Semakin Jatuh Cinta Pada Tuhan

Oleh Sdri. Audrey Isabella


Saya merasa harus menulis ini, hanya untuk bisa berbagi kebahagiaan karena diliputi rasa jatuh cinta yang luar biasa. Selain itu cerita adalah ungkapan syukur dan terima kasih saya atas kebaikan Tuhan lewat mereka yang hadir dalam hidup saya dan keluarga. Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi saya dan keluarga dalam merawat papi yang terkena stroke ke-3 pada April 2016 yang lalu.

Bpk. Yohanes Phoa Wie Keng, papi Audrey

Pagi hari di pertengahan bulan April 2016 itu, sulit rasanya melupakan suara kepanikan mami yang melihat papi jatuh tak berdaya di kamar mandi. Ia tidak bisa berdiri, bicara ataupun menggerakan anggota tubuhnya. Sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit terdekat papi sudah mendengkur, entah sudah berapa banyak doa Bapa Kami dan Salam Maria yang saya daraskan. Begitu tiba di rumah sakit, Papi langsung ditangani di UGD dan kami diberi tahu bahwa papi sudah gagal nafas. Saya, mami, kakak, kakak ipar dan adik saya hanya bisa mengelilinginya berdoa dan memohon belas kasihan Tuhan. Kami memohon agar papi bisa diberi kesempatan untuk bertahan hidup dan apapun kondisinya, kami akan terima. Lalu Tuhan dengan begitu baiknya, papi dinyatakan koma. Ya, saya nyatakan Dia begitu baik karena jika koma, tandanya papi masih diberi kesempatan untuk hidup meski kecil.

Lalu papi pun dimasukkan ke ICU. Saat itu sudah banyak teman, saudara dan tetangga yang datang karena mendengar tentang kabar papi. Kami keluarga dipanggil dan diberi tahu oleh dokter tentang kondisi papi bahwa ia stroke karena penyumbatan pembuluh darah di otak dan areanya sangat luas, yaitu 2/3 otak kirinya tersumbat. Kondisi ini bisa menyebabkan ia lumpuh dan sangat sulit untuk kembali ke kondisi normal, bahkan bisa berujung pada kematian. Sedih tak terbendung, hancur rasanya hati mendengar keterangan dokter.

Sore itu saya ikut Perayaan Ekaristi di Gereja, saya teringat Mazmur antar Bacaannya adalah “Tuhanlah Gembalaku, Tak’kan kekurangan Aku”. Sambil memandangi Salib, air mata terus jatuh membasahi pipi dan dalam hati bertanya :  “Tuhan kok tega?” Papi padahal sedang aktif-aktifnya melayani (entah ikut KEP, Bina Lanjut KEP, PDKK, dan KMS),  tiap bulan entah sendiri atau bersama rombongan pergi berziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat, Kuningan dan sepuluh hari sebelumnya menyatakan diri bersedia menjadi Auxilier (anggota pasif dalam Legio Mariae yang mendoakan Tesera dan Rosario setiap hari). Pikiran dan perasaan saya diliputi kekecewaan, kemarahan dan kebingungan kepada Tuhan. Saya tenggelam pada “Kalkulasi Pelayanan”  yang sudah kami berikan untuk Tuhan dan Gereja.  Hati saya mendua pada Perayaan Ekaristi saat itu, tidak sepenuhnya mensyukuri Perayaan Cinta Yesus yang memberikan diri sehabis-habisNya untuk Umat-Nya.

Malam itu kami semua tidur seadanya di Ruang Tunggu ICU. Saya tetap berdoa Tesera, Rosario, dan Koronka untuk papi, namun masih bercampur dengan perasaan kecewa dan kebingungan akan kondisi yang papi alami. Pokoknya Tuhan tega! Itu yang saya pikirkan.

Hari demi hari kami lalui di Ruang Tunggu ICU, begitu banyak teman, saudara, kenalan , dan bahkan yang kami tidak kenal sekali pun datang untuk mengunjungi papi ataupun memperhatikan keadaan kami. Bahkan di satu pagi ada tetangga yang datang untuk membawakan kami sarapan. Dia bilang “di luar hujan, nanti kalian repot cari makan, jadi saya datang membawakan kalian sarapan.” Tersentuh hati saya, kok mau pagi-pagi datang untuk membawakan  kami sarapan?” Belum lagi ada teman yang mengantarkan makan siang untuk kami dan malamnya kami menerima makanan dari orang-orang yang datang menjenguk. Setiap harinya, kami tidak pernah berhenti kedatangan teman, saudara, tetangga yang menjenguk, memperhatikan, dan mendoakan. Makanan yang kami terima berlimpah sehingga bisa kami bagikan dengan keluarga yang juga menunggu di ruang tunggu ICU. Belum lagi ada teman2 yang dengan inisiatifnya menggalang dana guna membantu meringankan biaya pengobatan.  Speechless saya jadinya. Dia ternyata betul-betul Immanuel, hadir dalam keadaan suka dan duka hidup saya melalui malaikat-malaikat tak bersayap yang Ia kirim.

Ketika saya berdoa pada suatu malam, saya teringat kembali bahwa satu minggu sebelum papi terkena stroke, tiba-tiba saya mendoakan ini dalam doa harian saya “Saya ingin mempersembahkan apa yang saya alami dengan Kurban Yesus sendiri di Kayu Salib”. Pada saat saya mendoakan hal itu, saya juga tidak tahu kenapa saya sampai bisa mengucapkan hal itu. Namun akhirnya saya sadar, Tuhan sedang mempersiapkan batin saya menghadapi hal ini. Seketika itu juga saya merasa luar biasa malu pada Tuhan. Ternyata saya masih menganggap relasi saya dengan Tuhan itu hubungan yang transaksional, atau do ut des. Hubungan timbal balik dan hubungan untung rugi. Saya berpikir bahwa Tuhan harus selalu memberikan saya yang baik-baik karena saya sudah begini dan begitu. Saya tidak bisa menahan air mata saya karena rasa malu sekaligus haru karena Tuhan memulihkan dan menyadarkan saya. Bukankah sebelumnya saya sendiri yang berdoa untuk mempersembahkan semua kepada Dia yang sudah memberi diri sehabis-habisnya di Kayu Salib karena Cinta-Nya kepada kita?

Pada hari yang ke-7, papi mulai sadar dan betul kata dokter, papi memang tidak bisa bicara, tidak bisa menggerakan bagian tubuh kanannya dan terkena Apasia Global (kehilangan kemampuan total untuk berbicara, menulis ataupun membaca). Sedih melihatnya namun bersyukur bahwa Papi boleh bertahan. Selama kurang lebih 46 hari di RS akhirnya awal Juni 2016 papi kembali ke rumah dan kami menggunakan jasa perawat selama kurang lebih 3 bulan  untuk membantu merawat papi. Saat itu papi masih menggunakan selang oksigen, sonde (selang makan), dan kateter. Adik papi juga turut membantu merawat papi selama beberapa bulan.

Setelah tidak lagi menggunakan jasa perawat dan adik papi, maka kamilah yang merawat papi sepenuhnya. Sebelum dan sesudah pulang kerja, kami bertiga (saya, kakak dan adik) mengurus papi dan mami yang merawat papi ketika kami di kantor. Kami pun mulai membatasi kegiatan dan aktivitas di luar rumah karena papi tidak boleh ditinggal sendirian, dia harus ditemani oleh minimal satu orang karena secara fisik, papi tergantung sepenuhnya akan bantuan orang lain. Di situ saya merasakan bahwa hubungan kekeluargaan semakin erat. Kami saling meneguhkan satu sama lain dalam menghadapi kondisi yang tidak mudah ini.

Secara manusiawi, kadang saya merasa lelah karena harus bangun lebih pagi untuk mennganti pampers ataupun mengukur suhu dan tekanan darah papi, dan setelah pulang kantor masih harus menyuapi papi makan, memberikan obat, dan mengganti pampers. Namun saya diteguhkan dengan Injil Matius 25:40, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Ya, di situ saya belajar melihat Yesus dalam diri sesama terutama mereka yang lemah dan tak berdaya.  Tuhan begitu baik hati-Nya mengizinkan kami merawat Dia sendiri dalam diri papi. Sehingga selelah apapun saya, saya selalu rindu untuk segera pulang ke rumah bertemu papi dan mengurusnya.

Perkembangan papi pun semakin baik. Dia mulai lepas dari selang oksigen, sonde dan kateter. Dia sudah bisa sedikit-sedikit mengkonsumsi roti, biskuit, es krim, dan belajar memakai topi, mengalungkan Rosario, melipat selimut, dan mengerti perintah untuk menggerakan kaki atau tangan kirinya. Sungguh bersyukur karena kami tidak menyangka bahwa akan ada perkembangan seperti ini. Walalu papi tidak bisa bicara, tapi dia berusaha untuk terus menggumam. Mungkin dia berusaha sedemikian rupa untuk bicara. Namun apa daya, dia tidak bisa.

Selasa, 28 Maret 2017. Saat itu saya sedang mengikuti Misa Acies (Misa Pembaharuan Janji Legioner kepada Bunda Maria yang bunyi janjinya adalah  “Aku adalah milikmu ya Ratu dan Bundaku dan segala milikku adalah kepunyaanmu”).  Begitu selesai Misa, saya ditelpon oleh mami dan bilang bahwa papi kejang-kejang dan dilarikan ke rumah sakit. Aduh, ada apa lagi ini Tuhan? Saya langsung bergegas pulang dan dalam perjalanan ke rumah sakit ada teman yang mengirimkan pesan whatsapp kepada saya, begini bunyinya “Percayalah, HatiNya sungguh amat baik.” Kata-kata itu sungguh menguatkan karena saya hampir tergoda untuk protes lagi sama Tuhan seperti tahun lalu. Misa Acies pun meneguhkan saya bahwa apapun yang saya alami, Bunda Maria selalu setia mendampingi seperti Bunda yang mendampingi Yesus di jalan salibNya. Papipun masuk ICU lagi dan tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Kali ini saya lebih tenang dan mempercayakan papi sepenuhnya pada Kerahiman dan Belas Kasihan Tuhan serta penyertaan Bunda Maria.

Seperti tahun lalu, ada begitu banyak yang memperhatikan dan mendoakan papi. Tuhan sungguh Immanuel. Selama kurang lebih 10 hari di RS, papi boleh pulang.  Namun, kondisi papi agak menurun, ia semakin sulit menerima perintah, ia tidak tahu bagaimana cara mengalungkan Rosario dan ia juga bingung caranya memakai topi. Kecewa meliputi perasaan saya. Tapi bukankah semua yang terjadi adalah seturut kehendak-Nya? Saya memutuskan untuk mensyukuri bahwa papi setidaknya masih bisa bertahan hidup.

Maka kami mulai lagi dari awal, dengan mengajarkan cara memakai topi, mengalungkan Rosario, memegang sendok (semua dengan tangan kirinya) dan mengangkat kaki kirinya. Kami bersemangat dan optimis menjalani hal itu karena terkadang papi suka hadir dalam mimpi kami. Dalam mimpi, saya melihat dia sedang berusaha untuk menggerakkan kedua tangannya atau berusaha untuk berjalan. Dalam mimpi juga, papi “curhat” kepada adik saya dan bilang, “Aduh padahal papi kan udah lumayan yah sekarang susah lagi deh.” Bahagia campur sedih mendengarnya. Bahagia karena papi menunjukkan bahwa ia juga masih berusaha untuk sembuh, namun sedih karena papi sadar akan kondisinya. Meskipun dalam keadaan sakit, papi tetap menginspirasi kami untuk berjuang mengusahakan yang terbaik dan membungkus usaha kami dengan doa yang tak pernah putus dipanjatkan.

Terhitung mulai Mei 2017 sampai dengan sekarang, papi juga menerima Komuni Kudus melalui ibadat untuk orang sakit setiap hari karena kebetulan mami adalah prodiakon yang baru saja dilantik tahun 2016. Sungguh rahmat yang luar biasa bahwa papi bisa menerima Tubuh Kristus setiap hari. Ini semua hanya karena kebaikan dan kerahimanNya. Kami percaya bahwa Yesus sendirilah yang menjadi kekuatan, penghiburan, semangat, dan suka cita bagi papi.

Sampai sekarang, papi memang belum bisa bicara, berdiri ataupun berjalan namun proses yang kami lalui dalam merawat papi itulah yang justru yang membuat kami semakin mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi melalui perkembangan diri papi. Kegiatan pribadi kami pun terbatas karena harus menjaga papi di rumah tapi di situ saya belajar bahwa keluarga adalah Gereja terkecil yang kita miliki dan yang harus kita layani. Memang ini adalah salib yang harus kami pikul dan kami memikulnya tidak sendirian melainkan bersama Dia yang memberi kekuatan.

Kita punya Allah yang besar dan Dia hidup. Dia mencintai saya dengan caraNya yang ajaib. Dia membentuk saya melalui pengalaman yang tidak mudah untuk dilalui namun cintaNya selalu menyertai. Selamanya, saya akan mensyukuri hal ini. Keadaan yang papi alami adalah rejeki dan berkat dari Tuhan untuk papi sebagai individu dan kami sebagai keluarga. Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang begitu setia hadir dalam apapun kondisi pergumulan hidup saya dan keluarga. Di saat saya begitu dengan egoisnya “hitung-hitungan” sama Tuhan, Dia malah mengutus orang-orang untuk memperhatikan dan mendukung kami melalui salah satu hal tersulit dalam perjalanan hidup kami.  Di saat saya kecewa dan marah padaNya,  Dia malah mengutus teman-teman yang begitu setia mengunjungi dan mendoakan.

Dalam kesempatan ini ijinkanlah saya mengucapkan Terima kasih yang luar biasa untuk teman-teman di Legio Mariae, OMK, Misdinar, Lektor, ASAK, KMS, KEP, PDKK, Kerahiman Ilahi, Misdinar, Prodiakon dan Para Imam yang menjadi saksi pergumulan hidup kami. You know who you are. Terima kasih karena telah menjadi malaikat-malaikatNya yang tak bersayap. Tahukah kalian bahwa papi dan kami bisa bertahan karena dukungan, bantuan dan perhatian dari kalian semua ?

Untuk keluarga saya, terima kasih kepada mami saya yang menginspirasi bahwa Cinta Sejati itu masih ada. Dia memegang teguh janji perkawinan yang mau setia dalam untung dan malang, sehat ataupun sakit. Mami begitu setia dan penuh suka cita merawat suaminya. Ke manapun dia pergi, dia akan selalu memikirkan apakah papi sudah makan atau belum? Sudah minum juice? Apakah makanan dan sayur buat papi sudah siap? Hatinya selalu ada di rumah bersama suaminya meski fisiknya tidak ada di rumah. Untuk kakak saya, terima kasih karena telah menjadi kakak sulung yang rela berkorban untuk cuti ataupun pulang lebih cepat untuk mengantar papi ke dokter. Di tengah kesibukannya di kantor dan mengurus rumah tangganya sendiri, dia selalu menyempatkan diri datang ke rumah untuk membantu mengurus papi. Terima kasih pula kepada kakak ipar saya yang mau mengurus papi seperti mengurus ayahnya sendiri. Dan juga untuk adik saya, dia menginspirasi saya untuk merawat papi dengan kesabaran dan kelembutan. Dia bilang bahwa kita harus menempatkan diri di posisi papi sehingga kita bisa merawat papi dengan penuh kasih.

Audrey dan keluarga

Sebetulnya, satu hari sebelum papi stroke yang ke-3, ketika kami sedang ngopi, saya menyampaikan bahwa ada seorang teman yang bertanya, apa yang papi peroleh dengan berziarah dan jalan salib di Gua Maria Sawer Rahmat, Kuningan setiap bulan padahal kondisi fisiknya (terutama kaki kirinya) yang lemah dan tidak begitu baik karena stroke ke-2 sebelumnya. Lalu begini jawab papi, “Papi gak dapet apa-apa dengan pergi ziarah setiap bulan. Masa mau hitung-hitungan sama Tuhan? Kan Tuhan udah kasih semuanya buat kita. Walaupun papi susah jalannya tapi papi mau ziarah dan jalan salib karena papi mau ikut jalan salibNya Yesus. “

Saya tidak tahu kapan atau apakah papi bisa bicara seperti dulu lagi atau tidak. Tapi, yang pasti saya akan selalu mengingat kata-katanya yang meneguhkan untuk mau setia ikut jalan salibNya Yesus dalam kondisi apapun. Tuhan membuat saya jatuh cinta padaNya semakin dalam. Saya tak paham rancangan karyaNya untuk kami, namun saya percaya Hati-Nya sungguh amat baik.


Audrey Isabella adalah legioner di Presidium Regina Coelorum, Paroki Santo Thomas Rasul – Bojong Indah, yang tergabung dalam Kuria Maria Bunda Kaum Beriman , Komisium Maria Immaculata – Jakarta Barat 2. Saat ini menjabat sebagai wakil ketua Senatus Bejana Rohani, periode Juni 2017 – Mei 2020.

Menjadi Laskar Maria Dalam Konteks Formasi Seminari Menengah

Sharing dari Fr. Thomas Waluyo, SSCC


Benih itu telah tumbuh

Legio Maria bukan bukanlah kelompak persekutuan doa yang baru bagi saya, karena sejak kecil saya sudah diperkenalkan oleh teman-teman sebaya saya. Namun karena waktu itu jumlah anggota cewek lebih banyak dari pada cowok, maka saya hanya mengikuti beberapa kali pertemuan saja, dan selebihnya, fokus saya adalah putra-putri altar karena setiap anak yang sudah menerima komuni pertama wajib menjadi putra dan putri altar. Akhirnya kelompok Legio Maria tidak pernah saya ikuti lagi, bahkan hingga saya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Akan tetapi, setidaknya nyala api Legio Maria sudah ada dalam diri saya; ketertarikan untuk mengenal Maria melalui Legio Maria sudah tumbuh dalam diri saya, dan ketertarikan inilah yang  kemudian mendorong saya untuk memasuki perjalanan spiritual bersama Bunda Maria melalui Legio Maria.

Usai menamatkan Sekolah Lanjutkan Tingkat Pertama di  Lampung, saya melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Disanalah nyala api Legio Maria berkobar lagi serta memperoleh tempat dan situasi yang mendukung. Saya pun tanpa ragu mengikuti kelompok Legio Maria Presidium Rumah Kencana. Sebenarnya agak kurang tepat jika kelompok kami dikatakan sebagai presidium Legio karena tidak ada rapat mingguan rutin dan kami hanya mendoakan doa Tessera saja. Saya beryukur pada kakak-kakak kelas karena telah memperbolehkan saya ambil bagian dalam kelompok ini hingga saya dapat menumbuhkan kecintaan kepada Maria dengan lebih sungguh dan khusuk melalui pertemuan setiap dua minggu sekali. Dan memang betul, kecintaan saya pada bunda Maria semakin dalam. Hal ini ditampakkan dalam kesetiaan saya untuk mengikuti setiap pertemuan dan juga dalam mendoakan doa Rosario serta Tessera setiap malam sebelum tidur.

Saya tidak hanya aktif dalam pertemuan dan doa saja, tetapi juga dalam pertemuan ACIES. Setidaknya sudah tiga kali saya mengikuti pertemuan ACIES dan kegiatan lain yang dijalankan di sana. Kegiatan-kegiatan itu sungguh membantu saya untuk mengenal secara dekat tentang wajah Legio Maria di Keuskupan Agung Palembang dan menggali pengalaman menjadi Laskar Maria dari teman-teman lainnya. Perjumpaan itu memberikan saya banyak pengalaman dari mereka yang sudah lama menjadi legioner, dan untuk itu saya merasa diteguhkan untuk melayani Bunda Maria melalui kelompok ini.

Tentu omong kosong jika tidak ada tantangan dalam mengikuti Bunda melalui kelompok Legio Maria. Keterbatasan waktu adalah tantangan terbesar saya dalam mengikuti pertemuan doa ini. Kadang waktu doa itu bertabrakan dengan kegiatan sekolah, terutama pada masa-masa ujian, dimana saya kadang tidak bisa mengikuti pertemuan tersebut. Bukan karena saya tidak mencintai, tetapi saya punya tanggung jawab untuk memenuhi standar seminari. Jika saya tidak berhasil mencapainya saya akan diberi surat peringatan, atau  bahkan jika terlalu parah saya akan diminta untuk tidak melanjutkan pendidikan saya di seminari. Menghadapai situasi ini, ketua kami pada waktu itu memutuskan untuk tidak mengadakan pertemuan pada saat musim ujian. Akan tetapi, doa dan kewajiban sebagai legioner tetap dijalankan secara pribadi. Dengan kebijakan tersebut, saya menjadi lebih tenang dalam menjalankan tugas Legio dan ujian saya.

Ketika saya masuk kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria (Sacrorum Cordium; SSCC), saya tidak lagi mengikuti kegiatan Legio, namun semangat dari Legio Maria tetap ada dan mewujud dalam tingkah laku serta doa saya. Saya tetap setia untuk mendoakan Tessera dan Rosario karena doa-doa tersebut telah menjadi bagian dari hidup saya, hingga ketika tidak didaraskan serasa ada yang kurang dalam hidup saya pada hari itu. Dalam suasana semacam inilah saya menghidupi semangat Legio Maria.

Semakin tumbuh besar dalam perjumpaan

Saya kemudian menempuh masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Sudah menjadi tradisi di seminari ini, salah satu dari frater TOP akan menjadi APR salah satu presidium Legio Maria, entah di seminari sendiri maupun  di Paroki Santa Perawan Maria Katedral. Saya diminta untuk menjadi APR untuk presidium seminari Stella Maris Bogor yang ketika itu jumlah anggotanya cukup banyak. Tanpa berpikir panjang saya bersedia untuk mendampingi mereka. Alasan saya sederhana saja,  karena menjadi anggota Legio Maria adalah cita-cita saya dan saya ingin terus melayani Bunda Maria melalui Legio Maria.

Sejak dipilih menjadi APR, saya berusaha untuk hadir dalam rapat presidium yang diadakan setiap hari Minggu malam. Sayang sekali, kadang tugas mendampingi Legio bertabrakan dengan tugas saya di gereja Katedral sehingga saya tidak bisa hadir atau hanya memperoleh bagian akhir dari doa saja. Bagi saya kehadiran itu penting sekali karena merupakan bentuk kecitaan dan perhatian pada Legio di seminari; dan bagi teman-teman di presidium seminari, mudah-mudahan kehadiranku yang terbatas menjadi tanda perhatian dan kesetiaan kepada mereka.

Jujur, menjadi APR bukanlah tugas yang mudah. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya akan Legio Maria. Di seminari menengah dan seminari tinggi saya tidak pernah mempelajari buku pegangan. Saya hanya belajar secara umum tentang spiritualitas Maria. Keterbatasan dalam pengalaman dan pengetahuan serta tuntutan telah mengarahkan saya untuk membaca buku pegangan. Sebenarnya tidak cukup hanya membaca saja melainkan juga harus bisa membahasakan dengan sederhana dan jelas kepada teman-teman legioner. Harapannya mereka dapat menangkap dan mampu menjalankannya dalam hidup keseharian mereka.

Menjadi APR Legio Maria bukan hanya soal kehadiran saja, tapi juga menjadi kakak sekaligus sahabat bagi mereka. Saya menjadi kakak, ketika saya yang lebih tua ini memberi mereka masukan bagaimana menjadi legioner yang sejati. Menjadi kakak juga berarti menjadi teladan bagi mereka. Kehidupan saya sebagai APR sekaligus sebagai formator bagi seminaris selalu menjadi sorotan. Ketika penampilan saya menunjukkan semangat Legio maka mereka akan meniru apa yang saya buat. Namun ketika tindakan saya mencerminkan yang sebaliknya maka saya akan menjadi batu sandungan bagi mereka. Maka saya dituntut untuk memberi teladan yang baik kepada mereka setiap saat.

Selain sebagai kakak yang menjadi pusat dan teladan mereka, saya juga belajar banyak nilai dari mereka semua. Salah satu nilai yang mereka berikan adalah nilai kesetiaan dan pengorbanan. Saya tahu betul hidup keseharian mereka sebagai seminaris karena saya mendampingi perjalanan hidup harian mereka yang padat dengan jadwal seminari mulai dari bangun pagi hingga malam hari; mulai dari hari Minggu hingga Minggu berikutnya. Ketika mereka memutuskan untuk bergabung dalam Legio Maria, mereka akan mengorbankan banyak hal. Lebih-lebih, mereka mengorbankan waktu dan kesenangan mereka. Seharusnya mereka bisa rekreasi dengan nonton TV atau belajar, namun mereka memilih untuk ikut rapat Legio. Juga ketika mereka mendapat giliran rosario berantai, mereka harus menyisihkan waktu khusus untuk berdoa. Pada hari Minggu, mereka harus mengorbankan waktu jalan-jalan mereka demi kegiatan Legio, meskipun memang tidak setiap Minggu.

Terhubung dalam doa

            Tugas untuk menyalakan api Legio Maria tidak berhenti pada saat saya menyelesaikan masa TOP saya di Seminari Stella Maris Bogor. Tugas ini tetap dan terus saya jalankan dalam masa studi lanjut saya di Yogyakarta. Tentu kini saya menjaga api Legio Maria dengan model dan cara yang berbeda. Saya tidak lagi mengikuti kegiatan rutin Legio namun saya tetap mendoakan Tessera setiap hari. Dengan cara semacam ini, saya tetap menyatu dalam doa dengan teman-teman yang menjadi legioner dan saya tetap menjadi bagian dari mereka semua.

Ave Maria.


Fr. Thomas Waluyo, SSCC adalah Asisten Pemimpin Rohani Seminari Stella Maris Keuskupan Bogor, periode 2015-2016. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Kongregasi Sacrorum Cordium (SSCC) Yogyakarta.

Apa Makna Natal Bagimu?

Natal sebentar lagi akan tiba. Kita juga sudah akan memasuki Minggu Adven yang ketiga. Lalu, bagaimana dengan persiapan Natal kita kali ini ?

Biasanya Natal akan identik dengan libur panjang, pohon natal, kado, dan sinterklas. Kalau ke Mall atau pusat perbelanjaan, maka sudah ada Pohon Natal yang menjulang tinggi, ornamen yang cantik serta lagu-lagu natal yang menemani kita berbelanja. Menyenangkan sekali yah..

Namun, apakah sudah kita renungkan, apa makna natal yang sebenarnya?

Natal sebaiknya menjadi moment di mana kita selalu menghadirkan Yesus di mana pun kita berada yang artinya kita harus menghadirkan kasih, damai, dan pengampunan untuk sesama. Mengapa demikian?

Dalam Yohanes 3:16 yang isinya ” Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yesus adalah lambang kasih Allah yang begitu besar bagi manusia, maka dari itu hendaknya kita memaknai Yesus yang lahir dengan menjadikan kita pribadi-pribadi yang selalu menebarkan kasih bagi keluarga, teman-teman, komunitas ataupun lingkungan masyarakat.

Bagaimana dengan damai yang harus kita bagikan ? Di dalam Yesaya 9:6 tertulis demikian : “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat, Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesus adalah Sang Raja Damai sehingga mari kita menjadi pembawa damai ke manapun kita pergi dan kepada siapapun yang kita jumpai tanpa melihat agama, suku, dan rasnya.

Tahun Kerahiman Illahi yang sudah dibuka 8 Desember yang lalu dengan motonya “Merciful like the Father” hendaknya juga menjadi inspirasi pengamalan nyata bagi kita untuk belajar mengampuni sesama karena Allah telah lebih dahulu mengampuni kita, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”(Lukas 6:36)

Teman-teman, marilah kita memaknai natal ini tidak hanya dengan persiapan lahiriah namun juga dengan persiapan batin sehingga Perayaan Natal dapat memampukan kita menghadirkan Yesus yang lahir dalam hati kita sehingga kita dapat membagikan kasih, damai, dan pengampunan bagi sesama.

Tuhan memberkati, Bunda Maria mendoakan.

Scroll Up