Maria Sebagai Model Hidup Bermasyarakat Dalam Menciptakan Perdamaian

Oleh : RP Andreas Rinanto Herdianto, MSF (Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 1. 39-45

Sejak manusia melakukan dosa untuk pertama kalinya, hubungan manusia dengan Allah menjadi tidak harmonis. Allah mengusir manusia dari Taman Eden dan memaksa manusia untuk bekerja dan berusaha memperjuangkan hidupnya (lih. Kej. 3). Allah yang merasa dirinya dilukai itu tak bisa mendekati manusia lagi karena hati manusia yang tertutup dan sebaliknya manusia, karena telah melukai Allah tak mampu untuk mendekati Allah kembali. Untuk waktu yang sangat lama itu hubungan manusia dengan Allah menjadi renggang, tidak harmonis bahkan terputus. Keterputusan hubungan manusia dengan Allah itu tentu membuat hati Allah menjadi gelisah dan takut kalau manusia semakin menjauh dari Allah bahkan sampai tidak lagi mengenali Allah yang sesungguhnya sangat mencintai Allah.

Karena Allah sangat mengasihi dan mencintai manusia, maka Allah terus menerus berusaha untuk mendekati manusia dan memulihkan hubungan relasiNya dengan manusia yang telah lama tidak harmonis (putus hubungan). Setelah banyak nabi-nabi dipakai untuk membangun kembali relasiNya dengan manusia supaya harmonis kembali, Allah pun memilih dan menetapkan Maria sebagai bagian dari rencana besarNya untuk menyelamatkan manusia (memulihkan kembali hubungan Allah dan manusia).

Maria sejak semula sudah ditetapkan dan dipilih Allah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk bisa memperdamaikan kembali hubungan manusia dengan Allah. Kesediaan Maria agar manusia itu kembali kepada Allah dimulai dengan sikapnya yang bersedia membuka diri untuk menjadi ibu bagi sang juru selamat. Berawal dari kerinduan Allah yang mau memperbaiki hubungan dengan manusia setelah lama terputus dan tertutup, Maria telah mewakili manusia yang menanggapi tawaran perdamaian dari Allah itu dengan kesediaannya bekerjasama kembali pada Allah.

Maria dalam melaksanakan tugasnya tidak hanya berhenti pada melahirkan bayi Yesus, membesarkan, dan menemani Puteranya sampai wafat di salib. Keinginan Maria untuk agar hubungan manusia dengan Allah terus menerus semakin baik dan terjalin harmonis diperlihatkan Maria dalam seluruh hidupnya sampai ia naik ke surga. Hal itu bisa ditemukan dari jejak-jejak penampakan Bunda Maria yang ketika menampakkan dirinya di beberapa tempat selalu membawa pesan pertobatan (perdamaian). Salah satunya adalah kisah penampakan bunda Maria kepada dha anak kecil Maximin Giroud dan Melani Calvat yang sedang menggembalakan domba-domba mereka di pegunungan La Salette (Perancis).

Dalam kisah penampakan itu, Maria mengajak seluruh manusia untuk tidak terus menerus melakukan perbuatan dosa. Semakin banyak manusia berbuat dosa maka semakin beratlah lengan Yesus di salib. Kegagalan panen kentang yang membusuk pada saat itu menjadi pertanda hidup manusia yang dipenuhi dosa dan jauh dari beriman kepada Allah. Karena seruan dan pesan pertobatannya itu, Maria La Salette disebut sebagai bunda Rekonsiliatrik (pertobatan). Sikap Maria sebagai bunda rekonsiliatrik yang selalu menghendaki manusia terus menerus bertobat, memperbaharui hidupnya dengan semakin sering membangun relasi dan komunikasi dengan Allah dalam doa, telah menjadikan Maria sebagai Bunda pembawa perdamaian.

Sampai saat ini Maria senantiasa menghendaki manusia untuk berdamai dengan Allah.

Gereja yang Bersahabat di Tengah Keanekaragaman Agama

Oleh RD. Kanisius Kopong Daten (Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Matius : 22 : 1-10

Amanat Konsili Vatikan II membawa pembaruan paham Gereja : dari paham institusi keselamatan kepada paham Gereja sebagai sakramen keselamatan. Paham ini mengamanatkan kepada kita bahwa letak keselamatan tidak lagi pada lembaga atau institusi Gereja, melainkan pada kesatuan umat manusia dengan Allah (Lumen Gentium/ LG 1). Untuk itu Gereja memiliki paham baru yakni sebagai Umat Allah. Maka Gereja sebagai umat Allah hadir di tengah dunia sebagai tanda sekaligus sarana yang mewujudkan kesatuan mesra manusia dengan Allah dan persatuan seluruh umat manusia dengan manusia (LG 9). Pesan ini menginspirasi seluruh gerak karya pastoral untuk menjalin relasi persaudaraan kristiani dengan sesama seiman dan terpanggil untuk membangun persaudaraan sejati dengan sesama yang bukan seiman agar terjalin relasi persahabatan.

Tahun 2018 ini Keuskupan Tanjung Selor secara istimewa memfokus gerak pastoralnya dan menjadikan tahun 2018 sebagai Tahun Persahabatan.

Membangun persahabatan dengan sesama di tengah keanekaragaman agama khususnya di bumi Indonesia saat ini merupakan hal yang penting dan urgen untuk dilaksanakan. Mengingat potensi keretakan hidup berbangsa menjadi ancaman besar dalam kehidupan bersama sebagai satu bangsa. Masih terasa adanya masalah-masalah seperti relasi yang buruk antar umat beragama, diskriminasi dan sasaran terorisme terhadap kelompok minoritas, klaim asli dan pendatang, pribumi dan non pribumi, rasa curiga terhadap kelompok lain, minimnya komunikasi antar umat beragama, agama disalahgunakan untuk kepentingan politik dan bisnis, dan penghayatan agama yang bersifat formalistis dan legalistis sehingga dalam hidup keseharian kurang dihayati sebagai nilai dan sikap hidup pribadi dan kelompok.

Hal ini merupakan tantangan terbesar utuk menjalin relasi persahabatan yang sejati ditengah keaneragaman agama. Namun dengan hati terbuka untuk berdialog dan kerelaan mau bekerjasama yang tulus, sebetulnya kita telah meneladani sikap dan perilaku Yesus Kristus sendiri. Ia mengundang dan memanggil semua orang pada perjamuanNya yang telah Ia sediakan. Ia ingin agar semua yang percaya kepada Allah BapaNya duduk makan bersama dengan penuh sukacita dan damai. Ia menyuruh hamba-hambaNya pergi ke persimpangan-persimpangan jalan, menjumpai semua orang yang sudah pasti memiliki latar belakang agama dan kepercayaan beraneka ragam, terlebih mereka yang masih bersikap acuh tak acuh, bahkan tertutup hati bagi Allah dan intoleran dengan sesama untuk datang duduk makan bersama dalam semangat persahabatan dan cinta.

Sikap dialog terbuka yang telah ditunjukkan Tuhan Yesus ini, menginspirasi karya pastoral dan perutusan semua umat Katolik Keuskupan Tanjung Selor untuk mau menghadirkan sikap hidup Gereja yang ramah, menyapa dan bersaudara. Inilah langkah kecil pastoral yang terfokus di tahun 2018 ini. Langkah ini mengarah ke penghujung tahun. Jika langkah pastoral ini haruslah dilaksanakan dengan kerendahan hati maka kitapun telah turut mengubah dunia di tahun persahabatan ini.

Kita kerap kali orang mengeluh dan beralasan bahwa waktu kita sedikit. Bahkan alasan tersebut dijadikan jurus ampuh untuk menolak suatu tawaran atau kesempatan. Dengan kesadaran akan waktu yang terbatas, semestinya seseorang akan berusaha memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Banyak orang sebagaimana dalam Injil tadi menolak tawaran Tuhan Yesus dengan mengajukkan berbagai bentuk alasan untuk manjauh dari undangan Tuhan untuk bersahabat dengan-Nya. Justru semakin menjauh dengan Tuhan dan mengajukan keberatan itu malah jatuh dalam dosa dan kejahatan dan menimbulkan murka Allah yang dahsyat.

Maka gunakanlah waktu yang terbatas ini untuk menjalin persahabatan dengan Tuhan dalam doa di masa Advent ini. Gunakanlah waktu yang terbatas untuk bersilaturahmi. Jumpai dan sapalah semua orang sebagai sahabat. Berilah waktumu untuk mendengarkan, untuk mengunjungi sesamamu, terlebih bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

Karena Saya, Anda, dan Kita adalah sahabat.

Saya Punya Waktu

Alokusio oleh Br. Albertus Sigit Permana, MSF pada Rapat Kuria Bejana Kerahiman – Tanjung Selor (Sabtu, 17 November 2018)


Bacaan rohani : Buku Pegangan Halaman 201 point (d)

Saudara-saudari para legioner Maria yang terkasih.

Renungan sore hari ini adalah soal waktu atau time. Banyak orang memakai alasan waktu untuk pembenaran diri : Tidak ada waktu lah, sibuk lah. Memang banyak orang yang sibuk, tetapi kesibukan mereka tidak diisi dengan kegiatan-kegiatan rohani. Sepertinya kegiatan rohani seperti Legio, doa, ekaristi, tidak dipandang, bahkan mungkin dianggap membuang-buang waktu saja.

Para legioner yang terkasih,

Banyak orang punya prioritas, tetapi seringkali Tuhan, dengan segala kebenaranNya dan kekuasaanNya, tidak dijadikan prioritas. Sering kali kita egois, prioritas hanya untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan sendiri. Orang lain juga kurang mendapat perhatian.

Para Laskar Maria yang terkasih,

Seringkali kita mengatakan “sibuk”, tetapi selama sehari hanya omong saja, dan waktu habis berlalu. Ada orang yang berkata “Selama sehari ini aku berteman dengan setan.” Paulus pernah mengajak, “Making the best use of the time, because the days are evil.”Artinya pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Ef 5:16). Kita diajak untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya. Maka penyair Romawi – Lucanus (39-65 M) berkata : “Duce tempus eget“, waktu juga membutuhkan pembimbing.

Kita, saya dan Anda adalah pengelola dan pemilik waktu. Waktu yang kita miliki sama, sayangnya ada yang merasa  kurang waktu. Ada yang merasa kelebihan waktu, sehingga seolah-seolah membuang-buang waktu. “Omnis hebet sua dona dies“, setiap hari memiliki anugerahnya sendiri-sendiri. Atau bahkan ada ungkapan “Tempus edax rerum“, artinya waktu itu memakan segalanya.

Waktu adalah uang, time is money, atau “Empta dolore docet experential” : waktu adalah pengalaman. Pengalaman yang dibayar dengan kesungguhan mengajari seseorang untuk lebih bijak. Kita sebagai anggota Legio Maria seharusnya sudah banyak memiliki pengalaman yang indah dan unik, karena banyak waktu yang bernilai untuk kita persembahkan kepada Maria, baik lewat rapat, tugas-tugas, kegiatan-kegiatan, dsb. Mari jangan selalu memakai alasan waktu untuk mencari rasa aman, menghindar, dan sebagainya, tetapi kita gunakan waktu dengan bijak supaya lebih berdaya guna. Bapak pendiri Legio sendiri selalu menyediakan waktu untuk Tuhan dan sesama, apapun situasinya.

Tuhan memberkati dan Bunda Maria menyertai. Amin.


Br. Albertus Sigit Pramana, MSF adalah Asisten Pemimpin Rohani Kuria Bejana Kerahiman, Keuskupan Tanjung Selor.

Sumpit

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Bab IX “Legioner dan Tubuh Mistik Kristus”, point 2 “Maria dan Tubuh Mistik” (hlm. 58-60)

ADAKAH SUMPIT MAKAN HANYA SATU BUAH?

Marilah kita memulai alokusio pada hari ini dengan pergi ke rumah makan mie. Lokasinya di Pecenongan atau dimana pun yang penting kita makan di rumah makan mie. Mie tentunya dapat dimakan dengan banyak macam cara. Ada orang yang makan mie dengan menggunakan sendok saja atau dipasangkan dengan garpu. Tapi ada juga yang makan mie dengan menggunakan sumpit. Sumpit itu selalu dan dimana pun pasti berjumlah dua tidak pernah hanya satu. Kalau kita hanya diberikan satu sumpit maka kita pasti akan mengeluh, karena bagaimana kita akan memakan mie jika hanya ada satu sumpit satu sumpit saja. Itu berarti jika kita ingin makan mie kita harus menggunakan dua buah sumpit. Gerakannya pun harus sejalan. Tidak mungkin satu ke depan dan satu ke belakang, bagaimana makanannya akan terjepit? Jika kedua-duanya digerakkan ke depan secara bersamaan maka mie dan mungkin bakso akan terjepit. Sehingga kalau ditanyakan adakah sumpit makan hanya satu buah? Jawabannya pastilah tidak ada.

Legioner, Bacaan Rohani hari ini mengajak kita juga untuk mengingat kisah sumpit di atas tadi. Pertama, kalau kita semua di dalam presidium adalah pasangan sumpit-sumpit maka kita tidak dapat mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan anggota yang lain. Tidak ada sumpit yang hanya satu buah, demikian juga di dalam presidium tidak ada satu orang yang sendirian. Kalau begitu jadilah pasangan sumpit bagi yang lain dalam presidium dan satukanlah gerak masing-masing agar dapat “menjepit” mie dan bakso sehingga kita semua merasa enak ketika memakan mie dan bakso. Dan ingat gerakannya harus maju ke depan bukan ke belakang. Apa artinya? Artinya : tataplah ke depan dan bergandengan tangan bersama menuju kepada Allah lewat Maria. Bukankah kita sepakat bahwa di dalam presidium tidak ada orang asing, yang ada hanyalah semangat devosional kepada Maria dalam semangat iman, harap dan kasih Kristiani?

Kedua, kalau kita adalah salah satu sumpit dan pasangan sumpit kita adalah Tubuh Mistik Kristus, maka berlaku prinsip yang sama seperti yang di atas. Yang hendak saya sampaikan adalah manakala kita mengesampingkan, melalaikan, dan menjauhkan tugas doa dan karya kerasulan kita bukankah kita patut bertanya dimanakah pasangan sumpit saya yang satu? Atau bukankah hidup doa dan karya pelayanan kita kepada Maria pincang karena kita berperan sebagai satu sumpit saja?

Sumpit selalu berarti ada dua, tidak hanya satu. Sama halnya dengan kita, mengatakan kita adalah presidium berarti kita semua bukan individu-individu tertentu saja. Mengatakan melayani Tubuh Mistik berate tidak meninggalkan tugas doa dan karya kerasulan kita bagi Tubuh Mistik.

Jakarta, 23 Desember 2005

Oleh Fr. Christian Luly, MSC (saat ini sudah menjadi Imam di Banggai – Sulawesi Tengah), asisten pemimpin rohani Presidium Cermin Kekudusan – Paroki Bunda Hati Kudus Kemakmuran.

Bunda Maria, Bunda yang Menderita.

​Oleh Octavian Andreas Elang Diawan


Para legioner, tanggal 29 Maret 2018 kita merayakan hari jadi Senatus Bejana Rohani ke-31. Tanggal itu bertepatan dengan perayaan agung Kamis Putih di mana kita dan seluruh umat Katolik di dunia bersekutu hati  memulai masa Tri Hari Suci mengenangkan pengurbanan Tuhan Yesus Kristus.

Membicarakan kehidupan Yesus sesungguhnya membicarakan kehidupan Bunda Maria. Pada tulisan ini saya mengajak Anda untuk merenungkan pengurbanan Yesus dengan penglihatan Bunda Maria.

Seperti kita ketahui, Bunda Maria merupakan satu-satunya pribadi yang paling mengerti kehidupan Yesus Kristus. Sebagai ibu yang melahirkan, merawat, dan mendidik Yesus selama 24 jam dalam sehari selama 33 tahun, tentu Bunda Maria benar-benar mengerti siapakah Yesus. Bunda Maria memahami Yesus bukan sekedar karena pengajaran kataketik melalui guru sekolah atau membaca melalui laman-laman internet. Nah, bila St. Paulus saja bisa menjadi rasul yang sangat hebat karena mendengarkan pengajaran orang dan mengalami peristiwa mujizat, betapa Bunda Maria menerima mengajaran yang jauh melebihi Paulus. Sungguh Bunda Maria bukan hanya seorang ibu namun juga menjadi murid pertama Yesus – bahkan murid yang sempurna melebihi murid-murid Yesus di kemudian hari.

Dengan memahami prinsip ini maka beruntunglah kita sebagai devosan Maria karena kita bisa dengan mudah belajar dari Maria bagaimana mencintai Yesus. Kita tak perlu meraba-raba atau me-reka-reka bagaimana mencintai Yesus yang mungkin justru membawa kita pada kekeliruan teologis. Namun kita bisa secara sederhana meniru sikap Bunda Maria secara kongkrit. Sikap hidup Bunda Maria mampu membawa kita pada pengertian  bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar manusia dan benar-benar Allah. Bunda Maria memperlakukan Yesus bukan sebagai anak biologisnya semata namun juga menghormatinya sebagai anak Allah.

Bertepatan dengan ulang tahun Senatus Bejana Rohani yang ke-31, kita mengenangkan puncak ketotalan cinta Allah melalui pengurbanan Yesus. Allah tak berhemat sedikitpun dalam mencintai manusia. Allah memberikan semuanya, bahkan seluruh pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar agar kita semua dapat masuk dan tinggal di dalamnya. Allah mau seluruh manusia kembali ke rumah sukacita dan tiada satu orang pun  tercecer menikmati pesta abadi-Nya.  Namun semua itu harus terjadi melalui cara yang menyayat hati manusia.

Pada peristiwa paskah  ini kita menyaksikan  Bunda Maria mengalami puncak penderitaannya. Bayi elok menawan serba menggemaskan bernama Yesus yang 33 tahun sebelumnya yang ditimang digendong penuh peluk cium, kini tubuh yang sama harus dihajar-tuntas dengan cambuk sulur-sulur besi bergerigi; dan akhirnya harus  mati dengan cara Yahudi yang paling menjijikkan (hina) pada waktu itu, yakni direntangkan di kayu salib bermandi darah.  Kita  mengetahui bahwa hukuman salib (qisas) bukan hanya sekedar untuk membunuh badan, namun juga mempermalukan dia yang dibunuh dan keluarga yang ditinggalkannya. Sungguh hukuman yang super maksimal.

 

Mari kita merenungkan dan mengambil posisi sebagai Bunda Maria! Bagaimana perasaan kita? Tentu kita akan merasakan  kepedihan luar biasa menyaksikan anak sendiri yang begitu baik dan kudus didakwa menistakan agama (Yahudi) lalu dibunuh. Namun Bunda Maria sebagai murid Yesus belajar untuk taat pada kehendak Allah Bapa, membiarkan Allah melakukan segala hal atas hidupnya walau hal itu tidak masuk akal sehat dan terasa sangat menyakitkan.  Saya pribadi meyakini saat itu Bunda sebagai wanita  mengalami ‘kegalauan iman’ yang sangat dahsyat seperti yang dialami Yesus sendiri  melalui kata-kata pilu-Nya  “Eloi-Eloi, lama sabakhtani..!”. Bunda tentu merasa seolah-olah Allah pergi jauh meninggalkannya.

Namun kegalauan itu berubah menjadi kekuatan karena Bunda berserah menerima hal itu sebagai sebuah ketetapan. Tentu Bunda Maria teringat kata-kata Nabi Simeon ketika menerima bayi Yesus di bait Allah beberapa waktu setelah Yesus dilahirkan. Simeon mengatakan bahwa Bayi itu kelak akan menimbulkan perbantahan, dan sebuah pedang akan menembus jiwa Bunda Maria. Dan inilah waktu yang dimaksud Simeon: hari penyaliban Yesus.  Bunda Maria memiliki iman bahwa peristiwa maha pahit itu harus terjadi sebelum hal-hal yang indah akan terungkap di kemudian hari, di tengah derai air mata ia mau menerima kenyataan penyaliban itu sebagai proses pengudusan diri baginya dan para anggota komunitas umat manusia. Bayangkan bila Bunda Maria menolak untuk taat, tentu tak akan pernah ada gelar Maria Bunda Gereja, Maria Bunda Allah, Maria Pengantara Segala Rahmat atau yang lain.

Paskah tentu saja bukanlah sebatas mengulang liturgi Gereja tahun-tahun sebelumnya (ketaatan sistem), namun merupakan pendalaman terhadap pengenalan akan hakekat Allah yang cintanya tak bisa dibandingkan dengan apa pun – termasuk cinta orang tua kita sendiri. Liturgi boleh sama dan akan selalu sama dari tahun ke tahun, namun kita diharapkan untuk mampu mencercap hakekat misteri agung ini semakin dalam daripada waktu-waktu lalu; Sehingga akhirnya kita sampai pada titik di mana  mampu dengan jiwa tulus total tanpa kepalsuan mengatakan: “Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku”.

Di ulang tahun yang ke-31 ini marilah kita bersama mengupayakan pertumbuhan batin untuk lebih teguh kukuh mencintai Yesus dengan belajar bagaimana Bunda Maria mencintai Yesus. Pada masa kini Tubuh Kristus hadir sebagai Gereja Kudus.  Seturut teladan  Bunda Maria yang mencintai Yesus, maka kita harus menunjukkan ketotalan cinta pada Gereja. Semangat yang mendasari karya komunitas Legio Maria adalah mencintai Gereja. Oleh sebab itu marilah kita merefleksikan diri sejauh mana kita beperan dalam setiap keprihatinan (derita Gereja) terkait dengan pelayanan pastoral evangelisasi-nya? Semoga kita bukan malah sibuk ber-legio demi legio sendiri sehingga kita tidak  cukup mendengar  suara  Gereja yang memanggil-mangggil kita agar masuk barisan perjuangan Gereja melawan kuasa dunia.

Sahabat, mari bersama kita masuk ke hati Bunda Maria yang terdalam, bersama Bunda kaki bergerak mengikut Yesus yang tertatih-tatih meniti jalan-jalan berbatu memikul salib kematian-Nya sendiri yang begitu berat;  Mari hadir bersama  di  puncak Kalvari – di mana Ekaristi Agung dilaksanakan oleh Allah sendiri, dengan pengurbanan Tubuh dan Darah Anak Domba terbaik.

Biarlah pedang tajam yang menusuk jiwa Bunda tersebut.. juga menusuk jiwa kita… Memang memilukan……, menyakitkan…, tak tertahankan…

Tetapi biarlah itu terjadi

Agar kita semua tahu betapa sakitnya Anak Manusia menanggung sengsara atas nama…. cinta!


Sdr. Octavian Andreas Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani – Indonesia Bagian Barat.

PEMURNIAN MOTIVASI PELAYANAN

Dibawakan oleh RP H. Tedjoworo, O.S.C pada Planning Day Kuria Bunda Penasihat yang Baik, Bandung Barat 1.

Cimahi, 21 Januari 2018


Situasi pelayanan dalam Gereja mengalami banyak tantangan dari luar masyarakat, namun juga godaan yang mungkin berasal dari dalam diri para pelayannya sendiri. Para legioner adalah pelayan umat. Pelayanan kita sebagai legioner bersifat unik, sebab “harus dapat bertahan terus, menolak untuk menyerah” (Buku Pegangan / BP, Bab 4 No. 5). Sifat tidak mudah menyerah sebetulnya mencerminkan spirit yang menjaga kesetiaan kita dalam keanggotaan Legio. Dan ketika spirit kita terganggu, pelayanan pun terganggu atau bahkan menyeleweng dari arah yang seharusnya ditempuh.

Tantangan yang kita alami dari luar dihadapi bersama dengan seluruh Gereja, tetapi godaan dari dalam perlu direfleksikan dengan rendah hati oleh para legioner. Di tengah iklim ‘persaingan’ kelompok-kelompok pelayanan dewasa ini, legioner tidak perlu ikut-ikutan berlomba membuat program kerja yang serba hebat. Mungkin ini waktu yang baik bagi kita untuk melihat ke dalam, pada spiritualitas pelayanan kita. Dari penghayatan iman yang tulus, pasti muncul tindakan-tindakan kerasulan yang mengesankan. Pada saat yang sama, dengan rendah hati kita bisa mengoreksi mentalitas kita masing-masing, sebelum merencanakan pelayanan kita di tahun mendatang ini.

Bahan permenungan berikut bisa ditemukan kembali dalam Buku Pegangan, khususnya dimulai dari Bab 3, “Semangat Legio Maria adalah semangat Maria sendiri. Legio terutama berusaha meniru kerendahan hatinya yang luar biasa…” Sebelum berbagai keutamaan lainnya, kerendah-hatian disebutkan pertama kali sebagai spiritualitas kita (Bacalah terutama BP, 6.2, seluruhnya tentang kerendah-hatian). Perubahan hanya bersifat otentik kalau kita berani mengoreksi diri, dan mengoreksi diri hanya terjadi kalau kita memiliki kerendah-hatian.

1. Kerohanian: Apakah pembicaraan kita dengan orang lain cenderung mengenai hal-hal rohani? Situasi kerasulan dalam Gereja akhir-akhir ini sangat dipengaruhi sekularisme. Percakapan yang spontan muncul adalah tentang hal-hal profan, yang duniawi. Orang lebih antusias membicarakan tentang hobby, pekerjaan, keuntungan, prestasi, dan hiburan ketimbang hidup doa, saat teduh, Sabda Tuhan, serta pengalaman rohani.

Kalau legioner terbawa oleh arus profan (duniawi) dalam percakapannya dengan orang lain, berarti spirit atau semangat di dalam dirinya pun sudah menjadi kurang rohani. Bibit ‘kemunafikan’ (ketidakcocokan antara ibadat dan kelakuan) juga bermula dari godaan untuk lebih sering berbicara tentang hal-hal duniawi. Kita bisa mulai dengan saat-saat perjumpaan dengan sesama legioner: hal pertama apa yang kita ceritakan satu sama lain? Masih adakah dorongan untuk mengisahkan pengalaman rohani kita satu sama lain? Pengalaman ini adalah cara Tuhan menginterupsi keseharian kita, agar kita jangan tenggelam dalam sekularisme. Roh Kudus berjalan bersama kita karena Kristus menghadirkan-Nya (Yoh 14:16, Yun. ‘parakletos’= yang dipanggil untuk berjalan di samping). Buku Pegangan (5.5) menegaskan apa yang mestinya menjadi kebiasaan kita: “organisasi yang bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama Maria (Kis 1:14) yang telah menerima semuanya dari Allah”. Oleh karenanya, cara pertama kembali pada semangat kita sebagai legioner ialah: berbicara mengenai hal-hal rohani lebih dari biasanya. Tidak boleh ada rasa malu untuk membagikan pengalaman rohani, yakni sesuatu yang menyentuh hati dan iman kita, dari kejadian atau perjumpaan yang sangat sederhana sekalipun. Masyarakat yang terlalu ‘sekuler’ bahan percakapannya mesti dipengaruhi oleh cerita-cerita para legioner yang selalu mengingatkan bahwa Tuhan hadir di sekitar kita, bahwa penyelenggaraan Ilahi selalu terjadi kendati kita tidak menyadarinya. Membiasakan diri bercakap-cakap tentang hal-hal rohani juga menjadi sebentuk “penyucian diri” yang merupakan sarana pokok untuk berkarya (bdk. BP, 11.1).

2. Sikap Melegakan: Apakah kunjungan kita melegakan orang lain? Kita mungkin pernah mendengar komentar bahwa kunjungan para legioner tidak selalu dikehendaki. Sebaiknya tidak usah kita lekas-lekas mengatakan bahwa mungkin orang punya prasangka. Lebih baik kita melihat diri sendiri, sebab siapa tahu kedatangan kita malah cenderung merepotkan atau mengganggu ketenangan batin orang lain.

Kunjungan rumah (keluarga) menjadi ciri khas Legio (BP, 37.2), maka harus diteliti dengan seksama apakah kunjungan kita sungguh-sungguh membawa kelegaan. Kehadiran Yesus senantiasa menawarkan kelegaan dan penghiburan (Mat 11:28). Oleh karenanya, legioner harus memiliki semangat untuk melegakan dan mempermudah orang lain. Sebagai bagian dari keberadaan kita sebagai pelayan, motivasi kita harus selalu kembali pada hasrat untuk membantu sesama, dan ini akan sangat konkret dihayati dalam setiap kunjungan kita. Mungkinkah legioner tidak disukai karena kedatangannya malah menambah beban atau rasa bersalah? Itu bisa terjadi kalau kita terlalu banyak menasihati dan menegur, daripada mendengarkan dan menawarkan alternatif atas masalah (rohani) yang dialami orang lain. Selama kita tetap berusaha bersikap rendah hati, kunjungan dan perjumpaan dengan orang lain pasti akan mengurangi beban hidup mereka.

Sebaliknya, kalau kita merasa lebih tahu tentang berbagai hal, juga yang rohani, kunjungan itu akan berakhir dengan tidak menyenangkan bagi orang yang kita kunjungi. Bagian BP yang dirujuk di atas mengatakan, “Setiap rumah harus dilihat dari sudut pandang pemberian pelayanan”. Jelas ada yang keliru dalam hal motivasi kalau kedatangan kita malah mempersulit, meresahkan, apalagi mengesalkan orang lain. Semangat mempermudah dari Bunda Maria ditemukan dalam peristiwa Perkawinan di Kana (Yoh 2).

3. Bahagia Menjadi Legioner: Apakah kita senang menjadi legioner? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, dengan jujur. Jawaban yang kita ucapkan secara spontan sering kali hanya supaya “kedengaran baik”. Kalau direnungkan dengan lebih tenang, pertanyaan ini sebenarnya sangat personal, seperti halnya ketika seseorang ditanya mengenai pilihan jalan hidupnya.

Tidak ada yang memaksa kita untuk menjadi legioner. Bahwa kita masih menjadi legioner, mestinya juga bukan karena ada teman dekat kita di sana atau karena merasa tidak enak terhadap siapapun. Kalau kita dengan senang hati menjadi legioner, kerasulan kita pun akan dialami oleh orang lain sebagai pengalaman yang menyenangkan. BP membayangkan bahwa kerasulan legioner dapat menjadi “sinar terang” yang memotivasi banyak orang hingga membawa mereka ke “jalan baru yang lebih menyenangkan, menuju keselamatan dan kesucian” (37.10). Ketika dulu memanggil murid-murid pertama-Nya, Yesus juga menawarkan suatu jalan hidup baru yang kemudian disambut para murid itu dengan antusias (Mrk 1:14-20). Perasaan bangga sebagai legioner itu penting untuk menghayati kesetiaan dalam setiap kerasulan dan pelayanan. Mari kita sadari bahwa orang lain akan mampu merasakan, apakah kita ini memang bahagia dengan panggilan hidup kita atau sekadar ‘bertahan’ saja di dalam pelayanan ini.

4. Kelemahlembutan: Apakah kita dikenal sebagai pribadi yang lemah lembut? Kelemahlembutan sangat erat dengan kesabaran. Ketika merasa tidak sabar, biasanya orang mulai memaksa atau bahkan bersikap kasar. Meskpun berkali-kali semangat ini diingatkan kembali, dalam praktiknya kita lekas lupa.

Legio memang menekankan disiplin dalam doa, rapat, kegiatan, dan pelayanannya, karena namanya memang merujuk pada sifat suatu kesatuan tentara atau pasukan Maria. Di bagian awal kita sudah diingatkan tentang karakter pelayanan kita yang seharusnya tidak mudah menyerah. Akan tetapi, tekanan berlebihan pada disiplin dan ketegasan bisa membuat seorang legioner menjadi kaku dan kurang lemah lembut. Bunda Maria akan menghendaki sifat lemah lembut yang penuh belas kasih untuk menunjukkan bahwa mutu kerja seorang legioner adalah berbeda (BP, 39.2). Kelemahlembutan, seharusnya, adalah yang membedakan kita sebagai legioner dibandingkan pelayanan-pelayanan lain. Kita tidak mau memaksa siapapun, dan tidak boleh membuat siapapun merasa bersalah. Itu didasari oleh kesabaran Yesus sendiri yang menggambarkan diri-Nya sebagai sosok yang lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29). Yesus pasti mengalami kelembutan bersikap itu dari bunda-Nya sendiri yang telah membesarkan-Nya. Bila dalam pelayanan kita tergoda untuk kurang sabar, hendaknya mengingat sabda Tuhan yang membiarkan lalang tumbuh bersama dengan gandum (Mat 13:28-29). Tuhan membimbing setiap orang dengan cara yang berbeda-beda.

5. Berkorban: Apakah kita membedakan antara sikap bertahan dan berkorban? Kesetiaan yang kita hayati sebagai legioner suatu saat bisa terpancing menjadi sekadar ‘bertahan’. Tidak setiap kesulitan dan penderitaan harus dihadapi dengan sikap demikian, melainkan mesti diberi makna sehingga menjadi pengorbanan yang pantas dijalani dengan senang hati.

BP menjelaskan dengan tegas bahwa “kasih, kesetiaan, dan disiplin tidak mempunyai arti bila dilaksanakan tanpa pengorbanan dan semangat” (39.3). Kesusahan yang kita alami dalam tugas-tugas mesti diberi makna, sehingga niscaya bagi diri kita sendiri kesetiaan untuk melakukannya akan menumbuhkan iman kita agar lebih dewasa. Legioner mesti punya rasa syukur karena diizinkan Tuhan mengalami berbagai kesulitan (bukan kemudahan!) dalam setiap pelayanannya, seperti juga para rasul pada waktu itu, yang bersukacita karena boleh menderita karena nama Yesus (Kis 5:41).

Sikap mau berkorban mirip dengan keyakinan seseorang untuk memilih jalan hidup tertentu, meskipun berbeda dengan kecenderungan banyak orang di sekitarnya. Menjadi legioner adalah sebentuk jalan hidup yang membuat kita masih mampu tersenyum, kendati menghadapi berbagai situasi yang tidak ideal maupun tekanan. Penderitaan akan menjadi salib yang membanggakan untuk dipikul sebagai legioner, kalau kita menemukan makna di dalamnya.


RP. Hadrianus Tedjoworo, O.S.C. adalah Pemimpin Rohani Kuria Bunda Penasihat yang Baik, Bandung Barat 1 – Komisium Bunda Rahmat Ilahi.

Selamat Natal Legioner Terkasih..

Perayaan Natal yang Utama adalah kegembiraan, bukan saat show kemewahan. Kegembiraan bisa jadi obat penangkal sakitnya masyarakat dewasa ini. Manusia saat uni membutuhkan spirit untuk hidup. Sebuah senyuman, pemberian selamat, penyampaian salam, aksi kebaikan, kata maaf, dapat membawa kegembiraan,  dan kegembiraan itu akan kembali kepada kita. Selamat Natal 2017.  “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu!” (Kol 3:15a)

RP. Lukas Sulaeman, OSC
(Pemimpin Rohani Komisium Maria Assumpta Tangerang)


Saudara saudari legioner terkasih. Selamat merayakan kasih Natal. Selamat meneladan iman dan hidup Maria yang melahirkan kegembiraan, harapan, sekaligus mencintai tanggung jawab dengan setia.
Selamat Natal 25 desember 2017.
Selamat menyongsong dan menjalani tahun baru 2018.
Selamat mengisi kehidupan dengan kegembiraan dan kasih. TuYbe puoooll

RP. Florentius Hartanta
(Seminari Menengah Santo Yoseph Tarakan)


Selamat Natal 25 Des 2017 untuk semua Legioner Maria terkasih. Hari ini adalah hari Raya Kelahiran Yesus Kristus Juru Selamat kita. Apa ya kado yg bisa kita berikan kepadaNya?

Dalam hidup, Yesus sudah memberikan kado yang paling berharga untuk kita, yakni hidupNya sendiri. Yesus wafat untuk menyelamatkan umat manusia. Kini giliran kita memberikan kado ulang tahun Yesus di hari Natal tahun ini. Yesus tdk memerlukan barang berharga. Ia tidak memerlukan uang kita. Ia hanya memerlukan perhatian dan cinta kasih kita, baik kepada diriNya maupun kepada sesamaNya.

KelahiranNya di Betlehem mau menunjukkan cinta kasihNya kepada mereka yg sederhana dan kecil dan menderita. Yesus sudah memulainya sejak awal awal hidup di dunia ini. Dia bersabda dlm Injil : Apa yang kamu lakukan pada yang paling hina dan kecil ini kamu melakukanmua untuk Aku. Tindakan kita kepada mereka yang menderita dan bersengsara nyata dalam kesetiaan kita sebagai Legioner dlm tugas-tugasnya, dalam doa-doa Katena setiap hari maupun Rapat Mingguan. Terutama ketika kita hadir menghibur dan mendoakan mereka yg kecil menderita dan sederhana. Dengan kita mengisi hari-hari hidup kita dengan tindakan cinta kasih kepada sesama, itulah kado terindah yang Tuhan Yesus inginkan dari kita.

Selamat Natal 2017 dan Tahun baru 2018.
Ave Maria.

RP. Yoseph Astono Aji, OFM Cap
(Pemimpin Rohani Komisium Santa Maria Perawan yang Setia, Pontianak)


Natal adalah perayaan kelahiran Sang Juru Selamat. Ia lahir ke dunia untuk membawa damai bagi kita. Ia datang untuk memberi kita hidup yang berkelimpahan berkat.

Bagi kita, umat Kristiani, peristiwa natal sebagai memperbaharui hidup. Kita senantiasa mendambakan damai sejahtera dalam kehidupan pribadi maupun bersama. Hendaklah Damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu (Kol 3:15a). Semoga perayaan Natal mendorong dan menyemangati kita untuk menjadi duta damai bagi sesama.

Tuhan memberkati.
Bunda Maria mendoakan kita semua.

RP. Paulinus Maryanto, OMI
Pemimpin Rohani Kuria Benteng Perdamaian, Dahor.


Selamat Hari Natal, natal ini menguatkan dan meneguhkan para anggota Legio untuk semakin berbuat dan bertindak yang terbaik. Semoga berkat yang kita miliki menjadi berkat banyak orang.

RD. Redemptus Pramudhianto
(Pemimpin Rohani Komisium Bintang Timur, Keuskupan Bogor)

NATAL 2017: DAMAI SEJAHTERA BAGI SELURUH ALAM CIPTAAN

RP. Markus Yumartana, SJ

Direktur Tahun Rohani Seminari Tinggi Keuskupan Agung Jakarta


Peristiwa natal adalah peristiwa yang penuh misteri. Bagaimana Allah yang agung berkenan menjadi manusia lemah, dalam Yesus yang lahir ditengah keluarga Maria dan Yusuf? Yang kita rayakan dalam natal adalah misteri inkarnasi, Allah yang menjadi manusia ini.

Namun, menyadari bahwa Allah berkenan menjadi manusia seperti kita, tidak cukup hanya untuk sekedar dipahami begitu saja. Perayaan semestinya menuntun kita pada kesadaran konsekuensi dari pengakuan iman itu. Allah berkenan menjadi manusia berarti Allah sangat peduli untuk mengangkat martabat manusia dalam keluhuran keilahiannya. Bila Allah mengangkat manusia dalam tingkat luhur, maka pada gilirannya manusia yang merayakan meluhurkan Allah dalam kemanusiaannya.

Kita perlu belajar dinamika Roh dalam peristiwa inkarnasi itu. Allah yang meninggalkan keallahannya untuk menjadi manusia yang lemah dan hina, hinggal sampai pada kematiannya di Salib. Yesus, Sang Putera Allah, berkenan mengosongkan dirinya untuk menyelesaikan misi penebusannya sampai tuntas, hingga menyerahkan nyawaNya. Roh itulah yang diberikan kepada dunia, untuk penebusan dosa-dosa kita. Dan akhirnya, RohNya itulah yang membuka mata manusia untuk percaya dan menerima serta mengimani Dia sebagai Allah yang menjadi manusia untuk menebus dosa-dosa kita.

Maria memuliakan Allah

Orang yang pertama kali memberi tanggapan atas misteri inkarnasi itu adalah Maria. Ia tidak hanya dipanggil menjadi Bunda Putera Allah, tetapi ia juga dipanggil menjadi Bunda seluruh umat manusia, yang menanggapi misteri inkarnasi itu. Maria menanggapi dengan magnificat-nya. Yang intinya adalah komitmen untuk memuliakan Allah dalam hidupnya. Bagaimana Maria memuliakan Allah dalam hidupnya? Tidak hanya dalam pengakuan akan karya Allah, tetapi dalam kesetiaannya mengikuti dinamika hidup bersama Putera Allah. Menjadi Bunda Putera Allah tidak membuat Maria terpisah dari martabat kemanusiaannya. Justru semakin dekat dengan Puteranya, ia semakin masuk lebih dalam menghayati kemanusiaannya lewat jalan salib Puteranya. Maria ikut memikul secara nyata kemanusiaan kita. Itulah jalan “gloria Dei, vivens homo” (memuliakan Allah dengan hidup sebagai manusia).

Para Rasul menjadi saksi

Dalam Kisah Para Rasul kita melihat bahwa setelah mendapatkan anugerah Roh Kudus, para rasul dianugerahi karunia mengerti misteri Allah dalam peristiwan Yesus Kristus. Para Rasul menjadi terbuka mata batinnya. Mereka pun memberikan kesaksian dengan perkataan dan pengajarannya, tetapi juga dalam dinamika hidupnya yang penuh tantangan. Hidup memuliakan Allah dalam kemanusiaan selalu ditandai dengan “pertentangan”. Maka Salib bukan hanya mengingatkkan pada peristiwa penderitaan dan kematian Yesus Kristus, tetapi juga membawa pengalaman kemanusiaan kita yang terus menerus robek dan rusak. Jalan Salib para rasul itu hidup terus menerus dalam ketegangan dan pertentangan sebagai pengikut Kristus. Roh Kudus menuntun mereka melewati jalan salib itu.

Kita pun dipanggil

Kita merayakan natal, perayaan akan misteri inkarnasi Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nasaret. Namun kita pun dipanggil untuk memuliakan Allah dalam hidup kita. Bagaimana? Pertama-tama adalah pengakuan bahwa Allah terlibat dalam kehidupan kita sekarang ini. Bila kita mengakui hal ini, kita menemukan panggilan untuk meluhurkan Dia yang sudah terlibat dalam keemanusiaan kita. Kita memuliakan Allah dalam kemanusiaan kita. Kita terlibat dalam keilahian Allah dengan membangun komitmen hidup seturut cita-cita Allah bagi kita, yakni nilai kasih sayang dan perdamaian, persaudaraan dalam keadilan. Hidup dalam persaudaraan dan kasih sayang itu nyata dalam hidup penuh hormat di tengah kebhinekaan kita.

Kemanusiaan bukan robotik

Kemanusiaan jaman kita sekarang ada di persimpangan. Perkembangan teknologi cenderung menempatkan manusia dalam persaingan dengan kehadiran mesin-mesin dengan artificial intelligence (robot). Pergaulan manusia cenderung dibentuk oleh pola hidup robotik, yang cenderung meninggalkan imajinasi dan nurani. Kemanusiaan robotik adalah kemanusiaan yang kehilangan roh. Sebab, segala kebaikan dalam mentalitas robotik itu harus diklik dahulu baru jalan. Dalam cara bertindak robotik, tidak ada peluang untuk imajinasi dan daya kreatif iman.

We walk by faith, and not by sight! (cf. 2 Kor 5:7).

Kita hidup dengan iman bukan dengan logika robotik! Masihkah kita mampu memuliakan Allah dalam kemanusiaan yang paradoksal? Ditengah robotisasi, kita dipanggil untuk humanisasi. Di tengah cara berpikir aku – kamu menjadi aku- barangku, kita dipanggil untuk mengangkat hormat kemanusiaan dengan mengangkat sesama dalam semangat persaudaraan dalam kebhinekaan. Mungkinlah membangun persaudaraan dalam kebhinekaan?

Misteri inkarnasi adalah misteri Allah yang berkenan keluar dari diriNya dan menjadi setara dan seperasaan dengan kita. Oleh karena kita pun semestinya menanggapinya dengan keluar dari keakuan kita untuk masuk dalam ke-saudara-an bagi seluruh alam ciptaan. Bila kita bisa bersaudara, maka itulah damai sejahtera bagi seluruh alam ciptaan.

Selamat Natal 2017!

Dimanakah Nyala Api Itu?

[Menemukan Nyala Api Ilahi dalam Peristiwa Kelahiran Kristus dan Inspirasinya bagi Pribadi dan Kehidupan bersama dalam Legio Maria]


RP. Agustinus Maming, MSC.

Pemimpin Rohani presidium-presidium di Paroki St. Eugenius de Mazenod, Tanjung Redeb.

 


Pengantar

Para saudara (i) ku terkasih, apabila kita dengan cermat membolak-balik Kitab Suci, khususnya seputar kisah kelahiran Kristus, kita tidak dapat menemukan unsur api di dalamnya secara harafiah tekstual. Maka, perlu pendekatan lain bagi kita agar bisa menelusurinya. Pendekatan yang kami maksudkan adalah melihat karakter Api itu sendiri yakni: bernyala, membakar, menghanguskan, memurnikan. Di sisi lain, ada ungkapan “Kristus Cahaya Dunia” yang sering didengungkan dalam perarakan lilin Paskah. Namun, sayangnya, itu tidak berkaitan dengan perayaan kita saat ini yakni Natal, Peristiwa Kelahiran Kristus, melainkan peristiwa kebangkitan-Nya. Beruntunglah bahwa tema di atas disarikan dan disimpulkan dari Peristiwa Kelahiran Kristus dalam Kitab Suci. Dengan demikian, genaplah perkataan ini: “Injil, kabar Gembira Keselamatan” selalu bergema di sepanjang jaman. Oleh karena itu, Eskegese (tafsiran) Kitab Suci seputar Kelahiran Kristus menjadi sumber yang tepat.

Bernyala/Terang

“Dimanakah Dia, Raja Yahudi yang baru lahir itu? Kami telah melihat bintang-Nya dari Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat. 2:2). Orang majus (para ahli) mengikuti bintang itu, bersuka hati ketika melihatnya berhenti di Betlehem di Tanah Yudea. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya yaitu emas, kemanyan dan mur (Mat. 2:11). Dialah keselamatan yang disediakan bagi segala bangsa: terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat Israel” (bdk. Luk. 2:29-33).


Membakar

Pada waktu itu tampilah Yohanes pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: “Bertobatlah sebab kerajaan Sorga sudah dekat””. Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Mat. 3.1-3, bdk. Mrk. 1:1-8).

Selain pribadi Yohanes, para penginjil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) juga menampilkan pribadi Yusuf yang luar biasa. Kehadiran Kristus sebagai Anak Allah membentuk sikap Yusuf yang sangat jelas untuk berjuang mempersiapkan kelahiran-Nya dan mengamankan diri-Nya dari seluruh ancaman yang datang. Kisah Yusuf menghantar Maria dan Yesus ke Betlehem dan menemani Maria mengunjungi Elisabet menggambarkan pribadi ini. Kisah penyingkiran ke Mesir (Mat. 2:13-15), satu-satunya kisah istimewa karena hanya dikisahkan oleh Matius sungguh menggambarkan bagaimana  kehadiran Kristus membakar semangat Yusuf untuk menghindarkan sang Kristus dari bahaya yang mengancam. Kisah kelahiran Kristus ditutup dengan ungkapan: “Dan Yesus makin bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Luk. 2:52). Kiranya kesimpulan penginjil ini tidak dapat terjadi jika tanpa prakarsa seorang yang terbakar api kehadiran Kristus ke dunia.

Kisah lain yang sungguh luar biasa ialah sikap Maria setelah menerima kabar dari Malaikat Gabriel. Perjuangan pribadinya memantaskan diri sebagai kemah kehadiran Roh Allah yang mejadi manusia dan persiapannya berjuang melahirkan Kristus ke dunia dalam situasi yang tidak kondusif. Lebih dari pada itu, upaya mendidik Yesus, mendampinginya, memahaminya dan ada di saat suka, terlebih di saat duka sepanjang hidup Kristus (walaupun di luar konteks ini, saya spontan mengingat bagaimana figur Maria yang ditampilkan dalam Film The Passion of Christ). Maria sungguh memperlihatkan kepada kita kaulitas seorang pribadi yang sungguh-sungguh terbakar oleh kehadiran Kristus.

Figur Elisabet dan  juga Zakharia, juga patut dicatat. Kisah spesial ini secara khusus hanya diceritakan oleh Lukas. Pujian Elisabet kepada Maria demikian: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:42). Nyanyian pujian Zakharia (Luk. 1:67-80) juga ditampilkan. Baik, Zakharia dan Elisabet, keduanya merupakan figur, sebagaimana dikatakan oleh penginjil Lukas, penuh dengan Roh Kudus dan memuji Kristus. ternyata, selain itu, penginjil Lukas juga masih lagi mengisahkan figur gembala-gembala. Sungguh kehadiran Kristus menyentuh sampai kepada mereka yang sederhana baik materi, terlebih hatinya.

Yang terakhir, bukan berarti tak bernilai. justru yang dikisahkan terakhir mendapatkan penekanan yang sangat penting dari sang penulis. Itulah kisah Simeon dan Hana  (Luk. 2:29-32). “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dengan damai sejahtera, sesuai dengan Firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Luk. 2:29-30). Kisah ini hendak menekankan api kehadiran kristus tetap menyela dan membakar sampai kepada titik akhir hidup.

 

Menghanguskan – Memurnikan

Proses pembakaran dapat saja menghanguskan sampai tersisa abu, jika itu materialnya adalah kayu. Namun untuk logam mulia, pembakaran (tak hanya dengan api, tapi dengan cairan keras tertentu). Tujuannya sederhana saya, yakni memurnikan: menghancurkan, membedakan, memisahkan dan mengambil bagian yang jauh lebih penting. Jika hal ini dikaitkan dengan kisah-kisah seputar kelahiran Kristus, maka proses pemurnian itu sungguh-sungguh terjadi, dan faktanya terjadi dalam diri orang-orang yang sangat dekat dengan Yesus. “Bagaimana hal itu terjadi sebab aku belum bersuami”, demikian reaksi Maria menanggapi pemberitaan Malaikat Gabriel (Lih. Pemberitaan tentang kelahiran Yesus, Luk. 1:26-38). Reaksi yang muncul dari kesadaran diri sebagai pribadi yang belum bersuami. Demikian halnya juga terjadi pada diri Yusuf. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Maria, tunangannya, Yusuf bernait secara diam-diam hendak menceraikan Maria. Yusuf, pribadi yang tulus hati dan tak ingin mencermarkan nama istrinya di muka umum, melakukan hal tersebut. “Yusuf, Anak Daud, janganlah Engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus” demikian kata Malaikat kepada Yusuf (Mat. 1:20). “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang kaulahirkan itu, akan disebut kudus, Anak Allah.” Demikian kata Malaikat kepada Maria.

Kegelisahan Maria dan Yusuf sirna dan pandangan mereka akan Allah dan sesama (pasangannya) dibaharui karena yang dikandung ini adalah dari Roh Kudus.

Inspirasi bagi pribadi dan kolompok kita (Input)

Mencermati kisah Kelahiran Kristus dan juga tokoh-tokoh di dalamnya, butir-butir inspirasi apakah yang dapat kusarikan sebagai input bagi kehidup pribadiku dan kebersamaanku dalam kelompok Legio?

  1. Sebagai pribadi (kelompok atau komunitas, Tarekat atau Gereja), khususnya di dalam Legio, kita dapat mengintegrasikan diri kita dengan lakon orang majus.

    Kita ada dalam perjalanan mengikuti Kristus, Sang Bintang, bukan perjalanan menjadi bintang.

    Biarlah bintang itu terus berada di langit dan cahayanya terus menyinari kita hingga berhenti di tutup usia kita di jalan panggilan (bdk. Pengalaman Simeon dan Hana) atau dengan meminjam ungkapan rasul Yohanes: “biarlah Dia semakin besar dan aku semakin kecil”.

  2. Kesadaran diri bahwa aku berada di jalan mengikuti Sang Bintang, masih dengan meneladan para majus, memungkinkan kita untuk memberikan yang terindah yang ada pada kita. Para majus yang mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Kesadaran diri kita mesti menggerakan kita untuk mempersembahkan seluruh diri kita bagi sang Kristus.

    Seluruh diri kita mesti menjadi persembahan yang harum mewangi sepanjang hari.

    Indra penciuman orang yang ada di sekitar kita membaui kita dan dari penciuman itu orang mampu merasakan begitu bermaknanya berjalan mengikuti sang bintang. Ingat, bukan perjalanan menjadi bintang.

  3. Ada berbagai tokoh yang terlibat dalam kisah seputar kelahiran Kristus. Mereka adalah orang Majus (mewakili penguasa dan para cerdik pandai), Zakharia dan Elisabet, Simeon dan Hana (kalangan religius), Yohanes (di padang/orang asing), para gembala (masyarakat sederhana). Fakta ini memaparkan kepada kita secara terang akan kenyataan bahwa kehadiran Kristus menyentuh seluruh pribadi manusia.

    Sebuah ajakan untuk masing-masing pribadi di jalan panggilan ini, yang disatukan di dalam kebersamaan di Legio untuk membuka selebar-lebarnya pintu hati dan kelompok dengan menawarkan air yang sejuk.

    Selain itu, pribadi dan kelompok kita, yang sadar akan keterpanggilannya, mampu menerangi  setiap orang dalam aneka perjumpaan di setiap karya legioner kita. Semoga api cinta Kristus terus kita kobarkan dimana-mana.

  4. Pemurnian tokoh-tokoh penting seputar Kristus, yakni Maria dan Yosep sungguh terjadi. Hal ini juga menyadarkan kita, para legioner  untuk memurnikan diri dan kelompok legio kita.

    Pemurnian yang dimaksudkan yakni pembaharuan diri terus-menerus baik diri maupun kelompok, baik pikiran (pola pikir) dan perbuatan (pola tingkah laku).

    Agere contra (bertindak sebaliknya dari keinginan sesaat) dan Discerment (memilah-milah) baik pribadi maupun kelompok menjadi sesuatu yang mutlak perlu agar keterpanggilan kita di legio terus terpelihara dan makin berbobot.

Semoga kita terus berjalan Mengikuti Sang Bintang, membiarkan cahayanya-Nya menyinari kita dan didapati tetap setia hingga maut mengahiri hidup kita sebagai seorang yang terpanggil di Legio.

Selamat menyambut pesta Natal !!!

Ave Maria…

Pesan Natal 2017 

RP. Rofinus Jewarut, SMM

Pemimpin Rohani Komisium Bunda Rahmat Ilahi, Keuskupan Bandung. 

 


Para Legioner yang terkasih.

Kita semua pasti merasa sangat bergembira dan bersukacita karena bisa merayakan natal lagi. Kita bergembira dan bersukacita tentu saja bukan hanya karena bisa memiliki pakaian yang baru dan bagus, bisa ikut bertugas dalam perayaan natal, bisa bertemu dan berkumpul bersama keluarga, tetapi terutama karena kita semua diberi kesempatan lagi untuk mengalami, mengagumi dan mensyukuri karya penyelamatan Allah melalui penjelmaanNya menjadi Manusia dalam rahim bunda Maria.  

Bagi kita para Legioner, peristiwa penjelmaan Allah menjadi manusia (inkarnasi),  bukan saja untuk dirayakan atau dipestakan berulang-ulang setiap tahun, tetapi yang utama adalah untuk dimani dan dihidupi. Untuk itu, kita perlu menatap peran Bunda Maria dalam rencana karya keselamatan Allah itu. Bunda Maria menanggapi rencana Allah itu, dengan imannya yang tulus, sikapnya yang sederhana, dan ketaatannya yang mantap. Karena itu, Allah semakin terpesona dengannya. Maka, rencana karya penyelamatan itu terjadi secara sempurna dalam dirinya. Bunda Maria melahirkan Yesus Kristus, Penyelamat dunia. Itulah arti natal bagi Bunda Maria.

Kiranya, para Legioner merayakan Natal dalam semangat Bunda Maria itu. Sehingga, secara rohani para Legioner, berkat imannya, ketaatannya, kesetiaannya, ketekunannnya dan keberaniannya dalam tugas kerasulan, Allah semakin terpesona dan Allah tinggal dalam diri para legioner dan akhirnya para legioner mampu juga melahirkan Kristus bagi sesama. Melahirkan Kristus dalam arti melahirkan semangat pengabdian, semangat pengorbanan, semangat pemberian diri bagi sesama dan semangat untuk berbagi. Sesungguhnya, itulah Natal bagi kita.

Selamat Natal 25 Desember 2017 dan menyongsong tahun baru 1 Januari 2018.

Tuhan memberkati anda semua. Ave Maria.