Tidak Mendengarkan

Sharing dari Sdri. Rosita Taufik.


Pada suatu sore saya terbangun dari tidur dan betul-betul sangat terkejut ketika melihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 15.45 wib padahal sore itu saya harus memimpin rapat presidium pukul 16.00 WIB.

Saya terburu-buru mandi dan berpakaian, lalu pergi. Namun ketika saya sampai, rapat telah dimulai. Tanpa memperhatikan mereka sedang berdoa lalu saya sendiri mulai berdoa pembukaan dari lembaran doa Tessera, karena setiap legioner yang terlambat, wajib untuk mendoakan doa pembukaan terlebih dahulu.

Tetapi setelah saya selesai dengan doa pembukaan saya merasa bingung ketika saya mendengar mereka doa penutup. Saya melihat berganti-gantian ke jam tangan dan ke jam dinding yang ada di ruangan rapat presidium, apakah saya salah melihat jam? Seingat saya, saya hanya terlambat 20 menit dan tidak seharusnya saat itu sudah doa penutup.

Saya tertunduk lemas, perasaan saya begitu bingung, kesal, jengkel dan marah bercampur aduk. Saya pikir sejak kapan rapat boleh mereka buat demikian, sesuka hati tanpa alasan rapat langsung ditiadakan. Sedangkan saya sebagai ketua presidium tidak diberitahu dan diminta persetujuannya.

Saya melirik kepada semua yang hadir, rupanya wakil ketua pun terlambat, jadi yang memimpin rapat pada saat itu adalah Bendahari yang boleh dikatakan cukup senior jika di bandingkan dengan saya. Tetapi bagaimana hal ini bisa terjadi ????

Begitu mereka selesai doa penutup, langsung saya tegur dengan nada yang cukup kasar dan pedas, masak legioner yang telah senior tidak tahu peraturan rapat. Segala macam kemarahan lainnya keluar dari mulut saya tanpa sedikitpun saya mau mendengarkan keterangan dari mereka. Saya tetap bersikeras hati dengan prinsip saya, yaitu walau apapun yang terjadi rapat harus berjalan sebagaimana mestinya.

Setelah emosi saya agak reda, semua anggota duduk kembali dan mereka mengatakan bahwa mendadak ada permintaan dari anggota Santo Yosef agar legioner bersedia untuk doa bersama di Sunggal karena saat itu hanya 3 orang anggota St.Yosep yang hadir.

Kebetulan sekali sekretaris Presidium juga merupakan sekretaris di Himpunan Keluarga Santo Yoseph. Jadi teman-temen di presidium tanpa pikir panjang langsung meniadakan rapat Legio dan diganti dengan doa Tessera.

Setelah mendengar semuanya itu hati saya masih tetap mendongkol, saya merasa perlu ketegasan sebagai seorang ketua, saya masih tetap tidak mau mendengarkan alasan mereka. Harga diri saya terganggu dengan peristiwa ini .

Semua anggota menyabarkan saya dengan mengatakan : “Sudahlah” tapi saya tetap masih dalam keadaan emosi. Akhirnya saya baru sadar ketika saya diberitahu bahwa sekretaris tersebut telah menangis, dan ketika itu timbullah penyesalan pada diri saya .

Saya baru merasakan bahwa ia mempunyai maksud baik. Lalu saya menghampirinya untuk berkomunikasi. Begitu melihat wajah teman itu menangis yang selama ini adalah orang yg cukup periang, saya jadi ikut terharu. Baru saya sadari bahwa saya tidak mau tahu dan kurang mau mendengarkan alasan yang diberikan oleh teman-teman, padahal tujuan  dan maksud sebenarnya adalah baik.

Akhirnya kami berdua saling berangkulan dan menangis sambil meminta maaf. 

Saya sangat menyesalkan peristiwa ini. Inilah akibat tindakan saya yang tidak mau mendengarkan orang lain terutama salah satu pengurus yang selalu mendampingi saya.

Tugas berdoa untuk umat yang dipanggil oleh Bapa di surga juga merupakankan suatu kewajiban bagi seorang Legioner. Dan sebenarnya saya harus bersyukur dan berterima kasih bahwa dia tidak terlambat seperti saya dan wakil Ketua.

Walau peristiwa ini terjadi 1992 dan telah 25 tahun berlalu tapi masih tetap dalam kenangan saya. Saudari wakil ketua kini menetap di Jakarta dan saudari Bendahari yang lebih senior dari saya kini di Pekanbaru, sedangkan saudari sekretaris akan kembali dari Jakarta dalam waktu dekat ini.



Sdri.Rosita Taufik adalah Ketua Regia Ratu Para Syahid Medan periode Maret 2016 – Februari 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *