Reuni Tahunan Komisium Santa Maria Perawan Yang Setia Pontianak, 28-29 November 2015

Awan tebal masih menyelimuti kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, ketika pesawat kami mendarat di Bandara Internasional Supadio. Namun suasana mendung itu tak mengurangi keceriaan kami ketika berjumpa dengan Sdr. Gunawan (Ketua Komisium Pontianak) dan Sdr. Rudy yang menjemput kami di luar area kedatangan. Kami juga berjumpa dengan Sdri. Dahlia, seorang legioner dari Sintang yang “terpaksa” menunggu kami di bandara selama sekitar 2 jam karena terbatasnya tim penjemput.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari bandara, akhirnya kami tiba di susteran KFS, lokasi pelaksanaan Reuni Tahunan Komisium Pontianak 2015. Disana kami berjumpa dan berbagi cerita dengan para legioner dari Sintang dan Nanga Pinoh yang menempuh sekian jam perjalanan dari daerah mereka dan tiba di Pontianak sejak matahari belum muncul di ufuk timur. Tak ada ekspresi lelah di wajah mereka, yang ada hanya semangat dan sapaan hangat menyambut kami yang baru saja datang.

Sebelum rangkaian acara dimulai, kami menyempatkan diri untuk berkunjung ke Suster Johanna, SFIC di kawasan Merdeka Barat. Suster Johanna adalah mantan Asisten Pemimpin Rohani Komisium Pontianak. Stroke yang menyerangnya sekitar empat tahun lalu memaksanya untuk hidup dalam keterbatasan. Ia sempat sulit berbicara meski kini bicaranya sudah lancar. Ia pun sulit untuk berjalan dan harus menggunakan kursi roda. Ia tak bisa menggunakan anggota gerak bagian kanan, namun ia belajar untuk bisa menulis dengan tangan kiri. Ia tak bisa membaca dalam waktu lama, karena matanya akan berair dan terasa lelah. Namun dalam segala keterbatasannya itu, ia masih bisa mengingat nama-nama para legioner dan momen-momen yang pernah ia lalui bersama mereka. Bahkan pada tahun 2013 Suster Johanna mengirimkan sebuah surat kepada Redaksi Majalah Bejana, yang saat itu dikelola oleh Komisium Bogor. Ia mengungkapkan apresiasi dan rasa rindunya terhadap tulisan dan kabar Legio Maria. Pada Natal 2014, ia mengirimkan kartu natal buatan tangannya sendiri.

Saat kami kembali ke susteran KFS, suasana sudah ramai karena para legioner sudah mulai berdatangan. Tepat pukul 17.00 rangkaian acara reuni tahunan 2015 resmi dibuka oleh Sdr. Ignatius Gunawan, diawali dengan doa Tessera yang dibawakan oleh Sdri. Sondang (mantan koresponden Komisium Pontianak di Senatus Jakarta) dan Sdri. Marina (koresponden Komisium Pontianak di Senatus Jakarta sekarang). Acara kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dari masing-masing presidium. Ketika itu ada beberapa presidium dari Medang, Sarangan, dan Sebandut yang belum hadir karena terkena macet akibat adanya perbaikan jalan. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam 3 jam, kini terpaksa ditempuh selama 7 jam. Hebatnya, mereka menggunakan mobil bak terbuka milik Yanmas (Pelayanan Masyarakat). Mereka akhirnya baru tiba setelah rangkaian acara hari pertama selesai.

Ternyata perjuangan para legioner sungguh amat luar biasa! Mereka yang dari Ketapang harus menempuh perjalanan sekitar 20 jam menggunakan sepeda motor. Para legioner dari Serawai menempuh perjalanan lewat sungai dan darat selama sekitar 15 jam. Tak ketinggalan mereka yang dari Sanggau, Sekadau, Pusat Damai, Sintang, dan Sambas. Para legioner dari dalam kota pun kebanyakan masih harus bekerja hingga pukul 15.00, dan sepulang kerja mereka harus bergegas ke lokasi acara. Tercatat sebanyak 230 legioner hadir dalam reuni ini, sedikit menurun dari jumlah peserta tahun 2014 sebanyak 270 orang. Hal ini karena hari Senin setelah reuni adalah hari pertama pekan ujian akhir sekolah. Para legioner yang sebagian besar berprofesi sebagai guru (khususnya di daerah) sedang sibuk mempersiapkan UAS sehingga tidak bisa hadir ke Pontianak, disamping waktu perjalanan yang amat panjang membuat mereka mungkin tak bisa kembali tepat waktu untuk menjalankan tugas mereka di sekolah. Selain itu, banyak legioner daerah yang tak bisa hadir dalam reuni ini karena mahalnya biaya transportasi. Bayangkan saja, biaya transportasi dari daerah Serawai ke Pontianak lebih mahal daripada biaya penerbangan PP Jakarta-Pontianak.

Seusai makan malam, kami mengikuti sesi pertama mengenai Semangat Maria yang dibawakan oleh Pastor Petrus Rostandy, OFM Cap. Pastor Petrus mengajak kita untuk selalu bersemangat dan setia, karena kita adalah barisan tentara Maria. Kita berbeda dengan kelompok-kelompok lain karena kita mengikuti semangat Bunda Maria. Maria dipilih menjadi Bunda Penebus meskipun ia tidak terkenal, tidak punya kedudukan, dan tidak punya harta kekayaan.

Dalam Buku Pegangan bab 3, kita dapat melihat apa saja yang menjadi semangat Bunda Maria, antara lain kerendahan hati, ketaatan, dan imannya. Ketaatan Maria tampak ketika ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Ini juga harus diucapkan oleh setiap legioner. Apapun tugas yang diberikan pada saya, meskipun sulit dan tidak enak, tetap akan saya laksanakan. Sepanjang hidupnya, iman Maria selalu diuji dalam berbagai kejadian sulit dan menyedihkan yang dihadapinya, namun Bunda Maria menyimpan semua itu dalam hatinya meskipun banyak hal yang ia tidak mengerti. Maria adalah teladan untuk bertahan dalam pergumulan iman meskipun menderita. Maka jika kita menghadapi tantangan dan kesulitan, ingatlah Bunda Maria yang mengikuti seluruh perjalanan salib Yesus.

Bunda Maria adalah teladan dalam pengantara, seperti yang kita lihat dalam peristiwa Perkawinan di Kana. Maria hadir sebagai Ibu yang memperhatikan kekurangan, membantu, dan menyampaikannya kepada Yesus. Mujizat yang pertama terjadi karena perantaraan Maria, dan melalui Maria pula, Allah sampai kepada manusia. Itulah sebabnya mengapa kita berdoa melalui perantaraan Maria. Pada akhir sesi ini, Pastor Petrus mengajak kita semua untuk berdoa rosario setiap hari, dan persembahkan satu peristiwa untuk para imam. Promosikan doa rosario kepada setiap umat!

Pastor Petrus juga berpesan agar kita sebagai legioner senantiasa mendoakan semua orang, baik orang Katolik maupun non Katolik, terutama bagi mereka yang miskin. Jangan lupa pula, sebelum mendoakan orang lain, kitapun harus bertekun dalam doa pribadi kita. Selain itu, seorang legioner juga hendaknya menghadiri misa harian agar dengan menyambut sakramen ekaristi kita mendapatkan sumber kehidupan rohani.

Kami lalu menikmati acara hiburan yang dibawakan oleh beberapa presidium, ada yang berjoget, berdansa, main drama, dan melantunkan lagu-lagu pujian. Rangkaian acara hari pertama ditutup dengan ibadat malam yang dibawakan oleh presidium Maria Bunda Pemersatu Sekadau.

Hari kedua diawali dengan Ibadat pagi yang dibawakan oleh Sdri. Rufina dari Begori dan doa rosario yang dipimpin oleh Sdri. Sondang membuka rangkaian acara hari kedua, disusul dengan sesi kedua mengenai “Mengapa Aku Harus Melayani” yang dibawakan oleh Pastor Damianus Juin, CP.

Maria adalah teladan dalam pelayanan, maka kita sebagai legioner harus seperti Bunda Maria dalam melayani dengan sabar, rendah hati, dan tidak banyak omong. Sebagai legioner kita harus lebih beriman, lebih berupaya untuk menjadi contoh dan teladan. Berdoalah 24 jam dalam sehari karena hidup orang beriman ditandai dengan berdoa! Bagaimana mungkin berdoa 24 jam dalam sehari sedangkan kita punya pekerjaan dan aktifitas? Doa adalah ungkapan iman, dimana kita berbicara dengan Tuhan. Bicara tidak harus dengan mulut, tapi juga dengan hati dan pikiran, dimana saja dan kapan saja. Doa adalah mengarahkan hati dan pikiran kita kepada Tuhan. Dalam doa kita memuji Tuhan, bersyukur, dan juga memohon, jadi doa tidak semata-mata hanya untuk memohon saja. Jika kita melihat kekurangan dalam diri sesama, doakanlah dan jangan dibicarakan. Jika kita hendak marah, berdoalah, maka kadar marah kita akan berkurang. Semakin lama kita akan terbiasa mengisi hari kita dengan doa.

Mengapa kita harus melayani? Karena Tuhan Yesus sendiri datang ke dunia bukan untuk dilayani, namun untuk melayani. Pada masa itu, Orang Yunani dan Romawi memiliki konsep bahwa pelayan adalah orang yang tidak berarti dan tidak berharga. Yesus mendobrak pandangan itu dan seluruh hidupnya diisi dengan melayani Allah dan sesama.

Ketika kita melayani, kita harus memiliki hal-hal berikut : Prinsip bahwa yang kita layani adalah Tuhan Yesus sendiri, hidup mesra dengan Yesus dengan cara sering berkomunikasi dalam doa, rendah hati seperti Yesus dan Maria, hubungan yang akrab dengan Kristus dalam iman, harapan, dan kasih, tanpa pamrih dan tak minta pujian, serta pelayanan kita harus bertujuan untuk mendekatkan orang dengan Tuhan dalam persekutuan dengan Gereja.

Sebagai penutup sesi ini, kami mendengarkan kesaksian dari Sdri. Fabiana dari Presidium Ratu Pencinta Damai Nanga Pinoh, mengenai kehidupannya sebagai satu-satunya umat Katolik di Nanga Kebebo, bagaimana ia mempertahankan imannya dan mampu menjelaskan tentang iman Katolik kepada tetangga-tetangganya yang mayoritas muslim.

Seusai sesi kedua, kami mengikuti perayaan Ekaristi Adven pertama yang dipimpin oleh Pastor Pius Berces, CP (sekretaris Keuskupan Agung Pontianak), Pastor Lukas Dirman, SMM (Pemimpin Rohani Pres. Maria Ratu Para Rasul, Sintang), dan Pastor Adi Wiratma (Paroki Santa Maria Tanpa Noda, Sintang). Dalam homilinya Pastor Pius mengatakan bahwa Legio Maria adalah salah satu lembaga yang “serius” dalam Gereja, karena Legio memiliki buku pegangan juga tugas dan tanggung jawab yang jelas. Para legioner adalah martir putih yang memberikan kesaksian iman melalui tugas-tugas mereka. Tidak mudah menjadi legioner, kita sendiri kadang terpaksa dalam menjalankan tugas sebagai legioner hingga tak ada kegembiraan yang dapat kita tunjukkan pada orang lain. Inilah salah satu alasan mengapa jumlah anggota Legio sulit untuk bertambah.

Sesi ketiga diisi oleh Pastor Joanes Yandhi Buntoro, CDD dengan tema Kesetiaan Maria. Pastor Yandhi menceritakan kisah hidup Maria yang selama ini tak pernah kami ketahui. Bunda Maria sejak kecil tak ingin menikah dan ingin mempersembahkan hidupnya hanya untuk Allah. Allah telah mempersiapkan Maria untuk mengandung Sang Kudus dengan menjadikannya terlahir tanpa dosa asal. Di dalam jiwa Maria, rahmat Allah begitu penuh hingga meluap dan tak ada ruang lain dalam jiwanya untuk berbuat dosa. Maria menganggap dirinya berbahagia karena mampu melaksanakan seluruh rencana Tuhan. Dalam berbagai perisitiwa hidupnya yang penuh kesulitan dan dukacita, Maria tidak berontak. Ia tetap taat pada Tuhan. Maria adalah makhluk Tuhan yang paling setia, bahkan hingga Yesus telah bangkit, ia tetap tinggal bersama para rasul dan berdoa.

Pastor Yandhi kemudian mengajak kami untuk menyanyikan sebuah lagu gubahannya :

Maria,

Banyak orang tak mengertimu

Bahkan mereka menghujatmu

O sungguh terlalu.

 

O Maria,

Kalau saja kau tak di surga

Apalagi kami yang hina

Pintupun tak ada

 

Sadarilah kini

Sbab dunia tak kan abadi

 

Selamat bahagia Bunda Tuhanku

Smoga kau doakan aku slalu

Ketaatanmu membawa keselamatan bagi dunia

Berbahagialah orang percaya

Menuruti teladan Maria

Sebab tersedialah tempat

Bagi mreka di dalam surga.

 

Lagu itu dinyanyikan sesuai dengan nada lagu Sephia karya Sheila on 7 yang pernah menjadi hits beberapa tahun yang lalu. Kami yang sudah agak mengantuk dan lapar jadi bersemangat lagi setelah menyanyikan lagu itu.

Akhirnya reuni tahunan ditutup dengan sesi evaluasi. Dewan Kuria Maria Bunda Segala Bangsa Serawai dan Kuria Bunda Rahmat Ilahi Keuskupan Sanggau menyampaikan laporan singkat dewan mereka selama satu tahun ini, diikuti beberapa pertanyaan dari para peserta mengenai pencarian dana dan hal-hal terkait sistem Legio. Pada akhir sesi, Sdr. Gunawan menyampaikan rencana program kerja Komisium Pontianak tahun 2016, antara lain HUT Komisium, Acies di Singkawang, Serawai, Sanggau, Nanga Pinoh dan Sintang, serta di Pontianak. Komisium juga merencanakan kunjungan ke presidium-presidium di Singkawang dan presidium yang vakum di Pakumbang. Pada bulan September akan diadakan perayaan HUT Legio Maria sedunia dan lokakarya buku pegangan. Reuni tahunan 2016 akan diadakan di Bodok, Pusat Damai. Semoga seluruh program kerja tahun 2016 dapat berjalan dengan lancar. Sdr. Ignatius Gunawan juga mohon pamit kepada para legioner karena akan berpindah tugas ke Semarang mulai tanggal 15 Desember 2015. Oleh karena itu pada rapat komisium bulan Desember akan diadakan pemilihan ketua komisium yang baru. Terima kasih banyak atas kesetiaan dan pengabdian Sdr. Gunawan sebagai legioner dan perwira Komisium Santa Maria Perawan yang Setia Pontianak. Semoga sukses melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang baru.

Kami selaku koresponden untuk Komisium Santa Maria Perawan yang Setia Pontianak mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk dewan senatus, komisium, kuria, presidium, dan pribadi-pribadi (dari wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi) yang telah bermurah hati mengumpulkan dan menyumbangkan rosario, buku pegangan, Tessera, Alkitab dan buku-buku rohani. Selama empat minggu telah terkumpul 1473 pcs rosario, 50 exemplar buku pegangan, 200 lembar Tessera sedang, 480 exemplar buku Tessera kecil, 6 exemplar Alkitab, dan begitu banyak buku-buku rohani. Kami sampaikan sumbangan itu kepada presidium di Begori (Serawai) bagi anak-anak di asrama yang baru saja dibuka, junior kuria Keuskupan Sanggau, umat di pedalaman Ketapang, umat di Putussibau, bakal presidium di Katedral dan Paroki Belimbing Sintang. Sisanya kami serahkan kepada Komisium Pontianak untuk membantu presidium yang perlu disubsidi dan umat yang membutuhkan.

Acara reuni tahunan ini membuat kami semakin bangga dan menyegarkan semangat kami sebagai tentara Maria. Kami juga berkenalan dengan sahabat-sahabat baru yang telah menyambut dan menerima kami dengan hangat bahkan begitu peduli dengan kami. Kisah-kisah mereka mengingatkan dan menegur kami dengan halus. Selama ini kami sering malas-malasan untuk melaksanakan tugas, padahal kami tinggal di kota dengan berbagai fasilitas yang baik dan mendukung. Sementara mereka di daerah begitu penuh semangat meskipun tinggal dalam kondisi yang sulit dan sangat terbatas. Mereka tidak mengeluh meskipun harus menyeberangi sungai, melalui jalan yang rusak penuh lumpur, bahkan menempuh perjalanan yang lama dan melelahkan untuk tetap setia melaksanakan karya sebagai tentara Maria. Proficiat, para legioner Komisium Pontianak. Sampai jumpa lagi pada acara lainnya. AVE MARIA.

Penulis : Ignatia Marina Sudiarta, koresponden Komisium Pontianak

Sdri. Sondang dan Sdri. Marina kunjungan ke Suster Johanna, SFIC
Sdri. Sondang dan Sdri. Marina kunjungan ke Suster Johanna, SFIC
Legioner seminari menengah St. Paulus Nyarumkop
Legioner seminari menengah St. Paulus Nyarumkop
narsis sejenak bersama Pastor Adi Wiratma (paling kanan)
narsis sejenak bersama Pastor Adi Wiratma (paling kanan)
legioner Presidium Ratu Pencinta Damai, Nanga Pinoh
legioner Presidium Ratu Pencinta Damai, Nanga Pinoh
Sesi 1 : Semangat Maria oleh Pastor Petrus Rostandy, OFM Cap
Sesi 1 : Semangat Maria oleh Pastor Petrus Rostandy, OFM Cap
Persembahan pujian dari legioner Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop
Persembahan pujian dari legioner Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop
Pastor Lukas Dirman, SMM menerima kenang-kenangan buku dr Pastor Petrus Rostandy, OFM. Cap
Pastor Lukas Dirman, SMM menerima kenang-kenangan buku dr Pastor Petrus Rostandy, OFM. Cap
Drama dari legioner Pres. Bintang Timur Rasau Jaya
Drama dari legioner Pres. Bintang Timur Rasau Jaya
legioner Pres. Maria Bunda Pemersatu, Selalong-Sekadau
legioner Pres. Maria Bunda Pemersatu, Selalong-Sekadau
Sesi II : Mengapa aku harus melayani? oleh Pastor Damianus Juin, CP
Sesi II : Mengapa aku harus melayani? oleh Pastor Damianus Juin, CP
Perayaan Ekaristi oleh Pastor Pius Berces, Pastor Adi Wiratma, dan Pastor Lukas Dirman
Perayaan Ekaristi oleh Pastor Pius Berces, Pastor Adi Wiratma, dan Pastor Lukas Dirman
Marina dan Ibu Yuliana dari Sintang
Marina dan Ibu Yuliana dari Sintang
IMG_20151129_100522
Sdri Sondang dan Bu Yuliana dari Sintang
Berfoto usai Sesi III bersama Pastor Yandhi, CDD
Berfoto usai Sesi III bersama Pastor Yandhi, CDD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *