Sepenggal Kisah Saat LDK di Samadi

Oleh Lamria Hutabarat


Ini adalah LDK tingkat senatus pertama yang kami ikuti.  Jumat 26 Januari 2018 peserta berdatangan dari berbagai kota dan pulau menuju tempat pelatihan  yang ditentukan, yaitu di Wisma Samadi,  Kelender – Jakarta Timur. Wajah-wajah yang masih asing bertemu, tetapi kami langsung akrab satu sama lain karena kami disatukan oleh sebuah tujuan.

Pk.13.00  kami disambut oleh panitia. Kami juga menerima  satu buku notes  dan dua  pulpen.  Kegiatan LDK diawali dengan  acara wawancara face to face.  Saya sempat bertanya-tanya: “wah, ini mau rekrut tenaga kerja sukarelawan ato apa yah??” Pada akhir wawancara, seseorang berkepala plontos mirip biksu Budha  memberiku  selembar kertas  sambil tersenyum. Ia  berkata…”Tolong kertas ini dijaga, gak boleh kelipat, gak boleh kotor dan dibawa setiap saat!”

Setelah wawancara  tersebut, acara dilanjutkan dengan misa pembukaan yang dipimpin oleh Romo Antonius Didit – sebagai Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani. Lalu dilanjutkan dengan acara “pembantaian” – menurutku.  Si ‘biksu’ ternyata manager trainer kegiatan ini – yang  kami panggil  dengan nama  Magister Ronald. Magister Ronald menerangkan aturan kegiatan ini (aturannya sangat ketat;  Ikuti perintah).  Setelah itu ia bertanya berulang ulang siapa yang mau mengundurkan diri. Tak satupun yang mundur. Tiba- tiba beliau teriak melompat dan teriak ADA 10 ORANG, 9 BUTA 1 TULI SIAPA PEMIMPINNYA? AKU PEMIMPINNYA, AKU PEMIMPINNYA. (Sumpeh, aku sangat terkejut. Tuh orang suaranya menggelegar, gerakannya persis seperti orang ‘gila’). Kami disuruh memperagakan sama persis dengan apa yang dilakukannya. Awalnya masih banyak yang malu-malu tetapi dengan kejam sir Ronald membentak.  Mana Semangatmu?? Katanya Prajurit!!! Semua tak berdaya dan akhirnya terbawa suasana berteriak “ADA 10 ORANG 9 BUTA 1 TULI SIAPA PEMIMPINNYA? AKU PEMIMPINNYA AKU PEMIMPINNYA” Dalam hatiku berkata ‘Gile, nih orang lebih dari wong Batak…Suaranya kenceng Banget’. Seumur-umur aku teriak paling kencang  pada saat itu.  Hehhehe…

Jam 19.00  kegiatan dilanjutkan di kompleks sekolah SD Santa Maria de la Strada yang bersebelahan dengan Samadi. Semua peserta hening (soalnya benderanya hitam. Ada 4 jenis bendera : hitam berarti diam, merah berarti boleh bertanya dengan seizin magister, kuning/ krem bebas bicara, dan hijau boleh bicara tetapi terbatas dalam ruangan saja). Semua alat komunikasi disita. Saat itu dalam hatiku berkata, “Gila nih si Magister Biksu! Emang aku anak SMA. Aku aja gak sampe begituan sama murid-muridku. Tapi ape mau dikate aku ingat aku itu seorang prajurit. Aku harus  tunduk pada atasan. Hehehhehe…. Jadi  terpaksa deh hape dikumpul.  Ketiga magister yaitu magister Ronald, magister Suvi, dan Magister Joy seperti monster kelihatannya. Menakutkan!  Kami takut salah. Kami diberi sebuah tomat dalam kantong plastik. Tomat ini harus dijaga, dibawa kapan saja dan gak boleh kelihatan oleh magister. Di sekolah Strada kami menonton film tentang TENTARA ROMAWI. Film itu mengingatkan kembali bahwa kami  sebagai legioner adalah Prajurit Maria yang sangat dahsyat seperti tentara Romawi. Kami harus cakap, displin, punya strategi melawan musuh (dari luar dan dalam diri sendiri), tidak boleh loyo,  dan taat pada sistem serta atasan. Saat ini semangatku sebagai seorang prajurit Maria berkobar-kobar. Di akhir kegiatan Magister Ronald memberikan tugas yang menurutku ini adalah THE IMPOSSIBLE  ASSIGMENT.

Selesai kegiatan di sekolah Strada, jam  hampir menunjuk pk.  23.00. Kami ditugaskan menghafal puisi berjudul  “Aku adalah Prajurit Bala Tentara Allah”  yang panjangnya sampai satu lembar  kertas A4,  menonton film ROMERO dan meringkasnya, dan membuat sebuah tulisan tentang Legio Maria. Selesai Nonton Film ROMERO aja  lewat pk.00.00, trus masih lanjut meringkas ceritanya (kulihat jam sudah menunjukkan pukul 2.00 dini hari), lanjut terus membuat tulisan tentang Legio maria (jam sudah pk. 3.00 dini hari), lanjutkan lagi  menghafal  puisi “Aku adalah Bala Tentara Allah” (kali ini aku gak ingat sampe jam berapa, yang pasti ketika bangun aku lihat jam udah menunjuk pk.4.00 tepat). Ohhh noooooooooo…… aku belum hafal. Akhirnya aku diam merenung dan pasrah. Kucoba merefleksikan diri atas  semua kegiatan ini dengan apa yang telah selama ini kulakukan. Ya Tuhan, ternyata AKU BELUM MELAKUKAN APA-APA. Aku sering menyerah, aku sering mengeluh betapa sulitnya tugas menjadi legioner sama seperti diawal aku diberi tugas oleh Magister. Aku merasa tak sangggup. Mengapa aku tak menyadari bahwa aku pasti bisa karena ada Bunda yang menemani melaksanakan tugas berat sekalipun??? Aku bangkit berdiri. Tarik nafas dalam-dalam. Aku tak boleh kalah. Aku harus berjuang hingga garis akhir. Sukses tidaknya tugas yang kulakukan itu bukan yang terpenting bagiku. Aku sadar yang terpenting dan terutama AKU MASIH SEMANGAT  UNTUK MELAKSANAKANNYA. Aku membangunkan teman sekamarku yang bernama  mbak Nova, karena pk. 4.30 tepat kami harus berkumpul kembali mengikuti ibadah pagi.

Hari Sabtu,  selesai ibadah pagi, mandi dan  sarapan,  kami lalu kembali berkumpul di sekolah Strada. Kegiatan hari itu dibuka dengan refleksi  berjudul “Manusia dalam Cermin”. Nah, kegiatan selanjutnya menurutku adalah sebuah tantangan. Dengan bermodalkan pulpen yang diserahkan di awal registrasi, kami ditugaskan untuk pergi ‘mencari dan mendapatkan’ uang sepuluh ribu rupiah. Ada peserta yang pulpennya masih utuh sebanyak dua buah, ada yang tinggal satu saja (termasuk aku). Satu pulpenku hilang…hehhehe. Kelihatan kalau aku orangnya sepele atas hal kecil kali ya??? Wah, pelajaran berharga nih.

Kami ‘diusir’ keluar dengan bermodalkan pulpen dan KTP. Kegiatan ini mengajarkanku menjadi seorang prajurit yang KREATIF, CAKAP untuk menarik RASA PERCAYA  orang pada kita. Semua peserta pulang berhasil membawa uang sepuluh ribu. Hebat ya…. semua legioner bangga dan bahagia ditambah lagi ketiga magister sudah mulai tersenyum, tidak galak apalagi pake acara membentak. (Hmmm…mungkin dalam hati kami saat itu ‘senyumnya magister Ronald ternyata manis’ hehehheheh).  Setelah itu kegiatan dilanjutkan di ruang pertemuan di Wisma Samadi. Disini kami ada kegiatan ‘drama’ yaitu  bagaimana tanggapan  apabila seorang putri kita, ibu atau adik perempuan kita melakukan sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Apakah kita menghakiminya atau memberikan pengertian dan kasih? Kegiatan hari ini diakhiri dengan UJI HAFALAN puisi.  Apakah sudah hafal (Aku adalah Bala Tentara Allah). Kemudian  sebagai tugas akhir kami harus mencari tahu arah gerak pastoral di keuskupan masing masing serta membuat program Legio Maria yang mendukung arah gerak tersebut.

Jam  sudah menunjukkan pk. 22.00 lewat.  Dilema nih mau mencari info sama siapa? Secara ini kan dah malam. Tetapi trainer gak peduli, pokoknya besok pagi sudah harus ada. Aku menghubungi seorang sahabat untuk menanyakan arah gerak pastoral melaui WA dan dijawab pukul 23.59. (Ohhhh nooooo…..begadang lagi nih) akhirnya aku berusaha semampuku mengerjakan tugas yang diberikan.

Minggu pk. 4.30 kegiatan dimulai dengan ibadah pagi, seminar singkat tentang Karya Misioner Gereja “Menjadi Saksi Kristus” oleh Romo Markus Nur Widi, lalu seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan misa perutusan  oleh Romo Antonius  Didit pada pk. 12.00.

Banyak kenangan indah dan pelajaran berharga  di sini ini. Kami pulang dengan disegarkan kembali jiwa seorang Legioner.

AKU ADALAH PRAJURIT BALA TENTARA ALLAH.


Sdri. Lamria Hutabarat adalah peserta LDK Senatus Bejana Rohani 2018 dari Regia Ratu Para Syahid – Medan.

Kesan Pesan LDK Senatus 2018 : Akademi Pembentukan Prajurit Tentara Bala Tentara Allah – Angkatan 2018

Oleh. Maria Alacoque Martha Sulaiman


Awalnya saya mendaftar pelatihan ini karena kepo, mau tahu apa yang bakalan diajarin, apa yang bakalan dilatih oleh Senatus. Tapi setelah nyemplung di hari pertama, saya kaget dan berasa kesasar di Kamp Militer “9 orang buta; 1 orang tuli”; hormat bendera negara; nyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Gaya pelatihan yang beda dan baru bikin saya makin penasaran ada apa selanjutnya?

Jam mulai bergulir, hari makin malam tapi kog ya pelatihan belum kelar juga? Malah harus belajar menghitung? Energi mata mulai menyusut tapi otak ini terus merenungkan apa yang jadi “celotehan” para magister ternyata bukan sekedar omong kosong tapi fakta bahwa saya masih perlu belajar banyak.

Di dalam diri saya mulai muncul arena gulat antara rasa tidak suka ditegur vs. rasa gak mampu membantah. Belum juga gulat selesai, saya sdh “ditodong” dengan 10 commandments yang saya ga ngerti untuk apa dilakuin? Tomat; kertas puisi; simbol bendera; duduk tegak.

Malam terasa panjang, kantuk semakin menjangkit, fokus mulai sirna.. Kembali ke kamar, saya memilih tancap gas ke pulau kapuk dan istirahat. Tapi.. Belum lagi full charged, aktifitas selanjutnya sudah harus tayang….

#################

Matahari belum juga menampakkan muka, tapi saya sudah harus terbangun karena bunyi “tok tok tok” orang yg gedor pintu. Saya kaget dan reflek lompat dari kapuk, langsung beresin sandaran kepala (bantal); ngerapiin selubung anti dingin (selimut); sikat gigi dan ganti baju secepat saya bisa. Lalu lari masuk meringsek ke dalam Ruang Doa.

Raga dan jiwa yang kocar kacir segala arah “disuruh” diam dan tenang lagi. Saya pikir sudah bisa “relax”.. eeh ternyata kami diberi tahu oleh Magister kalo tagihan tanggung jawab bakalan jatuh tempo kurang dari 2jam.. alamak jang! Gak salah?! Capek tau! Protes saya dalam batin.

Pagi itu, perasaan sibuk jadi mandor, menggagahi pikiran saya. Bukan karena para magister ataupun prajurit seperjuangan. Tapi sejujurnya karena saya malu ga bisa ngelunasin tanggung jawab. Kebanyakan cari alasan, nunda-nunda, sampe ga peka dengan apa yang di sekeliling (pengumuman) bikin saya makin malu ada di akademi dan mau angkat kaki seribu, pulang ke rumah.

Untungnya dibuka periode ‘amnesty perasaan bersalah’. Pikiran saya mulai melek dan minta perasaan ngumpet dulu di pojokan. Malu tapi akhirnya saya sambangi Magister dan mengakui dengan lidah kaku kalo saya pailit! Ga sanggup bayar tagihan tanggung jawab secara penuh. Saya pikir bakalan digugat, diadili, dihukum massal. Ternyata, Magister cuma bilang, “Coba lebih baik lagi!”

Perasaan dan pikiran jadi campur aduk diojok-ojok kayak naik wahana roller coaster. Bukannya muntah, malahan bikin ‘instruksi tetap’ : saya mau lbih baik lagi; saya bisa lebih baik1!; saya harus lebih baik lagi!!

#################

Hari baru, jiwa baru, semangat baru, gak kerasa kalo saya sudah mesti direlokasi (a.k.a digusur) dari “ruang simulasi” ke dalam ruang nyata kehidupan. Padahal kan sudah mulai betah di akademi. Tapi apa daya, sayapun “balik kampung”.

Pas “bongkar muat”, eng ing eng, saya baru sadar ternyata saya disisipin banyak oleh-oleh:
~ Ketopong kejujuran (pikiran dan rasa adanya di otak/ kepala, harus jujur apa adanya)

~ Tombak keberanian (maju terus mengoyak ketakutan, keraguan, prasangka/asumsi dalam diri)

~ Perisai kerendahan hati.

~ Lencana Prajurit (saya mulai belajar menerima identitas prajurit; berani sukarela putuskan saya adalah seorang prajurit!).


Maria Alacoque Martha Sulaiman adalah Bendahara Kuria Bunda Pengharapan Suci, Jakarta Barat, dan juga tergabung sebagai panitia dan peserta LDK Senatus Bejana Rohani 2018.

Gerakan Transformasi Berlanjut, LDK Disambut

Oleh. Octavian Elang Diawan


Dari hari Jumat 26 Januari 2018 hingga Minggu 28 Januari 2016, di Wisma Samadi Kelender Jakarta, dilaksanakan Latihan Dasar Kepemimpinan bagi para legioner utusan berbagai dewan di lingkup Senatus Bejana Rohani.  Utusan seluruhnya berjumlah 64 orang. Mereka adalah para perwira dan anggota yang berasal dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Sumatera, dan Kalimantan. Di antara peserta hadir  Rama Yohanes Hadi Susilo dan Bruder Albertus Sigit Pramono MSF;  Masing-masing merupakan utusan Kuria  Banjarmasin dan Kuria Tanjungselor.

Kegiatan LDK meriah ini merupakan tindak lanjut gerakan transformasi Legio Maria Senatus Bejana Rohani yang di-promulgasikan di Kecamatan Talun Kenas, Medan pada tahun 2016. Gerakan transformasi ini sendiri merupakan upaya untuk menjawab tuntutan Gereja yang mengehendaki agar seluruh komponen Gereja lebih mengasah kepekaan gerejaninya (sensus ecclesieae) untuk turut serta secara total dalam sukacita dan penderitaan Gereja. Desakan ini telah lama  diserukan oleh pemimpin rohani saat itu yakni Rama Petrus Canisius Tunjung Kesuma. Tugas  beliau sebagai pemimpin rohani kini sudah digantikan oleh Rama Antonius Didit Soepartono.

Gerakan transformasi  ini menerapkan frame yang dinamakan K2O – sebagai singkatan dari Kekatolikan, Karakter Maria, dan Organisasi; karena di ketiga nilai inilah hendaknya kaki-kaki Legio Maria berpijak.

Pada faktanya, secara keorganisasian sungguh tidak mudah bagi presidium-presidium untuk mendapatkan anggota baru, mempertahankan keberadaan anggota yang ada, atau mendapatkan perwira-perwira baru yang tangguh dan visioner –  bahkan bisa datang berkumpul dalam rapat mingguan saja sudah merupakan anugerah. Memang harus diakui bahwa ada beberapa dewan yang pertumbuhan anggota legionya cukup pesat, misalnya di Kalimantan Tengah; namun secara umum dewan-dewan menghadapi kendala tersebut di atas. Atas dasar itulah maka Senatus berinisiatif menyelenggarakan LDK ini sebagai salah satu kristalisasi gerakan K2O tersebut pada ranah pengembangan organisasinya.

LDK yang diselenggarakan di Pusat Pastoral Wisma Samadi milik Keuskupan Agung Jakarta ini  dimaksudkan untuk menyentuh kesadaran karakter dasar kepemimpinan seorang prajurit, yakni: militansi,  kejujuran, kerja keras, dan kerelaan menghadapi hal-hal yang tak menyenangkan. Dengan mengembangkan nilai-nilai dasar ini diharapkan para paserta teranimasi dan termotivasi untuk kemudian menemukan strategi karya pengembangan organisasi secara kontekstual di masing-masing dewan di mana mereka berada.

Senatus  menghadirkan tim trainer dari PT. Roligio Jakarta  yang terdiri dari  tiga orang, yakni Bapak Ronald Tedjasasmita – sekaligus pemimpin tim training, Ibu Victoria Suvi, dan Bapak Joy Walla. Untuk diketahui bahwa Bapak Ronald merupakan mantan ketua Komisium Bandung dan Ibu Suvi juga seorang mantan legioner dari Bandung.  Sementara Bapak Joy adalah trainer pengembangan kepribadian  dari Surabaya.

Dari kiri ke kanan : Bpk. Joy Wala – Bpk. Ronadl Tedjasasmita – RD. Antonius Didit Soepartono – Ibu. Victoria Suvi

Para trainer menggunakan pendekatan pembinaan andragogi di mana para peserta langsung dibenamkan dalam situasi-situasi yang menuntut kedisiplinan, kepekaan, kejujuran, kerelaan, dsb. Pendekatan andragogi ini sempat mengguncang para peserta di awal pelatihan. Para peserta merasa tidak nyaman dengan gaya ‘bentak-bentak ala ditaktor’ yang ditampilkan oleh Bapak Ronald dan kawan-kawan. Bahkan secara diam-diam beberapa peserta merencanakan untuk mundur dan pulang ke daerah asal. Tetapi, memang demikianlah kelas andragogi yang cenderung menghindari bentuk seminar, diskusi, workshop, apalagi  atmosfer serba berupaya  ‘semanis mungkin untuk menyenangkan para tamu’.

Kendati pun terjadi ketidaknyamanan di hari pertama, namun keadaan ini berangsur-angsur berubah seiring berjalannya waktu. Emotional game yang dimainkan para trainer cukup berhasil membawa peserta yang semula ketakutan dalam badai ke dalam suasana landai tenang tenteram, serba menerima diri dan menerima orang lain (termasuk perilaku para trainernya yang semula disebutnya ‘kejam’).

Pada hari ketiga hadir pula  pembicara tamu dari kategorial Anthiokia-Roses,  Paroki Cengkareng dan Rama Markus Nur Widipranoto dari KKI-KWI. Kehadiran mereka turut melengkapi pelatihan ini melalui sharing bagaimana mengembangkan karya kerasulan dan memaknai kembali panggilan hidup misioner sebagai bagian utama kehidupan rohani pengikut Yesus Kristus.

Rama Antonius Didit Soepartono selaku pemimpin rohani Senatus Bejana Rohani menutup acara ini dengan misa perutusan.  Rama Didit – yang juga sebagai pastur mahasiswa KAJ – berpesan agar pelatihan ini sungguh mendorong para peserta untuk segera bergerak mengembangkan Legio Maria untuk kemuliaan Tuhan.

Duc In Altum, Mari bertolak ke tempat yang lebih dalam!

Foto-foto kegiatan LDK ini dapat diakses di laman LDK Senatus


Sdr. Octavian Elang Diawan adalah Asisten Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani – Indonesia Barat.

PEMURNIAN MOTIVASI PELAYANAN

Dibawakan oleh RP H. Tedjoworo, O.S.C pada Planning Day Kuria Bunda Penasihat yang Baik, Bandung Barat 1.

Cimahi, 21 Januari 2018


Situasi pelayanan dalam Gereja mengalami banyak tantangan dari luar masyarakat, namun juga godaan yang mungkin berasal dari dalam diri para pelayannya sendiri. Para legioner adalah pelayan umat. Pelayanan kita sebagai legioner bersifat unik, sebab “harus dapat bertahan terus, menolak untuk menyerah” (Buku Pegangan / BP, Bab 4 No. 5). Sifat tidak mudah menyerah sebetulnya mencerminkan spirit yang menjaga kesetiaan kita dalam keanggotaan Legio. Dan ketika spirit kita terganggu, pelayanan pun terganggu atau bahkan menyeleweng dari arah yang seharusnya ditempuh.

Tantangan yang kita alami dari luar dihadapi bersama dengan seluruh Gereja, tetapi godaan dari dalam perlu direfleksikan dengan rendah hati oleh para legioner. Di tengah iklim ‘persaingan’ kelompok-kelompok pelayanan dewasa ini, legioner tidak perlu ikut-ikutan berlomba membuat program kerja yang serba hebat. Mungkin ini waktu yang baik bagi kita untuk melihat ke dalam, pada spiritualitas pelayanan kita. Dari penghayatan iman yang tulus, pasti muncul tindakan-tindakan kerasulan yang mengesankan. Pada saat yang sama, dengan rendah hati kita bisa mengoreksi mentalitas kita masing-masing, sebelum merencanakan pelayanan kita di tahun mendatang ini.

Bahan permenungan berikut bisa ditemukan kembali dalam Buku Pegangan, khususnya dimulai dari Bab 3, “Semangat Legio Maria adalah semangat Maria sendiri. Legio terutama berusaha meniru kerendahan hatinya yang luar biasa…” Sebelum berbagai keutamaan lainnya, kerendah-hatian disebutkan pertama kali sebagai spiritualitas kita (Bacalah terutama BP, 6.2, seluruhnya tentang kerendah-hatian). Perubahan hanya bersifat otentik kalau kita berani mengoreksi diri, dan mengoreksi diri hanya terjadi kalau kita memiliki kerendah-hatian.

1. Kerohanian: Apakah pembicaraan kita dengan orang lain cenderung mengenai hal-hal rohani? Situasi kerasulan dalam Gereja akhir-akhir ini sangat dipengaruhi sekularisme. Percakapan yang spontan muncul adalah tentang hal-hal profan, yang duniawi. Orang lebih antusias membicarakan tentang hobby, pekerjaan, keuntungan, prestasi, dan hiburan ketimbang hidup doa, saat teduh, Sabda Tuhan, serta pengalaman rohani.

Kalau legioner terbawa oleh arus profan (duniawi) dalam percakapannya dengan orang lain, berarti spirit atau semangat di dalam dirinya pun sudah menjadi kurang rohani. Bibit ‘kemunafikan’ (ketidakcocokan antara ibadat dan kelakuan) juga bermula dari godaan untuk lebih sering berbicara tentang hal-hal duniawi. Kita bisa mulai dengan saat-saat perjumpaan dengan sesama legioner: hal pertama apa yang kita ceritakan satu sama lain? Masih adakah dorongan untuk mengisahkan pengalaman rohani kita satu sama lain? Pengalaman ini adalah cara Tuhan menginterupsi keseharian kita, agar kita jangan tenggelam dalam sekularisme. Roh Kudus berjalan bersama kita karena Kristus menghadirkan-Nya (Yoh 14:16, Yun. ‘parakletos’= yang dipanggil untuk berjalan di samping). Buku Pegangan (5.5) menegaskan apa yang mestinya menjadi kebiasaan kita: “organisasi yang bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama Maria (Kis 1:14) yang telah menerima semuanya dari Allah”. Oleh karenanya, cara pertama kembali pada semangat kita sebagai legioner ialah: berbicara mengenai hal-hal rohani lebih dari biasanya. Tidak boleh ada rasa malu untuk membagikan pengalaman rohani, yakni sesuatu yang menyentuh hati dan iman kita, dari kejadian atau perjumpaan yang sangat sederhana sekalipun. Masyarakat yang terlalu ‘sekuler’ bahan percakapannya mesti dipengaruhi oleh cerita-cerita para legioner yang selalu mengingatkan bahwa Tuhan hadir di sekitar kita, bahwa penyelenggaraan Ilahi selalu terjadi kendati kita tidak menyadarinya. Membiasakan diri bercakap-cakap tentang hal-hal rohani juga menjadi sebentuk “penyucian diri” yang merupakan sarana pokok untuk berkarya (bdk. BP, 11.1).

2. Sikap Melegakan: Apakah kunjungan kita melegakan orang lain? Kita mungkin pernah mendengar komentar bahwa kunjungan para legioner tidak selalu dikehendaki. Sebaiknya tidak usah kita lekas-lekas mengatakan bahwa mungkin orang punya prasangka. Lebih baik kita melihat diri sendiri, sebab siapa tahu kedatangan kita malah cenderung merepotkan atau mengganggu ketenangan batin orang lain.

Kunjungan rumah (keluarga) menjadi ciri khas Legio (BP, 37.2), maka harus diteliti dengan seksama apakah kunjungan kita sungguh-sungguh membawa kelegaan. Kehadiran Yesus senantiasa menawarkan kelegaan dan penghiburan (Mat 11:28). Oleh karenanya, legioner harus memiliki semangat untuk melegakan dan mempermudah orang lain. Sebagai bagian dari keberadaan kita sebagai pelayan, motivasi kita harus selalu kembali pada hasrat untuk membantu sesama, dan ini akan sangat konkret dihayati dalam setiap kunjungan kita. Mungkinkah legioner tidak disukai karena kedatangannya malah menambah beban atau rasa bersalah? Itu bisa terjadi kalau kita terlalu banyak menasihati dan menegur, daripada mendengarkan dan menawarkan alternatif atas masalah (rohani) yang dialami orang lain. Selama kita tetap berusaha bersikap rendah hati, kunjungan dan perjumpaan dengan orang lain pasti akan mengurangi beban hidup mereka.

Sebaliknya, kalau kita merasa lebih tahu tentang berbagai hal, juga yang rohani, kunjungan itu akan berakhir dengan tidak menyenangkan bagi orang yang kita kunjungi. Bagian BP yang dirujuk di atas mengatakan, “Setiap rumah harus dilihat dari sudut pandang pemberian pelayanan”. Jelas ada yang keliru dalam hal motivasi kalau kedatangan kita malah mempersulit, meresahkan, apalagi mengesalkan orang lain. Semangat mempermudah dari Bunda Maria ditemukan dalam peristiwa Perkawinan di Kana (Yoh 2).

3. Bahagia Menjadi Legioner: Apakah kita senang menjadi legioner? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, dengan jujur. Jawaban yang kita ucapkan secara spontan sering kali hanya supaya “kedengaran baik”. Kalau direnungkan dengan lebih tenang, pertanyaan ini sebenarnya sangat personal, seperti halnya ketika seseorang ditanya mengenai pilihan jalan hidupnya.

Tidak ada yang memaksa kita untuk menjadi legioner. Bahwa kita masih menjadi legioner, mestinya juga bukan karena ada teman dekat kita di sana atau karena merasa tidak enak terhadap siapapun. Kalau kita dengan senang hati menjadi legioner, kerasulan kita pun akan dialami oleh orang lain sebagai pengalaman yang menyenangkan. BP membayangkan bahwa kerasulan legioner dapat menjadi “sinar terang” yang memotivasi banyak orang hingga membawa mereka ke “jalan baru yang lebih menyenangkan, menuju keselamatan dan kesucian” (37.10). Ketika dulu memanggil murid-murid pertama-Nya, Yesus juga menawarkan suatu jalan hidup baru yang kemudian disambut para murid itu dengan antusias (Mrk 1:14-20). Perasaan bangga sebagai legioner itu penting untuk menghayati kesetiaan dalam setiap kerasulan dan pelayanan. Mari kita sadari bahwa orang lain akan mampu merasakan, apakah kita ini memang bahagia dengan panggilan hidup kita atau sekadar ‘bertahan’ saja di dalam pelayanan ini.

4. Kelemahlembutan: Apakah kita dikenal sebagai pribadi yang lemah lembut? Kelemahlembutan sangat erat dengan kesabaran. Ketika merasa tidak sabar, biasanya orang mulai memaksa atau bahkan bersikap kasar. Meskpun berkali-kali semangat ini diingatkan kembali, dalam praktiknya kita lekas lupa.

Legio memang menekankan disiplin dalam doa, rapat, kegiatan, dan pelayanannya, karena namanya memang merujuk pada sifat suatu kesatuan tentara atau pasukan Maria. Di bagian awal kita sudah diingatkan tentang karakter pelayanan kita yang seharusnya tidak mudah menyerah. Akan tetapi, tekanan berlebihan pada disiplin dan ketegasan bisa membuat seorang legioner menjadi kaku dan kurang lemah lembut. Bunda Maria akan menghendaki sifat lemah lembut yang penuh belas kasih untuk menunjukkan bahwa mutu kerja seorang legioner adalah berbeda (BP, 39.2). Kelemahlembutan, seharusnya, adalah yang membedakan kita sebagai legioner dibandingkan pelayanan-pelayanan lain. Kita tidak mau memaksa siapapun, dan tidak boleh membuat siapapun merasa bersalah. Itu didasari oleh kesabaran Yesus sendiri yang menggambarkan diri-Nya sebagai sosok yang lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29). Yesus pasti mengalami kelembutan bersikap itu dari bunda-Nya sendiri yang telah membesarkan-Nya. Bila dalam pelayanan kita tergoda untuk kurang sabar, hendaknya mengingat sabda Tuhan yang membiarkan lalang tumbuh bersama dengan gandum (Mat 13:28-29). Tuhan membimbing setiap orang dengan cara yang berbeda-beda.

5. Berkorban: Apakah kita membedakan antara sikap bertahan dan berkorban? Kesetiaan yang kita hayati sebagai legioner suatu saat bisa terpancing menjadi sekadar ‘bertahan’. Tidak setiap kesulitan dan penderitaan harus dihadapi dengan sikap demikian, melainkan mesti diberi makna sehingga menjadi pengorbanan yang pantas dijalani dengan senang hati.

BP menjelaskan dengan tegas bahwa “kasih, kesetiaan, dan disiplin tidak mempunyai arti bila dilaksanakan tanpa pengorbanan dan semangat” (39.3). Kesusahan yang kita alami dalam tugas-tugas mesti diberi makna, sehingga niscaya bagi diri kita sendiri kesetiaan untuk melakukannya akan menumbuhkan iman kita agar lebih dewasa. Legioner mesti punya rasa syukur karena diizinkan Tuhan mengalami berbagai kesulitan (bukan kemudahan!) dalam setiap pelayanannya, seperti juga para rasul pada waktu itu, yang bersukacita karena boleh menderita karena nama Yesus (Kis 5:41).

Sikap mau berkorban mirip dengan keyakinan seseorang untuk memilih jalan hidup tertentu, meskipun berbeda dengan kecenderungan banyak orang di sekitarnya. Menjadi legioner adalah sebentuk jalan hidup yang membuat kita masih mampu tersenyum, kendati menghadapi berbagai situasi yang tidak ideal maupun tekanan. Penderitaan akan menjadi salib yang membanggakan untuk dipikul sebagai legioner, kalau kita menemukan makna di dalamnya.


RP. Hadrianus Tedjoworo, O.S.C. adalah Pemimpin Rohani Kuria Bunda Penasihat yang Baik, Bandung Barat 1 – Komisium Bunda Rahmat Ilahi.

Mensyukuri Berkat 2017 dan Melangkah dengan Iman 2018

Suasana Natal pasti masih terasa dalam keluarga, gereja atau tempat hiburan lain dan tak kalah meriah tentunya suasana pergantian tahun 2018. Kita juga mungkin sedang bersiap untuk menutup tahun 2017 dengan berlibur ke suatu tempat, barbeque-an, main kembang api, having fun atau apapun acara bersama keluarga dan sahabat yang dikasihi.

Saya ingin mengajak untuk meluangkan waktu untuk sejenak merefleksikan perjalanan hidup kita masing-masing khususnya di tahun 2017.  

Sudahkah kita hitung berapa banyak rejeki, karir, kelancaran study, dan banyak sukacita lain yang Tuhan berikan pada tahun ini ?  kita mudah mensyukuri semua kebaikan Tuhan yang nampak jelas kita alami. Tetapi… mungkin ada kejadian yang kita lihat sebagai keburukan, kegagalan, kekecewaan dan hal yang kurang baik di tahun ini, apakah Tuhan sedang lalai menjaga kita atau apa maksud Tuhan akan semua peristiwa itu?

Mengapa banyak bencana alam terjadi di dunia dan khususnya di negara kita; banjir, gunung meletus, kebakaran hutan atau kejadian alam lain yang menimbulkan korban jiwa atau harta benda ?

….. Tuhan mengingatkan pesanNya ketika menciptakan alam semesta yaitu agar manusia memelihara dan kembangkan alam semesta (bdk Kej 1 : 26) namun jangan – jangan tanpa sadar kita berkontribusi dalam kerusakan alam karena kita kurang ramah lingkungan, menggunakan plastik, sterofoam, tissue, pemakaian listrik berlebihan dll.  

Dengan bencana inipun, Tuhan mengetuk hati kita untuk semakin peka pada saudara kita tertimpa musibah tanpa peduli ras, suku dan agama untuk bersatu memberikan bantuan kemanusiaan dan doa.

Mengapa masih banyak ketidakadilan, korupsi, ketidakpedulian masyarakat dan rapuhnya kerukunan bangsa ?

…. Tuhan mengingatkan kita untuk menjadi pembawa damai, persatuan, sukacita bijaksana dalam tutur kata. Kita masing-masing bisa mulai dari sesuatu yang sederhana dengan senyum, kerjasama, berlaku adil mulai dari lingkup terkecil di sekitar rumah kita, keseharian pekerjaan kita dan masyarakat.  Kita bisa melakukan seperti dalam doa St Fransiskus Asisi “Jadikan aku pembawa damai”

Seberapa seringkah kupakai handphone dan aktif di media sosial (facebook, twitter, whatsapp dll) untuk mem-forward pesan beranting yang seringkali hoax atau mendeskriditkan orang / golongan tertentu?

….. Tuhan mengaruniakan akal budi / talenta kepada kita agar memakai kemampuan untuk dikembangkan dan bijaksana (bdk Mat 25:14-30), untuk menyebarkan virus cinta dan pengharapan bagi yang putus asa.  Cinta lewat kehadiran nyata seseorang di samping kita menjadi sesuatu yang tak tergantikan oleh gadget canggih sekalipun.

Mengapa ada orang yang sering menjengkelkanku, rekan kerja yang mempersulitku dalam pekerjaan, harus mengurus anggota keluarga yang sakit atau dalam jalan kesesatan, ikut berkomunitas tetapi begitu begitu saja dan membosankan?

Mengapa aku diberikan perutusan yang semakin besar sebagai seorang legioner, sebagai perwira presidium, perwira dewan dan tugas karya yang semakin sulit dan penuh tantangan?

….. Tuhan justru hadir lewat orang-orang dan situasi tersebut untuk menyatakan karya Nya lewat Roh Kudus yang berbuah dalam hidup kita, yang nampak ketika kita berusaha untuk semakin sabar, tetap setia, dan tetap sukacita (bdk Gal 5:22-23).  Saat ini pulalah, semangat Bunda Maria yang kita tiru : “Kata Maria “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1: 38).

Maria nekad menyatakan janjinya tanpa tahu persis kesulitan yang dia akan hadapi ketika menjadi ibu Tuhan, tetapi Maria melangkah dengan iman bahwa itulah rencana Tuhan dan pasti Dia akan menyertainya.  Kita diajak melangkah dengan kacamata iman seperti Maria !

Dalam situasi yang demikian, kita tetap yakin bahwa Tuhan tetap menyertai kita dengan cintaNya yang begitu besar, mari kita pun bersyukur dan mohon ampun jika kita pernah marah dan menyalahkan Tuhan atas semua peristiwa tersebut.

Setelah kita melihat nilai rapot dan menghitung berkat yang kita terima di tahun 2017, mari kita membuat resolusi untuk hari baru di tahun 2018.

Sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan anggota Gereja, apa yang akan aku lakukan untuk memelihara alam semesta dan bagaimana menggunakan kekayaan alam dengan bijaksana?  Bagaimana aku berperan untuk menjaga kesatuan bangsa Indonesia, menghidupi nilai-nilai Pancasila dan nilai luhur kemanusiaan ? Bagaimana aku mengembangkan talentaku agar berguna bagi orang lain dan menghadapi perkembangan teknologi ? Bagaimana aku berani menerima dan menjalankan perutusan dengan iman, sukacita dan penuh semangat ?

Legioner Maria yang terkasih, di akhir tulisan ini dan penghujung 2017, saya atas nama Perwira Senatus Bejana Rohani mengucapkan “Selamat Natal 2017 dan Tahun Baru 2018”, semoga damai, sukacita dan pengharapan baru bersama seluruh legioner.

Terimakasih atas semua doa dan perjuangan para legioner dan restu dari anggota keluarga di tahun 2017. Kehadiran anda tentu membawa warna yang indah bagi orang lain, bagi keluarga, Gereja dan bangsa kita.  

Selamat memasuki 2018, semakin dalam mengarungi bahtera kehidupan dengan penuh semangat, cinta, harapan dan iman yang teguh bersama Bunda Maria dalam pimpinan Allah yang Mahakasih.

“Ya Maria yang semula tak bercela, doakanlah kami yang berlindung kepadamu”

Salam dan doa dari Perwira Senatus Bejana Rohani,

Pemimpin Rohani : RD Antonius Didit S.

Asisten Pemimpin Rohani : Octavian Elang

Ketua : L. Jeny T. Dewi

Wakil ketua : Audrey Isabella

Sekretaris 1 : Ignatia Marina

Sekretaris 2 : Caroline Tjindrawati

Bendahara 1 : L. Hasannudin S.

Bendahara 2 : FX Prasetyoadi

Selamat Natal Legioner Terkasih..

Perayaan Natal yang Utama adalah kegembiraan, bukan saat show kemewahan. Kegembiraan bisa jadi obat penangkal sakitnya masyarakat dewasa ini. Manusia saat uni membutuhkan spirit untuk hidup. Sebuah senyuman, pemberian selamat, penyampaian salam, aksi kebaikan, kata maaf, dapat membawa kegembiraan,  dan kegembiraan itu akan kembali kepada kita. Selamat Natal 2017.  “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu!” (Kol 3:15a)

RP. Lukas Sulaeman, OSC
(Pemimpin Rohani Komisium Maria Assumpta Tangerang)


Saudara saudari legioner terkasih. Selamat merayakan kasih Natal. Selamat meneladan iman dan hidup Maria yang melahirkan kegembiraan, harapan, sekaligus mencintai tanggung jawab dengan setia.
Selamat Natal 25 desember 2017.
Selamat menyongsong dan menjalani tahun baru 2018.
Selamat mengisi kehidupan dengan kegembiraan dan kasih. TuYbe puoooll

RP. Florentius Hartanta
(Seminari Menengah Santo Yoseph Tarakan)


Selamat Natal 25 Des 2017 untuk semua Legioner Maria terkasih. Hari ini adalah hari Raya Kelahiran Yesus Kristus Juru Selamat kita. Apa ya kado yg bisa kita berikan kepadaNya?

Dalam hidup, Yesus sudah memberikan kado yang paling berharga untuk kita, yakni hidupNya sendiri. Yesus wafat untuk menyelamatkan umat manusia. Kini giliran kita memberikan kado ulang tahun Yesus di hari Natal tahun ini. Yesus tdk memerlukan barang berharga. Ia tidak memerlukan uang kita. Ia hanya memerlukan perhatian dan cinta kasih kita, baik kepada diriNya maupun kepada sesamaNya.

KelahiranNya di Betlehem mau menunjukkan cinta kasihNya kepada mereka yg sederhana dan kecil dan menderita. Yesus sudah memulainya sejak awal awal hidup di dunia ini. Dia bersabda dlm Injil : Apa yang kamu lakukan pada yang paling hina dan kecil ini kamu melakukanmua untuk Aku. Tindakan kita kepada mereka yang menderita dan bersengsara nyata dalam kesetiaan kita sebagai Legioner dlm tugas-tugasnya, dalam doa-doa Katena setiap hari maupun Rapat Mingguan. Terutama ketika kita hadir menghibur dan mendoakan mereka yg kecil menderita dan sederhana. Dengan kita mengisi hari-hari hidup kita dengan tindakan cinta kasih kepada sesama, itulah kado terindah yang Tuhan Yesus inginkan dari kita.

Selamat Natal 2017 dan Tahun baru 2018.
Ave Maria.

RP. Yoseph Astono Aji, OFM Cap
(Pemimpin Rohani Komisium Santa Maria Perawan yang Setia, Pontianak)


Natal adalah perayaan kelahiran Sang Juru Selamat. Ia lahir ke dunia untuk membawa damai bagi kita. Ia datang untuk memberi kita hidup yang berkelimpahan berkat.

Bagi kita, umat Kristiani, peristiwa natal sebagai memperbaharui hidup. Kita senantiasa mendambakan damai sejahtera dalam kehidupan pribadi maupun bersama. Hendaklah Damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu (Kol 3:15a). Semoga perayaan Natal mendorong dan menyemangati kita untuk menjadi duta damai bagi sesama.

Tuhan memberkati.
Bunda Maria mendoakan kita semua.

RP. Paulinus Maryanto, OMI
Pemimpin Rohani Kuria Benteng Perdamaian, Dahor.


Selamat Hari Natal, natal ini menguatkan dan meneguhkan para anggota Legio untuk semakin berbuat dan bertindak yang terbaik. Semoga berkat yang kita miliki menjadi berkat banyak orang.

RD. Redemptus Pramudhianto
(Pemimpin Rohani Komisium Bintang Timur, Keuskupan Bogor)

NATAL 2017: DAMAI SEJAHTERA BAGI SELURUH ALAM CIPTAAN

RP. Markus Yumartana, SJ

Direktur Tahun Rohani Seminari Tinggi Keuskupan Agung Jakarta


Peristiwa natal adalah peristiwa yang penuh misteri. Bagaimana Allah yang agung berkenan menjadi manusia lemah, dalam Yesus yang lahir ditengah keluarga Maria dan Yusuf? Yang kita rayakan dalam natal adalah misteri inkarnasi, Allah yang menjadi manusia ini.

Namun, menyadari bahwa Allah berkenan menjadi manusia seperti kita, tidak cukup hanya untuk sekedar dipahami begitu saja. Perayaan semestinya menuntun kita pada kesadaran konsekuensi dari pengakuan iman itu. Allah berkenan menjadi manusia berarti Allah sangat peduli untuk mengangkat martabat manusia dalam keluhuran keilahiannya. Bila Allah mengangkat manusia dalam tingkat luhur, maka pada gilirannya manusia yang merayakan meluhurkan Allah dalam kemanusiaannya.

Kita perlu belajar dinamika Roh dalam peristiwa inkarnasi itu. Allah yang meninggalkan keallahannya untuk menjadi manusia yang lemah dan hina, hinggal sampai pada kematiannya di Salib. Yesus, Sang Putera Allah, berkenan mengosongkan dirinya untuk menyelesaikan misi penebusannya sampai tuntas, hingga menyerahkan nyawaNya. Roh itulah yang diberikan kepada dunia, untuk penebusan dosa-dosa kita. Dan akhirnya, RohNya itulah yang membuka mata manusia untuk percaya dan menerima serta mengimani Dia sebagai Allah yang menjadi manusia untuk menebus dosa-dosa kita.

Maria memuliakan Allah

Orang yang pertama kali memberi tanggapan atas misteri inkarnasi itu adalah Maria. Ia tidak hanya dipanggil menjadi Bunda Putera Allah, tetapi ia juga dipanggil menjadi Bunda seluruh umat manusia, yang menanggapi misteri inkarnasi itu. Maria menanggapi dengan magnificat-nya. Yang intinya adalah komitmen untuk memuliakan Allah dalam hidupnya. Bagaimana Maria memuliakan Allah dalam hidupnya? Tidak hanya dalam pengakuan akan karya Allah, tetapi dalam kesetiaannya mengikuti dinamika hidup bersama Putera Allah. Menjadi Bunda Putera Allah tidak membuat Maria terpisah dari martabat kemanusiaannya. Justru semakin dekat dengan Puteranya, ia semakin masuk lebih dalam menghayati kemanusiaannya lewat jalan salib Puteranya. Maria ikut memikul secara nyata kemanusiaan kita. Itulah jalan “gloria Dei, vivens homo” (memuliakan Allah dengan hidup sebagai manusia).

Para Rasul menjadi saksi

Dalam Kisah Para Rasul kita melihat bahwa setelah mendapatkan anugerah Roh Kudus, para rasul dianugerahi karunia mengerti misteri Allah dalam peristiwan Yesus Kristus. Para Rasul menjadi terbuka mata batinnya. Mereka pun memberikan kesaksian dengan perkataan dan pengajarannya, tetapi juga dalam dinamika hidupnya yang penuh tantangan. Hidup memuliakan Allah dalam kemanusiaan selalu ditandai dengan “pertentangan”. Maka Salib bukan hanya mengingatkkan pada peristiwa penderitaan dan kematian Yesus Kristus, tetapi juga membawa pengalaman kemanusiaan kita yang terus menerus robek dan rusak. Jalan Salib para rasul itu hidup terus menerus dalam ketegangan dan pertentangan sebagai pengikut Kristus. Roh Kudus menuntun mereka melewati jalan salib itu.

Kita pun dipanggil

Kita merayakan natal, perayaan akan misteri inkarnasi Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nasaret. Namun kita pun dipanggil untuk memuliakan Allah dalam hidup kita. Bagaimana? Pertama-tama adalah pengakuan bahwa Allah terlibat dalam kehidupan kita sekarang ini. Bila kita mengakui hal ini, kita menemukan panggilan untuk meluhurkan Dia yang sudah terlibat dalam keemanusiaan kita. Kita memuliakan Allah dalam kemanusiaan kita. Kita terlibat dalam keilahian Allah dengan membangun komitmen hidup seturut cita-cita Allah bagi kita, yakni nilai kasih sayang dan perdamaian, persaudaraan dalam keadilan. Hidup dalam persaudaraan dan kasih sayang itu nyata dalam hidup penuh hormat di tengah kebhinekaan kita.

Kemanusiaan bukan robotik

Kemanusiaan jaman kita sekarang ada di persimpangan. Perkembangan teknologi cenderung menempatkan manusia dalam persaingan dengan kehadiran mesin-mesin dengan artificial intelligence (robot). Pergaulan manusia cenderung dibentuk oleh pola hidup robotik, yang cenderung meninggalkan imajinasi dan nurani. Kemanusiaan robotik adalah kemanusiaan yang kehilangan roh. Sebab, segala kebaikan dalam mentalitas robotik itu harus diklik dahulu baru jalan. Dalam cara bertindak robotik, tidak ada peluang untuk imajinasi dan daya kreatif iman.

We walk by faith, and not by sight! (cf. 2 Kor 5:7).

Kita hidup dengan iman bukan dengan logika robotik! Masihkah kita mampu memuliakan Allah dalam kemanusiaan yang paradoksal? Ditengah robotisasi, kita dipanggil untuk humanisasi. Di tengah cara berpikir aku – kamu menjadi aku- barangku, kita dipanggil untuk mengangkat hormat kemanusiaan dengan mengangkat sesama dalam semangat persaudaraan dalam kebhinekaan. Mungkinlah membangun persaudaraan dalam kebhinekaan?

Misteri inkarnasi adalah misteri Allah yang berkenan keluar dari diriNya dan menjadi setara dan seperasaan dengan kita. Oleh karena kita pun semestinya menanggapinya dengan keluar dari keakuan kita untuk masuk dalam ke-saudara-an bagi seluruh alam ciptaan. Bila kita bisa bersaudara, maka itulah damai sejahtera bagi seluruh alam ciptaan.

Selamat Natal 2017!

Dimanakah Nyala Api Itu?

[Menemukan Nyala Api Ilahi dalam Peristiwa Kelahiran Kristus dan Inspirasinya bagi Pribadi dan Kehidupan bersama dalam Legio Maria]


RP. Agustinus Maming, MSC.

Pemimpin Rohani presidium-presidium di Paroki St. Eugenius de Mazenod, Tanjung Redeb.

 


Pengantar

Para saudara (i) ku terkasih, apabila kita dengan cermat membolak-balik Kitab Suci, khususnya seputar kisah kelahiran Kristus, kita tidak dapat menemukan unsur api di dalamnya secara harafiah tekstual. Maka, perlu pendekatan lain bagi kita agar bisa menelusurinya. Pendekatan yang kami maksudkan adalah melihat karakter Api itu sendiri yakni: bernyala, membakar, menghanguskan, memurnikan. Di sisi lain, ada ungkapan “Kristus Cahaya Dunia” yang sering didengungkan dalam perarakan lilin Paskah. Namun, sayangnya, itu tidak berkaitan dengan perayaan kita saat ini yakni Natal, Peristiwa Kelahiran Kristus, melainkan peristiwa kebangkitan-Nya. Beruntunglah bahwa tema di atas disarikan dan disimpulkan dari Peristiwa Kelahiran Kristus dalam Kitab Suci. Dengan demikian, genaplah perkataan ini: “Injil, kabar Gembira Keselamatan” selalu bergema di sepanjang jaman. Oleh karena itu, Eskegese (tafsiran) Kitab Suci seputar Kelahiran Kristus menjadi sumber yang tepat.

Bernyala/Terang

“Dimanakah Dia, Raja Yahudi yang baru lahir itu? Kami telah melihat bintang-Nya dari Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat. 2:2). Orang majus (para ahli) mengikuti bintang itu, bersuka hati ketika melihatnya berhenti di Betlehem di Tanah Yudea. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya yaitu emas, kemanyan dan mur (Mat. 2:11). Dialah keselamatan yang disediakan bagi segala bangsa: terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat Israel” (bdk. Luk. 2:29-33).


Membakar

Pada waktu itu tampilah Yohanes pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: “Bertobatlah sebab kerajaan Sorga sudah dekat””. Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Mat. 3.1-3, bdk. Mrk. 1:1-8).

Selain pribadi Yohanes, para penginjil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) juga menampilkan pribadi Yusuf yang luar biasa. Kehadiran Kristus sebagai Anak Allah membentuk sikap Yusuf yang sangat jelas untuk berjuang mempersiapkan kelahiran-Nya dan mengamankan diri-Nya dari seluruh ancaman yang datang. Kisah Yusuf menghantar Maria dan Yesus ke Betlehem dan menemani Maria mengunjungi Elisabet menggambarkan pribadi ini. Kisah penyingkiran ke Mesir (Mat. 2:13-15), satu-satunya kisah istimewa karena hanya dikisahkan oleh Matius sungguh menggambarkan bagaimana  kehadiran Kristus membakar semangat Yusuf untuk menghindarkan sang Kristus dari bahaya yang mengancam. Kisah kelahiran Kristus ditutup dengan ungkapan: “Dan Yesus makin bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Luk. 2:52). Kiranya kesimpulan penginjil ini tidak dapat terjadi jika tanpa prakarsa seorang yang terbakar api kehadiran Kristus ke dunia.

Kisah lain yang sungguh luar biasa ialah sikap Maria setelah menerima kabar dari Malaikat Gabriel. Perjuangan pribadinya memantaskan diri sebagai kemah kehadiran Roh Allah yang mejadi manusia dan persiapannya berjuang melahirkan Kristus ke dunia dalam situasi yang tidak kondusif. Lebih dari pada itu, upaya mendidik Yesus, mendampinginya, memahaminya dan ada di saat suka, terlebih di saat duka sepanjang hidup Kristus (walaupun di luar konteks ini, saya spontan mengingat bagaimana figur Maria yang ditampilkan dalam Film The Passion of Christ). Maria sungguh memperlihatkan kepada kita kaulitas seorang pribadi yang sungguh-sungguh terbakar oleh kehadiran Kristus.

Figur Elisabet dan  juga Zakharia, juga patut dicatat. Kisah spesial ini secara khusus hanya diceritakan oleh Lukas. Pujian Elisabet kepada Maria demikian: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:42). Nyanyian pujian Zakharia (Luk. 1:67-80) juga ditampilkan. Baik, Zakharia dan Elisabet, keduanya merupakan figur, sebagaimana dikatakan oleh penginjil Lukas, penuh dengan Roh Kudus dan memuji Kristus. ternyata, selain itu, penginjil Lukas juga masih lagi mengisahkan figur gembala-gembala. Sungguh kehadiran Kristus menyentuh sampai kepada mereka yang sederhana baik materi, terlebih hatinya.

Yang terakhir, bukan berarti tak bernilai. justru yang dikisahkan terakhir mendapatkan penekanan yang sangat penting dari sang penulis. Itulah kisah Simeon dan Hana  (Luk. 2:29-32). “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dengan damai sejahtera, sesuai dengan Firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Luk. 2:29-30). Kisah ini hendak menekankan api kehadiran kristus tetap menyela dan membakar sampai kepada titik akhir hidup.

 

Menghanguskan – Memurnikan

Proses pembakaran dapat saja menghanguskan sampai tersisa abu, jika itu materialnya adalah kayu. Namun untuk logam mulia, pembakaran (tak hanya dengan api, tapi dengan cairan keras tertentu). Tujuannya sederhana saya, yakni memurnikan: menghancurkan, membedakan, memisahkan dan mengambil bagian yang jauh lebih penting. Jika hal ini dikaitkan dengan kisah-kisah seputar kelahiran Kristus, maka proses pemurnian itu sungguh-sungguh terjadi, dan faktanya terjadi dalam diri orang-orang yang sangat dekat dengan Yesus. “Bagaimana hal itu terjadi sebab aku belum bersuami”, demikian reaksi Maria menanggapi pemberitaan Malaikat Gabriel (Lih. Pemberitaan tentang kelahiran Yesus, Luk. 1:26-38). Reaksi yang muncul dari kesadaran diri sebagai pribadi yang belum bersuami. Demikian halnya juga terjadi pada diri Yusuf. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Maria, tunangannya, Yusuf bernait secara diam-diam hendak menceraikan Maria. Yusuf, pribadi yang tulus hati dan tak ingin mencermarkan nama istrinya di muka umum, melakukan hal tersebut. “Yusuf, Anak Daud, janganlah Engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus” demikian kata Malaikat kepada Yusuf (Mat. 1:20). “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang kaulahirkan itu, akan disebut kudus, Anak Allah.” Demikian kata Malaikat kepada Maria.

Kegelisahan Maria dan Yusuf sirna dan pandangan mereka akan Allah dan sesama (pasangannya) dibaharui karena yang dikandung ini adalah dari Roh Kudus.

Inspirasi bagi pribadi dan kolompok kita (Input)

Mencermati kisah Kelahiran Kristus dan juga tokoh-tokoh di dalamnya, butir-butir inspirasi apakah yang dapat kusarikan sebagai input bagi kehidup pribadiku dan kebersamaanku dalam kelompok Legio?

  1. Sebagai pribadi (kelompok atau komunitas, Tarekat atau Gereja), khususnya di dalam Legio, kita dapat mengintegrasikan diri kita dengan lakon orang majus.

    Kita ada dalam perjalanan mengikuti Kristus, Sang Bintang, bukan perjalanan menjadi bintang.

    Biarlah bintang itu terus berada di langit dan cahayanya terus menyinari kita hingga berhenti di tutup usia kita di jalan panggilan (bdk. Pengalaman Simeon dan Hana) atau dengan meminjam ungkapan rasul Yohanes: “biarlah Dia semakin besar dan aku semakin kecil”.

  2. Kesadaran diri bahwa aku berada di jalan mengikuti Sang Bintang, masih dengan meneladan para majus, memungkinkan kita untuk memberikan yang terindah yang ada pada kita. Para majus yang mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Kesadaran diri kita mesti menggerakan kita untuk mempersembahkan seluruh diri kita bagi sang Kristus.

    Seluruh diri kita mesti menjadi persembahan yang harum mewangi sepanjang hari.

    Indra penciuman orang yang ada di sekitar kita membaui kita dan dari penciuman itu orang mampu merasakan begitu bermaknanya berjalan mengikuti sang bintang. Ingat, bukan perjalanan menjadi bintang.

  3. Ada berbagai tokoh yang terlibat dalam kisah seputar kelahiran Kristus. Mereka adalah orang Majus (mewakili penguasa dan para cerdik pandai), Zakharia dan Elisabet, Simeon dan Hana (kalangan religius), Yohanes (di padang/orang asing), para gembala (masyarakat sederhana). Fakta ini memaparkan kepada kita secara terang akan kenyataan bahwa kehadiran Kristus menyentuh seluruh pribadi manusia.

    Sebuah ajakan untuk masing-masing pribadi di jalan panggilan ini, yang disatukan di dalam kebersamaan di Legio untuk membuka selebar-lebarnya pintu hati dan kelompok dengan menawarkan air yang sejuk.

    Selain itu, pribadi dan kelompok kita, yang sadar akan keterpanggilannya, mampu menerangi  setiap orang dalam aneka perjumpaan di setiap karya legioner kita. Semoga api cinta Kristus terus kita kobarkan dimana-mana.

  4. Pemurnian tokoh-tokoh penting seputar Kristus, yakni Maria dan Yosep sungguh terjadi. Hal ini juga menyadarkan kita, para legioner  untuk memurnikan diri dan kelompok legio kita.

    Pemurnian yang dimaksudkan yakni pembaharuan diri terus-menerus baik diri maupun kelompok, baik pikiran (pola pikir) dan perbuatan (pola tingkah laku).

    Agere contra (bertindak sebaliknya dari keinginan sesaat) dan Discerment (memilah-milah) baik pribadi maupun kelompok menjadi sesuatu yang mutlak perlu agar keterpanggilan kita di legio terus terpelihara dan makin berbobot.

Semoga kita terus berjalan Mengikuti Sang Bintang, membiarkan cahayanya-Nya menyinari kita dan didapati tetap setia hingga maut mengahiri hidup kita sebagai seorang yang terpanggil di Legio.

Selamat menyambut pesta Natal !!!

Ave Maria…

Pesan Natal 2017 

RP. Rofinus Jewarut, SMM

Pemimpin Rohani Komisium Bunda Rahmat Ilahi, Keuskupan Bandung. 

 


Para Legioner yang terkasih.

Kita semua pasti merasa sangat bergembira dan bersukacita karena bisa merayakan natal lagi. Kita bergembira dan bersukacita tentu saja bukan hanya karena bisa memiliki pakaian yang baru dan bagus, bisa ikut bertugas dalam perayaan natal, bisa bertemu dan berkumpul bersama keluarga, tetapi terutama karena kita semua diberi kesempatan lagi untuk mengalami, mengagumi dan mensyukuri karya penyelamatan Allah melalui penjelmaanNya menjadi Manusia dalam rahim bunda Maria.  

Bagi kita para Legioner, peristiwa penjelmaan Allah menjadi manusia (inkarnasi),  bukan saja untuk dirayakan atau dipestakan berulang-ulang setiap tahun, tetapi yang utama adalah untuk dimani dan dihidupi. Untuk itu, kita perlu menatap peran Bunda Maria dalam rencana karya keselamatan Allah itu. Bunda Maria menanggapi rencana Allah itu, dengan imannya yang tulus, sikapnya yang sederhana, dan ketaatannya yang mantap. Karena itu, Allah semakin terpesona dengannya. Maka, rencana karya penyelamatan itu terjadi secara sempurna dalam dirinya. Bunda Maria melahirkan Yesus Kristus, Penyelamat dunia. Itulah arti natal bagi Bunda Maria.

Kiranya, para Legioner merayakan Natal dalam semangat Bunda Maria itu. Sehingga, secara rohani para Legioner, berkat imannya, ketaatannya, kesetiaannya, ketekunannnya dan keberaniannya dalam tugas kerasulan, Allah semakin terpesona dan Allah tinggal dalam diri para legioner dan akhirnya para legioner mampu juga melahirkan Kristus bagi sesama. Melahirkan Kristus dalam arti melahirkan semangat pengabdian, semangat pengorbanan, semangat pemberian diri bagi sesama dan semangat untuk berbagi. Sesungguhnya, itulah Natal bagi kita.

Selamat Natal 25 Desember 2017 dan menyongsong tahun baru 1 Januari 2018.

Tuhan memberkati anda semua. Ave Maria. 

Bersama Bunda Maria Pasti Bisa : Kunjungan Kuria Serawai ke Stasi Tahai

Oleh Sdri. Fransiska Idawati


“Tahai.”

Adakah yang pernah mendengar nama daerah itu? Ada satu nama “Tahai” yang cukup terkenal, yakni Danau Tahai di Kalimantan Tengah. Namun, kisah ini  bukanlah tentang Danau Tahai itu, melainkan tentang perjuangan kami, legioner Kuria Serawai, mengunjungi stasi Tahai di pedalaman Kalimantan Barat untuk memperkenalkan Legio Maria.

Stasi Tahai adalah salah satu stasi di bawah Paroki Santo Montfort – Nanga Serawai dan termasuk ke dalam area kerja Keuskupan Sintang. Nanga Serawai sendiri terletak 340 kilometer di sebelah barat Pontianak.  Dari ibukota provinsi kita bisa menempuh jalan darat selama kurang lebih 9 jam hingga Nanga Pinoh, kemudian dilanjutkan dengan naik speed boat menuju hulu Sungai Melawi selama empat hingga lima jam, tergantung pada kondisi arus dan ketinggian permukaan air.

Nanga Serawai adalah pusat dari Kuria Bunda Segala Bangsa yang membawahi presidium-presidium di paroki Kristus Raja – Sintang, stasi Maria Ratu Semesta Alam – Sei Durian, Paroki Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga – Nanga Pinoh, dan juga di stasi-stasi sepanjang aliran Sungai Melawi, yang menjadi area kerja Paroki Santo Monfort – Nanga Serawai. Bisa dikatakan bahwa sebagian besar area kerja kuria terletak di pedalaman Kalimantan Barat yang cukup susah untuk dijangkau.

Pada akhir bulan Oktober lalu, kami berlima bersama Pastor Yohanes Ferry, CM, dan Suster Widhi, PK dari Nanga Serawai mengunjungi Stasi Tahai untuk memperkenalkan Legio Maria disana. Perjalanan dari Nanga Serawai menuju Tahai cukup panjang dan harus ditempuh dalam beberapa tahapan. Perjalanan tahap pertama kami tempuh menggunakan speed boat menuju Stasi Tontang selama kurang lebih 45 menit.

Di Stasi Tontang, kami  dijemput oleh umat dari Stasi Tahai untuk menempuh perjalanan selanjutnya dengan menggunakan sampan cis. Speed boat sudah tak bisa digunakan lagi karena perjalanan telah memasuki anak sungai Demu yang lebih dangkal. Jika menggunakan speed boat maka akan terbentur dasar sungai. Kami menggunakan dua sampan dari Tontang karena satu sampan hanya bisa mengangkut 6 orang saja.

Perjalanan dari Stasi Tontang menuju Stasi Tahai mesti ditempuh kurang lebih 6 jam dan cukup menantang. Tak jarang sampan harus melewati bebatuan, tersangkut sampah, dan bertemu riam, sehingga kami harus turun dari sampan dan menariknya bersama-sama agar dapat meneruskan perjalanan. Meskipun banyak kesulitan yang ditemui sepanjang jalan, namun pemandangan asri : alam yang masih belum dikuasai perkebunan sawit, dan sungai yang belum terkontaminasi menjadi penyemangat kami semua.

Perjalanan yang melelahkan itu segera terlupakan ketika kami akhirnya tiba di Tahai dan disambut oleh umat yang sudah menantikan kami dengan sangat antusias. Sungguh sangat luar biasa! Ada banyak umat Katolik di desa yang sangat terpencil ini, bahkan anak-anak sekolah minggunya begitu aktif.

Anak-anak sekolah Minggu di Stasi Tahai

Anak-anak ini menyambut kami sambil menyanyikan lagu-lagu sekolah minggu dengan penuh semangat. Malam itu kami memperkenalkan Legio Maria kepada umat stasi. Puji Tuhan! Mereka sangat tertarik pada kelompok kerasulan ini sehingga malam itu juga bisa dibentuk sebuah presidium dan langsung terpilih juga perwira-perwiranya.

Sosialisasi Legio Maria kepada umat stasi

 

Keesokan harinya, yakni Minggu, 29 Oktober 2017, kami memberikan latihan kilat tentang pelaksanaan rapat presidium bagi presidium baru itu. Memang semuanya mesti serba kilat, karena kami hanya punya waktu yang terbatas di stasi ini. Kami pun tak bisa setiap minggu mengunjungi mereka ini karena jaraknya yang jauh dan biayanya yang besar, kurang lebih Rp. 300.000 per orang sekali jalan. Rencananya beberapa bulan lagi kami akan kembali berkunjung ke Stasi Tahai untuk meninjau presidium yang baru lahir ini.

Mohon doakan agar apa yang kami perjuangkan bisa berhasil. Kami percaya bahwa bersama Bunda Maria kami pasti bisa. Kami juga berencana memperkenalkan Legio Maria ke Stasi Merako dan Stasi Baras Nabun namun masih perlu memperhitungkan kebutuhan dana untuk kesana.

Sekali lagi mohon doakan perjuangan kami.


Sdri. Fransiska Idawati adalah koresponden Kuria Bunda Segala Bangsa – Nanga Serawai untuk Komisium Santa Maria Perawan yang Setia – Pontianak.