Ada Presidium Khusus Tuli, nggak?

Sumber berita: Daisy Haryanto


Pernah kah Anda mendengar istilah “BIsIndo”? BIsIndo adalah bahasa isyarat Indonesia, yang belakangan ini menjadi booming kembali dalam penyampaian informasi seputar covid19. Dan ternyata, gereja Katolik juga mulai mempelajarinya, loh.

Francis Daisy Haryanto, seorang legioner dari paroki Cilandak, adalah salah satu peserta kelas BIsIndo sejak November 2019 lalu. Daisy menuturkan bahwa BIsIndo itu terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas umum dan kelas liturgi. Kelas umum ini cabangnya sudah ada di mana-mana. Tapi untuk kelas liturgi, setahu Daisy baru ada dua. Salah satunya di gereja Katedral Jakarta. Peminatnya lumayan ramai, sekitar 40 orang, sehingga harus dibagi dalam dua kelompok. “Tapi yang gugur juga banyak,” sahut Daisy sambil menyematkan emotikon sedih dalam chatnya. Selain karena kesibukan masing-masing, gugurnya peserta juga disebabkan karena materi yang semakin sulit. Dalam kelas lanjutan, peserta diwajibkan untuk mampu menerjemahkan homili pastor ke bahasa isyarat saat itu juga, tanpa bocoran catatan dari pastor yang bertugas.

Berawal dari ngobrol santai dengan seorang pengajar kelas liturgi mengenai keseruan bahasa isyarat, akhirnya Daisy menghadirkan diri secara rutin dalam setiap pertemuan yang ada. Dari sini lah, perlahan Daisy mulai mengerti bagaimana kesulitan komunikasi yang dialami oleh ‘teman tuli’, sebutan resmi bagi mereka yang tidak bisa mendengar. Salah satunya adalah tidak bisa disambi. “Selama ini kita kadang bicara sambil melakukan hal lain, seperti pegang hape atau ngapain. Tapi sama mereka, itu nggak bisa kita lakukan. Kita harus saling memandang karena mereka membaca ekspresi wajah kita,” jelasnya. Dari cerita yang Daisy tangkap, teman tuli lebih suka menggunakan BIsIndo dibandingkan SIBI. SIBI juga merupakan bahasa isyarat, namun bagi teman tuli terasa kurang ekspresif dan lebih datar.

Eh, mau nanya dong. Legio ada presidium khusus teman tuli nggak ya?” sebuah pertanyaan spontan, namun mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan untuk ke depannya. Bagaimana pun juga, teman tuli juga membutuhkan bantuan dalam pertumbuhan dan perkembangan iman mereka, seperti teman dengar pada umumnya. Maka tidak lah berlebihan jika hal ini menjadi kewajiban kita bersama untuk dapat menjembatani mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Sejak Ikut Legio Maria…

Sumber berita: Gabriella Lintang


Namanya Gabriella Lintang Rimananda, ia biasa dipanggil Lintang. Dia seorang siswi kelas XI dan tentunya juga seorang legioner. Aktif di Legio Maria sudah ia lakukan sejak tahun 2016 lho, tepatnya saat ia masih kelas VII. “Awalnya aku diajakin teman aja, niatnya mau menambah pengalaman dan relasi”, ungkap Lintang menjelaskan bagaimana awalnya ia mengikuti Legio Maria.

Ternyata setelah menjadi legioner, Lintang didorong untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia diajarkan komitmen melalui hadir rapat mingguan dan berdoa Catena setiap hari, tanggung jawab untuk sedapat mungkin menjalankan tugas, berbicara di depan teman-teman melalui laporan tugas atau tugas kunjungan, berdoa rosario, baca Kitab Suci, berlatih merefleksikan diri saat menyampaikan kesan tugas, dan sebagainya. Yang tidak kalah penting, ia juga bertemu teman-teman yang positif, yang saling mendukung dan memotivasi satu sama lain.

“Dulunya aku pemalas, mudah marah, sering nyontek. Sejak ikut Legio Maria, aku jadi lebih sabar, mau berusaha, lebih rajin, gak nyontek lagi, gak asal bertindak. Tiap kali mau nakal, seperti ada yang ingatin untuk tidak demikian, lalu teringat sifat dan sikap Bunda Maria.”

Lintang juga berbagi beberapa pengalaman pribadinya yang membuat dia merasa semakin dekat dengan Tuhan dan Bunda Maria. Siang itu pada tahun 2017, sepulang sekolah ia akan mampir ke sebuah toko yang lokasinya berada di seberang jalan. Karena sudah siang, lelah dan lapar, ia menyeberang begitu saja tanpa melihat kiri kanan. Saat itu sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sedang melaju. Namun tiba-tiba ia merasa ‘seseorang’ menariknya mundur dan ia terhindar dari kecelakaan. Saat itu, ia menyadari tidak ada seorang pun berada di belakangnya. Jantung yang berdetak cepat membuat Lintang terdiam sejenak dan terlintas begitu saja wajah Bunda Maria di batinnya. “Terima kasih Tuhan atas penyertaan-Mu melalui Bunda Maria”, ucapnya dalam hati.

Selain kisah itu, ada juga kisah lain. Lintang yang saat itu duduk di kelas X dan sedang masa ujian, ketiduran dan belum belajar. Tiba-tiba ia bangun dari tidurnya dan merasa seperti ‘seseorang’ baru saja membangunkan dan mengingatkannya untuk belajar agar ujian besok dapat diselesaikan dengan baik. Saat ia duduk dan membuka tempat alat tulisnya, ia melihat ada sebuah rosario di dalamnya. Saat itu lagi-lagi wajah Bunda Maria muncul dalam batinnya.

Masih banyak sekali pengalaman atas penyertaan Tuhan dan Bunda Maria yang dialami, yang jika ingin diceritakan tentu tidak akan ada habisnya karena kasih-Nya pun tidak pernah berkesudahan. Singkat cerita, semakin dekat dengan Tuhan, akan membantu kita semakin menyadari penyertaan-Nya.

Berpuasa Sebelum Menyambut Komuni

Referensi: indocell.net / yesaya


Pernah kah kamu mendengar aturan berpuasa sekurangnya satu jam sebelum menyambut Komuni Kudus? Tapi kan sekarang masih banyak yang misa online, tidak ada Komuni Kudus. Beberapa bulan terakhir, memang hampir seluruh gereja di dunia menutup pintunya karena mengikuti anjuran pemerintah setempat guna pembatasan sosial untuk mencegah merebaknya virus Covid-19. Namun kini, pintu itu mulai dibuka kembali secara perlahan. Misa sudah mulai dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Eits, tidak hanya protokol kesehatan saja yang harus diperhatikan, melainkan juga protokol dalam menyambut Komuni Kudus.

Kenapa sih harus berpuasa?

Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) no. 19, ada pernyataan yang tertulis jelas di sana. “Yang akan menerima Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata dan obat-obatan. Hal ini dikecualikan bagi lansia, orang sakit, dan yang merawatnya”. Menurut sejarah, sebenarnya peraturan ini merupakan refleksi dari tradisi kuno dalam gereja kita, yang bahkan berasal dari tradisi Yahudi.

St. Paulus mengingatkan kita, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (II Kor 4:10). Dan Paus Paulus VI dalam konstitusi apostoliknya Paenitemini (1966), mendorong umat beriman dengan mengatakan, “Mati raga bertujuan untuk ‘memerdekakan’ manusia, yang seringkali mendapati dirinya, karena kecenderungannya akan dosa, hampir terbelenggu oleh nafsu-nafsunya sendiri. Melalui ‘mati raga jasmani’ manusia memperoleh kembali kekuatannya dan luka-luka yang timbul akibat sifat dasar manusia karena kurangnya penguasaan diri disembuhkan oleh obat pantang yang bermanfaat”.

Paus Yohanes Paulus II dalam Dominicae Cenae (1980) menyesali timbulnya masalah karena sebagian orang tidak mempersiapkan diri secara pantas untuk menyambut Komuni Kudus, bahkan dalam keadaan dosa berat. Bapa Suci mengatakan, “Sesungguhnya, yang seringkali didapati ialah sangat kurangnya perasaan tidak layak diri sebagai akibat dari kurangnya hasrat hati, jika dapat dikatakan, kurangnya rasa ‘lapar’ dan ‘haus’ akan Ekaristi, yang juga merupakan tanda akan kurangnya kepekaan yang pantas terhadap sakramen
kasih yang luar biasa ini dan kurangnya pemahaman tentangnya”. Dan berpuasa sebelum menyambut Komuni Kudus membangkitkan rasa lapar dan haus jasmani akan Kristus, yang akan semakin membangkitkan rasa lapar dan haus rohani yang sepantasnya kita miliki, seperti yang tercatat dalam beberapa kisah di Alkitab.

Oleh sebab itu, berpuasa sebelum menyambut Ekaristi membantu kita dalam mempersiapkan diri menyambut Komuni Kudus secara keseluruhan – tubuh dan jiwa. Mati raga jasmani ini memperkuat fokus rohani kita kepada Kristus, sehingga kita dapat dengan rendah hati bersatu dengan Juruselamat Ilahi yang menawarkan Diri-Nya sendiri bagi kita.

Berita Konsilium Juli 2020

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)


Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


AMERIKA

  PERU

Senatus Lima: Selama lockdown akibat pandemi virus Covid-19, beberapa presidium mengadakan rapat virtual untuk mendoakan doa-doa legio, doa rosario, mempelajari buku pegangan, katekismus, serta sharing dokumen kepausan. Ada juga presidium lain yang meminta para anggotanya untuk mendoakan doa-doa legio setiap hari terutama di jam rapat mereka. Beberapa presidium melakukan kontak dengan anggota auksilier melalui telepon atau mengadakan pertemuan online. Kaum muda berdoa di luar rumah bagi mereka yang sakit ataupun yang telah meninggal karena pandemic virus Covid-19. Yang lainnya memberikan nomor telepon mereka agar orang-orang yang gelisah atau kesepian dapat menghubungi mereka. Ada juga yang berdoa rosario dari balik jendela untuk mendoakan para tetangga. Saat ini ada 2 kelompok pra-junior yang telah terbentuk karena dukungan para orang tua. Misa online bagi Legio Maria secara nasional dipimpin oleh Pemimpin Rohani.

  BOLIVIA

Senatus La Paz: Rapat senatus bulan April dan Juni diselenggarakan online melalui aplikasi Zoom dan dihadiri oleh banyak anggota meskipun beberapa orang hanya dapat mendengar karena tidak memiliki alat yang lengkap. Ada laporan dari dua dewan dan menunjukkan bahwa tugas-tugas legio tetap dilaksanakan. Pemimpin Rohani memuji keberanian para legioner yang melakukan kunjungan ke penjara meskipun kunjungan dari luar tidak diijinkan
pada masa pandemi ini. Koresponden konsilium secara virtual mengikuti rapat senatus bulan Juni. Regia Santa Cruz tetap menyelenggarakan rapat-rapat bulanan regia maupun pra regia. Presidium yang tergabung dengan regia melakukan rapat mingguan secara virtual. Koresponden mereka juga tetap melakukan kontak dengan dewan-dewan serta presidium di lokasi yang terpencil. Melalui aplikasi Zoom dan Whatsapp, doa rosario diajarkan dan didaraskan. Ketua Regia berkomentar bahwa Roh Kudus dan Ibu Maria telah membuka cara baru bagi kita dalam melakukan evangelisasi. Kita tengah menjajaki ide-ide baru seperti pengajaran religius, kelompok-kelompok Patrisian, dan bahkan memulai presidium baru.

  CHILE

Senatus Santiago: Semua presidium tetap berjalan walaupun ada banyak larangan dan penderitaan akibat pandemic Covid-19. Tugas-tugas legio yang dilakukan adalah legioner menghubungi keluarga-keluarga yang memerlukan perhatian khusus seperti para lansia dan mereka yang hidup sendiri melalui Whatsapp. Buletin Senatus yang berisi laporan-laporan dari Konsilium dan juga informasi setempat sudah sampai kepada presidium.

  COLOMBIA

Senatus Bogota: 3 regia, 2 komisium, 1 kuria, dan 3 presidium memberikan laporan mereka sebelum lockdown. Senatus mengidentifikasi perluasan dapat dilakukan dengan membentuk presidium senior di 4 paroki, sebuah kuria junior, dan sebuah presidium junior. Mereka juga menyelenggarakan beragam jenis pelatihan lanjutan, serta pertemuan doa untuk dewan-dewan yang tergabung. Ketika para perwira dari dewan yang jauh mengunjungi senatus, mereka diikutsertakan dalam kegiatan merasul. Pekerjaan bagi kaum tuna wisma dan migran dari Venezuela amat diutamakan. Mereka juga berpartisipasi dalam program-program radio. Sebuah komisium diberitakan mengedarkan selebaran mengenai Bunda Maria di bar dan juga rumah-rumah. Sebuah kuria setiap bulan mengadakan sarapan bersama kaum lansia agar dapat memberitakan kabar baik. Sebuah komisium berhasil merekrut 25 anggota auksilier dari kunjungan mereka ke penjara.

Regia Bucaramanga melaporkan gerak jalan ekologi bagi kaum muda. Selain itu, berkat doa rosario terdapat 3 perkawinan diberkati, pertobatan seorang pecandu narkoba yang sekarang rajin mengikuti misa bersama ibunya, serta seorang pendeta.

Regia Bogota melaksanakan tugas bagi orang muda pecandu narkoba dan penderita HIV. Mereka mendirikan 3 presidium baru dan mencegah penutupan sebuah dewan kuria karena komunikasi yang buruk dengan klerus.

Regia Barranquilla melakukan kontak dengan gadis-gadis jalanan dan beberapa dari mereka bergabung ke dalam presidium menjadi anggota aktif. Di keuskupan Riohacha mereka melaksanakan tugas bagi suku Wayuu yang keberadaannya dilindungi, kemudian berhasil mengkatekese anak-anak mereka untuk menerima komuni pertama dan Sakramen Krisma, serta 3 pasangan menerima Sakramen Perkawinan.


  AUSTRALIA

Komisium Brisbane: 840 legioner berkunjung ke orang sakit dan lansia di rumah-rumah atau rumah perawatan, membantu pendaftaran pengungsi Siria ke paroki, serta mengajar agama kepada orang-orang autis dan lumpuh otak di rumah perawatan. Satu-satunya presidium di Ayr, Keuskupan Townsville, memiliki sedikit anggota dan legio masih kurang memberikan dampak positif di luar Brisbane.

Senatus Sydney: Buletin di bulan Januari melaporkan 2 presidium Indonesia melakukan kunjungan penghiburan ke rumah-rumah perawatan dan komunitas lansia dengan mendoakan rosario. Patung Bunda Maria diedarkan, manik-manik rosario dibuat untuk diberikan kepada katekis setempat. Kuria Illawarra melakukan kunjungan rumah ke rumah, melayat dan mengedarkan 7 patung Bunda Maria. Para legioner menjadi sukarelawan pada seminar bulanan tentang peneguhan perkawinan dan mendapatkan banyak anggota auksilier.

Senatus Melbourne: Komisium Noumea di Kaledonia Baru memiliki 8 Kuria di pulau utama dan 1 di pulau Wallis. Retret tahunan komisium dilakukan 15-18 Januari dengan kehadiran 160 orang muda dan tua. Sebuah presidium berhasil didirikan setelah retret. Tugas-tugas yang dilakukan termasuk mengajar katekis ke suku-suku dan desa-desa. Mereka melaksanakan program penyadaran kepada para kepala suku tentang gangguan sekte religius di suku mereka. Terdapat 7 pulau di wilayah komisium yang memiliki legio. 19 perkawinan diselenggarakan Desember 2019 setelah para legioner mengunjungi pasangan-pasangan yang sehari-hari nya memiliki hubungan asmara. Sejumlah sakramen baptis juga terselenggara.


ASIA

  FILIPINA

Senatus Bicolandia: Regia Legazpi memiliki 5 komisium, 5 kuria senior, dan 1 kuria junior. Semuanya terdiri dari 2655 legioner senior, 211 pretorian, dan 634 legioner junior. Membantu pengesahan 31 perkawinan, pentahtaan Hati Kudus, 456 kunjungan rumah sakit dan rumah perawatan, serta kunjungan 240 tahanan dilakukan. 329 baptis bayi dan 44 baptis dewasa diselenggarakan. Kuria seminari memiliki 12 presidium senior dengan 62 anggota, dan 12 presidium junior dengan 90 anggota. Pekerjaan mereka meliputi kunjungan ke panti asuhan, kerasulan di radio, mengajar katekis di 3 sekolah dasar dan 1 sekolah tinggi, serta mengunjungi penjara.

Senatus Cebu: Koresponden mendorong para legioner untuk membaca satu halaman buku pegangan setiap hari selama lockdown. ACIES dilakukan secara streaming dari Cork dan disambut gembira. Pada akhir tahun 2019, senatus ini telah melakukan sejumlah pekerjaan berupa kunjungan ke rumah-rumah, penjara, rumah sakit, rosario, membantu memperbaiki perkawinan, mengajar katakese, dan membina presidium junior.

Komisium Manila: 2 Kuria dan 3 presidium melakukan perekrutan auksilier. Hasilnya terdapat 89 auksilier yang direkrut dan 62 anggota aktif. Orang tua anggota junior diundang ke sebuah seminar untuk mendorong mereka berpartisipasi dalam memotivasi anak-anak mereka untuk menghadiri rapat mingguan secara berkala.


EROPA

  DUBLIN BAGIAN UTARA

Kuria Veneranda: Sebelum lockdown, sebuah presidium dengan 8 anggota aktif dan 20 auksilier melakukan kunjungan rumah dan tugas-tugas rumah tangga di hostel Morning Star. Kunjungan ke penjara Mountjoy setiap akhir pekan, para narapidana menghargai kunjungan para legioner dan menanti-nantikan kunjungan selanjutnya. Para legioner memberikan edukasi iman, memberikan rosario, dan juga melakukan kontak dengan petugas penjara.

Kuria Betlehem: Sebelum lockdown, sebuah presidium dengan 6 anggota aktif dan 14 auksilier melakukan kontak di jalan pusat kota setiap minggu. Para anggota menawarkan Medali Wasiat kepada orang-orang dan menjelaskan makna spiritualnya, menjumpai orang-orang dari beragam bangsa dan kepercayaan. Para anggota juga mempromosikan serta membantu jam kudus bagi Frank Duff yang dilakukan sebulan sekali di gereja.

Kuria Presentata: Untuk mencegah penyebaran Covid-19, pada bulan Maret 2020 diputuskan untuk menutup hostel Morning Star (hostel bagi tuna wisma). 15 dari 63 penghuni sebelumnya memutuskan untuk mencari akomodasi alternatif dengan keluarga atau teman. 3 orang yang tinggal di hostel dan para anggota presidium di hostel mengambil alih tugas menjalankan hostel bagi para penghuni. Orang-orang yang tidak tinggal di hostel mengatur pembayaran
tunjangan bagi para penghuni, obat-obatan dan keperluan lainnya. Restoran setempat mengirimkan makanan beberapa kali dalam seminggu. Beberapa penghuni membantu membersihkan hostel, mencuci perabot makan, membuat sandwich, dan menjaga penjualan rokok/tembakau. Setiap hari misa dapat diikuti melalui internet. Selain itu, hostel Regina Coeli yang berpenghuni 35 wanita memutuskan untuk buka lebih siang dan tutup lebih awal di sore hari karena usia para legioner yang umumnya bekerja di hostel, seharusnya tidak dapat hadir dan bekerja di sana pada masa ini. Hostel dilayani oleh 3 orang yang tinggal di hostel dan beberapa perwira presidium Regina Coeli bersama legioner lainnya. Para penghuni dapat memanfaatkan pelayanan pusat Capusin setempat yang menyediakan sarapan atau makan siang. Selama Paskah, ibadat jalan salib diselenggarakan di kebun luar di depan hostel.

Kuria Consolata: “Hari Maria” yang rencananya diselenggarakan bulan April, ditunda pelaksanaannya pada bulan Juni melalui internet dengan menggunakan aplikasi Zoom. Tema konferensi adalah “Dunia Baru Maria”, sebuah ungkapan yang digunakan Frank Duff. Lebih dari 300 orang hadir, termasuk Nuncio Thaddeus Okolo yang mengucapkan terima kasih kepada legio. Doa-doa lengkap legio didaraskan dan berkat diberikan oleh Rm. Brendan Walsh yang menjadi pembicara tamu. Seorang legioner memberi kesaksian yang menggambarkan perjalanannya dari Ukraina ke Dublin; sebuah perjalanan yang membawanya kepada pemikiran gerakan New Age, gereja Presbiterian, dan akhirnya kepada Gereja Katolik dan Legio Maria. Aktivis kehidupan memberikan presentasi mengenai Bunda Maria dari Guadalupe dan mukjizat Tilma St. Juan Diego. Dua ceramah dengan tajuk “Hai, Yang Penuh Berkat” dan “Bunda Maria dan Ekaristi” diberikan, lalu seorang muda berbicara tentang kembalinya dia mempraktekkan iman Katolik. Kesan dari konfrensi sangat positif, sehingga diputuskan untuk menyelenggarakan konfrensi lanjutan yang dihadiri 200 orang.


AFRIKA

  MOZAMBIK

Komisium Tete: Para legioner berdoa rosario dan disiarkan oleh stasiun radio yang secara sukarela juga menawarkan untuk menyiarkan doa-doa dan misa selama masa pandemi. Daerah pastoral yang memiliki kehadiran legio yang kuat antara lain: Tete, Songo, Angonia, dan Manie. 2 perwira komisium sudah mengunjungi legio di daerah pastoral Matarara yang membutuhkan perhatian. Rencana untuk mengunjungi keseluruhan daerah pastoral ditunda. Tantangan besar adalah untuk mengunjungi Zumbo, bagian paling barat Mozambique, namun karena kondisi akses jalan yang parah, kunjungan ini belum dapat dilaksanakan.

  ANGOLA

Senatus Launda: Melalui email, ketua senatus melaporkan bahwa para Uskup telah menerima rencana perayaan 100 tahun Legio Maria pada 15 – 19 September 2021. Tema yang diambil adalah Mengikuti Teladan Maria: “Apa yang Dia katakan kepadamu, buatlah itu!”

Senatus Benguela: Rapat senatus yang diselenggarakan tanggal 27 Juni 2020 dihadiri oleh 81 perwira. Topik utama rapat adalah pemilihan ketua senatus. Pada bulan November 2019, pemilihan untuk semua jabatan perwira sudah diadakan, namun pemilihan tidak dibuat sesuai dengan aturan Legio. Mereka setuju untuk melaksanakan kembali pemilihan tersebut dan meminta maaf karena kesalahan yang dibuat. Hal ini menunjukkan kepatuhan mereka kepada arahan Konsilium. Dalam rapat kali ini, hadir Rm. Manuel Abel dos Santos, Vikaris Episkopal untuk urusan pastoral yang mewakili Yang Mulia Mgr. Dom António Francisco Jaka – Uskup Benguela, untuk mengawal jalannya pemilihan ketua senatus. Surat dari senatus tertanggal 28 Mei 2020 mengabarkan wafatnya Uskup Emeritus Benguela, Mgr. Dom Oscar Lino Lopes Fernandes Braga. Almarhum Mgr. Oscar memegang peranan besar dalam mengembangkan legio di Benguela dan sangat bahagia dengan terbentuknya senatus sebelum beliau mengundurkan diri.

  AFRIKA SELATAN

Senatus Cape Town: Panitia untuk mempersiapkan perayaan 100 tahun Legio Maria akan dibentuk. Seluruh presidium diminta untuk menyusun sejarah mereka. Para legioner diingatkan untuk menekan biaya. Romo Johnathan dari Paroki St. Stevanus di Rocklands berharap sebuah presidium junior dapat terbentuk di parokinya. Sebuah presidium dengan anggota aktif 5 orang dan auksilier 6 orang melakukan kunjungan rumah dan mengunjungi orang-orang yang menderita kelumpuhan otak. Misa untuk Frank Duff dan legioner yang telah wafat juga sudah diadakan.

Senatus Johannesburg: Para legioner terlibat pada kunjungan rumah, rumah sakit, dan panti asuhan. Saat ini sedang diupayakan untuk membentuk presidium di paroki-paroki yang belum memiliki legio. Legioner juga banyak melakukan kontak dengan orang-orang non Katolik.

Komisium Matatiele: Sebuah presidium dengan anggota aktif 14 orang dan auksilier 40 orang membantu pembaptisan 2 orang dewasa dan 13 anak-anak. 36 anak-anak dipersiapkan untuk Komuni Pertama. Selain itu, 2 presidium junior baru telah terbentuk.

Kabar Senatus Agustus 2020

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)


Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


JAKARTA

Komisium Our Lady Of The Holy Family – Jakarta Timur: Terdiri dari 2 Kuria, 10 presidium senior, dan 2 presidium junior. Dalam laporan semesternya, komisium ini melaporkan bahwa selama tahun 2020, terdapat penambahan 6 anggota aktif dan 34 auksilier. Sebuah presidium junior bernama Presidium Bintang Kejora di paroki Cililitan telah disahkan. Selain itu, di paroki Bidaracina juga telah terlaksana rapat percobaan presidium junior.
Tugas inspiratif yang di-sharing-kan oleh komisium ini dalam laporan semester adalah kunjungan mereka ke museum benda-benda Alkitab Yerushalayim.

Kuria Ratu Para Kudus – Jakarta Selatan 1: Terdiri dari 7 presidium di Paroki Cilandak dan 4 presidium di Paroki Blok B. Dalam laporan semesternya, kuria ini sudah mulai melakukan rapat kuria online via aplikasi Zoom sejak Juni 2020. Sebelum pandemi Covid-19, sudah terdapat beberapa umat di Paroki Blok Q yang berkumpul dan berdoa Tessera bersama. Namun proses pembentukan presidium ini terpaksa terhenti karena kondisi pandemi. Mohon doa dan bantuan saudara/i mendukung pembentukan presidium di Blok Q ini.


MEDAN

Regia Ratu Para Syahid – Medan: Terdiri dari 3 komisium, 5 kuria, dan 12 presidium yang tersebar di seluruh provinsi di pulau Sumatera, kecuali provinsi Lampung. Misa mingguan sudah dapat dilaksanakan di beberapa daerah dan legioner membantu pastor paroki dalam pelaksanaan misa dengan pembatasan tersebut. Selama masa pandemi Covid 19 ini, rapat regia sudah diadakan secara online namun tingkat kehadiran menurun dan banyak laporan dewan/presidium yang ditunda. Selain itu, masih terdapat dewan komisium/kuria yang tidak mengadakan rapat karena kurang memahami teknologi, kondisi geografis tidak memadai yang menyebabkan sinyal untuk internet kurang bagus, dan adanya prinsip bahwa rapat tidak sempurna jika tidak dilakukan secara tatap muka.

Setiap Rapat Presidium Diatur Menurut Tata Letak yang Seragam

Buku Pegangan halaman 116 Bab 18 poin 1.
Alukosio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke – 396 – E / Tahun ke – 33
.


Estetika Rohani dalam Rapat Presidium

Gereja Katolik memiliki khasanah estetika rohani yang sangat tinggi. Hal ini juga diikuti oleh Legio Maria. Dalam rapat presidium, kita menghadirkan sebuah altar rapat yang dibuat sedemikian rupa sehingga keindahan rohani dapat dihadirkan.

Altar rapat Legio Maria pada hakikatnya bukanlah sekedar hiasan belaka, melainkan sebuah sarana fisik yang berfungsi untuk menghadirkan Maria secara batin dalam rapat itu. Benda-benda yang ditaruh di meja altar seluruhnya mengandung simbolisasi semangat rohani berdevosi yang sangat dalam. Oleh karena itu penting sekali setiap legioner memahami makna altar rapat ini dan mengungkapkannya melalui tindak tanduk yang terpuji selama mengikuti rapat.

Di tengah meja diletakkan patung Ibu Maria. Patung itu tetaplah sekedar benda mati plastik atau tembikar yang bisa kita beli di toko. Namun kita harus mampu melihat sampai jauh, yaitu sampai pada kesadaran bahwa patung Ibu Maria yang diletakkan di tengah meja hendak mengajak para peserta rapat untuk menyadari kehadiran rohani Ibu Maria.

Dengan demikian rapat presidium bukan saja sekedar perjumpaan sosial antar teman anggota legio, melainkan perjumpaan rohani antar teman anggota legio dengan Ibu Maria sendiri. Setiap orang yang berhasil memahami makna ini akan mengagungkan rapat. Rapat menjadi sebuah doa yang tak tergantikan karena sifat keindahannya yang adikodrati. Perhatian anggota sepenuhnya akan tertuju pada Ibu Maria yang memimpin rapat, bukan sebatas Mister X atau Ms Y sebagai sang ketua presidium.

Rapat adalah Bagian Pembentukan Karakter Legioner

Kesungguhan mengikuti jalannya rapat juga akan terbangun. Kita melaporkan tugas dengan penuh semangat dan suara jelas. Secara alamiah kita juga akan merasa ‘malu’ bila tidak melaksanakan tugas dengan baik. Tetapi hal ini dilakukan karena penghormatan dan tanggung jawab kita pada Ibu Maria yang hadir, bukan karena sekedar instruksi dogmatis.

Pada akhirnya, kesadaran atas kehadiran Ibu Maria juga akan membantu kita untuk membentuk presidium sebagai komunitas. Sebuah komunitas adalah sebuah kebersamaan yang saling mendukung dan saling meneguhkan, untuk bersama-sama menuju Hati Yesus yang Maha Kudus. Kita bersama-sama membentuk presidium dan menjadikannya keluarga kecil dengan inspirasi keluarga kudus Nazaret masa kini.

Jadi marilah kita sungguh-sungguh menghormati dan menghayati kekayaan estetika rohani Legio Maria ini. Mari kita laksanakan rapat dengan menyiapkan patung Ibu yang baik, kita siapkan vas dengan bunga yang baik, kita siapkan taplak paling bersih, kita siapkan pula vexilum yang pantas. Meja altar bukanlah hiasan rapat semata, melainkan sebuah cara agung dan sakral untuk meningkatkan mutu karakter rohani kita sebagai anak-anak Maria.