8 September, Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Oleh : Anson Santoso


Bagi umat Katolik tentunya tidak asing lagi dengan tokoh Ibu kita Bunda Maria. Kita para legioner yang berdevosi kepada Bunda Maria, tentunya diharapkan lebih dekat dengan Ibu Tuhan kita Yesus Kristus, yakni Bunda Perawan Suci Maria. Begitu mendalam pemahaman tentang Bunda kita ini, di mana terdapat bagian teologi di ajaran Gereja kita yang disebut “Mariologi”, yang mempunyai beberapa institusi pendidikan dan penelitian di beberapa negara.

Bunda Maria dilahirkan dalam keluarga saleh oleh orang tuanya Santo Yoakim dan Santa Anna. Ia dididik dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya, baik secara teoritis (kitab-kitab Taurat Yahudi), maupun dalam perbuatan sehari-hari.

Saya teringat katekese tentang Bunda Maria yang disampaikan oleh Pastor Andre SDB, Pastor Paroki Danau Sunter. Beliau mengajukan pertanyaan, “Apakah kita bisa menjadi seperti Bunda Maria?”. Umat yang hadir membisu seribu bahasa ketika mendengar pertanyaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan. Muncul pertanyaan berikutnya, “Apakah kita layak menjadi seperti Bunda Maria yang teramat suci itu?”.

Mengagetkan karena jawabannya adalah kita bisa. Beliau memaparkan bahwa, “Kita bisa, asalkan iman kita benar-benar terdidik dengan sangat baik seperti Santo Yoakim dan Santa Anna mendidik Bunda Maria. Juga asalkan kita menolak segala –ya, segala- bentuk dosa dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak lupa kita pun harus mau melaksanakan kehendak-Nya saja”.

Bunda Maria yang acapkali menjadi perantara doa-doa kita kepada Tuhan melalui doa Novena Tiga Salam Maria, atau kita yang merasa dikuatkan melalui doa Rosario, mempunyai beberapa sejarah menarik. Misalnya, kemenangan pasukan Eropa/ Kristiani atas invasi pasukan Turki pada tahun 1571, atau kisah orang kudus Santo Dominic Savio yang menceritakan kepada gurunya -Santo Don Bosco- bahwa yang menolongnya pada saat ajalnya ialah Bunda Gereja kita.

Bunda Maria yang secara dogma Gereja berperan secara mediatrix (sebagai mediator antara Tuhan Yesus dan manusia) serta co-redemptrix (pendamping) dikenal sebagai Bunda para pendosa. Ada satu pengalaman unik saat saya menempuh pendidikan di Sanggau, Kalimantan Barat. Seringkali saya diminta untuk mengembalikan rantang makanan, yang perjalanannya harus melewati hutan pada saat malam hari. Di lokasi tujuan terdapat 2-3 anjing penjaga yang cukup galak. Setiap kali anjing itu berlari atau menggonggong ke arah saya, saya berdoa Salam Maria. Alhasil mereka langsung menjadi tenang, tidak lagi menggonggong, dan berbalik badan. Pengalaman ini mengingatkan saya pada sebuah lukisan Bunda Maria yang pernah saya lihat. Dalam lukisan yang berukuran besar itu, Bunda Maria dengan jubahnya melindungi orang-orang yang sedang dalam ketakutan. Manusia dari berbagai macam profesi dan kedudukan sosial di dunia berlindung dibalik jubah Bunda Maria.

Acapkali dengan perantaraan Bunda Maria, Tuhan mengabulkan doa-doa saya, khususnya di saat saya berdoa Novena Tiga Salam Maria. Begitu pula saat saya berdoa Rosario, Salam Maria, atau Catena Legionis, saya merasa hati menjadi tentram dan mampu menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, sudah sepatutnya saya dan kita semua bersyukur atas kelahiran Bunda Maria lebih dari 2000 tahun yang lalu. Kita mendapatkan Bunda Surgawi, yang mana olehnya, Tuhan kita Yesus Kristus mustahil menolak permohonan sang Bunda yang telah mengikuti kehendak Tuhan selama hidupnya di dunia ini.

Terima kasih, Bunda Maria. Selamat ulang tahun Bunda Surgawi, Bunda Tuhan kita Yesus Kristus dan Bunda kita semua.

sumber : katolisitas-indonesia.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *