Kuria RPSI Goes To KaNaDa: “Hidup Tuk Jadi Berkat”

Oleh Febriani Aipon Gedo


“Hidup ini adalah kesempatan.

Hidup ini untuk melayani Tuhan.

Jangan sia siakan, apa yang Tuhan bri.

Hidup ini harus jadi berkat.
Reff :

Oh Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat.

Bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi.

Hidup ini sudah jadi berkat. “

Demikianlah lagu ciptaan Pdt. D. Surbakti yang dinyanyikan oleh Romo Andreas Yudhi Wiyadi O Carm, Pemimpin Rohani Kuria Ratu Para Saksi Iman (RPSI) – Tomang, dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi yang diadakan di Gua Maria Bukit Kanada (KAmpung NArimbang DAlam)  –Rangkasbitung,  Banten.

Perayaan Ekaristi ini adalah bagian dari rangkaian acara ziarah rekreasi yang diselenggarakan oleh Kuria Ratu Para Saksi Iman pada Sabtu, 23 September 2017, dan diikuti oleh 63 orang peserta (terdiri dari perwira, anggota aktif,auksilier dan simpatisan) dari dua paroki yang tergabung dalam Kuria RPSI, yakni Paroki Tomang dan Paroki Kedoya.

Peserta tiba pada pukul 09.00 WIB setelah menempuh tiga jam perjalanan dari Tomang. Setelah rehat dan berfoto bersama, acara dilanjutkan dengan prosesi jalan salib versi Bunda Maria. Peserta, yang dibagi menjadi dua kelompok dan mayoritas berusia lanjut, bersemangat sekali untuk mengikuti jalan salib.

Bersyukur pada hari tersebut tampaknya hanya rombongan kami yang memenuhi lokasi sehingga prosesi jalan salib dapat berjalan hikmat. Walaupun kadang medan yang dihadapi para lansia tampak menanjak atau curam menurun, sehingga membuat mereka agak tertatih dan naik turun memegang besi di tangga, namun mereka tetap semangat sampai akhir perhentian. Peluh dan lelah yang dirasakan, direfleksikan dengan kedukaan dan Iman Bunda Maria dalam mengikuti Jalan Salib PuteraNya. 

Usai Jalan Salib, acara dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi. Dalam homilinya, Romo terkesan dengan peserta yang saling tolong menolong selama prosesi Jalan Salib. Romo juga mengingatkan melalui lagu yang dinyanyikannya, bahwa hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini hanya sementara seperti halnya perhentian-perhentian kita di Jalan salib tadi. Mari kita melayani Tuhan selagi masih kuat. Andai pun kita sudah tidak berdaya, kita masih bisa memanjatkan doa-doa kita kepada Tuhan sebagai bentuk kerinduan pelayanan kita. 
Acara berikutnya adalah makan siang di halaman seberang Gua Maria. Menu lauk ayam goreng, ikan asin, tahu tempe, sambal, dan sayur asem dirasakan begitu nikmat karena kondisi perut sudah lapar, lelah, serta ditambah semilir angin di pendopo pinggir kolam. Setelah perut kenyang dan beristirahat sejenak, acara dilanjutkan dengan rapat kuria. 
Setelah menikmati snack sore berupa singkong goreng, peserta pun bersiap pulang dan akhirnya kembali ke Jakarta dengan selamat. 

Semoga kebersamaan ini dapat semakin menjalin keakraban serta semoga semangat pelayanan legioner semakin menjadi berkat seperti lagu yang Romo nyanyikan dalam homilinya. Amin.



Febriani Aipon Gedo adalah legioner dari Kuria Ratu Para Saksi Iman – Tomang, yang tergabung ke Komisium Maria Immaculata – Jakarta Barat 2

Bunda Pelindung Semua Suku : Laporan Pembukaan Bulan Rosario di Gereja St. Kristoforus Grogol

Oleh Petrus Kanisius Erwin Rinaldi


Dalam rangka merayakan Bulan Rosario di bulan Oktober 2017, Kuria Teladan Kaum Beriman Grogol didukung oleh komunitas Pro Diakon membuka Bulan Rosario tanggal 1 Oktober 2017 jam 18:30 dengan Perayaan Ekaristi Kudus dengan Perarakan Tandu Bunda Maria diiringi Doa Rosario Suci.

Hal yang menarik adalah Doa Rosario Suci didoakan dalam 5 bahasa, dimulai dengan Bahasa Toraja (Sulawesi Selatan), Bahasa Jawa, Bahasa Kei (Maluku), Bahasa Batak Toba (Sumatera Utara), dan Bahasa Manggarai (Flores). Sementara Tandu Bunda Maria dilakukan oleh para bapak-bapak dari ProDiakon dengan pakaian adat Minang, Betawi, Sunda, dan Papua. Sungguh Bhinneka banget, Sungguh Indonesia banget, dan Sungguh Pancasila banget.

Sungguh meriah dan sungguh kebhinnekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia terlihat nyata dalam doa Rosario Suci di gereja St. Kristoforus Grogol malam itu. Segenap umat juga terlihat sangat menikmati suasana malam bhinneka itu dengan juga berdoa sungguh-sungguh. 

Legioner dari Presidium Tabut Perjanjian merayakan Ekaristi dengan pakaian adat

Semoga dengan Doa Rosario 5 bahasa ini, semakin banyak umat yang menghargai perbedaan antar sesama anak bangsa. Semakin banyak orang menghargai perbedaan bahwa perbedaan itu adalah kekayaan dan identitas Bangsa Indonesia. Semakin banyak sesama anak bangsa yang yakin bahwa perbedaan akan membuat bangsa kita semakin kuat, bukan semakin lemah.

Salam Maria Bahasa Batak Toba
Salam Maria Bahasa Jawa

Semoga Rosario Suci 5 bahasa juga semakin menguatkan semangat Sumpah Pemuda kita bahwa kita adalah bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu, INDONESIA.

Salam Maria Bahasa Toraja
Salam Maria Bahasa Kei
Salam Maria Bahasa Manggarai

Kami 100% Katolik, 

100% Legioner, 

100% Indonesia !


Sdr. Petrus Kanisius Erwin Rinaldi adalah ketua Kuria Teladan Kaum Beriman, Grogol. Saat ini ia juga menjabat sebagai bendahara 2 Komisium Maria Immaculata Jakarta Barat 2 dan koresponden Senatus Bejana Rohani untuk Konsilium Morning Star.

Alokusio Rapat Senatus 1 Oktober 2017

Dibawakan oleh RD. Antonius Didit Soepartono (Pemimpin Rohani Senatus Bejana Rohani)


Bacaan Rohani : Buku Pegangan Bab 5 point 7 halaman 25 tentang “Membawa Maria Kepada Dunia“.

Alokusio :

  • Devosi kepada Maria membuahkan mukjijat-mukjizat.
  • Yang terpenting devosi ini membawa Maria kepada dunia, Apa artinya? Kita harus mencintai Maria sepenuh hati dan melibatkan semua orang dalam cinta pada Maria.
  • Legio Maria sebagai organisasi yg didasarkan atas kepercayaan tanpa batas pada Maria seperti
    anak kecil pada ibunya.
  • Legio Maria tidak merasa sombong meskipun memiliki banyak talenta dan kemampuan untuk
    pelayanan kita.
  • Tugas abadi Legio adalah menghancurkan kepala ular, termasuk iblis yang menguasai hidup kita.

Surat Konsilium September 2017

Atas nama Konsilium, saya sampaikan salam hangat untuk Pemimpin Rohani, Ketua, Semua Perwira Senatus dan semua anggota Dewan Senatus.

Pada Rapat Konsilium bulan September, banyak sekali hadirin yang hadir termasuk Romo Bede McGregor OP, Pemimpin Rohani Konsilium, 3 orang Pastor dari Zambia, 43 orang Legioner dari Korea Selatan, 6 orang dari Mumbai, India, dan kemudian bersama berkunjung ke Knock Shrine.

Bacaan Rohani diambil dari Buku Pegangan bab 16 – Keanggotaan Tambahan ; poin n (hal 111) dari sub bagian berjudul “Pandangan Umum dalam Kaitannya dengan Kedua Tingkatan Keanggotaan Auksilier” (hal 107) ; bagian ini berhubungan dengan “Devosi Sejati kepada Perawan yang Terberkati” untuk para auksilier.

Untuk memperingati Ulang Tahun Legio Maria ke-96, Misa Konselebrasi dan Jam Suci dengan Doa untuk Sakramen Yang Terberkati diadakan di Gereja St. Nicholas di Myra. Jam Suci dibawakan oleh Frater Vito yang sedang menyiapkan tahbisan imamnya. Sesudah itu, ada hidangan ringan teh untuk ramah tamah.

Pada Konferensi Orang Muda Katolik baru-baru ini di Irlandia, partisipan yang hadir 270 orang (kelompok umur 18-40 tahun) – baik juga.

Seperti biasa, ada banyak laporan-laporan menarik dari berbagai belahan dunia. Laporan dari India mengindikasikan bahwa jumlah rata-rata anggota dalam presidium adalah 16 orang dan banyak tugas  legio baik yang telah dikerjakan – seperti sejumlah kasus bunuh diri yang berhasil dicegah, kunjungan ke penjara-penjara dan panti-panti asuhan, doa Rosario juga dipromosikan dan banyak presidium-presidium yunior.

Saya dengan senang hati telah menerima laporan terjemahan Notulensi Senatus di bulan Juli dan Agustus 2017 dari Saudara Erwin. Saya yakin legioner yang setia menghadiri rapat presidium dan melaksanakan tugas legio yang diberikan kepada mereka pada saat rapat legio akan diberikan rahmat dan berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya mengerti bahwa kunjugan ke presidium dan dewan-dewan tetap dijalankan. Ini adalah tugas penting karena berarti kita dapat mendeteksi berbagai kesalahan yang memerlukan koreksi.  Setiap kesalahan yang serius harus dilaporkan kepada perwira Senatus. Adalah hal yang penting bahwa semua perwira presidium dan kuria membaca dan mempelajari buku pegangan Legio – semua bagiannya – sehingga mempunyai pengetahuan yang baik mengenai sistem Legio dan dapat menghindari kesalahan.

Sekali lagi, Saya berterima kasih kepada semua perwira Senatus dan seluruh anggota untuk kesetiaan dan dedikasi mereka. Semoga berkat dan rahmat Allah beserta kita semua.

-Catherine Donohoe (Concilium correspondent)

Kekuatan Rosario

“Rosario adalah senjata ampuh untuk mengusir setan-setan dan menjaga diri dari dosa … Jika Anda menginginkan kedamaian di dalam hati Anda, di rumah Anda, dan di negara Anda, berkumpullah setiap malam untuk mendoakan Rosario. Jangan sampai satu hari pun berlalu tanpa Anda mendoakannya, betapa pun Anda merasa terbeban dengan banyaknya persoalan dan kerja keras”

– Pope Pius XI

Kita hidup di zaman modern yang memilki begitu banyak tantangan dan krisis, termasuk juga krisis iman. Banyak keluarga Katolik pun mengalami keputusasaan dan kekhawatiran yang menggoyahkan iman. Akan tetapi, walaupun tantangan itu begitu kuat, kita diberikan senjata oleh Allah Bapa melalui peran Bunda Maria dalam doa Rosario Suci. Doa Rosario adalah “ringkasan Injil”, karena di dalamnya dirangkai dan direnungkan sejarah keselamatan yang dipaparkan dalam Injil.

Kekuatan doa Rosario sangat luar biasa. Banyak keajaiban yang tak terhitung jumlahnya, serta kemenangan iman yang telah diperoleh dan menjadi sumber rahmat bagi Gereja Katolik. Sangat sayang jika umat enggan mendoakannya karena doanya yang panjang, padahal rahmat sangat melimpah di balik doa yang memang memiliki unsur meditatif ini.

Sejarah diadakannya bulan Rosario di bulan Oktober berawal dari kemenangan militer yang didapat dalam pertempuran Lepanto saat itu, negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman, sehingga agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Paus Pius V memerintahkan umat Katolik untuk berdoa rosario untuk memohon dukungan doa Bunda Maria. Perintah ini dilakukan oleh Don Juan (John) dari Austria, komandan armada dan oleh umat Katolik di seluruh Eropa. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario tanpa henti dari subuh hingga petang di Basilik Santa Maria Maggiore. Walaupun tampak mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut.

Pertempuran Lepanto, 7 Oktober 1571

Doa Rosario sendiri terbentuk setahap semi setahap. Digunakannya ‘butir-butir’ sebagai alat bantu doa juga merupakan tradisi sejak jaman Gereja awal, atau bahkan sebelumnya. Pada abad pertengahan, butir-butir ini dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria di biara-biara. Tradisi mengatakan bahwa St. Dominic (1221) adalah santo yang menyebarkan doa rosario, seperti yang kita kenal sekarang. Ia berkhotbah tentang rosario ini pada pelayanannya di antara para Albigensian yang tidak mempercayai misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, tujuan utama pendarasan doa rosario adalah untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus.

Tak terhitung banyaknya penampakan Bunda Maria yang menyerukan keluarga-keluarga untuk berdoa Rosario sebagai senjata dalam mengalahkan si jahat, untuk kedamaian dunia, dan untuk berperang melawan kelemahan.  Kita harus berdoa dan berpuasa dengan iman yang hidup dan keyakinan yang kuat – dan tidak ada cara yang lebih baik untuk melakukan ini daripada dengan berdoa Rosario Kudus, mati raga, Ekaristi Suci, pengakuan dosa, dan membaca Kitab Suci (sumber: intisari perkataan Bunda Maria dalam penampakannya di Fatima).

Melalui doa Rosario, kita merenungkan seluruh peristiwa kehidupan Yesus Kristus bersama-sama dengan Allah Tritunggal Maha Kudus dan Bunda Maria serta para malaikat surgawi. Ada doa Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan sebagai doa minimal yang diucapkan dan menjadi mahkota mawar yang dipersembahkan bagi Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Rangkaian mawar yang terangkai setiap kali kita berdoa Rosario ini didapat dari vision Santo Dominikus.

Jadi, marilah kita belajar untuk berdoa Rosario bersama-sama maupun secara pribadi. Tidak ada kerugian apapun yang kita dapatkan untuk mendoakan Rosario, yang ada hanya rahmat dan pertolongan Tuhan dan Bunda Maria untuk iman dan hidup kita. Ave Maria.

(Cindy Permana; dari berbagai sumber)


Sesilia Cindy Permana adalah legioner dari Presidium Bunda Gereja, Kuria Teladan Kaum Beriman Grogol – Komisium Maria Immaculata Jakarta Barat II. Pernah menjabat sebagai Sekretaris 2 Senatus Bejana Rohani periode 2014-2015.

Surat Konsilium 31 Agustus 2017

31 Agustus 2017

Kepada Ytk: 

Saudari Ignatia Marina Sudiarta, 

Sekretaris Senatus Jakarta 

Yang Terkasih Saudari Marina, 

Sekali lagi, atas nama Konsilium Legionis, saya sampaikan salam hangat kepada Pemimpin Rohani, Ketua, para perwira dan semua anggota Dewan Senatus Jakarta. 

Terima Kasih banyak kepada Saudari Jenny Triratna yang telah memberikan informasi kepada saya baru-baru ini mengenai proposal pendirian Komisium di Palangkaraya, Kalimantan dan mengenai pendirian Kuria di Barito. Saya harap sukses dan berkat menyertai dewan-dewan baru di Kalimantan ini. 

Pada rapat Konsilium yang diadakan tanggal 20 Agustus 2017 kemarin, banyak sekali hadirin yang hadir, termasuk 7 pastor, 2 orang pengunjung dari Kuala Lumpur – Malaysia, 3 orang dari USA, 1 orang dari Austria, dan juga masing-masing satu orang dari Liverpool dan Manchester. Semuanya disambut hangat oleh Saudari Mary Murphy, Ketua Konsilium. 

Bacaan Rohani masih merupakan sambungan dari Buku Pegangan bab 33 point 13 mengenai “Kehidupan Iman Para Legioner”. Dalam alokusionya, Romo Bede McGregor berbicara mengenai tema “Kehidupan Iman” dan bagaimana Legioner seharusnya tumbuh dalam kekudusan dengan Doa (hal 225), Pengingkaran Diri (hal 226), dan Sakramen (hal 227). Setiap dari kita dipanggil untuk menjadi orang kudus, dan setiap individu legioner harus mencoba dan melakukannya menjadi orang kudus – menjadi Santo/Santa. Sesungguhnya, pada bab 33 ini (Tugas-Tugas Pokok Para Legioner – total 14 poin, hal 210-231), semua legioner harus membacanya dan membacanya lagi berulang-ulang. 

Kami sangat senang sekali mendengar bahwa 15 pastor yang ditahbiskan menjadi imam baru-baru ini, 5 diantaranya diinspirasi oleh Legio Maria. 

Seperti biasa, banyak laporan menarik dari berbagai belahan dunia, dan secara khusus laporan dari Amerika Serikat dan Kanada dapat dikatakan luar biasa. 

Di sini, di Irlandia, kami akan kembali mengadakan Konferensi Orang Muda Tahunan. Setiap Dewan Kuria diminta untuk mengirim paling sedikit 2 anak muda (dalam kelompok umur 18-40 tahun) dan jika Kuria mampu, maka mereka harus membiayai 2 orang ini. 

Pada tanggal 8 September, kita merayakan ulang tahun Bunda Maria. Dan pada tanggal 22 September, kami akan mempunyai perayaan Malam Kebudayaan di kota Dublin di mana rumah-rumah Legio akan dibuka untuk kunjungan umum.

Pada hari Minggu, 24 September, kami akan kembali mengadakan ziarah tahunan ke Knock Shrine, ini seperti biasa akan menjadi perayaan tahunan penting. 

Knock Shrine adalah tempat ziarah penting di Irlandia. Di mana, Bunda Maria, Santo Yusuf, Santo Yohanes Penginjil, dan Anak Domba (Yesus) menampakkan diri di Knock pada tahun 1879.




Saya menantikan untuk menerima Notulensi Saudara bulan Juli dan Agustus. 

Saya menutup surat ini dan memohon rahmat Allah untuk kita semua. 

Catherine Donohoe – Koresponden Konsilium

Kelahiran Bunda Maria, Awal Tersingkapnya Janji Keselamatan

Oleh RD Moses Watan Boro


Setiap tahun pada tanggal 8 September, Gereja Katolik Roma merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Seturut sejarah, mulanya pesta ini dirayakan di lingkungan Gereja Timur berdasarkan ilham dari tulisan-tulisan apokrif pada abad ke–6 dan pada akhir abad ke–7 pesta ini diterima dan dirayakan di dalam Gereja Barat Roma. Perayaan ini  mengungkapkan iman Gereja akan kehadiran Santa Perawan Maria dalam pentas karya keselamatan manusia oleh Allah. Pesta ini menjadi penting di dalam Gereja karena melalui kelahiran Bunda Maria-lah sejarah keselamatan itu dimulai. Dengan kelahirannya, Santa Perawan Maria mempersiapkan hadirnya Yesus, Sang Juru Selamat. Ia adalah tabut perjanjian baru yang dari padanyalah, Sang Juru Selamat dikandung, dilahirkan dan dibesarkan.

Kelahiran Santa Perawan Maria dalam sejarah keselamatan sesungguhnya telah diamanatkan oleh Allah sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Oleh sebab itu, ia juga sering disebut sebagai Hawa baru. Hawa yang lama membawa manusia jatuh ke dalam dosa tetapi Hawa yang baru membimbing manusia kepada keselamatan. Hadirnya Hawa baru ini telah diwartakan oleh para nabi dari zaman ke zaman dan dari masa ke masa. Inilah janji keselamatan yang dimaklumkan oleh Allah bagi manusia ciptaanNya.

Nabi Yesaya (Yes 7:10-25) dalam pemberitaan mengenai Imanuel, mengatakan kepada Raja Ahas, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Sebutan perempuan muda atau parthenos dialamatkan pada sosok yang hadir dalam diri Santa Perawan Maria. Dari rahimnyalah dikandung dan dilahirkan Immanuel sebagai Juruselamat. Dia berasal dari turunan Daud, sebab tampuk kekuasaan Israel tidak pernah berpindah dari keturunan Daud sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah sendiri (Bdk. 1 Raj. 2:4). Maka dari itu Santa Perawan Maria adalah sosok yang dipilih oleh Allah untuk memulai rencana besar-Nya dalam menyelamatkan manusia.

Kelahiran Santa Perawan Maria tidak dikisahkan dalam kitab-kitab suci. Di dalam teks aprokrif (Protoevangelium Yakobus) ditemukan bahwa, Santa Perawan Maria dilahirkan dari pasangan suami-istri Santo Yoakim dan Santa Anne. Dalam keluarga inilah, ia dididik dan dibesarkan sebagai orang yang beriman hingga tumbuh menjadi seorang wanita dewasa dan kemudian diambil oleh Yosef sebagai istrinya. Bersama dengan Santu Yosef, mereka membesarkan Tuhan Yesus dengan penuh cinta dan menjadikan keluarga mereka sebagai Keluarga Kudus Nazareth. Bahkan dengan iman yang teguh Bunda Maria menerima setiap peristiwa yang dialami oleh puteranya Yesus mulai dari penerimaan Kabar Gembira hingga pada peristiwa di puncak Kalvari ketika ia harus memangku tubuh puteranya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Kehadiran Santa Perawan Maria dalam proyek keselamatan Allah sesungguhnya telah direncanakan sejak awal mula oleh Allah, maka kelahirannya merupakan takdir dan rencana Allah sendiri. Ia adalah wanita pilihan Allah yang telah disucikan sejak awal ia dikandung, maka perkandungannya sendiri disebut sebagai Dikandung Tanpa Noda Dosa. Allah sungguh menyiapkan Santa Perawan Maria sebagai Bejana Rohani bagi diamnya PutraNya sendiri yakni Yesus Kristus.

Moment kelahiran Santa Perawan Maria yang diperingati oleh Gereja pada tanggal 8 September ini, mengajak segenap anggota Gereja untuk melihat kembali sejarah keselamatan manusia oleh Allah yang terlaksana berkat penyerahan diri yang total dari Bunda Maria. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka kutuk Allah bagi Hawa lama yang dibinasakan oleh dosa serta maut dan mendatangkan keselamatan melalui peristiwa keselamatan melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Kelahiran Santa Perawan Maria membuka harapan baru bagi manusia untuk mengalami kembali belas kasih Allah, sebab Immanuel yang dikandungnya mengungkapkan kehadiran Allah dalam hidup manusia. Bunda Maria adalah jawaban atas kerinduan umat manusia yang berlangsung dari abad ke abad untuk melihat karya keselamatan yang dikerjakan oleh Allah bagi manusia. Maka peristiwa kelahiran Santa Perawan Maria merupakan tabir baru yang menyingkapkan janji-janji Allah akan datangnya Sang Juruselamat. Di sini Gereja diajak untuk menghormati Santa Perawan Maria sebagai wanita pilihan Allah yang telah dipersiapkan sejak awal mula untuk mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Juruselamat umat manusia.


RD Moses Watan Boro adalah Pastor Keuskupan Larantuka yang kini tengah menempuh studi Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Beliau juga bertugas sebagai Pastor Mahasiswa di kampus tersebut dan membantu di Paroki Maria Bunda Karmel Meruya.

Homili Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC pada Misa Tahunan Senatus 2017

Disampaikan pada Misa Tahunan Senatus dan Perayaan 50 tahun Komisium Bunda Rahmat Ilahi – Keuskupan Bandung, 2 September 2017


Saat ini dunia kita penuh dengan semangat pamrih, apa-apa ada harganya dan selalu ada tuntutan timbal balik; “ada udang di balik batu”, atau legioner sering berkata “ada daging di balik nasi”. Semangat pamrih itu juga ternyata sudah  merasuki kehidupan keagamaan; dalam doa dan pelayanan. Seperti kata sebuah pepatah yang terenal “do ut des” : “memberi supaya mendapatkan”. Kita lalu sering mempertanyakan “Apa untungnya melakukan pelayanan ini?”, “Aapa manfaatnya menjadi legioner?”

Kita perlu mengingat kembali bahwa kelahiran Yesus terjadi karena ada orang-orang seperti Yusuf dan Maria yang tulus dan tanpa pamrih. Mereka menyadari kehidupan sebagai berkat dan rahmat yang ia peroleh dengan cuma-cuma, maka hidup mereka dipersembahkan kepada Allah dan sesama juga dengan cuma-cuma.

Memang saat ini sulit sekali mencari orang yang tulus. Bahkan kita cenderung memandang orang yang tulus sebagai orang yang “terlalu bodoh”. Ada sebuah kisah tentang seorang pengusaha yang ditipu oleh temannya hingga hartanya habis dan ia tak punya dana lagi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ia kemudian mencoba menjual tanahnya yang berada di Yogyakarta. Di stasiun, ia bertemu seorang bapak yang mengaku kecopetan dan tak punya uang lagi untuk membeli tiket kereta menuju Surabaya. Meskipun ragu dan khawatir ditipu, pengusaha itu akhirnya memberikan uang terakhirnya sebesar Rp. 200.000 yang awalnya hendak ia gunakan untuk membeli tiket kereta pulang dari Yogyakarta. Bapak yang kecopetan itu berjanji akan mengembalikan uang itu dengan cara transfer hingga ia memaksa meminta nomor rekening si pengusaha. Si pengusaha memberikan nomor rekeningnya, meskipun ia tak percaya uang itu akan dikembalikan. Dalam hatinya ia merasa bahwa ia telah ditipu oleh si bapak.

Di Yogyakarta, ia tak berhasil menjual tanahnya dan terpaksa meminjam uang dari saudaranya untuk membeli tiket pulang. Beberapa hari setelah pulang, ia ke ATM untuk mengambil sedikit uang. Namun betapa terkejut dirinya ketika ia mendapati saldo rekeningnya bertambah sebanyak Rp. 20.000.000.

Apa makna dari cerita ini? Apakah seorang yang tulus selalu berakhir tragis?  Orang yang tulus di hadapan Tuhan akan dibela oleh Tuhan. Mungkin ia dipermainkan, mungkin ia ditipu, tapi Tuhan pasti akan setia membelanya.

Ingatlah pepatah ini “Biarpun kurus yang penting tulus tak punya modus”.  Yusuf seorang yang tulus, yang menyadari hidupnya sebagai berkat dari Allah, maka ia menjalaninya tanpa keluhan, tanpa tuntutan, tanpa minta kompensasi, dan tanpa bertanya haknya. Hidupnya dipahami sebagai titipan dan hak Allah, maka  jika Allah menghendaki hidupnya harus dipersembahkan kepada Allah, maka ia akan mempersembahkannya.

Ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria telah mengandung, mungkin ia merasa jengkel, sakit hati, dan berpikir bahwa Maria telah menyeleweng. Ketika itu tak ada dalam sejarah bahwa ada seorang wanita mengandung dari Roh Kudus. Namun Yusuf terbuka pada rencana Ilahi. Ia lapang dada, pasrah, dan tulus, hingga ia tetap bisa tertidur nyenyak meskipun ia sedang penuh masalah, bahkan bisa bermimpi hingga malaikat bisa mendatanginya. Itulah sebabnya kini kita kenal patung “The Sleeping Joseph”.

Ia tidak menghendaki pembalasan. Ia berupaya mentaati kehendak Allah. Karena ketulusan serta kesetiaannya kepada Allah, Yusuf pantas dipasangkan; dan sepadan dengan Maria dalam kesucian untuk menjadi orang tua bagi Yesus. Orang yang tulus seperti Yusuf inilah yang layak menjadi legioner, yang menjadi partner Maria untuk melahirkan Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Ketulusan pula yang mengubah jalan hidup Maria ketika ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.”

Tulus seperti Yusuf dan penuh iman seperti Maria. Itulah legioner yang sejati. Legioner harus mau berkorban dan berlatih untuk menjadi kudus. Jangan hanya sekadar mau menjadi legioner sejati, tapi mari melatih diri sebagai partner Maria. Jadilah tulus seperti Yusuf dan rendah hati seperti Maria yang mau digerakkan oleh Roh Kudus untuk berjuang mencapai kesucian hidup. Orang yang tulus dan rendah hati memiliki komitmen kepda Allah dan Gereja, tidak diombang-ambing oleh perasaan. Apapun sikap orang kepadanya ia akan selalu tulus melayani sesama. Seperti keset yang bertuliskan “WELCOME”, seorang legioner sejati akan selalu berkata “WELCOME”atas apapun sikap orang kepadanya, meskipun ia harus diinjak-injak.

Marilah bersama Maria kita berkata, “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu. Tuhan selalu bersikap “WELCOME” kepada kita, maka marilah kita juga harus selalu bersikap “WELCOME” kepada sesama.


Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC adalah Uskup Keuskupan Bandung. Lahir di Bandung, 14 Februari 1968 dan ditahbiskan menjadi Uskup pada 25 Agustus 2014. Beliau pernah menjadi anggota Legio Maria di Paroki St. Odilia, Cicadas, Bandung.

Menjadi Laskar Maria Dalam Konteks Formasi Seminari Menengah

Sharing dari Fr. Thomas Waluyo, SSCC


Benih itu telah tumbuh

Legio Maria bukan bukanlah kelompak persekutuan doa yang baru bagi saya, karena sejak kecil saya sudah diperkenalkan oleh teman-teman sebaya saya. Namun karena waktu itu jumlah anggota cewek lebih banyak dari pada cowok, maka saya hanya mengikuti beberapa kali pertemuan saja, dan selebihnya, fokus saya adalah putra-putri altar karena setiap anak yang sudah menerima komuni pertama wajib menjadi putra dan putri altar. Akhirnya kelompok Legio Maria tidak pernah saya ikuti lagi, bahkan hingga saya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Akan tetapi, setidaknya nyala api Legio Maria sudah ada dalam diri saya; ketertarikan untuk mengenal Maria melalui Legio Maria sudah tumbuh dalam diri saya, dan ketertarikan inilah yang  kemudian mendorong saya untuk memasuki perjalanan spiritual bersama Bunda Maria melalui Legio Maria.

Usai menamatkan Sekolah Lanjutkan Tingkat Pertama di  Lampung, saya melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Disanalah nyala api Legio Maria berkobar lagi serta memperoleh tempat dan situasi yang mendukung. Saya pun tanpa ragu mengikuti kelompok Legio Maria Presidium Rumah Kencana. Sebenarnya agak kurang tepat jika kelompok kami dikatakan sebagai presidium Legio karena tidak ada rapat mingguan rutin dan kami hanya mendoakan doa Tessera saja. Saya beryukur pada kakak-kakak kelas karena telah memperbolehkan saya ambil bagian dalam kelompok ini hingga saya dapat menumbuhkan kecintaan kepada Maria dengan lebih sungguh dan khusuk melalui pertemuan setiap dua minggu sekali. Dan memang betul, kecintaan saya pada bunda Maria semakin dalam. Hal ini ditampakkan dalam kesetiaan saya untuk mengikuti setiap pertemuan dan juga dalam mendoakan doa Rosario serta Tessera setiap malam sebelum tidur.

Saya tidak hanya aktif dalam pertemuan dan doa saja, tetapi juga dalam pertemuan ACIES. Setidaknya sudah tiga kali saya mengikuti pertemuan ACIES dan kegiatan lain yang dijalankan di sana. Kegiatan-kegiatan itu sungguh membantu saya untuk mengenal secara dekat tentang wajah Legio Maria di Keuskupan Agung Palembang dan menggali pengalaman menjadi Laskar Maria dari teman-teman lainnya. Perjumpaan itu memberikan saya banyak pengalaman dari mereka yang sudah lama menjadi legioner, dan untuk itu saya merasa diteguhkan untuk melayani Bunda Maria melalui kelompok ini.

Tentu omong kosong jika tidak ada tantangan dalam mengikuti Bunda melalui kelompok Legio Maria. Keterbatasan waktu adalah tantangan terbesar saya dalam mengikuti pertemuan doa ini. Kadang waktu doa itu bertabrakan dengan kegiatan sekolah, terutama pada masa-masa ujian, dimana saya kadang tidak bisa mengikuti pertemuan tersebut. Bukan karena saya tidak mencintai, tetapi saya punya tanggung jawab untuk memenuhi standar seminari. Jika saya tidak berhasil mencapainya saya akan diberi surat peringatan, atau  bahkan jika terlalu parah saya akan diminta untuk tidak melanjutkan pendidikan saya di seminari. Menghadapai situasi ini, ketua kami pada waktu itu memutuskan untuk tidak mengadakan pertemuan pada saat musim ujian. Akan tetapi, doa dan kewajiban sebagai legioner tetap dijalankan secara pribadi. Dengan kebijakan tersebut, saya menjadi lebih tenang dalam menjalankan tugas Legio dan ujian saya.

Ketika saya masuk kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria (Sacrorum Cordium; SSCC), saya tidak lagi mengikuti kegiatan Legio, namun semangat dari Legio Maria tetap ada dan mewujud dalam tingkah laku serta doa saya. Saya tetap setia untuk mendoakan Tessera dan Rosario karena doa-doa tersebut telah menjadi bagian dari hidup saya, hingga ketika tidak didaraskan serasa ada yang kurang dalam hidup saya pada hari itu. Dalam suasana semacam inilah saya menghidupi semangat Legio Maria.

Semakin tumbuh besar dalam perjumpaan

Saya kemudian menempuh masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Sudah menjadi tradisi di seminari ini, salah satu dari frater TOP akan menjadi APR salah satu presidium Legio Maria, entah di seminari sendiri maupun  di Paroki Santa Perawan Maria Katedral. Saya diminta untuk menjadi APR untuk presidium seminari Stella Maris Bogor yang ketika itu jumlah anggotanya cukup banyak. Tanpa berpikir panjang saya bersedia untuk mendampingi mereka. Alasan saya sederhana saja,  karena menjadi anggota Legio Maria adalah cita-cita saya dan saya ingin terus melayani Bunda Maria melalui Legio Maria.

Sejak dipilih menjadi APR, saya berusaha untuk hadir dalam rapat presidium yang diadakan setiap hari Minggu malam. Sayang sekali, kadang tugas mendampingi Legio bertabrakan dengan tugas saya di gereja Katedral sehingga saya tidak bisa hadir atau hanya memperoleh bagian akhir dari doa saja. Bagi saya kehadiran itu penting sekali karena merupakan bentuk kecitaan dan perhatian pada Legio di seminari; dan bagi teman-teman di presidium seminari, mudah-mudahan kehadiranku yang terbatas menjadi tanda perhatian dan kesetiaan kepada mereka.

Jujur, menjadi APR bukanlah tugas yang mudah. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya akan Legio Maria. Di seminari menengah dan seminari tinggi saya tidak pernah mempelajari buku pegangan. Saya hanya belajar secara umum tentang spiritualitas Maria. Keterbatasan dalam pengalaman dan pengetahuan serta tuntutan telah mengarahkan saya untuk membaca buku pegangan. Sebenarnya tidak cukup hanya membaca saja melainkan juga harus bisa membahasakan dengan sederhana dan jelas kepada teman-teman legioner. Harapannya mereka dapat menangkap dan mampu menjalankannya dalam hidup keseharian mereka.

Menjadi APR Legio Maria bukan hanya soal kehadiran saja, tapi juga menjadi kakak sekaligus sahabat bagi mereka. Saya menjadi kakak, ketika saya yang lebih tua ini memberi mereka masukan bagaimana menjadi legioner yang sejati. Menjadi kakak juga berarti menjadi teladan bagi mereka. Kehidupan saya sebagai APR sekaligus sebagai formator bagi seminaris selalu menjadi sorotan. Ketika penampilan saya menunjukkan semangat Legio maka mereka akan meniru apa yang saya buat. Namun ketika tindakan saya mencerminkan yang sebaliknya maka saya akan menjadi batu sandungan bagi mereka. Maka saya dituntut untuk memberi teladan yang baik kepada mereka setiap saat.

Selain sebagai kakak yang menjadi pusat dan teladan mereka, saya juga belajar banyak nilai dari mereka semua. Salah satu nilai yang mereka berikan adalah nilai kesetiaan dan pengorbanan. Saya tahu betul hidup keseharian mereka sebagai seminaris karena saya mendampingi perjalanan hidup harian mereka yang padat dengan jadwal seminari mulai dari bangun pagi hingga malam hari; mulai dari hari Minggu hingga Minggu berikutnya. Ketika mereka memutuskan untuk bergabung dalam Legio Maria, mereka akan mengorbankan banyak hal. Lebih-lebih, mereka mengorbankan waktu dan kesenangan mereka. Seharusnya mereka bisa rekreasi dengan nonton TV atau belajar, namun mereka memilih untuk ikut rapat Legio. Juga ketika mereka mendapat giliran rosario berantai, mereka harus menyisihkan waktu khusus untuk berdoa. Pada hari Minggu, mereka harus mengorbankan waktu jalan-jalan mereka demi kegiatan Legio, meskipun memang tidak setiap Minggu.

Terhubung dalam doa

            Tugas untuk menyalakan api Legio Maria tidak berhenti pada saat saya menyelesaikan masa TOP saya di Seminari Stella Maris Bogor. Tugas ini tetap dan terus saya jalankan dalam masa studi lanjut saya di Yogyakarta. Tentu kini saya menjaga api Legio Maria dengan model dan cara yang berbeda. Saya tidak lagi mengikuti kegiatan rutin Legio namun saya tetap mendoakan Tessera setiap hari. Dengan cara semacam ini, saya tetap menyatu dalam doa dengan teman-teman yang menjadi legioner dan saya tetap menjadi bagian dari mereka semua.

Ave Maria.


Fr. Thomas Waluyo, SSCC adalah Asisten Pemimpin Rohani Seminari Stella Maris Keuskupan Bogor, periode 2015-2016. Saat ini tengah menjalani tahun skolastikat di Kongregasi Sacrorum Cordium (SSCC) Yogyakarta.

Devosi Legio; Akar Kerasulan Legio

Alokusio Rapat Senatus
Minggu, 6 Agustus 2017

Dibawakan oleh Asisten Pemimpin Rohani Senatus, Sdr. Octavian Elang Diawan


Bacaan Rohani :

Buku Pegangan Bab 5 point 5 halaman 23

Devosi Legio; Akar Kerasulan Legio

Devosi Legio Maria adalah bakti khusus yang dilakukan oleh para legioner dan menjadi ciri khas Legio Maria. Devosi ini menjadi dasar kerasulan bagi para legioner.

Kerasulan adalah sebuah tindakan dan semangat sebagai orang-orang yang diutus. Legio Maria bukan hanya sebagai kelompok doa, namun adalah kelompok kerasulan awam yang diutus untuk berkarya.

Dalam merasul, devosi kepada Bunda Maria harus menjadi rohnya. Devosi kepada Bunda Maria berarti berbakti kepada Bunda Maria, yakni mengambil inspirasi bagaimana Maria hidup mencintai Yesus, melihat bagaimana Maria mencintai Yesus lalu menirunya dalam kehidupan kita, dan belajar dari Maria bagaimana mencintai Yesus. Seluruh kehidupan Maria diberikan kepada Yesus, maka sebagai anak-anak Maria kita harus menjadi anak-anak yang selalu mencintai Yesus.

Selain doa, rapat presidium dan karya, kita bisa mengungkapkan devosi kita dengan meditasi, yakni sebuah kerja batin untuk mengembangkan kualitas spiritual diri kita. Meditasi bisa dalam bentuk doa atau bukan doa dan dapat dilakukan di mana saja.

Meditasi terdiri dari Renungkan-Refleksi-Tindak Lanjuti. Renungkan bagaimana Maria mencintai Yesus, sejak menerima kabar dari malaikat, hingga menerima jenazah Yesus di kaki salib.
Refleksikan apakah aku sudah seperti atau mendekati sifat Maria?
Tindak Lanjuti dan simpulkan hasil renungan dan refleksi, lalu apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki dan membangun iman.