Para legioner, tanggal 29 Maret 2018 kita merayakan hari jadi Senatus Bejana Rohani ke-31. Tanggal itu bertepatan dengan perayaan agung Kamis Putih di mana kita dan seluruh umat Katolik di dunia bersekutu hati memulai masa Tri Hari Suci mengenangkan pengurbanan Tuhan Yesus Kristus.
Membicarakan kehidupan Yesus sesungguhnya membicarakan kehidupan Bunda Maria. Pada tulisan ini saya mengajak Anda untuk merenungkan pengurbanan Yesus dengan penglihatan Bunda Maria.
Seperti kita ketahui, Bunda Maria merupakan satu-satunya pribadi yang paling mengerti kehidupan Yesus Kristus. Sebagai ibu yang melahirkan, merawat, dan mendidik Yesus selama 24 jam dalam sehari selama 33 tahun, tentu Bunda Maria benar-benar mengerti siapakah Yesus. Bunda Maria memahami Yesus bukan sekedar karena pengajaran kataketik melalui guru sekolah atau membaca melalui laman-laman internet. Nah, bila St. Paulus saja bisa menjadi rasul yang sangat hebat karena mendengarkan pengajaran orang dan mengalami peristiwa mujizat, betapa Bunda Maria menerima mengajaran yang jauh melebihi Paulus. Sungguh Bunda Maria bukan hanya seorang ibu namun juga menjadi murid pertama Yesus – bahkan murid yang sempurna melebihi murid-murid Yesus di kemudian hari.
Dengan memahami prinsip ini maka beruntunglah kita sebagai devosan Maria karena kita bisa dengan mudah belajar dari Maria bagaimana mencintai Yesus. Kita tak perlu meraba-raba atau me-reka-reka bagaimana mencintai Yesus yang mungkin justru membawa kita pada kekeliruan teologis. Namun kita bisa secara sederhana meniru sikap Bunda Maria secara kongkrit. Sikap hidup Bunda Maria mampu membawa kita pada pengertian bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar manusia dan benar-benar Allah. Bunda Maria memperlakukan Yesus bukan sebagai anak biologisnya semata namun juga menghormatinya sebagai anak Allah.
Bertepatan dengan ulang tahun Senatus Bejana Rohani yang ke-31, kita mengenangkan puncak ketotalan cinta Allah melalui pengurbanan Yesus. Allah tak berhemat sedikitpun dalam mencintai manusia. Allah memberikan semuanya, bahkan seluruh pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar agar kita semua dapat masuk dan tinggal di dalamnya. Allah mau seluruh manusia kembali ke rumah sukacita dan tiada satu orang pun tercecer menikmati pesta abadi-Nya. Namun semua itu harus terjadi melalui cara yang menyayat hati manusia.
Pada peristiwa paskah ini kita menyaksikan Bunda Maria mengalami puncak penderitaannya. Bayi elok menawan serba menggemaskan bernama Yesus yang 33 tahun sebelumnya yang ditimang digendong penuh peluk cium, kini tubuh yang sama harus dihajar-tuntas dengan cambuk sulur-sulur besi bergerigi; dan akhirnya harus mati dengan cara Yahudi yang paling menjijikkan (hina) pada waktu itu, yakni direntangkan di kayu salib bermandi darah. Kita mengetahui bahwa hukuman salib (qisas) bukan hanya sekedar untuk membunuh badan, namun juga mempermalukan dia yang dibunuh dan keluarga yang ditinggalkannya. Sungguh hukuman yang super maksimal.
Mari kita merenungkan dan mengambil posisi sebagai Bunda Maria! Bagaimana perasaan kita? Tentu kita akan merasakan kepedihan luar biasa menyaksikan anak sendiri yang begitu baik dan kudus didakwa menistakan agama (Yahudi) lalu dibunuh. Namun Bunda Maria sebagai murid Yesus belajar untuk taat pada kehendak Allah Bapa, membiarkan Allah melakukan segala hal atas hidupnya walau hal itu tidak masuk akal sehat dan terasa sangat menyakitkan. Saya pribadi meyakini saat itu Bunda sebagai wanita mengalami ‘kegalauan iman’ yang sangat dahsyat seperti yang dialami Yesus sendiri melalui kata-kata pilu-Nya “Eloi-Eloi, lama sabakhtani..!”. Bunda tentu merasa seolah-olah Allah pergi jauh meninggalkannya.
Namun kegalauan itu berubah menjadi kekuatan karena Bunda berserah menerima hal itu sebagai sebuah ketetapan. Tentu Bunda Maria teringat kata-kata Nabi Simeon ketika menerima bayi Yesus di bait Allah beberapa waktu setelah Yesus dilahirkan. Simeon mengatakan bahwa Bayi itu kelak akan menimbulkan perbantahan, dan sebuah pedang akan menembus jiwa Bunda Maria. Dan inilah waktu yang dimaksud Simeon: hari penyaliban Yesus. Bunda Maria memiliki iman bahwa peristiwa maha pahit itu harus terjadi sebelum hal-hal yang indah akan terungkap di kemudian hari, di tengah derai air mata ia mau menerima kenyataan penyaliban itu sebagai proses pengudusan diri baginya dan para anggota komunitas umat manusia. Bayangkan bila Bunda Maria menolak untuk taat, tentu tak akan pernah ada gelar Maria Bunda Gereja, Maria Bunda Allah, Maria Pengantara Segala Rahmat atau yang lain.
Paskah tentu saja bukanlah sebatas mengulang liturgi Gereja tahun-tahun sebelumnya (ketaatan sistem), namun merupakan pendalaman terhadap pengenalan akan hakekat Allah yang cintanya tak bisa dibandingkan dengan apa pun – termasuk cinta orang tua kita sendiri. Liturgi boleh sama dan akan selalu sama dari tahun ke tahun, namun kita diharapkan untuk mampu mencercap hakekat misteri agung ini semakin dalam daripada waktu-waktu lalu; Sehingga akhirnya kita sampai pada titik di mana mampu dengan jiwa tulus total tanpa kepalsuan mengatakan: “Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku”.
Di ulang tahun yang ke-31 ini marilah kita bersama mengupayakan pertumbuhan batin untuk lebih teguh kukuh mencintai Yesus dengan belajar bagaimana Bunda Maria mencintai Yesus. Pada masa kini Tubuh Kristus hadir sebagai Gereja Kudus. Seturut teladan Bunda Maria yang mencintai Yesus, maka kita harus menunjukkan ketotalan cinta pada Gereja. Semangat yang mendasari karya komunitas Legio Maria adalah mencintai Gereja. Oleh sebab itu marilah kita merefleksikan diri sejauh mana kita beperan dalam setiap keprihatinan (derita Gereja) terkait dengan pelayanan pastoral evangelisasi-nya? Semoga kita bukan malah sibuk ber-legio demi legio sendiri sehingga kita tidak cukup mendengar suara Gereja yang memanggil-mangggil kita agar masuk barisan perjuangan Gereja melawan kuasa dunia.
Sahabat, mari bersama kita masuk ke hati Bunda Maria yang terdalam, bersama Bunda kaki bergerak mengikut Yesus yang tertatih-tatih meniti jalan-jalan berbatu memikul salib kematian-Nya sendiri yang begitu berat; Mari hadir bersama di puncak Kalvari – di mana Ekaristi Agung dilaksanakan oleh Allah sendiri, dengan pengurbanan Tubuh dan Darah Anak Domba terbaik.
Biarlah pedang tajam yang menusuk jiwa Bunda tersebut.. juga menusuk jiwa kita… Memang memilukan……, menyakitkan…, tak tertahankan…
Tetapi biarlah itu terjadi
Agar kita semua tahu betapa sakitnya Anak Manusia menanggung sengsara atas nama…. cinta!
Sdr. Octavian Andreas Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani – Indonesia Bagian Barat.
Suasana yang penuh dengan sukacita begitu terasa pada hari-hari terakhir menyambut Natal 2017 dan Tahun Baru di Paroki Santo Yohanes Pemandi, Pahauman, Keuskupan Agung Pontianak, pedalaman Kalimantan Barat. Dengan ceria anak-anak bergegas masuk ke Pasturan Paroki, menyalami dengan penuh sopan santun serta mengangkat tangan kanan saya untuk menyentuh kening mereka satu per satu, meskipun mereka tidak mengenal saya sama sekali, apakah saya kaum Klerus atau umat biasa yang sedang berkunjung.
Bingkisan kue-kue kering, berbagai minuman penyegar memenuhi meja ruang makan Pasturan. Semuanya adalah persembahan dari umat untuk Paroki Pahauman, khususnya anak-anak yang datang bermain di Pasturan. Suasana di Susteran pun tidak kalah indahnya. Kandang domba tempat Tuhan Yesus dilahirkan disertai berseberangan dengan bertoples-toples kue-kue kering buatan sendiri, minuman penyegar, dll.
Foto bersama seorang Pastor, dua orang Bruder dan satu pegawai Paroki, sesaat sebelum menuju ke stasi-stasi dengan kaos Legio Maria.
Pada malam Natal, saya bersama Bruder Cimes dan Koster pergi menuju ke salah satu Stasi/gereja kecil dengan jarak tempuh mobil lebih dari 1 jam perjalanan. Ibadat diadakan dengan pembagian Komuni Kudus. Umat terlihat sangat senang atas kedatangan Bruder Cimes, karena rata-rata mereka hanya mendapat kesempatan menerima Komuni Kudus satu hingga dua kali dalam setahun. Dalam perayaan, umat merayakan dengan penuh khidmat dan gembira, meskipun adanya kekurangan satu atau dua hal.
Setelah ibadat usai, secara tradisi dan kebiasaan, Bruder Cimes berkunjung ke rumah kepala Stasi dan disana telah dipersiapkan hidangan santap malam. Kami berbincang-bincang penuh keakraban dan persaudaraan. Anak-anak mereka ada yang sudah selesai kuliah dan bekerja di Jakarta, atau ada yang masih kuliah. Ini bagaikan sebuah reuni keluarga besar di kampung halaman mereka.
Pada tanggal 25 Desember kami menuju ke gereja kecil yang tidak terlalu jauh jaraknya dari Paroki. Disana pun ramai hingga banyak umat yang harus berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Seusai Ibadat kami berkunjung ke rumah kepala Stasi. Banyak sekali kerabat, keluarga, serta karyawan kepala Stasi yang ikut hadir dan menyantap bersama santapan siang. Penuh dengan kekeluargaan.
Pada suatu sore di lain hari, Bruder Cimes mengajak saya ke rumah panggung tradisional yang masih tersisa. Disana pun kami dihidangkan kopi, teh, kue-kue, dan gorengan oleh salah satu umat. Setelah itu kami singgah ke rumah yang lain dan dihidangkan lagi makanan. Kami berbincang-bincang penuh keakraban sambil bernostalgia tentang kehidupan mereka sewaktu masih muda di kampung.
Tidak kalah serunya suasana keakraban di Paroki setelah para Frater, Bruder, Pastor pulang dari Stasi yang rata-rata berjarak lebih dari 1 jam. Banyak stasi-stasi yang tidak masuk jaringan provider handphone, jadi para kaum Klerus harus menghafal peta dan meminta bimbingan Pastor senior yang sudah pernah ke Stasi tersebut.
Karena begitu akrabnya tradisi mengunjungi rumah kepala Umat/Stasi seusai Ibadat, sampai saya butuh istirahat dan absen beberapa kali dalam tour dengan Bruder Cimes. Sayang tidak semua Umat mendapat kunjungan seusai Ibadat setiap minggunya, dikarenakan jumlah umat yang begitu besar tidak proporsional dengan jumlah kaum Klerus yang dapat memberikan Komuni Kudus. Sebagai informasi, provinsi Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan jumlah umat Katolik kedua terbesar di Negara kita setelah Flores, sehingga para umat di pedalaman rata-rata menerima Komuni Kudus hanya satu hingga dua kali dalam setahun. Sebagian besar paroki hanya mempunyai sedikit Pastor yang melayani stasi-stasi/gereja kecil. Paroki Pahauman sendiri memiliki dua Pastor untuk melayani umat di 170 stasi.
Saya sangat prihatin melihat kondisi seperti ini, bagaimanakah dengan Saudara-Saudari apakah hati Saudara-Saudari tergerak untuk memberikan ide-ide sehingga umat di pedalaman Kalimantan Barat dapat menikmati Misa Kudus dan Sakramen-sakramen lainnya lebih sering?
Sebagai informasi: dua tahun yang lalu ada empat dari lima pelamar dari pedalaman Kalimantan Barat yang ingin masuk seminari namun terkendala oleh biaya.
Terima kasih. Salam hangat selalu,
Anson Presidium Stella Maris Sunter Jakarta & Neti Presidium Regina Angelorum Katedral Jakarta.
Narasumber: Diakon Rusdy & Bruder Cimes.
Anson Santoso adalah seorang legioner aktif di Presidium Stella Maris – Sunter. Pernah bergabung pula di Presidium Junior di SLTP Santa Maria Juanda.
Banyak pertanyaan yang membahas mengenai seberapa penting sakramen tobat bagi kita. Tidak jarang di era sekarang ini remaja bahkan orang dewasa mendapatkan pertanyaan yang menguji iman, seperti, “Toh manusia tidak luput dari dosa yang berarti dengan sakramen tobat tidak berarti menjamin manusia tidak akan terbebas sepenuhnya dari godaan dosa, yang pada akhirnya akan jatuh kembali dalam dosa itu sendiri bahkan tak jarang layaknya keledai yang sering kali jatuh dalam lubang yang sama.” Pertanyaan tersebut cukup menjamur dan menjadi alasan bagi sebagian orang beriman menunda dalam merespon pelayanan sakramen tobat dengan alasan diadakan rutin setiap tahun. Mirisnya, dalam kondisi yang sebaliknya, di tengah kehendak bebas manusia yang semakin menjerumuskan pemikiran bahwa jatuh dalam dosa adalah hal yang tidak terelakan, manusia seakan sangat mengandalkan pengakuan dosa “Yang penting masih akan ada pengakuan di gereja”.
Kehidupan yang semakin berkembang dengan banyaknya tuntutan dan kompleksnya keinginan manusia menjadikan sebagian besar orang akan lunak dengan kehendak bebas. Banyak hal yang menjauhkan orang dari Tuhan oleh karena keinginan duniawi. Manusia yang terus terjerat oleh sifat menunda-nunda semakin terbawa arus perkembangan global dan melupakan sumber dan asal manusia yang sesungguhnya.
Beragam cara pandang manusia dalam menanggapi dosa itu sendiri, tidak jarang rasionalisasi atas dosa sering terjadi dengan menganggap yang dilakukan adalah hal biasa dan dapat ditolerir. Lingkungan menjadi salah satu penyebab besarmya rasionalisasi yang dilakukan sebagai upaya menghilangkan perasaan bersalah.
Menurut Gereja Katolik, dosa sendiri dibagi menjadi dua kategori yakni dosa berat dan dosa ringan. Apapun kategori dosa tersebut tidaklah kurang dari perilaku yang menyakiti hati Allah, Efesus 4:31 “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.”
Di tengah tanda tanya dunia yang tidak ada batasnya, Gereja Katolik menawarkan sakramen yang mengantar manusia untuk kembali menemukan jalan dan berada pada keselamatan. Melalui doktrin tentang EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus) yang mana pengertiannya melalui Konsili Vatikan ke II diartikan sebagai “Keselamatan datang dari Kristus Melalui Gereja Katolik”, menjelaskan bahwa Gereja Katolik mengambil bagian dalam menuntun orang memperoleh keselamatan. Rumusan ini didasarkan pada Yohanes 14:6 (Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”). Kristus sebagai Kepala Gereja, Kristus tidak pernah terlepas dari Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya.
Setiap orang membutuhkan asupan gizi secara rutin dan teratur untuk menjaga kebugaran jasmaninya, begitu juga orang membutuhkan bimbingan rohani serta penitensi dalam sakramen tobat sebagai asupan rohani agar tetap menjaga kebutuhan rohaninya. Bukan hanya soal dosa apa yang telah diperbuat sehingga membutuhkan sakramen tobat, akan tetapi seberapa mampu kita dapat merendahkan hati bahwa kita manusia yang berdosa. Merendahkan hati membutuhkan penyadaran diri, dimana yang mana prosesnya melalui penelitian batin. Penelitian batin adalah sikap yang paling mendasar dan penting.
Dalam perjalanannya, sakramen tobat sering juga disebut dengan beberapa nama atau sebutan lain yang mana melalui istilah yang ada terkandung makna dari sakramen tobat itu sendiri. Beberapa sebutan atas sakramen tobat antara lain :
1. Sakramen Tobat
Penyebutan sakramen tobat didasarkan pada konsili vatikan ke II (lih. Sacrosanctum Concilium, No. 72; Lumen Gentium, No. 11). Dalam penyebutan sakramen tobat hal yang mau ditekankan ialah tobat dan orang beriman yang bertobat.
2. Sakramen Pengakuan Dosa
Dalam penyebutan sakramen pengakuan dosa hal yang mau ditunjukan adalah orang yang mau bertobat menyatakan sikap tobatnya kepada Allah. Dengan kejujuran serta kerendahan hati mau mengakukan dirinya sebagai orang yang berdosa dan membutuhkan kerahiman Allah.
3. Sakramen Pengampunan Dosa
Disebut sebagai sakramen pengampunan dosa karena dosa-dosa yang telah di akukan dengan penuh kejujuran dan kerendahan hati melalui absolusi imam secara sakramental telah diampuni oleh Allah sendiri.
4. Sakramen Pendamaian (rekonsiliasi)
Melalui pengampunan yang diterima oleh pentobat, Allah sendiri memperdamaikan pentobat dengan Diri-Nya dan Gereja. Berdasarkan Lumen Gentium, No. 11 “mereka yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan Allah adalah ungkapan cinta-Nya yang mendamaikan”. Sesuai dengan 2 Korintus 5:20 “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah”.
5. Sakramen Penyembuhan
Melalui sakramen tobat kita diberikan rahmat penyelamatan dan penyembuhan atas jiwa dan raga.
Gereja sebagai Tubuh Kristus memberikan kesempatan setiap orang untuk dapat bertobat melalui sakramen tobat yang merupakan sarana kehadiran Tuhan dalam diri kita yang mengembalikan kita ke jalan keselamatan. Dalam pengakuan dosa orang dapat mengalami dan merasakan buah-buah rohani seperti pendamaian dengan Allah karena relasi kasih dengan Allah, pendamaian dengan sesama, disembuhkan secara utuh dari luka batin, pembebasan dari siksa abadi, dan menagalami ketenangan hati nurani (kedamaian hati).
Memperbaiki relasi dengan Allah adalah kebutuhan bagi manusia. Penyadaran diri merupakan hal yang patut dilakukan dalam perjalanan kehidupan sehari-hari. Bagi umat katolik dalam menyambut, memperingati ataupun merayakan kesempatan-kesempatan tertentu melalui penyadaran kelemahan diri dengan penelitian batin merupakan hal yang patut untuk dipupuk. Masa prapaskah, ketika umat Katolik berada dalam masa penyangkalan diri, adalah kesempatan baik untuk meneliti batin dan memperbaiki diri. Dengan adanya sakramen tobat kesempatan ini menjadi lebih istimewa karena dalam usaha menyadari setiap kelemahan dan keberdosaan kita, Tuhan mau hadir dalam diri dan hati kita melalui sakramen tobat sendiri.
Bagaimana persiapan kita dalam menerima sakramen tobat sehingga dengan utuh kita dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita ?
Dalam melakukan pengakuan dosa hal yang paling pertama untuk diperhatikan adalah ketepatan waktu kehadiran di tempat pengakuan, hal ini akan sangat membantu kita untuk dapat memeriksa suara hati secara teratur dan menyeluruh sebelum masuk ke ruang pengakuan. Berbicara dengan artikulasi yang jelas, namun tidak berarti sampai mengeluarkan suara terlalu keras. Mengakui semua dosa yang pernah dilakukan secara tulus, kemudian mendengarkan nasehat maupun penitensi dari pastor/romo. Jangan meninggalkan ruang pengakuan dosa sebelum imam menyelesaikan absolusi. Kemudian kita laraskan doa tobat, dan setelah menerima rahmat pengampunan dalam sakramen pengakuan dosa, sedapat mungkin untuk segera memenuhi penitensi yang diberikan oleh imam di luar bilik pengakuan. Sangat dianjurkan bahwa setelahnya kita dapat mendoakan doa syukur atas pengampunan (PS. 27) dan Madah “Allah Tuhan Kami” (PS. 28)
referensi: Katolisitas.org, carmelia.net
Ignas Permenas Gumansalangi adalah legioner presidium Maria Mater Dei Binus, Kuria Cermin kekudusan – Kampus.
Ujian terberat bagi saya selama menjadi legioner adalah kebosanan terhadap ritual rapat dan doa. Pada saat itu selain menjadi legioner, saya juga aktif mengikuti beberapa pelayanan lainnya seperti PD Kharismatik, Sel, Choice, Koor, pembina BIA dan BIR, Lektor, Pemazmur. Saya merasa kegiatan lain jaaauuhhh lebih menarik dan lebih asyik karena tidak banyak melakukan doa ataupun rutinitas seperti Legio Maria. Setelah beberapa lama saya merasa bosan karena tidak merasakan manfaat apa-apa dari ritual doa dan rapat. Saya pikir ini karena saya tidak memahami tujuan dan maksudnya, akhirnya rapat dan doa tidak lagi menjadi prioritas saya. Apabila ada alasan untuk terlambat rapat, saya senaaaaang skali. Lumayan lah….rosarionya tinggal separuh jalan. Pada saat itu saya berpikir yang penting pelayanannya dan tugasnya saya jalankan dengan baik. Apabila ada kegiatan atauu aktivitas lain yang lebih menarik maka saya bolos rapat dengan berbagai alasan. Bagi saya pribadi, alasan-alasan tersebut menjadi pembenaran untuk menghindari rapat dan doa yang menurut saya sangat membosankan.
Hal ini berlangsung cukup lama, sekitar dua hingga tiga bulan. Hingga suatu saat, pada saat rapat, Frater pembimbing rohani yang sekarang sudah menjadi Pastor, menceritakan kesaksiannya mengenai kuasa doa. Beliau sharing bagaimana beliau bergumul tentang suatu hal dan doa menjawab kebimbangannya. Bagaimana kejenuhan beliau atas rutinitas di biara dipulihkan melalui kuasa doa. Bagaimana beliau merasa semakin dekat dan semakin peka terhadap kehendak Allah. Intinya beliau menjelaskan bahwa doa rosario dan rutinitas lainnya adalah nyawa dari segala bentuk pelayanan. Apabila kita kehilangan nyawa maka segala jenis pelayanan apapun bentuknya menjadi sia-sia. Awalnya saya merasa cerita ini sangat klise, terlalu alkitabiah dan terlalu rohaniah sehingga saya berpikir, frater kurang realistis. Saya penasaran ingin mengetahui lebih detail lagi apa yang benar-benar frater rasakan sebagai manusia biasa, bukan sebagai calon imam. Maka selesai rapat saya menghampiri frater dan meminta waktu untuk berbincang-bincang secara pribadi dengan beliau yang ditanggapi dengan penuh sukacita. Reaksi frater ini membuat saya sedikit heran karena sepertinya sukacita yang frater tunjukkan seperti orang yang sedang menemukan barangnya yang hilang.
Hal pertama yang saya tanyakan adalah : “Frater, mengapa frater memilih topik ini untuk dibahas dalam rapat? Apakah ada alasan tertentu yang membuat frater memilih topik ini?” Kemudian Frater menjawab sambil tetap tersenyum : “Tadi pada saat doa pagi dan bermeditasi, saya mendoakan seluruh anggota Legio Maria bimbingan saya. Kemudian pada saat hening, saya merasa seperti ada yang mengingatkan bahwa ada Legioner yang perlu mendengar kesaksian saya mengenai kuasa doa. Dia sedang merasa jenuh, bosan dan tidak mengerti, belum dapat memahami apa manfaat dari doa dan rutinitas rapat Legio, sehingga menjadi semacam beban bagi Legioner itu.”
Saya terdiam untuk beberapa saat. Jawabannya sangat mengejutkan bagi saya yang saat itu sangat-sangaaaat jarang berdoa. Kemudian saya bercerita bahwa setiap kali berdoa rosario dan mendengarkan firman, saya merasa mengantuk, seperti waktu SD mendengarkan penjelasan guru di kelas. Walaupun tahu bahwa apa yang dijelaskan adalah hal yang baik dan benar juga wajib kita ketahui, tapi tetap saja semua itu terasa begituuuuu membosankan dan rasanya hanya buang-buang waktu saja. Kemudian frater bertanya, apakah pada saat kuliah saya masih merasakan apa yang saya rasakan pada waktu SD? Hhhmmm…..kemudian saya menjawab : “Kadang-kadang, sih, tapi sudah jarang karena mata kuliah di kampus menurut saya jauh lebih menarik daripada mata pelajaran waktu SD.”
Frater menjawab, pernahkah terpikir olehmu bahwa itu bukan karena mata kuliahnya lebih menarik daripada mata pelajaran di SD, tapi karena pola berpikirmu yang sudah jauh lebih dewasa dalam mengevaluasi materi pembelajaran? Demikian pula dalam hal iman…. Semakin kita dewasa dalam iman, maka semakin dalam pemikiran kita pada saat kita membaca firman ataupun berdoa, sehingga pada akhirnya kita akan bertumbuh dan semakin bijak dalam mengevaluasi Firman serta pentingnya berdoa. Kedua hal itulah yang dapat mendekatkan diri kita pada Allah, membuat kita semakin mengerti dan memahami apa sebenarnya yang jadi kehendak Bapa, bukan kehendak kita. Dengan itu juga kita dapat menyaring dan memilah, tidak memakai kehendak Allah sebagai alibi maupun pembenaran atas hal-hal yang salah dan menyesatkan. Berdoa dan mendengarkan Firman adalah makanan rohani yang paling mendasar.
Bagaimana kita dapat memiliki energi yang cukup untuk berkarya apabila kita jarang berdoa dan mendengarkan Firman? Bagaimana saya bisa membedakan kehendak saya sendiri dari kehendakNYA tanpa berbincang dan bertanya pada Allah? Bagaimana kita dapat memahami dan menyadari untuk apa kita ada disini, melakukan pelayanan?Saya pun langsung terdiam karena bagi saya kata-kata frater tadi sangat dalam dan mengena.
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi PR perenungan saya sampai saat ini.
Apakah saya sudah dewasa dalam iman?
Apakah saya sudah cukup dekat dengan Allah untuk memahami apa yang jadi kehendakNYA?
Apakah alasan dan tujuan pelayanan saya sudah benar? Bukan semata-mata karena keasyikan dan kepuasan saya saja? Seringkali saya menetapkan tujuan awal hanya untuk memuaskan diri sendiri. Saya mencuri kemuliaan Allah! Anda?
Menjadi anggota koor bisa dikatakan menjadi konsistensi pelayanan yang bisa saya berikan hingga saat ini. Selain karena memang suka bernyanyi, saya juga merasa memuji Tuhan dengan nyanyian merupakan wujud ucapan syukur yang paling pribadi yang dapat saya persembahkan demi kemuliaan Allah. Mulai dari koor Legio, koor Laudate, koor anak-anak, koor lingkungan dan koor wilayah, semuaaa saya ikuti. Beragam pengalaman berbeda juga sudah saya alami. Pada saat itu sebagai anggota koor Laudate yang sebagian besar anggotanya sangat konsisten dan berlatih secara profesional, sampai bisa ke Roma untuk mengikuti Choir Competition, saya mengalami jetlag dengan kondisi yang jaaauuuuuh berbeda di koor Legio Maria.
Pada saat itu Koor Legio meminta saya untuk membantu melatih dan menjadi dirijen mereka. Melatih Koor memiliki beban yang jauh berbeda dari hanya sekedar menjadi anggota. Apalagi anggota koor Legio pada saat itu sangat-sangat tidak konsisten dalam berlatih, sering tidak hadir pada saat latihan, mengeluh apabila harus latihan agak lama dan sibuk membicarakan hal-hal lain selama berlatih. Sedangkan apabila pada saat tampil jelek, maka saya merasa saya harus menanggung malu karena berdiri di depan sebagai dirijen dan dilihat oleh umat. Walaupun tugas itu saya terima dan saya mencoba menjalankannya dengan baik, tapi tetap saja saya banyak berkeluh kesah pada Wawan, sang ketua koor legio. Akhirnya saya menjalani semua itu dengan berat hati, karena merasa hanya saya dan ketua yang harus memikul beban dan tanggung jawab ini. Sementara hanya sedikit dari anggota Koor Legio yang sungguh-sungguh peduli dan sungguh-sungguh berlatih. Kebanyakan hanya menjalankan latihan sebagai sebuah rutinitas mengisi waktu dan menjalin relasi dengan teman-teman sesama Legioner.
Sekali waktu, selesai bertugas dalam misa, Pastor Paroki yang terkenal cukup ahli dalam bernyanyi dan mengaransement lagu, menghampiri tempat koor lalu berkata : “Terima kasih yaaa…..sudah lebih baik dari sebelumnya, latihan lagi supaya lebih baik lagi yaaa…. “ Kira-kira begitulah yang diucapkan Pastor Boogartz. Saat itu saya merasa itu bukanlah suatu pujian, tapi merupakan dorongan semangat untuk bisa lebih baik lagi. Tapi yang saya tangkap menjadi berbeda, merasa gagal, malu, sedih….saya merasa sudah berusaha sebaik mungkin tapi tetap saja hasilnya kurang memuaskan dan tidak sebaik yang saya harapkan. Saat itu saya sangat arogan dan menilai bahwa ini semua terjadi karena ketidakseriusan anggota-anggota dalam berlatih. Saya merasa kecewa dan putus asa….merasa apa yang sudah saya lakukan, waktu, tenaga,usaha….semuanya sia-sia! Rupanya perubahan mimik muka saya ditangkap dengan baik oleh Ketua. Pada saat yang lain sudah pulang, seperti biasa kita berdua bersama-sama membereskan partitur. Tiba-tiba Wawan menepuk bahu saya sambil berkata : “Semangat yaaa…. kita sudah lebih baik dari sebelumnya, pastor pun mengakui hal itu. Tidak ada yang sia-sia, OK?” Lalu saya bertanya, apa yang membuat dia selalu bersemangat untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan koor; selalu datang latihan walaupun tidak terlalu bisa bernyanyi, selalu menyemangati dan mengajak teman-teman sebanyak mungkin untuk bergabung, sementara anggota yang lain banyak yang tidak peduli, banyak juga yang tidak hadir saat tugas tanpa memberi kabar, sehingga tidak jarang kita bertugas hanya tiga suara, tanpa tenor, atau tanpa bass, atau tanpa alto. Saya merasa hanya berjuang berdua saja, tidak mendapat support dari anggota yang lain, sedih, capek,….
Foto diambil dari dailymightsoul.files.wordpress.com
Lalu Ketua Koor bilang begini : “Saya hanya merasa Gereja membutuhkan kita, sejelek apapun koor kita, jauh lebih baik daripada tidak ada koor yang mengisi di dalam misa. Semua yang kita lakukan bukan untuk mendapatkan penghargaan ataupun pujian, tapi kita bernyanyi untuk kemuliaan Allah, makanya saya selalu berusaha memberikan yang terbaik. Waktu yang saya sisihkan bukanlah waktu luang, tapi waktu yang diluangkan untuk Tuhan. Tenaga, pikiran yang diberikan juga bukanlah sisa dari kegiatan lain, tapi menjadi yang utama, supaya bisa memberikan yang terbaik menurut Allah, bukan menurut penilaian orang-orang. Jangan berharap orang lain menyemangati kita, tapi kita harus jadi penyemangat bagi orang lain. Always leading by doing….karena dalam prosesnya, saya yakin dengan itu akan semakin banyak teman-teman yang terpanggil untuk melayani dan berkarya di ladang Tuhan. Kalau kita tidak bisa membangkitkan jiwa melayani, setidaknya janganlah menjatuhkan semangat orang lain. Jugan pernah menuntut ataupun menunggu orang lain yang memulai, selalu mulailah dari diri kita sendiri.”
Kata-kata Ketua Koor Legio begitu mengena dan menohok saya pada saat itu hingga masih saya ingat sampai sekarang.
Apakah saya menjalankan rutinitas latihan hanya semata-mata sebagai rutinitas saja??
Lalu apa bedanya saya dengan anggota koor yang datang hanya untuk bersosialisasi dan mencari teman??
Pada saat saya merasa bosan….jenuh…dengan segala rutinitas latihan, apakah saya ingat tujuan awal saya mengikuti kegiatan ini??
Apakah rutinitas menjatuhkan atau justru menguatkan saya?? Apa yang saya cari ?? Apa yang anda cari??
Victoria Suvi Tendiana Lili adalah salah seorang trainer pada LDK Senatus Bejana Rohani 2018. Beliau pernah menjadi legioner di Bandung dan kini aktif sebagai pendidik dan praktisi pengembangan diri.
Banyak orang melakukan sesuatu tanpa dasar maupun tujuan yang jelas. Bahkan ada yang tidak memiliki tujuan sama sekali. Atau memiliki tujuan, tapi salah! Bagaimana kita bisa tahu kalau tujuan kita salah? Ketika kita bangga dengan apa yang kita lakukan tapi kita merasa bahwa semua itu karena kehebatan kita. Ohhhh….I’m so powerful !! I’m sooo smart !! Coba kalau tidak ada AKU, mana bisa sukses?? Pada saat kita merasa hebat, kita tidak akan mau belajar, kita akan sulit untuk menerima pendapat, kritik maupun masukan!! Di saat itulah kita akan menutup diri kita dari berbagai hal positif yang dapat membuat kita bertumbuh dan jadi lebih baik. Itulah yang saya alami selama menjadi laskar Kristus. Saya menjadi arogan! Saya menjadi bodoh! Saya menjadi sombong! Semua itu karena saya merasa saya tahu dan bisa melakukan segalanya!
Dulu saya berpikir, hobi saya dalam berorganisasi membuat saya menjadi pribadi yang baik, saya menjadi lebih cerdas daripada teman-teman lainnya, saya menjadi lebih populer karena mengenal dan dikenal banyak orang. Saya pikir ini adalah tujuan yang baik. Sampai pada suatu saat saya mengalami kelelahan mental dan fisik. Terutama mental! Pelayanan hanya sekedar menjalankan tugas, tanpa memiliki makna apapun bagi perkembangan pribadi saya. Hal-hal yang saya nikmati hanya yang bersifat kebahagiaan semu, seperti pujian dan ucapan terima kasih dari orang-orang yang saya bantu, sampai saya lupa, mengapa saya ada disini?? Untuk APA?? Untuk SIAPA??
Pengalaman bertugas pertama kali adalah yang paling berkesan bagi saya. Pada saat itu saya didampingi legioner senior untuk pergi mengunjungi tempat pemulung di belakang Jalan Sunda, Bandung. Pemulung yang kita kunjungi pada waktu itu berusia sekitar 55 thn, muslim dan berperan sebagai bandar sampah-sampah plastik di wilayah itu. Waktu hampir tiba di lokasi, tiba-tiba terciumlah bau tajam yang sangat menyengat. Saya rasanya ingin muntah. Bahkan bau itu masih tercium sewaktu saya mencoba menutup hidungku dengan tangan. Lalu saya bertanya pada senior saya dengan perasaan kesal karena berpikir kita kurang persiapan. Masa legioner senior yang sudah sangat berpengalaman tidak berpikir untuk membawa masker?? Aaahh…. ternyata Legio Maria itu bukan oranganisasi profesional yang keren seperti yang kubayangkan. Kekecewaan pun muncul.
Karena lokasi parkir motor tidak jauh dari bedeng tempat pemulung yang kita kunjungi, senior saya itu menjelaskan sekilas dengan berbisik bahwa kita harus menghormati perasaan orang-orang yang bekerja disitu dan dia memberitahu saya untuk bernafas melalui mulut. Alamaaaakk…. Pertimbangan macam apa pula ini?? Walaupun hati kecil saya membenarkan penjelasan singkat itu, tapi saya terlalu sombong untuk menerima bahwa itu adalah cara yang benar. Menurut saya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghormati orang lain.
Ilustrasi. (Foto diambil dari thepeninsulaqatar.com)
Setelah parkir kita lalu menyapa dan bersalaman dengan orang-orang yang sedang bekerja tanpa sarung tangan. Bayangkan!! Mereka yang bersalaman dengan saya saat itu sedang memilah sampah! MEMILAH SAMPAH!! Reflek saya mencari keran ataupun sumber air untuk mencuci tangan! Dan kalian tahu apa yang saya lihat saat itu?? Saya melihat beberapa orang yang sedang mencuci gelas di sebuah ember kecil yang berisi air berwarna kekuning-kuningan. Saya tidak tahu dari mana mereka mendapatkan airnya itu!
Di tengah pikiran yang masih berkecamuk, senior saya menghampiri seseorang lalu duduk di kursi kotor yang sudah rusak di depan sebuah bedeng. Karena pintu bedeng itu terbuka, saya dapat melihat satu buah kasur kapuk yang sudah sangat tipis dan satu buah meja tua reyot yang kecil. Salah satu dari kaki meja itu tampak miring dan tidak lurus seperti ketiga kaki lainnya. Lalu pemulung itu mengambil meja kecil itu untuk menaruh gelas air yang disuguhkan kepada kami. Hhmmm…. air apa itu ya kira-kira? Warnanya seperti teh, tapi sangat bening untuk ukuran air teh yang saya tahu. Apakah cukup aman untuk diminum?? Apakah mereka akan tersinggung kalau tidak saya minum?? Pada saat saya masih sibuk dengan berbagai pikiran yang ada di kepala saya, senior saya dengan santai berbincang-bincang sambil memperkenalkan saya sebagai anggota baru Legio kami. Tibalah saat dimana kami dipersilahkan untuk minum. Waduuh!! Apa yang harus saya perbuat?? Hal terbaik yang bisa saya lakukan saat itu hanya mengucapkan terima kasih.
Lalu seniorku bertanya : “Apakah ada yang bisa kami bantu, Pak?” Lalu saya memandangnya dengan bingung sambil berpikir, apa yang bisa saya lakukan di tempat ini?? Untuk bernafas melalui mulut saja sudah sangat sulit, apalagi melakukan itu sambil memilah sampah. Ya Tuhan….!! Lalu pemulung itu bilang, kebetulan hari itu ada beberapa pekerja yang masih berkeliling sehingga mereka perlu bantuan untuk memilah botol-botol dan gelas-gelas plastik yang akan ditimbang. Oh my God !! Apa saya tidak salah dengar?? Saya termenung sesaat, kemudian dengan sigap senior saya menarik tangan saya untuk mengikuti dia ke salah satu area dimana terlihat tumpukan sampah plastik yang cukup jauh posisinya dari tumpukan sampah organik lainnya. Pada saat itu saya sedikit merasa bersyukur karena area itu baunya tidak setajam di area parkir motor tadi. Ternyata disitu kami harus mengelompokkan botol bekas dengan tutupnya dan gelas plastik secara terpisah. Tentu saja kita harus melakukan itu tanpa sarung tangan. Ingin rasanya menghela nafas, tapi udara di sekitar tempat itu tidak akan memberikan kelegaan maupun meringankan beban yang saya rasakan saat itu. Perlahan-lahan saya mengikuti apa yang senior saya kerjakan. Akhirnya semua itu mampu menenangkan pikiran dan perasaan yang tidak karuan. Setelah kurang lebih 30 menit kami bekerja, tiba-tiba mulai turun hujan, lalu pemulung tadi memanggil kami untuk berteduh di bedeng tempat kami berbincang-bincang tadi dan mempersilahkan kami untuk minum. Karena lelah dan kehausan, akhirnya saya tidak memikirkan lagi apakah minuman tersebut cukup aman untuk diminum atau tidak. Ternyata betul, itu adalah teh manis dan rasanya tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya. Setelah hujan reda kami pun berpamitan. Pada waktu itu saya ragu apakah pilihan saya untuk menjadi legioner adalah pilihan yang tepat, ya? Apakah saya bisa menjalankan ini sebagai tugas rutin? Saya tidak merasa ada manfaat yang cukup berarti bagi mereka dengan kunjungan seperti itu. Kenapa kita tidak memberikan penyuluhan atau bimbingan agar mereka bisa lebih memperhatikan kebersihan dengan menggunakan sarung tangan, atau membuatkan saluran air bersih, menyumbang alat makan atau kasur atau meja dan kursi? Itulah beberapa pertanyaan yang saya ajukan pada senior saya pada saat melanjuntukan perjalanan menuju sebuah warung untuk makan siang. Disana kami makan sambil berbincang-bincang membahas kunjungan kami. Banyak pertanyaan yang saya ajukan, diantaranya: Apakah kunjungan seperti itu ada manfaatnya untuk mereka? Mengapa kita hanya berbincang-bincang serta membantu sekedarnya saja sehingga terasa seperti berbasa-basi? Apakah kita boleh membantu mereka dalam hal lain supaya mereka bisa dapat hidup lebih layak? Dan seniorku menjelaskan dengan sabar dan jelas sampai saya benar-benar paham dan mengerti.
Senior saya itu lalu menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tersisihkan dan sering terlupakan, sering dihina dan dianggap kotor, padahal jasa mereka sebetulnya sangat besar. Coba bayangkan tanpa orang-orang seperti mereka, sampah-sampah akan berserakan dimana-mana, masuk ke got sampai akhirnya menyumbat, sungai-sungai akan peeenuuuuhhh dengan sampah, banjir dimana-mana. Memaaaang siiiihh….sudah ada dinas kebersihan dari pemerintah untuk mengumpulkan sampah rumah tangga dan industri supaya kita tidak hidup di tengah tumpukan sampah. Tapi apa jadinya kalau tidak ada pemulung-pemulung itu? Dengan kebiasaan kita membuang sampah sembarangan, berpikir : “Aahh…hanya satu plastik saja koq yang dilempar ke sungai, aaahh… ini Cuma selembar tissue saja koq yang kubuang di pinggir jalan..” Lama kelamaan sampah yang mengalir ke laut menjadi semakin banyak dan menumpuk, global warming akan semakin parah dan semakin merusak. Senior saya menjelaskan bahwa dengan kehadiran kita, kita berharap mereka akan merasa lebih diterima di masyarakat. Mereka akan merasa terapresiasi, maka kita perlu menemui mereka dengan segala kerendahan hati, tanpa membahas masalah agama kecuali apabila mereka bertanya, menunjukan bahwa kita tidak berbeda dengan mereka. Bahwa kita itu SAMA. Sama-sama melayani tapi dengan bentuk yang berbeda. Bantuan yang kita berikan merupakan bentuk apresiasi terbesar terhadap apa yang mereka lakukan selama ini, jauuuuh melebihi kebutuhan materi yang sempat terlintas di pikiran saya tadi. Lalu senior saya juga bercerita bahwa pemulung yang berbincang-bincang dengan kita itu tadi adalah kepala/bandar sampah plastik yang cukup besar di Bandung. Dia memiliki lima orang anak yang semuanya bersekolah di perguruan tinggi negeri terkemuka yang tidak berhasil kami tembus. Pada saat itu dua di antaranya sudah lulus, dua orang masih kuliah dan yang bungsu baru saja diterima di ITB. Sya sangat terkejut. Dimana mereka tinggal? Karena saya tidak melihat ada bedeng lain disana. Ternyata keluarganya tinggal di sebuah rumah di komplek perumahan sederhana tapi sangat layak untuk dihuni. Melihat reaksi terkejut saya, senior saya bertanya, Apa yang membuat saya bisa menghargai seseorang? Apakah harta? Pendidikan? Penampilan? Sifat/karakter? Atau karya? Apa yang saya rasakan ketika harus menjadi bagian dari orang-orang seperti mereka? Apakah menurut saya ada gunanya melakukan pelayanan seperti ini? Apakah kesulitan dan tantangan akan membuatku mundur? Pertanyaan yang sama saya ajukan pada anda!
Bagaimana anda melihat diri anda sendiri?
Pengalaman tugas lain yang sangat berharga dan menjadi konflik batin di dalam diri saya untuk beberapa lama adalah tugas kunjungan umat. Pada saat itu umat yang kita kunjungi adalah seorang nenek tua berumur sekitar 85 tahun yang tinggal di sebuah gubug di gang sempit dekat rel kereta api Jalan Merdeka, Bandung. Gubug seluas kurang lebih 3m x 4m tersebut sangat sederhana, terlihat kumuh tepatnya. Di dalamnya hanya ada satu ranjang reyot dengan kasur kapuk yang sudah sangat tua, satu lemari baju kecil dari kayu, satu meja kecil yang sudah usang, dan dua kursi reyot di sampingnya. Dapur dan kamar mandi terletak di luar pintu belakang, seperti beranda kecil. Disitu hanya ada satu kompor minyak dan satu baskom dekil untuk mencuci. Kamar mandinya pun tidak memiliki bak mandi, hanya ada sebuah ember tua untuk menampung air dari keran dengan gayung yang sudah pecah-pecah.
Saat pertama mengunjungi nenek tersebut, saya melihat beberapa helai baju dan kain yang berserakan di kasur. Saya menduga baju-baju itu berfungsi sebagai selimut pada saat nenek itu tidur, karena saya tidak melihat ada selimut disitu, hanya kain batik yang tipis dan sudah belel. Pada kunjungan umat yang pertama saat itu, saya didampingi oleh Ketua Presidium. Setelah dipersilahkan duduk, dia langsung berbincang-bincang dengan nenek itu. Ada nada keceriaan yang saya tangkap dalam suaranya pada waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan ketua presidium kami, lalu dengan muka yang berbinar-binar beliau menunjukan foto kedua orang anaknya pada saya sambil bercerita, bahwa kedua anak laki-lakinya sekarang sudah sukses, yang sulung adalah seorang pengacara dan yang bungsu adalah seorang dokter. Anak sulungnya tinggal di daerah elit di wilayah Bandung Selatan, cukup jauh dari rumah nenek itu sehingga dia jarang berkunjung, sedangkan yang bungsu tinggal di kawasan elit daerah Bandung Utara, cukup dekat, tapi karena kesibukannya sebagai seorang dokter dia juga jarang berkunjung. Beliau berkata bahwa kasih Tuhan sungguh luar biasa karena dia tidak pernah membayangkan bahwa anak-anaknya bisa jadi orang sukses setelah beliau menjadi single fighter sejak anak-anaknya masih kecil. Dia bilang, dulu dia sempat menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Suaminya dipanggil Tuhan pada saat beliau masih cukup muda, sehingga beliau harus membanting tulang mencari nafkah untuk membiayai dan menyekolahkan anak-anaknya. Berbagai jenis pekerjaan pun sudah dilakukan dan tidak sedikit beliau mengalami kegagalan dan kepahitan.
Ilustrasi.
Saya berpikir, kenapa cerita yang cukup umum terjadi ini pada saat itu sangat mengusik batin saya, sehingga membuat saya berkaca-kaca mendengarkan cerita itu? Padahal kisah seperti ini sudah cukup sering saya dengar karena merupakan cerita yang cukup umum, banyak orang yang mengalami hal serupa. Karena keseriusan saya menyimak cerita nenek tersebut, akhirnya saya merasa otak saya beku. Saya tidak bisa memahami mengapa dia tetap bisa mengasihi dan membanggakan kedua anaknya yang menurut saya sangat kejam membiarkan nenek itu hidup sendiri? Mengapa di tengah penderitaan dan kesulitan hidupnya nenek ini sangat taat dan sangat rajin berdoa? Anda pasti bertanya-tanya, bagaimana saya bisa mengetahui hal ini? Saat itu saya melihat di atas meja kecil yang sudah tua itu ada sebuah salib, patung Bunda Maria dan lilin. Di lacinya terlihat sebuah Alkitab dan Madah Bakti serta rosario. Di bawah meja tersebut terlihat ada satu bantal tipis yang masih cukup bagus dan saya menduga itu adalah bantalan yang nenek itu gunakan untuk berlutut.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya dengan hati-hati… ”Nek…sepertinya Nenek sangat rajin berdoa, ya? Sampai menyediakan tempat khusus untuk berdoa. Apakah kaki Nenek tidak sakit kalau dibuat berlutut?” Beliau terkekeh-kekeh mendengarkan pertanyaan saya. Yaaah….mungkin itu pertanyaan konyol untuk sang nenek, pikir saya saat itu. “Cucuku….saya ini sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang menemani, anak-anak saya sibuk, mereka juga sudah berkeluarga, maka sudah seharusnya mereka lebih memperhatikan anak dan istrinya. Karena nenek sendiri, maka teman berbincang yang paling setia adalah Yesus. Oleh karena itu nenek selalu rajin berdoa, walaupun sudah tidak dapat pergi ke gereja lagi, tapi nenek sangat mengharapkan dan menantikan kedatangan pastor/frater/prodiakon yang dengan setia mengantarkan mengantarkan komuni setiap minggu.” Saat itu lidah saya mendadak kelu dan tidak bisa berkata-kata lagi. Untung saja penglihatan beliau sudah agak rabun sehingga tidak menyadari kalau saya sempat meneteskan air mata. Beliau juga mengatakan hanya bisa bersyukur dengan cara berdoa, karena tidak ada lagi yang dapat dia lakukan. Semasa mudanya, nenek itu cukup aktif mengikuti kegiatan di gereja, membantu merangkai bunga, menghias altar, mengikuti doa dan kegiatan lingkungan, tapi sekarang sudah tidak bisa kemana-mana lagi, karena untuk berjalan pun sudah sangat sulit. Kerinduannya untuk selalu mendoakan kedua anaknya dan cucu-cucunya yang sangat ia kasihi sangat besar. Mendengar apa yang beliau katakan, tiba-tiba saya merasa sesak nafas. Kenapa untuk figur seorang ibu yang penuh kasih ini anaknya tega menempatkannya di sebuah gubuk, sendirian pula….. Apakah mereka tidak mengkhawatirkan keadaan si nenek ini??
Karena sempat melihatku meneteskan air mata, lalu ketua Presidium kami berusaha mengalihkan pembicaraan dan bertanya, mengapa tangannya terluka dan diperban? Lalu beliau menjelaskan kalau beberapa hari yang lalu ketika sedang menggoreng tahu, tiba-tiba saja dia merasa pusing dan terjatuh sehingga tersiram minyak panas sedikit. Untungnya pada saat itu ada tetangganya yang biasa merawat dan menjaganya langsung mendatangi dan menolongnya, lalu nenek itu dibawa oleh tetangganya ke rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Untungnya nenek itu tidak menderita luka yang parah, hanya saja karena faktor umur, penyembuhannya menjadi agal lambat. Dari cerita tadi akhirnya saya tahu bahwa kedua anaknya apabila datang hanya memberikan uang untuk biaya hidup si nenek yang dititipkan ke tetangganya tadi untuk membantu menjaganya. Saya merasa sedih dan marah melihat keadaan seperti ini! Saya merasa kasihan tapi merasa tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu karena adanya aturan yang melarang kita sebagai Legioner memberikan bantuan dalam bentuk bantuan materi. Ingin rasanya memberontak, kenapa harus begitu? Kenapa tidak boleh? Padahl beberapa waktu sebelumnya kita berjualan baju bekas untuk mencari dana untuk kegiatan retret. Bukankah nenek itu lebih membutuhkan bantuan? Bukankah untuk retret kita bisa menarik biaya dari masing-masing anggota? Apa alasannya? Kenapa? Berbagai pertanyaan itu sangat mengganggu saya, hingga akhirnya setelah berpamitan, saya pun tidak dapat menahan diri untuk langsung bertanya dan meminta penjelasan pada Ketua Presidium kami karena tidak dapat menahan rasa penasaran. Ketua Presidium kami menjelaskan bahwa yang kita perlu jalankan adalah “Apostolic concern” menolong secara rohani, menguatkan dan mendoakan.
Saya belum benar-benar bisa memahami dan menerima penjelasannya itu. Lalu ketua presidium kami berkata, coba perhatikan dan simak baik-baik pada saat teman-teman kita bercerita dan memberikan laporan tugas dan kunjungan. Bagaimana kesan-kesan mereka dan bagaimana reaksi orang-orang yang kita kunjungi menerima kedatangan kita. Menolong dengan menguatkan secara rohani jauh lebih penting daripada memberikan bantuan materi. Benar apabila kita berpikir bantuan materi bisa menolong, tapi sampai kapan? Sebesar apa kita dapat memberikan bantuan bagi mereka? Apaling kita bukanlah yayasan yang memiliki pendonor tetap. Tetapi apabila kita memberi semangat, menguatkan, mendoakan, maka pertolongan kita akan berdampak sangat mendalam dan juga akan bertahan lama.
Lihatlah bagaimana reaksi orang-orang sakit yang kita kunjungi dan kita doakan!
Lihatlah perubahan raut muka si nenek ketika kita bisa menjadi teman bicara dan menjadi pendengar yang baik!
Lihatlah bagaimana bahagianya pemulung-pemulung yang kita datangi!
Lihatlah bagaimana anak-anak di panti asuhan atau orang-orang tua di panti jompo yang selalu menyambutmu dengan pelukan dan kehangatan!
Lihatlah betapa bahagianya mahasiswa-mahasiswa tuna netra di Wiyata Guna ketika mendengar suara kita, betapa semangatnya mereka menyelesaikan tugas kuliah dan skripsi dengan bantuan kita!
Dengan begitu, kehadiran kita menjadi terang dan garam, berarti kita sudah menjalankan apa yang Tuhan Firmankan. Allah pun tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah atau kesulitan, tapi Allah berjanji untuk selalu ada dan memberi kita kekuatan dalam menghadapi masalah. Jadi pada saat kita ingin membantu orang lain, ingin menjadi garam dan terang, maka kehadiran kita, karya-karya kita dengan kuasa Roh Kudus harus senantiasa menguatkan dan menyemangati mereka yang sedang susah dan menghadapi masalah, bukan menyelesaikan masalahnya. Kehadiran kita dimanapun HARUS selalu menjadi SALURAN BERKAT bagi orang-orang yang kita kunjungi.
Akhirnya sejak itu, saya bisa melihat dari kacamata yang berbeda setiap kali mendengarkan sharing pelaporan tugas dan bisa lebih memahami peran saya sebagai legioner di masayarakat. Setelah lebih memahami, saya jadi lebih bersemangat dalam berkarya dan bertugas juga semakin menyadari bahwa saya tidak akan mampu melakukan semua karya tanpa kuasa Roh Kudus yang menggerakkan saya. Dari apa yang selama ini saya lakukan, apakah saya sudah menyadari dengan sungguh, bahwa saya betul-betul sudah menjadi saluran berkat Allah bagi sesama dengan kuasa Roh Kudus?? Bukan karena kehebatan saya! Tapi karena Allah memilih saya untuk menjadi prajuritNYA! Dan saya bersedia! Apakah anda bersedia? Silahkan renungkan!!
Victoria Suvi Tendiana Lili adalah salah seorang trainer pada LDK Senatus Bejana Rohani 2018. Beliau pernah menjadi legioner di Bandung, dan kini aktif sebagai pendidik serta praktisi pengembangan diri.
Pertanyaan yang cukup sederhana namun sulit dijawab. Pertanyaan ini dilontarkan pada saat aku mengikuti persiapan Krisma. Pada saat aku menjelaskan latar belakang mengapa aku memutuskan untuk dibaptis, ternyata aku tidak puas dengan jawaban itu. Aku merasa bahwa itu bukanlah alasan yang sebenarnya.
Pencarian jawaban yang sesungguhnya pun dimulai.
Aku tidak membandingkan dengan agama lain karena aku yakin bahwa setiap agama adalah baik adanya. Aku mulai mencari banyak informasi dan mempelajari segala hal yang berhubungan dengan Katolik. Ternyata ada banyak hal yang belum aku ketahui. Aku merasa begitu kecil di hadapan Allah. Aku merasa, sebagai orang Katolik aku wajib mengetahui banyak hal mendasar yang seyogyanya menjadi pondasi dalam hidup melayani sebagai seorang Katolik.
Ibarat sebuah keluarga besar, agama Katolik terdiri dari berbagai suku & ras, tua & muda, miskin & kaya, perempuan maupun laki-laki, pendosa & orang kudus.
‘ Our family made up of every race,youngs & olds, riches & poors, men & women, saints & sinner’
Katolik telah berkarya selama berabad- abad, selalu mengutamakan pelayanan, menyeimbangkan hubungan dengan Allah & sesama.
‘Been centuries around the globe, build hospitals for the sicks, orphanages, help the poors, largest charitable organization in the planet, relief n comfort who those in needs, educate most children all over the world, developed education system, developed scientific method with evidences & proofs’
Katolik menghargai & menghormati hak asasi manusia, melindunginya dalam hukum gereja serta menjadikan Keluarga Kudus sebagai teladan dimana pernikahan hanya bisa dipisahkan oleh kematian.
‘Defense dignity of human life in marriage and family, pray for the soul & humanity’
Devosi terhadap Bunda Maria & Orang Kudus menjadi teladan dalam berkarya.
‘Cities & people named by saints, inspired us, navigated us to sacred path like before’
Katolik menjadikan Firman sebagai landasan dari segala tradisi, sikap & tingkah laku kita, seperti magnet membentuk kepribadian lebih dari 1 milyar penduduk dunia.
‘By Holy Spirit we pile the bible, transform by sacred sculpture and tradition for more than 2000 years, followed by over 1 billion people in the world’
Katolik memiliki sakramen sebagai kepenuhan iman Kristiani kita.
‘Sharing the sacraments of fullness for christian faith’
Katolik senantiasa menjadikan perayaan misa sebagai saluran berkat & ungkapan syukur kita.
‘Pray every hour and every day whenever we celebrate the mass’
Yesus sendiri yang membangun landasan bagi kita pada saat menunjuk Paus pertama kita.
‘Jesus lead the foundation for our faith when He sent Peter, the 1st pope, by said : “ You are the rock and upon this rock I will build my church” ’
Katolik memiliki kepemimpinan gembala yang tidak terputus selama lebih dari 2000 tahun lamanya, memimpin dengan kasih & kebenaran sejati di tengah-tengah berbagai kekacauan yang terjadi di dunia ini.
‘For 2000 years we have unbroken line of sheperds, guiding the catholic church with love & truth in confuse & hurting world, in the world of chaos n heart shaped in pain’
Iman Katolik memberikan ketenangan, kekuatan & rasa aman, karena Katolik adalah sebuah keluarga yang bersatu dalam Yesus Kristus sebagai Raja & Penyelamat kita, dimana kita tahu pasti bahwa Allah memiliki kasih yang tak berkesudahan bagi semua ciptaanNYA.
‘It’s comforting to know that as a family united in Jesus Christ our Lord and savior, Catholic faith is something that remain consistent, true & strong.
Ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak fakta yang menunjukan bahwa Katolik memiliki banyak peran dalam mengubah dunia menjadi lebih baik.
taken from faithandale.com
Apakah saya bangga menjadi orang Katolik?
Ya….tentu saja….semakin aku mencari, semakin aku bangga.
Bagaimana dengan anda ?
‘Catholic faith…. Eternal love that God has for all creation’
Sources : diambil dari berbagai sumber
Victoria Suvi Tendiana Lili adalah salah seorang trainer pada LDK Senatus Bejana Rohani 2018. Beliau adalah mantan legioner yang kini aktif sebagai pendidik dan praktisi pengembangan diri.
Perlu diperhatikan mengenai doa penutup pada Teserra, terutama pada bagian :
“Perawan yang mulia dan terpuji janganlah mengabaikan doa-doa kami dalam kesukaran, tetapi selalu bebaskanlah kami dari segala bahaya, Santa Maria yang Semula Jadi Tak Bercela, Pengantara Segala Rahmat (atau sebutan tiap presidium)”
Pada saat rapat presidium, maka didoakan sebagai berikut :
“Perawan yang mulia dan terpuji janganlah mengabaikan doa-doa kami dalam kesukaran, tetapi selalu bebaskanlah kami dari segala bahaya, sebutan tiap presidium”
Contoh, pada rapat presidium Benteng Gading, maka doa tersebut diucapkan :
“Perawan yang mulia dan terpuji janganlah mengabaikan doa-doa kami dalam kesukaran, tetapi selalu bebaskanlah kami dari segala bahaya, Benteng Gading” – Doakanlah kami.
Sedangkan pada acara-acara lain, di luar rapat presidium (termasuk pada rapat dewan dan pendarasan doa oleh anggota auksilier), maka doa tersebut diucapkan :
“Perawan yang mulia dan terpuji janganlah mengabaikan doa-doa kami dalam kesukaran, tetapi selalu bebaskanlah kami dari segala bahaya.
Santa Maria yang Semula Jadi Tak Bercela, Pengantara Segala Rahmat” – Doakanlah kami.
NOTES : Hal ini sudah diumumkan pada Rapat Senatus 10 September 2017.
Atas nama Konsilium, Legio Maria Dublin, saya sampaikan salam hangat kepada Pemimpin Rohani, Ketua, Para Perwira Senatus, dan seluruh anggota Dewan dari Senatus Jakarta. Saya berdoa agar tahun 2018 ini memberi banyak berkat bagi kita semua.
Saya senang karena telah menerima Notulensi Senatus di bulan November & Desember 2017. Ada banyak karya pelayanan yang tercatat, termasuk membantu Saudara/i yang berkekurangan, baik yang beragama Katolik maupun non Katolik, menyelenggarakan Misa & Sakramen Pertobatan di penjara, dan berbagai kegiatan lainnya yang sungguh patut dipuji. Saya yakin ada banyak berkat yang didapat lewat tugas-tugas itu. Kunjungan ke presidium dan dewan-dewan lainnya sangat penting dilakukan dan senang mengetahui bahwa tugas itu terus terlaksana.
Saya berterima kasih kepada Saudari Jeny Triatna Dewi, Ketua Senatus, untuk perhatiannya terhadap Komisium Pontianak. Saya berharap dan berdoa agar proses pemilihan Ketua Komisium berjalan dengan baik. Saya senang mengetahui Komisium telah diasuh oleh Pembimbing Rohani yang baru yaitu Pastor Yosef, menggantikan Pastor Petrus yang saat ini sedang sakit. Semoga Santa Perawan Maria selalu hadir di tengah mereka agar bantuan, perlindungan, dan bimbingan Ilahi selalu tersedia bagi mereka. (Catatan : Senatus telah menginformasikan kepada Konsilium bahwa Pastor Petrus telah meninggal pada 31 Desember 2017. Konsilium menyampaikan bela sungkawa mereka bagi seluruh legioner di Komisium Pontianak, serta akan mendoakan arwah Pastor Petrus dalam rapat konsilium bulan Februari).
Pastor Bede McGregor , Pembimbing Rohani Konsilium mengingatkan betapa beruntung dan istimewanya kita para legioner bisa mengambil bagian dalam misi pelayanan Bunda Yang Tak Bernoda, Perawan yang dipilih Tuhan untuk menjadi Bunda Yesus dan Bunda bagi kita semua. Misi itu adalah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan membawa mereka kepada kebahagiaan abadi di surga. Dengan demikian, kita memiliki relasi khusus dengan dia yang adalah Pengantara Segala Rahmat dan dengan Putra-Nya Yesus Kristus.
Beberapa Laporan Tambahan
Regia Malta baru-baru ini melaporkan tugas-tugasnya, diantaranya: konsekrasi kepada Hati Kudus Yesus, mengajar katekismus, dan mempromosikan Legio serta doa Rosario. Sebanyak 42 legioner menghadiri retret Devosi Sesungguhnya kepada Maria. Regia Arlington (USA) melaporkan ada 59 orang telah mengikuti konsekrasi pada retret ini.
Senatus Los Angeles melaporkan ada satu Komisium di Korea yang memiliki 12 Kuria, yang terdiri dari 150 presidium senior dengan 1,250 anggota aktifnya.
Ada juga laporan menarik dari Afrika, salah satunya dari Senatus Abuja, Nigeria, yang menyebutkan adanya 368 konversi dalam 1 tahun.
Wafatnya Saudara T. McCabe
Pada bulan November lalu Sdr. Tommy McCabe telah dipanggil pada usianya yang ke-61 tahun. Beliau adalah Ketua Konsilium tahun 2005 – 2011, dan telah bergabung menjadi anggota Legio sejak usia 10 tahun. Beliau telah melakukan kunjungan ke beberapa negara dan bertemu dengan Paus Benedict XV1 di Vatican pada tahun 2006. Baru-baru ini jua beliau menerbitkan sebuah buku berjudul “Athought a day with Frank Duff”. Semoga beliau kini beristirahat dalam damai.
Doa kepada St Rafael.
Pengajuan untuk menambahkan St Rafel pada doa penutup di Tesera telah disetujui Konsilium pada tanggal 21 Jan 2018. Adapun bunyinya sekarang adalah: Malaikat Agung Santo Mikael, Santo Gabriel, dan Santo Rafael, Doakanlah kami.
Persatuan Kristiani
Pastor Bede McGregor di alukusionya mengatakan bahwa kita diminta oleh Dewan Kepausan untuk mempromosikan Persatuan Kristiani lewat karya kerasulan yang sungguh berkomitmen terhadap Persatuan Kristiani. Beliau mengingatkan kita bahwa Frank Duff telah sungguh berkomitmen terhadap kerasulan itu sejak 1939. Kita juga diingatkan bahwa pada malam penderitaan dan kematian-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus berdoa “..supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau Bapa ada di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau ….” (Yoh 17.12). Kita diajak untuk terus mendoakan intensi tersebut, dengan jutaan legioner yang berdoa akan menjadi partisipasi besar dalam aktivitas ekumenis Gereja.
Persatuan di dalam Legio Maria tentu saja hal yang utama. Semoga Tuhan memberkati dan menjaga kita semua dalam kekudusan dan kesatuan.
Ketika mengetahui ada acara Latihan Kepemimpinan Dasar dari Senatus, saya jadi berniat untuk mengikutinya . Tapi ternyata jatah peserta Regia hanya dua orang meskipun area kerja Regia cukup luas dari Sumatera Utara hingga Sumatera Selatan. Sebagai Legioner yang tak mengenal putus asa, saya rela ditempatkan di waiting list… Eh tiba-tiba penutupan pendaftaran dipercepat, langsung saya bertanya pada Sdri. Maryana yang mengurusi pendaftaran, bagaimana dengan status saya, apakah masih tetap di waiting list atau bagaimana … Eh ternyata tidak, saya sudah terdaftar sebagai peserta. Saya bahagia serasa seperti ketika terjadi peningkatan status dari anggota aktif percobaan menjadi resmi sebagai anggota aktif. Terima kasih untuk kesekian ribu kalinya kepada Bunda kita Maria.
Saya mulai mempersiapkan diri karena ada wanti -wanti trainernya tegas. Saya merasa bahwa mungkin ini training yg terakhir yg boleh saya ikuti.. Saya tidak boleh gagal … Saya sampai minta doa kepada para legioner untuk mama saya agar mama saya tidak sakit, karena kalau mama sakit, saya pasti tidak bisa ikut. Saya berterima kasih kepada seorang Legioner yang sampai rela mendoakan mama saya di misa pagi.
Perlu anda ketahui, orang yang turut mendoakan mama saya itu belum saya kenal dan akan saya kenal ketika di LDK nanti. Pendek cerita sampailah saya ke Samadi dengan kondisi yang mantap dan dijemput oleh Sdri.Yanti, Ketua Senatus sebelumnya.
Sudah banyak legioner yang hadir saya begitu senang bisa ketemu dengan teman seperjuangan dari Jambi dan Pangkal Pinang. Walau pada awalnya saya sedikit merasa aneh dengan lampiran deklarasi kesehatan, serta ada interview lagi oleh team Trainer sebelum mengikuti training ini. Tapi saya semakin yakin bahwa ini memang MANTAP trainingnya dan pasti lain dari yang lain .
Ada juga peserta dari Kalimantan membuat saya lebih yakin bahwa training ini benar-benar training mengingat seleksi yang begitu ketat dan semua yang adalah orang terpilih dan pemenang.
Saya satu kamar dengan seorang saudari dari Jakarta. Dia katakan tidak ada run down acara, dan saya bilang acara akan mulai pukul 16.00. Kami berdua lalu beristirahat… Eh ketika kami tersadar, ternyata misa hampir selesai. Untung masih mendapat berkat penutup dan training belum dimulai. Itulah akibat dari tidak memperhatikan.
Training pertama begitu gegap gempita dan kami mengumandangkan dengan lantang kalimat berikut : “Sembilan orang buta, satu orang tuli, siapa pemimpinnya? saya pemimpinnya” Terus diulang sampai berkali kali.
Sempat ada dipikiran saya siapa ya rela mau jadi pemimpin hanya untuk sembilan orang buta dan satu tuli???
Orang buta tidak perlu dipimpin hanya perlu dituntun, jadi tidak perlu seorang pemimpin, dan hanya perlu seorang penuntun. Begitu juga dengan satu orang tuli. Tapi saya tidak protes karena katanya ini hanya permulaan. Saya tetap lanjut dan mulai berhati-hati takut tereliminasi dan lalu dipulangkan.
Ketika masuk ke ruang kelas kita semua mendapatkan sebuah tomat dan plastik untuk membungkus tomat. Piye toh ada training pake tomat?? Semua rada aneh ….. ditambah bendera warna warni ada hitam …merah …putih dan hijau … Saya pikir lambang para peserta dari berbagai daerah …. Dilanjutkan demgan susunan barisan dari umur termuda hingga yang tua disertai dengan penjumlahan usia di masing-masing batalyon …wouuw suasana jadi hiruk pikuk. Masing-masing peserta mulai menghitung dan menyelaraskan umur dari ke dua sisi kiri dan kanan … Saking sibuknya semua tidak memperhatikan tanda yg diberikan adalah bendera hitam dan semua harus diam … Ketika itu trainer Bapak Ronald sempat darting… meja di banting hingga terbalik … barulah semua diam tak berkutik… Saya sendiri terkejut namun jantung saya tidak copot. Saya senyum dalam hati, rupanya jantung saya masih kuat walau sudah tidak muda lagi . Terima kasih Tuhan dan Bunda Maria.
Dari cerita di atas, saya memaknai bahwa ikut training berarti kita belajar lagi … Semua jabatan dan embel-embel dilepas sehingga kita putih kembali seperti kertas baru yang ingat digurat dengan kesan dan pesan. Kalau kita simak dengan baik, banyak yg kita peroleh dari bentakan dan bantingan meja. Kita sadar bahwa kita lebih mengejar hasil yg tepat dari penjumlahan tapi kita telah menyepelekan tanda bendera hitam yang terpasang. Walaupum kecil tapi kita bisa melihatnya dan yang paling penting pesan dari warna bendera sudah diberitahu sebelumnya lain halnya jika sebelumnya fungsi bendera sudah dijelaskan dengan baik, sehingga bukan jebakan. JADI menurut saya yang salah adalah kita dan bukan Bapak Ronald. Kita mendengar tapi bukan mendengarkan dan kita melihat tapi tidak memperhatikan dengan benar.
Selama ini kita berdiri diatas kedisiplinan kita, bangga dengan tugas pelayanan kita, tapi saya yakin di balik semua itu kita banyak lalai dengan masalah masalah kecil, yang mana itu bisa berakibat fatal bagi presidium dan dewan yang kita pimpin. Maka marilah kita semua maju melangkah seiring sejalan, seperti lagu yg kita nyanyikan dengan gerak seirama tanpa menyepelekan hal kecil yang mana bisa membawa bencana.
Sdri. Roosita Taufik adalah Ketua Regia Ratu Para Syahid – Medan, periode 2016 – 2019, dan juga adalah peserta LDK Senatus Bejana Rohani 2018.