Keluarga Kudus Sebagai Teladan Dalam Menjalin Persahabatan

Oleh RP. Yanno Leyn, MSF (Pastor Paroki Santo Yosef Pekerja – Juata)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 2:41-52

Ada sebuah lirik lagu yang selalu saya ingat dan kenang, berjudul “Keluarga Cemara”, yang diangkat dari sinetron besutan Arswendo Atmowiloto dan Adi Kurdi. Begini penggalan liriknya,

Harta yang paling berharga adalah keluarga,

Istana yang paling indah adalah keluarga.

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.

Mutiara tiada tara adalah keluarga….

Lewat penggalan lagu ini kita bisa membaca salah satu pesan, bahwa keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah tempat kita saling berbagi rasa, saling memperhatikan, saling menyayangi, dan saling membantu satu dengan lainnya. Keluarga demikianlah yang sungguh memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kasih.

Suatu komunitas atau keluarga kristiani perlu dibangun atas dasar kasih. Tanpa kasih, keluarga yang utuh dan bersekutu tidak mungkin berdiri kokoh dalam mengarungi samudera arus zaman.

Bertolak dari spiritualitas Keluarga Kudus Nazaret, kita membangun persahabatan dengan yang lain. Dalam lingkup keluarga, Yusuf, Maria, dan Yesus mengalami dan merasakan kepenuhan akan kebutuhan jasmani maupun rohani yang sangat mendalam.

Berdasarkan pada latar belakang masing-masing, mereka diutus untuk bersatu membentuk sebuah keluarga baru yang di dalamnya saling memberi dan menerima, mendidik dan dididik. Mereka saling belajar satu sama lain baik dalam menyelesaikan berbagai macam masalah kehidupan maupun dalam meningkatkan perkembangan rohaninya. Walau mereka memiliki keterikatan batin yang kuat namun ketiganya tetaplah pribadi-pribadi yang tidak melebur dalam pribadi yang lainnya. Masing-masing tetap memiliki kekhasannya, pribadi yang mandiri dan utuh serta yang memiliki perannya masing-masing.

Keluarga Kudus Nazareth merupakan model keluarga yang ideal bagi hidup pribadi atau kelompok masyarakat dalam menjalin persahabatan. Mengapa menjadi model yang tepat dan yang diharapkan? Kisah Injil yang ditampilkan dalam teks Lukas memperlihatkan gambaran tersebut.

Relasi keluarga Kudus Nasaret ini sangat harmonis, Mereka hidup dalam ketaatan kepada Allah. Misalnya tiap-tiap tahun mereka pergi ke Bait Allah di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Kemudian ketika Yesus berusia dua belas tahun, mereka bertiga pergi bersama-sama ke Bait Allah. Kesetiaan Yusuf dan Maria sebagai orang tua tercermin juga ketika Yesus hilang dalam perjalanan pulang ke Nasaret setelah merayakan Paskah. Tiga hari penuh mereka mencari puteranya sampai menemukan kembali di kota suci tersebut. Ketika menemukanNya, mereka tidak mendakwa atau memarahi Yesus tetapi mencoba menerima dan merenungkannya di dalam hati walau tidak mengerti dengan alasan Yesus. Yesus hidup dalam asuhan orangtuaNya dan semakin dikasihi Allah dan manusia. (bdk. Luk. 2:42-51).

Atas dasar inilah hubungan cinta kasih timbal balik antara ayah, ibu, dan anak terjalin. Keluarga Kudus Nazareth saling hormat penuh cinta, bersatu dan berdoa bersama. Dalam keluarga Nazareth yang beriman itu, tampak gambaran manusia yang hidup dalam pelayanan, kerukunan dan kedamaian. Yesus, Maria, dan Yosef merupakan pribadi-pribadi yang sungguh murni dalam kesetiaan, iman, pengharapan, dan pelayanan. Mereka mampu menangkap dan menjawab panggilan Tuhan.

Bagaimana kita mengejawantahkan spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth dalam kehidupan zaman ini? Fokus Pastoral Keuskupan Tanjung Selor tahun ini mengambil tema, “Gereja yang Ramah, Menyapa dan Memasyarakat”. Sejalan dengan tema ini, Paus Fransikus dalam homili malam Paskah 2015 yang lalu menyerukan agar keluarga-keluarga Katolik berani meninggalkan zona nyamannya masing-masing dan melihat keadaan sekeliling, terutama memperhatikan dan menolong orang-orang yang membutuhkan.

Hubungan atau relasi kita dengan yang sesama kerap kali ditandai dengan kehadiran. Dalam kehadiran ini kita menciptakan komunikasi dan relasi persaudaraan. Sebuah relasi-komunikasi yang menjadikan kita bagian dari yang lain.

Sikap rendah hati penuh kasih hendaknya menjadi spiritualitas kita dalam menerima yang lain.

Maria Sebagai Model Hidup Bermasyarakat Dalam Menciptakan Perdamaian

Oleh : RP Andreas Rinanto Herdianto, MSF (Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Luk 1. 39-45

Sejak manusia melakukan dosa untuk pertama kalinya, hubungan manusia dengan Allah menjadi tidak harmonis. Allah mengusir manusia dari Taman Eden dan memaksa manusia untuk bekerja dan berusaha memperjuangkan hidupnya (lih. Kej. 3). Allah yang merasa dirinya dilukai itu tak bisa mendekati manusia lagi karena hati manusia yang tertutup dan sebaliknya manusia, karena telah melukai Allah tak mampu untuk mendekati Allah kembali. Untuk waktu yang sangat lama itu hubungan manusia dengan Allah menjadi renggang, tidak harmonis bahkan terputus. Keterputusan hubungan manusia dengan Allah itu tentu membuat hati Allah menjadi gelisah dan takut kalau manusia semakin menjauh dari Allah bahkan sampai tidak lagi mengenali Allah yang sesungguhnya sangat mencintai Allah.

Karena Allah sangat mengasihi dan mencintai manusia, maka Allah terus menerus berusaha untuk mendekati manusia dan memulihkan hubungan relasiNya dengan manusia yang telah lama tidak harmonis (putus hubungan). Setelah banyak nabi-nabi dipakai untuk membangun kembali relasiNya dengan manusia supaya harmonis kembali, Allah pun memilih dan menetapkan Maria sebagai bagian dari rencana besarNya untuk menyelamatkan manusia (memulihkan kembali hubungan Allah dan manusia).

Maria sejak semula sudah ditetapkan dan dipilih Allah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk bisa memperdamaikan kembali hubungan manusia dengan Allah. Kesediaan Maria agar manusia itu kembali kepada Allah dimulai dengan sikapnya yang bersedia membuka diri untuk menjadi ibu bagi sang juru selamat. Berawal dari kerinduan Allah yang mau memperbaiki hubungan dengan manusia setelah lama terputus dan tertutup, Maria telah mewakili manusia yang menanggapi tawaran perdamaian dari Allah itu dengan kesediaannya bekerjasama kembali pada Allah.

Maria dalam melaksanakan tugasnya tidak hanya berhenti pada melahirkan bayi Yesus, membesarkan, dan menemani Puteranya sampai wafat di salib. Keinginan Maria untuk agar hubungan manusia dengan Allah terus menerus semakin baik dan terjalin harmonis diperlihatkan Maria dalam seluruh hidupnya sampai ia naik ke surga. Hal itu bisa ditemukan dari jejak-jejak penampakan Bunda Maria yang ketika menampakkan dirinya di beberapa tempat selalu membawa pesan pertobatan (perdamaian). Salah satunya adalah kisah penampakan bunda Maria kepada dha anak kecil Maximin Giroud dan Melani Calvat yang sedang menggembalakan domba-domba mereka di pegunungan La Salette (Perancis).

Dalam kisah penampakan itu, Maria mengajak seluruh manusia untuk tidak terus menerus melakukan perbuatan dosa. Semakin banyak manusia berbuat dosa maka semakin beratlah lengan Yesus di salib. Kegagalan panen kentang yang membusuk pada saat itu menjadi pertanda hidup manusia yang dipenuhi dosa dan jauh dari beriman kepada Allah. Karena seruan dan pesan pertobatannya itu, Maria La Salette disebut sebagai bunda Rekonsiliatrik (pertobatan). Sikap Maria sebagai bunda rekonsiliatrik yang selalu menghendaki manusia terus menerus bertobat, memperbaharui hidupnya dengan semakin sering membangun relasi dan komunikasi dengan Allah dalam doa, telah menjadikan Maria sebagai Bunda pembawa perdamaian.

Sampai saat ini Maria senantiasa menghendaki manusia untuk berdamai dengan Allah.

Gereja yang Bersahabat di Tengah Keanekaragaman Agama

Oleh RD. Kanisius Kopong Daten (Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Tanjung Selor)

Catatan : Renungan ini diambil dari materi pertemuan Adven 2018 Keuskupan Tanjung Selor.


Bacaan Injil : Matius : 22 : 1-10

Amanat Konsili Vatikan II membawa pembaruan paham Gereja : dari paham institusi keselamatan kepada paham Gereja sebagai sakramen keselamatan. Paham ini mengamanatkan kepada kita bahwa letak keselamatan tidak lagi pada lembaga atau institusi Gereja, melainkan pada kesatuan umat manusia dengan Allah (Lumen Gentium/ LG 1). Untuk itu Gereja memiliki paham baru yakni sebagai Umat Allah. Maka Gereja sebagai umat Allah hadir di tengah dunia sebagai tanda sekaligus sarana yang mewujudkan kesatuan mesra manusia dengan Allah dan persatuan seluruh umat manusia dengan manusia (LG 9). Pesan ini menginspirasi seluruh gerak karya pastoral untuk menjalin relasi persaudaraan kristiani dengan sesama seiman dan terpanggil untuk membangun persaudaraan sejati dengan sesama yang bukan seiman agar terjalin relasi persahabatan.

Tahun 2018 ini Keuskupan Tanjung Selor secara istimewa memfokus gerak pastoralnya dan menjadikan tahun 2018 sebagai Tahun Persahabatan.

Membangun persahabatan dengan sesama di tengah keanekaragaman agama khususnya di bumi Indonesia saat ini merupakan hal yang penting dan urgen untuk dilaksanakan. Mengingat potensi keretakan hidup berbangsa menjadi ancaman besar dalam kehidupan bersama sebagai satu bangsa. Masih terasa adanya masalah-masalah seperti relasi yang buruk antar umat beragama, diskriminasi dan sasaran terorisme terhadap kelompok minoritas, klaim asli dan pendatang, pribumi dan non pribumi, rasa curiga terhadap kelompok lain, minimnya komunikasi antar umat beragama, agama disalahgunakan untuk kepentingan politik dan bisnis, dan penghayatan agama yang bersifat formalistis dan legalistis sehingga dalam hidup keseharian kurang dihayati sebagai nilai dan sikap hidup pribadi dan kelompok.

Hal ini merupakan tantangan terbesar utuk menjalin relasi persahabatan yang sejati ditengah keaneragaman agama. Namun dengan hati terbuka untuk berdialog dan kerelaan mau bekerjasama yang tulus, sebetulnya kita telah meneladani sikap dan perilaku Yesus Kristus sendiri. Ia mengundang dan memanggil semua orang pada perjamuanNya yang telah Ia sediakan. Ia ingin agar semua yang percaya kepada Allah BapaNya duduk makan bersama dengan penuh sukacita dan damai. Ia menyuruh hamba-hambaNya pergi ke persimpangan-persimpangan jalan, menjumpai semua orang yang sudah pasti memiliki latar belakang agama dan kepercayaan beraneka ragam, terlebih mereka yang masih bersikap acuh tak acuh, bahkan tertutup hati bagi Allah dan intoleran dengan sesama untuk datang duduk makan bersama dalam semangat persahabatan dan cinta.

Sikap dialog terbuka yang telah ditunjukkan Tuhan Yesus ini, menginspirasi karya pastoral dan perutusan semua umat Katolik Keuskupan Tanjung Selor untuk mau menghadirkan sikap hidup Gereja yang ramah, menyapa dan bersaudara. Inilah langkah kecil pastoral yang terfokus di tahun 2018 ini. Langkah ini mengarah ke penghujung tahun. Jika langkah pastoral ini haruslah dilaksanakan dengan kerendahan hati maka kitapun telah turut mengubah dunia di tahun persahabatan ini.

Kita kerap kali orang mengeluh dan beralasan bahwa waktu kita sedikit. Bahkan alasan tersebut dijadikan jurus ampuh untuk menolak suatu tawaran atau kesempatan. Dengan kesadaran akan waktu yang terbatas, semestinya seseorang akan berusaha memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Banyak orang sebagaimana dalam Injil tadi menolak tawaran Tuhan Yesus dengan mengajukkan berbagai bentuk alasan untuk manjauh dari undangan Tuhan untuk bersahabat dengan-Nya. Justru semakin menjauh dengan Tuhan dan mengajukan keberatan itu malah jatuh dalam dosa dan kejahatan dan menimbulkan murka Allah yang dahsyat.

Maka gunakanlah waktu yang terbatas ini untuk menjalin persahabatan dengan Tuhan dalam doa di masa Advent ini. Gunakanlah waktu yang terbatas untuk bersilaturahmi. Jumpai dan sapalah semua orang sebagai sahabat. Berilah waktumu untuk mendengarkan, untuk mengunjungi sesamamu, terlebih bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

Karena Saya, Anda, dan Kita adalah sahabat.

Saya Punya Waktu

Alokusio oleh Br. Albertus Sigit Permana, MSF pada Rapat Kuria Bejana Kerahiman – Tanjung Selor (Sabtu, 17 November 2018)


Bacaan rohani : Buku Pegangan Halaman 201 point (d)

Saudara-saudari para legioner Maria yang terkasih.

Renungan sore hari ini adalah soal waktu atau time. Banyak orang memakai alasan waktu untuk pembenaran diri : Tidak ada waktu lah, sibuk lah. Memang banyak orang yang sibuk, tetapi kesibukan mereka tidak diisi dengan kegiatan-kegiatan rohani. Sepertinya kegiatan rohani seperti Legio, doa, ekaristi, tidak dipandang, bahkan mungkin dianggap membuang-buang waktu saja.

Para legioner yang terkasih,

Banyak orang punya prioritas, tetapi seringkali Tuhan, dengan segala kebenaranNya dan kekuasaanNya, tidak dijadikan prioritas. Sering kali kita egois, prioritas hanya untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan sendiri. Orang lain juga kurang mendapat perhatian.

Para Laskar Maria yang terkasih,

Seringkali kita mengatakan “sibuk”, tetapi selama sehari hanya omong saja, dan waktu habis berlalu. Ada orang yang berkata “Selama sehari ini aku berteman dengan setan.” Paulus pernah mengajak, “Making the best use of the time, because the days are evil.”Artinya pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Ef 5:16). Kita diajak untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya. Maka penyair Romawi – Lucanus (39-65 M) berkata : “Duce tempus eget“, waktu juga membutuhkan pembimbing.

Kita, saya dan Anda adalah pengelola dan pemilik waktu. Waktu yang kita miliki sama, sayangnya ada yang merasa  kurang waktu. Ada yang merasa kelebihan waktu, sehingga seolah-seolah membuang-buang waktu. “Omnis hebet sua dona dies“, setiap hari memiliki anugerahnya sendiri-sendiri. Atau bahkan ada ungkapan “Tempus edax rerum“, artinya waktu itu memakan segalanya.

Waktu adalah uang, time is money, atau “Empta dolore docet experential” : waktu adalah pengalaman. Pengalaman yang dibayar dengan kesungguhan mengajari seseorang untuk lebih bijak. Kita sebagai anggota Legio Maria seharusnya sudah banyak memiliki pengalaman yang indah dan unik, karena banyak waktu yang bernilai untuk kita persembahkan kepada Maria, baik lewat rapat, tugas-tugas, kegiatan-kegiatan, dsb. Mari jangan selalu memakai alasan waktu untuk mencari rasa aman, menghindar, dan sebagainya, tetapi kita gunakan waktu dengan bijak supaya lebih berdaya guna. Bapak pendiri Legio sendiri selalu menyediakan waktu untuk Tuhan dan sesama, apapun situasinya.

Tuhan memberkati dan Bunda Maria menyertai. Amin.


Br. Albertus Sigit Pramana, MSF adalah Asisten Pemimpin Rohani Kuria Bejana Kerahiman, Keuskupan Tanjung Selor.

Sumpit

Bacaan Rohani : Buku Pegangan Bab IX “Legioner dan Tubuh Mistik Kristus”, point 2 “Maria dan Tubuh Mistik” (hlm. 58-60)

ADAKAH SUMPIT MAKAN HANYA SATU BUAH?

Marilah kita memulai alokusio pada hari ini dengan pergi ke rumah makan mie. Lokasinya di Pecenongan atau dimana pun yang penting kita makan di rumah makan mie. Mie tentunya dapat dimakan dengan banyak macam cara. Ada orang yang makan mie dengan menggunakan sendok saja atau dipasangkan dengan garpu. Tapi ada juga yang makan mie dengan menggunakan sumpit. Sumpit itu selalu dan dimana pun pasti berjumlah dua tidak pernah hanya satu. Kalau kita hanya diberikan satu sumpit maka kita pasti akan mengeluh, karena bagaimana kita akan memakan mie jika hanya ada satu sumpit satu sumpit saja. Itu berarti jika kita ingin makan mie kita harus menggunakan dua buah sumpit. Gerakannya pun harus sejalan. Tidak mungkin satu ke depan dan satu ke belakang, bagaimana makanannya akan terjepit? Jika kedua-duanya digerakkan ke depan secara bersamaan maka mie dan mungkin bakso akan terjepit. Sehingga kalau ditanyakan adakah sumpit makan hanya satu buah? Jawabannya pastilah tidak ada.

Legioner, Bacaan Rohani hari ini mengajak kita juga untuk mengingat kisah sumpit di atas tadi. Pertama, kalau kita semua di dalam presidium adalah pasangan sumpit-sumpit maka kita tidak dapat mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan anggota yang lain. Tidak ada sumpit yang hanya satu buah, demikian juga di dalam presidium tidak ada satu orang yang sendirian. Kalau begitu jadilah pasangan sumpit bagi yang lain dalam presidium dan satukanlah gerak masing-masing agar dapat “menjepit” mie dan bakso sehingga kita semua merasa enak ketika memakan mie dan bakso. Dan ingat gerakannya harus maju ke depan bukan ke belakang. Apa artinya? Artinya : tataplah ke depan dan bergandengan tangan bersama menuju kepada Allah lewat Maria. Bukankah kita sepakat bahwa di dalam presidium tidak ada orang asing, yang ada hanyalah semangat devosional kepada Maria dalam semangat iman, harap dan kasih Kristiani?

Kedua, kalau kita adalah salah satu sumpit dan pasangan sumpit kita adalah Tubuh Mistik Kristus, maka berlaku prinsip yang sama seperti yang di atas. Yang hendak saya sampaikan adalah manakala kita mengesampingkan, melalaikan, dan menjauhkan tugas doa dan karya kerasulan kita bukankah kita patut bertanya dimanakah pasangan sumpit saya yang satu? Atau bukankah hidup doa dan karya pelayanan kita kepada Maria pincang karena kita berperan sebagai satu sumpit saja?

Sumpit selalu berarti ada dua, tidak hanya satu. Sama halnya dengan kita, mengatakan kita adalah presidium berarti kita semua bukan individu-individu tertentu saja. Mengatakan melayani Tubuh Mistik berate tidak meninggalkan tugas doa dan karya kerasulan kita bagi Tubuh Mistik.

Jakarta, 23 Desember 2005

Oleh Fr. Christian Luly, MSC (saat ini sudah menjadi Imam di Banggai – Sulawesi Tengah), asisten pemimpin rohani Presidium Cermin Kekudusan – Paroki Bunda Hati Kudus Kemakmuran.

(Gereja) Katolik Jaman NOW

 

Oleh Sdr. Octavian Elang Diawan


Jaman NOW, istilah yang menunjuk jaman sekarang, jaman ini. Jaman NOW adalah kelanjutan jaman dahulu, jaman NOW akan diikuti jaman yang akan datang.  Setiap jaman memiliki peradabannya sendiri-sendiri yang unik. Jaman NOW ditandai dengan keterbukaan informasi karena penemuan teknologi informasi yang dinamakan internet dan perangkat pendukungnya.

Gereja Katolik diibaratkan bahtera yang mengarungi jaman. Gereja berlabuh mulai dari pelabuhan surga  yakni hati Allah; Lalu berziarah di dunia daam rupa  kehadiran Yesus Kristus hingga wafat-Nya di kayu salib: Lalu peziarahan Gereja berlanjut melalui Santo Petrus dan penerusnya. Gereja berziarah dari jaman dulu, jaman NOW, lalu jaman yang akan datang hingga akhirnya kembali ke hati Allah sendiri dengan membawa jiwa-jiwa manusia yang  diselamatkan.

Gereja muncul dari hati Allah  yang terdalam – hati yang Maha Kasih, Maha Rahim, Maha Kuasa, Maha Kudus. Hati Allah tak pernah berubah walau  berziarah melalui jaman yang berubah-ubah. Tetapi Gereja harus menyesuaikan diri terhadap tantangan di setiap jaman (ecclesieae semper reformanda), sebagai bahtera Gereja bisa berjalan lurus, kadang berbelok kanan atau kiri, kadang bergerak cepat atau lambat, atau memutar haluan. Namun tugas Gereja tak pernah berubah, yakni mewartakan hati Allah kepada setiap manusia yang ditemui dan membawanya kembali pada Allah.

Gereja Katolik Jaman NOW

Jaman NOW adalah jaman terjadinya perubahan super cepat dari jaman sebelumnya. Arus informasi yang terbuka memutus sekat-sekat antar bangsa dan antar budaya. Orang Indonesia dengan mudah bisa berjodoh dengan orang Afrika hanya dengan berkenalan di depan laptop – sesuatu yang 20 tahun lalu sangat sulit terjadi. Kemajuan teknologi transportasi dan perbaikan ekonomi juga berpengaruh. Transportasi murah menyebabkan orang desa  mudah sekali ke Jakarta atau bahkan menyeberang ke Papua –  dan sebaliknya. Dunia makin melebur (nge-blend). Anak-anak jaman NOW yang masih SD sudah pandai berbahasa Inggris; Orang-orang Korea bahkan pandai berbahasa Jawa.

Di lain pihak kejahatan juga semakin canggih, termasuk terorisme. Panduan membuat bom bisa diperoleh dengan mudah di YouTube.  Masyarakat dunia mengalami perubahan perilaku. Mereka ini sangat menikmati teknologi yang dinamakan gawai, dan citarasa hubungan antar manusia pun turut berubah. Banyak orang tidak mengetahui bahwa gawai bertindak pesis seperti narkotika – menciptakan adiksi. Gawai menjadi sahabat akrab  baru yang menggantikan kakak, adik, atau orang tua.

Namu demikian jaman NOW juga ditandai dengan pertumbuhan umat kristiani di dunia. Afrika Utara, Korea, China, Indonesia, dan Timur Tengah adalah wilayah yang mengalami pertumbuhan umat kristiani cukup menakjubkan. Di Indonesia ada klaim bahwa setiap tahun terdapat 2 juta orang berpindah ke kekristenan. Di KAJ sendiri terdapat pertumbuhan umat sekitar 25 ribu dalam satu tahun terakhir. Sebuah dugaan menyebutkan bahwa ajaran ‘Kasihilah musuhmu’ menjadi salah satu  daya tarik orang menyerahkan diri pada Yesus.

Tantangan Gereja Jaman NOW

Gereja bersikap ketika masuk dalam peradaban jaman NOW ini.  Gereja tetap teguh memegang nilai, namun menyesuaikan diri terhadap dinamika kehidupan. Bapa Suci Fransiskus pun menyadari hal ini maka beliau  menampilkan diri sebagai pimpinan Gereja jaman NOW yang serba gaul, milenial, menerobos kebiasaan lama, tak suka dengan protokoler yang ketat, dan akrab tanpa sekat dengan setiap orang.  Walhasil beliau menjadi orang terkenal dalam waktu yang sangat singkat. Kepemimpinan beliau bukan mengikuti gaya kepemimpinan tradisional  yang menekankan kekuasaan, melainkan kepemimpinan yang mengubah orang (transformasi).

Indonesia di Jaman NOW

Indonesia  jaman NOW adalah Indonesia  yang makin ramai dengan 260 juta penduduknya,  terdiri dari 1.128 suku bangsa; mereka mendiami sebagain dari sebanyak 13.466 pulau yang kita miliki. Segala jenis orang bisa ditemukan di sini: orang kaya raya  mapun orang miskin, orang budiwan-budiwati tulus hati ahli surga maupun para begal uang rakyat yang rajin beribadah, orang  pedalaman yang hidup secara nomaden  yang belum bisa membaca a-be-ce-de-e maupun para profesor ahli nuklir.  Wilayah pulau yang bersih hijau  segar  atau wilayah  Kali Item berbau busuk menyebar kuman pun bisa ditemukan.  Itu semua adalah situasi  yang dihadapi  Gereja Indonesia di mana kita ada di dalamnya. Situasi yang memang harus dilalui oleh Gereja dalam peziarahannya mewartakan hati Allah yang mencinta. Dan kita pulalah yang menghadapinya sebagai bagian sentral Gereja.

Memeluk Anggota Keluarga

Namun, jaman NOW seperti gelas kaca yang sangat tipis. Bila kita lengah kita bisa tanpa sengaja menyenggol gelas ini dan jatuh lalu pecah tak berguna. Banyak keluarga Katolik sudah sedemikian hati-hati merawat keluarganya toh masih juga kebobolan. Ada beberapa pengguna narkotika yang saya kenal adalah anak-anak dari keluarga Katolik yang taat. Di jaman NOW sungguh diperlukan kehati-hatian ekstra untuk menjaga ‘gelas keluarga’ agar tetap aman di tempatnya. Mungkin saja kita tak menyenggolnya, namun bisa jadi tiba-tiba  ada kucing melompat  lalu  menyenggolnya dan gelas jatuh pecah berkeping-keping.  Setiap orang tua harus waspada terhadap kecenderungan ‘gawai’-isme dalam anggota keluarga. Kebersamaan dan komunikasi yang bermutu tak bisa diganti dengan gawai. Orang tua harus sering bertindak dan mengucakan kata  iman, pengharapan, dan kasih. Usahakan ketiga kata itu bukan termasuk kata asing. Biarkan kata itu secara halus mengendap dalam bawah sadar semua anggota keluarga. Biarkan ia menjadi benih dan akhirnya bertumbuh menjadi pohon keselamatan. Inilah cara memeluk anggota keluarga sehingga ikatan kasih dan kesetiaan tetap menyala. Mari mencercap inspirasi  keluarga kudus Nazareth yang melakukan hal-hal  itu dengan sangat indah.

Memeluk Tetangga

Jaman NOW membuka sekat-sekat kelompok. Interaksi antar budaya, antar ideologi, antar lapisan sosial terjadi tanpa bisa dibendung. Di Indonesia kebhinekaan adalah mutlak. Bahkan dua saudara kembar Ipin dan Upin pun tetap memiliki perbedaan yang khas.

Perbedaan menjadi cara Allah untuk menunjukkan kemuliaannya. Bila ada syair lagu berbunyi “Tuhan ditemukan dalam ketenangan,” maka dalam konteks kebhinekaan Indonesia kita bisa berkata “Tuhan ditemukan dalam perbedaan”. Maka mari kita menghargai perbedaan dan menjadikan hal ini sebagai kesempatan pengudusan diri. Mari temui tetangga-tetangga yang tak seiman dengan kita. Kita tunjukkan bahwa kita adalah pewarta hati Allah yang lemah lembut. Kita peluk mereka dalam semangat illahi, karena hati Allah adalah hati yang menyatukan, hati yang menghidupkan, dan hati yang menyembuhkan.

Selamat berlabuh di jaman NOW;

Mari mewartakan hati Allah di jaman NOW,

and do it NOW.


Sdr. Octavian Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani sejak Juli 2016.

Legio Maria Sebagai Awal Diri yang Baru

Halo teman-teman terkasih, nama saya Nelson Jordan siswa SMA St.Kristoforus 1 dan kini memasuki kelas 12. Semakin bertambah usia, semakin tinggi wawasan, semakin banyak pula tantangan dan tanggung jawab yang didapat. Pada kesempatan ini, saya akan membagikan kepada teman-teman beberapa pengalaman yang saya alami dan semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman sekalian. Secara khusus, pengalaman sebelum dan selama bergabung dalam Legio Maria Presidium Cermin Kesabaran (Junior).

Awalnya Saya yang Belum Kenal Legio

Saya baru pindah ke Jakarta ketika awal memasuki masa SMA dan saya memang sudah dididik secara Katolik sehingga saya juga memasuki sekolah Katolik. Saya memang Katolik, namun apakah itu hanya akan menjadi identitas di KTP? Atau hanya menjalankan rutinitas setiap Minggu ke Gereja sebagai suatu kewajiban? Tidak jauh berbeda dengan robot yang diprogram untuk bekerja tanpa tahu apa yang dikerjakannya.

Saya sebenarnya adalah pribadi yang tertutup. Akan tetapi, karena saya memerlukan warna dalam iman saya, maka saya pun mulai mencari kegiatan yang ada di Gereja dan dapat sesuai dengan diri saya. Memang tidak mudah, karena tidak semua pilihan dapat cocok dengan apa yang diinginkan.

Legio? Serius Lo Mau Ikut Gituan?

Saya mulai bertanya kepada teman dan kerabat saya dan akhirnya saya mendapat tawaran untuk bergabung dalam Legio Maria. Saya pun mempertimbangkan dan menanyakan pada teman-temanku pendapat mereka tentang Legio Maria. Beginilah komentar mereka:

Serius lu ikut Legio ? emang ga ada yg lain ?”                                        Bosen cuman doa doang di sono”                                                                     “Nggak asik ah Legio. Masak ikut gituan”                                                             Nggak akan bertahan lama lu ikut itu”                                                               “Legio Maria? Aaan tuh…Nggak pernah denger”

Demikian pendapat mereka tentang Legio Maria. Pendapat mereka mendorong saya untuk semakin tertarik bergabung Legio Maria dan saya pun memutuskan untuk bergabung.

Legio adalah Soal Berjuang Mengalahkan Diri Sendiri

Beberapa bulan mengikuti Legio Maria, saya menyadari bahwa bukan menyenangkan atau membosankannya yang menjadi inti dari bagian ini. Akan tetapi seberapa banyak kita menantang dan menang melawan diri sendiri. Contohnya saja untuk menjalankan misa kudus setiap hari Senin pukul 05.30, saya harus bangun jam 4.00. Mungkin kebanyakan dari kita akan berkata, “Aku akan bangun 5 menit lagi”  hingga malah akhirnya bablas kesiangan. Ditambah dengan usiaku yang belum 17 tahun sehingga belum diizinkan membawa motor ke sekolah dan berangkat menggunakan bus kopaja dan berjalan kaki saat langit masih gelap. Itulah tantangan. Namun ketika saya (dan kita) berhasil melewatinya, timbul rasa bangga atas kemenangan mengalahkan kelemahan diri.

Berjuang Demi Siapa?

Lewat Legio jugalah saya dapat lebih dapat melayani umat dan mengambil bagian dalam pelayanan Gereja. Mendoakan orang lain walaupun saya tidak kenal dengan mereka, menjadi bentuk apresiasi dan dukungan terhadap mereka. Mengunjungi orang lain, berkenalan dengan teman baru, itulah hal kecil yang dapat membuat orang lain senang. (Meskipun tidak semua tugas dapat saya jalankan hehehe :v)

Beberapa dari kita yang membaca ini mungkin terlintas pendapat seperti “hangat-hangat kotoran ayam”, karena suatu saat mungkin ada waktunya bosan, jenuh, ataupun malas, dan itu adalah hal yang wajar dan kita semua bisa alami. Namun itulah tantangan, dan apa kita dapat mengalahkan diri kita?

“Berjuang jangan hanya untuk diri sendiri, namun lawanlah diri sendiri untuk berjuang demi melayani Tuhan dan orang lain”

Sekian pengalaman yang dapat saya bagikan kepada teman-teman, terima kasih bagi kalian yang membaca. Damai Sejahtera bagi kita semua, Tuhan Yesus memberkati. ^_^

Merawat Legio Maria: Kembali ke Nazareth

Oleh Octavian Elang Diawan


Mencermati keadaan Legio Maria saat ini, saya mengajak pembaca untuk memfokuskan perhatian pada dua kerangka fundamental, yaitu:

  • Spiritualitas, mendalami spiritualitas memurnikan motivasi mengapa kita ber-Legio Maria
  • Keorganisasian, memahami bagaimana merawat Legio Maria sebagai organisasi

Spiritualitas:

Kita mengerti bahwa Bunda Maria adalah bunda kandung Yesus.  Sehingga Maria-lah yang paling memahami Yesus; Maria sangat mengerti kebiasaan Yesus sejak  bayi;  Maria yang paling memahami makanan kesukaan Yesus; Maria yang paling memahami sukacita dan dukacita Yesus; Maria juga yang paling memahami sifat keilahian Yesus. Sungguh, Maria-lah yang paling banyak mengerti dan mengalami bagaimana mencintai Yesus. Orang lain – termasuk keduabelas murid Yesus – tak pernah memiliki kedalaman pengalaman dan pemahaman tentang diri Yesus seperti yang dirasakan Maria.

Mengikuti Maria (melalui Legio Maria)  berarti kita belajar dari Maria bagaimana seharusnya mencintai Yesus. Akhir dari peziarahan rohani Maria adalah ketotalan dalam mencintai Yesus, sehingga akhir dari peziarahan rohani kita mustinya juga ketotalan dalam mencintai Yesus. Ukuran mutu kita sebagai Legioner ditentukan seberapa sungguh kita mencintai Yesus.  Oleh sebab itu, hidup ber-Legio Maria harus membuat legioner mampu mencintai Yesus lebih dahsyat daripada bila kita tak menjadi legioner.

Awal Mula Jatuh Cinta

Legioner harus senantiasa menyisihkan waktu berdiam dalam kesehariannya, lalu berusaha mengumpulkan dan merenungkan kembali – pengalaman2 dikasihi Allah. Seorang gadis yang merasakan banyak pengalaman selalu dilindungi dan diperhatikan secara istimewa  oleh seorang pria cenderung jatuh cinta pada pria tersebut, demikian pula  sebaliknya. Rasa dicintai menghasilkan reaksi cinta juga. Cinta menjadi sesuatu yang spontan alamiah – bukan merupakan tindakan logis yang serba direncanakan. Nah, legioner yang sanggup menemukan dan merenungkan pengalaman dilindungi dan diperhatikan secara istimewa  oleh Allah, akan menunjukkan rasa cinta juga kepada Allah. Cinta kepada Allah menjadi sesuatu yang spontan alamiah – bukan merupakan tindakan logis dan serba direncanakan.

Bagaimana Allah mengasihi manusia?

Cara utama dan terutama bagaimana  Allah mengasihi manusia adalah Ia memberi  kehidupan kekal (keselamatan jiwa). Ini adalah anugerah termahal dalam kehidupa sepanjang jaman – nilai anugerah ini jauh melebihi mujizat kesembuhan dari sakit, lunasnya hutang, naik kelas/promosi, anak-anak yang manis, bonus ziarah ke tanah suci atau berjumpa paus, dll.

Semua pengalaman manusia yang memurnikan hati  dan mengarahkannya pada keselamatan jiwa merupakan pengalaman dikasihi Allah. Mengumpulkan pengalaman dikasihi Allah akan membuat manusia kembali mengasihi Allah secara bebas dan sukacita; Dan Maria mengajarkan kita menemukan pengalaman itu. Maria menemukan diri dikasihi Allah…. yaitu  dengan dipilih Allah menjadi ibu Allah sendiri – Waouw, sebuah pengalaman dikasihi Allah yang to the max!  Mari temukan pengalaman dikasihi Allah.

Merawat Presidium

Ada  presidium-presidium baru bermunculan, namun banyak pula presidium yang letih lesu. Memang tidak mudah mendapatkan anggota baru, terutama pada dewan-dewan yang berada di kota besar. Pengalaman membuktikan bahwa kegiatan ‘promosi Legio Maria’ hampir tak pernah membuahkan hasil berarti. Promosi yang  banyak terjadi  lebih mirip trick bisnis yang dilakukan perusahaan, yakni: menyebar flyer, memasang banner, presentasi kegiatan dengan power point, membuat kegiatan gembira untuk umat umum – lalu berharap ada orang baru yang masuk presidium.

Tetapi ternyata tidak mudah mendapat anggota kan?

Mari kembali ke Semangat Dasar Presidium, yakni merujuk kehidupan Keluarga Kudus Nasareth.

Semangat dasar presidium adalah semangat keluarga kudus Nasareth yang terdiri dari Yesus, Maria, dan Yusup. Keluarga Nasareth dibangun dengan dasar kasih pada Allah yang dibuktikan dengan cara hidup Maria dan Yusup yang mengasihi Yesus dan sebaliknya. Ketiganya adalah three in one in, ada tiga orang yang membentuk  satu kesatuan kasih.

Presidium semestinya memiliki semangat serupa entah itu sebutannya three in one atau ten in one – sesuai jumlah anggota presidiumnya. Tetapi harus dipastikan bahwa berapapun jumlah anggota mereka harus ada dalam satu kesatuan (ONE). Bila sebuah presidium mampu menjadi komunitas kasih seperti Keluarga Kudus Nazaret maka keberlangsungan hidupnya jauh lebih bisa diharapkan. Kita tahu banyak keluarga Katulik yang berhasil bertahan hingga puluhan tahun walau mereka mengalami percobaan hujan badai. Itu terjadi karena adanya bangunan kuat di dalamnya, yakni kasih antar anggota keluarga itu.

Jadi yang harus dijual oleh presidium adalah kekuatan kasih antar anggota, yakni kekuatan kebersamaan, kekuatan saling pengertian dan saling mengembangkan. Keadaan ini akan membuat setiap anggota ‘krasan’  dan merasakan presidium seperti halnya  saudara-saudara yang sedang berkumpul di saat lebaran. Ia akan rindu bertemu kawan-kawannya. Hal serupa juga harus menjadi nilai pertama ketika menjual presidium ke orang non legioner. Kita akan kesulitan mengajak orang lain masuk presidium dengan iming-iming klasik seperti  ‘Di Legio imanmu bertumbuh,’ atau ‘Di Legio kau akan menjadi pribadi disiplin dan teratur’ atau “Di Legio pengenalanmu pada Maria akan meningkat’. Nilai-nilai ini secara normatif memang benar dan teramat baik, tapi tak cukup strategis untuk menarik orang apalagi bagi generasi milenial. Ini sama seperti saya  mengajak tetangga berlari pagi. Tetangga pada setuju 100% bahwa lari pagi itu menyehatkan, tapi orang-orang itu sejujurnya lebih suka bangun siang. Walhasil, saya lari pagi sendirian sampai hari ini.

Maka, marilah kita murnikan niat kita dalam ber-Legio sebagai ruang yang sangat baik untuk mencintai Yesus serta mau bertindak bijaksana untuk lebih mengahyati semangat kasih Keluarga Kudus Nazareth sebagai bangunan dasar dalam merawat presidium.


Sdr. Octavian Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani – Indonesia Bagian Barat sejak Juni 2016.

Legio Maria: Keluargaku, Sahabatku

Syalom! Nama saya Angelina Patricia, biasa dipanggil Angell. Saya berasal dari Jakarta. Pada kesempatan ini saya dan teman saya, Dea akan membagikan pengalaman berkesan kami di Legio Maria.

Berawal dari Ragu-Ragu dan Menolak

Saya masuk menjadi anggota Legio Maria sekitar 3 tahun lalu. Awalnya saya mengetahui Legio dari sebuah seminar mengenai Legio Maria yang ada di sekolah. Setelah seminar selesai, para pembicara membagikan brosur untuk para murid dan memberitahukan bahwa kami yang berminat dapat langsung mendaftarkan diri atau dapat menghubungi contact person pada brosur tersebut. Saat itu saya ingin sekali mendaftar, tetapi seketika saya menjadi ragu-ragu. Saya sudah kelas IX dan pekan-pekan saya penuh dengan ujian sekolah. Apalagi saya juga berasal dari paroki yang berbeda. Jadi, saya memutuskan untuk tidak mengikuti Legio Maria.

Ternyata Bunda Maria Memanggil Lewat Ajakan Adik Kelas

Ternyata, dua minggu kemudian, salah satu adik kelas mengajak saya untuk mengikuti Legio Maria. Saat itu saya bertanya kepadanya, apakah boleh saya mengikuti kegiatan gereja yang bukan berasal dari paroki sendiri? Dia pun menaikkan bahunya dan mengatakan bahwa dia tidak tahu apakah diperbolehkan atau tidak. Akan tetapi, dia terus mengajak saya untuk mengikuti Legio Maria dan akhirnya saya pun menerima ajakannya untuk mengikuti Legio Maria.

Awalnya Kukira Legio Membosankan dan Orangnya Sombong-Sombong…

Saat pertama kali mengikuti rapat Legio, saya mengira kegiatan yang dilakukan akan membosankan karena hanya sekedar berdoa, berdoa, dan berdoa. Aku juga menyangka orang-orangnya sombong-sombong. Wah, ternyata pemikiran saya salah.

Akhirnya Aku Betah di Legio: Asik, Banyak Kegiatan Seru dan Bermanfaat

Aku tidak menyangka kalua di Legio tidak hanya berdoa tetapi juga ada kegiatan-kegiatan lainnya, seperti kunjungan dan menjalankan tugas sebagai petugas di gereja. Selain itu orang-orangnya juga ramah dan asik sehingga suasana rapat Legio menjadi ramai dan seru. Sedikit demi sedikit saya mulai mengerti hal-hal mengenai Legio dan juga Bunda Maria. Saya sangat senang karena dapat mengetahui Legio dan dapat menjadi anggota Legio sampai sekarang ini.

(Angelina Patricia)

Ave Maria! Saya Dea Faustine dari Jakarta. Saya dan Lina ingin bercerita tentang pengalaman kami selama tergabung dalam Legio Maria. Bagi kami, Legio bukan hanya sekadar komunitas, namun keluarga, keluarga dekat. Oh ya, saya juga terbiasa menjadi adik bagi semua orang, karena sering dipanggil “De” sebagai nama panggilan hahaha.

Ingin Bergabung Tetapi Ada Saja Halangannya

Awal bergabung dengan Legio, karena ajakan seorang anggota Legio. Sebenarnya sudah lama De ingin bergabung dengan Legio, namun ada saja halangan. Hingga pada saat Bulan Maria, Paroki St. Kristoforus mengadakan ziarah ke 9 gua Maria. Di sana, De diajak untuk bergabung ke Legio. Dan terjadilah 1 tahun yang berkesan. De menemukan keluarga baru di sini.

Awalnya Canggung, Eh, Ternyata Nggak Ada Jarak Antar Kita di Legio…^^

Yah, pas pertama masuk masih agak canggung. Masih bingung mau ngapain dan nggak kenal siapapun hahaha. Akan tetapi semakin lama, rasanya semakin dekat sama setiap anggota presidium. Nggak ada istilahnya “batas” antara perwira ataupun anggota. Kami semua sama sebagai satu keluarga besar prajurit Maria.

Belajar Keanekaragaman Budaya dan Bersaudara sebagai Keluarga Legio

Banyak kegiatan yang membuat kami semakin akrab, salah satunya kunjungan ke museum. Terdengar seperti field trip sekolah sih, namun kunjungan ini ternyata membawa kami semakin dekat dengan keanekaragaman budaya Indonesia. Plusnya, kami juga menghabiskan waktu bersama yang membuat kami semakin akrab. Masih banyak lagi hal yang kami lakukan bersama, dan itu semakin merekatkan tali persaudaraan kami sebagai satu keluarga.

(Dea Faustine)

Persahabatan di Antara Kami

Well, about Lina dan Dea, kami bersahabat. Kami bertemu di Legio Maria Presidium Cermin Kesabaran. Awalnya, memang kami nggak saling kenal. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kami menjadi lebih akrab. Entah siapa dulu yang memulai obrolan, yang jelas sekarang kami sudah jauh lebih dekat satu sama lain. Rapat mingguan presidium membuat kami sering bertemu dan menjadi bersahabat bahkan bersaudara seperti sekarang. Persahabatan kami tercipta melalui Legio Maria.

Terima kasih Legio Maria! Yuk teman-teman, jangan ragu lagi bergabung bersama dengan kami. Dijamin asik dan seru!!!

Kisah Dalam Kasih, Kasih Dalam Kisah

Kisah perjalanan hidup Fr. Yosep Pranadi, OSC.


Saudara/i yang terkasih, perkenalkan nama saya Yosep Pranadi. Kenapa Yosep? Bukan Yosef? Karena saya orang Sunda, jadi pakai saja ‘p’, bukan ‘f’. Saya adalah orang ‘USA’, Urang Sunda Aseli. Lahir di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Saya lahir sebagai anak pertama laki-laki dari tiga bersaudara. Hobby saya adalah; naik sepeda, jalan-jalan, denger musik, koor, membaca buku, utak-atik komputer, dan design. Sungguh menyenangkan jika ada waktu luang, bisa beraktivitas dan berekspresi untuk menghibur diri. Dari TK sampai SMP saya bersekolah di daerah kelahiran. Masa-masa itu saya gunakan untuk belajar, bermain di ladang, sungai dan sawah, ikut misdinar di Paroki, Legio Maria, kegiatan lingkungan, ziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat setiap malam minggu bersama teman-teman, dan kegiatan lainnya. Kalau ada waktu, saya ingin sekali mengenang masa-masa itu bersama teman-teman lama. Tapi sungguh sulit karena sudah merantau kemana-mana.

Sebelum lulus SMP, sebetulnya saya mengalami keraguan. Ada beberapa rencana yang saya pikirkan. Ada rencana masuk SMA Negeri atau masuk Sekolah Kejuruan Teknik Mesin/Komputer. Ibu sebetulnya sudah menitipkan saya pada kenalannya di sekolah kejuruan. Namun apa yang sudah direncanakan, ternyata tidak terlaksana. Apa yang direncanakan manusia, tidak selalu sejalan dengan rencana Tuhan. Dalam keraguan, pada suatu siang, setelah pulang sekolah saya mampir di Gereja. Ketika memasuki halaman Gereja entah kenapa saya membayangkan ‘Seminari’. Tiba-tiba saya tertarik masuk seminari, padahal pengetahuan saya akan seminari tidak ada sama sekali. Saya mengutarakan keinginan saya kepada ibu: “Mah, saya ingin masuk seminari!”. Bapak agak cemberut mendengar keinginan saya, karena saya anak pertama laki-laki satu-satunya di dalam keluarga pada waktu itu. “Memang kamu tahu apa itu seminari?” kata Ibu. “Saya tidak tahu”. Kami ngobrol satu sama lain. Akhirnya ibu berkata: “Ya sudah, jika itu keinginan kamu, ibu mengijinkan, yang penting kamu menjalani pilihanmu dengan bahagia. Jangan lupa berdoa. Berdoalah terus-menerus. Anggaplah doa itu nafas yang menghidupkan. Mohon kekuatan dari Tuhan, ibu hanya bisa mendoakan saja!”. Ibu mengijinkan, namun Bapak diam dan tidak banyak berkomentar. Berat bagi bapak untuk melepaskan saya pada waktu itu. Barangkali dia membayangkan dan mengharapkan saya untuk meneruskan keluarga, menikah, dan memiliki cucu. Tetapi rencana Tuhan sungguh berbeda. Tuhan menuntun saya memilih jalan yang tidak dipilih oleh kebanyakan orang. Jalan yang penuh tantangan dan perjuangan sekaligus penuh harapan.

Setelah lulus SMP, saya memutuskan untuk masuk Seminari Menengah Cadas Hikmat di Bandung. Inilah pengalaman pertama saya meninggalkan orangtua, dan tinggal di asrama seminari. Minggu-minggu pertama rasanya sungguh berat. Saya merasa tidak betah, pengen pulang, rindu rumah, rindu orangtua dan adik-adik. Tidur pun tidak enak rasanya. Nyuci baju sendiri, nyetrika sendiri, ke sekolah jalan kaki, setiap hari bangun pagi dan ikut misa pagi, ikut berbagai macam kegiatan baik di sekolah maupun di seminari, dll. Itulah pengalaman pertama yang membentuk pribadi saya menjadi orang yang mandiri, disiplin, bertanggung-jawab, dan tidak mudah menyerah. Lama-lama menjadi ‘habit’. Lama-lama saya bisa menyesuaikan diri dengan tempat baru, teman baru, sekolah baru, suasana baru, dan pola hidup seminari yang cukup ‘ketat’. Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan selama 3 tahun di Seminari Menengah.

Setelah 3 tahun menjalani masa pendidikan di SMA Santa Maria 1 dan Seminari Menengah Cadas Hikmat, saya memutuskan untuk masuk Biara Ordo Salib Suci (OSC). Usia yang sangat muda (18 tahun) ketika masuk Biara. Kadang-kadang ada perasaan minder, emosi yang tidak stabil, merasa kurang berpengalaman karena masih muda. Kadang-kadang ingin mencoba juga apa yang dirasakan oleh teman-teman di luar. Bagaimana rasanya hidup di luar. Setelah direnungkan, saya kira baik di luar atau pun di dalam Biara toh sama-sama berjuang untuk bertahan di dalam pilihannya masing-masing. Setiap pilihan memang selalu ada konsekuensi yang mesti dijalani. Apa yang sudah saya putuskan, mesti saya perjuangkan terus. Pendidikan awal di Ordo Salib Suci saya tempuh selama 2 tahun, yaitu masa Novisiat. Itulah masa-masa penggodokan awal.

Dua tahun kemudian, saya melamar kembali dan diterima untuk mengikrarkan kaul perdana di hadapan provinsial (pimpinan Ordo Provinsi Indonesia) pada 28 Agustus 2013. Setelah selesai menjalani masa Novisiat, saya melanjutkan pendidikan di Skolastikat (setara dengan Seminari Tinggi) hingga lulus filsafat. Setelah lulus studi filsafat, saya ditugaskan Provinsial untuk menjalani Tahun Orientasi Pastoral sebagai pendamping ret-ret di Pusat Spiritualitas Pratista, Cisarua-Cimahi, Bandung Barat selama satu tahun. Di Pratista saya ‘belajar’ mendampingi ret-ret untuk anak-anak SD, SMP, SMA, Universitas, dan umat kategorial. Sungguh menyenangkan mengenal dunia pastoral yang amat luas. Saya hadir untuk memberi kekuatan dan peneguhan kepada peserta ret-ret khususnya mereka yang menghadapi situasi sulit di dalam hidup mereka, entah relasi dengan teman, pasangan, atau relasi di dalam keluarga. Mendengar pengalaman mereka sungguh menyentuh. Saya merasa bukan orang yang sempurna, tetapi Tuhan menggunakan saya untuk memberikan semangat dan meneguhkan harapan mereka. Ternyata di tengah dunia yang penuh tantangan ini, Tuhan masih tetap berkarya.

Saat ini saya sedang melanjutkan masa formasi di Ordo Salib Suci sebagai mahasiswa semester 2 di pasca-sarjana Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Ini adalah tahun ke-7 bagi saya di Ordo Salib Suci. Suatu proses pendidikan calon religius yang perlu ditempuh dengan ketekunan dan kesabaran. Apabila kita melihat kehidupan orang-orang di luar biara yang mengalami jatuh bangun, suka duka, dan berbagai dinamika kehidupan. Sebetulnya di Biara juga orang-orang mengalaminya. Jadi, sama-sama punya tantangan dan sama-sama berjuang untuk bertahan. Ini adalah suatu perjalanan yang tidak pernah berakhir. Suatu proses menuju kesempurnaan.

Sekembalinya menyelesaikan masa orientasi pastoral di Rumah Ret-Ret, saya kembali melanjutkan studi S2. Biasanya para frater S2 diberi tugas mengajar agama di SMA Katolik. Tetapi, tidak pada saya. Melenceng dari dugaan, saya diberi tanggung jawab untuk menghidupkan kembali website Ordo Salib Suci yang sudah bertahun-tahun mati dan tidak diupdate. Tugas baru yang menantang. Saya mesti belajar keras memahami sistem dan management konten website. Awalnya saya merasa keberatan karena mengelola website sendirian. Saya mencoba mengubah template menjadi lebih menarik, mengisi konten menjadi lebih informatif serta inspiratif. Awalnya kebingungan juga. Saya banyak bertanya dan membaca berbagai sumber hingga akhirnya tumbuh perlahan-lahan. Ternyata usaha dan kerja keras di dalam proses perjalanannya membuahkan hasil. Tidak sia-sia banyak bertanya dan membaca. Saya menyadari bahwa jaman sekarang pertumbuhan pengguna internet dan website begitu pesat. Meskipun bukan profesional, saya mencoba mempelajarinya perlahan-lahan. Belajar sesuatu yang baru itu menarik, termasuk belajar jaringan dan website. Setidaknya para Biarawan dan Rohaniwan juga mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan dunia (tidak kolot-kolot amat). Dalam permenungan, saya sadar bahwa belajar itu tidak akan pernah selesai. Karena kita manusia yang tidak sempurna, oleh karenanya perlu belajar, belajar, dan belajar. Dunia selalu berubah-ubah, dan manusia perlu belajar untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan segala perubahan yang sedang dihadapi dan akan dihadapi nanti. Di mana bumi di pijak, di sanalah langit di junjung. Dimana kita berada kita mesti belajar dan menyesuaikan diri terus menerus.

Pengalaman bersama Legio Maria

Apabila ditanya; apakah pernah menjadi anggota Legio Maria? Tentu saja pernah. Saya ikut legio Maria sejak SD kelas 5 SD (2003) sampai kelas 3 SMP (2008). Waktu itu saya bergabung dengan Legio Maria Presidium Benteng Gading di Paroki Kristus Raja, Cigugur, Kuningan-Jawa Barat. Selama beberapa tahun saya ikut legio bersama teman teman di sekolah. Biasanya seminggu sekali kami berkumpul bersama teman-teman. Sebelum legio dimulai, kami bermain bola terlebih dahulu di halaman gedung pertemuan Gereja. Jika ada pastor lewat permainan bola dihentikan sementara (takut dimarahin). Pastor pergi, permainan dilanjutkan kembali. Sungguh menyenangkan bisa bermain bola bersama. Ketika katekis atau suster pendamping Legio datang, barulah kami berkumpul untuk mengadakan rapat Legio Maria (doa Rosario bersama, laporan tugas, pembagian tugas, doa tesera, dll.). Presidium kami didampingi oleh seorang katekis awam dan suster CB bergantian. Pernah sekali waktu saya dipercaya menjadi ketua legio oleh suster dan teman-teman. Saya senang diberi tanggung-jawab dan kepercayaan. Tahun 2008, suster pendamping kami, Sr. Lucina CB pindah tugas. Setelah kepergian suster, legio kami terpaksa mandiri. Karena tidak ada pendamping lama-lama anggota legio kami semakin berkurang. Jumlah yang hadir semakin lama semakin sedikit. Semakin menipisnya jumlah anggota, terpaksa kami membekukan sementara Legio Maria.

Legio Maria bagi saya adalah momen untuk berkumpul bersama teman-teman, berdoa bersama, belajar melayani dalam tugas-tugas keseharian, mengunjungi orang sakit, dll. Di situlah kami dilatih berdisiplin diri dalam hidup rohani maupun dalam hidup sehari-hari. Pada waktu itu Legio Maria tidak terpisahkan dari Putra Altar. Pada umumnya anggota Legio Maria sekaligus anggota Misdinar paroki yang seluruhnya adalah laki-laki. Biasanya pertemuan Legio berlangsung di sore hari di gedung pertemuan samping gereja. Setelah pertemuan selesai, bisanya kami renang bersama di kolam ikan Dewa. Renang gratis tanpa dipungut biaya bersama ikan-ikan dewa di dekat kompleks Gereja Paroki. Sungguh menyenangkan kala itu karena bisa berkumpul, bermain, berdoa dan saling mendukung satu-sama lain sebagai satu saudara. Itulah yang paling berkesan bagi saya.

Setelah lulus SMP, saya melanjutkan sekolah ke Seminari Menengah di Bandung. Lantas bertahun-tahun saya tidak ikut Legio Maria dalam suatu presidium secara resmi. Meskipun demikian, semangat Legio Maria tetap saya bawa di dalam hati. Semangat heroik, disiplin, persaudaraan, keramahan, perjuangan, keluwesan hati. Apabila ditanya apakah pernah menjadi pendamping Presidium, tentu saja belum pernah. Saya banyak ditugaskan dalam pastoral kategorial seperti ret-ret, mengajar, ibadat di stasi terpencil, website, dll. Akan berbeda cerita seandainya saya ditugaskan di Paroki. Ada kemungkinan mendampingi para Legioner. Mungin ini adalah jalan Tuhan yang mesti saya lalui. Tapi saya percaya setiap perjalanan sungguh dinamis, membawa saya pada kematangan dan kehidupan yang penuh makna.

Apabila mengamati situasi di lapangan, dari segi jumlah memang para legioner tidak begitu banyak. Jangan bersedih hati seandainya sedikit. Bersikaplah optimistis dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Sebetulnya ada hal yang unik yang dapat dipegang teguh oleh pasukan legioner . Ada semangat persaudaraan, sikap heroik, kunjungan orang sakit, ketekunan dalam doa, dan penghormatan kepada figur Maria. Sosok Maria dan keteladanan hidupnya adalah hal yang paling unik dari Legio Maria. Spirit Maria perlu menjadi kekuatan yang menggerakan para Legioner dari dalam hati hingga memancar dan berbuah dalam kehidupan para legioner. Maria adalah sosok yang paling dekat dengan Yesus. Dia adalah ibu Yesus sekaligus Ibu bagi umat manusia. Spiritualitas kasih seorang ibu menjadi sisi lain yang mesti dihayati oleh para legioner. Sosok ibu itu merawat, membesarkan, menjaga, memelihara, sabar menanggung segala sesuatu, tulus, memberi tanpa mengharapkan keuntungan, dan penuh kasih sayang. Inspirasi inilah yang dapat diteladani oleh para Legioner dimana pun dan kapan pun.

Bagi saya sendiri sosok Maria begitu menginspirasi. Sejak kecil saya sudah terbiasa devosi kepada sosok Maria melalui doa rosario, Legio Maria, dan ziarah. Tindakan devosional inilah yang menumbuhkan iman saya kepada Bunda Maria. Maria adalah orang yang dipilih Allah menjadi sarana keselamatan. Ia dikasihi Allah karena kesetiaan dan kemurnian hatinya. Ia adalah pelindung sekaligus penjaga umat beriman. Saya percaya bahwa doa melalui Bunda Maria sungguh luar biasa. Dia akan menolong dan melindungi kita dari segala bahaya. Tak henti-hentinya saya memohon perlindungan dan pertolongan Bunda Maria ketika sedang menghadapi kesulitan dan tantangan. Bagi para legioner dimanapun, percayalah dan teladanilah sosok Maria. Maria adalah inspirasi sentral bagi para legioner. Kehidupan dan keteladanan Maria ini mesti menjadi semangat yang menggerakan hati, budi, dan energi para legioner untuk senantiasa berbuat baik dan berbagi kepada banyak orang. Bunda Theresa pernah mengatakan

“Tuhan tidak memanggiku untuk mengejar kesuksesan di dalam hidup. Ia memanggilku untuk setia kepada-Nya!”.

Pesan untuk para legioner terkasih, setialah di dalam setiap pilihan hidup yang kalian pilih dan bertahalah terus sampai akhir. Percayalah, Tuhan melindungi orang-orang yang percaya kepada-Nya.

-Ego semper purificanda-

Salam dan Doa
Fr. Yosep Pranadi, OSC

Fr. Pranadi (kedua dari kiri) bersama para Frater Ordo Salib Suci

Catatan admin : Fr. Yosep Pranadi, OSC adalah administrator website www.osc.or.id yang banyak membantu dan menginspirasi website kita yang tercinta ini. Pada saat tulisan ini dimuat (23 April 2018) ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-25. Mari kita doakan bersama-sama. (^.^)