Berpuasa Sebelum Menyambut Komuni

Referensi: indocell.net / yesaya


Pernah kah kamu mendengar aturan berpuasa sekurangnya satu jam sebelum menyambut Komuni Kudus? Tapi kan sekarang masih banyak yang misa online, tidak ada Komuni Kudus. Beberapa bulan terakhir, memang hampir seluruh gereja di dunia menutup pintunya karena mengikuti anjuran pemerintah setempat guna pembatasan sosial untuk mencegah merebaknya virus Covid-19. Namun kini, pintu itu mulai dibuka kembali secara perlahan. Misa sudah mulai dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Eits, tidak hanya protokol kesehatan saja yang harus diperhatikan, melainkan juga protokol dalam menyambut Komuni Kudus.

Kenapa sih harus berpuasa?

Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) no. 19, ada pernyataan yang tertulis jelas di sana. “Yang akan menerima Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata dan obat-obatan. Hal ini dikecualikan bagi lansia, orang sakit, dan yang merawatnya”. Menurut sejarah, sebenarnya peraturan ini merupakan refleksi dari tradisi kuno dalam gereja kita, yang bahkan berasal dari tradisi Yahudi.

St. Paulus mengingatkan kita, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (II Kor 4:10). Dan Paus Paulus VI dalam konstitusi apostoliknya Paenitemini (1966), mendorong umat beriman dengan mengatakan, “Mati raga bertujuan untuk ‘memerdekakan’ manusia, yang seringkali mendapati dirinya, karena kecenderungannya akan dosa, hampir terbelenggu oleh nafsu-nafsunya sendiri. Melalui ‘mati raga jasmani’ manusia memperoleh kembali kekuatannya dan luka-luka yang timbul akibat sifat dasar manusia karena kurangnya penguasaan diri disembuhkan oleh obat pantang yang bermanfaat”.

Paus Yohanes Paulus II dalam Dominicae Cenae (1980) menyesali timbulnya masalah karena sebagian orang tidak mempersiapkan diri secara pantas untuk menyambut Komuni Kudus, bahkan dalam keadaan dosa berat. Bapa Suci mengatakan, “Sesungguhnya, yang seringkali didapati ialah sangat kurangnya perasaan tidak layak diri sebagai akibat dari kurangnya hasrat hati, jika dapat dikatakan, kurangnya rasa ‘lapar’ dan ‘haus’ akan Ekaristi, yang juga merupakan tanda akan kurangnya kepekaan yang pantas terhadap sakramen
kasih yang luar biasa ini dan kurangnya pemahaman tentangnya”. Dan berpuasa sebelum menyambut Komuni Kudus membangkitkan rasa lapar dan haus jasmani akan Kristus, yang akan semakin membangkitkan rasa lapar dan haus rohani yang sepantasnya kita miliki, seperti yang tercatat dalam beberapa kisah di Alkitab.

Oleh sebab itu, berpuasa sebelum menyambut Ekaristi membantu kita dalam mempersiapkan diri menyambut Komuni Kudus secara keseluruhan – tubuh dan jiwa. Mati raga jasmani ini memperkuat fokus rohani kita kepada Kristus, sehingga kita dapat dengan rendah hati bersatu dengan Juruselamat Ilahi yang menawarkan Diri-Nya sendiri bagi kita.

Berita Konsilium Juli 2020

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)


Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


AMERIKA

  PERU

Senatus Lima: Selama lockdown akibat pandemi virus Covid-19, beberapa presidium mengadakan rapat virtual untuk mendoakan doa-doa legio, doa rosario, mempelajari buku pegangan, katekismus, serta sharing dokumen kepausan. Ada juga presidium lain yang meminta para anggotanya untuk mendoakan doa-doa legio setiap hari terutama di jam rapat mereka. Beberapa presidium melakukan kontak dengan anggota auksilier melalui telepon atau mengadakan pertemuan online. Kaum muda berdoa di luar rumah bagi mereka yang sakit ataupun yang telah meninggal karena pandemic virus Covid-19. Yang lainnya memberikan nomor telepon mereka agar orang-orang yang gelisah atau kesepian dapat menghubungi mereka. Ada juga yang berdoa rosario dari balik jendela untuk mendoakan para tetangga. Saat ini ada 2 kelompok pra-junior yang telah terbentuk karena dukungan para orang tua. Misa online bagi Legio Maria secara nasional dipimpin oleh Pemimpin Rohani.

  BOLIVIA

Senatus La Paz: Rapat senatus bulan April dan Juni diselenggarakan online melalui aplikasi Zoom dan dihadiri oleh banyak anggota meskipun beberapa orang hanya dapat mendengar karena tidak memiliki alat yang lengkap. Ada laporan dari dua dewan dan menunjukkan bahwa tugas-tugas legio tetap dilaksanakan. Pemimpin Rohani memuji keberanian para legioner yang melakukan kunjungan ke penjara meskipun kunjungan dari luar tidak diijinkan
pada masa pandemi ini. Koresponden konsilium secara virtual mengikuti rapat senatus bulan Juni. Regia Santa Cruz tetap menyelenggarakan rapat-rapat bulanan regia maupun pra regia. Presidium yang tergabung dengan regia melakukan rapat mingguan secara virtual. Koresponden mereka juga tetap melakukan kontak dengan dewan-dewan serta presidium di lokasi yang terpencil. Melalui aplikasi Zoom dan Whatsapp, doa rosario diajarkan dan didaraskan. Ketua Regia berkomentar bahwa Roh Kudus dan Ibu Maria telah membuka cara baru bagi kita dalam melakukan evangelisasi. Kita tengah menjajaki ide-ide baru seperti pengajaran religius, kelompok-kelompok Patrisian, dan bahkan memulai presidium baru.

  CHILE

Senatus Santiago: Semua presidium tetap berjalan walaupun ada banyak larangan dan penderitaan akibat pandemic Covid-19. Tugas-tugas legio yang dilakukan adalah legioner menghubungi keluarga-keluarga yang memerlukan perhatian khusus seperti para lansia dan mereka yang hidup sendiri melalui Whatsapp. Buletin Senatus yang berisi laporan-laporan dari Konsilium dan juga informasi setempat sudah sampai kepada presidium.

  COLOMBIA

Senatus Bogota: 3 regia, 2 komisium, 1 kuria, dan 3 presidium memberikan laporan mereka sebelum lockdown. Senatus mengidentifikasi perluasan dapat dilakukan dengan membentuk presidium senior di 4 paroki, sebuah kuria junior, dan sebuah presidium junior. Mereka juga menyelenggarakan beragam jenis pelatihan lanjutan, serta pertemuan doa untuk dewan-dewan yang tergabung. Ketika para perwira dari dewan yang jauh mengunjungi senatus, mereka diikutsertakan dalam kegiatan merasul. Pekerjaan bagi kaum tuna wisma dan migran dari Venezuela amat diutamakan. Mereka juga berpartisipasi dalam program-program radio. Sebuah komisium diberitakan mengedarkan selebaran mengenai Bunda Maria di bar dan juga rumah-rumah. Sebuah kuria setiap bulan mengadakan sarapan bersama kaum lansia agar dapat memberitakan kabar baik. Sebuah komisium berhasil merekrut 25 anggota auksilier dari kunjungan mereka ke penjara.

Regia Bucaramanga melaporkan gerak jalan ekologi bagi kaum muda. Selain itu, berkat doa rosario terdapat 3 perkawinan diberkati, pertobatan seorang pecandu narkoba yang sekarang rajin mengikuti misa bersama ibunya, serta seorang pendeta.

Regia Bogota melaksanakan tugas bagi orang muda pecandu narkoba dan penderita HIV. Mereka mendirikan 3 presidium baru dan mencegah penutupan sebuah dewan kuria karena komunikasi yang buruk dengan klerus.

Regia Barranquilla melakukan kontak dengan gadis-gadis jalanan dan beberapa dari mereka bergabung ke dalam presidium menjadi anggota aktif. Di keuskupan Riohacha mereka melaksanakan tugas bagi suku Wayuu yang keberadaannya dilindungi, kemudian berhasil mengkatekese anak-anak mereka untuk menerima komuni pertama dan Sakramen Krisma, serta 3 pasangan menerima Sakramen Perkawinan.


  AUSTRALIA

Komisium Brisbane: 840 legioner berkunjung ke orang sakit dan lansia di rumah-rumah atau rumah perawatan, membantu pendaftaran pengungsi Siria ke paroki, serta mengajar agama kepada orang-orang autis dan lumpuh otak di rumah perawatan. Satu-satunya presidium di Ayr, Keuskupan Townsville, memiliki sedikit anggota dan legio masih kurang memberikan dampak positif di luar Brisbane.

Senatus Sydney: Buletin di bulan Januari melaporkan 2 presidium Indonesia melakukan kunjungan penghiburan ke rumah-rumah perawatan dan komunitas lansia dengan mendoakan rosario. Patung Bunda Maria diedarkan, manik-manik rosario dibuat untuk diberikan kepada katekis setempat. Kuria Illawarra melakukan kunjungan rumah ke rumah, melayat dan mengedarkan 7 patung Bunda Maria. Para legioner menjadi sukarelawan pada seminar bulanan tentang peneguhan perkawinan dan mendapatkan banyak anggota auksilier.

Senatus Melbourne: Komisium Noumea di Kaledonia Baru memiliki 8 Kuria di pulau utama dan 1 di pulau Wallis. Retret tahunan komisium dilakukan 15-18 Januari dengan kehadiran 160 orang muda dan tua. Sebuah presidium berhasil didirikan setelah retret. Tugas-tugas yang dilakukan termasuk mengajar katekis ke suku-suku dan desa-desa. Mereka melaksanakan program penyadaran kepada para kepala suku tentang gangguan sekte religius di suku mereka. Terdapat 7 pulau di wilayah komisium yang memiliki legio. 19 perkawinan diselenggarakan Desember 2019 setelah para legioner mengunjungi pasangan-pasangan yang sehari-hari nya memiliki hubungan asmara. Sejumlah sakramen baptis juga terselenggara.


ASIA

  FILIPINA

Senatus Bicolandia: Regia Legazpi memiliki 5 komisium, 5 kuria senior, dan 1 kuria junior. Semuanya terdiri dari 2655 legioner senior, 211 pretorian, dan 634 legioner junior. Membantu pengesahan 31 perkawinan, pentahtaan Hati Kudus, 456 kunjungan rumah sakit dan rumah perawatan, serta kunjungan 240 tahanan dilakukan. 329 baptis bayi dan 44 baptis dewasa diselenggarakan. Kuria seminari memiliki 12 presidium senior dengan 62 anggota, dan 12 presidium junior dengan 90 anggota. Pekerjaan mereka meliputi kunjungan ke panti asuhan, kerasulan di radio, mengajar katekis di 3 sekolah dasar dan 1 sekolah tinggi, serta mengunjungi penjara.

Senatus Cebu: Koresponden mendorong para legioner untuk membaca satu halaman buku pegangan setiap hari selama lockdown. ACIES dilakukan secara streaming dari Cork dan disambut gembira. Pada akhir tahun 2019, senatus ini telah melakukan sejumlah pekerjaan berupa kunjungan ke rumah-rumah, penjara, rumah sakit, rosario, membantu memperbaiki perkawinan, mengajar katakese, dan membina presidium junior.

Komisium Manila: 2 Kuria dan 3 presidium melakukan perekrutan auksilier. Hasilnya terdapat 89 auksilier yang direkrut dan 62 anggota aktif. Orang tua anggota junior diundang ke sebuah seminar untuk mendorong mereka berpartisipasi dalam memotivasi anak-anak mereka untuk menghadiri rapat mingguan secara berkala.


EROPA

  DUBLIN BAGIAN UTARA

Kuria Veneranda: Sebelum lockdown, sebuah presidium dengan 8 anggota aktif dan 20 auksilier melakukan kunjungan rumah dan tugas-tugas rumah tangga di hostel Morning Star. Kunjungan ke penjara Mountjoy setiap akhir pekan, para narapidana menghargai kunjungan para legioner dan menanti-nantikan kunjungan selanjutnya. Para legioner memberikan edukasi iman, memberikan rosario, dan juga melakukan kontak dengan petugas penjara.

Kuria Betlehem: Sebelum lockdown, sebuah presidium dengan 6 anggota aktif dan 14 auksilier melakukan kontak di jalan pusat kota setiap minggu. Para anggota menawarkan Medali Wasiat kepada orang-orang dan menjelaskan makna spiritualnya, menjumpai orang-orang dari beragam bangsa dan kepercayaan. Para anggota juga mempromosikan serta membantu jam kudus bagi Frank Duff yang dilakukan sebulan sekali di gereja.

Kuria Presentata: Untuk mencegah penyebaran Covid-19, pada bulan Maret 2020 diputuskan untuk menutup hostel Morning Star (hostel bagi tuna wisma). 15 dari 63 penghuni sebelumnya memutuskan untuk mencari akomodasi alternatif dengan keluarga atau teman. 3 orang yang tinggal di hostel dan para anggota presidium di hostel mengambil alih tugas menjalankan hostel bagi para penghuni. Orang-orang yang tidak tinggal di hostel mengatur pembayaran
tunjangan bagi para penghuni, obat-obatan dan keperluan lainnya. Restoran setempat mengirimkan makanan beberapa kali dalam seminggu. Beberapa penghuni membantu membersihkan hostel, mencuci perabot makan, membuat sandwich, dan menjaga penjualan rokok/tembakau. Setiap hari misa dapat diikuti melalui internet. Selain itu, hostel Regina Coeli yang berpenghuni 35 wanita memutuskan untuk buka lebih siang dan tutup lebih awal di sore hari karena usia para legioner yang umumnya bekerja di hostel, seharusnya tidak dapat hadir dan bekerja di sana pada masa ini. Hostel dilayani oleh 3 orang yang tinggal di hostel dan beberapa perwira presidium Regina Coeli bersama legioner lainnya. Para penghuni dapat memanfaatkan pelayanan pusat Capusin setempat yang menyediakan sarapan atau makan siang. Selama Paskah, ibadat jalan salib diselenggarakan di kebun luar di depan hostel.

Kuria Consolata: “Hari Maria” yang rencananya diselenggarakan bulan April, ditunda pelaksanaannya pada bulan Juni melalui internet dengan menggunakan aplikasi Zoom. Tema konferensi adalah “Dunia Baru Maria”, sebuah ungkapan yang digunakan Frank Duff. Lebih dari 300 orang hadir, termasuk Nuncio Thaddeus Okolo yang mengucapkan terima kasih kepada legio. Doa-doa lengkap legio didaraskan dan berkat diberikan oleh Rm. Brendan Walsh yang menjadi pembicara tamu. Seorang legioner memberi kesaksian yang menggambarkan perjalanannya dari Ukraina ke Dublin; sebuah perjalanan yang membawanya kepada pemikiran gerakan New Age, gereja Presbiterian, dan akhirnya kepada Gereja Katolik dan Legio Maria. Aktivis kehidupan memberikan presentasi mengenai Bunda Maria dari Guadalupe dan mukjizat Tilma St. Juan Diego. Dua ceramah dengan tajuk “Hai, Yang Penuh Berkat” dan “Bunda Maria dan Ekaristi” diberikan, lalu seorang muda berbicara tentang kembalinya dia mempraktekkan iman Katolik. Kesan dari konfrensi sangat positif, sehingga diputuskan untuk menyelenggarakan konfrensi lanjutan yang dihadiri 200 orang.


AFRIKA

  MOZAMBIK

Komisium Tete: Para legioner berdoa rosario dan disiarkan oleh stasiun radio yang secara sukarela juga menawarkan untuk menyiarkan doa-doa dan misa selama masa pandemi. Daerah pastoral yang memiliki kehadiran legio yang kuat antara lain: Tete, Songo, Angonia, dan Manie. 2 perwira komisium sudah mengunjungi legio di daerah pastoral Matarara yang membutuhkan perhatian. Rencana untuk mengunjungi keseluruhan daerah pastoral ditunda. Tantangan besar adalah untuk mengunjungi Zumbo, bagian paling barat Mozambique, namun karena kondisi akses jalan yang parah, kunjungan ini belum dapat dilaksanakan.

  ANGOLA

Senatus Launda: Melalui email, ketua senatus melaporkan bahwa para Uskup telah menerima rencana perayaan 100 tahun Legio Maria pada 15 – 19 September 2021. Tema yang diambil adalah Mengikuti Teladan Maria: “Apa yang Dia katakan kepadamu, buatlah itu!”

Senatus Benguela: Rapat senatus yang diselenggarakan tanggal 27 Juni 2020 dihadiri oleh 81 perwira. Topik utama rapat adalah pemilihan ketua senatus. Pada bulan November 2019, pemilihan untuk semua jabatan perwira sudah diadakan, namun pemilihan tidak dibuat sesuai dengan aturan Legio. Mereka setuju untuk melaksanakan kembali pemilihan tersebut dan meminta maaf karena kesalahan yang dibuat. Hal ini menunjukkan kepatuhan mereka kepada arahan Konsilium. Dalam rapat kali ini, hadir Rm. Manuel Abel dos Santos, Vikaris Episkopal untuk urusan pastoral yang mewakili Yang Mulia Mgr. Dom António Francisco Jaka – Uskup Benguela, untuk mengawal jalannya pemilihan ketua senatus. Surat dari senatus tertanggal 28 Mei 2020 mengabarkan wafatnya Uskup Emeritus Benguela, Mgr. Dom Oscar Lino Lopes Fernandes Braga. Almarhum Mgr. Oscar memegang peranan besar dalam mengembangkan legio di Benguela dan sangat bahagia dengan terbentuknya senatus sebelum beliau mengundurkan diri.

  AFRIKA SELATAN

Senatus Cape Town: Panitia untuk mempersiapkan perayaan 100 tahun Legio Maria akan dibentuk. Seluruh presidium diminta untuk menyusun sejarah mereka. Para legioner diingatkan untuk menekan biaya. Romo Johnathan dari Paroki St. Stevanus di Rocklands berharap sebuah presidium junior dapat terbentuk di parokinya. Sebuah presidium dengan anggota aktif 5 orang dan auksilier 6 orang melakukan kunjungan rumah dan mengunjungi orang-orang yang menderita kelumpuhan otak. Misa untuk Frank Duff dan legioner yang telah wafat juga sudah diadakan.

Senatus Johannesburg: Para legioner terlibat pada kunjungan rumah, rumah sakit, dan panti asuhan. Saat ini sedang diupayakan untuk membentuk presidium di paroki-paroki yang belum memiliki legio. Legioner juga banyak melakukan kontak dengan orang-orang non Katolik.

Komisium Matatiele: Sebuah presidium dengan anggota aktif 14 orang dan auksilier 40 orang membantu pembaptisan 2 orang dewasa dan 13 anak-anak. 36 anak-anak dipersiapkan untuk Komuni Pertama. Selain itu, 2 presidium junior baru telah terbentuk.

Kabar Senatus Agustus 2020

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)


Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


JAKARTA

Komisium Our Lady Of The Holy Family – Jakarta Timur: Terdiri dari 2 Kuria, 10 presidium senior, dan 2 presidium junior. Dalam laporan semesternya, komisium ini melaporkan bahwa selama tahun 2020, terdapat penambahan 6 anggota aktif dan 34 auksilier. Sebuah presidium junior bernama Presidium Bintang Kejora di paroki Cililitan telah disahkan. Selain itu, di paroki Bidaracina juga telah terlaksana rapat percobaan presidium junior.
Tugas inspiratif yang di-sharing-kan oleh komisium ini dalam laporan semester adalah kunjungan mereka ke museum benda-benda Alkitab Yerushalayim.

Kuria Ratu Para Kudus – Jakarta Selatan 1: Terdiri dari 7 presidium di Paroki Cilandak dan 4 presidium di Paroki Blok B. Dalam laporan semesternya, kuria ini sudah mulai melakukan rapat kuria online via aplikasi Zoom sejak Juni 2020. Sebelum pandemi Covid-19, sudah terdapat beberapa umat di Paroki Blok Q yang berkumpul dan berdoa Tessera bersama. Namun proses pembentukan presidium ini terpaksa terhenti karena kondisi pandemi. Mohon doa dan bantuan saudara/i mendukung pembentukan presidium di Blok Q ini.


MEDAN

Regia Ratu Para Syahid – Medan: Terdiri dari 3 komisium, 5 kuria, dan 12 presidium yang tersebar di seluruh provinsi di pulau Sumatera, kecuali provinsi Lampung. Misa mingguan sudah dapat dilaksanakan di beberapa daerah dan legioner membantu pastor paroki dalam pelaksanaan misa dengan pembatasan tersebut. Selama masa pandemi Covid 19 ini, rapat regia sudah diadakan secara online namun tingkat kehadiran menurun dan banyak laporan dewan/presidium yang ditunda. Selain itu, masih terdapat dewan komisium/kuria yang tidak mengadakan rapat karena kurang memahami teknologi, kondisi geografis tidak memadai yang menyebabkan sinyal untuk internet kurang bagus, dan adanya prinsip bahwa rapat tidak sempurna jika tidak dilakukan secara tatap muka.

Setiap Rapat Presidium Diatur Menurut Tata Letak yang Seragam

Buku Pegangan halaman 116 Bab 18 poin 1.
Alukosio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke – 396 – E / Tahun ke – 33
.


Estetika Rohani dalam Rapat Presidium

Gereja Katolik memiliki khasanah estetika rohani yang sangat tinggi. Hal ini juga diikuti oleh Legio Maria. Dalam rapat presidium, kita menghadirkan sebuah altar rapat yang dibuat sedemikian rupa sehingga keindahan rohani dapat dihadirkan.

Altar rapat Legio Maria pada hakikatnya bukanlah sekedar hiasan belaka, melainkan sebuah sarana fisik yang berfungsi untuk menghadirkan Maria secara batin dalam rapat itu. Benda-benda yang ditaruh di meja altar seluruhnya mengandung simbolisasi semangat rohani berdevosi yang sangat dalam. Oleh karena itu penting sekali setiap legioner memahami makna altar rapat ini dan mengungkapkannya melalui tindak tanduk yang terpuji selama mengikuti rapat.

Di tengah meja diletakkan patung Ibu Maria. Patung itu tetaplah sekedar benda mati plastik atau tembikar yang bisa kita beli di toko. Namun kita harus mampu melihat sampai jauh, yaitu sampai pada kesadaran bahwa patung Ibu Maria yang diletakkan di tengah meja hendak mengajak para peserta rapat untuk menyadari kehadiran rohani Ibu Maria.

Dengan demikian rapat presidium bukan saja sekedar perjumpaan sosial antar teman anggota legio, melainkan perjumpaan rohani antar teman anggota legio dengan Ibu Maria sendiri. Setiap orang yang berhasil memahami makna ini akan mengagungkan rapat. Rapat menjadi sebuah doa yang tak tergantikan karena sifat keindahannya yang adikodrati. Perhatian anggota sepenuhnya akan tertuju pada Ibu Maria yang memimpin rapat, bukan sebatas Mister X atau Ms Y sebagai sang ketua presidium.

Rapat adalah Bagian Pembentukan Karakter Legioner

Kesungguhan mengikuti jalannya rapat juga akan terbangun. Kita melaporkan tugas dengan penuh semangat dan suara jelas. Secara alamiah kita juga akan merasa ‘malu’ bila tidak melaksanakan tugas dengan baik. Tetapi hal ini dilakukan karena penghormatan dan tanggung jawab kita pada Ibu Maria yang hadir, bukan karena sekedar instruksi dogmatis.

Pada akhirnya, kesadaran atas kehadiran Ibu Maria juga akan membantu kita untuk membentuk presidium sebagai komunitas. Sebuah komunitas adalah sebuah kebersamaan yang saling mendukung dan saling meneguhkan, untuk bersama-sama menuju Hati Yesus yang Maha Kudus. Kita bersama-sama membentuk presidium dan menjadikannya keluarga kecil dengan inspirasi keluarga kudus Nazaret masa kini.

Jadi marilah kita sungguh-sungguh menghormati dan menghayati kekayaan estetika rohani Legio Maria ini. Mari kita laksanakan rapat dengan menyiapkan patung Ibu yang baik, kita siapkan vas dengan bunga yang baik, kita siapkan taplak paling bersih, kita siapkan pula vexilum yang pantas. Meja altar bukanlah hiasan rapat semata, melainkan sebuah cara agung dan sakral untuk meningkatkan mutu karakter rohani kita sebagai anak-anak Maria.

Perkembangan Legio Maria di Togo, Afrika

Sumber :Buletin Konsilium Edisi Mei 2020 / legionofmary.ie


Senatus Lome di negara Togo, Afrika mengabarkan bahwa Legio Maria di sana sangat berkembang dan berbuah.

“Legio Maria berkarya dengan kunjungan ke rumah umat, rumah sakit, penjara, melakukan Katekese, kontak dengan orang-orang di jalan/ kampus/ toko buku. Semua tugas ini membuahkan banyak pertobatan, ada umat yang bersedia kembali ke dalam persekutuan Gereja, bahkan tidak sedikit bersedia menerima Sakramen Baptis.

Selain itu, kami juga mengadakan Kongres, Exploratio Dominicalis, dan beberapa pertemuan Patrisian juga. Satu Kuria junior kami mengadakan kuis Buku Pegangan dengan hadiah-hadiah bagi mereka yang paling berpengetahuan.

Beberapa Presidium baru juga dibentuk dan Komisium Adidogome membentuk satu Kuria baru. Di Keuskupan Kpalime, terdapat satu presidium yang dibentuk di penjara. Kini presidium di penjara ini sedang dalam proses membentuk satu kuria baru. Regia Kara yang baru membentuk satu kuria baru di bulan Desember tahun lalu, kini sedang membentuk tiga Kuria baru lagi”, ungkap Senatus Lome.

Jiwa-jiwa Legioner yang Sudah Meninggal

Buku Pegangan Bab 17 halaman 114
Alokusio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke-396-D/Tahun ke-33


Ajaran yang mendasari pemuliaan jiwa-jiwa yang sudah meninggal adalah pemahaman terhadap Gereja yang merupakan Persekutuan Orang Kudus. Hal ini tertuang dalam doa Aku Percaya “…… Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan para Kudus, dst… Amin.”

Gereja sebagai Persekutuan Orang Kudus dapat dilihat dalam 3 unsur yaitu :

      • Gereja Berziarah, yakni komunitas umat beriman yang hidup di dunia seperti kita semua saat ini.
      • Gereja Mulia, yakni komunitas jiwa-jiwa mulia di surga bersama Allah Bapa, dan
      • Gereja Pemurnian, yakni kelompok jiwa-jiwa yang masih ada di dalam api penyucian.

Jadi sebagai Gereja, kita yang masih ada di dunia ini terhubung dengan mereka yang ada di Surga maupun di dalam api penyucian. jemaat yang membentuk Gereja Semesta yang adikodrati. Rasul Paulus menegaskan secara luar biasa dalam suratnya kepada umat di Roma “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39).

Kasih Allah dalam Kristus Yesus-lah yang menyatukan kita yang masih di dunia dengan mereka yang sudah wafat. Atas kesadaran inilah, kita para Legioner dipanggil untuk tetap menjaga hubungan kasih dengan mereka yang sudah meninggal dengan cara mengirimkan kado-kado kasih berupa doa. Kado-kado ini akan sangat berguna, terlebih bagi para anggota Gereja yang Dimurnikan, yakni mereka yang masih ada dalam api penyucian.

Api penyucian adalah suasana pembersihan spiritual bagi jiwa-jiwa yang masih perlu pemurnian sebelum menjadi anggota Gereja Mulia di surga. Doa-doa kita di dunia akan sangat membantu jiwa-jiwa tersebut dalam upaya pembersihan spiritualnya.

Legio Maria sebagai komunitas yang selalu berdoa tentu akan menyambut baik kesempatan berdoa bagi jiwa-jiwa dalam Gereja Pemurnian. Doa-doa kita menunjukkan kita menghidupi semangat bahwa kita terhubung satu sama lain sebagai jemaat Gereja Semesta yang adikodrati. Tentu kelak bila kita harus melewati fase Gereja Pemurnian, kita juga akan membutuhkan kado-kado kasih dari para legioner yang masih ada di dunia dengan doa-doa serupa dari mereka.

Memandikan dan Merias Jenazah ala Legioner Dahor

Awalnya legioner memandikan dan merias jenazah untuk membantu seorang ibu yang meninggal, di mana anaknya tidak tahu cara mengurus jenazah dan merasa takut memegang jenazah ibunya. Setelah itu berita ini tersebar dan apabila ada yang meninggal, umat/ masyarakat menyerahkan jenazah kepada legioner. Kami menghubungi Ibu Caroline sabagai narasumber. Beliau adalah wakil ketua presidium sekaligus ketua Kuria Benteng Perdamaian Dahor.

Kegiatan memandikan dan merias jenazah ini merupakan kegiatan lintas presidium dalam satu paroki. Beberapa anggota dari tiga presidium yang berbeda bersedia bertugas memandikan dan merias jenazah, meskipun sudah malam hari. Kegiatan ini dilakukan oleh Ibu Caroline dan legioner lainnya apabila pihak rumah sakit tidak dapat melakukannya. Legioner memandikan jenazah tersebut di rumah keluarga jenazah atau di rumah sakit. Meskipun demikian, tidak semua anggota presidium bersedia melakukan tugas Martiria ini.

Jika ditanya, “Kok mau Bu?”, legioner menjawab dengan cepat “Namanya juga pelayanan, sudah seharusnya”. Mereka juga tidak menerima uang dari kegiatan ini, karena bagi mereka ini merupakan pelayanan dan menjadi tugas legio, maka sudah semestinya tidak menerima bayaran.

Legioner juga mendoakan jenazah saat memandikan dan merias jenazah tersebut. Doa-doa apa saja yang didaraskan? Mendaraskan doa Salam Maria dan Bapa Kami di dalam hati, atau juga diucapkan. Apakah pernah mengalami kejadian mistis saat melakukan tugas tersebut? Ibu Caroline menjawab; “Ada. Misalnya saat memandikan jenazah yang matanya belum tertutup, bahkan setelah memandikan pun ada”. Namun kejadian-kejadian mistis itu bersifat positif, tidak mengganggu kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan Ibu Caroline merasa diberi kemudahan dalam aktivitasnya sehari-hari, juga mendapat perasaan lebih nyaman dalam batinnya.

Puji Tuhan sampai saat ini mereka tidak menemukan kendala apapun. Untungnya selama ini tidak ada jenazah yang merupakan korban Covid, karena menurut prosedur, jenazah Covid harus ditangani langsung oleh pihak rumah sakit.

SAMBER : Sampah Menjadi Berkat

Wujud Nyata Peran Legio Maria dalam Tindakan Kepedulian Lingkungan Hidup (Laudato Si)


Sumber berita : Jeny T. Dewi (koordinator SAMBER,
gereja St. Petrus & Paulus, Mangga Besar, Jakarta)


Sampah menjadi masalah sangat serius baik sosial maupun ekonomi di Indonesia. Produksi sampah di Jakarta 7.800 ton lebih per hari yang bermuara di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi (sumber : Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Sept 2019). Dengan jumlah itu, diprediksi TPST Bantar Gebang akan berhenti beroperasi pada tahun 2021 karena kelebihan kapasitas.

Hal ini bukan hanya menjadi masalah pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh rakyat Indoensia termasuk umat Katolik. Pada tahun 2016, Keuskupan Agung Jakarta mencanangkan Gerakan Silih Ekologis (Sileko) sebagai bentuk kepedulian pada lingkungan hidup, diwujudkan dalam bentuk gerakan menanam pohon, memilah dan mengolah sampah, gerakan Pantikfoam (pantang plastik dan styrofoam). Tahun 2020, KAJ menetapkan Tahun Keadilan Sosial dan salah satu penanda gerakan Tahun Keadilan Sosial adalah KAJ mengajak paroki / sekolah Katolik / komunitas untuk merumuskan bersama persoalan sampah dan dijadikan gerakan bersama.

Apa peran nyata kita sebagai umat Katolik khususnya Legio Maria ?
Berawal dari inspirasi pastor paroki Mangga Besar, Rm. Agustinus Purwantoro SJ (dikenal Romo Ipong SJ), dalam sebuah kesempatan melihat pengelolaan sampah anorganik dalam bentuk bank sampah di Paroki Keluarga Kudus, Rawamangun, Jakarta, sekitar pertengahan tahun 2019. Lalu Romo menyampaikan inspirasi ini pada beberapa legioner, dan harapannya ada komunitas yang mampu mewujudkan kegiatan bank sampah ini di Paroki Mangga Besar.

Didasari bahwa peran Legio Maria menjadi tangan kanan Pastor Paroki dan siap melaksanakan tugas sulit, maka setelah berdiskusi dengan perwira Kuria Bunda Pengharapan Suci, di mana presidium Mangga Besar ini tergabung, maka Legio Maria menyatakan kesanggupan untuk merintis dan mengkoordinir kegiatan bank sampah di paroki.

Kesanggupan menuntut konsekuensi besar yang tak pernah terpikir sebelumnya. Perlu persiapan matang, mulai studi banding ke paroki lain, bahkan harus melibatkan pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Suku Dinas Lingkungan Hidup untuk proses perijinan dan pelaksanaan. Sulit, namun dipermudah karena dibantu oleh pihak yang sudah berpengalaman, khususnya pemerintah Indonesia saat ini juga mendorong masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Pada prinsipnya, bank sampah ini perlu partisipasi dan kerjasama umat, serta membawa keuntungan untuk umat. Secara sederhana tahapannya sebagai berikut :

      • Pilah sampah organik (basah) dan anorganik (kering), hal ini dilakukan di rumah/ sekolah
      • Pengumpulan sampah dikoordinasi oleh lingkungan atau seksi masing-masing
      • Penimbangan sampah dilakukan di paroki
      • Menyalurkan hasil finansial dari penjualan sampah kepada lingkungan dan kategorial di paroki

Walau diiming-imingi keuntungan finansial, ternyata kata “sampah” bukan sesuatu yang menarik bagi banyak umat. Habitus memilah sampah rumah tangga belum menjadi habitus umum dari kita. Hal ini terbukti dari sosialisasi perdana kegiatan bank sampah di paroki yang kurang direspon dengan baik oleh umat, tetapi semangat Legio Maria adalah teguh dan pantang menyerah. Legioner melanjutkan sosialisasi lebih gencar hingga beberapa kali sosialisasi baik di paroki dan lingkungan.

Pelaksanaan Kegiatan Bank Sampah
Kegiatan bank sampah ini, kami beri nama SAMBER (Sampah Menjadi Berkat). Pastor paroki memberikan target agar kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan dalam rangkaian HUT ke-80 tahun Paroki St. Petrus & Paulus yang jatuh pada Januari 2020. Kegiatan perdana SAMBER pada Minggu (22/02/2020) (berdekatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari).

Awalnya Romo dan kami cukup ragu dan pesimis; Apakah ada umat yang setor sampah? Jangan-jangan truk sampah yang disediakan Pemprov hanya terisi 10% dari kapasitas, dan sebagainya.

Puji Tuhan, ternyata cukup banyak partisipasi umat dan menyetorkan sampah anorganik lewat pengurus lingkungan/ kategorial dan dibawa ke paroki. Terkumpul sampah anorganik sebanyak satu truk, 1,73 ton sampah, atau keuntungan finansial sebesar Rp 2.830.000,00. Dana tersebut dikembalikan kepada lingkungan/ kategorial sesuai jumlah sampah yang disetor dan dapat dipakai untuk kegiatan lingkungan (ziarah, solidaritas umat dan lainnya).

Kegiatan ini rencananya dilaksanakan dua kali setiap bulan, antusiasme umat semakin besar. Akan tetapi karena pandemi Covid-19, kegiatan bank sampah ini terhenti sementara. Namun kami yakin dan terus mendorong habitus pilah sampah dari lingkup keluarga sudah mulai terwujud. Sementara sampah anorganik belum dapat dibawa ke paroki, tetapi umat dapat memberikan kepada pemulung dan menjadi bentuk belarasa.

Semangat dan inspirasi bagi legioner
Jangan takut dan bersukacitalah ketika Legio Maria dikenal sebagai “Legio Maria kok jadi tukang sampah?”. Justru di sinilah Legio Maria berperan aktif mewujudkan kepedulian pada lingkungan hidup seperti seruan Paus Fransiskus dalam ensiklik “Laudato Si” dan Bapa Uskup KAJ – Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, yang mengatakan “Saatnya adil pada lingkungan, mengubah cara berpikir orang soal sampah, yakni sampah bukan untuk dibuang. BUATLAH SAMPAH MENJADI BERKAH.”

*Jika membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi narasumber di jeny.triratna@gmail.com

Tim Kerja Senatus – Jangan Takut Untuk Bekerja

Bagi kebanyakan orang, tengah hari pas akhir minggu adalah saatnya rebahan di kasur tercinta sambil main hape. Tapi tidak demikian bagi 24 legioner yang diundang untuk menghadiri rapat karya tim kerja senatus di Rumah Doa Guadalupe – Duren Sawit, Jakarta Timur. Sabtu (15/2) siang, satu per satu dari mereka yang mewakili beberapa dewan baik tergabung secara langsung maupun tidak langsung mulai hadir untuk memenuhi panggilan khusus dari dewan senatus Bejana Rohani – Jakarta. Misi mereka hanya satu, membahas tiga bidang penting yang mencakup seluruh Indonesia Barat sebagai wilayah kerja dewan senatus Jakarta.

“Kami nggak bisa kerja sendiri. Delapan orang perwira senatus ngurusin 18 ribu legioner itu jelas nggak mungkin. Sementara sasaran kita bersama adalah bagaimana menjadi legioner yang bertumbuh, berbuah, dan berdaya pikat. Kami butuh bantuan teman-teman semua,” papar Elang Diawan selaku asisten pembimbing rohani (APR) dewan senatus Jakarta. Tiga bidang yang dirasa penting saat ini adalah bidang tata kelola, bidang pengembangan, dan bidang komunikasi. Tentu saja, masing-masing peserta diberi kebebasan untuk memilih bidang yang sesuai dengan kapasitasnya. Bidang Pengembangan dititik beratkan untuk memajukan kualitas Legioner,  bidang Tata Kelola bekerja untuk pengaturan organisasi dan bidang Komunikasi mengurus sarana-sarana komunikasi serta penyampaian informasi sampai ke seluruh Legioner di Senatus Bejana Rohani.

Tim Kerja Senatus 2020-2023

Dengan diberikannya surat keputusan pengangkatan dengan masa tugas 3 tahun oleh dewan senatus Bejana Rohani pada hari Minggu (1/3), maka pekerjaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Meskipun demikian para Tim Kerja Senatus yang disingkat menjadi TKS ini tidak menggantikan pekerjaan para perwira Senatus. Sepertinya sebuah quotes dari ibu Susi Pujiastuti dirasa pas untuk moment ini, “Jangan takut untuk bekerja. Jangan bekerja kalau takut”. Mari berjuang bersama untuk menjadi legioner yang bertumbuh, berbuah, dan berdaya pikat.

Menjadi Anak-Anak Maria

 

by : RP Markus Yumartana SJ.
Pemimpin Rohani Presidium-Presidium
di Katedral Jakarta


Seperti Maria yang tulus memberi persembahan diri,
begitulah semestinya menjadi anak-anak Maria yang sejati.

Seperti Maria yang taat sepenuh hati,
begitulah semestinya sikap hidup anak-anak Maria kini.

Seperti Maria yang memberikan rahimnya bagi Kristus, menyatukan hati dengan hati ilahi,
begitu jugalah semestinya anak-anak Maria yang terus menyambut Kristus dalam Ekaristi setiap hari.

Seperti Maria memiliki kelembutan yang manis untuk menabur persaudaraan sejati,
begitulah semestinya anak-anak Maria hidup dan hadir memberi citarasa kasih yang merajut hati, bukan malah membawa keretakan relasi insani.

Seperti Maria memiliki kerendahan hati yang selalu membawa sakit dan luka di hati sebagai persembahan diri,
begitulah semestinya anak-anak Maria rela menanggung kelemahan sesama dengan pengampunan setiap hari.

Seperti Maria memiliki kesabaran menanggung luka dan derita Putera-Nya,
demikian pula anak-anak Maria siap di garda depan bersama Gereja-Nya yang berjuang demi kerukunan dan perdamaian di tengah perpecahan dunia.

Seperti Maria yang memiliki keberanian iman di tengah ketidakpastian masa depan,
begitulah semestinya anak-anak Maria berani setia mengandalkan iman dalam doa-doanya bagi kebaikan sesama.

Sebab, Maria telah mengandalkan cinta Tuhan di atas segala-galanya,
maka anak-anak Maria pun semestinya tak jemu mengandalkan cinta Tuhan di atas kepentingan dirinya.

Scroll Up