Bunda Pelindung Semua Suku : Laporan Pembukaan Bulan Rosario di Gereja St. Kristoforus Grogol

Oleh Petrus Kanisius Erwin Rinaldi


Dalam rangka merayakan Bulan Rosario di bulan Oktober 2017, Kuria Teladan Kaum Beriman Grogol didukung oleh komunitas Pro Diakon membuka Bulan Rosario tanggal 1 Oktober 2017 jam 18:30 dengan Perayaan Ekaristi Kudus dengan Perarakan Tandu Bunda Maria diiringi Doa Rosario Suci.

Hal yang menarik adalah Doa Rosario Suci didoakan dalam 5 bahasa, dimulai dengan Bahasa Toraja (Sulawesi Selatan), Bahasa Jawa, Bahasa Kei (Maluku), Bahasa Batak Toba (Sumatera Utara), dan Bahasa Manggarai (Flores). Sementara Tandu Bunda Maria dilakukan oleh para bapak-bapak dari ProDiakon dengan pakaian adat Minang, Betawi, Sunda, dan Papua. Sungguh Bhinneka banget, Sungguh Indonesia banget, dan Sungguh Pancasila banget.

Sungguh meriah dan sungguh kebhinnekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia terlihat nyata dalam doa Rosario Suci di gereja St. Kristoforus Grogol malam itu. Segenap umat juga terlihat sangat menikmati suasana malam bhinneka itu dengan juga berdoa sungguh-sungguh. 

Legioner dari Presidium Tabut Perjanjian merayakan Ekaristi dengan pakaian adat

Semoga dengan Doa Rosario 5 bahasa ini, semakin banyak umat yang menghargai perbedaan antar sesama anak bangsa. Semakin banyak orang menghargai perbedaan bahwa perbedaan itu adalah kekayaan dan identitas Bangsa Indonesia. Semakin banyak sesama anak bangsa yang yakin bahwa perbedaan akan membuat bangsa kita semakin kuat, bukan semakin lemah.

Salam Maria Bahasa Batak Toba
Salam Maria Bahasa Jawa

Semoga Rosario Suci 5 bahasa juga semakin menguatkan semangat Sumpah Pemuda kita bahwa kita adalah bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu, INDONESIA.

Salam Maria Bahasa Toraja
Salam Maria Bahasa Kei
Salam Maria Bahasa Manggarai

Kami 100% Katolik, 

100% Legioner, 

100% Indonesia !


Sdr. Petrus Kanisius Erwin Rinaldi adalah ketua Kuria Teladan Kaum Beriman, Grogol. Saat ini ia juga menjabat sebagai bendahara 2 Komisium Maria Immaculata Jakarta Barat 2 dan koresponden Senatus Bejana Rohani untuk Konsilium Morning Star.

Surat Konsilium 31 Agustus 2017

31 Agustus 2017

Kepada Ytk: 

Saudari Ignatia Marina Sudiarta, 

Sekretaris Senatus Jakarta 

Yang Terkasih Saudari Marina, 

Sekali lagi, atas nama Konsilium Legionis, saya sampaikan salam hangat kepada Pemimpin Rohani, Ketua, para perwira dan semua anggota Dewan Senatus Jakarta. 

Terima Kasih banyak kepada Saudari Jenny Triratna yang telah memberikan informasi kepada saya baru-baru ini mengenai proposal pendirian Komisium di Palangkaraya, Kalimantan dan mengenai pendirian Kuria di Barito. Saya harap sukses dan berkat menyertai dewan-dewan baru di Kalimantan ini. 

Pada rapat Konsilium yang diadakan tanggal 20 Agustus 2017 kemarin, banyak sekali hadirin yang hadir, termasuk 7 pastor, 2 orang pengunjung dari Kuala Lumpur – Malaysia, 3 orang dari USA, 1 orang dari Austria, dan juga masing-masing satu orang dari Liverpool dan Manchester. Semuanya disambut hangat oleh Saudari Mary Murphy, Ketua Konsilium. 

Bacaan Rohani masih merupakan sambungan dari Buku Pegangan bab 33 point 13 mengenai “Kehidupan Iman Para Legioner”. Dalam alokusionya, Romo Bede McGregor berbicara mengenai tema “Kehidupan Iman” dan bagaimana Legioner seharusnya tumbuh dalam kekudusan dengan Doa (hal 225), Pengingkaran Diri (hal 226), dan Sakramen (hal 227). Setiap dari kita dipanggil untuk menjadi orang kudus, dan setiap individu legioner harus mencoba dan melakukannya menjadi orang kudus – menjadi Santo/Santa. Sesungguhnya, pada bab 33 ini (Tugas-Tugas Pokok Para Legioner – total 14 poin, hal 210-231), semua legioner harus membacanya dan membacanya lagi berulang-ulang. 

Kami sangat senang sekali mendengar bahwa 15 pastor yang ditahbiskan menjadi imam baru-baru ini, 5 diantaranya diinspirasi oleh Legio Maria. 

Seperti biasa, banyak laporan menarik dari berbagai belahan dunia, dan secara khusus laporan dari Amerika Serikat dan Kanada dapat dikatakan luar biasa. 

Di sini, di Irlandia, kami akan kembali mengadakan Konferensi Orang Muda Tahunan. Setiap Dewan Kuria diminta untuk mengirim paling sedikit 2 anak muda (dalam kelompok umur 18-40 tahun) dan jika Kuria mampu, maka mereka harus membiayai 2 orang ini. 

Pada tanggal 8 September, kita merayakan ulang tahun Bunda Maria. Dan pada tanggal 22 September, kami akan mempunyai perayaan Malam Kebudayaan di kota Dublin di mana rumah-rumah Legio akan dibuka untuk kunjungan umum.

Pada hari Minggu, 24 September, kami akan kembali mengadakan ziarah tahunan ke Knock Shrine, ini seperti biasa akan menjadi perayaan tahunan penting. 

Knock Shrine adalah tempat ziarah penting di Irlandia. Di mana, Bunda Maria, Santo Yusuf, Santo Yohanes Penginjil, dan Anak Domba (Yesus) menampakkan diri di Knock pada tahun 1879.




Saya menantikan untuk menerima Notulensi Saudara bulan Juli dan Agustus. 

Saya menutup surat ini dan memohon rahmat Allah untuk kita semua. 

Catherine Donohoe – Koresponden Konsilium

Surat Konsilium 30 Juli 2017

​Legion of Mary 

30 July 2017. 

Yang Terkasih, Sister Ignatia, 

Atas nama Konsilium Legionis di Dublin dan juga atas nama saya pribadi, saya sampaikan salam kepada Pemimpin Rohani, Ketua, Semua perwira, dan semua anggota Dewan Senatus Jakarta. 

Sejumlah besar tamu hadir dalam Rapat Konsilium di bulan Juli, termasuk 4 pastor, satu diantaranya bahkan dari Uganda, seorang wanita dari Timur Tengah, dan seorang tamu dari Argentina dan 3 orang dari Inggris. Semua disambut hangat oleh Ketua Konsilium yang baru Saudari Mary Murphy (yang sebelumnya adalah Bendahara Konsilium) 

Saudari Sile Ni Chochlain yang sebelumnya telah melengkapi karyanya selama enam tahun sebagai Ketua Konsilium, terpilih sebagai Wakil Ketua Konsilium. Kita mensyukuri terpilihnya kedua perwira ini yang telah memberi pelayanan terbaik di waktu lalu dan sekarang mengambil peranan penting termasuk juga tanggung jawab yang berat untuk memimpin Konsilium. 

Pastor Bede McGregor, Pemimpin Rohani Konsilium, memberikan penghargaan yang tinggi untuk mereka berdua (Sister Mary dan Sister Sile) atas pengabdian mereka, juga kepada Saudari Aileen O Donoghue (mantan Wakil Ketua) atas pelayanan yang telah diberikan kepada Konsilium lebih dari lima puluh tahun dan juga kepada Saudari Alice Creaton yang terpilih sebagai Sekretaris II yang bertanggung jawab atas bacaan-bacaan atau surat menyurat. Juga kepada Saudari Annete Mulrooney yang telah menyelesaikan 6 tahun pelayanannya bersama Konsilium

Bacaan Rohani diambil dari bab 33.13 hal 224 – Kehidupan Iman para Legioner. Dalam Alokusionya, Pastor Bede menjelaskan bahwa tugas utama para legioner adalah untuk mendapatkan kekudusan, sehingga kita bisa menjadi Santo/Santa dan kemudian menolong orang lain untuk juga dapat menjadi Santo/Santa. Pastor Bede mengatakan Saudara Frank Duff pernah mengutip kata-kata dari Pastor Faber bahwa Satu Santo berharga sejuta orang Katolik yang biasa-biasa saja, dan Santa Teresa dari Avila mengatakan bahwa satu jiwa yang bukan Santo tetapi berusaha mencari kekudusan akan sangat lebih berharga sekali di hadapan Allah daripada ribuan orang yang hidup dalam keadaan biasa-biasa saja.

Pastor Bede mengatakan bahwa Allah telah menciptakan kita untuk menjadi Santo-Santa, Tuhan telah wafat untuk kita agar kita dapat menjadi Santo-Santa, Dia telah memberikan hadiah Roh Kudus yang menjadi alasan utama dari semua kekudusan, dan Allah Tritunggal telah juga diberikan kepada kita dalam Ekaristi dan dalam Sakramen-Sakramen yang lain. Kita telah diberikan kehendak bebas untuk memilih bekerja sama dengan rahmat Allah yang tiada taranya. 

Tugas Evangelisasi membutuhkan orang-orang Kristen yang berjuang untuk meraih kekudusan sebagai tujuan utama dalam hidup mereka. Kita dapat memohon kepada Santa Perawan Maria, Ibu Surgawi kita untuk menolong kita meraih kekudusan itu. 

Selama Bulan Agustus ini, kita akan memperingati beberapa pesta liturgi, antara lain: Tuhan Yesus Dimuliakan, Bunda Maria Diangkat ke Sorga dengan Mulia, Santa Perawan Maria Ratu, Wafatnya Yohanes Pembaptis, dll. 

Di Irlandia, peringatan 1 abad penampakan Bunda Maria Fatima kepada Lucy, Fransesco, dan Jacinta akan dikenang dengan pendarasan doa Rosario di beberapa tempat di Irlandia pada tanggal 13 setiap bulan dari Mei sampai Oktober – kecuali di bulan Agustus karena di bulan Agustus tersebut, ketiga anak ini ditahan dan diinterogasi pada tanggal 13 Agustus, sampai akhirnya Bunda menampakkan diri pada tanggal 19 Agustus kepada mereka bertiga. 

Ada banyak laporan-laporan menarik ke Konsilium. Misalnya: terbentuk 3 Regia baru di Kolombia (Amerika Latin), Doa untuk rakyat Venezuela agar mereka mendapatkan kedamaian karena banyak sekali anak muda mati karena kekacauan politik di Venezuela. Legioner di sana menyelenggarakan doa bersama pada tanggal 5 Juli yang lalu dan kemudian 10 presidium terbentuk baru-baru ini dan tumbuh secara aktif dengan banyak anggota auksilier yang ikut bergabung. 

Juga dilaporkan beberapa upaya tugas seperti Exploratio Dominicalis dan Pentatahan Hati Kudus Yesus dilakukan di beberapa negara Amerika Latin. 

Selandia Baru dan Australia juga memberikan laporan tugas yang menarik. 

Saya menutup surat ini dan mohon agar rahmat dan berkat Allah yang besar untuk kita semua. 

Catherine Donohoe 

Koresponden Konsilium

“Jadilah Legioner yang Militan!” : Laporan Kunjungan Kuria Bejana Kerahiman ke Presidium-Presidium di Tanjung Redeb

Pada hari Jumat, 14 Agustus 2017, seluruh perwira Kuria Bejana Kerahiman – Keuskupan Tanjung Selor, didampingi oleh RD. Stephanus Sumardi (Pemimpin Rohani Kuria), dan Br . Albertus Sigit Pramana (Asisten Pemimpin Rohani Kuria) melakukan kunjungan untuk pertama kalinya ke presidium-presidium di Tanjung Redeb.

Kuria yang disahkan pada 6 November 2016 ini memiliki area tugas yang mencakup seluruh paroki di Keuskupan Tanjung Selor. Akan tetapi hingga saat ini baru tiga paroki yang sudah memiliki presidium, yakni Paroki Santo Eugenius de Mazenod Tanjung Redeb, Paroki Santa Maria Assumpta (Katedral) Tanjung Selor, dan Paroki Santa Maria Imakulata Tarakan. 

Kuria ini patut dibanggakan karena perkembangannya yang sangat pesat dan semangatnya yang selalu on fire. Di paroki Tanjung Redeb sendiri dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, telah terlahir lima presidium senior dan tiga presidium junior yang tersebar di pusat paroki dan stasi-stasi sekitarnya.

Kiri ke Kanan : RD Agustinus Maming, MSC-Sdr. Irwanus Kewa Tukan (wakil ketua)-Sdri. Katarina Lazar (bendahara)-Sdri. Marina (sekretaris 1 Senatus)-Sdr. Patrisius Patal Wutun (sekretaris)-Sdr. Bene Lazar (ketua)

Meskipun harus menempuh perjalanan yang jauh dan berkelok-kelok dari Tanjung Selor menuju Tanjung Redeb, bahkan hingga isi perut terkuras karena mabuk perjalanan, namun semangat para perwira Kuria tak padam. Semangat para tentara Maria di Tanjung Redeb pun tak kalah besarnya. Mereka menerjang teriknya siang dan dengan sabar menanti kehadiran para perwira Kuria di gedung serba guna paroki. Inilah semangat legioner yang rela berjerih lelah dan bekerja keras. Total sekitar delapan puluh legioner yang hadir dan mengikuti pertemuan gabungan presidium.

Dalam kesempatan yang istimewa ini hadir pula RP Yoseph, MSC (Pastor Kepala Paroki), RP Agustinus Maming (PR presidium-presidium se-Tanjung Redeb) serta anggota dewan paroki St. Eugenius de Mazenod.


Dalam sambutannya Pastor Yoseph berpesan kepada seluruh legioner agar menjadi “Legioner yang Militan”, yang selalu siap sedia membawa dan menularkan Kasih Kristus dimana saja berada.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sejarah Legio Maria oleh Sdr. Patris, struktur organisasi Legio Maria oleh Br. Sigit, dan ditutup oleh tanya jawab dan diskusi.

Presentasi Sejarah Legio Maria oleh Sdr. Patrisius Patal Wutun.

Tepat pada pukul 15.00 WITA pertemuan gabungan presidium se-Tanjung Redeb resmi dimulai. Dalam pertemuan ini dilakukan pengesahan atas seluruh presidium di Paroki St. Eugenius de Mazenod Tanjung Redeb, beserta para perwiranya. Pengesahan resmi bagi presidium dan perwira akan dilaksanakan pada rapat kuria hari Sabtu, 22 Juli 2017.


Pengesahan secara simbolik atas presidium se-Paroki St. Eugenius de Mazenod, beserta para perwiranya

Semoga momen kunjungan dan pengesahan secara simbolis ini semakin menambah semangat dan mempererat rasa persaudaraan para legioner di Kuria Bejana Kerahiman, khususnya di Tanjung Redeb. 

Proficiat!!

AVE MARIA.


Kontributor : Sdr. Patrisius Patal Wutun dan Br. Albertus Sigit Pramana, MSF.

BBM : Butir-Butir Motivasi

Dibawakan oleh RP Hadrianus Tedjoworo, OSC pada acara planning day Kuria Bunda Penasehat yang Baik. 
Bandung, 15 Januari 2017

Evaluasi sering terlalu mencari kekurangan dan hal-hal yang negatif. Mungkin lebih baik mengambil inspirasi serta motivasi dari istilah apresiasi → menghargai usaha yang sudah dilakukan dan apa yang masih bisa dikembangkan dan sampai saat ini baru merupakan potensi. Potensi-potensi apa sajakah yang bisa makin mengembangkan Legio Maria?

Tidak seperti kelompok-kelompok kategorial gerejawi lainnya, Legio Maria tidak berorientasi pada kesuksesan, melainkan lebih pada ketulusan pelayanan dan kesetiaan dalam diri para anggotanya. Kelompok ini bertujuan pada kerasulan Gereja: mewartakan Kabar Baik kepada sesama (Buku Pegangan Bab 2). Diandaikan ada kerja sama dengan hierarki Gereja, sehingga legioner tidak semestinya bekerja sendiri, atau hanya mewakili kelompoknya sendiri. Semangat Maria yang menjadi teladan para legioner bisa menjadi inspirasi, yakni mengimani bahwa bagi Allah, segala sesuatu adalah mungkin (BP Bab 3). Itu berarti bahwa keberanian lebih daripada ‘kewajiban’ adalah penggerak kita untuk selalu maju dan mengembangkan kerasulan kita sebagai legioner.

Butir-butir motivasi:

  1. Bentuk-Bentuk Kerasulan: Legio Maria punya keuntungan, yakni bisa masuk ke mana saja, baik itu liturgi, bina iman anak, katekese, pendampingan, pertemuan lingkungan, pelayanan pastoral, dan lain-lain.

  1. Memperkenalkan Spiritualitas Maria: konsekuensi dari fleksibilitas kehadiran kita ialah: membawa pengaruh dari Spiritualitas Maria. Artinya, kita mesti menimba kembali inspirasi dari Kitab Suci dan devosi-devosi Maria, kemudian membawanya dalam keterlibatan di berbagai kelompok untuk menginspirasi bentuk-bentuk kerasulan mereka juga!

Maria punya kekuatan yang besar dalam dirinya, yakni kemampuan untuk mempengaruhi, bahkan juga mempengaruhi Yesus, Puteranya (Yoh. 2). Apabila devosi Maria kurang berkembang di suatu lingkungan, biasanya itu karena kehadiran para legioner tidak mendorong tindakan-tindakan pelayanan yang seharusnya sudah terjadi di wilayah itu (bdk. BP Bab 5 No. 6). Devosi bukan hanya tampak dari penampilan seorang legioner yang berdoa, tetapi lebih-lebih dari bagaimana ia mempengaruhi dengan spiritualitas Maria, kelompok atau tempat apapun yang didatanginya itu. Dalam bahasa pengajaran Kristus, kita diajak menjadi seperti ‘garam’ yang mengasinkan sekitarnya. Kalau kita sendiri tidak terkesan dengan semangat Maria, kita tidak akan mempengaruhi siapapun. Kita bisa mulai dengan membuat refleksi, apakah kehadiran kita sebagai legioner dikenali secara baik oleh kelompok-kelompok yang lain?

 

taken from www.legionofmarytidewater.com
  1. Sebagai seorang kristiani: ketika menjalankan tugas, legioner mestinya memakai semangat Maria yang merangkul kerasulan dan kehidupan kristianinya (BP Bab 6. No. 3). Maksudnya ialah, bahwa tugas-tugas dijalankan bukan hanya sebagai ‘legioner’, tetapi sebagai seorang kristiani, pengikut Kristus. Kita tidak perlu menjadi ‘eksklusif’ sebagai legioner. Bukankah setiap orang kristiani seharusnya memandang Maria sebagai model hidup kristiani?

Kadang-kadang kita perlu belajar dari keseharian para anggota auxilier yang pertama-tama menjalani kehidupan imannya sebagai pengikut Kristus. Cara hidup dan semangat hidup mereka yang bersahaja dapat menjadi cara kita melayani, yakni dengan tidak berusaha menonjolkan ‘hasil’ atau ‘jumlah statistik’, melainkan mengedepankan keteladanan. Apakah hidup sehari-hari kita bisa dicontoh oleh orang lain? Mungkin yang dikhawatirkan di masa kita ini ialah kalau terjadi pemisahan tindakan kita sebagai legioner dan sebagai orang Katolik. Oleh karenanya apa yang kita rencanakan sebagai legioner Maria di masa mendatang ini sebisa mungkin semakin melibatkan umat Katolik yang lain. Kerasulan kita perlu semakin inklusif.

  1. Daya tarik: kebanyakan presidia menghadapi masalah yang serupa, yakni kesulitan menambah jumlah keanggotaan. Apakah proses merekrut anggota baru sama saja dengan kelompok lain? Mungkin tidak. “Bahaya besar” yang disebutkan oleh Buku Pegangan (Bab 10 No. 3) ialah ketika kerasulan ini “tidak mempunyai daya pikat sehingga kaum awam tidak bereaksi terhadap tujuan luhur yang terkandung di dalamnya”. Daya tarik rohani tidak bisa diselesaikan hanya dengan membuat sebanyak mungkin program kerja.

Daya tarik rohani, seperti disinggung Kardinal Riberi, mungkin muncul karena (1) kualitas keanggotaan, dijaga oleh (2) doa dan pengorbanan diri yang berlimpah, dan (3) dalam kerja sama dengan hierarki. Para legioner bisa merenungkan: mengapa aktivitas di paroki seringkali lebih menarik daripada kegiatan-kegiatan yang ditawarkan oleh Legio Maria? Barangkali sebagian dari ke-3 hal di atas kurang kita tekankan dalam perencanaan kegiatan tahunan. Salah satu karakter kegiatan yang membuat orang tertarik untuk terlibat ialah: relevansi. Orang akan menoleh dan memperhatikan sesuatu kalau itu menyentuh kerinduan pribadinya. Kita bisa menduga bahwa di zaman ini orang merindukan suasana doa, misalnya, tapi kita masih harus menemukan problem-problem personal dan aktual untuk dibawa ke dalam doa itu. Oleh karenanya, penentuan tema kegiatan-kegiatan legioner menjadi sesuatu yang sangat penting untuk menyapa kerinduan terdalam banyak orang. Sebagai sebentuk evaluasi, kita bisa meneliti kembali tema-tema yang kita angkat untuk pertemuan Patrisi, apakah akan menarik banyak orang, ataukah hanya menarik bagi diri kita sendiri.

  1. Persaudaraan dan keakraban: kedua semangat ini tidak pernah gagal membesarkan kelompok kerasulan apapun dalam Gereja. Selama persaudaraan dijaga dan diperjuangkan, suatu kelompok akan terus hidup. Semangat ini dikisahkan dengan indah dalam Kis 2:46-47, yakni ketika para murid setelah kenaikan Yesus ke surga, bertekun dan sehati berkumpul dalam kegembiraan dan ketulusan hati. Lukas mencatat, “mereka disukai semua orang”! Itulah kesaksian yang paling kuat dari Gereja Perdana, dan seharusnya menjadi kesaksian para legioner.

Dalam semangat seruan dan surat apostolik Paus Fransiskus, para legioner mesti belajar hidup bersama dalam persaudaraan. Hidup bersama adalah sebentuk kesaksian yang sangat efektif kepada dunia. Orang akan segera melihat kalau kebersamaan kita, misalnya, adalah palsu. Kebersamaan ini diuji dalam menjalankan tugas, dalam berdoa/rapat, dalam merencanakan kegiatan, dan kehadiran di berbagai kelompok kerasulan lain. Salah satu tantangan yang sangat sulit terjadi dalam kenyataan ialah saling mendukung. Jauh lebih mudah “saling mengkritik”. Mestinya sikap saling mendukung dan melengkapi inilah penafsiran kita atas penekanan keakraban seperti yang disebut oleh BP Bab 39 No. 8). Keakraban itu bukanlah soal banyak tertawa dan bercanda, tetapi adalah perkara bekerja sama menemukan kehendak Tuhan. Kalau dalam persiapan kegiatan para legioner justru saling mengkritik, bagaimana itu akan menjadi kesaksian bagi orang lain? Setiap kali ada usulan dari seseorang, mari kita memberikan apapun sumbangan (pikiran dan tindakan) untuk melengkapi dan merealisasikannya. Dalam kenyataan, saling mendukung itu bukan hal yang mudah, karena kita sering lebih ingin tampil beda dan membuktikan kemampuan diri.


Pastor Hadrianus Tedjoworo, OSC adalah Pemimpin Rohani Kuria Bunda Penasehat Yang Baik – Bandung Barat 1, Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Keuskupan Bandung

Aku Percaya akan Kehidupan Kekal

gambar

Pengharapan Kristiani

Setelah kita membahas apa yang kita percayai, yaitu dari: Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus, Gereja, maka kini kita melihat artikel terakhir dari Syahadat, yaitu “Aku Percaya akan kehidupan kekal”. Kehidupan kekal ini adalah kehidupan yang seharusnya dengan dengan penuh pengharapan dinantikan oleh seluruh umat beriman, karena Kristus sendiri telah menjanjikannya sesuai dengan rencana karya keselamatan-Nya. Pengharapan Kristiani mengarahkan pandangan kita kepada perkara-perkara yang di atas (lih. Kol 3:1) yang kekal adanya.

1. Pengharapan akan janji Kristus

Allah menghendaki agar semua manusia memperoleh kehidupan yang kekal (1Tim 2:4), sehingga Ia sendiri mengutus Putera-Nya yang tunggal sehingga barang siapa percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan memperoleh kehidupan kekal (lih. Yoh 3:16). Demikian pula, Kristus menjanjikan kehidupan kekal bagi umat-Nya (lih. 1Yoh 2:25) dan menganugerahkan rahmat keselamatan ini dengan kedatangan-Nya ke dunia, kerelaan-Nya menderita dan wafat di kayu salib. Kristus berkata bahwa Ia sendiri akan mempersiapkan tempat bagi kita (lih. Yoh 14:2).

Janji ini tidak akan mungkin diperoleh oleh manusia dengan kekuatannya sendiri, namun manusia diberikan jalan untuk mencapainya. Keselamatan ini hanya mungkin dicapai karena Tuhan sendiri telah memberikan kasih karunia kepada umat-Nya (Ef 2:8), iman yang bekerja melalui kasih (lih. Gal 5:6), percaya dan dibaptis (lih. Mrk 16:16). Rahmat Allah ini mengalir kepada umat-Nya melalui sakramen-sakramen maupun dalam bentuk rahmat – baik rahmat pembantu maupun rahmat pengudusan dan juga karunia-karunia Roh Kudus.

Karena yang menghalangi manusia untuk mencapai kehidupan kekal adalah dosa – terutama dosa berat – maka sudah seharusnya Kristus juga memberikan jalan bagi umat manusia untuk memperoleh pengampunan dosa, sehingga manusia tidak kehilangan harapan untuk mencapai kehidupan kekal. Oleh karena itu, berdasarkan rahmat yang mengalir dari misteri Paskah dan kuasa yang diberikan kepada Gereja (lih. Yoh 20:21-23; Mat 16:16-19), maka umat Allah dapat memperoleh pengampunan dan Sorga kembali terbuka bagi umat Allah.

2. Pengharapan berdasarkan iman

Rasul Paulus menegaskan kepada kita bahwa kita harus berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, karena Kristus – yang adalah Allah – setia terhadap janji-Nya (lih. Ibr 10:23). Karena Allah sendiri menginginkan kebahagiaan kita, maka sudah selayaknya Ia menyediakan segala sesuatu untuk mencapainya. Dengan demikian, kalau kita bekerja sama dengan rahmat-Nya, kita akan memperoleh kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya. Santo Agustinus mengatakan, “Saya tidak pernah berharap untuk mendapatkan pengampunan atau Sorga ketika saya berfikir tentang dosa-dosa berat yang saya lakukan, namun saya menaruh pengharapan bahwa melalui jasa Kristus, saya memperoleh keselamatan dengan pertobatan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.”

3. Pengharapan menjadi nyata dengan melaksanakan kehendak Allah

Walaupun Tuhan menginginkan bahwa semua orang diselamatkan, namun kita tahu bahwa tidak semua orang diselamatkan (lih. Mat 7:21-23). Dalam perikop tentang penghakiman terakhir, Yesus mengatakan, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:46) Kesadaran bahwa di samping ada Sorga yang telah dijanjikan oleh Allah, terbentang juga satu kenyataan keberadaan neraka, maka sesungguhnya kita tidak boleh lalai untuk senantiasa melakukan perintah Allah untuk terus bertumbuh dalam kebajikan. St. Bernardus menuliskan “Pengharapan tanpa kebajikan adalah satu kepongahan.” (In Cantica, Serm. 80).

4. Pengharapan dan menghindari dosa

Rasul Paulus, yang sungguh luar biasa dalam karya pewartaan, mengingatkan kita semua agar kita mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (lih. Flp 2:12). Ini disebabkan karena walaupun Allah setia terhadap janji-Nya, namun kita sering tidak setia terhadap Allah dengan dosa-dosa yang kita lakukan. Itulah sebabnya, Gereja Katolik melalui Konsili Trente mengajarkan bahwa tidak ada seorangpun yang mempunyai kepastian yang sempurna bahwa dia akan termasuk dalam bilangan orang-orang yang terpilih atau bahwa dia akan bertekun terus dalam kebajikan sampai ia wafat (Konsili Trente, 6, Kan. 15,16). Rasul Paulus berkata, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1Kor 10:12). St. Yohanes Krisostomus menuliskan bahwa harapan dan ketakutan adalah teman; ketika mereka meraja, mahkota Sorga secara mudah akan didapatkan.

Dengan demikian, percaya akan belas kasih Allah dan takut akan keadilan Allah, sesungguhnya harus berjalan beriringan. Mengutamakan keadilan Allah sampai menimbulkan ketakutan namun lupa akan belas kasih Allah akan menimbulkan keputusasaan. Sebaliknya, hanya meyakini akan keselamatannya karena belas kasih Allah namun melupakan bahwa Allah yang sama juga dapat menghakimi kita, dapat membuat kita terlena sehingga membawa kita kepada penghukuman kekal.

5. Pengharapan diperlukan untuk keselamatan

Rasul Paulus mengajarkan bahwa kita diselamatkan dalam pengharapan (lih. Rm 8:24). Seseorang yang tidak mempunyai pengharapan akan berputus asa dan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan baik ataupun berusaha menghindari dosa. Tanpa pengharapan, maka seseorang dapat kehilangan semangat untuk berjuang. Oleh karena itu, dalam salah satu tulisannya, St. Agustinus mengajarkan bahwa kekudusan yang membawa kita pada keselamatan didirikan di atas iman, dibangun dalam pengharapan, dan diselesaikan dalam kasih. Setelah kita sampai ke Sorga, maka pengharapan tidak lagi diperlukan karena kita telah sampai pada tujuan.

6. Pengharapan kristiani adalah pemberian Allah yang mengalir dari rahmat pengudusan

Pengharapan Kristiani sebagai salah satu tiga kebajikan ilahi diberikan secara cuma-cuma kepada kita pada saat kita dibaptis, yang olehnya pada saat bersamaan kita juga menerima rahmat pengudusan. Semakin rahmat pengudusan meningkat maka pengharapan Kristiani juga akan meningkat, sehingga pengharapan untuk mencapai kehidupan kekal juga menjadi satu kerinduan.

Apakah Kehidupan kekal

Di dalam perikop tentang penghakiman terakhir, Yesus berkata, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:46) Dua kekekalan ini dihadapkan kepada manusia, yaitu siksaan/kematian kekal dan kehidupan kekal (bdk Ul 30:19). Bagi yang menerima kehidupan kekal, dia akan memperoleh kebahagiaan yang sempurna dan tanpa batas di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan yang menerima siksaan kekal akan menerima penderitaan abadi di neraka.

Kebahagiaan abadi di Sorga

Ketika umat Katolik menerima berkat perjalanan sebelum meninggal dunia, pastor akan mendoakan doa penyerahan jiwa sebagai berikut (dikutip dari KGK 1020):

“Bertolaklah dari dunia ini, hai saudara (saudari) dalam Kristus, atas nama Allah Bapa yang maha kuasa, yang menciptakan engkau; atas nama Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, yang menderita sengsara untuk engkau; atas nama Roh Kudus, yang dicurahkan atas dirimu; semoga pada hari ini engkau ditempatkan dalam ketenteraman dan memperoleh kediaman bersama Allah di dalam Sion yang suci, bersama Maria Perawan yang suci dan Bunda Allah, bersama santo Yosef dan bersama semua malaikat dan orang kudus Allah. … Kembalilah kepada Penciptamu, yang telah mencipta engkau dari debu tanah. Apabila engkau berpisah dari kehidupan ini, semoga Bunda Maria bersama semua malaikat dan orang kudus datang menyongsong engkau. … Engkau akan melihat Penebusmu dari muka ke muka…” (Doa penyerahan jiwa).

Dari doa ini, kita melihat bahwa bagi umat Kristen, kematian bukanlah merupakan satu akhir, namun menjadi satu awal untuk memulai hubungan yang lebih erat dengan Allah di dalam kehidupan kekal di Sorga. Bagaimanakah kehidupan kekal ini? St. Thomas Aquinas dalam bukunya – The Aquinas Catechism – menggambarkan kehidupan kekal ini sebagai berikut:

1. Kesempurnaan pandangan akan Allah. Persatuan dengan Allah adalah melihat Allah sebagaimana adanya Dia, melihat Allah muka dengan muka secara jelas dan bukan hanya merupakan gambaran yang samar-samar seperti dari dalam cermin (lih. 1Kor 13:12).

2. Kesempurnaan pengetahuan akan Allah. Kesempurnaan pengetahuan akan Allah memungkinkan manusia untuk dapat mengasihi Allah dengan lebih sempurna.

3. Kesempurnaan pujian kepada Allah. Melihat dan mengetahui Allah yang adalah baik, indah dan benar akan membawa kita untuk dapat memuji Allah dengan sesungguhnya. Dalam bukunya, City of God,  St. Agustinus menuliskan bahwa kita akan melihat, akan mengasihi dan akan memuji Allah.

4. Kesempurnaan penggenapan keinginan. Dalam kehidupan di dunia ini, tidak ada seseorangpun yang dapat menjadi pemenuhan keinginan kita, yang dapat membuat kita bahagia secara sempurna. Di dalam Sorga, Tuhan sendiri akan menjadi pemenuhan keinginan kita. St. Agustinus dalam bukunya, confession, menuliskan “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami tidak dapat beristirahat dengan tenang sampai beristirahat di dalam Engkau.”

5. Kesempurnaan keamanan. Di dalam dunia ini tidak ada kesempurnaan keamanan, karena seseorang yang mempunyai banyak hal dan mempunyai posisi tinggi, akan semakin merasa takut kehilangan apa yang telah dimiliki. Namun, di dalam Kerajaan Sorga tidak ada kesusahan, jerih payah, ataupun ketakutan.

6. Persahabatan dengan para kudus. Di dalam Sorga kita akan mendapatkan persahabatan dengan para kudus yang diwarnai dengan sukacita, karena setiap orang akan memiliki segala sesuatu yang baik bersama-sama. Mereka akan saling mengasihi seperti diri mereka sendiri dan bergembira terhadap kebaikan yang dipunyai oleh orang lain. Dengan demikian, kegembiraan dan kebahagiaan seseorang juga akan menjadi kebahagiaan dan kegembiraan yang lain.

Penderitaan abadi di neraka

Untuk menggambarkan kehidupan di Sorga, Rasul Paulus menuliskan, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor 2:9) Sebaliknya, neraka dapat digambarkan sebagai kebalikan dari semua kebahagiaan tersebut. St. Thomas Aquinas menggambarkannya sebagai berikut:

1. Keterpisahan abadi dengan Tuhan. Di dalam neraka maka para terhukum akan terpisah secara abadi dengan Tuhan maupun dengan segala sesuatu yang baik. Ini adalah penderitaan karena kehilangan (pain of loss / poena damni). Kehilangan ini melebihi penderitaan badani. Yesus menggambarkannya sebagai berikut: “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Mat 25:30) Kegelapan akan ada di dalam diri terhukum dan juga di luar mereka.

2. Penyesalan hati nurani. Di neraka mereka akan mempunyai penyesalan. Namun penyesalan ini tidaklah berguna, karena penyesalan mereka bukanlah karena membenci dosa, namun penyesalan karena mendapatkan hukuman kekal.

3. Intensitas siksaan inderawi. Kitab Mazmur menggambarkannya demikian, “Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka.” (Mzm 49:14) Di dalam neraka akan terjadi penderitaan badani (poena sensus), di mana mereka yang masuk di dalamnya mengalami kematian untuk selamanya.

4. Keputusasaan akan keselamatan. Karena tidak ada pengharapan apapun untuk keselamatan, maka hal ini akan semakin memperberat penderitaan mereka. Nabi Yesaya menuliskan, “Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup.” (Yes 66:24)

Berfokus pada kehidupan kekal mulai dari sekarang

Sesungguhnya kalau kita tahu bahwa Tuhan telah menyatakan kepada kita jalan kehidupan dan jalan kematian, maka sudah seharusnya kita memilih jalan kehidupan yang akan membawa kita kepada kehidupan kekal. Kehidupan kekal ini tidak bisa kita peroleh dengan kekuatan kita sendiri, namun merupakan pemberian Allah, yang harus kita tanggapi secara bebas oleh iman, dengan terus bekerjasama dengan rahmat-Nya, senantiasa berharap kepada janji-Nya, dan terus bertumbuh dalam kasih. Marilah, sekali lagi kita mengarahkan pandangan kita kepada tujuan akhir kita, yaitu kehidupan kekal. Kapan harus kita mulai? Sekarang juga!