Ada Presidium Khusus Tuli, nggak?

Sumber berita: Daisy Haryanto


Pernah kah Anda mendengar istilah “BIsIndo”? BIsIndo adalah bahasa isyarat Indonesia, yang belakangan ini menjadi booming kembali dalam penyampaian informasi seputar covid19. Dan ternyata, gereja Katolik juga mulai mempelajarinya, loh.

Francis Daisy Haryanto, seorang legioner dari paroki Cilandak, adalah salah satu peserta kelas BIsIndo sejak November 2019 lalu. Daisy menuturkan bahwa BIsIndo itu terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas umum dan kelas liturgi. Kelas umum ini cabangnya sudah ada di mana-mana. Tapi untuk kelas liturgi, setahu Daisy baru ada dua. Salah satunya di gereja Katedral Jakarta. Peminatnya lumayan ramai, sekitar 40 orang, sehingga harus dibagi dalam dua kelompok. “Tapi yang gugur juga banyak,” sahut Daisy sambil menyematkan emotikon sedih dalam chatnya. Selain karena kesibukan masing-masing, gugurnya peserta juga disebabkan karena materi yang semakin sulit. Dalam kelas lanjutan, peserta diwajibkan untuk mampu menerjemahkan homili pastor ke bahasa isyarat saat itu juga, tanpa bocoran catatan dari pastor yang bertugas.

Berawal dari ngobrol santai dengan seorang pengajar kelas liturgi mengenai keseruan bahasa isyarat, akhirnya Daisy menghadirkan diri secara rutin dalam setiap pertemuan yang ada. Dari sini lah, perlahan Daisy mulai mengerti bagaimana kesulitan komunikasi yang dialami oleh ‘teman tuli’, sebutan resmi bagi mereka yang tidak bisa mendengar. Salah satunya adalah tidak bisa disambi. “Selama ini kita kadang bicara sambil melakukan hal lain, seperti pegang hape atau ngapain. Tapi sama mereka, itu nggak bisa kita lakukan. Kita harus saling memandang karena mereka membaca ekspresi wajah kita,” jelasnya. Dari cerita yang Daisy tangkap, teman tuli lebih suka menggunakan BIsIndo dibandingkan SIBI. SIBI juga merupakan bahasa isyarat, namun bagi teman tuli terasa kurang ekspresif dan lebih datar.

Eh, mau nanya dong. Legio ada presidium khusus teman tuli nggak ya?” sebuah pertanyaan spontan, namun mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan untuk ke depannya. Bagaimana pun juga, teman tuli juga membutuhkan bantuan dalam pertumbuhan dan perkembangan iman mereka, seperti teman dengar pada umumnya. Maka tidak lah berlebihan jika hal ini menjadi kewajiban kita bersama untuk dapat menjembatani mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *