Mencermati keadaan Legio Maria saat ini, saya mengajak pembaca untuk memfokuskan perhatian pada dua kerangka fundamental, yaitu:
Spiritualitas, mendalami spiritualitas memurnikan motivasi mengapa kita ber-Legio Maria
Keorganisasian, memahami bagaimana merawat Legio Maria sebagai organisasi
Spiritualitas:
Kita mengerti bahwa Bunda Maria adalah bunda kandung Yesus. Sehingga Maria-lah yang paling memahami Yesus; Maria sangat mengerti kebiasaan Yesus sejak bayi; Maria yang paling memahami makanan kesukaan Yesus; Maria yang paling memahami sukacita dan dukacita Yesus; Maria juga yang paling memahami sifat keilahian Yesus. Sungguh, Maria-lah yang paling banyak mengerti dan mengalami bagaimana mencintai Yesus. Orang lain – termasuk keduabelas murid Yesus – tak pernah memiliki kedalaman pengalaman dan pemahaman tentang diri Yesus seperti yang dirasakan Maria.
Mengikuti Maria (melalui Legio Maria) berarti kita belajar dari Maria bagaimana seharusnya mencintai Yesus. Akhir dari peziarahan rohani Maria adalah ketotalan dalam mencintai Yesus, sehingga akhir dari peziarahan rohani kita mustinya juga ketotalan dalam mencintai Yesus. Ukuran mutu kita sebagai Legioner ditentukan seberapa sungguh kita mencintai Yesus. Oleh sebab itu, hidup ber-Legio Maria harus membuat legioner mampu mencintai Yesus lebih dahsyat daripada bila kita tak menjadi legioner.
Awal Mula Jatuh Cinta
Legioner harus senantiasa menyisihkan waktu berdiam dalam kesehariannya, lalu berusaha mengumpulkan dan merenungkan kembali – pengalaman2 dikasihi Allah. Seorang gadis yang merasakan banyak pengalaman selalu dilindungi dan diperhatikan secara istimewa oleh seorang pria cenderung jatuh cinta pada pria tersebut, demikian pula sebaliknya. Rasa dicintai menghasilkan reaksi cinta juga. Cinta menjadi sesuatu yang spontan alamiah – bukan merupakan tindakan logis yang serba direncanakan. Nah, legioner yang sanggup menemukan dan merenungkan pengalaman dilindungi dan diperhatikan secara istimewa oleh Allah, akan menunjukkan rasa cinta juga kepada Allah. Cinta kepada Allah menjadi sesuatu yang spontan alamiah – bukan merupakan tindakan logis dan serba direncanakan.
Bagaimana Allah mengasihi manusia?
Cara utama dan terutama bagaimana Allah mengasihi manusia adalah Ia memberi kehidupan kekal (keselamatan jiwa). Ini adalah anugerah termahal dalam kehidupa sepanjang jaman – nilai anugerah ini jauh melebihi mujizat kesembuhan dari sakit, lunasnya hutang, naik kelas/promosi, anak-anak yang manis, bonus ziarah ke tanah suci atau berjumpa paus, dll.
Semua pengalaman manusia yang memurnikan hati dan mengarahkannya pada keselamatan jiwa merupakan pengalaman dikasihi Allah. Mengumpulkan pengalaman dikasihi Allah akan membuat manusia kembali mengasihi Allah secara bebas dan sukacita; Dan Maria mengajarkan kita menemukan pengalaman itu. Maria menemukan diri dikasihi Allah…. yaitu dengan dipilih Allah menjadi ibu Allah sendiri – Waouw, sebuah pengalaman dikasihi Allah yang to the max! Mari temukan pengalaman dikasihi Allah.
Merawat Presidium
Ada presidium-presidium baru bermunculan, namun banyak pula presidium yang letih lesu. Memang tidak mudah mendapatkan anggota baru, terutama pada dewan-dewan yang berada di kota besar. Pengalaman membuktikan bahwa kegiatan ‘promosi Legio Maria’ hampir tak pernah membuahkan hasil berarti. Promosi yang banyak terjadi lebih mirip trick bisnis yang dilakukan perusahaan, yakni: menyebar flyer, memasang banner, presentasi kegiatan dengan power point, membuat kegiatan gembira untuk umat umum – lalu berharap ada orang baru yang masuk presidium.
Tetapi ternyata tidak mudah mendapat anggota kan?
Mari kembali ke Semangat Dasar Presidium, yakni merujuk kehidupan Keluarga Kudus Nasareth.
Semangat dasar presidium adalah semangat keluarga kudus Nasareth yang terdiri dari Yesus, Maria, dan Yusup. Keluarga Nasareth dibangun dengan dasar kasih pada Allah yang dibuktikan dengan cara hidup Maria dan Yusup yang mengasihi Yesus dan sebaliknya. Ketiganya adalah three in one in, ada tiga orang yang membentuk satu kesatuan kasih.
Presidium semestinya memiliki semangat serupa entah itu sebutannya three in one atau ten in one – sesuai jumlah anggota presidiumnya. Tetapi harus dipastikan bahwa berapapun jumlah anggota mereka harus ada dalam satu kesatuan (ONE). Bila sebuah presidium mampu menjadi komunitas kasih seperti Keluarga Kudus Nazaret maka keberlangsungan hidupnya jauh lebih bisa diharapkan. Kita tahu banyak keluarga Katulik yang berhasil bertahan hingga puluhan tahun walau mereka mengalami percobaan hujan badai. Itu terjadi karena adanya bangunan kuat di dalamnya, yakni kasih antar anggota keluarga itu.
Jadi yang harus dijual oleh presidium adalah kekuatan kasih antar anggota, yakni kekuatan kebersamaan, kekuatan saling pengertian dan saling mengembangkan. Keadaan ini akan membuat setiap anggota ‘krasan’ dan merasakan presidium seperti halnya saudara-saudara yang sedang berkumpul di saat lebaran. Ia akan rindu bertemu kawan-kawannya. Hal serupa juga harus menjadi nilai pertama ketika menjual presidium ke orang non legioner. Kita akan kesulitan mengajak orang lain masuk presidium dengan iming-iming klasik seperti ‘Di Legio imanmu bertumbuh,’ atau ‘Di Legio kau akan menjadi pribadi disiplin dan teratur’ atau “Di Legio pengenalanmu pada Maria akan meningkat’. Nilai-nilai ini secara normatif memang benar dan teramat baik, tapi tak cukup strategis untuk menarik orang apalagi bagi generasi milenial. Ini sama seperti saya mengajak tetangga berlari pagi. Tetangga pada setuju 100% bahwa lari pagi itu menyehatkan, tapi orang-orang itu sejujurnya lebih suka bangun siang. Walhasil, saya lari pagi sendirian sampai hari ini.
Maka, marilah kita murnikan niat kita dalam ber-Legio sebagai ruang yang sangat baik untuk mencintai Yesus serta mau bertindak bijaksana untuk lebih mengahyati semangat kasih Keluarga Kudus Nazareth sebagai bangunan dasar dalam merawat presidium.
Sdr. Octavian Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani – Indonesia Bagian Barat sejak Juni 2016.
Syalom! Nama saya Angelina Patricia, biasa dipanggil Angell. Saya berasal dari Jakarta. Pada kesempatan ini saya dan teman saya, Dea akan membagikan pengalaman berkesan kami di Legio Maria.
Berawal dari Ragu-Ragu dan Menolak
Saya masuk menjadi anggota Legio Maria sekitar 3 tahun lalu. Awalnya saya mengetahui Legio dari sebuah seminar mengenai Legio Maria yang ada di sekolah. Setelah seminar selesai, para pembicara membagikan brosur untuk para murid dan memberitahukan bahwa kami yang berminat dapat langsung mendaftarkan diri atau dapat menghubungi contact person pada brosur tersebut. Saat itu saya ingin sekali mendaftar, tetapi seketika saya menjadi ragu-ragu. Saya sudah kelas IX dan pekan-pekan saya penuh dengan ujian sekolah. Apalagi saya juga berasal dari paroki yang berbeda. Jadi, saya memutuskan untuk tidak mengikuti Legio Maria.
Ternyata Bunda Maria Memanggil Lewat Ajakan Adik Kelas
Ternyata, dua minggu kemudian, salah satu adik kelas mengajak saya untuk mengikuti Legio Maria. Saat itu saya bertanya kepadanya, apakah boleh saya mengikuti kegiatan gereja yang bukan berasal dari paroki sendiri? Dia pun menaikkan bahunya dan mengatakan bahwa dia tidak tahu apakah diperbolehkan atau tidak. Akan tetapi, dia terus mengajak saya untuk mengikuti Legio Maria dan akhirnya saya pun menerima ajakannya untuk mengikuti Legio Maria.
Awalnya Kukira Legio Membosankan dan Orangnya Sombong-Sombong…
Saat pertama kali mengikuti rapat Legio, saya mengira kegiatan yang dilakukan akan membosankan karena hanya sekedar berdoa, berdoa, dan berdoa. Aku juga menyangka orang-orangnya sombong-sombong. Wah, ternyata pemikiran saya salah.
Akhirnya Aku Betah di Legio: Asik, Banyak Kegiatan Seru dan Bermanfaat
Aku tidak menyangka kalua di Legio tidak hanya berdoa tetapi juga ada kegiatan-kegiatan lainnya, seperti kunjungan dan menjalankan tugas sebagai petugas di gereja. Selain itu orang-orangnya juga ramah dan asik sehingga suasana rapat Legio menjadi ramai dan seru. Sedikit demi sedikit saya mulai mengerti hal-hal mengenai Legio dan juga Bunda Maria. Saya sangat senang karena dapat mengetahui Legio dan dapat menjadi anggota Legio sampai sekarang ini.
(Angelina Patricia)
Ave Maria! Saya Dea Faustine dari Jakarta. Saya dan Lina ingin bercerita tentang pengalaman kami selama tergabung dalam Legio Maria. Bagi kami, Legio bukan hanya sekadar komunitas, namun keluarga, keluarga dekat. Oh ya, saya juga terbiasa menjadi adik bagi semua orang, karena sering dipanggil “De” sebagai nama panggilan hahaha.
Ingin Bergabung Tetapi Ada Saja Halangannya
Awal bergabung dengan Legio, karena ajakan seorang anggota Legio. Sebenarnya sudah lama De ingin bergabung dengan Legio, namun ada saja halangan. Hingga pada saat Bulan Maria, Paroki St. Kristoforus mengadakan ziarah ke 9 gua Maria. Di sana, De diajak untuk bergabung ke Legio. Dan terjadilah 1 tahun yang berkesan. De menemukan keluarga baru di sini.
Awalnya Canggung, Eh, Ternyata Nggak Ada Jarak Antar Kita di Legio…^^
Yah, pas pertama masuk masih agak canggung. Masih bingung mau ngapain dan nggak kenal siapapun hahaha. Akan tetapi semakin lama, rasanya semakin dekat sama setiap anggota presidium. Nggak ada istilahnya “batas” antara perwira ataupun anggota. Kami semua sama sebagai satu keluarga besar prajurit Maria.
Belajar Keanekaragaman Budaya dan Bersaudara sebagai Keluarga Legio
Banyak kegiatan yang membuat kami semakin akrab, salah satunya kunjungan ke museum. Terdengar seperti field trip sekolah sih, namun kunjungan ini ternyata membawa kami semakin dekat dengan keanekaragaman budaya Indonesia. Plusnya, kami juga menghabiskan waktu bersama yang membuat kami semakin akrab. Masih banyak lagi hal yang kami lakukan bersama, dan itu semakin merekatkan tali persaudaraan kami sebagai satu keluarga.
(Dea Faustine)
Persahabatan di Antara Kami
Well, about Lina dan Dea, kami bersahabat. Kami bertemu di Legio Maria Presidium Cermin Kesabaran. Awalnya, memang kami nggak saling kenal. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kami menjadi lebih akrab. Entah siapa dulu yang memulai obrolan, yang jelas sekarang kami sudah jauh lebih dekat satu sama lain. Rapat mingguan presidium membuat kami sering bertemu dan menjadi bersahabat bahkan bersaudara seperti sekarang. Persahabatan kami tercipta melalui Legio Maria.
Terima kasih Legio Maria! Yuk teman-teman, jangan ragu lagi bergabung bersama dengan kami. Dijamin asik dan seru!!!
Saudara/i yang terkasih, perkenalkan nama saya Yosep Pranadi. Kenapa Yosep? Bukan Yosef? Karena saya orang Sunda, jadi pakai saja ‘p’, bukan ‘f’. Saya adalah orang ‘USA’, Urang Sunda Aseli. Lahir di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Saya lahir sebagai anak pertama laki-laki dari tiga bersaudara. Hobby saya adalah; naik sepeda, jalan-jalan, denger musik, koor, membaca buku, utak-atik komputer, dan design. Sungguh menyenangkan jika ada waktu luang, bisa beraktivitas dan berekspresi untuk menghibur diri. Dari TK sampai SMP saya bersekolah di daerah kelahiran. Masa-masa itu saya gunakan untuk belajar, bermain di ladang, sungai dan sawah, ikut misdinar di Paroki, Legio Maria, kegiatan lingkungan, ziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat setiap malam minggu bersama teman-teman, dan kegiatan lainnya. Kalau ada waktu, saya ingin sekali mengenang masa-masa itu bersama teman-teman lama. Tapi sungguh sulit karena sudah merantau kemana-mana.
Sebelum lulus SMP, sebetulnya saya mengalami keraguan. Ada beberapa rencana yang saya pikirkan. Ada rencana masuk SMA Negeri atau masuk Sekolah Kejuruan Teknik Mesin/Komputer. Ibu sebetulnya sudah menitipkan saya pada kenalannya di sekolah kejuruan. Namun apa yang sudah direncanakan, ternyata tidak terlaksana. Apa yang direncanakan manusia, tidak selalu sejalan dengan rencana Tuhan. Dalam keraguan, pada suatu siang, setelah pulang sekolah saya mampir di Gereja. Ketika memasuki halaman Gereja entah kenapa saya membayangkan ‘Seminari’. Tiba-tiba saya tertarik masuk seminari, padahal pengetahuan saya akan seminari tidak ada sama sekali. Saya mengutarakan keinginan saya kepada ibu: “Mah, saya ingin masuk seminari!”. Bapak agak cemberut mendengar keinginan saya, karena saya anak pertama laki-laki satu-satunya di dalam keluarga pada waktu itu. “Memang kamu tahu apa itu seminari?” kata Ibu. “Saya tidak tahu”. Kami ngobrol satu sama lain. Akhirnya ibu berkata: “Ya sudah, jika itu keinginan kamu, ibu mengijinkan, yang penting kamu menjalani pilihanmu dengan bahagia. Jangan lupa berdoa. Berdoalah terus-menerus. Anggaplah doa itu nafas yang menghidupkan. Mohon kekuatan dari Tuhan, ibu hanya bisa mendoakan saja!”. Ibu mengijinkan, namun Bapak diam dan tidak banyak berkomentar. Berat bagi bapak untuk melepaskan saya pada waktu itu. Barangkali dia membayangkan dan mengharapkan saya untuk meneruskan keluarga, menikah, dan memiliki cucu. Tetapi rencana Tuhan sungguh berbeda. Tuhan menuntun saya memilih jalan yang tidak dipilih oleh kebanyakan orang. Jalan yang penuh tantangan dan perjuangan sekaligus penuh harapan.
Setelah lulus SMP, saya memutuskan untuk masuk Seminari Menengah Cadas Hikmat di Bandung. Inilah pengalaman pertama saya meninggalkan orangtua, dan tinggal di asrama seminari. Minggu-minggu pertama rasanya sungguh berat. Saya merasa tidak betah, pengen pulang, rindu rumah, rindu orangtua dan adik-adik. Tidur pun tidak enak rasanya. Nyuci baju sendiri, nyetrika sendiri, ke sekolah jalan kaki, setiap hari bangun pagi dan ikut misa pagi, ikut berbagai macam kegiatan baik di sekolah maupun di seminari, dll. Itulah pengalaman pertama yang membentuk pribadi saya menjadi orang yang mandiri, disiplin, bertanggung-jawab, dan tidak mudah menyerah. Lama-lama menjadi ‘habit’. Lama-lama saya bisa menyesuaikan diri dengan tempat baru, teman baru, sekolah baru, suasana baru, dan pola hidup seminari yang cukup ‘ketat’. Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan selama 3 tahun di Seminari Menengah.
Setelah 3 tahun menjalani masa pendidikan di SMA Santa Maria 1 dan Seminari Menengah Cadas Hikmat, saya memutuskan untuk masuk Biara Ordo Salib Suci (OSC). Usia yang sangat muda (18 tahun) ketika masuk Biara. Kadang-kadang ada perasaan minder, emosi yang tidak stabil, merasa kurang berpengalaman karena masih muda. Kadang-kadang ingin mencoba juga apa yang dirasakan oleh teman-teman di luar. Bagaimana rasanya hidup di luar. Setelah direnungkan, saya kira baik di luar atau pun di dalam Biara toh sama-sama berjuang untuk bertahan di dalam pilihannya masing-masing. Setiap pilihan memang selalu ada konsekuensi yang mesti dijalani. Apa yang sudah saya putuskan, mesti saya perjuangkan terus. Pendidikan awal di Ordo Salib Suci saya tempuh selama 2 tahun, yaitu masa Novisiat. Itulah masa-masa penggodokan awal.
Dua tahun kemudian, saya melamar kembali dan diterima untuk mengikrarkan kaul perdana di hadapan provinsial (pimpinan Ordo Provinsi Indonesia) pada 28 Agustus 2013. Setelah selesai menjalani masa Novisiat, saya melanjutkan pendidikan di Skolastikat (setara dengan Seminari Tinggi) hingga lulus filsafat. Setelah lulus studi filsafat, saya ditugaskan Provinsial untuk menjalani Tahun Orientasi Pastoral sebagai pendamping ret-ret di Pusat Spiritualitas Pratista, Cisarua-Cimahi, Bandung Barat selama satu tahun. Di Pratista saya ‘belajar’ mendampingi ret-ret untuk anak-anak SD, SMP, SMA, Universitas, dan umat kategorial. Sungguh menyenangkan mengenal dunia pastoral yang amat luas. Saya hadir untuk memberi kekuatan dan peneguhan kepada peserta ret-ret khususnya mereka yang menghadapi situasi sulit di dalam hidup mereka, entah relasi dengan teman, pasangan, atau relasi di dalam keluarga. Mendengar pengalaman mereka sungguh menyentuh. Saya merasa bukan orang yang sempurna, tetapi Tuhan menggunakan saya untuk memberikan semangat dan meneguhkan harapan mereka. Ternyata di tengah dunia yang penuh tantangan ini, Tuhan masih tetap berkarya.
Saat ini saya sedang melanjutkan masa formasi di Ordo Salib Suci sebagai mahasiswa semester 2 di pasca-sarjana Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Ini adalah tahun ke-7 bagi saya di Ordo Salib Suci. Suatu proses pendidikan calon religius yang perlu ditempuh dengan ketekunan dan kesabaran. Apabila kita melihat kehidupan orang-orang di luar biara yang mengalami jatuh bangun, suka duka, dan berbagai dinamika kehidupan. Sebetulnya di Biara juga orang-orang mengalaminya. Jadi, sama-sama punya tantangan dan sama-sama berjuang untuk bertahan. Ini adalah suatu perjalanan yang tidak pernah berakhir. Suatu proses menuju kesempurnaan.
Sekembalinya menyelesaikan masa orientasi pastoral di Rumah Ret-Ret, saya kembali melanjutkan studi S2. Biasanya para frater S2 diberi tugas mengajar agama di SMA Katolik. Tetapi, tidak pada saya. Melenceng dari dugaan, saya diberi tanggung jawab untuk menghidupkan kembali website Ordo Salib Suci yang sudah bertahun-tahun mati dan tidak diupdate. Tugas baru yang menantang. Saya mesti belajar keras memahami sistem dan management konten website. Awalnya saya merasa keberatan karena mengelola website sendirian. Saya mencoba mengubah template menjadi lebih menarik, mengisi konten menjadi lebih informatif serta inspiratif. Awalnya kebingungan juga. Saya banyak bertanya dan membaca berbagai sumber hingga akhirnya tumbuh perlahan-lahan. Ternyata usaha dan kerja keras di dalam proses perjalanannya membuahkan hasil. Tidak sia-sia banyak bertanya dan membaca. Saya menyadari bahwa jaman sekarang pertumbuhan pengguna internet dan website begitu pesat. Meskipun bukan profesional, saya mencoba mempelajarinya perlahan-lahan. Belajar sesuatu yang baru itu menarik, termasuk belajar jaringan dan website. Setidaknya para Biarawan dan Rohaniwan juga mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan dunia (tidak kolot-kolot amat). Dalam permenungan, saya sadar bahwa belajar itu tidak akan pernah selesai. Karena kita manusia yang tidak sempurna, oleh karenanya perlu belajar, belajar, dan belajar. Dunia selalu berubah-ubah, dan manusia perlu belajar untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan segala perubahan yang sedang dihadapi dan akan dihadapi nanti. Di mana bumi di pijak, di sanalah langit di junjung. Dimana kita berada kita mesti belajar dan menyesuaikan diri terus menerus.
Pengalaman bersama Legio Maria
Apabila ditanya; apakah pernah menjadi anggota Legio Maria? Tentu saja pernah. Saya ikut legio Maria sejak SD kelas 5 SD (2003) sampai kelas 3 SMP (2008). Waktu itu saya bergabung dengan Legio Maria Presidium Benteng Gading di Paroki Kristus Raja, Cigugur, Kuningan-Jawa Barat. Selama beberapa tahun saya ikut legio bersama teman teman di sekolah. Biasanya seminggu sekali kami berkumpul bersama teman-teman. Sebelum legio dimulai, kami bermain bola terlebih dahulu di halaman gedung pertemuan Gereja. Jika ada pastor lewat permainan bola dihentikan sementara (takut dimarahin). Pastor pergi, permainan dilanjutkan kembali. Sungguh menyenangkan bisa bermain bola bersama. Ketika katekis atau suster pendamping Legio datang, barulah kami berkumpul untuk mengadakan rapat Legio Maria (doa Rosario bersama, laporan tugas, pembagian tugas, doa tesera, dll.). Presidium kami didampingi oleh seorang katekis awam dan suster CB bergantian. Pernah sekali waktu saya dipercaya menjadi ketua legio oleh suster dan teman-teman. Saya senang diberi tanggung-jawab dan kepercayaan. Tahun 2008, suster pendamping kami, Sr. Lucina CB pindah tugas. Setelah kepergian suster, legio kami terpaksa mandiri. Karena tidak ada pendamping lama-lama anggota legio kami semakin berkurang. Jumlah yang hadir semakin lama semakin sedikit. Semakin menipisnya jumlah anggota, terpaksa kami membekukan sementara Legio Maria.
Legio Maria bagi saya adalah momen untuk berkumpul bersama teman-teman, berdoa bersama, belajar melayani dalam tugas-tugas keseharian, mengunjungi orang sakit, dll. Di situlah kami dilatih berdisiplin diri dalam hidup rohani maupun dalam hidup sehari-hari. Pada waktu itu Legio Maria tidak terpisahkan dari Putra Altar. Pada umumnya anggota Legio Maria sekaligus anggota Misdinar paroki yang seluruhnya adalah laki-laki. Biasanya pertemuan Legio berlangsung di sore hari di gedung pertemuan samping gereja. Setelah pertemuan selesai, bisanya kami renang bersama di kolam ikan Dewa. Renang gratis tanpa dipungut biaya bersama ikan-ikan dewa di dekat kompleks Gereja Paroki. Sungguh menyenangkan kala itu karena bisa berkumpul, bermain, berdoa dan saling mendukung satu-sama lain sebagai satu saudara. Itulah yang paling berkesan bagi saya.
Setelah lulus SMP, saya melanjutkan sekolah ke Seminari Menengah di Bandung. Lantas bertahun-tahun saya tidak ikut Legio Maria dalam suatu presidium secara resmi. Meskipun demikian, semangat Legio Maria tetap saya bawa di dalam hati. Semangat heroik, disiplin, persaudaraan, keramahan, perjuangan, keluwesan hati. Apabila ditanya apakah pernah menjadi pendamping Presidium, tentu saja belum pernah. Saya banyak ditugaskan dalam pastoral kategorial seperti ret-ret, mengajar, ibadat di stasi terpencil, website, dll. Akan berbeda cerita seandainya saya ditugaskan di Paroki. Ada kemungkinan mendampingi para Legioner. Mungin ini adalah jalan Tuhan yang mesti saya lalui. Tapi saya percaya setiap perjalanan sungguh dinamis, membawa saya pada kematangan dan kehidupan yang penuh makna.
Apabila mengamati situasi di lapangan, dari segi jumlah memang para legioner tidak begitu banyak. Jangan bersedih hati seandainya sedikit. Bersikaplah optimistis dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Sebetulnya ada hal yang unik yang dapat dipegang teguh oleh pasukan legioner . Ada semangat persaudaraan, sikap heroik, kunjungan orang sakit, ketekunan dalam doa, dan penghormatan kepada figur Maria. Sosok Maria dan keteladanan hidupnya adalah hal yang paling unik dari Legio Maria. Spirit Maria perlu menjadi kekuatan yang menggerakan para Legioner dari dalam hati hingga memancar dan berbuah dalam kehidupan para legioner. Maria adalah sosok yang paling dekat dengan Yesus. Dia adalah ibu Yesus sekaligus Ibu bagi umat manusia. Spiritualitas kasih seorang ibu menjadi sisi lain yang mesti dihayati oleh para legioner. Sosok ibu itu merawat, membesarkan, menjaga, memelihara, sabar menanggung segala sesuatu, tulus, memberi tanpa mengharapkan keuntungan, dan penuh kasih sayang. Inspirasi inilah yang dapat diteladani oleh para Legioner dimana pun dan kapan pun.
Bagi saya sendiri sosok Maria begitu menginspirasi. Sejak kecil saya sudah terbiasa devosi kepada sosok Maria melalui doa rosario, Legio Maria, dan ziarah. Tindakan devosional inilah yang menumbuhkan iman saya kepada Bunda Maria. Maria adalah orang yang dipilih Allah menjadi sarana keselamatan. Ia dikasihi Allah karena kesetiaan dan kemurnian hatinya. Ia adalah pelindung sekaligus penjaga umat beriman. Saya percaya bahwa doa melalui Bunda Maria sungguh luar biasa. Dia akan menolong dan melindungi kita dari segala bahaya. Tak henti-hentinya saya memohon perlindungan dan pertolongan Bunda Maria ketika sedang menghadapi kesulitan dan tantangan. Bagi para legioner dimanapun, percayalah dan teladanilah sosok Maria. Maria adalah inspirasi sentral bagi para legioner. Kehidupan dan keteladanan Maria ini mesti menjadi semangat yang menggerakan hati, budi, dan energi para legioner untuk senantiasa berbuat baik dan berbagi kepada banyak orang. Bunda Theresa pernah mengatakan
“Tuhan tidak memanggiku untuk mengejar kesuksesan di dalam hidup. Ia memanggilku untuk setia kepada-Nya!”.
Pesan untuk para legioner terkasih, setialah di dalam setiap pilihan hidup yang kalian pilih dan bertahalah terus sampai akhir. Percayalah, Tuhan melindungi orang-orang yang percaya kepada-Nya.
-Ego semper purificanda-
Salam dan Doa Fr. Yosep Pranadi, OSC
Fr. Pranadi (kedua dari kiri) bersama para Frater Ordo Salib Suci
Catatan admin : Fr. Yosep Pranadi, OSC adalah administrator website www.osc.or.id yang banyak membantu dan menginspirasi website kita yang tercinta ini. Pada saat tulisan ini dimuat (23 April 2018) ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-25. Mari kita doakan bersama-sama. (^.^)
Para legioner, tanggal 29 Maret 2018 kita merayakan hari jadi Senatus Bejana Rohani ke-31. Tanggal itu bertepatan dengan perayaan agung Kamis Putih di mana kita dan seluruh umat Katolik di dunia bersekutu hati memulai masa Tri Hari Suci mengenangkan pengurbanan Tuhan Yesus Kristus.
Membicarakan kehidupan Yesus sesungguhnya membicarakan kehidupan Bunda Maria. Pada tulisan ini saya mengajak Anda untuk merenungkan pengurbanan Yesus dengan penglihatan Bunda Maria.
Seperti kita ketahui, Bunda Maria merupakan satu-satunya pribadi yang paling mengerti kehidupan Yesus Kristus. Sebagai ibu yang melahirkan, merawat, dan mendidik Yesus selama 24 jam dalam sehari selama 33 tahun, tentu Bunda Maria benar-benar mengerti siapakah Yesus. Bunda Maria memahami Yesus bukan sekedar karena pengajaran kataketik melalui guru sekolah atau membaca melalui laman-laman internet. Nah, bila St. Paulus saja bisa menjadi rasul yang sangat hebat karena mendengarkan pengajaran orang dan mengalami peristiwa mujizat, betapa Bunda Maria menerima mengajaran yang jauh melebihi Paulus. Sungguh Bunda Maria bukan hanya seorang ibu namun juga menjadi murid pertama Yesus – bahkan murid yang sempurna melebihi murid-murid Yesus di kemudian hari.
Dengan memahami prinsip ini maka beruntunglah kita sebagai devosan Maria karena kita bisa dengan mudah belajar dari Maria bagaimana mencintai Yesus. Kita tak perlu meraba-raba atau me-reka-reka bagaimana mencintai Yesus yang mungkin justru membawa kita pada kekeliruan teologis. Namun kita bisa secara sederhana meniru sikap Bunda Maria secara kongkrit. Sikap hidup Bunda Maria mampu membawa kita pada pengertian bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar manusia dan benar-benar Allah. Bunda Maria memperlakukan Yesus bukan sebagai anak biologisnya semata namun juga menghormatinya sebagai anak Allah.
Bertepatan dengan ulang tahun Senatus Bejana Rohani yang ke-31, kita mengenangkan puncak ketotalan cinta Allah melalui pengurbanan Yesus. Allah tak berhemat sedikitpun dalam mencintai manusia. Allah memberikan semuanya, bahkan seluruh pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar agar kita semua dapat masuk dan tinggal di dalamnya. Allah mau seluruh manusia kembali ke rumah sukacita dan tiada satu orang pun tercecer menikmati pesta abadi-Nya. Namun semua itu harus terjadi melalui cara yang menyayat hati manusia.
Pada peristiwa paskah ini kita menyaksikan Bunda Maria mengalami puncak penderitaannya. Bayi elok menawan serba menggemaskan bernama Yesus yang 33 tahun sebelumnya yang ditimang digendong penuh peluk cium, kini tubuh yang sama harus dihajar-tuntas dengan cambuk sulur-sulur besi bergerigi; dan akhirnya harus mati dengan cara Yahudi yang paling menjijikkan (hina) pada waktu itu, yakni direntangkan di kayu salib bermandi darah. Kita mengetahui bahwa hukuman salib (qisas) bukan hanya sekedar untuk membunuh badan, namun juga mempermalukan dia yang dibunuh dan keluarga yang ditinggalkannya. Sungguh hukuman yang super maksimal.
Mari kita merenungkan dan mengambil posisi sebagai Bunda Maria! Bagaimana perasaan kita? Tentu kita akan merasakan kepedihan luar biasa menyaksikan anak sendiri yang begitu baik dan kudus didakwa menistakan agama (Yahudi) lalu dibunuh. Namun Bunda Maria sebagai murid Yesus belajar untuk taat pada kehendak Allah Bapa, membiarkan Allah melakukan segala hal atas hidupnya walau hal itu tidak masuk akal sehat dan terasa sangat menyakitkan. Saya pribadi meyakini saat itu Bunda sebagai wanita mengalami ‘kegalauan iman’ yang sangat dahsyat seperti yang dialami Yesus sendiri melalui kata-kata pilu-Nya “Eloi-Eloi, lama sabakhtani..!”. Bunda tentu merasa seolah-olah Allah pergi jauh meninggalkannya.
Namun kegalauan itu berubah menjadi kekuatan karena Bunda berserah menerima hal itu sebagai sebuah ketetapan. Tentu Bunda Maria teringat kata-kata Nabi Simeon ketika menerima bayi Yesus di bait Allah beberapa waktu setelah Yesus dilahirkan. Simeon mengatakan bahwa Bayi itu kelak akan menimbulkan perbantahan, dan sebuah pedang akan menembus jiwa Bunda Maria. Dan inilah waktu yang dimaksud Simeon: hari penyaliban Yesus. Bunda Maria memiliki iman bahwa peristiwa maha pahit itu harus terjadi sebelum hal-hal yang indah akan terungkap di kemudian hari, di tengah derai air mata ia mau menerima kenyataan penyaliban itu sebagai proses pengudusan diri baginya dan para anggota komunitas umat manusia. Bayangkan bila Bunda Maria menolak untuk taat, tentu tak akan pernah ada gelar Maria Bunda Gereja, Maria Bunda Allah, Maria Pengantara Segala Rahmat atau yang lain.
Paskah tentu saja bukanlah sebatas mengulang liturgi Gereja tahun-tahun sebelumnya (ketaatan sistem), namun merupakan pendalaman terhadap pengenalan akan hakekat Allah yang cintanya tak bisa dibandingkan dengan apa pun – termasuk cinta orang tua kita sendiri. Liturgi boleh sama dan akan selalu sama dari tahun ke tahun, namun kita diharapkan untuk mampu mencercap hakekat misteri agung ini semakin dalam daripada waktu-waktu lalu; Sehingga akhirnya kita sampai pada titik di mana mampu dengan jiwa tulus total tanpa kepalsuan mengatakan: “Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku”.
Di ulang tahun yang ke-31 ini marilah kita bersama mengupayakan pertumbuhan batin untuk lebih teguh kukuh mencintai Yesus dengan belajar bagaimana Bunda Maria mencintai Yesus. Pada masa kini Tubuh Kristus hadir sebagai Gereja Kudus. Seturut teladan Bunda Maria yang mencintai Yesus, maka kita harus menunjukkan ketotalan cinta pada Gereja. Semangat yang mendasari karya komunitas Legio Maria adalah mencintai Gereja. Oleh sebab itu marilah kita merefleksikan diri sejauh mana kita beperan dalam setiap keprihatinan (derita Gereja) terkait dengan pelayanan pastoral evangelisasi-nya? Semoga kita bukan malah sibuk ber-legio demi legio sendiri sehingga kita tidak cukup mendengar suara Gereja yang memanggil-mangggil kita agar masuk barisan perjuangan Gereja melawan kuasa dunia.
Sahabat, mari bersama kita masuk ke hati Bunda Maria yang terdalam, bersama Bunda kaki bergerak mengikut Yesus yang tertatih-tatih meniti jalan-jalan berbatu memikul salib kematian-Nya sendiri yang begitu berat; Mari hadir bersama di puncak Kalvari – di mana Ekaristi Agung dilaksanakan oleh Allah sendiri, dengan pengurbanan Tubuh dan Darah Anak Domba terbaik.
Biarlah pedang tajam yang menusuk jiwa Bunda tersebut.. juga menusuk jiwa kita… Memang memilukan……, menyakitkan…, tak tertahankan…
Tetapi biarlah itu terjadi
Agar kita semua tahu betapa sakitnya Anak Manusia menanggung sengsara atas nama…. cinta!
Sdr. Octavian Andreas Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani – Indonesia Bagian Barat.
Suasana yang penuh dengan sukacita begitu terasa pada hari-hari terakhir menyambut Natal 2017 dan Tahun Baru di Paroki Santo Yohanes Pemandi, Pahauman, Keuskupan Agung Pontianak, pedalaman Kalimantan Barat. Dengan ceria anak-anak bergegas masuk ke Pasturan Paroki, menyalami dengan penuh sopan santun serta mengangkat tangan kanan saya untuk menyentuh kening mereka satu per satu, meskipun mereka tidak mengenal saya sama sekali, apakah saya kaum Klerus atau umat biasa yang sedang berkunjung.
Bingkisan kue-kue kering, berbagai minuman penyegar memenuhi meja ruang makan Pasturan. Semuanya adalah persembahan dari umat untuk Paroki Pahauman, khususnya anak-anak yang datang bermain di Pasturan. Suasana di Susteran pun tidak kalah indahnya. Kandang domba tempat Tuhan Yesus dilahirkan disertai berseberangan dengan bertoples-toples kue-kue kering buatan sendiri, minuman penyegar, dll.
Foto bersama seorang Pastor, dua orang Bruder dan satu pegawai Paroki, sesaat sebelum menuju ke stasi-stasi dengan kaos Legio Maria.
Pada malam Natal, saya bersama Bruder Cimes dan Koster pergi menuju ke salah satu Stasi/gereja kecil dengan jarak tempuh mobil lebih dari 1 jam perjalanan. Ibadat diadakan dengan pembagian Komuni Kudus. Umat terlihat sangat senang atas kedatangan Bruder Cimes, karena rata-rata mereka hanya mendapat kesempatan menerima Komuni Kudus satu hingga dua kali dalam setahun. Dalam perayaan, umat merayakan dengan penuh khidmat dan gembira, meskipun adanya kekurangan satu atau dua hal.
Setelah ibadat usai, secara tradisi dan kebiasaan, Bruder Cimes berkunjung ke rumah kepala Stasi dan disana telah dipersiapkan hidangan santap malam. Kami berbincang-bincang penuh keakraban dan persaudaraan. Anak-anak mereka ada yang sudah selesai kuliah dan bekerja di Jakarta, atau ada yang masih kuliah. Ini bagaikan sebuah reuni keluarga besar di kampung halaman mereka.
Pada tanggal 25 Desember kami menuju ke gereja kecil yang tidak terlalu jauh jaraknya dari Paroki. Disana pun ramai hingga banyak umat yang harus berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Seusai Ibadat kami berkunjung ke rumah kepala Stasi. Banyak sekali kerabat, keluarga, serta karyawan kepala Stasi yang ikut hadir dan menyantap bersama santapan siang. Penuh dengan kekeluargaan.
Pada suatu sore di lain hari, Bruder Cimes mengajak saya ke rumah panggung tradisional yang masih tersisa. Disana pun kami dihidangkan kopi, teh, kue-kue, dan gorengan oleh salah satu umat. Setelah itu kami singgah ke rumah yang lain dan dihidangkan lagi makanan. Kami berbincang-bincang penuh keakraban sambil bernostalgia tentang kehidupan mereka sewaktu masih muda di kampung.
Tidak kalah serunya suasana keakraban di Paroki setelah para Frater, Bruder, Pastor pulang dari Stasi yang rata-rata berjarak lebih dari 1 jam. Banyak stasi-stasi yang tidak masuk jaringan provider handphone, jadi para kaum Klerus harus menghafal peta dan meminta bimbingan Pastor senior yang sudah pernah ke Stasi tersebut.
Karena begitu akrabnya tradisi mengunjungi rumah kepala Umat/Stasi seusai Ibadat, sampai saya butuh istirahat dan absen beberapa kali dalam tour dengan Bruder Cimes. Sayang tidak semua Umat mendapat kunjungan seusai Ibadat setiap minggunya, dikarenakan jumlah umat yang begitu besar tidak proporsional dengan jumlah kaum Klerus yang dapat memberikan Komuni Kudus. Sebagai informasi, provinsi Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan jumlah umat Katolik kedua terbesar di Negara kita setelah Flores, sehingga para umat di pedalaman rata-rata menerima Komuni Kudus hanya satu hingga dua kali dalam setahun. Sebagian besar paroki hanya mempunyai sedikit Pastor yang melayani stasi-stasi/gereja kecil. Paroki Pahauman sendiri memiliki dua Pastor untuk melayani umat di 170 stasi.
Saya sangat prihatin melihat kondisi seperti ini, bagaimanakah dengan Saudara-Saudari apakah hati Saudara-Saudari tergerak untuk memberikan ide-ide sehingga umat di pedalaman Kalimantan Barat dapat menikmati Misa Kudus dan Sakramen-sakramen lainnya lebih sering?
Sebagai informasi: dua tahun yang lalu ada empat dari lima pelamar dari pedalaman Kalimantan Barat yang ingin masuk seminari namun terkendala oleh biaya.
Terima kasih. Salam hangat selalu,
Anson Presidium Stella Maris Sunter Jakarta & Neti Presidium Regina Angelorum Katedral Jakarta.
Narasumber: Diakon Rusdy & Bruder Cimes.
Anson Santoso adalah seorang legioner aktif di Presidium Stella Maris – Sunter. Pernah bergabung pula di Presidium Junior di SLTP Santa Maria Juanda.
Banyak pertanyaan yang membahas mengenai seberapa penting sakramen tobat bagi kita. Tidak jarang di era sekarang ini remaja bahkan orang dewasa mendapatkan pertanyaan yang menguji iman, seperti, “Toh manusia tidak luput dari dosa yang berarti dengan sakramen tobat tidak berarti menjamin manusia tidak akan terbebas sepenuhnya dari godaan dosa, yang pada akhirnya akan jatuh kembali dalam dosa itu sendiri bahkan tak jarang layaknya keledai yang sering kali jatuh dalam lubang yang sama.” Pertanyaan tersebut cukup menjamur dan menjadi alasan bagi sebagian orang beriman menunda dalam merespon pelayanan sakramen tobat dengan alasan diadakan rutin setiap tahun. Mirisnya, dalam kondisi yang sebaliknya, di tengah kehendak bebas manusia yang semakin menjerumuskan pemikiran bahwa jatuh dalam dosa adalah hal yang tidak terelakan, manusia seakan sangat mengandalkan pengakuan dosa “Yang penting masih akan ada pengakuan di gereja”.
Kehidupan yang semakin berkembang dengan banyaknya tuntutan dan kompleksnya keinginan manusia menjadikan sebagian besar orang akan lunak dengan kehendak bebas. Banyak hal yang menjauhkan orang dari Tuhan oleh karena keinginan duniawi. Manusia yang terus terjerat oleh sifat menunda-nunda semakin terbawa arus perkembangan global dan melupakan sumber dan asal manusia yang sesungguhnya.
Beragam cara pandang manusia dalam menanggapi dosa itu sendiri, tidak jarang rasionalisasi atas dosa sering terjadi dengan menganggap yang dilakukan adalah hal biasa dan dapat ditolerir. Lingkungan menjadi salah satu penyebab besarmya rasionalisasi yang dilakukan sebagai upaya menghilangkan perasaan bersalah.
Menurut Gereja Katolik, dosa sendiri dibagi menjadi dua kategori yakni dosa berat dan dosa ringan. Apapun kategori dosa tersebut tidaklah kurang dari perilaku yang menyakiti hati Allah, Efesus 4:31 “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.”
Di tengah tanda tanya dunia yang tidak ada batasnya, Gereja Katolik menawarkan sakramen yang mengantar manusia untuk kembali menemukan jalan dan berada pada keselamatan. Melalui doktrin tentang EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus) yang mana pengertiannya melalui Konsili Vatikan ke II diartikan sebagai “Keselamatan datang dari Kristus Melalui Gereja Katolik”, menjelaskan bahwa Gereja Katolik mengambil bagian dalam menuntun orang memperoleh keselamatan. Rumusan ini didasarkan pada Yohanes 14:6 (Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”). Kristus sebagai Kepala Gereja, Kristus tidak pernah terlepas dari Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya.
Setiap orang membutuhkan asupan gizi secara rutin dan teratur untuk menjaga kebugaran jasmaninya, begitu juga orang membutuhkan bimbingan rohani serta penitensi dalam sakramen tobat sebagai asupan rohani agar tetap menjaga kebutuhan rohaninya. Bukan hanya soal dosa apa yang telah diperbuat sehingga membutuhkan sakramen tobat, akan tetapi seberapa mampu kita dapat merendahkan hati bahwa kita manusia yang berdosa. Merendahkan hati membutuhkan penyadaran diri, dimana yang mana prosesnya melalui penelitian batin. Penelitian batin adalah sikap yang paling mendasar dan penting.
Dalam perjalanannya, sakramen tobat sering juga disebut dengan beberapa nama atau sebutan lain yang mana melalui istilah yang ada terkandung makna dari sakramen tobat itu sendiri. Beberapa sebutan atas sakramen tobat antara lain :
1. Sakramen Tobat
Penyebutan sakramen tobat didasarkan pada konsili vatikan ke II (lih. Sacrosanctum Concilium, No. 72; Lumen Gentium, No. 11). Dalam penyebutan sakramen tobat hal yang mau ditekankan ialah tobat dan orang beriman yang bertobat.
2. Sakramen Pengakuan Dosa
Dalam penyebutan sakramen pengakuan dosa hal yang mau ditunjukan adalah orang yang mau bertobat menyatakan sikap tobatnya kepada Allah. Dengan kejujuran serta kerendahan hati mau mengakukan dirinya sebagai orang yang berdosa dan membutuhkan kerahiman Allah.
3. Sakramen Pengampunan Dosa
Disebut sebagai sakramen pengampunan dosa karena dosa-dosa yang telah di akukan dengan penuh kejujuran dan kerendahan hati melalui absolusi imam secara sakramental telah diampuni oleh Allah sendiri.
4. Sakramen Pendamaian (rekonsiliasi)
Melalui pengampunan yang diterima oleh pentobat, Allah sendiri memperdamaikan pentobat dengan Diri-Nya dan Gereja. Berdasarkan Lumen Gentium, No. 11 “mereka yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan Allah adalah ungkapan cinta-Nya yang mendamaikan”. Sesuai dengan 2 Korintus 5:20 “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah”.
5. Sakramen Penyembuhan
Melalui sakramen tobat kita diberikan rahmat penyelamatan dan penyembuhan atas jiwa dan raga.
Gereja sebagai Tubuh Kristus memberikan kesempatan setiap orang untuk dapat bertobat melalui sakramen tobat yang merupakan sarana kehadiran Tuhan dalam diri kita yang mengembalikan kita ke jalan keselamatan. Dalam pengakuan dosa orang dapat mengalami dan merasakan buah-buah rohani seperti pendamaian dengan Allah karena relasi kasih dengan Allah, pendamaian dengan sesama, disembuhkan secara utuh dari luka batin, pembebasan dari siksa abadi, dan menagalami ketenangan hati nurani (kedamaian hati).
Memperbaiki relasi dengan Allah adalah kebutuhan bagi manusia. Penyadaran diri merupakan hal yang patut dilakukan dalam perjalanan kehidupan sehari-hari. Bagi umat katolik dalam menyambut, memperingati ataupun merayakan kesempatan-kesempatan tertentu melalui penyadaran kelemahan diri dengan penelitian batin merupakan hal yang patut untuk dipupuk. Masa prapaskah, ketika umat Katolik berada dalam masa penyangkalan diri, adalah kesempatan baik untuk meneliti batin dan memperbaiki diri. Dengan adanya sakramen tobat kesempatan ini menjadi lebih istimewa karena dalam usaha menyadari setiap kelemahan dan keberdosaan kita, Tuhan mau hadir dalam diri dan hati kita melalui sakramen tobat sendiri.
Bagaimana persiapan kita dalam menerima sakramen tobat sehingga dengan utuh kita dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita ?
Dalam melakukan pengakuan dosa hal yang paling pertama untuk diperhatikan adalah ketepatan waktu kehadiran di tempat pengakuan, hal ini akan sangat membantu kita untuk dapat memeriksa suara hati secara teratur dan menyeluruh sebelum masuk ke ruang pengakuan. Berbicara dengan artikulasi yang jelas, namun tidak berarti sampai mengeluarkan suara terlalu keras. Mengakui semua dosa yang pernah dilakukan secara tulus, kemudian mendengarkan nasehat maupun penitensi dari pastor/romo. Jangan meninggalkan ruang pengakuan dosa sebelum imam menyelesaikan absolusi. Kemudian kita laraskan doa tobat, dan setelah menerima rahmat pengampunan dalam sakramen pengakuan dosa, sedapat mungkin untuk segera memenuhi penitensi yang diberikan oleh imam di luar bilik pengakuan. Sangat dianjurkan bahwa setelahnya kita dapat mendoakan doa syukur atas pengampunan (PS. 27) dan Madah “Allah Tuhan Kami” (PS. 28)
referensi: Katolisitas.org, carmelia.net
Ignas Permenas Gumansalangi adalah legioner presidium Maria Mater Dei Binus, Kuria Cermin kekudusan – Kampus.
Perlu diperhatikan mengenai doa penutup pada Teserra, terutama pada bagian :
“Perawan yang mulia dan terpuji janganlah mengabaikan doa-doa kami dalam kesukaran, tetapi selalu bebaskanlah kami dari segala bahaya, Santa Maria yang Semula Jadi Tak Bercela, Pengantara Segala Rahmat (atau sebutan tiap presidium)”
Pada saat rapat presidium, maka didoakan sebagai berikut :
“Perawan yang mulia dan terpuji janganlah mengabaikan doa-doa kami dalam kesukaran, tetapi selalu bebaskanlah kami dari segala bahaya, sebutan tiap presidium”
Contoh, pada rapat presidium Benteng Gading, maka doa tersebut diucapkan :
“Perawan yang mulia dan terpuji janganlah mengabaikan doa-doa kami dalam kesukaran, tetapi selalu bebaskanlah kami dari segala bahaya, Benteng Gading” – Doakanlah kami.
Sedangkan pada acara-acara lain, di luar rapat presidium (termasuk pada rapat dewan dan pendarasan doa oleh anggota auksilier), maka doa tersebut diucapkan :
“Perawan yang mulia dan terpuji janganlah mengabaikan doa-doa kami dalam kesukaran, tetapi selalu bebaskanlah kami dari segala bahaya.
Santa Maria yang Semula Jadi Tak Bercela, Pengantara Segala Rahmat” – Doakanlah kami.
NOTES : Hal ini sudah diumumkan pada Rapat Senatus 10 September 2017.
Atas nama Konsilium, Legio Maria Dublin, saya sampaikan salam hangat kepada Pemimpin Rohani, Ketua, Para Perwira Senatus, dan seluruh anggota Dewan dari Senatus Jakarta. Saya berdoa agar tahun 2018 ini memberi banyak berkat bagi kita semua.
Saya senang karena telah menerima Notulensi Senatus di bulan November & Desember 2017. Ada banyak karya pelayanan yang tercatat, termasuk membantu Saudara/i yang berkekurangan, baik yang beragama Katolik maupun non Katolik, menyelenggarakan Misa & Sakramen Pertobatan di penjara, dan berbagai kegiatan lainnya yang sungguh patut dipuji. Saya yakin ada banyak berkat yang didapat lewat tugas-tugas itu. Kunjungan ke presidium dan dewan-dewan lainnya sangat penting dilakukan dan senang mengetahui bahwa tugas itu terus terlaksana.
Saya berterima kasih kepada Saudari Jeny Triatna Dewi, Ketua Senatus, untuk perhatiannya terhadap Komisium Pontianak. Saya berharap dan berdoa agar proses pemilihan Ketua Komisium berjalan dengan baik. Saya senang mengetahui Komisium telah diasuh oleh Pembimbing Rohani yang baru yaitu Pastor Yosef, menggantikan Pastor Petrus yang saat ini sedang sakit. Semoga Santa Perawan Maria selalu hadir di tengah mereka agar bantuan, perlindungan, dan bimbingan Ilahi selalu tersedia bagi mereka. (Catatan : Senatus telah menginformasikan kepada Konsilium bahwa Pastor Petrus telah meninggal pada 31 Desember 2017. Konsilium menyampaikan bela sungkawa mereka bagi seluruh legioner di Komisium Pontianak, serta akan mendoakan arwah Pastor Petrus dalam rapat konsilium bulan Februari).
Pastor Bede McGregor , Pembimbing Rohani Konsilium mengingatkan betapa beruntung dan istimewanya kita para legioner bisa mengambil bagian dalam misi pelayanan Bunda Yang Tak Bernoda, Perawan yang dipilih Tuhan untuk menjadi Bunda Yesus dan Bunda bagi kita semua. Misi itu adalah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan membawa mereka kepada kebahagiaan abadi di surga. Dengan demikian, kita memiliki relasi khusus dengan dia yang adalah Pengantara Segala Rahmat dan dengan Putra-Nya Yesus Kristus.
Beberapa Laporan Tambahan
Regia Malta baru-baru ini melaporkan tugas-tugasnya, diantaranya: konsekrasi kepada Hati Kudus Yesus, mengajar katekismus, dan mempromosikan Legio serta doa Rosario. Sebanyak 42 legioner menghadiri retret Devosi Sesungguhnya kepada Maria. Regia Arlington (USA) melaporkan ada 59 orang telah mengikuti konsekrasi pada retret ini.
Senatus Los Angeles melaporkan ada satu Komisium di Korea yang memiliki 12 Kuria, yang terdiri dari 150 presidium senior dengan 1,250 anggota aktifnya.
Ada juga laporan menarik dari Afrika, salah satunya dari Senatus Abuja, Nigeria, yang menyebutkan adanya 368 konversi dalam 1 tahun.
Wafatnya Saudara T. McCabe
Pada bulan November lalu Sdr. Tommy McCabe telah dipanggil pada usianya yang ke-61 tahun. Beliau adalah Ketua Konsilium tahun 2005 – 2011, dan telah bergabung menjadi anggota Legio sejak usia 10 tahun. Beliau telah melakukan kunjungan ke beberapa negara dan bertemu dengan Paus Benedict XV1 di Vatican pada tahun 2006. Baru-baru ini jua beliau menerbitkan sebuah buku berjudul “Athought a day with Frank Duff”. Semoga beliau kini beristirahat dalam damai.
Doa kepada St Rafael.
Pengajuan untuk menambahkan St Rafel pada doa penutup di Tesera telah disetujui Konsilium pada tanggal 21 Jan 2018. Adapun bunyinya sekarang adalah: Malaikat Agung Santo Mikael, Santo Gabriel, dan Santo Rafael, Doakanlah kami.
Persatuan Kristiani
Pastor Bede McGregor di alukusionya mengatakan bahwa kita diminta oleh Dewan Kepausan untuk mempromosikan Persatuan Kristiani lewat karya kerasulan yang sungguh berkomitmen terhadap Persatuan Kristiani. Beliau mengingatkan kita bahwa Frank Duff telah sungguh berkomitmen terhadap kerasulan itu sejak 1939. Kita juga diingatkan bahwa pada malam penderitaan dan kematian-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus berdoa “..supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau Bapa ada di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau ….” (Yoh 17.12). Kita diajak untuk terus mendoakan intensi tersebut, dengan jutaan legioner yang berdoa akan menjadi partisipasi besar dalam aktivitas ekumenis Gereja.
Persatuan di dalam Legio Maria tentu saja hal yang utama. Semoga Tuhan memberkati dan menjaga kita semua dalam kekudusan dan kesatuan.
Ketika mengetahui ada acara Latihan Kepemimpinan Dasar dari Senatus, saya jadi berniat untuk mengikutinya . Tapi ternyata jatah peserta Regia hanya dua orang meskipun area kerja Regia cukup luas dari Sumatera Utara hingga Sumatera Selatan. Sebagai Legioner yang tak mengenal putus asa, saya rela ditempatkan di waiting list… Eh tiba-tiba penutupan pendaftaran dipercepat, langsung saya bertanya pada Sdri. Maryana yang mengurusi pendaftaran, bagaimana dengan status saya, apakah masih tetap di waiting list atau bagaimana … Eh ternyata tidak, saya sudah terdaftar sebagai peserta. Saya bahagia serasa seperti ketika terjadi peningkatan status dari anggota aktif percobaan menjadi resmi sebagai anggota aktif. Terima kasih untuk kesekian ribu kalinya kepada Bunda kita Maria.
Saya mulai mempersiapkan diri karena ada wanti -wanti trainernya tegas. Saya merasa bahwa mungkin ini training yg terakhir yg boleh saya ikuti.. Saya tidak boleh gagal … Saya sampai minta doa kepada para legioner untuk mama saya agar mama saya tidak sakit, karena kalau mama sakit, saya pasti tidak bisa ikut. Saya berterima kasih kepada seorang Legioner yang sampai rela mendoakan mama saya di misa pagi.
Perlu anda ketahui, orang yang turut mendoakan mama saya itu belum saya kenal dan akan saya kenal ketika di LDK nanti. Pendek cerita sampailah saya ke Samadi dengan kondisi yang mantap dan dijemput oleh Sdri.Yanti, Ketua Senatus sebelumnya.
Sudah banyak legioner yang hadir saya begitu senang bisa ketemu dengan teman seperjuangan dari Jambi dan Pangkal Pinang. Walau pada awalnya saya sedikit merasa aneh dengan lampiran deklarasi kesehatan, serta ada interview lagi oleh team Trainer sebelum mengikuti training ini. Tapi saya semakin yakin bahwa ini memang MANTAP trainingnya dan pasti lain dari yang lain .
Ada juga peserta dari Kalimantan membuat saya lebih yakin bahwa training ini benar-benar training mengingat seleksi yang begitu ketat dan semua yang adalah orang terpilih dan pemenang.
Saya satu kamar dengan seorang saudari dari Jakarta. Dia katakan tidak ada run down acara, dan saya bilang acara akan mulai pukul 16.00. Kami berdua lalu beristirahat… Eh ketika kami tersadar, ternyata misa hampir selesai. Untung masih mendapat berkat penutup dan training belum dimulai. Itulah akibat dari tidak memperhatikan.
Training pertama begitu gegap gempita dan kami mengumandangkan dengan lantang kalimat berikut : “Sembilan orang buta, satu orang tuli, siapa pemimpinnya? saya pemimpinnya” Terus diulang sampai berkali kali.
Sempat ada dipikiran saya siapa ya rela mau jadi pemimpin hanya untuk sembilan orang buta dan satu tuli???
Orang buta tidak perlu dipimpin hanya perlu dituntun, jadi tidak perlu seorang pemimpin, dan hanya perlu seorang penuntun. Begitu juga dengan satu orang tuli. Tapi saya tidak protes karena katanya ini hanya permulaan. Saya tetap lanjut dan mulai berhati-hati takut tereliminasi dan lalu dipulangkan.
Ketika masuk ke ruang kelas kita semua mendapatkan sebuah tomat dan plastik untuk membungkus tomat. Piye toh ada training pake tomat?? Semua rada aneh ….. ditambah bendera warna warni ada hitam …merah …putih dan hijau … Saya pikir lambang para peserta dari berbagai daerah …. Dilanjutkan demgan susunan barisan dari umur termuda hingga yang tua disertai dengan penjumlahan usia di masing-masing batalyon …wouuw suasana jadi hiruk pikuk. Masing-masing peserta mulai menghitung dan menyelaraskan umur dari ke dua sisi kiri dan kanan … Saking sibuknya semua tidak memperhatikan tanda yg diberikan adalah bendera hitam dan semua harus diam … Ketika itu trainer Bapak Ronald sempat darting… meja di banting hingga terbalik … barulah semua diam tak berkutik… Saya sendiri terkejut namun jantung saya tidak copot. Saya senyum dalam hati, rupanya jantung saya masih kuat walau sudah tidak muda lagi . Terima kasih Tuhan dan Bunda Maria.
Dari cerita di atas, saya memaknai bahwa ikut training berarti kita belajar lagi … Semua jabatan dan embel-embel dilepas sehingga kita putih kembali seperti kertas baru yang ingat digurat dengan kesan dan pesan. Kalau kita simak dengan baik, banyak yg kita peroleh dari bentakan dan bantingan meja. Kita sadar bahwa kita lebih mengejar hasil yg tepat dari penjumlahan tapi kita telah menyepelekan tanda bendera hitam yang terpasang. Walaupum kecil tapi kita bisa melihatnya dan yang paling penting pesan dari warna bendera sudah diberitahu sebelumnya lain halnya jika sebelumnya fungsi bendera sudah dijelaskan dengan baik, sehingga bukan jebakan. JADI menurut saya yang salah adalah kita dan bukan Bapak Ronald. Kita mendengar tapi bukan mendengarkan dan kita melihat tapi tidak memperhatikan dengan benar.
Selama ini kita berdiri diatas kedisiplinan kita, bangga dengan tugas pelayanan kita, tapi saya yakin di balik semua itu kita banyak lalai dengan masalah masalah kecil, yang mana itu bisa berakibat fatal bagi presidium dan dewan yang kita pimpin. Maka marilah kita semua maju melangkah seiring sejalan, seperti lagu yg kita nyanyikan dengan gerak seirama tanpa menyepelekan hal kecil yang mana bisa membawa bencana.
Sdri. Roosita Taufik adalah Ketua Regia Ratu Para Syahid – Medan, periode 2016 – 2019, dan juga adalah peserta LDK Senatus Bejana Rohani 2018.