangorang tetap dilakukan untuk menjadi seorang katekumen.

Senatus Gwangju: Rapat diadakan pada bulan Juni, Agustus, dan September. Banyak rapat mingguan yang diadakan melalui media sosial. Laporan dari dewan ke Senatus memberikan rincian karya kerasulan yang luas. Bahkan ada satu Komisium melaporkan berhasil membentuk 3 presidium selama masa pandemi.


JEPANG
Senatus Osaka:
Laporan Presidium menunjukkan ada berbagai karya kerasulan yang dilakukan oleh para anggota. Presidium Regina Apostolorum (Gereja Imaichi) memiliki 8 anggota dengan Pemimpin Rohani Romo Nan. Mereka mengunjungi para manula di rumah-rumah mereka dan pusat perawatan manula. Mereka telah menunjukkan komitmen besar dalam pekerjaan ini. Ada pasangan suami istri yang pernah dikunjungi oleh para Legioner ini – setelah beberapa waktu dibaptis saat Paskah. 4 orang peserta sekolah minggu yang diselenggarakan oleh Presidium Our Lady of Lourdes (Gereja Toyonaka) juga dibaptis saat Paskah. Presidium Hati Immaculata (Gereja Hirakata) yang didirikan pada tahun 1964, sekarang memiliki 7 orang anggota. Mereka menjalankan kegiatan “Udon Corner” pada Minggu pagi yang memberikan kesempatan untuk melakukan banyak kontak pribadi.

Kabar Senatus November 2020

This image has an empty alt attribute; its file name is Untitled-design-edited-300x169.jpg

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)


Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


BALIKPAPAN

Kuria Benteng Perdamaian – Dahor. Presidium di stasi St. Mikael ITCI memulai rapat online perdana di kuria ini. Walaupun belum semua presidium dapat mengadakan rapat online, namun pada Oktober 2020, rapat kuria online juga sudah terlaksana. Telah terbentuk 2 presidium baru di stasi St. Mikael ITCI yang akan disahkan setelah situasi pandemi usai. Legioner tetap berkarya di gereja dan Posyandu dengan pembatasan.


JAKARTA

Kuria Mater Christi – Jakarta Pusat 1. Rapat dewan dan presidium secara online sudah berhasil dilaksanakan. Namun persentase kehadiran masih rendah. Legioner di dewan ini berhasil aktif dan menjalin hubungan baik dengan masyarakat, sehingga secara tidak langsung legioner menampilkan identitas seorang Katolik.

Kuria Ratu Para Kudus – Jakarta Selatan 1. Walapun tidak seluruh presidium telah mengadakan rapat online, namun dewan ini sudah melaksanakan rapat kuria secara online. Pada akhir bulan Oktober 2020, dewan ini mengadakan misa ACIES online yang dihadiri oleh ± 60 orang legioner. Proses pembentukan presidium baru di Paroki Blok Q berhenti selama masa pandemi.

Keterbatasan Tidak Menghentikan Semangat

Sumber berita : Dewan Kuria Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah

Di masa pandemi ini, saat rapat tatap muka tidak dapat dilakukan seperti biasa, legioner didorong untuk melakukan rapat legio online. Kali ini tim redaksi e-Bulletin meliput aktivitas rapat online legioner di Pangkalan Bun.

Menarik perhatian karena di saat legioner di kota-kota besar banyak yang enggan untuk mengikuti atau mengadakan rapat legio secara online meskipun segala fasilitas sudah memadai, saudara-saudari legioner di Pangkalan Bun dan sekitarnya justru merindukan rapat legio di tengah keterbatasan fasilitas.

Terinspirasi dari rapat online Senatus di bulan Juni yang diikuti oleh Saudari Yanti – Ketua Kuria Santa Bunda Allah, Pangkalan Bun. Pada rapat ini, beliau mendengar bahwa Legio Maria di Kalimantan Timur dan di kota lain di luar pulau Jawa berhasil mengadakan rapat legio secara online. “Lalu mengapa Kuria Pangkalan Bun tidak mencobanya? Legioner di Kuria Pangkalan Bun juga rindu koq hadir rapat legio”, ucapnya. Saudari Yanti lalu berusaha memulai rapat online di presidiumnya sampai empat kali sebelum menerapkannya dalam rapat Kuria. Dalam rapat online kuria ini, para anggota berusaha mencari wifi yang baik walaupun harus berjalan atau bekendara jauh ke pastoran.

Kuria yang terdiri dari sembilan presidium senior dan tujuh presidium junior yang tersebar di tiga paroki ini akhirnya berhasil melaksanakan rapat online perdana pada tanggal 6 September 2020 di Paroki St. Yohanes Paulus II, Pangkalan Banteng. Tentunya setelah mendapat izin ruangan dan akses wifi dari Pastor Paroki yang juga adalah Pemimpin Rohani Presidium. Beliau juga hadir dalam rapat kuria online ini. Ada 15 legioner yang hadir, mereka dengan semangat ke pastoran paroki setempat untuk mendapat jaringan wifi yang baik sehingga dapat mengikuti rapat dengan lancar. Walaupun belum semua perwira presidium dapat hadir dalam rapat online ini, setidaknya semangat ini dapat dirasakan oleh seluruh legioner di Kuria Santa Bunda Allah.

Sekilas cerita sebelum pandemi : untuk rapat Kuria, sebagian perwira presidium harus saling menyewa dan menumpang mobil, lalu bersama-sama menempuh jarak selama sekitar tiga jam dengan jalanan yang tidak mulus.

Seluruh perjuangan ini dapat terwujud, pastinya tidak lepas dari dukungan dari keluarga masing-masing. Dukungan keluarga berupa pengertian, materi, waktu, dan keluarga yang mau mengajarkan legioner senior untuk menggunakan gadget sehingga dapat mengikuti rapat. Setelah rapat online selesai, mereka tidak langsung membubarkan diri, namun menginformasikan kepada Pastor mengenai tema 100 tahun Legio Maria dan rencana mengadakan seminar online. Setiap bulan, Kuria ini berupaya untuk mengadakan rapat secara rutin.

Jadi, bagaimana dengan kamu yang ada di kota besar dengan akses internet yang lancar? Sudahkah kamu berupaya rapat online dan rutin hadir rapat mingguan presidium? Di masa pandemi ini, saling bertemu walaupun hanya secara online, sungguh dapat menguatkan satu sama lain.

Anson Santoso

Aktif Di Lingkungan RT??? Kenapa Tidak?

Sumber berita : Dewan Kuria Mater Christi

Ibu Julieta, seorang legioner yang datang dari Filipina ke Indonesia pada saat usianya yang ke 30-an tahun. Beliau yang saat ini aktif di Kuria Mater Christi – Jakarta Pusat 1 bercerita bahwa saat itu terdapat gap antar umat beragama, bahkan di antara umat Kristiani sekalipun. Sambil mengenangnya, beliau mengatakan bahwa kondisi masyarakat zaman sekarang sudah lebih baik, khususnya di RT/ RW tempat tinggalnya. Beliau bersyukur karena warga yang berbeda agama dapat membaur. “Gap pasti selalu ada, namun dengan adanya gap itulah kita jadi dituntut untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan, termasuk perbedaan agama”, ujar Ibu Julieta.

Sekarang Ibu yang sudah berumur 68 tahun tersebut beraktivitas sebagai pensiunan, ibu rumah tangga, dan juga seorang legioner aktif. Di masyarakat, sebelum pandemi Ibu juga aktif di lingkungan tetangganya (RT/RW) dengan membantu pelaksanaan bakti sosial yang diadakan oleh pemerintah untuk keluarga pra sejahtera. Bakti sosial tersebut berupa pemeriksaan kesehatan para lansia (cek gula darah, asam urat, tensi darah, batuk-pilek) dan perkembangan balita. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Rabu di minggu ke-4. Dokter-dokter Puskesmas hadir dan biaya pemeriksaan ditanggung oleh pemerintah. Ibu juga aktif dalam kegiatan arisan di lingkungan tempat tinggalnya, berupa arisan dengan WKRI dan arisan dengan warga umum/ non-Katolik. Dengan pertemuan arisan yang rutin dilakukan setiap bulan ini, warga dapat saling bersilaturahmi dan hubungan baik terjalin. Karena dalam pertemuan tersebut akan diadakan kegiatan membuat kerajinan tangan dari bahan limbah rumah tangga (bungkus sachet kopi, dll), lomba masak, dan kegiatan lainnya.

Selain Ibu Julieta, di kuria ini juga ada legioner yang aktif dalam arisan RT yang beranggotakan 20 orang bapak-bapak. Dalam pertemuan arisan, mereka sering melakukan sharing mengenai iman Katolik. Bahkan susunan acara dalam rapat arisan tersebut disusun seperti halnya susunan rapat presidium. Sama seperti halnya kegiatan Ibu Julieta, perkumpulan arisan RT ini juga melakukan kerja bakti setiap beberapa bulan dan mengumpulkan botol plastik untuk dijual. Uang hasil penjualan tersebut digunakan untuk acara kebersamaan warga RT dan sekaligus menjadi kegiatan peduli lingkungan.

Maka teman-teman legioner, kita semua diajak untuk aktif. Bukan hanya di gereja tetapi juga di lingkungan tempat tinggal, seperti yang dilakukan oleh legioner di Kuria Mater Christi ini. Berinteraksi dan memiliki hubungan harmonis dengan warga non-Katolik merupakan salah satu bentuk tugas martiria. Mari mewartakan Injil melalui perbuatan dan perkataan kita, serta meneruskan cinta kasih Tuhan kepada semua orang di tengah keadaan dunia yang sering kali menjadikan agama sebagai tameng sebuah perpecahan.

Anson Santoso

2 November, Peringatan Arwah Orang Beriman

Dari berbagai sumber

Kemarin, kita memuliakan semua Orang Kudus dan berdoa memohon agar kita pun kelak bisa berbahagia bersama mereka di dalam Surga sambil memandang wajah Allah, Bapa kita.

Hari ini tepat tanggal 2 November kita mengenang saudara-saudara kita yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian. Bahkan seluruh bulan November ini kita khususkan untuk berdoa memohon kerahiman Allah atas mereka.

Apa sih Api Penyucian itu?

Menurut Katekismus Gereja Katolik, Api Penyucian adalah “suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian”.

Kenapa kita mengenang arwah orang– orang yang sudah meninggal?

Bagi umat Kristiani, saat kematian sesungguhnya merupakan peristiwa puncak kehidupan. Ada kebangkitan sesudah kematian. Hidup kita tidak lenyap, melainkan hanya diubah. Kita percaya bahwa sesudah pengembaraan di dunia ini selesai, kediaman abadi di surga sudah tersedia bagi kita. Kematian merupakan saat kita mempercayakan diri secara total kepada Kristus yang merupakan pokok pengharapan kita karena Dia akan mengantar kita pulang ke rumah Bapa.

Apa tujuan kita mengenang para arwah?

Atas dasar iman itu, maka kita memohon agar saudara-saudara yang telah meninggal dunia disucikan dari segala dosanya, dibebaskan dari segala hambatan dan noda, boleh menikmati kebahagiaan kekal bersama Allah Bapa, serta boleh bersamasama para kudus di surga memandang wajah Allah yang dirindukan.

Hari kenangan dan peringatan arwah ini pun sekaligus memberi penghiburan rohani bagi kita, yaitu bahwa kelak kita pun akan meninggal dunia dan berjumpa kembali dengan saudara-saudara yang telah mendahului kita. Lalu bersama Maria akan memuji dan memuliakan Allah dalam persekutuan semua orang kudus. Hidup atau mati, kita tetap milik Kristus.

Kenapa arwah orang beriman diperingati pada bulan November? Lalu kenapa dipilih tanggal 2 November?

Umat Kristiani telah berdoa bagi para saudara/ saudari mereka yang telah wafat sejak masa awal agama Kristen. Liturgi-liturgi awal dan teks tulisan di katakomba membuktikan adanya doa-doa bagi mereka yang telah meninggal dunia, meskipun ajaran detail dan teologi yang menjelaskan praktek ini baru dikeluarkan kemudian oleh Gereja di abad berikutnya. Mendoakan jiwa orang- orang yang sudah meninggal telah tercatat dalam 2 Makabe 12 : 41- 42. Di dalam kitab Perjanjian Baru tercatat bahwa St. Paulus berdoa bagi kawannya Onesiforus (lih. 2 Tim 1 : 18) yang telah meninggal dunia.

Hal ini menunjukkan bahwa jemaat Kristen perdana percaya bahwa doa- doa mereka dapat memberikan efek positif kepada jiwajiwa yang telah wafat tersebut. Kitab Perjanjian Baru secara implisit mengajarkan adanya masa pemurnian yang dialami umat beriman setelah kematian.

Secara tidak langsung Yesus mengajarkan bahwa ada dosa-dosa yang dapat diampuni setelah kehidupan di dunia ini, (lih. Mat 12 : 32) dan ini mengisyaratkan adanya tempat/ keadaan yang bukan surga karena di Surga tidak ada dosa; dan bukan pula neraka karena di neraka sudah tidak ada lagi pengampunan dosa. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita diselamatkan, “tetapi seolah melalui api” (1 Kor 3 : 15).

Pada abad awal, nama- nama jemaat yang wafat dituliskan di atas plakat. Di abad ke-6, komunitas Benediktin memperingati jiwajiwa mereka yang meninggal pada hari perayaan Pentakosta. Pada tahun 998, perayaan hari arwah menjadi peringatan universal di bawah pengaruh rahib Odilo dari Cluny. Ia menetapkan perayaan tahunan di rumah- rumah ordo Benediktin pada tanggal 2 November, yang kemudian menyebar. Sekarang Gereja Katolik merayakan Peringatan Arwah Orang Beriman pada tanggal 2 November, seperti juga gereja Anglikan dan sebagian gereja Lutheran.

Dari keterangan tersebut, tidak disebutkan mengapa dipilih bulan November dan bukan bulan- bulan yang lain. Namun jika kita melihat kalender liturgi Gereja, maka kita mengetahui bahwa bulan November merupakan akhir tahun liturgi, sebelum Gereja memasuki tahun liturgi yang baru pada masa Adven (sebelum merayakan Natal/ kelahiran Kristus).

Maka sebelum mempersiapkan kedatangan Kristus, kita diajak untuk merenungkan terlebih dahulu akan kehidupan sementara di dunia dan tentang akhir hidup kita kelak, agar pada akhirnya kita dapat bergabung dalam bilangan para kudus di Surga. Kita juga diajak untuk merenungkan makna kematian dengan mendoakan para saudara-saudari kita yang telah mendahului kita.

Tyas Apriyanto

1 November, Hari Raya Semua Orang Kudus

Sumber : www.katolisitas.org , www.imankatolik.or.id

Setiap tanggal 1 November, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Perayaan ini bertujuan untuk menghormati segenap anggota Gereja, yang oleh jemaat– jemaat perdana disebut dengan istilah “Persekutuan Para Kudus” yang berarti persekutuan semua orang yang telah mempercayakan dirinya kepada Yesus Kristus dan disucikan oleh Darah Anak Domba Allah. Secara khusus, kita juga memperingati sekumpulan besar orang yang berdiri di hadapan takhta Allah karena mereka telah memelihara imannya dengan baik sampai akhir hidupnya di dunia ini, sehingga memperoleh ganjaran besar di Surga, termasuk di antaranya adalah mereka yang telah dikanonisasikan atau diakui oleh Gereja sebagai Santo/ Santa, martir, dan orang kudus lainnya yang tidak/ belum dikenal.

Gereja Katolik mulai menghormati para Santo/ Santa dan martir sejak abad kedua melalui bukti catatan kemartiran St. Polycarpus di abad kedua yang berisikan seperti berikut : “Para Prajurit lalu,…. menempatkan jenazahnya [Polycarpus] di tengah api.

Selanjutnya, kami mengambil tulang-tulangnya, yang lebih berharga daripada permata yang paling indah dan lebih murni dari emas, dan menyimpannya di dalam tempat yang layak, sehingga setelah dikumpulkan, jika ada kesempatan, dengan suka cita dan kegembiraan, Tuhan akan memberikan kesempatan kepada kita untuk merayakan hari peringatan kemartirannya, baik untuk mengenang mereka yang telah menyelesaikan tugas mereka, maupun untuk pelatihan dan persiapan bagi mereka yang mengikuti jejak mereka.” (St. Polycarpus, Ch. XVIII, The body of Polycarp is burned, 156 AD).

Melalui peringatan Hari Raya Orang Kudus, kita diajak untuk mengenang serta meneladani cara hidup para kudus yang berbahagia di surga, mereka dengan setia mengorbankan hidupnya untuk beriman secara utuh kepada Kristus. Para kudus yang berbahagia di surga itu bersama Santa Perawan Maria mendoakan kita agar tekun dalam perjuangan. Mengenang para orang kudus dapat kita mulai dengan langkah sederhana yaitu mengenali dan menghidupi kisah hidup dari Santo/ Santa pelindung kita. Mari kita tetap setia dan beriman di dalam Kristus.

Kevin Fernando

Membawa Damai

Matius 5 : 1 – 12
Alukosio oleh PR RD Antonius Didit Soepartono – Rapat Senatus ke 396-H/ Tahun ke -33


Bacaan rohani mengenai Sabda Bahagia merupakan pelajaran cinta tertulis yang mudah disampaikan atau dibaca namun sulit untuk dilaksanakan. Satu dari sepuluh ungkapan sabda bahagia tersebut adalah “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anakanak Allah”. Membawa damai merupakan salah satu tugas kita bersama. Lalu apa yang dapat legioner lakukan untuk membawa damai terutama selama masa pandemi ini?

Yang pertama, pada 1 November, Gereja Katolik memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus. Mari kita meneladani kesetiaan para Santo – Santa pelindung.

Lalu yang kedua, kita menjalin hubungan baik dengan masyarakat, apalagi saat ini sering sekali timbul konflik yang menggunakan agama dan ras sebagai tameng.

Berikutnya, seluruh perwira Legio Maria mulai dari Senatus hingga Presidium diharapkan dapat semakin kreatif untuk memperkenalkan Legio Maria kepada kaum muda maupun para lansia. Kondisi pandemi saat ini memaksa kita untuk lebih banyak beraktivitas secara online. Dengan demikian, yang jauh bisa menjadi dekat. Teknologi ini jika dimanfaatkan dengan baik, maka dapat memperkaya kuantitas dan kualitas Legio Maria.

Dengan kemajuan teknologi dan kegiatan online ini, perwira harus mengupayakan seluruh informasi dapat tersampaikan secara lengkap dan jelas kepada seluruh legioner, serta seharusnya kehadiran legioner dapat meningkat.

Kemudian, sebagai legioner kita harus tetap mengupayakan kehadiran rapat dengan sungguh-sungguh walaupun hanya online dan berdoa dengan tekun.

Serta kita bisa merencanakan habitus dan kegiatan positif untuk menyambut usia ke 100 tahun Legio Maria pada September 2021. Memang tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan selama masa pandemi ini. Namun apabila kita fokus dan sungguh-sungguh pada beberapa hal saja, maka hasilnya akan luar biasa.

Yang terpenting adalah kita mau dengan sepenuh hati mencintai dan melihat apa yang Tuhan kehendaki selama masa pandemi dan di tengah keterbatasan ini.

Mari budayakan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjaga kesehatan, dan segala hal yang dapat kita lakukan untuk berjuang di tengah situasi pandemi ini. Mari menjadikan hal-hal ini sebagai gaya hidup, sehingga bukan hanya menjaga diri sendiri tetapi juga menjaga orang lain di sekitar kita. Tuhan memberkati. Ave Maria.

Jadilah Pelaksana, Bukan Pengatur

Sumber berita : panitia 100 tahun Legio Maria

Sabtu (24/10) malam yang lalu adalah salah satu malam minggu berfaedah bagi para legioner. Hari itu, Bapak Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap berkenan menjadi salah satu narasumber dalam sebuah acara talkshow online yang disiarkan langsung dari Medan, bersama dua orang pembicara awam Yustinus Sukisno sebagai legioner senior dan Yudith Kartini Sitohang sebagai legioner junior. Dimoderatori oleh Daniel Hutajulu, talkshow dengan tema “Fiat Voluntas Tua dalam Legio Maria” ini merupakan talkshow kedua dalam rangkaian kegiatan dari perayaan 100 tahun Legio Maria.

Fiat voluntas tua pasti sering didengar oleh mereka yang bergerak di dunia pelayanan. Bahkan kalimat ini menjadi tema perayaan 100 tahun Legio Maria di Indonesia. Terjemahan bebasnya kurang lebih berarti, “[aku ini hamba Tuhan,] terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Kalimat ini muncul dalam Injil Lukas, sebagai jawaban Maria atas tawaran keselamatan yang datang dari Allah
melalui kabar sukacita yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel.

Namun untuk dapat mengerti semangat dari kalimat itu, maka kita harus membaca ulang kisah kabar sukacita ini dari awal dan meresapi bagaimana respon Maria saat itu. Maria tidak bertanya “mengapa aku?”, melainkan bertanya “bagaimana hal itu dapat terjadi?”. Pertanyaan ini sesungguhnya mendahului kesediaan Maria akan kabar yang didengar Maria dari Malaikat Gabriel. Dan dengan menyatakan diri sebagai hamba Tuhan, Maria menyampaikan bahwa dirinya siap untuk melayani dan berserah penuh pada kehendak Tuhan. Lalu kemudian Maria dengan rendah hati mengharapkan agar
kebenaran itu dapat tergenapi, dengan kalimat penutup, “jadilah padaku menurut perkataanmu”.

Secara keseluruhan, Maria telah memberikan teladan kepada kita semua untuk selalu mencari kehendak Tuhan dalam doa-doa yang kita sampaikan pada Tuhan, dan bukan malah menyampaikan program-program kita pribadi untuk dikabulkan oleh Tuhan. Seorang hamba akan selalu siap sedia menerima perintah dan menjalankan tugas kendati beresiko membahayakan diri sendiri,
karena mengetahui bahwa Allah sudah mengatur semua hal.

Menjadi seorang legioner tidak melulu soal berdoa panjang-panjang seperti Rosario. Namun ada karya yang harus dilakukan, seperti kunjungan. Pada saat kunjungan inilah, kita tidak lagi menampilkan apa program kita kepada orang lain, melainkan mencari kehendak Tuhan untuk kita lakukan. Bersamaan dengan itu, kita membentuk karakter kita melalui penolakan-penolakan yang kita alami. Tidak mudah untuk menjadi seorang pelaksana yang baik, namun itulah yang harus kita lakukan.

Cara terbaik menularkan semangat adalah dengan teladan hidup. Dengan bertanya pada Tuhan apa yang Tuhan inginkan untuk saya lakukan, lalu melakukan
jawabannya dalam keseharian kita. Orang pasti akan bertanya apa yang menjadi sumber inspirasi kita, dan kita bisa menjawab Bunda Maria lah yang menjadi sumber inspirasi kita. Bunda Maria adalah teladan kita dalam hal beriman.

Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap

Sedikit bocoran, Bapak Uskup Medan juga pernah menjadi legioner. Bersama mas Yus dan Yudith, Bapak Uskup juga membagikan pengalamannya menjadi seorang legioner. So, pastikan dirimu menyimaknya melalui tautan link https://youtu.be/iaSVMXg4qxE, ya. Ave Maria.

Pecah Banget !!

Sumber berita : panitia 100 tahun Legio Maria

Yep, pecah banget!! Sebanyak 324 legioner mendaftarkan diri sebagai peserta kuis online Legio Maria, yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan perayaan 100 tahun Legio Maria. Mereka berasal dari Sabang sampai Merauke, dengan rentang usia yang beragam. Nggak cuma itu. Kuis online ini juga diikuti oleh legioner Indonesia yang berada di wilayah dewan Senatus Singapore, loh. Bedegh… pecah rekor nggak tuh?

Kuis serupa pernah diadakan bulan lalu oleh Komisium Maria Immaculata – Jakarta Barat 2 dan telah dimuat di E-Bulletin edisi September 2020. Masih sama, kuis Legio Maria ini masih mengajukan pertanyaan seputar Legio Maria, iman Katolik, dan pengetahuan kewarganegaraan secara umum. Media yang digunakan juga masih sama, aplikasi chat whatsapp. Niat panitia pun masih untuk menjaga persaudaraan di masa pandemi ini. Dan niat baik ini lah yang diberkati oleh Bunda Maria hingga bisa terlaksana dengan baik. Nih ya, kalau bukan karena berkat Bunda Maria, para peserta tuh nggak akan merasakan euphoria keseruan ini dari tempat masing-masing, padahal jelas-jelas beda waktu, beda jarak, dan beda usia. Nggak percaya? Cek halaman berikut yak. Ada titipan salam dari mereka ~

Terbagi secara acak ke dalam 16 kelompok yang berbeda, 324 legioner itu mengikuti segala tahap yang ada. Mulai dari tetiba diundang ke whatsapp grup beberapa hari sebelum hari H, hingga sabar nungguin pengumuman siapa aja yang lolos ke babak selanjutnya di hari Minggu (18/10) lalu. Meski kelihatannya nggak ada yang bertujuan untuk berkompetisi, tapi mereka mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin loh, sampe pada niat untuk bongkar catetan lama hingga buku pelajaran segala. Dan kerennya adalah, salah satu legioner dewan Senatus Singapore bahkan mencapai babak final. Begh… itu bukti bahwa berada di negri orang nggak lantas melupakan negara asalnya.

Serunya Bikin Nagih..!!

“Terima kasih atas undangan kuisnya. Lomba ini sangat bagus dan bermanfaat, karena bisa bertemu dengan peserta kuis se-Indonesia, sehingga bisa bertukar pikiran mengenai dewan legio masing-masing. Cocok banget jika setiap dewan bisa melakukan lomba begini secara berkala.” Sdr. Petrus, legioner Balikpapan – Kalimantan Timur

“Saya diingatkan untuk senantiasa memperbaharui dan membekali diri akan pengetahuan tentang Legio Maria dan kewarganegaraan. Saya juga menikmati dinamika dan antusias dari peserta lain. Semoga kegiatan ini dapat berlanjut di dewan masing-masing, sehingga legioner dirangkul untuk terus memperbaharui diri di masa seperti ini.” Sdr. Herdi, legioner Medan

Seneng, bangga gitu bisa berkenalan dengan legioner se Indonesia, bahkan hingga Singapore. Nggak nyangka banget bisa lolos ke babak dua, dan saya terharu karenanya.” Sdri. Caroline Kesya Putri Rahayu, legioner Batam

“Kuisnya bagus, ada manfaatnya. Mama saya sampe ikutan antusias untuk menjawab soal-soal yang ada. Semoga kuisnya bisa terus berlanjut dan nggak cuma kalau lagi ulang tahun legio aja.” Sdr. Antonius Cahyo Nugroho, legioner
Batam

“Biasanya membaca berkas legio ya baca saja, tetapi karena ada kuis ini jadi rajiiin banget buka-buka semua berkas yang sudah rapi tersusun di lemari. Semua bahan pelajaran bina iman pun kebaca juga. Kalau pun nggak menang, tapi saya jadi semangat membacanya.” Sdri. Irene, legioner Bekasi

“Kegiatan ini sangat luar biasa, seru, dan menegangkan karena waktu yang diberikan sangat singkat. Tapi bersyukur saya bisa ikut berpartisipasi dalam kuis online ini, walaupun apa yang sudah saya pelajari ada beberapa soal yang tidak keluar. Sungguh luar biasa.” Sdri. Prisca Renate Nadia Taek, legioner NTT

Tuh, euphoria-nya dapet banget kan? Sampe para pesertanya pada pengen diadakan lagi di dewan masing-masing. Kuy, mari kita menguduskan diri secara kreatif di masa pandemi ini.