Jadilah Pelaksana, Bukan Pengatur

Sumber berita : panitia 100 tahun Legio Maria

Sabtu (24/10) malam yang lalu adalah salah satu malam minggu berfaedah bagi para legioner. Hari itu, Bapak Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap berkenan menjadi salah satu narasumber dalam sebuah acara talkshow online yang disiarkan langsung dari Medan, bersama dua orang pembicara awam Yustinus Sukisno sebagai legioner senior dan Yudith Kartini Sitohang sebagai legioner junior. Dimoderatori oleh Daniel Hutajulu, talkshow dengan tema “Fiat Voluntas Tua dalam Legio Maria” ini merupakan talkshow kedua dalam rangkaian kegiatan dari perayaan 100 tahun Legio Maria.

Fiat voluntas tua pasti sering didengar oleh mereka yang bergerak di dunia pelayanan. Bahkan kalimat ini menjadi tema perayaan 100 tahun Legio Maria di Indonesia. Terjemahan bebasnya kurang lebih berarti, “[aku ini hamba Tuhan,] terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Kalimat ini muncul dalam Injil Lukas, sebagai jawaban Maria atas tawaran keselamatan yang datang dari Allah
melalui kabar sukacita yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel.

Namun untuk dapat mengerti semangat dari kalimat itu, maka kita harus membaca ulang kisah kabar sukacita ini dari awal dan meresapi bagaimana respon Maria saat itu. Maria tidak bertanya “mengapa aku?”, melainkan bertanya “bagaimana hal itu dapat terjadi?”. Pertanyaan ini sesungguhnya mendahului kesediaan Maria akan kabar yang didengar Maria dari Malaikat Gabriel. Dan dengan menyatakan diri sebagai hamba Tuhan, Maria menyampaikan bahwa dirinya siap untuk melayani dan berserah penuh pada kehendak Tuhan. Lalu kemudian Maria dengan rendah hati mengharapkan agar
kebenaran itu dapat tergenapi, dengan kalimat penutup, “jadilah padaku menurut perkataanmu”.

Secara keseluruhan, Maria telah memberikan teladan kepada kita semua untuk selalu mencari kehendak Tuhan dalam doa-doa yang kita sampaikan pada Tuhan, dan bukan malah menyampaikan program-program kita pribadi untuk dikabulkan oleh Tuhan. Seorang hamba akan selalu siap sedia menerima perintah dan menjalankan tugas kendati beresiko membahayakan diri sendiri,
karena mengetahui bahwa Allah sudah mengatur semua hal.

Menjadi seorang legioner tidak melulu soal berdoa panjang-panjang seperti Rosario. Namun ada karya yang harus dilakukan, seperti kunjungan. Pada saat kunjungan inilah, kita tidak lagi menampilkan apa program kita kepada orang lain, melainkan mencari kehendak Tuhan untuk kita lakukan. Bersamaan dengan itu, kita membentuk karakter kita melalui penolakan-penolakan yang kita alami. Tidak mudah untuk menjadi seorang pelaksana yang baik, namun itulah yang harus kita lakukan.

Cara terbaik menularkan semangat adalah dengan teladan hidup. Dengan bertanya pada Tuhan apa yang Tuhan inginkan untuk saya lakukan, lalu melakukan
jawabannya dalam keseharian kita. Orang pasti akan bertanya apa yang menjadi sumber inspirasi kita, dan kita bisa menjawab Bunda Maria lah yang menjadi sumber inspirasi kita. Bunda Maria adalah teladan kita dalam hal beriman.

Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap

Sedikit bocoran, Bapak Uskup Medan juga pernah menjadi legioner. Bersama mas Yus dan Yudith, Bapak Uskup juga membagikan pengalamannya menjadi seorang legioner. So, pastikan dirimu menyimaknya melalui tautan link https://youtu.be/iaSVMXg4qxE, ya. Ave Maria.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *