Gereja memiliki dua bentuk ‘penyembahan pada Allah’

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Legio Maria halaman 262, Subbab 6: ‘Bekerja bagi orang yang paling malang dan terlantar.”

Gereja memiliki dua bentuk ‘penyembahan pada Allah’

a. Liturgi Resmi Gereja Katolik
Liturgi resmi meliputi sakramen-sakramen. Liturgi resmi sifatnya baku dan tak bisa diubah. Nilai sakramen-sakramen sifatnya sangat mendasar dan tak tergantikan. Perumpamaan dalam hidup sehari-hari: Liturgi resmi adalah makanan wajib harian kita (makan pagi, makan siang, dan makan malam dengan bahan makanan pokok nasi, sayur, lauk pauk). Makanan wajib ini mutlak harus ada untuk menjamin kelangsungan hidup badan kita.

b. Devosi-devosi.
Dalam hidup sehari-hari devosi diumpamakan sebagai makanan tambahan (snack). Snack bukanlah makanan wajib. Snack boleh ada dan boleh tidak ada. Ketiadaan snack tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidup badan kita. Snack sifatnya memberi variasi cita rasa. Tidak pernah ada berita orang meninggal karena tidak makan snack, namun kematian karena kelaparan bisa terjadi bila seseorang tidak makan makanan baku (makan nasi dan kelengkapannya). Devosi-devosi memiliki peluang berkembangnya perasaan berlebihan (terhadap Bunda Maria).

Perasaan yang berlebihan mengandung bahaya karena perasaan bisa menipu. Dalam prakteknya orang-orang yang terseret dalam perasaan berlebihan akan menganggap hal-hal (yang nampaknya) mistik sebagai tanda keimanan. Orang-orang demikian senang sekali menyebarkan berita-berita penampakan (Maria) yang banyak beredar, atau kesaksian-kesaksian gaib/mimpi yang sulit dipertanggungjawabkan. Kita harus mengendalikan dorongan perasaan berlebihan dengan akal sehat.

Suatu kali Santo Filipus Neri mendapatkan penampakan Bunda Maria. Namun Filipus bukannya hanyut dalam kekaguman pesona penampakan itu. Filipus justru meludahi penampakan itu. Tiba-tiba saja panampakan itu mendadak berubah menjadi wajah aslinya – Si Iblis Jahat.

Devosi yang benar harus membawa kita pada mutu pelayanan yang bertumbuh, yakni pelayanan kepada mereka yang terpinggirkan. Tahun ini ditetapkan oleh Gereja sebagai tahun Kerahiman, Legio Maria sebagai pembawa wajah Gereja harus mampu menampilkan kerahiman Allah kepada setiap orang. Dalam menghadirkan kerahiman ini, kita harus melakukannya karena dorongan ilahi dalam hati, bukan karena ditugaskan oleh presidium. Tindakan karena sebatas ditugaskan adalah tindakan yang kering dan tidak membawa pada pengenalan pada Allah. Marilah berdevosi secara tepat dengan dasar iman Katolik yang tepat.

Oleh : RD Petrus Tunjung Kusuma