PEMURNIAN MOTIVASI PELAYANAN

Dibawakan oleh RP H. Tedjoworo, O.S.C pada Planning Day Kuria Bunda Penasihat yang Baik, Bandung Barat 1.

Cimahi, 21 Januari 2018


Situasi pelayanan dalam Gereja mengalami banyak tantangan dari luar masyarakat, namun juga godaan yang mungkin berasal dari dalam diri para pelayannya sendiri. Para legioner adalah pelayan umat. Pelayanan kita sebagai legioner bersifat unik, sebab “harus dapat bertahan terus, menolak untuk menyerah” (Buku Pegangan / BP, Bab 4 No. 5). Sifat tidak mudah menyerah sebetulnya mencerminkan spirit yang menjaga kesetiaan kita dalam keanggotaan Legio. Dan ketika spirit kita terganggu, pelayanan pun terganggu atau bahkan menyeleweng dari arah yang seharusnya ditempuh.

Tantangan yang kita alami dari luar dihadapi bersama dengan seluruh Gereja, tetapi godaan dari dalam perlu direfleksikan dengan rendah hati oleh para legioner. Di tengah iklim ‘persaingan’ kelompok-kelompok pelayanan dewasa ini, legioner tidak perlu ikut-ikutan berlomba membuat program kerja yang serba hebat. Mungkin ini waktu yang baik bagi kita untuk melihat ke dalam, pada spiritualitas pelayanan kita. Dari penghayatan iman yang tulus, pasti muncul tindakan-tindakan kerasulan yang mengesankan. Pada saat yang sama, dengan rendah hati kita bisa mengoreksi mentalitas kita masing-masing, sebelum merencanakan pelayanan kita di tahun mendatang ini.

Bahan permenungan berikut bisa ditemukan kembali dalam Buku Pegangan, khususnya dimulai dari Bab 3, “Semangat Legio Maria adalah semangat Maria sendiri. Legio terutama berusaha meniru kerendahan hatinya yang luar biasa…” Sebelum berbagai keutamaan lainnya, kerendah-hatian disebutkan pertama kali sebagai spiritualitas kita (Bacalah terutama BP, 6.2, seluruhnya tentang kerendah-hatian). Perubahan hanya bersifat otentik kalau kita berani mengoreksi diri, dan mengoreksi diri hanya terjadi kalau kita memiliki kerendah-hatian.

1. Kerohanian: Apakah pembicaraan kita dengan orang lain cenderung mengenai hal-hal rohani? Situasi kerasulan dalam Gereja akhir-akhir ini sangat dipengaruhi sekularisme. Percakapan yang spontan muncul adalah tentang hal-hal profan, yang duniawi. Orang lebih antusias membicarakan tentang hobby, pekerjaan, keuntungan, prestasi, dan hiburan ketimbang hidup doa, saat teduh, Sabda Tuhan, serta pengalaman rohani.

Kalau legioner terbawa oleh arus profan (duniawi) dalam percakapannya dengan orang lain, berarti spirit atau semangat di dalam dirinya pun sudah menjadi kurang rohani. Bibit ‘kemunafikan’ (ketidakcocokan antara ibadat dan kelakuan) juga bermula dari godaan untuk lebih sering berbicara tentang hal-hal duniawi. Kita bisa mulai dengan saat-saat perjumpaan dengan sesama legioner: hal pertama apa yang kita ceritakan satu sama lain? Masih adakah dorongan untuk mengisahkan pengalaman rohani kita satu sama lain? Pengalaman ini adalah cara Tuhan menginterupsi keseharian kita, agar kita jangan tenggelam dalam sekularisme. Roh Kudus berjalan bersama kita karena Kristus menghadirkan-Nya (Yoh 14:16, Yun. ‘parakletos’= yang dipanggil untuk berjalan di samping). Buku Pegangan (5.5) menegaskan apa yang mestinya menjadi kebiasaan kita: “organisasi yang bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama Maria (Kis 1:14) yang telah menerima semuanya dari Allah”. Oleh karenanya, cara pertama kembali pada semangat kita sebagai legioner ialah: berbicara mengenai hal-hal rohani lebih dari biasanya. Tidak boleh ada rasa malu untuk membagikan pengalaman rohani, yakni sesuatu yang menyentuh hati dan iman kita, dari kejadian atau perjumpaan yang sangat sederhana sekalipun. Masyarakat yang terlalu ‘sekuler’ bahan percakapannya mesti dipengaruhi oleh cerita-cerita para legioner yang selalu mengingatkan bahwa Tuhan hadir di sekitar kita, bahwa penyelenggaraan Ilahi selalu terjadi kendati kita tidak menyadarinya. Membiasakan diri bercakap-cakap tentang hal-hal rohani juga menjadi sebentuk “penyucian diri” yang merupakan sarana pokok untuk berkarya (bdk. BP, 11.1).

2. Sikap Melegakan: Apakah kunjungan kita melegakan orang lain? Kita mungkin pernah mendengar komentar bahwa kunjungan para legioner tidak selalu dikehendaki. Sebaiknya tidak usah kita lekas-lekas mengatakan bahwa mungkin orang punya prasangka. Lebih baik kita melihat diri sendiri, sebab siapa tahu kedatangan kita malah cenderung merepotkan atau mengganggu ketenangan batin orang lain.

Kunjungan rumah (keluarga) menjadi ciri khas Legio (BP, 37.2), maka harus diteliti dengan seksama apakah kunjungan kita sungguh-sungguh membawa kelegaan. Kehadiran Yesus senantiasa menawarkan kelegaan dan penghiburan (Mat 11:28). Oleh karenanya, legioner harus memiliki semangat untuk melegakan dan mempermudah orang lain. Sebagai bagian dari keberadaan kita sebagai pelayan, motivasi kita harus selalu kembali pada hasrat untuk membantu sesama, dan ini akan sangat konkret dihayati dalam setiap kunjungan kita. Mungkinkah legioner tidak disukai karena kedatangannya malah menambah beban atau rasa bersalah? Itu bisa terjadi kalau kita terlalu banyak menasihati dan menegur, daripada mendengarkan dan menawarkan alternatif atas masalah (rohani) yang dialami orang lain. Selama kita tetap berusaha bersikap rendah hati, kunjungan dan perjumpaan dengan orang lain pasti akan mengurangi beban hidup mereka.

Sebaliknya, kalau kita merasa lebih tahu tentang berbagai hal, juga yang rohani, kunjungan itu akan berakhir dengan tidak menyenangkan bagi orang yang kita kunjungi. Bagian BP yang dirujuk di atas mengatakan, “Setiap rumah harus dilihat dari sudut pandang pemberian pelayanan”. Jelas ada yang keliru dalam hal motivasi kalau kedatangan kita malah mempersulit, meresahkan, apalagi mengesalkan orang lain. Semangat mempermudah dari Bunda Maria ditemukan dalam peristiwa Perkawinan di Kana (Yoh 2).

3. Bahagia Menjadi Legioner: Apakah kita senang menjadi legioner? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, dengan jujur. Jawaban yang kita ucapkan secara spontan sering kali hanya supaya “kedengaran baik”. Kalau direnungkan dengan lebih tenang, pertanyaan ini sebenarnya sangat personal, seperti halnya ketika seseorang ditanya mengenai pilihan jalan hidupnya.

Tidak ada yang memaksa kita untuk menjadi legioner. Bahwa kita masih menjadi legioner, mestinya juga bukan karena ada teman dekat kita di sana atau karena merasa tidak enak terhadap siapapun. Kalau kita dengan senang hati menjadi legioner, kerasulan kita pun akan dialami oleh orang lain sebagai pengalaman yang menyenangkan. BP membayangkan bahwa kerasulan legioner dapat menjadi “sinar terang” yang memotivasi banyak orang hingga membawa mereka ke “jalan baru yang lebih menyenangkan, menuju keselamatan dan kesucian” (37.10). Ketika dulu memanggil murid-murid pertama-Nya, Yesus juga menawarkan suatu jalan hidup baru yang kemudian disambut para murid itu dengan antusias (Mrk 1:14-20). Perasaan bangga sebagai legioner itu penting untuk menghayati kesetiaan dalam setiap kerasulan dan pelayanan. Mari kita sadari bahwa orang lain akan mampu merasakan, apakah kita ini memang bahagia dengan panggilan hidup kita atau sekadar ‘bertahan’ saja di dalam pelayanan ini.

4. Kelemahlembutan: Apakah kita dikenal sebagai pribadi yang lemah lembut? Kelemahlembutan sangat erat dengan kesabaran. Ketika merasa tidak sabar, biasanya orang mulai memaksa atau bahkan bersikap kasar. Meskpun berkali-kali semangat ini diingatkan kembali, dalam praktiknya kita lekas lupa.

Legio memang menekankan disiplin dalam doa, rapat, kegiatan, dan pelayanannya, karena namanya memang merujuk pada sifat suatu kesatuan tentara atau pasukan Maria. Di bagian awal kita sudah diingatkan tentang karakter pelayanan kita yang seharusnya tidak mudah menyerah. Akan tetapi, tekanan berlebihan pada disiplin dan ketegasan bisa membuat seorang legioner menjadi kaku dan kurang lemah lembut. Bunda Maria akan menghendaki sifat lemah lembut yang penuh belas kasih untuk menunjukkan bahwa mutu kerja seorang legioner adalah berbeda (BP, 39.2). Kelemahlembutan, seharusnya, adalah yang membedakan kita sebagai legioner dibandingkan pelayanan-pelayanan lain. Kita tidak mau memaksa siapapun, dan tidak boleh membuat siapapun merasa bersalah. Itu didasari oleh kesabaran Yesus sendiri yang menggambarkan diri-Nya sebagai sosok yang lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29). Yesus pasti mengalami kelembutan bersikap itu dari bunda-Nya sendiri yang telah membesarkan-Nya. Bila dalam pelayanan kita tergoda untuk kurang sabar, hendaknya mengingat sabda Tuhan yang membiarkan lalang tumbuh bersama dengan gandum (Mat 13:28-29). Tuhan membimbing setiap orang dengan cara yang berbeda-beda.

5. Berkorban: Apakah kita membedakan antara sikap bertahan dan berkorban? Kesetiaan yang kita hayati sebagai legioner suatu saat bisa terpancing menjadi sekadar ‘bertahan’. Tidak setiap kesulitan dan penderitaan harus dihadapi dengan sikap demikian, melainkan mesti diberi makna sehingga menjadi pengorbanan yang pantas dijalani dengan senang hati.

BP menjelaskan dengan tegas bahwa “kasih, kesetiaan, dan disiplin tidak mempunyai arti bila dilaksanakan tanpa pengorbanan dan semangat” (39.3). Kesusahan yang kita alami dalam tugas-tugas mesti diberi makna, sehingga niscaya bagi diri kita sendiri kesetiaan untuk melakukannya akan menumbuhkan iman kita agar lebih dewasa. Legioner mesti punya rasa syukur karena diizinkan Tuhan mengalami berbagai kesulitan (bukan kemudahan!) dalam setiap pelayanannya, seperti juga para rasul pada waktu itu, yang bersukacita karena boleh menderita karena nama Yesus (Kis 5:41).

Sikap mau berkorban mirip dengan keyakinan seseorang untuk memilih jalan hidup tertentu, meskipun berbeda dengan kecenderungan banyak orang di sekitarnya. Menjadi legioner adalah sebentuk jalan hidup yang membuat kita masih mampu tersenyum, kendati menghadapi berbagai situasi yang tidak ideal maupun tekanan. Penderitaan akan menjadi salib yang membanggakan untuk dipikul sebagai legioner, kalau kita menemukan makna di dalamnya.


RP. Hadrianus Tedjoworo, O.S.C. adalah Pemimpin Rohani Kuria Bunda Penasihat yang Baik, Bandung Barat 1 – Komisium Bunda Rahmat Ilahi.

Mensyukuri Berkat 2017 dan Melangkah dengan Iman 2018

Suasana Natal pasti masih terasa dalam keluarga, gereja atau tempat hiburan lain dan tak kalah meriah tentunya suasana pergantian tahun 2018. Kita juga mungkin sedang bersiap untuk menutup tahun 2017 dengan berlibur ke suatu tempat, barbeque-an, main kembang api, having fun atau apapun acara bersama keluarga dan sahabat yang dikasihi.

Saya ingin mengajak untuk meluangkan waktu untuk sejenak merefleksikan perjalanan hidup kita masing-masing khususnya di tahun 2017.  

Sudahkah kita hitung berapa banyak rejeki, karir, kelancaran study, dan banyak sukacita lain yang Tuhan berikan pada tahun ini ?  kita mudah mensyukuri semua kebaikan Tuhan yang nampak jelas kita alami. Tetapi… mungkin ada kejadian yang kita lihat sebagai keburukan, kegagalan, kekecewaan dan hal yang kurang baik di tahun ini, apakah Tuhan sedang lalai menjaga kita atau apa maksud Tuhan akan semua peristiwa itu?

Mengapa banyak bencana alam terjadi di dunia dan khususnya di negara kita; banjir, gunung meletus, kebakaran hutan atau kejadian alam lain yang menimbulkan korban jiwa atau harta benda ?

….. Tuhan mengingatkan pesanNya ketika menciptakan alam semesta yaitu agar manusia memelihara dan kembangkan alam semesta (bdk Kej 1 : 26) namun jangan – jangan tanpa sadar kita berkontribusi dalam kerusakan alam karena kita kurang ramah lingkungan, menggunakan plastik, sterofoam, tissue, pemakaian listrik berlebihan dll.  

Dengan bencana inipun, Tuhan mengetuk hati kita untuk semakin peka pada saudara kita tertimpa musibah tanpa peduli ras, suku dan agama untuk bersatu memberikan bantuan kemanusiaan dan doa.

Mengapa masih banyak ketidakadilan, korupsi, ketidakpedulian masyarakat dan rapuhnya kerukunan bangsa ?

…. Tuhan mengingatkan kita untuk menjadi pembawa damai, persatuan, sukacita bijaksana dalam tutur kata. Kita masing-masing bisa mulai dari sesuatu yang sederhana dengan senyum, kerjasama, berlaku adil mulai dari lingkup terkecil di sekitar rumah kita, keseharian pekerjaan kita dan masyarakat.  Kita bisa melakukan seperti dalam doa St Fransiskus Asisi “Jadikan aku pembawa damai”

Seberapa seringkah kupakai handphone dan aktif di media sosial (facebook, twitter, whatsapp dll) untuk mem-forward pesan beranting yang seringkali hoax atau mendeskriditkan orang / golongan tertentu?

….. Tuhan mengaruniakan akal budi / talenta kepada kita agar memakai kemampuan untuk dikembangkan dan bijaksana (bdk Mat 25:14-30), untuk menyebarkan virus cinta dan pengharapan bagi yang putus asa.  Cinta lewat kehadiran nyata seseorang di samping kita menjadi sesuatu yang tak tergantikan oleh gadget canggih sekalipun.

Mengapa ada orang yang sering menjengkelkanku, rekan kerja yang mempersulitku dalam pekerjaan, harus mengurus anggota keluarga yang sakit atau dalam jalan kesesatan, ikut berkomunitas tetapi begitu begitu saja dan membosankan?

Mengapa aku diberikan perutusan yang semakin besar sebagai seorang legioner, sebagai perwira presidium, perwira dewan dan tugas karya yang semakin sulit dan penuh tantangan?

….. Tuhan justru hadir lewat orang-orang dan situasi tersebut untuk menyatakan karya Nya lewat Roh Kudus yang berbuah dalam hidup kita, yang nampak ketika kita berusaha untuk semakin sabar, tetap setia, dan tetap sukacita (bdk Gal 5:22-23).  Saat ini pulalah, semangat Bunda Maria yang kita tiru : “Kata Maria “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1: 38).

Maria nekad menyatakan janjinya tanpa tahu persis kesulitan yang dia akan hadapi ketika menjadi ibu Tuhan, tetapi Maria melangkah dengan iman bahwa itulah rencana Tuhan dan pasti Dia akan menyertainya.  Kita diajak melangkah dengan kacamata iman seperti Maria !

Dalam situasi yang demikian, kita tetap yakin bahwa Tuhan tetap menyertai kita dengan cintaNya yang begitu besar, mari kita pun bersyukur dan mohon ampun jika kita pernah marah dan menyalahkan Tuhan atas semua peristiwa tersebut.

Setelah kita melihat nilai rapot dan menghitung berkat yang kita terima di tahun 2017, mari kita membuat resolusi untuk hari baru di tahun 2018.

Sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan anggota Gereja, apa yang akan aku lakukan untuk memelihara alam semesta dan bagaimana menggunakan kekayaan alam dengan bijaksana?  Bagaimana aku berperan untuk menjaga kesatuan bangsa Indonesia, menghidupi nilai-nilai Pancasila dan nilai luhur kemanusiaan ? Bagaimana aku mengembangkan talentaku agar berguna bagi orang lain dan menghadapi perkembangan teknologi ? Bagaimana aku berani menerima dan menjalankan perutusan dengan iman, sukacita dan penuh semangat ?

Legioner Maria yang terkasih, di akhir tulisan ini dan penghujung 2017, saya atas nama Perwira Senatus Bejana Rohani mengucapkan “Selamat Natal 2017 dan Tahun Baru 2018”, semoga damai, sukacita dan pengharapan baru bersama seluruh legioner.

Terimakasih atas semua doa dan perjuangan para legioner dan restu dari anggota keluarga di tahun 2017. Kehadiran anda tentu membawa warna yang indah bagi orang lain, bagi keluarga, Gereja dan bangsa kita.  

Selamat memasuki 2018, semakin dalam mengarungi bahtera kehidupan dengan penuh semangat, cinta, harapan dan iman yang teguh bersama Bunda Maria dalam pimpinan Allah yang Mahakasih.

“Ya Maria yang semula tak bercela, doakanlah kami yang berlindung kepadamu”

Salam dan doa dari Perwira Senatus Bejana Rohani,

Pemimpin Rohani : RD Antonius Didit S.

Asisten Pemimpin Rohani : Octavian Elang

Ketua : L. Jeny T. Dewi

Wakil ketua : Audrey Isabella

Sekretaris 1 : Ignatia Marina

Sekretaris 2 : Caroline Tjindrawati

Bendahara 1 : L. Hasannudin S.

Bendahara 2 : FX Prasetyoadi

Selamat Natal Legioner Terkasih..

Perayaan Natal yang Utama adalah kegembiraan, bukan saat show kemewahan. Kegembiraan bisa jadi obat penangkal sakitnya masyarakat dewasa ini. Manusia saat uni membutuhkan spirit untuk hidup. Sebuah senyuman, pemberian selamat, penyampaian salam, aksi kebaikan, kata maaf, dapat membawa kegembiraan,  dan kegembiraan itu akan kembali kepada kita. Selamat Natal 2017.  “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu!” (Kol 3:15a)

RP. Lukas Sulaeman, OSC
(Pemimpin Rohani Komisium Maria Assumpta Tangerang)


Saudara saudari legioner terkasih. Selamat merayakan kasih Natal. Selamat meneladan iman dan hidup Maria yang melahirkan kegembiraan, harapan, sekaligus mencintai tanggung jawab dengan setia.
Selamat Natal 25 desember 2017.
Selamat menyongsong dan menjalani tahun baru 2018.
Selamat mengisi kehidupan dengan kegembiraan dan kasih. TuYbe puoooll

RP. Florentius Hartanta
(Seminari Menengah Santo Yoseph Tarakan)


Selamat Natal 25 Des 2017 untuk semua Legioner Maria terkasih. Hari ini adalah hari Raya Kelahiran Yesus Kristus Juru Selamat kita. Apa ya kado yg bisa kita berikan kepadaNya?

Dalam hidup, Yesus sudah memberikan kado yang paling berharga untuk kita, yakni hidupNya sendiri. Yesus wafat untuk menyelamatkan umat manusia. Kini giliran kita memberikan kado ulang tahun Yesus di hari Natal tahun ini. Yesus tdk memerlukan barang berharga. Ia tidak memerlukan uang kita. Ia hanya memerlukan perhatian dan cinta kasih kita, baik kepada diriNya maupun kepada sesamaNya.

KelahiranNya di Betlehem mau menunjukkan cinta kasihNya kepada mereka yg sederhana dan kecil dan menderita. Yesus sudah memulainya sejak awal awal hidup di dunia ini. Dia bersabda dlm Injil : Apa yang kamu lakukan pada yang paling hina dan kecil ini kamu melakukanmua untuk Aku. Tindakan kita kepada mereka yang menderita dan bersengsara nyata dalam kesetiaan kita sebagai Legioner dlm tugas-tugasnya, dalam doa-doa Katena setiap hari maupun Rapat Mingguan. Terutama ketika kita hadir menghibur dan mendoakan mereka yg kecil menderita dan sederhana. Dengan kita mengisi hari-hari hidup kita dengan tindakan cinta kasih kepada sesama, itulah kado terindah yang Tuhan Yesus inginkan dari kita.

Selamat Natal 2017 dan Tahun baru 2018.
Ave Maria.

RP. Yoseph Astono Aji, OFM Cap
(Pemimpin Rohani Komisium Santa Maria Perawan yang Setia, Pontianak)


Natal adalah perayaan kelahiran Sang Juru Selamat. Ia lahir ke dunia untuk membawa damai bagi kita. Ia datang untuk memberi kita hidup yang berkelimpahan berkat.

Bagi kita, umat Kristiani, peristiwa natal sebagai memperbaharui hidup. Kita senantiasa mendambakan damai sejahtera dalam kehidupan pribadi maupun bersama. Hendaklah Damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu (Kol 3:15a). Semoga perayaan Natal mendorong dan menyemangati kita untuk menjadi duta damai bagi sesama.

Tuhan memberkati.
Bunda Maria mendoakan kita semua.

RP. Paulinus Maryanto, OMI
Pemimpin Rohani Kuria Benteng Perdamaian, Dahor.


Selamat Hari Natal, natal ini menguatkan dan meneguhkan para anggota Legio untuk semakin berbuat dan bertindak yang terbaik. Semoga berkat yang kita miliki menjadi berkat banyak orang.

RD. Redemptus Pramudhianto
(Pemimpin Rohani Komisium Bintang Timur, Keuskupan Bogor)

NATAL 2017: DAMAI SEJAHTERA BAGI SELURUH ALAM CIPTAAN

RP. Markus Yumartana, SJ

Direktur Tahun Rohani Seminari Tinggi Keuskupan Agung Jakarta


Peristiwa natal adalah peristiwa yang penuh misteri. Bagaimana Allah yang agung berkenan menjadi manusia lemah, dalam Yesus yang lahir ditengah keluarga Maria dan Yusuf? Yang kita rayakan dalam natal adalah misteri inkarnasi, Allah yang menjadi manusia ini.

Namun, menyadari bahwa Allah berkenan menjadi manusia seperti kita, tidak cukup hanya untuk sekedar dipahami begitu saja. Perayaan semestinya menuntun kita pada kesadaran konsekuensi dari pengakuan iman itu. Allah berkenan menjadi manusia berarti Allah sangat peduli untuk mengangkat martabat manusia dalam keluhuran keilahiannya. Bila Allah mengangkat manusia dalam tingkat luhur, maka pada gilirannya manusia yang merayakan meluhurkan Allah dalam kemanusiaannya.

Kita perlu belajar dinamika Roh dalam peristiwa inkarnasi itu. Allah yang meninggalkan keallahannya untuk menjadi manusia yang lemah dan hina, hinggal sampai pada kematiannya di Salib. Yesus, Sang Putera Allah, berkenan mengosongkan dirinya untuk menyelesaikan misi penebusannya sampai tuntas, hingga menyerahkan nyawaNya. Roh itulah yang diberikan kepada dunia, untuk penebusan dosa-dosa kita. Dan akhirnya, RohNya itulah yang membuka mata manusia untuk percaya dan menerima serta mengimani Dia sebagai Allah yang menjadi manusia untuk menebus dosa-dosa kita.

Maria memuliakan Allah

Orang yang pertama kali memberi tanggapan atas misteri inkarnasi itu adalah Maria. Ia tidak hanya dipanggil menjadi Bunda Putera Allah, tetapi ia juga dipanggil menjadi Bunda seluruh umat manusia, yang menanggapi misteri inkarnasi itu. Maria menanggapi dengan magnificat-nya. Yang intinya adalah komitmen untuk memuliakan Allah dalam hidupnya. Bagaimana Maria memuliakan Allah dalam hidupnya? Tidak hanya dalam pengakuan akan karya Allah, tetapi dalam kesetiaannya mengikuti dinamika hidup bersama Putera Allah. Menjadi Bunda Putera Allah tidak membuat Maria terpisah dari martabat kemanusiaannya. Justru semakin dekat dengan Puteranya, ia semakin masuk lebih dalam menghayati kemanusiaannya lewat jalan salib Puteranya. Maria ikut memikul secara nyata kemanusiaan kita. Itulah jalan “gloria Dei, vivens homo” (memuliakan Allah dengan hidup sebagai manusia).

Para Rasul menjadi saksi

Dalam Kisah Para Rasul kita melihat bahwa setelah mendapatkan anugerah Roh Kudus, para rasul dianugerahi karunia mengerti misteri Allah dalam peristiwan Yesus Kristus. Para Rasul menjadi terbuka mata batinnya. Mereka pun memberikan kesaksian dengan perkataan dan pengajarannya, tetapi juga dalam dinamika hidupnya yang penuh tantangan. Hidup memuliakan Allah dalam kemanusiaan selalu ditandai dengan “pertentangan”. Maka Salib bukan hanya mengingatkkan pada peristiwa penderitaan dan kematian Yesus Kristus, tetapi juga membawa pengalaman kemanusiaan kita yang terus menerus robek dan rusak. Jalan Salib para rasul itu hidup terus menerus dalam ketegangan dan pertentangan sebagai pengikut Kristus. Roh Kudus menuntun mereka melewati jalan salib itu.

Kita pun dipanggil

Kita merayakan natal, perayaan akan misteri inkarnasi Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nasaret. Namun kita pun dipanggil untuk memuliakan Allah dalam hidup kita. Bagaimana? Pertama-tama adalah pengakuan bahwa Allah terlibat dalam kehidupan kita sekarang ini. Bila kita mengakui hal ini, kita menemukan panggilan untuk meluhurkan Dia yang sudah terlibat dalam keemanusiaan kita. Kita memuliakan Allah dalam kemanusiaan kita. Kita terlibat dalam keilahian Allah dengan membangun komitmen hidup seturut cita-cita Allah bagi kita, yakni nilai kasih sayang dan perdamaian, persaudaraan dalam keadilan. Hidup dalam persaudaraan dan kasih sayang itu nyata dalam hidup penuh hormat di tengah kebhinekaan kita.

Kemanusiaan bukan robotik

Kemanusiaan jaman kita sekarang ada di persimpangan. Perkembangan teknologi cenderung menempatkan manusia dalam persaingan dengan kehadiran mesin-mesin dengan artificial intelligence (robot). Pergaulan manusia cenderung dibentuk oleh pola hidup robotik, yang cenderung meninggalkan imajinasi dan nurani. Kemanusiaan robotik adalah kemanusiaan yang kehilangan roh. Sebab, segala kebaikan dalam mentalitas robotik itu harus diklik dahulu baru jalan. Dalam cara bertindak robotik, tidak ada peluang untuk imajinasi dan daya kreatif iman.

We walk by faith, and not by sight! (cf. 2 Kor 5:7).

Kita hidup dengan iman bukan dengan logika robotik! Masihkah kita mampu memuliakan Allah dalam kemanusiaan yang paradoksal? Ditengah robotisasi, kita dipanggil untuk humanisasi. Di tengah cara berpikir aku – kamu menjadi aku- barangku, kita dipanggil untuk mengangkat hormat kemanusiaan dengan mengangkat sesama dalam semangat persaudaraan dalam kebhinekaan. Mungkinlah membangun persaudaraan dalam kebhinekaan?

Misteri inkarnasi adalah misteri Allah yang berkenan keluar dari diriNya dan menjadi setara dan seperasaan dengan kita. Oleh karena kita pun semestinya menanggapinya dengan keluar dari keakuan kita untuk masuk dalam ke-saudara-an bagi seluruh alam ciptaan. Bila kita bisa bersaudara, maka itulah damai sejahtera bagi seluruh alam ciptaan.

Selamat Natal 2017!

Dimanakah Nyala Api Itu?

[Menemukan Nyala Api Ilahi dalam Peristiwa Kelahiran Kristus dan Inspirasinya bagi Pribadi dan Kehidupan bersama dalam Legio Maria]


RP. Agustinus Maming, MSC.

Pemimpin Rohani presidium-presidium di Paroki St. Eugenius de Mazenod, Tanjung Redeb.

 


Pengantar

Para saudara (i) ku terkasih, apabila kita dengan cermat membolak-balik Kitab Suci, khususnya seputar kisah kelahiran Kristus, kita tidak dapat menemukan unsur api di dalamnya secara harafiah tekstual. Maka, perlu pendekatan lain bagi kita agar bisa menelusurinya. Pendekatan yang kami maksudkan adalah melihat karakter Api itu sendiri yakni: bernyala, membakar, menghanguskan, memurnikan. Di sisi lain, ada ungkapan “Kristus Cahaya Dunia” yang sering didengungkan dalam perarakan lilin Paskah. Namun, sayangnya, itu tidak berkaitan dengan perayaan kita saat ini yakni Natal, Peristiwa Kelahiran Kristus, melainkan peristiwa kebangkitan-Nya. Beruntunglah bahwa tema di atas disarikan dan disimpulkan dari Peristiwa Kelahiran Kristus dalam Kitab Suci. Dengan demikian, genaplah perkataan ini: “Injil, kabar Gembira Keselamatan” selalu bergema di sepanjang jaman. Oleh karena itu, Eskegese (tafsiran) Kitab Suci seputar Kelahiran Kristus menjadi sumber yang tepat.

Bernyala/Terang

“Dimanakah Dia, Raja Yahudi yang baru lahir itu? Kami telah melihat bintang-Nya dari Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat. 2:2). Orang majus (para ahli) mengikuti bintang itu, bersuka hati ketika melihatnya berhenti di Betlehem di Tanah Yudea. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya yaitu emas, kemanyan dan mur (Mat. 2:11). Dialah keselamatan yang disediakan bagi segala bangsa: terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat Israel” (bdk. Luk. 2:29-33).


Membakar

Pada waktu itu tampilah Yohanes pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: “Bertobatlah sebab kerajaan Sorga sudah dekat””. Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Mat. 3.1-3, bdk. Mrk. 1:1-8).

Selain pribadi Yohanes, para penginjil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) juga menampilkan pribadi Yusuf yang luar biasa. Kehadiran Kristus sebagai Anak Allah membentuk sikap Yusuf yang sangat jelas untuk berjuang mempersiapkan kelahiran-Nya dan mengamankan diri-Nya dari seluruh ancaman yang datang. Kisah Yusuf menghantar Maria dan Yesus ke Betlehem dan menemani Maria mengunjungi Elisabet menggambarkan pribadi ini. Kisah penyingkiran ke Mesir (Mat. 2:13-15), satu-satunya kisah istimewa karena hanya dikisahkan oleh Matius sungguh menggambarkan bagaimana  kehadiran Kristus membakar semangat Yusuf untuk menghindarkan sang Kristus dari bahaya yang mengancam. Kisah kelahiran Kristus ditutup dengan ungkapan: “Dan Yesus makin bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Luk. 2:52). Kiranya kesimpulan penginjil ini tidak dapat terjadi jika tanpa prakarsa seorang yang terbakar api kehadiran Kristus ke dunia.

Kisah lain yang sungguh luar biasa ialah sikap Maria setelah menerima kabar dari Malaikat Gabriel. Perjuangan pribadinya memantaskan diri sebagai kemah kehadiran Roh Allah yang mejadi manusia dan persiapannya berjuang melahirkan Kristus ke dunia dalam situasi yang tidak kondusif. Lebih dari pada itu, upaya mendidik Yesus, mendampinginya, memahaminya dan ada di saat suka, terlebih di saat duka sepanjang hidup Kristus (walaupun di luar konteks ini, saya spontan mengingat bagaimana figur Maria yang ditampilkan dalam Film The Passion of Christ). Maria sungguh memperlihatkan kepada kita kaulitas seorang pribadi yang sungguh-sungguh terbakar oleh kehadiran Kristus.

Figur Elisabet dan  juga Zakharia, juga patut dicatat. Kisah spesial ini secara khusus hanya diceritakan oleh Lukas. Pujian Elisabet kepada Maria demikian: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:42). Nyanyian pujian Zakharia (Luk. 1:67-80) juga ditampilkan. Baik, Zakharia dan Elisabet, keduanya merupakan figur, sebagaimana dikatakan oleh penginjil Lukas, penuh dengan Roh Kudus dan memuji Kristus. ternyata, selain itu, penginjil Lukas juga masih lagi mengisahkan figur gembala-gembala. Sungguh kehadiran Kristus menyentuh sampai kepada mereka yang sederhana baik materi, terlebih hatinya.

Yang terakhir, bukan berarti tak bernilai. justru yang dikisahkan terakhir mendapatkan penekanan yang sangat penting dari sang penulis. Itulah kisah Simeon dan Hana  (Luk. 2:29-32). “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dengan damai sejahtera, sesuai dengan Firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Luk. 2:29-30). Kisah ini hendak menekankan api kehadiran kristus tetap menyela dan membakar sampai kepada titik akhir hidup.

 

Menghanguskan – Memurnikan

Proses pembakaran dapat saja menghanguskan sampai tersisa abu, jika itu materialnya adalah kayu. Namun untuk logam mulia, pembakaran (tak hanya dengan api, tapi dengan cairan keras tertentu). Tujuannya sederhana saya, yakni memurnikan: menghancurkan, membedakan, memisahkan dan mengambil bagian yang jauh lebih penting. Jika hal ini dikaitkan dengan kisah-kisah seputar kelahiran Kristus, maka proses pemurnian itu sungguh-sungguh terjadi, dan faktanya terjadi dalam diri orang-orang yang sangat dekat dengan Yesus. “Bagaimana hal itu terjadi sebab aku belum bersuami”, demikian reaksi Maria menanggapi pemberitaan Malaikat Gabriel (Lih. Pemberitaan tentang kelahiran Yesus, Luk. 1:26-38). Reaksi yang muncul dari kesadaran diri sebagai pribadi yang belum bersuami. Demikian halnya juga terjadi pada diri Yusuf. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Maria, tunangannya, Yusuf bernait secara diam-diam hendak menceraikan Maria. Yusuf, pribadi yang tulus hati dan tak ingin mencermarkan nama istrinya di muka umum, melakukan hal tersebut. “Yusuf, Anak Daud, janganlah Engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus” demikian kata Malaikat kepada Yusuf (Mat. 1:20). “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang kaulahirkan itu, akan disebut kudus, Anak Allah.” Demikian kata Malaikat kepada Maria.

Kegelisahan Maria dan Yusuf sirna dan pandangan mereka akan Allah dan sesama (pasangannya) dibaharui karena yang dikandung ini adalah dari Roh Kudus.

Inspirasi bagi pribadi dan kolompok kita (Input)

Mencermati kisah Kelahiran Kristus dan juga tokoh-tokoh di dalamnya, butir-butir inspirasi apakah yang dapat kusarikan sebagai input bagi kehidup pribadiku dan kebersamaanku dalam kelompok Legio?

  1. Sebagai pribadi (kelompok atau komunitas, Tarekat atau Gereja), khususnya di dalam Legio, kita dapat mengintegrasikan diri kita dengan lakon orang majus.

    Kita ada dalam perjalanan mengikuti Kristus, Sang Bintang, bukan perjalanan menjadi bintang.

    Biarlah bintang itu terus berada di langit dan cahayanya terus menyinari kita hingga berhenti di tutup usia kita di jalan panggilan (bdk. Pengalaman Simeon dan Hana) atau dengan meminjam ungkapan rasul Yohanes: “biarlah Dia semakin besar dan aku semakin kecil”.

  2. Kesadaran diri bahwa aku berada di jalan mengikuti Sang Bintang, masih dengan meneladan para majus, memungkinkan kita untuk memberikan yang terindah yang ada pada kita. Para majus yang mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Kesadaran diri kita mesti menggerakan kita untuk mempersembahkan seluruh diri kita bagi sang Kristus.

    Seluruh diri kita mesti menjadi persembahan yang harum mewangi sepanjang hari.

    Indra penciuman orang yang ada di sekitar kita membaui kita dan dari penciuman itu orang mampu merasakan begitu bermaknanya berjalan mengikuti sang bintang. Ingat, bukan perjalanan menjadi bintang.

  3. Ada berbagai tokoh yang terlibat dalam kisah seputar kelahiran Kristus. Mereka adalah orang Majus (mewakili penguasa dan para cerdik pandai), Zakharia dan Elisabet, Simeon dan Hana (kalangan religius), Yohanes (di padang/orang asing), para gembala (masyarakat sederhana). Fakta ini memaparkan kepada kita secara terang akan kenyataan bahwa kehadiran Kristus menyentuh seluruh pribadi manusia.

    Sebuah ajakan untuk masing-masing pribadi di jalan panggilan ini, yang disatukan di dalam kebersamaan di Legio untuk membuka selebar-lebarnya pintu hati dan kelompok dengan menawarkan air yang sejuk.

    Selain itu, pribadi dan kelompok kita, yang sadar akan keterpanggilannya, mampu menerangi  setiap orang dalam aneka perjumpaan di setiap karya legioner kita. Semoga api cinta Kristus terus kita kobarkan dimana-mana.

  4. Pemurnian tokoh-tokoh penting seputar Kristus, yakni Maria dan Yosep sungguh terjadi. Hal ini juga menyadarkan kita, para legioner  untuk memurnikan diri dan kelompok legio kita.

    Pemurnian yang dimaksudkan yakni pembaharuan diri terus-menerus baik diri maupun kelompok, baik pikiran (pola pikir) dan perbuatan (pola tingkah laku).

    Agere contra (bertindak sebaliknya dari keinginan sesaat) dan Discerment (memilah-milah) baik pribadi maupun kelompok menjadi sesuatu yang mutlak perlu agar keterpanggilan kita di legio terus terpelihara dan makin berbobot.

Semoga kita terus berjalan Mengikuti Sang Bintang, membiarkan cahayanya-Nya menyinari kita dan didapati tetap setia hingga maut mengahiri hidup kita sebagai seorang yang terpanggil di Legio.

Selamat menyambut pesta Natal !!!

Ave Maria…

Pesan Natal 2017 

RP. Rofinus Jewarut, SMM

Pemimpin Rohani Komisium Bunda Rahmat Ilahi, Keuskupan Bandung. 

 


Para Legioner yang terkasih.

Kita semua pasti merasa sangat bergembira dan bersukacita karena bisa merayakan natal lagi. Kita bergembira dan bersukacita tentu saja bukan hanya karena bisa memiliki pakaian yang baru dan bagus, bisa ikut bertugas dalam perayaan natal, bisa bertemu dan berkumpul bersama keluarga, tetapi terutama karena kita semua diberi kesempatan lagi untuk mengalami, mengagumi dan mensyukuri karya penyelamatan Allah melalui penjelmaanNya menjadi Manusia dalam rahim bunda Maria.  

Bagi kita para Legioner, peristiwa penjelmaan Allah menjadi manusia (inkarnasi),  bukan saja untuk dirayakan atau dipestakan berulang-ulang setiap tahun, tetapi yang utama adalah untuk dimani dan dihidupi. Untuk itu, kita perlu menatap peran Bunda Maria dalam rencana karya keselamatan Allah itu. Bunda Maria menanggapi rencana Allah itu, dengan imannya yang tulus, sikapnya yang sederhana, dan ketaatannya yang mantap. Karena itu, Allah semakin terpesona dengannya. Maka, rencana karya penyelamatan itu terjadi secara sempurna dalam dirinya. Bunda Maria melahirkan Yesus Kristus, Penyelamat dunia. Itulah arti natal bagi Bunda Maria.

Kiranya, para Legioner merayakan Natal dalam semangat Bunda Maria itu. Sehingga, secara rohani para Legioner, berkat imannya, ketaatannya, kesetiaannya, ketekunannnya dan keberaniannya dalam tugas kerasulan, Allah semakin terpesona dan Allah tinggal dalam diri para legioner dan akhirnya para legioner mampu juga melahirkan Kristus bagi sesama. Melahirkan Kristus dalam arti melahirkan semangat pengabdian, semangat pengorbanan, semangat pemberian diri bagi sesama dan semangat untuk berbagi. Sesungguhnya, itulah Natal bagi kita.

Selamat Natal 25 Desember 2017 dan menyongsong tahun baru 1 Januari 2018.

Tuhan memberkati anda semua. Ave Maria. 

Bersama Bunda Maria Pasti Bisa : Kunjungan Kuria Serawai ke Stasi Tahai

Oleh Sdri. Fransiska Idawati


“Tahai.”

Adakah yang pernah mendengar nama daerah itu? Ada satu nama “Tahai” yang cukup terkenal, yakni Danau Tahai di Kalimantan Tengah. Namun, kisah ini  bukanlah tentang Danau Tahai itu, melainkan tentang perjuangan kami, legioner Kuria Serawai, mengunjungi stasi Tahai di pedalaman Kalimantan Barat untuk memperkenalkan Legio Maria.

Stasi Tahai adalah salah satu stasi di bawah Paroki Santo Montfort – Nanga Serawai dan termasuk ke dalam area kerja Keuskupan Sintang. Nanga Serawai sendiri terletak 340 kilometer di sebelah barat Pontianak.  Dari ibukota provinsi kita bisa menempuh jalan darat selama kurang lebih 9 jam hingga Nanga Pinoh, kemudian dilanjutkan dengan naik speed boat menuju hulu Sungai Melawi selama empat hingga lima jam, tergantung pada kondisi arus dan ketinggian permukaan air.

Nanga Serawai adalah pusat dari Kuria Bunda Segala Bangsa yang membawahi presidium-presidium di paroki Kristus Raja – Sintang, stasi Maria Ratu Semesta Alam – Sei Durian, Paroki Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga – Nanga Pinoh, dan juga di stasi-stasi sepanjang aliran Sungai Melawi, yang menjadi area kerja Paroki Santo Monfort – Nanga Serawai. Bisa dikatakan bahwa sebagian besar area kerja kuria terletak di pedalaman Kalimantan Barat yang cukup susah untuk dijangkau.

Pada akhir bulan Oktober lalu, kami berlima bersama Pastor Yohanes Ferry, CM, dan Suster Widhi, PK dari Nanga Serawai mengunjungi Stasi Tahai untuk memperkenalkan Legio Maria disana. Perjalanan dari Nanga Serawai menuju Tahai cukup panjang dan harus ditempuh dalam beberapa tahapan. Perjalanan tahap pertama kami tempuh menggunakan speed boat menuju Stasi Tontang selama kurang lebih 45 menit.

Di Stasi Tontang, kami  dijemput oleh umat dari Stasi Tahai untuk menempuh perjalanan selanjutnya dengan menggunakan sampan cis. Speed boat sudah tak bisa digunakan lagi karena perjalanan telah memasuki anak sungai Demu yang lebih dangkal. Jika menggunakan speed boat maka akan terbentur dasar sungai. Kami menggunakan dua sampan dari Tontang karena satu sampan hanya bisa mengangkut 6 orang saja.

Perjalanan dari Stasi Tontang menuju Stasi Tahai mesti ditempuh kurang lebih 6 jam dan cukup menantang. Tak jarang sampan harus melewati bebatuan, tersangkut sampah, dan bertemu riam, sehingga kami harus turun dari sampan dan menariknya bersama-sama agar dapat meneruskan perjalanan. Meskipun banyak kesulitan yang ditemui sepanjang jalan, namun pemandangan asri : alam yang masih belum dikuasai perkebunan sawit, dan sungai yang belum terkontaminasi menjadi penyemangat kami semua.

Perjalanan yang melelahkan itu segera terlupakan ketika kami akhirnya tiba di Tahai dan disambut oleh umat yang sudah menantikan kami dengan sangat antusias. Sungguh sangat luar biasa! Ada banyak umat Katolik di desa yang sangat terpencil ini, bahkan anak-anak sekolah minggunya begitu aktif.

Anak-anak sekolah Minggu di Stasi Tahai

Anak-anak ini menyambut kami sambil menyanyikan lagu-lagu sekolah minggu dengan penuh semangat. Malam itu kami memperkenalkan Legio Maria kepada umat stasi. Puji Tuhan! Mereka sangat tertarik pada kelompok kerasulan ini sehingga malam itu juga bisa dibentuk sebuah presidium dan langsung terpilih juga perwira-perwiranya.

Sosialisasi Legio Maria kepada umat stasi

 

Keesokan harinya, yakni Minggu, 29 Oktober 2017, kami memberikan latihan kilat tentang pelaksanaan rapat presidium bagi presidium baru itu. Memang semuanya mesti serba kilat, karena kami hanya punya waktu yang terbatas di stasi ini. Kami pun tak bisa setiap minggu mengunjungi mereka ini karena jaraknya yang jauh dan biayanya yang besar, kurang lebih Rp. 300.000 per orang sekali jalan. Rencananya beberapa bulan lagi kami akan kembali berkunjung ke Stasi Tahai untuk meninjau presidium yang baru lahir ini.

Mohon doakan agar apa yang kami perjuangkan bisa berhasil. Kami percaya bahwa bersama Bunda Maria kami pasti bisa. Kami juga berencana memperkenalkan Legio Maria ke Stasi Merako dan Stasi Baras Nabun namun masih perlu memperhitungkan kebutuhan dana untuk kesana.

Sekali lagi mohon doakan perjuangan kami.


Sdri. Fransiska Idawati adalah koresponden Kuria Bunda Segala Bangsa – Nanga Serawai untuk Komisium Santa Maria Perawan yang Setia – Pontianak.

Kenakanlah Medali Wasiat Ini..

Bandung, 30 Oktober 2017


J.M.J.F.C.A

Kepada para Legioner terkasih,
pax eT bonum

Ketika Sang Putra tersalib,
dalam erangan kesakitan
karena siksa nan ngeri
Sang Bunda berdiri di sana.
Sanggupkah seorang ibu berdiri
di tengah derita, luka menganga, darah dan air mata anaknya?
Namun di sana Maria berdiri,
di bawah Salib Yesus, berdirilah Ibu Yesus.

Lihat Sang Bunda,
di bawah Salib Yesus,
Sang Bejana Rohani menampung semua rahmat
yang tertumpah dari Sang Sumber Segala Rahmat,
buah-buah dari Salib-Nya.

Lihat kini Sang Bunda
berdiri di hadapanmu, Ratu Surga dan dunia
dengan kedua tangan terbuka
mengajak anak-anaknya datang menghampiri
guna memberi berkat dan rahmat
dari harta Bejana Hatinya
untuk dilimpahkan bagimu
segala rahmat yang ada dan diperlukan
bahkan rahmat yang tak dapat kita bayangkan
serta rahmat yang tak pantas kita dapat
agar selalu semangat dan setia dalam karya
menyalakan api cinta yang redup
menerangi nyala iman yang pudar
meneguhkan dasar harapan yang runtuh
memanggilmu pada kekudusan
dan melaluimu
mengundang semua menjadi kudus.

Bila segala terasa berat,
lihatlah di sana ia berdiri
dengan segala rahmat terbaik yang ada di Surga dan bumi.

Medali ini bukanlah jimat untuk ditaruh di dompet
bukan pula barang kenangan untuk dipajang di lemari.
Medali yang sejati akan kita dapatkan setelah perjuangan hidup usai.
Kita kini boleh mencicipinya dahulu dengan medali kecil ini.
Kenakanlah dengan bangga di lehermu,
karena kita semua adalah pejuang Maria.
Apabila senantiasa setia
apa yang kini kita cicipi dengan sederhana
semoga diganjar kemurahan Hati Tuhan
dengan medali kemenangan jaya.

Saat hidup hampa dan berat,
larilah ke kaki altar bersama Sang Bunda,
genggam erat medali itu
segarkanlah diri seperti rusa kehausan yang minum dari sumber air.
Namun lebih penting,
di saat hidup terasa ringan dan menyenangkan,
jangan lupa senantiasa berdoa melalui perantaraannya,
karena tidak jarang, ada saja rahmat yang lupa kita minta.
Dan di atas segalanya,
cintailah Bundamu itu
bermurah hatilah padanya
sapalah ia terus menerus
dalam kerapuhan cinta sederhana seorang anak
melalui untaian mawar abadi
“Salam Ibu, halo mama, hai bunda…”
dengan Rosariomu itu.

Majulah Laskar Maria
teladanilah Bundamu
berjuang di bawah panjinya takkan sia-sia.
Medali ini adalah doa,
doa terus menerus,
dan janganlah jemu berseru:

“Oh Maria dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang berlindung padamu!”


Salam,

L. Benedictus Giuseppe-Maria

Bangga Menjadi Legioner

Oleh Ibu M. E. Jenny Lesmana (Penyunting : Bartolomeus Helan)


“Keluarga kami adalah keluarga Legioner.”

Suami saya menjadi anggota Legio Maria waktu berada di Semarang. Saya sendiri menjadi anggota Legio Maria sejak di Semarang dan ketika berada di Balikpapan. Menariknya, di Balikpapan bukan cuma sebagai anggota tetapi ‘pendiri’ Legio Maria di paroki St. Theresia Prapatan yang kemudian berkembang sampai saat ini. Ketiga anak saya menjadi anggota Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus Prapatan Balikpapan. Anak sulung dan kedua juga pernah menjabat sebagai perwira presidium BHK. Sementara anak bungsu menjadi anggota termuda waktu itu. Mengenang ini saya menjadi bangga sebagai anggota Legio Maria. Bangga bukan karena kehebatan diri sendiri tetapi bangga karena bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan dan Bunda Maria untuk menjumpai orang-orang yang terlantar, masyarakat pinggiran, orang-orang yang terasingkan dan mereka yang kurang beruntung hidupnya. Maka menjadi anggota Legio Maria merupakan sebuah “keuntungan” bukan sebuah “kerugian” (rugi karena ada yang berpikir waktunya sia-sia hanya untuk rapat dan doa).

Keluarga Ibu M. E. Jenny Lesmana

Saya menjadi anggota Legio Maria ketika masih muda dan belum menikah. Pengalaman yang terindah adalah ketika berlutut di depan Bunda Maria dengan Rosario di tangan sambil mendaraskan peristiwa-peristiwa Rosario dan mendokan Catena. Satu rumusan doa yang luar biasa indah yang membuat saya semakin tertarik untuk lebih dekat dengan Bunda Maria. Sejak saat itu doa menjadi bagian dari hidup saya. Dalam situasi dan keadaan apapun saya tidak pernah lupa berdoa dan Rosario kecil menjadi teman setia saya ke mana pun saya melangkah. Doa adalah kekuatan hidup saya.

Ada sebuah pengalaman pribadi saya tentang kekuatan doa itu. Pada suatu hari saya dipanggil untuk hadir dalam wawancara penerimaan karyawan di perusahaan farmasi di Semarang. Orang yang hadir atau melamar pekerjaan jumlahnya 100 orang lebih. Padahal yang diperlukan hanya 2 orang.  Sebelum wawancara saya menyerahkan semuanya pada rencana Tuhan melalui doa kepada Bunda Maria. Pada saat wawancara saya bisa merasakan ketenangan, semua pertanyaan saya jawab dengan tepat dan tenang.  Dan karena doa dan pendampingan dari Bunda Maria, maka saya lulus waktu itu dengan mengalahkan banyak pelamar yang lain. Saya sangat beruntung memiliki seorang Ibu yakni Bunda Maria yang selalu menolong dan membantu saya.

Pengalaman yang sama juga dialami oleh anak-anak saya. Mereka adalah anggota Legio Maria sejak kecil. Sebagai anggota Legio mereka pun terbentuk untuk lebih percaya diri, disiplin dan menyerahkan cita dan masa depan mereka ke dalam penyelenggaraan Tuhan dan perlindungan Bunda Marai. Mereka tidak pernah takut menghadapi wawancara, baik waktu mau masuk ke sekolah SMA Van Lith  ataupun waktu mereka sedang wawancara penerimaan karyawan. Dan inilah hasil ‘pendidikan’ di Legio Maria, yg kadang baru dirasakan kemudian. Biasanya anggota yang tekun dan serius dalam keanggotaan sebuah Presidium Legio Maria, dia tidak akan pernah kesulitan di dalam pekerjaan maupun hubungan dengan masyarakat luas. Ya karena bunda Maria selalu akan mendampingi dan menyertai hidup dan karya para Legioner di mana pun berada.

Untuk membagi waktu sekali lagi semuanya tergantung dari pribadi masing-masing.  Waktu saya masih di Semarang dan belum menikah saya bisa menata waktu saya, terlibat aktif di Legio dan bekerja sebagai karyawati di apotik lalu pindah kerja ke perusahaan Farmasi (PBF). Dan itu tidak ada masalah. Sebab Legio hanya meminta setiap minggunya 1.30 jam untuk rapat mingguan dan tugas dalam 1 minggu minimal 2 jam. Jadi rasanya tidak akan memberatkan, apalagi waktu tugas bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing anggota. Setelah menikah saya pindah ke Balikpapan  saya menjadi ibu rumah tangga dengan anak-anak yang masih kecil-kecil, juga sebagai istri seorang staff di Pertamina, saya tetap terlibat aktif sebagai seorang Legioner, aktif dalam kelompok Dharma Wanita Pertamina, aktif di kelompok persatuan istri di bagian kantor suami. Selain itu saya juga aktif di paroki St. Theresia Prapatan,  aktif sebagai seksi liturgi bagian rumah tangga gereja, alias kerja di belakang altar. Begitupun dirumah saya juga masih ada usaha kecil-kecilan jualan konfeksi, karena sudah terbiasa bekerja maka tidak nyaman kalau hanya berrgantung dengan suami. Semuanya berjalan normal dan tidak ada kendala yang berarti. Hal ini hanya bisa terjadi dan berjalan baik apabila seseorang bisa mengatur waktu, sehingga urusan di rumah beres, anak-anak dan suami aman, dan masih bisa melayani orang lain, baik dalam masyarakat maupun di gereja dan Legio Maria.

Dan dari semua itu jangan pernah lupa bawa semuanya dalam DOA yang selalu akan menguatkan semua kehidupan kita. Doa tidak perlu harus berlama-lama tetapi yang terpenting berdoa dengan hati, sediakan waktu walau sedikit untuk berbicara atau curhat dengan Tuhan, bersyukur kepada Tuhan yang telah menghadiahkan kepada kita seorang Ibu yakni Bunda Maria, yang dari rahimya lahirlah Sang Juru Selamat dunia. Di samping itu contohlah semangat hidup dan kerendahan hati bunda Maria yang sederhana, mengalir saja, tanpa banyak berkeluh kesah dan menyimpan semuanya dalam hati,  dan setia kepada Tuhan dengan melakukan apapun yang Tuhan perintahkan dengan penuh percaya dan tanpa banyak bicara menjawab “Ya” atas panggilan Allah.

Bagi saya rasanya menjadi legioner lebih banyak sukanya, dan sedikit dukanya.  Menjadi legioner itu sukanya, merasa hidup ini lebih bermakna, lebih terarah dan berarti, karena hidup bisa lebih berguna bagi orang lain, bisa lebih dipakai Tuhan untuk melayani, dan masih banyak lagi sisi positif sebagai seorang Legioner. Dukanya hanya kalau tidak diterima dan dimengerti oleh orang yang ingin dikunjungi dan bantu. Di dalam Legio Maria seorang Legioner dipersiapkan benar-benar sebagai tentara Maria. Jadi segala pelayanan dan karya baik di dalam kehidupan Gereja maupun di dalam masyarakat atau pekerjaan profesi semuanya bisa lebih baik, lebih semangat untuk melayani dengan hati yang tulus, lebih bisa menghargai waktu dan orang lain yang mungkin berbeda pendapat, keyakinan atau tingkat sosial.  Sebab di dalam rapat Legio itulah pendidikan dasar sebagai seorang legioner ditekankan dan menjadi bagian dari perilaku hidup. Maka sangat disayangkan kalau ada anggota legio yang malas atau bosan untuk hadir dalam rapat mingguan Legio. Lebih dari itu tidak ada ruginya kita ikut aktif di Legio Maria, jangan pernah bosan dan jenuh. Itulah para anggota Legio Maria, aturlah waktu kalian, dengan kerja dan doa, serta teruslah menjadi anggota Legio Maria yang setia.

Akhirnya, saya mengucapkan Proficiat dan Selamat Ulang Tahun ke-25 Presidium Bunda Hati Kudus. Jadikanlah hati kita tempat penyalur kasih Allah untuk semua orang yang membutuhkannya. Tetaplah bangga menjadi Legioner di mana pun berada. AVE MARIA.

Catatan redaksi : Sharing ini dimuat dalam buku kenangan “Perayaan Syukur 25 tahun Legio Maria Presidium Bunda Hati Kudus Prapatan – Balikpapan”


Ibu M. E. Jenny Lesmana adalah inisiator pendiri Presidium Bunda Hati Kudus di Paroki St. Theresia, Prapatan Balikpapan. Beliau juga menjadi Asisten Pemimpin Rohani di presidium ini sejah tahun 1992 hingga 2001. Kini beliau berdomisili di Bandung.

 

Legio Maria Menguatkan Identitas Gereja Katolik

Sepenggal Catatan dari Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati Palangka Raya, 17 September 2017


Ave Maria, Proficiat dan Puji Tuhan! Atas penyertaan Bunda Maria dan restu dari Allah Roh Kudus, maka pada Minggu, 17 September 2017, telah terlaksana Rapat Perdana Dewan Komisium Ratu Segala Hati Keuskupan Palangka Raya. Momen ini adalah tonggak sejarah karena inilah rapat perdana setelah Dewan Kuria Ratu Segala Hati dinaikkan statusnya menjadi Dewan Komisium. Komisium ini mensupervisi Dewan Kuria Bunda Pemersatu- Sampit, calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito dan 13 Presidium tergabung.

Tiga orang perwakilan dari Senatus Bejana Rohani, yaitu Sdr. Petrus Suriutomo (koresponden Komisium Ratu Segala Hati), Sdri. Audrey Isabella (Wakil Ketua Senatus) dan Sdri. Laurensia Jeny T. Dewi (Ketua Senatus) berkesempatan hadir dalam rangkaian rapat perdana Komisium, 16-17 September 2017 di kota Palangka Raya.

Senatus Bejana Rohani sebelumnya telah mengesahkan peningkatan status Dewan Kuria Ratu Segala Hati menjadi Komisium pada Rapat Senatus ke 365 tahun ke-30, 10 September 2017 setelah mengadakan peninjauan selama  kurang lebih 2 hingga 3 tahun. Pengesahan ini telah mendapatkan ijin resmi dari Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF selaku Uskup Keuskupan Palangkaraya, serta dari Dewan Konsilium Morning Star, Dublin Irlandia.


Audiensi dengan Mgr. AM. Sutrisnaatmaka MSF – Uskup Keuskupan Palangkaraya

Dalam setiap kunjungan Legio Maria Senatus ke Palangka Raya, kami biasanya memberikan informasi jadwal kunjungan kami kepada Bapa Uskup beberapa hari sebelumnya dan kami selalu meminta waktu untuk sowan dengan beliau.  Luar biasanya adalah, selama beliau ada di rumah (keuskupan), beliau tak pernah menolak berjumpa dengan kami. Demikian pula pada 16 September lalu, di tengah suasana hujan, kami diterima dengan penuh kehangatan, keramahan dan canda.

Kami menyampaikan tujuan kehadiran kami dan beliau sangat mendukung dengan penuh sukacita karena telah diberikan kepercayaan lebih besar dengan keberadaan Dewan Komisium di Keuskupan Palangka Raya. Beliau sangat mensyukuri dan mengapresiasi kehadiran dan peranan Legio Maria dalam karya kerasulan di Palangka Raya, khususnya semangat siap sedia bertugas dan membantu pastor paroki setempat, misalnya dalam melayani memimpin ibadat di stasi-stasi jika Pastor tidak dapat hadir; memimpin ibadat Rosario, dan lain-lain. Selain itu Mgr. Sutrisnaatmaka dengan bangga mengatakan bahwa

Legio Maria, khususnya di keuskupan Palangka Raya, adalah penguat identitas Gereja Katolik.

Oleh karena itu, Legio Maria dirasa sangat penting untuk hadir dan berkembang di tengah-tengah umat.

Beliau berjanji untuk terus mendukung perkembangan Legio Maria dan terus mengingatkan kepada para pastor untuk ikut serta mempromosikan Legio Maria sehingga bisa tersebar di semua paroki di Keuskupan Palangka Raya dan menjadi sarana mewujudkan kemuliaan Allah di atas dunia.


Rekoleksi presidia tergabung di Komisium dan calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito

Setelah beraudiensi dengan Bapa Uskup, kami bertiga menuju ke Gereja Maria Diangkat ke Surga (Katedral) untuk mengikuti agenda berikutnya, yakni Rekoleksi dalam rangka HUT Legio Maria ke-96 yang dibawakan oleh Pastor Anton Rosari, SVD dengan mengangkat tema “Bersyukur dan melayani bersama Maria”.

Rekoleksi ini dihadiri oleh sekitar 100 legioner. Meskipun cuaca hujan, namun tak menyurutkan legioner untuk mengikuti rekoleksi, khususnya para legioner dari Barito dan sekitarnya, yang harus menempuh perjalanan 4-5 jam. Dari wilayah dalam kota Palangka Raya, terdapat sekitar 30 orang legioner muda yang hadir dan Pastor Anton pun tidak mengira banyak orang muda yang ikut Legio Maria.

Rekoleksi ini mengajak kita untuk melihat tiga fase perjalanan Legio Maria : Sejarah Legio Maria pada awal berdirinya di tahun 1921, Legio Maria masa kini, dan Menatap Masa Depan. Tuhan telah membimbing Legio Maria selama 96 tahun dan ini adalah suatu anugerah yang luar biasa. Bagaimana kita mampu melanjutkan karya ini di tengah berbagai macam tantangan? Salah satunya adalah dengan setia pada misi atau tujuan awal Legio Maria, yaitu untuk mewujudkan Kerajaan Allah, menguduskan diri dan pelayanan.

Akhirnya kita diajak menyadari bahwa Pelayanan itu adalah semata-mata Karya dan Pekerjaan Allah. Kita sebagai manusia sebetulnya tidak pantas, namun dibenarkan, dipanggil dan dipilih untuk melayani Gereja dan Umat-Nya.


 Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral

Minggu pagi kami awali dengan Perayaan Ekaristi di Katedral. Tanpa diduga, Perayaan Ekaristi itu bertepatan dengan Pelantikan Pengurus PDKK sehingga dirayakan secara Konselebrasi dengan Mgr. AM. Sutrisnaatmaka, MSF sebagai konselebran utama, dan didampingi oleh RD. Patrisius Alu Tampu, dan RP. Yohanes Doni SVD. Dalam Perayaan Ekaristi ini juga disampaikan intensi syukur atas HUT Legio Maria sedunia ke-96, juga 10 tahun kehadiran Legio Maria di Keuskupan Palangka Raya.

Legioner bersama Bapa Uskup

Dalam homilinya Mgr Sutrisna mensyukuri atas bertumbuhnya komunitas yang mewarnai Gereja Katolik dan beliau mengundang umat untuk ikut aktif dalam komunitas gereja.

Sebelum memberikan berkat penutup, lagi-lagi kami menerima shock therapy, karena Mgr. Sutrisna menyampaikan kepada seluruh umat bahwa ada kehadiran utusan Legio Maria Senatus Jakarta, lalu kemudian memperkenalkan kami di tengah-tengah umat yang hadir. Kami sungguh merasakan apresiasi dari Bapa Uskup untuk karya legioner di Kalimantan Tengah ini.

Dari kiri ke kanan : Sdr. Petrus (Koresponden) – Sdri. Jeny (Ketua Senatus) – Sdr. Wilhelmus (Ketua Komisium) – Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF – Sdri. Audrey (Wakil Ketua Senatus)

Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati

Akhirnya kami sampai pada kegiatan puncak yaitu Rapat Perdana Komisium Ratu Segala Hati. Rapat dihadiri oleh Pemimpin Rohani Pastor Lucius Sari Uran, SVD, APR – Sr. Wilfrida KSSY, serta lima perwira komisium, yakni Sdr. Wilhemus Y. Ndoa (Ketua), Sdr. Aloysius Pati (Wakil Ketua), Sdri. C. Wiwik Handayani (Sekretaris 1), Sdri. Yohana Sarbini (Sekretaris 2), Sdri. Eligia Rahail (Bendahara 1), sedangkan Sdr. Aston Pakpahan (Bendahara 2) berhalangan hadir.

Perwira Komisium Ratu Segala Hati

Para Perwira Kuria Bunda Pemersatu – Sampit dan calon Kuria Bunda Pengantara Segala Rahmat – Barito juga hadir dalam Rapat Perdana ini.  Mereka menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam dari Sampit  dan sekitar 5-6 jam dari Barito ke Palangka Raya. Kami sungguh salut melihat semangat para legioner yang mau berjerih lelah dan bersemangat dalam mengikuti Rapat Komisium. Tercatat 13 presidium hadir dalam rapat perdana ini, dan total legioner yang hadir adalah sebanyak 80 orang.

Pada saat laporan dewan, kami membacakan SK Pengesahan Peningkatan Dewan Komisium, menyerahkan dokumen asli dan Vandel atas nama Komisium Ratu Segala Hati kepada Perwira Komisium.

Penyerahan Vandel dan Dokumen Pengesahan

Hal yang menarik dari komisium ini adalah semangat yang besar dan karya perluasan sangat luar biasa di hampir seluruh wilayah keuskupan. Di wilayah kerja Kuria Sampit, mereka sangat bersemangat merintis dan mengembangkan sekitar 13 presidium junior. Di wilayah kerja calon Kuria Barito, selain perluasan yang terus berjalan, mereka juga sedang berkonsolidasi untuk sungguh-sungguh siap disahkan menjadi Kuria.

Berpose bersama usai rapat komisium

Secara umum, rapat perdana komisium berjalan dengan lancar dan terstruktur dengan baik, semua agenda telah disusun rapi. Para legioner menjaga suasana rapat dengan sangat khidmat.

“Dalam kunjungan kali ini saya tidak bisa memberi apa-apa, namun saya terinspirasi dari kegigihan dan semangat para legioner dalam berkarya. Karya-karya kita memang sederhana namun ternyata berbuah banyak bagi umat yang kita layani. Semoga kita selalu bisa mensyukuri dan bangga akan panggilan kita sebagai legioner. Ave Maria !”(Sdri. Audrey)

Hanya ucapan syukur dan terima kasih sebesar-besarnya atas semua peran, doa dan karya dari Bapa Uskup Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF, Para Pastor, Suster, Frater, Bruder, para legioner, dan seluruh umat yang sungguh tak kenal lelah, setia, dan penuh iman dalam berkarya untuk memuliakan Allah lewat kerasulan Legio Maria.

Semoga penyertaan Bunda Maria dan berkat Tuhan memampukan kita untuk sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah dengan rendah hati, semangat dan penuh cinta dalam karya kita sebagai Legioner Maria. Ave Maria !


Laporan kunjungan ini disusun oleh Sdr. Petrus Suriutomo (koresponden Senatus Bejana Rohani untuk Komisium Ratu Segala Hati Palangka Raya), Sdri. Audrey Isabella (Wakil Ketua Senatus) dan Sdri. Laurensia Jeny T. Dewi (Ketua Senatus).